Anda di halaman 1dari 51

MAKALAH

MENGELOLA PERMODALAN USAHA

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kuliah Mata Kuliah UMKM


Dosen Pengampu: Didi Susimba SE., MM

Disusun Oleh:
Abdurahman Hanafi 114802000
Ade Nana Riyana 11480200
Agus Saepul anwar 11480200
Amanda Nabila Hidayat 11480200
Anissa Fitrina Sri O 11480200

JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena berkat taufik
dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Mengelola Permodalan Usaha. Makalah ini kami susun untuk
memenuhi tugas mata kuliah UMKM.

Atas dukungan moral dan materi yang diberikan dalam penyusunan


makalah ini, maka kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang terlibat dalam menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh untuk dapat dikatakan
sempurna. Karena sesunguhnya ilmu Allah itu Maha Luas dan tidak akan ada
habis-habisnya. Untuk itu kami senantiasa menerima masukan dan saran.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami, dan umumnya
bagi para pembaca.

Bandung, 26 April 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I........................................................................................................... 3
PENDAHULUAN............................................................................................ 3
1.1 Latar Belakang............................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................4
1.3 Tujuan Pembahasan........................................................................4
BAB II.......................................................................................................... 5
PEMBAHASAN.............................................................................................. 5
2.1 Organisasi Dan Manajemen............................................................5
2.2 Pengelolaan Msdm dalam UMKM..................................................15
2.3 Sumber daya manusia dalam pandangan islam...........................19
BAB III....................................................................................................... 22
PENUTUP................................................................................................... 22
3.1 Kesimpulan................................................................................... 22
3.2 Saran............................................................................................ 23
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 24
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) saat ini


dianggap sebagai cara yang efektif dalam pengentasan kemiskinan.
Dari statistik dan riset yang dilakukan, UMKM mewakili jumlah
kelompok usaha terbesar. UMKM telah diatur secara hukum melalui
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah. UMKM merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar
dalam perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman
perekonomian nasional dalam masa krisis, serta menjadi dinamisator
pertumbuhan ekonomi pasca krisis ekonomi. Selain menjadi sektor
usaha yang paling besar kontribusinya terhadap pembangunan
nasional, UMKM juga menciptakan peluang kerja yang cukup besar
bagi tenaga kerja dalam negeri, sehingga sangat membantu upaya
mengurangi pengangguran.

Oleh karena itu perlunya pengelolaan permodalan usaha agar


mampu memaksimalkan potensi-potensi yang dimiliki dalam
menggerakan modal usaha untuk mencapai usaha yang maju serta
terstruktuk dalam pengelolaan modalnya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang ada, maka


dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengelolaan modal kerja?
2. Bagaimana perencanaan anggaran modal ?
3. Bagaimana pengelolaan resiko ?
4. Bagaimana laporan keuangan?
1.3 Tujuan Pembahasan

Tujuan dari pada penelitian ini dilakukan adalah untuk :


1 Untuk mengetahui dan memahami pengelolaan modal kerja.
2 Untuk mengetahui dan memahami perencanaan anggaran
modal.
3 Untuk mengetahui dan memahami pengelolaan resiko.
4 Untuk mengetahui dan memahami laporan keuangan.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGELOLAAN MODAL KERJA

2.1.1 Pengertian Modal Kerja

Bambang Riyanto (2007 : 20) menyatakan bahwa pengertian modal kerja


dimaksudkan sebagai jumlah keseluruhan aktiva lancar. Pengertian tersebut sama
dengan pengertian modal kerja yang dinyatakan oleh Susan Irawati (2006 : 89) bahwa
modal kerja merupakan investasi perusahaan dalam bentuk aktiva lancar atau current
assets.
Sementara itu menurut J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland Modal
kerja adalah selisih antara aktiva lancar dengan hutang lancar. Dengan demikian
modal kerja merupakan investasi dalam kas, surat- surat berharga, piutang dan
persediaan dikurangi hutang lancar yang digunakan untuk melindungi aktiva lancar.
Menurut I Made Sudana dalam bukunya yang berjudul Manajemen Keuangan
Teori dan Praktik pada halaman 69-70,Ada dua konsep tentang modal kerja yang
sering digunakan,yaitu :
1. Modal kerja kotor (Gross working capital),yaitu keseluruhan aktiva lancar yang
dimiliki perusahaan. Dengan demikian keseluruhan aktiva lancar seperti
kas,piutang dan persediaan merupakan modal kerja perusahaan.
2. Modal kerja bersih (Net working capital),yaitu selisih antara aktiva lanacar
dengan utang lancar.Dengan demikian bagian aktiva lancar yang diperuntukan
membayar utang tidak termasuk modal bersih perusahaan. Dengan kata
lain,modal kerja bersih merupakan modal kerja benar-benar dipergunakan untuk
operasional perusahaan dan bukan untuk membayar utang.

2.1.2 Konsep Modal Kerja


Riyanto (2001:57-58) mengemukakan konsep modal kerja yang biasa digunakan untuk
analisis, yaitu:
1. Modal Kerja Kuantitatif.
Konsep ini menitikberatkan pada segi kuantitas dana yang tertanam dalam aktiva yang
masa perputarannya kurang satu tahun. Modal kerja menurut konsep ini adalah
keseluruhan elemen aktiva lancar. Oleh karena semua elemen aktiva lancar
diperhitungkan sebagai modal kerja tanpa memperhatikan kewajiban-kewajiban
jangka pendeknya, maka modal kerja ini sering disebut modal kerja bruto atau gross
working capital.
2. Modal Kerja Kualitatif.

Pada konsep ini, modal kerja bukan semua aktiva lancar tetapi telah
mempertimbangkan kewajiban-kewajiban yang segera harus dibayar. Dengan
demikian dana yang digunakan benar-benar khusus digunakan untuk membiayai
operasi perusahaan sehari-hari tanpa khawatir terganggu oleh pembayaran-
pembayaran hutang yang segera jatuh tempo.

3. Modal Kerja Fungsional.


Konsep ini lebih menitik beratkan pada fungsi dana dalam menghasilkan penghasilan
langsung atau current income. Dan pengertian modal kerja menurut konsep ini adalah
dana yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan current income sesuai
dengan tujuan didirikannya perusahaan pada satu periode tertentu.

2.1.3 Jenis-Jenis Modal Kerja

A. W. Taylor (Dalam Riyanto, 2001:60-61) menyatakan bahwa modal kerja bisa


dikelompokkan ke dalam dua jenis sebagai berikut:

1. Modal Kerja Permanen


Modal kerja permanen adalah modal kerja yang selalu harus ada dalam perusahaan agar
dapat menjalankan kegiatannya untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Modal kerja
permanen dibagi menjadi dua macam yakni:

a. Modal Kerja Primer. Modal kerja primer adalah modal kerja minimal yang harus ada
dalam perusahaan untuk menjamin agar perusahaan tetap bisa beroperasi.

b. Modal Kerja Normal. Merupakan modal kerja yang harus ada agar perusahaan bias
beroperasi dengan tingkat produksi normal.

2. Modal Kerja Variabel

Modal kerja variabel adalah modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan
perubahan kegiatan ataupun keadaan lain yang mempengaruhi perusahaan atau
berfluktuasi berdasarkan volume produksi atau penjualan. Modal kerja variabel terdiri
dari:

a. Modal Kerja Musiman. Merupakan sejumlah dana yang dibutuhkan untuk


mengantisipasi apabila ada fluktuasi kegiatan perusahaan, misalnya perusahaan biscuit
harus menyediakan modal kerja lebih besar pada saat musim hari raya.

b. Modal Kerja Siklus. Adalah modal kerja yang jumlah kebutuhannya dipengaruhi oleh
fluktuasi konjungfur.

c. Modal Kerja Darurat. Modal kerja ini jumlah kebutuhannya dipengaruhi oleh
keadaan- keadaan yang terjadi diluar kemampuan perusahaan. Sebuah usaha akan sehat
apabila posisi modal kerjanya stabil, artinya dari dua jenis modal kerja di atas tersedia.

Kebutuhan modal kerja dari waktu ke waktu dalam satu periode belum tentu
sama. Hal ini disebabkan oleh berubah-ubahnya proyeksi volume produksi yang akan
dihasilkan oleh perusahaan. Perubahan itu sendiri kemungkinan disebabkan adanya
permintaan yang tidak sama dari waktu ke waktu. Oleh karena itu kebutuhan modal kerja
juga mengalami perubahan.
2.1.4 Komponen Modal Kerja

Modal kerja yang dibahas disini adalah modal kerja dalam konsep kualitatif, yaitu
modal kerja neto (net working capital) yang merupakan kelebihan antara aktiva lancar di
atas utang lancarnya.
Komponen modal kerja mencakup aktiva lancar dan utang lancar, yang dijelaskan
sebagai berikut:

1. Aktiva Lancar.

Munawir (2004:14) menyatakan pengertian aktiva lancar sebagai berikut: Aktiva


lancar adalah uang kas dan aktiva lainnya yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau
ditukarkan menjadi uang tunai, dijual atau dikonsumer dalam periode berikutnya (paling
lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal. Yang termasuk
aktiva lancar adalah:

a) Kas (Cash).

Uang tunai dan alat pembayaran lainnya yang digunakan untuk membiayai
operasi perusahaan. Uang tunai dan alat pembayaran itu terdiri dari uang logam, uang
kertas, cek, dan lain-lain. Kas merupakan bentuk aktiva yang paling likuid yang bisa
dipergunakan segera untuk memenuhi kewajiban financial perusahaan, karena sifat
likuidnya tersebut kas memberikan keuntungan yang paling rendah.

b) Investasi Jangka Pendek (Temporary Investment).

Obligasi pemerintah, obligasi perusahaan indusri, dan surat-surat utang sejenis,


dan saham perusahaan lain yang dibeli untuk dijual kembali dikenal sebagai investasi
jangka pendek. Surat-surat berharga yang dibeli sebagai investasi jangka pendek dari
dana-dana yang sementara belum digunakan, dan bila surat-surat berharga tersebut dapat
segera dijual, maka dapat dianggap sebagai aktiva lancar. Surat-surat berharga tersebut
dimiliki untuk jangka pendek dengan maksud untuk diperjualbelikan (trading securities).
Jenis dari investasi jangka pendek ini adalah efek (marketable securities).

c) Wesel Tagih (Notes Receivable).

Tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan dalam suatu promes.
Promes tagih adalah promes yang ditandatangani untuk membayar sejumlah uang dalam
waktu tertentu yang akan datang kepada seseorang atau suatu perusahaan yang tercantum
dalam surat perjanjian tersebut (nama perusahaan yang memegang surat tersebut).
d) Piutang Dagang (Accounts Receivable).

Piutang dagang meliputi keseluruhan tagihan atas langganan perseorangan yang


timbul karena penjualan barang dagangan atau jasa secara kredit. Kebijakan penjualan
kredit sengaja dilakukan untuk memperluas pasar dan memperbesar hasil penjualan.
Dengan kebijakan penjualan kredit ini juga akan menimbulkan resiko bagi perusahaan
akan tidak dapat ditagihnya sebagian atau bahkan mungkin seluruh dari piutang tersebut.

e) Penghasilan Yang Akan Masih Diterima (Account Receivable).

Penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan karena telah memberikan jasa-
jasanya kepada pihak lain, tetapi pembayarannya belum diterima sehingga merupakan
tagihan.

f) Persediaan Barang (Inventories).

Barang dagangan yang dibeli untuk dijual kembali, yang masih ada di tangan
pada saat penyusunan neraca. Untuk perusahaan industri yang mengolah bahan dasar
menjadi barang jadi, mempunyai tiga persediaan yakni persediaan bahan dasar atau bahan
baku, persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi.

g) Biaya Yang dibayar dimuka ( Prepaid Expense).

Pengeluaran untuk memperoleh jasa dari pihak lain, tetapi pengeluaran tersebut
belum menjadi biaya atau jasa dari pihak lain yang belum dinikmati oleh perusahaan
pada periode yang sedang berjalan. Contohnya yaitu biaya sewa yang dibayar di muka
dan biaya iklan yang dibayar di muka.

2. Hutang Lancar

Munawir (2004:18) mengemukakan pengertian hutang lancar sebagai berikut:


Hutang lancar atau hutang jangka pendek adalah kewajiban keuangan perusahaan yang
pelunasannya atau pembayaran akan dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak
tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva lancer yang dimiliki oleh perusahaan.
Hutang lancar merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain yang harus dipenuhi
dalam jangka waktu kurang dari satu tahun, atau utang yang jatuh temponya masuk siklus
akuntansi yang sedang berjalan. Yang termasuk hutang lancar adalah sebagai berikut:
a) Wesel Bayar (Notes Payable) Wesel bayar adalah promes tertulis dari perusahaan
untuk membayar sejumlah uang atau perintah pihak lain pada tanggal tertentu yang akan
datang yang ditetapkan (utang wesel). Promes dapat diberikan kepada bank ketika
perusahaan meminjam uang atau kepada kreditur untuk pembelian barang dagangan
secara kredit.

b) Hutang Dagang (Account Payable) Hutang Dagang Adalah semua pinjaman yang
timbul karena pembelian barang-barang dagangan atau jasa secara kredit. Pinjaman
tersebut akan dikembalikan dalam waktu satu tahun atau kurang (jangka waktu operasi
perusahaan yang normal).

c) Penghasilan Yang Ditangguhkan (Differed Revenue) Penghasilan yang diterima


terlebih dahulu merupakan penghasilan yang sebenarnya yang belum menjadi hak
perusahaan. Pihak lain telah menyerahkan uang terlebih dahulu kepada perusahaan
sebelum perusahaan menyerahkan barang atau jasanya (perusahaan berkewajiban untuk
memenuhinya). Penghasilan baru direalisasi bila jasa-jasa telah dipenuhi atau transaksi
penjualan telah selesai.

d) Hutang Dividen (Divident Payable) Hutang dividen merupakan bagian laba


perusahaan yang diberikan sebagai deviden kapada pemegang saham, tetapi belum
dibayarkan ketika neraca disusun. Hutang Pajak (Tax Payable) Beban pajak perseroan
yang belum dibayarkan pada waktu neraca disusun.Kewajiban Yang Masih Harus
Dipenuhi (Accrual Payables) Kewajiban yang timbul karena jasa-jasa yang diberikan
kepada perusahaan selama jangka waktu tertentu, tetapi pembayarannya belum
dilakukan.Misalnya: upah, bunga, sewa, pensiun dan lain-lain.
2.1.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Modal Kerja

Untuk menentukan jumlah modal kerja yang dianggap cukup bagi suatu
perusahaan bukanlah merupakan hal yang mudah, karena modal kerja yang dibutuhkan
oleh suatu perusahaan tergantung atau dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Munawir (2004:117) menyatakan bahwa besarnya modal kerja yang dibutuhkan


oleh suatu perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:

1) Sifat atau tipe dari perusahaan


2) Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau memperoleh barang yang
akan dijual serta harga per satuan dari barang tersebut.
3) Syarat pembelian bahan atau barang dagangan
4) Syarat penjualan
5) Tingkat perputaran persediaan.
2.1.6 Pentingnya Modal Kerja Yang Cukup
Modal kerja sebaiknya tersedia dalam jumlah yang cukup agar memungkinkan
perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis dan tidak mengalami kesulitan keuangan.
Misalnya dapat menutup kerugian dan mengatasi keadaan krisis atau darurat tanpa
membahayakan keuangan perusahaan.
Menurut Munawir (2004:116) manfaat lain dari tersedianya modal kerja yang cukup
adalah sebagai berikut :

1. Melindungi perusahaan dari akibat buruk berupa turunnya nilai aktiva lancar, seperti
adanya kerugian karena debitur tidak membayar, turunnya nilai persediaan karena
harganya merosot.

2. Memungkinkan perusahaan untuk melunasi kewajiban-kewajiban jangka pendek


tepat pada waktunya.

3. Memungkinkan perusahaan untuk dapat membeli barang dengan tunai sehingga


dapat mendapatkan keuntungan berupa potongan harga.
4. Menjamin perusahaan memiliki kredit standing dan dapat mengatasi peristiwa yang
tidak dapat diduga seperti kebakaran, pencurian dan sebagainya.

5. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup guna melayani
permintaan konsumennya.

6. Memungkinkan perusahaan dapat memberikan syarat kredit yang menguntungkan


kepada pelanggan.

7. Memungkinkan perusahaan dapat beroperasi denan lebih efisien karena tidak ada
kesulitan dalam memperoleh bahan baku biasa dan supply yang dibutuhkan.

8. Memungkinkan perusahaan mampu bertahan dalam posisi resesi atau depresi.


Di luar kondisi diatas, yakni adanya modal kerja yang berlebihan dan terjadinya
kekurangan modal kerja, keduanya merupakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi
perusahaan. Modal kerja yang berlebihan menunjukkan pengelolaan dana yang tidak
efektif disamping akan menimbulkan keburukan- keburukan seperti, dapat menimbulkan
pemborosan-pemborosan, investasi- investasi pada cabang yang tidak diinginkan dan
kerugian bunga karena saldo bank yang tidak digunakan.

2.1.7 Sumber Modal Kerja

Modal kerja yang permanen seharusnya atau sebaiknya dibiayai oleh perusahaan
atau para pemegang saham. Semakin besar jumlah modal kerja yang dibiayai atau berasal
dari investasi pemilik perusahaan akan semakin baik bagi perusahaan tersebut karena
akan semakin besar jaminan bagi kreditur jangka pendek.
Munawir (2004:120) menyatakan bahwa pada umumnya modal kerja suatu perusahaan
dapat berasal dari:

1. Hasil Operasi Perusahaan Adalah jumlah net income yang tampak dalam laporan
perhitungan rugi laba ditambah dengan depresiasi dan amortisasi. Jumlah ini
menunjukkan jumlah modal kerja yang berasal dari operasi perusahaan.

2. Keuntungan Dari Penjualan Surat-Surat Berharga (Investasi Jangka Pendek). Surat


berharga yang dimiliki perusahaan untuk jangka pendek adalah salah satu elemen aktiva
lancar yang segera dapat dijual dan menimbulkan keuntungan bagi perusahaan. Dengan
adanya penjualan surat-surat berharga ini mengakibatkan perubahan dalam unsur modal
kerja yaitu dari bentuk surat berharga menjadi uang kas.

3. Penjualan Aktiva Tidak Lancer.Sumber lain yang dapat menambah modal kerja
adalah hasil dari penjualan aktiva tetap. Investasi jangka panjang dan aktiva tidak lancar
lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan. Perubahan dari aktiva ini menjadi kas
atau piutang menyebabkan bertambahnya modal kerja sebesar jumlah penjualan tersebut.

4. Penjualan Saham Atau Obligasi. Untuk menambah dana atau modal kerja yang
diperlukan, perusahaan dapat pula mengadakan emisi saham baru atau meminta kepada
para pemilik perusahan untuk menambah modalnya, disamping itu perusahaan juga dapat
mengeluarkan obligasi atau bentuk utang jangka panjang lainnya guna memenuhi
kebutuhan modal kerjanya. Penjualan obligasi ini mempunyai konsekuensi bahwa
perusahaan harus membayar bunga tetap, oleh karena itu dalam mengeluarkan utang
dalam bentuk obligasi harus disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

2.1.8 Pengelolaan Modal Kerja\

Pengelolaan modal kerja dipengaruhi oleh elemen-elemen dalam modal kerja


diantaranya yaitu:

a) Kas Merupakan bentuk aktiva yang paling likuid yang bisa digunakan segera untuk
memenuhi kewajiban finansial perusahaan. Dalam hal ini, perusahaan dapat memenuhi
kewajiban finansialnya, tapi apabila kas yang besar tidak di imbangi dengan kenaikan
penjualan maka tingkat perputaran akan menjadi rendah sehingga penggunaan kas menjadi
tidak efektif.

b) Piutang Merupakan penjualan secara kredit yang bertujuan untuk meningkatkan atau
untuk mencegah penurunan penjualan. Piutang yang terlalu besar mengakibatkan
perusahaan akan menanggung beban modal yang besar.

c) Persediaan Dalam hal ini, maka perusahaan akan menanggung biaya penyimpanan,
biaya asuransi dan biaya lain-lain yang semua itu akan memperkecil tingkat keuntungan.
d) Hutang Lancar Merupakan cash outflows yang terdiri dari hutang-hutang jangka
pendek seperti hutang wesel, hutang perniagaan dan hutang-hutang pada bank lainnya yang
berusia kurang dari 1 tahun.

2.2 Perencanaan Anggaran Modal


i. Pengertian Anggaran Modal
Penganggaran Modal ( Capital Budgeting ) Istilah penganggaran modal
digunakan untuk melukiskan tindakan perencanaan dan pembelanjaan
pengeluaran modal, seperti untuk pembelian equipmen baru
untuk memperkenalkan produk baru, dan untuk memodernisasi fasilitas pabrik.
Penganggaran Modal ( Capital Budgeting ) adalah Suatu Konsep Investasi
Dikatakan sebagai suatu konsep investasi, sebab penganggaran modal melibatkan
suatu pengikatan (penanaman) dana di masa sekarang dengan
harapan memperoleh keuntungan yang dikehendaki di masa mendatang. Investasi
membutuhkan dana yang relatif besar dan keterikatan dana tersebut dalam jangka
waktu yang relatif panjang, serta mengandung resiko.
Capital Budgeting adalah merupakan proses evaluasi dan pemilihan
investasi jangka panjang yang konsisten terhadap maksimalisasi tujuan
perusahaan. Definisi Capital Budgeting Capital Budgeting is the Process of
evaluating and selecting long-term invesments consistents with the firms goal of
owner wealth maximization. Investasi juga berarti pengeluaran pada saat ini dan
hasil yang diharapkan dari pengeluaran tersebut baru akan diterima lebih dari satu
tahun mendatang. Definisi Capital Budgeting adalah sebagai berikut: Capital
Budgeting involves the entire process of planning whose returns are expected to
extend beyond one year.
Sebagai konsekuensinya, perusahaan membutuhkan prosedur tertentu
untuk menganalisa dan menyeleksi beberapa alternatif investasi yang ada.
Keputusan mengenai investasi tersebut sulit dilakukan karena memerlukan
penilaian mengenai situasi dimasa yang akan datang, sehingga dibutuhkan
asumsi-asumsi yang mendasari estimasi terhadap situasi yang paling mendekati
yang mungkin terjadi, baik situasi internal maupun eksternal perusahaan.
Investasi tersebut harus dihitung sesuai dengan cash flow perusahaan dan harus
merupakan keputusan yang paling tepat untuk menghindari resiko kerugian atas
investasi tersebut. As time passes, fixed assets may become obselete or may
require an overhaul; at these points, too, financial decisions may be required.
Perusahaan biasanya membuat berbagai alternatif atau variasi untuk berinvestasi
dalam jangka panjang, yakni berupa penambahan aset tetap seperti tanah, mesin
dan peralatan. Aset tersebut merupakan aset yang berpotensi, yang merupakan
sumber pendapatan yang potensial dan mencerminkan nilai dari sebuah
perusahaan.Capital budgeting dan keputusan keuangan diperlakukan secara
terpisah. Bila investasi yang diajukan telah ditentukan untuk diterima, manager
keuangan kemudian memilih metoda pembiayaan yang paling baik.
-. Anggaran (budget) adalah sebuah rencana rinci yg memproyeksikan aliran kas
masuk dan aliran kas keluar selama beberapa periode pada saat yg akan datang.
-. Capital budget adalah garis besar rencana pengeluaran aktiva tetap
-. Penganggaran modal (capital budgeting) adalah proses menyeluruh
menganalisa proyek2 dan menentuan mana saja yang dimasukkan ke dalam
anggaran modal.
-. Proses mengumpulkan, mengevaluasi, menyeleksi, dan menentukan alternatif
penanaman modal yang akan memberikan penghasilan bagi perusahaan untuk
jangka waktu lebih dari 1 tahun.

2.2.2 Resiko Dalam Penganggaran Modal

Ada 3 (tiga) jenis dalam proses penggaran modal. Masalahnya adalah sulit
untuk mengukur resiko-resiko tersebut secara tepat. Kelemahan ini menyebabkan
perhitungan resiko dalam keputusan penganggaran modal menjadi sulit. Pada
dasarnya ada 2 (dua) metode untuk memasukkan pertimbangan risiko kedalam
keputusan penganggaran modal, yaitu :

1. Metode Certainly Equivalent (CE)

Konsep Certainty Equivalent adalah merubah sesuatu yang tidak pasti menjadi
sesuatu yang pasti. Pada umumnya metode ini semakin tinggi resiko maka
semakin kecil certainly equivalentnya. Metode ini memasukkan unsur resiko pada
arus kas proyek dan tidak pada tingkat diskonto. Metode CE sangat sederhana dan
mudah dimengerti, namun kelemahan dari metoda ini adalah faktor subyektif
dalam menentukan CE sangat tinggi karena setiap orang punya pandangan dan
keengganan terhadap risiko yang berbeda. Kelebihan CE adalah kita dapat
mempertimbangkan resiko yang tidak sama setiap tahun.

2. Metode Risk adjusted Discount Rate (RADR)

Metode Risk Adjusted Discount rate (RADR) memasukkan unsur risiko


kedalam Discount rate. Menurut metoda ini untuk menghitung NPV suatu proyek,
kita tetap menggunakan arus kas yang diharapkan. Arus kas yang diharapkan ini
lalu didiskontokan dengan discount rate yang sudah disesuaikan dengan resiko
proyek. Metoda CE sangat sederhana dan mudah dimengerti, namun RADR lebih
sering digunakan karena lebih mudah diperkirakan berdasarkan data yang ada
pada pasar daripada menentukan arus kas CE.

2.2.3 Keseluruhan Peranan Capital Budgeting

A. Pentingnya Penganggaran Modal

1. Dana yang dikeluarkan akan terikat untuk jangkaw aktu panjang.

2. Investasi dalam aktiva tetap menyangkut harapan terhadap hasil penjualan di waktu
yang akan datang.

3. Pengeluaran dana untuk keperluan tersebut biasanya meliputi jumlah yang besar.

4. Kesalahan dalam pengambilan keputusan pengeluaran modal tersebut akan berakibat


panjang dan sulit diperbaiki.

5. Penganggaran modal yang efektif akan menaikkan ketepatan waktu dan kualitas dari
penambahan aktiva.

6. Pengeluaran modal sangatlah penting.

B. Klasifikasi Proyek

1. Replacement: perawatan bisnis

Mengganti peralatan yg rusak

2. Replacement: pengurangan biaya

Mengganti peralatan yg sudah ketinggalan jaman sehingga mengurangi biaya


3. Ekspansi produk atau pasar yg sudah ada

Pengeluaran2 untuk meningkatkan output produk yg sudah ada atau menambah toko.

4. Ekspansi ke produk atau pasar yang baru


5. Proyek keamanan atau lingkungan
6. Penelitian dan pengembangan
7. Kontrak2 jangka panjang
Kontrak untuk menyediakan produk atau jasa pada kustomer tertentu.
8. Lain-lain
Bangunan kantor, tempat parkir, pesawat terbang perusahaan

C. Tahap tahap Penganggaran Modal


1. Biaya proyek harus ditentukan
2. Manajemen harus memperkirakan aliran kas yg diharapkan dari proyek, termasuk
nilai akhir aktiva
3. Risiko dari aliran kas proyek harus diestimasi. (memakai distribusi probabilitas aliran
kas)
4. Dengan mengetahui risiko dari proyek, manajemen harus menentukan biaya modal
(cost of capital) yg tepat untuk mendiskon aliran kas proyek
5. Dengan menggunakan nilai waktu uang, aliran kas masuk yang diharapkan digunakan
untuk memperkirakan nilai aktiva.
6. Terakhir, nilai sekarang dari aliran kas yg diharapkan dibandingkan dengan biayanya

D. Manfaat Penganggaran Modal


Beberapa alasan mengapa anggaran modal mempunyai arti yang sangat penting
bagi perusahaan antara lain:
1. Dana yang dikeluarkan akan terkait untuk jangka waktu yang panjang.
2. Investasi dalam aktiva tetap menyangkut harapan terhadap hasil penjualan dimasa
yang akan datang.
3. Pengeluaran dana untuk kepentingan tersebut biasanya meliputi jumlah yang besar
dan sulit untuk menjual kembali aktiva tetap yang telah di pakai.
4. Kesalahan dalam pengambilan keputusan mengenai pengeluaran modal tersebut akan
mengakibatkan kerugian yang besar, dengan dampak antara lain; biaya depresiasi
yang berat, beban bunga modal pinjaman, biaya perunt yang meningkat bila mana
kapasitas mesin terlalu besar tetapi tidak dimanfaatkan secara optimal.

Oleh karena itu keputusan tentang pemilihan investasi merupakan keputusan yang
paling penting diantara berbagai jenis keputusan lain yang harus diambil oleh seorang
manajer keuangan. Keputusan tersebut tidak saja menentukan tingkat resiko yang harus
ditanggung, melainkan juga menentukn tingkat keuntungan perusahaan untuk masa
mendatang.

2.2.4 Proses Capital Budgeting (Anggaran Modal)

Proses Capital Budgeting terdiri dari 5 langkah yang saling berkaitan, yakni:
1. Pembuatan Proposal Anggaran Dana
Proposal penganggaran barang modal dibuat di semua tingkat dalam sebuah
organisasi bisnis. Untuk menstimulasi aliran berbagai ide, banyak perusahaan
menawarkan penghargaan berupa uang tunai untuk beberapa proposal yang diadopsi.
2. Kajian dan Analisa
Proposal penganggaran barang modal secara formal direview dalam rangka (a)
mencapai tujuan dan rencana utama perusahaan dan yang paling penting (b) untuk
mengevaluasi kemampuan ekonominya.
Biaya yang diajukan dan benefit yang diestimasikan dikonversikan menjadi
sebuah cash flow yang sesuai. Bermacam-macam teknik capital budgetingdapat
diaplikasikan untuk cash flow tersebut untuk menghitung tingkat keuntungan dari
investasi.
Berbagai macam aspek resiko diasosiasikan dengan proposal yang akan dievaluasi.
Setelah analisis ekonomi telah dibuat lengkap, diiringi dengan data tambahan dan
rekomendasi yang ditujukan untuk para pengambil keputusan.
3. Pengambilan Keputusan
Besarnya sejumlah dana yang dikeluarkan dan pentingnya penganggaran barang
modal menggambarkan tingkat organisasi tertentu yang membuat keputusan
penganggaran. Perusahaan biasanya mendelegasikan kewenangan penganggaran barang
modal sesuai dengan jumlah uang yang dikeluarkan. Secara umum jajaran direksi
memberikan keputusan akhir untuk sejumlah tertentu penganggaran barang modal yang
dikeluarkan.
4. Implementasi
Ketika sebuah proposal telah disetujui dan dananya telah siap, tahap implementasi
segera dimulai. Untuk pengeluaran yang kecil, penganggaran dibuat dan pembayaran
langsung dilaksanakan. Namun untuk penganggaran dalam jumlah besar, dibutuhkan
pengawasan yang ketat.
5. Follow Up (tindak lanjut)
Setelah diimplementasikan maka perlu dilakukan monitoring selama tahap kegiatan
operasi berjalan dari proyek tersebut. Perbandingan dari biaya yang ada dan keuntungan
yang diekspektasikan dari berbagai proyek sebelumnya adalah sangat vital. Ketika biaya
yang dikeluarkan melebihi anggaran biaya yang ditetapkan, harus segera dilakukan
tindakan untuk menghentikannya, apakah dengan meningkatkan benefit atau mungkin
menghentikan proyek tersebut.
Setiap langkah dalam proses tersebut penting dilakukan terutama pada langkah kajian
dan analisa, maupun pengambilan keputusan (langkah 2 dan 3) yang membutuhkan
waktu dan tenaga yang paling besar. Langkah terakhir yakni follow up juga penting
namun sering diabaikan. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga perusahaan untuk
dapat meningkatkan akurasi cash flow yang diestimasi.

2.3 Pengelolaan Resiko


2.3.1 Pengertian Risiko Usaha
Pengertian risiko usaha menurut para ahli :
1) Arthur Williams dan Richard, M H
Resiko adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode
terentu
2) Abas Salim
Resiko adalah ketidaktentuan yang mungkin melahirkan peristiwa kerugian
3) Soekarto
Resiko adalah ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa
4) Herman Darmawi
Resiko adalah penyebaran penyimpangan hasil aktual dari hasil yang diharapkan
Kesimpulannya :
Resiko adalah sesuatu yang selalu dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya
keadaan yang merugikan dan tidak diduga sebelumnya bahkan bagi kebanyakan
orang tidak menginginkannya.

Ada 2 karakteristik risiko:


1. Ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa
2. Ketidakpastian yang bila terjadi akan menimbulkan kerugian

Ada beberapa penyebab kegagalan usaha :


~ Perencanaan yang kurang matang
~ Kurangnya modal
~ Bakat yang tidak cocok
~ Kurang pengalaman
~ Lemahnya pemasaran
~ Tidak mempunyai semangat berwirausaha
~ Tidak mempunyai etos kerja yang tinggi

A. Macam-macam risiko:
Menurut sifat, dibedakan :
Risiko Murni
Yaitu resiko yang terjadi pasti akan menimbulkan kerugian dan terjadinya tanpa
sengaja.
Misal: kebakaran. bencana alam, pencurian dan sebagainya
Risiko Spekulatif
Yaitu resiko yang sengaja ditimbulkan oleh yang bersangkutan agar memberikan
keuntungan bagi pihak tertentu.
Misal: utang piutang, perdagangan berjangka, dan sebagainya
Risiko Fundamental
Yaitu risiko yang penyebabnya tidak dapat dilimpahkan kepada seseorang dan
yang menderita cukup banyak.
Misal: banjir, angin topan, dan sebagainya.
2.3.2 Risiko Yang Mungkin Akan Terjadi

1.Risiko bagi Usaha adalah risiko yang timbul dari menjalankan usaha dan
berdampak pada kelangsungan usaha itu sendiri. Risiko usaha ini apabila timbul
akan berakibat buruk bagi usaha yang sedang dijalankan. Risiko bagi usaha biasa
disebut dengan risiko usaha yang berdampak bagi internal usaha. Risiko usaha
internal diantaranya adalah :
a. Kehilangan modal apabila piutang tidak terbayarkan oleh konsumen
b. Kehilangan dan kerusakan perangkat keras-lunak (hard-software) apabila
memiliki karyawan yang tidak terampil dan kompeten
c. Kehilangan karyawan / personil yang handal apabila tidak dapat menangani
dengan baik dalam bidang upah, kesempatan berkarier, fasilitas kerja, wewenang,
tanggung jawab, kebijakan, kesalahpahaman manajeman internal.
d. Kehilangan kepercayaan konsumen karena tidak mampu memberikan barang atau
jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen. Kepercayaan konsumen
hilang akibat kesalahan membuat produk pesanan, kesalahan jadwal pengiriman,
kesalahan jumlah penagihan, dan kesalahan pelayanan purna jual. Akibat
ditinggalkan oleh konsumen adalah kesulitan mencari konsumen baru yang baik dan
memiliki loyalitas terhadap produk, merek, dan kualitas.
e. Kehilangan kepercayaan supliyer yaitu resiko usaha yang berakibat ditinggalkan
oleh pihak luar perusahaan yang menjadi pemasok kebutuhan perusahaan.
Kebutuhan itu diantaranya persediaan bahan baku, alat kantor, tenaga kerja, dan
lain-lain. Resiko ini bisa terjadi karena keterlambatan melakukan pembayaran ke
pihak supliyer dan melanggar ketentuan perjanjian kerjasama. Akibat ditinggalkan
oleh supliyer adalah kesulitan mencari pemasok yang baik, cepat, jujur, dan sesuai
dengan kualitas perusahaan.
f. Risiko Penghentian Ijin Usaha yaitu resiko usaha yang diberikan oleh pemerintah
dengan melakukan pencabutan ijin usaha. Pencabutan ijin usaha ini dikarenakan
melanggar ketentuan ijin bisnis yang ada di pemerintah, melakukan penipuan
dengan memanipulasi laporan keuangan dengan tujuan supaya tidak membayar
pajak ke pemerintah, merusak lingkungan hidup, menggangu keamanan dan
kenyamanan masyarakat di sekitarnya.
g. Risiko tidak diterima oleh masyarakat sekitar yaitu resiko usaha yang terjadi
akibat dari ketidakterimaan masyarakat dengan adanya usaha yang dijalankan.
Resiko usaha ini bisa terjadi karena merusak tatanan masyarakat, menggangu
ketenangan dan keamanan masyarakat, tidak memberikan dampak ekonomis bagi
masyarakat sekitar, dan lain-lain.

2. Risiko bagi Lingkungan Usaha yang bersifat eksternal adalah risiko yang
timbul dari menjalankan usaha dan berdampak pada kelangsungan bagi lingkungan
luar usaha itu sendiri. Risiko bagi usaha biasa disebut dengan risiko usaha yang
berdampak bagi eksternal usaha. Risiko usaha eksternal diantaranya adalah :
a. Risiko Pelestarian Lingkungan Hidup yaitu risiko usaha yang akan dihadapi oleh
wirausawan dalam rangka melestarikan lingkungan hidup supaya terjaga lingkungan
alam, ekosistem dan habitatnya. Risiko ini timbul karena bahan baku dari usaha
tersebut berhubungan dengan kelestarian lingkungan hidup. Contoh usaha yang
memiliki risiko usaha yang berhubungan dengan lingkungan hidup adalah: industri
kertas, industri furniture, pertambangan, sumber energi, dan lain-lain.
b. Risiko Sosial dan Budaya Masyarakat yaitu resiko yang terjadi atas berdirinya
sebuah usaha dan berdampak pada lingkungan sosial dan budaya masyarakat. Wujud
dari risiko ini adalah perubahan struktur sosial masyarakat (semula satu suku
menjadi beberapa suku), perubahan budaya masyarakat (semula tidak ada
pementasan barongsai menjadi ada kegiatan pentas barongsai), perubahan cara kerja
masyarakat (semula waktu kerja hanya pagi-sore berubah menjadi pagi-malam),
perubahan gaya hidup masyarakat (gaya hidup konsumtif yang meningkat).
c. Risiko Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yaitu risiko usaha yang timbul sebagai
bentuk kepedulian sosial perusahaan kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Bentuk kepedulian ini seperti pemberian beasiswa, bantuan pembangunan sarana
dan prasarana umum (tempat ibadah, pembangkit listrik, pengelolaan sumber air,
jalan raya, irigasi), bantuan dana sosial untuk kegiatan keagamaan, kegiatan budaya
lokal maupun hari nasional,
d. Risiko Pengelolaan Limbah yaitu risiko bisnis yang timbul sebagai akibat dari
limbah industri yang keluarkan dalam rangka memproduksi sebuah barang atau jasa.
Limbah dari produksi dapat berupa limbah cair dan limbah padat. Limbah industri
yang tidak dikelola dengan baik akan memberikan akibat pencemaran lingkungan
seperti air, udara dan tanah. Supaya tidak menimbulkan pencemaran maka setiap
perusahaan diwajibkan oleh pemerintah dan pencinta lingkungan untuk mengolah
limbah industrinya dengan baik sebelum dibuang ke luar pabrik.
e. Risiko Perekonomian Masyarakat dan Negara adalah risiko bisnis yang terjadi
karena sebuah kesalahan manajemen di internal perusahaan dan menimbulkan
dampak perubahan perekonomian masyarakat dan negara. Akibat dari resiko ini
adalah memburuknya kondisi perekonomian akan mengakibatkan daya beli
masyarakat menurun. Kondisi ekonomi makro yang buruk akan berpengaruh
terhadap volume kegiatan usaha.
f. Risiko Perubahan Peraturan dan Kebijakan Pemerintah yaitu resiko usaha yang
timbul dan berakibat kepada perubahan dan kebijakan pemerintah. Risiko ini terjadi
karena kesalahan perusahaan dalam melakukan operasinya yang mengakibatkan
suhu politik (baik lokal, nasional maupun internasional) dapat berakibat kurang baik.
Kesalahan perusahaan dalam operasional yang berakibat pada sebuah bencana bagi
masyarakat dan menuntut lahirnya sebuah peraturan dan kebijakan pemerintah yang
baru.

Jenis-jenis risiko yang umum di kenal dalam usaha asuransi antara lain
meliputi:
Risiko murni atau pure risk adalah ketidakpastian terjadinya suatu kerugian atau
dengan kata lain hanya ada suatu peluang merugi dan bukan suatu peluang
keuntungan. Risiko murni adalah suatu risiko yang bilamana terjadi akan
memberikan kerugian dan apabila tidak terjadi maka tidak menimbulkan kerugan
namun juga tidak menimbulkan keuntungan. Risiko ini akibatnya hanya ada 2
macam: rugi atau break event, contohnya adalah pencurian, kecelakaan atau
kebakaran.
Risiko spekulatif atau speculative risk adalah risiko yang berkaitan dengan
terjadinya dua kemungkinan, yaitu peluang mengalami kerugian financial atau
memperoleh keuntungan. Risiko ini akibatnya ada 3 macam: rugi, untung atau break
event, contohnya adalah investasi saham di bursa efek, membeli undian dan
sebagainya.
Risiko individu atau individual risk adalah kemungkinan-kemungkinan yang
terjadi pada kehidupan sehari-hari. Misalnya risiko yang akan tibul bila kita
memiliki rumah, mobil, melakukan investasi usaha, atau menyewa apartemen.
Risiko ini di bagi ke dalam tiga macam risiko, yaitu:
Risiko pribadi atau personal risk, adalah risiko yang mempengaruhi kapasitas atau
kemampuan seseorang dalam memperoleh keuntungan, cotohnya adalah mati muda,
uzur, cacat fisik, dan kehilangan pekerjaan.
Risiko harta atau property risk adalah risiko terjadinya kerugian keuangan apabila
kita memiliki suatu benda atau harta. Yaitu adanya peluang harta tersebut untuk
hilang, di curi, atau rusak.

2.3.3 Langkah Dasar Untuk Mengelola Resiko Usaha


Identifikasi (buat daftar) setiap risiko yang bisa terjadi
Lakukan analisis dan rangking atau urutkan sesuai dengan besarnya
dampak kerugian yang akan ditimbulkannya
Tentukan uapaya-upaya untuk mengatasinya sesuai dengan urutan yang
ada
Lakukan upaya tersebut sesuai pilihan scenario yang telah dibuat
Lakukan evaluasi
2.3.4 Teknik-teknik Manajemen Risiko
Dalam mengelola risiko pada suatu organisasi sangat tergantung dari hasil
indentifikasi risiko yang mungkin muncul/terjadi pada organisasi tersebut, serta
berapa nilai kerugian bila hal tersebut terjadi dan yang terakhir adalah frekuesi
(probabilitas) kejadian tersebut terjadi. Berdasarkan ketiga faktor baru organisasi
dapat menentukan teknik apa yang tepat dalam mengelola risiko tersebut. Hal ini
perlu menjadi perhatian mengingat didalam mengelola risiko juga perlu
mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang diterima, sehinga
alternatif yang diambil dalam pengelolaan risiko telah merupakan alternatif terbaik
dengan kriteria manfaat yang paling optimum dengan biaya atau pengeluaran yang
terendah. Berikut ini beberapa alternatif pilihan dalam mengelola suatu risiko dalam
dunia bisnis:
1. Penghindaran (Risk Avoidance)
Alternatif penghindaran risiko pada umumnya dapat dilakukan
pada tahap perencanaan dimana kemungkinan-kemungkinan risiko yang
terjadi dapat diatasi dengan berbagai tindakan pencegahan. Misalnya
risiko kebanjiran yang dapat diatasi dengan mencari lokasi yang bebas
banjir, atau risiko melanggar peraturan pengelolaan lingkungan yang dapat
dilakukan dengan mempersiapkan seluruh dokumen dan persyaratan yang
terkait dengan lingkungan atau risiko adanya penuntutan (komplain) dari
konsumen terhadap produk yang dihasilkan dapat dihindari dengan
mencantumkan spesifikasi produk yang jelas dan rinci serta melakukan
berbagai uji coba sebelum produk dipasarkan. Namun untuk risiko murni
(Pure Risk) dengan kemungkinan terjadinya rendah serta sukar diprediksi
teknik penghindaran tidak dapat digunakan.
2. Menahan atau Menanggung (Risk Retention)
Pada suatu kondisi dengan pertimbangan tertentu perusahaan berani
menanggung berbagai kemungkinan risiko yang terjadi. Namun demikian,
perusahaan tetap berupaya agar risiko itu tidak terealisasi/terjadi atau juga
mencadangkan sejumlah anggaran dengan pola tertentu sebagai antisipasi
bila kondisi terburuk terjadi. Berikut ini beberapa bentuk risiko dan
kondisi sehingga perusahaan berani menanggung risiko yang mungkin
terjadi.
A. Penahanan yang direncanakan dan tidak direncanakan
Yang dimaksud dengan penahanan risiko direncanakan adalah
dimulai dari upaya untuk mengetahui seluruh risiko yang mungkin
timbul, atau mengindentifikasi risiko yang ada kemudian
menyusun berbagai tindakan yang akan diambil. Pada kondisi ini
tindakan yang diambil menjadi tanggung jawab perusahaan sendiri
dan tidak dialihkan pada pihak lain atau pihak ketiga diluar
perusahaan contohnya perusahaan lebih menekankan pada
pelatihan mengemudi dan seleksi pengemudi yang ketat dalam
upaya mengantisipasi risiko terjadinya kerusakan kendaraan akibat
kecelakaan. Pada kondisi ini perusahaan lebih memilih
menganggarkan dana untuk meningkatkan ketrampilan mengemudi
daripada mengasuransikan kendaraan.
Sedangkan penahanan risiko tidak direncanakan adalah merupakan
bentuk kegagalan perusahaan dalam mengindentifikasi risiko yang
mungkin terjadi sehingga pada saat risiko itu terjadi perusahaan
tidak memiliki anggaran atau tidak memiliki tindakan yang telah
terencana dalam mengatasinya. Misalnya risiko kegagalan
peluncuran produk terkait dengan tenaga ahli yang beralih pada
perusahaan lain, atau tuntutan konsumen terhadap produk dll.
B. Pendanaan risiko yang ditahan
Seperti tersebut diatas, dalam menerapkan risk retension (menahan
risiko) perusahaan tetap membutuhkan angaran walaupun dalam
jumlah yang lebih sedikit jika dibandingkan harus melakukan risk
transfer. Pada jenis usaha tertentu pembebanan dalam menerapkan
retensison risk dapat dialihkan kepada konsumen melalui
penambahan sejumlah biaya tertentu dari produk yang dihasilkan
perusahaan. Namun penerapa metode ini perlu mempertimbangkan
agar penambahan biaya tidak mengurangi daya saing perusahaan
ditinjau dari harga yang ditawarkan. Misalnya risiko kehilangan
atau rusak dari produk yang ditawarkan pada perusahaan retail
(supermarket). Hal ini dapat diketahui dari adanya perbedaan harga
yang ditawarkan untuk item yang sama pada supermarket yang
berbeda (perbedaan ini juga dimungkinkan dari diskon yang
diberikan rekanan pada supermarket tersebut).
Berikut ini beberapa model pendanaan untuk risk retension:
a. Dana Cadangan
Dana cadangan merupakan pengalokasian atau penyisihan
dana tertentu dapat dari keuntungan perusahaan atau yang
lain secara periodik dengan tujuan untuk pembiayaan
kerugian yang mungkin. Misalnya saja sebesar 1 % dari
laba ditahan dialokasikan untuk pengelolaan risiko.
b. Self Insurance
Self insurance dilakukan dengan cara menyisingkan atau
membayarkan sejumlah dana tertentu (berdasarkan hasil
perhitungan) kepada pihak didalam perusahaan yang
ditugaskan untuk mengelola risiko. Yang perlu diperhatikan
dalam self insurance adalah eksposure diperusahaan cukup
besar dan risiko dapat diprediksi dengan baik. Keuntungan
dari metode ini adalah bila kejadian tidak terjadi maka tidak
menimbulkan biaya tambahan.Bayangkan bila hal ini terjadi
dan kita telah membayar premi asuransi yang tidak mungkin
ditarik kembali.Sedangkan kerugian atau keterbatasan dari
konsep self insurance adalah jumlah eksposurennya yang
harus tinggi sehingga memenuhi skala ekonominya.
c. Captive Insurance
Captive insurance sebenarnya tidak jauh berbeda dengan
self insurance dimana perusahaan membayarkan atau
mengalokasikan sejumlah dana tertentu kepada pihak
didalam perusahaan (pengelola risiko). Namun untuk
captive insurance pihak pengelola risiko mendirikan
perusahaan lain yangmerupakan anak perusahaannya.
3. Diversifikasi
Diversifikasi berarti menyebar eksposur yang kita miliki sehingga tidak
terkonsentrasi pada satu atau dua eksposur saja.
Contoh: memegang aset tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam
(saham, obligasi, properti). Jika terjadi kerugian pada satu aset, kerugian
tersebut bisa dikompensasi oleh keuntungan dari aset yang lainnya.
4. Transfer Risiko
Keputusan mengalihkan risiko adalah dengan cara risiko yang kita terima
tersebut kita alihkan ke tempat lain sebagian. Jika tidak ingin menanggung
risiko tertentu, kita dapat menstransfer risiko tersebut kepada pihak lain
yang lebih mampu menghadapi risiko tersebut.
Contoh: membeli asuransi kecelakaan. Jika terjadi kecelakaan, perusahaan
asuransi akan menanggung kerugian dari kecelakaan tersebut.
5. Pengendalian Risiko
Dilakukan untuk mencegah atau menurunkan probabilitas terjadinya risiko
atau kejadian yang tidak kita inginkan. Keputusan mengontrol risiko
adalah dengan cara melakukan kebijakan antisipasi terhadap timbulnya
risiko sebelum risiko itu terjadi.
Contoh: untuk mencegah kebakaran, kita memasang
alarm asap dibangunan kita. Alarm merupakan salah satu cara kita
mengendalikan risiko kebakaran.
2.3.5 Risk Transfer
Bila skala ekonomis tidak terpenuhi, serta merasa tidak memilki kompetensi dan
waktu untuk mengelola risiko maka alternatif yang dapat dipilih dalam mengelola
risiko adalah melakukan trnsfer risiko atau risk transfer. Pada kondisi ini dengan
mengalokasikan sejumlah biaya tertentu (biaya lebih rendah jika dibandingkan biaya
yang mungkin dikeluarkan bila risiko terjadi) pada pihak lain yang memilki
kemampuan dan kapasitas untuk mengumpulkan eksposure sehingga mencapai
kondisi ekonomi.
Berikut ini beberapa cara dalam risk transfer.
A. Asuransi
Prinsip bisnis asuransi didasarkan pada upaya mengumpulkan (pool)
sumberdaya, bukannya mengumpulkan risiko. Melalui premi yang diterima
perusahaan asuransi, sampai pada skala ekonomisnya akan memperkecil
probabilitas tidak bisa memenuhi kewajibannya. Pada kondisi ini pihak
asuransi dapat menghitung tingkaat biaya yang akan dibebankan mengingat
mereka sudah dapat menghilangkan risiko ketidak pastiannya.
Asuransi merupakan kontrak perjanjian antara yang diasuransikan
(insured) dan perusahaan asuransi (insurer), dimana insurer bersedia
memberikan kompensasi atas kerugian yang dialami pihak yang
diasuransikan, dan pihak pengasuransi (insurer) memperoleh premi asuransi
sebagai balasannya. Ada empat hal yang diperlukan dalam transaksi asuransi:
(1) perjanjian kontrak, (2) pembayaran premi, (3) tanggungan (benefit) yang
dibayarkan jika terjadi kerugian seperti yang disebutkan dalam kontrak, dan
(4) penggabungan (pool) sumberdaya oleh perusahaan asuransi yang
diperlukan untuk membayar tanggungan.
B. Hedging
Merupakan salah satu bentuk risk transfer dengan melibatkan pihak lain
sebagai penanggung jawab bila terjadi kejadian yang tidak diinginkan
terjadi. Hedging biasanya terkait dengan perlindungan terhadap kewajiban
membayar atau kebutuhan akan uang asing. Misalnya kewajiban untuk
dapat membayar hutang dalam dolar atau dalam mata uang asing lainnya,
atau juga kewajiban untuk membayar pembelian bahan baku dalam mata
uang asing seperti dolar atau pounstreling dan yen. Perubahan kurs mata
uang asing terhadap rupiah misalnya dapat menimbulkan kerugian yang
sangat besar misalnya saja waktu kejadian kerusuhan Mei 1998 yang
mendorong dollar terapresiasi terhadap rupiah yang mencapai 500%. Pada
kondisi ini perusahaan yang melakukan hedging dengan kepemilikan atau
opsi membeli dollar dimasa depan akan sangat tertolong mengingat sesuai
dengan perjanjian forward atau future yang bersangkutan tidak harus
membeli pada kurs yang akan datang tetapi berdasarkan kesepakatan yang
berlaku dalam kontrak. Untuk kondisi seperti ini hedging sangat mirip
dengan asuransi.
C. Incoporated
Incoporated merupakan bentuk transfer risiko bagi individu mengingat
dengan pembentukan perusahaan kewajiban pemegang saham dalam
perseroan terbatas hanya terbatas pada modal yang disetorkan. Kewajiban
tersebut tidak akan sampai ke kekayaan pribadi. Secara efektif, sebagian
risiko perusahaan ditransfer ke pihak lain, dalam hal ini biasanya kreditur
(pemegang hutang). Jika perusahaan bangkrut, maka pemgang saham dan
pemegang hutang akan menanggung risiko bersama, meskipun dengan
tingkatan yang berbeda. Pemegang hutang biasanya mempunyai prioritas
yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemegang saham. Misalkan
perusahaan bangkrut, asetnya dijual, hasil penjualan aset tersebut akan
diberikan ke pemegang hutang. Jika masih ada sisa, pemegang saham baru
bisa memperoleh bagiannya.
2.4 Laporan Keuangan
2.4.1 Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi keuangan mengenai
suatu badan usaha yang akan dipergunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan
sebagai bahan pertimbangan di dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi.
Laporan keuangan bagi pihak manajemen perusahaan berfungsi sebagai laporan
pertanggung jawaban keuangan pada pemilik modal. Bagi pemilik modal, laporan
keuangan berfungsi untuk megevaluasi kinerja manajer perusahaan selama satu
periode. Dengan adanya laporan keuangan ini, manajer perusahaan akan bekerja
semaksimal mungkin agar kinerjanya dinilai baik.
Pada akhir periode, perusahaan akan membuat laporan keuangan. Akhir periode
bisa tiap akhir bulan atau tiap akhir tahun. Laporan keuangan untuk disampaikan
kepada pihak luar perusahaan umumnya dibuat tiap akhir tahun. Pihak luar
perusahaan antara lain:
a. Investor
b. Karyawan
c. Pemberi Pinjaman
d. Pemasok dan Kreditor usaha lainnya
e. Pelanggan
f. Pemerintah
g. Masyarakat
Laporan keuangan memuat informasi yang bersifat keuangan seperti jumlah
aktiva, jumlah kewajiban, jumlah modal, jumlah pendapatan, jumlah biaya dan arus
kas. Informasi yang bersifat keuangan diambil dari ringkasan transaksi yang terjadi
selama satu periode.
2.4.2 Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan digolongkan sebagai berikut :
1. Tujuan khusus
Tujuan khusus dari laporan keuangan adalah menyajikan laporan posisi
keuangan, hasil usaha dan perubahan posisi keuangan lainnya secara wajar dan
sesuai dengan GAAP.
2. Tujuan umum
Adapun tujuan umum dari laporan keuangan disebutkan sebagai berikut :
a. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber-sumber ekonomi dan
kewajiban perusahaan.
b. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih
yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba.
c. Memberikan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksir
potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
d. Memeberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan harta
dan kewajiban.
e. Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan para pemakai
laporan.
3. Tujuan kualitatif
Adapun tujuan kualitatif yang dirumuskan APB Statements No. 4 adalah sebagai
berikut :
a. Relevance yaitu memilih informasi yang benar-benar dapat membantu
pemakai laporan dalam proses pengambilan keputusan.
b. Understandability yaitu informasi yang dipilih untuk disajikan bukan saja
yang penting tetapi juga harus informasi yang dimengerti para pemakainya.
c. Verifiability hasil akuntansi itu harus dapat diperiksa oleh pihak lain yang
akan menghasilkan pendapat yang sama. Dengan kata lain ukurannya harus
ada.
d. Neutrality yaitu laporan akuntansi itu netral terhadap pihak-pihak yang
berkepentingan. Informasi dimaksudkan untuk pihak umum bukan pihak-
pihak tertentu saja.
e. Timeliness yaitu laporan akuntansi hanya bermanfaat untuk pengambilan
keputusan apabila diserahkan pada saat yang tepat.
f. Comparability yaitu informasi akuntansi harus dapat saling dibandingkan
artinya akuntansi harus memiliki prinsip yang sama baik untuk suatu
perusahaan maupun perusahaan lain.
g. Completeness yaitu informasi akuntansi yang dilaporkan harus mencakup
semua kebutuhan yang layak dari para pemakai.

Dua belas tujuan laporan keuangan menurut laporan Trueblood Committee


adalah sebagai berikut :
a. Menyediakan informasi untuk pembuatan keputusan-keputusan ekonomi
b. Menyajikan informasi terutama pada para pemakai yang memiliki otoritas,
kemampuan atau sumber-sumber yang terbatas dalam memperoleh informasi
dan mereka menyandarkan diri pada laporan keuangan sebagai sumber utama
informasi tentang kegiatan ekonomi perusahaan.
c. Menyediakan informasi yang dapat dipakai oleh para investor dan kreditor
untuk memprediksi, membandingkan dan mengevaluasi aliran kas potensial
untuk mereka dalam ukuran jumlah, waktu dan hubungannya dengan ketidak
pastian.
d. Menyediakan informasi kepada para pemakai untuk prediksi, perbandingan
dan evaluasi earning power perusahaan.
e. Menyediakan informasi yang dapat dipakai dalam menilai kemampuan
manajemen untuk memanfaatkan pemakaian sumber-sumber secara efektif
dalam mencapai tujuan perusahaan.
f. Menyediakan informasi factual dan interpretatif tentang transaksi-transaksi
dan kejadian-kejadian yang lain digunakan untuk prediksi, perbandingan dan
evaluasi earning power perusahaan. Dasar anggapan yang mendasari
interpretasi, evaluasi, prediksi atau estimasi akan diungkapkan.
g. Menyediakan laporan posisi keuangan yang dapat dipakai untuk prediksi,
pembandingan dan evaluasi earning power perusahaan. Laporan tersebut akan
menyediakan informasi yang berhubungan dengan transaksi perusahaan dan
kejadian-kejadian lainnya yang merupakan bagian siklus earning tidak
lengkap. Nilai saat ini (current value) juga akan dilaporkan jika terdapat
perbedaan yang signifikan dengan harga perolehan historical (historical cost).
Aktiva dan hutang akan dikelompokkan atau dipisahkan oleh ketidakpastian
relatif dari jumlah dan waktu realisasi prospektif atau likuidasi.
h. Menyediakan laporan earning periodik yang bermanfaat untuk prediksi,
perbandingan evaluasi earning power perusahaan. Hasil bersih siklus earning
yang komplit dan hasil kegiatan perusahaan dalam perkembangan yang diakui
kearah penyelesaian siklus yang belum selesai akan dilaporkan. Perubahan
dalam nilai yang digambarkan dalam laporan keberhasilan posisi keuangan
juga akan dilaporkan, tetapi secara terpisah, sejak mereka membedakan
ukuran kepastian realisasinya.
i. Menyediakan laporan kegiatan keuangan yang bermanfaat untuk prediksi,
perbandingan dan evaluasi earning power perusahafakan. Laporan ini akan
melaporkan sebagian besar aspek-aspek faktual transaksi perusahaan yang
mempunyai atau diharapkan mempunyai konsekuensi kas yang signifikan.
Laporan ini akan melaporkan data yang memerlukan judgment minimal dan
interpretasi oleh pihak penyusun.
j. Menyajikan informasi yang bermanfaat untuk proses prediktif. Peramalan
keuangan akan disajikan jika peramalan tersebut akan meningkatkan
realibilitas prediksi para pemakai.
k. Lembaga pemerintahan dan organisasi tidak bertujuan laba adalah untuk
menyediakan informasi yang bermanfaat untuk menilai efektifitas pengelolaan
sumber-sumber dalam mencapai tujuan organisasi. Pengukuran prestasi akan
dikuantitaskan dalam ukuran tujuan-tujuan yang diidentifikasikan.
l. Melaporkan kegiatan perusahaan yang mempengaruhi masyarakat. Dalam hal
ini adalah pengaruh yang dapat ditentukan, dijelaskan atau diatur dan sifatnya
penting untuk menentukan peranan perusahaan dalam lingkungan sosialnya.

2.4.3 Jenis Laporan Keuangan


Setelah transaksi yang terjadi didalam perusahaan dicatat dalam persamaan dasar
akuntansi, kemudian ringkasan transaksi tersebut dilaporkan kepada pihak luar
perusahaan yang memerlukannya.
Laporan keuangan menurut Pernyataan Standar Laporan Keuangan No. 1 Tahun
2002 (PSAK No 1 Tahun 2002) terdiri dari:
a. Neraca.
b. Laporan Laba-Rugi.
c. Laporan perubahan ekuitas
d. Laporan arus kas
e. Catatan atas laporan keuangan.
2.4.4 Komponen-Komponen Laporan Keuangan
2.4.4.1 Neraca
Dalam sistem tatabuku dobel yang mula-mula diajarkan oleh pendeta Italia
Paciollo pada tahun 1494, neraca itu asal mulanya hanya dipergunakan untuk
menyatakan bahwa pembukuan perusahaan telah ditutup dan membuktikan
bahwa ada keseimbangan antara debit dan kredit[5]. Baru pada akhir abad ke 18,
orang mulai menyusun suatu neraca berdasarkan urutan-urutan yang kita kenal
sekarang. Lazimnya aktiva dan pasiva disusun berdasarkan urutan menurut
likwiditas, artinya disusun menurut kemungkinan untuk mentransformasikan
aktiva-aktiva tersebut menjadi uang tunai.
Daftar yang memuat informasi secara terperinci semua aktiva, kewajiban
perusahaan serta modal pemilik pada waktu tertentu disebut neraca (balance sheet).
Waktu tertentu bisa akhir bulan, akhir triwulan, akhir tahun dan waktu tertentu
lainnya.
Bentuk neraca ada dua bentuk yaitu bentuk skontro (account form) dan
bentuk laporan (report form). Dalam neraca bentuk skontro, Aktiva disajikan
disebelah kiri sedangkan kewajiban dan modal disajikan disebelah kanan. Dalam
neraca bentuk laporan, Aktiva disajikan paling atas sedangkan kewajiban dan
modal disajikan bawahannya.
Komponen-komponen neraca dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Aktiva (Asset)
Committee on Terminology (1953 hlm. 26) mendefinsikan aktiva
adalah Sesuatu yang disajikan di saldo debet yang akan dipindahkan
setelah tutup buku sesuai dengan prinsip akuntansi (bukan karena saldo
negative yang akan dinilai sebagai utang), saldo debet ini merupakan
hak milik atau nilai yang dibeli atau pengeluaran yang dibuat untuk
mendapatkan kekayaan di masa yang akan datang.
Aktiva dibagi menjadi dua kelompok yaitu aktiva lancar dan aktiva
tetap. Pengelompokkan aktiva ke dalam aktiva lancar dan aktiva tetap di
atur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 1 tahun 2002
(PSAK No. 1 tahun 2002).

1) Aktiva Lancar (Current Assets)


Aktiva lancar (current assets) adalah aktiva yang secara
normal ditranformasikan menjadi kas dalam jangka waktu setahun
atau sebelum berakhirnya siklus produksi (jika siklus ini melebihi
jangka waktu setahun).
Yang termasuk kedalam aktiva lancar antara lain kas,
piutang usaha, wesel tagih, persediaan barang, suplai toko, suplai
kantor, biaya dibayar dimuka, pendapatan yang akan diterima,
investasi jangka pendek.
2) Aktiva Tetap (Fixed Assets)
Aktiva tetap (fixed assets) adalah aktiva yang dipergunakan
dalam perusahaan dan mempunyai kegunaan yang melebihi satu
masa pembukuan.
Yang termasuk kedalam aktiva tetap antara lain peralatan,
kendaraan, bangunan/gedung dan tanah.
a. Kewajiban (Liabilities)
Definisi dari entity theory yaitu Kewajiban adalah saldo
kredit atau jumlah yang harus dipindahkan dari saat tutup buku
ke periode tahun berikutnya berdasarkan pencatatanyang sesuai
dengan prinsip akuntansi (saldo kredit bukan akibat saldo
negatif aktiva.
Kewajiban dibagi menjadi dua kelompok yaitu kewajiban
jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.
Pengelompokkan kewajiban jangka panjang diatur dalam
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 1 tahun 2002
(PSAK No. 1 tahun 2002).
1) Kewajiban Jangka Pendek
Kewajiban jangka pendek adalah kewajiban-
kewajiban yang akan jatuh tempo dalam satu tahun atau
dalam siklus kegiatan normal perusahaan.
Kewajiban/hutang lancar meliputi hutang dagang, hutang
wesel, hutang bank, hutang gaji, bunga dan lain-lain.
Yang termasuk kedalam kelompok kewajiban
jangka pendek antara lain utang usaha, wesel bayar, semua
pendapatan yang diterima dimuka, semua biaya yang belum
dibayar dan kewajiban jangka panjang yang akan jatuh
tempo dua belas bulan setelah tanggal neraca.

2) Kewjiban Jangka Panjang


Kewajiban jangka panjang adalah hutang yang jatuh
temponya lebih dari satu tahun digolongkan ke dalam
kewajiban jangka panjang. Contohnya adalah hutang
obligasi, hutang bank dan lain-lain.
Yang termasuk kedalam kelompok kewajiban
jangka panjang antara lain hutang hipotek dan pinjaman
obligasi.
a. Modal (Equity)
Modal (equity) adalah suatu hak yang tersisa atas
aktiva suatu lembaga (entity) setelah dikurangi
kewajibannya. Dalam perusahaan equity adalah modal
pemilik. Definisi ini cenderung menganut propriety
theory.

2.4.4.2 Laporan Laba-Rugi


Laba-rugi yaitu laporan yang memuat informasi mengenai pendapatan dan
beban yang terjadi selama satu periode tertentu dalam suatu perusahaan. Satu
periode tertentu misalnya satu bulan, satu semester dan satu tahun. Selisih antara
pendapatan dengan beban disebut laba bersih (net income) atau rugi bersih (net
loss). Apabila pendapatan lebih besar dari beban maka selisihnya disebut laba
bersih, tetapi apabila pendapatan lebih kecil dari beban maka selisihnya disebut
rugi bersih.
Komponen-komponen laba-rugi adalah sebagai berikut :
a. Penjualan
b. Harga pokok penjualan
c. Laba bruto
d. Beban usaha
e. Laba usaha
f. Pendapatan dan beban lain-lain
g. Laba sebelum pos luar biasa
h. Pos luar biasa
i. Pengaruh kumulatif dari perubahan prinsip akuntansi
j. Laba sebelum pajak penghasilan
k. Pajak penghasilan
l. Laba bersih

2.4.4.3 Laporan Perubahan Modal


Laporan perubahan modal yaitu laporan mengenai perubahan modal
pemilik suatu perusahaan selama satu periode misalnya satu bulan, satu semester
atau satu tahun. Dari laporan ini dapat diketahui apakah modal pemilik bertambah
atau berkurang bila dibandingkan dengan modal pemilik sebelumnya. Adapun
penyebabnya bertambahnya modal pemilik yaitu :
a. Perusahaan memperoleh laba bersih
b. Adanya investasi tambahan dari pemilik perusahaan.
Sedangkan penyebab berkurangnya modal pemilik yaitu :
a. Perusahaan menderita rugi
b. Adanya pengambilan pribadi (prive) oleh pemilik
Laporan perubahan modal harus memuat informasi berikut :
a. Modal pada awal periode
b. Laba atau rugi selama satu periode
c. Tambahan modal dari investasi pemilik
d. Pembagian laba kepada pemilik
e. Laba atau rugi yang tidak dibagikan pada periode sebelumnya

2.4.4.4 Laporan Arus Kas


Laporan arus kas adalah laporan yang memuat informasi mengenai
ringkasan penerimaan dan pengeluaran kas suatu badan usaha yang terjadi selama
satu periode, setiap satu bulan atau suatu semester atau satu tahun. Arus kas
adalah arus masuk kas (Penerimaan kas) dan arus keluar kas (Pengeluaran kas).
Arus kas (Penerimaan dan pengeluaran kas) dikelompokkan kedala tiga
kelompok yaitu Arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi
dan arus kas dari aktivitas pendanaan.
Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan
dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas
pendanaan (PSAK No.2 tahun 2002).
Aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aktiva jangka panjang
serta investasi lain yang tidak temasuk setara kas(PSAK No.2 tahun 2002).
Aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan
dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan (PSAK No.2 tahun
2002).
2.4.4.5 Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan memuat penjelasan mengenai pos yang ada
dalam neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal dan laporan arus
kas. Catatan atas laporan keuangan dimaksudkan untuk membantu pemakai
laporan keuangan dalam memahami laporan keuangan sehingga laporan keuangan
dapat bermanfaat bagi pemakai laporan untuk pengambilan keputusan.

2.4.5 Bagian-bagian laporan keuangan


Meliputi :
Neraca (Balance Sheet), menyajikan aktiva pada sisi sebelah kiri,yang
merupakan alokasi dari dana,kewajiban dan ekuitas pada sebelah kanan yang
merupakan sumber dana perusahaan.
Laporan Laba Rugi (Income Statement), Laporan yang mengikhtisarkan
pendapatan dan pengeluaran perusahaan selama satu periode akuntansi,biasanya
setiap satu kuartal atau satu tahun.
Laporan Laba Ditahan (Statement of Shareholders Equity), menyajikan
perubahan-perubahan pada pos-pos ekuitas untuk mengidentifikasi alasa
perubahan klaim pemegang ekuitas atas aktivanya.
Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flow), Tujuan dari pembuatan laporan
arus kas ini adalah:
1. Memberikan informasi mengenai penerimaan dan pembayaran kas perusahaan
selama periode tertentu.
2. Memberikan informasi mengenai efek kas dari tiga kategori aktivitas yaitu
aktivitas investasi,aktivitas pendanaan,aktivitas operasi.
2.4.6 Tujuan Laporan Keuangan
1. Untuk menyediakan informasi yang menyangkut kinerja serta perubahan
posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar
pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.
2. Menunjukkan apa yang dilakukan manajemen (stewardship),atau pertanggung
jawaban manajemen atas sumberdaya yang dipercayakan kepadanya.
2.4.7 Pengguna Laporan Keuangan Dan Tujuan Penggunaannya
1. Investor : penanam modal dan penasihat mereka berkepentingan dengan risiko
yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan.
Mereka membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus
membeli, menahan, atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga
tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan
perusahaan untuk membayar dividen.
2. Karyawan : karyawan dan kelompok yang mewakili merekatertarik pada
informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan, juga tertarik dengan
informasi untuk~ menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa,
imbalan pasca kerja dan kesempatan kerja.
3. Pemberi pinjaman : pemberi pinjaman tertarik dengan informasi keuangan
yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjamari serta
bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo. ~
4. Pemasok dan kreditor usaha lainnya : pemasok dan kreditor usaha lainnya
tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan
apakah jumlah yang kewajibannya akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditor
usah berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek
daripada pemberi pinjaman kecuali kalau sebagai pelanggan utam rnereka
bergantung pada kelangsungan hidup perusahaan.
5. Pelanggan : para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai
kelangsungan hidup perusahaan, terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian
jangka panjang dengan, atau bergantung pada perusahaan.
6. Pemerintah : pemerintah dan berbagai lembaga yang berada dibawah
kekuasaannya berkepentingan dengan alokasi sumberdaya dan karena itu
berkepentingan dengan aktivitas perusahaan. Mereka juga membutuhkan
informasi untuk mengatur aktivitas perusahan, menetapkan kebijakan pajak, dan
sebagai dasar menyusun statistik pendapatan nasional dan statisti lainnya.
7. Masyarakat : perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat daiam berbagai
cara. Misalnya: perusahaan dapat memberikan kontribusi berarti pada
perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan
perlindungan kepada penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat
membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (trend)
dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan dan rangkaian aktivitasnya.
2.4.8 Macam-Macam Analisis Laporan Keuangan
Analisis Time Series dan Cross Sectional
1. Analisis Trend atau time series adalah analisis rasio perusahaan
untuk beberapa periode. Membandingkan rasio sekarang (present ratio)
dengan rasio-rasio dari waktu yang lalu (rasio historis) atau dengan rasio-
rasio yang diperkirakan untuk waktu-waktu yang akan datang pada
perusahaan yang sama. Analisis trend dapat melihat apakah prestasi
perusahaan itu meningkat atau menurun selama periode tertentu,
mengestimasi kemungkinan terjadi peningkatan atau penurunan pada kondisi
keuangan tertentu
2. Analisis Cross Sectional, dengan analisis ini analis
membandingkan rasio-rasio perusahaan (company ratio) dengan rata-rata
rasio perusahaan sejenis atau industri (rasio rata-rata/rasio standard) untuk
waktu yang sama.

Analisis Commond Size dan Analisis Index


1. Analisis Commond Size, untuk membuat perbandingan elemen-elemen
laporan keuangan dengan command base-nya. Laporan keuangan neraca
pada sisi aktiva didasarkan pada total aktiva sehingga total aktiva sama
dengan 100%. Elemen-elemen lain dari aktiva dibandingkan dengan total
aktiva. Elemen-elemen kewajiban dan modal sendiri didasarkan pada total
kewajiban dan modal sendiri. Laporan laba rugi commond base-nya
penjualan, elemen-elemen laporan laba rugi dibandingkan dengan penjualan.
2. Analisis Index, memilih tahun dasar sebagai commond base-nya elemen-
elemen laporan keuangan pada periode lain dibandingkan dengan elemen-
elemen laporan keuangan yang sama dengan tahun dasar tersebut.
2.4.9 Contoh Laporan Keuangan

Proses pengelolaan msdm, meliputi :


1) Analisis Jabatan
Analisis jabatan adalah proses untuk mempelajari dan mengumpulkan berbagai
informasi yang berhubungan dengan suatu jabatan. Untuk itu, perlu diketahui
pekerjaan apa saja yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, dan mengapa
pekerjaan itu harus dilakukan serta persyaratan untuk menduduki suatu jabatan.
Dengan kata lain, analisis jabatan dapat diartikan sebagai suatu proses yang sistematis
untuk mengumpulkan, menganalisis data dan informasi suatu jabatan.
Hasil dari analisis jabatan akan diperoleh dua hal, yaitu :
a. Uraian jabatan, yang meliputi identitas jabatan, fungsi jabatan, uraian tugas,
wewenang, tanggung jawab, hubungan kerja, bahan, alat dan mesin yang
digunakan, serta kondisi kerja.
b. Spesifikasi jabatan, yang meliputi persyaratan pendidikan, persyaratan pelatihan,
persyaratan pengalaman, persyaratan psikologi, serta persyaratan khusus.
2) Perencanaan Sumber Daya Manusia
Perencanaan sumber daya manusia merupakan suatu kegiatan yang dilakukan
secara sistematis untuk meramalkan atau memperkirakan kebutuhan sumber daya
manusia dalam suatu perusahaan. Perkiraan tentang kebutuhan tenaga kerja yang
diperlukan perusahaan didasarkan pada berbagai pertimbangan, antara lain rencana
produksi atau jasa yang dihasilkan sesuai dengan jenis atau bidang investasi yang
dijalankan. Setelah melakukan perkiraan terhadap jumlah barang atau jasa yang akan
dihasilkan, selanjutnya perkiraan ini diubah ke dalam jumlah orang yang dibutuhkan
untuk mengerjakan dan melaksanakan aktivitas tersebut. Untuk level manajerial
biasanya jumlah pegawai didasarkan pada jumlah jabatan yang tersedia dalam
struktur organisasi perusahaan.
3) Pengadaan Karyawan
Pengadaan tenaga kerja (procurement) merupakan upaya untuk memperoleh
jumlah dan jenis tenaga kerja yang tepat untuk memenuhi kebutuhan organisasi dalam
upaya mencapai tujuan yang telah ditentukan. Kegiatan pengadaan tenaga kerja
meliputi penarikan, seleksi, dan penempatan.
Penarikan (recruitment) adalah upaya mencari calon karyawan yang memenuhi
syarat tertentu sehingga di perusahaan dapat memilih orang-orang yang paling tepat
untuk mengisi lowongan yang ada. Penarikan pegawai dapat dilakukan melalui
referensi (kenalan), iklan, bursa tenaga kerja, open house, dari lembaga pendidikan
tinggi, pusat-pusat pelatihan, atau dengan cara lainnya. Agar dapat terjaring tenaga
kerja yang sesuai dengan keinginan, dalam informasi perlu dijelaskan persyaratannya,
misalnya umur, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman kerja, atau syarat lainnya.
Setelah dilakukan kegiatan penarikan, selanjutnya perlu dilakukan seleksi. Seleksi
adalah suatu proses untuk memilih atau mendapatkan tenaga kerja yang memenuhi
syarat sesuai dengan ketentuan organisasi. Proses seleksi yang dilakukan dimulai dari
seleksi surat lamaran, tes umum, wawancara, psikotes, sampai dengan tes kesehatan.
Seorang pelamar dapat lolos sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan
perusahaan.
Penempatan (placement) berkaitan dengan pencocokan seseorang dengan jabatan
yang akan dijabatnya berdasarkan kebutuhan jabatan.
4) Pelatihan dan Pengembangan
Bagi pelamar yang lulus seleksi, tetapi belum memiliki pengalaman kerja,
sebelum ditempatkan perlu terlebih dahulu diberikan pelatihan untuk membiasakan
mereka bekerja dalam lingkungan perusahaan. Selanjutnya, pihak manajemen perlu
melaksanakan fungsi pengembangan terhadap karyawan yang sudah bekerja
sebelumnya (lama) melalui pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan karyawan sehingga mampu memenuhi tuntunan
organisasi dalam menghadapi persaingan dan perubahan.
5) Kebijakan Kompensasi
Kompensasi merupakan semua imbalan yang diterima karyawan sebagai balas
jasa untuk kerja mereka, seperti upah atau gaji, tunjangan perumahan, kesehatan, hari
tua, insentif, dan premi.
6) Perencanaan Karier
Perencanaan karier adalah perjalanan kerja seseorang selama berada di
perusahaan. Karyawan dapat merencanakan kariernya sejak mulai bekerja sampai
berhenti bekerja. Selain perencanaan karier, perusahaan juga harus melakukan
evaluasi kinerja terhadap seluruh karyawan. Penilaian kinerja merupakan proses
mengevaluasi dan menilai prestasi kerja karyawan sehingga dapat memberikan
umpan balik kepada karyawan dan organisasi tentang pelaksanaan kerja mereka dan
dapat dijadikan sebagai dasar untuk program perbaikan prestasi kerja, penyesuaian
kompensasi, promosi, dan pengembangan karier.
7) Kebijakan Kesejahteraan
Perusahaan juga perlu memikirkan keselamatan dan kesehatan kerja menunjuk
pada kondisi fisik dan mental karyawan akibat lingkungan kerja. Pihak manajemen
harus terus berupaya memelihara karyawannya dengan berbagai upaya nyata agar
mereka tetap betah dan merasa dihargai dalam organisasi., diantaranya dengan
melakukan pembinaan bagi karyawan yang tidak disiplin melalui saluran komunikasi
yang efektif.
8) Pemutusan Hubungan Kerja
Pemutusan hubungan kerja merupakan kebijakan perusahaan untuk
memberhentikan seorang karyawan. Pemutusan hubungan kerja bisa disebabkan oleh
berbagai alasan atau sebab antara lain : memasuki masa pensiun, permintaan
pengunduran diri, pemecatan karena melakukan kesalahan, pensiun dini, atau
disebabkan karena meninggal dunia.

2.2.1 Tujuan Pengelolaan MSDM Dalam UMKM


Manajemen Sumber Daya Manusia diperlukan untuk meningkatkan efektivitas
sumber daya manusia dalam organisasi. Tujuannya adalah memberikan
kepada organisasi satuan kerja yang efektif. Untuk mencapai tujuan ini, studi tentang
manajemen personalia akan menunjukkan bagaimana seharusnya perusahaan
mendapatkan, mengembangkan, menggunakan, mengevaluasi, dan memelihara
karyawan dalam jumlah (kuantitas) dan tipe (kualitas) yang tepat.
Tujuan-tujuan MSDM terdiri dari empat tujuan, yaitu :
1. Tujuan Oranisassional
Ditujukan untuk dapat mengenali keberadaan manajemen sumber daya
manusia (MSDM) dalam memberikan kontribusi pada pencapaian efektivitas
organisasi. Walaupun secara formal suatu departemen sumber daya manusia
diciptakan untuk dapat membantu para manajer, namun demikian para
manajer tetap bertanggung jawab terhadap kinerja karyawan. Departemen
sumber daya manusia membantu para manajer dalam menangani hal-hal yang
berhubungan dengan sumber daya manusia.
2. Tujuan Fungsional
Ditujukan untuk mempertahankan kontribusi departemen pada tingkat yang
sesuai dengan kebutuhan organisasi. Sumber daya manusia menjadi tidak
berharga jika manajemen sumber daya manusia memiliki kriteria yang lebih
rendah dari tingkat kebutuhan organisasi.
3. Tujuan Sosial
Ditujukan untuk secara etis dan sosial merespon terhadap kebutuhan-
kebutuhan dan tantangan-tantangan masyarakat melalui tindakan meminimasi
dampak negatif terhadap organisasi.
4. Tujuan Personal
Ditujukan untuk membantu karyawan dalam pencapaian tujuannya, minimal
tujuan-tujuan yang dapat mempertinggi kontribusi individual terhadap
organisasi. Tujuan personal karyawan harus dipertimbangkan jika para
karyawan harus dipertahankan, dipensiunkan, atau dimotivasi. Jika tujuan
personal tidak dipertimbangkan, kinerja dan kepuasan karyawan dapat
menurun dan karyawan dapat meninggalkan organisasi.

2.4 Sumber Daya Manusia Dalam Pandangan Islam


2.3.1 Pendahuluan

Kata insan dan manusia sebenarnya memiliki arti yang sama. Jika dalam
tulisan ini digunakan kata Sumber Daya Insani dan bukan Sumber Daya Manusia,
hal ini untuk mengingatkan bahwa dalam islam dikenal adanaya konsep Insan
Kamil, atau manusia seutuhnya. Iqbal, seorang filosof muslim berpendapat bahwa
insan kamil adalah mukmin yang dalam dirinya terdapat kekuatan wawasan,
perbuatan, dan kebijaksanaan. Sifat-sifat mulia ini tergambar dengan jelas pada
pribadi Nabi SAW.

Amanah yang dipegang seorang manajer SDI selain meningkatkan


produktifitas karyawan untuk mencapai laba perusahaan yang maksimal juga
mengantarkan karyawan melalui pekerjaanya menuju makom insan kamil yang
diridhoi Allah SWT.

Sebagaimana kita ketahui bahwa rujukan kita umat islam adalah al-
Quran, baru kemudian hadits dan setelah itu ijtihad ulama. Oleh karena itu,
pengelolaan SDI pun harus mengacu pada sumber-sumber ini. Pada saat nabi
Muhammad membawa ajaran islam tahun 570 M pastinya revolusi industri belum
terjadi sehingga usaha-usaha berskala besar belum ada. Sehingga negara dikenal
sebagai organisasi terbesar saat itu. Sedangkan saat ini organisasi besar adalah
perusahaan multinasional yang tidak jarang memiliki asset melebihi PDB (produk
Dometik bruto) suatu Negara. Jarak waktu yang memisahkan kita dengan
rosulullah SAW, ditambah dengan kondisi dan situasi yang telah jauh berbeda,
menuntut kepiawaian tersendiri dalam menerjemahkan manajemen SDI saat ini.

Manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah dibekali dengan


kehendak bebas, rasionalitas, dan kesadaran moral. Semua ini dikombinasikan
dengan kesadaran ke-Tuhanan yang inheren sehingga manusia dituntut untuk
hidup dalam kepatuhan dan ibadah kepadanya. Semua sumber daya yang ada
ditangan manusia tidak lain adalah suatu amanah, oleh karena itu sebagai kholifah
(wakil Allah), manusia akan dituntut suatu pertanggung jawaban amanah di
akhirat kelak. Bagi mereka yang berbuat baik maka mereka akan memetik
kebaikan pula.

QS. Az Zilzaal (9)7-8 menyebutkan. Barangsiapa mengerjakan


kebaikan, meskipun seberat zarrah, akan dilihatnya balasan kebaikan itu.
Barangsiapa mengerjakan kejahatan, meskipun seberat zarrah, akan dilihatnya
balasan kejahatan itu. Artinya, jika kita bekerja dengan baik sesuai dengan
tuntunan-Nya akan mendapatkan ganjaran; sebaliknya jika bekerja dengan tidak
baik kita juga akan menerima ganjarannya. Hal ini berlaku pula dalam tugas
mengelola sumber daya insani yang dimiliki organisasi, oleh karena itu menjadi
kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahui bagaimana manajemen yang baik
dan sesuai dengan tuntunan syariaah.

2.3.2 Bekerja Sebagai Kewajiban

Bagi islam bekerja adalah sebuah kewajiban, setiap muslim yang mampu
bekerja harus bekerja karena hal itu adalah juga tanggung jawab moral terhadap
masyarakat dan dirinya sendiri. Kuatnya dorongan bekerja ini sehingga bagi
mereka yang melakukan suatu pekerjaan, pahalanya sama seperti orang yang
melakukan ibadah (At-Tmimi, 1992). Casio salah seorang tokoh konvensional
berpendapat, pekerjaan adalah hal yang amat penting bagi individu karena
pekerjaan menentukan standar kehidupan, tempat tinggal, status bahkan harga
diri. Sedangkan bagi organisasi pekerjaan penting artinya karena merupakan
kendaraan yang diapakai organisasi untuk mencapai tujuannya (Casio, 2003).

Dikalangan medis, ditemukan bahwa bagi orang lanjut usia bekerja sesuai
dengan kemampuan fisiknya akan memperlambat ketuaan, menyehatkan dan
menghindari kepikunan. Tidak jarang kita menemukan ulama yang alim dan
sholeh tetap mengajar murid-muridnya, mereka tidak menderita Alzheimer
(pikun).
Rosulullah SAW pernah berkata ketika ditanya mengenai usaha yang baik,
yaitu: Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap transaksi jual-beli
yang dibenarkan. Allah sesungguhnya menyukai orang-orang beriman yang
professional. Orang yang menderita karena membiayai keluarganya tak ubahnya
seperti pejuang di jalan Allah. (HR Ali bin Abi Tholib). Selain itu beliau juga
pernah berkata, seandainya seorang mencari kayu bakar (bekerja) dan
dipikulkan di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada meminta-minta pada
seorang yang kadang diberi, kadang ditolak. (HR Bukhori dan Muslim).

Dengan berkembangnya dunia, bekerja saat ini tidak lagi sekedar


mengambil kayu ke hutan atau mengambil jala untuk menangkap ikan atau
menggembala kambing; tetapi telah melibatkan banyak pihak dan melibatkan
banyak tenaga kerja dengan lokasi lintas kota, lintas daerah bahkan lintas Negara.
Keberadaan banyak orang dalam kesamaan tujuan organisasi (perusahaan)
memerlukan koordinasi yang baik, oleh karena itu berkembanglah apa yang
dikenal dengan manajemen sumber daya insani.

Dalam perusahaan, karyawan bekerja menggantungkan kehidupannya


sekelurga pada perusahaan tempat ia bekerja. Oleh karena itu, pimpinan dan
jajaran manajemen pada hakikatnya memegang amanah untuk membawa
kehidupan mereka ini menjadi lebih sejahtera lahir batin. Siapakah dalam
organisasi perusahaan yang memegah amanah ini? Ternyata tanggung jawab
terhadap amanah aktifitas Sumber Daya Insani ini terletak dibahu setiap manajer
(Werther & Davis, 1997: 12).

Allah SWT memang ada dimana-mana, maka dengan menyadari


keberdaan-Nya ini, tidak peduli dimana kita bekerja, di kantor, di warung, di
sekolah, di rumah dan di tidak peduli sebagai apa kita bekerja, kuli bangunan,
mandor, pekerja pabrik, juru tulis, guru, pejabat Negara, wakil rakyat sampai pada
presiden sekalipun adalah kunci keberhasilan. Siapapun yang sadar akan
keberadaan-Nya akan bekerja secara professional karena mengetahui dirinya
dilihat oleh yang Maha Agung. Tidak penyelewengan akan dihindari dan secara
alami good governance akan tegak dengan sendirinya.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya mengatur. Pengaturan


dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dan fungsi-fungsi manajemen itu.
Jadi, manajemen itu merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang
diingingkan.

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan elemen utama


organisasi dibandingkan dengan elemen lain seperti modal, teknologi,
dan uang, sebab manusia itu sendiri yang mengendalikan yang lain.
Manusia memilih teknologi, manusia yang mencari modal, manusia
yang menggunakan dan memeliharanya, di samping manusia dapat
menjadi salah satu sumber keunggulan bersaing dan sumber
keunggulan bersaing yang langgeng. Dengan kata lain, sumber daya
manusia adalah setiap individu yang bekerja di perusahaan yang
dikelola untuk mencapai tujuan organisasi.
Organisasi adalah struktur tata pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja
antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerja sama secara tertentu untuk
bersama-sama mencapai suatu tujuan tertentu.

Kesimpulan di atas adalah bahwa pengorganisasian (organizing) adalah fungsi


manajemen, sifatnya dinamis dan merupakan proses untuk memperoleh organisasi
(organization) yang menjadi alat atau wadah manajer dalam melakukan aktivitas-
aktivitasnya dalam mencapai tujuan.

Proses pengelolaan Msdm meliputi : Analisis Jabatan, Perencanaan SDM,


Pengadaan Karyawan, Pelatihan dan Pengembangan, Kebijakan Kompensasi,
Perencanaan Karier, Kebijakan Kesejahteraan, dan Pemutusan Hubungan Kerja.

Manajemen Sumber Daya Manusia diperlukan untuk meningkatkan efektivitas


sumber daya manusia dalam organisasi. Tujuannya adalah memberikan
kepada organisasi satuan kerja yang efektif. Untuk mencapai tujuan ini, studi tentang
manajemen personalia akan menunjukkan bagaimana seharusnya perusahaan
mendapatkan, mengembangkan, menggunakan, mengevaluasi, dan memelihara
karyawan dalam jumlah (kuantitas) dan tipe (kualitas) yang tepat.
3.2 Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna,
kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan
tentang makalah di atas dengan sumber sumber yang lebih banyak
yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan. Untuk itu, penulis
membuka diri terhadap kritik maupun saran yang sifatnya
membangun.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Muhyi, Hermawan, dkk. 2016. HR Plan & Strategy : Strategi Jitu
Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta : Raih Asa Sukses
Efendi Hariandja, Marihot Tua. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia :
Pengadaan, Pengembangan, Pengkompensasian, dan Peningkatan
Produktivitas Pegawai. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia
Hasibuan, Malayu S.P. 2011. Manajemen : Dasar, Pengertian, dan Masalah. Jakarta : Bumi
Aksara
Al-Quran dan Hadits

Jusmaliani. 2011. Pengelolaan Sumber Daya Insani, Jakarta. Bumi Aksara.

Jusmaliani, 2005, merubah asumsi Homo Economicus menjadi Homo Islamicus,


makalah pada muktamar I, Ikatan Ahli Ekonomi Islam, Medan Novembe
Anggawirya, Erhans.2000. Akuntansi 1. Jakarta: Ercontara Rajawali.
Harahap, Sofyan Syafri.1993 Teori Akuntansi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Hartanto, D.1981. Akuntansi untuk Usahawan. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia.
Http://id.wikipedia.org/wiki/Laporan_keuangan.
Ikatan Akuntan Indonesia.1984. Prinsip Akuntansi Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Jauhari, Heri.2007. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Pustaka Setia
R, Soemarso S.2009. Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Salemba Empat.
Supriyono, RA.1985. Teori Akuntansi. Yogyakarta: BPFE.
Brigham, Eugene.F Gepenski, Louis C. 2008. Financial Manajemen Theory and
Practice
Ross Westerfield Jeff. 2010. Corporate Finance 9th Edition. Irwin, McGraw-Hill
Sudana, I Made. 2009. Manajemen Keuangan teori dan praktik .Cetakan 1. Surabaya :
Airlangga.
Husnan Suad dan Enny Pudjiastuti. 2012. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Edisi 6.
Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Sartono,R. Agus. 2008. Manajemen Keuangan teori dan aplikasi. Cetakan 2.
Yogyakarta:BPFE-Yogyakarta.