Anda di halaman 1dari 11

Ahli Madya (A.Md.

) merupakan gelar vokasi yang diberikan kepada lulusan program


pendidikan diploma 3.

Pernyandang Gelar A.Md memiliki ketrampilan praktis daripada teoritis. Pada proses belajarnya
hampir seluruh mata kuliah pada program D3 ini memiliki komposisi 30% teori dan 70%
praktik. Pengajar pada program D-3 minimum bergelar S-2.

Kepanjangan Amd Keb: Singkatan Gelar D3


Bidan
Biasanya, para remaja yang baru menyelesaikan pendidikannya di sekolah tingkatan terakhir
seperti SMA, SMK dan MA cenderung merasa kebingungan ketika memilih Universitas sebagai
jenjang pendidikan berikutnya. Mereka pasti memilih Universitas yang mempunyai fakultas
yang ingin mereka masuki, biasanya pada saat memilih para calon mahasiswa tersebut harus
memilih fakultas sesuai minat dan kemampuannya. Hal ini berguna agar mereka tidak putus di
tengah jalan ketika menjalankan pendidikan karena segala sesuatunya yang dipaksakan tidak
akan memberikan hasil yang baik untuk kedepannya.

Sumber Gambar:
https://pixabay.com/en/stethoscope-doctor-medical-health-311855/

Salah satu fakultas yang banyak dipilih oleh calon mahasiswa / mahasiswi adalah kebidanan,
biasanya fakultas kebidanan ini lebih banyak dipilih oleh para wanita atau calon mahasiswi.
Walaupun sekilas terlihat mudah, tetapi fakultas ini juga sama dengan fakultas lainnya yang
mempunyai tingkat kesulitan dan kerumitan tersendiri. Namun, setiap halangan tersebut harus
dapat dihadapi, untuk mendapat gelar bidan yang sesungguhnya. Terlebih lagi, jika mereka
menuntut pendidikan yang berada jauh dari kota asalnya sehingga hal tersebut akan menambah
beban tersendiri saat jauh dari keluarga dan orang-orang terdekat.

Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk menjadi seorang bidan harus membekali diri sendiri
dengan niat yang kuat. Hal tersebut disebabkan karena profesi ini selalu berkutat dengan
kesehatan dan nyawa seseorang. Tak hanya dokter, bidan juga harus bekerja secara profesional
dan harus bekerja dengan penuh kesabaran.
Ada banyak sekali singkatan gelar akademik perguruan tinggi di Indonesia, hal ini juga berlaku
pada singkatan gelar akademik untuk bidan. Bidan tak hanya profesi yang memiliki satu
singkatan gelar akademik saja karena terdapat beberapa singkatan gelar akademik untuk bidan.
Berbeda dengan profesi lainnya, agar disebut sebagai bidan seseorang hanya dituntut untuk
menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi pada tingkat Diploma saja.

Menurut id.wikipedia.org, gelar yang akan diberikan kepada lulusan jenjang diploma adalah
gelar vokasi. Gelar vokasi merupakan gelar diploma dari pendidikan vokasi atau akademi yang
menghasilkan keahlian dalam bidang tertentu dari suatu perguruan tinggi. Gelar tersebut diatur
oleh senat perguruan tinggi dan ditulis di belakang nama penyandang gelar yang berhak dengan
mencantumkan singkatannya. [1]

Apa Arti A.Md.Keb dalam Kebidanan?


Salah satu gelar yang didapatkan setelah menyelesaikan pendidikan kebidanan adalah
A.Md.Keb. Gelar tersebut merupakan kepanjangan dari Ahli Madya Kebidanan yang didapatkan
oleh seseorang yang telah menyelesaikan D3 (Diploma 3). Sementara untuk seseorang yang
baru menyelesaikan D1 mendapatkan gelar AP (Ahli Pratama) dan untuk seseorang yang
menyelesaikan D2 mendapatkan gelar AMa (Ahli Muda).

Setelah menempuh pendidikan Diploma atau menyelesaikan D3, lulusan yang telah
mendapatkan gelar AMd Keb diharapkan dapat menjadi bidan yang mempunyai ilmu
pengetahuan dan keterampilan lain yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat.

Berdasarkan informasi yang diambil dari situs bimbingan.org, seorang bidan juga harus
menguasai ilmu lain seperti etika atau dasar untuk memberikan pelayanan pada masyarakat
terutama pada ibu hamil yang akan melahirkan maupun sesudah melahirkan beserta bayi yang
baru saja dilahirkan. Semua pelayanan tersebut harus disesuaikan dengan budaya dimana bidan
tersebut ditugaskan. Selain itu, bidan juga harus membagikan ilmunya pada mereka agar
meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama dalam bidang kesehatan keluarga, KB,
perencanaan kehamilan dan lain sebagainya. [2]

Demikianlah, informasi yang dapat disampaikan seputar AMD dan kepanjangan Amd Keb.
Semoga semua informasi yang terdapat pada artikel ini bermanfaat bagi pembaca dan dapat
menambah wawasan pembaca tentang kebidanan. Kalau ada kekurangan ataupun kesalahan kami
mohon maaf, terima kasih juga karena sudah meluangkan waktu untuk membacanya ya!

Referensi:
[1] Wikipedia, Gelar Vokasi diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Gelar_vokasi 06 November 2015
[2] Bimbingan.org, Apa Beda Titel Amkeb dengan Amdkeb diakses dari http://www.bimbingan.org/apa-beda-
titel-amkeb-dengan-amdkeb.htm 06 November 2015
Gelar vokasi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Gelar vokasi adalah gelar yang diberikan kepada lulusan jenjang diploma dari pendidikan
vokasi atau akademi yang menghasilkan keahlian dalam bidang tertentu dari suatu perguruan
tinggi. Gelar vokasi diatur oleh senat perguruan tinggi dan ditulis di belakang nama penyandang
gelar yang berhak dengan mencantumkan singkatannya.

Gelar vokasi di Indonesia


Gelar Ahli Pratama (A.P.), Ahli Muda (A.Ma.), dan Ahli Madya (A.Md.) diatur oleh Keputusan
Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 178/U/2001 tanggal 21 November 2001
tentang Gelar dan Lulusan Perguruan Tinggi. Sedangkan gelar Sarjana Sains Terapan (S.Tr.)
diatur oleh Surat Edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi nomor 888/E.E3/MI/2014
tanggal 17 Oktober 2014 perihal Penetapan Jenjang Kualifikasi dan Gelar Sarjana Terapan.

Ahli Pratama (A.P.) untuk lulusan Diploma Satu (D-I), antara lain:

Gelar Ahli Pratama Singkatan Gelar


Ahli Pratama Pelayaran A.P.Pel.
Ahli Pratama Pariwisata A.P.Par.
Ahli Pratama Komputer A.P.Kom.

Ahli Muda (A.Ma.) untuk lulusan Diploma Dua (D-II), antara lain:

Gelar Ahli Muda Singkatan Gelar


Ahli Muda Pelayaran A.Ma.Pel.
Ahli Muda Perpustakaan A.Ma.Pust.
Ahli Muda Pendidikan A.Ma.Pd.
Ahli Muda Pendidikan Sekolah Dasar A.Ma.Pd.S.D.
Ahli Muda Pengujian Kendaraan Bermotor A.Ma.P.K.B.

Ahli Madya (A.Md.) untuk lulusan Diploma Tiga (D-III), antara lain:

Gelar Ahli Madya Singkatan Gelar


Ahli Madya Teknologi Kulit A.Md.T.K.
Ahli Madya Pelayaran A.Md.Pel.
Ahli Madya Komunikasi A.Md.Kom.
Ahli Madya Gizi A.Md.G.
Ahli Madya Farmasi A.Md.Far.
Ahli Madya Radiologi A.Md.Rad.
Ahli Madya Kebidanan A.Md.Keb.
Ahli Madya Fisioterapi A.Md.Ft.
Ahli Madya Keperawatan A.Md.Kep.
Ahli Madya Okupasi Terapi A.Md.O.T.
Ahli Madya Kesehatan Gigi A.Md.K.G.
Ahli Madya Perumahsakitan A.Md.Prs.
Ahli Madya Analis Kesehatan A.Md.A.K.
Ahli Madya Kesehatan
A.Md.K.L.
Lingkungan
Ahli Madya Pariwisata A.Md.Par.
Ahli Madya Lalu Lintas Angkutan
A.Md.L.L.A.J.
Jalan
Ahli Madya Manajemen Bandar
A.Md.M.B.U.
Udara
Ahli Madya Manajemen
A.Md.M.Tr.L.
Transportasi Laut
Ahli Madya Manajemen
A.Md.M.Tr.U.
Transportasi Udara
Ahli Madya Manajemen Logistik
A.Md.M.Log.
dan Material
Ahli Madya Manajemen Industri
A.Md.M.I.P.
dan Perdagangan
Ahli Madya Manajemen
A.Md.M.I.D.
Informasi dan Dokumen
Ahli Madya Akuntansi A.Md.Ak.
Ahli Madya Perpajakan A.Md.Pjk.
Ahli Madya Asuransi dan
A.Md.A.A.
Aktuaria
Ahli Madya Administrasi
A.Md.A.K.P.
Keuangan dan Perbankan
Ahli Madya Administrasi
A.Md.A.P.S.
Perkantoran dan Sekretari
Ahli Madya Rekam Medik dan A.Md
Ahli Madya Kepolisian A.Md.Pol
Informasi kesehatan RMIK

Sarjana Sains Terapan (S.Tr.) untuk lulusan Diploma Empat (D-IV)

Sarjana Sains Terapan Pekerjaan Sosial (S.Tr.Sos)

Magister Sains Terapan (M.ST)

Magister Teknik Terapan (M.TT)


Tata Cara Penulisan Gelar yang Benar - Menulis atau membaca gelar akademik
dengan benar sangatlah penting untuk menghindari keslahpahaman atau
menyingung orang yang menyandang gelar tersebut. Menulis gelar memang
sangatlah sepele namun pada kenyataannya banyak yang keliru dan salah ketika
menulis.

Berikut ini adalah tata cara penulisan gelar akademik yang benar menurut EYD
yang telah disepakati bersama. Aturan ini menetapkan penulisan singkatan, tanda
baca seperti pemakain titik (.) dan koma (,) yang benar:

1. Setiap gelar ditulis dengan menggunakan tanda titik sebagai penghubung antara
huruf pada singkatan gelar yang dimaksud.
2. Gelar ditulis sesudah atau sebelum nama seseorang.
3. Nama orang dan gelar dihubungkan dengan tanda koma (,)
4. Jika seseorang menyandang gelar lebih dari satu, maka gelar-gelar tersebut
dipisahkan dengan tanda koma. Contoh = Aria Nugraha, S,Pd., M.Pd.

Berikut ini adalah contoh penulisan gelar yang benar dan salah.

Aria Nugraha, SE (salah)


Aria Nugraha, S.E. (benar)
Aria Nugraha Bakasdo, SH, MM (salah)
Aria Nugraha Bakasdo, S.H., M.M. (benar)

Penulisan gelar sebenarnya mengikuti aturan penulisan pada singkatan. Contohnya


adalah penulisan gelar sarjana pendidikan yang penulisannya S.Pd. merupakan
singkatan. Huruf S ditulis dengan huruf besar karena merupakan singkatan dari satu
kata Sarjana, sedangkan huruf D ditulis dengan huruf kecil karena merupakan
bagian dari rangkaian kata pendidikan. Hal ini berlaku juga untuk penulisan gelar
yang lain seperti, S.ked., S.Ag., S.Si., dan lain-lain. Sementara itu untuk penulisan
gelar pada sarjana ekonomi, hanya ditulis S.E dimana huruf S singktan dari kata
sarjana dan E dari kata ekonomi.
1. Dengan kuliah di program D3, skill-mu lebih terasah. Dan jadi individu yang siap
masuk dunia kerja.

Program vokasi UGM. via sv.ugm.ac.id

Seseorang lulusan diploma akan lebih siap memasuki dunia kerja dibanding S1. Kenapa
demikian? Sebab, selama kuliah, lulusan D3 digodog dengan matang lewat kuliah-kuliah
prakteknya. Belajar di luar kelas pun bukan jadi hal yang aneh. Tapi bukan berarti pengetahuan
teori dari anak D3 gak ada. Beban belajar mahasiswa D3 biasanya 40%-nya mencakup tentang
teori. Sisanya praktek.

2. Di saat mahasiswa S1 mabuk dengan teori, mahasiswa D3 asik dengan


praktik. Pengalaman mereka jelas jauh lebih kaya.

Banyak praktek via www.isigood.com

Jangan pernah kecewa dengan pilihanmu untuk mengenyam pendidikan di tingkat D3. Kamu
harus bangga. Saat teman-teman S1 banyak dijejali dengan teori-teori, kamu anak D3 udah
punya bekal buat turun ke dunia kerja.

Kamu juga bisa menambah atau mengasah soft skill dengan mengikuti organisasi atau unit
kegiatan mahasiswa. Selain bisa itu, kamu juga bisa nambah banyak teman.

3. Nggak perlu malu mengakui kamu lulusan diploma, lowongan kerja


untuk tenaga terampil juga banyak.

Yang penting terus berusaha. via cdn.klimg.com

Kamu gak perlu risau kalau bingung soal masa depan. Toh lowongan kerja untuk
tenaga terampil banyak dibutuhkan banyak perusahaan. Justru ketrampilanmu
sangat dibutuhkan nantinya. Kalau tak percaya buka aja portal lowongan kerja.

4. Kalau kata Rektor UI sih, anak D3 lebih siap buat hadapi MEA.

Tuh dengerin kata Rektor UI. via cdn.klimg.com

Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met., pernah bilang
kalau program vokasi (diploma) sejalan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
yang membutuhkan tenaga terampil. Anis malah menyesalkan jika lulusan vokasi
terburu buru mengambil keputusan melanjutkan program S1 karena tidak percaya
diri hanya bergelar D3.

SDM Vokasi mampu terampil dan diekspor ke luar negeri. Sertifikasi ini
membendung mereka lanjut ke S1, sebab kalau vokasi lanjut ke S1 malah bubar
semua percuma, mereka merasa S1 itu nilai tambahnya. Padahal cukup D3
tambahan sertifikat, kerja di luar negeri pun bisa malah lebih hebat dari S1. Gaji
pun tak diukur dari gelar tapi dari skill, tegasnya.

5. Toh, jadi lulusan D3 tidak akan menghalangi kamu meraih kesuksesan yang lebih
tinggi di masa depan. Asal tekad dan usaha berjalan beriringan.
Bos. via okezone.com

Nyatanya tinggi rendahnya tingkat pendidikan seseorang gak selalu jadi penentu
sukses atau tidak. Nggak perlu malu kalau kamu lulusan diploma. Lulusan diploma
pun bisa jadi orang sukses bahkan bisa jadi bos. Kalau kamu masih niat untuk
menambah ilmu, kamu bisa lanjut ke jenjang Strata-1 atau kamu juga bisa langsung
kerja.

Masa depan yang cerah tak mustahil kamu dapatkan, asal upaya yang kamu
lakukan terus tiada henti tanpa letih.

Ingat, dengan gelar diploma di tangan kamu sudah punya kemampuan untuk terjun
langsung ke lapangan. Di saat bersamaan, kamu juga sudah punya bekal untuk
masuk lagi ke dunia perkuliahan dan memperdalam ilmu yang kamu dapat di
diploma.

Pengertian
Dalam UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan yang dimaksud tenaga kesehatan adalah
setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan, memiliki pengetahuan dan atau
keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang memerlukan kewenangan dalam
menjalankan pelayanan kesehatan.[1]

Petugas Kesehatan

Dalam UU Praktik Kedokteran yang dimaksud dengan Petugas adalah dokter, dokter gigi atau
tenaga kesehatan lain yang memberikan pelayanan langsung kepada pasien. Sedangkan menurut
PP No. 32 Tahun 1996, yang dimaksud petugas dalam kaitannya dengan tenaga kesehatan adalah
dokter, dokter gigi, perawat, bidan, dan keteknisian medis.[2] Tenaga kesehatan yang diatur dalam
Pasal 2 ayat (2) sampai dengan

Tenaga Medis

Tenaga medis adalah tenaga ahli kedokteran yang fungsi utamanya memberikan pelayanan medis
kepada pasien dengan mutu sebaik-baiknya, menggunakan tata cara dan teknik berdasarkan ilmu
kedokteran, kode etik yang berlaku, serta dapat dipertanggungjawabkan (Anireon, 1984).
Menurut Permenkes No.262/1979yang dimaksud dengan tenaga medis adalah lulusan Fakultas
Kedokteran atau Kedokteran Gigi serta "Pascasarajna" yang memberikan pelayanan dan
penunjang medik.[3]

Sedangkan menurut PP No.32 Tahun 1996, Tenaga Medik termasuk tenaga kesehatan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan tersebut, yang dimaksud dengan tenaga medis meliputi dokter dan dokter gigi. Tenaga
medis adalah mereka yang profesinya dalam bidang medis yaitu dokter, physician (dokter fisit),
maupun dentist ( dokter gigi ).

Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tenaga medis adalah setiap orang
yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan
melalui pendidikan dalam bidang kesehatan jenis tertentu yang memerlukan kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan.

Tenaga Keperawatan
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1239 2001 tentang Registrasi dan Praktik
Perawat, dinyatakan Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat, baik di
dalam maupun luar negeri, sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.Jadi
dapat diartikan bahwa seorang dapat diartikan bahwa seorang dikatakan sebagai perawat dan
mempunyai fungsi serta peran sebagai perawat, manakala yang bersangkutan dapat
membuktikan bahwa dirinya telah menyelesaikan pendidikan perawat baik di dalam maupun
luar negeri dengan membuktikannya melalui ijasah atau surat tanda tamat belajar. Sehingga
perawat bukan keahlian yang turun temurun, melainkan melalui jenjang pendidikan perawat.

Perawat atau Nurse berasal dari Bahasa Latin yaitu Nutrix yang berarti merawat atau
memelihara. Seorang perawat berperan dalam merawat atau memelihara, membantu dan
melindungi seseorang karena sakit, kecelakaan, dan proses penuaan (Harlley, 1997). Perawat
Profesional merupakan perawat yang bertanggung jawab dan berwenang dalam memberikan
pelayanan keperawatan secara mandiri dan/atau berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain,
sesuai dengan kewenangannya (Depkes RI, 2002 dalam Aisiyah 2004).[4]

Bidan adalah seseorang yang telah menjalani program pendidikan bidan, yang telah diakui oleh
Negara tempat ia tinggal, dan telah berhasil menyelesaikan studi terkait kebidanan serta
memenuhi persyaratan untuk terdaftar dan/atau memiliki izin formal untuk praktik bidan.

Bidan dikenal sebagai professional yang bertanggung jawab yang bekerja sebagai mitra
perempuan dalam memberikan dukungan yang diperlukan, asuhan dan saran selama kehamilan,
periode persalinan, dan pospsrtum, melakukan pertolongan persalinan di bawah tanggung
jawabnya sendiri, serta memberikan perawatan pada bayi baru lahir dan bayi. Asuhan ini
termasuk tindakan pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan
anaknya, akses untuk perawatan medis atau pertolongan semestinya lainnya, serta pemberian
tindakan kedaruratan.

Bidan memiliki tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, Tidak hanya pada
perempuan tetapi juga pada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan
antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas kepada kesehatan perempuan,
kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan perawatan anak.

Tenaga Kefarmasian
Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutusediaan farmasi,
pengamanan, pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan
obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat,
bahan obat, dan obat tradisional.

Pekerjaan kefarmasian dilakukan berdasarkan pada nilai ilmiah, keadilan, kemanusiaan,


keseimbangan dan perlindungan, serta keselamatan pasien atau masyarakat yang berkaitan
dengan Sediaan Farmasi yang memenuhi standar dan persyaratan keamanan, mutu, dan
kemanfaatan. Terdiri dari apoteker, analis farmasi dan asisten apoteker.

Tenaga Kesehatan Masyarakat


Tenaga Kesehatan Masyarakat adalah salah satu tenaga di bidang kesehatan yang memiliki ilmu
manajemen yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Ditinjau dari kurikulum pendidikan
Fakultas Kesehatan Masyarakat, maka kompetensi tenaga kesehatan masyarakat meliputi:

Kemampuan menganalisis dan sintesis permasalahan kesehatan masyarakat


dan upaya mengatasi masalah tersebut.

Memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menyusun, mengelola, dan


mengevaluasi program kesehatan masyarakat.

Memiliki pengetahuan dan ketrampila dalam menyusun proposal penelitian,


manajemen kesehatan, dan melaksanakannya dengan baik.

Tenaga kesehatan masyarakat (Kesmas) bermanfaat dalam mengatasi permasalahan kesehatan


masyarakat berbasis lingkungan, termasuk melalukan berbagai kreasi dalam upaya meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat.
Tenaga Gizi
Ahli Gizi atau dietitian adalah seorang profesional medis yang mengkhususkan diri dalam
dietetika, yaitu studi tentang gizi dan penggunaan diet khusus untuk mencegah dan mengobati
penyakit. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 26 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan
Pekerjaan dan Praktik Tenaga Gizi dikatakan bahwa tenaga gizi sebagai salah satu dari jenis
tenaga kesehatan, berwenang secara penuh untuk melakukan kegiatan fungsional dalam bidang
pelayanan gizi, makanan, dan dietetik baik di masyarakat, individu, atau rumah sakit.Menurut
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 374/MENKES/SK/III/2007, dikatakan
bahwa ahli gizi adalah seseorang yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan akademik
dalam bidang gizi adalah seseorang yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan
akademik dalam bidang gizi sesuai aturan yang berlaku, mempunyai tugas, tanggung jawab, dan
wewenang secara penuh untuk melakukan kegiatan fungsional dalam bidang pelayanan gizi,
makanan, dan dietetik baik di masyarakat, individu, atau rumah sakit.

Tenaga Keterapian Fisik


Terapi medik adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk memulihkan atau
mengoptimalkan kemampuan seseorang setelah mengalami gangguan kesehatan yang berakibat
pada penurunan kemampuan fisik. Dalam peraturan pemerintah No. 32 Tahun 1996 Tentang
Tenaga Kesehatan Pasal 2.f. Tenaga keterapian fisik terdiri dari Fisioterapis, Okupasi Terapis,
dan Terapi Wicara.Terapi (dalam Yunani: ), atau pengobatan, adalah remediasi masalah ,
biasanya mengikuti diagnosis. Orang yang melakukan terapi disebut sebagai terapis. Dalam
bidang medis, kata terapi sinonim dengan kata pengobatan. Di antara psikolog, kata ini mengacu
kepada psikoterapi.

Tenaga Keteknisian Medis


Tenaga teknik elektromedik adalah seorang yang berpendidikan dalam bidang teknik
elektromedik dan diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak oleh pejabat yang berwenang
untuk melakukan kegiatan pelayanan teknik elektromedik, berdasarkan rekomendasi atau
akreditasi organisasi profesi teknik elektromedik.Pelayanan teknik elektromedik mencakup
perencanaan, pelaksanaan, wasdal, dan berperan serta dalam pengadaan/penerimaan, evaluasi
dan pendayagunaan alat kesehatan serta bimbingan pengoperasian alat kesehatan. Alat kesehatan
adalah (UU.No.23 tentang kesehatan): Instrumen, apparatus, mesin, implan yang tidak
mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan
meringankan penyakit, merawat orang sakit serta memulihkan kesehatan pada manusia dan atau
untuk membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh. Meliputi radiografer, radioterapis,
teknisi gigi, teknisi elektromedis, analis kesehatan, refraksionis optisien, othotik prostetik, teknisi
tranfusi dan perekam medis.

Statistik Tenaga Kesehatan Masyarakat

BNPT pada tanggal 11 Februari 2011 telah me-release sebuah peta tentang sumberdaya tenaga
kesehatan yang ada di Indonesia untuk keperluan penanggulangan bencana secara nasional.Peta
ini memaparkan keadaan tenaga kesehatan di 33 Provinsi. Adapun tenaga kesehatan yang
dimaksudkan oleh BNPT dalam peta tersebut meliputi Perawat, Dokter, Bidan, Kefarmasian,
Kesehatan Masyarakat, Tenaga Gizi, Keterapian Fisik dan Keteknisan Medis.
Berdasarkan penelitian tersebut, profesi Perawat adalah tenaga kesehatan yang memiliki
kuantitas yang mendominasi di Indonesia, yaitu 44% dari total tenaga kesehatan yang ada.
Sedangkan profesi Bidan jumlahnya setengah dari total profesi Perawat. Adapun profesi Dokter
merupakan sepertiga dari jumlah profesi Perawat.[5]