Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN K3 DAN LINGKUNGAN TAMBANG

TENTANG
DAMPAK AKTIVITAS DI DERMAGA KHUSUS
TERHADAP LINGKUNGAN

PT. Mega Prima Persada


di Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu
Kabupaten Kutai Kartanegara

Di susun oleh :

1. Samsu Alam
2. Syahnan Ilham
3. Andy Tabet Panduwinata
4. Bawing Ernadi
5. Marcelius Semion

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA TENGGARONG
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur dipanjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-Nya, sehingga laporan ini dapat diselesaikan.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Triono, S. T,. M. T. selaku dosen mata kuliah.
2. Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan penuh, baik moral
maupun materi.
3. Teman teman, yang telah membantu menyelesaikan penyusunan
laporan ini.
Penulis mengucapkan terima kasih atas terselesaikannya laporan Pengenalan
Lapangan Kebumian ini tepat pada waktunya. Semoga penulisan laporan ini dapat
memberikan manfaat ilmu bagi mahasiswa kelompok , dan khususnya bagi adik
kelas sebagai referensi lapangan kebumian selanjutnya.

Tenggarong, 23 Desember 2016


DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .....................................................................................i


KATA PENGANTAR .......................................................................................ii
DAFTAR ISI .....................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................1
I.1. Latar Belakang ...................................................................................1
I.2. Tujuan Penelitian ................................................................................2
I.3. Ruang Lingkup Penelitian ..................................................................2
I.4. Kesampaian Daerah ............................................................................2
I.5. Waktu Penelitian .................................................................................2
I.6. Metode Penelitian ...............................................................................2
BAB II DASAR TEORI ...................................................................................4
II.1. Dampak Terhadap Lingkungan ........................................................4
II.2. Dampak Terhadap Manusia ...............................................................6
II.3. Dampak Sosial dan Kemasyarakatan ................................................7
II.4. Lingkungan Pasca Tambang .............................................................8

BAB III HASIL PENELITIAN .......................................................................10


III.1. Tahap Operasi ..................................................................................10
III.2. Komponen Yang Terkena Dampak ..................................................10
III.3.UKL & UPL ......................................................................................12
BAB IV KESIMPULAN ..................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................14

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Pencemaran lingkungan adalah suatu keadaan yang terjadi karena perubahan
kondisi tata lingkungan (tanah, udara dan air) yang tidak menguntungkan (merusak
dan merugikan kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan) yang disebabkan oleh
kehadiran benda-benda asing (seperti sampah, limbah industri, minyak, logam
berbahaya, dsb.) sebagai akibat perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan
lingkungan tersebut tidak berfungsi seperti semula (Susilo, 2003).
Pekerjaan tambang baik secara langsung maupun tidak langsung sangat
membahayakan sehingga dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif salah
satunya kerusakan terhadap lingkungan karena telah merubah Rona Lingkungan
Awal, apabila hal tersebut tidak diantisipasi maka akan mengakibatkan gangguan
terhadap keseimbangan dari ekosistem yang ada di daerah penambangan tersebut.
Namun di lain sisi tidak hanya dampak negatif saja yang ditimbulkan, kegiatan
penambangan juga memiliki dampak positif yang lebih banyak.
Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Nomor 17 tahun 2001tentang
AMDAL Pasal 3, tentang jenis usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi
dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan Kepmen ESDM
No.1457K/28/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Lingkungan di
Bidang Pertambangan dan Energi Pasal 4, dan 5.
Oleh karena itu maka perlu dilakukan suatu studi dalam rangka untuk
memperoleh informasi dampak kegiatan penambangan yang disusun dalam dokumen
Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL).
I.2. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui komponen-komponen lingkungan yang terkena dampak
pada aktivitas pertambangan
b. Untuk mengetahui jenis-jenis dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas
penambangan tersebut.
c. Memenuhi persayaratan mata kuliah K3 dan Lingkungan Tambang sebagai
tugas laporan.

I.3. Ruang Lingkup Penelitian


Pengamatan yang dilakukan hanya sebatas di kawasan Dermaga Khusus
PT. Mega Prima Persada, Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai
Kartanegara.

I.4. Kesampaian Daerah


Perjalanan ke lokasi pengamatan meggunakan kendaraan bermotor roda
dua. Keberangkatan dimulai dari jam 14.10 melalui rute Jalan Timbau dan tiba
pada jam 14.33 WIT.

I.5. Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan pada tanggal 23 Desember 2016, cuaca pada saat penelitian
cerah jadi penelitian dapat berjalan dengan lancar.

I.6. Metode Penelitian


Pada penelitian ini tahap - tahapnya antara lain : mendeskripsikan
permasalahan (Dampak Aktivitas Pertambangan Batubara Terhadap
Lingkungan), studi literatur, pengamatan lapangan, metode yang dipergunakan,
data, analisis dan penyusunan laporan, dan Hasil. (Gambar 1).
Dampak Aktivitas Pertambangan Batubara
Terhadap Lingkungan

Studi Literatur

Pengamatan Lapangan

Metode

1. Wawancara
Data
2. Dokumentasi

Analisis dan Penyusunan Laporan

Hasil

Gambar 1. Diagram Alir Metode Penelitian


BAB II
DASAR TEORI

II.1. Dampak Terhadap Lingkungan


Setiap kegiatan penambangan pasti akan menimbulkan dampak, baik dampak
positif dan dampak negatif pada penambangan batubara, nikel, dan marmer serta
penambangan lainnya bagi lingkungan sekitarnya. Dampak positifnya adalah
meningkatnya devisa negara dan pendapatan asli daerah serta menampung tenaga
kerja, sedangkan dampak negatifnya adalah kerusakan permukaan bumi, seperti:
ampas buangan (tailing), kebisingan, polusi udara, menurunnya permukaan bumi
(land subsidence), dan kerusakan karena transportasi alat dan pengangkut berat.
Karena begitu banyak dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan
penambangan maka perlu kesadaran kita terhadap lingkungan sehingga dapat
memenuhi standar lingkungan. Kebanyakan komoditi hasil tambang biasanya dijual
dalam bentuk bahan mentah sehingga harus hati-hati dalam pengelolaannya karena
jika pemakai mengetahui bahan mentah yang dibeli mencemari lingkungan, dapat
dirasakan tamparannya terhadap industri pertambangan.
Sementara itu, harus diketahui pula bahwa hasil pengelolaan sumber daya
alam adalah untuk kemakmuran rakyat. Salah satu caranya adalah dengan
pengembangan wilayah atau community development. Perusahaan pertambangan
wajib ikut mengembangkan wilayah sekitar lokasi tambang termasuk yang berkaitan
dengan pengembangan sumber daya manusia. Karena hasil tambang suatu saat akan
habis maka penglolaan kegiatan penambangan sangat penting dan tidak boleh terjadi
kesalahan.
Seperti halnya aktifitas pertambangan lain di Indonesia, pertambangan
batubara juga telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan hidup yang cukup
besar, baik itu air, tanah, udara, dan hutan. Penambangan Batubara secara langsung
menyebabkan pencemaran antara lain ;

a. Pencemaran air
Permukaan batubara yang mengandung pirit (besi sulfida) berinteraksi
dengan air menghasilkan Asam Sulfat yang tinggi sehingga terbunuhnya ikan-ikan di
sungai, tumbuhan, dan biota air yang sensitive terhadap perubahan pH yang drastis.
Batubara yang mengandung uranium dalam konsentrasi rendah, torium, dan
isotop radioaktif yang terbentuk secara alami yang jika dibuang akan mengakibatkan
kontaminasi radioaktif. Meskipun senyawa-senyawa ini terkandung dalam
konsentrasi rendah, namun akan memberi dampak signifikan jika dibung ke
lingkungan dalam jumlah yang besar. Emisi merkuri ke lingkungan terkonsentrasi
karena terus menerus berpindah melalui rantai makan dan dikonversi menjadi
metilmerkuri, yang merupakan senyawa berbahaya dan membahayakan manusia.
Terutama ketika mengkonsumsi ikan dari air yang terkontaminasi merkuri.

b. Pencemaran udara
Polusi/pencemaran udara yang kronis sangat berbahaya bagi kesehatan.
Menurut logika udara kotor pasti mempengaruhi kerja paru-paru. Peranan polutan
ikut andil dalam merangsang penyakit pernafasan seperti influensa,bronchitis dan
pneumonia serta penyakit kronis seperti asma dan bronchitis kronis.

c. Pencemaran Tanah
Penambangan batubara dapat merusak vegetasi yang ada,
menghancurkan profil tanah genetic, menggantikan profil tanah genetic,
menghancurkan satwa liar dan habitatnya, degradasi kualitas udara, mengubah
pemanfaatan lahan dan hingga pada batas tertentu dapat megubah topografi umum
daerah penambangan secara permanen.
Disamping itu, penambangan batubara juga menghasilkan gas metana,
gas ini mempunyai potensi sebagi gas rumah kaca. Kontribusi gas metana yang
diakibatkan oleh aktivitas manusia, memberikan kontribusi sebesar 10,5% pada emisi
gas rumah kaca.

Aktivitas pertambangan batubara juga berdampak terhadap peningkatan


laju erosi tanah dan sedimentasi pada sempadan dan muara-muara sungai.
Kejadian erosi merupakan dampak tidak langsung dari aktivitas
pertambangan batubara melainkan dampak dari pembersihan lahan untuk bukaan
tambang dan pembangunan fasilitas tambang lainnya seperti pembangunan
sarana dan prasarana pendukung seperti perkantoran, permukiman
karyawan,Dampak penurunan kesuburan tanah oleh aktivitas pertambangan
batubara terjadi pada kegiatan pengupasan tanah pucuk (top soil) dan tanah
penutup (sub soil/overburden). Pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup akan
merubah sifat-sifat tanah terutama sifat fisik tanah dimana susunan tanah yang
terbentuk secara alamiah dengan lapisan-lapisan yang tertata rapi dari lapisan
atas ke lapisan bawah akan terganggu dan terbongkar akibat pengupasan tanah
tersebut.

II.2. Dampak Terhadap manusia


Dampak pencemaran Pencemaran akibat penambangan batubara terhadap
manusia, munculnya berbagai penyakit antara lain :
1. Limbah pencucian batubara zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan
manusia jika airnya dikonsumsi dapat menyebabkan penyakit kulit pada
manusia seperti kanker kulit. Kaarena Limbah tersebut mengandung belerang
( b), Merkuri (Hg), Asam Slarida (Hcn), Mangan (Mn), Asam sulfat
(H2sO4), di samping itu debu batubara menyebabkan polusi udara di
sepanjang jalan yang dijadikan aktivitas pengangkutan batubara. Hal ini
menimbulkan merebaknya penyakit infeksi saluran pernafasan, yang dapat
memberi efek jangka panjang berupa kanker paru-paru, darah atau lambung.
Bahkan disinyalir dapat menyebabkan kelahiran bayi cacat.
2. Antaranya dampak negatifnya adalah kerusakan lingkungan dan masalah
kesehatan yang ditimbulkan oleh proses penambangan dan penggunaannya.
Batubara dan produk buangannya, berupa abu ringan, abu berat, dan kerak
sisa pembakaran, mengandung berbagai logam berat : seperti arsenik, timbal,
merkuri, nikel, vanadium, berilium, kadmium, barium, cromium, tembaga,
molibdenum, seng, selenium, dan radium, yang sangat berbahaya jika
dibuang di lingkungan.
3. Seperti halnya aktifitas pertambangan lain di Indonesia, Pertambangan
batubara juga telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan hidup yang
cukup parah, baik itu air, tanah, Udara, dan hutan, Air Penambangan Batubara
secaralangsung menyebabkan pencemaran air, yaitu dari limbah penducian
batubara tersebut dalam hal memisahkan batubara dengan sulfur. Limbah
pencucian tersebut mencemari air sungai sehingga warna air sungai menjadi
keruh, Asam, dan menyebabkan pendangkalan sungai akibat endapan
pencucian batubara tersebut. Limbah pencucian batubara setelah diteliti
mengandung zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia jika
airnya dikonsumsi. Limbah tersebut mengandung belerang ( b), Merkuri
(Hg), Asam Slarida (Hcn), Mangan (Mn), Asam sulfat (H2sO4), dan Pb. Hg
dan Pb merupakan logam berat yang dapat menyebabkan penyakit kulit pada
manusia seperti kanker kulit.

II.3. Dampak Sosial dan kemasyarakatan


II.3.1. Terganggunya Arus Jalan Umum
a) Banyaknya lalu lalang kendaraan yang digunakan untuk angkutan batubara
berdampak pada aktivitas pengguna jalan lain. Semakin banyaknya
kecelakaan, meningkatnya biaya pemeliharaan jembatan dan jalan, adalah
sebagian dari dampak yang ditimbulkan.

III.3.2. Konflik Lahan Hingga Pergeseran Sosial-Budaya Masyarakat


Konflik lahan kerap terjadi antara perusahaan dengan masyarakat lokal yang
lahannya menjadi obyek penggusuran. Kerap perusahaan menunjukkan
kearogansiannya dengan menggusur lahan tanpa melewati persetujuan pemilik atau
pengguna lahan. Atau tak jarang mereka memberikan ganti rugi yang tidak seimbang
denga hasil yang akan mereka dapatkan nantinya. Tidak hanya konflik lahan,
permasalahan yang juga sering terjadi adalah diskriminasi. Akibat dari pergeseran ini
membuat pola kehidupan mereka berubah menjadi lebih konsumtif. Bahkan
kerusakan moralpun dapat terjadi akibat adanya pola hidup yang berubah.
Nilai atau dampak positif dari batubara itu sendiri, Sumber wikipedia.com
mengatakan Tidak dapat di pungkiri bahwa batubara adalah salah satu bahan
tambang yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Indonesia adalah salah
satu negara penghasil batubara terbesar no.2 setelah Australia hingga tahun 2008.
Total sumber daya batubara yang dimiliki Indonesia mencapai 104.940 Milyar Ton
dengan total cadangan sebesar 21.13 Milyar Ton. Nanun hal ini tetap memberikan
efek positif dan negatif, dan hal positifnya Sumber wikipedia.com mengatakan. Hal
positifnya adalah bertambahnya devisa negara dari kegiatan penambanganya.
Secara teoritis usaha pertambangan ditujukan untuk kesejahteraan
masyarakat. Para pekerja tambang selayaknya bekerja sama dengan masyarakat
sekitar. Salah satu bentuknya dengan cara memperkerjakan masyarakat sekitar dalam
usaha tambang sekitar, sehingga membantu kehidupan ekonomi masyarakat sekitar.

II.4. Lingkungan Pasca Tambang


Kegiatan pasca tambang pembangunan yang berkelanjutan semestinya
menghasilkan output yaitu pemanfaatan yang optimal dan bijak terhadap sumberdaya
alam yang tak terbaharukan, serta berkesinambungan terhadap keseterdiaan sumber
daya alam. Adanya dampak ekologis dari kegiatan pasca tambang memacu untuk
dipikirkan terlebih dahulu, serta dilakukan penelitian dan penaatan ruang karena bila
tidak dilakukan kompehensip, maka penutupan tambang hanya akan meninggalakan
kerusakan bentang alam dan lingkungan. Untuk itu diperlukan upaya penanggulanan
pencemaran dan kerusakan lingkungan pada saat operasi maupun pasca ditutupnya
usa tambang sebagai berkesinambungan yang pada intinya adalah upaya yang bisa
untuk menghilangkan dampak dari kegiatan tambang dengan melakukan suaru gran
desain dan krontruksi kegiatan tambang yang berdampak lingkungan yang dikenal
dengan AMDAL.
Dalam kaitan dengan hal ini pemerintah harus meyeleksi secara ketat para
pemegang Kuasa Penambangan sehingga betul-betul melaksanakan AMDAL sesuai
dengan peraturan yang berlaku. Peraturan perundangan mengenai dampak
lingkungan berkembang sejak diundangkannya Undang-Undang No. 4/1982,
Undang-Undang No. 23/1997 serta Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan
Energi No. 389K/008/MPE/1995 tentang Pedoman Teknis Penyusunan Upaya
Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL).
Untuk menyederhanakan prosedur, pemerintah harus membuat daftar
kegiatan yang sudah berjalan atau yang disebut listing, yang didasarkan ada luas
jangkuan kegiatan dan skala produksinnya. Semua kegiatan penambangan yang
termasuk dalam daftar diharuskan membuat AMDAL, sedangkan tidak termasuk
dalam daftar diharuskan membuat UKL dan UPL. Kegiatan yang menyusun AMDAL
adalah kegiatan penambangan yang berada di lokasi yang sensitif terhadap
lingkungan seperti hutan lindung, daerah cagar budaya dan cagar alam. Dalam
undang-undang No. 11/1967 mengenai pertambangan telah dicantumkan pula daerah
yang tidak diperkenankan untuk dijadikan ajang kegiatan penambangan antara lain
kuburan, cagar budaya, bangunan penting seperti jembatan, instalasi militer dan
sebagainya.
BAB III
HASIL PENELITIAN

III.1. TAHAP OPERASI


Kegiatan di Dermaga Khusus Kegiatan
ini yakni pemindahan batubara oleh Conpayor yaitu dari stokpile ke Ponton
yang bermuatan 43.000 ton dalam sekali angkut.

III.2. KOMPONEN YANG TERKENA DAMPAK


A. Komponen Fisik Kimia

Iklim

Dampak Negatif

1. Berdampak pada temperatur udara akibat dari asap kapal yang


berada didermaga ketika pemindahan dan pengankutan batubara

2. Pada saat proses loading dari stokepile melalui confayor dan


dipindahkan ke ponton, batubara yang dalam keadaan kering, debu
dari material tersebut terhempas ke halaman atau sekitar rumah
penduduk baik yang berada dilokasi dekat maupun jauh. Hal ini
karena di pengaruhi faktor angin yang kondisi dan keadaan
penduduk rata-rata berada di sepanjangan pinggiran sungai
Mahakam.

Tanah dan Kualitas air permukaan

Dampak Negatif

1. Letak perusahaan (confaiyor) yang bersebrangan dengan sungai


mahakam serta serta bibir sungai relatif lebih rendah dibandingkan
dengan letak perusahaan diatas permukaan. Hal ini memberikan efek
yang sangat merugikan bagi masyarakat yang mempunyai kerambah
di sekitar sungai. Pada saat terjadi hujan, material-material serta
benda-benda yang telah terkontaminasi dengan bahan kimia di
daerah tambang akan terbawah arus atau mengalir menuju ke sungai.

B. Komponen Biologi

Biota Air (Nekton / Ikan)

1. Akibat dari pencemaran air permukaan, ikan peliharaan yang berada


di keramba maupun ikan liar ada di sungai tersebut terganggu.
Efeknya antara lain : produksi ikan menurun bagi penduduk
melakukan budidaya ternak ikan, populasi ikan menurun akibat
keracunan bahan kimia, proses perkembangan ikan terhambat, dan
jenis ikan akan berkurang.

C. Komponen Sosial Ekonomi Dan Budaya

Kesehatan Masyarakat

Dampak negatif

1. Akibat akitifitas pengangkutan bautubara dari penampungan ke


ponton menimbulkan kebisingan suara.

2. Gangguan pernapasan akibat debu batubara yang menyebar ke segala


perumahan penduduk

Ekonomi Masyarakat

Dampak negatif

1. Menganggu beberapa usaha penduduk seperti masyarakat yang


melakukan budidaya ikan, dapat menrunkan produksi serta
perkembangan ikan
Dampak posistif

1. Adanya aktivitas tersebut yang dekat dengan pemukiman dapat


membantu perkekonomian warga sekitar, seperti adanya bantuan baik
berupa materi maupun non materi. Misalnya pembagian sembako di
setiap keluarga, dan yang pengangguran dapat bekerja pada
perusahaan tersebu, bagi yang memenuhi syarat dan kriteria dari
perusahaan tersebut.

III.3. UKL & UPL

SUMBER TOLAK UKUR UPAYA PENGELOLAAN LOKASI WAKTU INST


JENIS DAMPAK
DAMPAK DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PEMANTAUAN PEMANTAUAN PELAKSAN
(1) (2) (3) (4) 5) (6) (7)
TAHAP OPERASI
Penurunan Kualitas 1.Aktivitas di Terjadinya 1.Pembuatan drainase di dermaga khusus Selama PT. MPP
Udara(Peningkatan Dermaga penurunan pada sempadan jalan operasional
Gas NO2, SO2 dan khusus kualitas udara (tidak terlalu tambang
Debu) ambient maksimal) berjalan
khususnya
peningkatan
gas NO2, SO2,
CO dan debu
Peningkatan 1.Aktivitas di Terjadinya 1.Melakukan 1.Dermaga Selama PT. MPP
Kebisingan( Noise ) dermaga peningkatan pemeliharaan (servis) khusus operasional
khusus kebisingan di alat-alat berat supaya tambang
lingkungan kondisi tetap terjaga berjalan
kerja yang
mengacu pada
Kepmen tenaga
kerja No.Kep-
51/MEN/1999,
yaitu sebesar
85 dB(A)
Penurunan Di dermaga Terjadinya 1.Membuat kolam Dermaga khusus Selama PT. MPP
Kualitas Air Khusus penurunan pengendapan (settling operasional
kualitas air pond) untuk tambang
khususnya menampung dan berjalan
parameter pH, mengendapkan air
TSS, besi an tirisan dari lokasi
mangan yang penambangan
mengacu pada 2.Melakukan
SK Gubernur pengolahan air di
Kaltim kolam pengendapan
No.26/2002 dengan penambahan
khususnya tawas guna
lampiran 32b mempercepat
pengendapan
sediment dan
penambahan kapur
(Ca(OH)2) untuk
menjaga pH air supaya
tetap normal,
sehingga memenuhi
baku mutu sebelum
dialirkan ke badan
perairan
3.Melakukan
pengerukan kolam
pengendapan secara
periodik
Adanya Bahaya 1.Aktivitas di Terjadinya 1.Mewajibkan Selama PT. MPP
Terhadap dermaga kecelakaan karyawan atau pekerja 1. Dermaga operasional
Keselamatan khusus kerja dan dalam penggunaan khusus tambang
penurunan alat-alat keselamatan berjalan
dan Kesehatan
kesehatan dan kesehatan kerja
Kerja (K3) karyawan atau seperti: masker,
pekerja kacamata kerja, helm
kerja, sepatu safety
dan pelindung telinga
2.Menetapkan
pembagian jam kerja
bagi karyawan,
khususnya yang
bekerja pada lokasi
yang tingkat
kebisingan tinggi
3.Menetapkan sistem
manajemen
keselamaaatan dan
kesehatan kerja di
lingkungan kerja,
seperti disain tambang
yang harus memenuhi
standar keselamatan
kerja, membatasi
kecepatan kendaraan
pengangkut batubara,
menempatkan rambu-
rambu jalan serta
memberi sangsi
kepada karyawan yang
tidak menggunakan
alat-alat keselamatan
dan kesehatan kerja
selama melakukan
pekerjaannnya
Peningkatan Aktivitas di 1.Meingkatnya 1.Melakukan 1. Kantor Kas Selama PT.
Pendapatan dermaga pendapatan pembagian sembako Penerimaan operasional
Daerah dan khusus daerah berupa kepada setiap rumah Negara tambang
pungutan tangga (berdasarkan
Negara
pembagunan wawancara)
daerah dari
sector
penambangan
batubara
2.Meningkatny
a pendapatan
negara berupa
royalty dari
sector
penambangan
batubara

UPAYA INSTITUSI UPL


JENIS SUMBER TOLAK UKUR PEMANTAUAN LOKASI WAKTU
DAMPAK DAMPAK DAMPAK LINGKUNGAN PEMANTAUAN PEMANTAUAN PELAKSANA PENGAWAS
HIDUP
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

TAHAP OPERASI
Penurunan Terjadinya 1.Melakukan 1.Lokasi Dilakukan PT.. Distambang,
Kualitas 1.Aktivitas di penurunan pengamatan tambang setiap 6 (enam) bekerjasama Bapedal
Udara dermaga kualitas udara langsung di lokasi 3.Coal bulan sekali dengan dan Dishub
khusus ambient (dermaga khusus) processing selama BARISTAND_INDAG PU dan
(Peningkatan
khususnya plant operasional Samarinda atau KIMPRASWIL
Gas NO2, SO2 peningkatan 4. Dermaga tambang Laboratorium Prov. Kaltim
,CO dan gas NO2, SO2, khusus berjalan Kesehatan
Debu) CO dan debu Samarinda, dll
yang mengacu
pada SK
Gubernur
Kaltim
No.339/1998
khususnya
lampiran IV
Peningkatan 1.Aktivitas di Terjadinya 1.Melakukan 1. Dermaga Dilakukan PT.. Distambang
Kebisingan dermaga peningkatan pengambilan data khusus setiap 6 bekerjasama dan
( Noise ) khusus kebisingan di kebisingan dengan (enam) bulan dengan Bapedalda
lingkungan alat sound level sekali selama BARISTAND_INDAG KIMPRASWIL
kerja yang meter dengan operasional Samarinda atau Prov. Kaltim
mengacu pada cara melakukan tambang Laboratorium
Kepmen tenaga pengukuran berjalan Kesehatan
kerja No.Kep- minimal Samarinda, dll
51/MEN/1999, selama10(sepuluh
yaitu sebesar ) meit dan
85 dB(A) pembacaan
dilakukan setiap 5
(lima) detik.
Dalam keiatan ini
bekerjasama
dengan
BARISTAND-INDAG
Samarinda atau
Laboratorium
Kesehatan
Samarinda
2.Membandingkan
hasil pengukuran
tingkat kebisingan
dengan baku mutu
lingkungan yang
telah ditetapkan
oleh SK. Menaker
No.Kep-
51/MEN/1999
sebesar 85 dB(A)
untuk lingkungan
kerja nilai
toleransi + 3
dB(A)
Penurunan 1.Di dermaga Terjadinya 1.Melakukan 1.Sungai Dilakukan PT.. Distambang
Kualitas Air Khusus penurunan pengambilan Mahakam setiap 3 (tiga) bekerjasama dan
kualitas air sample air limbah bulan sekali dengan Bapedalda
khususnya dari selama BARISTAND-INDAG
parameter pH, buangan/outlet operasional Samarinda atau
TSS, besi dan kolam tambang Laboratorium
mangan yang pengendapan dan berjalan Lingkungan,
mengacu pada S.Mahakam UNMUL, dll
SK Gubernur ( dermaga khusus)
Kaltim dengan
No.26/2002 menggunakan
khususnya jerigen plastik
lampiran 32b atau botol kaca,
kemudian ample
tersebut dianalisa
dilaboratorium
BARISTAND-INDAG
Samarinda atau
Laboratorium
Lingkungan,
UNMUL
2.
Membandingkan
hasil analisa
kualitas air
permukaan
dengan baku mutu
air yang telah
ditetapkan
melalui SK
Gubernur Kaltim
No.339 Tahun
1988 Tentang
Baku Mutu
Lingkungan di
Provinsi
Kalimantan Timur
Peningkatan Aktivitas di 1.Meingkatnya Melakukan Bagian Dilakukan PT.. BPKD,
Pendapatan dermaga pendapatan pencatatan dan administrasi setiap 3 (tiga) Distambang
Daerah dan khusus daerah berupa pengeceknsecara keuangan bulan sekali dan
pungutan langsung staff PT.. selama Bapedalda
Negara
pembagunan administrasi operasional
daerah dari keuangan tentang tambang
sektor besarnya berjalan
penambangan pembayaran
batubara pungutan
2.Meningkatny pembanguan
a pendapatan daerah dan roylti
negara berupa oleh PT..
royalty dari
sector
penambangan
batubara
BAB IV
KESIMPULAN

Kegiatan di dermaga khusus pada PT. Mega Prima Persada secara umum
menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, seperti :
- Negatif : adanya debu (pencemaran udara), kebisingan, pencemaran air
permukaan(terganggunya biota air), dan meurunnya kualitas tanah.

- Positif : adanya santunan berupa sembako(akibat kegiatan di dermaga


khusus), meningkatnya perekonomian warga, dan adanya peluang pekerjaan.
DAFTAR PUSTAKA

Soemarwoto, 0. 2005. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah Mada


Uversity Press. Yogyakarta.

Kelompok 2. 2016. Laporan Lapangan Kebumian Kecamatan Karangsambung


Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah. Fakultas Teknik. Tenggarong.