Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

UJI ENSIMATIS MIKROBA

Disusun oleh :
Yumnia Rachmawati (22010316140033)

Tanggal praktikum :
03 Mei 2017

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
ACARA PRAKTIKUM XI
UJI ENSIMATIS MIKROBA

I.Tujuan
Mahasiswa dapat mengetahui berbagai macam uji enzimatis.
II. Tinjauan Pustaka
II.1. Identifikasi Bakteri
Identifikasi bakteri dapat dilakukan dengan menguji aktivitas enzimatisnya.
Enzim merupakan katalis dalam sistem biologi atau disebut pula dengan
biokatalis. Katalis ini berfungsi untuk mempercepat laju reaksi kimia dengan
akhir dari reaksi kimia akan diperoleh kembali katalis tersebut. Uji aktivitas
enzimatis terbagi menjadi dua yaitu uji aktivitas eksoenzim dan uji aktivitas
endoenzim. Uji aktivitas eksoenzim terdiri dari uji amilolitik, proteolitik, dan
lipolitik sedangkan uji aktivitas endoenzim terdiri dari uji katalase dan oksidase
(Pommerville, 2013).
II.2. Aktivitas Enzim
Aktivitas enzim disebut juga sebagai kinetik enzim. Kinetik enzim adalah
kemampuan enzim dalam membantu reaksi kimia. Kemampuan enzim ini dapat
dihitung dengan mengukur jumlah produk yang terbentuk, atau dengan
menghitung kurangnya substrat dalam satuan waktu tertentu. Selain itu, dapat
juga dihitung dengan peningkatan atau penurunan koenzim. Menghitung jumlah
substrat, produk, atau koenzim di laboratorium tidak mudah karena jumlahnya
yang sangat sedikit. Oleh karena itu, praktik menghitung aktivitas enzim adalah
dengan mengukur perubahan absorbans dalam satuan waktu, pH, dan suhu
tertentu sewaktu reaksi berjalan. Aktivitas enzim dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu suhu, pH, kadar substrat, kadar enzim, inhibitor, dan toksik enzim
(Pelczar, 2008).
Enzim memiliki aktivitas pengatur dan berperan sebagai pemacu atau
pengatur kecepatan reaksi metabolisme. Beberapa enzim pengatur, yang
dinamakan enzim alosterik, diatur kecepatannya oleh pengikat balik non kovalen
molekul modulator atau pengatur spesifik pada sisi alosterik atau sisi pengaturan.
Molekul modulator tersebut dapat merupakan substrat sendiri atau beberapa
senyawa antara metabolik lain. Golongan enzim pengatur yang lain terdiri dari
enzim- enzim yang diatur oleh modifikasi kovalen beberapa gugus fungsional
yang perlu bagi aktivitasnya. Beberapa enzim terdapat dalam bentuk ganda, yang
disebut isozim yang mempunyai sifat kinetika yang berbeda (Aneja, 2008).
II.3. Uji Fermentasi Gula

Uji ini dilakukan untuk mengindetifikasi bakteri yang mampu


memfermentasikan karbohidrat. Pada uji gula-gula hanya terjadi perubahan warna
pada media glukosa yang berubah menjadi warna kuning, artinya bakteri ini
membentuk asam dari fermentasi glukosa. Pada media glukosa juga terbentuk
gelembung pada tabung durham yang diletakan terbalik didalam tabung media,
artinya hasil fermentasi berbentuk gas (Oktarina, 2010).

Reaksi fermentasi gula yaitu :

C6H12O6 2 CH3CH2OH + 2 CO2

Menurut Oktarina (2010), Escherichia coli dapat melakukan fermentasi


glukosa dan laktosa, sementara itu sukrosa tidak dapat difermentasikannya.
Pada Bacillus subtilis dapat melakukan fermentasi terhadap glukosa dengan hasil
yang tidak terjadi perubahan.

II.4. Hidrolisis Pati


Amilolitik merupakan aktivitas bakteri dalam merombak pati dengan
bantuan enzim amilase. Enzim amilase adalah enzim yang mampu menghidrolisis
pati menjadi senyawa lebih sederhana seperti maltosa dan glukosa. Enzim ini
banyak digunakan untuk keperluan industri. Enzim ini dapat memecah atau
menghidrolisis pati, glikogen, dan turunan polisakarida dengan cara memecah
ikatan glikosidiknya. Enzim amilase dibedakan menjadi 3 golongan yaitu
amilase yang di sebut juga endoamilase, -amilase yang di sebut juga
eksoamilase, dan glukoaminase (Aneja, 2008).
II.5. Hidrolisis Kasein
Aktivitas proteolitik menghasilkan zona jernih. Bakteri proteolitik adalah
bakteri yang memproduksi enzim protease ekstraseluler, yaitu enzim pemecah
protein yang diproduksi di dalam sel kemudian dilepaskan keluar dari sel. Semua
bakteri mempunyai enzim protease di dalam sel, tetapi tidak semua mempunyai
enzim protease ekstraseluler. Dekomposisi protein oleh mikroorganisme lebih
kompleks daripada pemecahan karbohidrat dan produk akhirnya juga lebih
bervariasi. Hal ini disebabkan struktur protein yang lebih kompleks.
Mikroorganisme melalui suatu sistem enzim yang kompleks, memecah protein
menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana (Durham, 2006).

Air susu mengandung bermacam-macam zat, yaitu air, karbohidrat,


(laktosa), lemak, protein (kasein), garam-garam mineral dan vitamin-vitamin.
Medium susu (tanpa lemak) digunakan untuk pengujian fermentasi, peptonisasi
atau kedua-duanya yang terjadi bersama-sama. Pada peptonisasi susu kasein
dihidrolisa oleh enzim renin menjadi parakasein dan pepton-pepton yang terlarut.
Parakasein itu kemudian akan bereaksi dengan garam-garam kalsium membentuk
endapan kalsium para kaseinat. Pada peptonisasi sempurna endapannya
terkumpul dibawah dan kemudian cairan susu menjadi jernih. Pada peptonisasi
reaksi medium menjadi basa sehingga warna indikator (misalnya bromokresol
purpule) ungu terang. Pada fermentasi laktosa, berbah menjadi asam, sehingga
menyebabkan kasein mengendap atau menggumpal. Adanya asam ini akan
menentukan pertumbuhan bakteri lebih lanjut, sehingga peruraian protein tidak
terjadi (Durham, 2006).

II.6. Hidrolisis Gelatin


Enzim-enzim yang menguraikan golongan potein disebut
protenase/protease, kedua nama ini dianggap sinonim. Contoh pada hidrolisis
gelatin dimana protein diperoleh dari hidrolisis kalogen, yaitu zat pada jaringan
penghubung dan tendon dari hewan. Gelatin akan terurai oleh mikrobia yang
mensintesis enzim proteolisis. Larutan gelatin bersifat cair pada suhu ruang atau
suhu kamar dan padat apabila berada di dalam refrigerator, dan apabila gelatin
sudah dihidrolisis oleh mikroba, maka akan tetap bersifat cair (Poedjiadi, 2006).
II.7. Uji Katalase
Uji katalase digunakan untuk mengetahui aktivitas katalase pada bakteri
yang diuji. Bakteri katalase positif seperti S. aureus bisa menghasilkan
gelembung-gelembung oksigen karena adanya pemecahan H2O2 (hidrogen
peroksida) oleh enzim katalase yang dihasilkan oleh bakteri itu sendiri.
Komponen H2O2 ini merupakan salah satu hasil respirasi aerobik bakteri,
misalnya S. aureus, dimana hasil respirasi tersebut justru dapat menghambat
pertumbuhan bakteri karena bersifat toksik bagi bakteri itu sendiri. Oleh karena
itu, komponen ini harus dipecah agar tidak bersifat toksik lagi (Sadikin, 2002).
Bakteri katalase negatif tidak menghasilkan gelembung-gelembung. Hal ini
berarti H2O2 yang diberikan tidak dipecah oleh bakteri katalase negatif,
misalnya, L.casei sehingga tidak menghasilkan oksigen. Bakteri katalase negatif
tidak memiliki enzim katalase yang menguraikan H2O2 (Sadikin, 2002).
Menurut Sadikin (2002), mekanisme enzim katalase memecah H2O2 yaitu
saat melakukan respirasi, bakteri menghasilkan berbagai macam komponen salah
satunya H2O2. Bakteri yang memiliki kemampuan memecah H2O2 dengan enzim
katalase maka segera membentuk suatu sistem pertahanan dari toksik H 2O2 yang
dihasilkannya sendiri. Bakteri katalase positif akan memecah H 2O2 menjadi H2O
dan O2dimana parameter yang menunjukkan adanya aktivitas katalase tersebut
adalah adanya gelembung-gelembung oksigen seperti pada percobaan yang telah
dilakukan. Enzim katalase menyebabkan H2O2 diurai dengan reaksi sebagai
berikut:
2H2O2 2H2O + O2
III. Metodologi Percobaan
III.1. Alat
1. Spiritus
2. Jarum Ose
3. Gelas benda
III.2. Bahan
1. Alkohol 70%
2. Tabung reaksi berisi medium cair Glucose Phenol Red, dengan tabung
durham sebanyak 4 buah
3. Tabung reaksi berisi medium cair Lactose Phenol Red, dengan tabung durham
sebanyak 4 buah
4. Tabung reaksi berisi medium cair SucrosePhenol Red, dengan tabung durham
sebanyak 4 buah
5. Biakan murni B. subtillis, E. coli, S. aureus pada medium NA
6. Larutan I-KI
7. Cawan petri berisi medium agar pati (NA + 2% amilum) sebanyak 2 buah
8. Cawan petri berisi medium skim milk (susu skim 10%, pepton 5 %, agar 15%)
sebanyak 2 buah
9. Tabung reaksi berisi medium cair gelatin sebanyak 4 buah
10. Larutan H2O2 3%
11. Korek api
III.3. Cara kerja
III.3.1. Fermentasi Karbohidrat

Biakan B. Subtillis diinokulasikan secara aseptik pada satu seri medium


(glukosa, laktosa, sukrosa).

Dilakukan hal yang sama untuk E. coli dan S. aureus.

Satu seri medium tidak diinokulasikan dan digunakan sebagai kontrol.

Setiap tabung diberi tanda dengan nama medium, nama bakteri yang
diinokulasikan, tanggal inokulasi, dan identitas kelompok.
Tabung - tabung tersebut diinkubasi selama 48 jam, pada suhu kamar.

Diamati terjadinya reaksi dan dibandingkan dengan kontrol (A =


asam; G = gas; AG = asam dan gas).

III.3.2. Hidrolisis Pati


Bagian bawah kedua cawan petri berisi medium agar pati dibagi
menjadi dua dengan spidol permanen (cawan petri ke-1 untuk bakteri
B. subtillis dan E. coli, cawan petri ke-2 untuk bakteri S. aureus dan
kontrol).

Bakteri diinokulasikan pada masing - masing bagian di cawan petri.

Setiap cawan petri diberi tanda dengan nama medium, nama bakteri
yang diinokulasikan, tanggal inokulasi, dan identitas kelompok.

Kedua cawan petri diinkubasi selama 48 jam, pada suhu kamar.

Larutan iodin diteteskan ke seluruh permukaan medium dan dibiarkan


selama 2 - 5 menit.

Diamati adanya bagian medium berwarna biru dan bening.

Hasil yang diperoleh dicatat.

III.3.3. Hidrolisis Kasein


Bagian bawah kedua cawan petri berisi medium agar skim milk dibagi
menjadi dua dengan spidol permanen (cawan petri ke-1 untuk bakteri
B. subtillis dan E. coli, cawan petri ke-2 untuk bakteri S. aureus dan
kontrol).

Bakteri diinokulasikan pada masing - masing bagian di cawan petri.

Setiap cawan petri beri tanda nama medium, nama bakteri yang
diinokulasikan, tanggal inokulasi dan identitas kelompok.
Kedua cawan petri diinkubasi selama 48 jam, pada suhu kamar.

Diamati reaksi yang terjadi dan hasil yang diperoleh dicatat. Reaksi
positif ditunjukkan dengan menculnya daerah bening di sekitar koloni.

III.3.4. Hidrolisis Gelatin


Biakan B. subtillis diinokulasikan secara aseptik pada tabung reaksi
berisi medium cair gelatin.

Dilakukan hal yang sama untuk E. coli dan S. aureus.

Satu tabung reaksi tidak diinokulasikan dan digunakan sebagai


kontrol.

Setiap tabung diberi tanda dengan nama medium, nama bakteri yang
diinokulasikan, tanggal inokulasi, dan identitas kelompok.

Tabung - tabung tersebut didinginkan di dalam kulkas.

Diamati terjadinya reaksi dan dibandingkan dengan kontrol (jika


gelatin memadat, mikroba tidak memiliki enzim protease, jika
mencair, mikroba memiliki enzim protease).
III.3.5. Uji Katalase
Gelas benda dibersihkan dengan alkohol 70%, gelas benda dibagi
menjadi 3 bagian dengan spidol permanen dan diberi nama bakteri
yang diinokulasikan.

Masing - masing bagian diteteskan larutan H2O2 3% di atas gelas


obyek.
Biakan B. subtillis, E. coli, dan S. aureus diambil sedikit masing -
masing dengan ose secara aseptik dan diletakkan di dalam tetesan
H2O2 3%.

Diamati adanya gelembung-gelembung O2 di dalam larutan H2O2 3%.

IV. Hasil Pengamatan


IV.1. Tabel Pengamatan Uji Fermentasi Gula

Jenis Media Cair


No Sampel
Glukosa Laktosa Sukrosa

Terbentuk
Bacillus Tidak terbentuk
Terbentuk asam asam (warna
subtillis asam dan gas
jingga) dan gas

Foto

Terbentuk
Terbentuk asam Terbentuk asam asam (warna
2 Eschericia coli
dan gas dan gas kuning) dan
gas

Foto

3 Staphylococcus Terbentuk asam Terbentuk asam Terbentuk


aureus dan gas asam (warna
kuning)
Foto

Kontrol - - -

4
Foto

IV.2. Tabel Pengamatan Uji Hidrolisis Pati


N
o Sampel Foto Keterangan

tidak terdapat
1 Bacillus subtillis
daerah bening

tidak terdapat
2 Eschericia coli
daerah bening

tidak terdapat
3 Staphylococcus aureus
daerah bening

IV.3. Tabel Pengamatan Uji Hidrolisis Kasein


N
o Sampel Foto Keterangan
tidak terdapat
1 Bacillus subtillis daerah bening di
sekitar koloni

terdapat daerah
2 Eschericia coli bening di sekitar
koloni

terdapat daerah
3 Staphylococcus aureus bening di sekitar
koloni

IV.4. Tabel Pengamatan Uji Hidrolisis Gelatin


N
o Sampel Foto Keterangan

Dapat
menguraikan
1 Bacillus subtillis gelatin atau
memiliki enzim
protease0

Tidak dapat
menguraikan
2 Eschericia coli gelatin atau
tidak memiliki
enzim protease

Dapat
menguraikan
3 Staphylococcus aureus gelatin atau
memiliki enzim
protease

IV.5. Tabel Pengamatan Uji Katalase

No Sampel Foto Keterangan


Ada gelembung-
1 Bacillus subtillis
gelembung O2

Tidak ada gelembung-


2 Eschericia coli
gelembung O2

Staphylococcus Ada gelembung-


3
aureus gelembung O2

V. Pembahasan
Praktikum mikrobiologi farmasi Uji Ensimatis Mikroba dilaksanakan pada 03
Mei 2017 bertempat di Laboratorium Biologi Fakultas Sains dan Matematika
Universitas Diponegoro. Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengetahui
sifat enzimatis pada mikroba.
Identifikasi bakteri dapat dilakukan dengan menguji aktivitas enzimatisnya.
Enzim merupakan katalis dalam sistem biologi atau disebut pula dengan biokatalis.
Katalis ini berfungsi untuk mempercepat laju reaksi kimia dengan akhir dari reaksi
kimia akan diperoleh kembali katalis tersebut. Uji aktivitas enzimatis terbagi menjadi
dua yaitu uji aktivitas eksoenzim dan uji aktivitas endoenzim. Uji aktivitas eksoenzim
terdiri dari uji amilolitik, proteolitik, dan lipolitik sedangkan uji aktivitas endoenzim
terdiri dari uji katalase dan oksidase (Pommerville, 2013).
V.1. Uji Fermentasi Gula

Uji ini dilakukan untuk mengindetifikasi bakteri yang mampu


memfermentasikan karbohidrat. Pada uji gula-gula hanya terjadi perubahan warna
pada media glukosa yang berubah menjadi warna kuning, artinya bakteri ini
membentuk asam dari fermentasi glukosa. Pada media glukosa juga terbentuk
gelembung pada tabung durham yang diletakan terbalik didalam tabung media,
artinya hasil fermentasi berbentuk gas (Oktarina, 2010).

Reaksi fermentasi gula yaitu :

C6H12O6 2 CH3CH2OH + 2 CO2


Percobaan ini dilakukan dengan cara biakan B. Subtillis diinokulasikan
secara aseptik pada satu seri medium (glukosa, laktosa, sukrosa), dilakukan hal
yang sama untuk E. coli dan S. aureus. Satu seri medium tidak diinokulasikan dan
digunakan sebagai kontrol. Selanjutnya, setiap tabung diberi tanda dengan nama
medium, nama bakteri yang diinokulasikan, tanggal inokulasi, dan identitas
kelompok, hal ini berguna agar tabung yang diinokulasikan tidak tertukar. Tabung
- tabung tersebut diinkubasi selama 48 jam, pada suhu kamar. Diamati terjadinya
reaksi dan dibandingkan dengan kontrol (A = asam; G = gas; AG = asam dan
gas). Larutan dapat membentuk asam jika warna larutan yang semula merah akan
berubah menjadi kuning, dan terbentuk gas jika di dalam tabung durham terdapat
gelembung gas.
Menurut hasil praktikum, pada larutan glukosa phenol red, tabung reaksi
berisi bakteri Bacillus subtillis tidak terbentuk asam dan gas, Eschericia coli
terbentuk asam dan gas, dan Staphylococcus aureus terbentuk asam. Pada larutan
laktosa phenol red, Bacillus subtillis terbentuk asam, Eschericia coli terbentuk
asam dan gas, dan Staphylococcus aureus terbentuk asam dan gas. Pada larutan
sukrosa phenol red, Bacillus subtillis terbentuk asam (warna jingga) dan gas,
Eschericia coli terbentuk asam (warna kuning) dan gas, dan Staphylococcus
aureus terbentuk asam (warna kuning).
V.2. Hidrolisis Pati
Percobaan ini dilakukan dengan cara bagian bawah kedua cawan petri berisi
medium agar pati dibagi menjadi dua dengan spidol permanen (cawan petri ke-1
untuk bakteri B. subtillis dan E. coli, cawan petri ke-2 untuk bakteri S. aureus
dan kontrol). Bakteri diinokulasikan pada masing - masing bagian di cawan petri.
Setiap cawan petri diberi tanda dengan nama medium, nama bakteri yang
diinokulasikan, tanggal inokulasi, dan identitas kelompok, hal ini berguna agar
cawan petri tidak tertukar. Kedua cawan petri diinkubasi selama 48 jam, pada
suhu kamar. Larutan iodin diteteskan ke seluruh permukaan medium dan
dibiarkan selama 2 - 5 menit. Diamati adanya bagian medium berwarna biru dan
bening. Hasil yang diperoleh dicatat.
Menurut hasil praktikum, Bacillus subtillis tidak terdapat daerah bening,
Eschericia coli tidak terdapat daerah bening, dan Staphylococcus aureus tidak
terdapat daerah bening.
V.3. Hidrolisis Kasein
Aktivitas proteolitik menghasilkan zona jernih. Bakteri proteolitik adalah
bakteri yang memproduksi enzim protease ekstraseluler, yaitu enzim pemecah
protein yang diproduksi di dalam sel kemudian dilepaskan keluar dari sel. Semua
bakteri mempunyai enzim protease di dalam sel, tetapi tidak semua mempunyai
enzim protease ekstraseluler. Dekomposisi protein oleh mikroorganisme lebih
kompleks daripada pemecahan karbohidrat dan produk akhirnya juga lebih
bervariasi. Hal ini disebabkan struktur protein yang lebih kompleks.
Mikroorganisme melalui suatu sistem enzim yang kompleks, memecah protein
menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana (Durham, 2006).
Percobaan ini dilakukan dengan cara bagian bawah kedua cawan petri berisi
medium agar skim milk dibagi menjadi dua dengan spidol permanen (cawan petri
ke-1 untuk bakteri B. subtillis dan E. coli, cawan petri ke-2 untuk bakteri S.
aureus dan kontrol). Bakteri diinokulasikan pada masing - masing bagian di
cawan petri. Setiap cawan petri beri tanda nama medium, nama bakteri yang
diinokulasikan, tanggal inokulasi dan identitas kelompok. Hal ini berguna agar
kedua cawan petri tidak tertukar. Kedua cawan petri diinkubasi selama 48 jam,
pada suhu kamar. Diamati reaksi yang terjadi dan hasil yang diperoleh dicatat.
Reaksi positif ditunjukkan dengan menculnya daerah bening di sekitar koloni.
Menurut hasil praktikum, pada bakteri Bacillus subtillis tidak terdapat
daerah bening di sekitar koloni, Eschericia coli terdapat daerah bening di sekitar
koloni, dan Staphylococcus aureus terdapat daerah bening di sekitar koloni.
V.4. Hidrolisis Gelatin
Enzim-enzim yang menguraikan golongan potein disebut
protenase/protease, kedua nama ini dianggap sinonim. Contoh pada hidrolisis
gelatin dimana protein diperoleh dari hidrolisis kalogen, yaitu zat pada jaringan
penghubung dan tendon dari hewan. Gelatin akan terurai oleh mikrobia yang
mensintesis enzim proteolisis. Larutan gelatin bersifat cair pada suhu ruang atau
suhu kamar dan padat apabila berada di dalam refrigerator, dan apabila gelatin
sudah dihidrolisis oleh mikroba, maka akan tetap bersifat cair (Poedjiadi, 2006).
Percobaan ini dilakukan dengan cara biakan B. subtillis diinokulasikan
secara aseptik pada tabung reaksi berisi medium cair gelatin. Dilakukan hal yang
sama untuk E. coli dan S. aureus. Satu tabung reaksi tidak diinokulasikan dan
digunakan sebagai kontrol. Setiap tabung diberi tanda dengan nama medium,
nama bakteri yang diinokulasikan, tanggal inokulasi, dan identitas kelompok. Hal
ini berguna agar tabung-tabung tidak tertukar. Tabung - tabung tersebut kemudian
didinginkan di dalam kulkas. Diamati terjadinya reaksi dan dibandingkan dengan
kontrol (jika gelatin memadat, mikroba tidak memiliki enzim protease, jika
mencair, mikroba memiliki enzim protease).
Menurut hasil praktikum, Bacillus subtillis dapat menguraikan gelatin atau
memiliki enzim protease, Eschericia coli tidak dapat menguraikan gelatin atau
tidak memiliki enzim protease, dan Staphylococcus aureus dapat menguraikan
gelatin atau memiliki enzim protease.
V.5. Uji Katalase
Menurut Sadikin (2002), mekanisme enzim katalase memecah H2O2 yaitu
saat melakukan respirasi, bakteri menghasilkan berbagai macam komponen salah
satunya H2O2. Bakteri yang memiliki kemampuan memecah H2O2 dengan enzim
katalase maka segera membentuk suatu sistem pertahanan dari toksik H 2O2 yang
dihasilkannya sendiri. Bakteri katalase positif akan memecah H 2O2 menjadi H2O
dan O2 dimana parameter yang menunjukkan adanya aktivitas katalase tersebut
adalah adanya gelembung-gelembung oksigen seperti pada percobaan yang telah
dilakukan. Enzim katalase menyebabkan H2O2 diurai dengan reaksi sebagai
berikut:
2H2O2 2H2O + O2
Percobaan ini dilakukan dengan cara gelas benda dibersihkan dengan
alkohol 70%, gelas benda dibagi menjadi 3 bagian dengan spidol permanen dan
diberi nama bakteri yang diinokulasikan. Hal ini berguna agar pengamatan
bakteri tidak tertukar. Masing - masing bagian diteteskan larutan H2O2 3% di atas
gelas obyek. Biakan B. subtillis, E. coli, dan S. aureus diambil sedikit masing -
masing dengan ose secara aseptik dan diletakkan di dalam tetesan H 2O2 3%.
Diamati adanya gelembung-gelembung O2 di dalam larutan H2O2 3%.
Menurut hasil praktikum, pada uji katalase dengan bakteri Bacillus subtillis,
terdapat gelembung-gelembung O2, Eschericia coli tidak ada gelembung-
gelembung O2, dan Staphylococcus aureus terdapat gelembung-gelembung O2.

VI. Penutup
VI.1. Kesimpulan
Identifikasi bakteri dapat dilakukan dengan menguji aktivitas enzimatisnya.
Enzim merupakan katalis dalam sistem biologi atau disebut pula dengan
biokatalis. Uji aktivitas enzimatis terbagi menjadi dua yaitu uji aktivitas
eksoenzim dan uji aktivitas endoenzim. Uji aktivitas eksoenzim terdiri dari uji
amilolitik, proteolitik, dan lipolitik sedangkan uji aktivitas endoenzim terdiri dari
uji katalase dan oksidase.
VI.2. Saran
1. Peneliti dapat lebih terampil dalam melakukan teknik aseptik.

VII. Daftar Pustaka


Aneja , K. R. 2008. A Textbook of Basic and Applied Microbiology. New Age
International
Durham. 2006. Media and Cultural Studies Keyworks. Oxford: Blackwell Publishing.
Oktarina, T. 2010. Pengujian Metabolisme Mikroba. http://www.try4know.co.cc/.
Diakses pada 07 Mei 2017.
Pelczar, Michael J. ECS. Chan. 2008. Dasar-dasar mikrobiologi. Jakarta: UI Press.
Poedjiadi, Anna, 2006. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press
Pommerville, Jeffrey C. 2013. Fundamentals of Microbiology. Jones & Bartlett
Publishers
Sadikin, M. 2002. Seri Biokimia: Biokimia Enzim. Jakarta: Widya Medika.