Anda di halaman 1dari 34

BAB II

DASAR TEORI

2.1 Boiler
Boiler adalah bejana tertutup yang merubah energi kimia dari pembakaran
bahan bakar menjadi energi termal, kemudian energi termal tersebut dialirkan ke
fluida kerja di dalamnya yang biasanya berupa air sehingga fluida tersebut akan
berubah fasa dari cair ke uap. Dalam hal ini menggunakan fluida air yang biasanya
digunakan pada proses yang bertemperatur tinggi dan juga perubahan parsial menjadi
energi mekanik di dalam turbin uap. Seperti halnya pada boiler di Pusat Penelitian
dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan
Konservasi Energi (P3TKEBTKE) Dept. ESDM RI juga menggunakan fluida kerja
berupa air umpan.

Gambar 2.1 Boiler 315 MW Corner burner for mill pulverizercoal

Sumber : PLTU Banten 3Lontar

6
Boiler adalah alat untuk menghasilkan uap/steam. Steam pada suhu dan tekanan
tertentu kemudian digunakan untuk mentransfer energi ke suatu proses. Steam adalah
media yang efektif dan murah untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Jika air
dididihkan sampai menjadi steam, volumenya akan meningkat 1600 kali,
menghasilkan tenaga yang menyerupai bubuk mesiu yang mudah meledak, sehingga
boiler merupakan peralatan yang harus dikelola dan dijaga dengan sangat baik
karena ada resiko terjadinya tekanan berlebih. Dalam siklus PLTU, posisi boiler
diperlihatkan dalam gambar gambar 2.1.
(Dongfang Electric, Boiler Operation Manual)

2.2 Sejarah Boiler


2.2.1 Hero (1410-1470)
Catatan paling awal dari sejarah teknologi mesin uap dapat kita lihat ke
kota Alexandria pada tahun 75. Disana terdapat seorang ahli matematika
bernama Hero, yang juga dikenal denga nama Heros atau Heron yang
menulis tiga buku tentang mekanik dan sifat-sifat udara serta
memperkenalkan rancangan dari mesin uap sederhana. Mesin ini dikenal
dengan nama Aeolipile atau Aeolypile, atau juga disebut dengan Eolipile.

Gambar 2.2 Mesin Uap Aeolipile

7
Prinsip kerja mesin ini adalah dengan menggunakan tekanan uap untuk
memutarkan bola (bejana) yang berisi air sebagai bahan baku penghasil uap.
Bola (bejana) tersebut dapat berputar karena adanya dorongan dari uap yang
keluar dari nosel yang terletak pada sisi samping bejana.Metode Hero yang
mengubah tenaga uap menjadi gerak ini merupakan dasar bagi para
penerusnya untuk mengembangkan teknologi mesin uap di masa yang akan
datang.

2.2.2 Giovanni Battista della Porta (1538 1615)

Giovanni Battista della Porta atau Gambattista della Porta atau juga
dikenal dengan nama John Baptist Porta adalah seorang sarjana, Polymath,
dan dramawan yang berasal dari Napoli, Italia. Dia adalah ilmuan yang
pertama kali menemukan peranan uap dalam menciptakan ruang hampa.

Teori yang dikemukakannya adalah bahwa jika air dikonversikan


menjadi uap dalam wadah tertutup dapat menghasilkan peningkatan tekanan.
Demikian pula sebaliknya, jika uap dikondensasikan menjadi air dalam
ruangan tertutup maka akan menghasilkan penurunan tekanan. Teori inilah
yang nantinya akan menjadi konsep utama rancangan pada pengembangan
mesin uap yang dilakukan oleh para penerusnya.

2.2.3 Denis Papin (1647 1712)

Pada tahun 1679 seorang fisikawan, ahli matematika, dan penemu


berkebangsaan Prancis menemukan suatu alat yang dinamakan steam
digester yang menjadi cikal bakal ditemukannya mesin uap dan presser
cooker (panci masak bertekanan). Penemuan tersebut ia kerjakan bersama
sama dengan rekannya yang bernama Robert Boyle, seorang filusuf,
fisikawan, kimiawan, penemu, dan ilmuan berkebangsaan Irlandia.

8
Gambar 2.3 Mesin Uap teori Geovanni dan Denis Papin

Keterangan :
A = Tungku pembakaran
B = Bejana
C = Tutup bejana
D = Baut pengencang
E = Katup
F = Penyanggah tutup bejana
G = Batang beban
H = Penutup tungku
W = Beban

Alat ini berbentuk seperti sebuah wadah dengan penutup yang


digunakan untuk menghasilkan uap bertekanan.Untuk menjaga agar alat
tersebut tidak meledak, Papin melengkapi penemuannya tersebut dengan
katup yang dapat bergerak naik turun sebagai tempat pembuangan uap untuk
mengatur tekanan didalam wadahnya. Selain itu Papin juga mengembangkan
mesinnya dengan menambahkan torak di bagian atas silinder yang tertutup
9
yang akan bergerak naik dan turun sesuai dengan teori yang ditemukan oleh
Giovanni Battista della Porta.Konsep inilah yang kemudian mengawali
ditemukannya mesin uap pertama di dunia yang menggunakan piston dan
silinder mesin.

2.2.4 Thomas Savery (1650 1715)

Thomas Savery adalah seorang insinyur yang bekerja pada militer


Inggris dan penemu berkebangsaan Inggris. Pada tahun 1698 ia menemukan
mesin uap pertama di dunia. Penemuannya ini diawali ketika ia bekerja pada
sebuah tambang batubara yang mengalami kesulitan dalam memompa air
yang digunakan untuk mengairi tambang.

Gambar 2.4 Mesin Uap Thomas Savery

Prinsip kerja mesin ini adalah dengan menaikkan tekanan uap di dalam
ketel.Uap tersebut kemudian dimasukkan ke bejana kerja, sehingga
memungkinkan untuk meniup air keluar melalui pipa bawah.Ketika
temperatur dalam bejana menjadi panas karena dipenuhi uap keran antara
ketel dan bejana ditutup, jika perlu bagian luar bejana didinginkan.Hal ini

10
mengakibatkan uap didalamnya berkondensasi, menciptakan vakum parsial
dan tekanan atmosfer mendorong air ke atas melalui pipa bawah hingga
bejana penuh. Pada titik ini keran di bawah bejana ditutup, dan keran antara
bejana dan pipa atas dibuka untuk mengalirkan pipa dari ketel. Tekanan uap
yang tinggi akan memaksa air keluar dari bejana.

2.2.5 Thomas Newcomen (1663 1729)

Thomas Newcomen merupakan seorang pandai besi Inggris yang


menemukan mesin uap atmosfer, sebuah perbaikan terhadap desain Thomas
Savery sebelumnya.Mesin uap Newcomen menggunakan kekuatan tekanan
atmosfer untuk bekerja. Pada mesin Newcomen ini intensitas tekanan tidak
dibatasi oleh tekanan uap, tidak seperti apa yang dipatenkan Thomas Savery
pada tahun 1698.

Gambar 2.5 Mesin Uap Thomas Newcomen

Pada tahun 1712, Thomas Newcomen bersama dengan John Calley


membangun mesin pertama diatas sebuah lubang tambang yang terisi air

11
dimana mesin tersebut digunakan untuk memompa air keluar
tambang.Mesin Newcomen ini merupakan pendahulu mesin James Watt dan
salah satu bagian teknologi yang paling menarik yang berkembang selama
abad ke-17.

Gambar tersebut menunjukkan posisi boiler berada tepat dibawah


silinder.Uap pertama kali dialirkan dari boiler menuju ke silinder.Ketika
piston mancapai puncak, air disemprotkan kedalam silinder untuk
mendinginkan uap yang membentuk sebuah vakum. Piston terdorong turun
oleh berat udara yang berada diatasnya (15 pond per inci2 dari luas piston).
Siklus tersebut terjadi secara berulang-ulang.

2.2.6 James Watt (1736 1819)

James Watt adalah seorang insinyur mesin dan penemu asal


Skotlandia.Pada tahun 1769 James Watt mematenkan kondenser terpisah
yang terhubung ke silinder oleh sebuah katup.Tidak seperti mesin uap milik
Newcomen, pada mesin uap milik James Watt ini terdapat sebuah kondensor
untuk mendinginkan silinder yang panas.Mesin James Watt ini segera
menjadi desain untuk semua mesin uap modern dan memicu terjadinya
revolusi industri. Satuan daya Watt diambil dari nama James Watt dimana 1
Watt besarnya setara dengan 1/746 HP.

12
Gambar 2.6 Mesin Uap James Watt

Keterangan :
C = Silinder uap
E = Katup pembuangan uap
H = penyambung poros engkol ke
balok
N = Pompa air
O = poros engkol
Q = Regulator (Govenor)
P = Torak
R = Batang pompa udara
T = Katup input uap
g = link yang menghubungkan
piston dan balok melaui gerakan
paralel gdc
m = tuas aliran masuk uap

13
Perbedaan mendasar dari mesin James Watt ini dengan mesin milik
Thomas Newcomen adalah pada letak kondensor yang digunakan.Jika pada
mesin Newcomen ruang untuk mengkondensasikan uap menyatu dengan
silinder kerja, maka pada mesin James Watt ruang untuk
mengkondensasikan uap terpisah dari silinder.Selain itu mekanisme
penggerak torak dari mesin James Watt menggunakan gerakan putar dari
roda penggerak yang berputar, tidak seperti pada mesin Newcomen yang
menggunakan gerakan translasi (bolak-balik) dari pompa air.

2.2 Boiler PLTU Banten 3 Lontar

Boiler pada PLTU Lontar merupakan boiler dengan tipe natural circulation
subcritical, four-corner tangential circle combustion system, single furnace, primary
intermediate reheating, balanced ventilation, deslagging at solid-state. Struktur
rangka pada boiler ini dilengkapi dengan suspensi pada tiap sisi-sisinya, dan
memiliki sudut elevasi sepanjang 12.6 m. Jumlah air pengisi pada boiler ini diisi
dengan 2 BFPT (boiler feed pump turbin) dan satu MBFP (motor boiler feed pump)
yang memiliki kapasitas tiap BFPT sebanyak 50% beban maksimum sedangkan
MBFP sebanyak 30% beban maksimum .
Untuk sisi steam,boiler ini mempunyai dua hasil uap kering, yaitu superheat
dan reheat, pada superheat berfungsi sebagai pemutar HP turbin sedangkan reheat
sebagai pemutar IP dan LP turbin. Boiler ini memiliki sistem ekstraksi untuk
pemanas awal maupun sebagai pemutar BFPT sebagai pompa air pengisi untuk
menambah efisiensinya.

14
Gambar 2.7 Name Plate Boiler PLTU Lontar

Pada nameplate diatas maka dapat diketahui berapa kapasitas boiler di PLTU
Lontar, untuk itu sistem pembakaran juga memiliki proses. Adapun komponen-
komponen suplai pembakaran boiler di PLTU Lontar sebagai berikut:

a. Coal Feeder
Coal feeder berfungsi untuk mengatur jumlah batubara yang akan
masuk ke dalam pulverizer. Jumlah batubara diatur sesuai dengan
kebutuhan pembakaran pada furnace. Sistem pengaturan jumlah batubara
pada coal feeder dapat dilakukan dengan dua cara berdasarkan jenisnya,
yaitu secara fraksi berat atau secara fraksi volume batubara.

15
Gambar 2.8 Coal Feeder
Pengaturan jumlah batubara berdasarkan fraksi berat, menggunakan
sensor gravimetric yang dapat mendeteksi berat dari batubara yang
melewati konveyornya. Coal feeder jenis ini biasa disebut
dengan Gravimetric Feeder. Sedangkan coal feeder fraksi volume memiliki
luas penampang jalur konveyor yang tetap untuk mengatur jumlah batubara
yang melewati konveyornya. Kedua sistem di atas sama-sama
menggunakan konveyor yang kecepatannya dapat diatur secara fleksibel.

16
Gambar 2.9 Prinsip Kerja Gravimetric Coal Feeder

Gravimatic feeder lebih banyak dipilih untuk digunakan karena


kemampuannya dalam merespon perubahan berat jenis batubara yang
digunakan. Kandungan energi pada batubara cenderung bergantung pada
berat jenis daripada volume batubara, sehingga gravimetric feeder akan
lebih baik dalam mengontrol supply energi yang masuk ke boiler.
Disamping itu gravimetric feedermemerlukan kalibrasi sensor gravimetric-
nya secara berkala agar sistem kontrol supply batubara dapat selalu berjalan
dengan baik.

b. Pulverizer

Batubara hasil tambang memiliki ukuran fisik yang sangat beragam,


dari yang hanya berukuran butiran pasir hingga seperti bongkahan kerikil
berdiameter 20cm. Ukuran batubara yang terlalu besar dapat mengurangi
efisiensi proses pembakaran, karena semakin kecil ukuran partikel batubara
maka akan semakin cepat pula batubara tersebut terbakar. Untuk
mendapatkan ukuran batubara yang cukup kecil maka sebelum masuk
17
ke furnace boiler, batubara akan mengalami proses grinding pada sebuah
alat bernama pulverizer. Silahkan Anda bayangkan bahwa batubara
keluaran pulverizer akan berukuran selembut tepung, yang
dinamakan pulverized fuel.

Gambar 2.10 Pulverizer

Batubara yang diatur jumlahnya oleh coal feeder masuk


ke pulverizer melalui sisi inlet pada bagian atasnya. Batubara jatuh pada
sebuah table yang berputar. Pada bagian lain terdapat beberapa buah
grinding yang dapat berputar bebas karena permukaan grinding tersebut
bersentuhan dengan table yang berputar tadi. Pada grinding terdapat sistem
pegas untuk memudahkan dalam menghancurkan batubara. Udara panas
dengan tekanan dan temperatur yang terjaga dimasukkan ke
dalam pulverizer sebagai media untuk membawa batubara yang telah halus
keluar pulverizer. Pada sisi outlet (bagian atas) terdapat sudu-

18
sudu classifier yang berfungsi untuk memfilter agar hanya batubara yang
telah halus saja yang dapat melewati sudu-sudu tersebut. Batubara yang
tidak dapat melewati classifier akan jatuh kembali ke table untuk
digrinding agar lebih halus.

c. Burner

Burner menjadi alat untuk mencampur batubara dengan


udara dan sebagai nozzle untuk mendorong campuran bahan bakar
tersebut ke dalam furnace boiler. Pulverized fuel yang keluar dari
pulverizer dibawa oleh udara bertekanan menuju ke burner malalui
pipa-pipa, di sisi lain ada pula udara tambahan (biasa
disebut secondary air) yang disupply untuk memenuhi kebutuhan
pembakaran. Secondary air dalam debit tertentu tersebut bertemu
dengan pulverized fuel pada burner. Keduanya bercampur dan
terdorong menuju ke tengah-tengah furnace untuk dibakar. Pada
proses penyalaan boiler diperlukan proses penyalaan awal untuk
campuran bahan bakar tersebut, dan umumnya boiler-boiler besar
menggunakan bahan bakar bantuan seperti solar (HSD) untuk
membantu proses penyalaan awal.

19
Gambar 2.11 Coal Burner

Komponen-komponen dari coal burner umumnya adalah


sebagai berikut:
Oil Gun. Bagian ini berfungsi untuk mensupply bahan
bakar (biasanya HSD) ke dalam boiler sebagai proses penyalaan
awal boiler dan juga proses pematian boiler. Pada oil gun terdapat
dua saluran utama yakni saluran fuel oil dan saluran atomizing
air. Atomizing air berfungsi untuk membentuk kabut bahan bakar
HSD tadi sehingga lebih mudah terbakar. Pada oil gun juga
terdapat ignitor yang berfungsi sebagai pemantik untuk
menyalakan bahan bakar tadi.
Damper udara termasuk di dalam bagian burner.
Damper ini mengatur supply udara pembakaran yang masuk ke
boiler.
Coal Nozzle. Bagian ini sebagai ujung
masuknya pulverized fuel ke dalam furnace boiler.

20
Flame Scanner. Adalah alat sensor api yang berfungsi
untuk membaca apakah terjadi proses pembakaran pada burner.
Pada proses penyalaan awal, boiler akan menggunakan bahan
bakar HSD. Dengan bantuan ignitorsebagai pemantik apinya, HSD
akan terbakar di dalam furnace dengan jarak aman tertentu. Jika
proses pembakaran dengan menggunakan HSD dirasa telah stabil
(biasanya ditandai dengan jumlah tertentu uap air yang dihasilkan
boiler) maka pulverized fuel dapat dimasukkan ke dalam proses
pembakaran dengan tanpa menghentikan supply HSD. Supply
HSD akan dihentikan jika flame scanner telah membaca pulverized
fuel terbakar di ujung burner. Jarak api yang terbentuk pada ujung
burner harus dijaga pada jarak aman tertentu, hal ini berhubungan
dengan keselamatan kerja agar api tidak menjalar ke pipa-pipa
supply pulverized fuel.

d. Fan System

Untuk men-supply udara yang digunakan pada proses pembakaran,


boiler membutuhkan kerja beberapa jenis kipas dengan fungsi masing-
masing. Dan berikut adalah sistem-sistem yang berhubungan dengan supply
udara untuk proses pembakaran pada boiler:
1. Primary Air Fan. Kipas ini berfungsi untuk men-supply udara
bertekanan yang akan digunakan untuk membawa pulverized
fuel dari pulverizer menuju ke boiler. Parameter terkontrol
padaprimary air adalah besar tekanan kerjanya, sehingga kipas yang
digunakan adalah yang bertipe kipas sentrifugal. Kipas sentrifugal
dikenal dapat menghasilkan tekanan udara keluaran yang lebih tinggi
daripada kipas aksial namun dengan debit aliran yang cukup tinggi
pula.

21
Gambar 2.12 Centrifugal Primary Air Fan

Pada sisi inlet primary air fan terdapat sudu-sudu (inlet vane) yang
dapat bergerak ke arah menutup ataupun membuka 100%. Sudu-sudu
ini berfungsi untuk mengatur debit udara yang masuk ke kipas dan
di-supply ke pulverizer.

2. Secondary Air Fan. Kipas inilah yang menjadi penyupply utama


udara ke dalam furnace boiler untuk memenuhi kebutuhan proses
pembakaran. Berbeda dengan primary air yang menitik beratkan
kepada tekanan kerjanya, secondary air lebih diutamakan kontrol
terhadap debit volume-nya. Oleh karena itulah secondary
air umumnya menggunakan kipas dengan tipe aksial yang dapat
menghasilkan volume debit aliran yang tinggi.

22
Gambar 2.13 Axial Secondary Air Fan

Untuk mengatur jumlah udara yang di-supply ke boiler, sudu-sudu


pada secondary air fandapat bergerak-gerak fleksibel membuka dan
menutup. Semakin besar bukaan sudu maka akan semakin banyak
pula udara yang dialirkan oleh kipas ini ke boiler untuk mencukupi
kebutuhan proses pembakaran.

23
2.3 Neraca Panas

Proses pembakaran dalam boiler dapat digambarkan dalam bentuk diagram


alir energi. Diagram ini menggambarkan secara grafis tentang bagaimana energi masuk
dari bahan bakar diubah menjadi aliran energi dengan berbagai kegunaan dan menjadi
aliran kehilangan panas dan energi. Panah tebal menunjukan jumlah energi yang
dikandung dalam aliran masing-masing.

Gambar 2.14 diagram neraca energi boiler

Neraca panas merupakan keseimbangan energi total yang masuk boiler


terhadap yang meninggalkan boiler dalam bentuk yang berbeda. Gambar berikut
memberikan gambaran berbagai kehilangan yang terjadi untuk pembangkitan steam.

24
Kehilangan panas karana gas buang kering

Kehilangan panas karena steam dalam gas buang

BOILER Kehilangan panas karena kandungan air dalam


bahan bakar
Bahan bakar

Kehilangan panas karena bahan yang tidak terbakar


dalam residu

Kehilangan panas karena kandungan air dalam udara

Kehilangan panas karena radiasi dan kehilangan yang tidak


terhitung

Panas dalam steam

Gambar 2.15 Rugi-rugi pada boiler

Kehilangan energi dapat dibagi kedalam kehilangan yang tidak dapat


dihindarkan dan kehilangan yang dapat dihindarkan. Tujuan dari pengkajian energi
adalah agar rugi-rugi/kehilangan dapat dihindari, sehingga dapat meningkatkan efisiensi
energi. Rugi-rugi yang dapat diminimalisasi antara lain:

Kehilangan gas cerobong:


- Udara berlebih (diturunkan hingga ke nilai minimum yang tergantung dari
teknologi burner, operasi (kontrol), dan pemeliharaan).
- Suhu gas cerobong (diturunkan dengan mengoptimalkan perawatan
(pembersihan), beban; burner yang lebih baik dan teknologi boiler).
Kehilangan karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam cerobong dan abu
(mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan; teknologi burner yang lebih baik).
Kehilangan dari blowdown (pengolahan air umpan segar, daur ulang kondensat)
Kehilangan kondensat (manfaatkan sebanyak mungkin kondensat)
Kehilangan konveksi dan radiasi (dikurangi dengan isolasi boiler yang lebih baik)

25
2.4 Nilai Pembakaran Bahan Bakar

Bahan bakar adalah zat kimia yang apabila direaksikan dengan oksigen (02)
akan menghasilkan sejumlah kalor. Bahan bakar dapat berwujud gas, cair, maupun
padat. Selain itu, bahan bakar merupakan suatu senyawa yang tersusun atas beberapa
unsur seperti karbon (C), hidrogen (H), belerang (S), dan nitrogen (N).

Kualitas bahan bakar ditentukan oleh kemampuan bahan bakar untuk


menghasilkan energi. Kemampuan bahan bakar untuk menghasilkan energi ini sangat
ditentukan oleh nilai bahan bakar yang didefinisikan sebagai jumlah energi yang
dihasilkan pada proses pembakaran per satuan massa atau persatuan volume bahan
bakar.

Nilai pembakaran ditentukan oleh komposisi kandungan unsur di dalam bahan


bakar. Dikenal dua jenis pembakaran (ESM, Tambunan, Fajar H Karo 1984:33), yaitu:

1. Nilai Kalor Pembakaran Tinggi


Nilai kalor pembakaran tinggi atau juga dikenal dengan istilah High Heating Value
(HHV) adalah nilai pembakaran dimana panas pengembunan air dari proses
pembakaran ikut diperhitungkan sebagai panas dari proses pembakaran.
Dirumuskan dengan:
HHV = 7986C + 33575(H - O/8) + 2190S(2.1a)

2. Nilai Kalor Pembakaran Rendah


Nilai kalor pembakaran rendah atau juga dikenal dengan istilah Low Heating Value
(LHV) adalah nilai pembakaran dimana panas pengembunan uap air dari hasil
pembakaran tidak ikut dihitung sebagai panas dari proses pembakaran.
Dirumuskan dengan:
LHV = HHV 600(9H + Mm)...(2.1b)
Dimana Mm merupakan kelembaban bahan bakar.

26
2.5 Kebutuhan Udara Pembakaran

Pembakaran adalah proses persenyawaan bagian dari bahan bakar dengan O2


dengan disertai kalor. Pembakaran akan terjadi jika titik nyala telah dicapai oleh
campuran bahan bakar dengan udara.

Di dalam teknik pembakaran diperlukan jumlah udara yang memadai (udara


berlebih) sehingga pembakaran yang terjadi akan sempurna. Untuk mengetahui jumlah
keperluan udara pada proses pembakaran harus diketahui kandungan O2 dalam udara.
Komposisi unsur-unsur yang terkandung dalam udara menurut satuan berat (buku
STEAM its generation and use, Babcok and Willcox, table 4 hal 9-5) adalah:

- 02 sebanyak 23%
- N2 sebanyak 77%

Reaksi pembakaran yang terjadi dapat dinyatakan dalam satu satuan berat
molekul. Maka reaksi pembakaran dari unsur-unsur bahan bakar adalah sebagai berikut:

1. Zat Belerang terbakar menurut:


+ 2 2

Untuk pembakaran belerang diperlukan

322 12

32

Dalam pembakaran belerang dihasilkan SO2 sebanyak:

642 22

32

2. Zat Karbon terbakar menurut:


+ 2 2
12 + 322 442
27
Dalam pembakaran karbon diperlukan:

322 2,662

32

Dalam pembakaran karbon dihasilkan CO2 sebesar:

442 3,662

12

3. Hidrogen terbakar menurut:


2 + 12 2 2
22 + 162 182

Maka:

162 82

22 2

Pembakaran H2 menghasilkan H2O sebanyak:

182 92

22 2

Kebutuhan udara pembakaran didefinisikan sebagai kebutuhan oksigen yang


diperlukan untuk pembakaran 1 kg bahan bakar secara sempurna (ESM. Tambunan,
Fajar H karo 1984:34), yang meliputi:

a. Kebutuhan udara teoritis (Ut):


Ut = 11,5C + 34,5(H O/8) + 4,32 S (kg/kgBB)(2.2a)
b. Kebutuhan udara pembakaran sebenarnya/aktual (Us):
Us = Ut (1+) (kg/kgBB).(2.2b)

28
2.6 Gas Asap

Reaksi pembakaran akan menghasilkan gas baru, udara lebih dari sejumlah
energi. Senyawa-senyawa yang merupakan hasil dari reaksi pembakaran disebut gas
asap. (ESM. Tambunan, Fajar H karo 1984:34)

a. Berat gas asap teoriti (Gt)


Gt = Ut + (1 A)(kg/kgBB)..(2.3a)

Dimana A = kandungan abu dalam bahan bakar (ash)

Gas asap yang terjadi terdiri dari:

- Hasil reaksi atas pembakaran unsur-unsur bahan bakar dengan O2 dari udara
seperti CO2, H2O, SO2
- Unsur N2 dari udara yang tidak ikut bereaksi
- Sisa kelebihan udara

Dari reaksi pembakaran sebelumnya diketahui:

1 kg C menghasilkan 3,66 kg CO2

1 kg S menghasilkan 1,996 kg SO2

1 kg H menghasilkan 8,9836 kg H2O

Maka untuk menghitung berat gas asap pembakaran perlu dihitung dulu masing-
masing komponen gas asap tersebut (Ir. Syamsir A. Muin, Pesawat-pesawat
Konversi Energi 1 (Ketel Uap) 1988:196):

Berat CO2 = 3,66 C kg/kg

Berat SO2 = 2 S kg/kg

Berat H2O = 9 H2 kg/kg

Berat N2 = 77% Us kg/kg

29
Berat O2 = 23% Ut

Dari perhitungan di atas maka akan didapatkan jumlah gas asap:

Berat gas asap (Gs) = W CO2 + W SO2 + W H2O + W N2 + W O2

Atau:

b. Berat gas asap sebenarnya (Gs)


Gs = Us + (1 A) (kg/kg BB)(2.3b)
Untuk menentukan komposisi dari gas asap didapatkan:
Kadar gas = (W gas tersebut / W total gas) x 100%

2.7 Karbon Yang Tidak Terbakar

Dari proses pembakaran selama terbentuk gas-gas asap, juga akan terbentuk
solid refuse (Msr) dimana solid refuse ini terdiri dari abu refuse (Ar), dan karbon refuse
(Cr). (ESM. Tambunan, Fajar H karo 1984:35)

Persamaannya adalah:

mbb + Us = Gs + Msr...(2.4a)

sedangkan dari perhitungan refuse didapatkan persamaan:

Msr . Ar = mbb . A

Atau

.
= 100%....................................................................(2.4b)

Maka karbon yang tidak terbakar dalam terak (Cr) adalah:

Cr = 100% - Ar(2.4c)

Sehingga massa refuse (Mr) yang terjadi tiap jamnya adalah:


30
Mr = Cr.mbb (kg/jam)..(2.4d)

Dimana:

mbb = massa bahan bakar

Us = massa udara pembakaran sebenarnya (kg/kgBB)

Gs = berat gas asap sebenarnya (kg/kgBB)

Msr = massa solid refuse (kg/kgBB)

Ar = prosentase solid refuse dalam abu

A = prosentase abu dalam bahan bakar

2.8 Karbon Aktual Yang Habis Terbakar (Ct)

Panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar dalam dapur ketel
tidaklah seluruhnya digunakan untuk membentuk uap, karena sebagian panas tersebut
ada yang hilang. (ESM. Tambunan, Fajar H karo 1984:35). Panas yang hilang dari
pembakaran bahan bakar dalam dapur ketel merupakan kerugian-kerugian kalor yang
diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Kerugian kalor karena bahan bakar (Q1)


Kerugian ini disebabkan karena adanya kandungan air dalam bahan bakar, dimana
besarnya dapat dirumuskan sebagai berikut:
1 = . ( ).(2.6a)

Dimana:

Q1 = kerugian kalor karena kelembaban bahan bakar (btu/lb BB)

Mm = prosentase kelembaban bahan bakar

hg = entalpi uap super panas pada temperatur gas buang (btu/lb)


31
hf = entalpi pada temperatur udara ruang (btu/lb)

b. Kerugian kalor karena hidrogen (H) yang terdapat dalam bahan bakar (Q2)
Kerugian ini disebabkan karena kandungan unsur hidrogen (H) dalam bahan bakar,
yang bila terbakar akan bereaksi dengan oksigen dari udara dan berbentuk uap air
(H2O).
Besarnya kerugian ini dirumuskan dengan:
2 = 9 ( ).(2.6b)
Dimana Hy = prosentase hidrogen dalam bahan bakar.

c. Kerugian kalor untuk menguapkan air yang terdapat dalam udara pembakaran (Q3)
Karena udara yang masuk ke dalam ruangan pembakaran tidak kering dan masih
mengandung air, maka terdapat panas yang hilang untuk menguapkan air yang
terkandung dalam udara tersebut.
Besarnya kerugian kalor ini dapat dirumuskan dengan:
3 = . . 0,6( )(2.6c)
Dimana:
Us = berat udara pembakaran sebenarnya (lb/lb BB)
Mv = prosentase penguapan udara masuk dapur dikalikan dengan nilai
kelembaban udara pada temperatur ruang.
tg = temperatur gas buang (0F)
ta = temperatur ruang (0F)

d. Kerugian kalor karena pembakaran yang tidak sempurna (Q4)


Gas CO yang terdapat dalam gas asap menunjukkan bahwa sebagian bahan bakar
ada yang terbakar tidak sempurna. Hal ini terjadi karena kekurangan udara atau
distribusi udara yang kurang baik.
Kerugian kalor akibat pembakaran yang tidak sempurna ini dirumuskan dengan:

32

4 = 101601(2.6d)
2 +

Dimana:
CO = prosentase gas CO dalam asap
CO2 = prosentase gas CO2 dalam asap
C1 = karbon actual yang habis terbakar (lb/lb BB)

e. Kerugian kalor karena terdapat unsur karbon yang tidak ikut terbakar dalam sisa
pembakaran (Q5)
Kerugian ini dapat dirumuskan dengan:
14540
5 = .............(2.6e)

Dimana:
Mr = massa refuse (lb/jam)
Cr = prosentase karbon yang tidak terbakar dalam refuse
Mbb = laju aliran massa bahan bakar (lb/jam)

f. Kerugian cerobong (Q6)


Kerugian cerobong ini disebabkan oleh gas asap yang meninggalkan cerobong
masih mengandung energi tinggi.
Kerugian cerobong dirumuskan dengan:
6 = . ( )....(2.6f)
Dimana:
Gs = berat gas asap sebenarnya (kg/kg)
tg = temperatur gas buang (0K)
ta = temperatur udara ruang (0K)
Cp = panas jenis rata-rata dari gas asap (kJ/kg0K)

g. Kerugian kalor karena radiasi dan lain-lain (Q7)


Terjadi akibat penghantaran dan pemancaran panas dari peralatan ketel, misalnya
pada badan ketel dan lain-lain.
33
Besarnya kerugian ini dirumuskan dengan:
7 = 4%. .(2.6g)
Apabila rugi-rugi kalor tersebut di atas dinyatakan dalam prosentase, maka
persamaannya adalah sebagai berikut:

=

100%................................................................................(2.6h)

Dimana Qn merupakan rugi-rugi kalor dari Q1 sampai Q7

2.9 Rumus Perhitungan Efisiensi Ketel Uap

Dengan diketahuinya kerugian-kerugian kalor dari hasil pembakaran pada


suatu ketel, maka dapat dihitung efisiensi dari ketel tersebut, yang besarnya
dirumuskan:

(2 )
= 100%

= 100% (1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 )..(2.7)

(w. Culp, Archie. Jr.1989:211)

4.8 Rumus Perhitungan Kapasitas Produksi Ketel Uap (Mu)

Dirumuskan dengan:

= . . .(2.8)

Dimana:

Qair = debit air (m3/jam)

air = massa jenis air (kg/m3)

34
F = faktor koreksi terhadap kotoran dan endapan

2.10 Perhitungan Efisiensi Berdasarkan Neraca Kalor

Dikenal juga sebagai metode input-output karena kenyataan bahwa metode


ini hanya memerlukan keluaran/output (steam) dan panas masuk/input (bahan bakar)
untuk evaluasi efisiensi.

Efisiensi ini dapat dievaluasi dengan menggunakan rumus:



Efisiensi Boiler () = x 100%.......................................(2.9a)
( )
Efisiensi Boiler () = x 100%............................................(2.9b)

Parameter yang dipantau untuk perhitungan efisiensi boiler dengan metode


langsung adalah:

- Jumlah steam yang dihasilkan per jam (Q) dalam kg/jam


- Jumlah bahan bakar yang digunakan per jam (q) dalam kg/jam
- Tekanan kerja (dalam kg/cm2(g)) dan suhu lewat panas (0C), jika ada
- Suhu air umpan (0C)
Dimana:
- hg = Entalpi steam jenuh dalam kkal/kg steam
- hf = Entalpi air umpan dalam kkal/kg air
-
2.11 Rumus Perhitungan Efisiensi Boiler Menurut ASME

Standar acuan untuk Uji Boiler di Tempat dengan menggunakan metode tidak
langsung adalah British Standard, BS 845:1987 dan USA Standard ASME PTC-4-1
Power Test Code Steam Generating Units.

Metode tidak langsung juga dikenal dengan metode kehilangan panas.


Efisiensi dapat dihitung dengan mengurangkan bagian kehilangan panas dari 100
sebagai berikut:
35
Efisiensi boiler (n) = 100 - (i + ii + iii + iv + v + vi + vii)

Dimana kehilangan yang terjadi dalam boiler adalah kehilangan panas yang
diakibatkan oleh:

i = Gas cerobong yang kering

ii = Penguapan air yang terbentuk karena H2 dalam bahan bakar

iii = Penguapan kadar air dalam bahan bakar

iv = Adanya kadar air dalam udara pembakaran

v = Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu terbang/ fly ash

vi = Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu bawah/ bottom ash

vii = Radiasi dan kehilangan lain yang tidak terhitung

Kehilangan yang diakibatkan oleh kadar air dalam bahan bakar dan yang
disebabkan oleh pembakaran hidrogen tergantung pada bahan bakar, dan tidak dapat
dikendalikan oleh perancangan.

Data yang diperlukan untuk perhitungan efisiensi boiler dengan menggunakan


metode tidak langsung adalah:

- Analisis ultimate bahan bakar (H2, O2, S, C, kadar air, kadar abu)
- Persentase oksigen atau CO2 dalam gas buang
- Suhu gas buang dalam 0C (Tf)
- Suhu ambien dalam 0C (Ta) dan kelembaban udara dalam kg/kg udara kering
- Nilai kalor bahan bakar dalam kkal/kg
- Persentase bahan yang dapat terbakar dalam abu (untuk bahan bakar padat)
Prosedur rinci untuk perhitungan efisiensi boiler menggunakan metode tidak
langsung diberikan dibawah. Biasanya, manager energi di industri lebih menyukai
prosedur perhitungan yang lebih sederhana.

36
Tahap 1: Menghitung kebutuhan udara teoritis

= [(11,43 x C) + {34,5 x (H2 O2/8)} + (4,32 x S)]/100 kg/kg bahan bakar

Tahap 2: Menghitung persen kelebihan udara yang dipasok (EA)

persen O2 100
=
(21 persen O2 )

Tahap 3: Menghitung massa udara sebenarnya yang dipasok/ kg bahan bakar


(AAS)

= {1 + EA/100} x udara teoritis

Tahap 4: Memperkirakan seluruh kehilangan panas

Persentase kehilangan panas yang diakibatkan oeh gas buang yang kering

( ) 100
=

Dimana, m = massa gas buang kering dalam kg/kg bahan bakar

m = (massa hasil pembakaran kering / kg bahan bakar) + (massa N2 dalam bahan


bakar pada basis 1 kg) + (massa N2 dalam massa udara pasokan yang sebenarnya).

Cp = Panas jenis gas buang (kkal/kg )

Persen kehilangan panas karena penguapan air yang terbentuk karena adanya H2
dalam bahan bakar

9 2 {584 + ( )} 100
=

Dimana,H2 = persen H2 dalam 1 kg bahan bakar


37
Cp = panas jenis steam lewat jenuh/superheated steam (0,45 kkal/kg)

Persen kehilangan panas karena penguapan kadar air dalam bahan bakar

M{584 + Cp(Tf Ta) 100


=

Dimana, M persen kadar air dalam 1 kg bahan bakar

Cp = panas jenis steam lewat jenuh/superheated steam (kkal/kg)

Persen kehilangan panas karena kadar air dalam udara

AAS faktor kelembabanxCp(Tf Ta)} 100


=

Dimana, Cp = panas jenis steam lewat jenuh/superheated steam (0,45 kkal/kg)

Persen kehilangan panas karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu
terbang/ fly ash

Total abu per kg bahan bakar yang terbakar GCV abu terbang 100
=

Persen kehilangan panas karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu
bawah/ bottom ash

Total abu terkumpul per kg bahan bakar yang terbakar GCV abu bawah
=

persen kehilangan panas karena radiasi dan kehilangan lain yang tidak terhitung

Kehilangan radiasi dan konveksi aktual sulit dikaji sebab daya emisifitas
permukaan yang beraneka ragam, kemiringan, pola aliran udara, dll. Pada boiler yang
relatif kecil, dengan kapasitas 10 MW, kehilangan radiasi dan yang tidak terhitung
dapat mencapai 1 hingga 2 persen nilai kalor kotor bahan bakar, sementara pada boiler
500 MW nilainya 0,2 hingga 1 persen. Kehilangan dapat diasumsikan secara tepat
tergantung pada kondisi permukaan.
38
Tahap 5: Menghitung efisiensi boiler dan rasio penguapan boiler

Efisiensi boiler (n) = 100 - (i + ii + iii + iv + v + vi + vii)

Rasio Penguapan = Panas yang digunakan untuk pembangkitan steam/ panas yang
ditambahkan ke steam

Rasio penguapan yaitu kilogram steam yang dihasilkan per kilogram bahan bakar
yang digunakan. Contohnya adalah:

Boiler berbahan bakar batubara: 6 (yaitu 1 kg batubara dapat menghasilkan 6 kg


steam)
Boiler berbahan bakar minyak: 13 (yaitu 1 kg batubara dapat menghasilkan 13 kg
steam)
Walau demikian, rasio penguapan akan tergantung pada jenis boiler, nilai kalor
bahan bakar dan efisiensi.

39