Anda di halaman 1dari 37

TUGAS TERJEMAHAN BUKU

Obesitas

Oleh :
Satriya Teguh Imam G99161092
Rully Prasetyo S G99152002

Pembimbing :
dr. Eka Budi Wahyana, SpOG (KFER)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KANDUNGAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD DR SOEDIRAN MS
WONOGIRI
2017

1
PRAKATA

Alhamdulillah hirobbilaalamin, segala puja dan puji penulis haturkan


kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan nikmatnya kepada penulis, sehingga
dapat menyelesaikan menyusun karya terjemahan pada bab Endometriosis
dalam buku Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility Edisi 8. Penulis
menyadari bahwa penulisan karya terjemahan ini tidak akan berhasil tanpa adanya
bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu dengan penuh rasa hormat ucapan
terima kasih yang dalam penulis berikan kepada:
1. Dr. dr. Supriyadi Hari Respati, SpOG (K) selaku kepala bagian Ilmu
Kebidanan dan Kandungan (Obsgyn) FK UNS/RS Dr. Moewardi Surakarta
2. dr. Asih Anggraeni, SpOG selaku penanggungjawab dokter muda bagian Ilmu
Kebidanan dan Kandungan (Obsgyn) FK UNS/RS Dr. Moewardi Surakarta
3. dr. Setyarini, M.Kes selaku Direktur RS Soediran Mangun Sumarso,
Wonogiri
4. dr. Eka Budi Wahyana, SpOG, dr. Cakrabumi, SpOG, dan dr. Widiyanto,
SpOG selaku pendidik bagian Ilmu Kebidanan dan Kandungan (Obsgyn) di
RS Soediran Mangun Sumarso, Wonogiri yang telah meluangkan waktunya
untuk membimbing kami.
5. Segenap bidan, perawat, dan seluruh karyawan RS Soediran Mangun
Sumarso, Wonogiri yang telah membimbing dan memberikan kami
kesempatan untuk belajar
6. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu proses
penulisan tugas penulisan referat ini yang tidak mungkin disebutkan satu
persatu.
Meskipun tulisan ini masih belum sempurna, penulis berharap referat ini
dapat bermanfaat bagi pembaca. Saran, koreksi, dan tanggapan dari semua pihak
sangat diharapkan.
Wonogiri, 14 April 2017
Penulis

Obesitas

2
Karena hampir sepertiga dari orang-orang dewasa Amerika mengalami
kegemukan, pertarungan yang tanpa hasil melawan obesitas terlalu banyak
dijumpai, tidak hanya pada pasien-pasien kami tetapi juga diri kami sendiri.
Jumlah yang mengejutkan sebesar 62% dari wanita-wanita AS mengalami
kelebihan berat badan atau kegemukan; 33% gemuk. Pada saat anda membaca
artikel ini, jumlah tersebut akan lebih tinggi. Malangnya, selama lebih dari 100
tahun kejadian obesitas meningkat di Amerika Serikat dan Eropa, satu cerminan
dari masyarakat makmur dengan kehidupan yang semakin menetap ditambah
dengan makanan berkalori tinggi. Perubahan gaya hidup ini menghasilkan
kemerataan obesitas yang tinggi yang sama pada orang dewasa dan anak-anak.

Kurangnya keberhasilan dalam memperlakukan obesitas tidak terkait dengan


ketidak tahuan akan implikasi obesitas; terdapat hubungan yang jelas dan diakui
antara mortalitas dan berat badan. Tingkat kematian karena diabetes mellitus,
sebagai contoh, hampir 4 kali lebih tinggi diantara orang-orang gemuk yang
mengalami diabetik ini dibandingkan diantara mereka yang mengontrol bobot
mereka. Tingkat kematian karena radang usus buntu adalah dua kali lipat, yang
barangkali karena komplikasi-komplikasi anestesi dan operasi. Bahkan tingkat
kecelakaan pun tinggi, yang mungkin karena orang-orang merasa kikuk atau
karena pandangan mereka ke tanah atau lantai terganggu. Nurses Health Studies
menaksir bahwa 23% dari seluruh kematian pada wanita-wanita usia menengah
yang tidak merokok disebabkan karena kelebihan berat badan.

Kejadian hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus tipe 2, asam urat, penyakit
kantung empedu dan sebagian besar kanker, termasuk kanker colorectal, kanker
endometrium, dan kanker payudara postmenopause, meningkat pada orang-orang
gemuk. Kelebihan berat badan pada remaja bahkan menjadi pemrediksi yang lebih
kuat pada efek-efek kesehatan kardiovaskular yang merugikan dibandingkan
kegemukan ketika dewasa.

3
Meningkatnya kelaziman obesitas dan akibat-akibatnya sekarang mengancam
menggantikan merokok sebagai penyebab utama mortalitas preventif. Wanita
berusia 40 tahun yang tidak merokok bisa diduga kehilangan 3.3 tahun
kehidupannya jika ia kelebihan berat badan (tidak gemuk, hanya kelebihan berat
badan). Jika gemuk, kehilangannya adalah 7,1 tahun, dan jika merokok
bertambah, kehilangannya adalah 13,3 tahun.

Ketika masalah-masalah pribadi dan sosial yang dihadapi oleh orang-orang gemuk
ini dipertimbangkan, tidak mengherankan bahwa seorang ahli klinis tanpa
masalah berat tidak bisa mengetahui mengapa orang-orang gemuk tetap kelebihan
berat badan. Frekuensi dimana praktisi menghadapi pasien gemuk yang berat
badannya tidak menurun meskipun diberlakukan diet kalori yang terbatas
membuat orang bertanya apakah ada sesuatu yang berbeda secara fisiologis pada
pasien ini. Apakah masalah tersebut ada dikarenakan kurangnya disiplin dan
mengabaikan diet, atau apakah juga melibatkan faktor patofisiologi? Apakah
fisiologi orang-orang gemuk tidak biasa, atau mereka hanya sekedar rakus? Studi
modern tentang obesitas secara kuat menunjukkan bahwa ini merupakan masalah
multifaktorial, dan bahwa kurangnya kekuatan keinginan dan kemalasan bukan
jawaban-jawaban sederhananya.

Definisi Obesitas

Obesitas adalah penyimpanan trigliserida yang berlebihan dalam sel-sel adiposa.


Terdapat perbedaan antara obesitas dan kelebihan berat badan. Obesitas
merupakan kelebihan lemak tubuh. Kelebihan berat adalah berat badan yang
melebihi standar tertentu atau berat ideal. Berat ideal untuk orang dewasa diyakini
berhubungan dengan berat idealnya dari usia 20 sampai 30. Rumus berikut
memberi bobot ideal dalam ukuran pon:

Wanita: 100 + (4 x tinggi dalam satuan inchi dikurangi 60))


Laki-laki: 120 + (4 x (tinggi dalam satuan inchi dikurangi 60))

4
Pada bobot yang mendekati bobot ideal, orang bisa jadi kelebihan berat, tetapi
tidak kelebihan lemak. Hal ini khususnya benar pada orang-orang yang
melakukan olahraga teratur. Taksiran lemak tubuh, oleh karena itu, lebih
bermakna dibandingkan pengukuran tinggi dan berat.

Metode paling akurat menentukan lemak tubuh adalah menentukan kepadatan


tubuh dengan pengukuran dalam air (hidrodensitometri). Tentu saja tidak praktis
mengukur kepadatan dengan mencelupkan orang dalam air di kantor-kantor kita;
oleh karena itu pengukuran-pengukuran lapisan kulit dengan caliper menjadi
populer sebagai indeks lemak tubuh, atau teknik-teknik imaging yang mahal bisa
digunakan. Metode terakhir ini tidak diperlukan untuk praktek klinis. Adalah jauh
lebih sederhana menggunakan nomogram indeks massa tubuh, satu metode yang
ditemukan sangat cocok dengan pengukuran densitometri.

Indeks massa tubuh (indeks Quetelet) adalah rasio berat dibagi dengan tinggi yang
dikuadratkan (dalam unit metrik):

BMI = kilogram/meter2

Menggunakan nomogram untuk indeks massa tubuh (BMI), baca skala sentral
dengan menyesuaikan sisi lurus antara tinggi dan berat badan. Indeks massa tubuh
sebesar 25 atau lebih memerlukan treatmen. Kelebihan berat didefinisikan sebagai
BMI sebesar 25 atau lebih (62% wanita Amerika). Obesitas didefinisikan sebagai
BMI 30 atau lebih (33% wanita Amerika). BMI yang bagus untuk sebagian
besar orang berada dalam kisaran 20 sampai 24. Mortalitas adalah minimal
meskipun masing meningkat pada indeks massa tubuh mendekati 22 dan terendah
pada wanita-wanita usia sedang dengan indeks massa tubuh dibawah 19. BMI
dalam kisaran kelebihan berat atau gemuk memprediksi resiko yang meningkat
akan kematian awal, berapapun usia pasien.

Kelebihan berat: BMI = 25-29.9

5
Obesitas: BMI = 30 atau lebih tinggi

Seseorang adalah gemuk ketika jumlah jaringan adiposa cukup tinggi (20% atau
lebih dibandingkan berat ideal) untuk mengubah secara detrimental fungsi-fungsi
biokimia dan fisiologis dan memperpendek harapan hidup. Obesitas terkait
dengan empat faktor resiko utama untuk aterosklerosis: hipertensi, diabetes,
hiperkolesterolemia, dan hipertrigliseridemia. Orang-orang yang kelebihan berat
memiliki kelaziman yang tinggi akan hipertensi pada usia manapun, dan resiko
mengalami hipertensi terkait dengan jumlah kenaikan berat badan setelah usia 25.
Keduanya bersama-sama (hipertensi dan obesitas) meningkatkan resiko penyakit
jantung, penyakit cerebrovascular, dan kematian. Nurses Health Studies
membuktikan kebenaran korelasi yang terus menerus antara indeks massa tubuh
dengan penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kanker. Dengan kata lain, bahkan
kenaikan berat paling ringan pun pada berat orang dewasa, bahkan dalam kisaran
yang tidak dianggap kelebihan berat, meningkatkan resiko kardiovaskular dan
penyakit metabolis. Akan tetapi, pada level BMI tertentu, adanya peningkatan
lemak abdominal, faktor-faktor resiko metabolis, atau sejarah keluarga yang kuat
tentang diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung meningkatkan resiko pada
kesehatan yang baik.

Dibuktikan kebenarannya dengan baik bahwa wanita memiliki kelaziman yang


lebih besar akan obesitas dibandingkan laki-laki. Salah satu alasannya adalah
fakta bahwa wanita memiliki tingkat metabolis yang lebih rendah dibandingkan
laki-laki, bahkan ketika disesuaikan dengan perbedaan-perbedaan dalam
komposisi tubuh dan level aktivitas. Alasan lainnya adalah bahwa lebih banyak
wanita yang bertambah berat badannya seiring dengan usia adalah hilangnya
postmenopuse pada peningkatan level metabolis yang terkait dengan fase luteal
siklus menstruasi. Perbedaan antara laki-laki dan wanita bahkan lebih besar pada
usia tua.

6
Sayangnya, tingkat metabolisme basal menurun seiring dengan usia. Setelah usia
18, tingkat metabolis yang tersisa menurun sekitar 2% per dekade. Penurunan
tingkat metabolis basal yang terkait dengan usia I ni tidak tampak pada wanita
yang terus terlibat dalam program olahraga teratur yang bertahan lama. Seorang
yang berusia 30 tahun tidak terelakkan lagi akan bertambah berat badannya jika
tidak ada perubahan pada pemasukan kalori dan level olahraga selama bertahun-
tahun. Penyebaran usia sedang merupakan fenomena biologi dan psikologi. Oleh
karena itu, adalah penting bagi pasien kita maupun kita sendiri untuk memahami
jaringan adiposa dan masalah obesitas.

Fisiologi Jaringan Adiposa

Jaringan adiposa melakukan tiga fungsi umum:


1. Jaringan adiposa merupakan gudang energi.
2. Lemak berfungsi sebagai pelindung dari trauma.
3. Jaringan adiposa berperan dalam pengaturan panas tubuh.

Tiap-tiap sel jaringan adiposa bisa dianggap sebagai satu paket trigliserid, bentuk
yang paling terkonsentrasi dari energi yang disimpan. Ada 8 kalori per gram
trigliserid dibandingkan dengan 1 kalori per gram glysogen. Total simpanan
jaringan dan karbohidrat cair pada orang dewasa (sekitar 300 kalori) adalah tidak
memadai untuk memenuhi tuntutan diantara makan. Penyimpanan energi dalam
jaringan lemak memungkinkan kita melakukan hal-hal lain selain makan. Oleh
karena itu, keseimbangan energi kita pada dasarnya sama dengan keseimbangan
lemak kita. Dengan demikian, obesitas adalah akibat dari ketidak seimbangan
lemak dalam diet kalori tinggi.

Mekanisme untuk memobilisasikan energi melibatkan berbagai macam enzim dan


agen-agen neurohormonal. Menyusul pemasukan lemak dan perusakannya oleh

7
lipase gastrik dan pankreatik, penyerapan trigliserid rantai panjang dan asam
lemak bebas terjadi dalam perut kecil. Chylomicron (partikel-partikel lemak
mikroskopik) yang ditransfer melalui saluran-saluran limpa ke dalam sirkulasi
vena sistemik biasanya dibuang oleh sel-sel parenchymal hepatik dimaan
lipoprotein yang baru dibebaskan ke dalam sirkulasi tersebut. Ketika lipoprotein
ini terkena jaringan adiposa, lipolysis terjadi melalui tindakan lipase lipoprotein,
satu enzim yang dihasilkan dari sel-sel lemak itu sendiri. Asam lemak yang
dibebaskan kemudian memasuki sel-sel lemak dimana asam-asam lemak tersebut
direesterify dengan glycerophosphate ke dalam trigliserid. Karena alkohol
mengubah lemak dari oksidasi penyimpanan, berat tubuh berkorelasi langsung
dengan level pengkonsumsian alkohol.

Glukosa memiliki tiga fungsi penting:

1. Glukosa mensuplai atom-atom karbon dalam bentuk acetyl coenzyme A


(acetyl CoA).
2. Glukosa menyediakan hidrogen untuk tahap-tahap reduksi.
3. Glukosa adalah sumber utama glycerophophate.

Produksi dan ketersediaan glycerophosphate (yang diperlukan untuk reesterifikasi


asam lemak dan penyimpanannya sebagai trigliserid) dianggap tingkat yang
membatasi dalam lipogenesis, dan proses ini tergantung pada adanya glukosa.

Setelah esterifikasi, lipolysis berikutnya menghasilkan pelepasan asam lemak dan


glycerol. Dalam siklus lipolysis dan reesterifikasi, energi dibebaskan sebagai
panas. Level lipolysis variabel rendah terjadi secara terus menerus; fungsi
dasarnya memberi panas tubuh.

Produk metabolisme utama yang dihasilkan dari lemak adalah asam lemak bebas
yang beredar. Ketersediaan asam lemak tersebut dikontrol oleh sel-sel jaringan
adiposa. Ketika suplai karbohidrat rendah, sekelompok asam lemak bebas akan

8
dilepaskan. Asam lemak bebas dalam sirkulasi periferal hampir seluruhnya berasal
dari trigliserid endogenus yang mengalami hidrolysis cepat untuk menghasilkan
asam lemak bebas dan gliserol. Gliserol dikembalikan ke hati untuk
mensintesiskan kembali glisogen.

Pelepasan asam lemak bebas dari jaringan adiposa distimulasi oleh olahraga fisik,
puasa, pemaparan pada hawa dingin, ketegangan, dan kecemasan. Pelepasan asam
lemak oleh lipolisis berbeda-beda dari satu tempat anatomik ke tempat anatomik
lainnya. Lemak omental, mesenterik, dan subcutaneous adalah lebih labil dan
mudah dimobilisasikan dibandingkan lemak dari sumber-sumber lain. Area-area
dimana energi tidak mudah dimobilisasikan adalah lemak retrobulbar dan
perirenal dimana jaringan memiliki fungsi struktural. Lipase jaringan adiposa
peka terhadap stimuli oleh epinephrine maupun norepinephrine. Hormon-hormon
lain yang mengaktifkan lipase adalah hormon adrenocorticotropik (ACTH),
thyroid-stimulating hormon (TSH), hormon pertumbuhan, thyroxine (T4), 3,5,3-
triiodothyronine, cortisol, glukagon, serta vasopressin dan human placental
lactogen (hPL).

Aktivitas enzim lipase dihambat oleh insulin, yang tampaknya satu-satunya


sebagai antagonis fisiologi utama pada serangkaian agen penstimuli. Ketika
glukosa maupun insulin berlimpah, pengangkutan glukosa ke dalam sel-sel lemak
adalah tinggi, dan produksi glycerophosphate meningkat untuk mengesterifikasi
asam lemak.

Komposisi lemak dan karbohidrat pada suplai bahan bakar terus menerus berubah,
tergantung pada tekanan dan permintaan. Karena sistem syarat pusat dan beberapa
jaringan lainnya bisa menggunakan glukosa saja untuk energi, mekanisme
homeostatik untuk mengubah karbohidrat adalah penting. Ketika glukosa
berlimpah dan mudah tersedia, glukosa ini digunakan dalam jaringan adiposa
untuk menghasilkan glycerophosphate untuk mengimobilisasikan asam lemak

9
sebagai trigliserid. Level sirkulasi asam lemak bebas dalam otot, oleh karena itu,
adalah rendah, dan glukosa digunakan oleh semua jaringan.

Ketika karbohidrat jarang, jumlah glukosa yang mencapai sel-sel lemak menurun,
dan produksi glycerophosphate menurun. Sel lemak membebaskan asam lemak,
dan level sirkulasi mereka meningkat hingga poin dimana glysolysis terhambat.
Dengan demikian, karbohidrat dihindarkan dalam jaringan-jaringan yang mampu
menggunakan substrat lipid. Jika kenaikan asam lemak cukup besar, hati dibanjiri
dengan acetyl CoA. Acetyl CoA ini diubah ke dalam tubuh-tubuh ketone, dan
muncul ketosis klinis.

Dalam istilah sederhanaya, ketika orang makan, glukosa tersedia, insulin


dikeluarkan, dan lemak disimpan. Pada kondisi lapar, level glukosa turun,
pengeluaran insulin menurun, dn lemak dimobilisasikan.

Jika hanya makanan-makanan tunggal besar saja yang dikonsumsi, tubuh belajar
mengubah karbohidrat menjadi lemak dengan sangat cepat. Studi-studi
epidemiologi pada anak-anak sekolah menunjukkan korelasi yang positif antara
makanan-makanan yang lebih sedikit dengan kecenderungan yang lebih besar
pada obesitas. Orang yang tidak makan sama sekali sepanjang hari dan kemudian
makan di malam hari barangkali melakukan hal terburuk yang mungkin.

Obesitas klinis

Leptin dan Ob Gene (Lep Gene pada Manusia)

Lokasi pusat nafsu makan hipotalami didirikan pada tahun pada 1940 dengan
penunjukkan bahwa bilateral lesion pada ventromedial nucleos menghasilkan
obesitas eksperimental pada tikus. Menariknya, pola ini sama dengan yang dilihat
pada manusia tekanan untuk makan diperkuat oleh keinginan untuk tidak aktif
secara fisik. Ventromedial nucleus dianggap merepresentasikan pusat

10
pengintegrasi untuk informasi nafsu makan dan kelaparan. Perusakan
ventromedial nucleus diyakini mengakibatkan hilangnya tanda-tanda kenyang,
yang mengarah pada hiperphagia. Akan tetapi, kelebihan makan dan obesitas tidak
terkait dengan kerusakan ventromedial nucleus tetapi lebih karena kerusakan
ikatan ventral noradrenergic di dekatnya. Terminal-terminal hipotalamik
noradrenergik dihasilkan dari serat-serat panjang yang naik dari tubuh-tubuh sel
hindbrain. Lesion ventromedial nucleus yang dihasilkan oleh arus radiofrekuensi
gagal menyebabkan obesitas. Lesion ini mengarah pada kelebihan makan dan
obesitas hanya ketika mereka meluas diluar ventromedial nucleus. Perusakan yang
selektif pada ikatan ventral noradrenergic mengakibatkan hyperphagia. Permulaan
hiperphagia yang tiba-tiba bisa disebabkan oleh hipotalamik lesion. Penyebab-
penyebab yang mungkin mencakup tumor, trauma, proses inflamasi, dan
aneurysm.

Tanda-tanda yang sampai pada pusat-pusat sistem syarat pusat (CNS) berasal dari
jaringan periferal. Opiates, bahan P, dan cholecystokinin memainkan peran dalam
meredakan rasa, penjaga makanan, sementara peptid yang dilepaskan dari perut
dan intestin bertindak sebagai tanda-tanda kenyang. Neuropeptid yang
menghambat nafsu makan mencakup hormon pembebas kortikotropin (CRH),
neurotensin, dan cyclo (HisPro), peptid yang dihasilkan oleh proteolysis hormon
pembebas tirotropin. Meskipun perhatian baru-baru ini difokuskan pada leptin dan
ob gene, ingatlah bahwa kontrol pemasukan makanan dan pengeluaran energi
sangat kompleks, dan tidak ada agen atau fungsi yang berfungsi secara terpisah.

Kata leptin berasal dari bahasa Yunani leptos, yang berarti tipis. Leptin adalah
peptid asam amino 167 yang dikeluarkan dalam jaringan adiposa, yang
bersikulasi dalam ikatan darah ke sekelompok protein, dan bertindak pada
neuron sistem syarat pusat yang mengatur perilaku makan dan keseimbangan
energi. Studi-studi pada tikus di tahun 1950-an menunjukkan adanya hormon
dalam jaringan adiposa yang mengatur berat tubuh melalui interaksi dengan
hipotalamus. Tetapi tidak sampai tahun 1994 ob gene diidentifikasi, gene yang

11
menyebabkan obesitas pada tikus. Pada manusia, gene ini dikenal sebagai Lep
gene.

Ada empat mutasi gen resesif yang diketahui pada tikus, dan satu dominan
(Ay/Ay). Tikus Fat/fat mengalami kegemukan dan tetapi peka insulin; mutasi
tersebut menurunkan karboksipeptidase E, satu enzim yang terlibat dalam
konversi prohormon menjadi hormon, contoh, proinsulin menjadi insulin. Biologi
tub belum diketahui.

Tikus Ob/ob dan db/db dideskripsikan lebih dari 30 tahun yang lalu. Mutasi ob/ob
muncul secara spontan pada koloni tikus Laboratorium Jackson pada tahun 1949.
Tikus ob/ob bersifat homozygous untuk mutasi gen pada kromosom 6, dan tikus
db/db, yang ditemukan pada tahun 1966, bersifat homozigus untuk mutasi gen db
pada kromosom 4. Tikus-tikus ini menjadi subjek lebih dari 1.000 publikasi.
Produk gen ob adalah leptin, dan pada manusia, gen Lep terletak di kromosom
7q31.3. Db merupakan gen diabetes, dan gen ini berada di gen reseptor leptin
tikus. Dengan demikian, tikus ob/ob gemuk karena tikus ini tidak memproduksi
leptin, dan tikus db gemuk karena tidak bisa merespon pada leptin, level leptinnya
sangat tinggi (mutasi mengubah reseptor leptin).

Reseptor Leptin

Reseptor leptin adalah milik keluarga reseptor sitokin. Ada dua bentuk utama,
bentuk pendek dan bentuk panjang, OB-RS dan OB-RL. Domain ekstraseluler
sangat luas dengan 816 asam amino. Domain intraselular bentuk pendek berisi 34
asam amino, dan dalam bentuk panjang, sekitar 303 asam amino. Bentuk pendek
memiliki banyak variasi, sedangkan bentuk panjang cenderung merupakan
reseptor penanda. Satu-satunya tempat dimana bentuk panjang ditunjukkan dalam
jumlah yang lebih besar dibandingkan bentuk pendek adalah dalam hipotalamus,
dalam nuclei arcuate, ventromedial, paraventricular, dan dorsomedial.

12
Level-level yang tinggi pada reseptor leptin bentuk pendek dalam choroid plexus
menunjukkan peran pengangkutan untuk bentuk pendek dari darah ke cairan
cerebrospinal untuk disebarkan ke otak. Akan tetapi, mekanisme pengangkutan
yang terpisah juga ditunjukkan untuk leptin.

Keluarga reseptor cytokine kelas I (dimana bentuk panjang termasuk didalamnya)


bertindak dengan protein yang mem-phosphorilata reseptor setelah pengikatan dan
protein-protein STAT yang diaktifkan setelah phosphorylasi, dan kemudian
memindah ke nukleus dan menstimulasi transkripsi gen. Reseptor bentuk panjang
bekerja melalui protein STAT, tetapi pukulan-pukulan gen yang khusus untuk
protein-protein STAT tidak gemuk, yang menunjukkan adanya jalan-jalan lain.
Mekanisme penanda ini adalah subjek studi-studi biologi molekular yang intens.

Gen db mengenkode reseptor leptin. Mutasi db mengubah bentuk panjang


menjadi bentuk pendek. Tikus db/db memiliki G tunggal untuk substitusi
nukleotid T dalam ujung terminal C yang tidak diwujudkan dari domain
intraselular pendek reseptor ob. Hal ini menghasilkan tempat sambungan baru
yang menciptakan exon abnormal yang disisipkan ke dalam messenger RNA
(mRNA) yang mengenkode domain intraselular panjang dari reseptor ob. Sebagai
akibatnya, mRNA bentuk panjang dalam tikus db/db mengenkode protein dengan
sebagian besar domain intraselular yang dipotong menjadi sama dengan bentuk
pendek reseptor ob. Mutasi fa/fa merupakan glutamin untuk substitusi proline
dalam domain ekstraselular, dan dibandingkan dengan tikus db/db, tikus fa/fa
akan merespon pada leptin, tetapi hanya jika dikirimkan ke otak.

Lompatan feedback fisiologi

13
Pengeluaran energi tersusun dari tingkat metabolis basal dan produksi panas yang
didorong oleh temperatur dan diet, dan energi yang diperlukan untuk aktivitas
fisik. Leptin mencakup hilangnya berat pada tikus terkait dengan menurunnya
nafsu makan dan konsumsi makanan dan peningkatan pada produksi panas dan
aktivitas. Leptin yang ditempatkan pada lateral ventricle otak binatang pengerat
menyebabkan hilangnya berat ini, yang terkait dengan penurunan pada
hipotalamik peptide, penunjukkan dan pengeluaran neuropeptid Y (NPY). NPY
merupakan polipeptid asam amino 36 yang merupakan stimulator makan yang
poten ketika disuntikkan langsung ke dalam otak binatang pengerat. NPY
memiliki tirosin di kedua ujungnya, dengan demikian penggunaan Y untuk
menyingkat tirosin. NPY menstimulasi pemasukan makanan, menurunkan
produksi panas, dan meningkatkan insulin dan pengeluaran kortisol.

Pada binatang pengerat, insulin meningkatkan penunjukkan gen ob, tetapi terdapat
kontroversi pada manusia. Pada manusia, tidak terdapat leptin yang berlimpah
setelah makan, dan pemberian insulin yang akut tidak menstimulasi peningkatan
level leptin. Akan tetapi, peningkatan pada penunjukkan gen ob terjadi pada
manusia dengan stimulasi insulin kronis, satu situasi yang sama dengan kelebihan
makan. Selain itu, setidaknya satu studi menemukan peningkatan akut pada level
leptin menyusul penginduksian hiperinsulinemia (tetapi hanya pada wanita, tidak
pada laki-laki). Cenderung bahwa insulin setidaknya merupakan satu pengatur gen
ob dan pengeluaran leptinnya. Dengan demikian, inilah lompatan feedback
fisiologi untuk mempertahankan berat dan energi.

Binatang pengerat Ay/Ay menjadi gemuk di akhir hidupnya. Gen Agouti


mengenkode protein yang dihasilkan oleh kantung rambut. Protein ini mengikat
reseptor melanocertin pada melanocyte dalam kulit, sehingga mencegah tindakan
hormon penstimulasi melanocyte. Tikus Agouti memiliki level yang tinggi pada
protein ini dan memiliki bulu kuning bukannya hitam. Melanocortin ditunjukkan
dalam hipotalamus, yang dihasilkan dalam nucleus arcuate. Pengikatan
melanocortin dalam reseptor otak mempengaruhi nafsu makan. Tikus-tikus

14
pukulan untuk reseptor melanocortin menjadi gemuk, dan tikus-tikus ini memiliki
penunjukkan NPY yang tinggi. Binatang pengerat Ay/Ay membuat kelebihan
protein Agouti, yang menghambat tindakan melanorcortin. Dengan demikian,
terlalu sedikit melanocortin bisa menjadi jalan lain bagi obesitas. Pentingnya jalan
ini terbukti dalam laporan mutasi dalam gen proopiomelanocortin (POMC) yang
dicirikan oleh kekurangan-kekurangan pada hormon penstimulasi melanocyte
(MSH) maupun ACTH, yang menghasilkan individu-individu dengan obesitas,
ketidak cukupan adrenal, dan pigmentasi rambut merah. Penemuan-penemuan ini
memuncak dalam pengakuan bahwa mutasi-mutasi pada gen reseptor
melanocortin untuk sebagian besar penyebab obesitas manusia familial yang bisa
disebabkan oleh gen tunggal.

Puasa dan olahraga menurunkan pengeluaran leptin dan meningkatkan


penunjukkan gen NPY dalam arcuate nucleus, yang disusul dengan pelepasan
NPY oleh proyeksi-proyeksi neuronal ke dalam paraventricular nucleus. Neuron-
neuron yang berhubungan dengan NPY berasal dari arcuate nucleus dan
memproyeksikan ke dalam nuclei paraventricular dan dorsomedial. Nucleus
arcuate berada diluar penghambat darah-otak (tidak terdapat penghalang darah-
otak pada hipotalamus basal medial) dan bisa dicapai oleh leptin dalam sirkulasi.
Neuron-neuron NPY menstimulasi pemasukan makanan dan menghambat
produksi panas dengan menghambat aktivitas syaraf simpatetik. Pada tikus ob/ob
tanpa leptin, level-level NPY tinggi pada hipotalamus, dan treatmen leptin
menurunkan LPY dan menyimpan kembali segala sesuatunya menjadi normal.

Pada binatang pengerat, pembatasan kalori meningkatkan penunjukkan NPY pada


arcuate nucleus dan pelepasan NPY dalam paraventricular nucleus. Leptia dan
insulin menurun selama puasa, yang memungkinkan peningkatan pada
penunjukkan gen NPY. Karena peningkatan pada metabolisme tidak diinginkan
selama puasa, CRH menurun; akan tetapi, terdapat peningkatan pada kortisol yang
merupakan akibat dari sinyal hipotalami yang diinduksi oleh NPY, tetapi belum
diidentifikasi. Puasa menurunkan leptin lebih besar dari yang diduga dengan

15
menurunnya kandungan lemak, yang menunjukkan adanya mekanisme kontrol
yang lain.

Pada tikus normal, leptin menurunkan NPY. Pada sebagian besar model binatang,
kandungan NPY dalam hipotalamus adalah tinggi dengan adanya obesitas, dan
infusi otak NPY menyebabkan obesitas dan meningkatan penunjukkan gen ob.
Tikus-tikus pukulan yang kekurangan NPY mempertahankan bobot normal dan
merespon pada leptin, yang menunjukkan bahwa NPY merupakan bagian dari
sistem berlebihan, bukan syarat absolut.

Pada manusia, gen ob, yang dikenal dengan gen Lepe, tidak tampak diatur secara
akut. Makan meningkatkan level leptin, tetapi perlahan-lahan, berkorelasi dengan
level insulin. Insulin memberi feedback negatif pada otak dengan cara yang sama
seperti leptin, yang mencakup efek pada NPY. Hiperphagia diabetes mellitus
mencerminkan kurangnya tindakan insulin ini. Pada tikus fa/fa (gemuk karena
mutasi pada reseptor leptin) insulin tidak mempengaruhi penunjukkan Y
neuropeptid, yang menunjukkan bahwa penghambatan NPY yang dilakukan oleh
insulin diredakan melalui sistem penanda leptin.

CRH menghambat pemasukan makanan dan meningkatkan pengeluaran energi;


sehingga, diduga bahwa hilangnya bobot akan menurun. Selain itu, leptin
menstimulasi penunjukkan gen CRH (melalui NPY, POMC, dan jalan reseptor
melanocortin). Dan memang, pengeluaran CRH tidak meningkat setelah
kehilangan bobot yang akut. Akan tetapi, sangat diakui bahwa pengeluaran
cortisol meningkat seiring dengan stress dan olahraga. Hal ini mungkin terkait
dengan efek hipotalami NPY pada pengeluaran ACTH oleh kelenjar di bawah
otak. Makanan tertentu dan respon energi yang terkait dengan CRH juga
diredakan oleh urocortin, peptid yang terkait dengan CRH. Urocortin sangat poten
dalam mengurangi pemasukan makanan, yang barangkali mengaktifkan sistem
energi tanpa mengaktifkan mekanisme CRH keseluruhan.

16
Ghrelin
Ghrelin merupakan hormon kompleks, yang dinamai karena kemampuannya
menstimulasi pelepasan hormon pertumbuhan. Ghrelin berpartisipasi dalam
pengaturan pemasukan makanan dan metabolisme energi, tetapi juga
mempengaruhi tidur dan perilaku, dan peran-peran gonadal dan placentalnya
masih ditentukan. Ghrelin mempengaruhi spektrum aktivitas yang luas, termasuk
motilitas lambung dan pengeluaran asam, aktivitas pankreas, dan pengeluaran
hormon pertumbuhan, prolaktin, ACTH, dan gonadotropin.

Ghrelin adalah peptid asam amino 28 yang ditemukan pada tahun 1999 yang
dikeluarkan terutama di bagian atas perut, tetapi juga pada jaringan-jaringan
lainnya, termasuk intestin, kelenjar bawah otak, hipotalamus, ginjal, rahim, testis,
dan plasenta. Ghrelin yang beredar dalam darah terutama berasal dari perut dan
intestine, dan sasarannya adalah pusat-pusat pengatur energi di hipotalamus.
Diberikan pada binatang pengerat, ghrelin secara akut meningkatkan pemasukan
makanan dan menyebabkan obesitas. Tindakan-tindakan ghrelin ini tidak
tergantung pada aktivitasnya dalam menstimulasi pengeluaran hormon
pertumbuhan, satu tindakan yang barangkali diredakan oleh reseptor-reseptor
ghrelin yang berbeda-beda. Neuron-neuron sasaran berada dalam jaringan yang
sama yang dipengaruhi oleh leptin (terutama jalan NPY), dengan ghrelin dan
leptin yang memiliki tindakan-tindakan berlawanan. Hormon perut lainnya, PYY,
bertindak dengan cara yang sama seperti leptin, yang mengurangi pemasukan
makanan dengan memodifikasi sistem NPY; hal ini membuat ghrelin menjadi
satu-satunya hormon yang dikenal menstimulasi pemasukan makanan.

Level sirkulasi ghrelin lebih rendah pada individu-individu yang gemuk, menurun
seiring dengan pemasukan makanan, dan meningkat seiring dengan puasa.
Dengan demikian level-level ghrelin adalah lebih tinggi pada individu-individu
yang mengalami anorexia, bulimia, atau cachexia. Perubahan-perubahan ini
berlawanan dengan perubahan-perubahan leptin. Ghrelin merupakan tanda untuk
menghemat energi dengan meningkatkan nafsu makan; leptin (dan insulin)

17
merupakan tanda untuk mengeluarkan enregi. Pengatur utama dalam respon-
respon ini adalah level glukosa yang beredar, tetapi dalam hal ghrelin, sistem
tersebut dipengaruhi oleh makanan sedangkan leptin dimodulasikan oleh massa l
emak. Hubungan antara reproduksi dan kondisi metabolisme energi tubuh
ditetapkan dengan baik sekarang ini, dan sistem leptin-ghrelin yang kompleks
merupakan alat komunikasi.

Leptin pada Orang-orang Gemuk

Kebanyakan studi menunjukkan bahwa hampir seluruh orang-orang yang gemuk


meningkat level leptinnya, yang barangkali terkait dengan peningkatan pada
penunjukkan gen Lep dan sebagian karena produksi yang elbih besar karena sel-
sel lemak yang lebih besar. Bobot yang lebih besar dari individu-individu ini
merepresentasikan level leptin dimana dicapai stabilitas, ketika perlawanan leptin
diatasi. Pada individu-individu yang kurus, level leptin sama pada wanita dan
laki-laki, tetapi pada wanita, ketika bobot naik, leptin naik 3 kali lebih cepat
dibandingkan laki-laki. Level-level yang lebih tinggi pada wanita menunjukkan
perlawanan yang lebih besar pada leptin, yang berkorelasi dengan kelaziman
obesitas yang lebih besar pada wanita.

Kejadian obesitas pada wanita-wanita kulit hitam lebih besar dibandingkan pada
wanita-wanita kulit putih. Wanita-wanita kulit hitam postmenopause yang gemuk
ini memiliki level leptin 20% lebih rendah dibandingkan wanita-wanita kulit
putih. Level leptin yang lebih rendah ini berkorelasi dengan tingkat metabilisme
yang lebih rendah pada wanita-wanita kulit hitam. Level rendah menunjukkan
kepekaan yang lebih besar pada mekanisme leptin pada wanita-wanita kulit hitam.

Pada individu-individu yang gemuk, sel-sel lemak menghasilkan leptin secara


normal dan kegagalan genetik yang lazim tidak diidentifikasi. Dengan demikian
dihipotesiskan bahwa obesitas terkait dengan perlawanan terhadap leptin. Hal
ini mungkin disebabkan oleh transpot leptin ke otak, yang diindikasikan oleh

18
adanya temuan perbedaan level leptin pada cairan cerebrospinal antara seseorang
yang kegemukan dengan orang yang kurus lebih tinggi. Setidaknya pada tikus,
resistensi ini ditemukan pada perifer saat otak masih bekerja.
Hanya sedikit orang yang berharap untuk memiliki mutasi pada reseptor leptin
dan menjadi sulit untuk mendapatkan terapi agonist leptin. Diet pada orang
kegemukan pada tikus merespon terapi leptin dan diharapkan dapat diterapkan
juga pada manusia. Bagaimanapun, secara genetik pada hewan nrmal terapi leptin
tidak selalu dapat menurunkan berat badan dengan menurunkan asupan makanan.
Pertanyaan yang penting adalah pada perubahan jarak fisiologis leptin
Pada seseorang yang kegemukan, kebanyakan leptin tidak berikatan dan
diperkirakan aktif, sesuai dengan hipotesis resisten. Pada orang kurus, mayoritas
sirkulasi leptin berikatan. Hal penting lain untuk penelitian adalah regulasi ikatan
leptin di sirkulasi.

Mengapa Penurunan Berat Badan Sulit Dipertahankan?


Rata-rata orang dewasa makan sekitar 1 juta kalori per tahun. Ketika hidup lebih
keras, leptin disediakan untuk tujuan mengatasi kelaparan. Selama periode
ketersediaan makanan, seseorang dengan defek leptin dapat mengonsumsi dalam
jumlah yang banyak dan menyimpan lemak yang berlebih. Saat ini, dengan tidak
adanya kekurangan makanan, individu ini akan bertahan selama kekurangan
makan di masa lalu dan menjadi kegemukan, dan mengalah untuk menjadi
komplikasi dari kegemukan. Namun masalah yang cukup memberatkan adalah
90%-95% orang dengan penurunan berat badan akan mengalami kenaikan.
Penurunan berat badan pada orang kegemukan dan orang kurus menghasilkan
respon yang sama, menurunkan leptin dan insulin, serta meningkatkan ghrelin.
Orang yang kegemukan cenderung kembali naik berat badannya karena kadar
leptin yang lebih rendah mulai dari set poin yang rendah dan sekarang lebih
rendah dari penampakan dari luar dan diutuhkan untuk menstabilkan jumlah
lemak. Respon ghrelin juga membuat sulit menurunkan berat badan karena
menstimulasi nafsu makan. Ketika pengeluaran energi, asupan makanan dan berat
badan seimbang, leptin dan ghrelin ada pada level yang konsisten dengan set poin

19
yang ditentukan oleh keseimbangan itu. Dengan mengurangi berat badan dan
mengurangi jumlah lemak, leptin menurun dan ghrelin meningkat, menyebabkan
peningkatan nafsu makan dan menurunkan energi.

ketika anda kehilangan berat karena sakit, tetapi tidak baik untuk orang-orang
kelebihan berat yang mencoba menurunkan berat badan. Kapanpun terjadi
gangguan, level leptin dan ghrelin berubah untuk memulihkan status quo yang
asli, yang mempersulit orang-orang dengan kelebihan berat untuk melakukan
penurunan berat badan.

Level-level leptin yang beredar berkorelasi dengan persen lemak tubuh. Dengan
kata lain, meningkatnya lemak tubuh meningkatkan penunjukkan gen Lepe pada
sel-sel lemak. Dengan demikian, jumlah leptin dalam sirkulasi merupakan
pengukur jumlah jaringan adiposa dalam tubuh. Karena alasan ini, baik level
dasar maupun perubahan awal pada leptin tidak memprediksi apakah penurunan
berat bisa dipertahankan.

Penurunan 10% pada berat tubuh terkait dengan 53% penurunan pada serum
leptin. Hal ini akan menstimulasi usaha untuk mendapatkan kembali berat.
Pertanyaan kuncinya adalah bagaimana jika individu bisa berhasil
mempertahankan bobot rendah. Dalam studi longitudinal pada orang-orang
gemuk, ketika penurunan bobot dipertahankan, level leptin tetap rendah.

Oleh karena itu, kapanpun terjadi gangguan, level leptin dan ghrelin berubah
untuk memulihkan status quo asli. Dengan demikian, respon-respon ini bekerja
melawan usaha-usaha mengurangi bobot. Perubahan pada pemasukan energi
menyebabkan perubahan pada level leptin. Tubuh kemudian mengubah nafsu
makan dan pengeluaran energi untuk menyesuaikan dengan level leptin yang baru.
Peningkatan 10% pada berat tubuh terkait dengan peningkatan 300% pada serum
leptin. Tujuan dasarnya adalah menghemat energi selama periode-periode puasa
dan menghindari obesitas selama periode-periode kelebihan. Keitka pemasukan

20
kalori berkurang, tingkat metabolis basal berkurang dalam adaptasi kompensatori
pengatur yang membuat pemertahanan bobot tubuh sulit.

Kekurangan Leptin Bawaan

Gen Le (gen ob pada tikus) yang dirangkaikan dari ratusan individu yang gemuk
dan mutasi jarang terjadi. Mutasi pada reseptor leptin tidak terdeteksi pada orang-
orang gemuk.

Demonstrasi definitif pertama dari kekurangan leptin bawaan pada manusia


dilaporkan pada dua anak Pakistan yang sangat gemuk yang merupakan saudara
sepupu. Meski dengan massa lemak mereka, level serum leptin mereka sangat
rendah, dan studi biologi molekular pada biopsi lemak menunjukkan penghapusan
homozigus pada guanine tunggal dalam gen leptin. Mutasi ini menghasilkan
pengenalan asam amino aberran 14 ke dalam peptid leptin yang disusul dengan
pemotongan prematur. Empat orang tua seluruhnya adalah heterozigot. Anak-anak
ini memiliki bobot lahir normal, tetapi dengan cepat bertambah berat badannya
secara berlebihan dengan meningkatnya nafsu makan. Dibandingkan dengan tikus
ob/ob, mereka tidak memiliki level-level cortisol yang meningkat; akan tetapi
mereka adalah hiperinsulinemik. Tiga anggota keluarga Turki yang gemuk
dilaprokan dengan substitusi asam amino yang mengganggu pengangkutan leptin
intraselular. Adalah penting untuk dicatat bahwa individu-individu ini juga
menunjukkan supresi fungsi gonadal.

Individu yang gemuk dilaporkan dengan mutasi pada convertase prohormon (satu
hormon yang berpartisipasi dalam konversi prohormon menjadi hormon serpti
pada enzim E karbosipeptidas yang kurang pada tikus fat/fat). Akan tetapi, mutasi
gen tunggal yang mengakibatkan obesitas barangkali ditemukan hanya pada
individu-individu seperti individu-individu dengan obesitas yang sangat parah ini.
Meski demikian, hubungan dengan obesitas telah dideskrispikan ke daerah-daerah

21
di dekat gen leptin atau gen reseptor leptin, yang barangkali menunjukkan
perbedaan pada elemen-elemen pengatur gen-gen ini.

Diduga bahwa hanya sebagian kecil dari manusia-manusia gemuk mengalami


mutasi dalam reseptor leptin atau gen Lep.

Leptin dan Reproduksi

Beberapa pengamatan mendukung peran leptin dalam fisiologi reproduksi.

1. Pemberian leptin mempercepat permulaan pubertas pada binatang


pengerat.
2. Level Leptin meningkat pada masa pubertas pada anak laki-laki. Memang,
level-level leptin pada malam hari meningkat pada monyet-monyet
sebelum peningkatan malam hari pada pengeluaran LH pulsatil
3. Level leptin yang rendah terdapat pada atlet-atlet dan pasien dengan
anorexia dan pubertas yang terhambat.
4. Tikus ob/ob mengalami perkembangan seksual normal, tetapi tetap
prepubertal dan tidak pernah berovulasi; kesuburan dipulihkan dengan
pemberian leptin. Presentasi dan respon yang sama dilaporkan pada anak
dengan kekurangan leptin bawaan.

Level-level leptin adalah lebih besar pada wanita dibandingkan pada laki-laki, dan
pada wanita-wanita premenopause dibandingkan dengan wanita-wanita
postmenopause. Pada gadis remaja, level leptin lebih tinggi dengan menurun
dengan meningkatnya tahap-tahap Tanner pubertas. Dengan demikian dengan
pubertas, terdapat peningkatan kepekaan pada leptin. Atau dengan cara lain
melihat hubungan ini, menurunnya leptin selama pubertas memungkinkan
pemasukan makanan yang lebih besar untuk pertumbuhan dengan menurunkan
tanda kenyang.

22

Cerita leptin memperbaiki kredibilitas pada hipotesis bobot yang penting yang
pada awalnya diusulkan oleh Rose Frisch pada tahun 1970an. Hipotesis bobot
yang penting menyatakan bahwa permulaan dan regularitas fungsi menstruasi
memerlukan pemertahanan bobot di atas level yang menentukan, dan dengan
demikian, di atas jumlah lemak tubuh yang menentukan. Selalu merupakan satu
misteri mengapa total lemak tubuh bisa berbicara dengan otak. Misteri tersebut
tidak ada lagi! Lemak berbicara dengan otak melalui leptin, dan sistem leptin
mempengaruhi reproduksi.

Namun demikian, terdapat perbedaan antara penurunan berat biasa dengan


penurunan berat yang didorong oleh tekanan (contoh, olahraga atau masalah
psikologis seperti anorexia). Pada penurunan berat badan biasa, pengeluaran
hormon pembebas corticotropin (CHR) berkurang, dan hipercortisolisme diyakini
diredakan melalui tanda-tanda NPY dalam hipotalamus. Pada penurunan berat
yang didorong oleh tekanan, sekresi/pengeluaran CRH meningkat.

CRH secara langsung menghambat pengeluaran hormon pembebas gonadotropin


(GnRH), yang barangkali dengan menambah pengeluaran endogenus opioid.
Wanita dengan hipotalamik amenorrhea (termasuk olahragawati dan wanita
dengan gangguan makan) menunjukkan hiperkortisolisme (terkait dengan
meningkatnya CRH dan ACTH, yang barangkali diperbesar oleh stimulasi NPY
pada pengeluaran ACTH), yang menunjukkan bahwa inilah jalan dimana tekanan
mengganggu proses reproduksi. Dalam hal reproduksi, jalan akhir adalah supresi
GnRH, satu respon pada berbagai input yang menunjukkan ketersediaan bahan
bakar metabolis. Presentasi klinis (fase luteal yang tidak memadai, anovulasi,
amenorrhea) tergantung pada tingkat supersi GnRH.

Hipotesis yang bersatu berfokus pada keseimbangan energi. Ketika energi yang
tersedia dialihkan secara berlebihan, seperti dalam olahraga, atau ketika tidak

23
memadai, seperti pada gangguan makan, reproduksi ditangguhkan untuk
mendukung metabolisme penting untuk kelangsungan hidup. Dengan demikian
reproduksi mungkin tidak secara langsung dipengaruhi oleh level lemak tubuh;
sebaliknya, lemak tubuh merupakan penanda kondisi energi metabolis, dan level
leptin yang sangat rendah pada pasien-pasien anorexia merupakan usaha yang
tepat untuk memulihkan nafsu makan, satu usaha yang gagal mengatasi
peningkatan pada CRH yang didorong oleh tekanan dan akibat-akibatnya. Hal ini
sesuai dengan penemuan bahwa NPY menstimulasi pengeluaran GnRH dan
meningkatkan respon gonadotropin pada GnRH pada binatang pengerat. Dari
sudut pandang teleologis, terdapat rasa pada hubungan ini; respon-respon yang
membantu tubuh menahan tekanan juga menghambat fungsi menstruasi karena
periode yang menekan bukan waktu yang ideal untuk reproduksi.

Rangkuman Leptin

Karena level leptin yang tinggi yang ada pada orang-orang yang kelebihan berat,
tujuan fungsi leptin terbatas pada efek di level rendah. Level leptin yang beredar
rendah berfungsi sebagai tanda bahwa cadangan lemak tidak memadai untuk
pertumbuhan dan reproduksi. Dengan demikian level rendah biasanya akan
mendorong hyperphagia, mengurangi pengeluaran energi, dan menekan sekresi
gonadotropin dan reproduksi. Level leptin yang tinggi dan daya tahan yang
tampak pada tindakan leptin yang terkait dengan berat tubuh yang berlebihan dan
lemak dengan demikian tidak akan mencerminkan daya tahan, teatpi kurangnya
efek fisiologis.

Meskipun mekanisme leptin-ghrelin menawarkan potensi akan treatmen-treatmen


baru untuk obesitas, mekanisme ini tidak semudah itu. Leptin, suatu polipeptid,
tidak bisa diberikan secara oral, dan terkait dengan level yang tinggi pada orang-
orang yang kelebihan berat, metode lain harus ditemukan untuk menyerangnya
kurangnya efek atau daya tahan yang tampak terhadap leptin. Dengan demikian,
tampak bahwa cacat genetik dalam gen Lepe adalah tidak umum; meski demikian,

24
untuk individu-individu yang terkena, agonis leptin bisa dijadikan terapi. Gormon
perut lainnya, yang dikenal dengan PYY, beredar dengan level rendah pada
individu-individu gemuk dan ketika diberikan secara intravenus, mengurangi
nafsu makan. Bahkan jika sistem yang kompleks ini menghasilkan treatmen-
treatmen baru, kita cenderung tidak akan mampu mengabaikan makan secara tepat
dan berolahraga secara memadai.

Aspek-aspek Obesitas yang turun temurun

Sel-sel lemak berkembang dari jaringan konektif di awal kehidupan fetal.


Pertanyaan pentingnya adalah apakah sel-sel lemak yang baru dihasilkan oleh
metaplasma pada orang dewasa, atau apakah individu mencapai total
keseimbangan selama periode hidup tertentu. Dengan kata lain, apakah lemak
yang berlebih disimpan dengan meningkatkan besar sel lemak, atau dengan
meningkatkan jumlah sel? Kemungkinannya muncul bahwa terdapat peningkatan
yang turun temurun dalam total jumlah sel lemak, yang hanya menunggu untuk
dikemas penuh pada lemak penyimpanan. Lebih lanjut, total jumlah sel lemak
tergantung pada kondisi nutrisi bayi selama periode neonatal dan barangkali juga
dalam rahim.

Studi-studi tentang lemak yang diperoleh pada operasi menunjukkan bahwa


volume sel lemak rata-rata meningkat 3 kali lipat pada orang-orang gemuk, tetapi
peningkatan jumlah sel lemak hanya tampak pada orang-orang yang terlalu
gemuk. Ketika pasien diet, sel-sel lemak menurun ukurannya tetapi tidak
jumlahnya. Obesitas hipersellular merupakan masalah yang lebih sulit diatasi,
karena orang tersebut berada dalam peningkatan sel lemak yang permanen.

Beberapa peneliti merasa bahwa pada periode tertentu dalam kehidupan


seseorang, jumlah yang tetap dari sel lemak diperoleh. Masa remaja, bayi, dan
kehidupan dalam kandungan tampaknya sangat menentukan. Premis ini tidak
begitu mapan, karena tidak ada cara tertentu untuk mengidentifikasi sel lemak

25
yang kosong, dan sel-sel lemak potensial tidak bisa diketahui. Meski demikian,
jenis obesitas hiperplastik (lebih banyak sel lemak) mungkin terkait dengan masa
anak-anak dan memiliki prognosis yang buruk; tipe hipertropik (sel lemak yang
diperluas) yang merespon terhadap diet terjadi pada orang dewasa.
Tentu saja tampaknya ada komponen genetik. Bobot anak-anak yang diadopsi di
Denmark berkorelasi dengan berat tubuh orang tua biologis mereka tetapi tidak
dengan orang tua adopsi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh genetik
bahkan lebih penting pada masa anak-anak dibandingkan faktor-faktor
lingkungan. Penelitian lain menunjukkan bahwa kejadian familial pada obesitas
bisa disebabkan sebagian karena menurunnya tingkat pengeluaran energi yang
terkait secara genetik. Dalam studi-studi pada anak kembar identik dan fraternal
yang dibesarkan secara terpisah, hampir 70% varians dalam indeks massa tubuh
bisa ditimbulkan oleh pengaruh genetik dan 30% sisanya pada efek-efek
lingkungan. Setelah usia 3 tahun, obesitas pada anak-anak memprediksi obesitas
pada masa dewasa, dan obsitas orang tua melipat gandakan resiko obesitas orang
dewasa pada anak-anak yang gemuk maupun yang tidak gemuk.

Beberapa peneliti mengatakan bahwa tiap-tiap individu memiliki poin yang


ditetapkan, satu level yang diatur oleh tanda antara sel lemak dan otak (sistem
leptin). Menurut argumen ini, orang-orang gemuk sebelumnya yang berhasil
menurunkan berat badan harus mempertahankan diri mereka sendiri pada kondisi
kelaparan (setidaknya sepanjang menyangkut sel lemak mereka).

Genetik dan biokimia menentang banyak orang gemuk. Sangat diakui bahwa
orang gemuk yang mengalami masalah panjang usia pasti memiliki gangguan,
satu gangguan yang tidak begitu dimengerti. Akan tetapi, bagi tiap-tiap individu,
sejauh mana predisposisi genetik ditunjukkan, tergantung pada pengaruh-
pengaruh lingkungan. Kelaziman obesitas berbanding terbalik dengan level
aktivitas fisik dan pendidikan dan berhubungan langsung dengan paritas. Dengan
demikian, faktor-faktor sosioekonomi dan perilaku merupakan determinan-

26
determinan penting berat tubuh, dan pasti tiap-tiap individu akan menunjukkan
dampak genetik dan lingkungan yang berbeda-beda.

Perubahan endokrin

Perubahan endokrin paling penting pada obesitas adalah peningaktan level insulin
darah basal. Level insulin yang beredar adalah sebanding dengan volume lemak
tubuh. Peningkatan pada lemak tubuh mengubah sekresi tubuh dan kepekaan
terhadap insulin, yang disebabkan karena insulin bertindak mengurangi
pemasukan makanan dengan menghambat penunjukkan neuropeptid Y serta
mempengaruhi agen-agen lain yang mempengaruh nafsu makan. Efek pada
neuropeptid Y diyakini diredakan melalui sistem penanda leptin.

Individu-individu yang kelebihan berat dicirikan oleh daya tahan insulin. Faktor
utama yang mempengaruhi daya tahan insulin adalah jumlah jaringan lemak
dalam tubuh, pemasukan kalori per hari, jumlah karbohidrat dalam diet, dan
jumlah olahraga sehari-hari. Setidaknya satu mekanisme daya tahan yang
meningkat pada insulin yang diamati dengan meningkatnya berat adalah
pengaturan turun reseptor-reseptor insulin yang dimunculkan oleh peningkatan
pada sekresi insulin. Peningkatan pada daya tahan insulin mempengaruhi
metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Level-level asam lemak bebas yang
beredar meningkat sebagai akibat dari supresi insulin yang tidak memadai dari sel
lemak. Daya tahan insulin mengakibatkan katabolisme trigliserid yang menurun,
yang menghasilkan penurunan pada HDL-kolesterol dan peningkatan pada LDL-
kolesterol. Tentu saja, hal ini merupakan mekanisme utama pengembangan
aterosklerosis. Hiperinsulinemia juga berhubungan langsung dengan hipertensi.
Hiperinsulinemia yang terkait dengan obesitas dapat dibalik dengan penurunan
berat. Peningkatan yang signifikan dicapai dengan penurunan berat yang sedang,
hanya 5-10% berat tubuh.

27
Sindrom metabolisme merupakan komplikasi serius dari berat tubuh yang
berlebihan; 60% dari laki-laki gemuk dan wanita gemuk mengalami sindrom
metabolis. Individu-individu yang mengalami sindrom metabolis memiliki resiko
diabetes yang sangat tinggi dan penyakit kardiovaskular. Selain daya tahan insulin
dan obesitas; sindrom metabolis mencakup tiga atau lebih karaktersitik-
karakteristik klinis berikut:

Hipertensi - 130/85 atau lebih


Level trigliserid - 150 mg/dL atau lebih
Level HDL-kolesterol - kurang dari 50 mg/dL
Obesitas abdominal - lebih besar dari 35 inchi lingkar pinggang (40
inchi pada laki-laki)
Glukosa puasa - 110 mg/dL atau lebih

Karena variabilitas yang terkait dengan pengukuran-pengukuran insulin, rasio


glukosa puasa terhadap insulin puasa tidak lagi direkomendasikan menetapkan
adanya daya tahan insulin; tes toleransi glukosa oral 2 jam sekarang merupakan
metode penilaian yang lebih disukai, dengan pengukuran level glukosa dan
insulin 2 jam setelah muatan glokosa 75g.

Interpretasi respon glukosa 2 jam:


Normal kurang dari 140 mg/dL
Terganggu 140-199 mg/dL
Diabetes mellitus
yang pada noninsulin 200 mg/dL dan lebih

Interpretasi respon insulin 2 jam:


Daya tahan insulin sangat cenderung 100-150 U/mL
Daya tahan insulin 151-300 U/mL
Daya insulin parah lebih dari 300 U/mL

28
Adalah tidak mungkin memprediksi siapa yang benar-benar pada akhirnya akan
menderita diabetes karena kecenderungannya bersifat resesif, dan diabetes ini
tidak akan berkembang di setiap generasi dalam suatu keluarga. Tetapi berat
badan merupakan peringatan yang bagus. Seiring dengan meningkatkan berat
badan, frekuensi kejadian diabetes meningkat. Baik diabetes gestasional maupun
diabetes yang tergantung pada insulin lebih banyak dijumpai pada pasien-pasien
hamil yang kelebihan berat.

Bertentangan dengan kesalah pahaman yang populer, hipotiroidisme tidak


menyebabkan obesitas. Pertambahan berat badan yang disebabkan oleh
hipotiroidisme dibatasi pada akumulasi cairan myxedema. Dengan demikian,
tidak ada tempat bagi pemberian hormon tiroid dalam treatmen obesitas ketika
pasien mengalami eutiroid.

Orang-orang gemuk relatif tidak mampu mengeluarkan garam maupun air,


khususnya ketika diet. Selama diet, hal ini tampaknya dikurangi oleh
meningkatnya output aldosterone dan vasopressin. Karena air yang dihasilkan dari
lemak melebihi lemak, orang-orang yang melakukan diet sering menunjukkan
sedikit penurunan berat badan di awal. Penggunaan awal diuretik mendorong
pasien untuk tetap melakukan diet.

Pertanyaan dasarnya adalah apakah perubahan-perubahan metabolis yang diamati


pada obesitas merepresentasikan respon-respon adaptif pada organ lemak yang
sangat diperluas atau apakah perubahan-perubahan tersebut merepresentasikan
kerusakan metabolis atau hormonal. Pernyataan pertama adalah benar. Perubahan-
perubahan ini merupakan respon sekunder; perubahan-perubahan tersebut bisa
dibalik secara total dengan penurunan berat. Tindak lanjut empat tahun pada
sekelompok pasien yang tidak mendapatkan kenaikan berat badan setelah diet
menunjukkan respon-respon insulin dan glukosa yang terus menerus normal;
pasien-pasien yang mengalami kenaikan berat badan menunjukkan memburuknya
faktor-faktor metabolis ini.

29
Obesitas anatomi

Obesitas gynoid (bentuk pir) mengacu pada distribusi lemak pada bagian tubuh
bawah (daerah-daerah tulang paha dan gluteal), sedangkan obesitas android (bentk
apel) mengacu pada distribusi tubuh sentral. Lemak gynoid lebih tahan terhadap
catecholamine dan lebih peka terhadap insulin dibandingkan lemak abdominal;
sehingga, ekstraksi dan penyimpanan asam lemak mudah terjadi, dan lemak
diakumulasi lebih cepat pada paha dan pantat. Lemak ini terkait dengan
peruabhan asam lemak minimal, dan dengan demikian, akibat-akibat negatif dari
metablisme asam lemak menjadi lebih kecil. Lemak gynoid terutama merupakan
lemak simpanan. Makna klinis dari semua ini adalah bahwa wanita dengan
obesitas gynoid cenderung tidak mengalami diabetes mellitus dan penyakit
jantung koroner dibandingkan wanita-wanita dengan obesitas android.

Selama kehamilan, aktivitas lipase lipoprotein meningkat dalam lemak gynoid,


yang lebih lanjut mendorong penyimpanan lemak dan menjelaskan
kecenderungan bagi wanita mengalami kenaikan berat badan pada paha dan
panggul selama kehamilan. Demikian pula, karena lemak ini lebih tahan terhadap
mobilisasi, adalah lebih sulit untuk terbebas darinya. Kesulitan ini terkait dengan
konsentrasi reseptor adrenergis dalam sel-sel lemak, satu peraturan yang masih
merupakan misteri.

Obesitas android mengacu pada lemak yang berada di dinding perut dan lokasi-
lokasi visceral-mesentric. Lemak ini lebih peka terhadap catecholamine dan tidak
begitu peka terhadap insulin, dan dengan demikian, lebih aktif secara metabolis.
Adalah lebih mudah mengirimkan trigliserid ke jaringan-jaringan lain untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan energi. Distribusi lemak ini terkait dengan
hiperinsulinemia, toleransi glukosa yang terganggu, diabetes mellitus,
peningkatan tingkat produksi androgen, level globulin pengikat hormon seks yang
menurun, dan level testosteron dan estradiol bebas yang meningkat. Selain itu,

30
wanita dengan obesitas sentral memiliki level-level cortisol yang menurun, satu
penemuan yang sesuai dengan level-level leptin yang meningkat. Perubahan-
perubahan metabolis ini meningkat seiring dengan peningkatan berat badan.

Adalah obesitas tubuh sentral yang terkait dengan faktor-faktor resiko


kardiovaskular, termasuk hipertensi dan profil-profil kolesterol-lipoprotein yang
merugikan. Rasio pinggang/pinggul merupakan variabel yang sangat terkait dan
berhubungan terbalik dengan level HDL2, bagian HDL-kolesterol yang
berhubungan paling konsisten dengan perlindungan dari penyakit kardiovaskular.
Dampak merugikan dari berat yang berlebihan pada remaja bisa dijelaskan dengan
fakta bahwa deposisi lemak pada remaja sebagian besar berlokasi sentral.
Penurunan berat badan pada wanita dengan obesitas tubuh bagian bawah terutama
bersifat penghias, sedangkan penurunan berat tubuh bagian sentral lebih penting
untuk kesehatan umum karena kemajuan dalam resiko kardiovaskular terkait
dengan penurunan lemak bagian tubuh sentral. Pada level indeks massa tubuh
(BMI) tertentu, peningkatan pada lemak android sentral meningkatkan resiko
penyakit kardiovaskular.

Rasio pinggang/pinggul merupakan cara menaksir tingkat obesitas tubuh bagian


atas dengan tubuh bagian bawah; rasio tersebut memprediksi secara akurat jumlah
lemak intraabdominal (yang lebih besar dengan obesitas android). Akan tetapi,
studi-studi menunjukkan bahwa lingkar pinggang yang lebih mudah ditentukan
adalah pemrediksi lemak android abdominal sentral yang lebih baik. Lingkar
pinggang yang lebih dari 100 cm (sekitar 40 inchi) pada laki-laki dan 90 cm
(sekitar 35 inchi) pada wanita memprediksi fungsi endokrinologi dan metabolis
yang abnormal dan terkait dengan resiko penyakit kardiovaskular yang
meningkat.

Penanganan Obesitas

31
Selain tidak merokok, penurunan berat merupakan tindakan kesehatan paling
penting yang ada untuk mengurangi resiko penyakit kardiovaskular. Setelah
mengatur usia dan merokok, Nurses Health Study membuktika kebenaran
peningkatan 3 kali lipat pada resiko penyakit koroner diantara wanita-wanita
dengan indeks massa tubuh 29 atau lebih. Bahkan wanita-wanita yang mengalami
kelebihan berat kelompok ringan dan sedang mengalami peningkatan yang
subtansial pada resiko koroner. Dalam Nurses Health Study, 40% kejadian
koroner bisa disebabkan oleh berat tubuh yang berlebihan, dan pada wanita-
wanita terberat, 70%. Tetapi yang paling penting, penurunan berat badan disusul
dengan penurunan pada mortalitas dari semua penyebab, dan khususnya,
penurunan pada mortalitas kardiovaskular dan kanker.

Bagi sebagian besar pasien, setelah evaluasi rutin untuk menyingkirkan patologi
seperti diabetes mellitus, dokter masih memiliki tugas meresepkan diet yang
sangat sulit. Tetapi tugas ini tidak sekedar hanya meresepkan diet atau meresepkan
obat anorektik. Program penurunan berat yang efektif memerlukan komitmen dari
pasien maupun dokter.

Dokter dan pasien harus menyetujui tujuan program diet. Meskipun dokter ingin
pasien mencapai berat ideal, pasien mungkin akan puas dengan berat badan yang
berkurang. Motivasi meningkat ketika tujuan tersebut memenuhi tujuan-tujuan
personal dan medis. Adalah realistik untuk menurunkan 4-5 pon di bulan pertama,
dan 20-30 pon dalam 4-5 bulan. Untuk mencapai tingkat penurunan berat yang
baik, pemasukan harus 500-1.000 kalori dibawah pengeluaran energi. Tetapi
seiring dengan menurunnya berat, kebutuhan energi menurun; oleh karena itu,
kecuali jika pemasukan energi menurun, tingkat penurunan berat akan lambat.
Dokter dan pasien harus menetapkan tujuan-tujuan yang masuk akal, dan hanya
diperlukan perubahan-perubahan kecil dalam diet dan aktivitas.

Meskipun terdapat berbagai macam cara dan buku diet, diet terbaik adalah
pembatasan kalori antara 900 dan 1200 kalori per hari, jumlah sesungguhnya

32
tergantung pada apa yang akan diterima dan dikejar pasien-pasien individu ketika
pemasukan energi kurang dari jumlah ini, maka sangat sulit untuk mendapatkan
level-level vitamin dan mineral yang dianjurkan. Vitamin dan suplemen mineral
harian sebaiknya digunakan dengan diet kalori yang sangat rendah. Percobaan
acak terkontrol menyimpulkan bahwa diet karbohidrat rendah, protein tinggi,
lemak tinggi menghasilkan penurunan berat yang lebih besar (hanya selisih 4 kg)
dalam 6 bulan pertama, tetapi setelah setahun tidak terdapat perbedaan
dibandingkan dengan diet kalori rendah, lemak rendah yang konvensional. Diet
karbohidrat rendah menghasilkan ketosis, yang menyebabkan halitosis signifikan.

Diet ideal: Karbohidrat - 50%


Protein - 15-20%
Lemak - kurang dari 30%

Aspek yang melemahkan adalah bahwa penurunan satu pound lemak, sama
dengan pemasukan 3.500 kalori harus dikeluarkan. Diet harus perlahan-lahan dan
tetap agar efektif. Program-program yang berhasil mencakup perubahan perilaku,
kunjungan yang sering ke dokter, dan keterlibatan anggota keluarga. Perubahan
perilaku dimulai dengan mencatat setiap hari aktivitas dan perilaku yang terkait
dengan pemasukan makanan, disusul dengan menghilangkan petunjuk-petunjuk
yang tidak tepat (selain lapar) yang mengarah pada makan.

Studi-studi yang seksama (dilakukan pada subjek-subjek rawat inap yang


menjalani perawatan metabolisme) menunjukkan bahwa komposisi karbohidrat
dan lemak pada diet tidak berefek pada tingkat penurunan berat badan.
Pembatasan-pembatasan kalori tetap merupakan prinsip penting, yang mengakui
bahwa penurunan pada pemasukan lemak merupakan metode paling efektif
menurunkan berat badan. Puasa penghindar protein yang dimodifikasi merupakan
regimen ketogenik yang memberi hampir 800 kalori per hari. Diet protein cair
yang tidak disuplemen terkait dengan kematian yang disebabkan oleh cardiac
arrhythmias. Diet rendah kalori yang menggunakan protein dan karbohidrat yang

33
disuplemen dengan mineral dan vitamin sebagai satu-satunya sumber nutrisi
adalah lebih aman tetapi sebaiknya digunakan untuk obesitas parah dan dalam
pengawasan medis. Diet-diet ini secara potensial masih berbahaya. Kelemahan
lainnya pada diet semi-kelaparan adalah bahwa keberhasilan jangka pendek tidak
menjamin pemertahanan bobot jangka panjang. Dilaporkan bahwa hanya
seperempat hingga sepertiga individu yang kehilangan berat badan dengan
regimen ketogenik semi-kelaparan ditambah terapi modifikasi perilaku memiliki
penurunan berat jangka panjang yang signifikan. Di sisi lain, untuk seperempat
sampai sepertiga tersebut, hal ini merepresentasikan pencapaian besar dan
berguna untuk dilakukan. Sayangnya, diet yang berulang-ulang dan recidivisme
memiliki dampak negatif. Dengan tiap-tiap episode, tubuh belajar menjadi lebih
efisien, sehingga dengan tiap-tiap diet, berat turun secara lebih perlahan-lahan dan
diperoleh kembali secara cepat.

Merupakan hal yang biasa menghadapi pasien yang menyatakan tidak mampu
menurunkan berat badan meskipun mengikuti diet dengan kurang dari 1.200
kalori per hari. Dalam studi pada pasien-pasien semacam itu, ditemukan bahwa
pelaporan yang kurang tentang pemasukan makanan yang sesungguhnya dan
pelaporan yang berlebihan tentang aktivitas fisik keduanya banyak dijumpai.
Meskipun tidak benar untuk semua pasien, tentu saja beberapa individu memang
lebih banyak daripada yang mereka pikirkan dan berolah raga lebih sedikit dari
yang mereka laporkan ke dokter-dokter mereka. hal ini bukan merupakan usaha
yang disengaja untuk menipu dokter. Pasien-pasien ini benar-benar yakin
perlawanan mereka pada penurunan berat bersifat genetik dan tidak disebabkan
karena perilaku pribadi mereka sendiri. Mereka terkejut dan tertekan mengetahui
hasil-hasil pencatatan yang akurat dari pemasukan diet dan olahraga fisik.
Bantuan ahli diet dalam mencatat nilai makan dan olahraga minggu tertentu
adalah berguna. Jenis pengetahuan ini terbukti berpengaruh dalam memberi
motivasi untuk membuat perubahan-perubahan dalam gaya hidup yang
menghasilkan penurunan berat.

34
Meskipun sebagian besar usaha menghasilkan kesuksesan jangka pendek,
pemertahanan penurunan berat tidak banyak dijumpai. Organisasi-organisasi
komersial tidak lebih berhasil dibandingkan program-program yang diarahkan
oleh dokter atau kelompok-kelompok non-laba bantuan diri. Akan tetapi,
percobaan acak menunjukkan bahwa program komersial adalah lebih efektif
(meskipun penurunan bobotnya sedang) dibandingkan rencana bantuan sendiri
yang diarahkan pasien. Hampir 90% sampai 95% orang yang kehilangan berat
badan segera mendapatkannya kembali. Dengan demikian, adalah jelas mengapa
tipu muslihat berlimpah di bidang penanganan pasien ini. Sikap yang lebih masuk
akal adalah menekankan berapa banyak yang bisa diperoleh dengan penurunan
berat yang hanya sedikit. Penurunan berat sebanyak 5-10% dari berat tubuh
menghasilkan efek-efek yang menguntungkan pada resiko-resiko penyakit
kardiovaskular dan diabetes mellitus.

Sayangnya, penghentian merokok terkait dengan peningkatan menjadi kelebihan


berat badan. Dan tentu saja, hubungan antara merokok dan kontrol berat
dimanfaatkan oleh industri-industri tembakau dalam periklanannya. Hal ini
seharusnya tidak hanya meningkatkan pentingnya usaha kita untuk menjaga anak-
anak muda dari mulai merokok dan mendidik orang-orang usia sedang tentag
bahaya merokok.

Karena CNS dan efek-efek samping kardivaskular (contoh, insomnia, ketegangan,


euphoria, hipertensi, dan tachycardia) dan kurangnya data jangka panjang, agen-
agen noradrenergik harus dicadangkan untuk penggunaan jangka pendek (3 bulan
atau kurang) bagi individu-individu yang ingin menurunkan sejumlah kecil berat
badan. Toleransi dan ketergantungan merupakan masalah-masalah pada
penggunaan yang berlanjut. Agen-agen noradrenergik sebaiknya tidak digunakan
pada individu-individu yang mengalami penyakit kardiovaskular. Popularitas
agen-agen serotonergik mendapat kemunduran dengan laporan-laporan
meningkatnya resiko terkait dengan level-level serotonim tinggi yang beredar
(bahkan dengan terapi jangka pendek) pada kondisi-kondisi yang jarang tetapi

35
mengancam hidup yaitu hipertensi pulmori primer dan penyakit cardiac vaskular,
dan produk-produk ini ditarik dari pasar.

Sibutramine (10 atau 15 mg setiap hari) menghalangi pemasukan neuronal baik


norepinephrine maupun serotonim, dan merupakan supresan nafsu makan yang
efektif dengan efek samping ringan (mulut kering, sembelit, dan insomnia), tetapi
bisa menyebabkan hipertensi, dan diperlukan pemonitoran yang seksama pada
tekanan darah dan detak jantung. Sibutramine sebaiknya tidak digunakan bersama
dengan penghambat-penghambat pemasukan serotonim lainnya. Orlistat (120 mg
t.i.d dengan makanan) hanya bertindak dalam saluran gastrointestinal, yang
menghambat lipase pankreastik dan meningkatkan penghilangan lemak fecal.
Orlistat berhubungan dengan efek samping gastrointestinal yang mengganggu
(meningkatnya buang air besar yang berminyak). Vitamin yang larut oleh lemak
akan hilang, dan sebaiknya suplemen vitamin diminum pada saat akan tidur.

Karena berat badan akan diperoleh kembali setelah penghentian treatmen obat,
terapi jangka panjang adalah lebih baik. Akan tetapi, sangat sedikit informasi yang
tersedia tentang penggunaan jangka panjang obat-obat penekan nafsu makan.
Studi-studi jangka pendek menunjukkan hanya kemanjuran sedang dengan
respon-respon variabel. Kebanyakan penurunan berat terjadi dalam 6 bulan
pertama dan dibatasi pada 5-10 kg (11-22 lbs). Meskipun demikian, treatmen
jangka panjang memungkinkan beberapa individu bisa mempertahankan
penurunan berat badan dan melakukan perubahan yang menguntungkan secara
lebih efektif dalam diet dan gaya hidup. Disarankan agar treatmen dengan obat-
obat penekan nafsu makan dibatasi pada individu-individu yang tidak bisa
menurunkan berat badan dengan metode-metode konvensional dan yang
menunjukkan komorbiditas yang signifikan, seperti obesitas android, penyakit
jantung koroner, daya tahan insulin, dan hipertensi. Pencapaian berat badan
normal cenderung tidak dengan treatmen obat; akan tetapi penurunan berat
badan 5% sampai 10% akan memiliki dampak menguntungkan yang penting

36
terhadap faktor-faktor resiko penyakit. Meski demikian, perubahan gaya hidup
tetap merupakan intervensi paling penting dan efektif untuk treatmen obesitas.

Treatmen operasi dan kelaparan sebaiknya diberikan untuk pasien-pasien yang


sangat gemuk. Kedua metode tersebut melibatkan banyak masalah-masalah
potensial dan memerlukan pemonitoran yang seksama.

Studi-studi terkontrol tidak menunjukkan efektivitas preparasi thyroid dan


korionik gonadotropin manusia. Memang, menambah hormon tiroid
meningkatkan hilangnya massa tubuh yang tidak berlemak dibandingkan jaringan
lemak. Adalah jelas bahwa tindakan-tindakan obat tambahan tidak berhasil
kecuali jika pasien dimotivasi untuk membatasi pemasukan kalori dan
meningkatkan level olahraga yang merupakan satu pertarungan panjang.

Pola olahraga fisik yang teratur mengurangi resiko myocardial infarction pada
semua orang. Baik penurunan berat maupun aktivitas olahraga yang meningkat
akan menurunkan level low density lipoprotein (LDL), dan peningkatan level high
density lipoprotein (HDL). Keuntungan lebih lanjut dari olahraga yang
diperpanjang adalah penghambatan nafsu makan yang berlangsung selama
berjam-jam dan yang terkait dengan peningkatan pada tingkat metabolis yang
tersisa selama 2-48 jam. Oleh karena itu, program yang optimal mencakup
periode olahraga harian satu jam (dengan intensitas sedang, seperti berjalan
cepat), bahkan 2 atau 3 kali per minggu bisa efektif. Gabungan diet dan olahraga
adalah lebih baik daripada hanya salah satu, dan mereka-mereka yang berolahraga
lebih berhasil dalam mempertahankan penurunan berat badan. Waktu terbaik
untuk olahraga adalah sebelum makan atau sekitar 2 jam setelah makan.

Sayangnya, orang tidak bisa membakar kalori penting dengan cepat; memerlukan
waktu 18 menit lari atau 2 jam berjalan untuk mengimbangi hamburger rata-rata.

37