Anda di halaman 1dari 14

SOAL:

A. Pengertian konstruksi berkelanjutan dengan kata-kata sendiri


B. Implementasi pada tahap perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi,
operasi dan pemeliharaan, dekonstruksi.
PENGERTIAN KONSTRUKSI BERKELANJUTAN
Pengertian konstruksi berkelanjutan menurut para ahli adalah sebagai berikut:
Implementasi konsep green construction oleh para pelaku jasa konstruksi
dalam rangka memenuhi tantangan pembangunan yang berkelanjutan
(Agoes Widjanarko ,Sekjen Kementrian PU, 2011).
Menciptakan dan mengoperasikan lingkungan buatan yang sehat
berdasarkan efisiensi sumberdaya dan ekologi (Conceil International du
Batiment, 1994)
Penciptaan dan manajemen yang bertanggung jawab lingkungan
kesehatan yang dibangun berdasarkan pada sumber daya yang efisien
dan prinsip-prinsip ekologi (Building Services Research And Information
Association, 1996)
Menurut saya, konstruksi berkelanjutan adalah menciptakan dan
mengoperasikan lingkungan buatan yang sehat sesuai perkembangan kebutuhan
manusia berdasarkan pada sumber daya yang efisien dan prinsip-prinsip
konstruksi berkelanjutan.
Prisip-prinsip konstruksi berkelanjutan meliputi:
1. Reduce
2. Reuse
3. Recycle
4. Protect Nature
5. Eliminate Toxics
6. Life-Cycle Costing
7. Quality

IMPLEMENTASI
Tahap Perencanaan Teknis
Pada tahap ini proyek yang akan dibangun dirumuskan dengan
mempertimbangkan 3 aspek sustainable, yaitu Ekonomi, Sosial-Politik, dan
Lingkungan. Secara spesifik, konsep sustainability yang dimaksud adalah
meliputi membuat framework bangunan, karakteristiknya, performance goal dan
kelayakan objektif proyek dengan mempertimbangkan aspek fisik dan non fisik.
Aspek fisik terdiri dari lokasi geografi, aksesabilitas, transportasi, kondisi
lingkungan, infrastruktur setempat, dan aset. Aspek non fisik meliputi regulasi,
standart, isu ekonomi dan keuangan, isu politik, komunitas, sosial dan budaya,
industri, dan isu teknologi.
Pada tahap ini pula dilakukan pengembangan konsep, detail desain dan disusun
dokumen-dokumen pendukung lainnya, seperti Metode Kerja, RKS, SMK3, Bahan
dan alat yang digunakan, dll.

1
Pelaksanaan Konstruksi
Pada tahap ini, pihak kontraktor dan subkontraktor beserta pekerjanya
memegang peranan penting untuk menjalankan prinsip-prinsip konstruksi
berkelanjutan dalam pelaksanaan konstruksi. Berdasarkan identifikasi LEED-NC
dan Green Globes standart penilaian pelaksanaan konstruksi meliputi
pengelolaan limbah konstruksi, pengendalian erosi dan sedimentasi, membatasi
jejak/limbah operasi konstruksi, dan menjaga kualitas udara. Beberapa usaha
yang dapat dilakukan antara lain:
Meningkatkan penanganan terhadap material (termasuk
penyimpanannya) untuk mengurangi limbah konstruksi.
Mendaur ulang material seperti tanah, batu, aspal dan beton kedalam
proyek yang baru.
Pembuatan ketentuan untuk pemasangan produk dan material guna
mereduksi pencemaran udara.
Melakukan pelatihan secara intensif kepada subkontraktor mengenai
manajemen penggelolaan limbah konstruksi
Meminimalkan dampak dari operasi konstruksi , seperti pemadatan tanah
dan perusakan pohon yang tidak perlu di lokasi proyek.
Pada intinya, kontraktor harus melaksanakan hal-hal sebagai berikut:
Perencanaan perlindungan site
Perencanaan keselamatan dan kesehatan
Manajemen limbah konstruksi dan pembongkaran
Pelatihan terhadap subkontraktor
Mereduksi limbah dari operasi konstruksi
Penanganan terhadap material dan penyimpanannya
Menjaga kualitas udara selama konstruksi

Operasi Dan Pemeliharaan


Pada tahap operasi dan pemeliharaan konsep sustainability dilakukan dengan
menjalankan bangunan sesuai fungsi yang telah direncanakan dan melakukan
pemeliharaan rutin dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan, suhu
udara, cahaya, penghematan energi, air, dan melakukan manajemen limbah
secara terpadu.
Dekonstruksi.
Ketika bangunan/ infrastruktur telah habis umur rencananya atau sudah tidak
dibutuhkan lagi maka bangunan tersebut dapat dibongkar. Pembongkaran harus
dilakukan dengan baik sehingga tidak menganggu lingkungan, seperti
pencemaran udara, air atau menimbulkan kebisingan yang berlebihan. Material-
material sisanya diatur sedemikian rupa sehingga dapat digunakan kembali dan
tidak mencemari lingkungan. Misalnya material bekas dinding dan beton
dimanfaatkan untuk urugan.

2
KATAK REBUS, KAPAL TENGELAM,
TANGGUL MELEDAK DAN AKHIR DUNIA SEPERTI YANG KITA TAHU

Paper ini mengambarkan adanya ancaman lingkungan dan social-ekonomi yang


semakin mengkhawatirkan. Tanda-tanda akan hadirnya akhir dunia semakin
terlihat jelas. Peningkatan suhu bumi, iklim yang tidak menentu, kekeringan,
banjir, tanah longsor, polusi udara, air dan pencemaran tanah merupakan
tanda-tanda bahwa bumi sedang menangis kesakitan.
Kebakara
n
Muncul suatu pertanyaan, bagaimanakah tanggapan kita ? Apakah tanggapan
kita benar-benar untuk perbaikan ke depan ? Untuk saat ini, sebagian besar
tanggapan sektor konstruksi telah jatuh dalam satu dari tiga kategori, yaitu:
a. Tidak melakukan apa-apa
Kondisi ini dianalogikan dengan katak yang direbus dalam wajan.
Katak yang dimasukkan kedalam wajan yang berisi air panas akan
segera merespon dengan meloncat keluar. Tetapi akan berbeda
ketika katak tersebut dimasukkan kedalam wajan yang berisi air
dingin kemudian dipanaskan secara bertahap. Katak tersebut diam
saja karena merasa lingkungannya tidak berbahaya baginya.
Mungkin sementara memang benar, namun lama-lama air dalam
wajan tersebut tentunya akan semakin panas. Dan ketika katak
tersebut terlambat menyadarinya, dia akan mati. Di seluruh dunia,
sebagian besar pelaku di sektor konstruksi masih mengikuti
pendekatan ini.
b. Berpura-pura melakukan sesuatu
Kondisi kedua ini dianalogikan dengan kapal yang akan menabrak
gunung es. Semuanya tahu bahwa jika kapal yang mereka
tumpangi menabrak gunung es, maka kapal akan hancur dan
tengelam dan mereka akan mati. Alih-alih mencoba merubah arah
kapal, mereka malah hanya berdiskusi untuk melakukan yang
terbaik tanpa melakukan action. Sehinga hasil diskusinyapun akan
percuma, karena tidak dilakukan. Contoh dari sikap ini adalah ketika
para pengambil kebijakan telah membuat peraturan, undang-
undang, dll tetapi tidak diimplementasikan.
c. Tidak benar-benar mengubah apa-apa
Kondisi yang terakhir ini dapat dianalogikan sebagai anak kecil yang
berusaha menutup kebocoran tanggul. Anak kecil ini berusaha keras
untuk menutup kebocoran tanggul, tetapi kemampuannya terbatas.
Sehingga meskipun usahanya sudah maksimal, dia tidak dapat/
mampu menyelesaikan persoalan utamanya karena keterbatasan
kemampuannya. Sehingga usahanya hanya sebatas mengurangi
atau memperlambat kehancuran tanggul tersebut.

Sulit untuk memilih salah satu dimana kondisi/sikap Indonesia dalam menjawab
isu kontruksi berkelanjutan. Tetapi disini saya akan berusaha melihat kondisi
Indonesia dari kacamata ketiga kondisi yang telah disebutkan sebelumnya.
a. Tidak melakukan apa-apa

3
Kondisi ini cocok bagi para pelaku kontruksi yang masih hanya
berorientasi pada keuntungan. Mereka berusaha dan berusaha
untuk memaksimalkan keuntungan dan memilih untuk
mengesampingkan lingkungan. Mereka berfikir bahwa
memperhatikan lingkungan hanya akan menambah biaya dan
ujung-ujungnya dapat mengurangi keuntungan. Tidak semua pelaku
konstruksi di Indonesia seperti ini
b. Berpura-pura melakukan sesuatu
Seminar, kuliah tamu, sosialisasi lingkungan hidup, green
contruction, perkuliahan, perubahan kurikulum yang berpihak pada
lingkungan merupakan wujud nyata Indonesia dalam mendukung
pembangunan berkelanjutan. Namun ketika semua yang dipelajari
dan diketahui tersebut tidak diaplikasikan atau dilaksanakan maka
akan menjadi percuma. Selain itu, UU No.32 tahun 2009 menjadi
bukti bahwa Indonesia menaruh perhatian yang serius terhadap
perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup. Meskipun dalam
prakteknya masih seringkali mengalami kesulitan. Dalam prinsip
Sustainable Construction kita mengenal 3 aspek, yaitu ekonomi,
social-politik, dan lingkungan. Ketiga aspek tersebut harus berjalan
bersamaan. Harus diakui bahwa untuk memenuhi ketiga aspek
tersebut tidak mudah, sehingga yang sering terjadi adalah mencari
titik optimal dari ketiga aspek tersebut.
c. Tidak benar-benar mengubah apa-apa
Sikap positif Indonesia dalam mendukung Sustainable Construction
sudah banyak dilakukan. Misalkan dengan menjaga batas ruang
terbuka hijau, mengurangi konsumsi energy pada bangunan dengan
rekayasa desain, memilih mesin/alat yang rendah emisi,
mengunakan metode pelaksanaan yang paling efektif dan efisien
sehingga dapat dilakukan dengan cepat, rendah polusi dan tidak
mencemari lingkungan, menanam tanaman pada bangunan atau
disekitarnya, dll. Usaha-usaha tersebut tentunya harus terus
didukung dan dikembangkan sehingga nantinya prinsip-prinsip
sustainable dapat dilaksanakan dengan baik.

Beberapa Komunitas Peduli Lingkungan Hidup di Indonesia


1. Green Building Council Indonesia
Green Building Council (GBC) Indonesia adalah organisasi non profit yang
berkomitment penuh untuk menerapkan dan mengembangkan
penggunaan ;Green Building" di Indonesia. Organisasi ini didukung oleh
kalangan professional bidang konstruksi, pemerintah, lembaga non
pemerintah, Institusi dan pemerhati lingkungan yang akan berkolaborasi
membangun Indonesia kea arah yang lebih tanggap lingkungan,
sustainable dan melestarikan lingkungan untuk kepentingan masa depan.
Kesadaran sebagian masyarakat dunia terhadap keselamatan bumi kita
dan kesempatan bagi generasi mendatang untuk tetap medapat kualitas

4
hidup yang sama baik seperti saat ini merupakan salah satu tujuan utama
didirikannya Green Building Council.
2. Greenmap Indonesia (Jaringan Pemeta Kawasan Hijau)
Peta Hijau adalah organisasi jaringan pegiat peta hijau (green map) di
Indonesia. Melalui website ini, simpul komunikasi dan informasi untuk
jaringan komunitas pemeta hijau di seluruh Indonesia dapat diwujudkan.
Selain diarahkan menjadi titik hubung komunikasi dan informasi antar
komunitas peta hijau ataupun lembaga lain yang menjadi rekanan, materi-
materi dalam website ini diharapkan dapat membantu inisiatif-inisiatif
lokal untuk membangun jaringan peta hijau baru di lingkungannya.
3. Grombolan Peduli Sampah (Gropesh)
Sebuah gerombolan anak muda yang memiliki kepedulian terhadap
permasalah sampah dan lingkungan hidup. Gropesh bercita-cita untuk
membangun kesadaran masyarakat muda terhadap sampah serta
kebiasaan sosial (habitus) masyarakat muda untuk menciptakan
lingkungan hidup yang lebih baik melalui kampanye pelatihan.

4. Bike 2 Work Indonesia


Berawal dari sekelompok penggemar kegiatan sepeda gunung yang punya
semangat, gagasan dan harapan akan terwujudnya udara bersih di
perkotaan, lahirlah komunitas pekerja bersepeda (Bike-to-Work
Community) yang kemudian menggagas kampanye pertama penggunaan
sepeda ke tempat kerja pada 6 Agustus 2004
5. Gemash Jak! (Gerakan Masyarakat Peduli Sampah Jakarta)
Gerakan Masyarakat Peduli Sampah Jakarta adalah sebuah gerakan dari
masyarakat untuk menciptakan kota Jakarta yang nyaman, yang lebih
sehat dan indah untuk dihidupi
6. Klinik Hijau
Klinik Hijau ini bertujuan untuk membantu mereka yang ingin membangun
rumah yang asri dan bersahabat dengan lingkungan. disediakan jasa
konsultasi gratis bagi siapa aja mengenai masalah rumah tinggal, baik itu
dari segi desain bangunan, taman maupun penataan interior. Klinik Hijau
juga siap untuk diminta untuk membuat gambar desain hingga
mengerjakan pembangunan rumah.

Namun, jika tujuannya menciptakan dunia yang lebih baik, lebih berkelanjutan,
maka sektor konstruksi harus mengubah atau bahkan menolak banyak hal dari
apa yang saat ini terlihat biasa/ umum. Dari pertanyaan tersebut, sector
konstruksi mendapatkan 3 tantangan utama, yaitu:
1. Mengambil teknologi lompatan berikutnya
2. Menemukan/ memahami kembali apa itu industry konstruksi
3. Memikirkan kembali produk konstruksi
Kita perlu membayangkan alternatif masa depan dan kemudian mencari tahu
bagaimana cara terbaik untuk sampai ke sana dengan berpikir out of the box.

5
Ada sejumlah pendekatan baru yang dapat berguna dalam pemetaan rute
tersebut, yang paling menjanjikan adalah untuk belajar dari alam. Tidak dapat
dipungkiri bahwa dampak dari model-model pembangunan saat ini akan
menyusul kita. Satu-satunya pertanyaan adalah apakah kita akan beradaptasi
dalam waktu atau mati.

Gambar 2. Kriteria Sustainable Construction

1. Bandingkan PDS yang ada dengan kajian kontribusinya kepada pencapaian nilai
keberlanjutan.
Project Delivery Systems (PDS) banyak macamnya. Pada tahun 2014 McGraw Hill
Construction melakukan penelitian mengenai persepsi 3 pelaku jasa konstruksi ( Owner,
Arsitek dan Kontraktor ) terhadap jenis PDS yang berbeda. Jenis PDS yang dimaksud
yaitu:
a. Design-Bid-Build Delivery System (DBB)
DBB bisa dikatan merupakan PDS tradisional. Pada sistem ini jasa desain
dipisahkan dengan jasa konstruksi. Sehingga pihak yang mengerjakan jasa desain
belum tentu mengerjakan konstruksinya juga, karena dipisahkan oleh lelang.

b. Design-Build Delivery System:


Pada model ini, jasa desain satu paket dengan jasa konstruksi. Karena dikerjakan
oleh pihak yang sama diharapkan value yang direncanakan pada tahap desain
dapat direalisasikan 100% pada tahap konstruksi.

c. Construction Management at Risk Delivery System (CM-at-Risk):


Pada model PDS ini owner menyewa konsultan manajemen konstruksi mulai
tahap desain hingga pelaksanaan proyek selesai, sehingga ada transfer value yang
dilakukan oleh konsultan MK dari tahap perencanaan ke tahap konstruksi.
Konsultan MK bertanggung jawab untuk koordinasi awal selama fase desain,
rekayasa nilai, dan ulasan Konstruksi gedung serta seleksi, penjadwalan, dan
terkait pengadaan subkontraktor.

Dari ketiga jenis PDS tersebut kemudian diidentifikasi berdasarkan benefit yang didapatkan.
Sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya masing-masing

6
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa masing-masing PDS sebenarnya memiliki keunggulan
masing-masing, baik itu menurut Owner, Arsitek maupun Kontraktor. Sedangkan jika dilihat
lebih fokus lagi kepada biaya dan schedulenya, maka adalah sebagai berikut:

A. Biaya

7
B. Schedules

2. Melaporkan, kajian literature, terkait pengadaan berkelanjutan atau pengadaan


hijau di Indonesia.
Pengadaan barang/jasa konstruksi di Indonesia diatur dalam Peraturan Presiden N0.54
Tahun 2010 tentang pengadaan barang/jasa. Beberapa jenis pengadaan barang/jasa yang
diatur adalah sebagai berikut.

8
Jika dilihat dari regulasinya, sesungguhnya Indonesia sudah berada pada jalur yang benar
terkait pengadaan berkelanjutan. hal tersebut tercermin pada UU Bangunan Gedung
No.28 tahun 2002 yang telah mengamanatkan pentingnya memperhatikan keseimbangan
antara aspek bangunan, dan lingkungannya. Demikian pula UU Sumber Daya Air No.74
tahun 2004 dan UU No.26 tahun2007.

Dalam mendukung kontruksi berkelanjutan, sesungguhnya Indonesia telah menyusun


suatu pedoman terkait konstruksi bangunan tersebut yaitu yang tertuang dala Agenda 21
Konstruksi Berkelanjutan di Indonesia, sehingga dalam pengadaannya pun harus
mengikuti apa yang telah dirumuskan pada pedoman tersebut. Menurut BPKSDM (2009),
Roadmap Agenda 21 Konstruksi Berkelanjutan di Indonesia adalah sebagai berikut.

Salah satu contoh penerapan pengadaan berkelanjutan di Indonesia adalah penerapan


PBC (Performance Base Contract) pada jalan raya. Skema Pengadaan berkelanjutan di
Indonesia ditunjukan pada skema berikut.

9
GREENSHIP merupakan sebuah perangkat penilaian yang disusun oleh Green Building
Council Indonesia (GBCI) untuk menentukan apakah suatu bangunan dapat dinyatakan layak
bersertifikat "bangunan hijau" atau belum. Greenship bersifat khas Indonesia seperti halnya
perangkat penilaian di negara lain (Amerika Serikat - LEED, Singapura - Green Mark,
Australia - Green Star, dsb.) yang selalu mengakomodasi kepentingan lokal setempat.

Penyusunan Greenship didukung oleh World Green Building Council, dan dilaksanakan oleh
Komisi Rating dari GBCI. Greenship terdiri dari 6 aspek. Masing-masing aspek terdiri atas
beberapa Rating yang mengandung kredit yang masing-masing memiliki muatan nilai
tertentu dan akan diolah untuk menentukan penilaian. Aspek-aspek tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development/ASD)
2. Efisiensi Energi & Refrigeran (Energy Efficiency & Refrigerant/EER)
3. Konservasi Air (Water Conservation/WAC)
4. Sumber & Siklus Material (Material Resources & Cycle/MRC)
5. Kualitas Udara & Kenyamanan Udara (Indoor Air Health & Comfort/IHC)
6. Manajemen Lingkungan Bangunan (Building & Enviroment Management)

Apa kaitannya dengan Rantai Pasok Konstruksi Hijau ?


Jelas ada kaitannya antara sistem penilaian greenship GBCI dengan Rantai Pasok Konstruksi
Hijau. Karena sistem penilaian tersebut tentunya dapat menjadi stimulan, menjadi pemandu
dan mengarahkan semua pihak yang terkait dalam mewujudkan bangunan yang ramah
lingkungan dan berkelanjutan.

10
Dalam rangka mewujudkan bangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan diperlukan
kerjasama dari berbagai pihak yang terkait, mulai dari tahap Idea, Planning, Design,
Construction hingga Operation & Management seperti yang terlihat pada gambar 1. Masing-
masing tahap tersebut memengang peranan masing-masing dalam mewujudkan bangunan
yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Salah satu pemengang peran vital dalam
mewujudkan bangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan tersebut adalah terkait
rantai pasoknya.

Gambar 1. Siklus Konstruksi

Kajian mengenai sistem penilaian greenship GBCI dan kaitannya dengan rantai pasok
konstruksi hijau adalah sebagai berikut.

SUMBER DAN SIKLUS MATERIAL


1. MRC P - Refigeran fundamental
Kriteria ini merupakan prasyarat dari kategori sumber dan siklus material. Kriteria
tersebut bertujuan untuk mencegah pemakaian bahan dengan potensi merusak ozon
yang tinggi. Sehingga kaitannya dengan rantai pasok kontruksi hijau adalah agar para
pihak terkait tidak merencanakan, mengadakan dan menggunakan bahan yang
berpotensi merusak ozon tinggi, seperti chloro fluoro-carbon (CFC) sebagai refrigeran
dan halon sebagai bahan pemadam kebakaran.
2. MRC 1 - Penggunaan Gedung dan Material
Kriteria ini bertujuan agar menggunakan material bekas bangunan lama dan/atau dari
tempat lain untuk mengurangi penggunaan bahan mentah yang baru, sehingga dapat
mengurangi limbah pada pembuangan akhir serta memperpanjang usia pemakaian
suatu bahan material. Kaitannya dengan rantai pasok kontruksi hijau adalah agar
menggunakan kembali material bekas, baik dari bangunan lama maupun tempat lain,

11
yang dapat berupa bahan struktur utama, fasad, plafon, lantai, partisi, kusen, dan
dinding.
3. MRC 2 - Material Ramah Lingkungan
Kriteria ini bertujuan agar mengurangi jejak ekologi dari proses ekstraksi bahan
mentah dan proses produksi material. Kaitannya dengan rantai pasok kontruksi hijau
adalah agar pandai dalam memanfaatkan material hasil daur ulang serta menggunakan
material yang berasal dari sumberdaya terbaharukan.
4. MRC 3 - Penggunaan Refrigeran tanpa ODP
Kriteria ini bertujuan agar menggunakan bahan yang tidak memiliki potensi merusak
ozon. Sehingga agar perencana tidak merencanakan penggunaan material tersebut,
supplier tidak menyediakan material tersebut , dan kontraktor tidak memasang alat
tersebut.
5. MRC 4 - Kayu Bersertifikat
Kriteria ini bertujuan agar menggunakan bahan baku kayu yang dapat
dipertanggungjawabkan asal-usulnya untuk melindungi kelestarian hutan. Kaitannya
dengan rantai pasok adalah terkait aspek legal dari kayu tersebut berasal. Dengan
adanya surat/faktur kayu yang resmi tentunya dapat digunakan juga untuk
mengendalikan populasi daripada kayu-kayu tersebut berasal.
6. MRC 5 - Material Prafabrikasi
Kriteria ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dalam penggunaan material dan
mengurangi sampah. Karena dengan prafabrikasi maka elemen dari konstruksi
tersebut hanya perlu didatangkan ke lokasi dan dirakit, sehingga otomatis lebis cepat,
praktis, kebutuhan pekerja di lokasi lebih sedikit dan material sisa dari pembuatan
komponen tersebut ( missal potongan baja dari pembuatan jembatan baja) dapat
diolah kembali tanpa melalui rantai yang panjang, karena prafabrikasi tersebut
dikerjakan di pabrik. Yang menjadi persoalan dari material prafabrikasi adalah
kesiapan dan kemampuan transportasi untuk mengangkut material tersebut dari lokasi
fabrikasi ke lokasi proyek.
7. MRC 6 - Material Regional
Kriteria ini menyampaikan bahwa sebisa mungkin agar memanfaatkan material
regional dalam suatu pembangunan. Hal ini tentunya sejalan dengan prinsip rantai
pasok karena dapat mengurangi konsumsi energy untuk trasportasi. Selain itu, kriteria
ini juga bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi regional.

MANAJEMEN LINGKUNGAN BANGUNAN


1. BEM P - Dasar Pengelolaan Sampah
Kriteria ini bertujuan untuk mendorong gerakan pemilahan sampah secara sederhana
yang mempermudah proses daur ulang. Pada proyek konstruksi hal ini dapat

12
diterapkan dengan pemisahan antara material sisa yang berasal dari kayu, besi, plastic,
dll. Sehingga ketika material sisa tersebut tidak dapat dimanfaatkan kembali secara
langsung, maka material sisa tersebut dapat lebih mudah untuk di daur ulang.
2. BEM 1 GP Sebagai Anggota Tim Proyek
Kriteria ini berupa langkah-langkah desain suatu green building agar dilakukan sejak
tahap awal sehingga memudahkan tercapainya suatu desain yang memenuhi rating.
Kriteria ini juga mensyaratkan agar melibatkan minimal seorang tenaga ahli yang
sudah bersertifikat Greenship Professional (GP), yang bertugas untuk memandu
proyek hingga mendapatkan sertifikat Greenship. Kaitannya dengan rantai pasok
konstruksi hijau yaitu bahwa dengan adanya perencanaan green building sejak awal,
maka perencanaan materialnya juga akan mengikuti ketentuan-ketentuan terkait green
building, sehingga pada saat sertifikasi akan mendapatkan poin yang maksimal.
3. BEM 2 - Polusi dari Aktivitas Konstruksi
Kriteria ini bertujuan untuk mendorong pengurangan sampah yang dibawa ke tempat
pembuangan akhir (TPA) dan polusi dari proses konstruksi. Kaitannya dengan rantai
pasok yaitu dengan menyediakan material dan alat konstruksi serta metode yang tepat
sehingga dapat meminimalisasi polusi udara. Terkait dengan sampah konstruksi yaitu
dilakukan dengan rencana manajemen sampah konstruksi, baik itu limbah padat
maupun limbah cair.
4. BEM 3 - Pengelolaan Sampah Tingkat Lanjut
Kriteria ini bertujuan untuk mendorong manajemen kebersihan dan sampah secara
terpadu sehingga mengurangi beban TPA. Kaitannya dengan rantai pasok yaitu terkait
pengadaan dan pengelolaan material, sehingga sebisa mungkin menggunakan material
yang sedikit mungkin untuk mendapatkan output yang sama dan bahkan mendapatkan
value yang lebih.
5. BEM 4 - Sistem Komisioning yang Baik dan Benar
Kriteria ini bertujuan untuk melaksanakan komisioning yang baik dan benar pada
bangunan agar kinerja yang dihasilkan sesuai dengan perencanaan awal. Kaitannya
dengan rantai pasok yaitu lebih kepada pengadaan peralatan yang digunakan sehingga
sesuai antara fungsi dan kinerja peralatan dengan perencanaan dan acuannya.
6. BEM 5 - Penyerahan Data Green Building
Kriteria ini mensyaratkan untuk melengkapi database implementasi green building di
Indonesia untuk mempertajam standar-standar dan bahan penelitian. Kriteria ini
mungkin terlihat tidak berhubungan dengan rantai pasok, tetapi sesungguhnya ini
penting untuk database, sehingga data-data terkait material yang digunakan untuk
suatu pembangunan dapat diketahui dengan jelas.
7. BEM 6 - Kesepakatan Dalam Melakukan Aktivitas Fit Out

13
Kriteria ini bertujuan untuk mengimplementasikan prinsip green building saat fit out
gedung. Kriteria ini tidak terkait dengan material selama konstruksi, tetapi sangat
berhubungan dengan apa yang akan dilakukan dalam masa operasional dan
manajemen. Karena tentunya akan percuma ketika pembangunannya memegang
prinsip green building tetapi dalam masa O&M tidak mematuhi prinsip tersebut.
Dalam masa O&M mungkin saja terjadi kerusakan, sehingga untuk perbaikan/
pengantinya harus sesuai kaidah green building juga.

TEPAT GUNA LAHAN


1. ASD 1 - Pemilihan Tapak
Kriteria ini bertujuan untuk menghindari pembangunan di greenfield, yaitu dengan
melakukan pembangunan di atas tanah yang bernilai negative atau pada bekas
pembangunan. Kaitannya dengan rantai pasok konstruksi hijau adalah terkait
penyediaan lahannya. Karena dengan memilih melakukan pembangunan diatas tanah
yang bernilai negative/ bekas bangunan maka setidaknya akan didapat 2 keuntungan.
Pertama tidak mengurangi greenfield dan yang kedua adalah dapat meningkatkan
kualitas lahan tersebut dengan pembangunan yang green.

KONSERVASI AIR
1. WAC P1, WAC P2, WAC 1 dan WAC 2
4 kriteria tersebut pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama, yaitu terkait
penghematan pengunaan air. Kaitannya dengan rantai pasok yaitu terkait dengan
kebutuhan air selama bangunan tersebut digunakan/difungsikan. Pengunaan meter air
wajib dilakukan sehingga penguna dapat memonitoring konsumsi airnya.
2. WAC 3 - Daur Ulang Air
Kriteria ini bertujuan untuk menyediakan air dari sumber daur ulang yang bersumber
dari air limbah gedung untuk mengurangi kebutuhan air dari sumber utama.
Implementasinya yaitu dengan memanfaatkan greywater untuk kebutuhan menyiram
tanaman, sementara terkait rantai pasok pada saat konstruksi yaitu terkait pengunaan
greywater selama tahap konstruksi, sehingga tidak harus selalu mengunakan air yang
bersih seperti untuk kebutuhan air minum.

14