Anda di halaman 1dari 29

PERKERASAN LENTUR (FLEXIBLE PAVEMENT)

Perkerasan lentur adalah perkerasan yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikat.
Lapisan lapisan perkerasannya bersifat memikul dan menyebabkan beban lalu lintas ke
tanah dasar yang telah dipadatkan. Lapisan lapisan tersebutadalah :
Lapisan permukaan (surface coarse)
Lapisan pondasi atas (base coarse)
Lapisan pondasi bawah (sub-base coarse)
Lapisan tanah dasar (sub grade)

Gambar 1. Susunan perkerjaan perkerasan jalan

Lapisan Permukaan ( surface course)

Lapisan permukaan adalah bagian perkerasan jalan yang paling atas. Lapisan tersebut berfungsi
sebagai berikut :
- Lapisan perkerasan penahan beban roda, yang mempunyai stabilitas tinggi
untuk menahan beban roda selama masa pelayanan.
- Lapisan kedap air. Air hujang yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan di bawahnya
dan melemahkan lapisan lapisan tersebut.
- Lapis aus.
Lapisan ulang langsung menderita gesekan akibat roda kendaraan.
Lapis lapis yang menyebarkan beban ke lapisan di bawahnya sehingga dapat dipukul oleh
lapisan lain dengan daya dukung yang lebih jelek.
Lapisan permukaan berdasarkan fungsinya :
- Lapis non structural, sebagai lapis aus dan kedap air.
Lapis structural, sebagai lapis yang menahan dan menyebarkan beban
roda. Bahan bahannya terdiri dari batu pecah, kerikil, dan stabilisasi tanah
dengan semen atau kapur.
- Lapis structural, sebagai lapis yang menahan dan menyebarkan beban
roda.

Jenis-jenis Lapis Permukaan (surface course)

Jenis lapis permukaan terdapat bermacam-macam yaitu:

a. Lapis Aspal Beton (LASTON)

Lapis Aspal Beton (LASTON) adalah merupakan suatu lapisan pada konstruksi jalan yang terdiri
dari agregat kasar, agregat halus, filler dan aspal keras, yang dicampur, dihampar dan dipadatkan
dalam keadaan panas pada suhu tertentu.

b. Lapis Penetrasi Makadam (LAPEN)

Lapis Penetrasi Macadam (LAPEN) adalah merupakan suatu lapis perkerasan yang terdiri dari
agregat pokok dengan agregat pengunci bergradasi terbuka dan seragam yang diikat oleh aspal
keras dengan cara disemprotkan diatasnya dan dipadatkan lapis demi lapis dan apabila akan
digunakan sebagai lapis permukaan perlu diberi laburan aspal dengan batu penutup.

c. Lapis Asbuton Campuran Dingin (LASBUTAG)

Lapis Asbuton Campuran Dingin (LASBUTAG) adalah campuran yang terdiri dari agregat kasar,
agregat halus, asbuton, bahan peremaja dan filler (bila diperlukan) yang dicampur, dihampar dan
dipadatkan secara dingin.

d. Hot Rolled Asphalt (HRA)


Hot Rolled Asphalt (HRA) merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran antara agregat
bergradasi timpang, filler dan aspal keras dengan perbandingan tertentu, yang dicampur dan
dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu.

e. Laburan Aspal (BURAS)

Laburan Aspal (BURAS) adalah merupakan lapis penutup terdiri dengan ukuran butir maksimum
dari lapisan aspal taburan pasir 9,6 mm atau 3/8 inch.

f. Laburan Batu Satu Lapis (BURTU)

Laburan Batu Satu Lapis (BURTU) adalah merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal
yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam. Tebal maksimum 20 mm.

g. Laburan Batu Dua Lapis

Laburan Batu Dua Lapis (BURDA) adalah merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal
ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara berurutan. Tebal maksimum 35 mm.

h. Lapis Aspal Beton Pondasi Atas (LASTON ATAS)

Lapis Aspal Beton Pondasi Atas (LASTON ATAS) adalah merupakan pondasi perkerasan yang
terdiri dari campuran agregat dan aspal dengan perbandingan tertentu, dicampur dan
dipadatkan dalam keadaan panas.

i. Lapis Aspal Beton Pondasi Bawah (LASTON BAWAH)

Lapis Aspal Beton Pondasi Bawah (LASTON BAWAH) adalah pada umumnya merupakan lapis
perkerasan yang terletak antara lapis pondasi dan tanah dasar jalan yang terdiri dari campuran
agregat dan aspal dengan perbandingan tertentu dicampur dan dipadatkan pada temperatur
tertentu.

j. Lapis Tipis Aspal Beton

Lapis Tipis Aspal Beton (LATASTON) adalah merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran
antara agregat bergradasi timpang, filler dan aspal keras dengan perbandingan tertentu yang
dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu. Tebal padat antara 25
sampai 30 mm.

k. Lapis Tipis Aspal Pasir (LATASIR)

Lapis Tipis Aspal Pasir (LATASIR) adalah merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran pasir
dan aspal keras yang dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu
tertentu.

l. Aspal Makadam

Aspal Makadam adalah merupakan lapis perkerasan yang terdiri dari agregat pokok dan/atau
agregat pengunci bergradasi terbuka atau seragam yang dicampur dengan aspal cair, diperam
dan dipadatkan secara dingin.

Bagian perkerasan jalan umumnya meliputi: lapis pondasi bawah (sub base course), lapis
pondasi (base course), dan lapis permukaan (surface course).

Pondasi Atas ( base course )


Lapis pondasi atas adalah bagian perkerasan jalan yang terletak antaralapis permukaan
dengan lapis pondasi bawah ( atau dengan tanah dasar bila tidakmenggunakan lapis pondasi
bawah )
Fungsi lapis pondasi adalah :
Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan
menyebarkan beban ke lapisan di bawahnya.
Lapisan peresapan untuk lapisan pondasi bawah
Bantalan terhadap lapisan permukaan
Bahan untuk lapis pondasi atas harus cukup kuat dan awet sehingga dapat
menahan beban beban roda.
Sebelum menentukan bahan untuk digunakan sebagai bahan pondasihendaknya
dilakukan penyelidikan dan pertimbangan sebaik baiknyasehubungan dengan persyaratan
teknis. Bermacam macam bahan alam ataubahan setempat (CBR>/50%, PI<4%) dapat
digunakan sebagai bahan lapispondasi atas, antara lain abut pecah, krikil, dan stabilisasi tanah
dengan semen atau kapur.

Lapis pondasi bawah (sub-base course)

Lapis Pondasi Bawah adalah bagian perkerasan yang terletak antara lapis pondasi dan tanah
dasar.

Fungsi lapis pondasi bawah antara lain:

a. Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan untuk mendukung dan menyebarkan beban roda.

b. Mencapai efisiensi penggunaan material yang relatif murah agar lapisan-lapisan selebihnya
dapat dikurangi tebalnya (penghematan biaya konstruksi).

c. Untuk mencegah tanah dasar masuk ke dalam lapis pondasi.

d. Sebagai lapis pertama agar pelaksanaan dapat berjalan lancar.

Hal ini sehubungan dengan terlalu lemahnya daya dukung tanah dasar terhadap roda-roda alat-
alat besar atau karena kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar dari
pengaruh cuaca.

Bermacam-macam tipe tanah setempat (CBR > 20%, PI < 10%) yang relatif lebih baik dari tanah
dasar dapat digunakan sebagai bahan pondasi bawah. Campuran-campuran tanah setempat
dengan kapur atau semen portland dalam beberapa hal sangat dianjurkan, agar dapat bantuan
yang efektif terhadap kestabilan konstruksi perkerasan.

Lapis Tanah Dasar (Sub grade)

Tanah Dasar adalah permukaan tanah semula atau permukaan galian atau permukaan tanah
timbunan, yang dipadatkan dan merupakan permukaan dasar untuk perletakan bagian-bagian
perkerasan lainnya.
Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat- sifat dan daya
dukung tanah dasar. Umumnya persoalan yang menyangkut tanah dasar adalah sebagai berikut:

a. Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) dari macam tanah tertentu akibat beban
lalu lintas.

b. Sifat mengembang dan menyusut dari tanah tertentu akibat perubahan kadar air.

c. Daya dukung tanah yang tidak merata dan sukar ditentukan secara pasti pada daerah
dengan macam tanah yang sangat berbeda sifat dan kedudukannya, atau akibat
pelaksanaan.

PERBEDAAN PERKERASAN LENTUR DENGAN PERKERASAN KAKU


KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PERKERASAN LENTUR DIBANDINGKAN DENGAN PERKERASAN
KAKU
KERUSAKAN PADA PERKERASAN LENTUR
Jenis-jenis kerusakan perkerasan lentur (aspal), umumnya dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
1) Deformasi: bergelombang, alur, ambles, sungkur. mengembang, benjol dan turun.
2) Retak: memanjang, melintang, diagonal, reflektif, blok, kulit buaya, dan bentuk bulan sabit.
3) Kerusakan tekstur permukaan: butiran lepas, kegemukan, agregat, licin, terkelupas,
dan stripping.
4) Kerusakan lubang, tambalan dan persilangan jalan rel.
5) Kerusakan di pinggir perkerasan: pinggir retak/pecah dan bahu turun.

Berikut ini akan dijelaskan hal-hal yang terkait dengan masing-masing kerusakan tersebut.
1. Deformasi
Deformasi adalah perubahan permukaan jalan dari profil aslinya (sesudah pembangunan).
Deformasimerupakankerusakan penting dari kondisi perkerasan,karena mempengaruhi kualI
tas kenyamanan lalu-lintas (kekasaran, genangan air yang mengurangi kekesatan permukaan),
dan dapat mencerminkan kerusakan struktur perkerasan.Mengacu pada AUSTROADS (1987) dan
Shahnin (1994) beberapa tipe deformasi perkerasan Lentur adalah :
1). Bergelombang (Corrugation)
2). Alur (rutting)
3). Ambles (depression)
4). Sungkur (shoving)
5). Mengembang (swell)
6). Benjol dart turun (hump and sags).

1.1 Bergelombang (Corrugation)


Bergelombangatau keriting adalah kerusakan oleh
akibat terjadinya deformasi plastis yang menghasilkan gelombang-gelombang melintang
atau tegak lurus arah perkerasan perkerasan aspal. Gelombang-gelombang terjadi pada jarak
yang relatif teratur, dengan panjang kerusakan kurang dari 3 m di sepanjang perkerasan
Keriting sering trajadi pada titik-titik yang banyak mengalami tegangan horisontal tinggi,
di mana lalu-lintas mulai bergerak dan berhenti. Pada jalan di bukit, keriting terjadi
akibat kendaraan mengerem saat turun, pada belokan tajam atau pada
persimpangan.
Faktor penyebab kerusakan
1) Aksi lalu-lintas yang disertai dengan permukaan perkerasan atau lapis pondasi yang tidak
stabil.Permukaan perkerasan yang tidak stabil ini, disebabkan karena campuran lapisan aspal
yang buruk, misalnya akibat terlalu tingginya kadar aspal, terlalu banyaknya agregat halus,
agregat berbentuk bulat dan licin, atau terlalu lunaknya semen aspal.
2) Kadar air dalam lapis pondasi granuler (granular base) terlalu tinggi, sehingga tidak stabil.
Resiko lanjutan
1) Area yang mengalami keriting meluas.
2) Mengurangi kenyamanan dan keselamatan kendaraan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
1) Kedalaman maksimum di bawah straight-edge, panjang 1,2 in.
2) Jarak dari puncak ke puncak gelombang keriting.
3) Panjang perkerasan yang dipengaruhi kerusakan tersebut.
Kemungkinan cara perbaikan
1) Perbaikan yang paling baik dilakukan dengan menambal di seluruh kedalaman.
2) Jika perkerasan mempunyai agregat pondasi (base) dengan lapisan tipis perawat
permukaan, maka permukaan dikasarkan,kemudian dicampur dengan material pondasi, dan
dipadatkan lagi sebelum meletakkan lapisan permukaan kembali (resurfacing).
3) Jika perkerasan mempunyai tebal permukaan aspal dan pondasi melebihi 50 mm, keriting
dangkal dapat dibongkar dengan mesin pengupas (pavement milling machine), diikuti
dengan lapis tambahan (overlay) dari campuran aspal panas 1-1MA (hot mix) agar struktur
perkerasan lebih kuat.
1.2 Alur (Rutting)
Alur adalah deformasi permukaan perkerasan aspal dalam bentuk turunnya perkerasan ke arah
memanjang pada lintasan roda kendaraan Distorsi permukaan jalan yang membentuk alur-alur
terjadi oleh akibat beban lalu-lintas yang berulang-ulang pada lintasan roda sejajar dengan as
jalan. Gerakan ke atas perkerasan dapat timbul di sepanjang pinggir alur. Alur biasanya banyak
nampak jelas ketika hujan dan terjadi genangan air di dalamnya. Menurut Asphalt Institute MS-
17, sebab-sebab terjadiya alur adalah disebabkan oleh pemadatan (deformasi tanah dasar) atau
perpindahan campuran aspal yang tidak stabil.
Faktor penyebab.kerusakan
1) Pemadatan lapis permukaan dan pondasi (base) kurang,sehingga akibat beban lalu lintas
lapis pondasi memadat lagi.
2) Kualitas campuran aspal rendah, ditandai dengan gerakan arah lateral dan ke bawah dari
campuran aspal di bawah beban roda berat
3) Gerakan lateral dari satu atau lebih dari komponcn pembentuk lapis perkerasan yang kurang
padat. Contoh terjadinya alur pada lintasan roda yang disebabkan oleh deformasi dalam
lapis pondasi atau tanah-dasar
4) Tanah-dasar lemah atau agregat pondasi (base) kurang tehal,periadatan atau terjadi
pelemahan akibat infiltrasi air tanah
Resiko lanjutan
1) Terjadi kenaikan perkerasan secara berlebihan di sepanjang sisi alur.
2) Mengurangi kenyamanan dan keselamatan kendaraan.
3) Alur apabila diuenangi air, selain kerusakan lebih meluas, juga dapat mengakibatkan
kecelakaan kendaraan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
1) Kedalaman maksimum dibawah straight-edge yang panjangnya 1,2 m, dan dipasang
melintang.
2) Panjang alur.
Cara perbaikan
1) seluruh kedalaman atau penambahan lapistambahan (overlay) campuran aspal panas (hot
mix) dengan perataan dan pelapisan permukaan. Perbaikan alur dengan menambal permuk
aan, umumnya hanya untuk perbaikan sementara.
2) Jika penyebabnya adalah lemahnya lapis pondasi (base) atau tanah-dasar,
pembangunan kembali perkerasan secara total mungkin diperlukan, tennasuk juga penamb
ahan drainase,terutama jika air menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan.
1.3 Ambles (Depression)
Ambles adalah penurunan perkerasan yang terjadi pada area terbatas yang mungkin dapat
diikuti dengan retakan penurunan ditandai dengan adanya genangan air pada
pemiukaan perkerasan yang membahayakan lalu-lintas yang lewat.
Faktor penyebab kerusakan
1) Beban lalu-lintas berlebihan.
2) Penurunan sebagian dari perkerasan akibat lapisan di bawah perkerasan mengalami
penurunan.
Cara perbaikan
1) Pera watan permukaan (surface treatment) atau micro surfacing.
2) Untuk area kerusakan yang besar, perbaikan dapat dilakukan dengan menambal kulitnya
(permukaan), atau menambal pada seluruh kedalaman.
1.4 Sungkur (Shoving)
Sungkur adalah perpindahan permanen secara lokal dan memanjang dari permukaan
perkerasan yang disebabkan oleh beban lalu-lintas. Ketika lalu-lintas mendorong perkerasan,
maka mendadak timbul gelombang pendek di permukaannya. Penggembungan lokal permukaan
perkerasan nampak dalam arah sejajar dengan arah lalu-lintas dan/atau
perpindahan horisontal dari material permukaan, terutama pada arah lalu-lintas
dimana aksi pengcremen atau percepatan sering terjadi. Sungkur melintang juga dapattimbul
oleh gerakan lalu-lintas membelok. Sungkur biasanya juga terjadi pada perkerasan aspal yang
berbatasan dengan perkcrasan beton semen portland (PCC). Perkerasan beton bertambah
panjang (oleh kenaikan suhu) dan menekan perkerasan aspal, sehingga terjadisungkur.
Faktor penyebab kerusakan
1) Stabilitas campuran lapisan aspal rendah. Kurangnya stabilitas campuran dapat disebabkan
oleh terlalu tingginya kadar aspal,terlalu banyaknya agregat halus, agregat berbentuk
bulat dan licin atau terlalu lunaknya semen aspal.
2) Terlalu banyaknya kadar air dalam lapis pondasi granuler(granular base).
3) Ikatan antara lapisan perkerasan tidak bagus
4) Tebal perkerasan kurang.
Resiko lanjutan
1) Area yang mengalami sungkur meluas.
2) Mengurangi kenyamanan dan keselamatan kendaraan.
3) Memicu terjadinya retakan dan air masuk ke dalam perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
1) Kedalaman maksimum cembungan diukur dari puncaknya,dengan menggunakan straight-
edge yang panjangnya 1,2 m.
2) Luas kerusakan.
Cara perbaikan
1) Perbaikan yang paling baik dilakukan dengan menambal di seluruh kedalaman.
2) Jika perkerasan mempunyai agregat pondasi (base) dengan perawat permukaan tipis,
kasarkan permukaan, campur dengan material agregat pondasi, dan padatkan sebelum
meletakkan lapisan permukaan kembali (resurfacing).
3) Jika perkerasan mempunyai tebal permukaan aspal dan
lapis pondasi 50 mm, sungkur dangkal dapat dibongkar
dengan mesin pengupas (pavement milling machine), yang diiikuti dengan lapis tambahan
campuran aspal panas (hot mix) agar memberikan kekuatan yang cukup pada perkerasan.
1.5 Mengembang (Swell)
Mengembang adalah gerakan ke atas lokal dari perkerasan akibat pengembangan (atau
pembekuan air) dari tanah-dasar atau dari bagian struktur perkerasan. Perkerasan yang
naik akibat tanah-dasar yang mengembang ini dapat menyebabkan
retaknya permukaan aspal.Pengembangan dapat dikarakteristikkan dengan gerakan
perkerasan aspal, dengan panjang gelombang > 3 m.
Faktor penyebab kerusakan
1) Mengembangnya material lapisan di bawah perkerasan atau tanah-dasar.
2) Tanah-dasar perkerasan mengembang, bila kadar air naik.limumnya, hal ini terjadi bila
tanah pondasi berupa
lempung yang intidali mengembang (lempung montmordlonite) oleh kenaikan kadar air.
Resiko lanjutan
1) Mengurangi kenyamanan dan membahayakan keselamatan kendaraan.
2) Memicu terjadinya retakan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
1) Ketinggian maksimum cembungan diukur dart puncaknya,dengan menggunakan straight-
edge yang panjangnya 1,2 m atau lebih.
2) Luas kerusakan.
Cara perbaikan
1) Menambal di seluruh kedalaman
2) Pembongkaran total area yang rusak dan menggantikannya dengan material baru.
3) Perataan pen-nukaan dengan cara menimbunnya dengan material baru.
4) Scmbarang cara, untuk perbaikan pennanen, pada prinsipnya harus ditujukan untuk
menstabilkan kadar air dalam struktur perkerasan.
1.6 Benjol dan Turun (Bump and Sags)
Benjol adalah gerakan atau perpindahan ke atas, bersifat lokal dan kecil, dari permukaan
perkerasan aspal, sedangkan penurunan (sags) yang juga berukuran kecil, merupakan gerakan
ke bawah dari permukaan perkerasan (Shahin, 1994). Bila distorsi dan perpindahan yang terjadi
dalam area yang luas dan rnenyebabkan naiknya area perkerasan secara luas, maka disebut
"mengembang"(swelling).
Kerusakan benjol tidak sama dengan sungkur, di mana kerusakan sungkur diakibatkan oleh
perkerasan yang tidak stabil. Jika benjolan nampak mempunyai pola tegak lurus arah lalu-lintas
dan berjarak satu sama lain kurang dari 10 ft (3 m), maka kerusakannya
disebut keriting (corrugation) (Shahin, 1994).
Faktor penyebab kerusakan
1) Tekukan atau penggembungan dari perkerasan pelat beton di bagian bawah yang diberi lapis
tambahan (over/ay) dengan aspal.
2) Kenaikan oleh pembekuan es (lensa-lensa es).
3) Infiltrasi dan penumpukan material dalam retakan yang diikuti dengan pengaruh beban lalu-
lintas.
Resiko lanjutan
Mengurangi kenyamanan dan keselamatan kendaraan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
Benjol dan penurunan diukur panjang dan tingginya.
Cara perbaikan
1) Cold mill.
2) Penambalan dangkal, parsial atau di seluruh kedalaman.
3) Pelapisan tambahan (overlay).
2. Retak (Crack)
Retak dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor
dan melibatkan mekanisme yang kompleks. Secara teoritis, retak dapat terjadi bila tegangan taik
yang terjadi pada lapisan aspal melampui tegangan tarik maksimum yang
dapat ditahan oleh perkerasan tersebut. Misalnya, retak cleh kelelahan(fatigue) terjadi akibat
tegangan tank berulang-ulang akibat beban lalu-lintas. Perkerasan yang kurang kuat tidak
mempunyai tahanan terhadap tegangan tarik yang tinggi. Demikian pula, jika campuran
aspal menghasilkan material yang kuat, tapi temyata lapisan yang berada di bawahnya Iemah,
maka campuran juga akan mengalami retak tarik. Jadi, dalam perancangan campuran akan
diperlukan dua faktor penting, yaitu:
1) Rencana campurannya sendiri.
2) Rencana tebal perkerasan.
Dalam perancangan, untuk menghitung tebal perkerasan, maka perkerasan dianggap sebagai
bahan yang elastis dan isotropic. Oleh akibat beban lalu-lintas, tegangan dan regangan tarik akan
terjadi terutama di bagian bawah lapisan, dan hanya sebagian kecil saja terjadi di bagian atasnya.
Oleh karena itu, retak tank akan cenderung dimulai dan bagian bawah perkerasan. Namun, retak
juga hisa dirnulai dari atas perkerasan bila lapis aus berubah menjadi getas. Umumnya,lapis aus
aspal akan menjadi getas oleh akibat proses pcnuaan akibatoksidasi dan penguapan. Kecuali itu,
pengaruh lingkungan, seperti perubahan iklim hujan-panas, juga akan mempengaruhi
terjadinya rctak tank pada perkerasan aspal di bagian atas.
Untuk mencegah tcrjadinya retak yang terlalu dini, maka perancangan campuran harus
memperhatikan faktor-faktor, seperti:
1) Sifat rheologi aspal, misalnya penetrasi, kekentalan dan indeks penetrasi.
2) Kadar aspal optimurniefektif.
3) Tebal lapisan film aspal (Bitumen Film Thickness, BFT), dan rongga dalam mineral
agregat (Voids in the Minerals Aggregate,VMA) dan rongga terisi aspal ( Voids Filled with
Binder, VFB) harus diperhatikan.
Untuk perbaikan retakan, maka diperlukan mengetahui sebab-sebab adanya retakan. Retak
tunggal mungkin dapat ditangani dengan baik dan apabila terdapat banyak retakan dalam area
yang luas, perawatan permukaan dapat menjadi pilihan yang tepat untuk perbaikan. Dalam
kondisi yang lain, pembongkaran total pada area
retakan dan pemasangan drainase mungkin dibutuhkan sebelum perbaikan yang lebih efektif
yang dapat dilakukan.
Mengacu pada AUSTROADS (1987), retak pada perkerasan lentur dapat dibedakan menurut
bentuknya yaitu :
1) Retak memanjang (longitudinal craks)
2) Retak melintang (transverse cracks)
3) Retak diagonal (diagonal cracks)
4) Retak berkelok-kelok (meandering)
5) Retak reflektif sambungan (joint reflective cracks)
6) Retak blok (block cracks)
7) Retak kulit buaya (alligator cracks)
8) Retak slip (slippage cracks) atau retak bentuk bulan sabit (crecent shape cracks)

2.1 Retak Memanjang (Longitudinal Cracks)


Retak berbentuk memanjang pada perkerasan jalan dapat terjadi dalam bentuk tunggal atau
berderet yang sejajar, dan kadang-kadang sedikit bercabang.Retak memanjang dapat terjadi oleh
labilnya lapisan pendukung dari struktur perkerasan.
Retak memanjang dapat timbul oleh akibat beban maupun bukan.Retak yang bukan akibat
beban,misalnya oleh akibat adanya sambungan pelaksanaan ke arah memanjang. Kurangnya
ikatan antara bagian-bagian perkerasan selama pelaksanaan mengakibatkan
timbulnya retakan.
Faktor penyebab kerusakan
1) Gerakan arah memanjang oleh akibat kurangnya gesek internal dalam lapis
pondasi (base) atau tanah-dasar, sehingga lapisan tersebut kurang stabil.
2) Adanya perubahan volume tanah di dalam tanah-dasar oleh gerakan vertikal.
3) Penurunan tanah urug atau bergeraknya lereng timbunan. Lebar celah bisa mencapai 6 mm,
sehingga memungkinkan adanya infiltrasi air dart permukaan.
4) Adanya penyusutan semen pengikat pada lapis pondasi (base) atau tanah-dasar.
5) Kelelahan (fatigue) pada lintasan roda.
6) Pengaruh tegangan termal (akibat perubahan suhu) atau kurangnya pemadatan.
Resiko lanjutan
1) Mengganggu kenyamanan dan keselamatan
2) Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
3) Retak dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-
dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
1) Lebar retak yang dominan.
2) panjang retak yang dominan
3) Jarak retakan.
4) Luas dacrah kerusakan.
Cara perbaikan
Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kcrusakannya
2.2 Retak Melintang (Transverse Cracks)
Retak melintang merupakan retakan tunggal (tidak bersambungan satu sama lain) yang
melintang perkerasan.Perkerasan, retak ketika temperatur atau lalu-lintas
menimbulkan tegangan dan regangan yang melampaui kuat tarik atau kelelahan dari
campuran aspal padat. Retak macam ini biasanya berjarak yang mendekati sama. Retak
melintang akan terjadi biasanya berjarak
lebar, yaitu sekitar 15 20 m (Lavin, 2003). Dengan berjalannya waktu, retak melintang
berkembang pada interval jarak yang Iebih pendek. Retak awalnya nampak sebagai retak rambut,
danakan semakin lebar dengan berjalannya waktu.
Faktor penyebab kerusakan
1) Penyusutan bahan pengikat pada lapis pondasi dan tanah-dasar.
2) Sambungan pelaksanaan atau retak susut (akibat temperature rendah atau pengerasan)
aspal dalam perniukaan.
3) Kegagalan struktur lapis pondasi.
4) Pengaruh tegangan termal (akibat perubahan suhu) atau kurangnya pemadatan.
Resiko lanjutan
1) Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
2) Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
3) Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-
dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
1) Lebar retak yang dominan.
2) Panjang retak yang dominan.
3) Jarak retakan.
4) Luas dacrah kerusakan.
Cara perbaikan
Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan
tingkat kerusakannya
2.3 Retak Diagonal (Diagonal Cracks)
Retak diagonal adalah retakan yang tidak bersambungan satu sama lain yang arahnya diagonal
terhadap perkerasan.
Faktor penyebab kerusakan
1) Refleksi dari retak susut atau sambungan pada material pengikat yang berada di bawahnya
[umumya beton semen portland, lapis pondasi rekat (cemented base) dan lapis pondasi
aspal (asphalt base)].
2) Terjadi beda penurunan antara timbunan, galian atau bangunan.
3) Desakan akar pohon-pohonan.
4) Pemasangan bangunan layanan umum.
Resiko lanjutan
1) Mengganggu kenyamanan dan keselamatan
2) Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
3) Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-
dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
1) Lebar retak yang dominan.
2) Panjang retak yang dominan.
3) Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat
kerusakannya Secara pendekatan, tingkat kerusakan perkerasan
2.4 Retak Berkelok-kelok (Meandering Cracks)
Retak berkelok-kelok adalah retak yang tidak saling berhubungan, polanya tidak teratur, dan
arahnya bervariasi biasanya sendiri-sendiri
Faktor penyebab kerusakan
1) Penyusutan material di bawah material rekat atau material butiran halus tertentu.
2)Pelunakan tanah di pinggir perkerasan akibat kenaikan kelembaban,atau terjadi beda pe
nurunan antara timbunan,galian atau struktur
3) Pengaruh akar tumbuh-tumbuhan.
Resiko lanjutan
1) Mengganggi kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
2) Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
3) Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-
dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
1) Lebar retak yang dominan.
2) Panjang retak yang dominan.
3) Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya
2.5 Retak Reflektif Sambungan (Joint Reflection Cracks) (berasal dari Pelat Beton Semen
Portland, PCC,Memanjang dan 11,Ielintang)
Kerusakan ini umumnya terjadi pada permukaan perkerasan aspal yang telah dihamparkan di
atas perkerasan beton semen portland (Portland Cement Concrete, PCC). Retak terjadi pada
lapis tambahan (overlay) aspal yang mencerminkan pola retak dalam perkerasan beton lama
yang berada di bawahnya. Jadi, retakan ini terjadi pada lapis tambahan dalam perkerasan aspal,
di mana retak pada lapisan lama belum sempurna diperbaiki Pola retak dapat ke arah
memanjang, melintang, diagonal atau membentuk blok.
Retak reflektif pada sambungan tidak termasuk retak reflektif dari lapis pondasi (stabilisasi kapur
atausemen).Retakaninidapat disebabkan oleh perubahan suhu atau kelembaban yang me
ngakibatkanpelat beton di bawah lapisan aspal bergerak. Jadi, retak semacam ini bukan dari
akibat pengaruh beban lalu-lintas. Namun, beban lalu-lintas dapat memecahkan permukaan
aspal di sekitar retakan. Jika perkerasan menjadi terpecah-pecah di sepanjang retakan, maka
retak ini disebut gompal (spoiling).
Faktor penyebab kerusakan
1) Gerakan vertikal atau horizontal pada lapisan di bawah lapis tambahan, yang timbul akibat
ekspansi dan kontraksi saat terjadi perubahan temperatur atau kadar air.
2) Gerakan tanah pondasi.
3) Hilangnya kadar air dalam tanah-dasar yang kadar lempungnya tinggi.
Resiko lanjulan
1) Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
2) Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
1) Lebar retak yang dominan.
2) Panjang retak yang dominan.
3) Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
1) Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya.
2.6 Retak Kulit Buaya (Alligator Cracks)
Retak kulit buaya adalah retak yang berbentuk sebuah jaringan dari bidang bersegi
banyak (poligon) ker,il kecil menyerupai kulit buaya, dengan lebar celah lebih besar atau sama
dengan 3 mm. Retak ini disebabkan oleh kelelahan akibat beban lalu-lintas berulang-ulang.
Retak dimulai dari bagian bawah permukaan aspal (atau pondasi yang distabilisasi), di mana
tegangan dan regangan tank sangat besar di bawah beban roda. Retak
merambat ke permukaan, awalnya berupa suatu rangkaian retakretak memanjang. Sesuda
h dibebani berulang-ulang, retak saling berhubungan satu sama lain. Pecahan-pecahan,
umumnya berukuran kurang dari 0,6 ni pada nisi terpanjangnya. Retak kulit buaya
terjadi hanya pada daerah yang dipengaruhi beban kendaraan secara berulang-ulang, seperti
pada lintasan roda. Karena itu, retak ini tidak menyebar ke seluruh area perkerasan, kecuali jika
pola lalulintasnya juga menyebar. Pola retak yang terjadi menyeluruh ke area perkerasan,
dan bukan akibat pengaruh oleh beban lalu-lintas adalah "retak blok" (block cracking).Pada
lokasi retak, mungkin diikuti atau tidak diikuti oleh penurunan, dan dapat terjadi di mana saja
dalam area permukaan perkerasan. Retak kulit buaya merupakan retak yang umum terjadi pada
perkerasan aspal, dan biasanya diikuti dengan munculnya tipe kerusakkan alur.
Faktor penyebab kerusakan
1) Defleksi berlebihan dari permukaan perkerasan.
2) Gerakan satu atau lebih lapisan yang berada di bawah.
3) Modulus dari material lapis pondasi rendah.
4) Lapis pondasi atau lapis aus terlalu getas.
5) Kelelahan (fatigue) dari permukaan.
6) Pelapukan permukaan,tanah-dasar atau bagian perkerasan di bawah lapis permukaan kurang
stabil.
7) Bahan lapis pondasi dalam keadaan jenuh air, karena air tanah naik.
Resiko lanjutan
1) Mengganggu kenyamanan dan keselamatan laiu-lintas.
2) Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
1) Lebar retak yang dominan.
2) Lebar sel yang dominan.
3) Luas daerah kerusakan.
Kesulitan terbesar dalam mengukur retak kulit buaya adalah karena dua atau tiga tipe tingkat
kerusakan sering muncul di dalam satu area rusak. Bila beda tingkat kerusakan tidak
bisa dipisahkan, seluruh area harus diasumsikan inempunyai tingkat kerusakan tertinggi yang ada
di lokasinya.
Pilihan cara perbaikan
1) Penambalan parsial atau di seluruh kedalaman.
2) Jika tingkat kerusakan ringan, pemeliharaan sementara seperti menutup dengan larutan
penutup (slurry seal) atau penanganan permukaan yang lain. Penambalan dapat membantu
sebelum perbaikan permanen dilakukan. Penutupan retakan dengan pengisi tidak begitu
efektif untuk perbaikan retak kulit buaya.
3) Lapisan tambahan.
2.7 Retak Blok (Block Cracks)
Retak blok ini berbentuk blok-blok besar yang saling bersambuitgan, dengan ukuran sisi
blok 0,20 sampai 3 meter, dan dapat membentuk sudut atau pojok yang tajam.
Kerusakan ini bukan karena beban lalu-lintas. Kesulitan sering terjadi untuk membedakan
apakah retak blok disebabkan oleh perubahan volume di dalam campuran aspal atau
di dalam lapis pondasi (base) atau tanah-dasar. Retak blok biasanya terjadi pada area yang luas
pada perkerasan aspal, tapi kadang-kadang hanya terjadi pada area yang jarang dilalui lalu-lintas.
Tipe kerusakan ini, berbeda dengan retak kulit buaya yang bentuknya lebih kecil, dan lebih
banyak pecahan-pecahan dengan sudut tajam. Selain itu, retak kulit buayalebih banyak
disebabkan oleh beban kendaraan yang berulang-ulang, yang dengan demikian kerusakan ini
hanya terjadi pada jalur lalu-lintasan roda.
Faktor penyebab kerusakan
1) Perubahan volume campuran aspal yang mempunyai kadar agregat halus tinggi dari aspal
penetrasi rendah dan agregat yang mudah menyerap (odsorptive aggregate).
2) Pengaruh siklus temperatur harian dan pengerasan aspal.
3) Sambungan dalam lapisan beton yang berada di bawahnya.
4) Retak akibat kelelahan (fatigue) dalam lapisan aus aspal.
Resiko lanjutan
1) Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
2) Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
1) Lebar retak yang dominan.
2) Lebar sel yang dominan.
3) Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
1) Retak dapat ditutup dengan larutan pengisi. Retak yang
besar diisi dengan larutan emulsi aspal yang diikuti dengan penanganan permukaan atau
larutan pengisi.
2) Pengkasaran dengan pemanas (heater scarify) dan lapis tambahan (overlay).
2.8 Retak Slip (Slippage Cracksyltetak Bentuk Bulan Sabit (Crescent Shape Cracks)

Retak slip atau retak berbentuk bulan sabit yang diakibatkan oleh gaya-gaya horisontal yang
berasal dari kendaraan. Retak ini diakibatkan oleh kurangnya ikatan antara lapisan permukaan
dengan lapisan dibawahnya,sehingga terjadi penggelineiran.Jarak retakan sering berdekatan dan
berkelompok secara paralel.Retakan ini sering terjadi pada tempat-tempat kendaraan
mengerem, yaitu pada saat turun dan bukit.
Faktor penyebab kerusakan
1) Kurangnya ikatan lapisan permukaan dengan lapisan dibawahnya. Hal ini dapat
disebabkan oleh debu, minyak, karet,kotoran, air atau bahan lain yang tidak adhesif yang berada
diantara lapis aus (wearing course) dan lapisan di bawahnya.Biasanya, buruknya ikatan terjadi
akibat tidak digunakannya tack coat atau prime coat dengan lapisan tipis aspal pada agregat
pondasi (base).
2) Campuran terlalu banyak kandungan pasimya
3) Pemadatan perkerasan kurang.
4) Tegangan sangat tinggi akibat pengereman dan percepatan kendaraan.
5) Lapis aus di permukaan terlalu tipis.
6) Modulus lapis pondasi (base) terlalu rendah.
Resiko lanjutan
1) Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
2) Retak meluas ke seluruh area perkerasan
Data yang diperlukan untuk perbaikan
1) Lebar retak yang dominan.
2) Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
Membongkar lapisan aspal yang rusak, kemudian dilakukan penambalan permukaan.
3. Kerusakan di Pinggir Perkerasan
Kerusakan di pinggir perkerasan adalah retak yang terjadi di sepanjang pertemuan antara
permukaan perkerasan aspal dan bahu jalan, lebih-lebih bila bahu jalan tidak
ditutup (unsealed). Kerusakan ini terjadi secara lokal atau bahkan bisa memanjang di
sepanjang jalan, dan sering terjadi di salah satu bagian jalan, atau sudut. Akibat dari kerusakan
pinggir adalah:

a) Lebar perkerasan berkurang.


b) Kehilangan kenyamanan kendaraan, dan dapat mengakibatkan kccelakaan.
c) Air masuk ke dalam lapis pondasi (base).
cl) Tejadinya alur di pinggir dapat mengakibatkan erosi pada bahu jalan.
Mengacu pada AUSTROADS (1987), kerusakan di pinggir perkerasan aspal dapat dibedakan
menjadi:
1) Retak pinggir (edge cracking)/pinggir pecah (Edge Breaks)
2) Pinggir Turun (edge drop-QM.)
3.1 Retak Pinggir (Edge Cracking)
Retak pinggir biasanya terjadi sejajar dengan pinggir perkerasan dan berjarak 0.3-0.6 m dari
pinggir .Akibat pecah pinggir perkerasan,maka bagian ini menjadi tidak beraturan.
Faktor penyebab kerusakan
1) Kurangnya dukungan dari arah lateral (dari bahu jalan).
2) Drainase kurang baik.
3) Kembang susut tanah di sekitarnya.
4) Bahu jalan turun terhadap permukaan perkerasan.
5) Seal coat lemah, adhesi permukaan ke lapis pondasi (base)hilang.
6) Konsentrasi lalu-lintas berat di dekat pinggir perkerasan.
7) Adanya pohon-pohonan besar di dekat pinggir perkerasan.
Cara perbaikan
1) Perbaikan bergantung pada tingkat kerusakannya. Jika bahu jalan tidak mendukung pinggir
perkerasan, maka material yang buruk dibongkar dan digantikan dengan material baik
yang dipadatkan.
2) Jika air menjadi faktor penyebab kerusakan pecah, maka harus dibuatkan drainase.
3) Penutupan retakan/penutupan permukaan.
4) Penambalan parsial.
3.2 Jalur/Bahu turun (Lane/Shoulder Drop-Off)
Jalur/bahu jalan turun adalah beda elevasi antara pinggir perkerasan dan bahu jalan. Bahu jalan
turun relatif terhadap pinggir perkerasan.Hal ini tidak dipertimbangkan penting bila selisih tinggi
bahu dan perkerasan kurang dari 10 sampai 15 mm.
Faktor penyebab kerusakan
1) Lebar perkerasan kurang.
2) Bahu jalan dibangun dengan material yang kurang tahan terhadap erosi dan abrasi.
3) Penambahan lapis permukaan tanpa diikuti penambahan permukaan bahu jalan.\
Cara perbaikan
1) Untuk beda tinggi yang rclatif kccil dan bahu jalan berupa aspal, maka campuran aspal
panas (hot mix) dapat ditempatkanpada bagian yang elevasinya berbeda.
2) Untuk beda tinggi yang besar, bahu jalan hams ditinggikan dengan menghamparkan lapis
tambahan (overlay).
3) Jika penyebabnya adalah drainase yang buruk, maka dibuatkan lagi drainase yang baik.
4) Jika bahu jalan tidak diperkeras, maka dibongkar dan material jelek diganti dengan material
yang bagus dan dipadatkan.
4. Kerusakan Tekstur Permukaan
Kerusakan tekstur permukaan merupakan kehilangan material perkerasan secara berangsur-
angsur dari lapisan pennukaan ke arah bawah. Perkcrasan nampak seakan pecah menjadi bagian-
bagian kecil, seperti pengelupasan akibat terbakar sinar matahari, atau mempunyai garis-garis
goresan yang sejajar. Butiran lepas dapat terjadi di
atas seluruh permukaan, dengan lokasi terburuk di jalur lalulintas. Kerusakan aspal akibat
disintegrasi ini tidak menunjukkan penurunan kualitas struktur perkerasan, hanya mempunyai
pengaruh terhadapgangguan kenyamanan berkendaraan. Beberapa kerusakan yang tidak
diperbaiki, dapat mengakibatkan berlcurangnya kualitas strukturperkerasan.
Kerusakan tekstur permukaan aspal dapat dibedakan menjadi:
1) Butiran lepas (raveling)
2) Kegemukan (bleeding)
3) Agregat licin (polished aggregate)
4) Terkelupas (delamination)
5) Stripping.
4.1 Pelapukan dan Butiran Lepas (Weathering and Raveling)
Pelapukan dan butiran lepas (raveling) adalah disinegrasi permukaan perkerasan aspal melalui
pelepasan partikel agregat yang berkelanjutan, berawal dari permukaan perkerasan mentijil ke
bawah atau dari pinggir ke dalam. Butiran agregat berangsur-angsur lepas dari permukaan
perkerasan, akibat lemahnya pengikat antara partikel agregat.
Biasanya, partikel halus dari agregat lepas lebih dulu, kemudian baru disusul partikel yang
lebih nesar. Kerusakan ini biasanya terjadi pada lintasan roda. Lepasnya butiran, biasanya terjadi
akibat beban lalu-lintas di musim hujan, yaitu ketika kekakuan bahan pengikat aspal
tinggi (Whiteoak, 1991). Selain itu, lepasnya butiran juga dapat disebabkan oleh aksi abrasif dari
ban kendaraan, khususnya di perempatan jalan dan tempat parkir (Lavin, 2003).
Faktor penyebab kerusakan
1) Campuran material aspal lapis permukaan kurang baik.
2) Mcicmahnya bahan pengikat dan/atau batuan.
3) Pemadatan kurang baik, karena dilakukan pada musim hujan.
4) Agrcgat hydrophilic (agregat mudah menyerap air).
Cara perbaikan
Perawatan permukaan dengan menggunakan chip .vcal atau slurry seal.
4.2 Kegemukan (Bleeding/Flushing)
Kegemukan adalah hasil dari aspal pengikat yang berlebihan, yang bermigrasi ke atas permukaan
perkerasan. Kelebihan kadar
aspal atau terlalu rendahnya kadar udara dalam campuran, dapat mengakibatkan
kegemukan.Kegemukan juga menyebabkan tenggelamnya agregat (parsial maupun
keseluruhan)ke dalam pengikat aspal yang menyebabkan berkurangnya kontak antara ban
kendaraan dan batuan.Kerusakan ini menyebabkan permukaan jalan menjadi licin. Pada
temperatur tinggi, aspal menjadi lunak dan akan terjadi jejak roda.
Faktor penyebab kerusakan
1) Pemakaian kadar aspal yang tinggi pada campuran aspal.
2) Kadar udara dalam campuran aspal terlalu rendah. 1-1
3) Pemakaian terlalu banyak aspal pada pekerjaan prune coat atau tack coat.
4) Pada tambiilan, terlalu banyaknya aspal di bawah permukaan tambalan.
5) Agregat terpenetrasi ke dalam lapis pondasi, sehingga lapis pondasi menjadi lemah.
Cara perbaikan
1) Pemberian pasir panas atau batu caring panas untuk mengimbangi kelebihan aspal.
2) Jika kegemukan ringan, perawatan dilakukan dengan agTegat seal coat, dengan menggunakan
agregat yang mudah menyerap.
4.3 Agregate Licin (Polished Aggregate)
Agregat licin adalah licinnya permukaan bagian alas perkerasan, akibat ausnya agregat di
permukaan, Kecenderungan perkerasan menjadi licin dipengaruhi oleh sifat-sifat geologi dari
agregat. Akibat pelicinan agregat oleh lalu lintas, aspal pengikat akan hilang dan permukaan jalan
menjadi iicin, terutama sesudah hujan, sehingga membahayakan kendaraan.
Faktor penyebab kerusakan
Agregat kasar di permukaan beton tidak tahan aus, berbentuk bulat dan licin, tidak berbentuk
kubikal. Beberapa agregat, khususnya batu gamping. menjadi halus oleh pengaruh lalu-
lintas.
Beberapa macam kerikil yang secara alarmi permukaannya halus, jika digunakan untuk
permukaan perkerasan tanpa memecahnya, maka akan menyebabkan gangguan kekesatan
permukaan jalan. Agregat halus ini akan menjadi licin bila basah oleh air hujan.
Cara perbaikan
1) Pclapisan ulang (overlay) tipis.
2) Membersihkan bahan-bahan yang bisa membuat aus agregat dilapisan permukaan
Cara perbaikan
Penghamparan lapis tambahan (overlay).
4.5 Stripping
Stripping adalah suatu kondisi hilangnya agregat kasar dari bahan penutup yang disemprotkan,
yang menyebabkan bahan pengikat dalam kontak Iangsung dengan ban.Pada saat musim panas,
aspal dapat tercabut dan melekat pada ban kendaraan.
Faktor penyebab kerusakan
1) Kandungan pengikat terlalu sedikit.
2) Pengikat tidak mengikat batuan dengan baik (kotor,Agregrat hydrophylic, batuan basah).
3) Penyerapan pengikat.
4) Kerusakan/ausnya batuan.
5) Pencampuran pengikat kurang baik.
6) Pemadatan kurang.
Cara perbaikan
Pcnghamparan lapis tambahan (overlay) tipis.
5. Lubang (Potholes)
Lubang adalah lekukan permukaan perkerasan akibat hilangnya lapisan aus dart material
lapis pondasi (base). Kcrusakan bcrbentuk lubang kecil biasanya berdiameter kurang dari 0,9 m
dan berbentuk mangkuk yang dapat berhubungan atau
tidak berhubungan dengan kerusakan permukaan lainnya. Lubang bisa terjadi akibat galian
utilitas atau tambalan di area perkerasan
yang tclah ada. Lubang, umumnya mempunyai tepi yangtajam dan mendekati vertikal. Lub
ang ini terjadi ketika beban lalu-lintas menggerus bagian-bagian kecil dart permukaan
perkerasan, sehingga air bisa masuk. Disintegrasi terjadi karena melemahnya lapis
pondasi(base) atau mutu campuran lapis permukaan yang kurang baik. Air yang masuk ke dalam
lubang dan lapis pondasi ini mempercepat kerusakan jalan.
Pertumbuhan kerusakan lubang tersebut akan dipercepat .berrkumpulnya air dalam lubang.
Lubang sering merupakan kerusakan struktural.dan harus dibedakan dengan kerusakan tipe
butiran lepas (raveling) dan pelapukan (weathering).Jika lubang pada perkerasan diciptakan oleh
akibat retak kulit buaya yang sangat parah,
maka kerusakan ini harus diidentifikasikan sebagai kerusakan lubang (pothole).dan bukan
kerusakan tipe pelapukan(weathering) (Shahin,1994).
Faktor penyebab kerusakan
1) Campuran material lapis permukaan yang kurang baik.
2) Air masuk ke dalam lapis pondasi lewat retakan di permukaan perkerasan yang tidak segera
ditutup.
3) Beban lalu-lintas yang mengakibatkan disintegrasi lapis pondasi.
4) Tercabutnya aspal pada lapisan aus akibat melekat pada ban kendaraan.
Cara perbaikan
1) Perbaikan permanen dilakukan dengan penambalan diseluruh kedalaman.
2) Perbaikan sementara dilakukan dengan membersihkan lubang dan mengisinya dengan
campuran aspal dingin yang khusus untuk tambalan
6. Tambalan dan Tambalan Galian Utilitas (Paching and utility cut patching)
Tambalan (patch) adalah pcnutupan bagian perkerasan yang mengalami perbaikan. Kerusakan
tambalan dapat diikuti/tidak diikuti oleh hilangnya kenyamanan kendaraan (kegagalan
fungsional) atau rusaknya struktur perkerasan. Rusaknya
tambalan menimbulkan distorsi, disintegrasi, retak atau terkelupas antara tambalan dan
permukaan perkerasan asli .Kerusakan tambalan dapat terjadi karena permukaan yang menojol
atau ambles terhadap permukaan permukaan perkerasan.Jika kerusakan terjadi pada tambalan
maka kerusakan tersebut belum tentu disebabkan oleh lapisan yang utuh
Faktor penyebab kerusakan
1) Amblesnya tambalan umumnya disebabkan oleh kurangnya pemadatan material urugan lapis
pondasi (base) atau tambalan material aspal.
2) Cara pemasangan material bawah buruk.
3) Kegagalan dari perkerasan di bawah tambalan dan sekitarnya.
Cara perbaikan
1) Perbaikan atau penggantian tambalan di seluruh kedalaman untuk perbaikan permanen.
2) Dilakukan penambalan permukaan untuk perbaikan sementara.
7. Persilangan Jalan Rel (Railroad Crossing)
Kerusakan pada persilangan jalan rel dapat berupa ambles atau benjolan di sekitar dan/atau
antara lintasan rel .
Faktor penyebab kerusakan
1) Amblesnya perkerasan, sehingga timbul beda elevasi antara permukaan perkerasan dengan
permukaan rel.
2) Pelaksaaan pekerjaan perkerasan atau pemasangan jalan rel yang buruk.
Resiko lanjutan
Mengganggu kenyamanan kendaraan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
Luas dari persilangan diukur. Sembarang tonjolan besar yang diakibatkan oleh lintasan rel harus
dianggap sebagai bagian dari persilangan.
Cara perbaikan
1) Penambalan parsial atau di seluruh kedalaman.
2) Rekonstruksi persilangan jalan rel.
8. Erosi Jet Blast (Jet Blast Erosion)
Erosi jet blast adalah kerusakan perkerasan beton aspal pada bandara. Kerusakan ini
menyebabkan area permukaan aspal menjadi gelap, ketika pengikat aspal telah terbakar atau
terkarbonisasi. Area terbakar lokal mempunyai kedalaman yang bervariasi sampai sekitar
in (12,7 mm) (Shahin, 1994). Erosi jet blast diukur dalam satuan luas, feet persegi atau meter
persegi.
9. Tumpalian Minyak (Oil Spillage)
Tumpahan minyak adalah kerusakan atau pelunakan
permukaan perkerasan aspal di bandara yang disebabkan oleh tumpahan minyak, pelumas,
atau cairan yang lain. Tipe kerusakan seperti ini, terutama tcrjadi pada perkerasan beton
aspal di bandara. Kerusakan diukur dalam satuan luas, feet persegi atau meter persegi.
10. Konsolidasi atau Gerakan Tanah Pondasi
Penurunan konsolidasi tanah di bawah timbunan menyebabkan distrorsi perkerasan. Perkerasan
lentur yang dibangun di atas kotoran atau tanah gambut, akan memunculkan area yang
ambles. Kegagalan urugan juga menyebabkan retak yang berbentuk setengah lingkaran di
permukaan perkerasan. Gerakan ini dapat dikenali, pertama kali dengan akan longsor. Retak
yang biasanya berbentuk setengah lingkaran, ataupola memanjang pada perkerasan yang berada
di atas timbunan hams diselidiki kemungkinan adanya ketidakstabilan lereng. Gerakan
akibat mampatnya lapisan tanah lunak, tidak dipengaruhi oleh tebal lapis pondasi (base) atau
perkerasan. Gerakan ini ditandai dengan gerakan turun perlahan. Kerusakan semacam ini dapat
diperbaiki dengan meletakkan lapisan perata, sehingga kualitas kerataan perkerasan dapat
dikembalikan ke kondisinya semula.

Sumber:
https://binamarga.grobogan.go.id/info/artikel/29-konstruksi-perkerasan-lentur-flexible-
pavement
http://bebas-unik.blogspot.co.id/2014/11/perkerasan-jalan.html
http://nanang-supriyadi.blogspot.co.id/2013/09/perkerasan-lentur.html