Anda di halaman 1dari 11

REFLEKSI KASUS

MODUL ENDODONTIK
KAPING PULPA

Nama : Krisna Wijayanti


No. Mahasiswa : 20070340021

PROGRAM PROFESI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2013
I. DESKRIPSI KASUS
1. Identitas Pasien

No. RM : 5252
Nama Pasien : Krisna Wijayanti
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 23 tahun
Alamat : Sonopakis, Bantul, Yogyakarta

Kunjungan I (18 Februari 2012)


Pemeriksaan Subjektif :
Pasein ingin mengganti tumpatan logamnya dengan tumpatan sewarna gigi. Pasien
mengeluhkan giginya linu saat minum dingin dan tidak mempunyai riwayat sakit
spontan.
Pemeriksaan Objektif :
Terdapat tumpatan amalgam pada daerah pada daerah oklusal dan kavitas pada bagian
bukal dengan kedalaman dentin.
Sondasi : - (tidak sakit)
Perkusi : - (tidak sakit)
Palpasi : - (tidak sakit)
CE : + (linu)
Pemeriksaan rontgen:
Terdapat area radiopak pada oklusal gigi 37, lamina dura masih jelas dan tidak ada
lesi periapikal
Differential diagnosis: karies media

Assesment:
Dilakukan pembongkaran tumpatan amalgam sampai bersih dan dilakukan
pemeriksaan kembali.
Pemeriksaan subjektif setelah preparasi:
Pasien merasa linu setelah gigi tersebut diangin-angin dan disemprot air dengan
durasi rasa linu sekitar 5 detik. Setelah rangsang angin dan air dihentikan, pasien
sudah tidak merasa linu.
Pemeriksaan objektif setelah preparasi:
Terdapat kavitas dengan kedalaman dentin dan tampak dasar kavitas kecoklatan.
Sondasi : + (linu)
Perkusi : - (tidak sakit)
Palpasi : - (tidak sakit)
Ce : + (linu)
Diagnosis : pulpitis reversible

Rencana perawatan:
1. Pembongkaran amalgam
2. Kaping pulpa dengan dycal
3. Lining dan tumpat sementara dengan Fuji IX
4. Kontrol kaping pulpa
5. Restorasi onlay
6. Kontrol rutin

Kunjungan II (18 Oktober 2012)


Pemeriksaan Subjektif :
Pasien ingin kontrol perawatan gigi geraham bawah kirinya yang telah dilakukan pada
tanggal 2 Oktober 2012. Pasien tidak merasakan sakit atau linu pada saat perawatan
maupun pada saat kunjungan untuk kontrol.
Pemeriksaan Objektif :
Terdapat tumpatan sementara dengan bahan SIK pada bagian oklusal dan bukal gigi
37
Perkusi : - (tidak sakit)
Palpasi : - (tidak sakit)
CE : + (linu)
Diagnosis : gigi vital pasca kaping pulpa
Rencana Perawatan :
1. Kontrol kaping pulpa ke-I
2. Preparasi onlay
3. Pencetakan rahang atas dan rahang bawah
4. Tumpat sementara
Kunjungan III ( Januari 2013)
Pemeriksaan Subjektif :
Pasien ingin kontrol perawatan gigi geraham bawah kirinya yang telah dilakukan pada
tanggal 2 Oktober 2012. Pasien tidak merasakan sakit atau linu pada saat perawatan
maupun pada saat kunjungan untuk kontrol.
Pemeriksaan Objektif :
Terdapat tumpatan permanen sewarna gigi pada bagian bukal dan oklusal gigi 37
Perkusi : - (tidak sakit)
Palpasi : - (tidak sakit)
CE : + (linu)
Diagnosis : gigi vital pasca kaping pulpa
Rencana Perawatan :
1. Kontrol kaping pulpa ke-2

II. Penampakan Klinis dan Radiograf


1. Gambar setelah preparasi kavitas

2. Gambar setelah dilakukan tumpatan permanen


3. Gambar foto rontgen awal

4. Gambar foto rontgen setelah kontrol 3 bulan

III. Pertanyaan Kritis


1. Apakah perbedaan pulpitis reversible, pulpitis ireversible dan nekrose?
2. Bagaimana proses terjadinya pulpitis reversible?
3. Apakah tujuan perawatan kapung pulpa?
4. Bagaimana operator dapat mendiagnosis kasus tersebut sebagai puplitis
reversible?
5. Faktor apa saja penyebab kegagalan kaping puplpa?
6. Bagaimana mekanisme dentinal bridge terbentuk pada dycal?

IV. Dasar Teori


1. Perbedaan pulpitis reversible, pulpitis ireversible dan nekrose:
a. Pulpitis reversible:
Inflamasi pulpa tingkat ringan sampai sedang apabila terkena stimulasi
atau rangsang dan akan kembali normal apabila rangsang dihilangkan.
Terdapat 3 reaksi utama proteksi pulpa dalam melawan bakteri-bakteri karies,
yaitu:
1) Peningkatan permiabelitas dentin. Pada awal respon pulpa-dentin,
sebelum terjadi perubahan pada dentin (karies terjadi hampir
mengenai dentin) tampak reduksi odontoblast-predentin. Ukuran
sel-sel odontoblast mengecil (atrofi) dan terjadi hipermineralisasi
dentin
2) Terbentuk dentin tersier. Dentin tersier disekresi atau dihasilkan oleh
sel odontoblast berupa pembentukan dentin ireguller sebagai upaya
pertahanan untuk melindungi pulpa.
3) Respon inflamasi jaringan pulpa. Metabolisme dan invasi bakteri
menstimulai terjadinya inflamasi pulpa. Pada tahap inflamasi ini
mulai terjadi respon imun yang ditandai dengan vasodilatasi
pembuluh darah. Reaksi awal inflamasi ditandai dengan adanya
akumulasi sel-sel inflamatory kronik (PMNs) yang merangsang
kenaikan chemokines, proinflamatorry cytokines dan antimicrobial
peptides yang bertujuan untuk melawan dan membunuh bakteri
karies. Pada tahap inflamasi inilah pulpitis reversible terjadi.

Gambaran histologi:
Tampak dentin reparatif sebagai upaya pertahanan melawan karies
dentin
Atrofi sel odontoblast
Terdapat akumulasi sel-sel inflamasi kronik (PMNs) pada permukaan
pulpa
Tampak infiltrasi bakteri pada tubuli dentin. Netrofil granulosit
menuju tubuli dentinalis dan lapisan predentin, kemudian melepaskan
enzyme untuk melawan bakteri karies.

b. Pulpitis Ireversible
Inflamasi pulpa persisten yang tidak dapat kembali normal meskipun
rangsang telah dihilangkan. Pada tahap ini, karies sudah mengenai pulpa
sehingga respon inflamasinya semakin kuat.

Gambaran histologi:
Proses karies merusak lapisan dentin dan bakteri masuk ke kamar
pulpa. Akumulasi sel-sel inflamatory semakin banyak. Tampak
akumulasi leukosit phormonuklear dan monosit
Terjadi epitelisasi pada jaringan pulpa bagian koronal yang terutama
terbentuk oleh jaringan kolagen dan relatif bebas dari vaskularisasi dan
terdapat banyak serabut saraf.
c. Nekrosis
Jaringan pulpa mati, sudah tidak ada aliran darah dan serabut saraf sudah
ridak berfungsi.
Gambaran histologi:
Karies sudah mencapai sentral pulpa dan tampak jaringan-jaringan
nekrotik.
Jaringan pulpa mengalami lisis dan sudak tidak ada inti sel pada
jaringan pulpa
Terjadi disintegrasi sel atau autolisis sel-sel pada jaringan pulpa.
Jaringan yang mengalami lisis tersebut dibersihkan oleh fagositosis

2. Proses terjadinya pulpitis reversible:


Karies terjadi karena adanya empat faktor yang saling mempengaruhi yaitu,
host (gigi), substrat (karbohidrat), time dan mikroorganisme. Pada tahap awal,
email pada gigi yang bersih akan ditutupi oleh lapisan organik yang amorf yang
disebut pelikel. Sifatnya sangat lengket dan mampu membantu melekatkan
bakteri-bakteri tertentu pada permukaan gigi. Karbohidrat menyediakan substrat
untuk pembuatan asam bagi bakteri dan sintesa polisakarida ekstra sel yang
terutama sihasilkan oleh streptococcus mutan. Makanan dan minuman yang
mengandung gula akan menurunkan pH plak dengan cepat sampai pada level yang
dapat menyebabkan proses demineralisasi.streptococcus mutans dan laktobasilus
merupakan kuman kariogenik karena mampu segera membuat asam dari
karbohidrat yang difermentasikan. Kuman-kuman tersebutdapat tumbuh subuur
dalam suasana asamdan menghasilkan produk polisakharida ekstra sel yang
mampu membantu perlekatan antara bakteri satu dengan yang lain dan dengan
gigi. Proses demineralisasi terus berlangsung dan psroses karies aktif berlangsung.
Pada awalnya gigi tersebut hanya berlubang kecil, tetapi didiamkan saja oleh
pasien. Karies aktif yang mengenai email terus berlanjut sampai pada permukaan
dentin. Karies yang terjadi hampir mengenai pulpa, menimbulkan respon
inflamasi tingkat ringan sampai sedang (pulpitis reversible). Mulai terjadi
vasodilatasi, pasokan darah menuju ke daerah yang terinvasi oleh bakteri karies.
Sel-sel inflamasi yang bekerja pada tahap ini adalah sel-sel inflamasi kronik,
seperti PMNs untuk melawan bakteri. Rasa sakit tajam yang timbul pada pasien
dengan pulpitis reversible timbul karena serabut saraf yang terstimulasi adalah
serabut saraf A bermyelin yang terdapat pada perifer pulpa.

3. Kaping pulpa bertujuan sebagai proses proteksi pulpa berupa pembentukan


dentinal bridge. Dentinal bridge ini diharapkan dapat memagari atau menjaga
pulpa dari serangan bakteri. Selain itu, kandungan kalsium hidroksid dalam dycal
sebagai bahan kaping pulpa yang saya gunakan mempunyai daya anti bakteri,
yaitu dapat memecah dinding membran sel bakteri karies. Jaringan karies yang
sudah dibersihkan dan aplikasi bahan kaping pulpa tersebut diharapkan dapat
mengeliminasi invasi bakteri dan menjaga vitalitas pulpa.

4. Pada kasus ini, operator dapat mendiagnosis pulpitis reversible berdasarkan


pemeriksaan-pemeriksaan yang telah dilakukan, seperti:
a. Pemeriksaan subjektif setelah preparasi:
Pasien merasa linu setelah gigi tersebut diangin-angin dan disemprot air
dengan durasi rasa linu sekitar 5 detik. Setelah rangsang angin dan air
dihentikan, pasien sudah tidak merasa linu.
b. Pemeriksaan objektif setelah preparasi:
Terdapat kavitas dengan kedalaman dentin dan tampak dasar kavitas
kecoklatan.
Sondasi : + (linu)
Perkusi : - (tidak sakit)
Palpasi : - (tidak sakit)
Ce : + (linu)
c. Berdasarkan pemeriksaan penunjang dengan pengambilanfoto rontgen
menunjukkan adanya area radiopak pada bagian aoklusal, kontinuitas lamina
dura masih jelas dan tidak terdapat lesi periapikal
Berdasarkan pemeriksaan di atas, maka operator mendiagnosis kasus tersebut
adalah pulpitis reversible.
5. Mekanisme dycal dalam pembentukan dentinal bridge adalah:
Kalsium hidroksid pada dycal setelah diaplikasikan pada kavitas akan dipecah
menjadi ion hidroksid dan ion kalsium. Ion kalsiem memodifikasi pH lingkungan
menjadi inflamasi dalam level baik untuk memacu proliferasi sel mesenkimeal
dan fibroblas membentuk odontblast dan terbentuk jaringan kolagen yang baru.
Ion kalsium merangsang pembentukan dan pengendapan kalsium karbonat di
daerah nekrotik zone sehingga merangsang mineralisasi dan terbentuklah dentinal
bridge. Tahapan pembentukannya adalah, sebagai berikut:
a. Eksudative stage : terbentuknya jaringan granulasi oleh sel odontoblast
pada permukaan pulpa (terjadi selama 1-3 hari)
b. Proliferasi stage : sel odontoblast membentuk mineral dentin dan
fibrokolagen (terjadi semala 3-7 hari)
c. Osteodonti formative : terjadi mineralisasi, terlihat lapisan jembatan dentin
tetapi belum matang (terjadi selama 7-14 hari)
d. Tubuli dentine formative: terbentuknya dentinal bridge yang baru (terjadi
selama 14 hari-1 bulan)
V. Diskusi
1. Kendala yang dihadapi operator dalam kasus ini adalah pasien mempunyai
kondisi hipersaliva sehingga operator harus benar-benar memperhatikan
isolasi saliva dan dapat diatasi dengan double issolation, dengan suction dan
cotton roll. Selalin itu pasien juga hipersensitif, sehingga pada saat preparasi
dilakukan dengan intermitten.
2. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan perawatan kaping pulpa
adalah:
a. Diagnosis yang tepat. Seperti halnya dengan kasus pada refleksi kasus ini.
Perlu dilakukan pemeriksaan subjektif objektif ulang setelah preparasi agar
diagnosis yang kita ambil tepat, karena diagnosis akhir dari suatu kasus
akan menentukan rencana perawatan yang akan dilakukan.
b. Rencana perawatan yang tepat. Misalnya, pada kasus ini, melihat kavitas
yang terlibat cukup besar dan merupakan indikasi restorasi onlay, maka
rencana perawatan untuk restorasi sudah mulai dipertrimbangkan setelah
operator melakukan preparasi.
c. Aplikasi bahan kaping pulpa. Sifat kalsium hidroksid pada dycal yang
digunakan sebagai bahan kaping pulpa pada proses awalnya memicu suatu
rangsangan iritatif tingkat rendah dengan tujuan memicu sel odontoblas
agar membentuk lapisan dentin yang baru. Apabila bahan kaping pulpa
yang diaplikasikan terlalu banyak dan bukan pada titik sondasi (+), maka
sifat iritatif tersebut juga akan terjadi dalam jumlah banyak yang nantinya
akan membahayakan pulpa. Sehingga sebelum kita mengaplikasikan bahan
kaping pula, kita harus benar-benar memastikan pada titik mana saja di
dasar kavitas yang terasa linu saat dilakukan sondasi.
3. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kegagalan kaping pulpa adalah:
a. Pembersihan kavitas dari jaringan karies. Sebagai operator kita harus
benar-benar yakin kavitas yang akan kita lakukan kaping pulpa bersih dari
jaringan karies, baik jaringan karies yang keras maupun yang lunak.
Sehingga perlu dilakukan pembersihan jaringan karies yang cermat dan
teliti.
b. Bahan lining . Bahan lining yang digunakan digunakan berfungi sebagai
pelindung bahan kaping pulpa. Bahan kaping pulpa yang digunakan pada
kasus ini, yaitu dycal mempunyai sifat mudah larut sehingga perlu
diberikan lining yang baik.
c. Restorasi. Restorasi akhir pada kasus pulpitis reversible juga harus
diperhatikan dari awal setelah dilakukan preparasi. Restorasi yang baik
harus mempunyai perlekatan yang baik dengan gigi, sifat bahan restorasi
biokompatible, margin dan kerapatan resotasi harus diperhatikan

VI. Kesimpulan
Tujuan utama dari kaping pulpa adalah sebagai proteksi pulpa untuk memagari
pulpa dari bakteri karies. Jaringan karies yang sudah dibersihkan dan aplikasi
bahan kaping pulpa tersebut diharapkan dapat mengeliminasi invasi bakteri dan
menjaga vitalitas pulpa.

VII. Daftar Pustaka


1. Cohen, S. and Burns, R.C. 1994. Pathways of The Pulp. 6th ed. St. Louis :
Mosby
2. Grossman, L.I., Oliet, S. and Del Rio, C.E., 1988. Endodontics Practice. 11 th
ed. Philadelphia : Lea & Febiger.
3. Edwina A. M. Kidd, Sally Joyston bechal. 1991. Dasar-Dasar Karies
Penyakit dan Penanggulangannya. EGC: Jakarta
4. Weine, F.S. 1996. Endodontic Therapy. 5 th ed. St. Louis : Mosby Year Book.
Inc.
5. Briso, A. L. F., Rahal, V., Mestrener, S. R., Junior, E. D. Biological Response
of Pulps Submitted to Different Capping Materials. Braz Oral Res. 2006;
20(3): 219-25
6. Cabello, R.C. and Egea, J.J.S. Relationship Of Patient Complaints and Signs
to Histopathologic Diagnosis of Pulpal Condition. Australian Endodontic
Journal. 2005; 31(1):1-4
7. Bojrndal, L. Dentin and Pulp Reactions to Caries and Operative Treatment:
Biological Variables Affecting Treatment Outcome. Endodontic Topics. 2002;
2: 10-23
8. Suardjita, K. Peran Fibroblast Growth Factor-2 Dalam Proliferasi Sel
Fibrolas Pulpa. Maj Ked Gi. 2008; 15(2): 191-194

VIII. Lampiran
Terlampir