Anda di halaman 1dari 28

DIAGNOSIS DAN INTERVENSI KOMUNITAS SIKAP TERHADAP

JAJANAN SHAT PADA ANAK PADA KELUARGA BINAAN


DESA X, KECAMATAN X, KABUPATEN Y, PROVINSI Z PERIODE MEI
2017

Disusun Oleh : KELOMPOK 5

Rendy Muttaqien Sinaga (1102012236)


Septha Amelia Dewi (1102012260)
Fadlina Arysta Brawidya (1102012079)
Wiwiek Librani Soerye (1102012309)

KEPANITERAAN KEDOKTERAN KOMUNITAS BAGIAN ILMU


KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2017
BAB I

LATAR BELAKANG

1.1 Permasalahan Keluarga


Masalah Medis
1 Diare berulang pada anak

Masalah Non Medis


1 Kurangnya pengetahuan mengenai jajanan sehat pada anaK
2 Kurangnya pemahaman mengenai jajanan sehat pada anak
3 Kurangnya kesadaran kepedulian terhadap jajanan pada anak
4 Kurangnya ketersediaan jajanan sehat pada lingkunan anak
5 Kurangnya pengetahuan mengenai tumbuh kembang anak
6 Kurangnya pengetahuan mengenai gizi yang cukup bagi tumbuh
kembang anak
7 Kurangnya pengetahuan mengenai bahaya diare pada anak
8 Kurangnya kepedulian terhadap diare pada anak

1.2 Penentuan Area Masalah


Dalam pengambilan sebuah masalah digunakan Metode Delphi.
Metode Delphi merupakan suatu teknik membuat keputusan yang dibuat
oleh suatu kelompok, di mana anggotanya terdiri dari para ahli atas
masalah yang akan diputuskan. Proses penetapan Metode Delphi dimulai
dengan identifikasi masalah yang akan dicari penyelesaiannya.
1.2.1 Alasan Penentuan Area Masalah

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 SIKAP
2.1.1 PENGERTIAN
Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup terhadap
suatu stimulus atau objek. Sikap merupakan suatu kecenderungan yang
berasala dari dalam diri individu untuk berkelakuan dengan pola pola
tertentu, terhadap suatu objek akibat penderian dan perasaaan terhadap
objek tersebut (Koentjaraningrat, 1983). Menurut Sarwono (1997), sikap
merupakan kecenderungan respons (secara positif atau negatif) orang,
situasi atau objek tertentu. Sikap mengandung suatu penilaian emosional
atau afektif (senang, benci dan sedih), kognitif (pengetahuan tentang suatu
objek), dan konatif (kecenderungan bertindak).
Sikap tidak sama dengan perilaku dan perilaku tidaks elalu
mencerminkan sikap seseorang. Individu sering kali memperlihatkan
tindakan bertentangan dengan sikapnya (Sarwono, 1997). Akan tetapi,
sikap dapat menimbulkan pola pola cara berpikir tertentu dalam
masyarakat dan sebaliknya, pola pola cara berpikir ini memengaruhi
tindakan dan kelakuan masyarakat, baik dalam kehidupan sehari hari
maupun dalam hal membuat keputusan yang penting dalam hidup
(Koentjaraningrat, 1983).
Dengan sikap secara minimal, masyarakat memiliki pola berpikir
tertentu dan pola berpikir diharapkan dapat berubah dengan diperolehnya
pengalaman, pendidikan, dan pengetahuan melalui interaksi dengan
lingkungannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono (1997) bahwa
sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi
tentang objek tertentu, melalui persuasi serta tekanan dari kelompok
sosialnya. Sikap dapat terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami
individu. Interaksi di sini tidak hanya berupa kontak sosial dan hubungan
antarpribadi sebagai anggota kelompok sosial, tetapi meliputi juga
hubungan dengan lingkungan fisik maupun lingkungan psikologis
sekitarnya.

2.1.2 KOMPONEN POKOK SIKAP

Menurut Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2003), komponen


pokok sikap meliputi hal-hal berikut :
1. Kepercayaan, ide, dan konsep terhadpa suatu objek
2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
3. Kecenderungan bertindak (tend to behave)

Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk total


attitude. Dalam hal ini, determinan sikap adalah pengetahuan, pikiran,
keyakinan, dan emosi. Menurut Azwar (1995), sikap memiliki tiga
komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu kognitif, afektif, dan
konatif.
Komponen kognitif disebut juga komponen perceptual, yang berisi
kepercayaan yang berhubungan denganpersepsi individu terhadap objek
sikap dengan apa yang dilihat dan diketahui, pandangan, keyakinan,
pikiran, pengalaman pribadi, kebutuhan emosional, dan informasi dari
orang lain. Sebagai contoh, seseorang tahu kesehatan itu sangat berharga
jika menyadari sakit dan terasa nikmatnya sehat.
Komponen Afektif (komponen emosional). Komponen ini
menunjukkan dimensi emosional subjektif individu terhadap objek sikap,
baik bersifat positif (rasa senang) maupun negatif (rasa tidak senang).
Reaksi emosional banyak dipengaruhi oleh apa yang kita percayai sebagai
sesuatu yang benar terhadap objek sikap tersebut.
Komponen Konatif (komponen perilaku). Komponen ini merupakan
predisposisi atau kecenderungan bertindak terhadap objek sikap yang
dihadapinya (misalnya, para lulusan SMU banyak memilih melanjutkan ke
Politeknik Kesehatan karena setelah lulus menjanjikan pekerjaan yang
jelas).

2.1.3 FUNGSI SIKAP

Fungsi sikap menurut Atkinson, Smith, dan Bem (1996), dalam


bukunya Pengantar Psikologi, mengungkapkan bahwa sikap memiliki lima
fungsi, yaitu :

1. Fungsi Instrumental
Fungsi sikap ini dikaitkan dengan alasan praktis atau manfaat, dan
menggambarkan keinginan. Bahwa untuk mencapai suatu tujuan,
diperlukan suatu sarana yang disebut sikap. Apabila objek sikap dapat
membantu individu mencapai tujuan, individu akan bersikap positif atau
sebaliknya.

2. Fungsi Pertahanan Ego


Sikap ini diambil individu dalam rangka melindungi diri dari
kecemasan atau ancaman harga dirinya.

3. Fungsi Ekspresi
Sikap ini mengekspresikan nilai yang ada dalam diri individu.
Sistem nilai yang terdapat pada diri individu dapat dilihat dari sikap
yang diambilnya bersangkutan terhadap nilai tertentu.

4. Fungsi Pengetahuan
Sikap ini membantu individu memahami dunia yang membawa
keteraturan terhadap bermacam-macam informasi yang perlu
diasimilasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap individu memiliki
motif ingin tahu, ingin mengerti, dan pengetahuan.

5. Fungsi Penyesuaian Sosial


Sikap ini membantu individu merasa menjadi bagian dari
masyarakat. Dalam hal ini sikap yang diambil individu tersebut akan
sesuai dengan lingkungannya.

2.1.4 PEMBENTUKAN DAN PERUBAHAN SIKAP

Menurut Azwar (1995), pembentukan sikap dipengaruhi beberapa


faktor, yaitu pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap
penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga
agama, dan faktor emosis dalam diri individu. Sementara itu, menurut
Krech dkk. (1962), oembentukan dan perubahan sikap dapat disebabkan
oleh situasi interaksi kelompok dan situasi komunikasi media. Semua
kejadian tersebut mendapatkan pengalaman dan pada akhirnya akan
membentuk keyakinan, perasaan serta ekcenderungan berperilaku. Menurut
Sarwono (2000), terdapat beberapa cara untuk membentuk atau mengubah
sikap individu, termasuk adopsi, diferensiasi, intergrasi, trauma, dan
generalisasi.
Adopsi, suatu cara pembentukan dan perubahan sikap melalui
kegiatan yang berulang dan terus-menerus sehingga lama-kelamaan secara
bertahap akan diserap oleh individu (misalnya pola asuh dalam keluarga).
Diferensiasi, terbentuk dan berubahnya sikap karena individu telah
memiliki pengetahuan, pengalaman, intelegensi dan bertambahnya umur.
Hal yang pada awalnya dipandang sejenis, sekarang dipandang tersendiri
dan lepas dari jenisnya sehingga membentuk sikap tersendiri. Sebagai
contoh, anak yang semula takut terhadap orang yang belum dikenalnya,
berangsur-angsur mengetahui mana yang baik dan yang jahat sehingga
mulai dapat bermain dengan orang yang disukainya.
Integrasi, sikap terbentuk secara bertahap. Diawali dari pengetahuan
dan pengalaman terhadap objek sikap tertentu (misalnya, mahasiswa
keperawatan yang rajin mengikuti perkuliahan, praktik klinik, dan
mengikuti seminar-seminar keperawatan, akhirnya akan bersikap positif
terhadap profesi keperawatan).
Trauma, pembentukan dan perubahan sikap terjadi melalui kejadian
yang tiba-tiba dan mengejutkan sehingga menimbulkan kesan mendalam.
Sebagai contoh, individu yang pernah sakit perut karena membeli dna
makan rujak di pinggir jalan sampai masuk rumah sakit, akan bersikap
negatif terhadap makanan tersebut.
Generalisasi, sikap terbentuk dan berubah karena pengalaman
traumatic pada individu terhadap hal tertentu dapat menimbulkan sikap
tertentu (positif atau negatif) terhadap semua hal. Sebagai contoh, pasien
yang pernah mendapat perawatan yang tidak professional dari seorang
perawat akan memeiliki siakp negatif terhadap semua perawat.

2.1.5 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI SIKAP

Proses belajar sosial terbentuk dari interaksi sosial. Dalam interaksi


sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek
psikologis yang dihadapinya. Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi
pembentukan sikap adalah (Azwar, 2005) :
Pengalaman pribadi. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap,
pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu,
sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut
melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi,
penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama
berbekas.
Kebudayaan. Menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan)
dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tidak lain
daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah
reinforcement (penguatan, ganjaran) yang dimiliki. Pola reinforcement
dari masyarakat untuk sikap dan perilaku tersebut, bukan untuk sikap
dan perilaku yang lain.
Orang lain yang dianggap penting. Pada umumnya, individu bersikap
konformis atau searah dengan sikap orang orang yang dianggapnya
penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk
berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang
dianggap penting tersebut.
Media massa. Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti
televisi, radio, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini
dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal
memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap
hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut,
apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam mempersepsikan
dan menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
Institusi Pendidikan dan Agama. Sebagai suatu sistem, institusi
pendidikan dan agama mempunyai pengaruh kuat dalam pembentukan
sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep
moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis
pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh
dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
Faktor emosi dalam diri. Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh
situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang,
suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi
yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan
bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian bersifat sementara
dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula
merupakan sikap yang lebih persisten dan lebih tahan lama. contohnya
bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka.

2.2 JAJANAN SEHAT


2.2.1 PENGERTIAN JAJANAN

Menurut Depkes RI (2001) makanan mempunyai pengertian sebagai


segala sesuatu yang dikonsumsi melalui mulut untuk kebutuhan tubuh agar
tubuh sehat. Menurut Irianto, K (2007) makanan jajanan adalah makanan
yang banyak ditemukan dipinggir jalan yang dijajakan dalam berbagai
bentuk, warna, rasa serta ukuran sehingga menarik minat dan perhatian
orang untuk membelinya.
Selain makanan utama yang dihidangkan di rumah, makanan jajanan
juga dapat berfungsi menambah pemasukan energi dan zat gizi lain seperti
protein ke dalam tubuh. Hal ini sesuai dengan pernyataan Winarno (1998)
bahwa pengaruh jajanan tidak ditujukan semata-mata mengurangi rasa
lapar, meskipun hal itu kadang-kadang benar tetapi tidak mutlak. Jajanan
sering berfungsi untuk menambah zat-zat makanan yang tidak ada atau
kurang pada makanan utama dan lauk pauknya. Kebiasaan mengkonsumsi
makanan jajanan mempunyai keuntungan ganda yaitu selain untuk
tambahan zat gizi juga berguna untuk mengisi kekosongan lambung.
Hidayat (1997) dalam penelitiannya menyatakan bahwa manfaat makanan
jajanan bagi murid-murid di sekolah adalah untuk memelihara ketahanan
belajar karena kurang lebih selama enam jam mereka di sekolah.

2.2.2 JENIS MAKANAN JAJANAN

Jenis makanan jajanan menurut Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi


(1998) yang dikutip oleh Sitorus (2007) dapat digolongkan menjadi (3)
tiga golongan, yaitu :
1. Makanan jajanan yang berbentuk panganan, misalnya kue-kue kecil,
pisang goreng, kue bugis dan sebagainya
2. Makanan jajanan yang diporsikan (menu utama), seperti pecal, mie
bakso, nasi goreng, mie rebus dan sebagaianya
3. Makanan jajanan yang berbentuk minuman, seperti ice cream, es
campur, jus buah dan sebagainya.

2.2.3 KRITERIA JAJANAN SEHAT

Menurut Srikandi dalam Marlina (2003), masalah makanan jajanan di


Indonesia umumnya terjadi karena pengolahan dan penyajiannya yang
tidak higienis. Biasanya diproduksi dan dijual dalam kondisi yang kurang
baik sehingga sering terkontaminasi oleh mikroorganisme dan hal ini dapat
menimbulkan berbagai penyakit. Makanan sehat selain mengandung zat
gizi yang cukup dan seimbang juga harus aman, yaitu bebas dari bakteri,
virus, parasit, serta bebas dari pencemaran zat kimia. Makanan dikatakan
aman apabila kecil kemungkinan atau sama sekali tidak mungkin menjadi
sumber penyakit atau yang dikenal sebagai penyakit yang bersumber dari
makanan (foodborne disease). Oleh sebab itu, makanan harus dipersiapkan,
diolah, disimpan, diangkut dan disajikan dengan serba bersih dan telah
dimasak dengan benar (Soekirman, 2000). Pangan jajanan yang sehat dan
aman adalah pangan jajanan yang bebas dari bahaya fisik, cemaran bahan
kimia dan bahaya biologis (Direktorat Perlindungan Konsumen, 2006).
1. Bahaya fisik dapat berupa benda asing yang masuk kedalam pangan,
seperti isi stapler, batu/kerikil, rambut, kaca
2. Bahaya kimia dapat berupa cemaran bahan kimia yang masuk ke dalam
pangan atau karena racun yang sudah terkandung di dalam bahan
pangan, seperti: cairan pembersih, pestisida, cat, jamur beracun, jengkol
3. Bahaya biologis dapat disebabkan oleh mikroba patogen penyebab
keracunan pangan, seperti: virus, parasit, kapang, dan bakteri.

2.3 DIARE
2.3.1 DEFINISI DIARE

Diare akut adalah buang air besar (BAB) pada bayi atau anak lebih
dari 3 kali per hari, disertai dengan perubahan konsistensi tinja menjadi
cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari satu
minggu.
2.3.2 EPIDEMIOLOGI

Diare merupakan masalah di negara berkembang termasuk di


Indonesia dan merupakan penyakit dengan angka kesakitan dan kematian
tertinggi pada anak dibawah usia 5 tahun. Di dunia 6 juta anak meninggal
tiap tahunnya akibat diare. Menurut hasil Riskesdas diare adalah penyebab
utama kematian pada bayi yang terbanyak yaitu 42%, disusul pneumonia
24%. Pada anak 1-4 tahun diare juga penyebab kematian tertinggi yaitu
25,2%, dibanding pneumonia 15,5%.

2.3.3 CARA PENULARAN DIARE

Penularan diare dapat melalui fekal-oral, tapi dapat juga melalui


berbagai objek yang tercemar oleh enteropatogen yang berasal dari tinja
penderita baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui 4 F =
finger, flies, fluid, field.
Faktor risiko yang dapat mneyebabkan terserang enteropatogen
adalah sanitasi yang buruk, kurangnya sarana kebersihan, pencemaran air
dan makanan, kebersihan pribadi yang buruk, dan penyimpanan makanan
yang tidak higienis. Beberapa faktor lain seperti umur, adanya infeksi
asimtomatik, epidemi dan pandemi. Untuk faktor umur, sebagian besar
episode diare terjadi pada 2 tahun pertama. Insidensi tinggi pada kelompok
umur 611 bulan yang pada saat itu diberikan makanan pendamping ASI,
hal ini mengakibatkan kurangnya kekebalan bayi, dan pengenalan makanan
yang mungkin terkontaminasi oleh tinja yang terkontaminasi bakteri.
Infeksi asimtomatik biasanya saat usia lebih dari 2 tahun karena sudah ada
pembentukan antibodi aktif dan orang tersebut tidak menyadari adanya
infeksi dan tidak menjaga kebersihan.
Faktor musim, di daerah subtropik diare karena bakteri sering terjadi
saat musim panas, sedangkan diare karena virus terutama rotavirus terjadi
saat musim dingin. Pada daerah tropik, diare karena rotavirus terjadi
sepanjang tahun dan meningkat saat musim kemarau, sedang diare karena
bakteri cenderung meningkat saat musim hujan.
2.3.4 ETIOLOGI DIARE

Penyebab infeksi utama timbulnya diare adalah golongan virus,


bakteri, dan parasit, alergi, inteolerensi, malabsorbsi, keracunan makanan,
toksin mikroorganisme.

Tabel 1: Golongan Bakteri yang menyebabkan diare


GOLONGAN BAKTERI

1. Aeromonas 8. Salmonella
2. Bacillus cereus 9. Shigella
3. Campylobacter jejuni 10. Staphylococcus aureus
4. Clostridium perfringens 11. Vibrio cholera
5. Clostridium defficile 12. Vibrio parahaemolyticus
6. Escherichia coli 13. Yersinia enterocolitica
7. Plesiomonas Shigeloides

Tabel 2: Golongan virus yang menyebabkan diare


GOLONGAN VIRUS
1. Astrovirus 5. Rotavirus

2. Calcivirus (Norovirus, Spovirus) 6. Norwalk virus

3. Enteric adenovirus 7.Herpers Simplex virus

4. Coronavirus 8.Cytomegalovirus

Tabel 3 : Golongan Parasit yang menyebabkan diare.


GOLONGAN PARASIT
1. Balantidum coli 5.Giardia lamblia

2. Blastocystis homonis 6. Isospora belli


3. Cryptosporidium parvum 7.Strongyloides stecoralis
4. Entamoba histolytica 8.Trichuris trichiura
Soenarto Y. Diare kronis dan diare persisten. Dalam: Juffrie M, Soenarto SSY,
Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyani NS, penyunting. Buku ajar Gastroentero-
hepatologi:jilid 1. Jakarta : UKK Gastroenterohepatologi IDAI 2011; 121-136

2.3.5 PATOFISIOLOGI DIARE


a. Diare Sekretorik
Diare Sekretorik adalah diare yang terjadi akibat aktifnya enzim
adenil siklase yang akan mengubah adenosin triphosphate (ATP)
menjadi cyclic adenosine monophosphate (cAMP). Akumulasi cAMP
intrasel menyebabkan sekresi air, ion klorida, Na, K, Bikarbonat
kedalam lumen usus. Enzim adenil siklase diaktifkan oleh toksin yang
dihasilkan dari mikroorganisme (vibrio, cholera, salmonella, ETEC).

b. Diare Invasif
Diare invasif adalah diare akibat invasi mikroorganisme kedalam
mukosa usus sehingga terjadi kerusakan mukosa usus.
Diare invasif ada 2 :
1. Diare non disentriform : Tidak berdarah : Rotavirus
Virus masuk ke dalam saluran cerna, disaluran cerna virus
berkembang biak dan masuk ke bagian apikal usus halus sehingga
menyebabkan kerusakan bagian apikal dari vili, kemudian diganti
oleh bagian kripta yang belum matang atau imatur. Sel yang imatur
tidak dapat berfungsi normal karena tidak dapat menghasilkan enzim
laktase.
2. Diare disentriform : Berdarah : Shigella, salmonella, EIEC
Bakteri telah melewati barier asam lambung, kemudian masuk ke
usus halus, dan mengeluarkan enteroktoksin. Enterotoksin
merangsang enzim adenil siklase sehingga mengubah ATP menjadi
cAMP dan mengakibatkan terjadinya diare sekretorik. Bakteri sampai
dikolon karen aadanya peristaltik usus dan melakukan invasi
membentuk mikroulkus dan sel - sel radang PMN.

3. Diare Osmotik
Diare yang diakibatkan karena tekanan osmotik tinggi didalam lumen
usus sehingga menarik cairan dari intrasel ke lumen usus dan
menimbulkan watery diare.

2.3.6 MANIFESTASI KLINIS DIARE

Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung


sejumlah ion natrium, klorida, dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit
ini bertambah bila ada muntah dan kehilangan air juga meningkat bila ada
panas. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik, dan
hipokalemia. Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya karena
dapat menyebabkan hipovolemia dan kematian bila tidak diobati dengan
tepat. Dehidrasi yang terjadi menurut tonisitas plasma dapat berupa
dehidrasi isotonic, dehidrasi hipertonik (hipernatremik) atau dehidrasi
hipotonik. Menurut derajat dehidrasinya bisa tanpa dehidrasi, dehidrasi
ringan, dehidrasi sedang, dan dehidrasi berat. Gejala neurologik dari
infeksi usus bisa berupa paresthesia (akibat makan ikan, kerang,
monosodium glutamat), hipotoni dan kelemahan otot (C. botulinum).

Tabel 5. Gejala khas diare akut oleh berbagai penyebab.


Gejala klinis Rotavirus Shigella Salmonela ETEC EIEC Kolera

Masa tuntas 17-72 jam 24-48 jam 6-72 jam 6-72 jam 6-72 jam 48-72 jam
Panas + ++ ++ - ++ -
Mual muntah Sering Jarang Sering + - Sering
Nyeri perut Tenesmus Tenesmus Tenesmus - Tenesmus Kramp
/ kramp kolik kramp
Nyeri kepala - + + - - -
Lamanya sakit 5-7 hari >7 hari 3-7 hari 2-3 hari Variasi 3 hari
Sifat tinja
Volume Sedang Sedikit Sedikit Banyak Sedikit Banyak
Frekuensi 5-10 x/hari >10x/hari Sering Sering Sering Terus
menerus
Konsistensi Cair Lembek Lembek Cair Lembek Cair
Darah - Sering Kadang - + -
Bau Langu +/- Busuk + Tidak Amis khas
Warna Kuning-hijau Merah Kehijauan Tidak Merah Seperti air
hijau bewarna hijau cucian
beras
Leukosit - + + - - -
Lain-lain Anoreksia Kejang Sepsis+/- Meteorismus Infeksi +/-
+/- sistemik

Sumber: Sunoto 1991


2.3.7 DIAGNOSIS

1. Anamnesis
Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berkut: lama
diare, frekuensi, volume, konsistensi tinja, warna, bau, ada atau tidak
ada lendir dan darah. Bila disertai muntah: volume dan frekuensinya.
Kencing: biasa, berkurang, jarang atau tidak kencing dalam 6-8 jam
terakhir. Makanan dan minuman yang diberikan selama diare. Adakah
penyakit lain yang menyertai seperti: batuk, pilek, otitis media, campak.
Tindakan yang sudah dilakukan ibu selama anak diare: memberi obat
oralit, beroabat ke puskesmas, atau rumah sakit, obat-obatan yang sudah
diberikan dan riwayat imunisasinya.
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh,
frekuensi denyut jantung dan pernafasan serta tekanan darah.
Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama dehidrasi seperti kesadaran,
rasa haus, turgor kulit abdomen, dan tanda-tanda lainnya seperti ubun-
ubun besar cekung atau tidak, mata cekung atau ada tidaknya air mata,
bibir, mukosa mulut dan lidah kering dan basah.
Pernafasan cepat dan dalam mengindikasikan asidosis metabolik,
bising usus lemah dan tidak ada bising usus menandakan hipokalemia.
Pemeriksaan ektremitas untuk capillary refill time. Ada banyak
penilaian yang dipakai untuk menentukan derajat dehidrasi antara lain:
menggunakan kriteria WHO, Daldiyono, Skor Maurice King, kriteria
MMWR dan lain-lain.
Tabel 6: Penentuan derajat dehidrasi menurut MMWR 2003

Gejala Minimal atau tanpa Dehidrasi Ringan-sedang Dehidrasi berat kehilangan


dehidrasi kehilangan Kehilangan BB 3% -9% BB >9%
BB < 3 %
Kesadaran Baik Normal, lelah, Apatis, letargi, tidak sadar
gelisah, irritable
Denyut jantung Normal Normal-meningkat Takikardia,bradikardia
Kualitas nadi Normal Normal-melemah Lemah, kecil, tidak teraba
Pernafasan Normal Normal cepat Dalam
Mata Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Air mata Ada Berkurang Tidak ada
Mulut dan lidah Basah Kering Sangat kering
Cubitan kulit Segera kembali Kembali< 2 detik Kembali > 2 detik
Capillary refill Normal Memanjang Memanjang minimal
Extremitas Hangat Dingin Dingin, sianotik
Kencing Normal Berkurang Minimal

Tabel 7: Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995


Penilaian A B C

Keadaan umum Baik, sadar *gelisah, rewel *Lesu, lunglai,atau tidak


sadar
Mata Normal Cekung Sangat cekung dan kering
Air mata Ada Tidak ada Kering
Mulut dan lidah Basah Kering Sangat kering
Rasa haus Minum biasa tidak *haus, ingin minum *malas minum/ tidak bisa
haus banyak minum
Turgor kulit Kembali cepat *kembali lambat * kembali sangat lambat
Hasil Tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan/ Dehidrasi berat bila ada 1
pemeriksaan sedang bila ada 1 tanda * ditambah 1 atau
tanda *ditambah 1 lebih tanda lain
tanda lain
Terapi Rencana terapi A Rencana terapi B Rencana terapi C

Tabel 8: Penentuan derajat dehidrasi menurut sistem pengangkaan


Maurice King (1974)

Bagian tubuh yang


0 1 2
diperiksa

Keadaan umum Sehat Gelisah, cengeng, Mengigau, koma, atau


apatis, ngantuk syok
Kekenyalan kulit Normal Sedikit kurang Sangat kurang

Mata Normal Sedikit cekung Sangat cekung


Ubun-ubun besar Normal Kering Sangat cekung

Mulut Normal Kering Kering dan sianosis


Denyut nadi / menit Kuat < 120 Sedang (120-140) Lemah > 140

SUMBER: Sunoto 1991

Hasil yang didapat pada penderita diberi angka 0,1 atau 2 sesuai dengan
tabel kemudian dijumlahkan. Nilai: 0-2 (ringan), 3-6 (sedang), 7-12 (berat).

3. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut pada umumnya tidak
diperlukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan misalnya
penyebab dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare
akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat. Contoh: pemeriksaan darah
lengkap, kultur urin dan tinja pada sepsis atau infeksi saluran kemih.
Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan pada diare akut:
Darah: darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa darah,
kultur, dan tes kepekaan terhadap antibiotika. Urine: urin lengkap, kultur,
test kepekaan terhadap antibiotika.
- Pemeriksaan makroskopik Tinja

Pemeriksaan makroskopik tinja perlu dilakukan meskipun pemeriksaan


laboratorium tidak dilakukan. Tinja yang watery, tanpa mukus dan darah
biasanya disebabkan oleh enterotoksin, virus, protozoa atau disebabkan
infeksi diluar saluran gastrointestinal.

Tinja yang mengandung darah atau mukus bisa disebabkan infeksi


bakteri yang menghasilkan sitotoksin, bakteri enteroinvasif yang
menyebabkan peradangan mukosa atau parasit usus seperti: E. Histolytica,
B.coli, dan T. Trichuria. Apabila terdapat darah biasanya bercampur dalam
tinja kecuali pada infeksi E.Histolytica darah sering terdapat pada
permukaan tinja dan pada infeksi EHEC terdapat garis-garis darah pada
tinja. Tinja yang berbau busuk didapatkan pada infeksi dengan Salmonella,
Giardia, Cryptosporodium, dan Strongyloides.

Tabel 9: Tes laboratorium tinja yang digunakan untuk mendeteksi


enteropatogen.

Test laboratorium Organisme diduga/ identifikasi

Mikroskopik: leukosit pada tinja Invasif atau bakteri yang memproduksi


sitotoksin
Trophozoit, kista, oocysts, spora G.lamblia, E.Histolytica,
Cryptosporidium
Rhabditiform lava Strongyloides
Spiral atau basil gram(-) berbentuk S Campylobacter jejuni.
Kultur tinja : standar E.coli, Shigella, Salmonela,
Campylobacter jejuni
Kultur tinja : spesial Y.Enterocolitica, V.Cholerae, C.difficile
Enzym imunoassay atau latex aglutinasi Rotavirus, G.Lamblia, Enteric
enrichment adenoviurs, C.Difficile
Serotyping E.coli, EHEC, EPEC
Test yang dilakukan di laboratorium riset Bakteri yang memprodusi toksin dan
genus yang virulen

Sumber: Suparto
Buku Standar Penatalaksanaan Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas
Sriwijaya Rumah Sakit Mohammad Hoesin, 2010.

Pemeriksaan Mikroskopik
Bertujuan mencari adanya leukosit dan memberi informasi tentang
penyebab diare, letak anatomis, serta adanya proses peradangan mukosa.
Leukosit dalam tinja diproduksi sebagi respon terhadap bakteri yang
menyerang mukosa kolon. Leukosit yang postif pada pemeriksaan tinja
menunjukan adanaya kuman invasif atau kuman yang memproduksi
sitotoksin seperti Shigella, Salmonella, C.jejuni, EIEC, C.difficile, Y.
Enterocolitica. Leukosit yang temukan pada umumnya adalah leukosit PMN
kecuali pada S.typhi leukosit mononuklear. Normalnya tidak dicari telur atau
parasit kecuali memiliki risiko tinggi, seperti habis berpergian ke daerah
berisiko tinggi, kultur tinja (-) untuk enteropatogen, diare lebih dari 1
minggu,dan pasien immunocompromised. Pada pasien yang dicurigai
terinfeksi Giardiasis, Cryptosporidiosis, Isoporiasis, dan Strongyloidiasis
dimana pemeriksaan feses negatif, aspirasi atau biospi duodenum dan
jejunum dapat dilakukan.

2.3.8 PENATALAKSANAAN DIARE

Departemen Kesehatan mulai melakukan sosialisasi Panduan Tata


Laksana Pengobatan diare pada balita yang baru didukung oleh Ikatan
Dokter Anak Indonesia, dengan merujuk pada panduan WHO. Tatalaksana
ini sudah mulai diterapkan di rumah sakit. Rehidrasi bukan satu-satunya
strategi dalam penatalaksanaan diare. Memperbaiki kondisi usus dan
menghentikan diare juga menjadi cara untuk mengobati pasien. Untuk itu,
Departemen Kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi
semua kasus diare yang diderita anak balita baik yang dirawat di rumah
maupun sedang dirawat di rumah sakit, yaitu:

4. Rehidrasi dengan menggunakan oralit baru, dapat mengurangi rasa


mual dan muntah
Berikan segera bila anak diare, untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi.
Oralit formula lama dikembangkan dari kejadian luar biasa diare di Asia Selatan
yang terutama disebabkan karena disentri, yang menyebabkan berkurangnya
lebih banyak elektrolit tubuh, terutama natrium. Sedangkan diare yang lebih
banyak terjadi akhir-akhir ini dengan tingkat sanitasi yang lebih baik adalah
disebabkan oleh karena virus. Diare karena virus tersebut tidak menyebabkan
kekurangan elektrolit seberat pada disentri. Karena itu, para ahli diare
mengembangkan formula baru oralit dengan tingkat osmolaritas yang lebih
rendah. Osmolaritas larutan baru lebih mendekati osmolaritas plasma, sehingga
kurang menyebabkan risiko terjadinya hipernatremia.

Oralit baru ini adalah oralit dengan osmolaritas yang rendah. Keamanan
oralit ini sama dengan oralit yang selama ini digunakan, namun efektivitasnya
lebih baik daripada oralit formula lama. Oralit baru dengan low osmolaritas ini
juga menurunkan kebutuhan suplementasi intravena dan mampu mengurangi
pengeluaran tinja hingga 20% serta mengurangi kejadian muntah hingga 30%.
Selain itu, oralit baru ini juga telah direkomendasikan oleh WHO dan UNICEF
untuk diare akut non-kolera pada anak.

Ketentuan pemberian oralit formula baru

- Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru


- Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 liter air matang
- Berikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar, dengan
ketentuan:
-Untuk anak berumur < 2 tahun: berikan 50-100 ml tiap kali BAB
-Untuk anak 2 tahun atau lebih: berikan 100-200ml tiap BAB

- Jika dalam waktu 24 jam persediaan larutan oralit masih tersisa, maka sisa
larutan harus dibuang.

5. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut


Zinc mengurangi lama dan beratnya diare. Penggunaan zinc ini memang
popular beberapa tahun terakhir karena memiliki evidence based yang bagus.
Beberapa penelitian telah membuktikannya. Pemberian zinc yang dilakukan di
awal masa diare selama 10 hari ke depan secara signifikan menurunkan
morbiditas dan mortalitas pasien. Lebih lanjut, ditemukan bahwa pemberian zinc
pada pasien anak penderita kolera dapat menurunkan durasi dan jumlah
tinja/cairan yang dikeluarkan.

Zinc termasuk mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara


kehidupan yang optimal. Meski dalam jumlah yang sangat kecil, dari segi
fisiologis, zinc berperan untuk pertumbuhan dan pembelahan sel, anti oksidan,
perkembangan seksual, kekebalan seluler, adaptasi gelap, pengecapan, serta
nafsu makan. Zinc juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh dan merupakan
mediator potensial pertahanan tubuh terhadap infeksi.

Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam pengobatan diare akut didasarkan


pada efeknya terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran
cerna dan terhadap proses perbaikan epitel saluran cerna selama diare. Pemberian
zinc pada diare dapat meningkatkan absorpsi air dan elektrolit oleh usus halus,
meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus, meningkatkan jumlah brush
border apical, dan meningkatkan respon imun yang mempercepat pembersihan
patogen dari usus. Pengobatan dengan zinc cocok diterapkan di negara-negara
berkembang seperti Indonesia yang memiliki banyak masalah terjadinya
kekurangan zinc di dalam tubuh karena tingkat kesejahteraan yang rendah dan
daya imunitas yang kurang memadai. Pemberian zinc dapat menurunkan
frekuensi dan volume buang air besar sehingga dapat menurunkan risiko
terjadinya dehidrasi pada anak. Dosis zinc untuk anak-anak :

- Anak di bawah umur 6 bulan: 10mg ( tablet) per hari.


- Anak di atas umur 6 bulan: 20 mg (1 tablet) per hari.

Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut meskipun anak telah


sembuh dari diare. Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan air matang,
ASI atau oralit. Untuk anak-anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah atau
dilarutkan dalam air matang atau oralit.

6. ASI dan makanan tetap diteruskan


ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang
sama pada waktu anak sehat untuk mencegah kehilangan berat badan serta
pengganti nutrisi yang hilang. Pada diare berdarah nafsu makan akan berkurang.
Adanya perbaikan nafsu makan menandakan fase kesembuhan.

7. Antibiotik selektif
Antibitik tidak diberikan kecuali ada indikasi misalnya diare berdarah
atau kolera. Pemberian antibiotik yang tidak rasional justru akan memperpanjang
lamanya diare karena akan megganggu keseimbangan flora usus dan Clostridium
difficile yang akan tumbuh dan menyebabkan diare sulit disembuhkan. Selain itu,
pemberian antibiotik yang tidak rasional akan mempercepat resistensi kuman
terhadap antibiotik, serta menambah biaya pengobatan yang tidak perlu. Pada
penelitian multipel ditemukan bahwa telah terjadi peningkatan resistensi terhadap
antibiotik yang sering dipakai seperti ampisilin, tetrasiklin, kloramfenikol, dan
trimetoprim sulfametoksazole dalam 15 tahun ini. Resistensi terhadap antibiotik
terjadi melalui mekanisme berikut inaktivasi obat melalui degradasi enzimatik
oleh bakteri, perubahan struktur bakteri yang menjadi target antibiotik dan
perubahan permeabilitas membran terhadap antibiotik.

5. Nasihat kepada orang tua

Kembali segera jika demam, tinja berdarah, berulang, makan atau minum
sedikit, sangat haus, diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari.
Infeksi usus pada umumnya self limited, tetapi terapi non spesifik dapat
membantu penyembuhan pada sebagian pasien dan terapi spesifik, dapat
memperpendek lamanya sakit dan memberantas organisme penyebabnya. Dalam
merawat penderita dengan diare dan dehidrasi terdapat beberapa pertimbangan
terapi:

1. Terapi cairan dan elektrolit


2. Terapi diit
3. Terapi non spesifik dengan antidiare
4. Terapi spesifik dengan antimikroba

Walaupun demikian, berdasarkan penelitian epidemiologis di Indonesia


dan negara berkembang lainnya, diketahui bahwa sebagian besar penderita diare
biasanya masih dalam keadaan dehidrasi ringan atau belum dehidrasi. Hanya
sebagian kecil dengan dehidrasi lebih berat dan memerlukan perawatan di sarana
kesehatan. Perkiraan secara kasar menunjukkan dari 1000 kasus diare yang ada
di masyarakat, 900 dalam keadaan dehidrasi ringan, 90 dalam keadaan dehidrasi
sedang dan 10 dalam keadaan dehidrasi berat, 1 diantaranya disertai komplikasi
serta penyakit penyerta yang penatalaksanaannya cukup rumit. Berdasarkan data
diatas, sesuai dengan panduan WHO, pengobatan diare akut dapat dilaksanakan
secara sederhana yaitu dengan terapi cairan dan elektrolit per oral serta
melanjutkan pemberian makanan, sedangkan terapi non-spesifik dengan anti
diare tidak direkomendasikan dan terapi antibiotika hanya diberikan bila ada
indikasi. Pemberian cairan dan elektrolit secara parenteral hanya untuk kasus
dehidrasi berat.

1. Pengobatan diare tanpa dehidrasi

TRO (Terapi Rehidrasi Oral)

Penderita diare harus segera diberi cairan seperti air tajin, larutan gula
garam, kuah sayur-sayuran dan pengobatan dapat dilakukan oleh keluarga
penderita. Jumlah cairan yang dapat diberikan untuk anak usia <1 tahun
adalah 50-100 ml, 1-5 tahun adalah 100-200 ml, 5-12 tahun adalah 200-300
ml, dan dewasa 300-400 ml setiap BAB. Untuk anak dibawah usia 2 tahun
pemberian cairan dilakukan dengan sendok, yaitu 1 sendok tiap 1-2 menit.
Pemberian dengan botol tidak dianjurkan. Anak yang lebih dewasa dapat
minum dengan gelas. Bila anak muntah, tunggu sekitar 10 menit baru
diberikan carian lagi 1 sendok tiap 2-3 menit.

Pemberian carian dilakukan sampai diare berhenti. Asi tetap diberikan


disamping cairan. Makanan yang diberikan sedikit-sedikit (kurang dari
6x/hari) serta rendah serat. Buah yang diberikan adalah buah pisang dan
dilarang makan makanan yang merangsang terjadinya diare seperti makanan
pedas dan asam. Bila pengobatan ini tidak berhasil atau semakin parah
kemungkinan anak sudah masuk dalam dehidrasi ringan-sedang.

2. Pengobatan diare dehidrasi ringan sedang

TRO (Terapi Rehidrasi Oral)


Penderita dehidrasi ringan sedang harus dirawat di sarana kesehatan dan
diberikan terapi rehidrasi oral dengan oralit. Jumlah oralit yang diberikan
dalam 3 jam pertama adalah 75 cc/kgBB. Bila berat badan tidak diketahui
dapat diberikan dengan perkiraan: umur <1 tahun 300 ml, 1-5 tahun adalah
600 ml, >5 tahun adalah 1200 ml, dan dewasa adalah 2400 ml. Bila
penderita masih haus dapat diberikan minuman lagi. Bila kelopak mata
menjadi bengkak, pemberian oralit dihentikan sementara sampai oedem mata
hilang.

Apabila oralit tidak bisa diberikan secara per-oral, maka oralit dapat
diberikan melalui nasogastrik dengan volume 20 ml/kgBB/jam. Dalam 3 jam
dipantau keadaan klinis pasien, apakah membaik atau memburuk. Bila
membaik maka pasien dapat diberikan terapi oralit dan makanan dengan cara
pengobatan diare tanpa dehidrasi. Bila memburuk maka pasien jatuh dalam
keadaan dehidrasi berat dan tetap dirawat di sarana kesehatan dan dapat
dipertimbangkan menggunakan cairan parenteral.

3. Pengobatan diare dehidrasi berat

TRP (Terapi Rehidrasi Parenteral)

Pengobatan terbaik untuk diare dengan dehidrasi berat adalah dengan


cara parenteral dan penderita harus dirawat di rumah sakit. Pasien harus
diberikan oralit sampai infus terpasang. Disamping itu anak diberikan carian
oralit selama pemberian intravwna (+/- 5 ml/kgBB/jam), apabila dapat
minum dengan baik biasanya dalam 3-4 jam (untuk bayi), 1-2 jam (untuk
anak yang lebih besar). Pemberian tersebut untuk memberi tambahan basa
dan kalium yang tidak dapat disuplai oleh cairan intavena. Untuk rehidrasi
parenteral digunakan cairan Ringer Laktat dosis 100 ml/kgBB. Cara
pemberiannya yaitu untuk anak usia <1 tahun 1 jam pertama 30 cc/kgBB,
dilanjutkan 5 jam berikutnya 70 cc/kgBB. Diatas 1 tahun, setengah jam
pertama 30 cc/kgBB dilanjutkan 2 jam berikutnya 70 cc/kgBB.

Lakukan evaluasi tiap jam. Bila hidrasi tidak membaik, tetesan IV dapat
dipercepat. Lakukan evaluasi tiap 6 jam pada bayi dan 3 jam pada anak yang
lebih besar. Lakukan evaluasi pilih pengobatan pada diare dengan dehidrasi
sedang dan pengobatan diare tanpa dehidrasi.

Tabel 11: Terapi cairan dan pemberian makanan pada GEA tanpa penyulit

Dehidrasi Rehidrasi Cairan Pencegahan Makan minum


Dehidrasi
Tanpa dehidrasi - - 10-20 mg Asi terus, susu terus,
cc/ kg makanan padat terus
BB/BAB dengan mengurangi
oralit porsi serat, ektra 1
porsi

Ringan-sedang 4 jam 75 cc ( gelas) Idem Dapat ditangguhakn


oralit/kgBB atau sampai anak segar
ad libitum
sampai tanda-
tanda dehidrasi
hilang

Berat 4 jam IVFD RL 30 Idem Idem


cc/Kg BB 7
tpm/kgBB/menit
oralit ad libitum
segera setelah
anak bisa
minum

Monitoring dilakukan tiap 1 jam

Patokan koreksi cairan melalui NGD (Nasogatric drip) adalah


Nadi masih dapat diraba dan masih bisa dihitung
Tidak ada meteorismus
Tidak ada penyulit yang mengharuskan menggunakan cairan IV
Dikatakan gagal jika dalam 1 jam pertama muntah dan diare terlalu banyak
dan syok bertambah berat.

Cairan Rehidrasi Oral

Pada tahun 1975, WHO dan UNICEF menyetujui untuk mempromosikan


CRO tunggal yang mengandung Natrium 90 mmol/L, Kalium 20 mmol/L,
Klorida 80 mmol/L, Basa 30 mmol/L, dan Glukosa 111 mmol/L (2%).
Komposisi ini dipilih untuk memungkinkan satu jenis larutan saja untuk
digunakan pada pengobatan diare yang disebabkan oleh bermacam sebab bahan
infeksius yang disertai dengan berbagai derajat kehilangan elektrolit. Contoh
diare Rotavirus berhubungan dengan kehilangan Natrium bersama tinja 30-40
mEq/L, ETEC 50-60 mEq/L, dan V.cholera >90-120 mEq/L. CRO-WHO (Oralit)
telah terbukti selama lebih dari 25 tahun efektif baik untuk terapi maupun
rumatan pada anak dan dewasa dengan semua tipe diare infeksi.

Pada tahun 2002 WHO mengumumkan CRO formula baru yang sesuai
dengan rekomendasi tersebut dengan 75 mEq/L natrium, 75 mmol/L glukosa dan
osmolaritas total 245 mOsm/L. CRO formula baru ini juga direkomendasikan
untuk digunakan pada anak dan dewasa dengan kolera, meskipun post-marketing
surveilans sedang dilakukan untuk memastikan keamanan dan indikasinya.

CRO baru

Resep untuk memperbaiki CRO antara lain menambahkan substrat untuk


kotransport Natrium (contoh: asam amino glycine, alanine, dan glutamine) atau
substitusi glukosa dengan komplek karbohidrat (CRO berbasis beras atau cereal).
Asam amino tidak menunjukkan lebih efektif daripada CRO tradisional dan lebih
mahal. CRO berbasis beras dapat direkomendasikan bila cukup latihan dan
penyediaan di rumah dapat dilakukan, dan mungkin sangat efektIf untuk
mengobati dehidrasi karena kolera.

Walaupun demikian, kemudahan dan keamanan CRO paket di negara


berkembang dan secara komersial tersedia CRO di negara maju, maka CRO
standar tetap merupakan pilihan utama dari sebagian besar klinisi. Potential
additive pada CRO termasuk mampu melepaskan SCFA (amylase resistant
starch derivate dari jagung) dan partially hydrolyzed guar gum. Mekanisme kerja
yang diharapkan adalah meningkatkan uptake Natrium oleh kolon terikat pada
transport SCFA. Kemungkinan lain dari perbaikan komposisi CRO masa depan
adalah penambahan probiotik, prebiotik, seng, dan protein polimer.

Seng (Zinc)

Defisiensi seng sering didapatkan pada anak-anak di negara berkembang dan


dihubungkan dengan menurunnya fungsi imun dan meningkatnya kejadian
penyakit infeksi yang serius. Seng merupakan mikronutrien komponen berbagai
enzim dalam tubuh, yang penting antara lain untuk sintesis DNA. Pada
sistematik review dari 10 RCT yang semuanya dilakukan di negara berkembang
pada tahun 1999 didapatkan bahwa suplementasi seng dengan dosis minimal
setengah dari RDA Amerika Serikat untuk seng, ternyata dapat menurunkan
insiden diare sebanyak 15% dan prevalensi diare sampai 25%, kurang lebih sama
dengan hasil yang dicapai upaya preventif yang lain seperti perbaikan higiene
sanitasi dan pemberian ASI. Sejak tahun 2004, WHO dan UNICEF telah
menganjurkan penggunaan seng pada anak dengan diare dengan dosis 20 mg per
hari selama 10-14 hari, dan pada bayi <6 bulan dengan dosis 10 mg per hari
selama 10-14 hari.

Pemberian makanan selama diare

Pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan ditingkatkan setelah


sembuh. Tujuannya adalah memberikan makanan kaya nutrien sebanyak anak
mampu menerima. Sebagian besar anak dengan diare cair, nafsu makannya
timbul kembali setelah dehidrasi teratasi. Meneruskan pemberian makanan akan
mempercepat kembalinya fungsi usus yang normal termasuk kemampuan
menerima dan mengabsorbsi berbagai nutrien, sehingga memburuknya status gizi
dapat dicegah atau paling tidak dikurangi. Sebaliknya, pembatasan makanan
akan menyebabkan penurunan berat badan sehingga diare menjadi lebih lama
dan kembalinya fungsi usus akan lebih lama.

Makanan yang diberikan pada anak diare tergantung kepada umur, makanan
yang disukai, dan pola makan sebelum sakit serta budaya setempat. Pada
umumnya, makanan yang tepat untuk anak diare sama dengan yang dibutuhkan
dengan anak sehat. Bayi yang minum ASI harus diteruskan sesering mungkin dan
selama anak mau. Bayi yang tidak minum ASI harus diberi susu yang biasa
diminum paling tidak setiap 3 jam. Pengenceran susu atau penggunaan susu
rendah atau bebas laktosa secara rutin tidak diperlukan. Pemberian susu rendah
laktosa atau bebas laktosa mungkin diperlukan untuk sementara bila pemberian
susu menyebabkan diare timbul kembali atau bertambah hebat sehingga terjadi
dehidrasi lagi, atau dibuktikan dengan pemeriksaan terdapat tinja yang asam (pH
<6) dan terdapat bahan yang mereduksi dalam tinja >0,5%. Setelah diare
berhenti, pemberian tetap dilanjutkan selama 2 hari kemudian coba kembali
dengan susu atau formula biasanya diminum secara bertahap selama 2-3 hari.

Bila anak berumur 4 bulan atau lebih dan sudah mendapatkan makanan
lunak atau padat, makanan ini harus diteruskan. Paling tidak 50% dari energi diit
harus berasal dari makanan dan diberikan dalam porsi kecil atau sering (6 kali
atau lebih) dan anak dibujuk untuk makan. Pada anak yang lebih besar, dapat
diberikan makanan yang terdiri dari makanan pokok setempat misalnya nasi,
kentang, gandum, roti, atau bakmi. Untuk meningkatkan kandungan energinya
dapat ditambahkan 5-10ml minyak nabati untuk setiap 100 ml makanan. Minyak
kelapa sawit sangat bagus dikarenakan kaya akan karoten. Campur makanan
pokok tersebut dengan kacang-kacangan dan sayur-sayuran, serta ditambahkan
tahu, tempe, daging, atau ikan. Sari buah segar atau pisang baik untuk menambah
kalium. Makanan yang berlemak atau makanan yang mengadung banyak gula
seperti sari buah yang banyak diperdagangkan sebaiknya dihindari.

Pemberian makanan setelah diare


Meskipun anak diberi makanan sebanyak dia mau selama diare, beberapa
kegagalan pertumbuhan mungkin dapat terjadi terutama bila terjadi anoreksia
hebat. Oleh karena itu, perlu pemberian ekstra makanan yang kaya akan zat gizi
beberapa minggu setelah sembuh untuk memperbaiki kurang gizi dan untuk
mencapai serta mempertahankan pertumbuhan normal. Berikan ekstra makanan
pada saat anak merasa lapar, pada keadaan semacam ini biasanya anak dapat
menghabiskan tambahan 50% atau lebih kalori dari biasanya.
Terapi medikamentosa

Berbagai macam obat telah digunakan untuk pengobatan diare, seperti


antibiotika, antidiare, adsorben, antiemetic, dan obat yang mempengaruhi
mikroflora usus. Beberapa obat mempunyai lebih dari satu mekanisme kerja,
banyak diantaranya mempunyai efek toksik sistemik dan sebagian besar tidak
direkomendasikan untuk anak umur kurang dari 2-3 tahun. Secara umum,
dikatakan bahwa obat-obat tersebut tidak diperlukan untuk pengobatan diare
akut.

1. Antibiotik

Antibiotik pada umumnya tidak diperlukan pada semua diare akut oleh
karena sebagian besar diare infeksi adalah Rotavirus yang sifatnya self-limited
dan tidak dapat dibunuh dengan antibiotik. Hanya sebagian kecil (10-20%) yang
disebabkan oleh bakteri patogen seperti V. cholera, Shigella, Enterotoksigenik E.
coli, Salmonella, Campylobacter, dan sebagainya.

Tabel 13: Antibiotik pada diare

Penyebab Antibiotik pilihan Alternatif


Kolera Tetracycline Erythromycin
12,5 mg/kgBB 12,5 mg/kgBB
4 x/ hari selama 3 hari 4x sehari selama 3 hari
Shigella dysentery Ciprofloxacin Pivmecillinam
15 mg/kgBB 20 mg/kgBB
2x 1 selama 3 hari 4x1 selama 5 hari
Ceftriaxone
50-100 mg/kgBB
1x sehari IM selama 2-
5 hari
Amoebiasis Metronidazole
10 mg/kgBB
3 x 1 selama 5 hari ( 10 hari
pada kasus berat)
Giardiasis Metronidazole
5 mg/kg
3x 1 selama 5 hari

2.3.9. PENCEGAHAN

1. Mencegah penyebaran kuman patogen penyebab diare


Kuman-kuman patogen penyebab diare umumnya disebarkan
secara fekal-oral. Pemutusan penyebaran kuman penyebab diare perlu
difokuskan pada cara penyebaran ini. Upaya pencegahan diare yang
terbukti efektif, meliputi:
a. Pemberian ASI yang benar
b. Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping ASI
c. Penggunaan air bersih yang cukup
d. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun
e. Penggunaan jamban yang bersih dan higienis
f. Membuang tinja bayi yang benar
2. Memperbaiki daya tahan tubuh pejamu (host)
a. Memberi ASI paling tidak sampai usia 2 tahun
b. Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI
c. Imunisasi campak

2. Probiotik
Probiotik diberi batas sebagai mikroorganisme hidup dalam makanan yang
difermentasi yang menunjang kesehatan melalui terciptanya keseimbangan
mikroflora intestinal yang lebih baik. Pencegahan diare dapat dilakukan dengan
pemberian probiotik dalam waktu yang panjang terutama untuk bayi yang tidak
minum ASI.

DSouza dkk tahun 2002 melaporkan bahwa probiotik jika diberikan


bersama-sama dengan antibiotik mengurangi risiko Antibiotic Associated
Diarrhea. Kemungkinan mekanisme efek probiotik dalam pencegahan diare
melalui perubahan lingkungan mikro lumen usus (pH, oksigen), produksi bahan
anti mikroba terhadap beberapa patogen usus, kompetisi nutrien, mencegah
adhesi kuman patogen pada enterosit, modifikasi toksin terhadap mukosa usus
melalui penyediaan nutrien dan imunomodulasi.

Disimpulkan bahwa beberapa probiotik potensial mempunyai efek protektif


terhadap diare, tetapi masih diperlukan penelitian dan evaluasi lebih lanjut
termasuk efektifitas dan keamanannya, walaupun sejauh ini penggunaan
probiotik pada percobaan klini dikatakan aman.

3. Prebiotik

Prebiotik bukan merupakan mikroorganisme akan tetapi bahan makanan.


Umumnya kompleks karbohidrat yang bila dikonsumsi dapat merangsang
pertumbuhan flora intestinal yang menguntungkan kesehatan. Oligosacharida
yang ada di dalam ASI dianggap sebagai prototipe prebiotik karena dapat
merangsang pertumbuhan Lactobacilli dan Bifidobacteria didalam kolon bayi
yang minum ASI. Data menunjukkan angka kejadian diare akut lebih rendah
pada bayi yang minum