Anda di halaman 1dari 7

Referat:

Infeksi Puerperalis

Disusun Oleh:
20164011096 Rudi Ilhamsyah
20164011110 Andi Bagus Pribadi
Anindhita Ratna Fadhilla

RSUD Kota Yogyakarta


Pendidikan Profesi Dokter
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2017
A. Pendahuluan
Postpartum adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan
dan plasenta keluar lepas dari rahim, sampai enam minggu
berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ
yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami
perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan
saat melahirkan (Suherni, 2009).
Penyebab kematian ibu setelah perdarahan dan
hipertensi dalam kehamilan adalah infeksi, termasuk di
dalamnya adalah sepsis maternal (sepsis puerperalis)
(Krisnadi, 2015).
Infeksi nifas adalah istiah umum yang digunakan untuk
menyatakan adanya infeksi bakteri apapun yang menyerang
sistem reproduksi setelah persalinan. Untungnya, karena
terapi antimikroba yang efektif, kematian ibu karena infeksi
telah jarang terjadi (Cunningham, 2012).

B. Definisi
Menurut WHO, Sepsis Puerperalis adalah infeksi saluran
genital yang dapat terjadi kapanpun mulai dari pecahnya
ketuban atau saat persalinan sampai dengan hari ke-42
pascasalin, dan memenuhi kriteria seperti dibawah ini:
Demam Gejala yang berhubungan
> 38 C diukur 2x Nyeri Panggul
dengan interval 4 jam Sekret vagina abnormal
> 38,5 C dalam 1x (Warna, jumlah,
pengukuran konsistensi, bau)
Pemanjangan waktu
involusi vagina
(Krisnadi,
2015)
Saat ini klasifikasi sepsis maternal mencakup infeksi
yang lebih luas, yaitu:
a. Infeksi sistem genitourinari yang berkaitan dengan
persalinan dan nifas:
1) Infeksi terkait uterus dan strukturnya
(Endometrisis, miometrisis, salpingitis,
parametrisis, perimetrisis)
2) Korioamnionitis
b. Infeksi yang secara spesifik berkaitan dengan proses
persalinan namun tidak berkaitan dengan sistem
genitourinari:
1) Abses payudara
2) Infeksi saluran kemih
3) Hepatitis
c. Infeksi insidental
1) Malaria
2) Infeksi saluran pernafasan
3) HIV
4) Appendisitis
d. Infeksi Nosokomial
1) Infeksi saluran urinari akibat dari kateterisasi
2) Pneumonia yang didapat dari alat ventilator
(Krisnadi, 2015)

C. Demam Nifas
Terdapat sejumlah faktor yang dapat menyebabkan
demam pada masa nifas. Sebagian besar demam persisten
setelah kelahiran bayi disebabkan oleh infeksi saluran
genital. Filker dan Monif melaporkan bahwa hanya sekitar
20% dari ibu yang demam dalam 24 jam pertama setelah
melahirkan per vaginam yang kemudian didiagnosis sebagai
infeksi pelvis, sedangkan dengan caesar 70% (Cuningham,
2012).
Bila suhu mencapai 39 C atau lebih yang terjadi dalam
24 jam pertama pascapartum dapat disebabkan oleh infeksi
pelvis virulen oleh streptococus grup A. Penyebab umum
demam nifas lainnya adalah pembengkakan payudara dan
pielonefritis atau kadang-kadang komplikasi respiratorik
setelah bedah caesar (Cuningham, 2012).
D.Etiologi
Jenis bakteri lain yang ditemukan sebagai penyebab
sepsis puerperalis antara lain Streptococcus pyogenes,
Streptococcus pneumonia, MRSA, Clostridium tetani,
Clostridium septicum, Clostridium welchii, dan Morganella
morganii. Bakteri penyebab penyakit menular seksual (PMS)
seperti Gonococcus dan Chlamydia juga dapat menjadi
penyebab sepsis puerperalis. Lebih dari satu jenis bakteri
dapat terlibat dalam patogenesis sepsis puerperalis, yang
bersifat endogen maupun eksogen. Bakteri-bakteri ini secara
normal hidup dalam vagina dan rektum tanpa
membahayakan ibu, namun dengan teknik persalinan paling
higienis sekalipun, infeksi bakteri endogen tetap dapat
terjadi. Bakteri endogen dapat menjadi berbahaya dan
menyebabkan infeksi jika:
1) Terbawa ke dalam uterus, biasanya dari vagina melalui
jari atau alat saat pemeriksaan panggul
2) Terdapat kerusakan jaringan seperti memar, jaringan
nekrosis atau jaringan mati setelah persalinan
traumatik
3) Ketuban pecah lama sehingga mikroorganisme dapat
menginfeksi uterus
Selain bakteri endogen, sepsis puerperalis juga dapat
diakibatkan oleh bakteri eksogen yang berasal dari luar
vagina seperti beberapa jenis Streptococcus,
Staphylococcus, Clostridium tetani, dll. Bakteri eksogen
dapat masuk ke vagina melalui:
1) Tangan yang kotor dan peralatan yang tidak steril
2) Droplet infeksi seperti dari bersin atau batuk
3) Substansi asing yg tersisipkan ke dalam vagina
misalnya minyak, herba, kain
4) Aktivitas seksual
Infeksi umumnya dimulai dari tempat perlekatan
plasenta sebagai endometritis, yg dapat menyebar secara
asenden, percontinuitatum dan hematogen. Penjalaran
asendens dimulai dari rongga rahim ke saluran tuba dan
rongga abdomen, percontinuitatum melalui endometrium,
miometrium, perimetrium ke parametrium atau ke rongga
abdomen. Korioamnionitis dan endometritis menyebar
menjadi miometritis, perimetritis atau parametritis dan
peritonitis lokal atau umum. Penyebaran dapat sistemik
melalui aliran darah (hematogen) menyebabkan sepsiskemi,
sepsis dan syok septik. Sepsis berat didefinisikan sebagai
sepsis yg disertai disfungsi organ atau hipoperfusi yg
diinduksi oleh sepsis itu sendiri. Tingkat mortalitasnya
mencapai 20-40%, namun dapat meningkat hingga 60% jika
terjadi syok septik.
Selain luka bekas perlekatan plasenta, luka abdominal
dan perineal yang terjadi setelah pembedahan atau laserasi
saluran genital seperti pada serviks, vagina, dan perineum
juga dapat menjadi tempat masuknya infeksi (port dentre)

E. Faktor Predisposisi:
1) Faktor terkait komunitas: mencakup status sosioekonomi
yg rendah, kurangnya pengetahuan, kurangnya akses ke
pusat kesehatan
2) Faktor resiko persalinan: mencakup persalinan tidak
bersih dan cara persalinan. Operasi caesar memiliki
resiko 25 kali lipat lebih dibandingkan dengan
pervaginam.
3) Faktor kondisi komorbid ibu: antara lain malnutrisi,
primiparitas, anemia, obesitas, gangguan metabolisme,
HIV/AIDS, infeksi panggul, dll.
F. Gejala klinis
Gejala klinik dari puerpuralis adalah sebagai berikut:
1) Nyeri abdomenal
2) Pireksia (>38 C diukur 2x dengan interval 4 jam; >38,5
C dalam 1x pengukuran) atau hipotermia (<35 C )
3) Takipnea (>20x pernapasan permenit)
4) Oliguria (urin output <0,5cc/kg/jam)
5) Hipoksia (saturasi O2 < 90%)
6) Hipotensi (tekanan darah sistolik <90mmHg)
7) Takikarida (laju denyut jantung >100 bpm)
8) Leukositosis (jumlah leukosit >12.000/mm3) atau
leukopenia (jumlah leukosit < 4.000/mm3 )
9) Gangguan kesadaran
10) Kegagalan respon pengobatan
11) Peningkatan perdarahan masa nifas
12) Terlambatnya involusi uterus

G.Tatalaksana
Setelah terdiagnosis, tindakan-tindakan berikut ini
harus dilakukan sesegera mungkin dalam 6 jam:
1) Pengukuran laktat serum
2) Dapatkan kultur darah sebelum pemberian antibiotik
3) Pemberian antibiotik dalam satu jam pertama
penegakan diagnosis secara empirik (tidak menunggu
hasil kultur, sesuai dengan pola kuman yang diduga)
4) Dalam keadaan hipotensi dan atau laktat >4 mmol/L:
i. Pemberian minimal 20mL/Kg kristaloid atau koloid
ii. Setelah cairan terpenuhi, vasopressor dan atau
inotropik dapat digunakan untuk mempertahankan
rerata tekanan arterial
5) Mempertahankan saturasi oksigen dengan sungkup,
pertimbangkan transfusi darah jika hemoglobin <7 g/dL
(Krisnadi, 2015).
H.Pencegahan
Pencegahan dapat dimulai dengan persiapan yang baik.
Pendekatan multidimensi sangat dibutuhkan dalam
mencegah insidensi sepsis maternal. Pendekatan ini meliputi
penggunaan pedoman, pendidikan dan pelatihan,
pengawasan, dan peningkatan kualitas monitoring.
Pendidikan seputar nutrisi maternal bagi ibu dan profesional
medis perlu dilakukan untuk mempertahankan kehamilan
yang sehat (krisnadi, 2015).
Untuk kondisi ketuban pecah dini < minggu ke-37
kehamilan dan sebelum persalinan, pemberian antibiotik
preventif dapat menurunkan insidensi sepsis maternal
sebesar 52-90%. Induksi persalinan pada ketuban pecah dini
bila usia kehamilan sudah > 34 minggu dapat menurunkan
risiko sepsis maternal sebesar 35-70 minggu (krisnadi,
2015).

Daftar Pustaka

Krisndi, Sofie R. dan Aziz, Muhammad


Alamsyah.2015.Maternal Sepsis dalam Penatalaksanaan
Intensif Obstetri. Jakarta: Sagung Seto
Cunningham, F Gary. et all. 2010. Obstetri Williams
23rd ed. USA : The McGrawHill Companies, Inc.
Suherni.2009.Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta:
Fitramaya.