Anda di halaman 1dari 2

Kapasitas Tukar Kation tanah adalah jumlah muatan negatif tanah baik yang

bersumber dari permukaan koloid anorganik (liat) muatan koloid organik (humus) yang
merupakan situs pertukaran kation-kation. Baha organik tanah
Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca++, Mg+, K+, Na+, H+, Al3+ dan
sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tersebut terlarut dalam air tanah atau dijerap oleh
koloid-koloid tanah. Banyaknya kation (dalam miliekuivalen) yang dapat diserap oleh tanah
persatuan berat tanah (biasanya per 100 gram) dinamakan Kapasitas Tukar Kation (KTK).
Kation-kation yang telah dijerap oleh koloid-koloid tersebut sukar tercuci oleh air gravitasi,
tetapi dapat diganti oleh kation lain yang terdapat di dalam larutan tanah (Foth, 1991).
Kapasitas tukar kation menunjukkan kemampuan tanah untuk menahan kation-kation
dan mempertukarkan kation-kation tersebut. Kapasitas tukar kation penting untuk kesuburan
tanah maupun untuk genesis tanah.
Beberapa pengukuran KTK tanah telah dilaksanakan dengan hasil yang berbeda-beda.
Hal ini disebabkan karena
1. KTK bervariasi sesuai dengan pH. Oleh karena itu dalam menentukan KTK di
laboratorium harus dijelaskan pada pH berapa KTK tersebut ditentukan. Beberapa tanah
menunjukkan KTK rendah pada pH lapang (pH rendah) tetapi tinggi pada pH tinggi,
misalnya pada pH 8,2. Hal ini disebabkan karena perbedaan daya reaksi kation-kation dengan
koloid tanah yang ada apakah kolid-koloid tersebut berupa mineral liat kristalin, hidroksida,
senyawa amorf atau bahan organic. Penentuan KTK pada pH 7 banyak dilakukan.

2. Hasil analisis KTK dapat berbeda karena kation yang dipergunakan untuk mengganti
kation-kation dalam koloid tanah (bahan pengekstrak) berbeda (Hardjowigeno, 1985). Koloid
tanah yang memiliki muatan negative besar akan dapat menjerap sejumlah besar kation.
Jumlah kation yang dapat dijerap koloid dalam bentuk dapat tukar pada pH tertentu disebut
kapasitas rukar kation (KTK). Kapasitas tukar kation merupakan jumlah muatan negative
persatuan berat koloid yang dinetralisasi oleh kation yang yang mudah diganti. Kapasitas
tukar kation didefinisikan sebagi nilai yang diperoleh pada pH 7, yang dinyatakan dalam
milligram setara per 100 gram koloid.
Kapasitas tukar kation tanah tergantung pada tipe dan jumlah kandungan liat,
kandungan bahan organik dan pH tanah. Kapasitas tukar kation tanah yang memiliki banyak
muatan tergantung pH dapat berubah-ubah dengan perubahan pH. Keadaan tanah yang sangat
masam menyebabkan tanah kehilangan kapasitas tukar kation dan kemampuan menyimpan
hara kation dalam bentuk dapat tukar karena perkembangan muatan positif. Kapasitas tukar
kation kaolinit menjadi sangat berkurang karena perubahan pH dari menjadi 5,5. Kapasitas
tukar kation yang dapat dijerap 100 gram tanah pada pH 7. Kapasitas tukar kation
menunjukkan kemampuan tanah untuk menahan kation-kation dan mempertukarkan kation-
kation tersebut. Kapasitas tukar kation penting untuk kesuburan tanah maupun untuk genesis
tanah. Beberapa
pengukuran kapasitas tukar kation telah dilaksanakan dengan hasil berbeda-beda. Kation-
kation tidak dapat dipisahkan dari permukaan padatan. Namun tidak dapat ditukar dengan
kation lain untuk tetap mempertahankan kenetralan listrik system. Kation-kation yang
diadsorpsi pada padatan tanah dapat tersedia untuk tanaman dengan jalan pertukaran dengan
ion H yang dikeluarkan oleh akar tanaman. Penukaran ion harus dilakukan bila ingin
mengeluarkan kation-kation yang diadsorbsi melalui pencucian.
Dalam analisis KTK, mula-mula semua kation yang dapat dipertukarkan diganti
dengan kation tertentu misalnya dengan NH4+ (dari larutan NH4Oac), kemudian ditentukan
jumlah kation yang diperlukan untuk mengganti kation tersebut. Beberapa kation terutama K
bila digunakan sebagai kation pengganti akan memberi gambaran yang kurang tepat karena
sebagian dari K dapat diikat oleh mineral liat tertentu seperti mineral illit (Hardjowigeno,
1993).
Ada dua cara yang banyak dipakai untuk menentukan KTK yaitu penjenuhan dengan
ammonium pada pH 7 (NH4Oac, pH 7) dan dan metode penjumlahan kation di mana semua
kation yang dapat dipertukarkan yaitu kation basa + kation asam dijumlahkan. Karena adanya
perubahan KTK akibat perubahan pH, maka KTK tanah dapat dibedakan menjadi KTK tetap
(permanent charge) dan KTK tergantung pH (pH-dependent charge) (Hardjowigeno, 1993).
KTK tetap adalah jumlah muatan negative dari liat akibat subtitusi ion-ion dengan
muatan rendah terhadap ion-ion dalam struktur kristal yang bervalensi lebih tinggi. Hal ini
terjadi pada waktu proses pembentukan liat sedang berjalan. Sebagai contoh misalnya
subtitusi Al3+ terhadap Si4+ dalam Si tetrahedron atau subtitusi Mg2+ terdapat Al3+ dalam
Al octahedron. Akibat subtitusi tersebut maka terjadilahkelebihan muatan negative dalam
mineral liat yang merupakan KTK tetap (Purwowidodo, 1982).