Anda di halaman 1dari 36

SUKUSUKUYANGADADISULAWESITENGGARA

Suku-suku bangsa di Sulawesi Tenggara yakni Buton, Muna, Tolaki, Mekongga dan Moronene :

SUKU BUTON
Suku buton adalah suku terbesar pertama yang ada di Sulawesi Tenggara.Secara
umum, orang Buton adalah masyarakat yang berada wilayah kekuasaan Kesultanan
Buton. Daerah-daerah tersebut, kini secara teritorial Negara Kesatuan Republik
Indonesia telah menjadi beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara
diantaranya Kota Baubau, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten
Wakatobi, Kabupaten Bombana dan Kabupaten Muna.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa nenek moyang dari orang-orang Buton adalah
imigranyang datang dari wilayah Johor sekitar abad ke-15 Masehi yang kemudian mendirikan
kerajaan Buton.Pada tahun 1960, dengan mangkatnya sultan yang terakhir, kesultanan Buton
konon dibubarkan tetapi tradisi-tradisi istana itu telah melekat erat pada orang-orang yang
mendiami wilayah tersebut.
Mereka juga memiliki mata uang yang disebut uang Kampua yang terbuat dari kain
tenun.Merupakan satu-satunya mata uang yang pernah beredar di Indonesia.Berdasarkan tradisi
cerita rakyat Buton, Kampua konon pertama kali diperkenalkan oleh Ratu kerajaan Buton
bernama Bulawambona/wakaakaa yang memerintah sekitar abad ke-14 Masehi. Karakter dari
suku Buton adalah pelaut, hampir sama dengan suku-suku yang berada di kepulauan Nusantara.
Orang-orang Buton sejak lama merantau ke seluruh pelosok dunia Melayu dengan menggunakan
perahu berukuran kecil yang hanya dapat menampung lima orang, hingga perahu besar yang
dapat memuat barang sekitar 150 ton.
Sebagian besar orang-orang Buton bermata pencaharian sebagai pelaut dan
nelayan.Perairan di wilayah pulau Buton dan di daerah Mina diberkati dengan hasil ikan tuna
yang melimpah. Usaha-usaha lain dalam memenuhi kebutuhan hidup dari orang Buton juga
berasa dari kegiatan pertanian dan perkebunan.
Sejumlah kearifan dari tradisi yang ada dalam masyarakat Buton adalah kangkiloyang
merupakan modal sosial budaya masyarakat Buton untuk mewujudkan keselarasan dan
keharmonisan hidup mereka.Kearifan itu telah membentuk karakter dari prilaku masyarakat
orang Buton yang sesuai dengan nilai, etika, dan juga moral yang telah tertanam sejak lama
dalam tradisi mereka.
SUKU MUNA
Suku Muna atau Wuna adalah suku yang mendiamiPulau Muna, Sulawesi Tenggara. Dari
bentuk tubuh, tengkorak, warna kulit (coklat tua/hitam), dan rambut (keriting/ikal) terlihat bahwa
orang Muna asli lebih dekat ke suku-suku Polynesia dan Melanesia di Pasifik dan Australia
ketimbang ke Melayu. Hal ini diperkuat dengan kedekatannya dengan tipikal manusianya dan
kebudayaan suku-suku di Nusa Tenggara Timur dan Pulau Timor dan Flores umumnya.Motif
sarung tenunan di NTT dan Muna sangat mirip yaitu garis-garis horisontal dengan warna-warna
dasar seperti kuning, hijau, merah, dan hitam. Bentuk ikat kepala juga memiliki kemiripan satu
sama lain.
Orang Muna juga memiliki kemiripan fisik dengan suku Aborigin di Australia.Sejak
dahulu hingga sekarang nelayan-nelayan Muna sering mencari ikan atau teripang hingga ke
perairan Darwin.Telah beberapa kali Nelayan Muna ditangkap di perairan ini oleh pemerintah
Australia. Kebiasaan ini boleh jadi menunjukkan adanya hubungan tradisional antara orang
Muna dengan suku asli Australia: Aborigin.
Orang Muna menjadi penghuni Pulau Muna dan Pulau-pulau lainnya sejak jaman
purbakala.Hal ini dibuktikan dengan ditemukan relief purba di gua Liangkobori dan Gua
Metanduno.Menurut beberapa penelitian relief tersebut telah berusia lebih dari 25.000
tahun.Relief yang ada di Gua Liangkobori dan Metanduno secara jelas menceritakan aktifitas
Orang Muna saat itu.Dari relief tersebut menggambarkan bahwa walau Orang Muna masih
menempati Gua sebagai tempat tinggal mereka, tetapi mereka telah memiliki peradaban dan
kebudayaan yang cukup tinggi.Orang Muna saat itu seperti yang diceritakan dari relief tersebut
telah menggunakan alat-alat pertanian dalam bercocok tanam.Pengetahuan mereka dibidang
astronomi juga mulai mengalaami perkembangan.Hal ini dapat dilihat dari gambar matahari,
bintang dan bulan.
Ada beberapa nama Rasi bintang yang menjadi petunjuk untuk melakukan aktifitas
pertanian. Misalnya saja Rasi Bintang yang di namakan Fele, apabila rasi bintang ini sudah mulai
terlihat jelas, maka aktifitas membersikan lahan segera di mulai sebab satu bulan lagi hujan
pertama akan turun. Apabila hujan sudah turun maka pembakaran lahan dimulai.
Sebagai catatan sebelum pengikut Sawerigading datang di Pulau Muna, penduduk asli
Pulau Muna saat itu masih mendiami gua-gua yang memang banyak terdapat di Pulau Muna
sebagai tempat tinggal mereka.Kehidupan mereka masih sangat tergantung dengan alam.Mereka
hidup dari berburu hewan dan memetik langsung makanan dari alam.Penduduk asli Pulau Muna
belum mengenal bercocok tanam.
Peradaban dan kebudayaan Suku asli Pulau Muna mulai berkembang setelah berbaur
dengan empat puluh orang pengikut Sawerigading.Pola hidup mereka yang mengandalkan
meramu dan berburu berupa dengan polah bercocok tanam.Mereka juga mulai membentuk
koloni-koloni dan mulai membangun perkampungan di luar gua.
Seiring dengan pertambahan penduduk, koloni-koloni tersebut berubah menjadi kampong
dan permasalahan mereka menjadi komplek. Untuk mengatur kehidupan social mereka,
kemudian mereka mengangkat seorang pemimpin diantara mereka yang di gelar dengan
kamokula ( Yang di tuakan ).

Orang Muna Dalam membangun Peradaban di Negeri Buton


Dalam hikayat Mia Patamiana, dikisahkan bahwa pada saat Armada Simalui yang
berjumlah 40 orang mendarat di sebelah Timur Laut Negeri Buton ( diperkirakan disekitar
Kamaru ) pada tahun 1236 M, mereka bertemu dan berbaur dengan masyarakat local kemudian
membentuk sebuah pemukiman. Selain itu mereka juga membuat benteng sebagai pertahanan
dari serangan dari luar.
Demikian juga dengan armada Mia Pata Miana yang lain ( Sipanjonga, Sijawangkati dan
Sitamanjo), pada saat mendarat di suatu wilayah mereka langsung berbaur dengan masyaarakat
Lokal yang menggunakan bahasa Pancana (Muna) sebagai bahasa tutur mereka. Ini diperkuat
dengan masih dipertahankannya bahasa Muna ( Pancana ) sebagai bahasa tutur dimana Wilayah-
wilayah pendaratan armada Mia Patamiana tersebut.
Dari fakta ini dapat di asumsikan bahwa jauh sebelum Mia Patamiana mendarat di negeri
Buton, Suku asli Muna telah menjadi penghuni Pulau Buton. Tidak sampai disitu saja, ketika
Kerajaan Buton dipimpin oleh raja Buton V yang bernama La Mulae terjadi kekacauan yang luar
biasa di kerajaan Buton akbiat terror yang dilakukan oleh La Bolontio seorang bajak laut dari
Tobelo.
Teror tersebut nyaris meruntuhkan kerajaan Buton.Dalam Kondisi yang kacau balau itulah,
Putera raja Muna VI Sugi Manuru yang bernama La Kilaponto datang menyelamatkan Negeri
Buton dari kehancuran. Dengan kesaktiannya dalam waktu singkat penyebar terror tersebut dapat
ditumpas ( Baca; La Kilaponton Omputo Mepokonduaghono Ghoera ). Setelah Raja Buton V
meninggal, tidak ada satupun yang berani menggantikannya untuk menjadi raja.Olehnya itu para
tetua dinegeri Buton bersepakat untuk melantik La Kilaponto menjadi Raja buton menggantikan
La Mulae.Padahal waktu itu La kilaponto baru saja dilantik menjadi Raja Muna VII
menggantikan ayahandanya Sugi Manuru yang telah tua. Terhitung sejak masa pemerintahan La
Kilaponto sampai masa pemerintahan Sultan Buton IV La Elangi gelar Dayanu Ikhsanuddin
orang Muna menjadi penguasa dan berperan melakukan penataan terhadap sistem pemerintahan,
hukum dan mebangun tatanan social kemasyarakat di negeri Buton adalah selama hampir dari
dua ratus tahun.

SUKU TOLAKI
Suku Tolaki, merupakan salah satu suku terbesar yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara
di samping Suku Buton dan Suku Muna. Suku Tolaki mendiami beberapa wilayah Kabupaten
dan Kota yakni Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten
Konawe Utara dan Kabupaten Kolaka dimana kedua Kabupaten induk tersebut berdiam dua
ednis Suku Tolaki yang terbesar yakni Suku Tolaki Mekongga dan Suku Tolaki Konawe.
Menurut Tarimana,R (1993) pada mulanya orang Tolaki merupakan migrasi dari Tanah
Cina, pada awal pelayaran mereka singgah di Kepulauan Filipina kemudian berlanjut singgah
pada pesisir Pulau Sulawesi yakni Manado selanjutnya mereka berpaling menuju pada
Kepulauan Halmahera, dari kepulauan inilah kemudian berlanjut memasuki pesisir tenggara
Pulau Sulawesi, ada juga beberapa pendapat yang mengatakan behwa Suku Tolaki berasal dari
masyarakat Pulau Jawa yang melakukan pelayaran singgah pada Pulau Buton kemudian baru
masuk pada pesisir tenggara daratan Pulau Sulawesi.
Kedatangan muasal Suku Tolaki mereka kemudian menyusuri sungai dari arah muara
sungai Lasolo dan muara sungai Konawe sampai bertemu pada kedua hulu sungai tersebut yakni
disekitar Pegunungan Tangkelaboke.Dari pertemuan tersebut kemudian mereka membentuk
suatu perkampungan yang daerahnya dinamai dengan Andolaki, dari Andolaki inilah mereka
menyebar pada beberapa daerah di Sulawesi Tenggara ini.
Pada mula kedatangan muasal masyarakat Tolaki mereka membentuk suatu koloni di
sekitar sungai yang berada pada lembah (angalo) yang diangap subur oleh mereka rumah-rumah
mereka terpusat pada para prajuri/kesatria (Tamalaki) sebagai pelindung dari ancaman, dari
koloni ini membentuk beberapa koloni, sehingga menjadi koloni sedang/kampung (onapo) yang
dipimpin oleh kepala suku/orang tua (Tonomotuo) dalam perkembangannya terbentuklah
beberapa kampung yang membentuk Distrik/setingkat Kecamatan (O Tobu) yang dikepalai oleh
Putobu. Dikarenakan akan pertumbuhan yang semakin pesat maka terbentuklah berbagai distrik-
distrik lainnya yang membentuk suatu tatanan wilayah masyarakat Tolaki yang disebut
Wonua(setingkat Kabupaten) yang dipimpin oleh seorang Raja (Mokole)
Orang Tolaki pada mulanya menamakan dirinya Tolohianga(orang dari langit) hal ini
mungkin dikarenakan mereka berasal dari daratan yang tinggi/Pegunungan Tangkelaboke
(asumsi). Menurut Tarimana, R (1993), mungkin yang dimaksud langit adalah kerajaan
langit sebagaimana dikenal dalam budaya Cina (Granat, dalam Needhan; 1973, yang dikutip
Tarimana). Dalam dugaannya, ada keterkaitan antara kata hiu yang dalam bahasa Cina berarti
langit dengan kata heo (Tolaki) yang berarti ikut dari langit.
Pada pemaparan diatas asal-usul budaya dan peradaban Tolaki tampaknya lebih mudah
diterima jika dikaitkan dengan pola migrasi noe-litikum.Selain asal-usulnya, hal yang sukar
diketahui dengan pasti adalah masa pemerintahan raja-raja, dalam legenda rakyat terdapat dua
kerajaan lokal yang besar (Konawe dan Mekongga).Menurut tradisi tutur, raja Sangia
Ngginoburu (Konawe) dan raja Sangia Nibandera (Mekongga) diperkirakan memerintah pada
saat Islam telah diterima (Tarimana, R; 1993).
Ciri dan budaya arsitektur Tolaki masih dalam penelusuran namun dalam
perkembangannya ciri dan budaya arsitektur Tolaki terletak pada rumah adat orang Tolaki itu
sendiri.Berdasarkan pemaparan Ir. Sachrul Ramadhan. MT (2004) dalam Seminar Penelusuran
Arsitektur Tradisional Tolaki membagi pendapat beberapa ahli seperti Cohen, A. P (1985) yang
berpendapat bahwa dalam masyarakat tradisional, sering kali dipandang bahwa rumah
merupakan wujud microcosmos dari keseluruhan alam semesta. Setiap unsur yang membentuk
rumah, melambangkan unsur-unsur tertentu dari alam semesta
Dari hasil studi arsitektural dan etnografi, yang menjadi core elemen dalam rumah adat
Tolaki adalah 9 jajar tiang dengan diperkuat balok lintang (powuatako) dan memanjang
(nambea).Dalam jajaran tiang ini terdapat satu tiang utama yang disebut dengan tiang petumbu
yang terletak ditengah baris dan lajur ke-9 tiang ini.
Arsitektur Tolaki maksudnya adalah bangunan yang digunakan untuk tujuan propessional
ataupun administrasi menampilkan ciri budaya arsitektur setempat dengan maksud dapat
memberikan jati diri, sebagai aspirasi pemerintah mengenai hubungan pemerintah dengan
masyarakat yang mencerminkan peningkatan pelayanan dan pengabdian kepada bangsa dan
negara.
Yang terpenting dari semua itu adalah arti dari tarian Lulo sendiri, yang mencerminkan
bahwa masyarakat Tolaki adalah masyarakat yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan
dan persatuan dalam menjalani kehidupannya. Seperti filosofi masyarakat Tolaki yang
diungkapkan dalam bentuk pepatah samaturu, medulu ronga mepokoaso, yang berarti
masyarakat Tolaki dalam menjalani perannya masing-masing selalu bersatu, bekerja sama, saling
tolongmenolong dan bantu-membantu.

SUKU MEKONGGA
Suku Mekongga, adalah salah suatu komunitas masyarakat adat yang berdiam di
kabupaten Kolaka dan sebagian kecil juga terdapat di kabupaten Kolaka Utara Sulawesi
Tenggara. Suku Mekongga merupakan salah satu sub-etnik dari suku Tolaki.Menurut orang
Tolaki, bahwa orang Mekongga adalah orang Tolaki juga. Istilah Mekongga, konon berasal dari
kata "to mekongga", yang berarti "to" berarti "orang" dan "mekongga" berarti "pembunuh
burung elang raksasa", jadi kata "to mekongga" berarti "orang yang membunuh burung elang
raksasa". Sedangkan burung elang raksasa dalam bahasa Mekongga adalah "Konggahaa".
Kabupaten Kolaka tempat kediaman suku Mekongga ini disebut juga sebagai "Bumi
Mekongga". Di daerah pemukiman orang Mekongga terdapat sebuah gunung yang bernama
gunung Mekongga.Menurut orang Mekongga sendiri gunung Mekongga merupakan gunung
keramat. Menurut cerita rakyat, di gunung ini terdapat Tebing Putih yang bernama Musero-sero
yang merupakan pusat kerajaan jin untuk wilayah Kolaka Utara.
Dari satu cerita rakyat bahwa asal usul orang Mekongga, adalah berasal dari 2 kelompok
orang dalam waktu yang sama sedang melakukan perjalanan migrasi ke daratan Sulawesi
Tenggara. Kelompok pertama bermukim pertama kali di daerah hulu sungai Konaweeha, melalui
daerah Mori dan Bungku bagian timur laut Sulawesi. Sedangkan kelompok lain melalui danau
Towuti dan terus ke arah selatan. Kedua kelompok ini bertemu di suatu tempat yang disebut
Rahambuu dan tinggal beberapa lama, dan terjadi percampuran etnis setelah melakukan
perkawinan campur di antara mereka, sehingga mereka menjadi satu etnis.Setelah sekian lama
hidup di tempat ini, kelompok ini terpecah dua dan pergi meninggalkan tempat ini.Kelompok
pertama berjalan menyusuri lereng gunung Watukila lalu membelok ke arah barat daya dan
sampai di suatu tempat yang mereka namakan Lambo, Laloeha, dan Silea.Mereka inilah yang
kemudian menamakan diri sebagai orang Mekongga yang menempati wilayah Kolaka
sekarang.Sedangkan yang satu kelompok berjalan menyururi sungai Konaweeha dan tiba di
suatu tempat yang bernama Andolaki, lalu dari tempat ini, mereka melanjutkan perjalanan hingga
sampai di suatu tempat yang luas yang ditumbuhi alang-alang dan tempat ini mereka namakan
Unaaha.Tempat ini kemudian menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Konawe yang wilayahnya
meliputi seluruh wilayah Kabupaten Kendari. Di tempat ini lah mereka berkembang
menyebarkan wilayah pemukiman dengan cara menempati daerah-daerah yang subur untuk
berlandang, berburu, beternak dan selanjutnya kelompok ini menamakan diri mereka sebagai
orang Tolaki Konawe.
Berdasarkan cerita di atas, maka ada anggapan bahwa suku Mekongga dan suku Tolaki
adalah berasal dari suatu tempat yang sama. Walaupun pada dasarnya saat ini mereka memiliki
identitas yang berbeda, tetapi berdasarkan asal usul sejarah, mereka berasal dari satu nenek
moyang yang sama. Masyarakat Mekongga dalam menjaga alam mereka memiliki tata aturan
adat sendiri dalam mengelola alam sekitar mereka. Membuka lahan baru dengan cara membakar
masih dipraktekan oleh suku Mekongga, tapi dengan tata aturan adat mereka. Pembukaan
kawasan hutan dengan cara menebang pepohonan dan membakarnya dilakukan dengan beberapa
tahapan:

Monggiikii ando'olo, pemilihan lokasi perladangan

Mohoto o wuta, upacara pra mondau

Mosalei, menebang pepohonan kecil, menebas akar-akaran dan lain-lain

Monduehi, menebang pepohonan besar

Humunu, membakar

Mo'enggai, membersihkan sisa-sisa pembakaran

Motasu, menanam padi

Mosara dan Mete'ia, membersihkan rerumputan dan menjaga tanaman


Mosawi, panen

Molonggo, memasukan ke dalam lumbung

Oleh karena itu suku Mekongga tidak pernah secara kasar membuka lahan, semua telah
diatur oleh sistem adat suku Mekongga, sehingga kelestarian alam tetap terjaga.Masyarakat suku
Mekongga pada umumnya hidup pada bidang pertanian.Mereka menanam padi sebagai tanaman
pokok mereka.Selain itu mereka juga menanam jagung, ubi kayu dan ubi jalar.Beberapa hewan
ternak juga menjadi kegiatan tambahan bagi mereka.Di antara mereka ada juga yang menjadi
pedagang dan juga berprofesi sebagai nelayan penangkap ikan.Saat ini banyak juga dari orang
Mekongga yang telah bekerja di sektor swasta dan sektor pemerintahan.

SUKU MORONENE
Suku Moronene adalah salah satu dari sekian banyak kelompok masyarakat adat-dulu
sering disalahartikan sebagai suku terasing-di Sulawesi Tenggara.Di kaki pulau yang mirif huruf
K itu ada suku Buton, Muna, Tolaki dan Mekongga.
Menurut antropolog Universitas Haluoleo, Kendari, Sarlan Adi Jaya, Moronene adalah
suku asli pertama yang mendiami wilayah itu.Namun, pamornya kalah dibanding suku Tolaki
karena pada abad ke-18 kerajaan suku Moronene-luas wilayahnya hampir 3.400 kilometer
persegi-kalah dari kerajaan suku Tolaki.
Kata "moro" dalam bahasa setempat berarti serupa, sedangkan "nene" artinya pohon
resam, sejenis paku yang biasanya hidup mengelompok.Kulit batangnya bisa dijadikan tali,
sedangkan daunnya adalah pembungkus kue lemper.Resam hidup subur di daerah lembah atau
pinggiran sungai yang mengandung banyak air.Sebagai petani, peramu, dan pemburu, suku
Moronene memang hidup di kawasan sumber air.Mereka tergolong suku bangsa dari rumpun
Melayu Tua yang datang dari Hindia Belakang pada zaman prasejarah atau zaman batu muda,
kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi.
Tidak diketahui kapan tepatnya suku Moronene mulai menghuni kawasan Taman Nasional
Rawa Aopa Watumohai. Tetapi sebuah peta yang dibuat pemerintah Belanda pada tahun 1820
sudah mencantumkan nama Kampung Hukaea, yakni kampung terbesar orang Moronene, yang
sekarang masuk dalam areal taman nasional itu. Permukiman mereka tersebar di tujuh
kecamatan, enam di Kabupaten Buton dan satu di Kabupaten Kolaka.Di luar komunitas itu,
orang Moronene menyebar pula di beberapa tempat seperti Kabupaten Kendari karena terjadinya
migrasi akibat gangguan keamanan dari Darul Islam sekitar tahun 1952-1953.
Kampung Hukaea, Laea, dan Lampopala biasa disebut orang Moronene sebagai Tobu
Waworaha atau perkampungan tua bekas tempat tinggal para leluhur. Orang-orang Moronene
masih sering mengunjungi tobu untuk membersihkan kuburan leluhur mereka ketika hari raya
Idul Adha tiba-sebagian warga Moronene beragama Islam.Belakangan, setelah beberapa kuburan
digali dan dipindahkan oleh orang tak dikenal, orang-orang Moronene bermukim kembali di
Hukaea-Laea.Di zaman administrasi pemerintah Belanda, Hukaea termasuk distrik Rumbia, yang
dipimpin seorang mokole (kepala distrik). Rumbia membawahkan 11 tobu, tujuh di antaranya
masuk dalam wilayah taman nasional. Menurut Abdi, dari LSM Suluh Indonesia, jumlah orang
Moronene di Sulawesi Tenggara saat ini diperkirakan sekitar 50000an, 0,5 persen di antaranya
tinggal dalam kawasan taman nasional.
Seperti kebanyakan masyarakat adat lainnya, orang Moronene juga melakukan
perladangan berpindah dengan sistem rotasi.Tapi sistem itu sudah lama ditinggalkan dan mereka
memilih menetap.Suku Moronene juga dikenal pandai memelihara ekosistem mereka.Jonga atau
sejenis rusa, misalnya, masih sering ditemui di sekitar permukiman mereka di Hukaea, termasuk
burung kakatua jambul kuning, satwa endemik Sulawesi yang dilindungi.Namun, sifat asli suku
ini, yang memegang tegung adat mosobu (pasrah dan tidak melawan), dan etos kerjanya yang
rendah membuat mereka rentan terhadap penggusuran.
Buktinya, kehidupan tenang itu perlahan-lahan terusik ketika pemerintah di tahun 1990
menetapkan kawasan itu sebagai taman nasional. Dengan alasan itulah aparat Pemda Sulawesi
Tenggara mengerahkan polisi dan tentara menggelar Operasi Sapu Jagat untuk mengusir keluar
orang-orang Moronene.Alasannya, biar hutan tak rusak sehingga bisa dijual sebagai obyek
ekoturisme dan sumber pendapatan da-erah lainnya.Padahal, hak masyarakat adat atas tanah
ulayat mereka diakui oleh Undang-Undang Kehutanan tahun 1999.
1. Adapun persamaan, perbedaan dan manfaat dari suku-suku tersebut dalam kehidupan sehari-hari,
yakni:
Persamaan:
1) Kelima suku tersebut yakni untuk memenuhi kebutuhannya dalam sehari-hari yaitu dengan bertani
dan berkebun.
2) Mayoritas pemeluk agama Islam.
Ragam Suku Di Sulawesi Tenggara

Suku Tolaki
Suku Tolaki adalah suatu komunitas masyarakat yang berdiam di kota Kendari, Konawe dan
konawe selatan di Sulawesi Tenggara. Menurut cerita rakyat, bahwa dahulu ada sebuah
kerajaan, yaitu Kerajaan Konawe. Raja Konawe yang terkenal adalah Haluoleo. Dari keturunan
orang-orang kerajaan inilah yang menjadi masyarakat suku Tolaki sekarang. Pada masa
sebelum-sebelumnya orang Tolaki merupakan masyarakat yang nomaden, mereka bergerak
dari satu tempat ke tempat yang lain, hidup dari hasil berburu dan mencari tempat baru untuk
membuka ladang. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari daratan china,
yaitu dari daerah Yunnan yang bermigrasi ke wilayah ini.

Dalam tradisi orang Tolaki memberi petunjuk bahwa penghuni pertama daratan Sulawesi
Tenggara adalah Toono Peiku (ndoka) yang hidup dalam gua-gua dan makanannya adalah
Sekam. Orang Tolaki pada umumnya menamakan dirinya Tolahianga yang artinya orang dari
langit, yaitu dari Cina. Kalau demikian istilah Hiu dalam bahasa Cina artinya langit dihubungkan
dengan kata Heo (Oheo) bahasa Tolaki yang berarti terdampar.

Suku Mekongga
Suku Mekongga, adalah salah suatu komunitas masyarakat adat yang berdiam di kabupaten
Kolaka dan sebagian kecil juga terdapat di kabupaten Kolaka Utara Sulawesi Tenggara. Suku
Mekongga merupakan salah satu sub-etnik dari suku Tolaki. Menurut orang Tolaki, bahwa orang
Mekongga adalah orang Tolaki juga. Istilah Mekongga, konon berasal dari kata "to mekongga",
yang berarti "to" berarti "orang" dan "mekongga" berarti "pembunuh burung elang raksasa", jadi
kata "to mekongga" berarti "orang yang membunuh burung elang raksasa". Sedangkan burung
elang raksasa dalam bahasa Mekongga adalah "Konggahaa".
Kabupaten Kolaka tempat kediaman suku Mekongga ini disebut juga sebagai "Bumi
Mekongga". Di daerah pemukiman orang Mekongga terdapat sebuah gunung yang bernama
gunung Mekongga. Menurut orang Mekongga sendiri gunung Mekongga merupakan gunung
keramat. Menurut cerita rakyat, di gunung ini terdapat Tebing Putih yang bernama Musero-sero
yang merupakan pusat kerajaan jin untuk wilayah Kolaka Utara.

Suku Buton
Orang Buton atau Butung mendiami pulau Buton atau Pulau Butung yang terletak di sebelah
selatan jazirah Sulawesi bagian Tenggara. Secara administratif berada dalam wilayah
Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Orang Buton dikenal sebagai salah satu suku
bangsa perantau. Banyak di antara mereka yang tersebar sampai ke Sabah (Malayisa), Pulau
Seram, dan Maluku Utara. Mereka memang terkenal sebagai pelaut dan pedagang yang ulet.
Populasinya sekarang sekitar 400.000 jiwa. Bahasa Buton digolongkan ahli etnolinguistik klasik,
Esser, ke dalam kelompok Muna-Butung. Bahasa Buton terbagi ke dalam beberapa dialek,
seperti dialek Butung, Wolio, Wapacana, Cia-Cia, dan Wakatobi. Kemudian semua dialek itu
terbagi-bagi lagi ke dalam lebih kurang 22 buah sub-dialek.

Suku Wolio
Suku Wolio adalah suatu suku yang tersebar di kepulauan Buton, Muna dan Kabaena di
provinsi Sulawesi Tenggara. Juga terdapat di pulau-pulau kecil di provinsi Selatan. Populasi
suku Wolio diperkirakan lebih dari 30.000 orang. Suku Wolio berbicara dengan bahasa Wolio.
Bahasa Wolio merupakan sub-bahasa Buton-Muna, yang termasuk cabang bahasa
Austronesia. Menurut para peneliti bahwa suku Wolio ini merupakan bagian dari sub-suku
Buton. Dikatakan bahwa dahulunya orang Wolio juga merupakan keturunan dari Kerajaan
Buton yang sejak abad 15 menguasai wilayah Buton. Hingga saat ini bahasa Wolio masih
dipakai oleh masyarakat khususnya yang ada di Kota Bau-Bau, namum bahasa Wolio ini tetap
dikenal oleh masyarakat dari berbagai penjuru daerah bekas pemerintahan kerajaan atau
kesultanan Buton.

Suku Muna
Suku bangsa Muna yang sering juga disebut Tomuna menetap di Pulau Muna. Daerah mereka
dalam wilayah kabupaten Muna dan Muna Barat, yang terletak di sebelah selatan jazirah
Sulawesi Tenggara. Pada zaman dulu Pulau Muna termasuk dalam wilayah Kesultanan Butung
(Buton). Ahli etnolinguistik klasik, Esser menggolongkan bahasa Muna ke dalam kelompok
bahasa Muna-Buton. Bahasa ini terbagi lagi menjadi beberapa dialek, seperti Dialek Tiworo,
Mawasangka, Gu, Kotobengke, Silompu dan Kadatua. Jumlah populasinya sekitar 300.000
jiwa. Orang Muna kebanyakan bekerja sebagai nelayan dan petani di ladang-ladang dengan
tanaman utamanya jagung. Selain itu mereka juga menanam ubi, tebu, kelapa dan sayur-
sayuran. Makanan khas orang Muna yang terkenal yaitu Kabuto yang terbuat dari bahan ubi.
Tanaman komoditi ekspor mereka adalah kopi, tembakau, cengkeh dan kapuk.

Suku Moronene
Suku Moronene adalah suatu suku bangsa yang mendiami wilayah pada bagian ujung selatan
jazirah Sulawesi Tenggara. Sebelum kata Moronene, digunakan Wonua Bombana/Wita
Moronene, yaitu kerajaan Moronene seperti yang dituturkan dalam kada (suatu legenda dalam
sastra moronene). Didalam kada dituturkan bahwa kerajaan Moronene diperintah oleh seorang
Raja yang bernama Tongki Puu Wonua. Tidak diketahui dari mana asalnya dan siapa
orangnya, hanya dituturkan bahwa beliau adalah seorang keturunan Raja dari sebuah kerajaan.
Nama Moronene telah lazim digunakan untuk nama bahasa dan nama suku bangsa yang
dahulunya terhimpun dalam satu wadah Kerajaan yaitu Kerajaan Moronene. Secara etimologis
istilah Moronene berasal dari dua kata yaitu moro yang artinya sejenis, serupa, dan kata nene
adalah nama tumbuhan resam batangnya dapat dibuat pengikat pagar, atap dan lain-lain.

Suku Kabaena
Suku Kabaena adalah suku yang bermukim di pulau Kabaena kabupaten Baombana provinsi
Sulawesi Tenggara. Suku Kabaena hidup di pulau yang sepanjang garis pantainya banyak bisa
ditemukan hamparan batu-batu permata biru yang berkilauan terkena sinar matahari. Selain itu
di pulau ini diduga banyak terdapat kandungan emas. Pulau Kabaena ini juga menjadi salah
satu tujuan wisata bagi para wisatawan asing maupun lokal. Karena keindahan pulau ini sudah
terkenal sebagai salah satu tempat wisata di pulau Sulawesi. Di pulau Kabaena selain suku
Kabaena sebagai penduduk asli pulau ini, juga ada etnis lain yang menghuni pulau ini, yaitu
suku Bajo yang bermukim di kecamatan Kabaena Barat.

Suku Wawonii
Suku ini terdapat di pulau Wawonii yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Menurut istilah kata
"Wawonii" diambil dari kata Wawo berarti di atas dan nii yang berarti kelapa. Menurut cerita,
nenek moyang Orang Wawonii berasal dari kampung Lasolo dan Soropia (Torete) dan daratan
Buton Utara di kampung Kulisusu. Mereka telah mendiami pulau ini sejak berabad-abad yang
lalu. Suku Wawonii juga terkenal dengan ilmu hitam (santet) yang dapat dengan mudah
melumpuhkan lawannya. Tetapi ilmu ini sudah jarang digunakan oleh sebagian orang Wawonii
karena ilmu itu hanya bisa digunakan oleh orang tertentu saja.

Suku Bajau
Suku bangsa yang satu ini sangat pandai menyesuaikan diri dengan kehidupan di perairan
Nusantara, bahkan sampai ke perairan kepulauan Filipina bagian selatan. Mereka hidup
berpindah-pindah di perairan laut dan teluk di sekitar Pulau Sulawesi, Kalimantan, Sumatera
bagian timur, Kepulauan Maluku bagian utara dan Kepulauan Nusa Tenggara. Jumlah orang
Bajau di seluruh Indonesia diperkirakan sekitar 50.000 jiwa. Kelompok yang paling banyak
jumlahnya mungkin berada di sekitar Sulawesi Tenggara, yaitu sekitar 25.000 jiwa.

Suku Bugis
Suku Bugis merupakan suku asli dari Sulawesi Selatan. Suku Bugis terkenal sebagai suku
bangsa yang senang merantau dalam urusan perdagangan. Itulah sebabnya jika ditanah
Sulawesi Tenggara terdapat banyak Suku Bugis yang menetap dan tersebar di beberapa
Kabupaten antara lain terdapat di Kota Kendari, Kabupaten Bombana, Konawe, Konawe
Selatan, Kabaena dan beberapa Kabupaten lainnya.

Suku Wolio, adalah suatu suku yang tersebar di kepulauan Buton, Muna dan Kabaena di provinsi
Sulawesi Tenggara, dan juga terdapat di pulau-pulau kecil di provinsi Selatan. Populasi suku Wolio
diperkirakan lebih dari 30.000 orang.
Suku Wolio berbicara dengan bahasa Wolio. Bahasa Wolio merupakan sub-bahasa Buton-Muna, yang
termasuk cabang bahasa Austronesia.
Menurut para peneliti bahwa suku Wolio ini merupakan bagian dari sub-suku Buton. Dikatakan bahwa
dahulunya orang Wolio juga merupakan keturunan dari Kerajaan Buton yang sejak abad 15 menguasai
wilayah Buton.

Suku Wolio juga merupakan suku yang suka merantau. Saat ini banyak dari mereka yang merantau dan
tinggal bermukim di provinsi Maluku dan Papua.

Perkawinan dalam kebudayaan Buton bersifat monogami. Setelah menikah, pasangan tinggal di rumah
keluarga mempelai perempuan sampai sang suami mampu memiliki rumah sendiri. Rumah tempat
tinggal suku Wolio didirikan di atas sebidang tanah dengan menggunakan papan yang kuat, dengan
sedikit jendela dan langit-langit yang terbuat dari papan yang kecil dan ditutupi daun kelapa kering.

Salah satu tradisi suku Wolio yang populer di kalangan suku Wolio adalah upacara Pekandake-Kandea
dalam bahasa Wolio berarti "makan-makan". Tradisi ini memiliki banyak makna tidak sekadar
sebagaibentuk nyata rasa syukur kepada Tuhan setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan
atau puasa syawal. Tradisi ini juga merupakan media yang digunakan muda-mudi Buton untuk mencari
jodoh. Dahulu tradisi ini merupakan pesta menyambut pahlawan yang kembali membawa kemenangan
setelah berperang.

rumah adat suku Wolio

Masyarakat suku Wolio pada umumnya beragama Islam. Agama Islam yang berkembang di wilayah ini
adalah dari golongan Sufi. Namun beberapa dari mereka masih mempercayai hal-hal gaib dan percaya
terhadap roh-roh di sekeliling mereka. Mereka juga mempercayai roh para leluhur mereka yang dapat
menolong dan menimbulkan penyakit tergantung dari sikap dan perilaku mereka.

Rumah tradisional suku Wolio, terdiri dari 3 jenis rumah, yaitu:

Banua Tada Tare Kamali (malige), yang dihuni oleh Raja/ Sultan beserta keluarganya,

Banua Tada Tare Pata Pale, rumah siku bertiang empat merupakan tempat tinggal para
pejabat atau pegawai istana,
Banua Tada Tare Talu Pale, rumah siku bertiang tiga tempat orang biasa.

Orang Wolio pada umumnya telah mengenal teknik pertanian. Mereka bertahan hidup pada bidang
pertanian. Tanaman padi juga menjadi tanaman utama mereka, mereka juga menanam jagung, ubi kayu,
ubi jalar, sayur-sayuran dan berbagai jenis buah-buahan. Selain itu sebagian dari mereka hidup sebagai
nelayan penangkap ikan, seperti ikan tuna dan ikan ekor kuning dan juga sebagai pembuat perahu dan
kapal.
Perkampungan pemukiman mereka banyak terdapat penjual hasil tenunan dari sutera, katun dan
sejenisnya. Selain itu juga memiliki toko-toko kecil dan penjaja keliling, di mana hal ini terlihat dari
gerobak-gerobak yang mereka buat untuk berjualan.

kabaena

Suku Kabaena, adalah suku yang bermukim di pulau Kabaena kabupaten Baombana provinsi Sulawesi
Tenggara.

Suku Kabaena hidup di pulau yang sepanjang garis pantainya banyak bisa ditemukan hamparan batu-
batu permata biru yang berkilauan terkena sinar matahari. Selain itu di pulau ini diduga banyak terdapat
kandungan emas. Pulau Kabaena ini juga menjadi salah satu tujuan wisata bagi para wisatawan asing
maupun lokal. Karena keindahan pulau ini sudah terkenal sebagai salah satu tempat wisata di pulau
Sulawesi.

Di pulau Kabaena selain suku Kabaena sebagai penduduk asli pulau ini, juga ada etnis lain yang
menghuni pulau ini, yaitu suku Bajo yang bermukim di kecamatan Kabaena Barat.

Masyarakat suku Kabaena adalah orang ramah dan sopan terhadap siapa saja. Mayoritas orang
Kabaena memeluk agama Islam. Agama Islam menjadi agama yang kuat di kalangan orang Kabaena.
Mereka juga muslim yang taat. Dalam masyarakat Kabaena ada istilah Wonua Measalaro yang berarti
"kampung satu rasa". Wonua Measalaro membangun dan menguatkan ikatan sosial masyarakat
Kabaena yang dalam bahasa Kabaena disebut Tokotua.

Pulau Kabaeana dulu dikenal sebagai pulau penghasil beras bagi Kesultanan Buton. Kata "kabaena"
berasal dari bahasa Buton. "Kobaena" berarti "pemilik beras". Dahulu Kabaena terkenal dengan produksi
beras dan kerbaunya. Pulau ini juga mendapat sebutan Witangkarambau, dalam bahasa Moronene
berarti tanah kerbau. Dahulu banyak kerbau yang hidup di pulau ini. Pada zaman dahulu kerbau
dijadikan mahar dalam perkawinan. Mahar untuk melamar seorang anak gadis sebanyak 12 ekor dan
janda 8 ekor kerbau. Tapi masa sekarang ini kerbau bisa diganti dengan sapi atau kambing.
Saat ini pulau Kabaena sendiri mulai terancam dengan masuknya perusahaan-perusahaan tambang
yang ingin mengeruk kekayaan di pulau Kabaena. Dengan masuknya perusahaan-perusahaan tambang
ini, dikuatirkan akan mengganggu keseimbangan alam di pulau Kabaena, termasuk mengganggu
masyarakat Kabaena yang selama ini hidup dengan tentram, dan juga mengganggu spesies endemik
yang berada di pulau Kabaena. Resiko yang paling parah adalah hilang atau tenggelamnya pulau akibat
rusaknya daratan dengan lubang-lubang tambang yang ditinggalkan.

Dirasakan oleh masyarakat Kabaena keseluruhan saat ini tidak mendapat tanggapan dan perhatian dari
Pemerintah Daerah, terlebih gubernurnya pun justru dengan ambisinya ingin menjadikan Sulawesi
Tenggara sebagai percontohan untuk industri pertambangan tanpa memikirkan akibatnya. Lokasi
pertambangan di Sulawesi Tenggara terbanyak di pulau Kabaena hingga sangat dikhawatirkan ke
depannya bila tidak dihentikan pulau Kabaena akan tenggelam karena eksploitasi tambang nikel yang
berlebihan. Kekhawatiran pulau kabaena akan tenggelam sangat memungkinkan karena pertambangan
nikel adalah pengerukan dan pengapalan tanah.

tari Lumense

Masyarakat Kabaena yang tinggal di pesisir terkenal dengan produksi gula Kabaena. Gula Kabaena ini
adalah salah satu gula khas Kabaena. Gula ini diracik dari hasil campuran antara saripati pohon enau
yang dicampur dengan kelapa muda, dan setelah itu kemudian dimasak dalam tempat khusus lalu
dikeringkan secara alamiah. Hasil dari pencampuran lalu dibungkus dalam satu kemasan khas hingga
siap untuk disantap. Setiap wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata ini selalu menjadikan Gula
Kabaena sebagai salah satu bingkisan berharga yang nilainya sama dengan souvenir-souvenir seperti di
daerah lainnya.

Suku Kabaena, adalah suku yang bermukim di pulau Kabaena kabupaten Baombana provinsi Sulawesi
Tenggara.

Suku Kabaena hidup di pulau yang sepanjang garis pantainya banyak bisa ditemukan hamparan batu-
batu permata biru yang berkilauan terkena sinar matahari. Selain itu di pulau ini diduga banyak terdapat
kandungan emas. Pulau Kabaena ini juga menjadi salah satu tujuan wisata bagi para wisatawan asing
maupun lokal. Karena keindahan pulau ini sudah terkenal sebagai salah satu tempat wisata di pulau
Sulawesi.

Di pulau Kabaena selain suku Kabaena sebagai penduduk asli pulau ini, juga ada etnis lain yang
menghuni pulau ini, yaitu suku Bajo yang bermukim di kecamatan Kabaena Barat.

Masyarakat suku Kabaena adalah orang ramah dan sopan terhadap siapa saja. Mayoritas orang
Kabaena memeluk agama Islam. Agama Islam menjadi agama yang kuat di kalangan orang Kabaena.
Mereka juga muslim yang taat. Dalam masyarakat Kabaena ada istilah Wonua Measalaro yang berarti
"kampung satu rasa". Wonua Measalaro membangun dan menguatkan ikatan sosial masyarakat
Kabaena yang dalam bahasa Kabaena disebut Tokotua.

Pulau Kabaeana dulu dikenal sebagai pulau penghasil beras bagi Kesultanan Buton. Kata "kabaena"
berasal dari bahasa Buton. "Kobaena" berarti "pemilik beras". Dahulu Kabaena terkenal dengan produksi
beras dan kerbaunya. Pulau ini juga mendapat sebutan Witangkarambau, dalam bahasa Moronene
berarti tanah kerbau. Dahulu banyak kerbau yang hidup di pulau ini. Pada zaman dahulu kerbau
dijadikan mahar dalam perkawinan. Mahar untuk melamar seorang anak gadis sebanyak 12 ekor dan
janda 8 ekor kerbau. Tapi masa sekarang ini kerbau bisa diganti dengan sapi atau kambing.

Saat ini pulau Kabaena sendiri mulai terancam dengan masuknya perusahaan-perusahaan tambang
yang ingin mengeruk kekayaan di pulau Kabaena. Dengan masuknya perusahaan-perusahaan tambang
ini, dikuatirkan akan mengganggu keseimbangan alam di pulau Kabaena, termasuk mengganggu
masyarakat Kabaena yang selama ini hidup dengan tentram, dan juga mengganggu spesies endemik
yang berada di pulau Kabaena. Resiko yang paling parah adalah hilang atau tenggelamnya pulau akibat
rusaknya daratan dengan lubang-lubang tambang yang ditinggalkan.

Dirasakan oleh masyarakat Kabaena keseluruhan saat ini tidak mendapat tanggapan dan perhatian dari
Pemerintah Daerah, terlebih gubernurnya pun justru dengan ambisinya ingin menjadikan Sulawesi
Tenggara sebagai percontohan untuk industri pertambangan tanpa memikirkan akibatnya. Lokasi
pertambangan di Sulawesi Tenggara terbanyak di pulau Kabaena hingga sangat dikhawatirkan ke
depannya bila tidak dihentikan pulau Kabaena akan tenggelam karena eksploitasi tambang nikel yang
berlebihan. Kekhawatiran pulau kabaena akan tenggelam sangat memungkinkan karena pertambangan
nikel adalah pengerukan dan pengapalan tanah.
tari Lumense

Masyarakat Kabaena yang tinggal di pesisir terkenal dengan produksi gula Kabaena. Gula Kabaena ini
adalah salah satu gula khas Kabaena. Gula ini diracik dari hasil campuran antara saripati pohon enau
yang dicampur dengan kelapa muda, dan setelah itu kemudian dimasak dalam tempat khusus lalu
dikeringkan secara alamiah. Hasil dari pencampuran lalu dibungkus dalam satu kemasan khas hingga
siap untuk disantap. Setiap wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata ini selalu menjadikan Gula
Kabaena sebagai salah satu bingkisan berharga yang nilainya sama dengan souvenir-souvenir seperti di
daerah lainnya.

Menu

ANDROID
EDUKASI
KOMPUTER
LAPTOP
ONLINE
SMARTPHONE
HOME EDUKASI GAMBAR & KETERANGAN PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA LENGKAP

1. Pahlawan Nasional Aceh

Achmad Soebardjo, pejuang kemerdekaan Indonesia, menteri luar negeri

Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo (lahir di Karawang, Jawa Barat, 23 Maret 1896
meninggal 15 Desember 1978 pada umur 82 tahun) adalah tokoh pejuang kemerdekaan
Indonesia, diplomat, dan seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah Menteri Luar Negeri
Indonesia yang pertama. Achmad Soebardjo memiliki gelar Meester in de Rechten, yang
diperoleh di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1933.
Cut Nyak Dhien, pejuang perang Aceh

Cut Nyak Dhien (ejaan lama: Tjoet Nja' Dhien, Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848 Sumedang,
Jawa Barat, 6 November 1908; dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang) adalah seorang
Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang
Aceh. Setelah wilayah VI Mukim diserang, ia mengungsi, sementara suaminya Ibrahim Lamnga
bertempur melawan Belanda. Ibrahim Lamnga tewas di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878
yang menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah hendak menghancurkan
Belanda.

Cut Nyak Meutia, pejuang perang Aceh

Tjoet Nyak Meutia (Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, 1870 - Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910)
adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Ia dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Ia
menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964
pada tahun 1964.

Iskandar Muda, Sultan Aceh

Sultan Iskandar Muda (Aceh, Banda Aceh, 1593 atau 1590 Banda Aceh, Aceh, 27 September
1636) merupakan sultan yang paling besar dalam masa Kesultanan Aceh, yang berkuasa dari
tahun 1607 sampai 1636. Aceh mencapai kejayaannya pada masa kepemimpinan Iskandar
Muda, dimana daerah kekuasaannya yang semakin besar dan reputasi internasional sebagai
pusat dari perdagangan dan pembelajaran tentang Islam. Namanya kini diabadikan di Bandar
Udara Internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh.

Panglima Polim, pejuang perang Aceh


Panglima Polem bernama lengkap Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud
adalah seorang panglima Aceh. Sampai saat ini belum ditemukan keterangan yang jelas
mengenai tanggal dan tahun kelahiran Panglima Polem, yang jelas ia berasal dari keturunan
kaum bangsawan Aceh. Ayahnya bernama Panglima Polem VIII Raja Kuala anak dari Teuku
Panglima Polem Sri Imam Muda Mahmud Arifin yang juga terkenal dengan Cut Banta
(Panglima Polem VII (1845-1879). Mahmud Arifin merupakan Panglima Sagoe XXII Mukim
Aceh Besar.

Teuku Muhammad Hasan, pejuang kemerdekaan Indonesia, gubernur Sumatera

Teuku Muhammad Hasan adalah Gubernur Wilayah Sumatera Pertama setelah Indonesia
merdeka , Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1948 hingga tahun 1949
dalam Kabinet Darurat. Selain itu ia adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan
nasional Indonesia.

Teuku Nyak Arif, pejuang kemerdekaan Indonesia, gubernur Aceh pertama

Teuku Nyak Arif adalah Pahlawan Nasional Indonesia. Ia juga merupakan Residen/gubernur
Aceh yang pertama periode 19451946. Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, saat
Volksraad (parlemen) dibentuk, Teuku Nyak Arif terpilih sebagai wakil pertama dari Aceh.

Teuku Umar, pejuang perang Aceh

Teuku Umar (Meulaboh, 1854 - Meulaboh, 11 Februari 1899) adalah pahlawan kemerdekaan
Indonesia yang berjuang dengan cara berpura-pura bekerjasama dengan Belanda. Ia melawan
Belanda ketika telah mengumpulkan senjata dan uang yang cukup banyak.

Teungku Chik di Tiro, pejuang perang Aceh


Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman (Tiro, Pidie, 1836 Aneuk Galong, Aceh Besar,
Januari 1891) adalah seorang pahlawan nasional dari Aceh.

Advertsiments

2. Pahlawan Nasional Bali

I Gusti Ngurah Rai - kolonel (anumerta), Pahlawan Nasional Indonesia

Kolonel TNI Anumerta I Gusti Ngurah Rai (lahir di Desa Carangsari, Petang, Kabupaten
Badung, Bali, Hindia Belanda, 30 Januari 1917 meninggal di Marga, Tabanan, Bali, Indonesia,
20 November 1946 pada umur 29 tahun) adalah seorang pahlawan Indonesia dari Kabupaten
Badung, Bali.
I Gusti Ketut Pudja - gubernur Sunda Kecil, Pahlawan Nasional Indonesia
Ide Anak Agung Gde Agung - menteri Indonesia, Pahlawan Nasional Indonesia
Untung Suropati - Pahlawan Nasional Indonesia

I Gusti Ketut Pudja

I Gusti Ketut Pudja (lahir 19 Mei 1908 meninggal 4 Mei 1977 pada umur 68 tahun) adalah
pahlawan nasional Indonesia. Ia ikut serta dalam perumusan negara Indonesia melalui Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia mewakili Sunda Kecil (saat ini Bali dan Nusa Tenggara).

I Gusti Ketut Pudja juga hadir dalam perumusan naskah teks proklamasi di rumah Laksamana
Maeda. Ia kemudian diangkat Soekarno sebagai Gubernur Sunda Kecil.Pada tahun 2011, I
Gusti Ketut Pudja ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional
bersama 6 orang lainnya

Ida Anak Agung Gde Agung


Dr. Ida Anak Agung Gde Agung (lahir di Gianyar, Bali, 24 Juli 1921 meninggal 22 April 1999
pada umur 77 tahun) adalah ahli sejarah dan tokoh politik Indonesia. Di Bali ia juga berposisi
sebagai raja Gianyar, menggantikan ayahnya Anak Agung Ngurah Agung. Anaknya, Anak
Agung Gde Agung, adalah Menteri Masalah-masalah Kemasyarakatan pada Kabinet Persatuan
Nasional.

Untung Suropati

Untung Surapati (Bahasa Jawa: Untung Suropati) (terlahir Surawiroaji, lahir di Bali, 1660
meninggal dunia di Bangil, Jawa Timur, 5 Desember 1706 pada umur 45/46 tahun) adalah
seorang tokoh dalam sejarah Nusantara yang dicatat dalam Babad Tanah Jawi. Kisahnya
menjadi legendaris karena mengisahkan seorang anak rakyat jelata dan budak VOC yang
menjadi seorang bangsawan dan Tumenggung (Bupati) Pasuruan.

Kisah Untung Surapati yang legendaris dan perjuangannya melawan kolonialisme VOC di
Pulau Jawa membuatnya dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia telah ditetapkan
sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3
November 1975.

3. Pahlawan Nasional Banten

Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa (Banten, 1631 1683) adalah putra Sultan Abdul Ma'ali Ahmad dan
Ratu Martakusuma yang menjadi Sultan Banten periode 1640-1650. Ketika kecil, ia bergelar
Pangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar
Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai
sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah.

MR. Syafrudin Prawiranegara


Mr. Syafruddin Prawiranegara lahir di Serang Banten pada tanggal 28 Februari 1911 dan
meninggal di Jakarta 15 Februari 1989 pada umur 77 tahun, adalah pejuang pada masa
kemerdekaan Republik Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Presiden/Ketua PDRI
(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta
jatuh ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948.
Syafruddin Prawiranegara telah berhasil menyelamatkan eksistensi Republik Indonesia pada
waktu Belanda melancarkan agresi militer kedua. Ketika Presiden Sukarno dan Wakil Presiden
Hatta serta sebagian pejabat negara ditawan Belanda pada tanggal 19 Desember 1948,
Syafruddin yang saat itu menjabat Menteri Kemakmuran sedang berada di Bukittinggi,
Sumatera Barat. Bersama dengan Teuku Muhammad Hasan dan Kolonel Hidayat, ia
mengambil inisiatif untuk membentuk Pemerintahan Darurat.

4. Pahlawan Nasional Bengkulu

Hj. Fatmawati Soekarno

Ayah bernama Hassan Din dan ibunya bernama Siti Chadijah,keduanya merupakan keturunan
Puti Indrapura, salah seorang keluarga raja dari Kesultanan Indrapura, Pesisir Selatan,
Sumatera Barat. Ayahnya merupakan salah seorang tokoh Muhammadiyah di Bengkulu.
Beliau adalah istri dari Presiden Indonesia pertama Soekarno (menikah 01-06-1943). Ia menjadi
Ibu Negara Indonesia pertama dari tahun 1945 hingga tahun 1967 dan merupakan istri ke-3 dari
Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Ia juga dikenal akan jasanya dalam menjahit Bendera
Pusaka Sang Saka Merah Putih yang turut dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Prof. Dr. Hazairin

Prof. Dr. Hazairin (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 28 November 1906 meninggal di
Jakarta, 11 Desember 1975 pada umur 69 tahun) adalah seorang pakar hukum adat. Ia
menjabat Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I.
5. Pahlawan Nasional Gorontalo
Nani Wartabone

Nani Wartabone, (lahir 30 Januari 1907 meninggal di Suwawa, Gorontalo, 3 Januari 1986
pada umur 78 tahun), yang dianugerahi gelar "Pahlawan Nasional Indonesia" pada tahun 2003,
adalah putra Gorontalo dan tokoh perjuangan dari provinsi Gorontalo. Perjuangannya dimulai
ketika ia mendirikan dan menjadi sekretaris Jong Gorontalo di Surabaya pada 1923. Lima tahun
kemudian, ia menjadi Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Cabang Gorontalo

6. Pahlawan Nasional Jakarta

Ismail Marzuki

Ismail Marzuki (lahir di Kwitang, Senen, Batavia, 11 Mei 1914 meninggal di Kampung Bali,
Tanah Abang, Jakarta, 25 Mei 1958 pada umur 44 tahun) adalah salah seorang komponis besar
Indonesia. Namanya sekarang diabadikan sebagai suatu pusat seni di Jakarta yaitu Taman
Ismail Marzuki (TIM) di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.

Mohammad Husni Thamrin

Mohammad Husni Thamrin (lahir di Weltevreden, Batavia, 16 Februari 1894 meninggal di


Senen, Batavia, 11 Januari 1941 pada umur 46 tahun) adalah seorang politisi era Hindia
Belanda yang kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia.

Kiai Haji Noer Alie

Kiai Haji Noer Alie (lahir di Bekasi, Jawa Barat pada tanggal 15 Juli 1914; meninggal di Bekasi,
Jawa Barat pada tanggal 29 Januari 1992) Adalah pahlawan nasional Indonesia Dengan SK
Presiden : Keppres No. 085/TK/2006, Tgl. 3 November 2006, beliau berasal dari Jawa Barat
dan juga seorang ulama.Ia adalah putera dari Anwar bin Layu dan Maimunah binti Tarbin. Ia
mendapatkan pendidika agama dari beberapa guru agama di sekitar Bekasi. Pada tahun 1934,
ia menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama di Mekkah dan selama 6 tahun
bermukim disana.

7. Pahlawan Nasional Jambi

Thaha Syaifuddin

Sultan Thaha Syaifuddin (Jambi, 1816 - Betung, 26 April 1904) adalah seorang sultan terakhir
dari Kesultanan Jambi. Dilahirkan di Keraton Tanah pilih Jambi pada pertengahan tahun 1816.
Ketika kecil ia biasa dipanggil Raden Thaha Ningrat dan bersikap sebagai seorang bangsawan
yang rendah hati dan suka bergaul dengan rakyat biasa.

8. Pahlawan Nasional Jawa Barat


Raden Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 meninggal di Tasikmalaya, 11


September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita,
diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Dewi Sartika adalah
puteri dari suami-istri Raden Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas. Waktu menjadi patih di
Bandung, Somanegara pernah menentang Pemerintah Hindia-Belanda. Karena itu istrinya
dibuang di Ternate. Dewi Sartika dititipkan pada pamannya, Patih Arya Cicalengka.

Djoeanda Kartawidjaja

Ir. Raden Haji Djoeanda Kartawidjaja (ejaan baru: Juanda Kartawijaya) lahir di Tasikmalaya,
Jawa Barat, 14 Januari 1911 meninggal di Jakarta, 7 November 1963 pada umur 52 tahun
adalah Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir. Ia menjabat dari 9 April 1957
hingga 9 Juli 1959. Setelah itu ia menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I.

Iwa Koesoemasoemantri

Iwa Koesoemasoemantri (lahir di Ciamis, 31 Mei 1899 meninggal 27 November 1971 pada
umur 72 tahun) atau Iwa Kusumasumantri (Ejaan Soewandi), adalah seorang politikus
Indonesia. Iwa lulus dari sekolah hukum di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) dan Belanda
sebelum menghabiskan waktu di sebuah sekolah di Uni Soviet.

Oto Iskandar di Nata

Raden Otto Iskandardinata (lahir di Bandung, Jawa Barat, 31 Maret 1897 meninggal di Mauk,
Tangerang, Banten, 20 Desember 1945 pada umur 48 tahun) adalah salah satu Pahlawan
Nasional Indonesia. Ia mendapat nama julukan si Jalak Harupat.

Mr. Syafruddin Prawiranegara

Mr. Syafruddin Prawiranegara atau juga ditulis Sjafruddin Prawiranegara (lahir di Serang,
Banten, 28 Februari 1911 meninggal di Jakarta, 15 Februari 1989 pada umur 77 tahun)
adalah seorang pejuang kemerdekaan, Menteri, Gubernur Bank Indonesia, Wakil Perdana
Menteri dan pernah menjabat sebagai Ketua (setingkat presiden) Pemerintah Darurat Republik
Indonesia (PDRI). Ia menerima mandat dari presiden Sukarno ketika pemerintahan Republik
Indonesia yang kala itu beribukota di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda akibat Agresi Militer
Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948.[1][2][3] Ia kemudian menjadi Perdana Menteri bagi
kabinet tandingan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Tengah
tahun 1958.

9. Pahlawan Nasional Jawa Tengah


Soedirman

Jenderal Besar Raden Soedirman (EYD: Sudirman; lahir 24 Januari 1916 meninggal 29
Januari 1950 pada umur 34 tahun adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi
Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia secara
luas terus dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Hindia
Belanda, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya
pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat
aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan
oleh organisasi Islam Muhammadiyah. Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai
menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh
masyarakat karena ketaatannya pada Islam.

Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi (Serang,
Purwodadi, Jawa Tengah, 1752 - Yogyakarta, 1828) adalah seorang Pahlawan Nasional
Indonesia. Ia adalah anak Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan
Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Setelah
ayahnya wafat Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya. Nyi Ageng Serang adalah
salah satu keturunan Sunan Kalijaga, ia juga mempunyai keturunan seorang Pahlawan nasional
yaitu Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara.

Kartini

Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 meninggal di Rembang,
Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut
Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini
dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Yos Sudarso

Laksamana Madya TNI (Ant) Yosaphat Soedarso (lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 24 November
1925 meninggal di Laut Aru, 15 Januari 1962 pada umur 36 tahun) adalah seorang pahlawan
nasional Indonesia. Ia gugur di atas KRI Macan Tutul dalam peristiwa pertempuran Laut Aru
setelah ditembak oleh kapal patroli Hr. Ms. Eversten milik armada Belanda pada masa
kampanye Trikora. Namanya kini diabadikan menjadi nama KRI dan pulau.

Soepomo

Prof. Mr. Dr. Soepomo (Ejaan Soewandi: Supomo; lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, 22 Januari
1903 meninggal di Jakarta, 12 September 1958 pada umur 55 tahun) adalah seorang
pahlawan nasional Indonesia. Soepomo dikenal sebagai arsitek Undang-undang Dasar 1945,
bersama dengan Muhammad Yamin dan Soekarno

Diponegoro

Bendara Pangeran Harya Dipanegara (lebih dikenal dengan nama Diponegoro, lahir di
Ngayogyakarta Hadiningrat, 11 November 1785 meninggal di Makassar, Hindia Belanda, 8
Januari 1855 pada umur 69 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional Republik
Indonesia. Pangeran Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa
(1825-1830) melawan pemerintah Hindia Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang
dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia.

10. Pahlawan Nasional Jawa Timur


Soetomo

Dr. Soetomo (lahir di Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur, 30 Juli 1888 meninggal di
Surabaya, Jawa Timur, 30 Mei 1938 pada umur 49 tahun) adalah tokoh pendiri Budi Utomo,
organisasi pergerakan yang pertama di Indonesia.

Soeroso

Raden Pandji Soeroso (EYD: Suroso, lahir di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 3 November 1893
meninggal di Indonesia, 16 Mei 1981 pada umur 87 tahun) adalah mantan Gubernur Jawa
Tengah, mantan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, dan mantan anggota
BPUPKI/PPKI. Ia juga bertugas sebagai wakil ketua BPUPKI yang dipimpin oleh K.R.T.
Radjiman Wedyodiningrat.

Sutomo

Sutomo (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920 meninggal di Padang Arafah, Arab
Saudi, 7 Oktober 1981 pada umur 61 tahun) lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat
sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan
semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang
berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari
Pahlawan.

Wahid Hasjim

Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim (lahir di Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914 meninggal di
Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun) adalah pahlawan nasional Indonesia
dan menteri negara dalam kabinet pertama Indonesia. Ia adalah ayah dari presiden keempat
Indonesia, Abdurrahman Wahid dan anak dari Hasyim Asy'arie, salah satu pahlawan nasional
Indonesia. Wahid Hasjim dimakamkan di Tebuireng, Jombang

Hasjim Asy'ari

Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy'arie bagian belakangnya juga sering dieja Asy'ari atau Ashari
(lahir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, 10 April 1875 meninggal di Jombang, Jawa Timur,
25 Juli 1947 pada umur 72 tahun; 4 Jumadil Awwal 1292 H- 6 Ramadhan 1366 H; dimakamkan
di Tebu Ireng, Jombang) adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan
pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia

11. Pahlawan Nasional Kalimantan Barat

Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan

Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan (lahir: Sintang, Kalimantan Barat, 1771 -
wafat: Tanjung Suka Dua, Melawi, 1875) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dari
Melawi. Pada tahun 1845, ia diangkat sebagai Kepala Pemerintahan Melawi yang merupakan
bagian dari Kerajaan Sintang. Sebagai pejabat kerajaan ai mendapat gelar Raden temenggung.
Ia berhasil mengembangkan potensi perekonomian wilayah ini dan mempersatukan suku Dayak
dengan Melayu.

12. Pahlawan Nasional Kalimantan Selatan

Hasan Basry

Brigjen Hasan Basry (lahir di Kandangan, Hulu Sungai Selatan, 17 Juni 1923 meninggal di
Jakarta, 15 Juli 1984 pada umur 61 tahun) adalah seorang tokoh militer dan Pahlawan nasional
Indonesia. Ia dimakamkan di Simpang Empat, Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan
Selatan. Dianugerahi gelar Pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan
Presiden No. 110/TK/2001 tanggal 3 November 2001

13. Pahlawan Nasional Kalimantan Tengah

Tjilik Riwut

Marsekal Pertama TNI (Anumerta) Tjilik Riwut (lahir di Kasongan, 2 Februari 1918 meninggal
di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 17 Agustus 1987 pada umur 69 tahun) adalah salah
satu pahlawan nasional Indonesia dan Gubernur Kalimantan Tengah.

14. Pahlawan Nasional Kalimantan Timur

Sultan Aji Muhammad Idris

Sultan Aji Muhammad Idris adalah Sultan ke-14 dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing
Martadipura yang memerintah mulai tahun 1735 hingga tahun 1778. Sultan Aji Muhammad Idris
adalah sultan pertama yang menggunakan nama Islam semenjak masuknya agama Islam di
Kesultanan Kutai Kartanegara pada abad ke-17.

15. Pahlawan Nasional Kalimantan Utara


Not Found
16. Pahlawan Nasional Kepulauan Bangka Belitung
Not Found
17. Pahlawan Nasional Kepulauan Riau

Raja Haji Fisabilillah


Raja Haji Fisabilillah (lahir di Kota Lama, Ulusungai, Riau, 1725 meninggal di Kampung
Ketapang, Melaka, Malaysia, 18 Juni 1784) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia
dimakamkan di Pulau Penyengat Inderasakti, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau.
Raja Haji Fisabililah merupakan adik dari Sultan Selangor pertama, Sultan Salehuddin dan
paman sultan Selangor kedua, Sultan Ibrahim. Namanya diabadikan dalam nama bandar udara
di Tanjung Pinang, Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah.

18. Pahlawan Nasional Lampung

Radin Inten II

Radin Inten II (Lampung, 1834 - Lampung, 5 Oktober 1858) adalah seorang pahlawan nasional
Indonesia. Namanya diabadikan sebagai sebuah Bandara Radin Inten II dan perguruan tinggi
IAIN Raden Intan di Lampung.Berdasarkan penelitian, Radin Inten II gelar Kesuma Ratu masih
keturunan Fatahillah yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati dari perkawinannya dengan Putri
Sinar Alam, seorang putri dari Minak Raja Jalan Ratu dari Keratuan Pugung, cikal-bakal
pemegang kekuasaan di keratuan tersebut.

19. Pahlawan Nasional Maluku

Pattimura

Pattimura(atau Thomas Matulessy) (lahir di Haria, pulau Saparua, Maluku, 8 Juni 1783
meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun), juga dikenal dengan
nama Kapitan Pattimura adalah pahlawan Maluku dan merupakan Pahlawan nasional
Indonesia.

20. Pahlawan Nasional Maluku Utara


Nuku Muhammad Amiruddin

Muhammad Amiruddin atau lebih dikenal dengan nama Sultan Nuku (Soasiu, Tidore, 1738 -
Tidore, 14 November 1805) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Dia merupakan
sultan dari Kesultanan Tidore yang dinobatkan pada tanggal 13 April 1779, dengan gelar Sri
Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Mabus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan.

21. Pahlawan Nasional Nusa Tenggara Barat


Not Found
22. Pahlawan Nasional Nusa Tenggara Timur

Herman Johannes

Prof. Dr. Ir. Herman Johannes, sering juga ditulis sebagai Herman Yohannes atau Herman
Yohanes (lahir di Rote, NTT, 28 Mei 1912 meninggal di Yogyakarta, 17 Oktober 1992 pada
umur 80 tahun) adalah cendekiawan, politikus, ilmuwan Indonesia, guru besar Universitas
Gadjah Mada (UGM), dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ia pernah menjabat Rektor UGM
(1961-1966), Koordinator Perguruan Tinggi (Koperti) tahun 1966-1979, anggota Dewan
Pertimbangan Agung (DPA) RI (1968-1978), dan Menteri Pekerjaan Umum (1950-1951).

23. Pahlawan Nasional Papua

Frans Kaisiepo

Frans Kaisiepo (lahir di Wardo, Biak, Papua, 10 Oktober 1921 meninggal di Jayapura, Papua,
10 April 1979 pada umur 57 tahun) adalah pahlawan nasional Indonesia dari Papua.
24. Pahlawan Nasional Papua Barat

Silas Papare

Beliau dilahirkan pada tanggal 18 Desember 1918 di Serui, Irian Jaya. Ia telah berjuang untuk
mempengaruhi masyarakat agar bersatu merebut kembali tanah Papua dari tangan penjajah
dan telah bergabung dalam Batalyon Papua pada bulan Desember 1945 untuk melancarkan
pemberontakan terhadap Belanda yang menjajah tanah Papua. Pada bulan Nopember 1946, ia
membentuk Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII), kemudian pada bulan Oktober 1949, ia
juga membentuk Badan Perjuangan Irian (BPI) dengan tujuan untuk membantu pemerintah
Indonesia membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda sekaligus menyatukannya dengan
NKRI.

25. Pahlawan Nasional Riau

Tuanku Tambusai

Tuanku Tambusai (lahir di Tambusai, Rokan Hulu, Riau, 5 November 1784 meninggal di
Negeri Sembilan, Malaya Briania, 12 November 1882 pada umur 98 tahun) adalah salah
seorang tokoh Paderi terkemuka.

26. Pahlawan Nasional Sulawesi Barat


Not Found
27. Pahlawan Nasional Sulawesi Selatan

Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 meninggal di


Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun) adalah Raja Gowa ke-15 dan
pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng
Mattawang Karaeng Bonto Mangape sebagai nama pemberian dari Qadi Islam Kesultanan
Gowa yakni Syeikh Sayyid Jalaludin bin Muhammad Bafaqih Al-Aidid, seorang mursyid tarekat
Baharunnur Baalwy Sulawesi Selatan sekaligus guru tarekat dari Syeikh Yusuf dan Sultan
Hasanuddin. Setelah menaiki Tahta sebagai Sultan, ia mendapat tambahan gelar Sultan
Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan
Hasanuddin saja. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Osten oleh Belanda
yang artinya Ayam Jantan/Jago dari Timur. Ia dimakamkan di Katangka, Kabupaten Gowa. Ia
diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973,
tanggal 6 November 1973. Nominal seratus repes

28. Pahlawan Nasional Sulawesi Tengah


Not Found
29. Pahlawan Nasional Sulawesi Tenggara
Not Found
30. Pahlawan Nasional Sulawesi Utara

Robert Wolter Monginsidi

Robert Wolter Monginsidi (lahir di Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, 14 Februari 1925
meninggal di Pacinang, Makassar, Sulawesi Selatan, 5 September 1949 pada umur 24 tahun)
adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia sekaligus pahlawan nasional Indonesia.

31. Pahlawan Nasional Sumatera Barat

TUANKU IMAM BONJOL

wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotak, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864),
adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam
peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri pada tahun 1803-1838.Tuanku Imam
Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor
087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.
SK Pres: 087/TK/1973 bertanggal 6-11-1973

DR.H.MOHAMMAD HATTA

Dr.(HC) Drs. H. Mohammad Hatta (lahir dengan nama Mohammad Athar, populer sebagai Bung
Hatta; lahir di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat), Hindia Belanda, 12 Agustus
1902 meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan,
ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia bersama Soekarno memainkan
peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda sekaligus
memproklamirkannya pada 17 Agustus 1945. Ia juga pernah menjabat sebagai Perdana
Menteri dalam Kabinet Hatta I, Hatta II, dan RIS. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada
tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta juga dikenal sebagai Bapak
Koperasi Indonesia.

PROF.DR.BUYA HAMKA / Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah

Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, pemilik nama pena Hamka (lahir di Nagari Sungai
Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 meninggal di
Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia
melewatkan waktunya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia terjun dalam politik melalui
Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)
pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah sampai akhir hayatnya. Universitas al-Azhar dan
Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, sementara
Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan
untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional
Indonesia.

32. Pahlawan Nasional Sumatera Selatan

Sultan Mahmud Badaruddin II


Sultan Mahmud Badaruddin II (l: Palembang, 1767, w: Ternate, 26 September 1852) adalah
pemimpin kesultanan Palembang-Darussalam selama dua periode (1803-1813, 1818-1821),
setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803). Nama
aslinya sebelum menjadi Sultan adalah Raden Hasan Pangeran Ratu.

33. Pahlawan Nasional Sumatera Utara

K.H. Zainul Arifin

Zainul Arifin atau lengkapnya Kiai Haji Zainul Arifin Pohan (lahir di Barus, Tapanuli Tengah,
Sumatera Utara, 2 September 1909 meninggal di Jakarta, 2 Maret 1963 pada umur 53 tahun)
adalah seorang wakil perdana menteri Indonesia, ketua DPR-GR, dan politisi Nahdlatul Ulama
(NU).

34. Pahlawan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta

K.H. Ahmad Dahlan

Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868
meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan
Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu
Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan
Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang
juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.