Anda di halaman 1dari 16

Manajemen Pajak

Penilaian Kembali (Revaluasi) Aktiva Tetap


Dalam kondisi inflasi perusahaan perlu mempertimbangkan untuk melakukan revaluasi,
karena nilai buku tidak bisa mencerminkan harga pasar yang berlaku saat itu. Hal-hal yang perlu diperhatikan
jika perusahaan ingin melakukan revaluasi aktiva tetap antara lain adalah pembayaran PPh sebesar 10% atas
selisih lebih nilai wajar atau nilai pasar dikurangi nilai buku fiskal.
Aktiva yang telah direvaluasi tak dapat dialihkan dalam waktu 5 tahun, jika dialihkan maka akan dikenakan PPh
tambahan 15% lagi dari selisih revaluasi yang telah dikenakan pajak, kecuali dialihkan kepada pemerintah, untuk
menggabungkan, peleburan dan pemekaran usaha.
Nilai wajar atau nilai pasar merupakan nilai buku awal setelah direvaluasi, merupakan dasar penyusutan
selanjutnya.
Penilaian kembali aktiva tetap bagi perusahaan mempunyai fungsi:
a. Perhitungan harga pokok akan menghasilkan nilai yang mendekati harga pokok yang wajar;
b. Meningkatkan struktur modal sendiri, artinya perbandingan antara pinjaman (debt) dengan modal sendiri (equity)
atau Debt to Equity Ratio (DER) menjadi membaik. Dengan membaiknya DER perusahaan dapat menarik dana baik
melalui pinjaman dari pihak ketiga atau melalui emisi saham;
c. Pembayaran PPh atas selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap sebesar 10% yang bersifat final apakah cukup
menarik bagi perusahaan untuk melakukan revaluasi.
Revaluasi Aktiva Tetap
Bedasarkan PABU
Revaluasi aktiva tetap dalam akuntansi pada umumnya tidak diperkenankan kecuali ditentukan berdasarkan
peraturan pemerintah, misalnya peraturan pajak. Dalam PSAK 16 disebutkan bahwa penilaian kembali aktiva
tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena standar akuntansi keuangan menganut penilaian aktiva
berdasarkan harga perolehan atau harga pertukaran.
Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah. Dalam hal ini laporan
keuangan harus menjelaskan mengenai penyimpangan dari konsep harga perolehan di dalam penyajian aktiva
tetap serta pengaruh penyimpangan tersebut terhadap gambaran keuangan perusahaan. Selisih revaluasi dengan
nilai buku (nila tercatat) aktiva tetap dibukukan dalam akun modal dengan nama selisih penilaian kembali
aktiva tetap.
Revaluasi atau pernyataan kembali (restatement) aktiva dan kewajiban menimbulkan kenaikan atau penurunan
ekuitas. Meskipun memenuhi definisi penghasilan dan beban, menurut konsep pemeliharaan modal tertentu,
kenaikan dan penurunan ini tidak di masukkan dalam laporan laba rugi. Sebagai alternatif pos ini dimasukkan ke
dalam ekuitas sebagai penyesuaian pemeliharaan modal atau cadangan revaluasi.
Revaluasi Aktiva Tetap
Bedasarkan Fiskal
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 79/PMK.03/2008 Tanggal 14 Agustus 1998 dan
Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER - 12/PJ/2009 :
(1) Perusahaan dapat melakukan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan untuk tujuan
perpajakan, dengan syarat telah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa
pajak terakhir sebelum masa pajak dilakukannya penilaian kembali.
(2) Perusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Wajib Pajak badan dalam negeri dan
bentuk usaha tetap (BUT), tidak termasuk perusahaan yang memperoleh izin menyelenggarakan
pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat.
(3) Untuk melakukan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan, perusahaan mengajukan
permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak.
Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan dilakukan terhadap:
a. seluruh aktiva tetap berwujud, termasuk tanah yang berstatus hak milik atau hak guna bangunan; atau
b. seluruh aktiva tetap berwujud tidak termasuk tanah, yang terletak atau berada di Indonesia, dimiliki,
dan dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan Objek
Pajak.
Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dilakukan
kembali sebelum lewat jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak penilaian kembali aktiva tetap
perusahaan terakhir yang dilakukan berdasarkan PMK 79/PMK.03/2008.
Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan harus dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar
aktiva tetap tersebut yang berlaku pada saat penilaian kembali aktiva tetap yang ditetapkan oleh
perusahaan jasa penilai atau ahli penilai, yang memperoleh izin dari Pemerintah.
Dalam hal nilai pasar atau nilai wajar yang ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai atau ahli penilai
ternyata tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya, Direktur Jenderal Pajak menetapkan kembali
nilai pasar atau nilai wajar aktiva yang bersangkutan. Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan
dilakukan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun sejak tanggal laporan perusahaan jasa penilai
atau ahli penilai.
Atas selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan di atas nilai sisa buku fiskal semula
dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 10% (sepuluh persen).
Perusahaan yang karena kondisi keuangannya tidak memungkinkan untuk melunasi sekaligus Pajak Penghasilan
yang terutang, dapat mengajukan permohonan pembayaran secara angsuran paling lama 12 (dua belas) bulan
sesuai ketentuan Pasal 9 ayat (4) tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
Sejak bulan dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap perusahaan berlaku ketentuan sebagai berikut :
a. Dasar penyusutan fiskal aktiva tetap yang telah memperoleh persetujuan penilaian kembali adalah nilai pada
saat penilaian kembali.
b. Masa manfaat fiskal aktiva tetap yang telah dilakukan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan disesuaikan
kembali menjadi masa manfaat penuh untuk kelompok aktiva tetap tersebut.
c. Perhitungan penyusutan dimulai sejak bulan dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap perusahaan.
Untuk bagian tahun pajak sampai dengan bulan sebelum bulan dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap
perusahaan berlaku ketentuan sebagai berikut :
a. Dasar penyusutan fiskal aktiva tetap adalah dasar penyusutan fiskal pada awal tahun pajak yang
bersangkutan.
b. Sisa masa manfaat fiskal aktiva tetap adalah sisa manfaat fiskal pada awal tahun pajak yang bersangkutan.
c. Perhitungan penyusutannya dihitung secara prorata sesuai dengan banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak
tersebut.
Penyusutan fiskal aktiva tetap yang tidak memperoleh persetujuan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan,
tetap menggunakan dasar penyusutan fiskal dan sisa manfaat fiskal semula sebelum dilakukannya penilaian
kembali aktiva tetap perusahaan.
Dalam hal Perusahaan melakukan pengalihan aktiva tetap berupa:
a. Aktiva tetap kelompok 1 (satu) dan kelompok 2 (dua) yang telah memperoleh persetujuan
penilaian kembali sebelum berakhirnya masa manfaat yang baru; atau
b. Aktiva tetap kelompok 3 (tiga), kelompok 4 (empat), bangunan, dan tanah yang telah memperoleh
persetujuan penilaian kembali sebelum lewat jangka waktu 10 (sepuluh) tahun,
maka atas selisih lebih penilaian kembali diatas nilai sisa buku fiskal semula, dikenakan tambahan
Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan tarif sebesar tarif tertinggi Pajak Penghasilan Wajib
Pajak badan dalam negeri yang berlaku pada saat penilaian kembali dikurangi 10% (sepuluh
persen).
Ketentuan sebagaimana dimaksud di atas tidak berlaku bagi:
a. Pengalihan aktiva tetap perusahaan yang bersifat force majeur berdasarkan keputusan atau
kebijakan Pemerintah atau keputusan Pengadilan;
b. Pengalihan aktiva tetap perusahaan dalam rangka penggabungan, peleburan, atau pemekaran
usaha yang mendapat persetujuan; atau
c. Penarikan aktiva tetap perusahaan dari penggunaan karena mengalami kerusakan berat yang tidak
dapat diperbaiki lagi.
Selisih antara nilai pengalihan aktiva tetap perusahaan dengan nilai sisa buku fiskal pada saat
pengalihan merupakan keuntungan atau kerugian berdasarkan Undang-Undang Pajak Penghasilan.
Selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan di atas nilai sisa buku
komersial semula setelah dikurangi dengan Pajak Penghasilan harus dibukukan
dalam neraca komersial pada perkiraan modal dengan nama "Selisih Lebih
Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan Tanggal ........................".
Pemberian saham bonus atau pencatatan tambahan nilai nominal saham tanpa
penyetoran yang berasal dari kapitalisasi selisih lebih penilaian kembali aktiva
tetap perusahaan, sampai dengan sebesar selisih lebih penilaian kembali secara
fiskal, bukan merupakan Objek Pajak berdasarkan Pasal 4 ayat (1) huruf g Undang-
Undang Pajak Penghasilan.
Dalam hal selisih lebih penilaian kembali secara fiskal lebih besar daripada selisih
lebih penilaian kembali secara komersial, pemberian saham bonus atau pencatatan
tambahan nilai nominal saham tanpa penyetoran yang bukan merupakan Objek
Pajak sebagaimana dimaksud di atas, hanya sampai dengan sebesar selisih penilaian
kembali secara komersial.
Persyaratan Administrasi Setelah Revaluasi Aktiva Tetap

Setelah melakukan revaluasi aktiva tetap maka Wajib Pajak memberitahukan hasil penilaian kembali dengan
mengisi formulir yang telah disediakan kepada Dirjen Pajak cq.Ka.KPP tempat WP terdaftar dengan
melampirkan hal-hal sebagai berikut:
a. Laporan penilaian dari perusahaan penilai/penilai profesional yang diakui oleh pemerintah;
b. Neraca penyesuaian yang telah diaudit oleh akuntan publik yang secara kelas terlihat nilai aktiva sebelum
dan sesudah dilakukannya revaluasi aktiva tetap;
c. Penghitungan selisih lebih akibat revaluasi aktiva tetap dan perhitungan besarnya PPh terutang;
d. Surat Setoran Pajak (SSP).
Jangka Waktu Pengambilan Keputusan oleh Otoritas Pajak

Dalam jangka waktu paling lama 1 bulan setelah tanggal pemberitahuan Wajib Pajak diterima secara lengkap
Dirjen Pajak cq. Ka.KPP wajib menerbitkan SK pengesahan/penolakan atas neraca penyesuaian yang
dilaporkan oleh WP yang melakukan revaluasi aktiva tetap. Apabila dalam jangka waktu tersebut Dirjen Pajak
cq. Ka.KPP tidak/belum memberikan pengesahan/penolakan, maka neraca penyesuaian yang disampaikan
oleh WP dianggap disetujui demin kepastian hukum.
Akuntansi Selisih Lebih Akibat Revaluasi Aktiva Tetap

Selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan di atas nilai sisa buku
komersial semula setelah dikurangi dengan Pajak Penghasilan harus dibukukan
dalam neraca komersial pada perkiraan modal dengan nama "Selisih Lebih
Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan Tanggal ........................".
Pemberian saham bonus atau pencatatan tambahan nilai nominal saham tanpa
penyetoran yang berasal dari kapitalisasi selisih lebih penilaian kembali
aktiva tetap perusahaan, sampai dengan sebesar selisih lebih penilaian
kembali secara fiskal, bukan merupakan Objek Pajak berdasarkan Pasal 4 ayat
(1) huruf g Undang-Undang Pajak Penghasilan.
Dalam hal selisih lebih penilaian kembali secara fiskal lebih besar daripada
selisih lebih penilaian kembali secara komersial, pemberian saham bonus atau
pencatatan tambahan nilai nominal saham tanpa penyetoran yang bukan
merupakan Objek Pajak sebagaimana dimaksud di atas, hanya sampai dengan
sebesar selisih penilaian kembali secara komersial.
Kebijakan Efisiensi

SE - 19/PJ.42/1999 TENTANG lAPORAN PEMERIKSAAN ATAS NERACA PENYESUAIAN DALAM RANGKA PENILAIAN
KEMBALI AKTIVA TETAP PERUSAHAAN

1. Apabila neraca penyesuaian dalam rangka penilaian kembali aktiva tetap perusahaan telah dilakukan
pemeriksaan umum (general audit) oleh akuntan publik, maka neraca penyesuaian tersebut tidak
perlu lagi dilakukan pemeriksaan khusus (special audit);

2. Apabila neraca penyesuaian dalam rangka penilaian kembali aktiva tetap perusahaan belum
dilakukan pemeriksaan oleh akuntan publik, maka neraca penyesuaian tersebut cukup dilakukan
pemeriksaan secara khusus (special audit) oleh akuntan publik..
Manajemen Pajak
Revaluasi Aktiva Tetap
Contoh:

PT Melati tahun 2010 membeli aktiva tetap berupa mesin dengan harga perolehan RP 400 juta. Mesin tersebut
termasuk dalam aktiva kelompok 2 dan selama ini perusahaan menggunakan metode penyusutan garis lurus. Pada
awal tahun 2013 berdasarkan penilaian dari perusahaan jasa penilai yang diakui oleh pemerintah, nilai wajar dari
mesin Rp 600 juta. Apakah perusahaan sebaiknya melakukan revaluasi? Jika kondisi perusahaan diasumsikan sebagai
berikut:
a. Perusahaan tidak mempunyai rugi fiskal;
b. Tahun 2008 perusahaan mengalami rugi fiskal sebesar Rp 1 miliar dan sampai tahun 2012 baru sebesar Rp 500 juta
yang telah dikompensasi dan laba tahun berjalan diprediksi Rp 200 juta.
Jika dilakukan revaluasi:
Harga perolehan mesin Rp 400 juta
Akumulasi penyusutan Rp 150 juta
Nilai buku mesin Rp 250 juta
Nilai revaluasi Rp 600 juta

Selisih lebih revaluasi Rp 350 juta*

*selisih lebih merupakan objek PPh yang dikenakan tarif 10% final.
Perusahaan Tidak Mempunyai Rugi Fiskal

Karena perusahaan tidak mempunyai rugi fiskal maka yang harus dipertimbangkan
adalah besarnya laba yang diperoleh tahun berjalan.
maka perlu dihitung nilai tunai (cash flow) dari jumlah penyusutan aktiva yang
berasal dari selisih lebih, baru kemudian dibandingkan dengan PPh final yang
harus dibayar.
Perusahaan Mempunyai Rugi Fiskal (Aturan Lama)

Jika perusahaan mempunyai rugi fiskal, misalnya Rp 500 juta dan laba tahun berjalan
diprediksi hanya Rp 200 juta, maka akan ada kompensasi kerugian yang hangus sebesar Rp
300 juta (karena sudah lima tahun).
Daripada kompensasi tersebut hangus, perusahaan sebaiknya melakukan revaluasi pada tahun
tersebut. Hal ini karena selish lebih revaluasi sebesar Rp 350 juta dikompensasi terlebih
dahulu dengan sisa rugi fiskal, sehingga tidak dikenakan PPh final.
Dengan demikian rugi fiskal pada tahun 2013 tinggal sebesar Rp 50 juta, dan apabila laba
tahun berjalan Rp 200 juta, maka perusahaan tinggal membayar pajak untuk laba setelah di
kompensasi sebesar Rp 150 juta.
Di samping itu, perusahaan juga akan mendapat tambahan biaya penyusutan dari revaluasi,
yang juga akan mengurangi laba fiskal.