Anda di halaman 1dari 27

Laporan Kasus

Pasien dengan Penyakit Osteomielitis

Pembimbing:
dr. Alif Noeriyanto Rahman, Sp.OT

disusun oleh:
Patricia Renata (11.2016.118)
Elisabeth Janice Rusli (11.2016.163)
Agnestya Christine Zely Raule (11.2016.169)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT BEDAH


RUMAH SAKIT UMUM BHAKTI YUDHA DEPOK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
PERIODE 10 APRIL 2017 17 JUNI 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebun Jeruk Jakarta Barat

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF ILMU PENYAKIT BEDAH
RUMAH SAKIT BHAKTI YUDHA DEPOK

Nama: Patricia Renata Tanda Tangan:


Elisabeth Janice Rusli
Agnestya Christine Zely Raule
Nim: 11.2016.118
11.2016.163
11.2016.169
Dr. Pembimbing: dr. Alif Noeriyanto Rahman, Sp.OT

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. A.N Bangsa : Indonesia
Umur : 43 tahun Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam
Alamat : Tropikal kav 124 2/2

I. ANAMNESIS
Diambil dari: Autoanamnesis

Keluhan Utama
Keluar nanah dari bekas luka operasi.

Keluhan Tambahan
Lutut sebelah kiri bengkak, tidak bisa berjalan, nyeri (+)

2
Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 2 minggu SMRS pasien mengatakan keluar nanah terus menerus dari bekas luka
operasi, tidak berhenti-berhenti. Riwayat operasi benjolan di kaki 3 tahun lalu di Makassar.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit serupa : Tidak ada
Riwayat hipertensi : Tidak ada
Riwayat penyakit gula : Tidak ada

Riwayat Penyakit Dahulu


a. Penyakit terdahulu :-
b. Trauma terdahulu :-
c. Operasi : Operasi benjolan di kaki kiri
d. Sistem saraf :-
e. Sistem kardiovaskular :-
f. Sistem gastrointestinalis :-
g. Sistim urinarius :-
h. Sistim genitalis :-
i. Sistim musculoskeletal :-

II. STATUS PRAESENS


1. STATUS UMUM
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Suhu : 36,50C
Tekanan Darah : 160/80 mmHg
Frekuensi nadi : 80 x/menit
Frekuensi pernapasan : 20 x/menit
Keadaan gizi : Baik
Kulit : Tidak ada perubahan warna kulit
Kepala : Normochepali
Muka : Simetris, tidak ada pembengkakkan pada muka
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

3
Hidung : Simetris, tidak tampak adanya kelainan
Mulut/gigi : Mulut bersih, gigi tidak ada yang berlubang
Leher : Tidak ada perbesaran kelenjar getah bening dan kelenjar tiroid
Kelenjar limfe : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe
Dada : Dada tampak simetris kanan dan kiri, tidak tampak ada
kelainan
Jantung : Tidak terdapat bunyi jantung yang abnormal, BJ 1 dan II
reguler tidak mur-mur tidak ada gallop
Paru-paru : Tidak terdapat bunyi pernapasan yang abnormal, vesikuler +/+
Perut : Perut tidak membuncit tidak tampak ada bekas luka operasi di
perut
Hati : Tidak ada perbesaran hati
Limpa : Tidak ada perbesaran limpa
Ginjal : Ginjal tidak membesar, tidak ada nyeri ketok
Kandung empedu : Murphy sign (-)
Kandung kencing : Nyeri suprapubik (-)
Kemaluan : Tidak di periksa
Punggung : Tulang belakang dalam keadaan normal
Refleks : Tidak diperiksa
Rektum/anus : Tidak diperiksa
Ekstremitas : ROM 60o - 90o, lutut tidak bisa diluruskan, kaki kiri tidak bisa
dibuat menapak tanah. Ekstremitas kanan dalam batas normal
Sensibilitas : Positif

2. STATUS LOKALIS
Look : Discharge positif produksi aktif cair berwarna putih susu dan tidak berbau,
luka bekas operasi di anterior regio kruris sinistra, patella edema, tampak ada
deformitas berupa angulasi.
Feel : Nyeri tekan positif, pada perabaan lutut sebelah kiri dirasakan lebih hangat
daripada sebelah kanan. AVN distal positif.
Move : ROM 60o - 90o dan nyeri gerak positif.

4
III. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
2. Rontgen foto regio genu dan kruris sinistra AP Lateral
3. Kultur pus

IV. RESUME
Perempuan usia 43 tahun keluar nanah dari luka bekas operasi di regio kruris sinistra 3
tahun yang lalu. Dari hasil pemeriksaan darah rutin didapatkan Hemoglobin 10.8 g/dl,
Leukosit 9.4 ribu/mm3, Trombosit 517ribu/mm3, Hematokrit 34%. Nyeri positif, ROM
terbatas.

V. DIAGNOSIS KERJA
Osteomielitis Kronik 1/3 Proksimal Os. Tibia Sinistra

VI. PENGOBATAN PRE-DEBRIDEMEN


1. Pemberian obat oral: Ciprofloxacin 500 mg 3x1;
Metronidazole 500 mg 3x1;
Lansoprazole 2x1;
Antasida 3x1
2. Manajemen luka, ganti verban 2 kali sehari

VII. PROGNOSIS
Ad vitam : Dubia ad malam
Ad functionam : Malam
Ad sanationam : Malam

5
VIII. FOLLOW UP
Selasa, 18 April 2017
S: -
O: Hasil Laboratorium Pre-Debridemen
Tanggal terima: 18 April 2017 Jam terima: 11.55
Darah Rutin
Hemoglobin 10.8 g/dl
Leukosit 9.4 ribu/mm3
Trombosit 517 ribu/mm3
Hematokrit 34 %
Masa Pendarahan
Masa Pendarahan 2.45 menit
Diabetes Melitus
Gula Darah (s) 96 mg/dl
Imunologi/Serologi
HbsAg (det) non reaktif
A: -
P: ACC operasi (Debridemen)

Kamis, 20 April 2017


S: -
O: Hasil Rontgen foto regio genu dan kruris sinistra AP Lateral

A: Osteomielitis Kronik 1/3 Proksimal Os. Tibia Sinistra


P: Cefazolin 2 gram (30 menit sebelum operasi, dengan skin test);
Ketorolac 3x30 mg;
Futrolit 1000 cc/24 jam

6
Jumat, 21 April 2017
S: Pasien merasa cemas menjelang operasi
O: Hasil Laboratorium Pre-Debridemen, operasi dilakukan Pukul 21.00
Tanggal terima: 21 April 2017 Jam terima: 20.21
Darah Rutin
Hemoglobin 9.7 g/dl
Leukosit 10.9 ribu/mm3
Hematokrit 30 %
Trombosit 587 ribu/mm3
A: Osteomielitis Kronik 1/3 Proksimal Os. Tibia Sinistra
P: RL 1500cc/24 jam;
Cefazolin 3x1 gram;
Ketorolac 3x30 mg;
Paracetamol 4x1 gram;
GV 2 kali/hari (pagi dan sore didepan dan dibelakang dengan sofratulle, kassa lembab
dan diatasnya ditutup dengan kassa baru);
Kultur pus

Sabtu, 22 April 2017


S: Nyeri pada luka bekas operasi
O: TD:110/80 mmHg; HR: 80x/menit; RR:18x/menit; Suhu: 36oC
A: Post debridemen
P: Teruskan terapi

Minggu, 23 April 2017


S: Nyeri pada luka bekas operasi
O: TD: 110/70 mmHg; HR: 80x/menit; RR: 20x/menit; Suhu: 36oC
A: Post debridemen
P: Teruskan terapi

7
Senin, 24 April 2017
S: Pasien menggigil
O: Suhu: 39,9oC
A: Post debridemen
P: Transamin stop;
Terapi lanjut: Paracetamol 4x1 gram;
Cek darah rutin.
Bila pasien tidak ada panas boleh pulang;
Terapi pulang: Ciprofloxacin 3x500 mg;
Metronidazole 3x500 mg;
Tramadol 3x100 mg;
Lanzoprazole 2x1;
Antasida 3x1.

Selasa, 25 April 2017


S: Pasien mengatakan demam
O: Suhu: 39oC
Hasil Laboratorium Post-Debridemen
Darah Rutin
Hemoglobin 8.5 g/dl
Leukosit 10.4 ribu/mm3
Hematokrit 27 %
Trombosit 497 ribu/mm3
A: Post debridemen
P: Terapi lanjut

Senin, 3 Mei 2017


S: Masih nyeri di daerah luka operasi, ada benang putus, ada nanah
O: Masih ada nanah, luka masih terbuka ukurang panjang 7 cm, lebar 3 cm, dan
kedalaman kurang kebih 2 cm, ada benang yang putus, hasil kultur pus menunjukkan
sensitif terhadap Metronidazol (Bacterioides sp)
A: Vulnus scisum disertai infeksi di regio cruris sinistra
P: GV + Metronidazol, kontrol 2 hari kemudian

8
Rabu, 8 Mei 2017
S: Masih nyeri di daerah luka operasi, ada nanah
O: Masih ada nanah, luka masih terbuka ukurang panjang 7 cm, lebar 3 cm, dan
kedalaman kurang lebih 2 cm
A: Vulnus scisum disertai infeksi di regio cruris sinistra
P: GV + Metronidazol, kontrol

9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pendahuluan
Osteomielitis merupakan suatu kondisi dimana terjadi infeksi pada tulang dan
sumsum tulang yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau proses spesifik (M.
tuberkulosa, jamur).1 Infeksi pada tulang dapat terjadi melalui aliran darah, trauma dan
fiksasi interna (implant). Organisme yang paling umum menyebabkan terjadinya infeksi
yaitu Staphylococcus aureus. Adanya proses infeksi maka tubuh akan memberikan
respon perlawanan dengan mengisolasi dan menghancurkannya. Tanda-tanda
osteomielitis yaitu berupa, nyeri, kemerahan dan bengkak sekitar tulang yang terinfeksi
serta berkurangnya fungsi.2,3
Menurut asalnya, osteomielitis dikategorikan atas primer dan sekunder. Osteomielitis
primer dibagi lagi berdasarkan perjalanan waktunya, menjadi akut, subakut, atau kronik
dengan pembagian pada tiap tipe berdasarkan onset penyakit (timbulnya infeksi).
Osteomielitis akut berkembang dalam dua minggu setelah onset penyakit, sedangkan
osteomielitis subakut dalam dua minggu sampai tiga bulan dan osteomielitis kronik
setelah lebih dari tiga bulan.2,3

2.2. Definisi
Osteomielitis berasal dari kata Yunani yaitu osteon, berarti tulang, myelo artinya
sumsum, dan -itis berarti peradangan, yang secara sederhana berarti infeksi tulang atau
sumsum tulang.1
Berdasarkan kamus kedokteran Dorland, osteomielitis ialah radang tulang yang
disebabkan oleh organisme piogenik, walaupun berbagai agen infeksi lain juga dapat
menyebabkannya. Dapat tetap terlokalisasi atau tersebar melalui tulang, melibatkan
sumsum, korteks, dan periosteum.3

2.3. Etiologi
Organisme spesifik yang diisolasi dari osteomielitis seringkali dihubungkan dengan
usia pasien atau keadaan tertentu yang menyertainya, seperti trauma atau riwayat
operasi. Staphylococcus aureus terlibat pada kebanyakan pasien dengan osteomielitis
hematogenous akut dan bertanggung jawab atas 90% kasus pada anak-anak yang sehat.
Penyebab osteomielitis pada anak-anak ialah Staphylococcus aureus (89-90%),

10
Streptococcus (4-7%), Haemophillus influenza (2-4%), Salmonella typhi dan
Escherichia coli (1-2%). Bakteri penyebab osteomielitis kronik terutama
Staphylococcus aureus (75%), Escherichia coli, Proteus atau Pseudomonas aeruginosa.
Staphylococcus epidermidis merupakan penyebab utama osteomielitis kronik pada
operasi-operasi ortopedi yang menggunakan implant. 4-6
Selain disebabkan bakteri piogenik, osteomielitis juga dapat disebabkan oleh infeksi
bakteri granulomatosa seperti tuberkulosis dan siphilis melalui proses spesifik, oleh
jamur seperti aktinomikosis yang pada awalnya seringkali bersifat kronik. Selain itu
juga dapat disebabkan oleh virus.3,6,7
Organisme lain ditemukan pada pecandu heroin dan kelainan oportunistik pada
pasien dengan mekanisme immune defence compromised. Pasien dengan sickle-cell
disease mudah terinfeksi Salmonella.7

2.4. Predileksi
Pada balita, infeksi dapat menyebar ke sendi dan menyebabkan arthritis. Pada anak-
anak yang biasanya terinfeksi adalah tulang panjang. Abses subperiosteal dapat
terbentuk karena periosteum melekat longgar di permukaan tulang, sedangkan pada
dewasa tulang yang paling sering terinfeksi adalah tulang belakang dan tulang panggul.7
Tibia bagian distal, femur bagian distal, humerus, radius dan ulna bagian proksimal
dan distal, vertebra, maksila, dan mandibula merupakan tulang yang paling beresiko
untuk terkena osteomielitis karena merupakan tulang yang banyak vaskularisasinya.
Bagaimanapun, abses pada tulang dapat dipicu oleh trauma di daerah infeksi. Infeksi
dapat disebabkan oleh Staphylococcus aureus yang merupakan flora normal yang dapat
ditemukan di kulit dan mukosa membran.7

2.5. Epidemiologi
Osteomielitis sering ditemukan pada usia dekade I-II, tetapi dapat pula ditemukan
pada bayi dan neonatus. Insiden di Amerika satu dari 5000 anak dan satu dari 1000 pada
neonatal. Pada keseluruhan, insiden terbanyak pada negara berkembang. Osteomielitis
pada anak sering bersifat akut dan menyebar secara hematogen, sedangkan osteomielitis
pada dewasa merupakan infeksi subakut atau kronik yang berkembang secara sekunder
dari fraktur terbuka dan meliputi jaringan lunak.4,5

11
Kejadian pada anak laki-laki lebih sering dibandingkan dengan anak perempuan
dengan perbandingan empat banding satu. Lokasi yang tersering ialah tulang-tulang
panjang, misalnya femur, tibia, humerus, radius, ulna dan fibula.4,5
Infeksi yang terjadi pasca pemasangan implant (fiksasi interna) dapat terjadi pada
pasien semua usia. Banyak faktor yang mempengaruhi untuk terjadinya infeksi pasca
pemasangan implant, seperti lamanya operasi berlangsung, usia lanjut, perokok,
penyakit penyerta seperti diabetes mellitus dan adanya luka dikulit.2,3,12 Faktor-faktor
pasien seperti perubahan pertahanan netrofil, imunitas humoral, dan imunitas selular
juga dapat meningkatkan resiko osteomielitis.5

2.6. Klasifikasi Osteomielitis


Osteomielitis primer disebabkan implantasi mikroorganisme secara langsung ke
dalam tulang dan biasanya terbatas pada tempat tersebut. Fraktur terbuka (compound
fracture), luka tembus (terutama disebabkan oleh senjata api), dan operasi bedah pada
tulang menjadi penyebab tersering. Terapi operatif biasanya perlu dilakukan, sedangkan
terapi dengan obat antimikroba hanya sebagai terapi pembantu.5
Osteomielitis sekunder (perkontinuitatum atau hematogen akut) disebabkan oleh
penyebaran kuman dari sekitarnya melalui aliran darah, seperti bisul dan luka. Kadang-
kadang, osteomielitis sekunder dapat disebabkan oleh perluasan infeksi secara langsung
dari jaringan lunak didekatnya atau dari arthritis septic pada sendi yang berdekatan.5
Infeksi di jaringan lunak kaki atau tangan, terutama di jari kaki atau jari tangan dapat
menjalar ke dalam tulang dan menyebabkan osteomielitis. Panarisium subkutan, yaitu
infeksi di subkutan palmar jari, menyebabkan osteomielitis falang terminal. Yang sering
ditemukan adalah osteomielitis tulang tangan atau kaki karena neuropati perifer,
misalnya pada lepra atau diabetes mellitus. 3
Menurut perjalanan waktunya, osteomielitis primer dikategorikan atas akut, subakut,
atau kronik berdasarkan onset penyakit (timbulnya infeksi). Osteomielitis akut
berkembang dalam dua minggu, biasa terjadi pada anak-anak dan sebagai komplikasi
dari infeksi di dalam darah (osteomielitis hematogen), sedangkan osteomielitis subakut
berkembang dalam dua minggu sampai tiga bulan dan osteomielitis kronik berkembang
setelah lebih dari tiga bulan dari onset penyakit.2,3 Osteomielitis subakut dan kronis
biasa terjadi pada dewasa karena ada luka atau trauma (Osteomielitis kontangiosa),
misalnya osteomielitis yang terjadi pada tulang yang fraktur. 6

12
2.6.1. Osteomielitis akut
Osteomielitis akut yaitu osteomielitis yang terjadi dalam dua minggu sejak infeksi
pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul.2 Osteomielitis akut terbagi lagi menjadi
dua, yaitu:
Osteomielitis hematogenous akut, merupakan infeksi yang disebabkan oleh
tersebarnya bakteri dari daerah yang jauh melalui darah dan biasanya terjadi pada
anak-anak. Lokasi yang sering terinfeksi merupakan daerah yang tumbuh dengan
cepat dan metafisis yang bervaskular banyak. Aliran darah yang lambat pada daerah
distal metafisis menyebabkan thrombosis dan nekrosis lokal serta pertumbuhan
bakteri pada tulang itu sendiri. Osteomielitis hematogen akut mempunyai
perkembangan klinis dan onset yang lambat.2
Patologi yang terjadi pada osteomielitis hematogen akut tergantung pada umur,
daya tahan penderita, lokasi infeksi, serta virulensi kuman. Infeksi terjadi melalui
aliran darah dari fokus tempat lain di tubuh pada fase bakterimia dan dapat
menimbulkan septikemia. Embolus infeksi kemudian masuk ke dalam juxta epifisis
pada daerah metafisis tulang panjang. Proses selanjutnya terjadi hiperemi dan udem
di daerah metafisis yang disertai pembentukan pus di tulang panjang. Terbentuknya
pus dalam tulang, dimana jaringan tulang tidak dapat berekspansi akan menyebabkan
tekanan dalam tulang bertambah. Peningkatan tekanan dalam tulang mengakibatkan
terganggunya sirkulasi dan timbul trombosis pada pembuluh darah tulang yang
akhirnya menyebabkan nekrosis tulang. Disamping proses yang disebutkan,
pembentukan tulang baru yang ekstendsif terjadi pada bagian dalam periostem
sepanjang diafisis (terutama pada anak-anak) sehingga terbentuk lingkungan tulang
seperti peti mayat yang disebut involukrum dengan jaringan sekuestrum di dalamnya.
Proses ini terlihat jelas pada akhir minggu kedua. Apabila pus menembus tulang,
maka terjadi pengaliran pus (discharge) dari involukrum keluar melalui lubang yang
disebut kloaka atau melalui sinus pada jaringan lunak dan kulit. 2
Direct or Contigous Inoculation Osteomielitis, disebabkan kontak langsung antara
jaringan tulang dengan bakteri, biasa terjadi karena trauma terbuka atau tindakan
pembedahan. Manisfestasinya terlokalisasi dan melibatkan banyak jenis organisme.5

13
Manifestasi klinis osteomielitis akut
Pada awal penyakit, gejala sistemik seperti febris, anoreksia, dan malaise menonjol,
sedangkan gejala lokal seperti pembengkakan atau selulitis belum tampak. Pada masa
ini dapat terjadi salah diagnosis sebagai demam tifoid. Nyeri spontan lokal yang
mungkin disertai nyeri tekan dan sedikit pembengkakan serta kesukaran gerak dari
ekstremitas yang terkena, merupakan gejala osteomielitis hematogen akut. Pada anak-
anak, seringkali orang tua baru menyadari setelah anak tampak tidak mau menggunakan
salah satu anggota gerak atau tidak mau disentuh. Mungkin saja sebelumnya didapatkan
riwayat infeksi seperti kaki yang terluka, nyeri tenggorokan, atau keluarnya cairan dari
telinga.3,5,7
Pada bayi baru lahir, bayi tampak gelisah dan irritable. Biasanya lebih sering terjadi
pada bayi dengan risiko tinggi seperti prematur, berat badan kurang, bayi riwayat
persalinan yang sulit atau pemasangan kateter arteri tali pusat. 6
Pada dewasa, predileksi tersering adalah vertebra thorakolumbal dan dapat
menyerang penderita dengan riwayat pada traktus urinarius. Nyeri lokal bukanlah gejala
yang menonjol, dan pemeriksaan x-ray baru akan berarti beberapa minggu kemudian.
Tulang pada daerah lain biasanya terlibat pada penderita Diabetes Mellitus, malnutrisi,
ketergantungan obat, dan imunodefisiensi.5

2.6.2. Osteomielitis subakut


Osteomielitis subakut yaitu osteomielitis yang terjadi dalam dua minggu hingga tiga
bulan sejak infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul. Abses Brodie adalah
salah satu tipe yang paling umum dari osteomielitis subakut, dimana abses biasanya
ditemukan dalam spongiosa tulang dekat ujung tulang. Bentuk abses ini biasanya bulat
atau lonjong dengan pinggiran sklerotik dan kadang terlihat sekuester, tetap terlokalisasi
dan kavitas dapat secara bertahap terisi jaringan granulasi. Abses Brodie juga dapat
ditemukan pada osteomielitis kronik.6,8
Ekstremitas bawah terinfeksi lebih banyak dibandingkan ekstremitas atas. Tibia
terinfeksi lebih sering dibandingkan femur.2,8 Daerah lain yang dilaporkan sebagai
osteomielitis subakut adalah metafisis sesuai lokasi, seperti di pelvis, tulang belakang,
calcaneus, clavicula, dan talus. Osteomielitis subakut yang terjadi pada tulang tarsal
biasanya terjadi pada daerah subkondral atau batas apofisis dari calcaneus. Lesi subakut
dari tulang belakang lebih sering pada dewasa dibandingkan pada anak. Osteomielitis

14
subakut yang terjadi pada tulang panjang pada dewasa, diafisis sering terkena sama
seperti metafisis, sedangkan lutut jarang.6,8
Osteomielitis hematogen subakut biasanya ditemukan pada anak-anak dan remaja.
Gambaran klinis yang ditemukan adalah atrofi otot, nyeri lokal atau nyeri pada daerah
sekitar sendi selama beberapa minggu atau berbulan-bulan, sedikit pembengkakan, dan
dapat menjadi pincang. Suhu tubuh penderita biasanya normal.4

2.6.3. Osteomielitis kronik


Osteomielitis kronik yaitu osteomielitis yang terjadi dalam lebih dari tiga bulan sejak
infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul. Osteomielitis akut yang tidak
diterapi secara adekuat akan berkembang menjadi osteomielitis kronik. Organisme yang
biasa berperan adalah Staphylococcus aureus (75%), Escherichia coli, Streptococcus
pyogenes, Proteus, dan Pseudomonas. Kadang infeksi tidak terdeteksi selama bertahun-
tahun dan tidak menimbulkan gejala selama beberapa bulan atau beberapa tahun. 2,3
Destruksi tulang tidak hanya pada fokus infeksi tetapi meluas. Kavitas berisi
potongan tulang mati (sekuestra) yang dikelilingi jaringan vaskular, dan di luar jaringan
vaskular tersebut ada daerah sklerosis yang merupakan hasil dari reaksi kronis
pembentukan tulang baru.7
Sekuester berperan sebagai substrat bagi adesi bakteri dan lama-kelamaan terbentuk
sinus. Destruksi tulang dengan meningkatnya sklerosis berakibat terjadinya fraktur
patologis. Gambaran histologis berupa sebukan sel radang kronis disekitar daerah
aselular tulang atau sekuestra.7
Bentuk kronik dari osteomielitis seringkali timbul pada dewasa. Umumnya infeksi
tulang ini merupakan infeksi sekunder pada trauma terbuka pada tulang dan jaringan
sekitarnya. Biasanya terdapat riwayat osteomielitis pada penderita, nyeri tulang yang
terlokalisir, kemerahan, dan adanya discharge disekitar area yang terkena seringkali
timbul. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya sinus, fistel atau sikatriks bekas
operasi dengan nyeri tekan, deformitas, instabilitas, dan tanda-tanda dari gangguan
vaskularisasi, jangkauan gerakan, dan status neurologis. Mungkin dapat ditemukan
sekuestrum yang menonjol keluar.2
Eksaserbasi atau kekambuhan, keadaan dimana penyakit yang kronis tiba-tiba
menjadi lebih buruk daripada biasanya. Pada osteomielitis, terus berlangsungnya infeksi

15
dengan eksaserbasi akut dipersulit oleh efusi hebat kedalam sendi didekatnya atau oleh
atritis purulenta.

2.7. Diagnosis
Diagnosis dari osteomielitis pada awalnya didasarkan pada penemuan klinik, melalui
data dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium yang
memberikan data dimana respon terapi dapat diukur. 3 Adanya keluhan berupa rasa
nyeri, demam, luka operasi yang cenderung tidak mengering, timbul kemerahan, dan
cenderung untuk timbul benjolan dengan atau tidak adanya sinus terutama didaerah luka
operasi. Pada kasus yang telah lama akan terbentuk sinus dengan jaringan yang menebal
dan mengerut pada daerah sinus, serta adanya seropurulent discharge.1,9-11 Lekositosis,
peningkatan laju endap darah, dan C-reaktif protein harus diperhatikan. Kultur darah
akan positif pada setengah dari anak-anak dengan osteomielitis akut.3
Jika tulang teraba, maka evaluasi mikrobiologi dan histologi langsung dilakukan
untuk mengkonfirmasi terdapatnya osteomielitis, setelah itu pengobatannya.
Pemeriksaan penunjang lainnya tidak diperlukan lagi. 7

16
Radiografi
Dalam osteomielitis pada ekstremitas, foto radiografi polos adalah alat pemeriksaan
utama. Bukti radiografi dari osteomielitis tidak akan muncul sampai kira-kira dua
minggu setelah onset dari infeksi.3,6
Kuman biasanya bersarang dalam spongiosa metafisis dan membentuk pus sehingga
timbul abses. Pus menjalar ke arah diafisis dan korteks, mengangkat periost dan
kadang-kadang menembusnya. Pus meluas di daerah periost dan pada tempat-tempat
tertentu membentuk fokus sekunder. Nekrosis tulang yang timbul dapat luas dan
terbentuk sekuester. Periost yang terangkat oleh pus kemudian akan membentuk tulang
di bawahnya yang dikenal sebagai reaksi periosteal. Didalam tulang dapat terbentuk
tulang baru, baik pada trabekula dan korteks, sehingga tulang terlihat lebih opak dan
dikenal sebagai sklerosis. Tulang yang dibentuk dibawah periost ini membentuk
bungkus bagi tulang yang lama dan disebut involukrum. Involukrum ini pada berbagai
tempat terdapat lubang tempat pus keluar, yang disebut kloaka. 6
Seringkali reaksi periosteal yang terlihat lebih dahulu, baru kemudian terlihat daerah-
daerah yang berdensitas lebih rendah pada tulang yang menunjukkan adanya dekstruksi
tulang, dan disebut rarefikasi.6
Pada osteomielitis kronik tulang akan menjadi tebal dan sklerotik dengan gambaran
hilangnya batas antara korteks dan medula. Dalam tulang yang terinfeksi akan terdapat
sekuestra dan area destruksi. Kadang-kadang suatu abses, dikenal dengan brodies
abscess akan terlihat sebagai daerah lusen yang dikelilingi area sklerotik. 2,6

Scintigrafi tulang
Untuk pencitraan nuklir, Technetium Tc-99m metilen difosfonat adalah agen pilihan
utama. Sensitivitas pemeriksaan ini terbatas pada minggu pertama dan sama sekali tidak
spesifik.3

MRI (Magnetic Resonance Imaging)


MRI sangat membantu dalam mendeteksi osteomielitis dan lebih unggul
dibandingkan dengan radiografi, CT scan dan scintigrafi tulang. MRI memiliki
sensitifitas 90-100% dalam mendeteksi osteomielitis. MRI juga memberikan gambaran
resolusi ruang anatomi dari perluasan infeksi.5

17
Ultrasonografi dan CT (Computed Tomographic) scan
Pemeriksaan ultrasonografi dan CT scan dapat membantu menegakkan diagnosa
osteomielitis. USG dapat menunjukkan perubahan sedini mungkin, satu hingga dua hari
setelah timbulnya gejala. USG dapat menunjukkan ketidaknormalan jaringan lunak atau
penumpukan cairan (seperti abses) dan elevasi periosteal. 5
USG juga dapat digunakan untuk menuntun dalam melakukan aspirasi, namun tidak
digunakan untuk mengevaluasi kortex tulang.5
CT scan dapat menggambarkan kalsifikasi abnormal, osifikasi dan ketidaknormalan
intrakortikal. CT scan mungkin dapat membantu dalam mengevaluasi lesi pada tulang
vetebra. CT scan juga lebih unggul dalam area dengan anatomi yang kompleks,
contohnya pelvis, sternum, dan calcaneus.5

Pemeriksaan histopatologi dan mikrobiologi


Pemeriksaan histopatologi dan mikrobiologi merupakan gold standard dalam
mendiagnosa osteomielitis. Kultur dari sediaan sinus tidak dapat dipercaya sepenuhnya
untuk mengidentifikasi etiologi dari osteomielitis, sehingga biopsi merupakan anjuran
untuk menentukan etiologi dari osteomielitis. Namun keakuratan biopsi seringkali
terbatas oleh kurangnya pengumpulan spesimen yang sama dan penggunaan antibiotik
sebelumnya.7

2.8. Diagnosa Banding


Diagnosis banding pada masa akut adalah demam reumatik dan selulitis. Pada
demam reumatik, nyeri cenderung berpindah dari satu sendi ke sendi lainnya. Bisa
terdapat carditis, nodul-nodul rematik, atau erythema marginatum. Pada selulitis,
terdapat kemerahan superfisial yang melebar, terjadi limfangitis. Arthritis supuratif akut
dibedakan dari osteomielitis hematogen akut berdasarkan adanya nyeri yang difus, dan
semua pergerakan sendi terbatas karena adanya spasme otot.5
Pada Gauchers Disease. Pseudo-osteitis dapat timbul dengan manifestasi klinis
yang sangat mirip dengan osteomielitis. Diagnosis ditegakkan terutama dengan adanya
pambesaran hati dan lien.5
Gambaran Radiologik osteomielitis dapat menyerupai gambaran penyakit-penyakit
lain pada tulang, diantaranya yang terpenting adalah tumor ganas primer tulang.

18
Destruksi tulang, reaksi periosteal, pembentukan tulang baru, dan pembengkakan
jaringan lunak, dijumpai juga pada osteosarkoma dan Ewing sarkoma.6
Osteosarkoma, seperti halnya osteomielitis, biasanya mengenai metafisis tulang
panjang sehingga pada stadium dini sangat sukar dibedakan dengan osteomielitis. Pada
stadium yang lebih lanjut, kemungkinan untuk membedakan lebih besar karena pada
osteosarkoma biasanya ditemukan pembentukan tulang yang lebih banyak serta adanya
infiltrasi tumor yang disertai penulangan patologik ke dalam jaringan lunak. Juga pada
osteosarkoma ditemukan segitiga Codman.6
Pada tulang panjang, Ewing Sarkoma biasanya mengenai diafisis; tampak destruksi
tulang yang bersifat infiltratif, reaksi periosteal yang kadang-kadang menyerupai kulit
bawang yang berlapis-lapis dan massa jaringan lunak yang besar.6

2.9. Faktor Risiko


Osteomielitis biasanya tidak membedakan ras atau jenis kelamin. Tetapi beberapa
orang memiliki resiko lebih untuk terkena penyakit ini, seperti pasien dengan diabetes
mellitus, mendapat hemodialisis, daya tahan tubuh lemah, sickel cell disease,
penyalahgunaan obat IV, orang tua, alkoholisme, penggunaan steroid jangka panjang,
penyakit sendi kronik, trauma (pembedahan ortopedi atau fraktur terbuka), dan
pemakaian prosthetic ortopedi.2,5

2.10. Penatalaksanaan
2.10.1. Osteomielitis akut
Begitu diagnosis secara klinis ditegakkan, ekstremitas yang terkena diistirahatkan
dan segera berikan antibiotik. Antibiotik spektrum luas yang efektif terhadap gram
positif maupun gram negatif diberikan langsung sambil menunggu hasil biakan kuman.
Antibiotik diberikan selama tiga hingga enam minggu dengan melihat keadaan umum
dan laju endap darah penderita. Bila dengan terapi intensif selama 24 jam tidak didapati
perbaikan, dianjurkan untuk mengebor tulang yang terkena. 2,3
Bila ada cairan yang keluar perlu dibor dibeberapa tempat untuk mengurangi tekanan
intraosteal. Cairan tersebut perlu dibiakkan untuk menentukan jenis kuman dan
resistensinya. Bila terdapat perbaikan, antibiotik parenteral diteruskan sampai dua
minggu, kemudian diteruskan secara oral paling sedikit empat minggu.2,3

19
Penyulit berupa kekambuhan dapat mencapai 20%, cacat berupa dekstruksi sendi,
gangguan pertumbuhan karena kerusakan cakram epifisis, dan osteomielitis kronik.
Indikasi untuk melakukan tindakan pembedahan ialah adanya abses, rasa sakit yang
hebat, adanya sekuester, dan bila mencurigakan adanya perubahan kearah keganasan
(karsinoma epidermoid). Saat yang terbaik untuk melakukan tindakan pembedahan
adalah bila involukrum telah cukup kuat untuk mencegah terjadinya fraktur pasca
pembedahan.4

2.10.2. Osteomielitis subakut


Pengobatan osteomielitis subakut tergantung dari diagnosis. Kebanyakan 1/3 kasus
tidak dapat dibedakan dari keganasan primer dari tumor tulang. Biopsi dan kuretase
diperlukan untuk penegakan diagnosis pada kasus-kasus ini. Pada saat diagnosis
ditegakkan, pemberian antibiotik yang sesuai dengan kelompok gram, kultur, dan
sensitivitas harus sudah dimulai secara intravena selama dua hingga tujuh hari, diikuti
dengan antibiotik oral selama enam minggu.8
Kegagalan gejala untuk timbulnya perbaikan setelah enam minggu pengobatan
dengan antibiotik atau perburukan kondisi selama pengobatan harus dipikirkan untuk
mengevaluasi ulang dan mendiagnosis secara bakteriologis, diikuti penatalaksanaan
operasi dan antibiotik yang sesuai. Indikasi lain untuk operasi adalah perubahan bentuk
sinus yang selanjutnya dan drainase ke dalam sendi sinovial. Tanda-tanda klinis dari pus
subperiosteal atau sinovitis mengindikasikan bahwa infeksi subakut telah berubah
menjadi komponen akut, dan harus dilakukan drainase secara bedah. 8
Indikasi tindakan bedah, yaitu kegagalan gejala untuk memperbaiki setelah lebih dari
enam bulan dilakukan pengobatan dengan antibiotik atau perburukan kondisi selama
pengobatan, lesi yang cepat berkembang (tidak dapat dibedakan dari keganasan tulang),
perubahan bentuk sinus atau drainase ke dalam sendi sinovial, dan tanda-tanda klinis
dari pus subperiosteal atau sinovitis. Literatur yang ada tidak dapat mendukung
pengobatan pada dewasa, dikarenakan penyakit ini paling banyak menyerang kelompok
usia anak. Operasi diindikasikan dalam pengobatan pada dewasa.8

20
2.10.3. Osteomielitis kronik
Setelah menegakkan diagnosis, penanganan osteomielitis kronis adalah pembedahan.
Sangat penting untuk memperbaiki status fisiologi inang melalui nutrisi yang baik,
koreksi anemia, dan terapi infeksi lain yang ada.9,11
Penyelamatan ekstremitas pada osteomielitis kronis yang difus terdiri dari
debridemen, stabilisasi tulang, pemberian antibiotik sistemik dan lokal, penutupan
jaringan lunak, dan manajemen patah tulang yang belum union serta defek tulang.9,11,12

Debridemen
Prinsip debridemen adalah membuat luka yang kotor menjadi luka bersih. Untuk
menentukan jaringan mana yang akan di debridemen, ahli bedah mengidentifikasi otot
yang masih hidup dengan bantuan 4C: Contraction (kontraksi saat dijepit), Consistency
(tidak lunak), Capillary bleeding saat dipotong, dan Color (warna merah, bukan pucat
atau gelap).12
Tahap pertama dimulai dengan debridemen radikal terhadap semua jaringan mati dan
terinfeksi, termasuk kulit, jaringan lunak dan tulang (lihat gambar 2.1). Untuk
memastikan semua fokus infeksi sudah dibuang, debridemen dilakukan hingga
berdarah, jaringan yang hidup harus terdapat pada batas reseksi. Tulang yang hidup
ditandai dengan titik-titik perdarahan (paprika sign). Debridemen harus radikal dan
tidak dibatasi oleh kekhawatiran membuat defek tulang atau jaringan lunak.12,13
Bila terdapat jaringan lunak yang sehat untuk menutup luka dan pembentukan
involukrum yang cukup, sequesterektomi, drainase, debridemen jaringan nekrotik dan
irigasi yang banyak harus dikerjakan. Perhatian harus diberikan untuk tidak merusak
jaringan lunak diatas periosteum dan merusak involukrum. Periosteum sebaiknya
diinsisi secara longitudinal untuk membuang sekuestrum. Meninggalkan sekuestrum
didalam involukrum tidak dianjurkan karena dapat membentuk tempat pertumbuhan
bakteri. Periosteum harus dipertahankan dan dijahit membentuk struktur tubuler.
Imobilisasi sangat penting setelah operasi. Pemasangan gips dapat membantu.
Debridemen dengan pembedahan merupakan hal penting dalam penanganan
osteomielitis kronis selain antibiotik dan imobilisasi pada anak-anak.9,12
Infeksi kronik sulit ditangani dengan cara tanpa pembedahan. Untuk mencegah
kekambuhan, biofilm harus dieksisi dan luka harus di revitalisasi. Luka yang hidup,
bersih dan dapat dikendalikan sangat diperlukan untuk keberhasilan. Faktor-faktor yang

21
mempengaruhi hasil termasuk kesehatan inang, ekstensi dari jaringan nekrotik, lokasi
dari infeksi, dan keterbatasan karena penyakit. Pemilihan pasien untuk penyelamatan
ekstremitas, amputasi ataupun paliatif diperlukan pada faktor tersebut.9

Gambar 2.1. Debridemen radikal terhadap semua jaringan mati dan terinfeksi.12
Prosedur dari Lautenbach melibatkan debridemen, intramedullary reaming dan
pemasangan double-lumen tubes untuk membuat sistem antibiotik lokal dan analisis
ruangan untuk volume dan kultur. Hasil akhir dari terapi saat irigasi menghasilkan
kultur yang bersih tiga kali berturut-turut disertai perbaikan pada darah dan hilangnya
ruangan kosong.12

Stabilisasi tulang
Stabilisasi tulang pada fraktur nonunion diperlukan untuk kontrol infeksi. Namun,
dengan adanya fiksasi interna, mikroorganisme dilindungi oleh biofilm (periosteal halo)
yang melekat pada permukaan implan. Oleh karena itu, keputusan untuk
mempertahankan atau mengeluarkan implant yang terinfeksi berbeda-beda untuk setiap
pasien, bergantung pada beberapa faktor yaitu status penyambungan tulang, stabilitas
yang disediakan oleh implant, lokasi fraktur, dan waktu sejak dilakukan fiksasi
fraktur.9,10

Antibiotik lokal
Ruangan kosong yang terjadi akibat debridemen dapat diisi oleh
polymethylmethacrylate (PMMA) beads yang dikombinasi dengan antibiotik, seperti
tobramycin, vancomycin, atau antibiotik spesifik lainnnya yang tahan panas dan tersedia
dalam bentuk serbuk. Konsentrasi antibiotik lokal yang tinggi dan rendahnya level
sistemik meningkatkan kerja terhadap patogen dan mengurangi efek sistemik. Jumlah
22
yang direkomendasikan per 40 g PMMA adalah 2.4 hingga 4.8 g tobramycin, dan
vancomycin. Antibiotic-impregnated beads digunakan bila terdapat ruangan kosong dan
revisi akan dikerjakan, seperti debridemen ulang, penutupan jaringan lunak dan bone
graft. Bila memungkinkan, defek dapat diisi dengan flap otot. Selain itu, beads dapat
digunakan sebagai pengisi dibawah flap hingga digantikan oleh bone graft pada
prosedur berikutnya.12
Banyak antibiotik mempunyai penetrasi yang buruk ke dalam tulang. Antibiotic
beads, sebaliknya menyediakan konsentrasi antibiotik lokal yang tinggi, tidak
bergantung pada aliran darah ke dalam tulang.12
Beads menutupi ruangan kosong sehingga mencegah akumulasi hematom yang dapat
berpotensi sebagai tempat infeksi. Beads antibiotik juga dapat mengurangi
pembentukan jaringan parut pada defek tulang. Bila infeksi menetap, debridemen ulang,
kultur dan pergantian beads antibiotik dapat dikerjakan beberapa hari atau minggu
kemudian. Setelah infeksi telah terkontrol, beads dikeluarkan.12

Antibiotik sistemik
Pemberian secara intravena biasanya diberikan selama empat sampai enam minggu
dan dapat dikerjakan pada pasien rawat jalan. Manajemen dengan periode yang lebih
singkat dari terapi intravena (hingga satu minggu), diiikuti oleh antibiotik oral selama
enam minggu, sukses dicatat pada 91% pasien. Antibiotik dapat dihentikan bila terdapat
perbaikan klinis, atau perbaikan leukosit, LED, dan CRP darah. 13

Manajemen luka
Bergantung pada ekstensi dari infeksi, penundaan atau penutupan luka primer dapat
dikerjakan pada pasien dengan jaringan lunak yang cukup. Debridemen ulang sering
diperlukan. Dengan adanya jaringan yang rusak, penutupan dapat dicapai dengan flap
lokal atau free flap, tergantung pada lokasi dan ekstensi defek jaringan lunak.12
Negative pressure wound therapy (NPWT) telah menjadi terapi tambahan yang
penting pada manajemen luka trauma dan insisi pembedahan yang berhubungan dengan
trauma musculoskeletal. Mekanisme kerja NPWT termasuk stabilisasi lingkungan luka,
mengurangi edema, meningkatkan perfusi jaringan, dan stimulasi sel-sel pada
permukaan luka. NPWT menstimulasi jaringan granulasi dan angiogenesis dapat

23
mendukung penutupan primer dan mengurangi kebutuhan untuk transfer jaringan.
Sebagai tambahan, NPWT mengurangi kontaminasi bakteri gram negative.13

Manajemen defek tulang dan fraktur non-union


Bone graft dari iliac crest dapat digunakan untuk penanganan defek tulang hingga
enam cm. Bone graft dikerjakan bila jaringan lunak penutup sudah sembuh, adanya flap
yang viabel dan infeksi telah terkontrol, biasanya dalam enam hingga delapan minggu
setelah transfer otot.10
Defek tulang yang lebih dari enam cm membutuhkan prosedur rekonstruksi khusus,
seperti vascularized bone grafts atau distraction osteogenesis. Distraction osteogenesis
berguna untuk rekonstruksi defek tibia yang terinfeksi.13
Alasan terjadinya angka kekambuhan yang tinggi adalah tidak adekuatnya
debridemen dalam membuang semua sekuestrum, penurunan aliran darah secara primer
atau sekunder karena operasi menurunkan kapasitas penyembuhan dan resistensi
terhadap infeksi berulang, jaringan parut atau sisa ruangan mati sebagai tempat
berkembangnya infeksi, dan adanya kombinasi infeksi bakteri aerobik dan anaerobik.13
Waktu dilakukan intervensi pembedahan masih kontroversi. Ada yang
merekomendasikan sequesterektomi dini untuk eradikasi infeksi dan memberikan
lingkungan yang lebih baik untuk periosteum, yang lain merekomendasikan untuk
menunggu hingga sudah terbentuk involukrum sebelum mengerjakan sequesterektomi
untuk mengurangi resiko komplikasi seperti fraktur, nonunion, deformitas, dan
kehilangan tulang. Untuk kehilangan tulang, dapat dikerjakan bone graft atau bone
transport (Ilizarov atau implan yang lain).12,13

2.11. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada osteomielitis adalah:2,3
Osteomielitis Kronik. Apabila diagnosis dan terapi yang tepat tidak dilakukan, maka
osteomielitis akut akan berlanjut menjadi osteomielitis kronik.
Septikemia. Dengan makin tersedianya obat-obatan antibiotik yang memadai,
kematian akibat septikemia pada saat ini jarang ditemukan.
Infeksi yang bersifat metastatik. Infeksi dapat bermetastatik ke tulang/ sendi lainnya,
otak, dan paru-paru, dapat bersifat multifokal dan biasanya terjadi pada penderita
dengan status gizi yang jelek.

24
Artritis Supuratif, dapat terjadi pada bayi muda karena lempeng epifisis bayi (yang
bertindak sebagai barier) belum berfungsi dengan baik. Komplikasi terutama terjadi
pada osteomielitis hematogen akut di daerah metafisis yang bersifat intra-kapsuler
(misalnya pada sendi panggul) atau melalui infeksi metastatik.
Gangguan Pertumbuhan. Osteomielitis hematogen akut pada bayi dapat
menyebabkan kerusakan lempeng epifsisis yang menyebabkan gangguan
pertumbuhan, sehingga tulang yang terkena akan menjadi lebih pendek. Pada
anak yang lebih besar akan terjadi hiperemi pada daerah metafisis yang merupakan
stimulasi bagi tulang untuk bertumbuh. Pada keadaan ini tulang bertumbuh lebih
cepat dan menyebabkan terjadinya pemanjangan tulang.
Fraktur patologis.
Kematian tulang (osteonekrosis). Infeksi pada tulang dapat menghambat sirkulasi
darah dalam tulang, menyebabkan kematian tulang. Jika terjadi nekrosis pada area
yang luas, kemungkinan harus diamputasi untuk mencegah terjadinya penyebaran
infeksi.

2.12. Prognosis
Setelah mendapatkan terapi, umumnya osteomielitis akut menunjukkan hasil yang
memuaskan. Prognosis osteomielitis kronik umumnya buruk walaupun dengan
pembedahan, abses dapat terjadi sampai beberapa minggu, bulan atau tahun setelahnya.
Amputasi mungkin dibutuhkan, khususnya pada pasien dengan diabetes atau
berkurangnya sirkulasi darah. Pada penderita yang mendapatkan infeksi dengan
penggunaan alat bantu prostetik perlu dilakukan monitoring lebih lanjut. Mereka perlu
mendapatkan terapi antibiotik profilaksis sebelum dilakukan operasi karena memiliki
resiko yang lebih tinggi untuk mendapatkan osteomielitis. 2
Angka mortalitas pada osteomielitis akut yang diobati adalah kira-kira 1%, tetapi
morbiditas tetap tinggi. Bila terapi efektif dimulai dalam waktu 48 jam setelah
timbulnya gejala, kesembuhan yang cepat dapat diharapkan pada kira-kira 2/3 kasus.
Kronisitas dan kambuhnya infeksi mungkin terjadi bila terapinya terlambat. 5

25
BAB III
PEMBAHASAN KASUS
3.1. Subjective
Pasien mengeluh keluar nanah dari bekas luka operasi, lutut sebelah kiri bengkak,
tidak bisa berjalan, nyeri positif, pasien ada riwayat operasi 3 tahun lalu. Berdasarkan
tinjauan pustaka, jika dinilai dari lamanya perjalanan penyakit dan adanya discharge
disekitar area yang terkena, nyeri yang terlokalisir. Keluhan pasien sesuai dengan
manifestasi osteomielitis kronik.

3.2. Objective
Dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan umum pasien: pasien tampak sakit sedang
kesadaran compos mentis, tekanan darah 160/80 mmHg, tanda-tanda vital lain dalam
batas normal, hasil pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal, hasil pemeriksaan
status lokalis ditemukan kaki kiri ROM terbatas, lutut tidak bisa di tekuk, ada discharge
di luka bekas operasi di bagian anterior regio kruris sinistra, patella edema, tampak ada
deformitas. Nyeri tekan dan nyeri gerak positif. Hasil diatas sesuai dengan temuan
klinis.
Hasil laboratorium sebelum operasi menunjukkan adanya anemia dan trombisotosis.
Hasil rontgen menunjukkan tampak adanya destruksi tulang, lesi sklerotik, penyempitan
ruang sendi, dan adanya soft tissue swelling. Penemuan ini sesuai dengan gambaran
osteomielitis tetapi tidak ditemukan adanya sekuestra dan masih terlihat batas antara
korteks dan medula.

3.3. Assessment
Berdasarkan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan
tinjauan pustaka, pasien ini di diagnosis menderita Osteomielitis kronik 1/3 Proksimal
Os. Tibia Sinistra.

3.4. Planning
Pada pasien ini dilakukan debridemen, manajemen luka dan obat-obatan yang
diberikan adalah diantaranya ciprofloxacin, metronidazole, lanzoprazole dan antasida.
Penatalaksaan ini sudah sesuai dengan teori.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Salomon L, Warwick J, Nayagam S. Apleys system of orthopaedics and fractures, 8 th


Edition, 2001. p. 27-49.
2. Rasjad C. Infeksi dan inflamasi. Dalam Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi 3.
Penerbit Yarsif Watampone. Jakarta. 2007. Hal 132- 41.
3. Jong W., Sjamsuhidayat R. 2005. Infeksi Muskuloskeletal. In Buku Ajar Ilmu Bedah.
Edisi kedua. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Hal 903 910.
4. Siregar P. Osteomielitis. Dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Bedah Staff
Pengajar FK UI. Binarupa Aksara. Jakarta. 1995. Hal 472 74
5. King R., Johnson D. Osteomyelitis. www.emedicine.com. Last updated: Nov 4, 2008
6. Rasad S., Kartoleksono S, Ekayuda I. Infeksi Tulang dan Sendi. Radiologi Diagnostik.
Bagian Radilogi FKUI. Jakarta. 1995. Hal: 62-72.
7. Lew, Daniel P., Waldvogel, Francis A. 1997. Osteomyelitis. The New England
Journal of Medicine.
8. Khoshhal K., Letts R. M. Subacute Osteomyelitis (Brodie Abscess).
www.emedicine.com. Last updated: Jul 18, 2008.
9. Fosberg A.J, Potter Kyle B.Diagnosis and Management Of Chronic Infection. Journal
of The American Academy of Orthopaedics Surgeons, 2011, S8-S19. , 2003.
10. Buckwelter J, Einhorn T, Simon S.Infection in Orthopaedics, Orthopaedic Basic
Science. American Academy of Orthopaedic Surgeons, 2ndedition, 2000, 240-258.
11. Canale S.T, Beaty J,H. Chronic Osteomielitis, Campbells Operative Orthopaedics.
11thedition, 2008, 702-705.
12. Cierny G, DiPasquale D. Treatment of Chronic Infection. Journal of The American
Academy of Orthopaedics Surgeons, 2006, S105-S110Craigen M.A.C, Blyth M.J.G,
et al. The Changing Epidemiology of Osteomielitis In Children.J Bone Joint Surgery,
2001; 83-B; 99-102.
13. Andrew H. Schmidt, MD, and Marc F. Swiontkowski, MD, Pathophysiology of
Infections After Internal Fixation of Fractures,J Am Acad Orthop Surg 2000;8:285-
291

27