Anda di halaman 1dari 5

Berdasarkan pada jenis permukaan koloid yang bermuatan negatif, KTK dapat

dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:


1. KTK Koloid Anorganik atau KTK Liat
KTK liat adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid
anorganik (koloid liat) yang bermuatan negatif.
Nilai KTK liat tergantung dari jenis liat, sebagai contoh:
a. Liat Kaolinit memiliki nilai KTK = 3 s/d 5 me/100 g.
b. Liat Illit dan Liat Klorit, memiliki nilai KTK = 10 s/d 40 me/100 g.
c. Liat Montmorillonit, memiliki nilai KTK = 80 s/d 150 me/100 g.
d. Liat Vermikullit, memiliki nilai KTK = 100 s/d 150 me/100 g.
2. KTK Koloid Organik
KTK koloid organik sering disebut juga KTK bahan organik tanah adalah jumlah
kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid organik yang
bermuatan negatif.
Nilai KTK koloid organik lebih tinggi dibandingkan dengan nilai KTK koloid
anorganik. Nilai KTK koloid organik berkisar antara 200 me/100 g sampai dengan
300 me/100 g.
3. KTK Total atau KTK Tanah
KTK total merupakan nilai KTK dari suatu tanah adalah jumlah total kation yang
dapat dipertukarkan dari suatu tanah, baik kation-kation pada permukaan koloid
organik (humus) maupun kation-kation pada permukaan koloid anorganik(liat).
Perbedaan KTK Tanah Berdasarkan Sumber Muatan Negatif
Berdasarkan sumber muatan negatif tanah, nilai KTK tanah dibedakan menjadi 2,
yaitu:
a. KTK Muatan Permanen
KTK muatan permanen adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada
permukaan koloid liat dengan sumber muatan negatif berasal dari mekanisme
substitusi isomorf. Substitusi isomorf adalah mekanisme pergantian posisi antar
kation dengan ukuran atau diameter kation hampir sama tetapi muatan berbeda.
Substitusi isomorf ini terjadi dari kation bervalensi tinggi dengan kation
bervalensi rendah di dalam struktur lempeng liat, baik lempeng liat Si-
tetrahedron maupun Al-oktahedron.
Contoh peristiwa terjadinya muatan negatif diatas adalah: (a). terjadi substitusi
isomorf dari posisi Si dengan muatan 4+ pada struktur lempeng liat Si-
tetrahedron oleh Al yang bermuatan 3+, sehingga terjadi kelebihan muatan
negatif satu, (b). terjadinya substitusi isomorf dari posisi Al yang bermuatan 3+
pada struktur liat Al-oktahedron oleh Mg yang bermuatan 2+, juga terjadi
muatan negatif satu, dan (c). terjadi substitusi isomorf dari posisi Al yang
bermuatan 3+ dari hasil substitusi isomorf terdahulu pada lempeng liat Si-
tetrahedron yang telah bermuatan neatif satu, digantikan oleh Mg yang
bermuatan 2+, maka terjadi lagi penambahan muatan negatif satu, sehingga
terbentuk muatan negatif dua pada lempeng liat Si-tetrahedron tersebut. Muatan
negatif yang terbentuk ini tidak dipengaruhi oleh terjadinya perubahan pH tanah.
KTK tanah yang terukur adalah KTK muatan permanen.
b. KTK Muatan Tidak Permanen
KTK muatan tidak permanen atau KTK tergantung pH tanah adalah jumlah kation
yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid liat dengan sumber muatan
negatif liat bukan berasal dari mekanisme substitusi isomorf tetapi berasal dari
mekanisme patahan atau sembulan di permukaan koloid liat, sehingga
tergantung pada kadar H+ dan OH- dari larutan tanah.
Soepardi (1983) mengemukakan kapasitas tukar kation tanah sangat beragam,
karena jumlah humus dan liat serta macam liat yang dijumpai dalam tanah
berbeda-beda pula.
Nilai KTK tanah (me/100g) dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk nilai KTK (me/100 g) < 5,
(2) rendah untuk nilai KTK (me/100 g) berkisar antara 5 s/d 16,
(3) sedang untuk nilai KTK (me/100 g) berkisar antara 17 s/d 24,
(4) tinggi untuk nilai KTK (me/100 g) berkisar antara 25 s/d 40, dan
(5) sangat tinggi untuk nilai KTK (me/100g) > 40.