Anda di halaman 1dari 3

CYBER CRIME

Pengertian Cyber Crime adalah bentuk kejahatan baru yang menggunakan internet sebagai media
untuk melakukan tindak kejahatan engan munculnya era internet. Setiap aktifitas kejahatan yang
dilakukan di internet atau melalui jaringan internet, umumnya disebut sebagai kejahatan internet.

Jenis dan pelanggaran cyber crime sangat beragam sebagai akibat dari penerapan teknologi.
Cyber crime dapat berupa penyadapan dan penyalahgunaan informasi atau data yang berbentuk
elektronik maupun yang ditransfer secara elektronik, pencurian data elektronik, pornografi,
penyalahgunaan anak sebagai objek melawan hukun, penipuan memalui internet, perjudian
diinternet, pengrusakan website, disamping pengrusakkan system melalui virus, Trojan horse,
signal grounding dan lain lain.

Contoh Kasuus :

Kasus pembobolan akun pengguna rupanya tidak hanya terjadi di Lazada. Kejadian serupa juga
dialami konsumen toko e-commerce Zalora.

Sang korban mengaku bernama Lai Sulaiman. Kepada detikINET ia menceritakan kejadian
pembobolan akun Zalora miliknya yang mengakibatkan kerugian belasan juta rupiah.

Pria yang disapa Sulaiman ini mendaftar di Zalora pada 2015. Ia sempat beberapa kali berbelanja
di situs e-commerce anak usaha Rocket Internet ini.

Sulaiman mengaku sudah beberapa bulan tidak berbelanja lagi. Hingga 5 April lalu ia
mendapatkan SMS dari bank penerbit kartu kreditnya bahwa ada transaksi yang sukses di Zalora
sekitar pukul 03.00 pagi.

"Meski menerima SMS namun limit kartu tinggal sepertiganya," ujarnya.

Sontak ia kaget. Sulaiman pun langsung menelepon costomer service bank. Namun informasi
yang diberikan pihak bank makin membuatnya tercengang.

"Rupanya bukan 1 transaksi, tapi 9 transaksi. Saya pun langsung meminta pemblokiran dan
menyanggah transaksi," tuturnya.
Saat itu Sulaiman berpikir data kartu kreditnya yang dibobol dan bukan bahwa akun Zaloranya
yang dibajak. Meski demikian ia coba mencari tahu dengan mengubungi pihak costomer service
Zalora.

Sulaiman pun mendapat informasi bahwa transaksi dilakukan lewat akunnya. Belum habis
kebingungannya, muncul SMS yang berisi barang pesanan siap dikirim.

"Saya baru menyadari pembajak telah merubah nama, password dan alamat pengiriman,"
katanya.

Ia pun kembali menghubungi customer service Zalora. Perusahaan e-commerce yang berpusat di
Singapura ini langsung menangani masalah tersebut.

"Saat ini sudah 8 order yang berhasil dibatalkan. Tinggal satu lagi masih menunggu notifikasi.
Saya masih mempercayakan ke pihak Zalora untuk proses tersebut," terang Sulaiman.

Ia berharap Zalora dan e-commerce lain menerapkan verifikasi 3D dengan OTP jika pembayaran
dengan KK. Sebab tidak ada jaminan server tidak di-hack dan terjadi pencurian user name.

detikINET pun coba mengonfirmasi kasus yang menimpa Sulaiman kepada pihak Zalora.
Berikut adalah penjelasan yang disampaikan oleh Anthony Fung, CEO Zalora Indonesia, Senin
(11/4/2016), terkait masalah ini:

Kami cukup serius menanggapi isu keamanan di Zalora. Website kami dan kartu kredit
konsumen dijamin keamanannya. Kami menggunakan PCI dan Norton Secured jadi aman dair
hacker

Karena itu, ketika kami menerima isu dari Bapak Lai Sulaiman, kami melakukan pendekatan
personal:

1. Kami menghubungi konsumen, membatalkan pesanan dan refund kartu kreditnya.

2. Kami memiliki sistem keamanan kartu kredit dan pengecekan penipuan yang ketat. Kami
menangani masalah ini dengan memperketat keamanan. Jadi kami melakukan tambahan
pengecekan bila alamat pengiriman berbeda dengan nama dan alamat yang tercatat di kartu
kredit.
Pasal Terkait :

Pasal UU ITE yang menjerat kasus penyalahgunaan kartu kredit

Dalam UU ITE, kasus carding dapat dijerat dengan menggunakan pasal 31 ayat 1 dan pasal 31
ayat 2 yang membahas tentang hacking. Karena dalam salah satu langkah untuk mendapatkan
nomor kartu kredit pelaku (carder) sering melakukan hacking ke situs-situs resmi lembaga
penyedia kartu kredit untuk menembus sistem pengamannya dan mencuri nomor-nomor kartu
kredit tersebut.

Pasal 31 ayat 1: "Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan
intersepsi atau penyadapan atas informasi elektronika dan atau dokumen elektronik dalam suatu
komputer dan atau sistem elektronik secara tertentu milik orang lain."

Pasal 31 ayat 2: "Setiap orang dengan sengaja atau tanpa hak atau melawan hukum melakukan
intersepsi atau transmisi elktronik dan atau dokumen elektronik yang tidak bersidat publik dari,
ke dan di dalam suatu komputer dan atau sistem elektronik tertentu milik orang lain, baik yang
tidak menyebabkan perubahan, penghilangan dan atau penghentian informasi elektronik dan atau
dokumen elektronik yang ditransmisikan.

Dan berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) penyalahgunaan kartu kredit
(carding) termasuk dalam Pasal 362 KUHP, dan Pasal 378 KUHP yang merumuskan tentang
tindakan pencurian, pemalsuan dan penipuan. Berikut bunyi dan hukuman dalam pasal-pasal
tersebut :

Pasal 362 KUHP "Barang siapa mengambil suatu benda yang seluruhnya atau sebagian milik
orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. Hukuman : Pidana penjara
paling lama 5 tahun atau denda paling banyak sembilan ratus ribu rupiah.

Pasal 378 KUHP "Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang
lain dengan melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu
muslihat ataupun dengan rangkaian kebohongan menggerakkan orang lain untuk menyerahkan
sesuatu benda kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang.
Hukuman : Diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama 4 tahun.