Anda di halaman 1dari 32

MODUL PRAKTIKUM I

Sarana Fisik untuk pengendalian : Panas Lembab

TUJUAN
Mempelajari penggunaan sarana fisik panas lembab untuk mengendalikan mikroba

PRINSIP
Suhu mempunyai pengaruh terhadap sistem enzim yang ditandai dengan laju reaksi
kimiawi yang akan mempengaruhi hidup dan matinya mikroba. Mengingat kebutuhan mikrob
akan suhu lingkungan beragam maka paparan suhu ekstrim dapat dipakai untuk pengendalian.
Suhu rendah akan menginaktivasi enzim dan menyebabkan efek statik. Suhu tinggi akan
merusak enzim selular karena mengalami denaturasi.
Pemanfaatan suhu seringkali digunakan untuk menyingkirkan mikrob baik secara panas
kering maupun panas lembab cukup efektif. Dengan panas lembab karena efek hidrolisi air dan
daya tembus maka protein akan terkoagulasi dan dapat mematikan sel pada suhu yang lebih
rendah dari pada panas kering. Sterilisasi, penyingkiran semua bentuk kehidupan dapat dicapai
pada suhu 121oC selama 15 menit dengan uap jenuh bertekanan sedangkan panas kering
membutuhkan suhu 160-180oC selama 11/2 hingga 3 jam.
Mikrob menunjukan perbedaan resistensi terhadap panas lembab. Umumnya spora bakteri
akan rusak pada pemanasan di atas 100oC sedangkan bentuk vegetatif bakteri dapat mati pada
suhu 60-70oC selama 10 menit. Cendawan dapat mati pada suhu 50-60oC sedangkan sporanya
pada suhu 70-80oC selama 10 menit. Dengan variasi ini, panas lembab dapat menstrilkan atau
mendesinfeksi.
Uap jenuh bertekanan membutuhkan alat autoklaf, bejana logam berdinding ganda yang
memungkinkan uap jenuh mengalir dan karena semua udara telah tersingkirkan serta tekanan
yang ditimbulkan maka suhu dapat meningkat hingga diatas 100oC. Dengan tekanan sebesar
15pounds/inch2 maka suhu mencapai 121oC mensterilkan benda selama 15 menit. Tergantung
pada sensitivitas suhu suatu bahan yang akan disterilkan maka operasional alat dapat diatur
Penggunaan uap mengalir dengan suhu 100 C dan paparan selama 30 menit hanya akan
memberikan keadaan desinfeksi, semua bentuk vegetatif mati tetapi tiak untuk spora yang
resisten panas. Tindalisasi merupakan sterilisasi bertingkat yang dicapai dengan pemanasan
pada suhu 100oC selama 20 menit dan berlangsung selama 3 hari berturut-turut serta suhu
inkubasi 37oC. Uap akan mematikan bentuk vegetatif dan spora yang ada akan berkecambah
yang dapat dimatikan pada pemanasan berikut. Mengingat prosedur ini memerlukan waktu
cukup panjang maka proses ini digunakan untuk menstrilkan bahan atau substansi yang
termolabil yang akan terdegradasi pada suhu lebih tinggi.
Pateurisasi ditujukan untuk produk termolabil seperti susu, anggur selama beberapa
waktu pada suhu cukup untuk mematikan mikrob patogen dan mikrob perusak lain dan tidak
menyingkirkan semua bentuk vegetatif. Waktu pasteurisasi hingga 15 detik pada suhu 71 oC
merupakan proses high temperatur-shotr-time sedangkan dengan suhu yang lebih rendah 63oC
membutuhkan waktu panjang yaitu 30 menit.

ALAT DAN BAHAN


Kultur : kaldu NB yang mengandung Bacillus cereus berumur 48-72 jam dan kaldu Sabouraud
dari Aspergilus niger dan Saccharomyces cerevisiae berumur 72-96 jam
Media : masing-masing 5 cawan NA dan Sabouraud agar dan satu tabung berisi 10 mL NB
Alat : pembakar bunsen, gelas piala 800 mL, kaki tiga, kasa logam, termometer, lup inokulasi
dan spidol.

PROSEDUR
1. Beri label pada tutup cawan yang menunjukkan suhu 15, 25 (control/ruangan), 40, 60, 80
dan 100oC.
2. Bagian dasar cawan Sabouraud dengan bantuan spidol dibuat menjadi sektor untuk ke 2
macam Cendawan.
3. 3 kultur dimasukan kedalam kulkas (suhu 15 oC) dan biarkan 10 menit Ambil kultur lalu
inokulasikan tiap organisme pada cawan berlabel 15 oC.
4. Dengan teknik aseptik inokulasikan NA dan Sabouraud yang berlabel 25oC dengan satu
goresan mikroba tertentu.
5. Siapkan perangkat berikut ini
6. Panaskan air hingga 40oC lalu letakkan 3 kultur ke dalam gelas piala dan biarkan 10 menit.
Ambil kultur lalu inokulasikan tiap organisme pada cawan berlabel 40oC.
7. Panaskan hingga 60oC dan ulangi butir 5 dan inokulasikan pada cawan 60oC.
8. Panaskan lagi hingga 80oC dan ulangi hal yang sama.
9. Panaskan hingga 100oC dan ulangi hal yang sama.
10. Inkubasikan cawan NA dengan posisi terbalik selama 24-48 jam pada suhu 37oC.
sedangkan cawan Sabouraud pada 25oC selama 4-5 hari dalam ruang lembab.
MODUL PRAKTIKUM II

Sarana Fisik : Ph Lingkungan Ekstraseluler

PRINSIP
Pertumbuhan dan kemampuan hidup mikroorganisme sangat dipengaruhi oleh pH
lingkungan dan tiap organisme menunjukkan kebutuhan yang berbeda. Tiap organisme
mempunyai kemampuan tumbuh dalam kisaran pH yang spesifik yang mungkin lebar atau
sempit dengan laju pertumbuhan yang cepat dalam kisaran optimum yang sempit. Kebutuhan
pH yang spesifik menggambarkan kemampuan organisme beradaptasi pada lingkungan
tersebut. Misalnya bakteri usus mampu bertahan hidup pada kisaran pH yang lebar yang
merupakan karakteristik habitatnya yaitu sistem pencernaan. Bakteri parasit darah toleran pada
kisaran yang sempit yaitu Ph 7,4 dengan sistem sirkulasi yang konstan. Walaupun ph beragam
namun dapat dikelompokkan bahwa bakteri menunjukkan kisaran pH 4-9 dan optimum pada
6,5 7,5 sedangkan cendawan, kapang dan khamir menunjukkan aktivitas pada pH 4-6.
Mengingat Ph netral lebih baik bagi pertumbuhan bakteri maka Ph media seringkali
diatur sekitar 7. Aktivitas metabolisme mikrob menghasilkan produk asam dari karbohidrat,
alkalin dari protein yang akan mengubah kisaran pH yang dapat menghambat pertumbuhan.
Untuk mempertahankan Ph seringkali penambahan substansi kimia yang berfungsi sebagai
buffer ke dalam media diperlukan. Sistem buffer diperoleh dari campuran equimolar K2HPO4
dan KH2PO4. Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut :
K2HPO4 + HCL KH2PO4 + KCL
KH2PO4 + KOH K2HPO4 + H2O
Sebagian besar media mengandung asam amino, pepton dan protein yang bersifat
amfoter sehingga dapat bertindak sebagai buffer alami.

ALAT DAN BAHAN


Kultur : Suspensi garam fisiologis pada R600 = 0,05 yang dibuat dari media kaldu nutrien
bakteri A. faecalis, E.coli dan S. cerevisiae yang berumur 24 jam.
Media : 12 tabung reaksi yang berisi media TSB dan untuk tiap 3 tabung diatur Ph nya
menjadi 3, 6, 7 dan 9. Pengaturan pH dilakukan dengan NaOH 1 N dan HCL 1 N.
Alat : Pembakar bunsen, 3 pipet 1 ml steril, spectronic 20, rak tabung reaksi, spidol.
PROSEDUR
1. Dengan menggunakan pipet steril, ambil 0,1 ml suspensi E. coli dan inokulasikan ke
dalam media TSB dengan pH 3, 6, 7 dan 9.
2. Ulangi langkai 1 untuk A. faecalis dan S. cerevisiae masing-masing dengan pipet steril
baru.
3. Inkubasikan A. faecalis dan E. Coli selama 24-48 jam pada suhu 37oC dan S. cerevisiae
selama 48-72 jam pada suhu ruang.

HASIL PENGAMATAN
1. Catat hasil pembacaan RO pada Tabel berikut ini
Bakteri Rapat Optis
pH 3 pH 6 pH 7 pH 9
E. coli
A. Faecalis
S. cerevisiae

2. Isilah kisaran pH dan pH optimum dari bakteri yang diamati


Bakteri Kisaran pH pH optimum
E. coli
A. Faecalis
S. cerevisiae

PERTANYAAN DISKUSI
1. Jelaskan mengapa larutan buffer dapat mencegah perubahan pH?
2. Kenapa larutan buufer perlu ditambahkan ke dalam medium pertumbuhan bakteri?
3. Mengapa protein asam amino dianggap sebagai larutan buffer alami?
4. Jelaskan mengapa mikrob mempunyai kebutuhan pH yang berbeda?
5. Apakah semua mikrob mampu tumbuh optimum pada pH netral?
MODUL PRAKTIKUM III

Pengenceran Serial
Teknik Pncawanan untuk Menghitung Sel Hidup

TUJUAN
Menghitung sel hidup dari suatu kultur bakteri

PRINSIP
Analsis bahan pangan, air, susu seringkali membutuhkan perhitungan mikro yang
terkandung. Teknik ini meliputi hitungan mikroskopis langsung, memanfaatkan perhitungan
sel secara elektronik, metode kimiawi untuk mengestimasi massa sel dan komponen selular,
pengukiran turbidimetri untuk mengevaluasi peningkatan massa sel dan pengenceran serial
pada teknik pencawanan.
Hitungan mikroskopis langsung. Teknik ini memerlukan alat atau ruang hitung
Petroff-Hausser seperti yang tampakberikut ini (Gambar IV.7)

Gambar IV.7 Ruang Hitung

Meskipun dapat dialkukan perhitungan dengan cepat namun sel mati akan terhitung dan tidak
sensitif untuk populasi yang kurang dari satu juta.
Breed amears biasanya dilakukanuntuk menghitung sel bakteri dalam susu,
menggunakan olesan berukuran 1mm2 yang diwarna. Pada cara ini sel mati akan terhitung
pula. Alat hitung sel elektronik atau Coulter counter memanfaatkan arus elektrik. Sel yang
bukan konduktor akan meningkatkan resistensi dan secara elektronik akan tercatat. Pada teknik
ini sel mati juga akan terhitung dan tidak dapat membedakan substansi partikulat
dankomponen selular. Metode kimiawi merupakan perhitungan sel secara tidak langsung
karena yang ditetapkan adalh konsentrasi protein atau DNA. Massa sel dapat juga ditentukan
melalui penetapan berat kering, jumlah oksigen yang dikonsumsi sel aerobik atau laju produksi
karbon dioksida untuk sel anaerobik.
Analisis spektrofotometri, memanfaatkan tingkat kekeruhan sebagai indeks
pertumbuhan. Jumlah cahaya yang ditransmisi akan berkurang apabila po[pulasi sel meningkat.
Penurunan energi cahaya dikonversikan dengan energi elektrik yang direkam oleh
galvanometer.teknik ini dipakai untuk menghitung sel lebih dari 10 juta. Pada teknik ini sel
mati juga terhitung sedangkan untuk keperluan sanitasi dan mikrobiologi medis diperlukan
perhitungan sel hidup dengan memanfaatkan teknik pencawanan. Teknik pencawanan dengan
cawan tuang memerlukan pengenceran serial dari suspensi bakteri yang terangkum pada
Gambar IV.8 berikut ini.

Gambar IV.8 Pengenceran serial dan teknik cawan hitung


Cawan untuk perhitungan mengandung jumlah koloni antara 30-300. Jumlah sel dalam
suspensi awal diperoleh dengan mengalikan jumlah koloni dengan faktor pengenceran.
Keuntungan dari teknik ini adalah hanya sel hidup yang dihitung dan koloni yang terpisah dapat
disiapkan sebagai kultur murni sedangkan kelemahannya ialah membutuhkan waktu inkubasi
dan banyak alat kaca/gelas.

ALAT DAN BAHAN


Kultur : kaldu nutrien E. Coli yang berumur 24-48 jam
Media : untuk setiap kelompok dibutuhkan 6 tabung reaksi 20 mL agar tegak dan 9 tabung
berisi 9 ml air steril
Alat : penangas air, termometer,rak tabung, pembakar bunsen, cawan petri steril, alat hitung
koloni Quebec, teller, larutan desinfektan, spidol, batang kaca penyebar, gelas piala
berisi alkohol.

PROSEDUR
1. Cairkan agar tegak dalam penangas air dan dinginkan sampai 45oC
2. Berilabel tabung reaksi berikut cswan petri seperti terangkum dalam gambar IV.8
3. Goyangkan tabung reaksi no 1 yang mengandung E. Coli dengan kedua telapak tangan
4. Transfer 1 mL suspensi secara aseptik dengan pipet steril ke dalam tabung ke 2sehingga
diperoleh pengenceran 10-1. Selanjutnya buatlah hal yang sama sampai tabung ke 8 dan
jangan lupa untuk setiap kali goyangkan tabung agar suspensi merata sebelum dilakukan
pengambilan atau transfer suspensi. Perhatikan juga pergantian pipet yang akan anda
pakai.
5. Anada dapat menyiapkan cawab tuang atau cawan sebar. Apabila anda menggunakan
cawan tuang dengan mencampurkan media cair dengan inokulum perhatikan agar batang
penyebar sudah dicelup dalam alkohol dan dinyalakan lalu dibiarkan mendingin sebelum
digunakan
6. Inkubasikan cawan dengan posisi terbalik selama 24 jam pada suhu 37oC
HASIL PENGAMATAN
1. Hitung jumlah koloni dengan bantuan penghitungkoloni Quebec atau Teller. Apabila
jumlah koloni lebih dari 300 catatlah sebagai terlalu banyak untuk dihitung (TBUD) dan
bila jumlahnya kurang dari 30 dicatat sebagai terlalu sedikit untuk dihitung (TSUD).
Hitung koloni yang ada dipermukaan dan disub permukaan
2. Jumlah sel per mL = jumlah koloni x faktor pengenceran. Apabila jumlah koloni = 50 dan
faktor pengenceran 1 : 1x 108 CFU/mL
3. Selanjutnya isilah Tabel berikut (Gambar IV.14a-e)
Cawan Tabung Volume (mL) Faktor Jumlah CFU/ Rataan
pengenceran dicawankan pengenceran koloni mL CFU/mL
akhir
1A
1B
2A
2B
3A
3B

PERTANYAAN DISKUSI
1. Apakah keuntungan perhitungan sel dengan menggunakan teknik pencawanan dan
pengenceran serial dibandingkan metode perhitungan lain yang anda ketahui?
2. Apa beda anatara pengenceran dan faktor pengenceran?
3. Apa kelebihan dan kekurangan teknik pencawanan dan pengenceran serial
untukmenghitung sel bakteri?
4. Apabila dari 0,1 mL suspensi dengan pengenceran 1 x 10-6 diperoleh 56 koloni, berapa
jumlah sel per mL suuspensi awal?
5. Apa yang akan anda simpulkan bila hasil pencawanan terhitung 305 koloni atau hanya 15
koloni?
6. Metode kimiawi apakah yang dapat dipakai untuk mengukur pertumbuhan?
7. Apabila jumlah sel salam contoh air yang anda amati terlalu sedikit, apa yang akan anda
katakan sebagai kesimpulan?
MODUL PRAKTIKUM IV

Membuat Bibit Acetobacter xylinum dari alam

TUJUAN
Mengisolasi bakteri Acetobacter xylinum dari alam

PRINSIP
Nata de Coco merupakan jenis makanan berserat yang dihasilkan Acetobacter xylinum
dalam media cair bergula sebagi susbtratnya. Nata de Coco merupakan makanan sehat kaya
serat yang banyak dikonsumsi sebagai makalanan pencuci mulut atau desert. Air kelapa
merupakan hasil samping pengolahan kelapa yang belum banyak dimanfaatkan dan banyak
dibuang sebagai limbah. Penanganan limbah air kelapa bertujuan agar memperoleh nilai
tambah secara ekonomi sekaligus menangani limbah air kelapa tersebut. Air kelapa dapat
dimanfaatkan sebagai substrat menghasilkan Nata de Coco karena mengandung gula, mineral
Mg2+, foktor pendukung pertumbuhan (growt promoting factor) untuk A. xylinum.Pembuatan
Nata de Coco dengan menggunakan substrat air kelapa dilakukan dengan cara menambahkan
gula sukrosa (gula pasir) 10%, urea 0,5%, asam asetat glasial 2% atau asam cuka dapur 25%
sebanyak 16 ml/ liter air kelapa. Proses pembuatan Nata de Coco melalui tahapan sebagai
berikut; pemeliharaan dan peremajaan kultur A. xylinum, persiapan substrat, persiapan starter,
fermentasi, pemanenan hasil, pengolahan hasil dan pengemasan hasil.
Tanah, udara, kotoran, buah, sayuran dan sebagainya terdapat banyak mikroba yang
hidup bercampur satu sama lain. Bila campuran mikroba ini diambil dan dibiakan, maka
terjadilah biakan campuran (mix culture), tetapi bila dari biakan campuran itu dipisahkan satu
macam mikroba saja, yang kemudian dibiakan tersendiri maka terjadilah biakan murni (pure
culture). Berikut ini adalah cara pembuatan biakan murni A Xylinum dalam media agar dan
hasil penangkapan alam.
Bibit untuk nata dapat diperoleh dari alam secara bebas. Buah-buahan yang
mengandung gula dan sayuran yang sudah membusuk merupakan media (tempat tumbuh) yang
baik bagi bakteri Acetobacter xylinum. Filtrat nenas sering digunakan sebagai media
pertumbuhan untuk membuat biakan murni menangkap dari alam. Cara ini relatif lebih murah
dan membutuhkan alat sederhana. Berikut ini adalah cara lain membuat biakan murni
Acetobacter xylinum menangkap dari alam menggunakan media filtrat nenas.
ALAT DAN BAHAN
Kultur : Filtrat nenas
Media: Aquadest, glukosa, yeast ekstrak, bacto agar, KH2PO4, (NH4)2 SO4, MgSO4, A.
Acetat 99%,

PROSEDUR
1. Dua buah nenas lewat masak dikupas, dicuci, dan dipotong potong.
2. Potongan buah nenas tersebut, kemudian dihancurkan dengan menggunakan blender dan
ditambahkan dengan 4 liter air
3. Hancuran nenas kemudian direbus dan setelah mendidih disaring untuk mendapatkan
filtratnya. Sebanyak 4 liter filtrat diambil untuk bahan media.
4. Filtrat dipanaskan sampai mendidih kemudian ditambah dengan bahan kimia seperti
formula diatas dan tambahkan Natrium acetat atau sedikit demi sedikit acetid acid glasial
sampai pH 3.
5. Masukkan dalam botol steril masing-masing 600 ml dan tiap wadah ditutup dengan kertas
koran steril dan diikat dengan karet gelang. Dinginkan dan inkubasikan di ruang inkubasi
selama 6 hari.
6. Penambahan Natrium acetat pada hari ke-3 sudah terlihat pertumbuhan, sedangkan
menggunakan asam asetat pertumbuhan terlihat pada hari ke-5.

HASIL PENGAMATAN
Ciri-ciri Botol

1 2 3 4 5 6
Keruh
Lapisan tipis
Aroma asam

Kesimpulan:
MODUL PRAKTIKUM V dan VI

Pembuatan nata de coco

TUJUAN
Membuat nata de coco melalui tahap fermentasi.

PRINSIP
Nata adalah biomassa yang sebagian besar terdiri dari sellulosa, berbentuk agar dan
berwarna putih. Massa ini berasal dari pertumbuhan Acetobacter xylinum pada permukaan
media cair yang asam dan mengandung gula. Nata dapat dibuat dari bahan baku air kelapa, dan
limbah cair pengolahan tahu (whey tahu). Nata yang dibuat dari air kelapa disebut dengan nata
de coco, dan yang dari whey tahu disebut dengan nata de soya. Bentuk, warna, tekstur dan rasa
kedua jenis nata tersebut tidak berbeda. Pembuatan nata tidak sulit, dan biaya yang dibutuhkan
juga tidak banyak. Usaha pembuatan nata ini merupakan alternatif usaha yang cukup
menjanjikan (prospektif).

Fermentasi Nata
Fermentasi nata dilakukan melalui tahap-tahap berikut:
1) Pemeliharaan biakan murni Acetobacter xylinum
2) Pembuatan starter
3) Fermentasi
1) Pemeliharaan Biakan Murni Acetobacter xylinum
Fermentasi nata memerlukan biakan murni Acetobacter xylinum. Biakan murni ini harus
dipelihara sehingga dapat digunakan setiap saat diperlukan. Pemeliharaan tersebut meliputi
(1) proses penyimpanan sehingga dalam jangka waktu yang cukup lama viabilitas
(kemampuan hidup) mikroba tetap dapat dipertahankan; dan (2) penyegaran kembali
mikroba yang telah disimpan sehingga terjadi pemulihan viabilitas dan mikroba dapat
disiapkan sebagai inokulum fermentasi.
a. Penyimpanan
Acetobacter xylinum biasanya disimpan pada agar miring yang terbuat dari media
Hasisd dan Barker yang dimodifikasi dengan komposisi sebagai berikut: glukosa (100
gram), ekstrak khamir (2,5 gram), K2HPO4 (5 gram), (NH4)2SO4 (0,6 gram), MgSO4
(0,2 gram), agar (18 gram), dan air kelapa (1 liter). Pada agar miring dengan suhu
penyimpanan 4-7 0C, mikroba ini dapat disimpan selama 3-4 minggu.
b. Penyegaran
Setiap 3 atau 4 minggu, biakan A. xylinum harus dipindahkan kembali pada agar miring
baru. Setelah 3 kali penyegaran, kemurnian biakan harus diuji dengan melakukan
isolasi biakan pada agar cawan. Adanya koloni asing pada permukaan cawan
menunjukan bahwa kontaminasi telah terjadi. Biakan pada agar miring yang telah
terkontaminasi, harus diisolasi dan dimurnikan kembali sebelum disegarkan.

2) Pembuatan Starter
a. Starter adalah populasi mikroba dalam jumlah dan kondisi fisiologis yang siap
diinokulasikan pada media fermentasi. Mikroba pada starter tumbuhdengan cepat dan
fermentasi segera terjadi.
b. Media starter biasanya identik dengan media fermentasi. Media ini diinokulasi dengan
biakan murni dari agar miring yang masih segar (umur 6 hari).
c. Starter baru dapat digunakan 6 hari setelah diinokulasi dengan biakan murni. Pada
permukaan starter akan tumbuh mikroba membentuk lapisan tipis berwarna putih.
Lapisan ini disebut dengan nata. Semakin lama lapisan ini akan semakin menebal
sehingga ketebalannya mencapai 1,5 cm. Starter yang telah berumur 9 hari (dihitung
setelah diinokulasi dengan biakan murni) tidak dianjurkan digunakan lagi karena kondisi
fisiologis mikroba tidak optimum bagi fermentasi, dan tingkat kontaminasi mungkin
sudah cukup tinggi.
d. Volume starter disesuaikan dengan volume media fermentasi yang akan disiapkan.
Dianjurkan volume starter tidak kurang dari 5% volume media yang akan difermentasi
menjadi nata. Pemakaian starter yang terlalu banyak tidak dianjurkan karena tidak
ekonomis.

3) Fermentasi
a) Fermentasi dilakukan pada media cair yang telah diinokulasi dengan starter. Fermentasi
berlangsung pada kondisi aerob (membutuhkan oksigen). Mikroba tumbuh teruatama
pada permukaan media. Fermentasi dilangsungkan sampai nata yang terbentuk cukup
tebal (1,0-1,5 cm). Biasanya ukuran tersebut tercapai setelah 10 hari (semenjak
diinokulasi dengan starter), dan fermentasi diakhiri pada hari ke 15. Jika
b) fermentasi tetap diteruskan, kemungkinan permukaan nata mengalami kerusakan oleh
mikroba pencemar.
c) Nata berupa lapisan putih seperti agar. Lapisan ini adalah massa mikroba berkapsul dari
selulosa.
d) Lapisan nata mengandung sisa media yang sangat asam. Rasa dan bau masam tersebut
dapat dihilangkan dengan perendaman dan perebusan dengan air bersih.

ALAT DAN BAHAN


Kultur: Biakan murni A. xylinum
Media: Glukosa, - Ekstrak khamir, - K2HPO4, - (NH4)2SO4, MgSO4, Agar, Air kelapa,
Asam asetat 25%, urea.

PROSEDUR
1) Penyiapan Biakan Murni
a. Agar (15-18 g) dimasukkan ke dalam 500 ml air kelapa, kemudian dipanaskan sampai
larut. Setelah itu ditambahkan ekstrak ragi (5 g) dan diaduk sampai larut (larutan a).
b. Gula (75 g), dan asam asetat (a5 ml) dimasukkan ke dalam 500 ml air kelapa segar yang
lain dan diaduk sampai gula larut(larutan b).
c. Larutan (a) sebanyak 3-4 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian tutup dengan
kapas. Larutan (b) 3-4 ml juga dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang lain, kemudian
ditutup dengan kapas. Masingmasing disterilkan pada suhu 1210C selama 20 menit d.
Setelah selesai sterilisasi san larutan tidak terlalu panas lagi, larutan (a) dituangkan ke
larutan (b) secara aseptis. Setelah itu 1 tabung berisi larutan b diletakkan secara miring
untuk membuat agar miring dan ditunggu sampai agar mengeras.
d. Inokulum Acetobacter xylinum diinokulasikan pada agar miring di atas. Kemudian
diinkubasikan pada suhu kamar atau pada suhu 300C sampai tampak pertumbuhan bakteri
serupa keloid mengkilat dan bening pada permukaan agar miring.

2) Pembuatan Starter
a. Air kelapa diendapkan, kemudian disaring dengan beberapa lapis kain kassa, kemudian
dipanaskan sampai mendidih dengan api besar sambil diaduk-aduk. Setelah mendidih,
ditambahkan (a) asam asetat glasial (10-20 ml asam asetat untuk setiap 1 liter air kelapa),
dan (b) gula (75-100,0 gram gula untuk tiap 1 liter air kelapa). Campuran ini diaduk
sampai gula larut. Larutan ini disebut air kelapa asam bergula.
b. Urea (sebanyak 3 gram urea untuk setiap 1 liter air kelapa asam bergula yang disiapkan
pada no. 1 diatas) dilarutkan di dalam sedikit air kelapa (setiap 1 gram urea membutuhkan
20 ml air kelapa). Larutan ini dididihkan, kemudian dituangkan ke dalam air kelapa asam
bergula.
c. Ketika masih panas, media dipindahkan ke dalam beberapa botol bermulut lebar, masing-
masing sebanyak 200 ml. Botol ditutup dengan kapas steril. Setelah dingin, ditambahkan
4 ml suspensi mikroba. Setelah itu, media diinkubasi pada suhu kamar selama 6-8 hari
(sampai terbentuk lapisan putih pada permukaan media).

3) Fermentasi Nata
a. Air kelapa yang masih segar diendapkan, dan disaring dengan beberapa lapis kain kassa,
kemudian dipanaskan sampai mendidih dengan api besar sambil diaduk-aduk. Setelah
mendidih, ditambahkan (a) asam asetat glasial (10 ml asam asetat untuk setiap 1 liter air
kelapa), dan (b) gula (80 gram gula untuk setiap 1 liter air kelapa). Campuran ini diaduk
sampai gula larut. Larutan ini disebut air kelapa asam bergula.
b. Urea (sebanyak 5 g urea untuk setiap 1 liter air kelapa asam bergula yang disiapkan pada
no. 1 diatas) dilarutkan di dalam sedikit air kelapa yang telah dimasak (setiap 1 gram urea
membutuhkan 20 ml air kelapa). Larutan ini dididihkan, kemudian dituangkan ke dalam
air kelapa asam bergula. Larutan yang diperoleh disebut sabagai sebagai media
nata.Larutan ini didinginkan sampai suam-suam kuku.
c. Media nata ditambah dengan starter (setiap 1 liter media nata membutuhkan 50-100 ml
starter), kemudian dipindahkan ke dalam wadah-wadah fermentasi dengan ketinggian
media 4 cm. Wadah ditutup dengan kertas yang telah dipanaskan di dalam oven pada
suhu 1400C selama 2 jam. Wadah berisi media ini disimpan di ruang fermentasi selama
12-15 hari sampai terbentuk lapisan nata yang cukup tebal (1,5-2,0 cm).

4) Panen dan pencucian


Lapisan nata diangkat, kemudian dicuci dengan air bersih. Setelah itu nata direndam di
dalam air mengalir atau air yang diganti-ganti dengan air segar selama 3 hari. Setelah itu
nata dipotong-potong dengan panjang 1,5 dan lebar 1,5 cm. Potongan nata direbus 5-10
menit, kemudian dicuci, dan direbus lagi selama 10 menit. Hal ini diulangi sampai nata tidak
berbau dan berasa asam lagi.
5) Pembotolan
a. Pembuatan sirup. Gula yang putih bersih dilarutkan ke dalam air (setiap 2 kg gula
dilarutkan ke dalam 4 liter air bersih), kemudian ditambahkan vanile (secukupnya) dan
benzoat (1 gram untuk setiap liter larutan gula). Larutan sirup ini direbus sampai
mendidih selama 30 menit.
b. Pengemasan. Nata yang masih panas segera dimasukkan ke dalam sirup, kemudian
didinginkan sampai suam-suam kuku. Setelah itu nata dikemas di dalam kantong plastik
rangkap dua, atau di dalam gelas plastik, dan kemasan ditutup dengan rapat (kantong
plastik diikat dengan karet, dan gelas plastik di-seal).

HASIL PENGAMATAN
Ciri-ciri Bibit

1 2 3 1 2 3
Keruh
Lapisan tipis
Aroma asam
Ciri-ciri Fermentasi

1 2 3 4 5 6
aroma
ketebalan
kekenyalan

Kesimpulan:
MODUL PRAKTIKUM VII

Uji katalase

TUJUAN
Untuk menguji kemampuan mikroba penghasil enzim katalase dalam mendegradasi
hidrogen peroksida.

PRINSIP
Selama respirasi aerobik, mikrob menghasilkan hidrogen peroksida yang dalam kasus
tertentu merupakan superoksida yang sangat toksik. Akumulasi senyawa itu dapat
menyebabkan kematian bila tidak segera didegradasi. Senyawa ini dihasilkan bila mikrob
aerobik, anaerobik fakultatif dan mikroaerofilik menggunakan lintasan respirasi aerobik
dengan oksigen sebagai akseptorelektron terakhir dan selama degradasi karbohidrat untuk
menghasilkan energi. Mikrob yang menghasilkan katalase dapat segera mendegradasi hidrogen
peroksida.

katalase
2H2O2 2H2O + O2
Hidrogen peroksida air oksigen bebas

Mikrob aerofilik yang tidak mempunyai katalase dapat mendegradasi terutama


superoksida toksik dengan enzim superoksida dismutase dan produk akhir adalah H2O2 yang
kurang toksik dibandingkan superoksida yang lain. Ketidakmampuan mikrob anaerobik mutlak
untuk mensintesis katalase, peroksidase atau superoksida dismutase menyatakan bahwa
oksigen bersifat toksik bagi mikrob tersebut. Tanpa kehadiran enzim tersebut, H2O2 yang
toksik tidak dapat didegradasi bila mikrob dikultivasikan dalam lingkungan beroksigen.
Produksi katalase dapat dibuktikan dengan menambahkan substrat H2O2 ke dalam kultur media
miring TSA. Dengan adanya katalase maka timbul gelembung gas dari oksigen bebas. Reaksi
negatif tidak menunjukan hal ini.
ALAT DAN BAHAN
Kultur : kaldu TSB dati Staphylococcus aureus, Micrococcus luteus, dan Streptococcus lactis
yang berumur 24-48 jam untuk versi pendek dan kaldu TSB dari ke 13 mikrob yang
berumur sama untuk versi panjang.
Media : Empat tabung media miring TSA untuk versi pendek dan 14 tabung untuk versi
panjang.
Reagen: Hidrogen peroksida 3% dan spidol.
Alat : pembakar bunsen, lup inokulasi, rak tabung rak tabung

PROSEDUR
1. Dengan teknik aseptik goreskan (streak) bakteripada media miring dalam tabung yang
telah disediakan dan sisakan satu tabung untuk kontrol.
2. Inkubasikan pada kultur pada suhu 37oC selama 24-48 jam.

HASIL PENGAMATAN
1. Tambahkan 3-4 tetes hidrogen peroksida 3% pada seluruh permukaan kultur dan amati
pembentukan gelembung gas dan catat hasilnya dalam Tabel
2. Tentukan mikrob yang mempunyai aktivitas katalase.
Bakteri Pembentukan gelembung gas Produksi katalase
(+) / (-)

PERTANYAAN DISKUSI
1. Jelaskan pengaruh toksik O2 pada mikrob anaerobik
2. Bagaimana reaksi degradasi hidrogen peroksida yang dikatalisis katalase
3. Apakah katalase termasuk endo- atau eksoenzim, jelaskan!
4. Jelaskan bagaimana toleransi sterptokokus terhadap O2 bila tidak ada aktivitas katalase?

Kesimpulan:
Pertanyaan:
MODUL PRAKTIKUM VIII

Fermentasi Karbohidrat
TUJUAN
Mempelajari kemampuan mikroba untuk mendegradasi dan memfermentasi
karbohidrat yang disertai produksi asam atau asam dan gas.

PRINSIP
Sebagian besar mikroba memperoleh energi melalui serangkaian reaksi enzimatik yang
bekerja sesuai urutan dan terintegrasi untuk melangsungkan biooksidasi substrat terutama
karbohidrat. Lintasan utama terlihat pada skema berikut;
Respirasi seluler
Aerobik : biooksidasi dengan oksigen molekuler sebagai akseptor elektron terakhir
Anaaerobik : biooksidasi dengan ion anorganik NO3- atau SO42- sebagai akseptor
elektron terakhir
Fermentasi
Proses biooksidatif yang tidak memerlukan oksigen
Substrat organik sebagai akseptor elektron terakhir
Organisme dapat menggunakan berbagai karbohidrat tergantung sistem enzim yang
dimiliki. Beberapa organisme dapat memfermentasi gula seperti glukosa secara anaerobik atau
aerobik, sedangkan yag bersifat anaerobic fakultatif dapat menggunakan lintasan aerobik dan
anaerobic. Pada fermentasi, substrat seperti karbohidrat dan alkohol akan mengalami disimilasi
anaerobik dengan menghasilkan asam organik (asam laktat, format, asetat) yang diikuti gas
hydrogen atau CO2. Mikroba anaerob fakultatif biasanya pelaku fermentasi karbohidrat.
Fermentasi dikaitkan dengan degradasi glukosa melalui lintasan Embden-Meyerhoff atau
lintasan glikolisis.
Degradasi fermentasi dalam lingkungan anaerobic berlangsung dalam tabung reaksi
berisi kaldu dan tabung Durham dengan posisi terbalik untuk menyimpan gas. Media un tuk
fermentasi karbohidrat mengandung kaldu nutrient, karbohidrat tertentu yang dapat digunakan
oleh mikroba yang mampu dan indikator fenol merah yang berwarna merah pada pH 7 dan
kuning pada pH 6,8 yang menyatakan adanya asam sehingga uji dinyatakan positif. Dengan
ciri tersebut maka pengamatan perlu dilakukan dalam waktu 48 jam karena reaksi penghasil
asam akan lanjut berubah bersifat basa akibat rekasi enzimatik terhadap substrat selain
karbohidrat. Selain itu dapat terbentuk gas yang terlihat berhimpun dalam tabung Durham.Uji
negatif ditandai oleh tidak berubahnya warna indikator dan tidak terbentuk gas
Tidak berlangsungnya fermentasi karbohidrat tidak berarti mikroba tidak tumbuh
karena mikroba dapat menggunakan mutrient lain dalam media sebagai sumber energy. Antara
lain pepton, dapat didegradasi menjadi asam amino yang pada gilarannya dikonversi secara
enzimatik oleh deaminasi oksidatif menjadi asam ketoamino. Substrat akan dimetabolisme
lanjut melalui siklus Krebs untuk produksi energi. Reaksi akan melepas ammonia yang
berakumulasi dalam media membentuk NH4OH sehingga lingkungan bersifat basa. Apabila
hal ini terjadi maka fenol merah berwarna merah gelap. Lintasan alternatif respirasi aerobic.

ALAT DAN BAHAN


Kultur : Kaldu TSB dari E.coli, Alcaligens faecalis, Salmonella typhimurium dan
Staphylococcus aureus berumur 24-48 jam untuk versi pendek dan kaldu
TSB dari daftar 13 mikrob uraian terdahulu berumur 24-48 jam untuk versi
panjang.

Media : Kaldu laktosa merah fenol, dekstrosa dan sukrosa, masing-masing 5 buah
untuk versi pendek dan 14 untuk versi panjang
Alat : Pembakar Bunsen, lup inokulasi, spidol

PROSEDUR
1. Dengan teknik aseptic, inokulasikan mikrob uji pada media yang telah ditentukan.
Perhatikan untuk tidak mengocok tabung fermentasi karena akan memaksa udara masuk
ke dalam tabung Durham. Tabung terakhir digunakan sebagai kontrol
2. Inkubasi semua tabung pada 37oC selama 24 jam.

HASIL PENGAMATAN
1. Amati kultur karbohidrat terhadap perubahan warna dan ada tidaknya gas lalu catat
dalam Tabel berikut ini.
2. Kemudian tentukan apakah mikrob Anda, merupakan pelaku fermentasi dengan
produksi asam atau asam dan gas.
Laktosa Dekstrosa Sukrosa
Bakteri A/A+G/- A/A+G/- A/A+G/-
(warna) (warna) (warna)
E. coli
E. aerogenes
K. pneumonia
S.dysenteriae
S. typhimurium
P. vulgaris
P. aeruginosa
A. Faecalis
M. luteus
S. lactis
S. aureus
B. cereus
A. xerosis
Kontrol

PERTANYAAN DISKUSI
1. Tunjukkan perbedaan antara respirasi dan fermentasi
2. Apakah semua organisme menggunakan asam piruvat dengan cara yang sama?
Terangkan
3. Uraikan lintasan degradasi karbohidrat oleh mikrob anaerobic mutlak
4. Dari data eksperimen tampaknya P. aeruginosa tidak menggunakan karbohidrat yang
tersedia, lalu bagaimana organisme ini memperoleh energi untuk mempertahankan
hidupnya?
5. Clostiridium perfringens termasuk anaerobik obligat dan mampu menggunakan
karbohidrat yang berasal dari jaringan yang luka sebagai sumber energi. Selama proses
infeksi, sejumlah gas terakumulasi pada jaringan luka. Apakah gas tersebut CO2?
Jelaskan
MODUL PRAKTIKUM IX

Pengujian Antagonisme Khamir dengan Kapang Patogen

TUJUAN
Mahasiswa mengetahui metode pengujian antagonisme antara khamir dan kapang
dengan strip method.
Mahasiswa mengetahui jenis khamir yang mempunyai kemampuan antagonistik paling
potensial.
Mahasiswa dapat menjelaskan, memahami dan menyimpulkan alasan ilmiah mengenai
hasil proyek 1.

PRINSIP
Mikroorganisme, seperti kapang, khamir dan bakteri yang menempati habitat sama dapat
saling berinteraksi satu sama lain. Salah satu bentuk interaksi antarmikroorganisme adalah
antagonisme yaitu interaksi yang menimbulkan efek merugikan pada pertumbuhan salah satu
mikroorganisme, sedangkan mikroorganisme lain diuntungkan (Butzing, 2002 dalam
Handarini, 2009).
Menurut Lima dkk. (1999), kemampuan mikroorganisme dalam menghambat atau
mebunuh mikroorganisme lain disebut sebagai kemamapuan antagonistik. Mikroorganisme
yang memiliki kemampuan anatagonistik disebut sebagai mikroorganisme antagonis.
Salah satu mikroorganisme yang berpotensi sebagai mikroorganisme antagonis adalah
khamir epifit (Mari dan Guizzardi, 1998 dalam Handarini, 2009). Khamir epifit merupakan
khamir yang secara alami tumbuh di permukaan bagian tumbuhan seperti akar, batang, daun,
bunga, dan buah. Menurut Fonseca dan Inacio (2006) khamir epifit memiliki karakterisitik
dapat tumbuh dengan cepat dapat berkompetisi ruang dan nutrien, dan dapat bertahan terhadap
kekeringan serta cahaya matahari. Karakter-karakter tersebut dapat memberikan potensi
kepada khamir epifit sebagi khamir antagonis.
Khamir epifit yang bersifat antagonis dapat dimanfaatkan dalam menghambat fungi
patogen pada tanaman. Kapang dapat menghasilkan berbagai enzim seperti karbohidrase,
lipase, dan protease. Hal tersebut memungkinkan kapang untuk mendegradasi bagian-bagian
tanaman, sehingga tanaman mengalami kerusakan (Filtenborg, dkk. 2004; dalam Handarini,
2009).
Pengujian kemampuan antagonistik khamir Candida sp. dan Sacharomyces sp. terhadap
kapang Aspergillus niger bertujuan memperoleh khamir epifit yang memiliki kemampuan
antagonistik. Khamir epifit dengan kemampuan antagonistik paling potensial diharapkan dapat
berperan sebagai agen biokontrol kapang dari tanaman yang terinfeksi.

ALAT DAN BAHAN


Kultur : Khamir Candida sp., Saccharomyces cereviceae, kapang Aspergillus niger
Media : Medium PDA
Alat : Cawan petri, mikropipet 1000 , bunsen,tabung reaksi, spidol

PROSEDUR
1. Bagian bawah petri berisi medium PDA ditandai dengan dua garis paralel berjarak 1 cm
2. Sebanyak 50 L suspensi sel khamir diinokulasikan sepanjang garis. Biakan diinkubasi
selama 4 jam pada suhu 25-270 C
3. Sebanyak 50 l suspensi spora kapang diinokulasikan di antara dua garis paralel sel khamir
4. Dibuat kontrol kapang yaitu kapang yang diinokulasikan tanpa khamir, sedangkan sebagai
kontrol khamir yaitu khamir yang diinokulasikan tanpa kapang. Setiap perlakuan diulang
sebanyak 3 kali
5. Lebar koloni kapang diukur setiap hari hingga hari ke-6 menggunakan kaliper digital.
Pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali untuk setiap cawan petri.
6. Amati selama 5 hari

HASIL PENGAMATAN
Lebar koloni
Perlakuan Hari ke
1 2 3 4 5

Kontrol Candida

Kontrol Saccharomyces cereviciae


Kontrol Aspergilus niger

Aspergilus niger vs Candida

Aspergilus niger vs Saccharomyces


cereviciae
MODUL PRAKTIKUM X

Biokontrol Khamir Terhadap Kapang Patogen

TUJUAN
Untuk mengetahui kemampuan biokontrol khamir terhadap kapang patogen.

PRINSIP
Kapang adalah fungi multiseluler yang mempunyai filamen, dan pertumbuhannya pada
makanan mudah dilihat karena penampakannya yang berserabut seperti kapas.
Pertumbuhannya mula-mula akan berwarna putih, tetapi jika spora telah timbul akan terbentuk
berbagai warna tergantung dari jenis kapang. Kapang terdiri dari suatu thallus (jamak = thalli)
yang tersusun dari filamen yang bercabang yang disebut hifa ( tunggal = hypha, jamak =
hyphae). Kumpulan dari hifa disebut miselium ( tunggal = mycelium, Jamak = mycelia)
(Pelczar,2008).
Khamir (yeast) adalah fungi bersel satu yang mikroskopik, beberapa generasi ada
yang membentuk miselium dengan percabangan. Khamir hidupnya sebagian ada yang saprofit
dan ada beberapa yang parasitik. Sel khamir mempunyai ukuran yang bervariasi, yaitu dengan
panjang 1-5 m sampai 20-50 m, dan lebar 1-10 m (Pelczar,2008). Khamir termasuk fungi
tetapi dibedakan dari kapang karena bentuknya yang bersifat uniseluler. Reproduksi khamir
tertutama dengan cara pertunasan. Sebagai sel tunggal khamir tumbuh dan berkembang biak
lebih cepat jika dibandingkan dengan kapang karena mempunyai perbandingan luas permukaan
dengan volume yang lebih besar. Khamir pada umumnya diklasifikasikan berdasarkan sifat-
sifat fisiologinya dan tidak atas perbedaan morfologinya seperti pada kapang. Beberapa kapang
tidak membentuk spora dan digolongkan ke dalam fungi imperaktif dan yang lain membentuk
spora seksual sehingga digolonggakan ke dalam Ascomycetes dan Basidiomycetes (Natsir dkk,
2003).
Berbagai jenis mikroorganisme yang hidup pada habitat yang sama akan berinteraksi
untuk memperoleh nutrient dan ruang hidup, serta untuk menjaga kelangsungan hidup populasi
mikroorganisme tersebut. Antagonisme merupakan interaksi yang terjadi ketika suatu
mikroorganisme mengganggu pertumbuhan mikroorganisme lain (Barton dkk, 2011).
Antagonime dapat terjadi pada interkasi antar bakteri, bakteri dengan khamir, khamir dan
bakteri drngan kapang. Salah satu mikroorganisme antagonis adalah khamir epifit, khamir
epifit merupakan khamir yang hidup pada permukaan bagian tanama, seperti pada batang,
daun, bunga dan buah.
Biokontrol merupakan penggunan suatu orgaisme untuk mengontrol pertumbuhan
organisme pathogen. Biokontrol dapat menjadi salah satu alternative pengganti fungisida
sintetik untuk mengatasi kerusakan pada tanaman akibat fungi pathogen (Khan dkk, 2011).
Khamir antagonis dapat menjadi agen beradaptasi dengan baik, dan dapat dilakukan rekayasa
genetika untuk meningkatkan efisiensi dan manfaat pengggunaan khamir (Pimenta dkk, 2009).
Khamir merupakan salah satu mikroorgaisme antagonis, beberapa penelitian
membuktikan bahwa khamir filum Ascomycota memiliki kemampuan antagonism, khamir
Ascomycota yang memiliki kemampuan antagonism antara lain, khamir genus Aureobasidium,
Candida dan Pichia. Khamir-khamir tersebut dapat ditemukan dipermukaan tanaman. Khamir
yang hidup dipermukaan tanaman disebut khamir epifit. Khamir epifit memiliki kemampuan
antagonism karena mudah beradaptasi dan dapat tumbuh dengan cepat, sehingga populasi
khamir di habitat alaminya meningkat. Karakter tersebut menyebabkan khamir lebih unggul
dalam menguasai mutrien serta ruang hidup dibandungkan dengan fungi lain (Viljoen, 2006).

ALAT DAN BAHAN


Kultur : Candida, kapang Aspergillus niger
Media : Medium PDA
Alat : vorteks, tabung reaksi, baki, pipet, beaker glass, erlenmeyer, bunsen, plastik wrap,
sedotan
Bahan :10 buah tomat, tissue, aquades steril, alkohol 70%, bayclin, 10 buah tomat

PROSEDUR
1. Tujuh buah apel yang seragam disiapkan kemudian, dicuci dengan air mengalir dan 1 buah
tidak dicuci sebagai kontrol.
2. Buah direndam dalam bayclin buah diberi perlakuan sebagai berikut :
P1= Kontrol, tidak dicuci
P2=langsung dicelup pada khamir, 4 jam kemudian dilukai lalu ditambahkan A. niger
P3=Langsung dilukai, ditambahkan dengan A. niger, atau kontrol kapang
P4=dicelup ke dalam khamir, dilukai, atau control khamir
P5=dicelup lalu dilukai atau kontol luka
P6=dilukai lalu ditambah aquadest atau control aquadest
P7=tidak dilukai, langsung celup pada
3. Setiap perlakuan diinkubasi selama 1 minggu, dan diamati perubahannya setiap hari
4. Setiap hari diamati perubahan yang terjadi

HASIL PENGAMATAN
Perubahan hari ke
Perlakuan
1 2 3 4 5 6
1
2
3
4
5
6
7

Kesimpulan:
Pertanyaan:
MODUL PRAKTIKUM XI

Kurva Pertumbuhan Bakteri

TUJUAN
Mempelajari dinamika pertumbuhan kultur bakteri dan menetapkan waktu generasi
bakteri dari suatu kurva pertumbuhan

PRINSIP
Telaah pertumbuhan populasi bakteri membutuhkan prosedur untuk menginokulasi
sel hidup kedalam kaldu media steril kemudian menginkubasikan pada kondisi suhu, ph
optimum dan kebutuhan oksigen yang sesuai. Pada kondisi tersebut maka pertumbuhan akan
cepat dicapai sehingga dinamika pertumbuhan dapat diikuti dan diamati. Jumlah sel yang
meningkat dapat dicatat dan diplotkan dalam suatu kurva sehingga didapatkan hubungan antara
peningkatan jumlah sel dengan waktu inkubasi. Darikurva akan diperoleh suatu tahapan
pertumbuhan, laju pertumbuhan dan waktu generasi pada kondisi standar. Waktu generasi ialah
waktu yang diperlukan bakteri untuk menggandakan populasinya.
Kurva pertumbuhan akan meliputi fase yang diawali dengan fase lag. Pada fase ini
bakteri melakukan adaptasi terhadap lingkungan. Netabolisme seluler akan meningkat
menghasilkan biosintesis makromolekul enzim primer dan persiapanmenuju fase berikut.
Meskipun dijumapi perbesaran sel namunpembelahan sel belum berlangsung karena itu jumlah
sel belum meningkat dengan nyata. Fase berikut ialah fase log. Pada kondisi optimum nutrisi
dan faktor fisik atau lingkungan maka secara fisiologissel akan bereproduksi dengan
pembelahan biner pada laju yang konstan secara cepat. Pertambahan jumlah terjadi secara
eksponensial yang berarti penggandan jummlah mencapai maksimum untuk selang waktu
tertentu. Panjangnya fase log tergantung pada jenis bakteri dan komposisi media. Umumnya
dapat dicapai sekitar 6-12 jam.
Fase stasioner menggambarkan ppeningkatan jumlah sel sesuai dengan pengurangan
jumlah sel atau sel yang mulai mati. Tidak adapeningkatan jumlah sel bahkan jumlah sel
mencapai maksimum untuk suatu periode waktu. Faktor penyebabnya adalah berkurangnya
nutrisi untuk melangsungkan metabolisme esensial, akumulasi produk metabolisme yang
mungkin bersifat asam atau basa yang toksik. Fase berikut ialah fase penurunan atau fase
kematian. Pada fase ini sel bakteri yangresisten terhadap lingkungan dapat dijumpai dalam
jumlah yang kecil.
Untuk menetapkan waktu generasi (GT) dapat digunakan rumus berikut:

GT =

GT = Waktu generasi
B = Jumlah sel awal
B = Jumlah sel setelah waktu t

ALAT DAN BAHAN


Kultur: Kaldu Media-Brain-Heart-Infussion dari E. Coli yang berumur 5-10 jam pada
kepekatan RO600 sebesar 0,09-0,10
Media: Tiap kelompok menerima 100 ml kaldu Media-Brain-Heart-Infussion dalam
Erlenmeyer 250 ml, 18 botol pengencer @99 ml air steril dan 4 botol berisi agar nutien
Alat: alat inkubasi inkubator bergoyang dengan suhu 37oC, Spectronik, 20 kuvet 13 x 100 mm,
alat hitung koloni, 24 cawan petri steril, pipet 1, dan 10 ml steril, spidol, gelas piala 100
ml dan pembakar bunsen,

PROSEDUR
1. Beri label pada 18 botol pengencer @99 ml air steril yang dibagi menjadi 6 set
masing0masing 3 buah dengan catatan waktu t0, t30, t60, t90, t120, t150, dan tingkat
pengenceran 10-2, 10-4, 10-6
2. Beri label pula pada cawan petri dengan waktu inokulasi dan tingkat pengenceran 10-4,
10-5, 10-6, 10-7
3. Cairkan nutrient agar dan dinginkan hingga 45o C
4. Dengan pipet steril masukan 5 ml E. Coli kedalam 100 ml kaldu media BHI dengan
RO600 pada t0 sebesar 0,08-0,1
5. Secara aseptik transfer 1 ml kedalam 99 ml air steril hingga diperoleh pengenceran 10-
2
kemudian lakukan sterusnya hingga diperoleh pengenceran 106. Usahakan agar
suspensi merata dengan cara menvampurkan seperti pada gambar IV.10 berikut ini
demikian pula setiap transfer gunakan pipet steril yang baru.
6. Letakan botol kultur dalam penangas air 30Oc dengan goyangan 120 rpm dan selang
waktu yang dipakai ialah 30 menit
7. Selanjutnya cawankan media agar nutrien sebanyak 15 ml
8. Setiap 30 menit, kultur digoyang dan 5 ml suspensi ditransfer kedalam kuvet untuk
mengukur RO dan satu ml ditransferkedalam botol pengencer hingga peringkat
pengenceran 10-2
9. Cawan yang telah selesai diinokulasi lalu diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC
dengan posisi terbalik
10.
HASIL PENGAMATAN
1. Hitung koloni yang anda peroleh dan catatlah pada tabel berikut
Waktu Inkubasi menit RO600 Jumlah koloni CFU/ml Log CFU/ml
0
30
60
90
120
150

2. Pada lembar semilog, (hal. 71 dan 72), buatlah kurva (1) hubungan RO (y) dan waktu
inkubasi (x) dan (2)log jumlah sel hidup (x) dan waktu inkubasi (y) lalu tentukan fase
log
3. Tentukan waktu generasi kultur dengan cara langsung (formula matematik) dan tidak
langsung (ekstrapolasi skala RO)
4. Hubungan Rapat Optis atau RO dengan %T dapat dilihat pada rumus berikut
RO = 2 Log %T
Meskipun nilai RO dapat dibaca langsung dari galvanometer, disarankan untuk
membaca nilai %T kemudian menghitung nilai RO. Tabel hubungan RO dan 5T.

PERTANYAAN DISKUSI
1. Jelaskan pengertian pertumbuhan untuk bakteri dari organisme multiselular
2. Mengapa ada perbedaan waktu generasi pada (a) mikrob dengan spesies berbeda dan
(b) untuk spesies mikrob yang sama?
3. Waktu generasi dan laju pertumbuhan mikrob yang ditumbuhkan pada lingkungan
laboratorium dapat ditentukan dengan membuat kurva tumbuh
3.1 Apakah laju pertumbuhan mikrob penyebab infeksi juga dapat ditentukan dengan
membuat kurva tumbuh?
3.2 Apakah pengobatan dengan cara memberi terapi antibiotik cukup efektif?
3.3 Apakah waktu generasi suatu mikrob dapat ditentukan dengan berbagai media yang
menunjang pertumbuhan?
Filename: modul yang udah fiks
Directory: C:\Users\DEDE FAJAR\Music
Template: C:\Users\DEDE
FAJAR\AppData\Roaming\Microsoft\Templates\Normal.dotm
Title:
Subject:
Author: Acer GT
Keywords:
Comments:
Creation Date: 21/02/2017 13:44:00
Change Number: 5
Last Saved On: 21/02/2017 13:59:00
Last Saved By: DEDE FAJAR
Total Editing Time: 16 Minutes
Last Printed On: 21/02/2017 13:59:00
As of Last Complete Printing
Number of Pages: 31
Number of Words: 6.385
Number of Characters: 38.598