Anda di halaman 1dari 21

ANALISA PROFITABILITAS DAN PENGEMBALIAN ATAS

INVESTASI MODAL PADA PT. GUDANG GARAM TBK.

MAKALAH ANALISA LAPORAN KEUANGAN


Tujuan Penulisan :
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisa Laporan Keuangan
Dosen Mata Kuliah :
Hj. Prima Yusi Sari S.E., ME., Ak.
Disusun Oleh :
Siti Fatimatuzzahra (120110140013)
Rikky Adiwijaya (120110140017)
Putri Utami Riawan (120110140081)

PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PADJADJARAN

2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-NYA ,
sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Analisa Laporan Keuangan ini dengan judul
Analisa Profitabilitas dan Pengembalian atas Investasi Modal pada PT. Gudang Garam Tbk
yang Alhamdulillah tepat pada waktunya. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada
Dosen Pembimbing mata kuliah ini yaitu Hj. Prima Yusi Sari S.E., ME., Ak. serta pihak-
pihak lain yang telah mendukung dalam kelancaran pembuatan makalah ini.

Adapun maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk melengkapi dan
memenuhi persyaratan yang diwajibkan kepada kami untuk mengerjakan tugas Mata Kuliah
Analisa Laporan Keuangan. Makalah yang kami buat ini di dalamnya mengenai analisa rasio
rasio profitabilitas, analisa Return Net Operating Assets(RNOA) dan Return on Common
Equity (ROCE) pada PT gudang Garam . Di dalam penulisan ini, kami mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun untuk menyusun makalah ataupun tugas lain di masa
yang akan datang.

Kami mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat, tidak hanya bagi kami,
tetapi juga untuk rekan-rekan mahasiswa, masyarakat , dan pihak lainnya yang membaca
paper ini. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih.

Bandung, 17 April 2017

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Masalah keuangan merupakan salah satu masalah yang sangat vital bagi perusahaan
dalam perkembangan bisnis di semua perusahaan. Salah satu tujuan utama didirikannya
perusahaan adalah untuk memperoleh keuntungan yang maksimal. Namun berhasil tidaknya
perusahaan dalam mencari keuntungan dan mempertahankan perusahaannya tergantung pada
manajemen keuangan. Perusahaan harus memiliki kinerja keuangan yang sehat dan efisien
untuk mendapatkan keuntungan atau laba. Oleh sebab itu, kinerja keuangan merupakan hal
yang penting bagi setiap perusahaan didalam persaingan bisnis untuk mempertahankan
perusahaannya.

Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan adalah kunci keberhasilan


perusahaan untuk dapat dikatakan mempunyai kinerja perusahaan yang baik, karena
keuntungan merupakan komponen laporan keuangan yang digunakan sebagai alat untuk
menilai baik tidaknya kinerja perusahaan. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan inilah yang disebut profitabilitas suatu perusahaan.

Hal ini akan mempengaruhi keberlangsungan perusahaan untuk maju dan kerjasama
antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain. Salah satu faktor yang dapat
menunjukkan bagaimana kinerja perusahaan itu baik atau tidak yaitu dengan analisis laporan
keuangan. Perusahaan perlu melakukan analisis laporan keuangan karena laporan keuangan
digunakan untuk menilai kinerja perusahaan, dan digunakan untuk membandingkan kondisi
perusahaan dari tahun sebelumnya dengan tahun 2 sekarang apakah perusahaan tersebut
meningkat atau tidak sehingga perusahaan mempertimbangkan keputusan yang akan diambil
untuk tahun yang akan datang sesuai dengan kinerja perusahaannya. Kinerja adalah sesuatu
yang ingin dicapai, untuk melakukan sesuatu yang ingin dicapai oleh seseorang. Jadi kinerja
perusahaan adalah proses pengkajian secara kritis terhadap keuangan perusahaan untuk
memberikan solusi dalam pengambilan suatu keputusan yang tepat pada suatu periode
tertentu. Oleh karena, untuk mengetahui dan mengevaluasi kinerja profitabilitas perusahaan
maka salah satu caranya adalah menggunakan rasio rasio keuangan seperti NPM, GPM,
OPM.
Selain itu, hal yang lain yang harus menjadi fokus analis dan pengguna laporan
keuangan terkait profitabilitas suatu perusahaan adalah tingkat keberhasilan perusahaan atas
pengelolaan investasi modal yang dilakukannya. Pengembalian atas investasi modal
digunakan dalam berbagai area dalam analisis, termasuk mengukur efektivitas manajerial,
mengukur profitabilitas, dan ukuran untuk perencanaan dan pengendalian .

Berdasarkan uraian diatas, maka dalam penulisan makalah ini penulis akan membahas
mengenai Analisa Profitabilitas dan Pengembalian atas Investasi Modal pada PT Gudang
Garam Tbk.

1.2 Rumusan Masalah


Penulisan makalah ini pada dasarnya dilakukan untuk melakukan analisa profitabilitas
dan pengembalian atas investasi modal pada PT. Gudang Garam Tbk. Maka, permasalahan
dalam penulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Jelaskan mengenai Analisis Rasio Profitabilitas pada PT Gudang Garam Tbk?

2. Jelaskan mengenai Analisis Return Net Operating Assets (RNOA) pada PT Gudang
Garam Tbk ?

3. Jelaskan mengenai Analisis Return on Common Equity (ROCE) pada PT Gudang Garam
Tbk ?

1.3 Tujuan Penulisan


Sesuai rumusan masalah yang telah dijabarkan sebelumnya, maka tujuan dari penulisan ini
adalah :

1. Menjelaskan mengenai Analisis Rasio Profitabilitas pada PT Gudang Garam Tbk

2. Menjelaskan mengenai Analisis Return Net Operating Assets (RNOA) pada PT Gudang
Garam Tbk

3. Menjelaskan mengenai Analisis Return on Common Equity (ROCE) pada PT Gudang


Garam Tbk
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Analisis Rasio Profitabilitas pada PT Gudang Garam Tbk


Rasio profitabilitas adalah rasio yang menunjukkan besarnya laba yang diperoleh
sebuah perusahaan dalam periode tertentu. Rasio ini digunakan untuk menilai seberapa
efisien pengelola perusahaan dapat mencari keuntungan atau laba untuk setiap penjualan
yang dilakukan. Beberapa rasio yang digunakan penulis untuk mengukur tingkat profitabilitas
PT Gudang Garam Tbk diantaranya : Gross Profit Margin, Operating Profit Margin, dan Net
Profit Margin, Return on Asset, dan Return on Equity.

2.1.1 Analisis Gross Profit Margin pada PT Gudang Garam Tbk


Rasio ini menunjukan nilai relatif antara nilai laba kotor terhadap nilai penjualan.
Sehingga rasio ini menunjukan seberapa besar laba kotor yang diperoleh perusahaan untuk
seluruh penjualannya. Semakin besar nilai rasionya, maka semakin besar laba kotor yang
diperoleh perusahaan. Artinya profitabilitas perusahaan semakin tinggi, dan perusahaan
memiliki keuntungan dalam laba kotor yang tinggi. Berikut ini perhitungan GPM PT Gudang
Garam Tbk periode 2011 2015 :

Laba bruto
Rasio gross profit margin=
Penjualan

10.129.368
Tahun 2011= =0,24
41.884 .352

9.184 .722
Tahun 2012= =0,19
49.028 .696

10.873 .858
Tahun 2013= =0,20
55.436 .954

13.379 .566
Tahun 2014= =0,21
65.185.850

15.485 .611
Tahun 2015= =0,22
70.365 .573
Hasil Analisa

Artinya bahwa setiap satu rupiah penjualan mampu menghasilkan laba kotor pada
tahun 2011-2015 masing masing sebesar 0,24 ; 0,19 ; 0,20 ; 0,21 ; dan 0,22. Pada PT
Gudang Garam Tbk, rasio GPM untuk tahun 2012 mengalami penurunan yang semula 0,16
menjadi 0,12 yang disebabkan oleh peningkatan beban pokok penjualan yang lebih signifikan
dibandingkan peningkatan penjualan

2.1.2 Analisis Operating Profit Margin pada PT Gudang Garam Tbk


Rasio ini menunjukan nilai relatif antara nilai laba operasi terhadap nilai penjualan.
Sehingga rasio ini menunjukan seberapa besar laba operasi yang diperoleh perusahaan untuk
seluruh penjualannya. Semakin besar nilai rasionya, maka semakin besar laba operasi yang
diperoleh perusahaan. Artinya profitabilitas perusahaan semakin tinggi, dan perusahaan
memiliki keuntungan dalam laba operasi yang tinggi. Berikut ini perhitungan OPM PT
Gudang Garam Tbk periode 2011 2015 :

Laba operasi
Rasio operating profit margin=
Penjualan

6.838.642
Tahun 2011= =0,16
41.884 .352

6.007 .206
Tahun 2012= =0,12
49.028 .696

6.649 .806
Tahun 2013= =0,12
55.436 .954

8.573.721
Tahun 2014= =0,13
65.185.850

9.906 .241
Tahun 2015= =0,14
70.365 .573

Hasil Analisa
Artinya bahwa setiap satu rupiah penjualan mampu menghasilkan laba operasi pada
tahun 2011-2015 masing masing sebesar 0,16 ; 0,12 ; 0,12 ; 0,13 ; dan 0,14. Pada PT
Gudang Garam Tbk, rasio OPM untuk tahun 2012 mengalami penurunan yang semula 0,16
menjadi 0,12 yang disebabkan oleh peningkatan beban pokok penjualan yang lebih signifikan
dibandingkan peningkatan penjualan, sehingga menurunkan laba kotor.

2.1.3 Analisis Net Profit Margin pada PT Gudang Garam Tbk


Net Profit Margin menghitung sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan
laba bersih pada tingkat penjualan tertentu. Rasio ini bisa dilihat langsung pada analisis
common-size untuk laporan laba rugi. Rasio ini diinterpretasikan juga sebagai kemampuan
perusahaan menekan biaya-biaya (ukuran efisiensi) di perusahaan pada periode tertentu.

Lababersih
Rasio net profit margin=
Penjualan

4.958 .102
Tahun 2011= =0,12
41.884 .352

4.068.711
Tahun 2012= =0,08
49.028 .696

4.383.932
Tahun 2013= =0,08
55.436 .954

5.432 .667
Tahun 2014= =0,08
65.185.850

6.452.834
Tahun 2015= =0,09
70.365 .573

Hasil Analisa

Artinya bahwa setiap satu rupiah penjualan mampu menghasilkan laba bersih pada
tahun 2011-2015 masing masing sebesar 0,12 ; 0,08 ; 0,08 ; 0,08 ; dan 0,09. Pada PT
Gudang Garam Tbk, rasio net profit margin (NPM) untuk tahun 2012 mengalami penurunan
yang semula 0,12 menjadi 0,08 yang disebabkan oleh peningkatan beban bunga dan beban
lain lain yang signifikan. Sementara tahun 2013 dan 2014 tidak mengalami perubahan
yakni sebesar 0,08, dan untuk tahun 2015 mengalami peningkatan yakni sebesar 0,09
2.1.4 Analisis Return on Assets pada PT Gudang Garam Tbk
Return On Assets adalah perbandingan laba bersih dengan rata rata total aktiva.
Rasio ini menunjukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang
dipergunakan (Guinan 2009:307). Rasio ini menghubungkan laba bersih yang diperoleh dari
operasi perusahaan dengan jumlah aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan
(Mukhtarudin dan Desmon 2007). Berikut ini perhitungannya :

Net Income Sales


ROA = Sales X Average Total Assets

41.884 .352
4.958 .102
ROA 2011 = X 30.741.679+39.008.705
41.884 .352
2

= 0,1184 X 1,2

= 0,1421

49.028.696
4.068 .711
ROA 2012 = X 39.088 .705+41.509 .325
49.028 .696
2

= 0,083 X 1,22

= 0,1013

55.436 .954
4.383 .932
ROA 2013 = X 50.771.650+ 41.509 .315
55.436 .954
2

= 0,08 X 1,2015

= 0,0961

65.185.850
5.432 .667
ROA 2014 = X 58.234 .278+50.771 .650
65.185 .850
2

= 0,0833 X 1,196

= 0,0996
70.365.573
6 .452 .834
ROA 2015 = X 58.234 .278+63.505 .413
70.365 .573
2

= 0,0917 X 1,156

= 0,106

Hasil Analisa

Artinya bahwa setiap satu rupiah aset mampu menghasilkan laba bersih pada tahun
2011-2015 masing masing sebesar 0,1421 ; 0,1013 ; 0,0961 ; 0,0996 ; dan 0,106. Pada PT
Gudang Garam Tbk, rasio ROA untuk rentan tahun 2011-2013 terus mengalami penurunan.
Penurunan ini sejalan dengan penurunan margin laba operasi bersih perusahaan, yang
disebabkan oleh peningkatan beban pokok penjualan dan beban operasi lainnya. Namun,
penurunan ROA secara umum kurang dipengaruhi oleh aset turnover karena peningkatan aset
turnover kurang dapat membackup penurunan margin laba operasi bersih yang signifikan.
Secara umum, aset turnover perusahaan mengalami penurunan. Penurunan dalam tingkat
perputaran total asset ini dikarenakan oleh peningkatan dari rata-rata total asset yang cukup
besar dari tahun ke tahun tidak diimbangi oleh peningkatan upaya penjualan yang signifikan.
Kemudian untuk rentan tahun 2014 2015, ROA perusahaan kembali mengalami
peningkatan.

2.1.5 Analisis Return on Equity pada PT Gudang Garam Tbk


Return On Equity adalah perbandingan laba bersih dengan modal sendiri. Rasio ini
digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi
pemegang saham (Sartono 2001:124). ROE menunjukan berapa banyak keuntungan yang
dapat dihasilkan perusahaan dengan uang yang diinvestasikan oleh pemegang saham atau
dikenal juga sebagai pengembalian atas kekayaan bersih (Guinan 2009:308). Hasil dari rasio
ini menggambarkan kemampuan manajemen dalam memanfaatkan investasi para pemegang
saham. Perhitungan ini membantu pemegang saham (investor) dalam menentukan
profitabilitas selama periode yang dihitung (Guinan 2009:309). Berikut ini perhitungannya :

Net Income Sales


ROE = Sales X Average Total Equity
41.884 .352
4.958 .102
ROE 2011 = X 21.320 .276+24.550 .928
41.884 .352
2

= 0,1184 X 1,8262

= 0,22

49.028.696
4.068 .711
. ROE 2012 = X 24.550 .928+26.605 .713
49.028 .696
2

= 0,083 X 1,9168

= 0,1595

55.436 .954
4.383 .932
ROE 2013 = X 26.605 .713+29.391.930
55.436 .954
2

= 0,08 X 1,98

= 0,1567

65.185.850
5.432 .667
ROE 2014 = X 29.391.930+ 33.134 .403
65.185 .850
2

= 0,0833 X 2,0851

= 0,17

70.365.573
6 .452 .834
ROE 2015 = X 33.134 .403+38.007 .909
70.365 .573
2

= 0,0917 X 1,9782

= 0,18

Hasil Analisa
Artinya bahwa setiap satu rupiah ekuitas mampu menghasilkan laba bersih pada tahun
2011-2015 masing masing sebesar 0,22 ; 0,16 ; 0,16 ; 0,17 ; dan 0,18. Pada PT Gudang
Garam Tbk, rasio ROE untuk rentan tahun 2011-2013 terus mengalami penurunan.
Penurunan ini sejalan dengan penurunan margin laba operasi bersih perusahaan, yang
disebabkan oleh peningkatan beban pokok penjualan dan beban operasi lainnya. Namun,
penurunan ROE ini secara umum kurang dipengaruhi oleh Equity turnover karena
peningkatan equity turnover kurang dapat membackup penurunan margin laba operasi bersih
yang signifikan. Kemudian untuk rentan tahun 2014 2015, ROE perusahaan kembali
mengalami peningkatan.

2.2 Analisis Retuirn Net Operating Assets (RNOA) pada PT Gudang Garam Tbk
Pengembalian investasi modal berguna dalam evaluasi manajemen, analisis
profitabilitas, serta perencanaan dan pengendalian. Penggunaan pengembalian atas
investasi modal untuk tugas-tugas di atas menuntut pemahaman menyeluruh atas pengukuran
pengembalian ini. Ini karena pengukuran pengembalian mengandung komponen yang
berpotensi untuk menyumbangkan pemahaman atas kinerja perusahaan. Bagian ini akan
membahas pengembalian tersebut ketika investasi modal dilihat dari sudut pandang
operasi, biasanya disebut sebagai pengembalian atas asset operasi bersih (RNOA).

Banyak analis memisahkan neraca dan laporan laba rugi menjadi komponen operasi
dan non operasi dan menghitung pengembalian asset operasi bersih (return on net operating
assets RNOA ) sebagai ringkasan ukuran kinerja. Aktivitas operasi merupakan aktivitas inti
perusahaan. Aktivitas ini meliputi seluruh aktivitas yang dibutuhkan untuk membawa produk
atau jasa perusahaan ke pasar, serta melayani kebutuhan para pelanggan. Dalam laporan laba
rugi, aktivitas operasi biasanya meliputi penjualan, harga pokok penjualan, dan beban
penjualan umum serta administrasi. Di neraca aktivitas operasi diwakili oleh asset dan
kewajiban yang berhubungan dengan akun-akun laporan laba rugi di atas, seperti piutang
usaha, persediaan, asset tetap, utang usaha, utang pajak. Berikut formula RNOA secara umum
:

Laba operasi bersih setelah pajak (Net operating profit after tax - NOPAT)
RNOA =
Rata-rata aset operasi bersih (Average net operating assets - NOA)
2.2.1 Pemecahan RNOA Berdasarkan Dampak NOPM dan NOA Turnover
Kita dapat memisahkan pengembalian ini menjadi komponen yang bermakna secara
relative terhadap penjualan. Pemisahan pengembalian atas asset operasi bersih adalah :

RNOA = margin laba operasi bersih x Perputaran asset operasi bersih

Margin NOPAT dan perputaran NOA merupakan pengukuran yang bermanfaat dan menuntut
analisis mendapatkan pemahaman atas profitabilitas suatu perusahaan.

Hasil Analisa

Dari pemecahan komponen-komponen RNOA diatas, Tingkat pengembalian atas aset


operasi bersih (RNOA) pada PT Gudang Garam Tbk terus mengalami penurunan dalam
rentan 2011-2013. Penurunan ini sejalan dengan penurunan margin laba operasi bersih
perusahaan, yang disebabkan oleh peningkatan beban pokok penjualan karena naiknya biaya
bahan baku, peningkatan beban bunga karena menggunakan floating interest rate,
peningkatan beban pajak penghasilan, dan peningkatan beban lain lain yang jauh lebih
signifikan dibandingkan peningkatan penjualan dan pendapatan pendapatan lainnya.
Namun, penurunan RNOA secara umum kurang dipengaruhi oleh aset turnover karena
peningkatan aset operasi bersih turnover kurang dapat membackup penurunan margin laba
operasi bersih yang signifikan. Secara umum, aset operasi bersih turnover perusahaan
mengalami penurunan. Penurunan dalam tingkat perputaran aset operasi bersih ini
dikarenakan oleh peningkatan dari rata-rata total aset operasi bersih yang cukup besar pada
rentan tahun tersebut tidak diimbangi oleh peningkatan upaya penjualan yang signifikan.
Kemudian untuk rentan tahun 2014 2015, RNOA perusahaan kembali mengalami
peningkatan.

2.2.2 Pemecahan RNOA Berdasarkan Dampak NOPM, NOA Turnover, dan Leverage
Operating Liabilities
Alternatif lain untuk menganalisis RNOA adalah dengan memecah komponen-
komponennya menjadi komponen-komponen yang dikontribusikan dari kewajiban operasi.
Sebagaimana kita ketahui asset operasi bersih dikurangi oleh kenaikan kewajiban operasi
dapat menaikan perputaran asset operasi bersih. Karena kenaikan kewajiban operasi tidak
memengaruhi NOPAT, RNOA juga akan naik begitu pula sebaliknya, dengan persamaa
RNOA sebagai berikut:

Dimana OA adalah asset operasi (kotor) dan OLLEV adalah leverage dari kewajiban
operasi (kewajiban operasi rata-rata/rata-rata NOA). Untuk Gudang Garam, perhitungan
RNOA dengan komponen OLLEV adalah sebagai berikut:

Hasil Analisa

Dari pemecahan komponen-komponen RNOA diatas, Tingkat pengembalian atas aset


operasi bersih (RNOA) pada PT Gudang Garam Tbk terus mengalami penurunan dalam
rentan 2011-2013. Penurunan ini sejalan dengan penurunan margin laba operasi bersih
perusahaan, yang disebabkan oleh peningkatan beban pokok penjualan karena naiknya biaya
bahan baku, peningkatan beban bunga karena menggunakan floating interest rate,
peningkatan beban pajak penghasilan, dan peningkatan beban lain lain yang jauh lebih
signifikan dibandingkan peningkatan penjualan dan pendapatan pendapatan lainnya.
Namun, penurunan RNOA secara umum kurang dipengaruhi oleh aset operasi bersih turnover
karena peningkatan aset turnover kurang dapat membackup penurunan margin laba operasi
bersih yang signifikan. Secara umum, aset operasi bersih turnover perusahaan mengalami
penurunan. Penurunan dalam tingkat perputaran aset operasi bersih ini dikarenakan oleh
peningkatan dari rata-rata total aset operasi bersih yang cukup besar pada rentan tahun
tersebut tidak diimbangi oleh peningkatan upaya penjualan yang signifikan Selain itu juga,
penurunan RNOA ini dipengaruhi oleh terus menurunnya leverage kewajiban operasi dalam
rentan 2011-2015. Penurunan dari OLLEV ini disebabkan oleh terus menurunnya kewajiban
operasi bersih rata-rata sedangkan rata-rata aset operasi bersih terus mengalami peningkatan
yang begitu signifikan, sehingga kewajiban operasi ini dapat dibackup oleh asset operasi
bersih perusahaan.Oleh karena itu, penurunan OLLEV tidak terlalu berdampak signifikan
untuk mempengaruhi RNOA. Kemudian untuk rentan tahun 2014 2015, RNOA perusahaan
kembali mengalami peningkatan

2.3 Analisis Retuirn on Common Shareholders Equity (ROCE) pada PT Gudang Garam
Tbk
Pengembalian investasi modal berguna dalam evaluasi manajemen, analisis
profitabilitas, serta perencanaan dan pengendalian. Penggunaan pengembalian atas
investasi modal untuk tugas-tugas di atas menuntut pemahaman menyeluruh atas pengukuran
pengembalian ini. Ini karena pengukuran pengembalian mengandung komponen yang
berpotensi untuk menyumbangkan pemahaman atas kinerja perusahaan. Bagian ini akan
membahas pengembalian tersebut ketika investasi modal dilihat dari sudut pandang
common equity, biasanya disebut sebagai pengembalian atas ekuitas pemegang saham
biasa (ROCE).

Pengembalian ekuitas biasa (return on common equity ROCE) dinyatakan sebagai


laba bersih dikurangi deviden saham preferen dibagi rata-rata ekuitas biasa. Equitas biasa
dapat juga dinyatakan sebagai total asset dikurangi utang dan saham preferen. Berikut ini
perhitungan ROCE pada Gudang Garam :
Net IncomePreferred Dividen
ROCE = Average common shareholders equity

4.958 .1020
ROCE 2011 = 21.320 .276+24.550 .928
2

= 0,22

4.068 .7110
ROCE 2012 = 24.550 .928+26.605 .713
2

= 0,16

4.383 .9320
ROCE 2013 = 26.605 .713+29.416 .271
2

= 0,16

5.432.6670
ROCE 2014 = 29.391.930+ 33.134 .403
2

= 0,17

6.452.8340
ROCE 2015 = 33.134 .403+38.007 .909
2

= 0,18

2.3.1 Pemecahan ROCE


ROCE dapat dipecah kedalam beberapa komponen seperti yang tercermin dalam
formula berikut :
Net IncomePreferred Dividen Sales
ROCE = Sales X Average Assets X

Average Assets
Average common shareholders equity

41.884 .352
4.958 .1020
ROCE 2011 = 30.741.679+39.008.705
41.884 .352 X X
2

30.741 .679+39.008.705
2
21.320 .276+24.550 .928
2

= 0,1184 X 1,2 X 1,521

= 0,22

49.028.696
4.068 .7110
ROCE 2012 = 39.008 .705+41.509 .325
49.028 .696 X X
2

39.008 .705+41.509 .325


2
24.550 .928+26.605 .713
2

= 0,0830 X 1,22 X 1,5755

= 0,1595
55.436 .954
4.383 .9320
ROCE 2013 = 41.509 .325+50.771 .650
55.436 .954 X X
2

41.509 .325+50.771 .650


2
26.605 .713+29.416 .271
2

= 0,0791 X 1,2015 X 1,648

= 0,1567

65.185.850
5.432 .6670
ROCE 2014 = 65.185 .850 X 50.771.650+ 58.234 .278 X
2

50.771.650+ 58.234 .278


2
29.391.930+ 33.134 .403
2

= 0,0833 X 1,196 X 1,7434

= 0,17

70.365.573
6.452 .8340
ROCE 2015 = 70.365 .573 X 58.234 .278+63.505 .413 X
2

58.234 .278+63.505 .413


2
33.134 .403+38.007 .909
2

= 0,0917 X 1,156 X 1,7112

= 0,18

Hasil Analisa
Dari pemecahan komponen-komponen ROCE diatas, Tingkat pengembalian atas
ekuitas pemegang saham biasa (ROCE) pada PT Gudang Garam Tbk terus mengalami
penurunan dalam rentan 2011-2013. Penurunan ini sejalan dengan penurunan margin laba
operasi bersih perusahaan, yang disebabkan oleh peningkatan beban pokok penjualan karena
naiknya biaya bahan baku, peningkatan beban bunga karena menggunakan floating interest
rate, peningkatan beban pajak penghasilan, dan peningkatan beban lain lain yang jauh lebih
signifikan dibandingkan peningkatan penjualan dan pendapatan pendapatan lainnya.
Namun, penurunan ROCE ini secara umum kurang dipengaruhi oleh aset turnover karena
peningkatan aset turnover kurang dapat membackup penurunan margin laba operasi bersih
yang signifikan. Secara umum, aset turnover perusahaan mengalami penurunan. Penurunan
dalam tingkat perputaran total aset ini dikarenakan oleh peningkatan dari rata-rata total aset
yang cukup besar pada rentan tahun tersebut tidak diimbangi oleh peningkatan upaya
penjualan yang signifikan Selain itu juga, penurunan ROCE ini juga secara umum kurang
dipengaruhi oleh nilai aset to equity ratio perusahaan, hal ini terbukti ketika aset to equity
ratio perusahaan mengalami peningkatan akan tetapi ROCE perusahaan malah mengalami
penurunan. Asset to equity ratio perusahaan yang secara umum terus meningkat dari tahun ke
tahun menandakan semakin tingginya aset perusahaan yang didanai oleh ekuitas perusahaan
dibandingkan dengan hutang perusahaan.

2.3.2 Tingkat Pertumbuhan Ekuitas


Tingkat pertumbuhan ekuitas biasa dapat dinilai melalui retensi laba yang
menekankan pertumbuhan ekuitas tanpa pendanaan eksternal. Dengan asumsi retensi laba
dan pembayaran dividen yang konstan dari waktu ke waktu.

Net IncomePreferred DividenCommon DIviden


Tingkat pertumbuhan ekuitas = Average common shareholders equity
Hasil Analisa

2.3.3 Tingkat Pertumbuhan Ekuitas yang Dapat Dipertahankan


Tingkat pertumbuhan ekuitas yang dapat dipertahankan (sustainable equity growth rate)
mengakui bahwa pertumbuhan internal perusahaan tergantung retensi laba dan pengembalian
yang diperoleh dari laba yang ditahan.

Tingkat pertumbuhan ekuitas yang dapat dipertahankan = ROCE x (1- payout rate)

Hasil Analisa