Anda di halaman 1dari 14

TUGAS ORAL ASSESMENT

MODUL EKSTRAKSI

SYOK ANAFILAKSIS

Disusun Oleh:

Nama: Krisna Wijayanti

NIM: 20070340021

PROGRM STUDI PENDIDIKAN KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2013
Syok Anafilaksis
1. Pengertian : syok anafilaksis adalah suatu reaksi alergi berat yang terjadi tiba-tiba dan
dapat menyebabkan kematian. Syok anafilaksis dapat terjadi dalam beberapa detik-
menit, sebagai akibat reaksi antigen antibody, pada orang-orang yang sensitive setelah
pemberian obat-obat secara parentral, pemberian serum / vaksin atau setelah digigit
serangga. Reaksi ini diperankan oleh IgE antibody yang menyebabkan pelepasan
mediator kimia dari sel mast dan sel basofil yang beredar dalam sirkulasi berupa
histamin, SRS-A,serotonin, prostaglandin, leukotrien, adenosine.

2. Penatalaksanaan: Bila kita mencurigai adanya reaksi anafilaksis segera bertindak dan
jangan ditunggu-tunggu. Salah seorang penulis mengatakan Do not wait until it is
fully developed artinya segeralah bertindak . Tujuan utamanya adalah ventilasi yang
adekuat dan sirkulasi adekuat. Tahap-tahap penatalaksanaan syok anafilaksis adalah
sebagai berikut:

Dibagi 3:

a. Tindakan segera

Hentikan prosedur

Penderita tidur terlentang, kaki naik 30 derajad

Penderita sadar / tidak sadar

b. Sadar

jaga ABC
Berikan adrenalin 0,3-0,5 mg (dewasa). Anak-anak = 0,01 mg/kgBB
Boleh diulang 5-10 menit
Aminofilin 5 mg/kgBB + 20 menit bila sesak nafas
Lanjutkan 0,4 0,9 mg/kgBB/jam
O2 100%
Diberikan cairan infuse
c. Tidak sadar
Airway Tripple airway maneuver
Breathing: Bila henti napas Napas buatan 2x
Circulation:

d.

Di seluruh dunia sekitar 0,052% orang mengalami anafilaksis pada suatu saat dalam
kehidupannya. Angka ini tampaknya terus meningkat. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani
ana, lawan, and phylaxis, pertahanan.

Gejala dan tanda

Anafilaksis biasanya memberikan berbagai gejala yang berbeda dalam hitungan menit atau
jam.[2][3] Gejala akan muncul rata-rata dalam waktu 5 sampai 30 menit bila penyebabnya
suatu zat yang masuk ke dalam aliran darah secara langsung (intravena). Rata-rata 2 jam jika
penyebabnya adalah makanan yang dikonsumsi orang tersebut.[4] Daerah yang umumnya
terkena efek adalah: kulit (8090%), paru-paru dan saluran napas (70%), saluran cerna (30
45%), jantung dan pembuluh darah (1045%), dan sistem saraf pusat (1015%).[3] Biasanya
dua sistem atau lebih ikut terlibat

Kulit: Gejala khas termasuk adanya tonjolan di kulit (kaligata), gatal-gatal, wajah dan kulit
kemerahan (flushing), atau bibir yang membengkak.[6] Bila mengalami pembengkakan di
bawah kulit (angioedema), mereka tidak merasa gatal tetapi kulitnya terasa seperti terbakar.
<refname=Rosen2010/> Pembengkakan lidah atau tenggorokan dapat terjadi pada hampir
20% kasus.[7] Gejala lain adalah hidung berair dan pembengkakan membran mukosa pada
mata dan kelopak mata (konjungtiva).[8] Kulit mungkin juga kebiruan (sianosis) akibat
kekurangan oksigen.[8]

Saluran napas [sunting]


Gejala saluran napas termasuk napas pendek, sulit bernapas dengan napas berbunyi bernada
tinggi (mengi), atau bernapas dengan napas berbunyi bernada rendah (stridor).[6] Mengi
biasanya disebabkan oleh spasme pada otot saluran napas bawah (otot bronkus).[9]Stridor
disebabkan oleh pembengkakan di bagian atas, yang menyempitkan saluran napas.[8] Suara
serak, nyeri saat menelan, atau batuk juga dapat terjadi.[4]
Jantung [sunting]
Pembuluh darah jantung dapat berkontraksi secara tiba-tiba(spasme arteri koroner) karena
adanya pelepasan histamin oleh sel tertentu di jantung.[9] Keadaan ini mengganggu aliran
darah ke jantung, dan dapat menyebabkan kematian sel jantung (infark miokardium), atau
jantung berdetak terlalu lambat atau terlalu cepat (distrimia jantung), atau bahkan jantung
dapat berhenti berdetak sama sekali (henti jantung).[3][5] Seseorang dengan riwayat penyakit
jantung sebelumnya memiliki risiko lebih besar mengalami efek anafilaksis terhadap
jantungnya.[9] Meskipun lebih sering terjadi detak jantung cepat akibat tekanan darah rendah,
[8]
10% orang yang mengalami anafilaksis dapat memiliki detak jantung yang lambat
(bradikardia) akibat tekanan darah rendah. (Kombinasi antara detak jantung lambat dan
tekanan darah rendah dikenal sebagai refleks BezoldJarisch).[10] Penderita dapat merasakan
pening atau bahkan kehilangan kesadaran karena turunnya tekanan darah. Turunnya tekanan
darah ini dapat disebabkan oleh melebarnya pembuluh darah (syok distributif) atau karena
kegagalan ventrikel jantung (syok kardiogenik). [9] Pada kasus yang jarang, tekanan darah
yang sangat rendah dapat merupakan satu-satunya tanda anafilaksis.[7]
Lain-lain [sunting]
Gejala pada perut dan usus dapat berupa nyeri kejang abdomen, diare, dan muntah-muntah.
[6]
Penderita mungkin mengalami kebingungan (confusion), tidak dapat mengontrol berkemih,
dan dapat juga merasa nyeri di panggul yang terasa seperti mengalami kontraksi rahim.[6]
[8]
Melebarnya pembuluh darah di otak dapat menyebabkan sakit kepala.[4]Penderita dapat
juga cemas atau merasa seperti akan mati.[5]
Penyebab [sunting]

Anafilaksis dapat disebabkan oleh respon tubuh terhadap hampir semua senyawa asing.
[11]
Pemicu yang sering antara lain bisa dari gigitan atau sengatan serangga, makanan, dan
obat-obatan.[10][12] Makanan merupakan pemicu tersering pada anak dan dewasa muda. Obat-
obatan dan gigitan atau sengatan serangga merupakan pemicu yang sering ditemukan pada
orang dewasa yang lebih tua.[5] Penyebab yang lebih jarang diantaranya adalah faktor fisik,
senyawa biologi (misalnya air mani), lateks, perubahan hormonal, bahan tambahan makanan
(misalnya monosodium glutamat dan pewarna makanan), dan obat-obatan yang dioleskan
pada kulit (pengobatan topikal).[8] Olah raga atau suhu (panas atau dingin) dapat juga memicu
anafilaksis dengan membuat sel tertentu (yang dikenal sebagai sel mast) melepaskan senyawa
kimia yang memulai reaksi alergi.[5][13] Anafilaksis karena berolahraga biasanya juga
berkaitan dengan asupan makanan tertentu.[4] Bila anafilaksis timbul saat seseorang sedang
dianestesi (dibius), penyebab tersering adalah obat-obatan tertentu yang ditujukan untuk
memberikan efek melumpuhkan (obat penghambat saraf otot), antibiotik, dan lateks.[14] Pada
32-50% kasus, penyebabnya tidak diketahui (anafilaksis idiopatik).[15]
Makanan [sunting]
Banyak makanan dapat memicu anafilaksis, bahkan saat makanan tersebut dikonsumsi untuk
pertama kali.[10] Pada kultur Barat, penyebab tersering adalah memakan atau berkontak
dengan kacang-kacangan, gandum, kacang-kacangan dari pohon, kerang, ikan, susu, dan
telur.[3][5] Di Timur Tengah, wijen merupakan makanan pencetus yang sering. Di Asia, nasi
dan kacang Arab sering menyebabkan anafilaksis.[5] Kasus yang berat biasanya disebabkan
karena mengonsumsi makanan tersebut,[10] tetapi beberapa orang mengalami reaksi yang
hebat saat makanan pemicu bersentuhan dengan bagian tubuh. Dengan bertambahnya usia,
alergi dapat mengalami perbaikan. Pada usia 16 tahun, 80% anak dengan anafilaksis terhadap
susu atau telur dan 20% dengan kasus tunggal anafilaksis terhadap kacang dapat
mengonsumsi makanan tersebut tanpa masalah.[11]
Obat [sunting]
Setiap obat dapat menyebabkan anafilaksis. Yang paling umum adalah antibiotik -lactam
(seperti penisilin) diikuti oleh aspirin dan OAINS (Obat Antiinflamasi Non Steroid/NSAID).
[3][16]
Bila seseorang alergi terhadap salah satu jenis OAINS, biaanya ia masih dapat
menggunakan jenis lainnya tanpa memicu anafilaksis.[16] Penyebab lain anafilaksis yang
sering ditemukan di antaranya adalah kemoterapi, vaksin, protamin (terdapat pada sperma),
dan obat-obatan herbal.[5][16] Sejumlah obat termasuk vankomisin, morfin, dan obat yang
digunakan untuk memperjelas foto sinarx (agen radiokontras), menyebabkan anafilaksis
karena merusak sel tertentu pada jaringan, yang merangsang terjadinya pelepasan histamin
(degranulasi sel mast).[10]
Frekuensi reaksi terhadap obat sebagian tergantung pada seberapa sering obat diberikan dan
sebagian lagi tergantung pada cara kerja obat di dalam tubuh.[17] Anafilaksis terhadap
penisilin atau sefalosporin hanya terjadi setelah mereka berikatan dengan protein di dalam
tubuh, dan beberapa berikatan lebih mudah dibandingkan dengan yang lainnya.[4]Anafilaksis
terhadap penisilin muncul pada satu di antara 2.000 hingga 10.000 orang yang mendapat
pengobatan. Kematian terjadi pada kurang dari satu dalam setiap 50.000 orang yang
mendapat pengobatan.[4] Anafilaksis terhadap aspirin dan OAINS muncul pada kurang lebih
satu di antara 50.000 orang.[4] Bila seseorang mengalami reaksi terhadap penisilin, risiko
reaksinya terhadap sefalosporin akan lebih besar, tetapi reaksi ini masih lebih kecil dari 1
dalam 1.000. [4] Obat yang dahulu digunakan untuk memperjelas foto sinar-x (agen
radiokontras) menyebabkan reaksi pada 1% dari seluruh kasus. Obat yang lebih baru dengan
agen radiokontras berosmolaritas rendah menimbulkan reaksi pada 0,04% kasus.[17]
Bisa [sunting]
Bisa dari sengatan atau gigitan serangga seperti lebah dan tawon (Hymenoptera) atau
serangga penghisap darah (Triatominae) dapat menyebabkan anafilaksis.[3][18] Bila seseorang
mengalami reaksi terhadap bisa sebelumnya, dan reaksinya meluas ke sekitar tempat
sengatan, mereka mempunyai risiko anafilaksis lebih besar di masa yang akan datang.[19]
[20]
Namun demikian, sebagian dari penderita yang meninggal karena anafilakasis tidak
menunjukkan adanya reaksi yang luas (sistemik) sebelumnya.[21]
Faktor risiko [sunting]
Seseorang dengan penyakit atopi seperti asma, eksim, atau rinitis alergi mempunyai risiko
tinggi anafilaksis yang disebabkan oleh makanan, lateks, dan agen radiokontras. Mereka ini
tidak mempunyai risiko yang lebih besar terhadap obat injeksi ataupun sengatan. [5][10] Suatu
studi pada anak dengan anafilaksis menemukan bahwa 60% memiliki riwayat penyakit atopi
sebelumnya. Lebih dari 90% dari anak yang meninggal karena anafilaksis menderita asma.
[10]
Orang dengan kelainan yang disebabkan oleh jumlah sel mast yang terlalu banyak pada
jaringannya (mastositosis) atau orang dengan status sosioekonomi yang lebih tinggi, memiliki
risiko yang lebih besar.[5][10] Semakin lama waktu sejak terakhir kali terpapar pada agen
penyebab anafilaksis, maka semakin rendah risiko terjadi reaksi yang baru.[4]
Mekanisme [sunting]

Anafilaksis adalah suatu reaksi alergi berat yang terjadi dengan tiba-tiba dan mempengaruhi
banyak sistem tubuh.[1][22] Hal ini disebabkan oleh pelepasan mediator inflamasi dan
sitokinesis dari sel mast dan basofil. Pelepasan ini biasanya merupakan suatu reaksi sistem
imun, tetapi dapat juga disebabkan kerusakan pada sel-sel ini yang tidak berkaitan dengan
reaksi imun.[22]
Imunologi [sunting]
Ketika anafilaksis tidak disebabkan oleh respon imun, imunoglobulin E(IgE) berikatan
dengan materi asing yang menyebabkan reaksi alergi (antigen). Kombinasi antara IgE yang
berikatan dengan antigen mengaktifkan reseptor FcRI pada sel mast dan basofil. Sel mast
dan basofil bereaksi dengan melepaskan mediator inflamasi seperti histamin. Mediator ini
meningkatkan kontraksi otot polos bronkus, menyebabkan pelebaran pembuluh darah
(vasodilatasi), meningkatkan kebocoran cairan dari dinding pembuluh darah, dan menekan
kerja otot jantung.[4][22] Diketahui pula suatu mekanisme imunologi yang tidak bergantung
pada IgE, tetapi belum diketahui apakah hal ini terjadi pada manusia.[22]
Non-imunologi [sunting]
Ketika anafilkasis tidak disebabkan oleh respon imun, reaksi ini disebabkan oleh adanya
faktor yang secara langsung merusak sel mast dan basofil, sehingga keduanya melepaskan
histamin dan senyawa lain yang biasanya berkaitan dengan reaksi alergi (degranulasi). Faktor
yang dapat merusak sel ini di antaranya zat kontras untuk sinar-x, opioid, suhu (panas atau
dingin), dan getaran.[13][22]
Diagnosis [sunting]

Anafilaksis didiagnosis berdasarkan gejala klinis.[5] Bila muncul salah satu dari tiga gejala di
bawah ini dalam waktu beberapa menit/jam setelah seseorang terpapar suatu alergen,
kemungkinan besar orang tersebut mengalami anafilaksis:[5]

1. Gejala pada kulit atau jaringan mukosa bersamaan dengan sesak napas atau tekanan
darah rendah
2. Terjadinya dua atau lebih gejala berikut ini:-

a. Gejala pada kulit atau mukosa


b. Sesak napas
c. Tekanan darah rendah
d. Gejala saluran cerna

3. Tekanan darah rendah setelah terpapar allergen tersebut


Bila seseorang memberikan reaksi berat setelah tersengat serangga atau minum obat tertentu,
pemeriksaan darah untuk menguji kadar tryptase atau histamin (yang dilepaskan oleh sel
mast) akan sangat membantu dalam mendiagnosis anafilaksis. Namun, pemeriksaan ini tidak
akan bermanfaat apabila penyebabnya adalah makanan atau bila tekanan darah tetap normal,
[5]
dan pemeriksaan tersebut tidak dapat menyingkirkan diagnosis anafilaksis.[11]
Klasifikasi [sunting]
Ada tiga klasifikasi utama anafilaksis. Syok anafilaktik terjadi ketika pembuluh darah di
hampir seluruh bagian tubuh melebar (vasodilasi sistemik), sehingga menyebabkan tekanan
darah rendah sampai sedikitnya 30% di bawah tekanan darah normal orang tersebut atau 30%
di bawah standar normal tekanan darah.[7] Diagnosis anafilaksis bifasik ditegakkan ketika
gejala di atas muncul kembali dalam waktu 172 jam kemudian meskipun tidak ada kontak
baru antara pasien dengan alergen yang menyebabkan reaksi pertama.[5]Beberapa studi
menyatakan bahwa kasus anafilaksis bifasik mencakup sampai dengan 20% kasus.
[23]
Biasanya gejala-gejala tersebut muncul kembali dalam waktu 8 jam.[10]Reaksi kedua
tersebut diatasi dengan cara yang sama dengan anafilaksis awal.[3] Pseudoanafilaksis atau
reaksi anafilaktoid adalah nama lama anafilaksis yang bukan disebabkan oleh reaksi alergi,
melainkan oleh cedera langsung pada sel mast (degranulasi sel mast).[10][24] Nama yang
sekarang digunakan oleh Badan Alergi Dunia/World Allergy Organization adalah anafilaksis
non-imun [24] . Beberapa orang menyarankan agar istilah lama tersebut tidak digunakan lagi.
[10]

Tes Alergi [sunting]

Tes alergi kulit yang dilakukan pada lengan sebelah kanan

Tes alergi dapat membantu memastikan apa penyebab anafilaksis pada seseorang. Tes alergi
kulit(misalnya tes tempel) sudah tersedia untuk beberapa jenis makanan dan bisa binatang.
[11]
Pemeriksaan darah untuk antibodi spesifik dapat bermanfaat dalam memastikan alergi
susu, telur, kacang, kacang-kacangan pohon, dan ikan.[11] Tes kulit bisa digunakan untuk
mengetahui alergi penisilin, tapi tidak terdapat tes kulit untuk jenis obat lainnya.[11] Jenis
anafilaksis non-imun hanya dapat didiagnosis dengan cara memeriksa riwayat kesehatan
orang yang bersangkutan atau dengan cara memaparkan orang tersebut terhadap bahan
alergen yang pernah menyebabkan reaksi di masa lalu. Tidak ada pemeriksaan darah maupun
tes kulit untuk anafilaksis non-imun.[24]
Diagnosis Banding [sunting]
Kadangkala sulit untuk membedakan anafilaksis dengan asma, pingsan akibat kekurangan
oksigen (sinkop), dan serangan panik.[5]Penderita asma biasanya tidak menunjukkan gejala
gatal atau gejala saluran cerna. Ketika seseorang pingsan, kulitnya pucat dan tidak beruam.
Seseorang yang mengalami serangan panik mungkin kulitnya kemerahan tapi tidak berbentol
merah dan gatal.[5] Kondisi lain yang juga menunjukkan gejala serupa adalah keracunan
makanan yang berasal dari ikan busuk (scombroidosis) dan infeksi akibat parasit tertentu
(anisakiasis).[10]
Pencegahan [sunting]

Cara yang dianjurkan untuk mencegah anafilaksis adalah menghindari segala sesuatu yang
sebelumnya pernah menyebabkan reaksi. Bila sulit, ada beberapa obat yang mungkin bisa
mencegah tubuh bereaksi terhadap alergen tertentu (desensitisasi). Pengobatan sistem imun
(imunoterapi) dengan bisa Hymenoptera efektif menurunkan sensitivitas (desensitisasi)
hingga 8090% pada orang dewasa dan 98% pada anak terhadap alergi lebah, tawon,
tabuhan, tawon yellowjacket, dan semut api. Imunoterapi oral sebenarnya cukup efektif untuk
desensitisasi pasien terhadap makanan tertentu seperti susu, telur, kacang-kacangan dan
kacang; namun cara ini seringkali menyebabkan efek samping yang tidak baik. Desensitisasi
juga mungkin dilakukan untuk berbagai macam obat, namun sebagian besar pasien sebaiknya
cukup menghindari menggunakan obat yang menyebabkan masalah tersebut. Bagi mereka
yang alergi terhadap lateks, sangat penting menghindari makanan yang mengandung bahan-
bahan yang menyerupai bahan penyebab reaksi imun (makanan yang dapat bereaksi silang),
antara lain alpukat, pisang, dan kentang, selain makanan lainnya.[5]
Tata laksana [sunting]

Anafilaksis adalah kondisi darurat medis yang memerlukan tindakan penyelamatan jiwa
seperti penanganan jalan napas, pemberian oksigen, cairan infus intravena dengan volume
besar, serta pengawasan ketat.[3] Epinefrin adalah obat pilihan. Antihistamin dan steroid
seringkali digunakan bersama dengan epinefrin.[5] Bila pasien sudah kembali normal, ia harus
tetap dipantau di rumah sakit selama 2 sampai 24 jam untuk memastikan bahwa gejala tidak
muncul kembali, seperti yang terjadi pada anafilaksis bifasik.[10][23][25][4]
Epinefrin [sunting]

Versi lama auto-injektor Epipen

Epinefrin (adrenalin) adalah obat pilihan pada anafilaksis. Tidak ada alasan untuk tidak
menggunakan obat ini (tidak ada kontraindikasi mutlak).[3] Cara penggunaan yang dianjurkan
yaitu injeksi larutan epinefrin ke otot di pertengahan paha sisi anterolateral segera setelah
dicurigai terjadi reaksi anafilaksis.[5] Penyuntikan dapat diulang setiap 5 sampai 15 menit bila
orang yang bersangkutan tidak memberikan respon yang baik terhadap obat tersebut.[5] Dosis
kedua biasanya diperlukan pada 16 hingga 35% kasus.[10] Jarang diperlukan pemberian lebih
dari dua dosis.[5] Penyuntikan ke dalam lapisan otot (injeksi intramuskular) lebih banyak
dilakukan ketimbang suntikan ke bawah lapisan kulit (injeksi subkutan), karena penyerapan
obat akan terlalu lama.[26] Gangguan kecil akibat epinefrin antara lain gemetar, kecemasan,
sakit kepala, dan berdebar-debar.[5]
Epinefrin mungkin tidak akan bekerja pada orang yang minum obat penghambat reseptor
beta.[10] Dalam kondisi demikian, bila epinefrin tidak bekerja efektif, maka suntikan intravena
glukagon bisa diberikan. Glukagon memiliki mekanisme aksi yang tidak melibatkan reseptor
beta.[10]
Bila perlu, epinefrin juga dapat disuntikkan melalui pembuluh vena (injeksi intravena)
dengan larutan pengencer. Meski demikian, suntikan intravena eprinefrin sering dikaitkan
dengan timbulnya irama detak jantung yang tidak teratur (disritmia) dan serangan jantung
(infark miokard).[27] Autoinjektor epinefrin yang bisa digunakan oleh orang dengan
anafilaksis untuk menyuntik ke dalam otot sendiri, biasanya tersedia dalam dua dosis, satu
untuk dewasa atau anak dengan berat badan lebih dari 25 kg dan satu lagi untuk anak dengan
berat badan 10 sampai 25 kg.[28]
Tata laksana tambahan [sunting]
Antihistamin umumnya digunakan di samping epinefrin. Secara teori, antihistamin diduga
lebih efektif namun sangat sedikit bukti yang menunjukkan bahwa antihistamin efektif dalam
terapi anafilaksis. Kajian Cochrane pada tahun 2007 tidak menemukan adanya penelitian
berkualitas baik yang dapat digunakan sebagai rujukan untuk merekomendasi obat
tersebut. [29] Antihistamin diyakini tidak membantu dalam mengatasi penumpukan cairan atau
spasme/kram otot saluran napas.[10] Kortikosteroid kemungkinan tidak akan berpengaruh apa-
apa bila orang yang bersangkutan sedang mengalami anafilaksis. Kortikosteroid dapat
digunakan dengan harapan untuk menurunkan risiko anafilaksis bifasik, namun tidak jelas
efektivitasnya dalam mencegah reaksi anafilaksis berikutnya.[23] Salbutamol yang diberikan
melalui terapi inhalasi (nebulizer) mungkin efektif apabila epinefrin tidak berhasil
menghilangkan gejala bronkospasme.[10] Metilen biru juga sudah digunakan pada orang yang
tidak responsif terhadap upaya lain, karena dapat melemaskan otot polos.[10]
Persiapan [sunting]
Orang yang memiliki risiko anafilaksis disarankan agar memiliki "rencana aksi alergi". Orang
tua harus memberi tahu sekolah perihal alergi anak-anaknya dan langkah yang harus
dilakukan apabila terjadi kondisi darurat anafilaksis.[30] Rencana aksi tersebut biasanya
mencakup cara penggunaan auto-injektor epinefrin, saran untuk mengenakan gelang
peringatan medis, serta penyuluhan mengenai bagaimana mencegah pemicunya.
[30]
Pengobatan untuk membuat tubuh tidak terlalu sensitif terhadap bahan yang menyebabkan
reaksi alergi (imunoterapi alergen) sudah ada untuk beberapa pemicu tertentu. Terapi
demikian dapat mencegah timbulnya kejadian anafilaksis di kemudian hari. Rangkaian
desensitisasi subkutan selama beberapa tahun telah diketahui efektif melawan serangga
penyengat, sementara desensitisasi oral efektif untuk berbagai jenis makanan.[3]
Harapan [sunting]

Peluang kesembuhan cukup besar apabila penyebab anafilaksis diketahui dan orang yang
bersangkutan langsung mendapatkan pengobatan.[31] Meskipun penyebabnya tidak diketahui,
apabila tersedia obat-obatan untuk menghentikan reaksi, maka orang tersebut biasanya cepat
pulih.[4] Bila sampai terjadi kematian, biasanya diakibatkan oleh masalah pernapasan
(umumnya karena sumbatan jalan napas) atau masalah kardiovaskuler (syok).[10]
[22]
Anafilaksis menyebabkan kematian pada 0,720% kasus.[4][9] Beberapa kasus kematian
terjadi dalam hitungan menit.[5] Pada orang yang mengalami anafilaksis akibat aktifitas fisik
umumnya bisa teratasi dengan baik, dan seiring bertambahnya usia, biasanya kejadian
anafilaksis lebih jarang dan lebih ringan.[32]
Peluang Kejadian [sunting]

Insidens anafilaksis adalah 45 per 100.000 orang setiap tahun,[10] dengan risiko kejadian
seumur hidup sebesar 0,5%2%.[5] Jumlah tersebut tampaknya mengalami peningkatan.
Jumlah orang yang mengalami anafilaksis pada tahun 1980-an kira-kira hanya 20 per 100.000
per tahun, sementara itu pada tahun 1990-an menjadi 50 per 100.000 per tahun.[3]Peningkatan
itu tampaknya terjadi pada kelompok anafilaksis yang terutama disebabkan oleh makanan.
[33]
Risikonya lebih besar pada kalangan muda dan wanita.[3][10]
Saat ini, anafilaksis menyebabkan 5001.000 kematian setiap tahun (2,4 per satu juta) di
Amerika Serikat, 20 kematian per tahun di Inggris (0,33 per satu juta), dan 15 kematian per
tahun di Australia (0,64 satu per juta).[10] Kematian antara tahun 1970-an hingga 2000-an
sudah mengalami penurunan.[34] Di Australia, kematian akibat anafilaksis yang disebabkan
oleh makanan terutama terjadi pada wanita, sementara yang disebabkan oleh gigitan serangga
terutama terjadi pada pria.[10] Kematian akibat anafilaksis umumnya dipicu oleh obat.[10]
Sejarah [sunting]

Istilah "aphylaxis" diciptakan oleh Charles Richet pada tahun 1902 dan kemudian diganti
menjadi "anaphylaxis" karena lebih enak didengar.[11] Ia kemudian dianugerahi Hadiah Nobel
bidang Kedokteran dan Fisiologi pada tahun 1913 berkat hasil karyanya dalam bidang
anafilaksis.[4] Sebenarnya reaksi anafilaksis sudah pernah dilaporkan sejak zaman kuno.
[24]
Istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani|Kata dalam bahasa Yunani ana, melawan,
dan phylaxis, perlindungan.[35]
Penelitian [sunting]

Saat ini masih berlangsung usaha mengembangkan epinefrin yang dapat diberikan di bawah
lidah (epinefrin sublingual) untuk mengobati anafilaksis.[10] Injeksi subkutan antibodi anti-IgE
omalizumab sedang diteliti sebagai metode pencegahan munculnya kembali reaksi
(rekurensi), namun hasil penelitian itu belum menjadi rekomendasi.[5][36]
Referensi [sunting]

1. ^ a b Tintinalli, Judith E. (2010). Emergency Medicine: A Comprehensive


Study Guide (Emergency Medicine (Tintinalli)). New York: McGraw-Hill Companies.
pp. 177182.ISBN 0-07-148480-9.

2. ^ Oswalt ML, Kemp SF (May 2007). "Anaphylaxis: office management and


prevention".Immunol Allergy Clin North Am 27 (2): 17791,
vi. doi:10.1016/j.iac.2007.03.004.PMID 17493497. "Clinically, anaphylaxis is
considered likely to be present if any one of three criteria is satisfied within minutes
to hours"

3. ^ a b c d e f g h i j k l Simons FE (October 2009). "Anaphylaxis: Recent advances


in assessment and treatment". J. Allergy Clin. Immunol. 124 (4): 62536; quiz 637
8.doi:10.1016/j.jaci.2009.08.025. PMID 19815109.

4. ^ a b c d e f g h i j k l m n Marx, John (2010). Rosen's emergency medicine: concepts


and clinical practice 7th edition. Philadelphia, PA: Mosby/Elsevier.
p. 15111528.ISBN 9780323054720.

5. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y Simons, FE; World Allergy, Organization


(2010 May). "World Allergy Organization survey on global availability of essentials
for the assessment and management of anaphylaxis by allergy-immunology
specialists in health care settings.". Annals of allergy, asthma & immunology : official
publication of the American College of Allergy, Asthma, & Immunology 104 (5): 405
12.PMID 20486330.
6. ^ a b c d Sampson HA, Muoz-Furlong A, Campbell RL, et al. (February 2006).
"Second symposium on the definition and management of anaphylaxis: summary
reportSecond National Institute of Allergy and Infectious Disease/Food Allergy
and Anaphylaxis Network symposium". J. Allergy Clin. Immunol. 117 (2): 391
7.doi:10.1016/j.jaci.2005.12.1303. PMID 16461139.

7. ^ a b c Limsuwan, T; Demoly, P (2010 Jul). "Acute symptoms of drug


hypersensitivity (urticaria, angioedema, anaphylaxis, anaphylactic shock).". The
Medical clinics of North America 94 (4): 691710, x. PMID 20609858.

8. ^ a b c d e f Brown, SG; Mullins, RJ, Gold, MS (2006 Sep 4). "Anaphylaxis:


diagnosis and management.". The Medical journal of Australia 185 (5): 283
9. PMID 16948628.

9. ^ a b c d e Triggiani, M; Patella, V, Staiano, RI, Granata, F, Marone, G (2008


Sep). "Allergy and the cardiovascular system.". Clinical and experimental
immunology. 153 Suppl 1: 711. PMC 2515352. PMID 18721322.

10. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z Lee, JK; Vadas, P (2011 Jul).


"Anaphylaxis: mechanisms and management.". Clinical and experimental allergy :
journal of the British Society for Allergy and Clinical Immunology 41 (7): 923
38. PMID 21668816.

11. ^ a b c d e f g Boden, SR; Wesley Burks, A (2011 Jul). "Anaphylaxis: a history


with emphasis on food allergy.". Immunological reviews 242 (1): 247
57.PMID 21682750.

12. ^ Worm, M (2010). "Epidemiology of anaphylaxis.". Chemical immunology


and allergy95: 1221. PMID 20519879.

13. ^ a b editors, Marianne Gausche-Hill, Susan Fuchs, Loren Yamamoto,


(2007). The pediatric emergency medicine resource (Rev. 4. ed. ed.). Sudbury, Mass.:
Jones & Bartlett. p. 69. ISBN 9780763744144.

14. ^ Dewachter, P; Mouton-Faivre, C, Emala, CW (2009 Nov). "Anaphylaxis


and anesthesia: controversies and new insights.". Anesthesiology 111 (5): 1141
50.doi:10.1097/ALN.0b013e3181bbd443. PMID 19858877.

15. ^ editor, Mariana C. Castells, (2010). Anaphylaxis and hypersensitivity


reactions. New York: Humana Press. p. 223. ISBN 9781603279505.
16. ^ a b c Volcheck, Gerald W. (2009). Clinical allergy : diagnosis and
management. Totowa, N.J.: Humana Press. p. 442. ISBN 9781588296160.

17. ^ a b Drain, KL; Volcheck, GW (2001). "Preventing and managing drug-


induced anaphylaxis.". Drug safety : an international journal of medical toxicology
and drug experience 24 (11): 84353. PMID 11665871.

18. ^ Klotz, JH; Dorn, PL, Logan, JL, Stevens, L, Pinnas, JL, Schmidt, JO, Klotz,
SA (2010 Jun 15). ""Kissing bugs": potential disease vectors and cause of
anaphylaxis.". Clinical infectious diseases : an official publication of the Infectious
Diseases Society of America 50 (12): 162934. PMID 20462351.

19. ^ Bil, MB (2011 Jul). "Anaphylaxis caused by Hymenoptera stings: from


epidemiology to treatment.". Allergy. 66 Suppl 95: 357. PMID 21668850.

20. ^ Cox, L; Larenas-Linnemann, D, Lockey, RF, Passalacqua, G (2010 Mar).


"Speaking the same language: The World Allergy Organization Subcutaneous
Immunotherapy Systemic Reaction Grading System.". The Journal of allergy and
clinical immunology125 (3): 56974, 574.e1574.e7. PMID 20144472.

21. ^ Bil, BM; Bonifazi, F (2008 Aug). "Epidemiology of insect-venom


anaphylaxis.". Current opinion in allergy and clinical immunology 8 (4): 330
7. PMID 18596590.

22. ^ a b c d e f Khan, BQ; Kemp, SF (2011 Aug). "Pathophysiology of


anaphylaxis.". Current opinion in allergy and clinical immunology 11 (4): 319
25. PMID 21659865.

23. ^ a b c Lieberman P (September 2005). "Biphasic anaphylactic reactions". Ann.


Allergy Asthma Immunol. 95 (3): 21726; quiz 226, 258. doi:10.1016/S1081-
1206(10)61217-3. PMID 16200811.

24. ^ a b c d Ring, J; Behrendt, H, de Weck, A (2010). "History and classification of


anaphylaxis.". Chemical immunology and allergy 95: 111. PMID 20519878.

25. ^ "Emergency treatment of anaphylactic reactions Guidelines for healthcare


providers" (PDF). Resuscitation Council (UK). January 2008. Diakses 2008-04-22.
26. ^ Simons, KJ; Simons, FE (2010 Aug). "Epinephrine and its use in
anaphylaxis: current issues.". Current opinion in allergy and clinical
immunology 10 (4): 35461.PMID 20543673.

27. ^ Mueller, UR (2007 Aug). "Cardiovascular disease and


anaphylaxis.". Current opinion in allergy and clinical immunology 7 (4): 337
41. PMID 17620826.

28. ^ Sicherer, SH; Simons, FE, Section on Allergy and Immunology, American
Academy of, Pediatrics (2007 Mar). "Self-injectable epinephrine for first-aid
management of anaphylaxis.". Pediatrics 119 (3): 63846. PMID 17332221.

29. ^ Sheikh A, Ten Broek V, Brown SG, Simons FE (August 2007). "H1-
antihistamines for the treatment of anaphylaxis: Cochrane systematic
review". Allergy 62 (8): 8307.doi:10.1111/j.1398-
9995.2007.01435.x. PMID 17620060.

30. ^ a b Martelli, A; Ghiglioni, D, Sarratud, T, Calcinai, E, Veehof, S, Terracciano,


L, Fiocchi, A (2008 Aug). "Anaphylaxis in the emergency department: a paediatric
perspective.".Current opinion in allergy and clinical immunology 8 (4): 321
9. PMID 18596589.

31. ^ Harris, edited by Jeffrey; Weisman, Micheal S. (2007). Head and neck
manifestations of systemic disease. London: Informa Healthcare.
p. 325. ISBN 9780849340505.

32. ^ editor, Mariana C. Castells, (2010). Anaphylaxis and hypersensitivity


reactions. New York: Humana Press. p. 223. ISBN 9781603279505.

33. ^ Koplin, JJ; Martin, PE, Allen, KJ (2011 Oct). "An update on epidemiology
of anaphylaxis in children and adults.". Current opinion in allergy and clinical
immunology11 (5): 4926. PMID 21760501.

34. ^ Demain, JG; Minaei, AA, Tracy, JM (2010 Aug). "Anaphylaxis and insect
allergy.".Current opinion in allergy and clinical immunology 10 (4): 318
22. PMID 20543675.

35. ^ "anaphylaxis". merriam-webster.com. Diakses 2009-11-21.


36. ^ Vichyanond, P (2011 Sep). "Omalizumab in allergic diseases, a recent
review.". Asian Pacific journal of allergy and immunology / launched by the Allergy
and Immunology Society of Thailand 29 (3): 20919. PMID 22053590.