Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sectio Caesarea (SC) terus meningkat di seluruh dunia, khususnya di negara negara
berpenghasilan menengah dan tinggi, serta telah menjadi masalah kesehatan masyarakat
yang utama dan kontroversial (Torloni, et al, 2014). Menurut World Health Organization
(WHO) (2014) negara tersebut diantaranya adalah Australia (32%), Brazil (54%), dan
Colombia (43%). Angka kejadian SC di Indonesia tahun 2005 sampai dengan 2011 rata-
rata sebesar 7 % dari jumlah semua kelahiran, sedangkan pada tahun 2006 sampai dengan
2012 rata - rata kejadian SC meningkat menjadi sebesar 12% (WHO, 2013 & 2014).

Sejalan dengan hal itu, angka kejadian sectio caesarea (SC) di Ruang Alamanda
Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Mobilisasi Dini

2.1.1 Definisi Mobilisasi Dini

Mobilisasi dini adalah pergerakan yang dilakukan sedini mungkin di tempat


tidur dengan melatih bagian - bagian tubuh untuk peregangan atau belajar berjalan
(Soelaiman, 2000). Mobilisasi dini adalah kebijaksanaan untuk selekas mungkin
membimbing penderita keluar dari tempat tidurnya dan membimbingnya selekas
mungkin berjalan. Menurut Carpenito (2000), mobilisasi dini merupakan suatu
aspek yang terpenting pada fungsi fisiologis karena hal itu esensial untuk
mempertahankan kemandirian. Dari kedua defenisi tersebut dapat disimpulkan
bahwa mobilisasi dini adalah upaya mempertahankan kemandirian sedini mungkin
dengan cara membimbing penderita untuk mempertahankan fungsi fisiologis.
Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat napas dalam dan
menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal, dorong untuk menggerakkan
kaki tungkai bawah sesegera mungkin biasanya dalam waktu 6 jam (Gallagher,
2004).
2.1.2 Rentang Gerak dalam Mobilisasi
Menurut Carpenito,(2000) mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu :
a. Rentang Gerak Pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan
persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat
mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.
b. Rentang Gerak Aktif
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara
menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan
kakinya.
c. Rentang Gerak Fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas
yang diperlukan.
2.1.3 Manfaat Mobilisasi
Manfaat mobilisasi bagi ibu pasca seksio sesarea adalah :
Penderita merasa lebih sehat dan kuat dengan early ambulation. Dengan
bergerak, otot-otot perut dan panggul akan kembali normal sehingga otot perutnya
menjadi kuat kembali dan dapat mengurangi rasa sakit dengan demikian ibu merasa
sehat dan membantu memperoleh kekuatan, mempercepat kesembuhan. Faal usus dan
kandung kencing lebih baik. Dengan bergerak akan merangsang peritaltik usus
kembali normal. Aktifitas ini juga membantu mempercepat organ-organ tubuh bekerja
seperti semula.
Mobilisasi dini memungkinkan kita mengajarkan segera untuk ibu merawat
anaknya. Perubahan yang terjadi pada ibu pasca operasi akan cepat pulih misalnya
kontraksi uterus, dengan demikian ibu akan cepat merasa sehat dan bias merawat
anaknya dengan cepat. Mencegah terjadinya thrombosis dan tromboemboli, dengan
mobilisasi sirkulasi darah normal/lancar sehingga resiko terjadinya thrombosis dan
tromboemboli dapat dihindari. Menurut (Gallagher, 2004) walaupun pada tahap awal
pasca persalinan ibu tidak ingin bangkit dari tempat tidur, tetapi kembali bergerak
sangat disarankan bagi para ibu pasca seksio sesarea. Operasi dan anastesi
menyebabkan pneumonia sehingga sangat penting untuk mobilisasi.

Mobilisasi dapat meningkatkan fungsi paru-paru semangkin dalam nafas yang


ditarik, semangkin meningkat sirkulasi darah. Hal tersebut memper kecil resiko
pembentukan gumpalan darah, meningkatkan fungsi pencernaan dan menolong
saluran pencernaan agar mulai bekerja lagi. Dalam 6-8 jam tenaga medis akan
menolong ibu untuk melakukan mobilisasi seperti duduk ditempat tidur, duduk di
bagian samping tempat tidur, dan mulai berjalan jarak pendek, Semakin cepat ibu bisa
bergerak kembali proses menyusui dan merawat anak juga semangkin mudah.

2.1.4 Kerugian Bila Tidak Melakukan Mobilisasi


1. Peningkatan suhu tubuh
Karena adanya involusi uterus yang tidak baik sehingga sisa darah tidak dapat
dikeluarkan dan menyebabkan infeksi dan salah satu dari tanda infeksi adalah
peningkatan suhu tubuh.
2. Pendarahan abnormal
Dengan mobilisasi dini kontraksi uterus akan baik sehingga fundus uteri keras,
maka resiko perdarahan yang abnormal dapat dihindarkan, karena kontraksi
membentuk penyempitan pembuluh darah yang terbuka.
3. Involusi uterus yang tidak baik.
Tidak dilakukan mobilisasi secara dini akan menghambat pengeluaran darah
dan sisa plasenta sehingga menyebabkan terganggunya kontraksi uterus.

4. Peningkatan BMR

Menurut (Fundamental,2006) Seorang ibu jika tidak melakukan mobilisasi


dapat mengganggu fungsi metabolik normal, yaitu: laju metabolik, metabolisme
karbohidrat, lemak, protein, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit,
ketidakseimbangan kalsium, dan gangguan pencernaan. Selain itu pada pasien yang
mengalami infeksi dan tidak melakukan mobilisasi mengalami peningkatan BMR
(Basal Metabolik Rate) diakibatkan karena demam atau penyembuhan luka. Demam
dan penyembuhan luka meningkatkatkan kebutuhan oksigen seluler. Pada ibu yang
tidak melakukan mobilisasi juga terjadi penurunan sirkulasi volume cairan,
penggumpalan darah pada ekstermitas bawah, dan penurunan respon otonom.
Faktor-faktor tersebut mengakibatkan penurunan aliran balik vena, diikuti oleh
penurunan curah jantung yang terlihat pada tekanan darah.

2.1.6 Mobilisasi Dini pada Ibu post partum seksio sesarea


Setelah operasi, pada 6 jam pertama ibu pasca seksio sesarea harus tirah baring
dulu. Mobilisasi dini yang bisa dilakukan adalah menggerakkan lengan, tangan,
menggerakkan ujung jari kaki dan memutar pergelanggan kaki, mengangkat tumit,
menenangkan otot betis serta menekuk dan menggeser kaki. Setelah 6-10 jam, ibu
diharuskan untuk dapat miring ke kiri dan ke kanan mencegah thrombosis dan
tromboemboli. Setelah 24 jam ibu dianjurkan untuk dapat mulai belajar untuk duduk.
Setelah ibu dapat duduk, dianjurkan ibu belajar berjalan (Kasdu, 2003). Hal- hal yang
perlu diperlu diperhatikan dalam mobilisasi dini :
a. Janganlah terlalu cepat untuk melakukan mobilisasi dini sebab bisa menyebabkan ibu
terjatuh terutama bila kondisi ibu masih lemah atau memiliki penyakit jantung.
Apabila mobilisasinya terlambat juga dapat menyebabkan terganggunya fungsi
organ tubuh, aliran darah, serta terganggunya fungsi otot.
b. Ibu post partum harus melakukan mobilisasi secara bertahap.
c. Kondisi ibu post partum akan segera pulih dengan cepat bila melakukan mobilisasi
dengan benar dan tepat, dimana sistem sirkulasi dalam tubuh bisa berfungsi normal.
d. Jangan melakukan mobilisasi secara berlebihan karena akan membebani jantung.

2.1.7 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi


a) Faktor Fisiologis
Apabila ada perubahan mobilisasi, maka setiap sistem tubuh beresiko terjadi
gangguan, tingkat keparahan dari gangguan tersebut tergantung pada kondisi
kesehatan secara keseluruhan, serta tingkat imobilisasi yang di alami. Sistem
endokrin, merupakan produksi hormon sekresi kelenjar, membantu mempertahankan
dan mengatur fungsi vital seperti: respons terhadap stres dan cedera, pertumbuhan
dan perkembangan, reproduksi, homeostasis ion, dan metabolisme energi. Ketika
cedera atau stres terjadi, sistem endokrin memicu serangkaian respons yang
bertujuan mempertahankan tekanan darah dan memelihara hidup.

Sistem endokrin berperan dalam pengaturan lingkungan internal dangan


mempertahankan keseimbangan natrium, kalium,air, dan keseimbangan asam- basa.
Sehingga sistem endokrin bekerja sebagai pengatur metabolisme energi. Imobilisasi
mengganggu fungsi metabolik normal, antara lain laju metabolik: metabolisme
karbohidrat, lemak dan protein, ketidak seimbangan cairan dan elektrolit, ketidak
seimbangan kalsium dan ngangguan pencernaan (Perry dan potter, 2006). Demam
puerperalis didefenisikan sebagai peningkatan suhu mencapai 38,5 C pasca bedah.
Demam pasca bedah hanya merupakan sebuah gejala bukan sebuah diagnosis, yang
menandakan adanya suatu komplikasi serius (Cunningham dkk, 2005). Perdarahan
masa nifas pasca seksio sesarea didefenisikan sebagai kehilangan darah lebih dari
1000 ml. dalam hal ini perdarahan terjadi akibat kegagalan mencapai hemoestasis di
tempat insisi uterus maupun pada placental bed akibat atonia uteri. Atonia uteri
merupakan sebagian besar penyebab terjadinya perdarahan pasca bedah. Ada
beberapa keadaan yang menjadi predisposisi terjadinya atoni uteri, yaitu distensi
dinding rahim yang berlebihan (kehamilan ganda, polihidramnion atau makrosomia
janin), pemajangan masa persalinan dan grandemultiparitas.
Nyeri
Nyeri merupakan sensasi yang rumit,universal dan bersifat individual. Dikatakan bersifat
individual karena respon individual terhadap sensasi nyeri beragam dan tidak bias disamakan
satu dengan yang lainnya.
Faktor Emosional
Yang mempengaruhi mobilisasi adalah cemas (ansietas). Ansitetas merupakan gejolak emosi
seseorang yang berhubungan dengan sesuatu diluar dirinya dan mekanisme diri yang
digunakan dalam mengatasi permasalahan (Fundamental, 2006)
1) Tingkat Kecemasan
Peplau membagi tingkat kecemasan ada empat (Stuart, 2001) yaitu:
a) Kecemasan ringan yang berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari.
Kecemasan ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang
persepsinya.
b) Kecemasan sedang yang memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting
dan mengesampingkan hal yang lain. Kecemasan ini mempersempit lapang persepsi
individu. Dengan demikian individu mengalami tindak perhatian yang selektif namun
dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.
c) Kecemasan berat yang sangat mengurangi lapang persepsi individu cenderung berfokus
pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta tidak berfikir tentang hal lain. Semua perilaku
ditunjukkan untuk mengurangi keteganggan. Individu tersebut memrlukan banyak
arahan untuk berfokus pada area lain.
d) Tingkat panik dari kecemasan berhubungan dengan terpengaruh, ketakutan dan teror.
Hal yang rinci terpecah dari proporsinya. Karena mengalami kehilangan kendali,
individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan
arahan. Tingkat kecemasan ini sejalan dengan kehidupan, jika berlangsung terus dalam
waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan dan kematian.
c. Faktor perkembangan
Faktor yang mempengaruhi adalah umur dan paritas (Potter, 2006). Paritas adalah
banyaknya kelahiran hidup yang dimiliki oleh seorang wanita dan umur adalah lamanya
hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan.
d.Faktor Psikososial
Imobilisasi menyebabkan respons emosional, intelektual sensori, dan sosiokultural.
Perubahan emosional paling umum adalah depresi, perubahan prilaku, perubahan siklus
tidur-bangun, dan gangguan koping. Mengidentifikasi efek imobilisasi yang lama pada
pisikososial klien. Orang yang cenderung depresi atau suasana hati yang tidak menentu
beresiko tinggi mengalami efek psikososial selama tirah baring atau imobilisasi (perry dan
potter, 2006).

3.1 Konsep Sectio Caesarea


3.1.1 Definisi
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada
dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina atau sectio caesarea adalah
suatu histerektomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim; sectio adalah
pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus
(Llewelyn, D, 2001, hlm 189).

3.1.2 Keuntungan sectio caesarea


Operasi caesar lebih aman dipilih dalam menjalani proses persalinan karena telah
banyak menyelamatkan jiwa ibu yang mengalami kesulitan melahirkan. Jalan lahir
tidak teruji dengan dilakukannya sectio caesarea, yaitu bila didiagnosis panggul sempit
atau fetal distress didukung data pelvimetri. Bagi ibu yang paranoid terhadap rasa sakit,
maka sectio caesarea adalah pilihan yang tepat dalam menjalani proses persalinan,
karena diberi anastesi atau penghilang rasa sakit (Fauzi, D.A, 2007, hlm 8)