Anda di halaman 1dari 30

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan ke hadirat Allah SWT, zat Yang Maha
Indah dengan segala keindahan-Nya, zat Yang Maha Pengasih dengan segala
kasih sayang-Nya, yang terlepas dari segala sifat lemah semua makhluk.
Alhamdulillah berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat
menyelesaikan proposal TPP yang berjudul Analisis Status Gizi (BMT, status
gizi) di Sekolah Dasar Negeri sebagai tugas kompetensi kelompok yang
merupakan salah satu bagian dari Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan
Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.
Dalam penyelesaian proposal TPP ini, penulis banyak mendapat bantuan,
bimbingan dan saran. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih
kepada :
1. Allah SWT yang telah memberi kehidupan dengan sejuknya keimanan
2. Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan materil maupun spiritual
3. Ratika Febriani,dr selaku dosen pembimbing, dan
4. Semua pihak yang membantu penulis
Penulis menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari sempurna, karena
kesempurnaan itu hanya milik Allah. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua
pihak yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan di masa
mendatang. Sekian dan terima kasih atas partisipasinya.

Palembang, Maret 2015

Penulis

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 1


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses pencernaan, absobsi, transportasi,
penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk
mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ,
serta menghasilkan energi. Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan
dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutrisi dalam bentuk variabel
tertentu (Supariasa, dkk, 2001).

Asupan karbohidrat, lemak, dan protein menyediakan energi yang dapat


digunakan untuk menjalankan berbagai fungsi tubuh atau disimpan untuk
penggunaan selanjutnya. Kestabilan berat badan dan komposisinya selama waktu
yang lama membutuhkan keseimbangan masukan energi dan pengeluarannya. Bila
seseorang makan berlebih dan masukan energi melebihi pengeluarannya,
kebanyakan energi berlebih tersebut akan disimpan sebagai lemak, dan berat
badan akan meningkat. Sebaliknya, kehilangan massa tubuh dan kelaparan terjadi
apabila masukan energi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme tubuh. (Guyton, 2007)

Karena jenis makanan yang berbeda mengandung proporsi protein,


karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin yang berbeda-beda, maka keseimbangan
yang wajar juga harus dipertahankan di antara semua jenis makanan ini sehingga
semua segmen sistem metabolisme tubuh dapat dipasok dengan bahan yang di
butuhkan (Guyton, 2007). Penyebab terjadinya berbagai penyakit gangguan
metabolisme gizi diantaranya adalah jumlah masukan energi melebihi kebutuhan
karena naiknya konsumsi lemak dan gula. Kelebihan energi yang kemudian
disimpan dalam bentuk cadangan lemak dalam tubuh menjadikan berat badan
semakin bertambah hingga terjadilah obesitas. (Moehji, Sjahmien.2007)

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 2


Blok V yang berjudul Homeostasis, Stress, Adaptasi, Dan Metabolisme.
Blok ini bertujuan agar mahasiswa mampu memahami homeostasis, stress,
adaptasi dan metabolisme tubuh. Salah satu strategi pembelajaran di Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang adalah adanya Tugas
Pengenalan Profesi (TPP). Tugas ini merupakan salah satu kegiatan pembelajaran
dalam blok yang mengharuskan mahasiswa untuk turun langsung ke lapangan.
Tugas Pengenalan Profesi yang dilakukan pada blok V kali ini adalah
menganalisis status gizi anak di sekolah dasar.

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 3


1.2 Rumusan Masalah
1) Bagaimana status gizi normal pada anak?
2) Bagaimana cara mengukur dan menilai status gizi pada anak?
3) Apa faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi pada anak?
4) Apa penyakit-penyakit yang sering ditimbulkan akibat dari kekurangan
gizi pada anak ?

1.3 Tujuan
1.1.1 Tujuan Umum
Untuk melaksanakan tugas dari Blok 5 yang berupa Tugas Pengenalan
Profesi yaitu Analisa status gizi anak di sekolah dasar

1.2.2 Tujuan Khusus


1) Untuk mengetahui status gizi normal pada anak
2) Untuk mengetahui dan memahami cara mengukur dan menilai status
gizi pada anak
3) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi pada
anak
4) Untuk mengetahui penyakit-penyakit yang sering ditimbulkan akibat
dari kekurangan gizi pada anak

1.4 Manfaat
1) Untuk mahasiswa,dapat menjadikan Laporan Tugas Pengenalan Profesi
(TPP) ini sebagai bahan masukan bahwa gizi pada anak sangat
dibutuhkan agar menjadi seorang dokter yang berwawasan luas.
2) Untuk Masyarakat, diharapkan dapat memperhatikan gizi anaknya
terutama yang masih berusia sekolah yang sangat membutuhkan asupan
gizi yang banyak untuk pertumbuhan.

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 4


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gizi
Gizi buruk atau gizi salah satu (malnutrition) membawa dampak bukan
hanya pada kehidupan anak-anak yang masih berusia muda, akan tetapi dapat
terjadi pada semua golongan usia. Dampak buruk itu dapat termanifestasi dalam
bentuk ringan atau berat. Gangguan tumbuh kembang fisik, rendahnya daya tahan
terhadap penyakit, tingkat kecerdasan yang kurang dari seharusnya, prestasi kerja
dan prestasi olahraga yang rendah adalah bentuk manifestasi dampak keadaan
gizi, yang tidak optimal. Dengan kata lain, gizi buruk berdampak yang tidak
menguntungkan terhadap berbagai aspek kehidupan suatu bangsa. (Moehji,
Sjahmien, 2007)
Hubungan antara tumbuh kembang otak dan tingkat kecerdasan dan
keadaan gizi anak pada usia awal kehidupannya, banyak menarik perhatian para
ahli gizi dan kesehatan. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan terbukti
bahwa pada penderita gizi buruk telah terjadi hambatan pertumbuhan terhadap
pertumbuhan otak, dan tingkat kecerdasan. (Moehji, Sjahmien, 2007)
Penyebab terjadinya berbagai penyakit gangguan metabolisme gizi
diantaranya adalah jumlah masukan energi melebihi kebutuhan karena naiknya
konsumsi lemak dan gula. Kelebihan energi yang kemudian disimpan dalam
bentuk cadangan lemak dalam tubuh menjadikan berat badan semakin bertambah
hingga terjadilah obesitas. (Moehji, Sjahmien, 2007)

2.1.1 Pengertian Gizi


Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses pencernaan, absorbsi,
transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang
tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan
fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. (Supariasa,
dkk, 2002)

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 5


Status gizi adalah keadaan yang diakibatkan oleh status
keseimbangan antara jumlah asupan (intake) zat gizi dan jumlah yang
dibutuhkan (requirement) oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis:
(pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas, pemeliharaan kesehatan,
dan lainnya). (Suyatno, 2009). Status gizi adalah ekspresi dari keadaan
keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari
nutrisi dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa, dkk, 2000).
Status gizi yang baik untuk membangun sumber daya berkualitas
pada hakekatnya harus dimulai sedini mungkin, yakni sejak manusia itu
masih berada dalam kandungan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan
adalah makanannya. Melalui makanan manusia mendapat zat gizi yang
merupakan kebutuhan dasar untuk hidup dan berkembang.
Ketidaktahuan tentang cara memberikan makan pada anak balita baik
dari jumlah, jenis, dan frekuensi pemberian serta adanya kebiasaan
yang merugikan kesehatan (pantangan terhadap satu jenis makanan
tertentu), secara langsung dan tidak langsung menjadi penyebab utama
terjadinya masalah kurang gizi pada anak. (Supariasa, dkk, 2000)
Zat gizi menyediakan tenaga bagi tubuh, mengatur proses dalam
tubuh dan membuat lancarnya pertumbuhan serta memperbaiki jaringan
tubuh. Beberapa zat gizi yang disediakan oleh pangan tersebut disebut
zat gizi essensial, Zat gizi essensial yang disediakan untuk tubuh yang
dihasilkan dalam pangan, umumnya adalah zat gizi yang tidak dibentuk
dalam tubuh dan harus disediakan dari unsur-unsur pangan di antaranya
adalah asam amino essensial. Semua zat gizi essensial diperlukan untuk
memperoleh dan memelihara pertumbuhan, perkembangan dan
kesehatan yang baik. Oleh karena itu, pengetahuan terapan tentang
kandungan zat gizi dalam pangan yang umum dapat diperoleh
penduduk di suatu tempat adalah penting guna merencanakan,
menyiapkan dan mengkonsumsi makanan seimbang. (Murray, R.K,
2003)

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 6


Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam
bentuk variable tertentu atau perwujudan dari nutriture. Dibedakan
antara status gizi buruk, baik dan lebih diantaranya :
1. Gizi seimbang adalah sesuai antara suplai dan kebutuhan gizi
2. Gizi kurang adalah suplai tidak mencukupi kebutuhan zat gizi.
3. Gizi lebih adalah suplai melebihi kebutuhan zat gizi.

2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Gizi


Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tubuh
kembang anak, yaitu (Maharani,Indah,dkk, 2007)
a. Faktor genetic
Merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh
kembang anak / potensi genetic yang bermutu hendaknya dapat
berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil
akhir yang optimal
b. Faktor lingkungan
Lingkungan merupakan faktor sangat menentukan tercapai atau
tidaknya potensi bawaan. Faktor lingkungan secara garis besar dibagi :
1. Faktor lingkungan yang mempengaruhi bayi pada waktu masih
dalam kandungan, antara lain :
1. Gizi ibu pada waktu hamil
2. Toksin atau zat kimia
3. Endokrin
4. Radiasi
5. Infeksi
6. Stress
7. Imunitas
2. Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
setelah lahir (factor postnatal):
Lingkungan biologis antara lain
Faktor fisik

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 7


Factor psikososial dan keluarga

UNICEF telah mengembangkan kerangka konsep gizi makro sebagai


salah satu strategi untuk menanggulangi masalah gizi kurang. Dalam
kerangka tersebut ditunjukkan bahwa masalah gizi kurang dapat
disebabkan oleh penyebab langsung dan penyebab tak
langsung.(Azwar, 2004 )
1) Secara langsung
Timbulnya gizi kurang secara langsung tidak hanya dikarenakan
asupan makanan yang kurang, tetapi juga penyakit. Anak yang
mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakit, pada
akhirnya anak menderita gizi kurang. Demikian pula pada anak
yang tidak memperoleh asupan makanan yang cukup, maka daya
tahan tubuh akan menjadi lemah dan akan mudah terserang
penyakit. (Azwar, 2004)
2) Secara tidak langsung
Ada 2 penyebab tidak langsung untuk terjadinya gizi kurang, yaitu:
a. Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai: Setiap
keluarga diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan
seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik,
jumlah maupun mutu gizi. (Azwar, 2004)
b. Pola pengasuh anak kurang memadai: Setiap keluarga dan
masyarakat diharapkan dapat menyediakan waktu, perhatian,
dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang
dengan baik (fisik, mental, social) (Azwar, 2004)

2.1.3 Penilaian status gizi


2.1.3.1 Penilaian secara langsung
Penilaian status gizi secara langsung dibagi menjadi empat
penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Adapun

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 8


penilaian dari masing- masing adalah sebagai berikut (Supariasa, dkk,
2001)
a. Antropometri
Secara umum bermakna ukuran tubuh manusia. Antropometri gizi
berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan
komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. (Almatsier,
2009)

b. Klinis
Metode ini, didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang
dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal tersebut dapat dilihat
pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau pada
organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar
tiroid.(Almatsier, 2009)

c. Biokimia
Adalah suatu pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang
dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang
digunakan antara lain: urine, tinja, darah, beberapa jaringan tubuh lain
seperti hati dan otot.(Almatsier, 2009)

d. Biofisik
Penentuan gizi secara biofisik adalah suatu metode penentuan status gizi
dengan melihat kemampuan fungsi, khususnya jaringan, dan melihat
perubahan struktur jaringan.(Almatsier, 2009)

2.1.3.2 Penilaian secara tidak langsung


Penilaian status gizi secara tidak langsung dibagi menjadi 3 yaitu:
survey konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi
(Supariasa, 2001)

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 9


a. Survey konsumsi makanan
Adalah suatu metode penentuan status gizi secara tidak langsung
dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. (Almatsier,
2009)
b. Statistik vital
Adalah dengan cara menganalisis data beberapa statistik kesehatan
seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan
kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan
dengan gizi.( Guyton, Arthur C, 2007)
c. Ekologi
Berdasarkan ungkapan dari Bengoa dikatakan bahwa malnutrisi
merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor
fisik, biologis, dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia
sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah,
irigasi.(Ganong, W.F, 2005)

2.1.4 Macam-macam penyakit gizi anak


a. Anemia Defisiensi Besi
Keadaan ini terjadi karena terlalu sedikit kandungan zat besi dalam
makanan, terutama pada anak yang terlalu banyak mengkonsumsi susu
sehingga mengundurkan keinginan untuk menyantap makanan lain.
Untuk mengatasi keadaan ini, disamping memberikan suplementasi zat
besi, anak harus pula diberi dan dibiasakan menyantap makanan yang
mengandung banyak besi. Sementara itu, sebagian susu diganti dengan
air atau air jeruk. Meski tidak mengandung besi, air jeruk kaya akan
vitamin c yang dapat membantu penyerapan besi. (Maharani, Indah,
dkk, 2007)

b. Penyakit kronis
Penyakit yang tidak menguras cadangan energi sekalipun, jika
berlangsung lama dapat menggangu pertumbuhan karena

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 10


menghilangkan nafsu makan anak. Disamping itu, ada pula jenis
penyakit yang menguras cadangan zat gizi, misalnya campak yang
menghabiskan cadangan vitamin A.( Maharani,Indah,dkk, 2007)

c. Berat badan berlebihan


Jika tidak teratasi, berat badan berlebihan (apalagi jika mencapai
obesitas) akan berlanjut sampai remaja dan dewasa. Sama seperti
orang dewasa, kelebihan berat badanterjadi karena tidak keseimbangan
anatara energy yang masuk dengan keluar, terlalu banyak makan,
terlalu sedikit olahraga, atau keduanya. Berbeda dengan dewasa,
kelebihan berat badan anak tidak boleh diturunkan, karena penyusutan
berat akan sekaligus menghilangkan zat gizi yang diperlukan untuk
pertumbuhan. (Maharani,Indah,dkk, 2007)

d. Pica
Orang yang mengkonsumsi sesuatu bukan makanan semisal parca dan
debu, tergolong ke dalam pica. Perilaku tersebut tidak membahayakan
hidup anak sejauh dia tidak menyantap zat toksik. Pica harus
dibedakan dengan kebiasaan anak, terutama batita, memasukkan
barang ke dalam mulut. Pada masa batita, anak menggunakan mulut
untuk belajar, misal menggigiti kelereng dan ini bukan pica.(
Maharani,Indah,dkk, 2007)

e. Berat badan kurang


Kekurangan berat yang berlangsung pada anak yang sedang tumbuh
merupakan masalah serius. Kondisi ini mencerminkan kebiasaan
makan yang buruk. Sama seperti masalah kelebihan berat, langkah
penanganan harus didasarkan pada penyebab serta kemungkinan
pemecahanya. Pertanyaan berikut mungkin dapat menyaring penyebab,
untuk kemudian mengupayakan penanganan.( Maharani,Indah, dkk,
2007) Pemantauan status gizi

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 11


2.1.5 Jenis Parameter Status Gizi
Ada beberapa jenis parameter yang dilakukan untuk mengukur tubuh manusia
yaitu: umur, berat badan, panjang badan, lingkar lengan atas, lengkar kepala,
lengkar dada, lingkar pinggul dan tebal lemak bawah kulit.
a. Umur
Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan yang
terjadi karena kesalahan ini akan menyebabkan interpretasi status gizi
menjadi salah. Hasil pengukuran berat badan dan panjang tidak akan
berarti kalau penentuan umur yang salah. (Alamtsier, 2009)
b. Berat Badan
Berat badan merupakan pengukuran yang terpenting pada bayi baru lahir..
Berat badan merupakan hasil peningkatan / penurunan semua jaringan
yang ada pada tubuh antara tulang, otot, lemak, cairan tubuh. Parameter ini
yang paling baik untuk melihat perubahan yang terjadi dalam waktu
singkat karena konsumsi makanan dan kondisi kesehatan . Penentuan berat
badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat yang digunakan sebaiknya
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ke tempat lain,
Mudah diperoleh dan relatif murah harganya,
Ketelitian penimbangan maksimum 0,1 kg,
Skalanya mudah dibaca,
Aman untuk menimbang balita. (Supariasa, dkk, 2001)
Rumus menghitung berat badan (WHO, 2000):

Berat Badan Normal = Tinggi Badan 100

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 12


Klasifiksi Berat Badan (WHO, 2000)
Kategori BMI (Kg/m2 )
Underweight <18,5 kg/m2
Normal 18,5-22,9 kg/m2
Overweight 23 kg/m2
At risk 23 24,9 kg/m2
Obese I 25 29,9 kg/m2
Obese II 30 kg/m2

Kategori Rumus berat badan


Bayi (0-12 bulan) BBI = (Umur[bulan]/2) + 4
Anak (1-10 tahun) BBI = (Umur[tahun]x2) + 8
Dewasa BBI =0,9 x Tinggi Badan
(WHO, 2000)

c. Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang telah
lain dari keadaan sekarang, jika umur diketahui dengan tepat. Di samping
itu tinggi badan merupakan ukuran kedua yang penting, karena dengan
menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan (quac stick), faktor
umur dapat dikesampingkan. Pengukuran tinggi badan untuk anak balita
yang sudah dapat berdiri dilakukan dengan alat pengukur tinggi mikrotoa
(microtoise) yang mempunyai ketelitian 0,1 cm. (Arisman, 2009)
Cara mengukur:
1. Tempelkan dengan paku mikrotoa tersebut pada dinding yang lurus
dasar setinggi tepat 2 meter. Angka 0 (nol) pada lantai yang datar rata.
2. Lepaskan sepatu atau sandal.
3. Anak harus berdiri tegak seperti sikap siap sempurna dalam baris
berbaris, kaki lurus, tumit, pantat, punggung, dan kepala bagian

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 13


belakang harus menempel pada dinding dan muka menghadap lurus
dengan pandangan ke depan.
4. Turunkan mikrotoa sampai rapat pada kepala bagian atas, siku-siku
harus lurus menempel pada dinding.
5. Baca angka pada skala yang nampak pada lubang dalam gulungan
mikrotoa. (Arisman, 2009)

d. Lingkar Kepala
Lingkar kepala dipakai untuk mengetahui volume intrakranial dan dipakai
untuk menaksir pertumbuhan otak. Apabila kepala tumbuh tidak normal
maka kepala akan mengecil dan menunjukkan retardasi mental sebaliknya
bila kepala membesar kemungkinan ada penyumbatan aliran serebrospinal
seperti pada hidrosefalus yang akan meningkatkan volume
kepala.(Sudoyo, 2008)

e. Lingkar Lengan
Pertambahan otot dan lemak di lengan berlangsung cepat selama tahun
pertama kehidupan. Anak yang mengalami malnutrisi, otot akan mengecil,
lemak menipis, dan ukuran lingkar lengan pun susut. Cara mengukur
lingkar lengan :
a. Lingkar lengan diukur dengan lingkar plastic berwarna berukuran 20
cm atau gelang yang berdiameter 4 cm. Kemudian dibagi menjadi
tiga bagian dengan sepidol yaitu : bagian yang berwarna hitam, merah
dan hijau. Warna merah dan hijau diantarai dengan warna merah yang
terbentang sepanjang 13 cm.
b. Subject diminta untuk berdiri tegak
c. Kedua tangan tergantung relaks di samping badan
d. Ukur lengan kiri subjek. Pita plastic harus ditekan sedemikian rupa
sehungga menempel pada kulit/ dan tidak pula longgar/ apapbila pita
pita yang berwarna hitam bertindihan atau menempel pada warna
merah berarti anak menderita KKP, bila pita berwarna hitam

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 14


menyentuh pita warna hijau, berarti anak berstatus gizi baik.
(Arisman, 2009)

f. Lingkar pinggang
Titik pertengahan antara batas bawah tulang rusuk dan Krista iliaka yang
diambil pada akhir ekspresi, mencerminkan adipostasis visceral, dan peka
terhadap perubahan berat badan. Berdasarkan lingkaran pinggang, telah
didefinisikan istilah level tindakan, yang berkaitan dengan tingkat risiko
terhadap kesehatan. (Barasi, E. Marry, 2007)

Level tindakan Lingkar pinggang Lingkar pinggang


(wanita) (pria)
Normal <80 cm <94 cm
Level 1- tidak ada 80 88 cm 94 102 cm
kenaikan berat badan
lebih lanjut
Level 2- risiko >77 cm >120 cm
tinggi, perlu nasihat
medis

g. Lipatan Kulit
Tebalnya lipatan kulit bagian triseps dan subskapular menggambarkan
refleksi tubuh kembang jaringan lemak di bawah kulit, yang
mencerminkan kecukupan energi. (Sudoyo, 2008)

2.1.6 Pemantauan status gizi

Terdapat metode pemantauan status gizi, diantaranya dmenggunakan


antropometri. Menurut Jahari (2004), antropometri gizi berhubungan

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 15


dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh
dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Ukuran tubuh seperti berat
badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit.
Sementara Soekirman (2000), mengatakan bahwa interpretasi dari keadaan
gizi anak dengan indikator BB/U, TB/U dan BB/TB yang digunakan pada
survei khusus, akan menjadikan kesimpulan bisa lebih tajam.(Arisman,
2009)
Beberapa indikator status gizi sebagai hasil kesimpulan dari penilaian
status gizi tersebut dikategorian sebagai berikut :
1. Jika BB/U dan TB/U rendah sedangkan BB/TB normal ;
kesimpulannya keadaan gizi anak saat ini baik, tetapi anak tersebut
mengalami masalah kronis, karena berat badan anak proporsional
dengan tinggi badan.
2. BB/U normal ; TB/U rendah; BB/TB lebih ; kesimpulannya anak
mengalami masalah gizi kronis dan pada saat ini menderita
kegemukan (Overweight) karena berat badan lebih dari proporsional
terhadap tinggi badan
3. BB/U , TB/U dan BB/TB rendah ; anak mengalami kurang gizi berat
dan kronis. Artinya pada saat ini keadaan gizi anak tidak baik dan
riwayat masa lalunya juga tidak baik
4. BB/U, TB/U dan BB/TB normal ; kesimpulannya keadaan gizi anak
baik pada saat ini dan masa lalu
5. BB/U rendah; TB/U normal; BB/TB rendah ; kesimpulannya anak
mengalami kurang gizi yang berat (kurus), keadaan gizi anak secara
umum baik tetapi berat badannya kurang proporsional terhadap Tinggi
badannya karena tubuh anak jangkung.(Arisman, 2009)
Menurut WH0 1983
Usia Pengamatan di Pengamatan lebih
lapangan Rinci
0-1 tahun Berat dan panjang Penjang batang badan,
lengan lingkar kepala dan

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 16


dada, diameter crista
iliaca, lipat kulit dada,
triseps, dan sub-
scapula
1-5 tahun Berat dan panjang Panjang batang badan
badan (sampai 3 (3 tahun), tinggi
tahun), tinggi badan duduk (diatas 3
(diatas 3 tahun), lipat tahun), lingkar kepala
kulit biseps dan dan dada, diameter
triseps, lingkar lengan. bikristal, lipat kulit
dada dan sub-scapula,
lingkar betis, rontgen
postero-anterior
tangan dan kaki.
5-20 tahun Berat dan tinggi Tinggi duduk,
badan, lipat kulit diameter bikristal,
triseps diameter biakrominal,
lipat kulit ditempat
lain, lingkar lengan
dan betis, rontgen
postero-anterior
tangan dan kaki
>20 tahun Berat dan tinggi Lipat kulit ditempat
badan, lipat kulit lain, lingkar lengan
triseps dan betis

2.2 ANTROPOMETRI
2.2.1 Indeks Antropometri

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 17


Indeks antropometri merupakan rasio dari suatu pengukuran terhadap
satu atau lebih pengukuran atau yang dihubungkan dengan umur.
Beberapa indeks antropometri:
a. BB/U (Berat Badan terhadap Umur)
KELEBIHAN
1. Lebih mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat
2. Baik untuk mengukur status gizi akut dan kronis
3. Indikator status gizi kurang saat sekarang
4. Sensitif terhadap perubahan kecil
5. Growth monitoring
6. Pengukuran yang berulang dapat mendeteksi growth failure karena infeksi
atau KEP
7. Dapat mendeteksi kegemukan (overweight). (David A, Binder.1993)
KEKURANGAN
1. Kadang umur secara akurat sulit didapat
2. Dapat menimbulkan interpretasi keliru bila terdapat edema maupun asites
3. Memerlukan data umur yang akurat terutama untuk usia balita
4. Sering terjadi kesalahan dalam pengukruan, seperti pengaruh pakaian atau
gerakan anak saat ditimbang
5. Secara operasional: hambatan sosial budaya >> tidak mau menimbang
anak karena seperti barang dagangan. (David A, Binder.1993)

b. TB/ U (Tinggi Badan terhadap Umur)


Menurut Beaton dan Bengoa (1973) indeks TB/U dapat memberikan status
gizi masa lampau dan status sosial ekonomi

KELEBIHAN
1. Baik untuk menilai status gizi masa lampau
2. Alat dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa
3. Indikator kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa
KEKURANGAN

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 18


1. TB tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun
2. Diperlukan 2 orang untuk melakukan pengukuran, karena biasanya anak
relatif sulit berdiri tegak
3. Ketepatan umur sulit didapat. (Sudoyo, 2008)
c. BB/ TB (Berat Badan terhadap Tinggi Badan)
BB memiliki hubungan linear dengan TB. Dalam keadaan normal
perkembangan BB searah dengan pertumbuhan TB dengan kecepatan tertentu
. (Sudoyo, 2008)
KELEBIHAN
1. Tidak memerlukan data umur
2. Dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal, kurus)
3. Dapat menjadi indikator status gizi saat ini (current nutrition status). .
(Sudoyo, 2008)
KEKURANGAN
1. Karena faktor umur tidak dipertimbangkan, maka tidak dapat memberikan
gambaran apakah anak pendek atau cukup TB atau kelebihan TB menurut
umur
2. Operasional: sulit melakukan pengukuran TB pada balita
3. Pengukuran relatif lebih lama
4. Memerlukan 2 orang untuk melakukannya
5. Sering terjadi kesalahan dalam pembacaan hasil pengukuran, terutama bila
dilakukan oleh kelompok nonprofessional. (Sudoyo, 2008)

d. LLA/ U (Lingkar Lengan Atas terhadap Umur)


Perkembangan LLA (Jellife`1996)
1. Pada tahun pertama kehidupan : 5.4 cm
2. Pada umur 2-5 tahun : <1.5 cm
3. Kurang sensitif untuk tahun berikutnya
Penggunaan LLA sebagai indikator status gizi, disamping digunakan secara
tunggal, juga dalam bentuk kombinasi dengan parameter lainnya seperti
LLA/U dan LLA/TB (Quack Stick)

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 19


KELEBIHAN
1. Indikator yang baik untuk menilai KEP berat
2. Alat ukur murah, sederhana, sangat ringan, dapat dibuat sendiri, kader
posyandu dapat melakukannya
3. Dapat digunakan oleh orang yang tidak membaca tulis, dengan memberi
kode warna untuk menentukan tingkat keadaan gizi
KEKURANGAN
1. Hanya dapat mengidentifikasi anak dengan KEP berat
2. Sulit menemukan ambang batas
3. Sulit untuk melihat pertumbuhan anak 2-5 tahun. (Sudoyo, 2008)

e. Indeks Massa Tubuh (IMT)


The World Health Organization(WHO) pada tahun 1997, The National Institute
of Health (NIH) pada tahun 1998 dan The Expert Committee on Clinical
Guidelines for Overweight in Adolescent Preventive Services telah
merekomendasikan Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT)
sebagai baku pengukuran obesitas pada anak dan remaja di atas usia 2 tahun. IMT
merupakan petunjuk untuk menentukan kelebihan beratbadan berdasarkan Indeks
Quatelet (berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam
meter(kg/m2)). Interpretasi IMT tergantung pada umur dan jeniskelamin anak, karena
anak lelaki dan perempuan memiliki lemak tubuh yang berbeda.Berbeda dengan orang
dewasa, IMT pada anak berubah sesuai umur dan sesuai denganpeningkatan panjang
dan berat badan. Baru-baru ini The Centers for Disease Control (CDC)
mempublikasikan kurva IMT. IMT dapat diplotkan sesuai jenis kelamin pada kurva
pertumbuhan CDC untuk anak berusia 2-20 tahun.

IMT adalah cara termudah untuk memperkirakan obesitas serta berkorelasi tinggi
dengan massa lemak tubuh, selain itu juga penting untuk mengidentifikasi pasien
obesitas yang mempunyai risiko mendapat komplikasi medis. IMT mempunyai
keunggulan utama yakni menggambarkan lemak tubuh yang berlebihan, sederhana dan
bisa digunakan dalam penelitian populasi berskala besar.Pengukurannya hanya

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 20


membutuhkan 2 hal yakni berat badan dan tinggi badan, yang keduanya dapat dilakukan
secara akurat oleh seseorang dengan sedikit latihan.Keterbatasannya adalah
membutuhkan penilaian lain bila dipergunakan secara individual.

Salah satu keterbatasan IMT adalah tidak bisa membedakan berat yang berasal dari
lemak dan berat dari otot atau tulang. IMT juga tidak dapat mengidentifikasi distribusi
daril emak tubuh. Sehingga beberapa penelitian menyatakan bahwa standar cut off
point untuk mendefinisikan obesitas berdasarkan IMT mungkin tidak menggambarkan
risiko yangs ama untuk konsekuensi kesehatan pada semua ras atau kelompok
etnis.Klasifikasi IMT terhadap umur adalah sebagai berikut : < persentil ke-5 adalah
beratbadan kurang, persentil ke-85 adalah overweight, dan persentil ke-95 adalah
obesitas. (Guyton, Arthur C, 2007)

IMT = BB (kg)
TB2 (m)

Metode yang paling berguna dan banyak digunakan untuk mengukur


tingkat obesitas adalah BMI, yang didapat dengan cara membagi berat
badan(kg) dengan kuadrat dari tinggi badan. Nilai BMI yang didapat tidak
tergantung pada umur dan jenis kelamin.(Kemenkes RI,2010)
Keterbatasan BMI adalah tidak dapat digunakan bagi :
a. Anak-anak yang dalam masa pertumbuhan
b. Wanita hamil
c. Orang yang sangat berotot, contohnya atlet
2.2.2 Interpretasi Indeks Antropometri
Tabel 2.2.5.1 Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB
Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS
Indeks
Batas Sebutan Status
No yang
Pengelompokan Gizi
dipakai
1 BB/U < -3 SD Gizi buruk

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 21


- 3 s/d <-2 SD Gizi kurang
- 2 s/d +2 SD Gizi baik
> +2 SD Gizi lebih
2 TB/U < -3 SD Sangat Pendek
- 3 s/d <-2 SD Pendek
- 2 s/d +2 SD Normal
> +2 SD Tinggi
3 BB/TB < -3 SD Sangat Kurus
- 3 s/d <-2 SD Kurus
- 2 s/d +2 SD Normal
> +2 SD Gemuk
Sumber: Depkes RI.2004
Tabel 2.2.5.2 Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks
Antropometri (BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-
NCHS)
Indeks yang digunakan
No Interpretasi
BB/U TB/U BB/TB

1 Rendah Rendah Normal Normal, dulu kurang gizi


Rendah Tinggi Rendah Sekarang kurang ++
Rendah Normal Rendah Sekarang kurang +
2 Normal Normal Normal Normal
Normal Tinggi Rendah Sekarang kurang
Normal Rendah Tinggi Sekarang lebih, dulu kurang
3 Tinggi Tinggi Normal Tinggi, normal
Tinggi Rendah Tinggi Obese
Tinggi Normal Tinggi Sekarang lebih, belum obese
Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) :
Rendah : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Normal : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 22


Tinggi : > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Sumber: Depkes RI.2004

Pengukuran Skor Simpang Baku (Z-score) dapat diperoleh dengan


mengurangi Nilai Induvidual Subjek (NIS) dengan Nilai Median Baku
Rujukan (NMBR) pada umur yang bersangkutan, hasilnya dibagi dengan
Nilai Simpang Baku Rujukan (NSBR). Atau dengan menggunakan rumus :

Z-score = (NIS-NMBR) / NSBR

Status gizi berdasarkan rujukan WHO-NCHS dan kesepakatan Cipanas


2000 oleh para pakar Gizi dikategorikan seperti diperlihatkan pada tabel
2.2.5.1 diatas serta di interpretasikan berdasarkan gabungan tiga indeks
antropometri seperti yang terlihat pada tabel 2.2.5.2
Klasifikasi status gizi pada IMT menurut WHO yang dihitung
menggunakan Z-skor.
Nilai Z-skor Klasifikasi
z-skor +2 Overweight
-2 z-skor < +2 Normal
-3 z-skor < -2 Kurus
z-skor <-3 Sangat kurus

Tabel 2.2.5.3 Klasifikasi IMT menurut Kemenkes RI 2010 untuk anak usia
0-6 bulan

Klasifikasi menurut Kemenkes RI (2010) dibedakan pada kelompok usia


0-6 bulan dengan kelompok usia 5-18 tahun. Klasifikasi IMT usia 0-6
bulan disajikan dalam tabel 2.2.5.3 dan IMT untuk anak usia 5-18 tahun
disajikan dalam tabel 2.2.5.4

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 23


Nilai Z-skor Klasifikasi
z-skor +2 Gemuk
-2 z-skor < +2 Normal
-3 z-skor < -2 Kurus
z-skor <-3 Sangat kurus

Tabel 2.2.5.4 Klasifikasi IMT menurut Kemenkes RI 2010 untuk anak usia
5-18 tahun

Nilai Z-skor klasifikasi


z-skor +2 Obesitas
+1 z-skor < +2 Gemuk
-2 z-skor < +1 Normal
-3 z-skor < -2 Kurus
-2 z-skor < +1 Sangat kurus

Tabel Status Gizi pada Anak Usia 2-20 tahun (Indeks Massa Tubuh)

Kategori IMT
Obesitas > 95,00
Overweight 75,01-95,00
Normal 25,00-75,00
Kurang < 25,00

(Ratu Ayu, 2011)


Gambar 2.2.5.3 Berat Menurut Umur, Laki-Laki, Usia : 2 20 Tahun

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 24


Gambar 2.2.5.4 Berat Menurut Umur, Perempuan, Usia : 2 20 Tahun

Gambar 2.2.5.5 Tinggi Menurut Umur, Laki-Laki, Usia 2 20 Tahun

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 25


Gambar 2.2.5.6 Tinggi Menurut Umur, Perempuan, Usia : 2 20 Tahun

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 26


2.2.1 Gizi seimbang
Gizi adalah pola makan yang seimbang antar zat gizi yang diperoleh
dan aneka ragm makanan dalam memanuhi kebutuhan zat gizi untuk
hidup sehat, cerdas dan produktif.
4 sehat 5 sempurna
Pola makan sehari-hari yang terdiri dari : (Barasi, E Mary, 2007)
Makanan sumber karbohidrat/kalori
Lauk pauk sumber protein hewani dan nabati
Sayur-mayur sumber vitamin dan mineral
Buah-buahan sumber vitamin dan mineral
Susu sumber lemak, protein dan lemak

Pedoman untuk gizi seimbang


Pedoman ini berisi 13 pesan dasar gizi seimbang : (Barasi, E Mary,
2007)
Makanlah aneka ragam makanan
Makanlah aneka makanan untuk kecukupan energy
Makanalah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan
energy
Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari
kebutuhan energy
Gunakan garam yodium
Makanalah makanan sumber zat besi
Berikan asi saja pada bayi sampai umur empat bulan
Biasakan makan pagi
Minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya
Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur
Hindari minum-minuman beralkohol
Makan- makanlah yang aman bagi kesehatan
Bacalah label makanan yang dikemas

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 27


BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Tempat Pelaksanaan


TPP ini akan dilaksanakan di Sekolah dasar negeri
3.2 Waktu Pelaksanaan
TPP ini dilaksanakan pada bulan Maret
3.3 Subjek Tugas Mandiri
Analisis BMI, Status Gizi di sekolah dasar negeri
3.4 Langkah Kerja
1. Konsultasi kepada pembimbing
2. Membuat dan mengajukan proposal kepada pembimbing
3. Meminta surat persetujuan izin pelaksanaan TPP yang ditandatangani
pembimbing
4. Meminta surat pengantar TPP ketempat/lokasi pada bagian akademik,
berdasarkan bukti surat persetujuan pembimbing
5. Melaksanakan TPP
6. Mencatat hasil TPP
7. Membuat laporan TPP dan meminta tanda tangan pembimbing untuk
persetujuan pelaksanaan pleno TPP
3.4.1 Pengumpulan data
Melakukan pengukuran BMI secara langsung terhadap anak di sekolah
dasar
3.4.2 Pengolahan data
Analisis kualitatif dan deskriptif yaitu pengolahan data yang
dilakukan dengan cara menghitung data yang sudah didapat dengan
menggunakan rumus yang sudah ditentukan dan mendeskripsikannya
setelah mengetahui hasil perhitungan.

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 28


DAFTAR PUSTAKA

Astrup, A.2005.Obesity in Human Nutrition, 11th ed, Elsevier Churchill


Livingstone, London.
Arisman.2009.Gizi dalam Daur Kehidupan.Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Azwar.2004. Status Gizi Orang Tua dan Anak.PT.Daya Cipta Sukses.Jakarta
Barasi, E Mary.2007.Nutrition at a Glance.Jakarta : Erlangga
David A, Binder.1993.Overweight and Obesity, dalam : An Introduction to
Nutrition and Metabolism, URL Press Limited, London
David,Clein.2004. Obesitas Pengaruh Gerak Tubuh. Sentosa Jaya.Bandung
Departemen Kesehatan RI.2004.Angka Kecukupan Gizi Rata-rata yang
Dianjurkan. Hasil Widyadyakarya Pangan dan Gizi Nasional ke-VIII.
Jakarta
Depkes RI. 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta
Ganong, W.F.2005.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Ed. 22. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Guyton, Arthur C.2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Ed. 11. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Howard, Barbara V, 2003. Obesity and Dyslinpidemia, Endocrinology and
Metabolism Clinics of North America, Vol. 32
Kemenkes RI.2010.Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.1995/Menkes/SK/XII/2010.Tenang Standar Antropometri Penilaian
Status Gizi Anak
Maharani,Indah,dkk.2007.Aplikasi Regresi Logistik dalam AnalisisFaktor Risiko
Amemia Gizi pada Anak Baru IPB.Jurnal.vol.36-43.Jakarta
Moch, Agus Krisno Budiyonto.2003. Pengaruh Keadaan Gizi Anak terhadap
Lingkungan dan Makanan yang dikonsumsi.Jurnal.Vol.15-29.Jakarta
Moehji, Sjahmien.2007.Ilmu Gizi.Jakarta: Bharata Niaga Media
Murray, R.K.2003.Biokimia Harper.Edisi ke-25.Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 29


Nughraha.Kemas.2009.Obesitas. Makmur Produksi. Malang
Ratu Ayu.2011. Faktor Risiko Obesitas pada Anak.Journal Kesehatan Universitas
Indonesia .Vol. 15.No. 1.JUNI 2011: 37-43.Makara
Sudoyo, A.W.dkk.2008. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi V.Interna
Publishing. Jakarta
Sunita, Almatsier.2009.Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama
Supariasa,dkk.2000.Penilaian Status Gizi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Supariasa,dkk.2001.Penilaian Status Gizi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Supariasa,dkk.2002.Penilaian Status Gizi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Suyatno.2009. Gizi Indeks.PT. Pribadi Kehidupan. Yogyakarta
Pusparini.2007.Obesitas Sentral, Sindroma Metabolik dan Diabetes Melitus Tipe
Dua.Jurnal.Vol.26-No.4.Jakarta
WHO.2000.Western Pasific Region, International Association for the Study of
Obesity.The Asia Pasific Perspective: Redefining Obesity and its Treatmen,
Health Communication Australia Pty Limited, Sydney
WHO.1983.Medical Methods for Termination of Pregnancy.WHO Technical
Series871, Geneva/Report of a WHO Scienntific Group.

Analisis Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 30