Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT
yang telah melimpahkan rahmatnya dan hidayah-Nya kepada kita semua. Tak lupa
pula shalawat serta salam kita hantarkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW
yang telah merangakul kita dari zaman Jahiliyah menuju zaman Islamiyah kini.

Serta tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Fitria Rachmawaty,
S.Psi., M.Psi. Psi yang senantiasa membimbing saya sehingga makalah ini dapat
terselasaikan dengan baik dan lancar.

Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada


makalah ini. Oleh karena itu saya mengundang pembaca untuk memberi saran serta
kritik yang dapat membangun makalah ini. Kritik konstruktif dari pembaca sangata
kita harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga
makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semuanya.

Malang, 11 November 2016

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................
i

DAFATAR ISI.....................................................................................................................
ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang...............................................................................................................


1
1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................................
1
1.3 Tujuan............................................................................................................................
1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengaruh Pribadi dalam tingkah laku prososial.............................................................


2

2.2 Model pengambilan keputusan untuk membantu orang lain........................................


2

2.3 Faktor yang mendorong tindakan prososial...................................................................


4

BAB II PENUTUP

3.1 Kesimpulan....................................................................................................................
10

3.2 Saran..............................................................................................................................
10
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................
11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Tingkahlaku Prososial (Prosocial behavior) adalah segala tindakan menolong


yang menguntungkan orang lain, tanpa harus menyediakan suatu keuntungan
langsung pada orang yang melakukannya , dan mungkin membahayakan dirinya
sendiri. Misalnya: Santi lari kedalam rumah yang sedang terbakar demi
menyelamatkan seorang anak kecil yang terperangkap di dalamnya. Dalam hal ini,
perilaku Santi disebut dengan perilaku Prososial. Lain ceritanya bila yang masuk
kerumah tersebut adalah ibu dari anak yang terperangkap itu, karena ibunya sama-
sama diuntungkan karena tidak kehilangan anaknya. Sementara itu Altruisme
(Altruism) adalah melakukan tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri demi
kebaikan orang lain.
Dalam proses pengambilan keputusan untuk melakukan tingkah laku
prososial, orang harus mengetahui bahwa ada seseorang yang membutuhkan bantuan.
Tingkah laku prososial melibatkan berbagai aktiviti seperti berkongsi menyelesaikan
masalah orang lain, penyelamat dan penolong. Selalunya tingkah laku prososial
dikelilingi dengan altruisme. Tingkah laku prososial merujuk kepada bentuk-bentuk
aktiviti manakala altruisme adalah motivasi untuk menolong orang lain dengan niat
yang iklas dan memenuhi keperluan orang lain tanpa mengira bagaimana tindakan
tersebut akan memberi faedah kepadanya.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa pengaruh pribadi dalam tingkah laku prososial?
2. Bagaimana model pengambilan keputusan pada tingkah laku
prososial?
3. Apakah terdapat factor pengaruh pribadi dalam tingkah laku prososial?

1.3 Tujuan
1. Memahami pengaruh pribadi dalam tingkah laku prososial
2. Untuk mengetahui model pengambilan keputusan pada tingkah laku
prososial
3. Untuk mengetahui factor pengaruh pribadi dalam tingkah laku
prososial
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengaruh Pribadi Dalam Tingkah Laku Prososial


Terdapat faktor-faktor tambahan yang juga memiliki pengaruh pada kemungkinan
by stander menolong atau tidak, yaitu:
1. Menolong Orang yang Disukai
Segala hal faktor yang dapat meningkatkan ketertarikan by stander kepada
korban akan meningkatkan kemungkinan terjadinya respon prososial apabila
individu tersebut memutuhkan pertolongan.
2. Atribusi Menyangkut Tanggung Jawab Korban
Pertolongan tidak diberikan secara otomatis ketika seorang bystander
mengasumsikan bahwa kejadian tersebut akibat kesalahan korban sendiri,
terutama jika penolong yang potensial cendrung mengasumsikan bahwa
kebanyakan kesialan dapat dikontrol. Jika demikian, masalah dipersepsikan
sebagai kesalahan korban.
3. Model-Model Prososial: Kekuatan dari Contoh Positif
Dalam situasi darurat, kita mengindikasikan bahwa keberadaan by stander
lainnya yang tidak berespons dapat menghambat tingkah laku menolong. Hal
yang juga sama benarnya adalah bahwa keberadaan by stander yang
menolong memberi model sosial yang kuat dan hasilnya adalah suatu
peningkatan dalam tingkah laku menolong di antara bystander lainnya.
Disamping model prososial di dalam dunia nyata, model-model yang
menolong dalam media juga berkontribusi pada pembentukan norma sosial
yang mendukung tingkah laku prososial.
2.2 Model Pengambilan Keputusan Untuk Membantu Orang Lain
1. Menyadari Adanya Situasi Darurat.
Situasi darurat tidak dapat terjadi menurut jadwal, jadi tidak ada cara
untuk mengantisipasi kapan, dimana masalah yang tidak diharapkan
akan terjadi. Darley dan Batson menyatakan bahwa ketika seseorang
dipenuhi rasa kekhawatiran-kekhawatiran pribadi, maka tingkah laku
prososial cendrung tidakakan terjadi. Ketika bystander terlalu sibuk
atas segala permasalahan pribadinya, maka bystander tersebut akan
cendrung menjadi acuh tak acuh atau tidak dapat menyadari situasi
darurat yang sedang terjadi di sekitarnya sehingga perilaku prososial
atau altruisme tidak akan terjadi.
2. Menginterpretasikan keadaan sebagai situasi darurat.
Meskipun bystander memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya,
namun bystander hanya memiliki informasi yang tidak lengkap dan
terbatas mengenai apa yang kira-kira sedang dilakukan seseorang.
Menurut Macrae & Milne, biasanya bystander akan lebih baik
mengasumsikan informasi mengenai yang sedang terjadi dengan
penjelasan yang bersifat rutin dan sehari-hari dari pada yang sifatnya
tidak biasa atau aneh.
Dengan adanya ketidak lengkapan dalam memiliki informasi yang
jelas, kecendrungan bystander yang berada dalam sekelompok asing
untuk menahan diri dan tidak dapat berbuat apa pun adalah sesuatu
yang disebut sebagai pengabaian majemuk, dimana tidak ada orang
yang tahu dengan jelas apa yang sedang terjadi, masing-masing
tergantung pada yang lain untuk memberi petunjuk.
3. Mengasumsikan bahwa adalah tanggung jawabnya untuk menolong
ketika bystander memberi perhatian kepada beberapa kejadian
eksternal dan menginterpretasikannya sebagai suatu situasi darurat,
tingkah laku prososialakan dilakukan hanya jika bystander tersebut
mengambil tanggung jawab untuk menolong. Pada banyak keadaan,
tanggung jawab memiliki kejelasan pada posisinya. Misalnya polisi
adalah mereka yang harus melakukan sesuatu terhadap kejahatan.
4. Mengetahui apa yang harus dilakukan
bystander yang sedang berada pada situasi darurat, harus
mempertimbangkan apakah ia tahu tentang cara menolong orang yang
berada pada situasi darurat tersebut. Pada umumnya sebagian situasi
darurat mudah ditangani. Jika seorang bystander memiliki
pengetahuan, pengalaman, atau kecakapan yang dibutuhkan, maka ia
cenderung merasa bertanggung jawab dana kan memberikan
bantuannya dengan atau tanpa kehadiran bystander lain.
5. Mengambil keputusan terakhir untuk menolong
Meskipun seorang bystander telah melewati keempat langkah
sebelumnya dengan jawaban iya, perilaku menolong mungkin saja
tidak akan terjadi kecuali mereka membuat keputusan akhir untuk
bertindak. Pertolongan pada tahap akhir ini dapat dihambat oleh rasa
takut terhadap adanya konsekuensi negatif yang potensial. Secara
umum, perilaku menolong mungkin tidak akan muncul karena biaya
potensialnya dinilai terlalu tinggi, kecuali jika orang memiliki
motivasi yang luar biasa besar untuk membantu.

2.3 Factor-faktor yang mendorong tindakan prososial ada 7, yaitu:


1. Daya tarik fisik. Apa pun factor yang dapat meningkatkan ketertarikan
bystander pada korban akan meningkatkan kemungkinan terjadinya respon
sprososial apabila individu tersebut membutuhkan pertolongan atau orang
menolong orang lain karena orang tersebut punya kemiripan dengan kita.
2. Atribusi pada korban. Contoh: ketika Sant imelihat ada orang terjatuh, dan
setelah melihat ternyata orang tersebut membawa botol minuman keras, Santi
akan menilai bahwa orang tersebut terjatuh karena kesalahannya sendiri
sehingga tidak perlu ditolong.
3. Pengalaman pada kejadian prososial. Contoh: Susi pernah membantu seorang
ibu-ibu yang terjatuh di pasar. Ternyata ibu tersebut adalah seorang pencopet
dan langsung saja setelah ditolong ia merampas dompet Susi dan melarikan
diri. Kejadian ini dapat mempengaruhi Susi untuk melakukan tindakan
prososial di masa mendatang.
4. Kondisi emosional bystander. Kondisi suasana hati yang baik akan
meningkatkan peluang terjadinya tingkah laku menolong orang lain,
sedangkan kondisi suasana hati yang tidak baik akan menghambat
pertolongan. Namun, Jika tingkah laku prososial dapat merusak suasana baik
hati seseorang, suasana hati yang baik menyebabkan berkurangnya perilaku
menolong. Sebaliknya juga bila perilaku prososial dapat memberikan
pengaruh positif pada emosi yang negatif, maka suasana hati yang buruk
dapat menyebabkan meningkatnya perilaku menolong. Rasa kesedihan dan
kehilangan juga dapat meningkatkan perilaku prososial karena dapat menjadi
kompensasi atas rasa kehilangannya.
5. Empatirespons afektif dan kognitif yang kompleks pada distress emosional
orang lain. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional
orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan
mengambil perspektif orang lain.
6. Factor disposisional (gen, wanita). Wanita cenderung lebih mau menolong
dari pada pria.
7. Kejadian khusus

BAB III
PENUTUPAN

3.1 KESIMPULAN
Tingkahlaku Prososial (Prosocial behavior) adalah segala tindakan
menolong yang menguntungkan orang lain, tanpa harus menyediakan
suatu keuntungan langsung pada orang yang melakukannya , dan mungkin
membahayakan dirinya sendiri.
Dalam perilaku prososial terdapat beberapa aspek-aspek seperti berbagai,
menolong, kerja sama, bertindak jujur, berderma, dan mempertimbangkan
kesejahteraan orang lain. Ketika dihadapi pada suatu situasi darurat, seorang
bystander melewati lima langkah penting yang meliputi pengambilan keputusan
yang dapat menghambat atau memberi peluang terjadinya tanggapan prososial.
Dia harus menyadari adanya situasi darurat, secara tepat menginterpretasikan apa
yang sedang terjadi, menerima tanggung jawab untuk menolong, memiliki
keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menolong, dan kemudian
benar-benar mengambil keputusan untuk memberi bantuan.
Keadaan emosional yang positif dan negatif dapat meningkatkan atau
menghambat tingkah laku prososial, tergantung pada faktor-faktor spesifik dalam
situasi tertentu dan pada bentuk bantuan yang dibutuhkan. Perbedaan individu
dalam tingkah laku altruistik sebagian besar disebabkan oleh empati, tanggapan
kompleks yang meliputi komponen afektif maupun komponen kognitif. Derajat
seseorang mampu berespons dengan empati tergantung pada faktor genetis dan
pengalaman belajar.

3.2 SARAN

Segala sesuatu yang kita butuhkan untuk menolong seseorang harus ikhlas
tanpa ada imbalan atau reward. Karena jika kita menolong seseorang
hanya ingin dapat pujian atau reward hanya akan sia-sia saja.

DAFTAR PUSTAKA

Baron A. Robert, Bryne Donn. 2005. Psikologi Sosial Edisi Kesepuluh.


Jakarta: Erlangga.
http://makalahkitasemua.blogspot.com/2009/06/tingkah-laku-
prososial.html#ixzz4PbSzrncO