Anda di halaman 1dari 6

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

STUDY KASUS
MANAJEMEN PADA PT. GOJEK INDONESIA

oleh:
Aji Wibisono 6D/04
Faisal Akbar Harahap 6D/11
Rian Solihin 6D/30
Saefuloh Hidayah 6D/33
Wahyu Nugroho Hadi 6D/35

Mahasiswa Program Diploma III Keuangan


Spesialisasi Akuntansi Alih Program
Tahun Akademik 2015/2016

MANAJEMEN 0
PENDAHULUAN

1 Latar Belakang

Sejumlah pengemudi Go-Jek yang menamakan diri G99 mengadu ke Kantor


Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Mereka datang ke LBH Jakarta untuk
mengadukan ketidakpuasan terhadap manajemen PT Go-Jek Indonesia. Ketua tim
gugatan G99, Choky Pangabean menuturkan, ada beberapa masalah yang diadukan
pengemudi Go-Jek, diantaranya soal perjanjian kemitraan, tarif dan bonus. Choky
mengungkapkan, perjanjian kemitraan yang dibuat sekitar Juni 2016 itu dinilai hanya
berpihak pada kepentingan manajemen G0-Jek dan tidak memedulikan kepentingan
pengemudi. Para pengemudi merasa tidak mendapat pemahaman yang jelas terkait
perjanjian kemitraan tersebut. Salah satu poin pada perjanjian kemitraan baru adalah
pada tarif perkilometer yang semakin diturunkan manajemen Go-Jek. Jika tarif
sebemlumnya sempat Rp 4.000,00 perkilometer, sekarang pengemudi menerima
bersih Rp 2.000,00 perkilometer. Selain itu CEO PT Go-Jek, Nadiem Makarim,
dalam pertemuan di Mapolda Metro Jaya dengan 20 perwakilan pengemudi Go-Jek,
juga mengakui adanya gangguan pada server aplikasi Go-Jek terkait permasalah
bonus pengemudi yang hilang. Namun, Nadiem dianggap tidak menyelesaiakan
permasalah bonus pengemudi yang hilang tersebut. Belum selesai masalah bonus itu,
manajemen Go-Jek kemudian membuat kebijakan pesan Gobis terbaru. Kebijakan itu
dinilai membuat pengemudi semakin sulit mendapatkan bonus. Pasalnya, angka
pencapaian poin untuk mendapatkan bonus naik dari 14 menjadi 18.

2 Tujuan
a. Untuk menjelaskan permasalahan tarif dan bonus pada manajemen PT Go-Jek
yang kian merugikan pihak pengemudi
b. Untuk menjelaskan tindak lanjut dari pihak manajemen PT Go-Jek terkait
permasalah tarif dan bonus bagi pengemudi Go-Jek

MANAJEMEN 1
PEMBAHASAN

1. Permasalahan

Tidak puas dengan manajemen Go-Jek terkait dengan beberapa permasalahan


berikut :

a. Perjanjian kemitraan
Perjanjian kemitraan yang dibuat sekitar bulan Juni 2016 dinilai hanya berpihak
pada kepentingan manajemen Go-Jek dan tidak mementingkan kepentingan
pengemudi. Para pengemudi merasa tak mendapat pemahaman yang jelas terkait
perjanjian kemitraan tersebut. Pengemudi juga terpaksa menyetujui perjanjian
kemitraan baru karena merasa khawatir diputus kemitraannya. Hal ini dinilai
tidak sesuai dengan prinsip kemitraan.
b. Tarif
Pengemudi menyinggung tarif per kilometer yang semakin diturunkan
manajemen Go-Jek. Jika sebelumnya tarif tersebut sempat Rp 4.000,00 per km,
sekarang pengemudi hanya mendapat Rp 2.000,00 per km. Hal ini dianggap tidak
manusiawi bagi pengemudi jika mengacu pada kebutuhan, harga BBM, dan
Inflasi .
c. Bonus
Sempat terjadi masalah pada server Go-Jek yang membuat para pengemudi
kehilangan bonusnya. Hal tersebut juga telah diakui pihak manajemen, namun
tidak ada tindak lanjut untuk mengganti kerugian yang diderita para mitra driver
yang seharusnya berhak mendapatkan bonus.
Manajemen membuat kebijakan pesan Gobis terbaru. Kebijakan ini dinilai
membuat pengemudi semakin sulit mendapatkan bonus. Pasalnya, angka
pencapaian poin untuk mendapatkan bonus naik dari 14 menjadi 18. Ini membuat
banyak pengemudi kelelahan karena bertugas untuk mencapai bonus.

2. Penyelesaian Permasalahan

MANAJEMEN 2
Dalam organisasi yang memiliki budaya kuat, kinerja organisasinya akan cenderung
lebih baik. Tentunya tantangan yang dihadapi dalam mengelola budaya perusahaan
akan semakin banyak, terutama ketika perusahaan terus tumbuh dan bertambah
besar. Go-Jek adalah salah satu contoh perusahaan yang sedang berkembang dan
mulai tumbuh besar. Masalah yang sedang dialami Go-Jek ini adalah salah satu
tantangan yang harus dihadapi manajemen, utamanya dalam mengelola budaya
perusahaan agar kinerja Go-Jek menjadi lebih baik. Berikut beberapa uraian
penyelesaian permasalahan terkait dengan kejadian tersebut di atas.

a. Perjanjian kemitraan
Budaya Organisasi yang kuat dapat bertahan salah satunya adalah dari
tindakan para manajer puncak melalui perkataan dan perilaku mereka. Dalam
hal ini manajemen Go-Jek tidak mengimplementasikan peran penting ini
dengan baik, sehingga yang terjadi adalah kegaduhan pengemudi Go-Jek
selaku karyawan. Tugas manajer adalah berkomunikasi dengan para karyawan
dan mendorong mereka untuk mengerahkan usaha terbaik. Seharusnya
manajemen peduli terhadap kepuasan para karyawannya. Kepedulian tersebut
dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, manajemen melakukan sosialisasi
terlebih dahulu, dan memastikan pengemudinya paham terkait dengan
perjanjian kemitraan tersebut. Kedua, manajemen melibatkan pengemudi
untuk mengemukakan usulan dan pendapat untuk ditinjau serta
dipertimbangkan terkait keputusan yang akan dilahirkan oleh manajemen
dalam kasus ini terkait dengan perjanjian kemitraan. Terakhir, sebuah
kebijakan hendaknya tidak mendahulukan kepentingan golongan dalam hal ini
kepentingan manajemen saja, tetapi harus dapat mewakili kepentingan
perusahaan Go-Jek secara keseluruhan sesuai tujuan organisasi tersebut.

b. Tarif & Bonus


Tidak dipungkiri lagi, kebijakan manajemen Go-Jek menurunkan tarif per
klimoter dari Rp 4.000,00 per km ke Rp 2.000,00 per km salah satunya adalah
pengaruh dari pesaing-pesaingnya. Organisasi bisnis yang memiliki lini bisnis

MANAJEMEN 3
yang sama dengan Go-Jek mulai unjuk aksi dengan menawarkan segudang
tarif promo, sehingga perang tarif pun terjadi. Jika dilihat dari perspektif
simbolis terhadap manajemen, langkah pesaing ini adalah faktor eksternal
yang tidak bisa dikontrol oleh manajemen Go-Jek. Namun tentunya,
manajemen tidak dapat begitu saja mengabaikannya. Tarif pesaing mungkin
tidak dapat dikontrol, tetapi penentuan tarif dari Go-Jek sendiri tentunya
adalah ranah dari manajemen. Kembali lagi, dalam membuat kebijakan
haruslah mempertimbangkan berbagai aspek, antara lain kesejahteraan
karyawan dan komunikasi yang baik terhadap karyawan. Apabila memang
tarif Rp 2.000,00 per km dan kebijakan pencapaian poin untuk mendapatkan
bonus naik dari 14 menjadi 18 adalah jalan terbaik setelah dihitung cost and
benefit-nya, maka seharusnya manajemen harus bisa mengkomunikasikan dan
memberi pengertian kepada karyawannya dalam hal ini pengemudi Go-Jek.

Untuk masalah bonus, manajemen harus memberikan upah yang adil untuk
jasa kerja yang telah diberikan pengemudi Go-Jek selaku karyawan. Apabila
memang ditemukan kesalahan ada di pihak manajemen dan telah diakui, maka
seharusnya kesalahan tersebut haruslah diperbaiki. Manajemen harus
menyerahkan apa yang sudah menjadi hak dari karyawannya.

PENUTUP

Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kami ambil adalah:

MANAJEMEN 4
a. Organisasi yang memiliki budaya kuat, kinerja organisasinya akan cenderung
lebih baik
b. Go-Jek adalah salah satu contoh perusahaan yang sedang berkembang dan mulai
tumbuh besar, sehingga perlu membentuk budaya organisasi yang kuat
c. Tugas manajer adalah berkomunikasi dengan para karyawan dan mendorong
mereka untuk mengerahkan usaha terbaik
d. Sebuah kebijakan hendaknya tidak mendahulukan kepentingan golongan dalam
hal ini kepentingan manajemen saja, tetapi harus dapat mewakili kepentingan
perusahaan Go-Jek secara keseluruhan sesuai tujuan organisasi tersebut
e. Langkah pesaing adalah faktor eksternal yang tidak bisa dikontrol oleh
manajemen Go-Jek, tetapi penentuan tarif dari Go-Jek sendiri adalah ranah dari
manajemen
f. Manajemen harus menyerahkan apa yang sudah menjadi hak dari karyawannya
atas dasar jasa kerja yang telah diberikan

MANAJEMEN 5