Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN


" PUSAT INVESTASI "

KELOMPOK 6 :

1. DEVINA SAPUTRI 1111 24648

2. MIFTAH FARID 1111 24650

3. ANITA CAROLINA 1111 24654

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI


YAYASAN KELUARGA PAHLAWAN NEGARA
YOGYAKARTA
2014
PENGERTIAN PUSAT INVESTASI

Pusat investasi merupakan pusat pertanggungjawaban dalam suatu organisasi yang menilai
kinerja manajernya didasarkan atas dasar laba yang diperoleh dihubungkan dengan
investasinya (aktiva yang dioperasikan). Dengan demikian, Pusat Investasi diukur prestasinya
berdasarkan perbandingan antara laba yang diperoleh dengan aset (investasi) yang
dipergunakan.

Setiap pusat investasi mempunyai seorang manajer utama dan bertanggungjawab atas setiap
unit kegiatan atau program yang terjadi didalam semua divisi yang dipimpinnya. Kemudian
secara periodik manajer tersebut akan mempertanggungjawabkan hasil kerjanya kepada
pimpinan perusahaan.

PERBEDAAN ANTARA PUSAT LABA DENGAN PUSAT INVESTASI

Pada pusat laba, pusat perhatian utama adalah pada laba yang diukur berdasarkan selisih
pendapatan dengan biaya, sedangkan pada pusat investasi perhatian utama adalah
membandingkan antara laba yang diperoleh dengan investasi/biaya untuk menghasilkannya.

Pengukuran kinerja pusat investasi merupakan perluasan dari pengukuran kinerja pusat laba.
Pengukuran kinerja ini diperlukan karena suatu divisi yang memperoleh laba tinggi tidak
berarti mempunyai kinerja yang baik jika laba tersebut dihubungkan dengan investasi yang
digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Disini prestasi manajer dinilai atas laba dan
investasi yang diperlukan untuk memperoleh laba.

TUJUAN PENGUKURAN AKTIVA

1. Menyediakan infomasi yang bermanfaat bagi manajer divisi tentang aktiva yang
dioperasikan.
2. Memotivasi manajer divisi untuk membuat keputusan yang terbaik bagi kepentingan
perusahaan.
3. Mengukur kinerja manajer pusat investasi dan mengukur kinerja unit bisnis sebagai satu
kesatuan ekonomi.

TUJUAN PENILAIAN KINERJA PUSAT INVESTASI

Tujuan dari menghubungkan laba dengan investasi ialah untuk memotivasi para manajer unit
usaha guna mencapai sasaran-saran yaitu:

1. Menghasilkan laba yang memadai dengan wewenang mengambil keputusan tentang


sumber ekonomi dan fasilitas fisik yang digunakan.
2. Mengambil keputusan untuk menambah investasi bila investasi tersebut memberikan
return yang memadai
3. Mengambil keputusan untuk melepas/mengurangi investasi yang tidak memberikan
return yang memadai.

DASAR PENILAIAN KINERJA

Ada dua alat ukur untuk pusat investasi yang biasa digunakan, yaitu:

1. ROI (Return On Investment)

Tingkat pengembalian atas investasi (ROI) merupakan rasio dimana pembilangnya


(numerator) adalah pendapatan atau laba yang dilaporkan pada laporan keuangan, sedangkan
penyebutnya (denominator) adalah aktiva yang digunakan.

Rumus untuk menghitung ROI :

ROI = Laba operasi / Aktiva operasi rata-rata, atau ROI = Margin x perputaran = (Laba
operasi / Penjualan) x (Penjualan / Aktiva operasi rata-rata)

Keterangan :

Laba Operasi ( operating income ) adalah laba yang dihasilkan sebelum bunga dan pajak
Aktiva operasi (operating assets) adalah seluruh aktiva yang digunakan untuk
menghasilkan laba operasi
Margin adalah rasio dari operasi terhadap penjualan
Perputaran (turnover) adalah suatu ukuran lain yang dihitung dengan membagi
pendapatan penjualan dengan aktiva operasi rata-rata
Keunggulan ROI

Mendorong manajer untuk memfokuskan pada hubungan antara penjualan, beban dan
investasi
Mendorong manajer untuk memfokuskan pada efisiensi biaya
Mendorong manajer untuk memfokuskan pada efisiensi aktiva operasi

Kelemahan ROI

ROI mengakibatkan fokusan yang sempit pada profitabilitas divisi dengan


mengorbankan profitabilitas keseluruhan perusahaan
ROI mendorong para manajer untuk berfokus pada kepentingan jangka pendek dengan
mengorbankan kepentingan jangka panjang

2. EVA (Economic Value Added)

Nilai Tambah Ekonomi (EVA) merupakan jumlah rupiah, yang diperoleh dari selisih antara
laba operasi bersih (net operating profit) dengan beban modal (capital charge). Sedangkan
beban modal diperoleh dari aktiva yang digunakan dikalikan tingkat tarif (rate).

Rumus menghitung EVA :

EVA = Laba operasional setelah pajak (Biaya tertimbang rata-rata atas modal x Total
moda terpakai)

Keterangan:

EVA > 0 (positif) Jika EVA > 0 maka telah terjadi penambahan nilai ekonomis ke dalam
perusahaan dan perusahaan dapat menciptakan nilai perusahaan.

EVA = 0 (impas) Jika EVA = 0 maka secara ekonomis perusahaan dalam keadaan impas
karena semua laba yang ada digunakan untuk membayar kewajiban
kepada penyedia dana baik kreditor maupun pemegang saham atau
dengan kata lain laba yang ada habis digunakan untuk biaya modal.

EVA < 0 (negatif) Jika EVA < 0 maka tidak ada nilai tambah di perusahaan karena dana
yang tersedia tidak memenuhi harapan-harapan kreditor dan terutama
para pemegang saham (tidak mampu menutup nilai perusahaan).
EVA digunakan untuk menganalisa apakah suatu proyek individual itu diterima atau ditolak.
Selain itu sejumlah perusahaan telah menemukan bahwa EVA membantu mendorong jenis
perilaku yang benar dari berbagai divisi dengan menunjukan bahwa penekanan semata-mata
pada pendapatan operasional tidaklah mencukupi. Alasan yang menggarisbawahi adalah EVA
mengandalkan biaya modal yang sebenarnya. Ketika digunakan sebagai ukuran kinerja, EVA
mendorong para manajer untuk meningkatkan EVA dengan cara mengambil tindakan-
tindakan yang konsisten dengan peningkatan nilai pemegang saham.

Ada empat keunggulan EVA, yaitu:


Dengan EVA seluruh unit usaha memiliki sasaran laba yang sama untuk perbandingan
investasi, tetapi ROI memberikan insentif yang berbeda untuk investasi diantara unit-unit
usaha.
Jika kinerja perusahaan pusat investasi diukur dengan EVA, maka investasi-investasi
yang menghasilkan laba di atas biaya modal akan meningkatkan EVA dan oleh karena
itu, akan lebih menarik bagi manajer.
Tingkat suku bunga yang berbeda dapat digunakan untuk jenis aktiva berbeda pula.

EVA memiliki korelasi positif yang lebih kuat terhadap perubahan-perubahan nilai pasar
perusahaan.

Secara konsep EVA lebih unggul dari pada ROI, tetapi menurut survey, ROI lebih banyak
digunakan dalam bisnis. Kebanyakan perusahaan menggunakan ROI daripada EVA, karena
alasan: (1) merupakan alat ukur komprehensif, (2) mudah dihitung dan dipahami, serta (3)
merupakan denominator umum yang digunakan pusat investasi.

MENGUKUR ASET YANG DIGUNAKAN

Dalam memutuskan dasar investasi apa yang akan digunakan untuk mengevaluasi pusat
investasi, kantor pusat menanyakan dua hal:

1. Praktik-praktik apa saja yang akan membuat para manajer unit bisnis menggunakan
aktiva mereka dengan efisien dan untuk mendapatkan jumlah dan jenis yang tepat dari
aktiva baru?

2. Praktik-praktik apa saja yang paling baik mengukur linerja suatu kesatuan ekonomi?
Kas

Banyak perusahaan mengendalikan kas secara terpusat karena hal tersebut memungkinkan
penggunaan saldo kas yang lebih kecil daripada bila setiap unit usaha memegeng kendali atas
saldo kas. Sehingga saldo kas aktual pada unit usaha cenderung jauh lebih kecil dibandingkan
dengan saldo kas yang diperlukan. Oleh karena itu banyak perusahaan yang menggunakan
rumus tertentu untuk menghitung kas yang akan dimasukkan dalam dasar investasi, meskipun
ada beberapa perusahaan yang tidak memasukkan unsur kas dalam dasar investasi.

Piutang

Manajer unit usaha dapat mempengaruhi tingkat piutang melalui dua cara:
1. Langsung, yaitu melalui penetapan persyaratan kredit dan persetujuan atas kredit
individual dan batas kredit, serta melalui wewenag mereka dalm menagih kredit yang
telah jatuh tempo.

2. Tidak langsung, yaitu melalui kemampuan mereka untuk menghasilkan penjualan.

Demi kemudahan, piutang sering dimasukkan sebesar saldo periode sesungguhnya,


meskipun saldo rata-rata piutang secara konsep merupakan ukuran yang lebih baik. Akan
tetapi yang biasanya dilakukan adalah memasukkan piutang sebesar nilai buku, yaitu harga
jual dikurangi cadangan kerugian piutang. Nilai buku piutang ini didasarkan atas saldo akhir
periode piutang, atau yang lebih akurat adalah saldo rata-rata piutang.

Persediaan

Persediaan biasanya diperlakukan sama seperti piutang, yaitu dicatat sebesar saldo akhir
periode meskipun saldo rata-rata lebih secara konseptual. Jika perusahaan menggunakan
metode LIFO maka sebaiknya persediaan dinilai pada biaya standar atau rata-rata dan biaya
yang sama sebaiknya digunakan untuk mengukur harga pokok penjualan pada laporan laba
rugi, karena saldo persediaan LIFO cenderung sangat rendah pada periode terjadinya inflasi.

Properti, Pabrik, dan Peralatan

Dalam akuntansi keuangan, aktiva tetap pada awalnya dicatat sebesar harga perolehan (cost),
dan dihapus selama masa manfaat aktiva melalui depresiasi. Permasalahan yang mungkin
timbul bila menggunakan pendekatan tersebut antara lain:
a. Pembelian Peralatan Baru

Jika aktiva yang telah disusutkan dimasukkan kedalam dasar investasi pada nilai buku
bersih, maka profitabilitas unit usaha tersebut akan dinyatakan secara salah (misstated)
pada nilai buku bersih dan para manjer unit usaha akan termotivasi untuk mengambil
keputusan akuisisi yang tepat.

b. Nilai Buku Kotor (Gross Book value)

Fluktuasi EVA dan ROI dari tahun ke tahun dapat dihindari dengan memasukkan unsur
aktiva yang dapat disusutkan dalam dasar investasi sebesar nilai buku kotornya. ROI
yang dihitung berdasarkan nilai buku kotor akan menyatakan nilai yang terlalu rendah
dibandingkan tingkat pengembalian yang sebenarnya.

c. Disposisi Aktiva

Jika aktiva dimasukkan ke dalam dasar investasi pada biaya awalnya, maka manajer unit
usaha akan termotivasi untuk menghilangkan aktiva tersebut, meskipun aktiva itu
memiliki suatu kegunaan karena dasar investasi unit usaha akan berkurang sejumlah
biaya penuh dari aktiva tersebut.

d. Depresiasi Anuitas

Jika penyusutan ditentukan oleh metode anuitas, dan bukan oleh metode garis lurus,
maka perhitungnan profitabilitas unit usaha akan menunjukkan EVA dan ROI yang tepat.
Hal ini disebabkan karena metode penyusutan anuitas sesungguhnya mengaitkan
pengembalian investasi yang implicit dalam perhitungan nilai sekarang. Namun
perusahaan biasanya menggunakan metode garis lurus karena dianggap merupakan
metode yang paling tepat menggambarkan kondisi di lapangan.

e. Metode Penilain Yang Lain

Permasalahan utama dalam menggunakan nilai-nilai nonakuntansi adalah bahwa nilai


tersebut cenderung subjektif. Semakin jauh manajer menyimpang dari angka-angka
akuntansi dalam mengukur kinerja keuangan, maka semakin besar kemungkinan bahwa
sistem akuntansi yang ada hanya diperlakukan sebagai permainan angka.
Aktiva Tidak Berwujud

Beberapa perusahaan cenderung melaksanakan penelitian dan pengembangan (R&D) yang


intensif, sedangkan yang lainnya cenderung fokus pada pemasaran. Ada keuntungan dalam
mengkapitalisasi aktiva tidak berwujud seperti R&D dan pemasaran sebagai investasi jangka
panjang, kemudian mengamortisasi selama masa manfaatnya. Metode tersebut akan
mengubah cara para manajer unit usaha memandang pengeluaran semacam ini. Dengan
menghitung aktiva semacam ini sebagai investasi jangka panjang, manajer unit usaha akan
memperoleh manfaat jangka pendek yang lebih sedikit dari pengurangan atas pengeluaran
untuk pos tersebut.

Aset Sewa Guna

Banyak perjanjian sewa guna usaha merupakan usaha perjanjian pendanaan yaitu, perjanjian
tersebut memberikan cara alternative untuk menggunakan aktiva yang seharusnya didapatkan
dari pendanaan dengan utang dan modal. Sewa guna financial ( yaitu sewa guna usaha jangka
panjang yang setara dengan nilai sekarang dari arus beban sewa) adalah sama dengan utang
yang dilaporkan juga dalam neraca.

Aset Menganggur

Jika suatu unit memiliki aktiva yang menganggur (idle asset) yang dapat digunakan oleh unit
lain, maka unit etrsebut dapat diperbolehkan untuk mengeluarkan aktiva tersebut dari dasar
investasinya. Tujuan dari izin ini adalah untuk mendorong para manajer unit usaha guna
melepas aktiva menganggur ke unit lain yang mungkin memerlukannya.

Modal Kerja Secara Umum

Perlakuan pertama, perusahaan memasukkan seluruh aktiva lancar sebagai dasar investasi
(tidak dikurangkan dengan kewajiban lancar), jika unit bisnis tersebut tak dapat
mengendalikan utang lancar. Perlakuan kedua dalah aktiva lancar dikurangkan dengan utang
lancar. Metode kedua merupakan ukuran yang baik bagi perusahaan.

Beban Modal

Kantor posat korporat menentukan tarif (rate) yang digunakan untuk menghitung beban
modal (capital charge). Tarif tersebut seharusnya lebih tinggi daripada tarif korporat untuk
pendanaan dengan utang karena dana yang terlibat merupakan campuran antara utang dan
modal berbiaya lebih tinggi (higher-cost equity). Biasanya tarif tersebut ditetapkan dibawah
estimasi biaya modal perusahaan sehingga EVA atas rata-rata unit usaha berada di atas nol.

Kewajiban Tidak Lancar

Terkadang, suatu unit usaha menerima modal permanennya dari kumpulan modal perusahaan.
Perusahaan memperoleh dana tersebut dari pemberian pinjaman, modal investor dan laba
ditahan. Jumlah total dana tersebut relevan untuk tujuan pengukuran investasi.Perhitungan
EVA dilakukan berdasarkan aktiva yang diperoleh dari perusahaan, bukan total aktiva.

Survei-survei Praktik

Kebanyakan perusahaan memasukkan unsur aktiva tetap ke dalam dasar investasi pada nilai
buku bersih. Perusahaan-perusahaan tersebut melakukannya karena ini merupakan jumlah
dengan mana aktiva tersebut dicatat dalam laporan keruangan, dan oleh karenanya, sesuai
dengan laporan keruangan tersebut, mencerminkan jumlah modal yang digunakan dalam
divisi tersebut.

PENILAIAN KINERJA EKONOMIK vs KINERJA MANAJEMEN

Penilaian Kinerja Ekonomik


Frekuensi pelaporan tidak teratur
Ditujukan untuk keperluan diagnosa, untuk mengetahui apakan strategi yang dipilih
memuaskan atau tidak
Dasar penilaian organisasi secara keseluruhan
Lebih difokuskan untuk melihat kemampuan laba yang akan datang
Nilai perusahaan merupakan present value laba dimasa yang akan datang.

Penilaian Kinerja Manajemen


Pelaporan dilakukan setiap periode
Menggunakan informasi dari data historis dan biaya yang sesungguhnya
Memfokuskan pada laba saat ini atau yang lalu