Anda di halaman 1dari 2

Deflator PDB adalah perbandingan PDB nominan dengan PDB sebenarnya.

Karena PDB nominal adalah


hasil saat ini yang dinilai pada harga saat ini dan PDB sebenarnya adalah hasil saat ini yang dinilai pada
harga tahun basis, deflator PDB mencerminkan tingkat harga saat ini yang berhubungan dengan tingkat
harga pada tahun basis.
Pakar ekonomi dan pemangku kebijakan mengawasi deflator PDB dan indeks harga konsumen untuk
mengukur seberapa cepat harga naik. Biasanya, kedua statistik ini menunjukkan hal yang sama. Namun,
ada dua perbedaan penting yang dapat membuat keduanya berbeda.
Perbedaan pertama adalah deflator PDB mencerminkan harga semua barang dan jasa yang diproduksi di
dalam negeri, sedangkan indeks harga konsumen mencerminkan harga semua barang dan jasa yang dibeli
oleh konsumen. Misalnya, anggaplah bahwa kendaraan lapis baja yang diproduksi oleh pemanufaktur
lokal dan dijual ke angkatan bersenjata harganya naik. Meskipun kendaraan ini adalah bagian dari PDB,
kendaraan ini bukanlah bagian dari keranjang barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen biasa. Oleh
karena itu, kenaikan harga ini muncul di deflator PDB, tetapi bukan di indeks harga konsumen.
Sebagai contoh lain, anggaplah Volvo menaikkan harga mobil-mobilnya. Karena Volvo dibuat di Swedia,
mobil tersebut bagian dari PDB Negara. Melainkan konsumen lokal membeli Volvo sehingga mobil ini
menjadi bagian dari keranjang barang konsumen biasa. Oleh karena itu, kenaikan harga pada barang
konsumen impor, seperti Volvo, muncul pada indek harga konsumen, tetapi tidak pada deflator PDB.
Perbedaan pertama antara indek harga konsumen dengan deflator PDB akan terasa pentingnya ketika
harga minyak berubah dan suatu Negara benar-benar bergantung pada minyak impor untuk memenuhi
kenutuhan energinya. Akibatnya, minyak dan produk minyak, seperti bensin dan minyak terdiri atas
bagian belanja konsumen yang jauh lebih besar daripada bagian PDB. Ketika harga minyak naik, indeks
harga konsumen naik lebih banyak daripada deflator PDB.
Perbedaan kedua yang lebih tidak kentara antara deflator PDB dan indeks harga konsumen berhubungan
dengan bagaimana beragam harga ditimbang untuk menghasilkan sebuah angka untuk tingkat harga
keseluruhan. Indeks harga konsumen membandingkan harga keranjang tetap barang dan jasa dengan
harga keranjang pada tahun basis. Para ahli statistic hanya sesekali saja mengubah keranjang barang ini.
Sebaliknya, deflator PDB membandingkan harga barang dan jasa yang sekarang ini diproduksi dengan
harga barang dan jasa yang sama pada tahun basis. Oleh karena itu, kelompok barang dan jasa yang
digunakan untuk menghitung deflator PDB berubah secara otomatis sepanjang waktu. Perbedaannya tidak
penting ketika semua harga berubah secara professional. Jika harga-harga barang dan jasa yang beragam
ini akan berarti penting bagi laju inflasi keseluruhan.
Figur 2 menunjukkan laju inflasi sebagaimana diukur oleh diukur oleh deflator ataupun oleh indeks harga
konsumen untuk Malaysia setiap tahunnya sejak tahun 1970.
Ketika keduanya berbeda, kita dapat mempelajari angka-angka ini dan menjelasan perbedaan yang telah
kita bahas. Menunjukkan perbedaan antara kedua ukuran ini dalam pengecualian, dan bukan dalam
pengaturannya.
STUDI KASUS
INDEKS DI HOLLYWOOD
Film apakah yang paling populer sepanjang masa ? jawabannya mungkin akan mengejukan anda.
Popularitas sebuah film biasanya diukur dengan penerimaan box office. Dengan ukuran ini,
Titanic adalah film nomor 1 sepanjang masa, diikuti oleh star wars, ET: The Extra-terrestrial, dan
spiderman. Akan tetapi, peringkat ini tidak menyertakan sebuah fakta nyata, namun penting: Harga,
termasuk harga karcis bioskop, semakin lama semakin naik. Ketika kita menyesuaikan penerimaan box
office dengan dampak inflasi, ceritanya akan sangat berbeda.
Tabel 2 menunjukkan sepuluh film teratas sepanjang masa yang diperingkatkan oleh penerimaan
box office yang sudah disesuaikan dengan inflasi. Film nomor 1 adalah Gone with the wind, yang dirilis
tahun 1939 dan jauh berada di depan Titanic. Pada tahun 1930 an, sebelum setiap orang memiliki
televisi di rumah, banyak orang pergi ke bioskop setiap minggu, jika dibandingkan dengan hari ini.
Namun, film-film pada era itu jarang muncul di peringkat populer karena harga tiket sangatlah murah.
Scarlett dan Rhett jauh lebih baik setelah kita mengoreksinya dari dampak inflasi.