Anda di halaman 1dari 21

PUU PSDA yang terkait dengan Proses Amdal, UKL-

UPL dan Izin Lingkungan

Asisten Deputi Kajian Dampak Lingkungan


Deputi Bidang Tata Lingkungan
Kementerian Lingkungan Hidup
Jakarta@2014

0|Page
PUU PSDA yang terkait dengan Proses Amdal, UKL-
UPL dan Izin Lingkungan

A. Pendahuluan

Proses Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan Amdal merupakan


kombinasi antara Science and Art, karena itulah para penyusun
dan penilai/pemeriksan dokumen lingkungan hidup (Amdal & UKL-
UPL) dan penulis izin lingkungan paling sedikit memerlukan tiga
kompetensi sebagai berikut:
1. Kompentesi saintifik terkait dengan identifikasi, prakiraan,
evaluasi dan mitigasi dampak serta berbagai metodologi ilmiah
Amdal menjadi pondasi yang sangat penting untuk menjaga
Amdal sebagai kajian ilmiah yang dapat memberikan informasi
yang tepat dan akurat dalam proses pengambilan keputusan.
2. Kompetensi scientifik tersebut juga harus ditopang dengan
kompetensi terkait dengan kebijakan dan regulasi, sehingga
keputusan yang diambil tetap dalam koridor hukum yang telah
ditetapkan.
3. Hasil keputusan terkait dengan penilaian amdal harus
dituangkan secara tertulis mulai dari peryataan kelengkapan
administrasi dokumen Amdal sampai dengan keputusan izin
lingkungan. Karena itu kompetensi terkait dengan penulisan
(drafting) keputusan administratif penilaian Amdal, terutama
penulisan izin lingkungan (environmental permit writing) menjadi
hal penting yang harus dikuasai oleh para penilai Amdal. Izin
lingkungan yang ditulis harus secara rinci, jelas dan pasti serta
sesuai dengan kajian Amdal; dapat mengintegrasikan izin PPLH
dan compatible dengan perizinan sektor; dan dapat secara
operasional diterapkan oleh pemegang izin lingkungan dan
diawasi oleh PPLH.

Panduan atau pedoman ini disusun dalam upaya untuk


meningkatkan kompetensi para penyusun dan penilai/pemeriksa
dokumen lingkungan terkait dengan aspek kebijakan dan regulasi.

1|Page
Pedoman ini dapat memandu para penyusun dan
penilai/pemeriksan dokumen lingkungan terkait dengan PUU dan
ketentuan-ketentuan PUU yang dapat digunakan sebagai dasar
dalam penyusunan dan penilaian/pemeriksaan dokumen lingkungan
terkait dengan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang
berlokasi di luar, berbatasan langsung dan/atau di dalam kawasan
hutan lindung.

Berdasarkan uraian di atas, Kementerian Lingkungan Hidup telah


mengkompilasi dan menganalis Peraturan Perundang-Undangan
PSDA (Sektor) beserta pasal-pasal atau ketentuan-ketentuan yang
yang terkait dengan Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan. PUU
tersebut terdiri dari:
1) PUU Sektor Terkait Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan: daftar
PUU seperti UU, PP atau Peraturan Menteri dari 14 Bidang/Sektor
dan 72 Jenis Kegiatan yang tercantum dalam Peraturan MENLH
No. 05 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau
Kegiatan Wajib Memiliki Amdal serta memuat pasal-pasal dari
setiap PUU yang menyebutkan ketentuan bahwa Amdal atau
UKL-UPL dan Izin Lingkungan sebagai persyaratan permohonan
izin usaha dan/atau kegiatan;
2) PUU Pemanfaatan Ruang di dalam Kawasan Lindung yang terkait
dengan Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan: berisi daftar PUU
Pemanfaatan Ruang di dalam Kawasan Lindung yang terkait
dengan Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan, serta pasal-pasal
yang memuat atau mengatur ketentuan-ketentuan yang
membolehkan atau mengizinkan jenis-jenis kegiatan tertentu
yang dapat dilakukan di dalam kawasan lindung;

Panduan/pedoman ini berisifat living document yang akan terus


disempurnakan dan disesuaikan dengan perkembangan/perubahan
peraturan perudang-undangan.

2|Page
B. Ketentuan-Ketentuan PUU PSDA dan Keterkaitannya dengan
Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan

1. PUU Sektor Terkait Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan


(Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Wajib Memiliki
Amdal)

No Bidang dan Jenis PUU Keterangan


Kegiatan
A. Bidang Multi
Sektor
1. Reklamasi Wilayah UU 27 Tahun UU 27 Tahun 2007 Pasal 1 ayat (23):
Pesisir dan Pulau- 2007 tentang reklamasi adalah kegiatan yang
Pulau Kecil Pengelolaan dilakukan oleh orang (orang
Wilayah Pesisir perseorangan dan/atau badan
dan Pulau-Pulau Hukum) dalam rangka
Kecil meningkatkan manfaat sumber daya
Peraturan lahan ditinjau dari sudut lingkungan
Presiden No. 122 dan sosial ekonomi dengan cara
Tahun 2012 pengurugan, pengeringan lahan atau
tentang drainase
Reklamasi di Pasal 18 Perpres 122/2012:
Wilayah Pesisir Permohonan izin pelaksanaan
dan Pulai-Pulau reklamasi sebagaimana dimaksud
Kecil; dalam Pasal 15 wajib dilengkapi
Peraturan Menteri dengan:
Perhubungan No. a. izin lokasi;
52 Tahun 2011 b. rencana induk reklamasi;
tentang c. izin lingkungan;
Pengerukan dan d. dokumen studi kelayakan
Reklamasi teknis dan ekonomi finansial;
e. dokumen rancangan detail
reklamasi;
f. metoda pelaksanaan dan jadwal
pelaksanaan reklamasi; dan
g. bukti kepemilikan dan/atau
penguasaan lahan;
Pasal 20 Perpres 122/2012: Izin
pelaksanaan reklamasi dapat
dicabut apabila:
a. tidak sesuai dengan perencanaan
reklamasi; dan/atau
b.izin lingkungan dicabut;
Pasal 18 huruf b angka 4 Peraturan
Menteri Perhubungan No. 52 Tahun
2011: Salah satu persyaratan
Pengajuan permohonan lzin
reklamasi adalah hasil studi Amdal
atau sesuai dengan ketentuan PUU
2. Pemotongan Bukit
dan Pengurukan
Lahan
3. Pengambilan Air UU No. 7 Tahun Pasal 77 ayat (4) PP 42/2008: Dalam
Permukaan 2004 tentang hal rencana pengembangan sumber
Sumber Daya Air daya air mempunyai dampak
PP No. 42 Tahun penting terhadap lingkungan
2008 tentang hidup,diberlakukan ketentuan
Pengelolaan tentang analisis mengenai dampak
Sumber Daya Air lingkungan (AMDAL).

3|Page
No Bidang dan Jenis PUU Keterangan
Kegiatan
4. Pengambilan Air UU No. 7 Tahun Pasal 77 ayat (4) PP 42/2008: Dalam
Bawah Tanah 2004 tentang hal rencana pengembangan sumber
Sumber Daya Air daya air mempunyai dampak
PP No. 42 Tahun penting terhadap lingkungan
2008 tentang hidup,diberlakukan ketentuan
Pengelolaan tentang analisis mengenai dampak
Sumber Daya Air lingkungan (AMDAL).
PP No. 43 Tahun Pasal 67 ayat (1) dan ayat (2) PP
2008 tentang Air 43/2008: Untuk memperoleh izin
Tanah pemakaian air tanah atau izin
pengusahaan air tanah pemohon
wajib mengajukan permohonan
secara tertulis kepada
bupati/walikota dengan tembusan
kepada Menteri dan gubernur.
Salah satu informasi yang harus
dilampirkan dalam permohonan
tersebut adalah UKL-UPL atau
AMDAL sesuai dengan ketentuan
PUU;
5. Pembangunan UU No. 28 Tahun Pasal 15 UU No. 28 tahun 2002:
Bangunan Gedung 2002 tentang salah satu persyaratan bangunan
Bangunan gedung adalah persyaratan
Gedung pengendalian dampak lingkungn
PP No. 36 Tahun bagi bangunan gedung yang dapat
2005 tentang menimbulkan dampak penting bagi
Pelaksanaan UU lingkungan. sesuai dengan
No. 28 Tahun ketentuan PUU di bidang LH.
2002 tentang Persyaratan pengendalian dampak
Bangunan lingkungan menjadi salah satu
Gedung persyaratan tata bagunan sesuai
Peraturan dengan ketentuan pasal 16 PP
Mendagri No. 32 36/2005. Setiap bangunan
Tahun 2010 bangunan gedung yang
menimbulkan dampak penting harus
didahului dengan menyertakan
AMDAL (Pasal 26 PP 36/2005).
Terkait dengan hal tersebut, Pasal
14 ayat (1) dan (2) serta Pasal 15, PP
No. 36 Tahun 2005 secara tegas
menyatakan bahwa setiap orang
yang akan mendirikan bangunan
gedung wajib memiliki izin
mendirikan bangunan (IMB). Salah
satu persyaratan atau kelengkapan
yang dibutuhkan untuk pengajuan
permohonan IMB gedung adalah
AMDAL;
Pasal 9 ayat (2) huruf f Permendagri
No 32/2009: Amdal atau UKL-UPL
bagi yang terkena kewajiban
merupakan salah satu persyaratan
dokumen adminsitrasi permohonan
IMB;
B. BIDANG
PERTAHANAN
1. Pembangunan
Pangkalan TNI AL
2. Pembangunan
Pangkalan TNI AU

4|Page
No Bidang dan Jenis PUU Keterangan
Kegiatan
3. Pembangunan
Pusat Latihan
Tempur
C. BIDANG
PERTANIAN
1. Budidaya PP 18 Tahun 2010 Pasal 11 ayat (1) huruf (j) PP
tanaman pangan tentang Usaha 18/2010: Untuk mendapatkan izin
Budidaya Tanaman usaha.... pemohon harus memenuhi
persyaratan......j. hasil analisis
mengenai dampak lingkungan atau
upaya pengelolaan lingkungan
hidup dan upaya pemantauan
lingkungan hidup sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang lingkungan
hidup;
Pasal 17 ayat (1) huruf b PP
18/2010: Pelaku usaha budidaya
tanaman wajib melaksanakan upaya
pelestarian sumber daya alam
dan/atau fungsi lingkungan hidup
sesuai dengan ketentuan PUU.

2. Budidaya PP 18 Tahun 2010


tanaman tentang Usaha
hortikultura Budidaya Tanaman
UU No. 13 Tahun
2010 tentang
Hortikultura
3. Budidaya UU No. 18 Tahun Pasal 25 UU 18/2004:
tanaman 2004 tentang Wajib memelihara kelestarian fungsi
perkebunan Perkebunan lingkungan hidup & mencegah
kerusakannya;
Sebelum memperoleh izin usaha
perkebunan (a) wajib, membuat
AMDAL, (b) analisis dan
manajemen risiko (hasil rekayasa
Genetik), (c) pernyataan
kesanggupan untuk menyediakan
sarana, prasarana, dan system
tanggap darurat untuk
penanggulangan kebakaran lahan
wajib menerapkan AMDAL dan
melaksanakan UKL/UPL dan/atau
analisis dan manajemen risiko
lingkungan hidup
Tidak ada AMDAL atau UKL-UPL,
Permohonan Izin ditolak
tidak menerapkan AMDAL atau
RKL/RPL, izin usahanya, dicabut

D. Bidang Perikanan
dan Kelautan
1. Usaha Budidaya UU No. 31 Tahun Pasal 26 UU No. 31 Tahun 2004
perikanan 2004 tentang tentang Perikanan: Setiap orang
(tambak) Perikanan; yang melakukan usaha perikanan
2. Usaha budidaya Keputusan Menteri (kecuali nelayan kecil dan/atau
perikanan KKP No. pembudidaya ikan kecil)
terapung 2/MEN/2004 pembudidayaan dan pengolahan
tentang Perizinan ikan wajib memiliki Surat Izin

5|Page
No Bidang dan Jenis PUU Keterangan
Kegiatan
Usaha Usaha Perikanan (SIUP;
Pembudidayaan Pasal 2, Pasal 4 ayat (1), Pasal 5-
Ikan Pasal 19 serta pasal 45 Keputusan
Menteri KKP No. 2/MEN/2004
tentang Perizinan Usaha
Pembudidayaan Ikan pada dasarnya
menyebutkan bahwa salah satu
syarat penerbitan Izin Usaha
Perikanan (IUP) Pembudidayaan
Ikan (di air tawar, air payau dan air
laut) adalah Amdal sesuai dengan
ketentuan PUU.
E. BIDANG
KEHUTANAN
1. Usaha UU No. 41 Tahun Pasal 69 PP No. 6/2007:
pemanfaatan hasil 1999 tentang Pemanfaatan hutan yang
hutan kayu dari Kehutanan kegiatannya dapat mengubah
hutan alam PP No. 6 Tahun bentang alam dan mempengaruhi
2. Usaha 2007 tentang Tata lingkungan, diperlukan analisis
pemanfaatan hasil Hutan dan mengenai dampak lingkungan
hutan kayu dari Penyusunan (AMDAL) sesuai dengan ketentuan
hutan tanaman Rencana peraturan perundang-undangan
Pengelolaan Hutan
serta Pemanfaatan
Hutan
F. BIDANG
PERHUBUNGAN
1. Pembangunan UU No. 23 Tahun Pasal 70, ayat (3) huruf e PP
Jalur Kereta Api 2007 tentang 56/2009: Jalur kereta api yang
Perkeretapian; bersambungan harus
PP 56 Tahun 2009 memperhatikan aspek keselamatan
tentang dan keamanan operasi kereta api,
Penyelengaraan serta memenuhi persyaratan, salah
Perkeretapian satunya adalah Amdal atau UKL-
UPL;
Pasal 314 ayat (1) huruf b PP
56/2009: Badan Usaha yang telah
memiliki izin usaha penyelenggaraan
prasarana perkeretaapian umum
harus melaksanakan kegiatan:
a. perencanaan teknis;
b. analisis mengenai dampak
lingkungan hidup atau UKL dan
UPL;
c. pengadaan tanah; dan
d. mengajukan izin pembangunan
prasarana perkeretaapian umum
sebelum memulai pelaksanaan
pembangunan fisik.
Pasal 321 ayat (3) PP 56/2009 huruf
f: Salah satu perysratan teknis
permohonan izin pembangunan
prasarana perkeretaapian umum
adalah Amdal atau UKL-UPL;
Pasal 355 ayat (1) huruf b PP
56/2009: Badan usaha yang telah
memiliki persetujuan prinsip
pembangunan perkeretaapian
khusus harus melaksanakan
kegiatan:

6|Page
No Bidang dan Jenis PUU Keterangan
Kegiatan
a. perencanaan teknis;
b. analisis mengenai dampak
lingkungan hidup atau UKL dan
UPL; dan
c. pengadaan tanah
Pasal 356 ayat (2) huruf g: Salah
satu perysratan teknis permohonan
izin pembangunan prasarana
perkeretaapiankhusus adalah Amdal
atau UKL-UPL;

2. Pembangunan UU No. 22 Tahun Pasal 40 ayat 1 huruf e UU 22


terminal 2009 tentang Lalu Tahun 2009: Pembangunan
penunmpang dan Lintas dan Terminal harus dilengkapi dengan
terminal barang Angkutan Umum Amdal;
transportasi jalan Penjelasan Pasal 99 ayat (1) UU
22/2009: Analisis dampak lalu
lintas dalam implementasinya dapat
diintegrasikan dengan analisis
mengenai dampak lingkungan

3. Pengerukan dan UU No. 17 Tahun Pasal 189 UU 17/2008: salah satu


penempatan hasil 2008 tentang persyaratan teknis pengerukan
keruk Pelayaran; adalah kelestarian lingkungan;
PP No. 05 Tahun Pasal 99 ayat 3 huruf b dan Pasal 5:
2010 tentang studi kelayakan lingkungan yang
Kenavigasian dilakukan sesuai dengan ketentuan
Peraturan Menteri peraturan perundang-undangan di
Perhubungan No. bidang lingkungan hidup
52 Tahun 2011 merupakan salah satu persyaratan
tentang teknis pengerukan;
Pengerukan dan Pasal 4 ayat (1), (2) huruf b dan
Reklamasi Pasal 7: Pekerjaan pengerukan
wajib memenuhi persyaratan teknis.
Salah satu persyaratan teknis
adalah kelestarian lingkungan
berupa berupa studi kelayakan
lingkungan yang dilakukan sesuai
dengan ketentuan PUU di bidang
lingkungan hidup;
Pasal 11 ayat (2) huruf b angka 7:
salah satu persyaratan Izin
pengerukan adalah persyartan
teknis, salah satunya berupa
dokumen Amdal sesuai dengan
ketentuan PUU.
4. Pembangunan UU No. 17 Tahun Pasal 80, Pasal 81 dan Pasal 83 PP
pelabuhan 2008 tentang 61/2009: Persyaratan kelestarian
Pelayaran; lingkungan sebagaimana dimaksud
PP 61 Tahun 2009 dalam Pasal 80 ayat (3) dan Pasal 81
tentang ayat (3) berupa studi lingkungan
Kepelabuhan yang dilakukan sesuai dengan
ketentuan PUU di bidang lingkungan
hidup;
Pasal 84 PP 61/2009: Dalam
mengajukan permohonan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal
80 ayat (3) dan Pasal 81 ayat (3)
harus disertai dokumen yang terdiri
atas:

7|Page
No Bidang dan Jenis PUU Keterangan
Kegiatan
a. Rencana Induk Pelabuhan;
b. dokumen kelayakan;
c. dokumen desain teknis; dan
d. dokumen lingkungan
Pasal 94 PP 61/2009: Sistem
pengelolaan lingkungan hidup
merupakan salah satu persyaratan
izin pengoperasian pelabuhan.
Pasal 117 PP 61/2009: Persyaratan
kelestarian lingkungan berupa studi
lingkungan yang dilakukan sesuai
dengan ketentuan PUU di bidang
lingkungan hidup merupakan salah
satu persyaratan izin pembangunan
terminal khusus;
Pasal 120 PP 61/2009: laporan
pelaksanaan kajian lingkungan
merupakan salah satu syarat izin
pengoperasian terminal khusus;
Pasal 136 ayat (2) huruf h PP 61
Tahun 2009: studi lingkungan yang
telah disahkan oleh pejabat yang
berwenang sesuai dengan ketentuan
PUU merupakan salah satu syarat
persetujuan pengelolaan terminal
untuk kepentingan sendiri.
5. Pembangunan UU No. 1 Tahun Pasal 215 ayat (2) huruf e dan Pasal
Bandar Udara 2009 tentang 247 UU 1/2009: Kelestarian
Penerbangan; lingkungan merupakan salah satu
PP No. 40 Tahun persyaratan izin mendirikan
2012 tentang bangunan bandar udara dan bandar
Pembangunan dan udara khusus;
Pelestarian Penjelasan Pasal 215 ayat ayat (2)
Lingkungan Hidup huruf e UU 1/2009: Persyaratan
Bandar Udara mengenai kelestarian lingkungan
ditunjukkan dengan adanya studi
Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL), Kerangka
Acuan Andal (KA-ANDAL), Analisis
Dampak Lingkungan (ANDAL),
Rencana Pengelolaan Lingkungan
(RKL), Rencana Pemantauan
Lingkungan (RPL), Upaya
Pengelolaan Lingkungan atau Upaya
Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL),
atau Dokumen Pengelolaan dan
Pemantauan Lingkungan Hidup
(DPPL) yang merupakan dokumen
untuk terpenuhinya persyaratan
kelestarian lingkungan.
Pasal 12 huruf e PP 40/2012:
Kelestrian lingkungan merupakan
salah satu persyaratan penerbitan
Izin mendirikan bangunan Bandar
Udara;
Pasal 18 PP 40/2012: Kelestarian
lingkungan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 huruf e, merupakan
izin lingkungan sesuai dengan
ketentuan PUU dibidang PPLH;

8|Page
No Bidang dan Jenis PUU Keterangan
Kegiatan
Pasal 20 huruf e PP 40 Tahun 2010:
Izin lingkungan salah satu lampiran
Permohonan izin mendirikan
bangunan Bandar Udara
G. BIDANG
TEKNOLOGI
SATELIT
1. Pembangunan dan UU No. 21 Tahun Pasal 48 UU 21/2013: Membangun
pengoperasian 2013 tentang bandar antariksa wajib memiliki
bandar antariksa Keantariksaan Amdal yang diatur sesuai dengan
2. Pembangunan ketentuan PUU;
fasilitas Pasal 87 dan pasal 88 UU 21/2013:
peluncuran roket Pelestarian lingkungan
di darat dan
tujuan lainnya
3. Pembangunan
fasilitas
pembuatan
propelan roket
4. Pabrik roket
5. Pembangunan
fasilitas uji static
dan fasilitas
peluncuran roket
H. BIDANG
PERINDUSTRIAN
1. Industri Semen UU No. 5 Tahun Pasal 21 UU 5/1984: Kewajiban
2. Industri pulp dan 1984 tentang perusahan industri untuk mencegah
kertas yang Perindustrian; pencemaran dan kerusakan
terintegrasi PP No. 13 Tahun lingkungan hidup;
dengan hutan 1995 tentang Izin Pasal 5 ayat (2) huruf d Peraturan
tanaman industri Usaha Industri Menteri Perindustrian No. 41/M-
3. Industri Perindustrian No. IND/PER/6/2008: Amdal atau UKL-
Petrokimia Hulu 41/MIND/PER/6/2 UPL merupakan salah satu
4. Kawasan Industri 008 tentang persyaratan Izin Usaha Industri
5. Industri galangan Ketentuan dan Tata dengan Persetujuan Prinsi untuk
kapal Cara Izin Usaha Perusahaan Industri;
6. Industri propelan, Industri, Izin Pasal 13 PP 24/2009: Amdl menjadi
amunisi dan Perluas dan Tanda salah satu persyaratan Izin Kawasan
bahan peledak Daftar Perusahaan Industri;
7. Industri peleburan Industri; Pasal 23 ayat (1) PP 24/2009:
timah hitam PP No. 24 Tahun Perusahaan Industri di dalam
8. Kegiatan industri 2009 tentang kawasan industri wajib memiliki
yang tidak Kawasan Industri upaya pengelolaan lingkungan dan
termasuk angka 1- Upaya Pemantauan Lingkungan.
7
I. BIDANG
PEKERJAAN
UMUM
1. Pembangunan UU No. 7 Tahun Pasal 77 ayat (4) PP 42/2008: Dalam
Bendungan/ 2004 tentang hal rencana pengembangan sumber
Waduk atau Jenis Sumber Daya Air daya air mempunyai dampak
Tampungan Air PP No. 42 Tahun penting terhadap lingkungan
lainnya 2008 tentang hidup,diberlakukan ketentuan
Pengelolaan tentang analisis mengenai dampak
Sumber Daya Air; lingkungan (AMDAL).
PP No. 37 Tahun Pasal 1 angka 15 PP 37/2010:
2010 tentang dokumen pengelolaan lingkungan
Bendungan hidup: Amdal atau UKL-UPL;
Pasal 2 PP 37/2010: Kelayakan

9|Page
No Bidang dan Jenis PUU Keterangan
Kegiatan
lingkungan merupakan salah satu
aspek yang diperhatikan dalam
penyelenggaran pembangunan
bendungan;
Pasal 15 ayat (3) huruf c PP
37/2010: Dokumen pengelolaan LH
merupakan salah satu persyaratan
teknis permohonan persetujuan
prinsip pembangunan bendungan;
Pasal 19 ayat (1) PP 37/2010:
Perencanaan pembangunan bendungan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
huruf b meliputi:
a. studi kelayakan;
b. penyusunan desain; dan
c. studi pengadaan tanah;
Pasal 21 Studi kelayakan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal
19 ayat (1) huruf a didahului dengan
pra-studi kelayakan. Studi
kelayakan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus disertai dengan
studi analisis mengenai dampak
lingkungan;
Pasal 30 ayat 2 huruf c PP 37/2010:
Dokumen pengelolaan LH
merupakan salah satu persyaratan
teknis izin pelaksanaan kontruksi
bendungan;
Pasal 36 ayat 3 PP 37/2010: Dalam
pelaksanaan konstruksi dilakukan
rencana pemantauan lingkungandan
rencana pengelolaan lingkungan.

2. Daerah Irigasi UU No. 7 Tahun


2004 tentang
Sumberdaya Air
PP No. 20 Tahun
2006 tentang
Irigasi
3. Pengembangan
Rawa: Reklamasi
Rawa untuk
Kepentingan
Irigasi
4. Pembangunan
Pengaman Pantai
dan Perbaikan
Muara Sungai
5. Normalisasi UU No. 7 Tahun
sungai (termasuk 2004 tentang
sudetan) dan Sumberdaya Air;
pembuatan kanal PP 38 Tahun 2011
banjir tentang Sungai

6. Pembangunan UU No. 38 Tahun Pasal 24 ayat (2) PP 15/2005:


dan/atau 2004 tentang Persiapan pengusahaan mencakup
peningkatan jalan Jalan; pelaksanaan prastudi kelayakan
tol PP No. 15 Tahun finansial, studi kelayakan, dan
2005 tentang Jalan analisis mengenai dampak
Tol lingkungan;

10 | P a g e
No Bidang dan Jenis PUU Keterangan
Kegiatan
Pasal 25 PP 15/2005: Studi
kelayakan dan analisis mengenai
dampak lingkungan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2)
dilakukan untuk mengevaluasi
kelayakan proyek dari aspek teknis,
ekonomi dan finansial serta
lingkungan. Analisis mengenai
dampak lingkungan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mencakup
kegiatan pengkajian dampak-
dampak lingkungan yang mungkin
terjadi akibat adanya rencana
kegiatan pembangunan jalan tol.
Hasil kegiatan studi kelayakan dan
analisis mengenai dampak
lingkungan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dijadikan dasar dalam
proses pelelangan;
Pasal 26 PP 15/2005: Kegiatan
analisa kelayakan finansial, studi
kelayakan, dan analisis mengenai
dampak lingkungan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2)
dilaksanakan oleh BPJT.

7. Pembangunan UU No. 38 Tahun Pasal 102 ayat (1) dan ayat (5) PP
dan/atau 2004 tentang 34/2006: Jalan umum dioperasikan
peningkatan Jalan; setelah ditetapkan memenuhi
pelebaran jalan PP 34 Tahun 2006 persyaratan laik fungsi jalan umum
tentang Jalan. secara teknis dan administratif
sesuai dengan pedoman yang
ditetapkan oleh Menteri dan menteri
terkait. Suatu ruas jalan umum
dinyatakan laik fungsi secara
administratif sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) apabila memenuhi
persyaratan administrasi
perlengkapan jalan, status jalan,
kelas jalan, kepemilikan tanah ruang
milik jalan, leger jalan, dan
dokumen analisa mengenai
dampak lingkungan (AMDAL).
8. Pembangunan
Subway/
Underpass,
Terowongan/
tunnel, jalan
layang/flyover,
jembatan
9. Persampahan, i.e. UU No. 18 Tahun Pasal 21 ayat (1) huruf b PP
TPA, transfer 2008 tentang 16/2005: Lokasi tempat
station, instalasi Pengelolaan pengumpulan dan pengolahan
pengolahan Sampah; sampah serta TPA, wajib
sampah terpadu, Peraturan memperhatikan: hasil kajian analisis
composting plan Pemerintah Nomor mengenai dampak lingkungan
81 Tahun 2012 Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2) huruf c,
tentang Pasal 11 ayat (1) Peraturan Menteri
Pengelolaan PU 03/2013: Kajian lingkungan
Sampah Rumah merupakan bagian dari studi
Tangga dan kelayakan kegiatan penyediaan

11 | P a g e
No Bidang dan Jenis PUU Keterangan
Kegiatan
Sampah Sejenis prasarana dan sarana persampahan
Sampah Rumah yang menggunakan teknologi
Tangga pengolahan dan pemrosesan akhir
PP 16 Tahun 2005 berupa proses biologi, termal atau
tentang teknologi lain dengan kapasitasn
Pengembangan lebih besar dari 100 ton/hari. Kajian
Sistem Penyediaan lingkungan didasarkan atas studi
Air Minum; Amdal atau UKL-UPL;
Peraturan Menteri
PU NO.
03/PRT/M/ 2013
tentang
Penyelenggaraan
Prasarana dan
Sarana
Persampahan
dalam Penanganan
Sampah Rumah
Tangga dan
Sampah Sejenis
Sampah Rumah
Tangga
10. Air limbah PP 16 Tahun 2005
domestik i.e. IPLT, tentang
IPAL, Sistem Pengembangan
perpipaan air Sistem Penyediaan
limbah Air Minum;

11. Pembangunan
saluran drainase
primer dan/atau
sekunder
12. Jaringan air PP 16 Tahun 2005 Pasal 5 ayat (5) huruf b dan Pasal 6
bersih (jaringan tentang Peraturan Menteri PU No. 7/2013:
distribusi dan Pengembangan Izin prinsip dasar untuk
transmisi) Sistem Penyediaan pelaksanaan Amdal atau UKL-UPL
Air Minum; SPAM. Amdal atau UKL-UPL salah
Peraturan Menteri satu persyaratan untuk
PU No. mendapatkan izin penyelenggaraan
7/PRT/M/2013 pengembangan Sistem Penyediaan
tentang Pedoman Air Minum (SPAM);
Pemberian Izin
Penyelenggaraan
Pengembangan
Sistem Penyediaan
Air Minum Oleh
Badan Usaha dan
Masyarakat Untuk
Memenuhi
Kebutuhan Sendiri
J. BIDANG
PERUMAHAN
DAN KAWASAN
PEMUKIMAN
1. Pembangunan UU No. 1 Tahun Pasal 66 ayat 7 huruf c UU No.
perumahan dan 2011 tentang 1/2011: Penetapan lokasi
kawasan Perumahan dan pembangunan lingkungan hunian
permukiman Kawasan baru sebagaimana dimaksud pada
dengan pengelola Permukiman ayat (5) dilakukan berdasarkan hasil
tertentu studi kelayakan;

12 | P a g e
No Bidang dan Jenis PUU Keterangan
Kegiatan
a. rencana pembangunan perkotaan
atau perdesaan;
b. rencana penyediaan tanah; dan
c. analisis mengenai dampak lalu
lintas dan lingkungan

K. BIDANG ESDM
K.1 MINERAL
BATUBARA
1. Eksploitasi UU No. 4 Tahun Ketentuan-ketentuan terkait dengan
(Operasi Produksi) 2009 tentang Kegiatan Izin Usaha Pertambangan
Mineral dan Mineral dan Batu (IUP) Eksplorasi mineral barubara
Batubara Bara; tercantum dalam Pasal 1 UU No. 4
2. Eksploitasi PP 23 Tahun 2010 Tahun 2009 dan Pasal 22 Ayat (2),
(Operasi Produksi) tentang Pasal 23, Pasal 26, Pasal 29 Ayat
Batubara Pelaksanaan (2)PP No. 23/2010;
3. Eksploitasi Kegiatan Usaha Persyaratan IUP Eksplorasi:
(Operasi Produksi) Pertambangan administratif, teknis, lingkungan;
Mineral Logam Mineral Batubara dan finansial. Terkait dengan
4. Eksploitasi lingkungan hidup adalah
(Operasi Produksi) pernyataan untuk mematuhi
Mineral Bukan ketentuan PUU di bidang PPLH;
Logam Persyaratan IUP Operasi Produksi
5. Pengolahan dan adalah: administratif, teknis,
Pemurnian lingkungan; dan finansia.
Persyaratan lingkungan
sebagaimana disebutkan di atas
sangat terkait dengan pernyataan
kesanggupan untuk mematuhi
ketentuan PUU di bidang PPLH dan
persetujuan dokumen lingkungan
hidup sesuai dengan ketentuan
PUU
6. Eksploitasi
(Operasi Produksi)
Mineral Radioaktif
7. Penambangan di
Laut
8. Penempatan
tailing di bawah
laut
K.2 MIGAS
1. Eksploitasi MIGAS UU No. 22 Tahun Pasal 11 ayat 3 huruf k UU 22/2001
serta 2001 tentang dan Pasal 26 huruf k PP 35/2004 :
pengembangan Minyak dan Gas; Salah satu muatan Kontrak Kerja
produksi di darat, PP No. 35 Tahun Sama (KKS/PSC): ketentuan
laut, pipanisasi 2004 tentang pengelolaan lingkungan hidup
migas dan BBM, Kegiatan Usaha
pembangunan Hulu MIGAS
kilang (LPG, LNG
dna minyak bumi),
kilang minyak
pelumas, CBM
K.3. KETENAGALISTR
IKAN
1. Pembangunan UU No. 30 Tahun Izin Usaha untuk Penyedian Tenaga
Jaringan 2009 tentang Listrik: Izin usaha penyediaan
Transmisi Ketenagalistrikan tenaga listrik dan izin operasi (Pasal
2. a. Pembangunan PP 14 Tahun 2012 19 a dan b UU 30/2009);
PLTD/PLTG/P

13 | P a g e
No Bidang dan Jenis PUU Keterangan
Kegiatan
LTU/ PLTGU tentang Kegiatan Pasal 42 UU 30/2009: Setiap
b. PLTP Usaha Penyedian kegiatan usaha ketenagalistrikan
c. PLTA Tenaga Listrik wajib memenuhi ketentuan yang
d. PLTS disyaratkan dalam PUU di bidang
e. Pembangkit lingkungan hidup;
listrik lain Persyaratan Izin usaha penyediaan
tenaga listrik dan izin operasi
adalah (a) Persyaratan administratif,
teknis, dan lingkungan. (b)
Persyaratan lingkungan berlaku
ketentuan PUU di bidang PPLH
(Pasal 13 ayat (1) dan ayat (7) Pasal
29 ayat (1) dan ayat (4) PP 14/2012)

K.4. ENERGI BARU


DAN
TERBAHARUKAN
(EBT)
1. Eksploitasi Panas UU No. 27 Tahun Pasal 16 ayat 1 PP 59/2007:
Bumi 2003 tentang Pemegang IUP dapat melakukan
Panas Bumi; Eksploitasi setelah menyelesaikan
PP 59 Tahun 2007 Studi Kelayakan serta telah
tentang Kegiatan mendapat keputusan kelayakan
Usaha Panas lingkungan berdasarkan hasil kajian
Bumi; Amdal atau UKL-UPL sesuai dengan
ketentuan PUU di bidang LH;
Pasal 31 PP 59/2007: Keputusan
kelayakan LH berdasarkan hasil
kajian Amdal atau UKL-UPL
dilampirkan dalam laporan hasil
studi kelayakan yang disampaikan
oleh pemegang IUP kepada Menteri,
gubernur atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya
sebelum melakukan eksploitasi;
Pasal 55 PP 59/2007: Kewajiban
Pemegang IUP untuk memenuhi
kinerja perlindungan LH;

2. Pembangunan
kilang biofuel
L. BIDANG
PARIWISATA
1. Kawasan
Pariwisata dan
Taman Rekreasi
2. Lapangan Golf
M. BIDANG
KETENAGANUKLI
RAN
1. Pembangunan dan UU No. 10 Tahun Pasal 12 ayat (2) huruf h PP
pengoperasian 1997 tentang 43/2006: keputusan kelayakan
reaktor daya dan Ketenaganukliran lingkungan hidup dari instansi yang
non daya PP 43 Tahun 2006 bertanggung jawab merupakan salah
tentang Perizinan satu persyaratan permohonan izin
Reaktor Nuklir; konstruksi;
PP 54 Tahun 2012 Pasal 15 ayat (2) huruf g PP
tentang 43/3006: dokumen laporan
Keselamatan dan pelaksanaan pengelolaan lingkungan
Keamanan dan pemantauan lingkungan

14 | P a g e
No Bidang dan Jenis PUU Keterangan
Kegiatan
Instalasi nuklir merupakan salah satu persyaratan
permohonan izin komisioning;
Pasal 18 ayat (2) huruf c PP
43/3006: dokumen laporan
pelaksanaan pengelolaan lingkungan
dan pemantauan lingkungan
merupakan salah satu persyaratan
permohonan izin operasi;
Pasal 21 ayat (5) huruf l PP
43/2006: keputusan kelayakan
lingkungan hidup dari instansi yang
bertanggung jawab merupakan salah
satu persyaratan teknis permohonan
izin gabungan (Izin konstruksi, izin
komisioning, dan izin operasi).
Pasal 5 dan 7 PP 54 Tahun 2012:
Pemegang izin wajib melakukan
pemantauan tapak instalasi nuklir
pada tahap konstruksi, komisioning,
operasi, dan dekomisioning.
Pemantauan tapak wajib
dilaksanakan sesuai dengan RKL-
RPL;

2. Pembangunan dan UU No. 10 Tahun


pengoperasian 1997 tentang
instalasi nuklir Ketenaganukliran
non reaktor (INRR)
3. Pembangunan dan UU No. 10 Tahun Pasal 20 PP 29/2008: Persyaratan
pengoperasian 1997 tentang khusus pengelolaan limbah
instalasi limbah Ketenaganukliran radioaktif sebagaimana dimaksud
radioaktif PP No. 29 Tahun dalam Pasal 17 ayat (2) huruf
2008 tentang c,untuk kegiatan:
Perizinan a. Konstruksi: keputusan kelayakan
Pemanfaatan lingkungan hidup dariinstansi
Sumber Radiasi yang bertanggung jawab di
Pengion dan Bahan bidang lingkungan hidup;
Nuklir b. Operasi: laporan pelaksanaan
pengelolaan dan pemantauan
lingkungan selama komisioning
c. Pasal 66 ayat (1) huruf l PP
29/2008: Pemegang Izin
berkewajiban untuk
melaksanakan Rencana
Pengelolaan Lingkungan dan
Rencana Pemantauan
Lingkungan
4. Produksi UU No. 10 Tahun Pasal 19 PP 29/2008: Persyaratan
radioisotop 1997 tentang khusus produksi radioisotop
Ketenaganukliran sebagaimana dimaksud dalam Pasal
PP No. 29 Tahun 17 ayat (2) huruf b, untuk kegiatan:
2008 tentang a. konstruksi, meliputi: keputusan
Perizinan kelayakan lingkungan hidup dari
Pemanfaatan instansi yang bertanggung jawab
Sumber Radiasi di bidang lingkungan hidup;
Pengion dan Bahan b. komisioning: laporan
Nuklir pelaksanaan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup
selama konstruksi;

15 | P a g e
No Bidang dan Jenis PUU Keterangan
Kegiatan
c. operasi, meliputi: laporan
pelaksanaan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup
selama komisioning
Pasal 66 ayat (1) huruf l PP
29/2008: Pemegang Izin
berkewajiban untuk melaksanakan
Rencana Pengelolaan Lingkungan
dan Rencana Pemantauan
N. BIDANG PP 18 Tahun 1999 Pasal 43 ayat (1), ayat (2) dan ayat
PENGELOLAAN tentang Pengelolaan (3), Pasal 44 ayat (2), Pasal 45 ayat
LB3 LB3 (1), Ayat (2) dan ayat (3), ayat (4),
1. Industri Jasa Pasal 46 ayat (2), ayat (3) dan ayat
Pengelolaan LB3 (4) PP 18/1999: memuat
2. Pemanfaatan LB3 ketentuan terkait dengan
3. Pengolahan LB3 kewajiban memiliki Amdal terkait
4. Penimbunan LB3 dengan pengelolaan LB3 dan
persyaratan izin LB3.

2. PUU Pemanfaatan Ruang di dalam Kawasan Lindung yang


terkait dengan Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan

No PUU Keterangan Sifat


Informasi
Publik
1. PP No. 26 Tahun Pasal 99-Pasal 106 PP No. 26 Tahun 2008: Indikasi Tersedia
2008 tentang RTRWN Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Lindung Nasional setiap
saat
2. UU No. 41 Tahun Pasal 38 UU 41/1999: Penggunaan kawasan Tersedia
1999 tentang hutan untuk kepentingan pembangunan di luar setiap
Kehutanan kegiatan kehutanan hanya dapat dilakukan di saat
dalam kawasan hutan produksi dan kawasan
hutan lindung
2. PP No. 24 Tahun Pasal 3 dan Pasal 4 PP 24/2010: 12 jenis Usaha Tersedia
2010 tentang dan/atau Kegiatan yang setiap
Penggunaan diiziinkan/diperbolehkan untuk dilakukan di saat
Kawasan Hutan Hutan Lindung;
3. PP No. 28 Tahun Pasal 33-37 PP No. 28 Tahun 2011: Jenis Tersedia
2011 tentang Kegiatan yang diizinkan dalam Kawasan setiap
Pengelolaan Kawasan Konservasi (KSA) dan KPA saat
Suaka Alam dan
Kawasan Pelestarian
Alam

16 | P a g e
2.1. Jenis Kegiatan yang izinkan dalam Kawasan Lindung Sesuai dengan Ketentuan
Pasal 99-Pasal 106 PP No. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN

No. Kawasan Lindung Dalam Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Lindung Nasional
Peraturan MENLH No. Sesuai dengan Ketentuan Pasal 99-Pasal 106 PP No. 26 Tahun
05 Tahun 2012 2008

1. Kawasan Hutan Lindung a. wisata alam tanpa merubah bentang alam;


b. kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi penduduk asli
dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung
kawasan, dan di bawah pengawasan ketat

2. Kawasan bergambut a. wisata alam tanpa merubah bentang alam

3. Kawasan Resapan Air a. kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki
kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;
b. penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan
terbangun yang sudah ada

4. Sempadan Pantai a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau;


b. pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk
mencegah abrasi;
c. pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang
kegiatan rekreasi pantai;

5 Sempadan Sungai dan a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau;


dan Kawasan sekitar b. bangunan untuk pengelolaan badan air dan/atau
6 danau/waduk pemanfaatan air;
c. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi
taman rekreasi;

7 Suaka margasatwa dan a. penelitian, pendidikan, dan wisata alam;


dan suaka margasatwa laut b. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang
8. serta Suaka margasatwa kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a;
dan suaka margasatwa
laut

9. Kawasan pantai a. kegiatan pendidikan, penelitian, dan wisata alam


berhutan bakau

10. Taman Nasional atau a. wisata alam tanpa merubah bentang alam;
taman nasional laut b. pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya hanya
diizinkan bagi penduduk asli di zona penyangga dengan
luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan
di bawah pengawasan ketat

11. Taman hutan raya a. penelitian, pendidikan, dan wisata alam;


b. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk

17 | P a g e
menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada
huruf a;

12. Taman Wisata Alam dan a. wisata alam tanpa mengubah bentang alam;
Taman Wisata Alam Laut b. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk
menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada
huruf a; da

13. Kawasan cagar budaya a. penelitian, pendidikan, dan pariwisata; dan


dan ilmu pengetahuan b. pelarangan kegiatan dan pendirian bangunan
yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan

14. Kawasan cagar alam a. pariwisata tanpa mengubah bentang alam


geologi b. kegiatan penggalian dibatasi hanya untuk
penelitian arkeologi dan geologi
c. pelindungan bentang alam yang memiliki ciri
langka dan/atau bersifat indah untuk
pengembangan ilmu pengetahuan, budaya,
dan/atau pariwisata.
d. pelindungan kawasan yang memiki ciri langka
berupa proses geologi tertentu untuk
pengembangan ilmu pengetahuan dan/atau
pariwisata

15 Kawasan imbuhan air a. kegiatan budi daya tidak terbangun yang


tanah memiliki kemampuan tinggi dalam menahan
limpasan air hujan;
b. penyediaan sumur resapan dan/atau waduk
pada lahan terbangun yang sudah ada

16. Sempadan mata air a. ruang terbuka hijau

17. Kawasan perlindungan a. wisata alam tanpa mengubah bentang alam;


plasma nutfah b. pelestarian flora, fauna, dan ekosistem unik
kawasan

18. Kawasan pengungsian a. wisata alam tanpa mengubah bentang alam;


satwa b. pelestarian flora dan fauna endemik kawasan

19. Terumbu Karang a. pariwisata bahari

20. Kawasan koridor bagi


jenis satwa atau biota
laut yang dilindungi

18 | P a g e
2.2. Jenis Kegiatan yang diizinkan dalam Kawasan Konservasi (KSA) dan KPA sesuai
dengan PP 28/2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan
Pelestarian Alam

No Jenis Pemanfaatan KSA dan KPA Kawasan Suaka Alam Kawasam Pelestarian Alam
(KSA) (KPA)
Cagar Suaka Taman Taman Taman
Alam (CA) Marga- Nasional Wisata Hutan
satwa (TN) Alam Raya
(SM) (TWA) (Tahura)
1. penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan
2. pendidikan dan peningkatan
kesadartahuan konservasi alam

koleksi kekayaan keanekaragaman


hayati
3. penyerapan dan/atau penyimpanan
karbon
4. pemanfaatan air serta energi air, panas,
dan angin serta wisata alam terbatas

5. pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar

6. pemanfaatan sumber plasma nutfah


untuk penunjang budidaya
7. pemanfaatan tradisional oleh
masyarakat setempat.
8. pembinaan populasi melalui
penangkaran dalam rangka
pengembangbiakan satwa atau
perbanyakan tumbuhan secara buatan
dalam lingkungan yang semi alami.
9. pembinaan populasi dalam rangka
penetasan telur dan/atau pembesaran
anakan yang diambil dari Alam

Sesuai dengan ketentuan Pasal 4 PP No. 24 Tahun 2010 tentang Penggunaan


Kawasan Hutan, penggunaan kawasan hutan (Hutan Produksi dan Hutan Lindung)
untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan hanya dapat
dilakukan untuk kegiatan yang mempunyai tujuan strategis yang tidak dapat
dielakkan, meliputi kegiatan:
1. religi;
2. pertambangan;

19 | P a g e
3. instalasi pembangkit, transmisi, dan distribusi listrik, serta teknologi energi baru
dan terbarukan;
4. pembangunan jaringan telekomunikasi, stasiun pemancar radio, dan stasiun
relay televisi;
5. jalan umum, jalan tol, dan jalur kereta api;
6. sarana transportasi yang tidak dikategorikan sebagai sarana transportasi umum
untuk keperluan pengangkutan hasil produksi;
7. sarana dan prasarana sumber daya air, pembangunan jaringan instalasi air, dan
saluran air bersih dan/atau air limbah;
8. fasilitas umum;
9. industri terkait kehutanan;
10. pertahanan dan keamanan;
11. prasarana penunjang keselamatan umum; atau
12. penampungan sementara korban bencana alam.

20 | P a g e