Anda di halaman 1dari 25

1.

3 Rencana Anggaran Biaya (RAB)


Rencana Anggaran Biaya (RAB) adalah penjumlahan dari seluruh biaya
iterm pekerjaan. Biaya item pekerjaan merupakan hasil perhitungan antara
volume setiap item pekerjaan dengan analisa harga satuan per-item pekerjaan
tersebut. Kegiatan rencana anggaran biaya pada umumnya dilakukan dengan
terlebih dahulu mempelajari gambar rencana dan spesifikasi. Kegiatan
estimasi digunakan untuk direncanakan jadwal pelaksanaan konstruksi.
Estimasi/RAB dapat diartikan peramalan kejadian pada masa datang. Pada
proyek konstruksi, khususnya pada tahap pelaksanaa, kontraktor hanya dapat
memperkirakan urutan kegiatan, aspek pembiayaan, aspek kualitas dan aspek
waktu dan kemudian memberi nilai pada masing-masing kejadian tersebut.
Membuat anggaran biaya bererti menaksir atau memperkirakan suatu
barang, bangunan atau benda yang akan dibuat dengan teliti dan secermat
mungkin. Penyusunan konstruksi bangunan pada dasarnya selalu disertai
dengan rencana anggaran biaya (RAB). Anggaran merupakan suatu bentuk
perencanaan penggunaan dana untuk melaksanakan pekerjaan dalam kurun
waktu tertentu, dibuat dalam bentuk uang, jam, tenaga kerja atau dalam
satuan lain. Wulfram I. Ervianto (2002).

1.4 Dasar-Dasar Rencana Anggaran Biaya (RAB)


Rekayasa pembangunan pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang
berdasarkan analisis dari berbagai aspek untuk mencapai sasaran dan tujuan
tertentu dengan hasil seoptimal mungkin.
Aspek itu dikelompokan menjadi 4 tahapan yaitu :
1. Tahapan studi kelayakan
Tahap ini bertujuan meyakinkan pemilik proyek bahwa proyek konstruksi
yang diusulkannya layak untuk dilaksanakannya, baik dari aspek
perencanaan dan perancangan, aspek ekonomi (biaya dan sumber
pendanaan), maupun aspek lingkungannya.
Wulfram I. Ervianto (2002).
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap studi kelayakan ini adalah :

1
a. Menyusun rancangan proyek secara kasar dan membuat estimasi biaya
yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek tersebut.
b. Meramalkan manfaat yang diperoleh jika proyek tersebut
dilaksanakan, baik manfaat langsung (manfaat ekonomi) maupun
manfaat tidak langsung (fungsi sosial).
c. Menyusun analisa kelayakan proyek, baik secara ekonomis maupun
finansial.
d. Menganalisis dampak lingkungan yang mungkin terjadi apabila proyek
tersebut dilaksanakan.
2. Tahap perencanaan
Perencanaan adalah suatu proses yang mencoba meletakkan dasar tujuan
dan sasaran termasuk menyediakan segala sumber daya untuk
mencapainya. Perencanaan memberikan pegangan bagi pelaksanaan
mengenai alokasi sumber daya untuk malaksanakan kegiatan. (Imam
Soeharto, 1997), secara garis besar, perencanaan berfungsi untuk
meletakan dasr sasaran proyek, yaitu penjadwalan, anggaran dan mutu.
3. Tahapan pelaksanaan
Kegiatan pelaksanaan meliputi kegiatan pelaksanaan kegiatan pekerjaan
dilapangan dalam rangka mewujudkan bangunan yang akan dibangun.
Dalam kegiatan pelaksanaan ini, hubungan kerja antara unsur-unsur
pelaksana pembangunan perlu diatur sehingga masing-masing unsur dapat
bekerja sesuai dengan bidangnya dan selalu tunduk dan taat kepada
peraturan dan ketentuan yang telah disepakati bersama.
4. Tahap pemeliharaan dan persiapan penggunaan
Tahap pemeliharaan dan persiapan penggunaan (maintenence and startup)
ini bertujuan menjamin sesuai bangunan yang telah selesai dengan
dokumen kontrak dan kinerja fasilitas sebagaimana mestinya. Selain itu,
pada tahap ini juga dibuat suatu catatan mengenai konstruksi berikut
petunjuk operasinya dan melati staf dalam mengunakan fasilitas yang
tersedia.
Kegiatan yang dilakukan adalah :

2
a. Mempersiapkan catatan pelaksanaan, baik berupa data-data selama
pelaksanaan maupun gambar pelaksanaan (as built drawing).
b. Meneliti bangunan secara cermat dan memperbaiki kerusakan-
kerusakan yang terjadi.
c. Mempersiapkan petunjuk operasional/pelaksanaan serta pedoman
pemeliharaannya.
d. Melatih staf untuk melaksanakan pemeliharaan.
Pada tahap perencanaan sangat penting untuk memperhatikan perkiraan
biaya untuk membangun proyek karena memiliki fungsi dengan
spektrum yang amat luas bagi masing-masing organisasi peserta proyek
dengan penekanannya yang berbeda.

Bagi pemilik, angka yang menunjukan jumlah perkiraan biaya akan


menjadi salah satu patokan untuk menentukan kelanjutan investasi. Untuk
kontrkator, keuntungan financial yang akan diperoleh tergantung kepada
seberapa jauh kecakapannya membuat perkiraan biaya, bila penawaran harga
yang diajukan terlalu tinggi kemungkinan besar kontraktor yang
bersangkutan akan mengalami kekalahan, sebaliknya memenangkan lelang
dengan harga terlalu rendah akan mengalami kesulitan dibelakang hari.
Untuk konsultan angka tersebut diajukan kepada pemilik sebagai usulan
jumlah biaya terbaik untuk berbagai kegunaan sesuai perkembangan proyek
dan derajat tertentu, kredilibilitasnya terkait dengan kebenaran atau ketepatan
angka-angka yang diusulkan (Soeharto, 1997).
Perkiraan biaya atau estimasi biaya adalah seni memperkirakan (the art of
approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu
kegiatan yang didasarkan atas informasi yang yang tersedia pada waktu itu
(Soeharto, 1997). Dalam prosesnya, tiap-tiap kategori estimasi harus secara
hati-hati dipersiapkan dari tingkat estimasi konseptual sampai pada estimasi
detail untuk memperoleh keakuratan estimasi biaya konstruksi.
Keakuratan estimasi biaya konstruksi seharusnya meningkat sesuai dengan
perubahan proyek, dari perencanaan, desain hingga estimasi akhir pada saat
penyelesaian proyek.

3
Hal ini bisa diprediksi dari estimasi konseptual yang akan membentuk
batasan, dengan tingkat keakuratannya relatif luas terhadap nilai kontrak
proyek konstruksi, karena tidak semua gambaran desain dan detail disebutkan
selama perencanaan awal.
Tuntutan yang harus dipenuhi untuk bisa berlanjutnya rencana investasi
adalah kualitas perkiraan biaya yang berkaitan dengan akurasi estimasi biaya
tersebut. Kualitas suatu estimasi yang berkaitan dengan akurasi dan
kelengkapan unsur-unsurnya tergantung pada hal-hal berikut (Soeharto,
1997) :
1. Tersedianya data dan informasi
2. Teknik atau metode yang digunakan
3. Kecakapan dan pengalaman estimator
4. Tujuan pemekaian perkiraan biaya
Tersedianya data informasi memegang peranan penting dalam hal
kualitas perkiraan biaya yang dihasilkan. Hal ini juga memerlukan
kecakapan, pengalaman serta judgement dari estimator dan tergantung pula
dengan metode perkiraan biaya yang dipakai. Terkait dengan metode (SNI)
yang digunakan, dikenal beberapa metode estimasi biaya yaitu :
a. Metode parametik
b. Metode dengan memakai daftar indeks harga dan informasi proyek
terdahulu.
c. Metode menganalisis unsur-unsurnya
d. Menggunakan metode faktor
e. Quntity take off dan harga satuan
f. Unit price
g. Memakai data dan informasi proyek yang bersangkutan.
Metode mana yang hendak dipakai tergantung pada keperluan dan
tersediasnya data serta informasi pada waktu itu. (Soeharto, 1997).

2.8.1 Konsep Biaya


Biaya didefenisikan sebagai nilai uang dari barang dan jasa yang
dikeluarkan untuk mendapatkan suatu manfaat pada saat itu atau pada waktu
yang akan datang.Menurut kepentingan perencanaan, biaya diklasifikasikan

4
berdasarkan fungsi masing-masing bagian dalam manajemen perusahaan.
Fungsi tiap-tiap bagian dalam perusahaan umumnya menyangkut produksi,
pemasaran atau promosi, administrasi, penelitian dan pengembangan serta
sumber daya manusia. (J.A.Mokomoko, Ir,1985).
Dalam perhitungan estimasi biaya proyek konstruksi jenis-jenis biaya
dibedakan sebagai berikut :
1. Biaya langsung (Direct Cost)
Yang dimaksud dengan biaya langsung adalah biaya yang berhubungan
dengan konstruksi / bangunan, diantaranya adalah :
a. Biaya untuk bahan / material
Untik menghitung biaya langsung mengenai bahan bangunan perlu
diperhatiksan hal-hal sebagai berikut :
Bahan sisa / yang terbuang (waste)
Harga loco (pembeli harus menanggung biaya pengiriman barang
dari gudang penjual ke gudang pembeli) atau franco (penjual
menanggung biaya pengiriman barang sampai ke gudang pembeli)
Cari harga terbaik yang masih memenuhi syarat bestek
b. Biaya untuk upah buruh / labor / man power.
Untuk menghitung biaya langsung mengenai upah buruh bangunan
perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Untuk menghitung upah buruh dibedakan dalam : upah harian,
borongan per-unit volume atau borong keseluruh (borong dol) untuk
daerah-daerah tertentu.
Salain tarif upah perlu juga diperhatikan factor-factor kemampuan
dan kapasitas kerjanya.
Perlu diketahui apakah buruh atau mandor dapat diperoleh dari
daerah sekitar lokasi proyek atau tidak. Bila tidak, berarti harus
didatangkan buruh dari daerah lain. Ini menyangkut masalah ongkos
transport dari daerah asal ke lokasi proyek, penginapan, gaji ekstra
dan lain sebagainya.
Undang-undang perburuhan yang berlaku perlu diperhatikan.
c. Biaya untuk pemggunaan peralatan / equipments

5
Untuk menghitung biaya langsung mengenai biaya peralatan untik
pelaksanaan pekerjaan konstruksi / bangunan perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
Untuk peralatan yang disewa perlu diperhatikan ongkos keluar
masuk garasi, ongkos buruh untuk menjalankan peralatan, bahan
baku dan biaya operasi kecil.
Untuk peralatan yang tidak disewa perlu diperhatikan bunga
investasi, depresiasi, reparasi besar, pemeliharaan dan ongkos
mobilisasi.
2. Biaya tak langsung (Inderect cost)
Biaya tak langsung adalah biaya yang tidak secara langsung berhubungan
denagan konstruksi / bangunan tetapi harus ada teapi tidak dilepaskan dari
proyek tersebut, dianataranya adalah :
a. Biaya overhead
Overhaed proyek (dilapangan), diantaranya adalah :
Biaya personil dilapangan
Fasilitas sementara proyek seperti biaya untuk pembuatan ;
gudang, kantor, penerangan, pagar, komunikasi dan transportasi
Bank garansi, bunga bank, ijin bangunan, pajak.
Peralatan kecil yang umumnya habis / terbuang setelah proyek
selesai.
Foto-foto dan gambar jadi (asbuild drawing)
Kwlitas kontrol, seperti test tekan kubus / silinder beton, baja
sondir, boring.
Rapat-rapat dilapangan
Biaya-biaya pengukuran
Overhaed kantor
Adalah biaya yang menjalankan suatu usaha, termasuk
didalamnya seperti sewa kantor dan fasilitasnya, honor pegawai,
ijin-ijin usaha, prakwalifikasi, referensi bank, anggota asosiasi.
2.8.2 Analisa Biaya
Biaya dapat dikelompokan menjadi dua bagian yaitu :

6
1. Kelompok biaya yang mungkin karena penggunaan sumber daya (tenaga
kerja, material, dan peralatan) dan besarnya biaya kelompok ini sanagat
ditentukan oleh seberapa besar sumber daya itu digunakan (koefisien) dan
harga satuan.
2. Kelompok biaya yang muncul karena adanya kelompok biaya yang
pertama (overhaed dan pajak) dan besarnya biaya kelompok ini
merupakan prosentase tertentu dari kelompok biaya yang pertama.
Hubungan biaya dapat dilihat pada diagram dibawah ini :

= Xi + 0 + Tax
=

Xi= Vi x Ai

Ai = Ti + Mi + Pi

Ti = Tij Ti = TIj Pi = Pij


= = =

Tij=KTij x HTij Mij = KMij + HMij Pij = KPij + HPij

Gambar 2.5 Hubungan Analisa Biaya


Sumber : Istimawan Dipohusodo (1995)
Keterangan :
B = Biaya
Xi = Biaya item pekerjaan ke-i
O = free dan overhead
Tax = Pajak
Vi = Kuantitas atau volume pekerjaan ke-i
Ai = Analisa harga satuan pekerjaan ke-i

7
Ti = Biaya tanaga kerja analisa harga satuan pekerjaan ke-i
Mi = Biaya material analisa harga satuan pekerjaan ke-i
Pi = Biaya peralatan analisa harga satuan pekerjaan ke-i
Tij = Biaya unsur tenaga kerja ke-j analisa harga satuan item pekerjaan
ke-i
Mij = Biaya unsur material analisa harga satuan item pekerjaan ke-i
KTij = Kuantitas / koefisien unsur tenaga kerja ke-j analisa harga satuan
item pekerjaan ke-i
KMij = Kuantitas / koefisien unsur material ke-j analisa harga satuan item
pekerjaan ke-i

HTij = Harga satuan unsur tenaga kerja ke-j analisa harga satuan
pekerjaan ke-i
HMij = Harga satuan unsur material ke-j analisa harga satuan
pekerjaan ke-i
HPij = Harga satuan peralatan ke-j analisa harga satuan pekerjaan
ke-i

Dari diagram diatas dapat diperoleh :


1. Biaya yang digunakan untuk menyelesaikan seluruh kegiatan dan
merupakan penjumlahan dari biaya-biaya yang digunakan untuk
menyelesaikan seluruh item pekerjaan dan fee-overhead serta pajak.

= Xi + 0 + Tax
=

2. Biaya item pekerjaan adalah biaya yang digunakan untuk


menyelesaiakan masing-masing item pekerjaan dan diperoleh dari hasil
perkalian antara volume pekerjaan dan analisa harga satuan item
pekerjaan.

Xi = Vi + Ai

8
3. Kuantitas atau volume pekerjaan adalah banyaknya satuan pekerjaan
yang harus diselesaikan untuk memenuhi seluruh atau sebagian fungsi
bangunan.
Ai = Ti + Mi + Pi

4. Biaya tenaga kerja adalah biaya yang digunakan untuk membayar tenaga
kerja dan diperoleh dari penjumlahan seluruh biaya tenaga kerja yang
digunakan untuk menyelesaikan satu satuan item pekerjaan yang
bersangkutan.

Ti = TIj
=

5. Biaya material adalah biaya yang digunakan untuk pengadaan material


dan diperoleh dari penjumlahan seluruh biaya unsur material yang
digunakan untuk menyelesaikan satu satuan item pekerjaan yang
bersangkutan.

Mi = MIj
=

6. Biaya peralatan adalah biaya yang digunakan untuk membayar peralatan


dan diperoleh dari penjumlahan seluruh biaya unsur peralatan yang
digunakan untuk menyelesaikan satu satuan item pekerjaan yang
bersangkutan.

Pi = Pij
=

7. Biaya unsur tenaga kerja adalah biaya yang digunakan untuk membayar
unsur tenaga kerja yang bersangkutan dalam menyelesaikan satu satuan
item pekerjaan dan diperoleh dari perkalian antara koefisien dan harga
satuan.
Tij = KTij x HTij

9
8. Biaya unsur material adalah biaya yang digunakan untuk membayar
unsur material yang bersangkutan dalam menyelesaikan satu satuan item
pekerjaan dan diperoleh dari perkalian antara koefisien dan harga satuan.
Mij = KMij + HMij

9. Biaya unsur tenaga kerja adalah biaya yang digunakan untuk membayar
tenaga kerja yang bersangkutan dalam menyelesaikan satu satuan item
pekerjaan dan diperoleh dari perkalian antara koefisien dan harga satuan.

Pij = KPij x HPij

10. Koefisien tenaga kerja adalah jumlah penggunaan waktu tiap-tiap unsur
tenaga kerja untuk menyelesaikan satu satuan item pekerjaan.
11. Koefisien material adalah banyaknya tiap-tiap unsur material yang
digunakan untuk menyelesaikan satu satuan item pekerjaan.
12. Koefisien peralatan adalah jumlah penggunaan waktu tiap-tiap unsur
peralatan yang digunakan untuk menyelesaikan item pekerjaan.
13. Harga satuan sumber daya adalah biaya yang digunakan untuk
pengadaan atau sumber daya yang digunakan untuk menyelesaikan item
pekerjaan.
Berdasarkan diagram serta penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa yang
harus dihitung dan diestimasi adalah volume (V) item pekerjaan, koefisien
(K), dan harga satuan (H) untuk tiap-tiap sumber daya yang digunakan
dalam analisa harga satuan item pekerjaan.

2.8.3 Konsep Produktifitas


Beberapa pengertian tentang produktifitas sebagai berikut :
1. Defenisi umum produktifitas semesta berdasarkan Konferensi Oslo, 1984,
Produktifitas adalah suatu konsep yang bersifat universal yang bertujuan
untuk menyediakan lebih banyak barang dan jasauntuk lebih banyak
manusia, dengan menggunakan sumber-sumber riil yang sedikit.

10
2. Produktifitas diartikan sebagai hubungan antatra hasil nyata maupun fisik
(barang dan jasa) dengan masukan yang sebenarnya.
3. Produktifitas adalah tingkatan efisiensi dalam memproduk barang atau
jasa.
4. Menurut L.Green Berg tahun 1993, produktifitas sebagai perbandingan
antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu dibagi totalitas masukan
selama periode tertentu.
5. Wulfram I. Evianto menyimpulkan bahwa produktivitas didefenisikan
sebagai rasio antara output dengan input, atau rasio antara hasil produksi
dengan total sumber daya yang digunakan.
Dalam hubugan dengan biaya proyek, maka tidak mungkin terlepas
dari persoalan mengenai produktivitas karena pada dasarnya faktor utama
penyebab biaya proyek adalah produktivitas selain harga satuan.Produktivitas
yang rendah menyebabkan biaya meningkat, begitupun sebaliknya
produktivitasyang tinggi menghasilkan biaya yang lebih rendah.
Produktivitas yang tinggi mencerminkan penggunaan input (tenaga kerja,
material dan peralatan) yang lebih sedikit untuk hasil yang maksimal,
sehingga menyebabkan biaya produk yang lebih rendah. Harga satuan
sumber daya (tenaga,material dan peralatan) relatif tetap dalam masa
pelaksanaan proyek, namun tidak demikian dengan produktivitas.
Produktivitas masing-masing proyek sangat sulit ditetapkan secara
pasti, karena setiap proyek dilaksanakan pada situasi dan kondisi yang
berbeda-beda. Produktivitas dalam pelaksanaan proyek selalu berubah-ubah
tergantung dari motifasi tenaga kerja yang melaksanakan pekerjaan tersebut.
Oleh karena itu, untuk dapat memperkirakan dan mengendalikan
produktivitas, manajer proyek tidak saja memerlukan cara kerja yang teliti,
namun juga memerlukan banyak sekali pengalaman kerja dan penilaian
kondisi lapangan kerja yang matang.
Menurut Reksohadiprojo, dalam buku manajemen produksi dan operasi,
1994, mengatakan bahwa produktivitas adalah peningkatan produksi, yang
berarti perbandingan yang semakin membaik antara jumlah sumber daya

11
yang digunakan (input) dengan jumlah barang atau jasa yang dihasilkan
(output).
Sehingga rumusan produktivitas dapat ditulis sebagai berikut:

P = O/ I (2.1)

Dimana:
P : Produktivitas.
O : Output, hasil yang diperoleh.
I : Input, sumberdaya yang digunakan
Output menyangkut efektivitas, yaitu manfaat dari produk yang dihasilkan
bagi konsumen atau masyarakat. Input menyangkut efisien, yaitu
pemanfaatan sumberdaya yang sesuai dengan kebutuhan, serta menunjukkan
adanya perbaikan menuju kearah penghematan. Satuan output dan input
biasanya dinyatakan dalam nilai uang.
Untuk mengukur produktivitas tenaga kerja, material dan peralatan dapat
ditentukan dengan rumus :
Produktivitas Tenaga Kerja : P = O/ It.....................(2.2)
Produksi Peralatan : P = O/Ip.................(2.3)
Produksi Material : P = O/Im........................(2.4)
Dimana:
It : Input penggunaan tenaga kerja
Ip : Input penggunaan peralatan
Im : Input penggunaan material

2.9 Komponen Perhitungan Rencana Anggaran Biaya


2.9.1 Volume Pekerjaan
Kuantitas pekerjaan dapat ditentukan melalui pengukuran pada obyek
dalam gambar maupun langsung pada obyek sesungguhnya di lapangaan
maka digunakan metode luas penampang rata-rata dengan menganggap sisi-

12
sisi dari bidang yang diukur berbentuk garis lurus. Pengukuran yang
dilakukan pada gambar harus memperhatikan skala yang digunakan atau
ukuran yang terterah pada gambar tersebut, Zainal, 1992.
Satuan adalah lambang yang menyatakan besaran yang diukur, cara
pengukuran, dan cirri dari obyek yang diukur. Suatu angka pengukuran tanpa
disertai oleh satuan pengukuran, tidak mempunyai makna melainkan hanya
sebuah bilangan, jadi volume setiap item pekerjaan yang dihitung harus
mempunyai satuan yang jelas karena akan berpengaruh pada perhitungan
biaya pelaksanaan. Volume pekerjaan yang dihitung akan sangat berpengaruh
terhadap besarnya biaya yang akan digunakan untuk menyelesaikan volume
dari item pekerjaan tersebut. Satuan yang umumnya digunakan dalam
menghitung kuantitas pekerjaan konstruksi (PK) adalah :

Tabel 2.1. Satuan Pengukuran.


No Pengukuran Satuan Simbol
1 Panjang Meter M
2 Luas Meter- Persegi M2
3 Isi Padat Meter- Kubik M3
4 Isi Cair Liter Ltr
5 Berat Kilogram, Ton Kg, Ton
6 Waktu Jam, Hari Jam, Hari
Sumber: A.Z. Zainal, 1992.

Satuan lain yang sering digunakan adalah Lump sum (LS). Satuan ini
menyatakan komponen yang harus diukur dalam obyek pengukuran sangat
banyak, dan masing- masing komponen tidak mempunyai kontribusi yang
signifikan terhadap obyek yang diukur. Jika satuan ini digunakan, maka nilai
pengukurannya adalah sama dengan satu.
Metode pengukuran menggambarkan bagaimana suatu obyek diukur,
untuk memperoleh kuantitas (volume) item pekerjaan. Hasil pengukuran
berdasarkan metode luas penampang adalah : Rata-rata luas penampang pada
ujung- ujung segmen dikalikan dengan panjang segmen.
Dan ditentukan dengan rumus:

13
V = (a + b).t .P ............ (2.1)

Dimana :
V = Kuantitas (Volume) Pengukuran
a = Lebar atas
b = Lebar bawah
t = Tinggi
P = Panjang Segmen yang diukur.
Untuk melakukan pengukuran ini digunakan timbangan, namun cara ini tidak
praktis dilakukan dilapangan. Oleh sebab itu digunakan angkan- angka yang
dapat mengkonversikan misalnya dari satu panjang ke berat atau dari satuan
volume ke berat (berat- volume).

Tabel 2.2. Konversi Satuan Panjang Ke Berat Untuk Besi Beton Polos.
No Diameter besi Panjangper- Berat per- Berat per-
batang (m) batang (kg) meter (kg)
1 6 mm 12 2.66 0,22
2 6.5 mm 12 3.20 0,27
3 8 mm 12 4.74 0,40
4 10 mm 12 7.40 0,62
5 12 mm 12 10.70 0,89
6 16 mm 12 19.00 1,58
7 19 mm 12 26.70 2,23
8 22 mm 12 35.80 2,98
9 25 mm 12 46.20 3,85
10 32 mm 12 75.77 6,31
Sumber : A.Z. Zainal, 1992

Rumus dasar perhitungan kuantitas yang sering dipakai adalah :


1. Segi empat L=px1
p

2. Bujur sangkar L=sxs


s

3. Segi tiga L = . a.t

14
4. Trapesium L = (a + b) .t a

5. Lingkaran L = r2 atau d2

Keterangan :
p = Panjang segi empat (m)
I = Lebar segi empat (m)
s = Sisi bujur sangkar (m)
a = Alas, sisi sejajar bawa trapezium (m)
b = Sisi sejajar atas trapezium (m)
t = Tinggi segi tiga, trapezium (m)
r = Jari- jari lingkaran (m)
d = Diameter lingkaran (m) 22
=
7

Kuantitas (volume) item pekerjaan adalah banyaknya pekerjaan yang harus


diselesaikan / dikerjakan untuk memenuhi fungsi atau sebagian fungsi dari
bangunan, misalnya pekerjaan pasangan pondasi dan lain sebagainya,
kuantitas (volume) akan sangat mempengaruhi besarnya biaya proyek
sehingga dibutuhkan ketelitian dalam menghitung dan menentukan besarnya
volume pekerjaan per- item pekerjaan. Selain pengukuran panjang, juga
sering dijumpai pengukuran berat, dengan satuan (Kg, Ton).

2.9.2 Harga Satuan Sumber Daya (Tenaga Kerja, Material, Peralatan)

15
1. Harga Satuan Tenaga Kerja/ Upah Tenaga Kerja
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menentukan harga satuan
tenaga kerja. Cara tersebut berdasarkan tingkat kehidupan masyarakat.
Untuk saat ini dalam perhitungan biaya proyek, upah tenaga kerja
umumnya diambil dari standar Upah Minimum Propinsi (UMP) yang
dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat dimana proyek akan
dilaksanakan. Penentuan upah tenaga kerja juga ditentukan oleh tingkat
keterampilan dari tenaga kerja tersebut.
2. Harga satuan peralatan
Dengan makin berkembangnya proyek- proyek konstruksi, maka
disarankan perlu untuk mengembangkan dan menggunakan peralatan
untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Penggunaan peralatan diharapkan
dapat memberi nilai tambah pada pelaksanaan proyek, nilai tambah yang
dimaksut adalah menyangkut waktu pelaksanaan, mutu pekerjaan, tingkat
kesulitan dan biaya. Waktu pelaksanaan diharapkan lebih singkat bila
menggunakan peralatan, sehingga penyelesaian pekerjaan tidak terlambat,
mutu pekerjaan diharapkan homogen dan dapat ditingkatkan jika
dibandingkan dengan menggunakan tenaga manusia (manual). Hal ini
dapat mendukung dan memperpanjang umur konstruksi, (Zainal, 1992).
a) Biaya Alat yaitu segala macam biaya yang dibutuhkan untuk
mengoprasikan alat.
b) Biaya Operasi (Biaya Variabel) yaitu biaya yang dikeluarkan
sehubungan dengan beroperasinya alat tersebut.
c) Biaya Produksi yaitu biaya penggunaan alat untuk memindahkan
material atau melakukan pekerjaan sebanyak satu satuan.
d) Biaya tetap : biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan status
kepemilikan alat, biaya ini tetap ada walaupun alat ini tidak
beroperasi dan besarnya tetap tidak mangalami perubahan jikan alat
tersebut beroperasi.
3. Harga satuan material
Harga satuan material adalah harga material yang telah dihitung, jika
material sampai dilokasi dapat berarti sampai di base camp sebagai tempat

16
penampungan sementara sebelum digunakan seperti semen, besi (material
non lokal). Jika harga material memperhitungkan seluruh pengeluaran
sampai material tersebut siap dipakai dilokasi pekerjaan, maka biaya-biaya
yang dikeluarkan untuk mengadakannya dapat dikelompokan sebagai
berikut :
a. Biaya yang harus dikelurkan untuk mendapatkan material yang disebut
harga beli atau dasar.
b. Biaya yang harus dikelurkan untuk memindahkan material ke lokasi
proyek yang disebut biaya angkut atau transportasi.
c. Biaya yang harus dikelurkan untuk menurunkan atau menaikan
material dari dan ke atas alat angkut yang disebut dengan biaya
bongkar muat.
d. Biaya yang harus dikelurkan untuk menyimpan material sebelum
digunakan yang disebut biaya penenganan atau perawatan.
Dalam perhitungan harga satuan material, seorang estimator hendaklah
sudah memperhitungkan estimasi kenaikan harga dimasa yang akan
berlaku selama jangka waktu pelaksanaan suatu proyek.

2.9.3 Koefisien Sumber Daya (Tenaga Kerja, Material, Peralatan)


1. Koefisien Tenaga Kerja
Koefisien tenaga kerja adalah jumlah penggunaan waktu tenaga kerja
untuk menyelesaikan satu satuan item pekerjaan. Untuk menyelesaikan
satu satuan item pekerjaan ini diperlukan sekelompok tenaga kerja yang
terdiri dari beberapa kualifikasi tenaga kerja seperti, mandor, pekerja,
tukang dan kepala tukang, Zainal, 1992.
2. Koefisien Material
Koefisien Material adalah jumlah material yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan satu satuan item pekerjaan. Dalam menentukan koefisien
material, maka perlu membedakan material menurut asalnya. Ada 2 (dua)
kelompok material yang dibedakan menurut asalnya yaitu : Material yang
berasal dari alam (material lokal) misalnya pasir, batu, sirtu, dan

17
sebagainya. Material yang berasal produksi pabrik (material non lokal)
misalnya seng, semen, besi dan sebagiannya.
3. Koefisien Peralatan
Koefisien Peralatan adalah jumlah penggunaan waktu kerja peralatan
untuk menyelesaikan satu satuan item pekerjaan. Satuan yang digunakan
untuk mengukur kuantitas/ koefisien peralatan adalah waktu, yang
biasanya dalam jam. Jadi koefisien peralatan merupakan jumlah jam yang
diperlukan untuk menyelesaikan satu item pekerjaan. (Zainal,1992).

2.9.4 Analisa harga satuan item pekerjaan


Analisa harga satuan pekerjaan adalah perhitungan detail dari
penggunaan sumberdaya (tenga kerja, material,peralatan dan uang) untuk
dapat menyelesaikan satu satuan item pekerjaan, Zainal,1992.
Berdasarkan diagram alur biaya proyek, analisa harga satuan item
pekerjaan merupakan penjumlahan dari semua biaya sumberdaya yaitu
tenaga kerja, material dan peralatan yang digunakan untukmenyelesaikan satu
satuan item pekerjaan. Analisa satuan item pekerjaan yang mempunyai
satuan Lump Sum (LS), harus dilakukan melalui suatu pendataan kebutuhan
akan sumberdaya yang digunakan untuk menyelesaikan item pekerjaan
tersebut. Hal ini sangat diperlukan untukmenghindari estimasi yang bersifat
kira- kira yang dilakukan tanpa dasar. Fee merupakan komponen
keuntungan bagi pelaksana pekerja atas jasanya dalammenyelesaikan
pekerjaan tersebut. Besarnya fee, ditentukan berdasarkan prosentase tertentu
yang diinginkan oleh pelaksana pekerjaan dari nilai analisa harga satuan item
pekerjaan.

2.10 Metode Perhitungan Rencana Anggaran Biaya


Perhitungan Rencana Anggaran Biaya didasarkan pada perhitungan SNI
2008 Tentang perencanaan anggaran biaya proyek konstruksi. Referensi
lainnya yang digunakan adalah merunjuk pada buku Manajemen
Konstruksi tahap-tahap yang harus dilakukan untuk menyusun
estimasi/RAB adalah :

18
1. Dari gambar rencana, dihitung volume pekerjaan dari masing-masing item
pekerjaan dan rekapitulasi.
2. Melakukan pengumpulan data tentang jenis, harga serta kemampuan pasar
menyediakan material konstruksi secara kontinu.
3. Melakukan pengumpulan data tentang upah kerja yang berlaku didaerah
lokasi proyek dan upah pada umumnya jika tenaga kerja didatangkan dari
luar daerah lokasi proyek.
4. Melakukan perhitungan analisis material dan upah dengan menggunakan
analisis yang diyakini baik oleh si pembuat anggaran.
5. Melakukan perhitungan harga satuan pekerjaan dengan memanfaatkan
hasil analisa suatu pekerjaan dan daftar kuantitas atau volume pekerjaan.
6. Membuat rekapitulasi terhadap keseluruhan biaya proyek termasuk fee,
overhead, dan pajak.
7. Menghitung kebutuhan sumber daya terhadap keseluruhan item pekerjaan
yang terdapat dalam satu komponen bangunan.
8. Menentukan jadwal pelaksanaan (time schedule) serta membuat rencana
kerja atau syarat-syarat teknis terhadap seluruh item pekerjaan yang
termasuk didalam perhitungan biaya.

2.10.1 Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan SNI


2008:
1. Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan tanah.
2. Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan pondasi
3. Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan beton
4. Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan dinding
5. Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan plesteran
6. Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan kayu
7. Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan kayu penutup lantai
dinding
8. Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan besi alumanium
9. Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan langit-langit
1. Ruang lingkup

19
Standar ini merupakan indeks bahan bangunan dan indeks tenaga
kerja yang dibutuhkan untuk tiap satuan pekerjaan tanah, pondasi,
beton, dinding, kayu, penutup lantai dinding, besi alumanium, langit-
langit yang dapat dijadikan acuan dasar yang seragam bagi para
peleksanan pembangunan gedung dan perumahan dalam menghitung
besarnya harga satuan pekerjaan tanah untuk bangunan gedung dan
perumahan.
Jenis-jenis pekerjaan :
a. Pekerjaan tanah yang ditetapkan meliputi :
Pekerjaan galian tanah biasa dan tanah keras dalam berbagai
kedalaman
Pekerjaan stripping atau pembuanagn humus
Pekerjaan pembuanagn tanah
Pekerjaan urugan kembali, urugan pasir, pemedatan tanah,
perbaikan tanah sulit dan urugan sirtu.
b. Jenis pekerjaan pondasi yang ditetapkan meliputi
Pekerjaan pembuatan batu belah dalam berbagai komposisi
campuran
Pemsangan anstramping/batu kosong
Pembuatan pondasi sumuran dan pondasi siklop
c. Jenis pekerjaan beton yang ditetapkan meliputi
Pekerjaan pembuatan beton fc = 7,4 Mpa (K 100) sampai dengan
fc = 31,2 Mpa (K 350) untuk pekerjaan beton bertulang
Pekerjaan pemasangan water stop dan bekesting berbagai
komponen struktur bangunan
Pekerjaan pembuatan pondasi, sloff, kolom, balok, dinding, beton
bertulang, kolom praktis dan ring balok.
d. Jenis pekerjaan dinding yang ditetapkan meliputi
Pekerjaan dinding bata merah dengan berbagai ketebalan dan
spesi
Pekerjaan dinding block dengan berbagai dimensi dan spesi
Pekerjaan pemasangan terawang (roster) atau bata berongga

20
e. Jenis pekerjaan plesteran yang ditetapkan meliputi pekerjaan
plesteran dalam berbagai ketebalan dan campuran, berapen dan
penyelesaian akhir.
f. Jenis pekerjaan kayu yang ditetapkan meliputi :
Pekerjaan pembuatan atau pemasangan kusen pintu atau jendela
jenis kayu kelas I,II, atau III
Pekerjaan pembuatan pintu panel, pintu klamp, pintu kayu lapis
(plywood, teakwook), pintu atau jendela jalusi, pintu atau jendela
kaca dan pintu teakwook.
Pekerjaan pembuatan kuda-kuda atap dan rangka atap jenis jenis
kayu kelas I,II,III
Pekerjaan pembuatan rangka langit-langit jenis kayu kelas II, atau
III
Pekerjaan pembuatan rangka dinding dan pemasangan dinding
pemisah jenis kayu kelas I,II, atau III
Pekerjaan pemasangan lisplank jenis kayu kelas I dan II
g. Jenis Pekerjaan penutup lantai dan dinding yang ditetapkan meliputi
Pekerjaan pemasangan lantai keramik, ubin abu-abu, teraso dan
marmer
Pekerjaan pemasangan vinyl dan karpet
Pekerjaan pemasangan pelapis dinding dengan bahan keramik
Pekerjaan pemasangan plint dari ubin/keramik dan plint dari kayu.
h. Jenis pekerjaan besi alumanium yang ditetapkan meliputi :
Pekerjaan rangka atap dan talang
Pekerjaan pemasangan pintu dan jendela besi, pintu alumanium,
dan jendela nako, pintu gulung, pintu lipat suncreen, venation
blinds dan vertical horyzontal blinds.
Pekerjaan pemasangan kawat nyamuk
i. Jenis pekerjaan langit-langit yang ditetapkan meliputi pekerjaan
penutup rangka plafon dengan berbagai bahan penutup dan list.
2. Persyaratan umum dalam perhitungan harga satuan :

21
a. Perhitungan harga satuan pekerjaan berlaku untuk seluruh wilayah
indonesia, berdasarkan harga barang dan upah kerja sesuai dengan
kondisi setempat.
b. Spesifikasi dan pngerjaan setiap jenis pekerjaan disesuaikan
dengan standar spesifikasi teknis pekerjaan yang telah bakukan.
3. Persyaratan teknis
Persyaratan teknis dalam perhitungan harga satuan pekerjaan :
a. Pelaksanaan perhitungan satuan pekerjaan harus didasarkan pada
gambar teknis dan rencana kerja serta syarat-syarat (RKS).
b. Perhitungan indeks bahan telah ditambahkan toleransi sebesar 5%
- 20%, dimana didalam termasuk angka susut, yang besarnya
tergantung dari jenis bahan dan komposisi adukan.
c. Jam kerja efektif untuk tenaga kerja diperhitungkan 5 jam per hari

Tabel 2.3 Perbedaan Koefisien Antara SNI 2008


No Jenis Jenis Pekerjaan Koefesien
Urut
1 Pekerjaan Pondasi
2 - Tukang Batu 0,600
- Kepala Tukang 0,060
Pekerjaan Plesteran
3. - Pekerja 0,200
- Mandor 0,010
Pekerjaan Beton
4 - Kepala tukang 0,025
- Mandor 0,080
Pekerjaan Besi dan
Alumanium
- Mandor 0,007

2.10.2 Efesiensi dan Efektifitas

22
RAB dalam proyek konstruksi memiliki kontribusi yang vital dalam
menentukan ketepatan waktu dalam penyelesaian pekerjaan karena RAB
memiliki hubungan langsung terhadap kurva S dan network planning yang
berfungsi sebagai alat kontrol pekerjaan dalam manajemen konstruksi untuk
menyusun network planning dibutuhkan kompotensi yang tinggi sehingga
dihasilkan schedule yang efesien dan efektif.
Dalam memperkirakan biaya yang dibutuhkan dalam suatu proyek perlu
adanya perhitungan yang matang. Hal ini karena biaya yang akan
dikeluarkan dalam proyek tersebut haruslah efesien namun tetap dapat
berjalan dengan efektif. Biaya yang diperkirakan haruslah seminimal
mungkin namun harus dapat memberikan output atau hasil yang semaksimal
mungkin.
Efesien pada intinya adalah perbandingan terbalik atau rasionalitas
antara hasil yang diperoleh atau output dengan kegiatan yang dilakukan
serta sumber-sumber dan waktu yang dipergunakan atau input. Sadangkan
efektifitas diukur dari jumlah hasil keluaran (output) yang sesuai
harapan/layak (output layak) dari seluruh hasil keluaran (output). Ketika
membicarakan efektifitas tidak perlu mempedulikan berapa banyak sumber
daya yang dibutuhkan. Tidak perlu berapa banyak input berupa waktu kerja,
energi, maupun bahan yang dibutuhkan, ukuran efektifitas hanyalah jumlah
output layak dari sejumlah output yang dihasilkan. Makin banyak output
layak berarti makin efektifitas.
Efektifitas kerja seseorang dipengaruhi dua hal : kemampuan memenuhi
target tujuan akhir (ideal output), dan kecakapan dalam membuat solusi
yang sesuai target tersebut (qualified output).

2.11 Penjadwalan Waktu (Time Schedulle)


Supaya suatu pekerjaan konstruksi dapat berjalan lancar serta efektif
maka diperluhkan pengaturan waktu atau penjadwalan waktu dari kegiatan
yang terlibat didalamnya. Sebungan dengan itu maka pihak pelaksana dari

23
suatu pelaksanaan konstruksi merencanakan suatu jadwal pelaksanaan atau
time schedule.
Jadwal waktu kegiatan adalah urutan-urutan kerja yang berisi antara lain:
1. Jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan
2. Waktu awal dan akhir suatu pekerjaan kontruksi
Mengingat jadwal kegiatan ini merupakan dasar penentuan waktu
pelaksanaan pekerjaan konsturksi maka pembuatan jadwal ini harus sudah
selesai sebelum pelaksanaan proyek dimulai. Jadwal waktu sangat penting
artinya bagi pimpinan proyek yang bersangkutan dalam pelaksanaan
pekerjaan konstruksi. Dengan adanya jadwal waktu ini pimpinan proyek
dapat mengetahui dengan jelas rencana kerja yang akan dilaksanakan. Hal
ini memudahkan pimpinan proyek untuk mengkoordinasikan unit-unit
pekerjaan sehingga diperoleh efisiensi kerja yang tinggi.
Tujuan dari penjadwalan ini adalah :
1. Sebagai pedoman pelaksanaan untuk memudahkan melakukan
pekerjaan agar pekerjaan tersebut dapat berjalan lancar dan mencapai
sasaran.
2. Untuk memperkirakan lokasi sumber daya yang harus disediakan setiap
kali diperlukan agar proyek dapat berjalan lancar dan efektif.
3. Untuk mengontrol kemajuan pekerjaan, sehingga bila ada
keterlambatan dalam pelaksanaan dapat segera diketahui untuk
mengambil tindakan penanggulangannya.
4. Untuk menentukan lamanya waktu yang diminta oleh pemilik agar
segera dipenuhi.

Sebagai pertimbangan yang harus diperhatikan dalam pembuatan jadwal


waktu pelaksanaan proyek sebagai berikut :
1. Situasi dan kondisi lapangan, dimaksutkan untuk mengetahui
hambatan- hambatan atau kemudahan- kemudahan yang terdapat di
lapangan.

24
2. Faktor cuaca yang akan berpengaruh terhadap prestasi kerja.
3. Sumber daya yang dimiliki seperti tenaga kerja, kemampuan dan
keterampilan serta kapasitas alat- alat kerja.
4. Batasan waktu yang diberi oleh pemberi tugas.
5. Macam- macam dan volume pekerjaan yang akan dilaksanakan.
6. Spesifikasi pekerjaan dilihat dari bentuk yang direncanakan, dari bestek
dapat ditentukan pekerjaan apa saja yang harus didahulukan dan
mendapat prioritas kualitas tertentu.
Dari dasar pertimbangan diatas, maka dapat dibuat uraian pekerjaan
urutan serta waktu pelaksanaannya. Secara skematis perencanaan waktu
pelaksanaan pekerjaan kontruksi dapat digambarkan seperti berikut :

25