Anda di halaman 1dari 9

ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI

(Laporan Praktikum Dasar-Dasar Kimia Analitik)

Oleh

Elis

1513023037

LABORATORIUM PEMBELAJARAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG

2017

Judul Percobaan : Asidimetri Dan Alkalimetri


Tanggal Percobaan : 20 April 2017

Tempat Percobaan : Laboratorium Pembelajaran Kimia

Nama : Elis

NPM : 1513023037

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Jurusan : Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Program Studi : Pendidikan Kimia

Kelompok : 1 (satu)

Bandarlampung,20 April 2017


Mengetahui,
Asisten

Maisaroh

NPM. 1413023034

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, sering sekali kita temui istilah mengenai titrasi.
Salah satunya ialah tirasi asidimetri-alkalimetri. Aplikasi metode ini salah satunya
yaitu digunakan untuk membuat senyawa obat. Titrasi yang menyangkut asam
danbasa secara luas digunakan dalam pengendalian analitik dari banyak barang
dagangan dan dioksidasi asam dan basa menggunakan pengaruhnya yang penting
terhadap proses metabolik di dalam sel hidup.

Dalam menilaisuatu reaksi yang harus dipakai sebagai dasar titrasi, salah satu segi
terpenting sampai sejauh reaksi berlangsung menuju ke kelengkapan dekat pada
titik ekuivalen. Perhitungan stoikiometri tidak memperhitungkan letak
kesetimbangan ke arah mana suatu reaksi kimia berkecenderungan. Dalam
stoikiometri menghitung pendapatn meksimal dari hasil-hasil reaktan dengan
perumpamaan yang disarankan secar tertutup bahwa reaksi berlangsung sampai
lengkap. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai titrasi asidimetri dan alkalimetri
maka dilakukanlah percobaan ini.

I.2 Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini adalah sebagai berikut.


1. Memahami prinsip dasar titrasi asam basa dalam analisis volumetri
2. Membuat larutan standar asam klorida (HCl)

II. TINJAUAN PUSTAKA


Analisis kimia yang diketahui terhadap sampel yaitu analisis kualitatif dan analisis
kuantitatif. Analisis kuantitatif yang paling sering diterapkan yaitu analisis
titrimetri. Analisis titrimetri dilakukan dengan menitrasi suatu sampel tertentu
dengan larutan standar, yaitu larutan yang sudah diketahui konsentrasinya.
Perhitungan didasarkan pada volume titran yang diperlukan hingga tercapai titik
ekuivalen titrasi. Analisis titrimetri yang didasarkan pada terjadinya reaksi asam
dan basa antara sampel dengan larutan standar disebut analisis asidi alkalimetri.
Apabila larutan yang bersifat asam maka analisis yang dilakukan adalah analisis
asidimetri. Sebaliknya jika digunakan suatu basa sebagai larutan standar, analisis
tersebut disebut sebagai analisis alkalimetri (Keenan, 1991).

Titik ekuivalen adalah titik dimana pada titik titrasi ketika banyaknya asam dan
basa yang dicampurkan ekuivalen secara kimia. Indikator adalah pasangan asam
basa konjugasi yang ditambahkan pada titrasi dalam jumlah yang sangat sedikit
untuk memantau pH. Indikator membentuk asam dan basa yang berbeda
warnanya. Indikator cenderung untuk bereaksi dengan kelebihan asam atau basa
pada titrasi untuk menghasilkan warna yang dapat dilihat.

Umumnya, jika memilih indikator untuk titrasi, dipilih indikator yang perubahan
warnanya sama atau mendekati titik ekuivalen tersebut. Indikator yang dipilih
harus mempunyai perubahan warna pada harga pH di bagian curam pada kurva
titrasi. Indikator yang dipilih adalah indikator yang cepat berubah pada pH sekitar
titik ekuivalen. Sering juga titrasi asam basa disebut asidi-alkalimetri (Ibnu,
2004).

Proses penentuan konsentrasi suatu larutan dipastikan dengan tepat dikenal


sebagai standarisasi. Suatu larutan standar dapat disiapkan dengan menggunakan
suatu sampel zat terlarut yang diinginkan, yang ditimbang dengan tepat dalam
volume larutan yang diukur dengan tepat. Zat yang memadai dalam hal ini disebut
standar primer (Day, 1998).
Suatu zat standar primer harus memenuhi persyaratan berikut :

1. Zat harus mudah diperoleh, mudah dimurnikan, mudah dikeringkan, dan


mudah dipertahankan dalam keadaan murni.

2. Zat harus tak berubah dalam udara selama penimbangan, kondisi-kondisi ini
mengisyaratkan bahwa zat tak boleh higroskopis, tak pula dioksidasi oleh udara
atau dipengaruhi karbon dioksida.

3. Zat harus dapat diuji terhadap zat-zat pengotor dengan uij-uji kuantitatif atau
uji-uji lain yang kepekaannya diketahui.

4. Zat harus mempunyai ekuivalen yang tinggi, sehingga sesatan penimbangan


dapat diabaikan.

5. Zat harus mudah larut pada kondisi-kondisi dalam mana ia digunakan.

6. Reaksi dengan larutan standar harus stokiometri dan praktis. Zat-zat yang
biasa dipakai sebagai standar primer adalah reaksi asam basa natrium karbonat,
natrium tetraborat, KH(C8H4O4), asam klorida bertitik didih konstan, dan asam
benzoat.

Dalam analisis larutan asam dan basa, titrasi akan melibatkan pengukuran yang
seksama volume volumenya suatu asam dan suatu basa yang tepat akan saling
menetralkan. Reaksi penentralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu
dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi alam analisis titrimetri.
Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk
karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah, dengan suatu standar
(asidimetri) dan teori asam bebas yang terbentuk dari hidrolisis garam yang
berasal dari basa lemah, dengan suatu basa standar (alkalimetri). Reaksi reaksi
ini melibatkan bersenyawaannya ion hidrogen dan ion hidroksida untuk
membentuk air (Bassett, 1994).

Tidak semua reaksi dapat digunakan sebagai reaksi titrasi. Untuk itu reaksi harus
memenuhi syarat-syarat berikut :
1. Berlangsung sempurna, tunggal dan menurut persamaan yang jelas (dasar
teoritis).

2. Cepat dan reversibel. Bila tidak cepat, titrasi akan memakan waktu terlalu
banyak.

3. Ada penunjuk akhir titrasi (indikator).

4. Larutan baku yang direaksikan dengan analay harus mudah didapat dan
sederhana menggunakannya, juga harus stabil sehingga konsentrasinya tidak
mudah berubah saat disimpan.

Indikator asam-basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH


lingkungannya berubah. Setiap indikator asam-basa mempunyai trayeknya
sendiri, demikian pula warna asam dan warna basanya. Diantara indikator ada
yang mempunyai satu macam warna, misalnya fenolftalein yang berwarna merah
dalam keadaan basa tetapi tidak berwarna bila keadaannya asam. Indikator satu
warna menunjukkan warna yang sama, juga dalam trayeknya, akan tetapi
intensitas warna tersebut berbeda sesuai dengan pHnya. Untuk fenolftalein,
warnanya tampak semakin tua bila pH semakin tinggi (mendekati 9,6) dan makin
muda bila semakin kecil (mendekati 8,0). Letak trayek fenolftalein diantara 8,0
sampai 9,6 sehingga pada pH dibawah 8,0 larutan tak berwarna dan diatas 9,6
warna merah tidak berubah intensitasnya (Harjadi, 1990).

III. METODOLOGI PERCOBAAN


3.1. Alat dan Bahan

Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini diantaranya adalah satu buah
neraca analitik, satu buah labu ukur 250 ml, satu buat pipet gondok 25 ml, satu
buah erlenmeyer, satu buah buret 50 ml dan satu buah statif lengkap.

Sedangkan bahan-bahan yang diperlukan pada percobaan kali ini adalah kristal
borak, indikator metil orange, HCl, dan akuades.

3.2. Diargam Alir

Adapun prosedur percobaan yang dilakukan pada percobaan ini adalah sebagai
berikut.

a. Pembuatan Larutan Standar HCl 0,1 N

Pipet Volume
- Dipipet 2 ml HCl pekat

Labu ukur 250 ml

- Dimasukkan HCl 2 ml
- Ditambahkan akuades sampai tanda batas
- Dikocok dalam keadaan labu tertutup

Hasil

b. Standarisasi HCl

Neraca Analitik

- Ditimbang 0,1 g kristal borak (Na2B4O7.10 H2O)


Labu takar 250 ml

- Dilarutkan 0,1 g kristal borak (Na2B4O7.10 H2O)


menjadi 250 ml
Pipet gondok

- Diambil 25 ml larutan

Erlenmeyer

- Dimasukkan 25 ml larutan
- Ditambah 2-3 tetes indikator MO

Buret 50 ml

- Dititrasi larutan dnegan HCl standar sampai


terjadi perubahan warna
- Dicatat volume titran
- Diulangi langkah no. 2 dan 3 sebanyak 3 kali
- Dihitung rata-rata volume yang digunakan
- Dihitung konsentrasi HCl

Hasil

DAFTAR PUSTAKA

Bassett, J. et al. 1994. Buku Ajar Vogel : Kimia Analitik Kuantitatif Anorganik.
Kedokteran. Jakarta: EGC

Day, R.A. dan S. Keman. 1998. Kimia Analisa Kuantitatif. Jakarta: Erlangga

Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia


Ibnu, Sodiq. 2004. Kimia Analitik. Malang: JICA

Keenan, Charles W. et al. 1991. Ilmu Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga