Anda di halaman 1dari 11

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA SEKTOR PUBLIK

Tindak Pidana Korupsi di Kalangan Aparatur Sipil Negara

Dosen : Dr. Azrita Mardhalena, M.Si

Nama Anggota Kelompok :

1. Astriyulida E1011131125

2. Sarah Riadi E1011131146

3. Teddy Hermawan E1011131141

4. Yeremias E1011131131

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2017
A. LATAR BELAKANG
Dalam sebuah organisasi, sumber daya adalah modal awal dalam

menjalankan organisasi menuju tujuan yang ingin dicapai. Salah satunya

adalah Sumber Daya Manusia (SDM). Karena dalam proses perjalanan

mencapai tujuan (goal) organisasi, Sumber Daya Manusia adalah sebagai

motor penggerak bagi organisasi itu sendiri. Dalam hal ini kinerja sumber

daya manusia/pegawai berperan penting. Maka dari itu, manajemen yang baik

dalam mengelola sumber daya manusia berperan penting bagi proses

pencapaian tujuan suatu organisasi.


Salah satu peran pegawai yang sering kita temui adalah peran Aparatur

Sipil Negara diberbagai kantor-kantor pelayan publik disekitar kita. Menurut

UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara disebutkan bahwa

Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan

pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi

pemerintah. Pegawai Aparatur `Sipil Negara (Pegawai ASN) adalah pegawai

negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat

oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan

pemerintahan atau diserahi tugas Negara lainnya dan digaji berdasarkan

peraturan perundang-undangan.
Dalam menjalankan perannya, pegawai ASN sebagai pelayanan publik

dan demikian pentingnya pelayanan publik yang diberikan pemerintah kepada

masyarakat, sehingga sering dijadikan indikator keberhasilan suatu sistem

penyelenggaraan pemerintahan. Kualitas PNS yang dinilai masih rendah


meskipun dari kuantitas sudah memadai mempengaruhi kepercayaan

masyarakat terhadap Pegawai ASN/PNS yang cenderung negatif (malas,

korup, kurang melayani, tidak produktif, dan lain sebagainya).


Sebagaimana disebutkan oleh Budi, Setia dan Sudrajat, (2007), yang

menjelaskan bahwa sumber daya aparatur (PNS) saat ini mempunyai tingkat

profesionalisme yang rendah, kemampuan pelayanan yang tidak optimal,

rendahnya tingkat reliability, assurance, tangibility, empathy dan

responsiveness, tidak memiliki tingkat integritas sebagai pegawai pemerintah

sehingga tidak mempunyai daya ikat emosional dengan instansi dan tugas-

tugasnya, tingginya penyalahgunaan wewenang (KKN), tingkat kesejahteraan

yang rendah dan tidak terkait dengan tingkat pendidikan, prestasi,

produktivitas dan disiplin pegawai. Kondisi ini berdampak pada rendahnya

kinerja PNS dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam melayani

masyarakat.
Berdasarkan hal diatas, kami mencoba menganalisis masalah

penyalahgunaan wewenang (dalam kasus korupsi) oleh Aparatur Sipil

Negara. Karena apabila tindakan tersebut tidak dapat dibersihkan, maka akan

mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap aparatur negara semakin

rendah, yang pada gilirannya kepercayaan rakyat kepada pemerintah akan

menurun.
B. PEMBAHASAN
Menurut Dr.Kartini Kartono, korupsi adalah tingkah laku individu yang
menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeruk keuntungan dan
merugikan kepentingan umum. Menurut Huntington (1968) korupsi adalah
perilaku pejabat publik yang menyimpang dari norma-norma yang diterima
oleh masyarakat dan perilaku menyimpang ini ditujukan dalam rangka
memenuhi kepentingan pribadi.
Masalah utama dalam manajemen kepegawaian di Indonesia berawal dari
sistem pengadaannya. Isu yang paling sering muncul terkait kinerja- pegawai
negeri adalah isu korupsi, sikap pegawai negeri yang tidak disiplin, kurang
profesional, tidak responsif, dan masalah personal lainnya.
Isu inilah yang memberikan stigma buruk pada birokrasi kita, PNS dicap
sebagai suatu wadah yang amat kotor dengan berbagai problematika yang
semakin hari semakin kompleks sehingga memunculkan public distrust.
Ketika banyak pegawai negeri (PNS) yang tertangkap basah melakukan
tindak korupsi, alibi mereka macam-macam. Salah satunya adalah karena
tuntutan keluarga. Kebutuhan keluarga yang semakin bertambah banyak dan
mahal dijadikan sebagian PNS sebagai alasan utama mereka berbuat korup,
mengambil yang bukan haknya. Sebenarnya gaji PNS telah diatur sedemikian
rupa termasuk berbagai tunjangannya untuk kesejahteraan hidup PNS yang
bersangkutan beserta keluarganya.
Intinya, tuntutan keluarga atau lebih tepatnya tuntutan ekonomi selalu
menjadi penyebab korupsi. Selain desakan finansial keluarga, hal lain adalah
karena ingin menjaga gengsi. Ketika melihat teman lainnya kaya dengan
normal (melalui kerja keras), maka dirinya terpancing untuk menjadi kaya.
Karena tidak ingin melewati usaha keras, maka seseorang akan melewati hal
itu dan rela menempuh jalur singkat yaitu korupsi. Apalagi jika seorang PNS
sudah berkeluarga. Dana pendidikan bagi anak, cicilan beberapa
perlengkapan rumah, bahkan hutang menjadi alasan PNS berbuat korupsi.
Alasan lainnya adalah faktor psikologis. Faktor psikologis bisa diartikan
berasal dari dalam diri si pelaku sendiri. Perbuatan korupsi memang berbeda
dengan pencurian biasa/maling, perbuatan ini yang notabene dilakukan oleh
oknum pejabat publik cenderung memiliki dampak luas, yang menyangkut
suatu sistem pemerintahan dimana dia berada, dan bahkan bisa membuat
kehancuran suatu negara, ini yang membedakan dengan perilaku kriminal
biasa di level masyarakat umum yang efeknya sebatas lingkup per-individu
dan tidak mempengaruhi sistem pemerintahan. Memprihatinkan bahwa
Indonesia menempati ranking 3 besar dunia untuk kasus korupsi ini.
Secara umum korupsi bisa disebabakn oleh banyak hal, termasuk dari
sifat psikologis seseorang. Kaum behavioris mengatakan, lingkungan menjadi
faktor pendorong yang kuat bagi orang untuk korupsi dan mengalahkan sifat
baik seseorang yang sudah menjadi ciri/karakter pribadinya. Lingkungan
dalam hal ini malah memberikan dorongan dan bukan memberikan hukuman
pada orang ketika ia menyalahgunakan kekuasaannya. Lingkungan secara
tidak langsung sangat berpengaruh terhadap psikologi seseorang melakukan
tindak korupsi. Jika memang Indonesia ingin bebas dari korupsi, maka semua
calon PNS/TNI/Polri/politisi/pejabat publik dan lain-lain harus mengikuti tes
psikologi yang ketat, misalnya tes kepribadian khusus. Di samping itu, perlu
dibuat sistem pencegahan korupsi yang efektif.
Dalam konteks manajemen kepegawaian, masalah yang paling sering
muncul adalah praktik korupsi dan campur tangan politik dalam pengadaan
PNS. Manajemen penilaian kinerja yang masih sangat tidak relevan,
manajemen penggajian yang tingkat akurasinya masih sangat rendah, job
placement yang banyak menuai permasalahan.
Sebenarnya, patologi manajemen kepegawaian ini terjadi dalam setiap
fungsi MSDM, yang salah bukan sepenuhnya terletak pada sistem nya, tapi
sebagian besar justru terletak pada aktor yang terlibat di dalamnya, bukan
hanya pada pimpinannya, tapi juga terletak pada bawahan- bawahannya
(pegawai)
Adapun kewajiban pegawai tertera dalam Pasal 23 Undang-Undang Nomor 5
Tahun 2014 tentang ASN sebagai berikut:
a. Setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara
RepublikIndonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia
danpemerintah yang sah.
b. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
c. Melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah
yangberwenang.
d. Menaati ketentuan peraturan perundang-undangan
e. Melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian,
kejujuran,kesadaran, dan tanggung jawab.
f. Menunjukan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan,dan
tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar kedinasan
g. Menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
h. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan
RepublikIndonesia.

Penyebab Adanya Tindak Pidana Korupsi


Dalam pengertian sederhana, korupsi adalah penyalahgunaan kekuasaan dan
kepercayaan untuk kepentingan pribadi. Karena itu korupsi dipahami dalam
konteks perilaku pejabat-pejabat sektor publik-politisi, pegawai negeri yang
memakai kekuasaan dan wewenang sosial untuk memperkaya diri, atau bersama
orang-orang yang dekat dengan mereka.
Faktor-faktor penyebab korupsi di Indonesia terdiri atas 4 aspek, yaitu:
a. Aspek perilaku individu, yaitu faktor-faktor internal yang mendorong
seseorang melakukan korupsi seperti adanya sifat tamak, moral yang kurang
kuat menghadapi godaan, penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan
hidup yang wajar, kebutuhan hidup yang mendesak, gaya hidup konsumtif,
malas atau tidak mau bekerja keras,serta tidak diamalkannya ajaran-ajaran
agama secara benar.
b. Aspek organisasi, yaitu kurang adanya keteladanan dari pimpinan, kultur
organisasiyang tidak benar, sistem akuntabilitas yang tidak memadai,
kelemahan sistem pengendalian manajemen, manajemen cenderung
menutupi perbuatan korupsi yang terjadi dalam organisasi.
c. Aspek masyarakat, yaitu berkaitan dengan lingkungan masyarakat di
mana individu dan organisasi tersebut berada, seperti nilai-nilai yang
berlaku yang kondusif untuk terjadinya korupsi, kurangnya kesadaran
bahwa yang paling dirugikan dari terjadinya praktik korupsi adalah
masyarakat dan mereka sendiri terlibat dalam praktik korupsi, serta
pencegahan dan pemberantasan korupsi hanya akan berhasi lbila
masyarakat ikut berperan aktif. Selain itu adanya penyalahartian
pengertian-pengertian dalam budaya bangsa Indonesia.
d. Aspek peraturan perundang-undangan, yaitu terbitnya peraturan
perundang-undangan yang bersifat monopolistik yang hanya
menguntungkan kerabat dan ataukroni penguasa negara, kualitas
peraturan perundang-undangan yang kurang memadai, judicial review
yang kurang efektif, penjatuhan sanksi yang terlalu ringan,penerapan
sanksi tidak konsisten dan pandang bulu, serta lemahnya bidang
evaluasidan revisi peraturan perundang-undangan.

Contoh Kasus Tindak Pidana Korupsi di Kalangan ASN


Dalam lingkup Aparatur Sipil Negara banyak ditemukan kasus korupsi yang
melibatkan oknum Pegawai Negeri Sipil. Adapun beberapa contoh kasus korupsi
yang melibatkan aparatur sipil Negara (ASN) di Pontianak:
a. pada kasus korupsi Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak.
Kasus koruspi yang melibatkan Rektor IAIN Pontianak adalah kasus tentang
pengadaan meubeler di rumah susun mahasiswa (Rusunawa). Proyek yang
menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebesar
Rp2,09 miliar tersebut diduga tidak sesuai dengan kontrak pengadaan, dari
hasil penyidikan yang dilakukan kepolisian, ditemukan kerugian negara
sebesar Rp 520 juta, hingga akhirnya empat orang ditetapkan polisi sebagai
tersangka termasuk sang Rektor, Hamka Siregar.
b. Kasus terkait pengadaan lahan lapangan sepak bola yang melibatkan calon
SEKDA Pontianak.
Tim penyidik KEJARI menemukan adanya dugaan kerugian negara dari
kegiatan tersebut setelah dilakukan penyelidikan sejak Maret 2015. Setelah
dilakukan gelar perkara untuk mengevaluasi hasil penyelidikan, perkara
tersebut ditingkatkan menjadi penyidikan tertanggal 18 Juni 2015. Perkara
tersebut berpangkal dari proses pembayaran ganti rugi dari Pemkot Pontianak
kepada warga, melalui Badan Pengelola Keuangan dan Kekayaan Aset
Daerah (BPKKAD). Kasus dugaan korupsi ini melibatkan sejumlah orang
penting di Pontianak baik sebagai saksi maupun sudah ditingkatkan statusnya
menjadi tersangka. Hanya saja, kepastian sebagai saksi atau sudah menjadi
tersangka ini sulit dikonfirmasi. Nama-nama ini, antara lain Rudi Enggano,
mantan Kepala BPKKAD Pontianak yang kini menjabat Asisten Bidang
Kesejahteraan Rakyat Pemkot Pontianak .
c. Korupsi pengadaan jasa petugas keamanan tahun anggaran 2014 yang
melibatkan dua orang pejabat di lingkungan DPRD Kota Pontianak.
Dalam kasus tersebut, ditemukan sejumlah kefiktifan, diantaranya jumlah
personil security serta pengadaan seragam dan atributnya sehingga dalam
kasus tersebut negara dirugikan sekitar Rp193 juta. Dua pejabat lingkungan
Sekretariat DPRD Kota Pontianak ini akan di jerat Pasal 2 dan Pasal 3 UU RI
Nomor 31 tahun 1999 yang telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001
tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.
Upaya Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di kalangan ASN
Perlunya ditegaskan kembali kemauan berpolitk (political will) melalui:
1. Penyempurnaan undang-undang Anti Korupsi yang lebih komprehensif,
mencakup kolaborasi kelembagaan yang harmonis dalam mengatasi masalah
korupsi
2. Kontrak politik yang dibuat pejabat publik
3. Pembuatan aturan dan kode etik PNS
4. Pembuatan pakta (perjanjian internasional) integritas
5. Penyederhanaan birokrasi (baik struktur maupun jumlah pegawai)

Adanya kewenangan yang jelas dan tegas yang diberikan oleh suatu
lembaga anti korupsi menjadi kunci keberhasilan strategi pemberantasan
korupsi. Tumpang tindih kewenangan di antara lembaga-lembaga yang
menangani masalah korupsi menyebabkan upaya pemberantasan korupsi
menjadi tidak efektif dan efisien. Strategi pemberantasa korupsi harus juga
bersifat menyeluruh dan seimbang. Berkenan dengan hal itu, maka strategi
pemberantasan korupsi harus dilakukan secara adil. Di samping itu, penekanan
pada aspek pencegahan korupsi perlu lebih difokuskan dibandingkan aspek
penindakan.

Adapun upaya pencegahan korupsi dapat dilakukan melalui :


1. Menanamkan semangat nasional yang positif melalui pendidikan formal,
informal dan agama.
2. Menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai dampak destruktif dari
korupsi, khususnya bagi PNS
3. Pendidikan anti korupsi
4. Sosialisasi tindak pidana korupsi melalui media cetak dan eletronik
5. Perbaikan remunerasi PNS
6. Tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh
7. Menciptakan aparatur pemerintahan yang jujur dan disiplin
8. Para pegawai selalu diusahakan kesejahteraan yang memadai dan ada
jaminan masa tua
9. Para pegawai dihimbau untuk mematuhi pola hidup sederhana dan
memiliki tanggung jawab yang tinggi
Upaya penindakan korupsi harus memberikan efek jera, baik secara
hukum, maupun sosial. Selama ini perilaku korupsi, walaupun dapat dijerat
dengan hukum dan dipidana penjara ataupun denda, namun tidak pernah
mendapatkan sanksi sosial.
1. Hukum yang berat ditambah dengan denda yang jumlahnya signifikan.
2. Pengembalian hasil korupsi kepada negara.
3. Tidak menutup kemungkinan, penyidikan dilakukan kepada keluarga
atau kerabat pelaku korupsi.
DAFTAR PUSTAKA
a. Buku
Lembaga Administrasi Negara. 2014. Pola Pikir Aparatur Sipil Negara
Sebagai Pelayan Masyarakat. Jakarta: Percetakan Lembaga
Administrasi Negara Republik Indonesia.

b. Internet
Antara,Kalbar. 2017 Kejari Pontianak Bidik Kasus Tipikor Besar. Diakses
pada tanggal 17 Mei 2017 pukul 14.11
melalui:http://www.antarakalbar.com

Febri. 2012. Akar Korupsi. Diakses pada tanggal 17 Mei 2017 pukul 13.21
melalui:http://romifebri.blogspot.co.id

Rachmatika,Annisa. 2016. Pidana Korupsi. Diakses pada tanggal 17 Mei


2017 pukul 16.00 melalui:http://anisarachmatika22.blogspot.co.id

Solok,Ummy,Khom. 2013. Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia.


Diakses pada tanggal 4 Mei 2017 pukul 13.45
melalui:http://www.keceleg.com

Suara,Pemred,Kalbar. 2016. Calon Sekda Kota Pontianak Tersangka Kasus


Pengadaan Lahan Lapangan Sepak Bola. Diakses pada tanggal 17
Mei 2017 pukul 15.20 melalui:http://www.suarapemredkalbar.com

Tribun.News. 2016. Breaking News Rektor IAIN Pontianak Resmi


Tersangka Korupsi. Diakses pada tanggal 17 Mei 2017 pukul 15.00
melalui:http://pontianak.tribunnews.com

Taufiqurahman. 2016. Penyebab Psikologis PNS berbuat korup. Diakses


pada tanggal 17 Mei 2017 pukul 12.00
melalui:http://www.soalcpns.com