Anda di halaman 1dari 116

Daftar Isi

Daftar Isi ................................................................................. i

Bagian Kesatu ......................................................................... 1


Kondisi wakaf saat ini .................................................2
Bagian Kedua ........................................................................ 20
A. What Is Wakaf ......................................................... 20
B. The History Of Wakaf ........................................... 25
C. All About The Book Of Wakaf ............................. 30
D. The Types of Wakaf .............................................. 37
E. The Golden Arrow: Wakaf for Charity ............ 40
Bagian Ketiga ....................................................................... 46
A. Weaknesses and Threads ..................................48
B. The All New Product: Wakaf Produktif ........ 53
C. Vacancy: Wakaf Produktif di Indonesia! ........ 61
D. Good Example Design: Pemberdayaan Tanah
Wakaf Produktif ................................................... 70
Bagian Keempat ................................................................... 77
A. Wakaf Tunai dan Pembangunan Ekonomi .......... 82
B. Gimana sih Mengelola Wakaf Tunai? ................. 89

i
C. Masa Depan Cerah Menunggu ............................... 91
D. Contoh Desain Usaha : Pemberdayaan Tanah
Wakaf Strategis ..................................................... 96
Bagian Kelima ....................................................................... 99
A. Apa Yang Bisa Kamu Wakafkan .........................99
B. Simulasi Pelaksanaan Wakaf ............................ 103
C. Pilih Jadi Wakif atau Nazhir nih ................... 108
Referensi .............................................................................. 113

ii
BAGIAN PERTAMA

The Big Problem:


Beginilah Kondisi Kita sekarang!

Kalau kita bicara tentang Islam dan ekonomi,


sebenarnya kita bukan hanya membincangkan satu golongan
tertentu (agama tertentu) saja. Tapi juga berarti kita lagi
membicarakan sebuah persoalan kemanusiaan yang besar,
yang berhubungan dengan kehidupan banyak orang di dunia
ini.
Secara umum, coba kita pikirkan, apa sih motivasi
terbesar dari adanya penjajahan di dunia ini? Baik
penjajahan militeristik maupun penjajahan kolonialistik,
semuanya pasti punya motif ekonomi. Ingat kan, waktu di
SMA kita belajar sejarah tentang penjajahan? Ada istilah
gold, gospel, and glory.
Yang disebut pertama kan gold, artinya emas, harta.
Hubungannya ke ekonomi. Baru deh ada motif gospel
(penyebaran agama) dan terakhir glory atau prestise.
Lepas dari penjajahan, berbagai rezim yang berkuasa
juga melakukan kontrol gede-gedean atas perekonomian
suatu bangsa, terutama yang rezimnya militeristik atau
diktator. Mereka pegang kendali atas hampir semua sektor
ekonomi di negara tersebut.
Naaah... look who's hiding! Di belakangnya pasti ada
kepentingan negara besar tertentu. Istilahnya ada
konspirasi negara-negara maju atas negara berkembang

1
atau negara terbelakang. Mau tahu contohnya negara maju
tersebut? Gak jauh-jauhlah... negaranya Om Bush itu, alias
Amerika Serikat.
Memasuki abad 20, Amerika melihat potensi
perkembangan ekonomi dan ideologi pasar Cina yang beda
sama dia. Maka dia jadi khawatir. Dibidiklah beberapa
negara potensial, termasuk Indonesia.
AS tahu banget kalau Indonesia potensial dalam segi
kekayaan alam, tapi lemah dalam SDM. OK deh, cocok
banget buat dia kuasai. Nggak bisa melakukan invasi atau
penjajahan berupa pencaplokan daerah, dia tetap keukeuh
menancapkan hegemoninya lewat pemerintah. Terutama
zaman Orde Baru. Dibuatnya Indonesia dan banyak negara
berkembang lainnya tergantung sekali kepada AS.

Caranya gimana?
Dengan 'pintarnya' mereka mempengaruhi sekaligus
memaksa pasar untuk mengikuti desain pola ekonomi politik
global everytime they need. Dasarnya kita juga nggak peka,
ya sudah... ikut terus!
Padahal ekonomi global itu juga jelas punya dampak
negatif lho. Misalnya disintegritas alias perpecahan. Gini
nih, sejak awal globalisasi mengiklankan dirinya sebagai
'pemersatu' secara universal. Gimana bisa? Tiap komunitas
itu kan unik. Gak bisa dipaksakan semua harus 'satu'
diantara terlalu banyak perbedaan. Sementara globalisasi
sebagai salah satu ide bikinan manusia juga punya sifat
rapuh. Emang bisa mengikat semua perbedaan dalam
'pemersatu' yang rapuh? Nggak logis kan?

2
Kedua, masalah kemiskinan. Globalisasi itu kan pada
hakikatnya adalah keterbukaan dimana semua orang bebas
bersaing di pasar terbuka. Coba bayangkan, iya kalau yang
bersaing itu si kuat dalam segi modal dan ketrampilan. Tapi
kalau dia si lemah, baik dalam modal dan ketrampilan?
Hmmm... siap-siap aja menyingkir sebelum digusur.
Kejam ya? Ya begitulah. Jadilah jargon 'Siapa suruh
jadi orang miskin, bodoh pula?', sebagai kata-kata sakti
untuk memasuki dunia penuh kompetisi ini. The winner takes
it all, and the looser has to fall.
So, globalisasi sebagai sistem sudah 'miskin keadilan'.
Globalisasi diciptakan hanya untuk si kaya dan si pandai.
Bagus sih, dari satu sisi menciptakan nilai-nilai kompetitif.
Tapi di sisi lain, kalau kita tidak masuk kriteria itu, siap-siap
tersingkir dan tersungkur.
Indonesia sebagai negara yang jujur saja, banyak
hutangnya, sudah tentu jadi sasaran 'diobok-obok' oleh
badan-badan ekonomi milik si kuat, seperti IMF, Bank Dunia,
dan WTO, dengan dalih 'membantu demi memulihkan kondisi
ekonomi menyongsong pasar bebas dan era globalisasi'
(Mulia sekalee...:P). Negara-negara berkembang lain juga
sama saja nasibnya.
Nah, Indonesia sebagai negara muslim terbesar
harusnya bisa dong keluar dari jerat ekonomi global itu.
Caranya?
Be brave! Kita harus berani keluar dari jerat itu
dengan menciptakan sebuah sistem yang tangguh. Bisa
nggak?

3
Bisa dong. Mungkin kita bisa mencontoh Jepang,
Taiwan, dan Korea Selatan yang membuat sistem ekonomi
berbasis negara. Jadi mereka menghindari sistem keuangan
pasar yang dimonopoli negara-negara maju.
Jadi kita membutuhkan sebuah sistem ekonomi yang
dibangun atas dasar kesetaraan, demokratis, dan islami.
Karena demokrasi, tanpa mengedepankan etika dan moral
yang baik, tetap saja akan berdampak buruk bagi
kemanusiaan.

Ini wajah ekonomi umat Islam Indonesia


Indonesia ini sebenarnya negara besar, tapi
ekonominya timpang. Sebagian besar ekonominya dikuasai
oleh dua kelompok: (1) tradisional feodalis, (2) modern
kapitalis. Mereka pakai sistem ribawi pula!
Kaum tradisional feodalis menguasai sektor ekonomi di
desa. Mereka adalah para pemilik sawah, ladang, kebun
serta tambak. Persaingan biasanya antar keluarga, dan
dimenangkan oleh keluarga yang anggotanya lebih banyak,
lebih rajin, lebih kaya, dan lebih nekad.
Nah, keluarga yang kalah harus mengabdi dengan
bekerja kepada keluarga yang menang. Begitu seterusnya
turun temurun.
Yang kaya tambah kaya, yang miskin tetap miskin atau
tambah miskin. Kadang-kadang mereka terpaksa menjerat
diri dengan meminjam uang kepada rentenir/tengkulak.
Makin miskin deh. Sudah dosa, miskin pula.

4
Bagi yang tahan dengan nasib ini, tetap memburuh di
desa. Yang nggak tahan memilih jadi urban di kota. Iya kalau
sukses di kota, kalau nggak? Bahkan kaumm urban yang
bermodal nekat ke kota bisa jadi gelandangan, pengemis,
bahkan pelaku tindak kriminal. Huh, nggak banget dech!
Sudah banyak sekali kisah seperti ini kita dengar.
Mungkin kita juga mengenal mereka sebagai orang-orang di
sekitar kehidupan kita.
Sementara di kota, dikuasai oleh masyarakat modern
kapitalis. Ini biasanya bersinergi dengan perbankan dan
lembaga keuangan lain dalam menjalankan sistem ekonomi
ribawi. Jelas dong, kemenangan ada di pihak dengan SDM
dan modal gede!
Maka terciptalah ketimpangan sosial akibat sistem
ekonomi kapitalis, yang disebabkan oleh:
1. Efisiensi modal dan tenaga. Bagaimana dengan modal
kecil dan tenaga yang sedikit bisa dapat untung gede.
Nggak heran PHK dimana-mana, dalihnya efisiensi.
Jadi posisi kaum buruh memang lemah banget. Kalau
bukan tenaga terampil, ya siap-siap diputus kontrak
sewaktu-waktu. Makanya banyak kaum buruh demo
dimana-mana.
2. Penekanan harga beli dan pelambungan harga jual.
Harga beli bahan baku dari masyarakat ditekan, tapi
giliran sudah jadi, dijual dengan harga tinggi. Untung
kan si produsen?
Kalau produk itu bukan produk primer sih nggak terlalu
masalah. Tapi kalau sudah menyangkut kebutuhan pokok
seluruh golongan masyarakat, kan repot. Apalagi kita sering

5
dengar adanya pengusaha kartel yang menguasai dari ujung
sampai pangkal. Sehingga, para pengusaha berideologi
kapitalis itu mudah mempermainkan harga.
Lagi-lagi masyarakat kecil yang kena getahnya. Apa-
apa mahal, cari kerja susah. Gimana coba?
Kaidah Hobbes yang kuat memakan yang lemah jadi
mainstream yang berlaku dimana-mana, di desa dan di kota.
Siapa yang kuat itu?
Mereka sebetulnya hanya segelintir orang saja. Tapi
duitnya banyak, sehingga dapat mempengaruhi ekonomi.
Mereka itu adalah:
1. Para bankir... jelaas dong. Namanya juga bankir,
tempatnya orang naruh duit.
2. Para pengusaha kuat. Ya, pengusaha jenis ini biasanya
memiliki lobby yang sangat kuat untuk mempengaruhi
kekuasaan. Pokoknya, banyak kebijakan penguasa yang
pada akhirnya bias gara-gara dipengaruhi oleh
pengusaha.
3. Nasabah kakap. Orang tajir (kaya raya) yang memiliki
uang berlimpah.
4. Nasabah menengah dan kecil yang punya tabungan dan
deposito. Meskipun mereka duitnya nggak terlalu
banyak, atau bahkan tidak banyak, tetapi karena
jumlah mereka banyak, maka akumulasi duitnya juga
banyak.
Terus gimana nasib kaum duafa/marginal? Nggak
sepenuhnya benar kalau ada asumsi mereka tertolong oleh

6
adanya kaum tradisional feodalis dan kaum modern kapitalis.
Yang jelas, mereka tetap tertindas.
Berapa jumlah pengangguran dan jumlah lapangan
kerja yang ada? Seimbang nggak?
Terus, apa kita berdiam diri dan tetap setia jadi
pengikut dan penikmat sistem ekonomi kapitalis? Apalagi
sistem kapitalis sudah mulai ada tanda-tanda tumbang
dengan gejolak saham di Wall Street, AS, pada awal bulan
oktober 2008 yang lalu. Bahkan menurut ekonomi Islam,
sistem kapitalis tinggal menunggu waktu untuk bangkrut.
Nah sekarang, kenapa kita nggak melirik lembaga-
lembaga pemberdayaan ekonomi Islam seperti zakat dan
wakaf? Bukankah zakat dan wakaf dibangun atas prinsip
kejujuran dan keadilan sosial? Dan memang dua ajaran itu
sudah terbukti dalam sejarah bukan? Bahkan sebagai
penopang berdirinya peradaban Islam yang sangat maju.
Khusus untuk wakaf, di negeri kita, jika lihat dari
ketersediaan aset dengan kesejahteraan sosial, kan belum
dikelola secara optimal. Peruntukkannya masih sebatas
untuk pembangunan pesantren, sekolah, madrasah, masjid,
dan makam. Belum produktif untuk pemberdayaan ekonomi
gitu loh. Padahal potensi wakaf itu sungguh luar biasa dan
harusnya dapat diberdayakan.
Secara umum, ini image wakaf di Indonesia:
1. Umumnya berupa benda tak bergerak, kayak tanah dan
bangunan.
2. Biasanya di atas tanah itu didirikan masjid atau
madrasah.

7
3. Penggunaannya tergantung wasiat yang mewakafkan
(Wakif).
4. Pengelola (Nazhir) benda wakaf rata-rata karena
faktor kepercayaan, misalnya percaya kepada kyai,
ustadz, ajengan, ulama atau tokoh masyarakat.
Sementara kemampuan profesionalnya belum tentu.
5. Timbul pandangan kalau benda wakaf nggak boleh
diutak-atik, meski untuk renovasi. Akibatnya? Banyak
benda wakaf yang terlantar!

Padahal lagi nih, kalau saja wakaf bisa dikelola secara


profesional, bisa menjadi salah satu solusi yang luar biasa
untuk mengatasi masalah ekonomi umat yang ujungnya ke
masalah sosial. Apalagi sifat dari aset wakaf itu harus tetap
hingga hari kiamat. Gimana caranya?
Sabar... kita akan membahas hal itu nanti. Setelah ini
kita masih akan mengamati kondisi umat Islam di negara lain
dan gimana 'pintarnya' Yahudi memainkan perannya.

Yang sama menyedihkan: Kondisi ekonomi umat Islam


dunia(The Truth about the Muslim World Economic
Disasters!)
1. Peristiwa Black September dianggap sebagai titik
balik keadaan ekonomi dunia. Hampir semua belahan
bumi menganggap peristiwa 11 September 2001 itu
sebagai sejarah hitam bagi dunia ekonomi, khususnya
AS. Boleh dibilang, pasca kejadian itu, ekonomi AS
kelimpungan. Negara-negara maju termasuk AS makin

8
menggiatkan intimidasi terhadap negara-negara
muslim yang dianggap sebagai 'sarang teroris'. AS
menggulirkan kebijakan-kebijakan yang sifatnya
menekan negara-negara muslim dengan tujuan agresi
dan invasi dengan semboyan 'mengenyahkan teroris'.
Tapi menurut para analis, kebijakan AS menyerang
teroris cenderung berstandar ganda.
2. Di sisi lain, kebijakan AS itu memperparah kondisi
ekonomi negara-negara muslim yang sedang terpuruk.
Padahal sebelumnya kondisi umat Islam pernah
mengalami kemajuan, tidak hanya bidang ekonomi, tapi
juga di bidang ilmu pengetahuan, seni budaya dan
semua bidang ilmu. Namun semua itu lambat laun
menurun seiring dengan direbutnya teknologi oleh
negara-negara barat.
3. Lima belas tahun yang lalu, Pakistan pernah mengalami
kebangkitan ekonomi. Proporsi kebangkitan
ekonominya dari 13% bisa mencapai 33%. Tapi
sekarang kehidupan warganya kembali terpuruk. Sudah
begitu, negara itu demen banget perang saudara,
sampai bom-boman segala. Hampir sepertiga warganya
hanya memiliki pendapatan kurang dari 2 USD dalam
sehari. Aduh, di negara kita bagaimana ya? Kamu
sendiri, berapa USD kira-kira pendapatanmu perhari?
4. Sementara itu Kuwait, Brunei Darussalam, dan Uni
Emirat Arab memiliki angka pendapatan perkapita
10.000 USD. Makmur bener kan? Tapi dari 56 negara
lain, dimana di dalamnya terdapat populasi muslim,
angka pendapatan perkapita mereka masih kurang dari
5.000 USD.

9
5. Saat ini paling tidak terdapat enam negara muslim dari
delapan negara miskin di dunia. Betapa
menyedihkannya! Negara-negara itu adalah Etiopia,
Sierra Leone, Afghanistan, Somalia, Nigeria,
Mozambique, dan Pakistan. Padahal di masa lalu, kita
ingat benar bahwa enam negara muslim itu, selama
tujuh abad (abad VII-XIV) pernah mengalami
kejayaan dalam ilmu kimia, matematika, filsafat, ilmu
perbintangan hingga kedokteran dan farmasi.
6. Warisan kekayaan sumber daya alam berupa minyak
bumi dan mineral yang banyak terdapat di negara-
negara muslim ternyata belum bisa dikelola secara
optimal (karena keterbatasan teknologi?). Misalnya
Saudi Arabia, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab
diperkirakan memiliki 700 milyar barrel minyak
hanyalah produk domestik kotor dari keseluruhan
kekayaan 'dunia Islam' yang ditaksir mencapai 1,05
trilyun USD. Bandingkan dengan pemilikan AS yang
mencapai 14 trilyun USD, Perancis 1,5 trilyun USD,
Jerman 2 trilyun USD, Inggris 1,5 trilyun USD, dan
Itali 1,05 trilyun USD.
7. Salah satu sebab kemunduran umat Islam adalah
merosotnya kemampuan dalam bidang IPTEK. Lebih
dari 800 juta, dari total populasi sekitar 1,3 milyar
umat Islam, adalah buta huruf. Tidak lebih dari 600
universitas di dunia Islam yang mencapai standar
internasional dan hanya mempunyai 300.000 ilmuwan.
Bandingkan dengan Jepang, misalnya, yang memiliki
1000 universitas yang memiliki standar pengajaran dan
riset internasional. Tokyo sebagai salah satu kota

10
besarnya sudah memiliki sekurang-kurangnya 113
universitas terkemuka dengan 700.000 ilmuwan. AS
memiliki 5758 universitas dengan 1,1 juta ilmuwan.
India memiliki 8407 universitas.
8. Jadi, kemerosotan umat Islam bukan hanya di bidang
ekonomi, tapi juga di bidang pendidikan dan sosial
politik.
Sungguh sebuah bencana besar yang mengerikan dan
membuat kita menangis. Mengapa kita sedemikian terpuruk?
Tidak ada jalan lain, selain mengangkat kembali ketiga
perangkat kehidupan tersebut untuk meraih kembali
kejayaan yang pernah kita peroleh di masa lalu. Siap nggak
kita?
Ya, harus siap dong...

Jerat Ekonomi Yahudi: The Jewish' Economic Chain


Saat ini negara-negara besar dan maju berlomba-
lomba untuk menginvasi ekonomi ke negara-negara dunia
ketiga, kayak Indonesia. Kebesaran dan kemajuannya
dijadikan modal untuk menakan negara lemah. Ya lemah
SDM, lemah teknologi, lemah militer, lemah poltik dan lemah
ekonomi. Kenapa?
Karena umumnya negara-negara dunia ketiga punya
sumber daya ekonomi yang besar. Indonesia juga termasuk
nih, yang sedang mengalami terpaan ekonomi global gede-
gedean. Sudah gitu, sumber daya manusianya belum mampu
pula untuk mengoptimalkan kekayaan alamnya. Kesempatan
dong buat pihak asing untuk 'masuk'. Bisa ditebak, yang

11
terjadi adalah eksploitasi ekonomi besar-besaran!
Dampaknya adalah rakyat Indonesia makin miskin dan kita
juga mengalami ketergantungan yang luar biasa terhadap
asing.
Tatanan ekonomi dunia memang bukan didesain untuk
kepentingan dunia ketiga, tapi untuk negara maju. Mereka
berusaha dengan segenap cara agar dapat menguasai dunia
di segala bidang. Mau perang juga hayuuuk. Terpaksa deh
negara-negara dunia ketiga yang banyak muslimnya harus
mati-matian bekerja demi kepentingan mereka. Contohnya
invasi AS dan Inggris ke Irak dan Afghanistan. Ngapain
mereka capek-capek ke sana? Mau membangun sekolah?
Orang mereka ke sana jelas-jelas mengincar ladang-
ladang minyak. Kita sama-sama tahu bahwa Irak dan
Afghanistan memiliki cadangan minyak terbesar setelah
Arab Saudi. Bahkan sekarang-sekarang ini Iran juga diincar
mau diserang. Alasannya? Lagi-lagi karena Iran dituduh
mengembangkan senjata nuklir. Rupanya mereka nggak
kapok-kapok juga setelah kegagalan total di Irak yang
dituduh menyimpan senjata pemusnah massal. Buktinya?
Bohong besar dan hanya jadi alat untuk menyerang dan
menjajah demi minyak! Sungguh terlalu memang mereka!
Trus, siapa pelopornya?
Tunjuk hidung Om Bush, alias AS. Selain itu, didukung
habis sama Om Tony Blair, PM Inggris. Dua orang itu ibarat
jari telunjuk dan jari tengah. Saking deketnya, keinginan AS
kayak apapun hampir pasti didukung. Makanya ada yang
bilang, Tony Blain diibaratkan buldog. Siapa di belakangnya?

12
Nggak lain Yahudi! Sudah bukan rahasia lagi, kalau
para penentu kebijakan politik dan bisnis di sana adalah
Yahudi. Siapapun presiden AS yang terpilih, di belakangnya
dapat dipastikan kaum Yahudi yang sangat berpengaruh.
Siapa para pemegang saham The Federal Reserve
(Bank Sentral AS)?
1. Rothschilds Bank of London
2. Rothschilds Bank of Berlin
3. Israel Moses Seif Bank of Italy
4. Wanburg Bank of Amsterdam
5. Wanburg Bank of Hamburg
6. Lazard Brothers of Paris
7. Lehman Brothers of New York
8. Kuhn and Loeb Bank of New York
9. Chase Manhattan Bank of New York
10. Goldman-Sachs of New York.

Semua lembaga keuangan raksasa itu adalah milik


Yahudi.
Siapa penguasa dan pemain utama di lembaga keuangan
raksasa di New York seperti IMF dan World Bank yang suka
meminjamkan uang ke kita? Istilah meminjamkan itu kata
halusnya lho, tapi hakikatnya mereka itu jual jasa rentenir
internasional. Kok? Ya, iya. Peminjaman utang itu kan harus
dibayar dengan bunganya. Jika pemerintah yang pinjam

13
tidak mampu membayar sesuai jadwal, maka berlaku bunga
berbunga. What? Bukankah itu budaya kapitalis yang suka
meng-anak-kan uang. Menurut istilah Zaim Saidi, Direktur
Tabung Wakaf Indonesia, uang beranak uang adalah riba
murni.
Nah, lembaga keuangan dunia itu dikuasasi oleh
kelompok tertentu. Mereka adalah Yahudi yang sejak tahun
1664 sampai sekarang menjadikan New York sebagai tujuan
utama migrasi mereka. Nggak heran kan jika mereka murka
banget saat WTC diledakkan. Mereka kan menganggap New
York sebagai mesin uang bagi tumbuh kembangnya gerakan
zionisme di dunia. Tapi sebenarnya aktor intelektual
peledakan itu siapa ya?
Trus, siapa raja bisnis pers dan penerbitan di AS?
The New York Times dimiliki oleh keluarga Suzberger,
pemodal Yahudi. Suzberger juga menguasai 36 perusahaan
surat kabar lainnya dan 12 majalah, termasuk Mc Call's dan
Family Circle. Pimpinan majalah Time adalah Stephen
J Ross, Yahudi juga.
Penerbit buku kelas raksasa seperti Random House,
Simon and Schuster, dan Ime Inc. Book Co, juga dimiliki
pemodal Yahudi.
Pimpinan Simon and Schuster adalah Richard Snyder
dan Jeremy Kaplan, keduanya Yahudi. Penerbit buku anak,
Western Publishing, dengan pangsa pasar 50% buku anak di
seluruh dunia, dimiliki oleh Richard Bernstein, Yahudi juga.
Walt Disney Company, yang merupakan konglomerasi bisnis
media yang termasuk terbesar, dipimpin seorang Yahudi,
Michael Eisner.

14
Eits... bukan hanya di AS lho, mereka pegang peran
utama.
Siapa penyebab awal krisis ekonomi di Asia Tenggara,
terutama Indonesia dan Malaysia?
Ya, dialah si pialang kelas kakap George Soros, Yahudi
pula. Dengan kekuatan modalnya, Soros sengaja
menjungkirbalikkan sistem ekonomi Indonesia yang pada
saat itu memang sudah rapuh. Gimana nggak rapuh, kan
digerogoti virus KKN yang ditularkan rezim penguasa saat
itu.
Pengaruh Yahudi yang begitu besar dalam percaturan
ekonomi dan politik dunia sudah barang tentu menyebabkan
pertarungan ideologi. Bahkan dalam tataran tertentu,
sasaran ke negara berpenduduk muslim seperti Indonesia,
dilandasi target 'hancurkan!'. Paling lemah, ya mereka dapat
mengendalikan negara target untuk bersekutu demi
kepentingan mereka dalam memerangi musuh-musuh mereka.
Kalau menentang, konsekuensinya mereka akan menciptakan
kekacauan, dalam bidang politik dan ekonomi.
Aaarrrgghh... mau marah kan?
Sementara itu, saat ini hanya ada satu sistem ekonomi
dalam pasar dunia yaitu ekonomi kapitalistik ciptaan mereka.
Salah satu ciri utamanya adalah peran akumulasi modal atau
kapital dalam menjalankan roda perekonomiannya. Pola yang
dikembangkan dengan sistem bunga, fiskal dan pajak. Zaim
Saidi berpendapat bahwa sistem bungan itu anak dari
demokrasi.
Di Indonesia, kita sudah sama-sama tahu bahwa
sistem ini mengakibatkan gap yang tajam antara si pemilik

15
modal besar dengan si pemilik modal kecil. Akibatnya angka
kemiskinan membengkak di hampir semua wilayah Indonesia
karena si gajah tega menindas si semut.
Hal ini jelas menjadi kendala bagi pemberdayaan
ekonomi lemah, seperti lembaga wakaf misalnya. Apalagi
semua sektor sudah dicengkeram erat oleh sistem ribawi.
Katakanlah di sektor mikronya sistem ekonomi Syariah
sudah dijalankan. Namun pas berhadapan dengan kondisi
makronya, kepentok lagi dengan sistem ribawi.
Fakta-fakta di atas dipaparkan bukan bermaksud
menjadikan kamu parno atau antipati sama Yahudi. Ini hanya
sekedar gambaran bahwa sudah waktunya we get back on
the track. Kembali bersatu dan menggerakkan sistem
ekonomi Islam. Ini bisa menjadi alternatif yang luar biasa
dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat muslim dunia.
Apalagi tanda-tanda kebangkitan ekonomi Islam sudah mulai
terasa dan isyarat kehancuran sistem kapitalisme mulai
terlihat.
Semangat yuk! Hyuuk...

All for one, one for all...


Sekarang kita akan melihat dulu keadaan dan potensi
sumber daya alam di beberapa negara muslim.
Sejak tahun 1945-1958, Timur Tengah telah
memberikan sumbangan produksi minyak ke seluruh dunia.
Pada mulanya sumbangan tersebut hanya sebesar 7,5% saja,
tapi kemudian meningkat hingga 25,4%. Bahkan cadangan
minyak yang dimiliki saat ini hampir 85% persediaan minyak

16
di seluruh dunia. Dan jika persediaan minyak ini dapat
dikelola dan diberdayakan melalui kemampuan teknologi yang
memadai, cadangan minyak yang ada bisa digunakan sampai
150 tahun ke depan.
Libya, Aljazair, dan Tunisia diperkirakan memiliki
cadangan minyak melimpah. Selain minyak, Indonesia dan
Malaysia memiliki kekayaan berupa karet dan timah. Mesir
memiliki kekayaan kapas terbesar di dunia. Turki yang
menguasai Bosporus dan Dardanella sangat strategis
sebagai penjaga pintu gerbang utara ke Laut Tengah.
Dengan demikian, bisa dibilang lebih dari 60% wilayah Laut
Tengah merupakan wilayah yang dimiliki oleh Islam.
Tapi bangga saja nggak cukup lho. Soalnya kalau segala
kekayaan itu tidak segera dioptimalkan dengan peningkatan
iptek, bisa keburu habis dimanfaatkan pihak asing.
Saat ini banyak negara muslim yang justru sedang
terpuruk secara ekonomi masih terlena dengan kejayaan
masa lalu. Sedangkan faktor lain terpuruknya ekonomi Islam
adalah karena di saat yang sama sedang terjadi kebangkitan
kapitalisme Eropa dan adanya pengaruh kultur tradisional
yang belum melakukan modifikasi dengan pasar.
Jadi sudah waktunya bagi negara-negara muslim
berpikir dan bergerak untuk bersatu secara strategis dalam
mengembangkan ekonomi masyarakatnya. Masyarakat
muslim juga nggak harus terpaku dengan perkembangan
teknologi dari barat yang kadang juga nggak sesuai dengan
konsep pengembangan ekonomi Islam.
Contohnya sistem bagi hasil dalam ekonomi Islam
(mudharabah) yang dalam teori dan prakteknya beda banget

17
dengan sistem ekonomi modern yang dikenal dengan bank
konvensional. Pemberdayaan ekonomi muslim harus dilakukan
dengan meneliti dan menyesuaikan kebutuhan dan keadaan
kehidupan masyarakat muslim itu sendiri.
Sebaiknya masyarakat muslim memiliki kebijakan
tersendiri berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi tanpa
terpaku dan tergantung dengan kebijakan ekonomi barat
atau eropa.
Menurut MA Mannan, ekonom asli Bangladesh, strategi
pemberdayaan ekonomi masyarakat muslim dilakukan karena
faktor-faktor berikut:
1. Untuk mengeksploitasi sumber daya alam yang luas dan
berkembang pesat di negara muslim, sehingga hasilnya
bisa dirasakan secara luas oleh masyarakat muslim
juga.
2. Untuk menyesuaikan sumber daya alam dengan
penduduk muslim yang berkembang pesat.
3. Untuk menciptakan stabilitas ekonomi dan mengurangi
pemborosan.
4. Untuk menghindari eksploitasi monopolistik, bisnis
spekulatif dan pemborosan yang anti sosial dalam
sistem kompetitif.
5. Untuk membantu terciptanya ditribusi pendapatan dan
kekayaan yang lebih adil.
6. Untuk melakukan perubahan struktural dan
menyeluruh dalam ekonomi negara-negara Islam
secara cepat.

18
7. Untuk pemerataan ekonomi antara negara muslim yang
sudah maju dengan negara muslim yang sedang
berkembang.

Di sini perlu banget lembaga-lembaga Islam yang


bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi umat duduk
bareng untuk mencari solusi memecahkan masalah ini. Perlu
juga dipertimbangkan ide dimana masyarakat miskin harus
menciptakan modal sosial sebagai senjata melakukan
perubahan. Modal sosial itu misalnya:
1. Bantuan dari luar hanya ditujukan kepada mereka yang
sudah bisa membantu dirinya sendiri dan disesuaikan
dengan kebutuhan masing-masing.
2. Masyarakat miskin harus jadi pelaku utama dalam
perubahan.
3. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dasar
masyarakat.
4. Memberikan kesempatan yang luas bagi para dhuafa
untuk berpartisipasi aktif dalam proses sosial.
5. Mengenalkan dua bentuk intervensi, yaitu fokus pada
kerjasama tingkat individu/pribadi per pribadi, dan
melakukan kerjasama sosial yang didukung oleh
reformasi institusi dan struktur yang
memberdayakan

19
BAGIAN KEDUA
The Alternative Solution: Wakaf!

Seperti yang sudah kita bahas, bahwa situasi ekonomi


umat Islam yang sedang sangat terpuruk ini harus segera
diperbaiki. Salah satu cara adalah dengan mengoptimalkan
lembaga-lembaga wakaf, termasuk yang ada di Indonesia.
Mungkin diantara kamu ada yang belum faham, apa sih
sebenarnya wakaf itu dan bagaimana penggunaannya, kok
bisa membantu menjadi solusi bagi umat?
Nah sekarang kita bahas satu-satu ya.

A. What is Wakaf?
Dalam istilah syara' secara umum, wakaf adalah
sejenis pemberian yang pelaksanaannya dilakukan dengan
jalan menahan (kepemilikan) asal (tahbisul ashli), lalu
menjadikan manfaatnya berlaku umum. Yang dimaksud
tahbisul ashli ialah menahan barang yang diwakafkan itu
agar tidak diwariskan, dijual, dihibahkan, digadaikan,
disewakan, dan sejenisnya. Sedangkan cara pemanfaatannya
adalah digunakan sesuai dengan kehendak pemberi wakaf
(Wakif) tanpa imbalan.
Namun para ahli fikih dalam tataran pengertian wakaf
yang lebih rinci, saling bersilang pendapat. Biar kamu nggak
bingung, kita bahas sedikit ya.
a. Imam Abu Hanifah

20
Wakaf adalah menahan suatu benda yang menurut
hukum tetap milik si Wakif dalam rangka mempergunakan
manfaatnya untuk kebajikan. Pemilikan harta wakaf tidak
lepas dari si Wakif, malah dia boleh menariknya kembali.
Jika si Wakif meninggal dunia, harta wakaf diwariskan
kepada ahli warisnya. Jadi efek dari wakaf hanyalah
'menyumbangkan manfaatnya'.
b. Imam Malik
Wakaf tetap menjadi milik Wakif, tetapi si Wakif
tidak boleh melakukan sesuatu yang menyebabkan
kepemilikannya atas harta itu lepas, dan ia nggak boleh
menarik kembali wakafnya, serta ia wajib menyedekahkan
manfaat wakaf tersebut.
Wakaf dilakukan dengan mengucapkan lafadz wakaf
untuk waktu tertentu, jadi tidak ada wakaf selamanya
(kekal).
Dengan kata lain, pemilik harta menahan benda itu dari
penggunaan secara pemilikan, tetapi membolehkan
pemanfaatan hasilnya untuk tujuan kebaikan, sedang benda
itu tetap jadi milik si Wakif.
c. Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal
Wakaf adalah melepaskan harta yang diwakafkan dari
kepemilikan wakaf, setelah sempurna prosedur perwakafan.
Wakif tidak boleh lagi melakukan apapun terhadap harta
yang diwakafkan. Wakif menyalurkan manfaat harta yang
diwakafkannya kepada mauquf alaih (yang diberi wakaf)
sebagai sedekah yang mengikat, dimana Wakif tidak dapat
melarang penyaluran sumbangannya tersebut.

21
d. Madzhab Imamiyah
Benda yang diwakafkan menjadi milik mauquf alaih,
namun tidak boleh menghibahkan dan menjualnya.
Keabadian Benda Wakaf
Para imam madzhab, kecuali Imam Maliki, berpendapat
bahwa wakaf terjadi jika benda itu diwakafkan selama-
lamanya atau terus menerus. Itu sebabnya wakaf disebut
sebagai shadaqah jariyyah.
Sementara pendapat Maliki, wakaf ada jangka
waktunya, setelah itu kembali kepada pemiliknya. Hal ini
cukup relevan dengan kondisi saat ini, seperti kita kenal
dalam hukum agraria ada istilah HGB (Hak Guna Bangunan),
Hak Pakai, atau sistem kontrak.
Penjualan Benda Wakaf
Nggak terlalu banyak perbedaan di kalangan ulama
tentang masalah ini. Ada yang sama sekali melarang
menjualnya dan ada pula yang nggak berpendapat.
Secara umum, ketentuannya adalah:
a. Masjid
Semua sepakat tidak boleh menjual masjid. Namun
Imam Hambali berpendapat bahwa masjid boleh dijual
ketika nggak ada jemaahnya yang shalat di situ lagi, atau
karena masjid itu sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi kecuali
dengan cara dijual. Jadi terpaksa banget...
b. Kekayaan masjid
Sebagian ulama membolehkan menjualnya atau
mengambil manfaatnya sebagai upah bagi yang mengurusnya.

22
c. Wakaf Non Masjid
Sebagian ulama, kecuali Syafii membolehkan menjual
wakaf non masjid dengan alasan:
1. Bila benda wakaf itu sudah tidak memberi manfaat lagi
sesuai dengan peruntukkannya
2. Bila hanya bisa dimanfaatkan dengan menjualnya
3. Bila benda itu sudah rusak atau ambruk
4. Bila disyaratkan atau diizinkan oleh Wakif
5. Bila ada sengketa antara pengurus wakaf
6. Bila benda wakaf itu dijual sehingga hasilnya bisa
dipakai untuk memperbaiki bagian lainnya
7. Bila masjidnya ambruk, barang-barang seperti batu
bata, papan, pintu, kaca dll penjualannya dilihat dari
kemaslahatannya yang dipandang oleh para pengurus.

Dasar Hukum Wakaf


Tidak ada ayat Al Quran yang secara tegas
memerintahkan wakaf. Namun ada ayat yang difahami
berkaitan dengan wakaf sebagai amal kebaikan, misalnya:
QS Al Hajj 77, Ali Imran 92, dan Al Baqarah 261.
Selain itu ada beberapa hadits Nabi saw:
Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw
bersabda: Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia,
maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shadaqah
jariyyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang
mendoakan orang tuanya (HR Muslim).

23
Hadits tersebut dikemukakan dalam bab wakaf,
karena para ulama menafsirkan shadaqah jariyyah dengan
wakaf (Imam Muhammad Ismail al Kahlani, tt. 87).
Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa sahabat Umar ra
memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian
menghadap kepada Rasulullah saw untuk memohon petunjuk.
Umar berkata, "Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang
tanah di Khaibar, saya belum pernah mendapatkan harta
sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan
kepadaku?"
Rasulullah saw menjawab, "Bila kamu suka, kamu tahan
pokoknya (tanahnya) dan kamu sedekahkan hasilnya".
Kemudian Umar melakukan shadaqah, tidak dijual,
tidak juga dihibahkan dan tidak juga diwariskan.
Berkata Ibnu Umar, Umar menyedekahkannya kepada
orang-orang fakir, kaum kerabat, budak belian, sabilillah,
ibnu sabil dan tamu. Dan tidak mengapa atau tidak dilarang
bagi yang menguasai tanah wakaf itu (pengurusnya) makan
dari hasilnya dengan cara baik (sepantasnya) atau makan
dengan tidak bermaksud menumpuk harta (HR Muslim).
Dari Ibnu Umar ra. ia berkata, Umar mengatakan
kepada Nabi saw, saya mempunyai seratus dirham saham di
Khaibar. Saya belum pernah mendapat harta yang paling
saya kagumi seperti itu. Tetapi saya ingin
menyedekahkannya. Nabi saw mengatakan kepada Umar,
"Tahanlah (jangan jual, hibahkan atau wariskan) asalnya
(modal pokok) dan jadikan buahnya sedekah untuk sabilillah"
(HR Bukhari dan Muslim).

24
Jadi kalau melihat hukumnya, wakaf termasuk dalam
kategori muamalah sunnah yang segala ketentuannya
bersifat ijtihadi, artinya sesuai dengan hasil penggalian
hukum-hukum oleh para ahli fikih. Sehingga hal itu sifatnya
fleksibel.
Jelas deh kalau wakaf itu potensinya cukup besar
untuk bisa dikembangkan sesuai kebutuhan zaman, terutama
dalam pengembangan ekonomi lemah.
Beda dengan zakat. Kalau zakat kan hukumnya wajib
dikeluarkan dengan batas nishab yang ditentukan. Ayat-ayat
Al Quran yang membahas tentang zakat diantaranya adalah
QS At-Taubah 60 dan At-Taubah 103.

B. The History of Wakaf


Masa Rasulullah saw
Wakaf disyariatkan setelah Rasulullah saw hijrah ke
Madinah, yaitu pada tahun 2 Hijriyah. Ada dua pendapat
fuqaha (para ahli fikih) tentang siapa yang pertama kali
melaksanakan wakaf.
Sebagian ulama mengatakan, yang pertama
melaksanakan wakaf adalah Rasulullah saw yang mewakafkan
tanahnya untuk dibangun masjid. Hal ini berdasarkan hadits
yang diriwayatkan oleh Umar bin Syabah dari 'Amr bin Saad
bin Muad.
Ia berkata, kami bertanya tentang mula-mula wakaf
dalam Islam. Orang Muhajirin mengatakan adalah wakaf
Umar, sedangkan orang-orang Anshar mengatakan adalah
wakaf Rasulullah saw (Asy-Syaukani, 129).

25
Rasulullah saw pada tahun 3 Hijriyyah pernah
mewakafkan tujuh kebun kurma di Madinah, diantaranya
adalah kebun A'raf, Shafiyah, Dalal, Barqah dan beberapa
kebun lainnya.
Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang
pertama kali melaksanakan syariat wakaf adalah Umar bin
Khattab ra, sesuai dengan hadits yang sudah kita bahas
sebelumnya.
Setelah Umar, syariat wakaf dilakukan oleh Abu
Thalhah yang mewakafkan kebun kurma kesayangannya yang
diberi nama Bairaha. Selanjutnya disusul Abu Bakar yang
mewakafkan tanahnya di Mekkah. Utsman menyedekahkan
hartanya di Khaibar. Ali bin Abi Thalib mewakafkan
tanahnya yang subur. Mu'adz bin Jabal mewakafkan
rumahnya yang disebut Dar al-Anshar. Wakaf juga
dilaksanakan oleh Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Zubair
bin Awwam, dan Aisyah istri Rasulullah saw.
Tuh kan, para sahabat dan keluarga Nabi juga tidak
segan-segan mewakafkan harta kesayangannya.

Masa Dinasti-dinasti Islam


Praktek wakaf semakin berkembang pada masa dinasti
Umayyah dan Abbasiyah. Semua orang berduyun-duyun
melaksanakan wakaf. Wakaf tidak hanya untuk fakir miskin
saja, tetapi wakaf menjadi modal untuk membangun lembaga
pendidikan, perpustakaan, membayar gaji para guru dan
stafnya, serta memberi beasiswa bagi para siswa dan
mahasiswanya. Semangat masyarakat melaksanakan wakaf
telah menarik perhatian negara sehingga negara mau

26
mengelolanya secara profesional, untuk membangun
solidaritas sosial dan ekonomi masyarakat.
Wakaf pada awalnya hanyalah keinginan seseorang
untuk berbuat baik dengan kekayaannya dan dikelola secara
individu tanpa ada aturan yang pasti. Namun setelah
masyarakat Islam merasakan manfaatnya lembaga wakaf,
maka timbullah keinginan untuk mengatur perwakafan
dengan baik. Kemudian dibentuk lembaga yang mengatur
wakaf untuk mengelola, memelihara dan menggunakan harta
wakaf, baik secara umum seperti masjid, atau secara
individu dan keluarga.
Pada masa dinasti Umayyah yang menjadi hakim Mesir
adalah Taubah bin Ghar al-Hadhramiy, pada masa khalifah
Hisyam bin Abdul Malik. Ia sangat perhatian dan tertarik
dengan pengembangan wakaf, sehingga membentuk lembaga
wakaf tersendiri sebagaimana lembaga lainnya dibawah
lembaga pengawasan hakim.
Lembaga wakaf inilah yang pertama kali dilakukan
dalam administrasi wakaf di Mesir, bahkan di seluruh dunia
Islam. Pada saat itu juga hakim Taubah mendirikan lembaga
wakaf di Basrah. Sejak saat itu, pengelolaan lembaga wakaf
di bawah Departemen Kehakiman dikelola dengan baik dan
hasilnya disalurkan kepada yang membutuhkan dan yang
berhak.
Pada masa dinasti Abbasiyah terdapat lembaga wakaf
yang disebut dengan Shadr al Wuquuf yang mengurus
administrasi dan memilih staf pengelola wakaf. Lembaga
wakaf berkembang searah makin teraturnya administrasi.

27
Pada masa dinasti Ayyubiyah di Mesir, perkembangan
wakaf juga cukup menggembirakan, dimana hampir semua
tanah pertanian menjadi tanah wakaf. Semuanya dikelola
dan menjadi milik negara (baitul mal).
Ketika Shalahuddin Al Ayyubi memerintah Mesir, ia
bermaksud mewakafkan tanah-tanah milik negara,
diserahkan kepada yayasan-yayasan keagamaan dan yayasan
sosial, sebagaimana yang dilakukan oleh dinasti Fathimiyah
sebelumnya. Sebenarnya dalam hukum fikih Islam, masih
terdapat perbedaan pendapat dalam mewakafkan harta
baitul mal.
Orang pertama kali yang mewakafkan tanah milik
negara (baitul mal) adalah Raja Nuruddin asy-Syahid dengan
ketegasan fatwa yang dikeluarkan seorang ulama pada masa
itu, Ibnu 'Ishrun dan didukung ulama lainnya, bahwa
mewakafkan harta milik negara hukumnya boleh (jawaz).
Argumentasinya adalah menjaga dan memelihara harta milik
negara, sebab dasar hukumnya sebenarnya tidak boleh.
Shalahuddin al-Ayyubi banyak mewakafkan harta milik
negara untuk keperluan pendidikan, seperti mewakafkan
beberapa desa (qaryah) untuk pengembangan madrasah
madzhab Asy-Syafi'iyah, Malikiyah dan Hanafiyah. Dana
didapat dengan model mewakafkan kebun dan tanah
pertanian. Pembangunan madrasah madzhab Syafi'i
dibangun di samping makam Imam Syafi'i, dengan cara
mewakafkan kebun pertanian dan pulau Al-Fil.
Dalam rangka kesejahteraan ulama dan pengembangan
misi Sunni, Shalahuddin Al-Ayyubi menetapkan kebijakan
bagi orang Kristen yang datang dari Iskandariyah untuk

28
berdagang wajib membayar bea cukai. Hasilnya dikumpulkan
dan diwakafkan kepada para fuqaha dan keturunannya.
Perkembangan wakaf pada masa dinasti Mamluk sangat
pesat dan berkembang. Apapun yang dapat diambil
manfaatnya boleh diwakafkan. Yang paling banyak
diwakafkan adalah tanah pertanian dan gedung-gedung,
seperti perkantoran, penginapan dan sekolah. Pada masa itu
juga terdapat hamba-hamba sahaya yang diwakafkan untuk
merawat lembaga-lembaga agama. Seperti mewakafkan
budak/pelayan untuk mengurus masjid dan madrasah. Hal ini
pertama kali dilakukan oleh penguasa dinasti Utsmani ketika
menaklukkan Mesir, Sulaiman Basya yang mewakafkan
budaknya untuk merawat masjid.
Manfaat wakaf pada masa dinasti Mamluk digunakan
sebagaimana tujuannya. Wakaf keluarga untuk kepentingan
keluarga, wakaf umum untuk kepentingan sosial, membangun
tempat pengurusan jenazah dan membantu fakir miskin.
Ada juga wakaf untuk sarana di Mekkah dan Madinah
(Haramain), seperti kain Ka'bah (Kiswatul Ka'bah). Raja
Shaleh bin Al-Nasir membeli desa Bisus lalu diwakafkan
untuk membeli kiswah Ka'bah setiap tahunnya dan
mengganti kain kuburan Nabi saw dan mimbarnya setiap lima
tahun sekali.
Perundang-undangan wakaf pada dinasti Mamluk telah
dimulai sejak Raja Al Dzahir Bibers al Bandaq (1260-1277
M) dimana dengan undang-undang tersebut Raja Al Dzahir
Bibers memilih hakim dari masing-masing empat madzhab
Sunni. Pada masa ini wakaf dibagi 3 kategori:

29
1. Pendapatan negara dari hasil wakaf yang diberikan
oleh penguasa kepada orang-orang yang dianggap
berjasa;
2. Wakaf untuk membantu Haramain (tanah suci Makkah
dan Madinah);
3. Wakaf untuk kepentingan masyarakat umum.

Sejak abad kelima belas, kerajaan Turki Utsmani


dapat memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga meliputi
sebagian besar wilayah Arab. Hal ini tentu saja
mempermudah untuk menerapkan Syariat Islam, termasuk
wakaf. Diantaranya adalah dibuatnya peraturan tentang
pembukuan pelaksanaan wakaf yang dikeluarkan pada
tanggal 19 Jumadil Akhir 1280 H. Undang-undang tersebut
mengatur tentang pencatatan wakaf, sertifikasi wakaf, cara
pengelolaan wakaf, cara pencapaian tujuan wakaf, dan
melembagakan wakaf.
Pada tahun 1287 H dikeluarkan undang-undang yang
menjelaskan tentang kedudukan tanah-tanah kekuasaan
Turki Utsmani dan tanah-tanah wakaf produktif. Itu
sebabnya sampai sekarang di wilayah Arab masih banyak
tanah berstatus wakaf.
Demikianlah wakaf masih dilaksanakan dari waktu ke
waktu dan berkembang ke semua negara muslim, termasuk
Indonesia. Bahkan lembaga wakaf itu telah meresap menjadi
hukum adat bangsa Indonesia. Disamping di Indonesia juga
banyak terdapat harta wakaf, baik berupa benda bergerak
maupun tidak bergerak.

30
Di negara-negara muslim lain, wakaf juga mendapat
perhatian serius sehingga menjadi amal sosial yang memberi
manfaat bagi masyarakat banyak. Dalam sejarahnya, wakaf
terus berkembang dengan inovasi yang sesuai dengan
pergerakan zaman, seperti adanya bentuk wakaf tunai
(uang), wakaf HAKI dll. Di Indonesia, saat ini wakaf juga
mendapat perhatian yang lebih serius dengan dikeluarkannya
Undang-Undang Wakaf untuk memayungi berbagai hal tyang
terkait dengan wakaf.

C. All About The Book of Wakaf


Nah, sekarang kita mulai sedikit lebih dalam
membahas tentang wakaf ini. Biar nggak pusing, kita bahas
sedikit demi sedikit dulu.
Syarat dan Rukun Wakaf
Wakaf dinyatakan sah bila telah dipenuhi rukun dan
syaratnya. Rukun wakaf adalah:
1. Waqif (orang yang mewakafkan harta)
2. Mauquf bih (barang atau harta yang diwakafkan)
3. Mauquf 'alaih (Pihak yang diberi wakaf/peruntukan
wakaf)
4. Shighat (pernyataan atau ikrar Wakif untuk
mewakafkan sebagian hartanya).
Syarat Pemberi Wakaf (Wakif)
Orang yang mewakafkan disyaratkan memiliki
kecakapan hukum dalam membelanjakan hartanya. Hal ini
mencakup 4 kriteria:

31
1. Merdeka, bukan budak. Sekarang sudah tidak ada lagi
kali ya yang disebut budak?
2. Berakal sehat. Kalau orang tidak berakal sehat, alias
gila, maka secara hukum apa yang dilakukan tidak sah.
3. Dewasa/baligh. Kedewasaan juga menunjukkan
kebebasan kehendak. Anak kecil yang belum baligh
tidak boleh mewakafkan hartanya, kecuali didampingi
oleh walinya.
4. Tidak berada dalam pengampuan (boros/tabarru').

Syarat Benda Wakaf (Mauquf bih)


Di sini akan berkaitan dengan dua hal, yaitu syarat
sahnya harta yang diwakafkan, dan kadar benda yang
diwakafkan.
Syarat sahnya harta yang diwakafkan:
1. Mutaqawwam (segala sesuatu yang dapat disimpan dan
halal digunakan dalam keadaan normal/bukan dalam
keadaan darurat).
2. Diketahui dengan yakin ketika diwakafkan, sehingga
tidak menimbulkan sengketa atau kebingungan.
Misalnya jangan mewakafkan sebagian tanah (sebagian
yang mana?).
3. Milik Wakif. Kepemilikannya harus juga sempurna,
bukan sebagian milik orang lain. Contoh, mewakafkan
rumah yang cicilannya belum lunas. Karena
kepemilikannya belum sepenuhnya (sebagian milik

32
pengembang), maka rumah dimaksud belum dapat
diwakafkan.
4. Terpisah, bukan milik bersama. Demikian juga,
kepemilikan bersama tidak boleh diwakafkan, wong
milik bersama kok. Ya, kalau yang lain semua setuju,
tetapi kalau yang lain tidak setuju bagaimana?

Secara umum, syarat benda itu dapat diwakafkan


ketika berupa benda yang memiliki keabadian manfaat yang
dapat diambil berulang-ulang. Sifatnya tidak berupa benda
yang langsung habis. Sebagai misal, makanan atau minuman.
Kedua benda ini tidak bisa diwakafkan karena sifatnya yang
langsung habis ketika dimakan atau diminum.
Lagian nggak mungkin lah orang mewakafkan bakso
semangkuk, bakwan sepiring, es buah sebaskom, minyak
wangi sebotol, dan lain sebagainya. Kalau kita memberikan
makanan, minuman, minyak wangi atau benda lain yang
sifatnya dapat habis seketika kepada orang lain, maka
disebut sedekah biasa. Sementara kalau wakaf itu,
bendanya harus utuh dan manfaatnya dapat diambil secara
berulang-ulang. Dalam undang-undang No. 41 Tahun 2004
tentang wakaf bahwa wakaf itu harus dapat diambil manfaat
selamanya atau dalam jangka waktu tertentu.
Bagaimana dengan wakaf uang? Bukankah uang
sifatnya lentur, bisa muncul tiba-tiba, sekaligus bisa hilang
dalam sekejab?
Ya memang betul uang itu sifatnya mobile atau lentur.
Namun, dalam pelaksanaan wakaf, uangnya tetap tidak boleh
berkurang seperti karakter wakaf lainnya dengan cara

33
memelihara keabadiaan nilai nominalnya. Oleh karena itu,
wakaf uang harus dikelola secara transparan untuk
diinvestasikan pada produk-produk LKS dan/atau instrumen
Syariah. (PP No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan
Undang-undang tentang Wakaf, Pasal 48 ayat (2)).
Bagaimana jika dalam pengelolaannya dilakukan di luar
bank Syariah dan terjadi lost atau kerugian? Di dalam PP
tersebut Pasal 48 ayat (5) telah mengatur, bahwa
pengelolaan di luar bank Syariah harus mengasuransikan
dengan asuransi Syariah. Hal ini dilakukan untuk
menghindari terjadinya kerugian yang dapat mengurangi,
atau bahkan menghilangkan aset wakaf.
Jenis Benda yang diwakafkan:
Benda wakaf tak bergerak:
a. Tanah
b. Bangunan
c. pohon untuk diambil buah/hasilnya
d. sumur untuk diambil airnya.

Benda wakaf bergerak:


a. hewan
Dalilnya dari Hadits yang diceritakan Abu Hurairah ra,
"Orang yang menahan (mewakafkan) kuda di jalan Allah,
karena imannya kepada Allah dan mengharapkan pahalanya
dari Allah, maka makanannya, kotorannya, dan kencingnya
dalam penilaian Allah yang mengandung kebaikan-kebaikan"
(HR Bukhari).

34
b. perlengkapan rumah ibadah
c. senjata
d. pakaian
e. buku
f. mushaf
g. uang, saham, atau surat berharga lainnya. Ini yang
sekarang dikenal dengan wakaf tunai.

Berhubungan dengan wakaf tunai, ada beberapa


pendapat yang bisa kita ambil.
1. Imam Bukhari menyebutkan bahwa Imam Azh Zhuhri
(wafat 124H) berpendapat boleh mewakafkan dinar
dan dirham. Caranya ialah menjadikan dinar dan
dirham tersebut sebagai modal usaha, kemudian
menyalurkan keuntungannya sebagai wakaf.
2. Dr. Az-Zuhaili juga menyebutkan memperbolehkannya
sebagai pengecualian karena sudah banyak dilakukan
masyarakat, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan
oleh Abdullah bin Mas'ud ra, yang berbunyi, "Apa yang
dipandang kaum muslimin itu baik, dipandang baik juga
oleh Allah".

Syarat Penerima Wakaf (Mauquf 'alaih)


Wakaf harus dimanfaatkan dalam batas-batas yang
sesuai dan diperbolehkan syariat Islam. Pada dasarnya,
wakaf adalah amal kebaikan yang mendekatkan diri manusia

35
kepada Tuhannya. Karena itu mauquf 'alaih haruslah pihak
yang berbuat kebajikan. Para ulama fikih sependapat bahwa
infaq kepada pihak yang berbuat kebajikan inilah yang
membuat wakaf menjadi ibadah yang mendekatkan manusia
kepada Tuhannya.

Pentingnya Pengelola Wakaf (Nazhir)


Nazhir adalah pihak yang diberi kepercayaan
mengelola harta wakaf. Para ulama sepakat bahwa Wakif
harus menunjuk Nazhir, baik perseorangan, organisasi atau
lembaga. Tujuannya agar harta wakaf tetap terjaga dan
terurus, sehingga harta itu tidak sia-sia. Kalau Nazhir nggak
mampu melaksanakan tugasnya, maka pemerintah wajib
menggantinya dengan tetap menjelaskan alasan-alasannya.
Syarat moral Nazhir:
1. Paham tentang hukum wakaf dan ZIS
2. Jujur, amanah dan adil
3. Tahan godaan, terutama menyangkut perkembangan
usaha
4. Pilihan, sungguh-sungguh dan suka tantangan
5. Cerdas spiritual dan emosional.

Syarat manajemen:
1. Punya jiwa leadership yang OK. Jiwa kepemimpinan itu
penting karena terkait dengan pengelolaan harta umat
dan manajemen SDM.

36
2. Visioner. Maksudnya, memiliki konsep untuk
pengembangan masa depan.
3. Cerdas intelektual, sosial dan pemberdayaan. Tentu,
kecerdasan sangat penting, karena untuk memecahkan
berbagai persoalan diperlukan kejelian dan kecepatan
penanganan.
4. Profesional dalam bidang pengelolaan harta. Ya, kalau
belum memiliki pengalaman dalam pengelolaan harta
takut amburadul.

Syarat bisnis:
1. Mempunyai keinginan. Tentu keinginan dalam
pengelolaan. Bahasa sederhananya memiliki semangat.
2. Mempunyai pengalaman dan atau siap untuk magang.
Pengalaman merupakan salah satu poin penting. Tanpa
pengalaman dikhawatirkan bekerja tidak optimal.
3. Punya ketajaman untuk melihat peluang usaha seperti
seorang enterpreneur.

Hmm... kira-kira siap nggak ya jadi Wakif atau Nazhir?

D. The Types of Wakaf


Bila ditinjau dari segi peruntukannya, wakaf dibagi
atas dua jenis, yaitu:
1. Wakaf Ahli

37
Yaitu wakaf yang ditujukan kepada orang-orang
tertentu, satu orang atau lebih, keluarga si Wakif atau
bukan.
Dalilnya secara hukum Islam dibenarkan berdasarkan
Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,
dari Anas bin Malik ra tentang adanya wakaf keluarga Abu
Thalhah terhadap kaum kerabatnya.
Di ujung hadits tersebut dinyatakan sebagai berikut:
Aku telah mendengar ucapanmu tentang hal tersebut.
Saya berpendapat sebaiknya kamu memberikannya kepada
keluarga terdekat. Maka Abu Thalhah membagikannya untuk
para keluarganya dan anak-anak pamannya.
Pada perkembangannya, wakaf ahli dinilai kurang bisa
dirasakan manfaatnya oleh umum. Apalagi kadang suka
muncul pertentangan antar keluarga. Di Mesir, Turki,
Maroko dan Aljazair, wakaf jenis ini telah dihapuskan.
Menurut pertimbangan dari berbagai segi, wakaf dalam
bentuk ini dinilai tidak produktif.
2. Wakaf Khairi
Wakaf yang peruntukkannya secara tegas untuk
keagamaan dan kepentingan masyarakat luas. Seperti wakaf
yang diserahkan untuk kepentingan pembangunan masjid,
sekolah, jembatan, kuburan, panti asuhan yatim piatu, dan
lain sebagainya yang berupa wakaf konsumtif. Sedangkan
yang produktif itu terdiri dari berbagai jenisnya.
Hal yang membedakan dengan yang konsumtif adalah
pola pengelolaannya, seperti wakaf tanah yang dikelola
secara produktif, tanah wakaf yang di atasnya dibangun

38
usaha-usaha produktif, wakaf uang yang dikelola pada
produk-produk Syariah dan jenis wakaf produktif lainnya.
Prinsip dari wakaf khairi ini adalah untuk kebajikan
umum. Jika wakaf ahli hanya diperuntukkan kepada keluarga
atau orang-orang tertentu. Sedangkan wakaf khairi
cakupannya lebih luas, yaitu untuk kesejahteraan
masyarakat, baik untuk kepentingan ibadah murni, seperti
masjid, mushalla, panti asuhan, kuburan, atau untuk
kepentingan sosial lainnya, seperti sumur (sumber air),
jembatan, tanah wakaf yang peruntukannya untuk umum dan
lain sebagainya.
Benda-benda yang Boleh Diwakafkan
Nah, kita sudah membahas jenis wakaf tersebut, kira-
kira sudah kepikiran belum, apa yang bisa kita wakafkan dari
harta kita.
Kayaknya nih kalau zaman sekarang, kita susah deh
mewakafkan hewan peliharaan. Kalau hewannya berguna bagi
umum sih bisa. Misalnya hewan ternak. Pada zaman dulu,
hewan yang diwakafkan itu berupa hewan yang bisa diambil
manfaatnya, seperti kuda untuk perang atau unta untuk
sarana transportasi. Tapi kayaknya wakaf model beginian
sudah kurang relevan.
Begitu juga dengan pakaian. Bagaimana kegunaan
pakaian kita untuk umum? Ya, pakaian yang dimaksud itu
adalah salah satunya pakaian perang. Tentu kamu tahu
bahwa pakaian perang pada jaman dulu terbuat dari besi,
atau kere (bahasa Jawa) yang berfungsi untuk menahan atau
pelapis badan dari serangan musuh, seperti sabetan pedang
atau panah.

39
Kasus wakaf senjata demikian juga. Kalau zaman
sekarang, di Indonesia, kita mewakafkan senjata, salah-
salah kita bisa dicurigai mau berbuat kejahatan atau
mendukung terorisme. Konteks wakaf senjata adalah saat
dimana Islam pada waktu itu dalam kondisi mendapat
serangan dari musuh. Namun, dalam keadaan damai, rasanya
nggak mungkin wakaf berupa senjata. Karena prinsip dari
senjata, khususnya sejata api, dikuasai oleh negara sebagai
alat untuk mempertahankan diri atau untuk menjaga negara
dari serangan musuh.
Wakaf yang paling mungkin untuk dilakukan dari dulu
hingga kini adalah wakaf tanah, bangunan, uang, kendaraan,
logam mulia, surat berharga atau buku (yang sesuai dengan
Islam dan atau prinsip-prinsip penyebaran ilmu).
So, jangan tunggu waktu berlalu. Persiapkan diri kita
untuk mewakafkan harta kita untuk kemaslahatan umum.

E. The Golden Arrow: Wakaf for Charity


Pada masa kejayaan Islam, wakaf sudah pernah
mencapai puncak keemasannya, walaupun pengelolaannya
masih sangat sederhana. Pada abad 8-9 Hijriyyah dipandang
sebagai zaman keemasan wakaf. Pada saat itu wakaf
meliputi berbagai macam benda, yaitu masjid, mushalla,
sekolah, tanah pertanian, rumah, toko, kebun, pabrik roti,
bangunan kantor, gedung pertemuan dan perniagaan, bazaar,
pasar, tempat pemandian, tempat pangkas rambut, gudang
beras, pabrik sabun, tempat pembiakan ayam, dll. Banyak
banget kan? Soalnya para penguasa zaman dulu itu serius

40
banget untuk mengembangkan wakaf dan menganjurkan
rakyatnya untuk berwakaf.
Kebiasaan tersebut dilanjutkan hingga sekarang di
beberapa negara dengan menggunakan wakaf untuk proyek
penulisan buku, penerjemahan, dan riset dalam berbagai
bidang, termasuk kesehatan. Penggunaan wakaf dalam
bidang kesehatan juga mencakup pembangunan rumah sakit,
sekolah-sekolah kedokteran, dan pembangunan industri
farmasi dan obat-obatan.
Dilihat dari bentuknya, wakaf ternyata bukan hanya
dalam bentuk benda tak bergerak. Di beberapa negara
seperti Mesir, Yordania, Arab Saudi dan Turki, wakaf juga
berbentuk tanah pertanian, perkebunan, flat, uang, saham,
real estate yang kesemuanya dikelola secara produktif.
Dengan demikian hasilnya dapat benar-benar digunakan
untuk kesejahteraan umat.
Dari negara-negara tersebut, Turki adalah negara
yang paling panjang sejarah perwakafannya. Pemberdayaan
wakaf mencapai puncaknya pada masa dinasti Utsmaniyah.
Pada tahun 1925 diperkirakan tanah wakaf mencapai lebih
dari separo tanah produktif. Hebat ya?
Selain pemerintah, mereka juga memiliki sebuah
lembaga yang memobilisasi sumber-sumber wakaf untuk
membiayai bermacam-macam proyek joint venture yang
disebut Waqf Bank and Finance Corporation.
Hasil wakaf produktif misalnya wakaf rumah sakit,
seperti rumah sakit yang didirikan tahun 1823 oleh ibunda
Sultan Abdul Mecit di Istambul. Rumah sakit modern ini
memiliki 1425 tempat tidur dan sekitar 400 dokter,

41
perawat, dan staf. Sedangkan untuk pelayanan pendidikan
dan sosial dilakukan oleh lembaga Imaret yang sudah dikenal
sejak masa Utsmaniyah.
Sedangkan upaya komersial Ditjen Wakaf Turki adalah
melakukan kerjasama dan investasi di berbagai lembaga
seperti Yvalik and Aydem Olive Oil Corp., Tasdelen Healthy
Water Corp., Auqaf Guraba Hospital, Taksim Hotel
(Sheraton), Turkish Is Bank, dan Aydin Textile Industry.
Di Mesir ada berbagai macam harta yang telah
dikelola Badan Wakaf. Antara lain harta yang dikhususkan
pemerintah untuk anggaran umum; barang yang menjadi
jaminan hutang, hibah, wasiat, dan sedekah; dokumen dan
uang/harta yang harus dibelanjakan dan benda lain yang
berguna untuk mengembangkan/meningkatkan harta wakaf.
Agar harta-harta ini produktif dan bermanfaat bagi
masyarakat luas, Badan Wakaf menetapkan beberapa
kebijakan:
1. Menitipkan harta wakaf di bank Islam agar dapat
berkembang;
2. Melalui Wizaratu Awqaf, Badan Wakaf berpartisipasi
untuk mendirikan bank-bank Islam dan bekerja sama
dengan berbagai perusahaan;
3. Memanfaatkan tanah-tanah kosong untuk dikelola
secara produktif dengan cara mendirikan lembaga-
lembaga ekonomi bekerja sama dengan beberapa
perusahaan;
4. Membeli saham dan obligasi perusahaan-perusahaan
penting.

42
Jadi di Mesir, bukan saja harta wakafnya yang
beraneka ragam, tapi juga pengelolaannya fleksibel. Tenaga
pengelolanya profesional dan dilandasi Undang-undang yang
jelas.
Di Bangladesh dalam banyak kasus, penghasilan dari
banyak harta wakaf yang kecil-kecil dan tersebar amat
tidak mencukupi untuk biaya pemeliharaan harta wakaf itu
sendiri. Harta wakaf di bawah kekuasaan Nazhir tradisional
justru menjadi beban umat karena tidak menghasilkan apa-
apa. Yang juga menambah kusut adalah wakaf yang dikelola
perseorangan yang kurang bertanggung jawab. Kondisi inilah
yang melatarbelakangi dilakukannya reformasi dalam
manajemen administrasi harta wakaf di sana.
Di sana ada lembaga non-pemerintah yang menjadi
solusi dalam menangani kemiskinan yaitu Social Investment
Bank Limited (SIBL). Bank ini menjadi alternatif
peningkatan pendapatan bagi jutaan warga miskin, disamping
pilihan yang menguntungkan bagi warga kaya untuk investasi,
mendapatkan bagi hasil dan hidup dalam lingkungan yang
lebih aman dan damai. Caranya SIBL memperkenalkan
Sertifikat Wakaf Tunai, sebuah produk baru dalam sejarah
perbankan sektor voluntary. Di Dakka, SIBL membuka
peluang untuk membuka rekening deposito wakaf tunai
dengan tujuan berbagai sasaran penting jangka panjang.
Hal yang ditangani antara lain peningkatan standar
hidup orang miskin, rehabilitasi orang cacat, peningkatan
standar hidup warga penghuni daerah kumuh, membantu
pendidikan anak yatim piatu, beasiswa, pengembangan
pendidikan modern dan sekolah, kursus, akademi hingga
universitas. Juga mendanai riset, mendirikan rumah sakit

43
dan bank darah, menyelesaikan masalah sosial warga
nonmuslim, membantu proyek penciptaan lapangan kerja, dan
menghapus kemiskinan.
Wakaf tunai di Bangladesh terbukti membuka peluang
yang unik untuk menciptakan investasi. Caranya adalah
dengan membuka penukaran tabungan orang-orang kaya
dengan Cash Waqf Certificate.
Hal-hal tersebut tentu membuat negara kita juga
bersemangat mengembangkan masalah wakaf ini. Secara
jumlah, harta wakaf di tanah air kita sangat besar, dan
sebagian besarnya berupa tanah yang dibangun untuk rumah
ibadah, lembaga pendidikan Islam, pekuburan dan lain-lain
yang rata-rata tidak produktif. Hal ini mendapat perhatian
khusus karena selama ini wakaf pada umumnya berbentuk
benda nggak bergerak, yang sebenarnya potensinya besar
sekali seperti tanah-tanah produktif strategis untuk
dikelola secara produktif. Untuk itu harta wakaf harus
dikelola dengan manajemen yang baik dan modern, serta
tetap sesuai syariat Islam dong.
Tentu saja ini butuh kerjasama dari semua pihak,
termasuk perbankan dan lembaga-lembaga pihak ketiga yang
tertarik pada pengembangan wakaf. Kerjasama ini butuh
dukungan dan komitmen semua pihak, seperti pemerintah,
ulama, kaum profesional, cendekiawan, pengusaha, arsitek,
perbankan, lembaga bisnis, lembaga penjamin dan keuangan
syariah dan seluruh masyarakat umum (kita nih termasuk).
Mustafa Edwin Nasution pernah membuat perkiraan
kasar bahwa jika jumlah penduduk muslim kelas menengah di
Indonesia sebanyak 10 juta jiwa dengan penghasilan rata-

44
rata 0,5-10 juta perbulan. Misalnya jika penduduk
berpenghasilan 0,5 juta rupiah ada 4 juta jiwa saja dan
setiap tahun berwakaf Rp 60.000, setiap tahun akan
terkumpul 240 milyar rupiah. Jika warga yang
berpenghasilan 1-2 juta rupiah ada sebanyak 3 juta jiwa dan
masing-masing berwakaf Rp 120.000 akan terkumpul dana
sebesar Rp 360 milyar. Jika warga berpenghasilan 2-5 juta
ada sebanyak 2 juta orang dan setiap tahun berwakaf Rp
600.000, akan terkumpul dana Rp 1,2 trilyun. Dan jika warga
berpenghasilan 5-10 juta ada 1 juta jiwa dan setiap tahun
berwakaf Rp 1,2 juta akan terkumpul dana Rp 1,2 trilyun.
Jadi dana yang terkumpul mencapai 3 trilyun rupiah
pertahun. Wow, subhanallah, luar biasa besar bukan?
Jika dana itu diserahkan kepada pengelola profesional
dan oleh pengelola wakaf tersebut diinvestasikan di sektor
yang produktif, dimana mereka menjamin jumlahnya tidak
berkurang, tapi justru bertambah dan akan terus bergulir.
Misalnya saja dana itu dititipkan di Bank Syariah yang
katakanlah setiap tahun memberikan bagi hasil sebesar 9%
maka pada akhir tahun sudah ada dana segar 270 milyar
rupiah. Akan sangat banyak yang bisa dilakukan untuk
pemberdayaan ekonomi umat dengan uang sebanyak itu.
Model wakaf tunai sangat tepat memberikan jawaban
yang menjanjikan dalam mewujudkan kesejahteraan sosial
dan membantu mengatasi krisis ekonomi Indonesia,
melepaskan bangsa kita dari jerat hutang dan
ketergantungan terhadap luar negeri.
Nanti akan kita bahas lagi lebih lanjut tentang wakaf
tunai di bagian keempat ya... Sekarang kita gali terus
masalah perwakafan di Indonesia

45
BAGIAN KETIGA
Overview: Wakaf di Indonesia

Sudah kita ketahui kalau tanah wakaf dan harta-harta


wakaf di Indonesia jumlahnya banyak sekali dan masih
banyak yang belum dikelola secara baik, sehingga hasilnya
juga belum bisa digunakan secara optimal untuk kepentingan
umat. Perwakafan dan tanah wakaf di Indonesia termasuk
ke dalam bidang Hukum Agraria, yaitu perangkat peraturan
yang mengatur tentang bagaimana penggunaan dan
pemanfaatan bumi, air, dan ruang angkasa Indonesia, untuk
kesejahteraan bersama seluruh rakyat Indonesia,
bagaimana hubungan hukum antara orang dengan bumi, air,
dan ruang angkasa, serta hubungan bumi, air dan ruang
angkasa tersebut.
Pengaturan dan pelaksanaan perwakafan tanah hak
milik di Indonesia dapat dibagi dalam 3 waktu:
1. Sebelum kemerdekaan
2. Setelah kemerdekaan
Sebelum Kemerdekaan
Lembaga perwakafan sebenarnya sudah dikenal dan
dilaksanakan sejak zaman dahulu oleh penduduk muslim di
Indonesia. Hal ini wajar karena di Indonesia banyak berdiri
kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Samudera Pasai,
dan lain-lain.
Lembaga perwakafan itu berasal dari lembaga yang
berdasar hukum Islam, namun seolah-olah sudah disepakati

46
bahwa lembaga tersebut juga adalah merupakan bagian
hukum adat Indonesia, sebab diterimanya lembaga ini
berasal dari suatu kebiasaan masyarakat.
Sejak zaman dulu, peraturan tentang wakaf ini telah
diatur dalam Hukum Adat yang sifatnya tidak tertulis
dengan bersumber dari Hukum Adat. Pemerintah Kolonial
juga telah mengeluarkan beberapa peraturan tentang wakaf.

Setelah Kemerdekaan
Beberapa waktu setelah proklamasi kemerdekaan,
peraturan perwakafan zaman Belanda masih diberlakukan,
mengingat belum lengkapnya peraturan kenegaraan kita.
Namanya juga negara baru.
Namun tanggal 22 Desember 1953, Departemen
Agama mengeluarkan Petunjuk-petunjuk Mengenai Wakaf.
Untuk selanjutnya perwakafan ini menjadi wewenang bagian
D (ibadah sosial) Jawatan Urusan Agama. Kemudian tahun
1956 dikeluarkan Surat Edaran tentang Prosedur
Perwakafan Tanah.
Beberapa peraturan perwakafan tanah di atas
ternyata dirasakan kurang memadai dan masih banyak
kelemahannya. Yaitu belum memberikan kepastian hukum
mengenai tanah-tanah wakaf. Untuk itu pemerintah terus
mengadakan peraturan-peraturan khusus, baik secara
Hukum Agraria maupun peraturan pemerintah lainnya.
Setelah melalui proses yang cukup panjang dan
penelitian yang mendalam, akhirnya keluarlah Undang-
undang Nomor 41 tahun 2004 tentang Wakaf dan Peraturan

47
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaannya.
Jadi semua peraturan perwakafan sebelumnya nggak
berlaku lagi.
Tujuan dari adanya Undang-undang wakaf dan
Peraturan Pemerintah tentang pelaksanaannya yaitu agar
wakaf dapat diakomodir dalam koridor peraturan
perundang-undangan yang khusus. Selain itu, ada tujuan lain
yang lebih penting, yaitu agar wakaf dapat dikelola dan
dikembangkan secara produktif sehingga manfaatnya dapat
dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
Kira-kira, kenapa ya, perwakafan di Indonesia belum
semaju di negara lain?

A. Weaknesses and Threads


Banyak hambatan dan tantangan yang bisa kita
anggap sebagai penyebab kenapa perkembangan wakaf di
Indonesia belum semaju di negara lain.
1. Paham masyarakat Indonesia tentang wakaf
Sejak datangnya Islam di Indonesia, wakaf telah
dilaksanakan berdasarkan faham yang dianut oleh sebagian
besar masyarakat Islam Indonesia, yaitu madzhab
Syafi'iyah dan adat kebiasaan setempat.
Misalnya saja nih, perwakafan itu dilaksanakan dengan
prinsip saling percaya, nggak pakai pencatatan. Ikrar
dilakukan secara lisan kepada seseorang atau sebuah
lembaga yang dipercaya. Wakaf dianggap sebagai sebuah
amal shaleh yang nggak harus melibatkan pencatatan

48
administratif segala. Harta wakaf dianggap sebagai milik
Allah semata dan nggak bakal ada yang berani mengganggu.
Jadi yang penting jujur dan saling percaya. Lugu
banget kan? Nah kalau selanjutnya timbul perselisihan, baru
deh bingung nyari bukti-buktinya.
Belum lagi masalah-masalah lain yang jadi ribet karena
berpegang pada adat dan kebiasaan serta madzhab.
Misalnya nih, masalah ikrar, harta yang boleh diwakafkan,
kedudukan harta setelah diwakafkan, tujuan harta wakaf,
dan boleh tidaknya tukar menukar harta wakaf.

2. Jumlah tanah wakaf strategis


Menurut data Departemen Agama terakhir terdapat
kekayaan tanah wakaf di Indonesia sebanyak 403.845 lokasi
dengan luas 1.566.672.406 m2. Dari total jumlah seluruhnya
tidak semuanya berlokasi strategis secara ekonomis. Tanah
wakaf berupa perkebunan, sawah, ladang ternyata banyak
yang nilai ekonomisnya sangat minim. Letak
ketidakstrategisan secara ekonomis bisa dilihat dari:
a. letaknya yang jauh dari pusat perekonomian
b. tanahnya gersang atau tidak subur
c. kemampuan pengelolaan tanah yang minim.

Disamping masalah tanah yang tidak strategis secara


ekonomis, kendala lain adalah di dalam masyarakat kita
masih terjadi pro kontra pengalihan tanah wakaf untuk
tujuan produktif maupun pemanfaatannya.

49
Misalnya; seorang Wakif mewakafkan tanahnya untuk
sebuah pesantren di pusat kota, sementara letak tanahnya
ada di desa yang jauh banget dari pesantren itu.
Pesantrennya sendiri nggak mampu mengelola tanah itu
karena lokasinya yang jauh, nggak mampu menyediakan
transportasi bolak-balik dan masalah lain. Otomatis tanah
itu jadi 'nggak terurus' kan.
Ketika para Wakif ditawarkan untuk menjual tanah itu
dan hasilnya untuk pesantren itu, misalnya untuk membangun
perpustakaan, mereka menolak karena memegangi faham
bahwa wakaf tidak bisa dijual.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pesantren Gontor
mencari cara lain agar harta wakaf dapat dikelola secara
optimal. Yaitu, sebelum calon Wakif ingin mewakafkan
hartanya, misal tanah sawah, tidak secara otomatis
pesantren Gontor menerimanya karena terkait dengan
amanah dan tanggung jawab pengelolaan. Jika kondisi
tanahnya strategis, maka akan diterima.
Namun, jika letak tanahnya kurang menguntungkan
karena jauh dan tidak memungkinkan untuk dikelola oleh
pesantren Gontor, maka disarankan kepada calon Wakif
agar bersedia menjualnya dan hasil penjualannya (berupa
uang) kemudian diwakafkan kepada pesantren Gontor.
Sebagai misal digunakan untuk membeli tanah di sekitar
pesantren atau untuk membangun gedung, dan lain
sebagainya.
Dengan cara demikian, diharapkan orang berwakaf
dapat dimanfaatkan oleh umat. Karena banyak Nazhir yang

50
asal terima wakaf dari Wakif tanpa mempertimbangkan
asas kemampuan dan amanah dalam pengelolaan wakaf.

3. Banyaknya tanah wakaf yang belum bersertifikat


Banyak tanah wakaf yang tidak mempunyai bukti
administratif karena banyak Wakif yang menjalankan
tradisi lisan dengan kepercayaan yang tinggi jika akan
mewakafkan tanahnya kepada Nazhir perseorangan atau
lembaga. Tanah yang kayak gini jelas potensial menimbulkan
sengketa dan nggak bisa dimanfaatkan secara produktif.
Tradisi lisan memang menjadi kebiasaan orang kita.
Apa-apa dianggap cukup hanya dengan lisan. Contoh, orang
meminjam duit puluhan juta hanya dengan lisan, karena
orang dulu masih tinggi tingkat kepercayaannya.
Dalam beberapa waktu, mungkin kepercayaan itu masih
terjaga karena masih ingat. Namun jika sudah lama dan
orang yang diberi kepercayaan itu mulai-mulai ngeles, ini kan
bahaya. Jangankan waktunya sudah berganti generasi,
antara yang memberi kepercayaan dengan yang diberi
kepercayaan sama-sama masih hidup saja sering terjadi
masalah.
Demikian juga pelaksanaan wakaf tanah. Banyak Wakif
yang menyerahkan tanahnya untuk wakaf kepada seorang
kyai, ajengan, ustad atau tokoh agama dengan menyerahkan
surat-surat tanah begitu saja tanpa tanda bukti. Oleh sang
kyai, ajengan, ustad atau tokoh itu, tanahnya tidak segera
diurus karena alasan tertentu. Namun, begitu yang
menerima amanah wakaf (Nazhir) meninggal dunia, maka ahli
warisnya menganggap tanah-tanah wakaf itu sebagai

51
warisan. Dikira, tanah-tanah yang sebenarnya tanah wakaf
itu milik orang tuanya yang boleh dibagi-bagi sesama ahli
waris. Bahkan dibuat rebutan pula.
Ini bukan isapan jempol lho! Karena apa yang
dijelaskan di atas merupakan kenyataan di lapangan. Tentu
disini tidak dapat disebutkan dimana dan kasus mana saja,
karena terkait dengan nama baik pihak-pihak tertentu.
So, dengan masih banyaknya tanah wakaf yang belum
bersertifikat, menjadi salah satu hambatan bagi
pemberdayaan dan pengembangan wakaf di masa mendatang.

4. Nazhir masih tradisional-konsumtif


Meskipun Nazhir bukan merupakan salah satu rukun
wakaf, namun posisi Nazhir menjadi kunci bagi manfaat dan
tidaknya aset wakaf. Jumhur ulama sepakat bahwa Nazhir
menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan
penyelenggaraan wakaf. Namun, kondisi Nazhir di Indonesia
secara umum masih tergolong tradisional-konsumtif. Ada
beberapa sebab kenapa Nazhir tergolong tradisional-
konsumtif, yaitu:
a. Para Nazhir masih mengikuti pandangan bahwa lebih
penting memikirkan aspek keabadian benda wakaf
daripada pemanfaatannya. Akibatnya banyak banget
benda-benda wakaf yang kurang memberi manfaat
kepada masyarakat banyak dan dibiarkan begitu saja
sampai rusak nggak terurus. Bisa dimaklum, Nazhir
model seperti ini biasanya memiliki pandangan
keagamaan yang cenderung ortodok, atau kaku karena
kuatnya pengaruh mazhab.

52
b. Rendahnya kualitas Nazhir. Banyak pengelola wakaf itu
yang nggak punya kemampuan manajerial sehingga
benda wakaf nggak terurus. Seperti disebut di atas
bahwa Wakif memilih Nazhir hanya karena
berdasarkan kepercayaan tanpa mempedulikan
kemampuan Nazhir dalam pengelolaan wakaf. Tentu
kondisi Nazhir seperti itu terdapat andil juga karena
pilihan Wakif itu sendiri. Bagini ya, kenapa Wakif ikut
andil? Karena Wakif memiliki hak penuh untuk memilih
Nazhir.
c. Banyak Nazhir yang tidak memiliki komitmen dan
integritas yang kuat dalam membangun semangat
pemberdayaan wakaf untuk kesejahteraan umat.
Sedihnya, ada juga lho yang mengambil keuntungan
sepihak dengan menyewakan tanah wakaf untuk bisnis
demi kepentingan pribadi dan sengaja menjual kepada
pihak ketiga secara nggak sah. Intinya, banyak Nazhir
yang nakal dengan memanfaatkan secara sepihak.
Bahkan ada juga yang tega menjual tanah wakaf
kuburan untuk kepentingan memperkaya diri sendiri.
Emangnya nggak takut sama penghuninya kalau pada
bangun untuk meminta pertanggung jawaban? Kuburan
saja dijual, apalagi tanah wakaf biasa. Gawat deh!

B. The All New Product: Wakaf Produktif


Sebenarnya sih, kalau dilihat dari dasar pelaksanaannya,
dari sononya memang bisa dikatakan kalau pelaksanaan
perwakafan itu memang ditujukan untuk produktif agar
hasilnya dapat lebih optimal. Meskipun tidak semua aset

53
wakaf harus dibuat produktif, seperti masjid, musholla,
kuburan dan lain-lain. Namun, jika benda wakaf itu
memungkinkan untuk dikelola secara produktif, maka
seharusnya juga dikelola secara produktif. Untuk mengelola
wakaf secara produktif, terdapat beberapa asas yang
mendasarinya, yaitu:
a. Asas Keabadian Manfaat
Praktek pelaksanaan wakaf yang dianjurkan Nabi saw
yang dicontohkan oleh Umar bin Khattab ra dan diikuti oleh
beberapa sahabat Nabi yang lain menekankan sangat
pentingnya menahan keberadaan benda wakaf dan
diperintahkan untuk menyedekahkan hasil dari pengelolaan
benda wakaf tersebut. Dalam bahasa Arab seperti ini: ihbis
ashlaha wa tashaddaq tsamrataha.
Pemahaman yang paling mudah untuk dicerna dari
maksud Nabi tersebut adalah, prinsip dari ajaran wakaf itu
bukan hanya terletak pada pemeliharaan bendanya, tetapi
yang lebih penting adalah nilai manfaat dari benda tersebut
untuk kepentingan bersama. Di sini nih nilai produktifnya!
O ya, ada riwayat nih tentang Masjid Nabawi. Nggak
apa-apa kan 'jalan-jalan' dulu ke Madinah?
Rasulullah saw ingin membangun sebuah masjid di
tempat unta beliau berhenti pada saat kedatangan beliau
pertama kali di Madinah, yaitu di Mirbad, di sebidang tanah
milik dua anak yatim asuhan As'ad bin Zararah. Dua anak
yatim itu pinginnya memberikan gratis tanah itu untuk Nabi.
Buat nyari pahala saja sih niatnya. Tetapi Nabi berkeras
ingin membayarnya. Sementara para sahabat juga ingin
urunan/iuran untuk menebus tanah itu buat masjid Nabi.

54
O ya sebelum dibangun masjid, di situ ada beberapa
batang pohon kurma dan kuburan orang-orang musyrik.
Setelah tanah tersebut dibebaskan, Nabi memerintahkan
pemotongan pohon-pohon kurma dan kuburan yang di situ
diratakan dengan tanah.
Pohon-pohon kurma yang ditebang lalu dipasang
berjejer sebagai penanda kiblat (waktu itu masih mengarah
ke Masjid Baitul Maqdis). Mulai dari tempat kiblat hingga ke
Baitul Maqdis panjangnya seratus hasta. Begitu juga
samping kanan dan kirinya. Bagian kanan dan kirinya
diperkuat dengan batu dan untuk pemasangan fondasi
tanahnya digali sedalam tiga hasta. Kemudian dipasang batu
bata. Masjid selesai dibangun dalam bentuk sederhana.
Lantainya dari kerikil dan pasir, atapnya dari pelepah kurma.
Bila turun hujan, tanahnya berlumpur jeblok, dan banyak
binatang yang mondar-mandir di situ. Jorok kan?
Namun sekarang masjid tesebut jadi masjid termewah
di dunia karena sudah mengalami perbaikan dan
pembangunan secara bertahap.
Jadi masjid Nabawi diawali dari sebuah kesadaran
bersama dari Nabi saw dan para sahabat untuk beramal
jariyyah, yang kini sudah nggak ada lagi bentuk asalnya yang
sederhana.
Coba bayangkan kalau sampai sekarang masjid Nabawi
masih dengan bentuk aslinya. Pasti para jemaah haji males
banget deh shalat di situ biarpun dijanjikan pahala yang
sangat besar. Jadi sebenarnya yang penting bukan bangunan
aslinya, tapi kemanfaatannya yang abadi sampai sekarang,

55
sesuai dengan niat para Wakifnya, yaitu Nabi saw dan para
sahabatnya.
Apalagi sekarang sekitar Masjid Nabawi dikelilingi
oleh hotel, restoran, swalayan, ruko-ruko dan pusat bisnis
lainnya. Pokoke, antara masjid megah dengan pusat bisnis
menjadi satu lanskap yang utuh. Antara kepentingan akhirat
dan dunia menyatu dalam satu kesatuan yang apik, rapi yang
salaing mendukung.
Truss, bagaimana sih benda wakaf itu bisa dibilang
memiliki keabadian manfaat? Coba simak baik-baik di bawah
ini, yaitu:
1. Benda itu dapat dimanfaatkan/digunakan oleh orang
banyak. Jadi bukan hanya bisa dinikmati oleh seorang
saja, tetapi masyarakat banyak. Kalau benda yang
diwakafkan tidak dapat diambil manfaat, seperti
misalnya mewakafkan sebatang kayu yang tidak dapat
dimanfaatkan, maka sebaiknya nggak usah wakaf saja
lah!
2. Wakif dan penerima wakaf sama-sama berhak
memanfaatkan benda wakaf tersebut secara
berkesinambungan. Seorang Wakif juga boleh lho
mengambil manfaat dari apa yang diwakafkan, sama
seperti yang lain. Tentu ada catatan, Wakif jangan
merasa bahwa itu masih miliknya dan kemudian ngambil
manfaat seenaknya. Karena benda yang sudah
diwakafkan merupakan milik Allah atau umat Islam.
3. Nilai immateril nya juga banyak. Misalnya masjid nggak
hanya buat shalat saja, tapi ada minimarketnya,
perpustakaannya, sekolahnya, TPA-nya dll. Artinya

56
potensi nilai manfaatnya bisa lebih banyak dari pada
potensi nilai matrialnya.
4. Benda wakaf itu tidak menjadi mudharat bagi orang di
sekitarnya. Kalau ada Wakif yang mewakafkan tempat
hiburan, seperti bilyard misalnya, dan dalam
kenyataannya justru dijadikan tempat nongkrong, judi
atau pacaran, maka wakaf tempat bilyard itu tidak
memiliki keabadian manfaat. Oleh karena itu, wakaf
model ini yang cenderung tidak memberi manfaat atau
bahkan membuat madharat, seharusnya dihindari.
Masak, orang berwakaf diskotik misalnya yang justru
sebagai tempat maksiyat atau dosa.

b. Asas Pertanggungjawaban
Wakaf harus dipertanggungjawabkan, baik di dunia
maupun di akhirat kelak. Bentuknya adalah dengan
mengelolanya secara sungguh-sungguh dan semangat yang
didasarkan kepada:
1. Tanggung jawab kepada Allah swt atas perilaku dan
perbuatannya. Tanggung jawab kepada Tuhan adalah
tanggung jawab yang paling tinggi. Tentu muaranya ada
dalam hati, karena terkait dengan keyakinan. Jika
dirunut, tanggung jawab kepada Tuhan menjadi kunci
utama bagi seseorang atau lembaga dalam menjalankan
amanahnya. Jika tanggung jawab ini dipegang secara
konsisten, maka tidak akan mendapati masalah di
kemudian hari.
2. Tanggung jawab kepada pihak lembaga yang lebih
tinggi sesuai dengan jenjang organisasi ke-Nazhir-an.

57
Lembaga yang lebih tinggi misalnya adalah yayasan
atau organisasi induk yang menaungi Nazhir. Dalam
sistem organisasi vertikal, selalu ada model
pertanggung jawaban yang bersifat organisatoris, dan
Nazhir memiliki tugas untuk memberi pertanggung
jawaban.
3. Tanggung jawab hukum, yaitu tanggung jawab yang
dilakukan berdasarkan saluran-saluran dan ketentuan-
ketentuan hukum yang berlaku. Meski pengelolaan
wakaf itu independen, akan tetapi tidak biisa lepas
juga dari kontrol hukum yang berlaku di negeri ini.
Apalagi Undang-undang No. 41 Tahun 2004 tentang
Wakaf dengan tegas mengatur ketentuan pidana bagi
pihak-pihak yang menyalahgunakan wakaf. Sebagai
contoh lain adalah
4. Tanggung jawab sosial, yaitu tanggung jawab yang
terkait dengan moral masyarakat. Sebagai ibadah yang
terkait dengan kepentingan umat, Nazhir harus
mempertanggung jawabkan kepada masyarakat.
Sebaliknya, masyarakat memiliki hak untuk mengawasi
atas pengelolaan dan pengembangan wakaf. Kalau
masyarakat ingin mengetahui perkembangan wakaf
yang dikelola Nazhir, maka Nazhirnya jangan
tersinggung, merasa dicurigai lah atau merasa dimatai
lah. Jika Nazhirnya bekerja dengan baik dan jujur,
kenapa mesti takut atas pertanyaan atau kontrol
masyarakat?

58
c. Asas Profesionalitas Manajemen
Untuk mengelola dan mengembangkan harta wakaf,
satu hal perlu digarisbawahi adalah pentingnya
profesionalisme dalam pengelolaannya. Aspek
profesionalisme paling kurang mengikutii standar dari sifat-
sifat Nabi Muhammad saw, yaitu:
1. Amanah
Nazhirnya dapat dipercaya, baik dari segi pendidikan,
ketrampilan, job desc-nya jelas, hak dan kewajibannya jelas,
dan adanya standar operasi (SOP) yang juga jelas. Amanah
menyangkut aspek spiritualitas, juga aspek profesionalitas
yang didasarkan pada komitmen dan skill yang mumpuni.
Antara komitmen dan skill harus seiring, karena keduanya
saling mendukung. Lagian terjadi ketimpangan jika Nazhir
hanya memiliki komitmen, katakanlah akhlaknya baik, tetapi
skill-nya minim atau tidak ada sama sekali tidak bisa disebut
amanah. Sebaliknya, orang yang memiliki skill tetapi tidak
memiliki komitmen, juga jauh dari amanah.
2. Shiddiq
Nazhir harus jujur dalam menjalankan dan
menginformasikan programnya. Kejujuran adalah dasar dari
sebuah sikap amanah. Orang bisa dikatakan amanah jika
memiliki sifat jujur. Karena kejujuran merupakan cermin
dari pribadi profesional. Dapat dibayangkan, orang yang
mengaku profesional, tetapi dalam praktik kesehariannya
dia tidak jujur. Oleh karenanya, guyonan kalau jujur hancur,
itu tidak berlaku dalam pengelolaan wakaf.

59
3. Fathanah
Nazhir harus cerdas, kreatif dan inovatif dalam
mengelola wakaf. Yaitu kecerdasan yang tidak sekedar
intelektual, tetapi juga emosional, dan spiritual. Hal yang
paling penting adalah kecerdasan dalam penanganan masalah
(problem solving), ketika Nazhir menghadapi berbagai
masalah di lapangan. Demikian juga kecerdasan dalam
melihat dan menempung peluang dalam pemberdayaan dan
pengembangan wakaf di masa-masa mendatang.
4. Tabligh
Nazhir harus menyampaikan informasi programnya
dengan jelas dan transparan. Prinsip dari sifat tabligh
meliputi 3 hal pokok, yaitu: (1) transparans, (2) akuntable,
(3) aspiratif. Di negara demokrasi, ketiga hal pokok
tersebut menjadi instrumen penting sebagai wujud dari tata
pemerintahan yang baik. Demikian juga dalam sistem
keNazhiran. Transparan sebagai medium bagi terbukanya
informasi yang terkait dengan pelaksanaan program dan
pertanggung jawabannya. Akuntabel merupakan wujud dari
sportifitas Nazhir yang harus mempertanggung jawabkan.
Sedangkan aspiratif sebagai medium untuk menyerap
berbagai masukan dan keinginan masyarakat dalam
mengelola dan mengembangkan wakaf.

d. Asas Keadilan Sosial


Sebagai ibadah sosial, wakaf sangat kental dengan
dimensi keadilan. Adil dalam arti yang sangat luas, bukan
hanya dalam ranah umat Islam, tetapi juga untuk umat
Islam seluruh dunia.

60
Setidaknya terdapat 3 (tiga) tujuan, bahwa dalam
pengelolaan wakaf yang didasarkan pada asas keadilan
sosial, yaitu:
1. Asas keadilan sosial yang bersumber dari sari pati
keimanan menggambarkan bahwa semua manusia adalah
milik Allah, begitu juga alam ini.
2. Menggalakkan sistem pendistribusian kembali yang
lebih efektif dengan mengaitkannya kepada ridha
Allah swt. Wakaf adalah bukti bahwa orang yang lebih
mampu bersedia mendermakan sebagian hartanya
untuk berbagi dengan yang lain demi kesejahteraan
bersama.
3. Mendorong kewajiban berbuat adil dan saling
membantu. Srbagai makhluk sosial yang membutuhkan
kehadiran orang lain di luar diri kita, manusia harus
dapat lebih berbuat adil dan saling membantu dalam
kebaikan.
Nah kalau begitu, cocok deh sama paradigma baru
wakaf: pemberdayaan wakaf produktif.

C. Vacancy: Wakaf Produktif di Indonesia!


1. Konsep Wakaf yang Fleksibel
Di dalam Al Quran dan Hadits Nabi saw, hanya sedikit
kita temukan aturan tentang wakaf. Berbeda dengan zakat
yang lengkap banget. Makanya ajaran wakaf ini ditempatkan
dalam ajaran yang bersifat ijtihadi, yang lebih bisa bersifat
fleksibel.

61
Kamu tahu nggak yang dimaksud dengan ijtihadi itu?
Dalam kajian ushul fikih (filsafat fikih), dalil nash (al-Quran
dan al-Hadits) itu ada yang disebut taabbudi dan taaqquli
(ijtihady). Dalil taabbudi itu adalah dalil yang bersifat
semestinya yang memiliki hukum pasti dan harus
dilaksanakan oleh umat Islam, seperti dalil al-Quran tentang
perintah mendirikan sholat, membayar zakat, puasa, haji,
atau larangan menkonsumsi daging babi, dan seterusnya.
Perintah atau larangan itu tidak boleh dibantah dan harus
dikerjakan atau ditinggalkan.
Sedangkan dalil taaqquli (ijtihady) itu dalil yang
memberi peluang bagi interpretasi atau kajian lebih lanjut,
sehingga sifatnya fleksibel sesuai dengan perkembangan
zaman. Intinya, dalil al-Quran atau Hadts yang boleh
ditafsirkan atau dimaknai sesuai dengan kebutuhan jaman.
Namun, aturan tentang wakaf yang 'cuma sedikit',
bahkan dapat dikatakan tidak ada yang langsung menyebut
kata waqf tersebut bisa menjadi pedoman para ahli fikih.
Penafsiran ajaran tentang wakaf, dari waktu ke waktu terus
dinamis. Hasilnya, wakaf terus berkembang dari zaman
Khulafaur Rasyidin hingga sekarang. Karena fleksibel itulah,
wakaf bisa terus dan akan terus berkembang sampai nanti.
Termasuk juga di Indonesia.

2. Wakaf, Solusi Masalah Ekonomi!


Dalam beberapa bulan terakhir, pasar bursa Wall
Street, Amerika Serikat, rontok. Pasar modal dunia pun
terguncang dengan ambruknya berbagai saham unggulan.
Kita semua tahu, bahwa Amerika terkenal dengan nagara

62
besar yang makmur. Namun sekarang ada tanda-tanda krisis
ekonomi menghampirinya.
Tidak terkecuali, pasar saham di Bursa Efek Indonesia
(BEI) juga terseret tajam dalam keterpurukan. Para
investor panik, sehingga muncul kekhawatiran akan terjadi
krisis ekonomi global yang menakutkan. Kamu inget nggak
krisis ekonomi tahun 2008, yang menjadikan masyarakat
kita hidup serba susah.
Kalau kondisi ekonomi terus merosot, para investor
mulai menarik dananya secara besar-besaran, khususnya di
dalam negeri. Tahu sendiri kan, negara kita tergantung dari
investor! Kalau dah begitu, stabilitas ekonomi nasional akan
terguncang dengan semakin banyaknya PHK di berbagai
perusahaan.
Untuk di AS, menurut pengamat ekonomi, kondisi
ekonominya saat ini sedang mengalami puncak keterpurukan
ekonomi. Selama dalam beberapa dasawarsa, Amerika
menjadi penopang ekonomi dunia. Ke depan, ekonomi
Amerika diperkirakan akan hancur seiring dengan runtuhnya
sistem kapitalisme global yang sedang terjadi.
Nah, sekarang pertanyaannya, kenapa krisis ekonomi
global sekarang terjadi? Bukankah ekonomi dunia didukung
sangat kuat oleh kekuatan kapitalisme Barat yang kokoh?
Jawabannya adalah karena kapitalisme menganut doktrin:
Sistem bunga yang tidak jujur dan adil;
Sistem yang mengandalkan penumpukan modal;
Sistem penguasaan ekonomi pada orang kaya dan
penindasan pada ekonomi lemah;

63
Penguasaan politik kekuasaan dengan menghalalkan
segala cara.

Disamping praktik ekonomi kapitalisme dunia yang


secara prinsip memiliki kelemahan fundemantal karena
praktik ribawi, pembangunan ekonomi nasional juga
terancam. Kenapa? Karena Indonesia termasuk negara
penganut sistem kapitalisme dan lagi ditopang atas tiang-
tiang penyangga yang rapuh, seperti birokrasi yang rumit
dan belum transparan, kurangnya konsistensi kebijakan,
praktik KKN yang masih kuat dan lemahnya penegakan
hukum.
Jika tidak diantisipasi dengan tepat dan cepat, maka
krisis ekonomi nasional yang lebih dahsyat tidak dapat
dihindari. Bukan tidak mungkin, negeri kita akan semakin
terpuruk yang dapat mengancam eksistensi, martabat dan
harga diri bangsa.
So, di tengah ketidakpastian ekonomi dunia dan
ancaman terhadap krisis ekonomi nasional yang menghantui
stabilitas nasional, pemerintah berupaya mencari jalan
alternatif untuk mengantisipasi guncangan ekonomi dengan
membangun pondasi ekonomi kerakyatan yang memiliki basis
konsep dan praktik yang mandiri, adil, fair dan menjunjung
tinggi atas asas pemerataan kesejahteraan masyarakat yang
lebih terpercaya.
Salah satu jalan alternatif membangun pondasi dan
kekuatan ekonomi kerakyatan yang memiliki basis moral
adalah meningkatkan peran kelembagaan ekonomi wakaf,
selain tentu saja zakat. Ekonomi wakaf merupakan asset

64
tetap yang memiliki basis ideologis dalam Islam yang
bersifat tetap (abadi), yang dapat dikelola dan
dikembangkan secara optimal.
Dikaji dalam tinjauan sejarah, ekonomi wakaf
merupakan praktik ekonomi Islam yang genuine (asli) Islam.
Karena wataknya yang lebih menekankan pada pengelolaan
dan pengembangan komoditi dengan prinsip sosial yang
sangat kuat.
Secara konsepsional, praktik ekonomi Islam yang
mengedepankan pada keadilan, kejujuran, kepercayaan,
kerja sama, transparansi, tolong menolong dan sebagainya
telah menjadi ciri khas wakaf. Sehingga wakaf menjadi
salah satu tegaknya prinsip ekonomi Islam yang selayaknya
dikembangkan. Apalagi di saat gelombang resesi telah
melanda sistem ekonomi kapitalis yang mengancam
runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan, seperti yang sedang
terjadi di Amerika Serikat dan Uni Eropa.

3. Prospek Wakaf Produktif


Setelah kamu mengerti peluang ekonomi wakaf sebagai
jalan alternatif pasca-kapitalisme, kamu juga harus tahu
kekuatan yang dimiliki oleh wakaf. Setidaknya ada empat
kekuatan besar wakaf produktif yang dapat dijadikan
penopang untuk membangun kekuatan ekonomi masyarakat,
yaitu:
Kekuatan konsep
Seperti dijelaskan sebelumnya, secara konsepsi ajaran,
wakaf dilihat dari beberapa ayat al-Quran dan hadits Nabi

65
tidak ada secara eksplisit menyebut tentang ajaran wakaf.
Jika ada bersifat umum. Sehingga ajaran wakaf ini
diletakkan pada wilayah yang bersifat ijtihady, bukan
ta'abbudy, khususnya yang berkaitan dengan aspek
pengelolaan, jenis wakaf, syarat, peruntukan dan lain-lain.
Oleh karenanya, ketika suatu hukum (ajaran) Islam
yang masuk dalam wilayah ijtihadi, maka hal tersebut
menjadi sangat fleksibel, terbuka terhadap penafsiran-
penafsiran baru, dinamis, futuristik (berorientasi pada masa
depan.). Sehingga dengan demikian, ditinjau dari aspek
ajaran saja, wakaf merupakan sebuah potensi yang cukup
besar untuk bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan
zaman. Apalagi ajaran wakaf ini termasuk bagian dari
muamalah yang memiliki jangkauan yang sangat luas,
khususnya dalam pengembangan ekonomi lemah.
Ditinjau dari kekuatan hukum, ajaran wakaf merupakan
ajaran yang bersifat anjuran (sunnah), namun kekuatan yang
dimiliki sesungguhnya begitu besar sebagai tonggak
menjalankan roda kesejahteraan masyarakat banyak.
Sehingga dengan demikian, ajaran wakaf yang masuk dalam
wilayah ijtihadi, dengan sendirinya menjadi pendukung yang
bisa dikembangkan pengelolaannya secara optimal.
Kekuatan aset
Di Indonesia, perbuatan wakaf telah ada bersamaan
dengan lahirnya Islam itu sendiri. Secara umum, pelaksanaan
wakaf selama ini lebih banyak berupa harta benda tidak
bergerak, seperti tanah, bangunan dan tanaman.
Menurut data Departemen Agama, kekayaan tanah
wakaf umat Islam Indonesia yang sangat besar, yaitu seluas

66
1.566.672.406 m2 dengan 403.845 lokasi. Dari jumlah
tersebut sebanyak 75 % bersertifikat dan sekitar 10%
berlokasi strategis dan potensial untuk dikembangkan
secara ekonomi. Dilihat dari luasnya, tanah wakaf tersebut
menyamai atau setidaknya mendekati luasnya negeri
singapore. Tentu ini menjadi modal yang sangat penting dan
menjanjikan jika tanah-tanah tersebut dapat dikembangkan
secara produktif.
Jika diasumsikan secara kasar setiap /M2
menghasilkan us $10 pertahun, maka potensi tanah wakaf
produktif US $ 1,5 milyar (Rp. 15 triyun) per-tahun. Jumlah
dana yang sangat besar dan banyak hal yang dapat dilakukan
oleh umat Islam untuk mengembangkan potensi, memperkuat
daya tawar serta membangun peradaban yang maju. Dengan
kekayaan aset besar tersebut selayaknya wakaf dapat
bangkit dan menjadi pioner bagi bangkitnya ekonomi umat
yang saat ini sedang memprihatinkan.
Selain itu, aset wakaf berupa wakaf uang dapat
dibangun dan dikembangkan. Mustafa Edwin Nasution
pernah membuat perkiraan kasar bahwa jumlah penduduk
muslim kelas menengah di Indonesia sebanyak 10 juta jiwa
dengan penghasilan rata-rata antara 0,5 juta 10 juta per
bulan. Dan ini merupakan potensi yang besar. Bayangkan
misalnya warga yang berpenghasilan Rp 0,5 juta sebanyak 4
juta orang dan setiap tahun masing-masing berwakaf Rp 60
ribu. Maka setiap tahun akan terkumpul Rp 240 miliar.
Jika warga yang berpenghasilan 1-2 juta sebanyak 3
juta jiwa dan setiap tahun masing-masing berwakaf 120
ribu, maka akan terkumpul dana sebesar Rp 360 miliar. Jika
warga yang berpenghasilan 2-5 juta sebanyak 2 juta orang

67
dan setiap tahun masing-masing berwakaf Rp 600 ribu, akan
terkumpul dana Rp 1,2 trilyun. Dan jika warga
berpenghasilan Rp 5-10 juta berjumlah 1 juta orang dan
setiap tahun masing-masing berwakaf 1,2 juta, akan
terkumpul dana 1,2 trilyun. Jadi dana yang terkumpul
mencapai 3 trilyun setahun.
Hitungan itu jelas merupakan potensi yang sangat luar
biasa. Terutama jika dana itu diserahkan kepada pengelola
profesional dan oleh pengelola wakaf itu diinvestasikan di
sektor yang produktif. Dijamin jumlahnya tidak akan
berkurang, tapi bertambah bahkan bergulir. Misalnya saja
dana itu dititipkan di Bank Syariah yang katakanlah setiap
tahun diberikan bagi hasil sebesar 9%, maka pada akhir
tahun sudah ada dana segar 270 miliar. Tentunya akan
sangat banyak yang bisa dilakukan dengan dana sebanyak
itu.
Kekuatan sistem
Wakaf sebagai sebuah konsep ekonomi, sebenarnya
telah dijalankan dengan baik oleh umat Islam, bahkan pada
masa Rasulullah sendiri yang memberikan petunjuk kepada
Umar dalam pengelolaan wakaf. Dialog Rasulullah dengan
Umar bin Khattab terkait dengan tanah di Khaibar
(Madinah) dapat dijadikan spirit sistem pengelolaan wakaf
secara produktif. Ketika Rasulullah ditanya oleh Umar
tentang sebidang tanah di Khaibar yang sangat subur,
Rasulullah menjawab yang intinya: tahan pokoknya dan
sedekahkan hasilnya (ihbis ashlaha wa tashaddaq
tsamrataha).

68
Maksud dari dialog tersebut dapat dipahami bahwa
Rasulullah menginginkan agar sebidang tanah Umar tersebut
dikelola secara produktif dan hasilnya untuk kepentingan
kebajikan umum. Dialog itu mengandung pesan yang
menekankan pada aspek produktifitas dengan tetap
memperhatikan aspek kekekalan substansinya (dzatnya),
sehingga kemanfaatannya dapat terus dinikmati umat dan
berpahala mengalir abadi.
Nah, berdasarkan dialog Rasulullah-Umar tersebut,
seharusnya tidak ada istilah harta benda wakaf membebani
umat, karena prinsip dari wakaf itu sendiri sesungguhnya
untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat, baik pada
ranah spiritual maupun materiil.
Untuk mengimplementasikan sistem pengelolaan yang
diisyaratkan oleh Rasulullah, Ditjen Bimas Islam telah
memfasilitasi di berbagai event dalam rangka menggalang
kemitraan usaha dengan para calon investor seperti BKPM
dan KADIN di beberapa daerah dalam pemberdayaan wakaf
secara produktif. Aset-aset wakaf di Indonesia yang cukup
besar sangat potensial untuk dikembangkan dengan
mengajak beberapa lembaga pihak ketiga yang tertarik
dalam pengembangan wakaf untuk memaksimalkan peran
sosial-ekonomi wakaf untuk kesejahteraan umum.
Prinsip dari system kerja sama yang ingin
dikembangkan oleh Departemen Agama adalah prinsip
Syariah yang tidak bertentangan dengan paradigma
pengelolaan asset wakaf, yaitu menjaga keutuhan aset, dan
boleh mengembangkannya melalui berbagai pola dan system
sesuai dengan prinsip yang tidak bertentangan dengan
Syariah.

69
Harus diakui, pola pengelolaan dengan sistem itu
memiliki kelebihan karena tetap mementingkan eksistensi
aset. Hal ini seperti pola pengelolaan dana abadi, dimana
tidak boleh kurang asetnya dengan menekankan pada
produktifitas pengelolaan yang hasilnya untuk kepentingan
umum.
Kekuatan hukum
Sejak tahun 2004, wakaf telah memiliki Undang-
undang No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf dan pada tahun
2006 terbit Peraturan Pemerintah No. 42 tentang
Pelaksanaan Undang-undang No. 41 Tahun 2004 tentang
wakaf. Selain itu, saat ini sedang disusun Draft Peraturan
Menteri Agama tentang Petunjuk Pelaksanaan Wakaf di
Indonesia. Selain itu, terdapat beberapa Perda di beberapa
wilayah yang mendukung bagi pemberdayaan wakaf secara
produktif.
Dengan terbitnya peraturan perundang-undangan
tentang wakaf dan perautan pendukung lainnya, maka
pengelolaan dan pengembangan aset wakaf memiliki status
hukum yang kuat. Wakaf secara legal formal telah diatur
secara rinci dan jelas oleh Undang-undang, sehingga wakaf
selayaknya mendapat perhatian yang lebih baik.
Jadi, nunggu apa lagi?

D. Good Example Design: Pemberdayaan Tanah Wakaf


Produktif

70
Tanah-tanah wakaf produktif strategis yang sudah
didata oleh Departemen Agama RI di seluruh Indonesia bisa
diberdayakan secara maksimal dengan bentuk:
1. Aset wakaf yang menghasilkan produk barang atau
jasa
Hal ini harus ditunjang oleh pihak Nazhir (pengelola)
yang memiliki dana cukup. Kalau tidak, tentu harus
bekerjasama dengan pihak ketiga untuk mengembangkan
lebih jauh.
Beberapa proyek wakaf yang dapat dijadikan sebagai
contoh bagi pengembangan wakaf yang menghasilkan barang
dan jasa adalah proyek percontohan wakaf produktif yang
dilaksanakan oleh Departemen Agama.
Proyek percontohan wakaf produktif yang dapat
dikatakan berhasil adalah: (1) Yayasan al-Khairat, Palu,
Sulawesi Tengah, yang mendirikan pasar swalayan. (2)
Yayasan Muslin Kota pekalongan yang mendirikan bangunan
berupa hotel Syariah, lembaga pendidikan, tempat kuliner
dan masjid. (3) Yayasan Masjid Lasem, Rembang Jateng
yang mendirikan swalayan dan wisata agama, (4) Nazhir
wakaf di Jembrana Bali yang membangun rumah kost
muslim, dan lain sebagainya.
Aset-aset wakaf yang memiliki potensi ekonomi, sudah
saatnya untuk dikembangkan. Namun tentu saja diperlukan
para pengelola yang profesional dan amanah.
2. Aset wakaf yang berbentuk investasi usaha
Aset wakaf ini adalah kekayaan lembaga Nazhir hasil
pengelolaan usaha produk barang atau jasa yang sukses,

71
untuk kemudian dikembangkan melalui investasi kepada
pihak ketiga atau lembaga Nazhir wakaf yang lain. Bentuk
investasi usaha yang akan dilakukan harus memenuhi standar
syariah yaitu:
a. Akad Musyarakah
Akad ini merupakan bentuk partisipasi usaha yang
melibatkan dua pihak atau lebih (termasuk Nazhir) dalam
sebuah bentuk usaha dengan modal patungan dan pembagian
keuntungan sesuai kesepakatan. Kalau ternyata rugi, semua
pihak harus ikut menanggung kerugian sesuai persentase
besar modal yang dia tanamkan.
Pihak-pihak tersebut dapat ikut serta, mewakilkan,
atau membatalkan haknya dalam pengelolaan usaha
tersebut. Modal yang diikutsertakan dapat berupa uang
atau harta benda yang dinilai dengan uang.
Namun karena terkait dengan aset nggak boleh
berkurang, maka dalam pelaksanaan usahanya harus
mengasuransikan kepada asuransi syariah. Asuransi ini
merupakan keharusan agar aset wakaf tidak berkurang atau
hilang ketika usaha terjadi kerugian.
b. Akad Mudlarabah
Suatu bentuk akad dimana modal seluruhnya berasal
dari pemilik modal, diserahkan kepada pihak pengelola.
Pemilik modal tidak ikut serta dalam manajemen pengelolaan
usaha. Jika terjadi kerugian, yang menanggung kerugian
materil hanya si penanam modal. Sedangkan pengelola hanya
menanggung kerugian waktu dan tenaga serta tidak
memperoleh keuntungan apapun.

72
Semua hasil usaha harus dimanfaatkan untuk
kesejahteraan rakyat banyak, dalam bentuk:
1. Asset yang dapat langsung dinikmati manfaatnya oleh
masyarakat, misalnya sekolah, rumah sakit, panti
asuhan dll.
2. Asset berupa investasi SDM dan kebudayaan jangka
panjang, misalnya pemberian beasiswa untuk kuliah,
perpustakaan, pembiayaan riset, pelayanan kesehatan
untuk duafa, penyediaan SDM dalam bidang kesehatan
seperti tenaga dokter, dll.

Lalu apa yang harus dilakukan?


1. Menangkap peluang usaha pemberdayaan tanah wakaf
produktif, ada beberapa pertanyaan yang harus dikaji
oleh para Nazhir:
a. Apakah ada peluang usaha produktif yang
memungkinkan dijalankan di lokasi tersebut?
b. Apakah sudah faham benar liku-liku usaha yang
akan dijalankan?
c. Apakah ada kompetitor dan calon kompetitor yang
sudah dikenal di situ?
d. Seberapa besar pasarnya?
e. Apakah ada suppliernya?
f. Apakah sudah faham teknik pembuatan
barangnya?

73
g. Seberapa banyak modal yang sudah ada dan perlu
nggak ada tambahan lagi?
h. Bagaimana cara mendapatkan tenaga kerja?
i. Apakah sudah faham tentang peralatan dan
teknologi yang diperlukan?
j. Apakah sudah faham tentang seluk beluk
peraturan yang berhubungan dengan usaha
tersebut?

2. Mulai deh usahanya. Ada lima tahap yang wajib


dilakukan nih:
a. memilih peluang usaha dan jenis bidang usaha
b. mendirikan/membentuk badan usaha
c. mempersiapkan kegiatan usaha
d. merencanakan kegiatan usaha
e. mulai deh usahanya dan melakukan strategi-
strategi pengembangan.

Strategi Pengembangan
Bagaimana caranya ya agar strategi pengembangan
wakaf dapat tercapai? Ada beberapa langkah yang dapat
ditempuh untuk mengembangkan wakaf secara produktif:
Pertama, pemetaan potensi ekonomi. Sebelum
pemberdayaan wakaf dilakukan, pemetaan potensi ekonomi
harus dibuat terlebih dahulu. Sejauh mana dan seberapa

74
mungkin benda wakaf itu dapat diberdayakan dan
dikembangkan secara produktif? Faktor-faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam pemetaan potensi ekonomi adalah
letak geografis benda wakaf (jika berupa tanah), seberapa
besar dukungan masyarakat dan tokohnya, bagaimana
peluang pasarnya, serta dukungan teknologi apa yang
tersedia.
Kedua, melakukan studi kelayakan usaha. Studi
kelayakan usaha dibuat berdasarkan analisis SWOT
(Strength, Weakness, Opportunity and Thread). Metode
SWOT ini untuk menjajagi tentang kekuatan, kelemahan,
peluang dan ancaman terhadap upaya pemberdayaan wakaf
produktif.
Ketiga, membuat proposal pemberdayaan. Isi proposal
tersebut paling tidak memuat beberapa hal, yaitu: latar
belakang, aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan
teknologis, aspek organisasi dan manajemen, aspek ekonomi
dan keuangan (biaya investasi, biaya operasi dan
pemeliharaan, sumber pembiayaan, perkiraan pendapatan,
analisis kriteria investasi, break even point dan pay back
period, proyeksi laba-rugi dan lairan kas), serta kesimpulan
dan rekomendasi.
Keempat, menjalin kemitraan usaha. Menjalin
kemitraan usaha atau mencari investor adalah langkah
strategis jika Nazhir tidak memiliki kemampuan finansial.
Profil dan performance mitra usaha harus diperhatikan
karena sangat menentukan bagi sukses tidaknya usaha yang
akan dilakukan. Karena banyak mitra usaha yang hanya
mengandalkan modal besar, tetapi tidak memiliki etika
bisnis yang baik. Beberapa contoh mitra usaha yang dapat

75
dipertimbangkan, yaitu Islamic Development Bank (IDB),
perbankan Syariah dan unit usaha swasta lainnya.
Kelima, menyiapkan SDM berkualitas. Menyiapkan
SDM yang amanah dan professional adalah prasyarat mutlak
dalam pemberdayaan wakaf produktif. Komposisi SDM yang
dilibatkan harus sesuai dengan porsi usaha yang akan
dilakukan dengan kualifikasi tertentu. Jika Nazhir tidak
memiliki kemampuan yang baik dalam pengeloaan wakaf
secara langsung, maka Nazhir harus mempercayakan kepada
SDM yang memiliki komitmen, kualitas dan moralitas tinggi.
Keenam, mengelola dengan manajemen amanah dan
professional. Pemberdayaan wakaf produktif harus dikelola
dengan manajerial amanah, modern, transparan, dan
akuntabel. Modal kepercayaan yang tinggi tanpa dibarengi
kemampuan mengorganisir usaha, tidak akan memperoleh
hasil yang baik. Pola pengelolaannya harus mengacu pada
profesionalisme yang mengimbangi perkembangan dunia
usaha masa kini, termasuk menerapkan sistem kontrol dan
pengawasan yang baik untuk menghindari terjadinya
penyelewengan dan penyelahgunaan wakaf.

76
BAGIAN KEEMPAT
Introducing: Cash Waqf (Wakaf Uang)

Karena sifat ajarannya yang fleksibel dan terbuka bagi


pemahaman, salah satu konsep wakaf yang saat ini sedang
trend dan terkait dengan perkembangan ilmu tentang
moneter dan perbankan adalah wakaf uang. Wakaf uang
dipopulerkan oleh ahli ekonomi Bangladesh, Prof.
MA Mannan tentang cash waqf (wakaf uang).
Cash waqf diterjemahkan sebagai wakaf tunai. Tapi
kalau melihat objeknya, yaitu uang, kayaknya lebih tepat
disebut wakaf uang deh.
Dalam konsep tersebut, wakaf bisa menjadi sumber
dana tunai. Keuntungan praktisnya adalah orang yang
berwakaf nggak perlu harus menjadi orang kaya terlebih
dahulu. Karena uang sifatnya fleksibel.
Dalam pelaksanaannya, wakaf uang dapat dilakukan
sesuai dengan kemampuannya melalui satuan berupa
sertifikat wakaf uang. Wakaf uang diformulasikan dalam
beberapa besaran donasi wakaf, seperti misalnya Rp.
10.000,-, Rp. 50.000,-, Rp. 100.000,-, Rp. 1.000.000,-, Rp.
10.000.000,- dan seterusnya. Bisa datang ke Lembaga
Keuangan Syariah (LKS) atau cukup dengan ATM atau phone
banking yang sudah online melayani wakaf uang. Mudahkan?
Selain itu, bentuk wakaf bisa berwujud harta lancar
yang penggunaannya sangat fleksibel sehingga bisa jadi
modal finansial yang disimpan di bank-bank atau lembaga
keuangan.

77
Adapun wakaf uang didefinisikan sebagai wakaf yang
dilakukan oleh seseorang, kelompok orang, lembaga, dan
atau badan hukum dalam bentuk uang tunai. Hukumnya telah
lama menjadi perhatian para fuqaha. Beberapa sumber
menyebutkan bahwa wakaf uang telah dipraktekkan oleh
masyarakat penganut madzhab Hanafi.
Ada satu hal yang perlu diterangkan disini bahwa yang
dimaksud dengan wakaf tunai (uang) bukan semua hal yang
berbau uang. Sebagai contoh, misalnya ada pengurus masjid
yang mengumumkan akan merenovasi masjid. Kemudian
pengurus mengumumkan: barang siapa yang ingin wakaf uang,
akan dibelikan semen, genteng, keramik dan lain-lain.
Nah, contoh pengumpulan uang yang akan dibelikan
bahan bangunan itu bukan wakaf uang yang dimaksud dalam
pengertian peraturan perundang-undangan wakaf. Tapi,
wakaf semen, genteng, keramik dll melalui uang yang akan
dibelikan barang tersebut oleh pengurus masjid. Sekali lagi
bukan wakaf uang! Karena wakaf uang itu pola
pengelolaannya harus diinvestasikan bidang Syariah atau
produk-produk Syariah.
Trus yang dimaksud dengan investasi di bidang
Syariah atau produk-produk Syariah apa ya? Itu mah ada
lagi dalam sistem perbankan Syariah. Kamu bisa tanya kok di
bank Syariah. Nah kalau produk-produk Syariah itu dalam
pengelolaannya harus dijaminkan ke asuransi Syariah.
Maksudnya, jika dalam perjalanan pengelolaan wakaf
uangnya lost atau rugi, bisa diganti atau dicover oleh
asuransi. Tentu asuransi Syariah lho!

78
Dasar dibolehkannya wakaf tunai (uang) itu didasarkan
pada firman Allah swt dalam QS Ali Imran (3):92, Al
Baqarah (2):261, Hadits Nabi saw tentang amalan yang tak
putus dan kisah Umar ra mewakafkan tanahnya di Khaibar.
Secara khusus, para ulama juga berpendapat tentang
wakaf tunai ini. Selain madzhab Hanafi, sebagian ulama
madzhab Syafii juga membolehkannya.
Abu Tsaur meriwayatkan dari Imam Syafii, tentang
dibolehkannya wakaf dinar dan dirham (uang).
Komisi fatwa MUI juga membolehkan wakaf uang,
dengan dikeluarkannya fatwa tanggal 11 Mei 2002.
Argumentasinya didasarkan kepada Hadits Ibnu Umar yang
sudah kita bahas di bab terdahulu. Komisi fatwa MUI juga
merumuskan definisi (baru) tentang wakaf, yaitu:
Menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap
bendanya atau pokoknya, dengan cara tidak melakukan
tindakan hukum terhadap benda tersebut (menjual,
memberikan, menjaminkan atau mewariskannya) untuk
disalurkan (hasilnya) pada sesuatu yang mubah (tidak
haram).
Dari syarat yang dibebankan kepada Wakif, nggak
disebutkan kalau harta yang akan diwakafkan itu harus
sejumlah tertentu (kayak zakat). Maka sebenarnya, siapa
saja bisa dan boleh menjadi Wakif. Dana wakaf, terutama
wakaf uang, dapat dihimpun dari para Wakif yang nggak
terbatas. Semua bisa jadi Wakif. Kamu juga bisa lho.
Sementara itu, Bank Indonesia menyodorkan definisi
wakaf uang sebagai penyerahan aset wakaf berupa uang
tunai yang tidak dapat dipindahtangankan dan dibekukan

79
selain untuk kepentingan umum yang tidak mengurangi
ataupun menghilangkan jumlah pokoknya.
Karena itu, perbankan syariah dapat menghimpun dana
dari seluruh masyarakat yang ingin berwakaf dengan
menerbitkan Sertifikat Wakaf Tunai. Penerbitan Sertifikat
ini akan membuka peluang penggalangan dana yang cukup
besar karena:
a. Lingkup sasaran Wakif bisa sangat lebih luas
ketimbang wakaf biasa. Maksudnya, untuk berwakaf
tidak harus menunggu menunggu jadi orang kaya dulu
atau juragan tanah, tetapi dengan memiliki 10 ribu
misalnya, kamu juga bisa berwakaf. Dengan wakaf
uang, semua kalangan dapat melaksanakan amal sosial
wakaf.
b. Sertifikat Wakaf Tunai dapat dibuat dalam berbagai
macam pecahan yang sesuai dengan kemampuan dan
keinginan Wakif yang dituju. Misalnya ada pecahan Rp
10.000, Rp 25.000 dan seterusnya.
Dana wakaf tunai bisa didapat juga dari muslim kelas
menengah (berpendapatan Rp 500.000-Rp
10.000.000/bulan). Mereka selama ini lebih menyukai
beramal di sektor tradisional, misal nyumbang ke masjid,
rumah yatim piatu, duafa dll.
Nah jika ada lembaga wakaf yang profesional, hal ini
bakal jadi lahan baru bagi mereka. Mereka ini kan semangat
beramalnya tinggi lho.
Dari asumsi wakaf tunai dari masyarakat muslim kelas
menengah saja bisa didapat dana kira-kira 3 trilyun

80
pertahun. Belum lagi kalau lembaga-lembaga ekonomi lain
ikutan juga.
Mobilisasi dana wakaf tunai ini dapat digunakan untuk
meningkatkan efisiensi kegiatan ekonomi yang ada. Sudah
bukan rahasia lagi deh, kalau yang namanya pajak juga nggak
efektif-efektif amat.
Dana wakaf tunai juga bisa diperoleh dari Usaha Kecil,
Menengah dan Koperasi (UKMK). Tokoh UKMK, Adi Sasono,
mengungkapkan, kalau pemerintah mau memberdayakan
kegiatan UKMK, maka kegiatan tersebut akan mampu
meningkatkan penerimaan dari pajak sebesar Rp 400 trilyun.
Jika 2,5% saja dari total itu dialihkan ke bentuk wakaf
tunai, maka akan terkumpul dana dari sektor ini melalui
wakaf tunai sebesar Rp 10 trilyun saja. Ck ck ck... luar biasa
bukan?
Jadi potensi dana wakaf tunai yang dapat dihimpun
dari masyarakat melalui lembaga wakaf profesional sangat
besar jumlahnya. Nah penting banget kan untuk segera
direalisasikan.
Dana segede itu harus dimanfaatkan secara produktif
agar dapat dinikmati hasilnya oleh seluruh masyarakat luas,
sehingga tercipta kesejahteraan lahir dan batin. Dana itu
harus selalu ada hingga akhir zaman, sehingga terus
memberi manfaat bagi masyarakat dan pahala si Wakif.
Dapat dibayangkan betapa besar dana wakaf yang akan
terkumpul secara kumulatif dari tahun ke tahun yang bisa
dijadikan sebagai Modal Sosial Abadi.

81
A. Wakaf Tunai dan Pembangunan Ekonomi
(Kamu juga terlibat dan kena dampaknya lho)

a. Membuka Kebuntuan Wakaf


Dari pengamalan wakaf, selama ini tercipta image
wakaf itu adalah: umumnya berwujud benda tidak bergerak,
terutama tanah, di atas tanah itu biasanya didirikan masjid,
madrasah, kuburan dan penggunaannya didasarkan atas
wasiat Wakif. Selain itu ada penafsiran bahwa harta wakaf
nggak boleh diperjualbelikan. Sehingga bank-bank nggak
mau menerima jaminan berupa tanah wakaf, karena dianggap
bukan hak milik, melainkan hanya hak pakai.
Padahal kalau dana wakaf itu diputar di bank syariah,
misalnya, bisa banyak banget pihak (termasuk ormas kayak
NU, Muhammadiyah dll) yang bisa mengambil manfaatnya
demi kemaslahatan umat.
Namun seiring dengan berkembangnya sistem ekonomi
syariah, wakaf juga mengalami perkembangan. Sistem
ekonomi syariah dianggap sebagai sistem ekonomi alternatif
untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, diantara
sistem ekonomi konvensional, kapitalis, dan sosialis yang
nyata-nyata sudah gagal menjawab permasalahan ekonomi
rakyat.
Sistem ekonomi kapitalis gagal mewujudkan
masyarakat adil sejahtera. Karena sistem itu lebih
mengutamakan si pemilik modal kuat ketimbang si lemah.
Yang terjadi malah persaingan bebas yang timpang.

82
Sistem ekonomi sosialis awalnya kelihatan menjanjikan.
Karena kelihatannya menjanjikan keadilan dan pemerataan
bagi seluruh rakyat. Dalam sistem ekonomi ini negara sangat
memegang peran penting. Namun dalam prakteknya, sistem
ini tak lebih dari memperkaya penguasa negara beserta
partai-partai yang berkuasa. Rakyat mah tetap menderita.
Intinya, sistem ekonomi sosialis telah digilas oleh
sistem ekonomi kapitalis. Dunia sekarang ini dikontrol oleh
sistem kapitalis. Namun coba kamu lihat sekarang!
Pada awal bulan Oktober 2008, bursa ekonomi
Amerika Serikat, diguncang dengan jatuhnya berbagai
saham unggulan. Tidak hanya di Amerika, semua negara maju
di Eropa terkena imbas. Pemimpin dunia panik akan adanya
ancaman resesi ekonomi dunia yang menakutkan. Negara
kita? Sami mawon, alias sama saja!
Kalau dilihat dari berbagai indikasinya, sistem ekonomi
kapitalis saat ini, sedang menuju kehancuran. Ya hancurnya
sebuah harapan kesejahteraan karena dibangun atas pondasi
riba. Semua hal yang berbau ekonomi, dibuat sistem yang
terkait akan riba, atai istilah ngetopnya disebut sistem
ribawi. Bahkan oleh kaum kapitalis yang ngepos di Amerika
Serikat, konon, ingin menciptakan negara tanpa uang.
Sekarang sudah mulai terlihat tandanya seperti kartu
kredit, ATM, asuransi dan lain sebagainya.
Sementara sistem ekonomi Islam bukan hanya
menekankan pada ketersediaan barang-barang (sumber daya
alam) di pasar, namun juga faktor manusianya. Sistem
ekonomi syariah tidak hanya berorientasi kepada manusia,
namun juga memiliki orientasi ilahiyah.

83
Saat ini negara-negara Islam sebenarnya dalam
keadaan yang cukup baik, karena memiliki modal sumber
daya alam dan juga konsep Islami untuk menata kehidupan
manusianya. Konsep Islami tidak hanya bicara sosio ekonomi
dan sosio politik, tapi bicara semua aspek kehidupan.
Maka itu kembali kepada sistem Islami sifatnya wajib
banget deh. Termasuk kembali ke sistem ekonomi syariat
Islam, misalnya dengan mengembangkan wakaf ini lho.
Karena sistem ekonomi Islam melalui wakaf menekankan
pada aspek kesejahteraan bersama dengan asas keadilan,
kejujuran dan keterbukaan.

b. Wakaf Tunai dan Pemberdayaan Ekonomi


Tujuan utama diinvestasikannya dana wakaf adalah
untuk mengoptimalkan fungsi harta wakaf sebagai sarana
meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan sumber daya
manusia. Menurut salah seorang ahli ekonomi Islam, Monzer
Kahf, gagasan untuk menginvestasikan dana wakaf, misalnya
untuk mengkonstruksikan (membangun) harta bergerak yang
diwakafkan atau untuk meninggalkan modal harta tetap
wakaf tidak dibahas dalam fikih klasik. Kahf membedakan
model investasi wakaf ke dalam dua bentuk: model
pembiayaan harta wakaf tradisional dan model pembiayaan
secara institusional.
Model pembiayaan harta wakaf tradisional

Terdapat lima model pembiayaan harta wakaf


tradisional yaitu:

84
1. Pinjaman
Digunakan untuk pembiayaan operasional dan
pemeliharaan harta wakaf. Sebelum dipinjam, harta
wakaf ini harus disetujui oleh dewan pengawas.
2. Hukr (kontrak sewa jangka panjang dengan
pembayaran lump sum yang cukup besar di muka)
Nazhir dapat menjual hak dari harta wakaf dengan
cara disewakan dalam jangka waktu yang lama, dan
hasil sewa harta wakaf itu dimanfaatkan sesuai dengan
tujuan wakaf.
3. Ijaratain (sewa dalam waktu lama)
Bedanya dengan Hukr, Hukr hanya digunakan untuk
biaya pemeliharaan harta wakaf, sedangkan ijaratain
hasil sewanya dapat dimanfaatkan sesuai dengan
kesepakatan sebagaimana tercantum dalam kontrak.
4. Penambahan harta wakaf baru.
5. Model substitusi yaitu pertukaran harta wakaf yang
satu dengan yang lain.

Model pembiayaan harta wakaf secara institusional


Harta wakaf dapat diinvestasikan untuk membiayai
proyek-proyek tertentu yang menguntungkan. Yang harus
diperhatikan adalah harus tetap berpegang teguh pada
prinsip-prinsip investasi Islami yaitu bagi hasil, resiko, jual
beli dan sewa.
Untuk wakaf berupa harta nggak bergerak seperti
tanah dan bangunan, bisa diterima sebagai jaminan oleh

85
bank syariah dalam rangka pengembangan harta wakaf yang
lain. Sedangkan kalau berbentuk wakaf tunai, pihak bank
bisa langsung mengelola, mengembangkan dan menyalurkan
dana wakaf yang dipercayakan kepada mereka.

c. Wakaf Tunai sebagai Dana Publik


Untuk menjadikan wakaf tunai bermanfaat sebagai
dana publik, dibutuhkan peran lembaga pengelola wakaf
tunai yang kriterianya adalah sebagai berikut:
1. Memiliki akses yang baik kepada calon Wakif.
2. Memiliki kemampuan menginvestasikan dana wakaf.
3. Mampu mendistribusikan hasil keuntungan dari
investasi dana wakaf.
4. Mampu membukukan segala hal yang berhubungan
dengan beneficiary, misalnya rekening dan
peruntukkannya.
5. Dipercaya masyarakat dan kinerjanya dikontrol dengan
perundang-undangan yang berlaku.

Lembaga yang dimaksud, tentu saja, lembaga


profesional yang amanah, seperti lembaga keuangan syariah,
termasuk bank Syariah yang sekarang pertumbuhannya juga
bagus banget. Apalagi gara-gara krisis finansial dunia yang
hampir pingsan, sehingga bank Syariah menjadi alternatif
yang dapat diandalkan.
Bagaimana pelaksanaan wakaf tunai di Indonesia?
Menurut Undang-undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf

86
dan Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2006 tentang
Pelaksanaannya, operasionalisasi wakaf uang dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Wakaf uang yang dapat diwakafkan adalah mata uang
rupiah. Jika masih dalam mata uang asing, maka harus
dikonversi (ditukar) terlebih dahulu ke dalam rupiah.
Makanya jangan kebanyak dollar ya, lagian supaya ada
sikap nasionalis gitu.
2. Wakif yang akan mewakafkan uangnya diwajibkan
untuk: (1) hadir di Lembaga Keuangan Syariah
Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) untuk menyatakan
kehendak wakaf uangnya; (2) menjelaskan kepemilikan
dan asal-usul uang yang akan diwakafkan; menyetorkan
secara tunai sejumlah uang ke LKS-PWU; (3) mengisi
formulir pernyataan kehendak Wakif yang berfungsi
sebagai AIW. (4) Dalam hal Wakif tidak dapat hadir
maka Wakif dapat menunjuk wakil atau kuasanya.
3. Wakif mewakafkan uang melalui LKS yang ditunjuk
oleh Menteri sebagai LKS Penerima Wakaf Uang (LKS-
PWU). Persyaratan LKS-PWU adalah sebagai berikut:
(1) menyampaikan permohonan secara tertulis kepada
Menteri; (2) melampirkan anggaran dasar dan
pengesahan sebagai badan hukum; (3) memiliki kantor
operasional di wilayah Republik Indonesia; (4)
bergerak di bidang keuangan syariah; dan (5) memiliki
fungsi menerima titipan (wadiah).
4. Tugas-tugas LKS-PWU bertugas: (1) mengumumkan
kepada publik atas keberadaannya sebagai LKS
Penerima Wakaf Uang; (2) menyediakan blangko

87
Sertifikat Wakaf Uang; (3) menerima secara tunai
wakaf uang dari Wakif atas nama Nazhir; (4)
menempatkan uang wakaf ke dalam rekening titipan
(wadiah) atas nama Nazhir yang ditunjuk Wakif; (5)
menerima pernyataan kehendak Wakif yang dituangkan
secara tertulis dalam formulir pernyataan kehendak
Wakif; (6) menerbitkan Sertifikat Wakaf Uang serta
menyerahkan sertifikat tersebut kepada Wakif dan
menyerahkan tembusan sertifikat kepada Nazhir yang
ditunjuk oleh Wakif; dan (7) mendaftarkan wakaf uang
kepada Menteri atas nama Nazhir.
5. Wakaf uang untuk jangka waktu tertentu, maka pada
saat jangka waktu tersebut berakhir, Nazhir wajib
mengembalikan jumlah pokok wakaf uang kepada Wakif
atau ahli waris/penerus haknya melalui LKS-PWU.
6. Pengelolaan dan pengembangan atas harta benda wakaf
uang hanya dapat dilakukan melalui investasi pada
produk-produk LKS dan/atau instrumen keuangan
syariah.
7. Dalam hal LKS-PWU menerima wakaf uang untuk
jangka waktu tertentu, maka Nazhir hanya dapat
melakukan pengelolaan dan pengembangan harta benda
wakaf uang pada LKS-PWU dimaksud.
8. Pengelolaan dan pengembangan atas harta benda wakaf
uang yang dilakukan pada bank syariah harus mengikuti
program lembaga penjamin simpanan sesuai dengan
Peraturan Perundang-undangan.
9. Pengelolaan dan pengembangan atas harta benda wakaf
uang yang dilakukan dalam bentuk investasi di luar

88
bank syariah harus diasuransikan pada asuransi
syariah.

Seperti yang dilaksanakan di Bangladesh, pelaksanaan


wakaf tunai dilakukan untuk memenuhi target investasi,
sedikitnya empat bidang yaitu:
1. Kemanfaatan bagi kesejahteraan pribadi dunia
akhirat.
2. Kemanfaatan bagi kesejahteraan keluarga dunia
akhirat.
3. Pembangunan sosial.
4. Membangun masyarakat sejahtera.
Tuh kan, ternyata gampang ya buat menjadi Wakif.
Apalagi dengan adanya Sertifikat Wakaf tunai ini. Tertarik
kan?

B. Gimana sih Mengelola Wakaf Tunai?


a. Sistem Mobilisasi Dana Wakaf
Indonesia boleh tuh mencontoh dari Bangladesh yang
sukses banget memobilisasi dana wakafnya lewat SIBL. Nah
sekarang Indonesia sudah punya peraturan perundang-
undangan yang mengatur tentang wakaf uang. So, yang bisa
mewakafkan uangnya diharapkan makin banyak. Modal yang
terhimpun harusnya juga lebih banyak.

89
Wakaf tunai sangat potensial menjadi sumber
pendanaan abadi yang bisa melepaskan bangsa dari jerat
hutang dan ketergantungan terhadap luar negeri.
Selain itu dia juga sangat strategis dalam menciptakan
lapangan pekerjaan dan mengurangi tingkat pengangguran
dalam aktivitas produksi yang selektif sesuai kaidah syariah
dan kemaslahatan.
Karena itu sudah waktunya kita memberi perhatian
lebih kepada wakaf tunai untuk membiayai berbagai proyek
sosial melalui pemberdayaan wakaf benda tak bergerak yang
selama ini jadi beban. Atau bisa juga melalui penyaluran
kepada lembaga-lembaga pemberdayaan ekonomi.

b. Pengelolaan Dana dan Pembiayaan


Untuk menjamin kelanggengan harta wakaf agar dapat
terus memberikan manfaat abadi sesuai dengan tujuannya,
diperlukan dana pemeliharaan di atas biaya-biaya yang telah
dikeluarkan. Hal ini berlaku pada proyek penyedia jasa dan
proyek penghasil pendapatan. Sehingga pada proyek
penyedia jasa pun disyaratkan menghasilkan pendapatan
untuk menutup biaya pemeliharaan. Dalam konteks wakaf,
maka pembiayaan proyek wakaf ditujukan untuk
mengoptimalkan fungsi harta wakaf sebagai prasarana untuk
meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan sumber daya
manusia.
Ide Monzer Kahf untuk membedakan pembiayaan
proyek wakaf ke dalam model pembiayaan harta wakaf
tradisional dan model pembiayaan baru harta wakaf secara

90
institusional yang sudah kita bahas sebelumnya, bisa
dipraktekkan.

C. Masa Depan Cerah Menunggu!


Hasil pengelolaan dana wakaf tunai (uang) ternyata
nggak hanya untuk pengembangan rumah ibadah saja. Untuk
kepentingan kesejahteraan masyarakat umum, dana
tersebut bisa juga lho digunakan untuk bidang-bidang
pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pengembangan
UKM.
Sesuai peraturan perundangan wakaf yang kita miliki,
wakaf tunai (uang) dapat dimanfaatkan setelah dikelola
melalui instrumen investasi Syariah atau produk-produk
Syariah. Jadi, hasil pengumpulan dana wakaf tunai tidak
boleh langsung dipergunakan, tetapi harus melalui proses
pengelolaan terlebih dahulu.
Adapun hasil dari pengelolaan wakaf tunai yang
menjanjikan itu dapat digunakan untuk hal-hal sebagai
berikut:

Pendidikan
Dari segi anggaran negara, pendidikan kita masih jauh
dari ideal. Jika dibandingkan dengan anggaran pendidikan
negara-negara maju yang mencapai 7% dari Gross National
Project (GDP), negara-negara berkembang sangat jauh,
yaitu hanya 2,5% saja. Yang menyedihkan banget adalah
Indonesia yang hanya 1% saja. Haduuuh, gimana mau pintar
ya?

91
Lalu ada nggak sih solusi dana untuk pendidikan di
dunia Islam?
Nah, untuk itu kita lihat dulu yuk bagaimana lembaga-
lembaga pendidikan Islam klasik bisa berkiprah dan survive.
Mencermati lembaga-lembaga Islam ngetop seperti Al
Azhar University Kairo, Universitas Zaituniyyah di Tunis
dan ribuan madaris Imam Lisesi di Turki, kita pasti kagum
banget deh. Bagaimana sih mereka bisa besar, bertahan
berabad-abad, dan mampu memberikan beasiswa kepada
jutaan mahasiswa selama 1000 tahun dari seluruh dunia?
Apalagi Universitas Al Azhar, Zaituniyyah, dan
Nizamiyyah (yang pernah dipimpin Imam Al Ghazali di
Baghdad) bukanlah lembaga yang fully profit oriented.
Mereka lebih berorientasi kepada sosial. Mungkin nggak sih
pendanaannya hanya mengandalkan infak dan sedekah
masyarakat sekitar? Yakin nggak bahwa itu cukup untuk
membiayai operasionalnya, membangun sarana belajar
mengajar tambahan, serta memberi beasiswa (eh Indonesia
termasuk yang paling banyak menerima beasiswa lho!)?
Salah satu jawabannya adalah ternyata mereka telah
berhasil mengembangkan sistem cash waqf sebagai sumber
dana untuk pengembangan dan operasional pendidikan.
Sebenarnya ada tiga filosofi dasar yang harus
diperhatikan kalau kita mau mengembangkan wakaf tunai
dalam dunia pendidikan.
Pertama, alokasi wakaf tunai harus dilihat dalam
bingkai yang utuh dan terpadu. Contohnya ada anggapan
bahwa dana wakaf akan habis kalau dipakai menggaji dosen,
guru, dll, padahal dana wakaf kan harusnya tetap dan abadi.

92
Dalam bingkai proyek, dana wakaf akan dialokasikan untuk
program-program pendidikan dengan segala macam biaya
yang termasuk di dalamnya.
Kedua, asas kesejahteraan Nazhir. Sudah sejak lama,
Nazhir diposisikan sebagai profesi asal-asalan dan nggak
gengsi banget. Sudah saatnya kita mengangkat profesi
Nazhir sebagai profesi yang memberikan harapan kepada
para lulusan terbaik dan memberikan kesejahteraan dunia-
akhirat.
Di Turki, Nazhir memperoleh 5% dari net income
wakaf. Di Bangladesh, kantor administrasi wakaf Bangladesh
juga menerapkan jumlah yang sama. The Central Waqf
Council India menerapkan jumlah 6% dari net income wakaf.
Di Indonesia, sesuai UU no 41 tahun 2004 tentang wakaf,
Nazhir berhak mendapatkan 10% dari net-income.
Ketiga, jelas harus ada transparansi dan akuntabilitas
dari lembaga Nazhirnya dong.

Pembangunan sarana pra-sarana


Selain untuk pengembangan pendidikan, hasil
pengelolaan wakaf tunai dapat digunakan untuk membangun
gedung lho, seperti:
a. pesantren
b. madrasah dan perguruan tinggi Islam
c. lembaga-lembaga riset
d. perpustakaan.

93
Tentu saja semuanya harus dikelola secara
profesional, modern, dan sesuai dengan citra Islam yang
maju dan baik.

Kesehatan
Keberadaan wakaf juga terbukti telah membantu
perkembangan ilmu medis melalui penyediaan fasilitas-
fasilitas publik di bidang kesehatan dan pendidikan.
Pada abad 4H, ada RS anak yang didirikan di Istambul,
Turki yang didirikan dari alokasi dana wakaf. Di Spanyol ada
RS yang juga melayani muslim dan nonmuslim berasal dari
dana wakaf. Pada masa Abbasiyyah, dana hasil pengelolaan
aset wakaf juga digunakan untuk membangun sebuah Pusat
Seni. Pusat Seni ini sangat berperan dalam perkembangan
arsitektur Islam, termasuk arsitektur masjid, sekolah dan
RS.
Adapun beberapa agenda yang terkait dengan proyek
pengembangan kesehatan dari dana wakaf adalah
pembangunan Rumah Sakit dan Poliklinik, Apotik dan
Penyedia Alat-alat Medis. Selain itu juga bisa untuk
pemberdayaan dan pengembangan, seperti SDM bidang
kesehatan atau proyek riset bidang kesehatan.

Pelayanan Sosial
Harus diakui bahwa sarana pelayanan sosial di
Indonesia termasuk sangat buruk. Hal ini terkait dengan
pendanaan pemerintah yang masih minim. Sarana yang ada

94
sangat nggak terawat atau nggak bisa dipakai secara
optimal. Bikin males!
Misalnya nih, jembatan dan jalan pada rusak dan
banyak jerawatnya, RS kotor, WC umum juga selain kotor
juga bau, angkutan umum parah banget (rusak, nggak aman
dan nyaman, sembrono), pasar kotor, dan tempat
pembuangan sampah juga kacau.
Iya sih, masyarakatnya juga sebagian masih 'ngaco'.
Tapi bukan berarti ini nggak bisa diperbaiki.
Melalui dana wakaf tunai, ada beberapa hal yang bisa
dilakukan: pembangunan fasilitas umum yang lebih manusiawi
dan memadai dan pembangunan tempat ibadah dan lembaga
keagamaan yang lebih representatif.
Sedangkan untuk pengembangan dan pemberdayaan
bidang pelayanan sosial, diantaranya untuk:
a. peningkatan kemampuan kaum duafa melalui berbagai
pelatihan
b. membuat pola pengelolaan manajemen lembaga
santunan dan ketrampilan untuk kaum lemah, cacat,
dan terlantar
c. membuat berbagai proyek dakwah dengan cakupan
yang lebih luas, misalnya penanggulangan masalah
akidah umat Islam yang terhimpit tekanan ekonomi,
pendampingan terhadap korban kekerasan, broken
home, narkoba, dan AIDS.
d. Pemberdayaan Ekonomi Kecil dan Menengah (UKM)

95
Jumlah UKM di Indonesia saat ini mencapai 95%
pelaku bisnis. Besar kan? Namun masih banyak kelemahan
UKM yang belum tertangani secara baik, misalnya masalah
modal dan pengelolaan. Bagaimana supaya para pelaku UKM
ini terhindar dari jerat riba dan rentenir?
Sistem ekonomi syariah (termasuk Wakaf) lah
solusinya.
Berbagai upaya untuk pengembangan dan
pemberdayaan UKM dengan melakukan berbagai langkah:
a. memprioritaskan pengembangan UKM yang
menggunakan bahan baku dari sumber daya alam kita
sendiri
b. menyediakan fasilitas permodalan
c. membantu UKM dalam hal penguasaan teknologi proses
dan produksi
d. membantu pemasaran dan promosi UKM
e. pembangunan infrastruktur yang mendukung
pemberdayaan ekonomi rakyat.

D. Contoh Desain Usaha : Pemberdayaan Tanah Wakaf


Strategis

Pemberdayaan tanah wakaf strategis bisa berasal dari


sinergi antara SWT (sertifikat wakaf tunai), lembaga
permodalan dan perbankan syariah. Dilihat dari potensi
tanah wakaf strategis, diperkirakan ada sekitar 5-10 lokasi
di setiap propinsi di Indonesia. Demikian juga tak kurang

96
dari 10 lokasi di tiap kabupaten. Coba bayangkan kalau
semuanya dikelola secara profesional dan amanah...
Rencana desain usaha yang bisa dilakukan adalah
dengan mempelajari seluruh aspek wilayah dimana tanah
wakaf berada, sehingga dapat direncanakan desain-desain
usaha yang relevan dengan misi perwakafan. Berikut ini
beberapa contohnya:
1. Pusat Perdagangan: masjid. perkantoran, bank, ruang
serba guna, restoran, money changer, swalayan, foto
copy, wartel, parking lot dll.
2. Pinggir jalan raya/protokol: masjid, pertokoan, pompa
bensin, bank, perkantoran, ruang serba guna, foto
copy, wartel, apartemen, hotel dll.
3. Pusat Pemerintahan: masjid, bank, swalayan, restoran,
losmen, ruang serba guna, foto copy dan penjilidan,
money changer dll.
4. Rumah Sakit: masjid, pertokoan, restoran, wartel,
losmen, bank, apotik, toko buku, foto copy, wartel dll.
5. Kampus: masjid, pertokoan, bank, restoran, asrama
mahasiswa, wartel, perpustakaan, foto copy dan
penjilidan, rental komputer, kantor beasiswa, pusat
arsitektur/studio, ruang serba guna, pusat olah raga
dll.
6. Pesantren: masjid, pertokoan, restoran, asrama santri,
perpustakaan, foto copy, toko buku dan kitab, tempat
belajar, ruang serba guna, pusat olahraga, wartel,
poliklinik dll.

97
7. Airport/Pelabuhan Laut: masjid, supermarket, bank,
restoran, wartel, hotel, money changer, parking lot,
toko suvenir dan art shop, toko buku dll.
8. Pusat Pariwisata: masjid, restoran, pusat rekreasi,
hotel, wartel/warnet, minimarket, toko buku, toko
suvenir/kerajinan tangan, pusat olah raga, gallery,
production house, dll.
9. Pasar tradisional/modern: masjid, restoran, bank
perkreditan, gudang, ruko, losmen, ekspedisi,
peragenan dll.
10. Stasiun KA/Terminal Bus: masjid, penginapan, bank,
restoran, wartel, agen travel, toko buku, ekspedisi dll.
11. Kawasan Industri: masjid, restoran, bank, losmen,
wartel, poliklinik, toko buku, foto copy, toko buah,
ekspedisi, dll.
12. Mall/Swalayan: masjid, restoran, bank syariah,
wartel/warnet, money changer, foto copy, parking lot
dll.
13. Pinggir jalan tol: masjid, pompa bensin, tempat
peristirahatan, restoran, wartel, toko suvenir dan toko
buah, bengkel dll.
14. Real Estate/Kompleks Perumahan: masjid, swalayan,
bank, restoran, madrasah, pendidikan umum,
perpustakaan, ruang serba guna, poliklinik, pertokoan,
art shop, toko buku, foto copy, pusat arsitektur,
production house, pusat olah raga, sanggar seni Islami,
notaris, bengkel, studio foto, LBH/advokat dll.
Lain-lainnya bisa dikreasikan lebih lanjut lagi kan?

98
BAGIAN KELIMA
Time To Go!
Saatnya Kamu Berwakaf

Setelah kita sedikit lebih dalam membahas apa itu


wakaf, sekarang tiba saatnya kita mulai mengamalkan apa
yang sudah kita tahu. Biar klop lah antara teori dengan
praktik. So, saatnya berwakaf nih!

A. Apa Yang Bisa Kamu Wakafkan?


Jenis harta benda wakaf dalam Undang-Undang Nomor
41 Tahun 2004 tentang Wakaf terdiri dari: benda tidak
bergerak dan benda bergerak (berupa uang dan selain uang).
Benda nggak bergerak diantaranya adalah tanah,
bangunan, tanaman dan lain-lain. Karena sifatnya yang
eshtablish, benda-benda tersebut disebut sebagai benda
tidak bergerak, yaitu:
1. Hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan, baik yang sudah ataupun yang
belum terdaftar.
2. Bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas
tanah sebagaimana point 1 di atas.
3. Tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah.
4. Hak milik atas satuan rumah susun sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

99
5. Benda tidak bergerak lain sesuai dengan ketentuan
prinsip syariah dan peraturan perundang-undangan.

Adapun yang dimaksud dengan benda bergerak karena


sifatnya yang dapat diwakafkan meliputi:
a. Kapal
b. pesawat terbang
c. kendaraan bermotor
d. mesin atau peralatan industri yang tidak
tertancap/tertanam pada bangunan
e. logam dan batu mulia
f. benda lainnya yang tergolong benda bergerak karena
sifatnya dan memiliki manfaat jangka panjang.

Sedangkan benda bergerak selain uang maksudnya:


1. Benda yang digolongkan sebagai benda bergerak
karena sifatnya yang dapat berpindah atau
dipindahkan atau karena ketetapan undang-undang.
2. Benda bergerak terbagi dalam benda bergerak yang
dapat dihabiskan dan tidak dapat dihabiskan karena
pemakaian.
3. Benda bergerak yang dapat dihabiskan karena
pemakaian tidak dapat diwakafkan kecuali air dan
bahan bakar minyak yang persediaannya berkelanjutan.

100
4. Benda bergerak yang tidak dapat dihabiskan karena
pemakaian dapat diwakafkan dengan memperhatikan
ketentuan prinsip syariah.

Benda bergerak selain uang karena peraturan


perundang-undangan yang dapat diwakafkan sepanjang tidak
bertentangan dengan prinsip syariah sebagai berikut:
1. Surat Berharga yang berupa:
a. Saham
b. Surat Hutang Negara
c. Obligasi pada umumnya
d. Surat berharga lainnya yang dapat dinilai dengan
uang.

2. Hak atas kekayaan intelektual yang berupa:


a. Hak cipta
b. Hak merk
c. Hak paten
d. Hak desain industri
e. Hak rahasia dagang
f. Hak sirkuit terpadu
g. Hak perlindungan varietas tanaman
h. Hak lainnya.

101
3. Hak atas benda bergerak lainnya yang berupa:
a. Hak sewa, hak pakai dan hak pakai hasil atas
benda bergerak, atau
b. Perikatan, tuntunan atas jumlah uang yang dapat
ditagih atas benda bergerak.

Wakaf benda bergerak berupa uang yang merupakan


terobosan baru dalam UU No. 41 tahun 2004 tentang wakaf,
dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Wakaf uang yang dapat diwakafkan adalah mata uang
rupiah.
2. Kalau uang yang akan diwakafkan masih dalam mata
uang asing, harus dikonversi dulu ke rupiah.
3. Wakif yang akan mewakafkan uangnya, diwajibkan:
a. Hadir di Lembaga Keuangan Syariah Penerima
Wakaf Uang (LKS-PWU) untuk menyatakan
kehendak mewakafkan uangnya.
b. Menjelaskan kepemilikan dan asal-usul uang yang
akan diwakafkan.
c. Menyetorkan secara tunai sejumlah uang kepada
LKS-PWU.
d. Mengisi formulir pernyataan kehendak Wakif
yang berfungsi sebagai akta ikrar wakaf.

4. Kalau Wakif nggak bisa hadir, bisa menunjuk wakil


atau kuasanya.

102
5. Wakif dapat menyatakan ikrar wakaf benda bergerak
berupa uang kepada Nazhir dihadapan PPAIW yang
selanjutnya Nazhir menyerahkan akta ikrar wakaf
tersebut kepada LKS.

Kalau kamu ingin mewakafkan uangmu untuk jangka


waktu tertentu juga bisa kok. Saat jangka waktu tersebut
berakhir, Nazhir wajib mengembalikan jumlah pokok wakaf
uang ke kamu atau ahli warismu melalui LKS Penerima Wakaf
Uang.

B. Simulasi Pelaksanaan Wakaf


Agar lebih mudah memahami dalam melaksanakan
wakaf, maka berikut ini dibuat simulasinya. Tentu simulasi
berikut bersifat umum untuk memberikan gambaran lebih
jelas.
Wakaf Uang

Cara Pertama
(Di Hadapan Majelis Ikrar Wakaf)

1. Calon Wakif memantapkan niat berwakaf uang karena


Allah untuk kesejahteraan umat;
2. Calon Wakif, saksi dan Nazhir (yang ditunjuk Wakif)
hadir di Lembaga Keuangan Syariah (LKS) yang
ditunjuk oleh Menteri Agama sebagai Lembaga

103
Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU)
untuk menyatakan kehendak wakaf;
3. Wakif mengisi formulir/blangko wakaf uang yang telah
disediakan oleh LKS yang berfungsi sebagai AIW,
diantaranya nama dan alamat Wakif, nama dan alamat
Nazhir, daftar denominasi wakaf uang, peruntukan
wakaf uang, dan lain-lain;
4. Wakif menjelaskan kepemilikan dan asal-usul uang yang
akan diwakafkan di hadapan Majelis Ikrar Wakaf,
serta menyetorkan uangnya secara tunai melalui
rekening wadiah Nazhir di LKS-PWU bersangkutan;
5. Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) wakaf
uang (pejabat LKS yang telah ditunjuk) memeriksa
keabsahan dan kelengkapan administrasi wakaf uang;
6. Wakif mengucapkan ikrar wakaf uang di depan Majelis
Ikrar Wakaf (Wakif, Nazhir, dua orang saksi dan
PPAIW), selanjutnya PPAIW mengeluarkan Sertifikat
Wakaf Uang;
7. Wakif, Nazhir, dan Saksi pulang dengan membawa
salinan formulir dan Sertifikat Wakaf Uang sebagai
bukti telah terjadi pelaksanaan wakaf uang;
8. LKS melalui fund manager-nya bermusyawarah dengan
Nazhir yang ditunjuk Wakif dalam rangka
memberdayakan uang yang diwakafkan untuk
dikembangkan melalui investasi pada produk-produk
LKS dan/atau instrumen keuangan Syariah;

104
9. Hasil dari pemberdayaan investasi wakaf uang
disalurkan oleh Nazhir kepada Mauquf alaih (penerima
wakaf) sesuai ikrar Wakif.

Cara Kedua
(Menggunakan media Electronic Channels)

1. Calon Wakif memantapkan niat berwakaf uang karena


Allah untuk kesejahteraan umat;
2. Calon Wakif mendatangi atau menggunakan Electronic
Channels (seperti ATM, phone banking, internet
banking) untuk melakukan transaksi pelaksanaan wakaf
uang;
3. Calon Wakif membuka atau menggunakan layanan
Electronic Channels yang disediakan oleh LKS,
kemudian mengisi form yang telah disediakan,
diantaranya meliputi: nomor rekening dan/atau nama
Wakif, daftar nama-nama Nazhir, daftar denominasi
wakaf uang, peruntukan wakaf uang, dan lain-lain;
4. Layanan Electronic Channels yang disediakan oleh LKS
akan mengeluarkan bukti, seperti surat tertulis, SMS,
atau email sebagai respon dari transaksi yang telah
dilakukan, sekaligus menjadi bukti telah terjadi
perbuatan wakaf uang;
5. Setelah uang terkumpul dalam jumlah tertentu, LKS
melalui fund manager-nya bermusyawarah dengan
Nazhir yang ditunjuk Wakif dalam rangka

105
memberdayakan uang yang diwakafkan untuk
dikembangkan melalui investasi pada produk-produk
LKS dan/atau instrumen keuangan Syariah;
6. Hasil dari pemberdayaan investasi wakaf uang
disalurkan oleh Nazhir kepada Mauquf alaih (penerima
wakaf) sesuai ikrar Wakif.

Wakaf Tanah

1. Sebuah keluarga sedang bermusyawarah sekaligus


memantapkan niat untuk berwakaf tanah milik;
2. Kepala keluarga atau yang mewakilinya (selaku Wakif),
saksi dan Nazhir menuju Kantor Urusan Agama (KUA)
menghadap kepala KUA selaku Pejabat Pembuat Akta
Ikrar Wakaf (PPAIW);
3. PPAIW memeriksa persyaratan wakaf dan selanjutnya
mengesahkan Nazhir (bagi yang belum terdaftar);
4. Wakif mengucapkan Ikrar Wakaf di hadapan Majelis
Ikrar Wakaf untuk selanjutnya PPAIW membuat Akta
Ikrar Wakaf (AIW) dan salinannya;
5. Wakif menyerahkan tanah yang akan diwakafkan
kepada Nazhir dengan membuat berita acara serah
terima (paling lambat) pada saat penandatanganan
AIW yang diselenggarakan di depan Majelis Ikrar
Wakaf;
6. Wakif, Nazhir dan saksi menerima salinan AIW dan
berita acara serah terima untuk dibawa pulang;

106
7. PPAIW atas nama Nazhir menuju kantor Pertanahan
Kabupaten/Kota dengan membawa berkas permohonan
pendaftaran tanah wakaf.
8. Kantor Pertanahan memproses Sertifikat Tanah
Wakaf;
9. Kepala Kantor Pertanahan menyerahkan Sertifikat
Tanah Wakaf kepada Nazhir, dan selanjutnya
ditunjukkan kepada PPAIW untuk dicatat pada daftar
AIW.

Wakaf Benda Bergerak Selain Uang

1. Sebuah keluarga sedang bermusyawarah sekaligus


memantapkan niat untuk berwakaf benda bergerak
selain uang;
2. Kepala keluarga atau yang mewakilinya (selaku Wakif),
saksi dan Nazhir menuju Kantor Urusan Agama (KUA)
menghadap kepala KUA selaku Pejabat Pembuat Akta
Ikrar Wakaf (PPAIW);
3. PPAIW memeriksa persyaratan wakaf, dan selanjutnya
mengesahkan Nazhir (bagi yang belum terdaftar);
4. Wakif mengucapkan Ikrar Wakaf di hadapan Majelis
Ikrar Wakaf untuk selanjutnya PPAIW membuat Akta
Ikrar Wakaf (AIW) dan salinannya;
5. Wakif wajib menyerahkan tanah yang akan diwakafkan
dengan membuat berita acara serah terima paling

107
lambat pada saat penandatanganan AIW yang
diselenggarakan di depan Majelis Ikrar Wakaf;
6. Wakif, Nazhir dan saksi menerima salinan AIW dan
berita acara serah terima untuk dibawa pulang;
7. PPAIW atas nama Nazhir (dibantu oleh Wakif atau
wakilnya) menuju instansi berwenang yang terkait
dengan benda yang diwakafkan, dengan menyertakan
berkas permohonan pendaftaran benda wakaf.
8. Instansi yang berwenang memproses dan menerbitkan
bukti pendaftaran benda wakaf;
9. Instansi yang berwenang menyerahkan bukti
pendaftaran benda wakaf kepada Nazhir, dan
selanjutnya ditunjukkan kepada PPAIW untuk dicatat
pada daftar AIW.

C. Pilih Jadi Wakif atau Nazhir nih?


Kalau begitu, kamu sudah tahu kan mau memilih peran
sebagai apa dalam mengembangkan wakaf di Indonesia.
Apakah kamu akan jadi Wakif atau jadi Nazhir?
Sebagai Wakif, kamu pasti sudah tahu syarat-
syaratnya. Kita sudah membahasnya di bab terdahulu.
Nah sekarang kita akan membahas tentang Nazhir.
Nazhir adalah pihak yang menerima wakaf dari Wakif
untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan
peruntukkannya. Posisi Nazhir sebagai pihak yang bertugas
untuk memelihara dan mengurusi harta wakaf memegang

108
kedudukan penting dalam perwakafan. Begitu pentingnya
kedudukan Nazhir, sehingga berfungsi tidaknya harta wakaf
tergantung dari Nazhir. Meskipun demikian, nggak berarti
bahwa Nazhir bisa mempunyai kekuasaan mutlak terhadap
harta yang diamanahkan kepadanya.
Pada umumnya, para ulama sudah sepakat bahwa
kekuasaan Nazhir wakaf hanya terbatas pada pengelolaan
wakaf yang dikehendaki Wakif. Asaf AA Fyzee
berpendapat, seperti dikutip Uswatun Hasanah, bahwa
kewajiban Nazhir adalah mengerjakan segala sesuatu yang
layak untuk menjaga dan mengelola harta. Sebagai pengawas
harta wakaf, Nazhir bisa mempekerjakan beberapa wakil
atau pembantu untuk menyelesaikan beberapa urusan yang
berkenaan dengan tugas dan kewajibannya.
Oleh karena itu, Nazhir dapat berupa Nazhir
perseorangan, organisasi, maupun badan hukum. Nazhir
sebagai pihak yang berkewajiban mengawasi dan memelihara
wakaf tidak boleh menjual, menggadaikan, atau menyewakan
harta wakaf kecuali diizinkan oleh pengadilan. Ketentuan itu
sesuai dengan masalah kewarisan dalam kekuasaan
kehakiman yang memiliki wewenang untuk mengontrol
kegiatan Nazhir.
Sehingga dengan demikian, keberadaan harta wakaf di
tangan Nazhir dapat dikelola dan diberdayakan secara
maksimal untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat
banyak yang bisa dipertanggungjawabkan secara moral dan
hukum Allah swt.

109
Gini Lho Caranya...
(Kalau kamu belum bisa jadi Wakif atau Nazhir)
Ekonomi umat Islam yang sedang terpuruk hanya bisa
dibangkitkan oleh umat Islam sendiri. Salah satunya dengan
membangunkan potensi wakaf.
Partisipasi kamu sebagai agen perubah, generasi muda,
nggak cuma sebagai Wakif atau Nazhir saja. Kalau kamu
merasa belum cukup 'punya harta' (padahal wakaf
tunai/wakaf uang juga kan syaratnya ringan lho), dan belum
cukup 'punya kemampuan' sebagai Nazhir, tapi kamu pengin
sekali berpartisipasi mengembangkan dunia perwakafan di
Indonesia, ada beberapa jalan yang bisa kamu lakukan:
1. Mempersiapkan diri sebagai calon pakar ekonomi
syariah, khususnya dalam bidang wakaf.
Kamu pasti tahu dong dengan nama-nama DR. M. Syafii
Antonio, Adiwarman Karim, Mustafa Edwin Nasution, Ph. D,
DR. Mulya E Siregar, dan lain-lain? Beliau-beliau itu adalah
beberapa dari sedikit sekali ahli ekonomi syariah di
Indonesia. Merekalah yang menggagas banyak ide tentang
tegaknya ekonomi syariah masa kini.
Jika kamu pengin seperti mereka, harus bersiap dari
sekarang. Kamu bisa belajar di Universitas-universitas yang
menyediakan disiplin ilmu (departemen) ekonomi syariah. Di
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga ada kok. Umat Islam
sangat membutuhkan ilmuwan dalam bidang ini, segera.
Oh iya... perlu kamu ketahui, ilmu ekonomi syariah itu
menarik dan penuh tantangan lho. Prospeknya di masa depan
juga cerah sekali.

110
2. Mendekati dan menghimpun calon Wakif
Barangkali orang tuamu punya harta yang patut
diwakafkan? Tetanggamu? Atau saudaramu? Sahabatmu
juga? Nah kenapa tidak kamu dekati mereka, dan ajak
mereka berpartisipasi dalam program wakaf ini. Dijamin
menguntungkan dunia akhirat lho.
Terus kamu dapat apa?
Jelas dapat pahala dong. Dan juga dapat ilmu,
bagaimana mengumpulkan Wakif. Lagipula siapa tahu nanti
kalau tabunganmu sudah cukup, kamu jadi Wakif, kamu
sudah faham banget. Begitu juga kalau kamu merasa
kemampuanmu sudah cukup untuk menjadi Nazhir, kamu
sudah faham ilmu perwakafan.
3. Menyebarkan informasi tentang wakaf produktif
Kamu jagoan menulis? Kenapa kamu nggak menulis
tentang wakaf uang dan wakaf produktif ke majalah/koran?
Atau kamu senang membuat tulisan di web/blog? Coba
deh kamu bikin tulisan-tulisan tentang wakaf di blog-mu.
Sebarkan kepada sebanyak mungkin orang. Bikin tulisannya
jelas harus semenarik mungkin, supaya orang jadi jelas dan
tertarik untuk ikut berwakaf.
Kamu senang dan puas, orang juga tertarik berwakaf.
Sama-sama untung, kan?

111
Memilih dan Menimbang...
Kita sudah membahas hampir semua hal tentang
wakaf, terutama wakaf uang dan wakaf produktif. Sudah
banyak yang kita ketahui tentang wakaf dan perannya untuk
mengatasi permasalahan ekonomi yang membelit umat Islam.
Sudah waktunya kita turut segera menyukseskan
program ini selaku umat Islam yang cerdas dan
peduli. Hanya sistem ekonomi sesuai syariah sajalah yang
bisa mengeluarkan umat dari keterpurukan ini. Dan semua
bisa jadi dimulai dari kita, para agen perubah, generasi
muda intelektual Islam.
Sekarang, mulai hitung-hitung berapa kesanggupanmu
untuk mewakafkan hartamu. Atau lihat-lihat kemampuanmu
buat jadi Nazhir, atau buat jadi seorang ahli dalam bidang
wakaf, dan jadi seorang promotor wakaf yang ulung.
Pokoknya kerahkan segala kemampuan kita buat mendukung
program ini ya?
InsyaAllah, kemajuan umat sudah di depan mata nih...
Amiiin....

112
REFERENSI

Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Dirjen Bimas Islam, Fiqih


Wakaf, cet. V (rev), Depag RI, Jkt, 2007.
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Dirjen Bimas Islam,
Panduan Pemberdayaan Tanah Wakaf Produktif
Strategis di Indonesia, cet. I, Depag RI, Jkt, 2007.
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Dirjen Bimas Islam,
Paradigma Baru Wakaf di Indonesia, cet. I, Depag RI,
Jkt, 2007.
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Dirjen Bimas Islam,
Pedoman Pengelolaan Wakaf Tunai, cet. IV, Depag RI,
Jkt, 2007.
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Dirjen Bimas Islam,
Strategi Pengembangan Wakaf Tunai di Indonesia,
cet. IV (rev), Depag RI, Jkt, 2007.
Djunaidi, Achmad, dan Thobib Al Asyhar, Menuju Era
Wakaf Produktif, cet. III, Mitra Abadi Press, Jkt,
2006.
Nasution, Mustafa Edwin, MSc. MAEP, PhD., dan DR.
Uswatun Hasanah, (ed.), Wakaf Tunai Inovasi Finansial
Islam, cet. II, PSTTI-UI, Jkt, 2006.

113