Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

PENGUKURAN POTENSIAL OSMOSIS DAN POTENSIAL


JARINGAN SERTA POTENSIAL OSMOSIS DAN PLASMOLISIS
Enung Padilah1, Rizal Maulana Habsy2, Irania Mardiyanti3,
Caturindo4
Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
Email: enungpadilah@gmail.com

ABSTRAK
Potensial osmotik suatu larutan lebih menyatakan status larutan yang
dinyatakan dalam satuan konsentrasi, satuan tekanan atau satuan energi.
Plasmolisis adalah peristiwa terlepasnya membran plasma dari dinding sel
pada sel tumbuhan. Konsentrasi larutan sukrosa yang digunakan pada
Solanum tuberosum yaitu 0,2, 0,4, 0,6, 0,8 dan 1,0 M dengan memotong
berbentuk silinder ukuran 40 mm (3 CM). Konsentrasi larutan sukrosa yang
digunakan pada Rhoeo discolor ini adalah 0,0 M, 0,2 M, 0,4 M, 0,6 M, 0,8 M
dan 1,0 M. dengan menyayat tipis bagian bawahnya. Tujuan dari praktikum ini
yaitu untuk mengetahui nilai PA pada umbi kentang, menentukan fakta
tentang gejala plasmolisis, menunjukan faktor penyebab plasmolisis,
mendeskripsikan peristiwa plasmolisis, menunjukan hubungan anatara
plasmolisis dengan status potensial osmosis antara cairan selnya dengan
larutan di lingkungannya. Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini
adalah cawan petri, pelubang gabus, pipet tetes, mikroskop, cutter, plastik
silk/ wrap dan penggaris. Sedangkan bahan yang digunakan nya adalah umbi
kentang (Solanum tuberosum) dan adam hawa (Rhoe discolor). Dari hasil
pengamatan yang telah dilakukan dapat diketahui semakin besar konsentrasi
pada umbi kentang maka semakin kecil hasil panjang potongan silinder
kentang tersebut perubahan panjang potongan silinder umbi kentang yang
paling besar terjadi pada larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,6 M yaitu
sebesar 3,1 cm. Sedangkan pada sel yang terplasmolisis paling banyak adalah
pasa konsentrasi 1,0 M dan yang tidak terplasmolisis adalah pada konsentrasi
0,0 M yaitu mencapai 100%. Konsentrasi yang paling rendah yaitu 0,0/ 0,2 M
memiliki jumlah plasmolisis yang rendah pula.

Kata kunci: Konsentrasi, Plasmolisis, Rhoeo discolor, Solanum


tuberosum, Sukrosa.

I. PENDAHULUAN disebabkan oleh zat-zat


II. Potensial terlarut. Tandanya
osmotik adalah selalui negatif.
potensial yang Potensial tekanan
adalah potensial yang melakukan difusi.
disebabkan oleh Sejumlah besar volume
tekanan hidrostatik isi air akan memiliki
sel pada dinding sel. kelebihan energi bebas
Nilainya ditandai daripada volume yang
dengan bilangan sedikit, dibawah kondisi
positif, nol, atau dapat yang sama. Energi
juga negatif. bebas suatu zat per
Penambahan tekanan unit jumlah, terutama
(terbentuknya tekanan per berat gram molekul
turgor) mengakibatkan (energi bebas mol)
potensial tekanan lebih disebut potensial
positif. Potensial kimia.potensial kimia
matriks disebabkan zat terlarut kurang
oleh ikatan air pada lebih sebanding
koloid protoplasma dan dengan konsentrasi zat
permukaan (dinding terlarutnya. Zat terlarut
sel). Potensial matriks yang berdifusi
bertanda negatif, tetapi cenderung untuk
pada umumnya pada bergerak dari daerah
sel-sel bervakuola, yang berpotensi kimia
nilainya dapat lebih tinggi menuju
diabaikan (Ismail, daerah yang potensial
2011). kimianya lebih kecil
III. Osmosis
(Morgan, 2012).
sangat ditentukan oleh IV. Potensial
potensial kimia air atau kimia adalah energy
potensial air, yang bebas per mol
menggambarkan substansi di dalam
kemampuan molekul suatu system kimia.
air untuk dapat Oleh karena itu,
potensial kimia suatu 2010).
V. Potensial
senyawa di bawah
air murni adalah nol
kondisi tekanan dan
(0), adanya beberapa
temperatur konstan
substansi yang terlarut
tergantung kepada
di dalam air tersebut
jumlah mol substansi
akan menurunkan
yang ada. Dalam hal
potensial airnya,
hubungan air dan
sehingga potensial air
tanaman, potensial
dari suatu larutan
kimia dari air sering
adalah kurang dari nol.
dinyatakan dengan
Definisi ini hanya
istilah potensial air .
berlaku pada tekanan
Selanjutnya, bila
atmosfir. Apabila
potensial kimia dapat
tekanan di sekitar
dinyatakan sebagai
sistem di tingkatkan
ukuran energi dari
atau di turunkan, maka
suatu substansi yang
secara otomatis
akan bereaksi atau
potensial air akan naik
bergerak, maka
atau turun sesuai
potensial air
dengan perubahan
merupakan ukuran dari
tekanan tersebut
enegi yang tersediadi
(Gomes, 2010).
dalam air untuk
VI. Plasmolisis
bereaksi atau bergerak.
adalah peristiwa
Dengan kata lain,
terlepasnya membran
potensial air
plasma dari dinding sel
merupakan tingkat
pada sel tumbuhan.
kemampuan molekul-
Plasmolisis terjadi jika
molekul air untuk
sel tumbuhan
molekul difusi (Van,
diletakkan di larutan
garam terkonsentrasi larutan gula untuk
(hipertonik), sel menyebabkan
tumbuhan akan ekosmosis, seringkali
kehilangan air dan juga menggunakan tanaman
tekanan turgor, Elodea atau sel
menyebabkan sel epidermal bawang
tumbuhan lemah. yang memiliki pigmen
Tumbuhan dengan sel warna sehingga proses
dalam kondisi seperti dapat diamati dengan
ini layu. Kehilangan air jelas (Hendriyani,
lebih banyak akan 2012).
VII. Tujuan dari
menyebabkan
praktikum ini yaitu
terjadinya plasmolisis :
untuk mengetahui nilai
tekanan terus
PA pada umbi kentang,
berkurang sampai di
menentukan fakta
suatu titik di mana
tentang gejala
protoplasma sel
plasmolisis,
terkelupas dari dinding
menunjukan faktor
sel, menyebabkan
penyebab plasmolisis,
adanya jarak antara
mendeskripsikan
dinding sel dan
peristiwa plasmolisis,
membran. Plasmolisis
menunjukan hubungan
hanya terjadi pada
anatara plasmolisis
kondisi ekstrem, dan
dengan status
jarang terjadi di alam.
potensial osmosis
Biasanya terjadi secara
antara cairan selnya
sengaja di laboratorium
dengan larutan di
dengan meletakkan sel
lingkungannya.
pada larutan
VIII. METODE
bersalinitas tinggi atau
a. Alat dan Bahan
IX. Alat yang larutan sukrosa dengan
digunakan pada ditambahkan aquades.
praktikum ini yaitu 1. Langkah kerja 2 (Umbi
pelubang gabus kentang)
dengan diameter 0,6 XI. Hal
0,8 cm, pisau pertama yang
tajam/cutter, botol vial dilakukan yaitu
bermulut besar, mistar mengupas umbi
dengan ukuran mm, kentang terlebih dahulu
mikroskop, gelas objek dan kemudian
dan gelas penutup, memotongnya menjadi
silet, pipet tetes, gelas 3 bagian. Lalu
ukur, gelas kimia dan membuat silinder umbi
cawan petri. kentang dengan
Sedangkan bahan yang menggunakan
digunakan yaitu seri pelubang gabus dan
larutan sukrosa 0,0 ; membuat potongan
0,2 ; 0,4 ; 0,6 ; 0,8 dan silinder umbi dengan
1,0 Molar, umbi ukuran 40 mm/ 3 cm
kentang, larutan sebanyak 24 buah.
sukrosa, aquades, dan Memasukan 4 potong
Rhoeo discolor. silinder kentang ke
a. Cara kerja dalam seri larutan
1. Langkah kerja 1 (Larutan
sukrosa 30 ml : 0,0,
sukrosa)
0,2, 0,4, 0,6, 0,8 dan
X. Sebelum
1,0 Molar.
melakukan langkah
Mengerjakannya dngan
kerja umbi kentang dan
cepat untuk
Rhoeo discolor terlebih
memperkecil terjadinya
dahulu kita membuat
penguapan air dari
permukaan silinder, dengan 3 buah
kemudian menutup sayatan.
rapat botol tersebut Membiarkannya selama
dan biarkan selama 2 20-30 menit, kemudian
jam, yang terakhir setelah itu di amati di
yaitu mengambil dan bawah mikroskop
mengukur panjang dengan terlebih dahulu
potongan-potongan di tetesi dengan
kentang tadi. setetes larutan yang
1. Langkah kerja 3 (Rhoeo digunakan untuk
discolor) merendam pada
XII. Menyiapka sayatan yang telah
n 7 botol vial yang diletakan pada kaca
berisi larutan sukrosa objek dan kemudian di
0,14 M, 0,16 M, 0,18 M, amati dibawah
0,20 M, 0,22 M, 0,24 M, mikroskop. Menghitung
0,26 M, masing-masing sel yang terplasmolisis
sebanyak 10 ml. dan sel yang tidak
Kemudian membuat terplasmolisis pada ke
beberapa sayatan 6 variasi larutan
epidermis permukaan sukrosa dalam satu
bawah daun Rhoeo bidang pandang saja.
discolor. Memasukan Lalu menuangkan data
sayatan-sayatan yang diperoleh dalam
tersebut kedalam grafik yang
tabung vial (cawan menunjukan hubungan
petri) yang telah berisi antara konsentrasi
larutan sukrosa, larutan sukrosa dengan
masing-masing tingkat plasmolisis
kelompok larutan yang terjadi.
XIII.
XIV. HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Panjang silinder umbi kentang setelah perendaman
XVI. Panjang potongan silinder
kentang
XV.
XVIII. XIX. XX. XXI. XXII. XXIII.
No
0, 0, 0, 0, 0, 1,

XXIV. XXV. XXVI. XXVII. XXVIII. XXIX. XXX.


1 3, 3 3, 3 3 2,

XXXI. XXXII. XXXIII. XXXIV. XXXV. XXXVI. XXXVII.


2 3 3 2. 3, 2, 2,

XXXVIII. XXXIX. XL. XLI. XLII. XLIII. XLIV.


3 3, 3 3 3, 2, 2,

XLV. XLVI. XLVII. XLVIII. XLIX. L. LI.


4 3, 3 2. 3 2, 3

LII. LIII. LIV. LV. LVI. LVII. LVIII.


Rata 3, 3 2, 3, 2, 2,

LIX. Pada merupakan suatu


praktikum kedua ini pernyataan dari status
dilakukan 2 judul energi bebas air, suatu
sekaligus yaitu ukuran daya yang
pengukuran potensial menyebabkan air
osmosis dan potensial bergerak ke dalam
jaringan serta potensial suatu sistem seperti
osmosis dan pada jaringan
plasmolisis. Yang tumbuhan. Potensial air
dimana potensial air penting untuk diketahui
agar dapat mengerti sendiri.
pergerakan air di dalam LX. Pada pengukuran
sistem tumbuhan. Air di potensial osmosis
dalam jaringan akan dan potensial
bergerak dari jaringan, bahan
konsentrasi tinggi ke yang digunakan
konsentrasi rendah. yaitu umbi kentang
Potensial air di dalam (Solanum
jaringan tumbuhan tuberosum).
dapat ditentukan Sebelum umbi
dengan cara kentang ini
merendam potongan dimasukkan
jaringan tumbuhan kedalam larutan
dalam larutan sukrosa sukrosa, yang
atau larutan non pertama kali
elektrolit yang telah dilakukan yaitu
diketahui membuat potongan
konsentrasinya. silinder umbi
Plasmolisis sendiri kentangnya dengan
adalah peristiwa menggunakan
terlepasnya membran pelubang gabus
sel dengan dinding sel sebanyak 24 buah
akibat isi sel mengecil yang berukuran 3
yang disebabkan oleh cm untuk di
peristiwa osmosis, masukkan kedalam
dimana air dalam sel wadah, dan wadah
berdifusi keluar sel, yang digunakan
akibat konsentrasi air pada praktikum ini
lebih tinggi dalam sel adalah cawan petri
daripada diluar sel itu yang berisi larutan
sukrosa, yang berbentuk silinder
dimana 1 cawan dimasukan kedalam
dimasukkan masing- cawan yang
masing 4 buah kemudian di isi
potongan silinder dengan larutan
umbi kentang. sukrosa hingga
Konsentrasi larutan potongan umbi
sukrosa yang kentang tersebut
digunakan yaitu 0,2, terendam. Kemudian
0,4, 0,6, 0,8, 1 M. cawan tersebut
Larutan sukrosa ditutup dengan
berfungsi sebagai plastik silk hal ini
bahan penguji untuk dilakukan karena
mengetahui untuk memperkecil
besarnya potensial terjadinya
air dan dapat dilihat penguapan air dari
dari perbedaan permukaan silinder,
panjang silinder. lalu di diamkan
Pada praktikum ini selama 2 jam.
ada yang membuat Setelah di diamkan
potongan umbi selama 2 jam,
kentang dan ada kemudian umbi
juga membuat kentang tersebut di
larutan sukrosa. ukur dengan
Setelah selesai menggunakan
membuat larutan mistar. Sebelum
sukrosa, kemudian diukur, larutan
dengan cepat sukrosa yang ada
potongan umbi didalam cawan
kentang yang diambil terlebih
dahulu dan LXII. Pada data tabel
kemudian potongan pengamatan diatas pada
silinder di dalam larutan sukrosa 0,0 M, 0,4 M,
botol dikeluarkan dan 0,6 M pada beberapa
untuk dilakukan kentang terjadi
pengukuran. pemanjangan. Pada
LXI. Pada data tabel konsentrasi 0,0 M dari
diatas, dapat kita lihat bahwa panjang yang awalnya 3 cm
semakin besar konsentrasi mengalami pemanjangan
maka semakin kecil hasil sampai 3,2 cm, dan pada
panjang potongan silinder konsentrasio 0,4 dan 0,6 M
kentang tersebut. Hal ini dari awalnya umbi kentang
disebabkan karena larutan panjang nya 3 cm mengalami
sukrosa banyak mengandung pemanjangan sampai 3,05
gula sehingga cara cm. Pemanjangan ini terjadi
peyerapannya terhambat dan karena larutan sukrosa
tekanan potensialnya sangat masuk dan berpindah
rendah, berbeda dengan kedalam sel umbi kentang
larutan air yang mempunyai selama perendaman 2 jam.
daya potensial yang tinggi Akibat perbedaan konsentrasi
sehingga kentang akan tersebut molekul air
mudah memanjang karena berpindah dari zat pelarut ke
adanya tekanan air yang dalam potongan kentang.
masuk melalui sel tersebut. Perpindahan molekul dari zat
Sedangkan pada larutan yang konsentrasi rendah ke
sukrosa banyak mengandung konsentrasi tinggi disebut
gula sehingga rendah daya osmosis.
potensialnya untuk menyerap LXIII. Selain terjadi
melalui sel pada umbi pemanjangan, sel juga ada
kentang tersebut. yang mengalami penyusutan
dari panjang awal. kentang tersebut semakin
Penyusutan yang signifikan berkurang. Menurut Nio dan
terjadi pada saat di rendam Cawthray (2011), dalam
dalam konsentrasi 0,8 M dan proses osmosis pada larutan
1,0 M. Penyusutan ini terjadi hipertonik, sebagian besar
karena akibat perbedaan molekul air terikat (tertarik)
konsentrasi antara molekul ke molekul gula (terlarut),
sukrosa dan umbi kentang, sehingga hanya sedikit
sehingga molekul air dari molekul air yang bebas dan
potongan kentang berpindah bisa melewati
kelarutan gula. Karena membran.Sedangkan pada
semakin besar konsentrasi larutan hipotonik, memiliki
larutan sukrosanya maka lebih banyak molekul air
kekurangan berat yang yang bebas (tidak terikat
dialami oleh potongan oleh molekul terlarut),
kentang itu akan semakin sehingga lebih banyak
besar dan cepat karena molekul air yang melewati
perbedaan konsentrasi membran. Oleh sebab itu,
rendak ke konsentrasi tinggi, dalam osmosis aliran molekul
sehingga menyebabkan air adalah dari larutan
panjang silinder dari umbi hipotonik ke hipertonik.
LXIV.
LXV. Grafik hubungan panjang umbi dengan konsentrasi larutan
gula
LXVI.

Grafik hubungan panjang umbi


dengan konsentrasi larutan
4
3.2
3.1
33 3 3.05
2.95 3.1
3.05
3.03
3 3 3.1
3
Pnajang umbi (cm) 2.7 2.85 2.9 2.92
2.9
2
0.0 M 0.2 M 0.4 M 0.6 M 0.8 M 1.0 M
Konsentrasi larutan (%)

LXVII. Pada grafik data saat melakukan percobaan di


di atas maka dapat diketahui laboratorium, antara lain:
bahwa perubahan panjang 1. Memperkecil kemungkinan
potongan silinder umbi terjadinya human error
kentang yang paling besar yang dapat berupa ketidak
terjadi pada larutan sukrosa telitian pada saat
dengan konsentrasi 0,6 M melakukan pengukuran
dan 0,4 yaitu sebesar 3,1 cm panjang.
dan 3,05 cm. Hal ini terjadi 2. Memperkecil terjadinya
karena air dalam larutan larutan rendaman yang
sukrosa masuk kedalam menguap pada saat
potongan umbi kentang percobaan berlangsung
sehingga potongan kentang sehingga tidak
tersebut mengalami proses mempengaruhi konsentrasi
osmosis. Menurut Morgan larutan.
(2012), adapun faktor pada
3. Memperkecil terjadinya memungkinkan terjadinya
penguapan cairan pada kesetimbangan antara
potongan silinder larutan dan konsentrasi
4. Waktu yang lama dalam dalam jaringan tumbuhan.
percobaan sehingga LXVIII.
b. Adam Hawa (Rhoeo discolor)

Keadaan sel dalam satu bidang .c


pandang Perlakua .b
Tidak .f Terplasmoli .e n
terplasmolisis (%) sis Sukrosa
(%)
% 100 .i %0 .h M0 .g
% 85 .l % 15 .k M 0,2 .j
% 65 .o % 35 .n M 0,4 .m
% 55 .r % 45 .q M 0,6 .p
Tidak kentara .u Tidak .t M 0,8 .s
kentara
% 25 .x % 75 .w M1 .v
y.
z. Pada setelah 20 menit
pengamatan dilakukan pengamatan
plasmolisis ini dibawah mikroskop,
menggunakan Rhoeo terlihat dibawah
discolor yang mikroskop hasil dari
bawahnya dipotong- sayatan tadi ada yang
potong setipis mungkin berwarna ungu tua,
dan kemudian ungu muda, dan putih
dimasukkan kedalam sedikit hitam (abu-
cawan petri yang berisi abu). Menurut
larutan sukrosa. Tjitrosomo (1987), jika
Kemudian dibiarkan sel dimasukan ke
selama 20 menit dan dalam larutan gula,
maka arah gerak air aa. Dari semua data
neto ditentukan oleh Rhoeo discolor diatas bahwa
perbedaan nilai jumlah terplasmolisis yang
potensial air larutan paling tinggi berada pada
dengan nilainya konsentrasi 0,8 M dan 1 M,
didalam sel. Jika sedangkan jumlah yang tidak
potensial larutan lebih terplasmolisis berada pada
tinggi, air akan konsentrasi 0 M dan 0,2 M.
bergerak dari luar ke Menurut Ismail (2011),
dalam sel, bila semakin rendah konsentrasi
potensial larutan lebih suatu bahan dari lingkungan
rendah maka yang lainnya, semakin mudah sel
terjadi sebaliknya, itu berplasmolisis. Pada
artinya sel akan pengamatan ini tidak sesuai
kehilangan air. Apabila dengan literatur, karena pada
kehilangan air itu hasil pengamatan pada
cukup besar, maka ada bagian daun Rhoeo discolor
kemungkinan bahwa yang diamabti pada saat
volume sel akan konsentrasi 0,2 M memiliki
menurun begitupun jumlah plasmolisis yang
demikian besarnya rendah pula. Dan sedangkan
sehingga tidak dapat yang paling rendah tidak
mengisi seluruh terplasmolisisnya pada saat
ruangan yang dibentuk konsentrasi 1 M. Hal ini
oleh dinding sel. mungkin dikarenakan pada
Membran dan saat pengamatan dibawah
sitoplasma akan mikroskop air dalam daun
terlepas dari dinding yang akan diamati terlalu
sel, dimana keadaan ini tebal sehingga tidak terlihat
dinamakan plasmolisis. jelas, selain itu juga
kemungkinan pada saat mengakibatkan protoplas
dilakukan perendaman akan semakin banyak
dengan larutan sukrosa, kehilangan air dan menyusut
larutan sukrosa tersebut volumenya, sehingga
telah terjadi pengupan akibat semakin jauh terlepas dari
terlambatnya penutupan dinding sel. Hal tersebut
dengan menggunakan plastik mengakibatkan membran
silk/ wrap, karena apabila sitoplasma semakin banyak
larutan sukrosa saat yang terlepas dari dinding
penuangan tidak dilakukan sel. Semakin besar
dengan cepat dan tidak konsentrasi larutan gula di
langsung ditutup maka akan lingkungan eksternalnya,
terjadi penguapan dan akan akan mengakibatkan
berdampak pada hail yang semakin banyak sel yang
akan diamati. mengalami plasmolisis.
ab. Dari hasil diatas Peristiwa isotonik akan terjadi
terdapat tidak adanya apabila tekanan osmotik
perbedaan respons sel-sel larutan diluar sama dengan
epidermis pada larutan tekanan osmotik cairan
sukrosa yang berbeda selnya. Sel yang
konsentrasinya, karena di terplasmolisis dapat kembali
konsentrasi yang paling normal bila dikembalikan
rendah jumlah yang kelingkungan air biasa karena
terplasmolisinya rendah pula. selama sel atau jaringan
seharusnya semakin tinggi tersebut masih dalam
konsentrasi larutan keadaan hidup.
eksternalnya, juga
a Sel yang terplasmolisis
80%

60%

40%
Sel yang Terplasmolisis (% )
20%

0%
1 2 3 4 5 6
Konsentrasi Larutan Sukrosa (M)
b
c Dari grafik keadaan ini dibiarkan terus-
tabel sel proses terjadinya menerus maka protolema
plasmolisis pada Rhoe tidak dapat mempertahankan
discolor, sel yang bentuknya dan terlepas dari
terplasmolisis paling tinggi dinding sel. Protolema yang
adalah pada saat larutan terlepas dari dinding sel
sukrosanya dengan tersebut membentuk bulatan
konsentrasi 1 M yaitu sebesar dengan pinggiran cekung
75%. Menurut Hendriyani maupun cembung. Namun
(2009), plasmolisis terjadi jika konsentrasi larutan
karena sel berada di dalam berlebih dapat merusak
lingkungan yang hipertonik protolema sehingga
sehingga protoplasma bentuknya menjadi tidak
berosmosis keluar sel, jika beraturan.
d Sel yang tidak terplasmolisis
120%
100%
80%
60%
Sel yang tidak terplasmolisis (% )
40%
20%
0%
1 2 3 4 5 6
Konsesntrasi Larutan Sukrosa (M)
e
f Pada tabel grafik sel protoplasma sel terkelupas
yang tidak terplasmolisis, di dari dinding sel,
dapatkan hasil yang paling banyak menyebabkan adanya jarak
tidak terplasmolisis adalah pada saat antara dinding sel dan
konsentrasi 0,0 M, dimana sel yang membrane. Ada beberapa
tidak terplasmolisis nya mencapai mekanisme didalam sel
100% yang menndakan pada saat tumbuhan untuk mencegah
diberi sukrosa dengan konsentrasi kehilangan air secara
0,0 M larutan sukrosa tersebut tidak berlebihan, tetapi plasmolisis
ada yang masuk kedalam sel Rhoeo dapat dibalikkan jika sel
discolor. Sel yang tidak diletakkan di larutan
terplasmolisis dikarenakan hipertonik. Dimana
konsentrasi larutan tersebut belum plasmolisis adalah proses
memenuhi konsentrasi standar untuk pengkerutan protoplasma
berplasmolisis. Selain itu, perbedaan dan diikuti dengan penarikan
jenis larutan juga memengaruhi. sitoplasma dari dinding sel
Larutan garam jauh lebih cepat karena gerakan air keluar sel
menyerap air dibandingkan larutan yang disebabkan oleh
gula, karena larutan garam osmosis.
disediakan cukup pekat. h Berdasarkan dari
g Menurut Liu, et pengamatan yang telah dilakukan,
all., (2012), jika sel tumbuhan terjadi plasmolisis pada pemberian
diletakkan dalam larutan larutaan sukrosa yang berbeda
garam terkonsentrasi konsentrasinya. Sehingga hasil yang
(hipertonik), sel tumbuhan diperoleh tersebut sesuai dengan
akan kehilangan air dan juga teori yang ada karena teori
tekanan terger, sehingga menyebutkan bahwa apabila
menyebabkan terjadinya konsentrasi larutan sukrosa yang
proses plasmolisis, tekanan digunakan lebih tinggi, maka jumlah
terus berkembang sampai di sel-sel epidermis daun Rhoe discolor
suatu titik dimana
yang mengalami plasmolisis juga Air murni tersebut diteteskan
semakin banyak, dan sebaliknya. kembali ke atas sayatan daun Rhoe
i Pada sata proses discolor. Dengan meneteskan air
terjadinya plasmolisis juga maka membuat kondisi luar sel
berdasarkan teori, hubungan antara hipotonik, sehingga air yang berada
tingkat plasmolisis dengan larutan di luar sel akan bergerak masuk dan
sukrosa cenderung berbanding lurus. dapat menembus membrane sel
Dalam hal ini, semakin tinggi tingkat karena membrane sel akan menyerap
konsentrasinya artinya semakin pekat ion maupun air tersebut. Air yang
konsentrasi larutan sukrosa yang masuk akan menyebabkan ruang
diberikan pada sayatan epidermis sitoplasma kembali seperti semula
Rhoe discolor, maka semakin banyak (terisi kembali dengan cairan),
pula sel epidermis yang sehingga membran sel terdesak
terplasmolisis nya dan begitupun keluar sebagai akibat dari adanya
juga berlaku sebaliknya. Apabila tegangan turgor. Akhir dari peristiwa
tekanan osmotik larutan di luarnya ini adalah sel kembali ke keadaan
sama dengan tekanan osmotik cairan semula, dan peristiwa ini disebut
selnya, maka tidak akan terjadi gejala deplasmolisis (Salisbury dan
plasmolisis. Hal ini dikarenakan, Ross, 1992).
larutan tersebut memiliki tekanan k Prose plasmolisis
osmotik yang sudah seimbang sendiri yang terjadi pada sel Rhoeo
dengan tekanan osmotik cairan discolor ini merupakan proses
selnya (Kimbal, 1983). keluarnya cairan yang ada di dalam
j Suatu sel atau sel menuju keluar sel dikarenakan
jaringan yang terplasmolisis masih konsentrasi di luar sel lebih tinggi
dapat kembali normal bila dibanding konsentrasi di dalam sel
dikembalikan ke lingkungan air biasa atau dapat diartikan juga sebagai
karena sel atau jaringan yang sudah akibat perbedaan potensial osmotik
terplasmolisis masih dapat kembali larutan antara larutan dengan cairan
normal bila dipindahkan ke dalam sel, dimana potensial osmotik
lingkungan air biasa atau air murni. lebih tinggi daripada potensial cairan
dalam sel. Perbedaan potensial jumlah yang tidak
osmotik tersebut mengakibatkan terplasmolisis berada pada
cairan dalam sel akan keluar menuju konsentrasi 0,0 M.
lingkungannya (larutan), sehingga Konsentrasi yang paling
sel mengalami dehidrasi. rendah yaitu 0,0 M dan 0,2
M, dimana pada konsentrasi
LXIX. KESIMPULAN
rendah ini memiliki jumlah
l Semakin besar
plasmolisis yang rendah pula.
konsentrasi umbi kentang
m DAFTAR PUSTAKA
maka semakin kecil hasil
n Gomes, F.B., M.A. Olivia,
panjang potongan silinder
M.S. Nielke, A.F. de
kentang tersebut. Perubahan
Almeida, H.G. Leite, L.A.
panjang potongan silinder
Aquine. 2010.
umbi kentang yang paling
Photosynthetic
besar terjadi pada larutan
Limitations in Leaves of
sukrosa dengan konsentrasi
Young Brazilian Green
0,6 M yaitu sebesar 3,1 cm.
Dwarf Coconut (Cocos
Plasmolisis adalah lepasnya
nucifera L. nana) Palm
membran sel dari dinding sel
under Well-Watered
tumbuhan pada larutan yang
Conditions and
hipertonik. Adanya sirkulasi ini bisa
Recovering from Drought
menjelaskan bahwa sel tidak diam,
Stress. Environmental
jika memerlukan suatu materi dari
and Experimental
luar maka sel tersebut harus
Botany. Vol. 62 (11):
mengambil materi itu dengan segala
195-204.
cara, yaitu mengatur tekanan agar
terjadi perbedaan tekanan sehingga o Hendriyani, I. S dan N.

materi dari luar itu bisa masuk. Setiari. 2012.

Jumlah terplasmolisis yang Kandungan Klorofil dan

paling tinggi berada pada Pertumbuhan Kacang

konsentrasi 1,0 M, sedangkan Panjang (Vigna sinensis)


pada Tingkat t Morgan, J.M. 2012.
Penyediaan Air yang Osmotic Adjustment
Berbeda. Jurnal Sains In The Spikelets And
dan Mat. Vol. 17(3):145- Leaves Of Wheat.
150. Journal of Experimental
p Hendriyani, I. S. 2009. Botany. Agric. Res.
Kandungan klorofil dan Cent., Tamworth,N.S.W:
pertumbuhan kacang Australia.
panjang pada tingkat u Nio, S. A., Cawthray.
penyediaan air yang 2011. Pattern of Solutes
berbeda. J. Sains and Accumulated during Leaf
Mat. Vol. 17 (3): 145- Osmotic Adjusment as
150. Related to Duration of
q Ismail. 2011. Penuntun Water for Wheat at the
Praktikum Fisiologi Reproductive Stage.
Tumbuhan. Makassar: Plant Physiology and
Jurusan Biologi Biochemistry. Vol. 49
Universitas Negeri (10): 1126-1137.
Makassar. v Salisbury, F. B. dan Ross, C.
r Kimball, J. W. 1983. Biologi. W. 1992. Fisiologi Tumbuhan
Jakarta: Erlangga. Jilid 1. Bandung : ITB.
s Liu, Guodong. et all. w Tjitrosomo.1987. Botani
2012. Water Potential Umum 2. Bandung:
Vs. Pressure In Relation Angkasa.
To Water Movement And x Van, A., J. A. de Ronde,
Transpiration In Plants. F.T. Rossouw. 2010.
International journal of Chlorophyll Fluorescence
Agronomy and Plant and Chlorophyll Content
Production. Vol.3 as A Measure of Drought
(10),pp: 369-373. Tolerance in Potato.
South African Journal of
Science. 95 (12): 407- y
412. z