Anda di halaman 1dari 20

DAFTAR ISI

BAB 1
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Glaukoma adalah suatu neuropati optik kronik didapat yang ditandai oleh pencekungan
(cupping) diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang; biasanya disertai peningkatan
tekanan intraokular. Pada sebagian besar kasus, glaukoma tidak disertai dengan penyakit mata
lainnya (Vaughan, 2008).
Pada glaukoma akan terdapat kelemahan fungsi mata dengan terjadinya cacat lapangan pandang
dan kerusakan anatomi berupa ekskavasi serta degenerasi papil saraf optik, yang dapat berakhir
dengan kebutaan. Glaukoma dapat disebabkan bertambahnya produksi cairan mata oleh badan
siliar atau karena berkurangnya pengeluaran cairan mata di daerah sudut bilik mata atau di celah
pupil (Ilyas, 2011).
Aqueous humour bersirkulasi di bagian depan mata. Sejumlah kecil cairan dihasilkan terus-
menerus dan jumlahnya sama dengan volume cairan yang dialirkan keluar mata melewati sistem
drainase untuk mengatur tekanan konstan dalam mata. Karena mata adalah struktur yang
tertutup, jadi jika ada hambatan dalam sistem drainase, cairan yang berlebih tidak dapat mengalir
keluar. Tekanan cairan dalam bola mata akan meningkat, mendorong melawan saraf optik dan
dapat meyebabkan kerusakan (American Academy of Ophtalmology, 2002).
Mekanisme peningkatan tekanan intraokular pada glaukoma adalah gangguan aliran keluar
aqueous humour akibat kelainan sistem drainase sudut balik mata depan (glaukoma sudut
terbuka) atau gangguan akses aqueous humour ke sistem drainase (glaukoma sudut tertutup)
(Vaughan, 2008).
2. Rumusan Masalah

1. Apa definisi Glaukoma ?


2. Berapa Klasifikasi Glaukoma?
3. Apa etiologi/penyebab Glaukoma ?
4. Bagaimana patofisiologi Glaukoma ?
5. Bagaimana pathway Glaukoma ?
6. Bagaimana manifestasi klinis pada Glaukoma?
7. Bagaimana penatalaksanaan Glaukoma?
8. Bagaimana pemeriksaan penunjang Glaukoma?
9. Bagaimana konsep keperawatan Glaukoma?

3. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui definisi Glaukoma


2. Untuk mengetahui klasifikasi Glaukoma
3. Untuk mengetahui etiologi/penyebab Glaukoma
4. Untuk mengetahui patofisiologi Glaukoma
5. Untuk mengetahui pathway Glaukoma
6. Untuk mengetahui manifestasi klinis pada klien Glaukoma
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan Glaukoma
8. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang Glaukoma
9. Untuk mengetahui konsep keperawatan Glaukoma

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Glaukoma adalah suatu penyakit yang memberikan gambaran klinik berupa
peninggian tekanan bola mata, penggaungan papil saraf optik dengan defek lapang
pandangan mata.(Sidarta Ilyas,2000)
Glaukoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan
tekanan intraokuler.( Long Barbara, 1996)
Jadi, Glaukoma adalah kelompok penyakit mata yang disebabkan oleh tingginya
tekanan bola mata sehingga menyebabkan rusaknya saraf optik yang membentuk bagian-
bagian retina retina dibelakang bola mata. Saraf optik menyambung jaringan-jaringan
penerima cahaya (retina) dengan bagian dari otak yang memproses informasi
pengelihatan.

B. Klasifikasi
Klasifikasi Vaughen untuk glaucoma adalah :
1. Glaukoma primer, dimana penyebabnya timbul glaukoma tidak diketahui, yang dibagi atas 2
bentuk yaitu glaucoma sudut terbuka/glaukoma simpleks dan glaukoma sudut
tertutup/glaukoma sudut sempit.
Glaukoma dengan etiologi tidak pasti, dimana tidak didapatkan kelainan yang merupakan
penyebab glaucoma. Glaukoma ini ditemukan pada orang yang telah memiliki bakat bawaan
glaucoma seperti:
a. Bakat dapat berupa gangguan fasilitas pengeluaran cairan mata atau susunan anatomis
bilik mata yang menyempit.
b. Mungkin disebabkan kelainan pertumbuhan pada sudut bilik mata depan
(goniodisgenesis), berupa trabekulodisgenesis, irisdisgenesis dan korneodisgenesis dan
yang paing sering berupa trabekulodisgenesis dan goniodisgenesis.
Glaukoma bersifat bilateral, yang tidak selalu simetris dengan sudut bilik mata terbuka
ataupun tertutup. 1
2. Glaukoma congenital, terbagi menjadi kongenital primer (dengan kelainan kongenital lain)
dan infantil (tanpa kelainan kongenital lain).
Glaukoma congenital, khususnya sebagai glaucoma infantile (buftalmos), adalah glaucoma
akibat penyumbatan pengaliran keluar cairan mata oleh jaringan sudut bilik mata yang terjadi
oleh adanya kelainan congenital. Kelainan ini akibat terdapatnya membrane congenital yang
menutupi sudut bilik mata pada saat perkembangan bola mata, kelainan pembentukan kanal
schlemm dan saluran keluar cairan mata yang tidak sempurna terbentuk. 2,3
3. Glaukoma sekunder, merupakan glaucoma yang diketahui penyebab yang menimbulkannya.
Kelainan mata lain dapat menimbulkan meningkatnya tekanan bola mata. Glaukoma timbul
akibat kelainan di dalam bola mata, yang dapat disebabkan :
a. Kelainan lensa, katarak imatur, hipermatur, dan dislokasi lensa
b. Kelainan uvea, uveitis anterior
c. Trauma, hifema, dan inkarserasi iris
d. Pasca bedah, blockade pupil, goniosinekia. 2,3
4. Glaukoma absolute
Glaukoma absolute merupakan stadium akhir glaucoma, dimana sudah terjadi kebutaan total
akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut. Pada glaucoma absolute, kornea
terlihat keruh, bilik mata dangkal, papil atrofi dengan eksvakasi glaukomatosa, mata keras
seperti batu dan dengan rasa sakit. Sering mata dengan buta ini mengakibatkan penyumbatan
pembuluh darah sehingga menimbulkan penyulit berupa neovaskularisasi pada iris, keadaan ini
memberikan rasa sakit sekali akibat timbulnya glaucoma hemoragik.
C. Etiologi
Bilik anterior dan bilik posterior mata terisi oleh cairan encer yang disebut humor
aqueus. Bila dalam keadaaan normal, cairan ini dihasilkan didalam bilik posterior,
melewati pupil masuk kedalam bilik anterior lalu mengalir dari mata melalui suatu
saluran. Jika aliran cairan ini terganggu (biasanya karena penyumbatan yang menghalangi
keluarnya cairan dari bilik anterior), maka akan terjadi peningkatan tekanan.
Peningkatan tekanan intraokuler akan mendorong perbatasan antara saraf optikus
dan retina di bagian belakang mata. Akibatnya pasokan darah kesaraf optikus berkurang
sehingga sel-sel sarafnya mati. Karena saraf optikus mengalami kemunduran, maka akan
terbentuk bintik buta pada lapang pandang mata. Yang pertama terkena adalah lapang
pandang tepi, lalu diikuti oleh lapang pandang sentral. Jika tidak diobati, glaukoma pada
akhirnya bisa menyebabkan kebutaan.

D. Patofisiologi

TIO ditentukan oleh kecepatan produksi Aqueos humor dan aliran keluar Aqueos

humor dari mata.TIO normal adalah 10- 21 mmHg dan dipertahankan selama terdapat

keseimbangan antara produksi dan aliran Aqueos humor. Aqueos humor diproduksi

didalam badan siliar dan mengalir keluar melalui kanal Schelmn kedalam sistem vena.

Ketidakseimbangan dapat terjadi akibat produksi berlebih badan siliar atau oleh
peningkatan hambatan abnormal terhadap aliran keluar Aqueos humor melalui kamera

occuli anterior(COA). Peningkatan TIO > 23 mmHg memerlukan evaluasi yang seksama.

Peningkatan TIO mengurangi aliran darah ke saraf optik dan retina. Iskemia menyebakan

struktur ini kehilangan fungsinya secara bertahap.Kerusakan jaringan biasanya dimulai

dari perifer dan bergerak menuju fovea sentralis. Kerusakan visus dan kerusakan sarf

optik serta retina adalah irreversible dan hal ini bersifat permanen. Tanpa penanganan,

glaukoma dapat menyebabkan kebutaan.Hilangnya pengelihatan ditandai dengan adanya

titik buta pada lapang pandang.

E. Pathway

Usia > 40 th
DM
Kortikosteroid Jangka Panjang
Miopia
Trauma mata

Obstruksi Jaringan Peningkatan tekanan


Trabekuler Vitreus

Hambatan Pengaliran Pergerakan Iris Kedepan


Cairan Humor Aqueous

Nyeri TIO Meningkat Glaukoma TIO Meningkat

Gangguan Saraf Optik Tindakan Operasi


Gangguan Persepsi Perubahan Penglihatan Ansietas Kurang
Sensori Perifer Pengetahuan
Penglihatan

Kebutaan

F. Manifestasi Klinis
1) Glaukoma primer
a) Glaukoma sudut terbuka
Kerusakan visus yang serius
Lapang pandang mengecil dengan maca-macam skottoma yang khas
Perjalanan penyakit progresif lambat
b) Glaukoma sudut tertutup
Nyeri hebat didalam dan sekitar mata
Timbulnya halo/pelangi disekitar cahaya
Pandangan kabur
Sakit kepala
Mual, muntah
Kedinginan
Demam baahkan perasaan takut mati mirip serangan angina, yang sangat

sedemikian kuatnya keluhan mata ( gangguan penglihatan, fotofobia dan

lakrimasi) tidak begitu dirasakan oleh klien.


2) Glaukoma sekunder
Pembesaran bola mata
Gangguan lapang pandang
Nyeri didalam mata
3) Glaukoma kongential
Gangguan penglihatan
G. Penatalaksanaan
1) Terapi Medikamentosa
Tujuannya adalah menurunkan TIO (Tekanan Intra Okuler) terutama dengan
mengguakan obat sistemik (obat yang mempengaruhi tubuh)
a) Obat Sistemik
Asetazolamida, obat yang menghambat enzim karbonik anhidrase yang akan
mengakibatkan diuresis dan menurunkan sekresi cairan mata sebanyak 60%,
menurunkan tekanan bola mata. Pada permulaan pemberian akan terjadi
hipokalemia sementara. Dapat memberikan efek samping hilangnya kalium
tubuh parastesi, anoreksia, diarea, hipokalemia, batu ginjal dan myopia
sementara.
Agen hiperosmotik. Macam obat yang tersedia dalam bentuk obat minum
adalah glycerol dan isosorbide sedangkan dalam bentuk intravena adalah
manitol. Obat ini diberikan jika TIO sangat tinggi atau ketika acetazolamide
sudah tidak efektif lagi.

b) Obat Tetes Mata Lokal


Penyekat beta. Macam obat yang tersedia adalah timolol, betaxolol,
levobunolol, carteolol, dan metipranolol. Digunakan 2x sehari, berguna
untuk menurunkan TIO.
Steroid (prednison). Digunakan 4x sehari, berguna sebagai dekongestan
mata. Diberikan sekitar 30-40 menit setelah terapi sistemik.

2) Terapi Bedah
a) Iridektomi perifer. Digunakan untuk membuat saluran dari bilik mata belakang
dan depan karena telah terdapat hambatan dalam pengaliran humor akueus. Hal
ini hanya dapat dilakukan jika sudut yang tertutup sebanyak 50%.
b) Trabekulotomi (Bedah drainase). Dilakukan jika sudut yang tertutup lebih dari
50% atau gagal dengan iridektomi.

H. Pemeriksaan Penunjang
1) Kartu mata Snellen/mesin Telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral
penglihatan) : Mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, aquous atau
2) vitreus humor, kesalahan refraksi, atau penyakit syaraf atau penglihatan ke retina
atau jalan optik.Lapang penglihatan : Penurunan mungkin disebabkan CSV, massa
tumor pada hipofisis/otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.
3) Tes Provokatif :digunakan dalam menentukan tipe glaukoma jika TIO normal atau
hanya meningkat ringan.
4) Darah lengkap, LED :Menunjukkan anemia sistemik/infeksi
5) EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid: Memastikan aterosklerosisi,PAK
6) Tes Toleransi Glukosa :menentukan adanya DM.
7) Oftalmoskopi : Untuk melihat fundus bagian mata dalam yaitu retina, discus optikus
macula dan pembuluh darah retina.
8) Tonometri : Adalah alat untuk mengukurtekanan intra okuler, nilai mencurigakan
apabila berkisar antara 21-25 mmhg dan dianggap patologi bila melebihi 25 mmhg.
(normal 12-25 mmHg). Tonometri dibedakan menjadi dua antara lain (Sidharta Ilyas,
2004) : Membantu membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glaukoma.
9) Pemeriksaan lampu-slit. : Lampu-slit digunakan unutk mengevaluasi oftalmik yaitu
memperbesar kornea, sclera dan kornea inferior sehingga memberikan pandangan
oblik kedalam tuberkulum dengan lensa khusus.
10) Perimetri : Kerusakan nervus optikus memberikan gangguan lapang pandangan yang
khas pada glaukoma. Secara sederhana, lapang pandangan dapat diperiksa dengan tes
konfrontasi.
11) Pemeriksaan Ultrasonografi..: Ultrasonografi dalai gelombang suara yang dapat
digunakan untuk mengukur dimensi dan struktur okuler.

1. KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Data Umum
a. Identitas klien, meliputi :
Nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, alamat, agama.
b. Keluhan utama , meliputi apa yang menjadi alasan utama klien masuk ke RS.
Biasanya klien akan mengeluhkan nyeri di sekitar atau di dalam bola mata.
c. Riwayat Kesehatan Sekarang : meliputi apa-apa saja gejala yang dialami klien
saat ini sehingga menganggu aktivitas klien itu sendiri.
d. Riwayat Kesehatan Dahulu : meliputi penyakit apa saja yang pernah dialami klien
sebelumnya, baik itu yang berhubungan dengan penyakit yang dideritanya
ataupun tidak.
e. Riwayat Kesehatan Keluarga : meliputi riwayat penyakit yang pernah dialami
anggota keluarga.
f. Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menggunakan oftalmoskop untuk
mengetahui adanya cupping dan atrofi diskus optikus. Diskus optikus menjadi
lebih luas dan lebih dalam. Pada glaucoma akut primer, kamera anterior
dangkal, akues humor keruh dan pembuluh darah menjalar keluar dari iris.
2) Pemeriksaan lapang pandang perifer, pada keadaan akut lapang pandang
cepat menurun secara signifikan dan keadaan kronik akan menurun secara
bertahap.
3) Pemeriksaan fisik melalui inspeksi untuk mengetahui adanya inflamasi mata,
sklera kemerahan, kornea keruh, dilatasi pupil sedang yang gagal bereaksi
terhadap cahaya. Sedangkan dengan palpasi untuk memeriksa mata yang
mengalami peningkatan TIO, terasa lebih keras dibanding mata yang lain.
4) Uji diagnostik menggunakan tonometri, pada keadaan kronik atau open angle
didapat nilai 22-32 mmHg, sedangkan keadaan akut atau angle closure 30
mmHg. Uji dengan menggunakan gonioskopi akan didapat sudut normal pada
glaukoma kronik. Pada stadium lanjut, jika telah timbul goniosinekia
(perlengketan pinggir iris pada kornea/trabekula) maka sudut dapat tertutup.
Pada glaukoma akut ketika TIO meningkat, sudut COA akan tertutup, sedang
pada waktu TIO normal sudutnya sempit.
2. Pengkajian Pola FungsionaL Gordon
a. POLA PERSEPSI DAN MANAJEMEN KESEHATAN
Persepsi terhadap penyakit ; tanyakan bagaimana persepsi klien menjaga
kesehatannya. Bagaimana klien memandang penyakit glaukoma, bagaimana
kepatuhannya terhadap pengobatan.
Perlu ditanyakan pada klien, apakah klien mempunyai riwayat keluarga
dengan penyakit DM, hipertensi, dan gangguan sistem vaskuler, serta riwayat
stress, alergi, gangguan vasomotor, dan pernah terpancar radiasi.

b. POLA NUTRISI/METABOLISME
Tanyakan menu makan pagi, siang dan malam
Tanyakan berapa gelas air yang diminum dalam sehari
Tanyakan bagaimana proses penyembuhan luka ( cepat / lambat )
Bagaimana nafsu makan klien
Tanyakan apakah ada kesulitan dan keluhan yang mempengaruhi makan dan
nafsu makan
Tanyakan juga apakah ada penurunan BB dalam 6 bulan terakhir Biasanya
pada klien yang mengalami glaukoma klien akan mengeluhkan mual muntah

c. POLA ELIMINASI
Kaji kebiasaan defekasi
Berapa kali defekasi dalam sehari, jumlah, konsistensi, bau, warna dan
karekteristik BAB
Kaji kebiasaan miksi
Berapa kali miksi dalam sehari, jumlah, warna, dan apakah ada ada
kesulitan/nyeri ketika miksi serta apakah menggunakan alat bantu untuk
miksi
Klien dengan glaukoma, biasanya tidak memiliki gangguan pada pola
eliminasi, kecuali pada pasien yang mempunyai penyakit glukoma tipe
sekunder (DM, hipertensi).

d. POLA AKTIVITAS/LATIHAN
Menggambarkan pola aktivitass dan latihan, fungsi pernafasan dan sirkulasi
Tanyakan bagaimana kegiatan sehari-hari dan olahraga (gunakan table
gorden)
Aktivitas apa saja yang dilakukan klien di waktu senggang
Kaji apakah klien mengalami kesulitan dalam bernafas, lemah, batuk, nyeri
dada. Data bisa didapatkan dengan mewawancara klien langsung atau
keluarganya ( perhatikan respon verbal dan non verbal klien )
Kaji kekuatan tonus otot
Penyakit glaukoma biasanya akan mengganggu aktivitas klien sehari-hari.
Karena, klien mengalami mata kabur dan sakit ketika terkena cahaya
matahari.

e. POLA ISTIRAHAT TIDUR


Tanyakan berapa lama tidur di malam hari, apakah tidur efektif
Tanyakan juga apakah klien punya kebiasaan sebelum tidur
Penyakit glaukoma biasanya akan mengganggu pola tidur dan istirahat klien
sehari-hari karena klien mengalami sakit kepala dan nyeri hebat sehingga pola
tidur klien tidak normal.

f. POLA KOGNITIF-PERSEPSI
Menggambarkan pola pendengaran, penglihatan, pengecap, penciuman.
Persepsi nyeri, bahasa dan memori
Status mentalBicara : - apakah klien bisa bicara dengan normal/ tak
jelas/gugup
Kemampuan berkomunikasi dan kemampuan memahami serta keterampilan
interaksi
Kaji juga anxietas klien terkait penyakitnya dan derajatnya
Pendengaran : DBN / tidak
Peglihatan :DBN / tidak
Apakah ada nyeri : akut/ kronik. Tanyakan lokasi nyeri dan intensitas nyeri
Bagaimana penatalaksaan nyeri, apa yang dilakukan klien untuk mengurangi
nyeri saat nyeri terjadi
Apakah klien mengalami insensitivitass terhadap panas/dingin/nyeri
Klien dengan glaukoma pasti mengalami gangguan pada indera penglihatan.
Pola pikir klien juga terganggu tapi masih dalam tahap yang biasa.

g. POLA PERSEPSI DIRI-KONSEP DIRI


Menggambarkan sikap terhadap diri dan persepsi terhadap kemampuan, harga
diri, gambaran diri dan perasaan terhadap diri sendiri
Kaji bagaimana klien menggambar dirinya sendiri, apakah ada hal yang
membuaatnya mengubah gambaran terhadap diri
Tanyakan apa hal yang paling sering menjadi pikiran klien, apakah klien
sering merasa marah, cemas, depresi, takut, suruh klien menggambarkannya.
Pada klien dengan glaukoma, biasanya terjadi gangguan pada konsep diri
karena mata klien mengalami gangguan sehingga kemungkinan klien tidak
PD dalam kesehariannya. Tapi, pada kasus klien tidak mengalami gangguan
pada persepsi dan konsep diri.

h. POLA PERAN HUBUNGAN


Menggambarkan keefektifan hubungan dan peran dengan keluarga lainnya.
Tanyakan pekerjaan dan status pekerjaan klien
Tanyakan juga system pendukung misalnya istri,suami, anak maupun cucu dll
Tanyakan bagaimana keadaan keuangan sejak klien sakit.
Bagaimana dalam pengambilan keputusan dan penyelesaian konflik
Tanyakan juga apakah klien aktif dalam kegiatan social
Klien dengan glaukoma biasanya akan sedikit terganggu dalam berhubungan
dengan orang lain ketika ada gangguan pada matanya yang mengakibatkan
klien malu berhubungan de ngan orang lain.
Biasanya klien dengan glaukoma akan sedikit mengalami gangguan dalam
melakukan perannya

i. POLA KOPING-TOLERANSI STRESS


Menggambarkan kemampuan untuk menangani stress dan menggunakan
system pendukung
Tanyakan apakah ada perubahan besar dalam kehidupan dalam beberapa
bulan terakhir
Tanyakan apa yang dilakukan klien dalam menghadapi masalah yang
dihadapi, apakah efektif?Apakah klien suka berbagi maslah/curhat pada
keluarga / orang lain
Tanyakan apakah klien termasuk orang yang santai atau mudah panik
Tanyakan juga apakah klien ada menggunakan obat dalam menghadapi stress
Biasanya klien dengan glaukoma akan sedikit stress dengan penyakit yang
dideritanya karena ini berkaitan dengan konsep dirinya dimana klien
mengalami penyakit yang mengganggu organ penglihatannya.

j. POLA REPRODUKSI/ SEKSUALITAS


Bagaimana kehidupan seksual klien, apakah aktif/pasif
Jika klien wanita kaji siklus menstruasinya
Tanyakan apakah ada kesulitan saat melakukan hubungan intim berhubungan
penyakitnya, misalnya klien merasa sesak nafas atau batuk hebat saat
melakukan hubungan intim
Biasanya klien tidak terlalu mengalami gangguan dengan pola reproduksi
seksualitas. Akan tetapi, pencurahan kasih sayang dalam keluarga akan
terganggu ketika anggota keluarga tidak menerima salah seorang dari mereka
yang mengalami penyakit mata.

k. POLA KEYAKINAN-NILAI
Menggambarkan spiritualitas, nilai, system kepercayaan dan tujuan dalam
hidup
Kaji tujuan, cita-cita dan rencana klien pada masa yang akan datang.
Apakah agama ikut berpengaruh, apakah agama merupakan hal penting dalam
hidup
Klien akan mengalami gangguan ketika menjalankan aktivitas ibadah sehari-
hari karena klien mengalami sakit mata dan sakit kepala yang akan
mengganggu ibadahnya.
B. Diagnosa Keperawatan
Pre Operasi
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIO
2. Penurunan persepsi sensori visual / penglihatan berhubungan dengan serabut saraf
oleh karena peningkatan TIO.
3. Cemas berhubungan dengan Penurunan ketajaman penglihatan, Kurang
pengetahuan tentang prosedur pembedahan
4. Resiko cedera b/d penurunan lapang pandang

Post operasi
1. Nyeri berhubungan dengan post tuberkulectomi iriodektomi
2. Resiko infeksi berhubungan dengan luka insisi operasi

C. Rencana Tindakan

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional


. Keperawatan Hasil
1. Nyeri b.d Setelah dilakukan a. Kaji tipe, intensitas, a. Mengenal berat
peningkatan tindakan dan lokasi nyeri ringannya nyeri dan
TIO keperawatan selama menentukan terapi
b. Pantau derajat nyeri
b. Untuk
1 x 24 jam
mata setiap 30 mentit
mengidentifikasi
diharapakan nyeri
selama masa akut
kemajuan atau
hilang/ berkurang
penyimpanan dari
dengan Kriteria
hasil yang
Hasil:
Klien dapat diharapkan.
mengidentifikasi c. Pertahankan istirahat c. Mengurangi
penyebab nyeri di tempat tidur dalam rangsangan terhadap
Klien
ruangan yang tenang syaraf sensori dan
menyebutkan dan gelap dengan mengurangi TIO
faktor-faktor kepala ditinggikan
yang dapat 30 atau dalam posisi
meningkatkan nyaman
nyeri d. Berikan lingkungan
d. Stress dan sinar
Klien mampu yang nyaman
menimbulkan TIO
melakukan
yang mencetuskan
tindakan untuk
nyeri
mengurangi e. Anjurkan tehnik e. Keadaan rileks dapat
nyeri. relaksasi. mengurangi nyeri.
f. Kolaborasi tentang f. untuk mengurangi
pemberian analgesic nyeri

2. Penurunan Setelah dilakukan a. Kaji dan catat a. Menentukan


persepsi tindakan ketajaman penglihatan kemampuan visual
b. Kaji tingkat deskripsi b. Memberikan
sensori keperawatan selama
fugnsional terhadap keakuratan terhadap
visual / 1 x 24 jam
penglihatan dan penglihatan dan
penglihatan diharapakan
perwatan perawatan
b.d serabut peningkatan
c. Sesuaikan lingkungan c. Meningkatkan self
saraf oleh persepsi sensori
dengan kemampuan care dan mengurangi
karena dapat berkurang
penglihatan ketergantungan
peningkatan dengan Kriteria d. Kaji jumlah dan tipe d. Meningkatkan
TIO Hasil: rangsangan yang dpat rangsangan pada
Klien dapat
diterima klien waktu kemampuan
meneteskan obat penglihatabn menurun
mata dengan e. Mengetahui kondisi
e. Observasi TTV
benar dan perkembangan
Kooperatif klien secara dini
dalam tindakan f. Untuk mempercepat
Menyadari f. Kolaborasi dengan tim
hilangnya medis dalam proses penyembuhan
pengelihatan pemberian terapi
secara permanen
Tidak terjadi
penurunan visus
lebih lanjut

3. Cemas b.d Setelah dilakukan a. Hati-hati penyampaian a. Jika klien belum siap
Penurunan tindakan hilangnya penglihtan akan menambah
ketajaman keperawatan selama secara permanen kecemasan
b. Berikan kesempatan b. Mengekspresikan
penglihatan, 1 x 24 jam
klien perasaan membantu
Kurang diharapakan Cemas
mengekspresikan Kx mengidentifikasi
pengetahuan klien dapat
tentang kondisinya
sumber cemas
tentang berkurang dengan c. Pertahankan kondisi
c. Rileks dapat
prosedur Kriteria Hasil: yang rileks
menurunkan cemas
Berkurangnya d. Observasi TTV
pembedahan d. Untuk mengetahui
perasaan gugup TTV dan
Posisi tubuh
perkembangannya
rileks e. Siapkan bel ditempat e. Dengan memberikan
Mengungkapkan
tidur dan instruksikan perhatian akan
pemahaman
klien memberikan menambah
tentang rencana
tanda bila mohon kepercayaan klien
tindakan
bantuan
f. Kolaborasi dengan tim
f. Diharapkan dapat
medis dalam
mempercepat proses
pemberian terapi
penyembuhan
4. Resiko cedera Setelah dilakukan a. Orietasikan klien a. Mengurangi
b/d tindakan terhadap lingkungan kecelakaan atau cidera
penurunan keperawatan selama ketika tiba.
b. Menimalkan tingkat
b. Lakukan modifikasi
lapang 1 x 24 jam
cidera yang berasal
lingkungan untuk
pandang diharapakan Klien
dari gangguan ini
meindahkan semua
tidak mengalami
bahaya:
cedera dengan
Kriteria Hasil: Singkirkan
Klien mampu rintangan pada
mendemontrasi tempar lalu lalang
Sungkirkan
kan tentang
kewaspadaan gulungan dari kaki
Singkirkan
kecemasan
barang-barang
Klien meminta
yang mungkin
bantuan
dapat mencederai
petugas saat
klien.
memenuhi c. Serahkan benda-
kebutuhan. benda termasuk bel c. Mengurangi resiko

pemanggil, alat terjatuh

bantu ambulasi
kepada klien
d. Bantu klien dan
keluarga d. Mempertahankan yang
mengevaluasi aman setelah pulang.
lingkungan rumah
terhadap bahaya
yang mungkin
terjadi.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Glaukoma adalah suatu keadaan dimana ditandai dengan peningkatan tekanan intra okuler yang
dapat merusak saraf mata sehingga mengakibatkan kebutaan.

Glaucoma diklasifikasikan berdasarkan etiologi dan berdasarkan mekanisme peningkatan


tekanan intra okuler. Penyebab tergantung dari klasifikasi glaukoma itu sendiri tetapi pada
umumnya disebabkan karena aliran aqueus humor terhambat yang bisa meningkatkan TIO.

Tanda dan gejalanya adalah kornea suram, sakit kepala , nyeri, lapang pandang menurun,dll.
Komplikasi dari glaucoma adalah kebutaan. Penatalaksanaannya dapat dilakukan pembedahan
dan obat-obatan.

B. SARAN

Klien yang mengalami glaukoma harus mendapatkan gambaran tentang penyakit serta
penatalaksanaannya, efek pengobatan, dan tujuan akhir pengobatan itu. Pendidikan kesehatan
yang diberikan harus menekankan bahwa pengobatan bukan untuk mengembalikan fungsi
penglihatan , tetapi hanya mempertahankan fungsi penglihatan yang masih ada.

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne. C, Bare, Brenda. G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner
& Suddarth Edisi 8 Vol. 3. Jakarta: EGC
Doengoes, Marylinn. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC

Ilyas S. 2004. Ilmu penyakit mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta.

Ilyas S. 2005. Penuntun ilmu penyakit mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia :
Jakarta.

Ilyas S. 2004. Ilmu perawatan mata. Sagung Seto : Jakarta.

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. jakarta: EGC

Price, Sylvia. A. 1995. Patofisiolog: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4 buku II.
Jakarta: EGC