Anda di halaman 1dari 17

geologi regional kulon progo

GEOLOGI REGIONAL
II.1. Geomorfologi Regional
Menurut penelitian Van Bemmelen (1948), secara fisiografis Jawa Tengah dibagi
menjadi 3 zona, yaitu :
1. Zona Jawa Tengah bagian utara yang merupakan Zona Lipatan
2. Zona Jawa Tengah bagian tengah yang merupakan Zona Depresi
3. Zona Jawa Tengah bagian selatan yang merupakan Zona Plato
Berdasarkan letaknya, Kulon Progo merupakan bagian dari zona Jawa Tengah bagian
selatan maka daerah Kulon Progo merupakan salah satu plato yang sangat luas yang terkenal
dengan nama Plato Jonggrangan (Van Bemellen, 1948). Daerah ini merupakan
daerah upliftyang memebentuk dome yang luas. Dome tersebut relatif berbentuk persegi
panjang dengan panjang sekitar 32 km yang melintang dari arah utara - selatan, sedangkan
lebarnya sekitar 20 km pada arah barat - timur. Oleh Van Bemellen Dome tersebut diberi
nama Oblong Dome.
Berdasarkan relief dan genesanya, wilayah kabupaten Kulon Progo dibagi menjadi
beberapa satuan geomorfologi antara lain, yaitu :
A. Satuan Pegunungan Kulon Progo
Satuan pegunungan Kulon Progo mempunyai ketinggian berkisar antara 100 1200
meter diatas permukaan laut dengan kemiringan lereng sebesar 15 0 160. Satuan Pegunungan
Kulon Progo penyebarannya memanjang dari utara ke selatan dan menempati bagian barat
wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, meliputi kecamatan Kokap, Girimulyo dan Samigaluh.
Daerah pegunungan Kulon Progo ini sebagian besar digunakan sebagai kebun campuran,
permukiman, sawah dan tegalan.
B. Satuan Perbukitan Sentolo
Satuan perbukitan Sentolo ini mempunyai penyebaran yang sempit dan terpotong oleh
kali Progo yang memisahkan wilayah Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Bantul.
Ketinggiannya berkisar antara 50 150 meter diatas permukaan air laut dengan besar
kelerengan rata rata 15 0. Di wilayah ini, satuan perbukitan Sentolo meliputi daerah
Kecamatan Pengasih dan Sentolo.
C. Satuan Teras Progo
Satuan teras Progo terletak disebelah utara satuan perbukitan Sentolo dan disebelah timur
satuan Pegunungan Kulon Progo, meliputi kecamatan Nanggulan dan Kali Bawang, terutama
di wilayah tepi Kulon Progo
D. Satuan Dataran Alluvial
Satuan dataran alluvial penyebarannya memanjang dari barat ke timur, daerahnya
meliputi kecamatan Temon, Wates, Panjatan, Galur dan sebagian Lendah. Daerahnya relatif
landai sehingga sebagian besar diperuntukkan untuk pemukiman dan lahan persawahan.
E. Satuan Dataran Pantai
a. Subsatuan Gumuk Pasir
Subsatuan gumuk pasir ini memiliki penyebaran di sepanjang pantai selatan Yogyakarta,
yaitu pantai Glagah dan Congot. Sungai yang bermuara di pantai selatan ini adalah kali
Serang dan kali Progo yang membawa material berukuran besar dari hulu. Akibat dari proses
pengangkutan dan pengikisan, batuan tersebut menjadi batuan berukuran pasir. Akibat dari
gelombang laut dan aktivitas angin, material tersebut diendapkan di dataran pantai
dan membentuk gumuk gumuk pasir.
b. Subsatuan Dataran Alluvial Pantai
Subsatuan dataran alluvial pantai terletak di sebelah utara subsatuan gumuk pasir yang
tersusun oleh material berukuran pasir halus yang berasal dari subsatuan gumuk pasir oleh
kegiatan angin. Pada subsatuan ini tidak dijumpai gumuk - gumuk pasir sehingga digunakan
untuk persawahan dan pemukiman penduduk.

II.2. Stratigrafi Regional


Menurut Sujanto dan Ruskamil (1975) daerah Kulon Progo merupakan tinggian yang
dibatasi oleh tinggian dan rendahan Kebumen di bagian barat dan Yogyakarta di bagian timur,
yang didasarkan pada pembagian tektofisiografi wilayah Jawa Tengah bagian selatan. Yang
mencirikan tinggian Kulon Progo yaitu banyaknya gunung api purba yang timbul dan tumbuh
di atas batuan paleogen, dan ditutupi oleh batuan karbonat dan napal yang berumur neogen.
Dalam stratigrafi regional mengenai daerah fieldtrip, dibahas umur batuan berdasarkan
batuan penyusunnya, untuk itu perlu diketahui sistem umur batuan penyusun tersebut. Sistem
tersebut antara lain :
1. Sistem eosen
Batuan yang menyusun sistem ini adalah batu pasir, lempung, napal, napal pasiran,
batu gamping, serta banyak kandungan fosil foraminifera maupun moluska. Sistem eosen ini
disebut Nanggulan group. Tipe dari sistem ini misalnya di desa Kalisongo, Nanggulan
Kulon Progo, yang secara keseluruhannya tebalnya mencapai 300 m. Tipe ini dibagi lagi
menjadi empat yaitu Yogyakarta beds, Discoclyina, Axiena Beds dan Napal
Globirena, yang masing - masing sistem ini tersusun oleh batu pasir, napal, napal pasiran,
lignit dan lempung. Di sebelah timur Nanggulan group ini berkembang facies gamping
yang kemudian dikenal sebagai gamping eosen yang mengandung fosil foraminifera,
colenterata, dan moluska
2. Sistem oligosen miosen
Sistem oligosen miosen terjadi ketika kegiatan vulkanisme yang memuncak dari
Gunung Menoreh, Gunung Gadjah, dan Gunung Ijo yang berupa letusan dan dikeluarkannya
material material piroklastik dari kecil sampai balok yang berdiameter lebih dari 2 meter.
Kemudian material ini disebut formasi andesit tua, karena material vulkanik tersebut bersifat
andesitik, dan terbentuk sebagai lava andesit dan tuff andesit. Sedang pada sistem eosen,
diendapkan pada lingkungan laut dekat pantai yang kemudian mengalami pengangkatan dan
perlipatan yang dilanjutkan dengan penyusutan air laut. Bila dari hal tersebut, maka
sistem oligosen miosen dengan formasi andesit tuanya tidak selaras dengan
sistem eosen yang ada dibawahnya. Diperkirakan ketebalan istem ini 600 m. Formasi andesit
tua ini membentuk daerah perbukitan dengan puncak puncak miring.
3. Sistem miosen
Setelah pengendapan formasi andesit tua daerah ini mengalami penggenangan air laut,
sehingga formasi ini ditutupi oleh formasi yang lebih muda secara tidak selaras. Fase
pengendapan ini berkembang dengan batuan penyusunnya terdiri dari batu gamping reef,
napal, tuff breksi, batu pasir, batu gamping globirena dan lignit yang kemudian disebut
formasi jonggrangan, selain itu juga berkembang formasi sentolo yang formasinya terdiri dari
batu gamping, napal dan batu gamping konglomeratan. Formasi Sentolo sering dijumpai
kedudukannya diatas formasi Jonggrangan. Formasi Jonggrangan dan formasi Sentolo sama
sama banyak mengandung fosil foraminifera yang beumur burdigalian miosen. Formasi
formasi tersebut memilik ipersebaran yang luas dan pada umumnya membentuk daerah
perbukitan dengan puncak yang relative bulat. Diakhir kala pleistosen daerah ini mengalami
pengangkatan dan pada kuarter terbentuk endapan fluviatil dan vulkanik dimana
pembentukan tersebut berlangsung terus menerus hingga sekarang yang letaknya tidak
selaras diatas formasi yang terbentuk sebelumnya.
Berdasarkan system umur yang ditentukan oleh penyusun batuan stratigrafi
regional menurut Wartono Rahardjo dkk(1977), Wirahadikusumah (1989), dan Mac Donald
dan partners (1984), daerah penelitian dapat dibagi menjadi 4 formasi, yaitu :
a. Formasi Nanggulan
Formasi Nanggulan mempunyai penyusun yang terdiri dari batu pasir, sisipan lignit, napal
pasiran dan batu lempungan dengan konkresi limonit, batu gamping dan tuff, kaya akan fosil
foraminifera dan moluska dengan ketebalan 300 m. berdasarkan penelitian tentang umur
batuannya didapat umur formasi nanggulan sekitar eosen tengah sampai oligosen atas.
Formasi ini tersingkap di daerah Kali Puru dan Kali Sogo di bagian timur Kali Progo.
Formasin Nanggulan dibagi menjadi 3, yait
1. Axinea Beds
Formasi paling bawah dengan ketebalan lapisan sekitar 40 m, terdiri dari abut pasir, dan batu
lempung dengan sisipan lignit yang semuanya berfasies litoral, axiena bed ini memiliki
banyak fosil pelecypoda.
2. Yogyakarta beds
Formasi yang berada di atas axiena beds ini diendapkan secara selaras denagn ketebalan
sekitar 60 m. terdiri dari batu lempung ynag mengkonkresi nodule, napal, batu lempung, dan
batu pasir. Yogyakarta beds mengandung banyak fosil poraminifera besar dan gastropoda.
3. Discocyclina beds
Formasi paling atas ini juga diendapkan secara selaras diatas Yogyakarta beds denagn
ketebalan sekitar 200m. Terdiri dari batu napal yang terinteklasi dengan batu gamping dan
tuff vulakanik, kemudian terinterklasi lagi dnegan batuan arkose. Fosil yang terdapat pada
discocyclina beds adalah discocyclina.
b. Formasi Andesit Tua
Formasi ini mempunyai batuan penyusun berupa breksi andesit, lapili tuff, tuff, breksi
lapisi , Aglomerat, dan aliran lava serta batu pasir vulkanik yang tersingkap di daerah kulon
progo. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras dengan formasi nanggulan dengan
ketebalan 660 m. Diperkirakan formasi ini formasi ini berumur oligosen miosen.
c. Formasi Jonggrangan
Formasi ini mempunyai batuan penyusun yang berupa tufa, napal, breksi, batu
lempung dengan sisipan lignit didalamnya, sedangkan pada bagian atasnya terdiri dari batu
gamping kelabu bioherm diselingi dengan napal dan batu gamping berlapis. Ketebalan
formasi ini 2540 meter. Letak formasi ini tidak selaras dengan formasi andesit tua. Formasi
jonggrangan ini diperkirakan berumur miosen. Fosil yang terdapat pada formasi ini ialah
poraminifera, pelecypoda dan gastropoda.
d. Formasi Sentolo
Formasi Sentolo ini mempunyai batuan penyusun berupa batu pasir napalan dan batu
gamping, dan pada bagian bawahnya terdiri dari napal tuffan. Ketebalan formasi ini sekitar
950 m. Letak formasi initak selaras dengan formasi jonggrangan. Formasi Sentolo ini
berumur sekitar miosen bawah sampai pleistosen.
Sedang menurut Van Bemellen Pegunungan Kulon Progo dikelompokkan menjadi
beberapa formasi berdasarkan batuan penyusunnya. Formasi tersebut dimulai dari yang
paling tua yaitu sebagai berikut :
a. Formasi Nanggulan
Formasi Nanggulan mempunyai penyusun yang terdiri dari batu pasir, sisipan lignit, napal
pasiran dan batu lempungan dengan konkresi limonit, batu gamping dan tuff, kaya akan fosil
foraminifera dan moluska dengan ketebalan 300 m. berdasarkan penelitian tentang umur
batuannya didapat umur formasi nanggulan sekitar eosen tengah sampai oligosen atas.
Formasi ini tersingkap di daerah Kali Puru dan Kali Sogo di bagian timur Kali Progo.
Formasin Nanggulan dibagi menjadi 3, yaitu
a. Axinea Beds
Formasi paling bawah dengan ketebalan lapisan sekitar 40 m, terdiri dari abut pasir, dan batu
lempung dengan sisipan lignit yang semuanya berfasies litoral, axiena bed ini memiliki
banyak fosil pelecypoda.
b. Yogyakarta beds
Formasi yang berada di atas axiena beds ini diendapkan secara selaras denagn ketebalan
sekitar 60 m. terdiri dari batu lempung ynag mengkonkresi nodule, napal, batu lempung, dan
batu pasir. Yogyakarta beds mengandung banyak fosil poraminifera besar dan gastropoda.
c. Discocyclina beds
Formasi paling atas ini juga diendapkan secara selaras diatas Yogyakarta beds denagn
ketebalan sekitar 200m. Terdiri dari batu napal yang terinteklasi dengan batu gamping dan
tuff vulakanik, kemudian terinterklasi lagi dnegan batuan arkose. Fosil yang terdapat pada
discocyclina beds adalah discocyclina.
b. Formasi Andesit Tua
Formasi ini mempunyai batuan penyusun berupa breksi andesit, lapili tuff, tuff, breksi
lapisi , Aglomerat, dan aliran lava serta batu pasir vulkanik yang tersingkap di daerah kulon
progo. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras dengan formasi nanggulan dengan
ketebalan 660 m. Diperkirakan formasi ini formasi ini berumur oligosen miosen.
c. Formasi Jonggrangan
Formasi ini mempunyai batuan penyusun yang berupa tufa, napal, breksi, batu
lempung dengan sisipan lignit didalamnya, sedangkan pada bagian atasnya terdiri dari batu
gamping kelabu bioherm diselingi dengan napal dan batu gamping berlapis. Ketebalan
formasi ini 2540 meter. Letak formasi ini tidak selaras dengan formasi andesit tua. Formasi
jonggrangan ini diperkirakan berumur miosen. Fosil yang terdapat pada formasi ini ialah
poraminifera, pelecypoda dan gastropoda.
d. Formasi Sentolo
Formasi Sentolo ini mempunyai batuan penyusun berupa batu pasir napalan dan batu
gamping, dan pada bagian bawahnya terdiri dari napal tuffan. Ketebalan formasi ini sekitar
950 m. Letak formasi initak selaras dengan formasi jonggrangan. Formasi Sentolo ini
berumur sekitar miosen bawah sampai pleistosen
e. Forasi Alluvial dan gumuk pasir
Formasi ini iendapan secara tidak selaras terhadap lapisan batuan yang umurnya lebih
tua. Litologi formasi ini adalah batu apsr vulkanik merapi yang juga disebut formasi
Yogyakarta. Endapan gumuk pasir terdiri dari pasir pasir baik yang halus maupun yang
kasar, sedangkan endapan alluvialnya terdiri dari batuan sediment yang berukuran pasir,
kerikir, lanau dan lempung secara berselang seling.
Dari seluruh daerah Kulon Progo, pegunungan Kulon Progo sendiri termasuk dalam
formasi Andesit tua. Formasi ini mempunyai litologi yang penyusunnya berupa breksi
andesit, aglomerat, lapili, tuff, dan sisipan aliran lava andesit. Dari penelitian yang dilakukan
Purmaningsih (1974) didapat beberapa fosil plankton seperti Globogerina Caperoensis bolii,
Globigeria Yeguaensis weinzeierl dan applin dan Globigerina Bulloides blow. Fosil tersebut
menunjukka batuan berumur Oligosen atas. Karena berdasarkan hasil penelitian
menunjukkan pada bagian terbawah gunung berumur eosin bawah, maka oleh Van bemellen
andesit tua diperkirakan berumur oligosen atas sampai miosen bawah dengan ketebalan 660
m.
II.3. Struktur Geologi Regional
Struktur ini dapat dikenali dengan adanya kenampakan pegunungan yang dikelilingi
oleh dataran alluvial. Secara umum struktur geologi yang bekerja adalah sebagai berikut :
1. Struktur Dome
Menurut Van Bemellen (1948), pegunungan Kulon Progo secara keseluruhan merupakan
kubah lonjong yang mempunyai diameter 32 km mengarah NE SW dan 20 km mengarah
SE NW. Puncak kubah lonjong ini berupa satu dataran yang luas disebut jonggrangan
plateu. Kubah ini memanjang dari utara ke selatan dan terpotong dibagian utaranya oleh sesar
yang berarah tenggara barat laut dan tertimbun oleh dataran magelang, sehingga sering
disebut oblong dome. Pemotongan ini menandai karakter tektonik dari zona selatan jawa
menuju zona tengah jawa. Bentuk kubah tersebut adalah akibat selama pleistosen, di daerah
mempunyai puncak yang relative datar dan sayap sayap yang miring dan terjal.
Dalam kompleks pegunungan Kulon Progo khususnya pada lower burdigalian terjadai
penurunan cekungan sampai di bawah permukaan laut yang menyebabkan terbentuknya
sinklin pada kaki selatan pegunungan Menoreh dan sesar dengan arah timur barat yang
memisahkan gunung Menoreh denagn vulkan gunung Gadjah. Pada akhir miosen daerah
Kulon Progo merupakan dataran rendah dan pada puncak Menoreh membentang pegunungan
sisa dengan ketinggian sekitar 400 m. secara keseluruhan kompleks pegunungan Kulon Progo
terkubahkan selama pleistosen yang menyebabkan terbentuknya sesar radial yang memotong
breksi gunung ijo dan Formasi Sentolo, serta sesar yang memotong batu gamping
Jonggrangan. Pada bagian tenggara kubah terbentuk graben rendah.
2. Unconformity
Di daerah Kulon Progo terdapat kenampakan ketidakselarasan (disconformity) antar
formasi penyusun Kulon Progo. Kenampakan telah dijelaskan dalam stratigrafi regional
berupa formasi andesit tua yang diendapkan tidak selaras di atas formasi Nanggulan, formasi
Jonggrangan diendapkan secara tidak selaras diatas formasi Andesit Tua, dan formasi Sentolo
yang diendapkan secara tidak selaras diatas formasi Jonggrangan.
sumber

Van Bemmelen, R.W..1970. The Geology of Indonesia, volume 1. A.Haque. Netherlands.

Geologi Regional Kulon Progo

GEOLOGI REGIONAL KULON PROGO


Daerah pemetaan kami, yaitu daerah Wates-Pengasih, secara
regional daerah kami masuk kedalam wilayah kabupaten Kulon Progo ,
kecamatan pengasih dan kecamatan wates Daerah Istimewa Yogyakarta.
Secara geologi regional daerah kami termasuk kedalam Kulon
Progo, yang merupakan sebuah plato besar Jongglarangan. Kulon Progo
merupakan bagian dari zona Jawa Tengah bagian selatan, yaitu zona
plato. Bagian utara dan timur Kulon Progo ini dibatasi oleh dataran pantai
Samudera Indonesia dan bagian barat laut berhubungan dengan
Pegunungan Serayu Selatan.
Kulon Progo berasal dari daerah up laf yang luas dan kemudian
membentuk Dome yang luas. Dome tersebut berbentuk reliefpersegi
panjang dengan diameter berarah utara-selatan mencapai 30km,
sedangkan pada arah barat-timur diperkirakan mencapai 15-20km.
Puncak dari dome tersebut berupa dataran yang sangat luas, disebut
plato.
Berdasarkan relief dan genesanya, wilayah kabupaten Kulon Progo
dibagi menjadi beberapa satuan morfologi, yaitu :
1. Satuan Pegunungan Kulon Progo
Satuan pegunungan ini penyebarannya memanjang dari selatan ke
utara dan menempati bagian Daerah Istimewa Yogyakarta, yang meliputi
kecamatan Kokap, Girimulyo dan Samigaluh. Kelerengannya berkisar
antara 15o-600 daerah yang ditempati pegunungan Kulon Progo ini
sebagian besar digunakan sebagai kebun, sawah dan pemukiman.
2. Satuan Perbukitan Sentolo
Satuan Perbukitan ini mempunyai penyebaran yang sempit, karena
terpotong oleh Sungai Progo yang memisahkan wilayah kabupaten Bantul
dan Kabupaten Kulon Progo. Di wilayah Kabupaten Kulon Progo , satuan
pegunungan Sentolo ini meliputi daerah kecamatan Pengasih dan Sentolo.
Ketinggiannya berkisar antara 50-150 m di atas permukaan air laut,
dengan kelerengan 150. Daereh inilah yang menjadi daerah pemetaan
kami.
3. Satuan teras Progo
Satuan Teras Progo terletak di sebelah utara satuan Perbukitan Sentolo
dan di sebelah timur pegunungan Kulon Progo yang meliputi kecamatan
Nanggulan, Kalibawang, terutama di wilayah tepi Kulon Progo.
4. Satuan Dataran Aluvial
Penyebaran satuan dataran aluvial ini memanjang dari barat-timur
yang meliputi kecamatan Temon, Wates, Panjatan, Glur, dan sebagian
besar diperuntukan sebagai lahan persawahan dan pemukiman.

5. Satuan Dataran Pantai


a) Sub satuan Gumuk Pasir
Subsatuan Gumuk Pasir mempunyai penyebaran di sepanjang
pantai selatan Yogyakarta, yaitu pantai Glagah dan Congot. Sungai yang
bermuara di pantai selatan ini adalah kali Serang dan kali Progo yang
membawa material material berukuran pasir dari hulu ke muara. Oleh
sebab itu aktivitas angin material tersebut terendapkan di sepanjang
pantai dan kemudian membentuk gumuk gumuk pasir.
b) Subsatuan Dataran Aluvial Pantai
Subsatuan dataran aluvial pantai terletak di sebelah utara
subsatuan Gumuk Pasir yang tersusun oleh material berukuran pasir yang
berasal dari subsatuan Gumuk Pasir oleh kegiatan angin. Pada satuan ini
tidak dijumpai gumuk gumuk pasir dan sebagian berupa persawahan dan
pemukiman.
Formasi ini merupakan batuan tertua di pegunungan Kulon Progo
dengan lingkungan pengendapanya adalah litorial pada fase genang laut
(van Bammelen). Litologi penyusunya terdiri dari batu pasir dengan
sisipan lignit, napal pasiran , batu lempung dengan konkresi limonit,
sisipan napal dan batu gamping, batu pasir dan tuff kaya akan foriminifera
dan moolusca, diperkirakan ketebalannya 350 m. Wilayah tipe formasi ini
tersusun oleh endapan laut dangkal, batu pasir, serpih dan perselingan
napal dan lignit. Berdasarkan atas studi Foraminifera plankton maka
formasi Nanggulan ini mempunyai kisaran umur antara Eosen Tengah
hingga Oligosen. Formasi ini tersingkap di bagian timur Kulon Progo, di
daerah Sungai Progo dan Sungai Puru, terbagi menjadi 3, yaitu :
a. Axinea Beds yaitu formasi yang terletak paling bawah dengan
ketebalan 40 meter, merupakan tipe endapan laut dangkal yang terdiri
dari batupasir, batuserpih dengan perselingan napal dan lignit yang
semuanya berfasies litoral. Axinea Beds ini banyak mengandung fosil
Pelecypoda.
b. Yogyakarta Beds yaitu formasi yang terendapkan secara selaras di
atas Axinea Beds dengan ketebalan 60 meter. Terdiri dari napal pasiran
berselang seling dengan batupasir dan batulempung yang mengandung
Nummulities Djogjakartae.
c. Discocyclina Beds yaitu formasi yang diendapkan secara selaras di
atas Yogyakarta Beds dengan ketebalan 200 meter. Terdiri dari napal dan
batugamping berselingan dengan batupasir dan serpih. Semakin ke atas
bagian ini berkembang, kandungan foraminifera planktonik yang
melimpah.
2. Formasi Andesit Tua
Formasi Andesit Tua mempunyai litologi berupa breksi andesit, tuff,
aglomerat dan sisipan aliran lava andesit. Kepingan tuff napalan yang
merupakan hasil rombakan dari lapisan yang lebih tua dijumpai di kaki
gunung mudjil, di dekat bagian bawah formasi ini. Ketebalan sekitar 660
m.
3. Formasi Jonggrangan
Litologinya bagian bawah terdiri dari konglomerat, napal tufan,
dan batupasir gampingan dengan kandungan Moluska serta batulempung
dan sisipan lignit. Di bagian atas komposisi Formasi ini berupa batu
gamping berlapis dan batugamping koral. Morfologi yang terbentuk dari
batuan penyusun formasi ini berupa pegunungan dan perbukitan kerucut
dan tersebar di bagian utara pegunungan Kulonprogo. tebal lapisan ini
250-400 meter, umurnya miosen bawah- tengah.
4. Formasi Sentolo
Diendapkan secara tidak selaras. Litologinya batugamping dan
batupasir napalan. Bagian bawahnya terdiri dari konglomerat yang
ditumpangi oleh napal tufaan dengan sisipan tuff. Bagian atas
batugamping yang kaya foraminifera. ketebalannya 950 meter.
5. Endapan Aluvial dan Gugus Pasir
Endapan Aluvial ini terdiri dari kerakal, pasir, lanau, dan lempung
sepanjang sungai yang besar dan dataran pantai. Aluvial sungai
berdampingan Aluvial rombakan bahan vulkanik. Gugus pasir sepanjang
pantai telah dipelajari sebagai sumber besi.
6. Vulkanik Merapi Tua
Vulkanik Marapi Tua berumur Pleistosen atas. Vulkanik
Marapi Tua tersusun atas breksi anglomerat dan lelehan lava, termasuk
andesit dan basalt yang mengandung olivin. Vulkanik Merapi Tua
berdasarkan metode C-14 berumur antara 43590 sampai 2870 sebelum
tahun 1950.
7. Vulkanik Merapi Muda
Vulkanik Merapi Muda berumur Pleistoen Atas, vulkanik ini
tersusun oleh material hasil rombakan endapan merapi Tua berupa
endapan tufa, pasir dan breksi yang terkonsolidasi lemah. Berdasarkan
metode C-14 berumur sekitar 1700 sampai 340 sebelum tahun 1950
8. Formasi Sleman
Merupakan kenampakan bagian bawah dari unit vulkanik klastik hasil vulkanik
merapi termuda (Mac Donald & Partners, 1984). Batuan penyusun berupa pasir dan
kerikil diselingi bongkah-bongkah. Formasi ini dari utara ke selatan semakin tebal.
Formasi Sleman materialnya berasal dari rombakan hasil erupsi Merapi.
9. Formasi Yogyakarta-Wates
Formasi Yogyakarta mempunyai penyebaran di bagian timur pegunungan
Kulon Progo dengan kenampakan morfologi berupa daratan. Komonen penyusun formasi
ini berupa material lepas produk Gunung Merapi Tua dan Merapi Muda
Secara struktur, Pegunungan Kulon Progo merupakan dataran tinggi
yang dicirikan oleh adanya kompleks gunung api purba yang berada di
atas batuan berumur Paleosen dan ditutup oleh batuan karbonat yang
berumur Neosen.
Secara garis besar struktur geologi daerah Kabupaten Kulon Progo
dapat dibagi menjadi dua yaitu Struktur Dome dan Struktur Unconfrmity.
1. Struktur Dome
Kabupaten Kulon Progo termasuk ke dalam
daerah domeyang puncaknya berupa daratan yang luas, biasa disebut
Plato Jonggrangan. Proses geologi yang banyak terjadi yakni orogenesis.
2. Struktur Unconfrmity
Pada perbatasan antara Eosen atas dari Formasi Nanggulan
dengan Formasi Andesit Tua yang berumur Oligosen terdapat
ketidakselarasan berupa disconfrmity, karena lapisan lebih muda dengan
lapisan lebih tua terpaut umur yang sangat jauh walaupun lapisannya
sejajar. Kenampakan telah dijelaskan dalam stratigrafi regional berupa
formasi andesit tua yang diendapkan tidak selaras di atas formasi
Nanggulan, formasi Jonggrangan diendapkan secara tidak selaras diatas
formasi Andesit Tua, dan formasi Sentolo yang diendapkan secara tidak
selaras diatas formasi Jonggrangan.
DAFTAR PUSTAKA
Bemmelen, Van., 1948, The Geologi of Indonesia, Batavia.

Lap.Trip GeoReg KP

TINJAUAN GEOLOGI REGIONAL KULON PROGOL

II.1 Geomorfologi Regional

Rangkaian Pegunungan Kulon Progo termasuk dalam zona selatan Jawa Tengah dan secara
keseluruhan merupakan Plateu (Pannekoek, 1939). Berdasarkan relief dan genesanya,
wilayah ini terbagi menjadi beberapa satuan geomorfologi, yaitu :

1. Satuan Pegunungan Kulon Progo

Satuian Pegunungan Kulon Progo ini penyebarannya memanjang dari selatan ke utara
meliputi kecamatan Kokap, Girimulyo, dan Semigaluh. Kulon Progo merupakan tinggian
yang berbentuk Kubah memanjang dengan sumbu panjang berjarak kurang lebiuh 32 Km
dengan arah Utara Timur Laut Selatan Barat Daya, dan dibatasi oleh tinggian dan rendaham
Kebumen. Dan terjadinya erosi yang sudah cukup intensif menghasilkan morfologi terbiku
kuat oleh penyaluran. Daerah ini banyak digunakan sebagai pemukiman, kebun, sawah, serta
tegalan.

2. Satuan Perbukitan Sentolo

Satuan ini meliputi daerah Pengasih dan Sentolo dan terletak di sebelah timur
Pegunungan Kulon Progo. Satuan ini bisa dibilang memiliki kelerengan yang tidak cukup
curam, rata-rata kelerengan yang terdapat di satuan ini hanyalah 15 dan satuan ini memiliki
ketinggian kurang lebih 50 150 m di atas permukaan air laut.

3. Satuan Teras Progo

Satuan Teras Progo ini meliputi kecamatan Nangggulan dan Kali Bawang tepatnya
terletak di sebelah timur pegunungan Kulon Progo dan di sebelah utara satuan perbukitan
Sentolo.

4. Satuan Dataran Alluvial

Satuan yang terdapat di Kabupaten Kulon Progo selanjutnya adalah Satuan Dataran
Alluvial yang memanjang dari sebelah barat ke timur dan meliputi Kecamatan Wates,
Temon, Panjatan, Galur, dan sebagian Kecamatan Lendah. Satuan ini memiliki
kelerengan yang relatif landai sehingga daerah ini banyak dimanfaatkan sebagai lahan-
lahan persawahan dan pemukiman penduduk.

5. Satuan Dataran Pantai.

Satuan ini dapat dibagi lagi menjadi 2 sub-satuan, antara lain :

a. Sub Satuan Gumuk Pasir

Sub satuan ini terdiri dari daerah byang luas dan memanjang sepanjang pantai selatan,
termasuk Pantai Glagah yang menjadi salah satu Stasiun Pengamatan (STA)
padafieldtrip Kristalografi dan Mineralogi ini. Gumuk-gumuk pasir yang terdapat pada
daerah ini kemungkinan terbentuk akibat dari material-material berukuran pasir yang dibawa
oleh Kali Serang dan Kali Progo yang diendapkan di muara sungai, dan oleh karena aktivitas
debaran ombak yang cukup besar serta adanya angin, kemudian terbentuklah gumuk-gumuk
pasir.

b. Sub Satuan Dataran Alluvial Pantai


Sub satuan ini tersebar di bagian selatan Kulon Progo. Sub satuan ini terdiri dari
material-material berukuran pasir halus yang tertransport dan diendapkan oleh aktivitas
angin di bagian utara dari sub satuan gumuk pasir.

II.2 Stratigrafi Regional

Geologi Regional Kulon Progo menurut Rahardjo,dkk.(1977), stratigrafi regional Kulon


Progo tersusun oleh formasi-formasi dari tua ke muda sebagai berikut :

1. Formasi Nanggulan

2. Formasi Andesit Tua

3. Formasi Jonggrangan

4. Formasi Sentolo

5. Alluvium

1. Formasi Nanggulan

Formasi Nanggulan memiliki ketebalan kurang lebih 300 meter dan berumur Eosen
tengah sampai Oligosen akhir. Formasi ini tersebar pada Kecamatan Nanggulan yang
memiliki morfologi berupa perbukitan bergelombang rendah hingga menengah. Formasi ini
tersusun oleh batupasir yang bersisipan lignit, napal pasiran, batu lempung, sisipan napal dan
batugamping, batupasir dan tuff. Bagian bawah formasi ini tersusun oleh endapan laut
dangkal berupa batupasir, serpih, dan lignit pada perselingannya. Sedangkan bagian atas dari
formasi ini tersusun atas batuan napal, batupasir gampingan, dan tuff yang menunjukkan
wilayah endapan laut neritik.

Formasi Nanggulan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu : Axinea Beds, Yogyakarta Beds,
dan Discocyclina Beds (Marks, 1957)

o Axinea Beds

Merupakan endapan laut dangkal dengan ketebalan 40 meter dan tersusun oleh
batupasir dengan interkalasi lignit lalu diatasnya terdiri dari batupasir dengan
kandungan fosil Pelecypoda

o Yogyakarta Beds (Djogjakartae Beds)

Yogyakarta Beds merupakan formasi yang terbentuk di atas Axinea Beds.


Formasi ini banyak tersusun oleh napal pasiran berselingan dengan batupasir
dan batu lempung yang banyak mengandung Nummulites djogjakartae.
Formasi ini memiliki ketebalan 60 meter.

o Discocyclina Beds

Formasi ini terendapkan di atas Yogyakarta Beds dengan ketebalan 200 meter
dan tersusun atas napal, batugamping, dan batupasir serta serpih sebagai
perselingannya, dan arkose yang berjumlah semakin banyak ke bagian atas
formasi ini. Pada formasi ini dapat dijumpai Discocyclina omphalus sebagai
fosil pencirinya.

2. Formasi Andesit Tua (Old Andestie Formation or OAF

Formasi ini berumur Oligosen akhir hingga Miosen awal yang diketahui dari fosil
plankton yang terdapat pada bagian bawah formasi ini. OAF tersusun atas breksi andesit, tuff,
tuff lapili, aglomerat, dan sisipan aliran lava andesit dan terbentuk oleh karena aktivitas
gunung api purba, yaitu gunung api Gajah, gunung api Ijo, dan gunung api Menoreh (Van
Bemmelen,1949).

3. Formasi Jonggrangan

Formasi ini berumur Miosen awal hingga Miosen tengah dengan ketebalan 250 meter dan
diendapkan pada laut dangkal. Formasi Jonggrangan tersusun atas konglomerat, breksi, tufa,
dan napal serta batugamping yang terendapkan membanetuk seperti kerucut di sekitar Desa
Jonggrangan.

4. Formasi Sentolo

Formasi ini berumur Miosen awal hingg Pliosen (N7-N21) dan terletak di bagian tenggara
pegunungan Kulon Progo dengan morfologi perbukitan bergelombang rendah hingga tinggi.
Formasi ini tersusun oleh batugamping dan batupasir napalan. Bagian bawah formasi ini
tersusun atas konglomerat yang ditumpangi batupasir gampingan, napal tufan dan sisipan tuf
kaca.

5. Alluvium

Alluvium terdiri atas kerakal, pasir, lanau, dan lempung sepanjang sungai yang besar dan
dataran pantai. Alluvium sungai berdampingan dengan alluvium rombakan bahan vulkanik.

Tabel Stratigrafi Regional Kulon Progo

Umur Formasi Litologi


Kuarter Alluvium Kerakal, pasir, lanau, lempung
Pliosen Sentolo Batugamping, batupasir napalan,
konglomerat, batupasir
gampingan, napal tufan, sisipan
tuf kaca
Jonggrangan konglomerat, breksi, tufa, dan
napal serta batugamping
Aquitanian OAF breksi andesit, tuff, tuff lapili,
aglomerat, dan sisipan aliran lava
andesit
Eosen Atas Discocyclina batupasir yang bersisipan lignit,
Beds napal pasiran, batu lempung,
Yogyakarta sisipan napal dan batugamping
Beds
Axinea Beds

II.3 Struktur Geologi Regional

Kulon Progo merupakan suatu perbukitan hasil dari aktivitas gunung api purba pada
masanya, dengan kata lain daerah ini dahulu merupakan kompleks gunung api pada umur
paleogen yang kemudian tertutup oleh batuan karbonat di umur Neogen akibat dari terjadinya
penurunan sehingga daerah ini tergenang air dan kemudian mengalami uplift kembali
sehingga batuan karbonat tersebut tersingkap ke permukaan dan dapat dilihat bahwa terdapat
sesar-sesar normal dengan pola penyaluran radial pada sekitar kubah-kubah hasil dari gunung
api purba.

Menurut keadaan daerahnya, kenampakan struktur yang dominan dapat dibagi menjadi 2,
yaitu struktur Dome dan struktur Unconformity.

a. Struktur Dome

Plato Jonggrangan, merupakan Plato atau dataran tinggi yang luas sebagai penunjuk
adanya struktur Dome ini. Aktifitas-aktifitas yang dominan terjadi adalah karena
orogenesis. Dome ini memanjang dari utara ke selatan dan di bagian utara terpotong oleh
sesar dengan arah tenggara barat laut.

b. Struktur Unconformity

Terdapat ketidakselarasan atau unconformity dari tiap-tiap kontak formasi yang ada pada
daerah Kulon Progo ini. Unconformity yang terjadi adalah ketidakselarasan disconformity
antara formasi formasi berlitologi batuan sedimen seperti Formasi Jonggrangan dan
Formasi Sentolo. Selain itu juga terdapat ketidakselarasan nonconfrmity antara Formasi
Andesit Tua dengan Formasi Jonnggrangan dan/atau Formasi Sentolo.
Stratigrafi Regional Pegunungan Kulon Progo

Berdasarkan stratigrafi regional rangkaian Pegunungan Kulon Progo, dimulai dari yang
paling tua sampai yang paling muda. Menurut Van Bemmelen adalah sebagai berikut :

1. Formasi Nanggulan

Formasi Nanggulan menempati daerah dengan morfologi perbukitan bergelombang


rendah hingga menengah dengan tersebar merata di daerah Nanggulan (bagian
timur Pegunungan Kulon Progo). Secara setempat formasi ini juga dijumpai di daerah
Sermo, Gandul, dan Kokap yang berupa lensa-lensa atau blok xenolit dalam batuan beku
andesit.

Formasi Nanggulan mempunyai tipe lokasi di daerah Kalisongo, Nanggulan. Van


Bemmelen menjelaskan bahwa formasi ini merupakan batuan tertua di Pegunungan
Kulon Progo dengan lingkungan pengendapannya adalah litoral pada fase genang laut.
Litologi penyusunnya terdiri-dari batupasir dengan sisipan lignit, napal pasiran,
batulempung dengan konkresi limonit, sisipan napal dan batugamping, batupasir, tuf
kaya akan foraminifera dan moluska, diperkirakan ketebalannya 350 m. Wilayah tipe
formasi ini tersusun oleh endapan laut dangkal, batupasir, serpih, dan perselingan napal
dan lignit. Berdasarkan atas studi Foraminifera planktonik, maka Formasi Nanggulan ini
mempunyai kisaran umur antara Eosen Tengah sampai Oligosen.

Formasi ini tersingkap di bagian timur Kulon Progo, di daerah Sungai Progo dan Sungai
Puru. Formasi ini terbagi menjadi 3, yaitu :

a. Axinea Beds

Axinea beds, yaitu formasi yang terletak paling bawah dengan ketebalan 40 meter,
merupakan tipe endapan laut dangkal yang terdiri-dari batupasir, serpih dengan
perselingan napal dan lignit yang semuanya berfasies litoral. Axinea beds ini banyak
mengandung fosil Pelecypoda.

b. Yogyakarta Beds

Yogyakarta beds, yaitu formasi yang terendapkan secara selaras di atas Axinea
beds dengan ketebalan 60 meter. Formasi ini terdiri-dari napal pasiran berselang-seling
dengan batupasir dan batulempung yang mengandung Nummulites djogjakartae.

c. Discocyclina Beds

Discocyclina Beds, yaitu formasi yang diendapkan secara selaras di atas Yogyakarta
beds dengan ketebalan 200 meter. Formasi ini terdiri-dari napal dan
batugamping berselingan dengan batupasir dan serpih. Semakin ke atas bagian
ini berkembang kandungan Foraminifera planktonik yang melimpah (Suryanto dan
Roskamil, 1975)

2. Formasi Andesit Tua

Formasi ini diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Nanggulan.


Litologinya berupa breksi volkanik dengan fragmen andesit, lapilli tuf, tuf, lapili breksi,
sisipan aliran lava andesit, aglomerat, serta batupasir volkanik yang tersingkap di daerah
Kulon Progo.

Formasi ini tersingkap baik di bagian tengah, utara, dan barat daya daerah Kulon Progo
yang membentuk morfologi pegunungan bergelombang sedang hingga terjal. Ketebalan
formasi ini kira-kira mencapai 600 m. Berdasarkan fosil Foraminifera planktonik yang
dijumpai dalam napal dapat ditentukan umur Formasi Andesit Tua yaitu Oligosen Atas.

3. Formasi Jonggrangan

Di atas Formasi Andesit Tua diendapkan Formasi Jonggrangan secara tidak selaras.
Formasi ini secara umum, bagian bawah terdiri-dari konglomerat, napal tufan, dan
batupasir gampingan dengan kandungan moluska serta batulempung dengan sisipan
lignit. Di bagian atas, komposisi formasi ini berupa batugamping berlapis dan
batugamping koral. Morfologi yang terbentuk dari batuan penyusun formasi ini berupa
pegunungan dan perbukitan kerucut dan tersebar di bagian utara Pegunungan Kulon
Progo. Ketebalan batuan penyusun formasi ini 250 -400 meter dan berumur Miosen
Bawah Miosen Tengah.

Formasi ini dianggap berumur Miosen Bawah dan di bagian bawah berjemari-jemari
dengan bagian bawah Formasi Sentolo (Pringgo Praworo, 1968:7).

4. Formasi Sentolo

Di atas Formasi Andesit Tua, selain Formasi Jonggrangan, diendapkan juga secara tidak
selaras Formasi Sentolo. Hubungan Formasi Sentolo dengan Formasi Jonggrangan adalah
menjari. Foramasi Sentolo terdiri-dari batugamping dan batupasir napalan.
Bagian bawah terdiri-dari konglomerat yang ditumpuki oleh napal tufan dengan sisipan
tuf kaca. Batuan ini ke arah atas berangsur-angsur berubah menjadi batugamping
berlapis bagus yang kaya akan Foraminifera. Ketebalan formasi ini sekitar 950 m.

5. Endapan Aluvial dan Gugus Pasir

Endapan Aluvial ini terdiri-dari kerakal, pasir, lanau, dan lempung sepanjang sungai yang
besar dan dataran pantai. Aluvial sungai berdampingan dengan aluvial rombakan batuan
vuokanik. Gugus Pasir sepanjang pantai telah dipelajari sebagai sumber besi.

Geomorfologi Regional Pegunungan Kulon Progo

Menurut Van Bemmelen (1949, hlm. 596), Pegunungan Kulon Progo dilukiskan
sebagai dome besar dengan bagian puncak datar dan sayap-sayap curam, dikenal
sebagai Oblong Dome. Dome ini mempunyai arah utara timur laut selatan barat daya
dan diameter pendek 15 20 km dengan arah barat laut timur tenggara.

Gambar 1.

Sketsa Fisografi Jawa (Van Bemmmelen, 1949) dan Citraan Landsat (SRTM NASA, 2004).

Di bagian utara dan timur, komplek pegunungan ini dibatasi oleh Lembah Progo, di
bagian selatan dan barat dibatasi oleh dataran pantai Jawa Tengah. Sedangkan di bagian
barat laut pegunungan ini berhubungan dengan deretan Pegunungan Serayu.

Inti dari dome ini terdiri-dari 3 gunung api andesit tua yang sekarang telah tererosi
cukup dalam, sehingga di beberapa bagian bekas dapur magmanya telah tersingkap.
Gunung Gajah yang terletak di bagian tengah dome tersebut, merupakan gunungapi
tertua yang menghasilkan andesit hiperstein augit basaltik. Gunungapi yang kemudian
terbentuk yaitu Gunungapi Ijo yang terletak di bagian selatan. Kegiatan Gunungapi Ijo
ini menghasilkan andesit piroksen basaltik, kemudian andesit augit hornblende, sedang
pada tahap terakhir adalah intrusi dasit pada bagian inti. Setelah kegiatan Gunung Gajah
berhenti dan mengalami denudasi, di bagian utara mulai terbentuk Gunung Menoreh,
yang merupakan gunung terakhir pada komplek Pegunungan Kulon Progo. Kegiatan
Gunung Menoreh mula-mula menghasilkan andesit augit hornblende, kemudian
menghasilkan dasit dan yang terakhir yaitu andesit.

Dome Kulon Progo ini mempunyai puncak yang datar. Bagian puncak yang datar ini
dikenal sebagai Jonggrangan Platoe yang tertutup oleh batugamping koral dan napal
dengan memberikan kenampakan topografi karst. Topografi ini dijumpai di sekitar Desa
Jonggrangan, sehingga litologi di daerah tersebut dikenal sebagai Formasi Jonggrangan.

Pannekoek (1939), vide (Van Bammelen, 1949, hlm. 601) mengatakan bahwa sisi utara
dari Pegunungan Kulon Progo tersebut telah terpotong oleh gawir-gawir sehingga di
bagian ini banyak yang hancur, yang akhirnya tertimbun di bawah aluvial Magelang.

Struktur Geologi Regional Kulon Progo

Seperti yang sudah dibahas pada geomorfologi regional, Pegunungan Kulon Progo oleh
Van Bemmelen (1949, hlm. 596) dilukiskan sebagai kubah besar memanjang ke arah
barat daya timur laut sepanjang 32 km, dan melebar ke arah tenggara barat laut
selebar 15 20 km. Pada kaki-kaki pegunungan di sekeliling kubah tersebut banyak
dijumpai sesar-sesar yang membentuk pola radial.

Gambar 2.

Skema blok diagram dome Pegunungan Kulon Progo yang digambarkan Van Bemmelen
(1945, hlm. 596).

Pada kaki selatan Gunung Menoreh dijumpai adanya sinklinal dan sebuah sesar dengan
arah barat timur yang memisahkan Gunung Menoreh dengan Gunung Ijo serta pada
sekitar zona sesar.