Anda di halaman 1dari 13

DAFTAR PENYAKIT YANG BISA DIIMUNISASI

1. TBC (TUBERCULOSIS).

Penularan penyakit TBC terhadap seorang anak dapat terjadi karena


terhirupnya percikan udara yang mengandung kuman TBC. Kuman inii dapat
menyerang berbagai organ tubuh, seperti paru-paru (paling sering terjadi),
kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak (yang
terberat). Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru
lahir sampai usia 12 bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum
bayi berumur 2 bulan. Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja. Bila
pemberian imunisasi ini berhasil, maka setelah beberapa minggu di tempat
suntikan akan timbul benjolan kecil. Karena luka suntikan meninggalkan
bekas, maka pada bayi perempuan, suntikan sebaiknya dilakukan di paha
kanan atas. Biasanya setelah suntikan BCG diberikan, bayi tidak menderita
demam.

2. DIFTERI.

Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri


Corynebacterium Diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran
napas bagian atas dengan gejala Demam tinggi, pembengkakan pada amandel
(tonsil ) dan terlihat selaput puith kotor yang makin lama makin membesar dan
dapat menutup jalan napas. Racun difteri dapat merusak otot jantung yang
dapat berakibat gagal jantung. Penularan umumnya melalui udara
(betuk/bersin) selain itu dapat melalui benda atau makanan yang
terkontamiasi.Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan
dengan tetanus dan pertusis sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan
dengan selang penyuntikan satudua bulan. Pemberian imunisasi ini akan
memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus
dalam waktu bersamaan. Efek samping yang mungkin akan timbul adalah
demam, nyeri dan bengkak pada permukaan kulit, cara mengatasinya cukup
diberikan obat penurun panas

3. PERTUSIS.

Penyakit Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan Batuk Seratus Hari
adalah penyakit infeksi saluran yang disebabkan oleh bakteri Bordetella
Pertusis. Gejalanya khas yaitu batuk yang terus menerus sukar berhenti, muka
menjadi merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang bercampur darah.
Batuk diakhiri dengan tarikan napas panjang dan dalam berbunyi
melengking.Penularan umumnya terjadi melalui udara (batuk/bersin).
Pencegahan paling efektif adalah dengan melakukan imunisasi bersamaan
dengan Tetanus dan Difteri sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan
dengan selang pentuntikan.

4. TETANUS.

Penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yan berbahaya karena


mempengaruhi sistim urat syaraf dan otot. Gejala tetanus umumnya diawali
dengan kejang otot rahang (dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut)
bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher,
bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut,
lengan atas dan paha. Neonatal tetanus umumnya terjadi pada bayi yang baru
lahir. Neonatal tetanus menyerang bayi yang baru lahir karena dilahirkan di
tempat yang tidak bersih dan steril, terutama jika tali pusar terinfeksi.
Neonatal tetanus dapat menyebabkan kematian pada bayi dan banyak terjadi di
negara berkembang. Sedangkan di negara-negara maju, dimana kebersihan
dan teknik melahirkan yang sudah maju tingkat kematian akibat infeksi
tetanus dapat ditekan. Selain itu antibodi dari ibu kepada jabang bayinya yang
berada di dalam kandungan juga dapat mencegah infeksi tersebut. Infeksi
tetanus disebabkan oleh bakteri yang disebut dengan Clostridium tetani yang
memproduksi toksin yang disebut dengan tetanospasmin. Tetanospasmin
menempel pada urat syaraf di sekitar area luka dan dibawa ke sistem syaraf
otak serta saraf tulang belakang, sehingga terjadi gangguan pada aktivitas
normal urat syaraf. Terutama pada syaraf yang mengirim pesan ke otot. Infeksi
tetanus terjadi karena luka. Baik karena terpotong, terbakar, aborsi , narkoba
(misalnya memakai silet untuk memasukkan obat ke dalam kulit) maupun
frosbite. Walaupun luka kecil bukan berarti bakteri tetanus tidak dapat hidup
di sana. Sering kali orang lalai, padahal luka sekecil apapun dapat menjadi
tempat berkembang biaknya bakteria tetanus. Periode inkubasi tetanus terjadi
dalam waktu 3-14 hari dengan gejala yang mulai timbul di hari ketujuh.
Dalam neonatal tetanus gejala mulai pada dua minggu pertama kehidupan
seorang bayi. Walaupun tetanus merupakan penyakit berbahaya, jika cepat
didiagnosa dan mendapat perawatan yang benar maka penderita dapat
disembuhkan. Penyembuhan umumnya terjadi selama 4-6 minggu. Tetanus
dapat dicegah dengan pemberian imunisasi sebagai bagian dari imunisasi DPT.
Setelah lewat masa kanak-kanak imunisasi dapat terus dilanjutkan walaupun
telah dewasa. Dianjurkan setiap interval 5 tahun : 25, 30, 35 dst. Untuk wanita
hamil sebaiknya diimunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga
kebersihannya.

5. POLIO.

Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak mendadak
lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah demam selama 2-5 hari.
Terdapat 2 jenis vaksin yang beredar, dan di Indonesia yang umum diberikan
adalah vaksin Sabin (kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya melalui
mulut. Di beberapa negara dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT
dan polio. Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau berumur
beberapa hari dan selanjutnya diberikan setiap 4-6 minggu. Pemberian vaksin
polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B, dan DPT.
Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT
Pemberian imunisasi polio akan menimbulkan kekebalan aktif terhadap
penyakit Poliomielitis. Imunisasi polio diberikan sebanyak empat kali dengan
selang waktu tidak kurang dari satu bulan
imunisasi ulangan dapat diberikan sebelum anak masuk sekolah (5 6 tahun)
dan saat meninggalkan sekolah dasar (12 tahun).Cara memberikan imunisasi
polio adalah dengan meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung
kedalam mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang dicampur dengan
gula manis. Imunisasi ini jangan diberikan pada anak yang lagi diare berat.
Efek samping yang mungkin terjadi sangat minimal dapat berupa kejang-
kejang

6. CAMPAK.

Campak adalah penyakit yang sangat menular yang dapat disebabkan oleh
sebuah virus yang bernama Virus Campak. Penularan melalui udara ataupun
kontak langsung dengan penderita.Gejala-gejalanya adalah : Demam, batuk,
pilek dan bercak-bercak merah pada permukaan kulit 3 5 hari setelah anak
menderita demam. Bercak mula-mula timbul dipipi bawah telinga yang
kemudian menjalar ke muka, tubuh dan anggota tubuh lainnya. Komplikasi
dari penyakit Campak ini adalah radang Paru-paru, infeksi pada telinga,
radang pada saraf, radang pada sendi dan radang pada otak yang dapat
menyebabkan kerusakan otak yang permanen ( menetap ). Pencegahan adalah
dengan cara menjaga kesehatan kita dengan makanan yang sehat, berolah raga
yang teratur dan istirahat yang cukup, dan paling efektif cara pencegahannya
adalah dengan melakukan imunisasi. Pemberian Imunisasi akan menimbulkan
kekebalan aktif dan bertujuan untuk melindungi terhadap penyakit campak
hanya dengan sekali suntikan, dan diberikan pada usia anak sembilan bulan
atau lebih.

7. INFLUENZA.

Influenza adalah penyakit infeksi yang mudah menular dan disebabkan oleh
virus influenza, yang menyerang saluran pernapasan. Penularan virus terjadi
melalui udara pada saat berbicara, batuk dan bersin, Influenza sangat menular
selama 1 2 hari sebelum gejalanya muncul, itulah sebabnya penyebaran virus
ini sulit dihentikan.Berlawanan dengan pendapat umum, influenza bukan
batuk pilek biasa yang tidak berbahaya. Gejala Utama infleunza adalah:
Demam, sakit kepala, sakit otot diseluruh badan, pilek, sakit tenggorok, batuk
dan badan lemah. Pada Umumnya penderita infleunza tidak dapat
bekerja/bersekolah selama beberapa hari.Dinegara-negara tropis seperti
Indonesia, influenza terjadi sepanjang tahun. Setiap tahun influenza
menyebabkan ribuan orang meninggal diseluruh dunia. Biaya pengobatan,
biaya penanganan komplikasi, dan kerugian akibat hilangnya hari kerja (absen
dari sekolah dan tempat kerja) sangat tinggi.Berbeda dengan batuk pilek biasa
influenza dapat mengakibatkan komplikasi yang berat. Virus influenza
menyebabkan kerusakan sel-sel selaput lendir saluran pernapasan sehingga
penderita sangat mudah terserang kuman lain, seperti pneumokokus, yang
menyebabkan radang paru (Pneumonia) yang berbahaya. Selain itu, apabila
penderita sudah mempunyai penyakit kronis lain sebelumnya (Penyakit
Jantung, Paru-paru, ginjal, diabetes dll), penyakit-penyakit itu dapat menjadi
lebih berat akibat influenza.
Vaksin influenza diberikan dengan dosis tergantung usia anak. Pada usia 6-35
bulan cukup 0,25 mL. Anak usia >3 tahun, diberikan 0,5 mL. Pada anak
berusia 8 tahun, maka dosis pertama cukup 1 dosisi saja.

8. DEMAM TIFOID.

Penyakit Demam Tifoid adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Salmonella
Typhi yang masuk melalui saluran pencernaan dan menyebar keseluruh tubuh
(sistemik), Bakteri ini akan berkembang biak di kelenjar getah bening usus
dan kemudian masuk kedalam darah sehingga meyebabkan penyebaran kuman
dalam darah dan selanjutnya terjadilah peyebaran kuman kedalam limpa,
kantung empedu, hati, paru-paru, selaput otak dan sebagainya. Gejala-
gejalanya adalah: Demam, dapat berlangsung terus menerus. Minggu Pertama,
suhu tubuh berangsur-angsur meningat setiap hari, biasanya menurun pada
pagi hari dan meningkat pada sore/malam hari. Minggu Kedua, Penderita terus
dalam keadaan demam. Minggu ketiga, suhu tubuh berangsung-angsur turun
dan normal kembali diakhir minggu. gangguan pada saluran pencernaan, nafas
tak sedap, bibir kering dan pecah-pecah, lidah ditutupi selaput lendir kotor,
ujung dan tepinya kemerahan. Bisa juga perut kembung, hati dan limpa
membesar serta timbul rasa nyeri bila diraba. Biasanya sulit buang air besar,
tetapi mungkin pula normal dan bahkan dapat terjadi diare. gangguan
kesadaran, Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak seberapa
dalam, yaitu menjadi apatis sampai somnolen. Bakteri ini disebarkan melalui
tinja. Muntahan, dan urin orang yang terinfeksi demam tofoid, yang kemudian
secara pasif terbawa oleh lalat melalui perantara kaki-kakinya dari kakus
kedapur, dan mengkontaminasi makanan dan minuman, sayuran ataupun
buah-buahan segar. Mengkonsumsi makanan / minuman yang tercemar
demikian dapat menyebabkan manusia terkena infeksi demam tifoid. Salah
satu cara pencegahannya adalah dengan memberikan vaksinasi yang dapat
melindungi seseorang selama 3 tahun dari penyakit Demam Tifoid yang
disebabkan oleh Salmonella Typhi. Pemberian vaksinasi ini hampir tidak
menimbulkan efek samping dan kadang-kadang mengakibatkan sedikit rasa
sakit pada bekas suntikan yang akan segera hilang kemudian

9. HEPATITIS.

Penyakit hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis tipe B yang menyerang


kelompok resiko secara vertikal yaitu bayi dan ibu pengidap, sedangkan secara
horizontal tenaga medis dan para medis, pecandu narkoba, pasien yang
menjalani hemodialisa, petugas laboratorium, pemakai jasa atau petugas
akupunktur.

10. MENINGITIS.

Penyakit radang selaput otak (meningitis) yang disebabkan bakteri


Haemophyllus influenzae tipe B atau yang disebut bakteri Hib B merupakan
penyebab tersering menimbulkan meningitis pada anak berusia kurang dari
lima tahun. Penyakit ini berisiko tinggi, menimbulkan kematian pada bayi.
Bila sembuh pun, tidak sedikit yang menyebabkan cacat pada anak. Meningitis
bukanlah jenis penyakit baru di dunia kesehatan. Meningitis adalah infeksi
pada lapisan otak dan urat saraf tulang belakang. Penyebab meningitis sendiri
bermacam-macam, sebut saja virus dan bakteri. Meningitis terjadi apabila
bakteri yang menyerang menjadi ganas ditambah pula dengan kondisi daya
tahan tubuh anak yang tidak baik, kemudian ia masuk ke aliran darah,
berlanjut ke selaput otak. Nila sudah menyerang selaput otak (meningen) dan
terjadi infeksi maka disebutlah sebagai meningitis. IMUNISASI HiB dapat
berupa vaksin PRP-T (konjugasi) diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan, dan
diulang pada usia 18 bulan. Vaksin HiB juga dapat diberikan dalam bentuk
vaksin kombinasi. Apabila anak datang pada usia 1-5 tahun, HiB hanya
diberikan 1 kali . Anak di atas usia 5 tahun tidak perlu diberikan karena
penyakit ini hanya menyerang anak dibawah usia 5 tahun. Saat ini, imunisasi
HiB telah telah masuk program pemerintah, yaitu vaksin Pentabio produksi
Bio Farma, vaksin HiB diberikan bersama DPT, Hepatitis B.

11. Pneumokokus.

Imunisasi yang penting lainnya yaitu imunisasi Pneumokokus untuk mencegah


infeksi kuman pneumokokus salah satu penyebab penting dari radang telinga,
pneumonia, meningitis dan beredarnya bakteri dalam darah. Sayangnya,
imunisasi ini belum masuk program pemerintah.
12. MMR

Vaksin MMR diberikan pada usia 15-18 bulan dengan minimal interval 6
bulan antara imunisasi campak dengan MMR. MMR diberikan minimal 1
bulan sebelum atau sesudah penyuntikan imunisasi lain. Apabila seorang anak
telah mendapat imunisasi MMR pada usia 12-18 bulan dan diulang pada usia 6
tahun, imunisasi campak (monovalen) tambahan pada usia 6 tahun tidak perlu
lagi diberikan. Bila imunisasi ulangan (booster) belum diberikan setelah
berusia 6 tahun, berikan vaksin campak/MMR kapan saja saat bertemu. Pada
prinsipnya, berikan imunisai campak 2 kali atau MMR 2 kali.

13. Rotavirus.

Infeksi diare pada anak paling sering disebabkan karena infeksi rotavirus.
Infeksi diare karena rotavirus ini sering diistilahkan muntaber atau muntah
berak. Gejala infeksi rotavirus berupa demam ringan, diawali muntah sering,
diare hebat, dan atau nyeri perut. Muntah dan diare merupakan gejala utama
infeksi rotavirus dan dapat berlangsung selama 3 7 hari. Infeksi rotavirus
dapat disertai gejala lain yaitu anak kehilangan nafsu makan, dan tanda-tanda
dehidrasi. Infeksi rotavirus dapat menyebabkan dehidrasi ringan dan berat,
bahkan kematian. Infeksi ini seringkali tidak berhubungan dengan makanan
kotor atau makanan basi atau air kotor. Tetapi penularannya lebih sering lewat
fecal oral atau kotoran masuk melalui mulut. Biasanya virus yang tersebar
lewat muntahan tersebar di sekitar mainan, pintu, lantai atau di sekitar anak-
anak. Saat tangan anak tersentuh virus melalui muntahan atau bekas feses
yang tidak dicuci bersih dapat masuk ke tubuh saat anak makan atau tangan
masuk ke mulut. Rotavirus adalah virus dengan ukuran 100 nanometer yang
berbentuk roda yang termasuk dalam family Reoviridae. Virus ini terdiri dari
grup A, B, C, D, E dan F. grup A sering menyerang bayi dan grup B jarang
menyerang bayi. Terdapat empat serotipe major dan paling sedikit 10 serotipe
minor dari rotavirus grup A pada manusia. Pembagian serotipe ini didasarkan
pada perbedaan antigen pada protein virus 7 (VP7). Virus ini terdiri dari tiga
lapisan yaitu kapsid luar, kapsid dalam dan inti. Rota virus terdiri dari 11
segmen, setiap segmen mengandung RNA rantai ganda, yang mana setiap
kode untuk enam protein struktur ( VP1, VP2, VP3, VP4, VP6, VP7 ) dan lima
protein nonstruktur (NSP1, NSP2, NSP3, NSP4, NSP 5). Dua struktur protein
yaitu VP7 yang terdiri dari protein G dan glikoprotein dan VP4 yang terdiri
dari protein P dan protease pembelahan protein, merupakan protein yang
melapisi bagian luar dari virus dan merupakan pertimbangan yang penting
untuk membuat vaksin dari rotavirus. Protein pembuat kapsid bagian dalam
paling banyak adalah VP6, dan sangat mudah ditemukan dalam pemeriksaan
antigen, sedangkan protein nonstruktur kapsid bagian dalam adalah NSP4
yang merupakan sebagai faktor virulensi dari rotavirus, meskipun protein lain
juga terlibat dalam mempengaruhi virulensi dari rotavirus. Angka kejadian
kematian diare masih tinggi di Indonesia dan untuk mencegah di are karena
rotavirus, digunakan vaksin rotavirus. Vaksin rotavirus yang beredar di
Indonesia saat ini ada 2 macam. Pertama Rotateq diberikan sebanyak 3 dosis:
pemberian pertama pada usia 6-14 minggu dan pemberian ke-2 setelah 4-8
minggu kemudian, dan dosisi ke-3 maksimal pada usia 8 bulan. Kedua,
Rotarix diberikan 2 dosis: dosis pertama diberikan pada usia 10 minggu dan
dosis kedua pada usia 14 minggu (maksimal pada usia 6 bulan). Apabila bayi
belum diimunisasi pada usia lebih dari 6-8 bulan, maka tidak perlu diberikan
karena belum ada studi keamanannya.

14. Varisela

Vaksin varisela (cacar air) diberikan pada usia >1 tahun, sebanyak 1 kali.
Untuk anak berusia >13 tahun atau pada dewasa, diberikan 2 kali dengan
interval 4-8 minggu. Apabila terlambat, berikan kapan pun saat pasien datang,
karena imunisasi ini bisa diberikan sampai dewasa.

15. Hepatitis A

Imunisasi hepatitis A diberikan pada usia lebih dari 2 dan diberikan sebanyak
2 dosis dengan interval 6-12 bulan. Imunisasi tifoid diberikan pada usia lebih
dari 2 tahun, dengan ulangan setiap 3 tahun. Vaksin tifoid merupakan vaksin
polisakarida sehingga di atas usia 2 tahun.

16. Cacar air

Penyakit cacar atau yang disebut sebagai herpes oleh kalangan medis adalah
penyakit radang kulit yang ditandai dengan pembentukan gelembung-
gelembung berisi air secara berkelompok. Penyakit cacar atau herpes ini ada 2
macam golongan, herpes genetalis dan herpes zoster. Pada kondisi serius
dimana daya tahan tubuh sesorang sangat lemah, penderita penyakit cacar
(herpes) sebaiknya mendapatkan pengobatan terapy infus (IV) Acyclovir.
Sebagai upaya pencegahan sebaiknya seseorang mendapatkan imunisasi
vaksin varisela zoster. Pada anak sehat usia 1 12 tahun diberikan satu kali.
Imunasasi dapat diberikan satu kali lagi pada masa pubertas untuk
memantapkan kekebalan menjadi 60% 80%. Setelah itu, untuk
menyempurnakannya, berikan imunisasi sekali lagi saat dewasa. Kekebalan
yang didapat ini bisa bertahan sampai 10 tahun.

17.
Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI

1. BCG
Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 2 bulan. Pada dasarnya, untuk
mencapai cakupan yang lebih luas, pedoman Depkes perihal imunisasi BCG
pada umur antara 0-12 bulan, tetap disetujui.
Dosis untuk bayi < 1 tahun adalah 0,05 ml dan anak 0,10 ml, diberikan
intrakutan di daerah insersio M. deltoideus kanan.
BCG ulangan tidak dianjurkan oleh karena manfaatnya diragukan mengingat
(1) efektivitas perlindungan hanya 40%, (2) 70% kasus TBC berat
(meningitis) ternyata mempunyai parut BCG, dan (3) kasus dewasa dengan
BTA (bakteri tahan asam) positif di Indonesia cukup tinggi (25-36%)
walaupun mereka telah mendapat BCG pada masa kanak-kanak.
BCG tidak diberikan pada pasien imunokompromais (leukemia, dalam
pengobatan steroid jangka panjang, infeksi HIV, dan lain lain).
Apabila BCG diberikan pada umur >3bulan, sebaiknya dilakukan uji
tuberkulin terlebih dahulu

2. Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah lahir, mengingat paling
tidak 3,9% ibu hamil merupakan pengidap hepatitis dengan risiko transmisi
maternal kurang lebih sebesar 45%.
Pemberian imunisasi hepatitis B harus berdasarkan status HBsAg ibu pada
saat melahirkan. Jadwal pemberian berdasarkan status HBsAg ibu adalah
sebagai berikut:
Bayi lahir dari ibu dengan status HbsAg yang tidak diketahui.
Diberikan vaksin rekombinan (HB Vax-II 5 g atau Engerix B 10 g)
atau vaksin plasma derived 10 mg, secara intramuskular, dalam waktu
12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan umur 1-2 bulan dan dosis
ketiga umur 6 bulan. Apabila pada pemeriksaan selanjutnya diketahui
ibu HbsAg-nya positif, segera berikan 0,5 ml HBIG (sebelum 1
minggu).
Bayi lahir dari ibu HBsAg positif. Dalam waktu 12 jam setelah lahir,
secara bersamaan, diberikan 0,5 ml HBIG dan vaksin rekombinan (HB
Vax-II 5 mg atau Engerix B 10 mg), intramuskular di sisi tubuh yang
berlainan. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan sesudahnya dan dosis
ketiga diberikan pada usia 6 bulan.
Bayi lahir dari ibu dengan HBsAg negatif. Diberikan vaksin
rekombinan (HB Vax-II dengan dosis minimal 2,5 g (0,25 ml) atau
Engerix B 10 g (0,5ml), vaksin plasma derived dengan dosis 10 g
(0,5 ml) secara intra-muskular, pada saat lahir sampai usia 2 bulan.
Dosis kedua diberikan 1-2 bulan kemudian dan dosis ketiga diberikan
6 bulan setelah imunisasi pertama.
Ulangan imunisasi hepatitis B (HepB4) dapat dipertimbangkan pada umur 10-
12 tahun.
Idealnya dilakukan pemeriksaan anti BHs (paling cepat) 1 bulan pasca
imunisasi hepatitis B ketiga. Telah dilakukan suatu penelitian multisenter di
Thailand dan Taiwan terhadap anak dari ibu pengidap hepatitis B, yang telah
memperoleh imunisasi dasar 3x pada masa bayi. Pada umur 5 tahun, sejumlah
90,7% diantaranya masih memiliki titer antibodi anti HBs yang protektif (titer
anti HBs >10 g/ml). Mengingat pola epidemiologi hepatitis B di Indonesia
mirip dengan pola epidemiologi negara tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa imunisasi ulang (booster) pada usia 5 tahun, tidak diperlukan. Idealnya,
pada usia ini dilakukan pemeriksaan anti HBs.
Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah memperoleh
imunisasi hepatitis B, maka diberikan secepatnya (catch-up vaccination).

3. DPT
Imunisasi DPT dasar diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan dengan interval 4-6
minggu, DPT 1 diberikan pada umur 2-4 bulan, DPT 2 pada umur 3-5 bulan
dan DPT 3 pada umur 4-6 bulan. Ulangan selanjutnya (DPT 4) diberikan satu
tahun setelah DPT 3 yaitu pada umur 18-24 bulan dan DPT 5 pada saat masuk
sekolah umur 5-7 tahun.
Sejak tahun 1998, DT 5 dapat diberikan pada kegiatan imunisasi di sekolah
dasar (BIAS). Ulangan DT 6 diberikan pada 12 tahun, mengingat masih
dijumpai kasus difteria pada umur >10 tahun.
Sebaiknya ulangan DT 6 pada umur 12 tahun diberikan dT (adult dose), tetapi
di Indonesia dT belum ada di pasaran.
Dosis DPT/ DT adalah 0,5 ml, intramuskular, baik untuk imunisasi dasar
maupun ulangan.

4. Tetanus
Upaya Departemen Kesehatan melaksanakan Program Eliminasi Tetanus
Neonatorum (ETN) melalui imunisasi DPT, DT, atau TT dilaksanakan
berdasarkan perkiraan lama waktu perlindungan sebagai berikut:
Imunisasi DPT pada bayi 3 kali (3 dosis) akan memberikan imunitas 1-
3 tahun. Dari 3 dosis toksoid tetanus pada bayi tersebut setara dengan 2
dosis toksoid pada anak yang lebih besar atau dewasa.
Ulangan DPT pada umur 18-24 bulan (DPT 4) akan memperpanjang
imunitas 5 tahun yaitu sampai dengan umur 6-7 tahun, pada umur
dewasa dihitung setara 3 dosis toksoid.
Dosis toksoid tetanus kelima (DPT/ DT 5) bila diberikan pada usia
masuk sekolah, akan memperpanjang imunitas 10 tahun lagi yaitu pada
sampai umur 17-18 tahun; pada umur dewasa dihitung setara 4 dosis
toksoid.
Dosis toksoid tetanus tambahan yang diberikan pada tahun berikutnya
di sekolah (DT 6 atau dT) akan memperpanjang imunitas 20 tahun
lagi; pada umur dewasa dihitung setara 5 dosis toksoid.
Jadi Program Imunisasi merekomendasikan TT 5x untuk memberikan
perlindungan seumur hidup dan pada wanita usia subur (WUS) untuk
memberikan perlindungan terhadap bayi yang dilahirkan dari tetanus
neonatorum.
Dosis TT 0,5 ml diberikan secara intramuskular.
Upaya mencapai target Eliminasi Tetanus Neonatorum dengan target sasaran
TT 5x selain pada sasaran bayi, juga pada anak sekolah melalui kegiatan
Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

5. Polio
Untuk imunisasi dasar (polio 2, 3, 4), vaksin diberikan 2 tetes per-oral, dengan
interval tidak kurang dari 4 minggu. Mengingat Indonesia merupakan daerah
endemik polio, sesuai pedoman PPI untuk men-dapatkan cakupan imunisasi
yang lebih tinggi, diperlukan tambahan imunisasi polio yang diberikan segera
setelah lahir (pada kunjungan I).
Perlu mendapat perhatian pada pemberian polio 1 saat bayi masih berada di
rumah bersalin/ rumah sakit, dianjurkan vaksin polio diberikan pada saat bayi
akan dipulangkan agar tidak mencemari bayi lain mengingat virus polio hidup
dapat diekskresi melalui tinja.
Imunisasi polio ulangan diberikan satu tahun sejak imunisasi polio 4,
selanjutnya saat masuk sekolah (5-6 tahun).

6. Campak
Vaksin campak dianjurkan diberikan dalam satu dosis 0,5 ml secara sub-kutan
dalam, pada umur 9 bulan.
Hasil penelitian terhadap titer antibodi campak pada anak sekolah kelompok
usia 10-12 tahun didapat hanya 50% diantaranya masih mempunyai antibodi
campak di atas ambang pencegahan, sedangkan 28,3% diantara kelompok usia
5 - 7 tahun pernah menderita campak walaupun sudah diimunisasi saat bayi.
Berdasarkan penelitian tersebut dianjurkan pemberian imunisasi campak
ulangan pada saat masuk sekolah dasar (5-6 tahun), guna mempertinggi
serokonversi.

7. MMR
Vaksin MMR diberikan pada umur 15-18 bulan dengan dosis satu kali 0,5 ml,
secara subkutan.
Vaksin MMR yang beredar di pasaran ialah MMRII [MSD] dan Trimovax
[Pasteur Merieux]
MMR diberikan minimal 1 bulan sebelum atau setelah penyuntikan imunisasi
lain.
Apabila seorang anak telah mendapat imunisasi MMR pada umur 12-18 bulan,
imunisasi campak 2 pada umur 5-6 tahun tidak perlu diberikan.
Ulangan diberikan pada umur 10-12 tahun atau 12-18 tahun. Hib
(H.influenzae tipe b)
Vaksin conjungate H.influenzae tipe b ialah Act HIB [Pasteur Merieux]
diberikan pada umur 2, 4, dan 6 bulan. Bila dipergunakan vaksin PRP-outer
membrane protein complex (PRP-OMPC) yaitu Pedvax Hib, [MSD]
diberikan pada umur 2 dan 4 bulan, dosis ketiga (6 bulan) tidak diperlukan.
Ulangan vaksin Hib diberikan pada umur 18 bulan.
Apabila anak datang pada umur 1-5 tahun, Hib hanya diberikan 1 kali.
Satu dosis vaksin Hib berisi 0,5 ml, diberikan secara intramuskular.

8. Demam tifoid
Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin yaitu vaksin suntikan (polisakarida) dan
oral. Vaksin capsular Vi polysaccharide yaitu Typhim Vi [Pasteur Merieux]
diberikan pada umur > 2 tahun, ulangan dilakukan setiap 3 tahun.
Tifoid oral Ty21a yaitu Vivotif [Berna] diberikan pada umur > 6 tahun,
dikemas dalam 3 dosis dengan interval selang sehari (hari 1,3, dan 5).
Imunisasi ulangan dilakukan setiap 3-5 tahun.

9. Hepatitis A
Vaksin hepatitis A diberikan pada daerah yang kurang terpajan (under
exposure), pada umur >2 tahun. Imunisasi dasar Hepatitis A yang telah beredar
ialah Havrix [Smith Kline Beecham] dosis pemberian sebagai berikut,
Dosis 360 U diberikan 3 x dengan interval 4 minggu antara suntikan I dan II.
Untuk mendapatkan perlindungan jangka panjang (10 tahun) dengan nilai
ambang pencegahan >20 mlU/ml, dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah
suntikan pertama. Apabila dipergunakan dosis 720 U, imunisasi cukup
diberikan dua kali dengan interval 6 bulan.
Suntikan diberikan secara intramuskular di daerah deltoid. Varisela Efektifitas
vaksin varisela tidak diragukan lagi, tetapi karena cakupan imunisasi belum
tinggi oleh karena harga belum terjangkau bagi sebagian masyarakat maka
imunisasi rutin belum dapat terlaksana. Pada pemberian vaksin varisela pada
anak kecil dapat mengubah epidemiologi penyakit dari masa anak ke dewasa
(pubertas), sebagai akibatnya angka kejadian varisela orang dewasa akan
meningkat dibandingkan anak; sedangkan dampak penyakit pada orang
dewasa lebih berat apalagi bila terjadi pada masa kehamilan dapat
mengakibatkan bayi menderita sindrom varisela kongenital dengan angka
kematian yang tinggi. Oleh karena itu untuk menghindarkan perubahan
epidemiologi penyakit tersebut, pada saat ini imunisasi varisela yaitu Varillix
[Smith Kline Beecham] direkomendasikan pada umur 10-12 tahun yang
belum terpajan, dengan dosis 0,5 ml, subkutan, satu kali. Apabila diberikan
pada umur >13 tahun maka imunisasi diberikan 2 kali dengan jarak 4-8
minggu. Di lain pihak, atas permintaan orang tua imunisasi varisela dapat
diberikan kapan saja setelah anak berusia 1 tahun. Imunisasi ulangan sampai
saat ini belum dianjurkan.