Anda di halaman 1dari 26

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan & Sasaran
1.3.1 Tujuan
1.3.2 Sasaran
1.4 Ruang Lingkup
1.5 Sistematika Transportasi

Bab II Gambaran Umum Transportasi Kota Palembang


2.1 Transportasi dan Angkutan Umum Kota Palembang
2.2 Karakteristik Transportasi
2.3 Karakteristik Angkutan Umum

Bab III Tinjauan Teori


3.1 Aksesibilitas
3.2 Peranan transportasi dalam masyarakat
3.3 Komponen sistem transportasi

Bab IV Subsistem Jaringan


4.1 Subsitem Jaringan
4.2 Ketersediaan Sarana dan Prasarana Kota Palembang
4.2.1 Sarana
4.2.2 Prasarana
4.3 Pengembangan Sistem Transportasi di Kota Palembang
4.3.1 Transportasi Darat
4.3.2 Transportasi Laut
4.3.3 Transportasi Udara

Bab V Penutup
5.1 Kesimpulan

BAB I
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Transportasi merupakan sektor penting sebagai penunjang pembangunan (the promoting
sector) dan pemberi jasa (the servicing sector) bagi perkembangan ekonomi. Fasilitas
transportasi harus disediakan mendahului proyek-proyek pembangunan lainnya.
Peranan transportasi tidak hanya untuk melancarkan arus barang dan mobilitas manusia namun
juga membantu tercapainya pengalokasian sumber-sumber ekonomi secara optimal (Nasution,
1996: 12). Oleh karena itu, jasa transportasi harus cukup tersedia secara merata dan terjangkau
oleh masyarakat untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan kota. Pertumbuhan dan
perkembangan suatu kota yang pesat tanpa diikuti pengadaan sistem transportasi yang memadai
merupakan bentuk besarnya permintaan kebutuhan transportasi dibanding penyediaan sistem
transportasi. Begitu pula sebaliknya, pertumbuhan sistem transportasi yang pesat, yang tidak
sesuai dengan ukuran perkembangan suatu kota merupakan wujud penyediaan yang lebih besar
dari permintaannya. Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa ketersediaan sistem
transportasi dan perkembangan kota atau wilayah secara lebih luas, harus seimbang agar tidak
terjadi kemubaziran pembangunan maupun kekurangan sarana dan prasarana pembangunan yang
justru akan menimbulkan permasalahan baru yang lebih kompleks.

Transportasi darat merupakan moda transportasi yang paling dominan di Indonesia


dibandingkan moda tranportasi lainnya seperti transportasi udara dan transportasi laut. Hal ini
ditunjukkan dari data OD Nasional 2001 yang menggambarkan bahwa 95% perjalanan
penumpang dan barang menggunakan moda transportasi darat. Besarnya persentase tersebut
merefleksikan tingginya ketergantungan penduduk Indonesia terhadap moda transportasi ini.
Oleh sebab itu, perencanaan pengembangan transportasi darat menjadi prioritas utama dalam
rangka pembangunan Indonesia secara keseluruhan.

Transportasi darat telah menjadi salah satu kebutuhan bagi masyarakat, sifatnya yang
murah meriah, menjadikan transportasi ini menjadi prioritas utama saat hendak bepergian.
Sedangkan kawasan pusat kota, bisa ditafsirkan bermacam- macam. Ada yang menyebut
dengan istilah urban center atau urban core. Ada yang menganggap pusat kota sebagai
central bussines district. Ada pula yang menyebut pusat kota sebagai kawasan komplek
pemerintahan atau civic center. Istilah pusat kota, menimbulkan adanya kawasan yang
disebut sebagai pinggiran kota. Semuanya ini tentunya tergantung dari sejarah perkembangan
di masing-masing kota tersebut.

Kota-kota di Indonesia berkembang dengan sangat pesat sekali, terutama setelah awal
abad ke 20. Hal ini disebabkan karena perkembangan penduduknya yang sangat cepat, akibat
besarnya urbanisasi yang terjadi pada kota-kota di Indonesia dari tahun ketahun. Daerah yang
disebut sebagai pusat kota sering mengalami pemugaran baik fisik maupun sosial untuk
disesuaikan dengan tuntutan baru, terutama pada awal abad ke 21 ini.
Pada umumnya tingkat kekompleksitasan transportasi darat yang berada di pusat kota
cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari sarana dan prasarana serta penggunaan kendaraan pribadi
maupun angkutan umum yang cukup tinggi yang melalui pusat kota. Oleh sebab itu, penulis
ingin menganalisis mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan trasnportasi darat yang melalui
dan yang berada di pusat Kota Palembang.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana profil wilayah kota Palembang
Bagaimana pengembangan sistem transportasi di pusat kota Palembang
Transportasi apa saja yang digunakan oleh masyarakat dalam beraktivitas

1.3 Tujuan dan Sasaran


1.3.1 Tujuan
Agar mengetahui profil wilayah kota Palembang.
Mengidentifikasi pengembangan sistem transportasi di pusat kota Palembang.
Mengidentifikasi transportasi yang digunakan masyarakat dalam beraktivitas

1.3.2 Sasaran
Mengidentifikasi perkembangan transportasi di tinjau dari sarana dan prasarana di Kota
Palembang

1.4 Ruang Lingkup


Dalam ini perlu dibuat batasan ruang lingkup permasalahan yaitu membahas tentang
transportasi yang ada di Kota Palembang.

1.5 Sistematika Transportasi


BAB II

2.1 Gambaran Umum Kota Palembang


Kota Palembang terkenal sebagai kota industri dan kota perdagangan. Posisi geografis
Palembang yang terletak di tepian Sungai Musi dan tidak jauh dari Selat Bangka. Kota
Palembang terkenal sebagai Kota tua, yang pernah menjadi pusat pendidikan agama Budha.
Secara geografis wilayah Kota Palembang berada antara 2 52 3 5 LS dan 104 37 10452
BT dengan luas wilayah 400,61 Km dengan batas-batas sebagai berikut :

o Batas Utara : Kabupaten Banyuasin

o Batas Selatan : Kabupaten Ogan Komering Ilir

o Batas Timur : Kabupaten Banyuasin

o Batas Barat : Kabupaten Banyuasin

Kota Palembang terdiri dari 14 kecamatan seluas 400,61 km 2 dengan jumlah penduduk pada
tahun 2002 sebanyak 1.451.776 jiwa. Kecamatan dengan luas wilayah terbesar yaitu kecamatan
Sukarami (98,56 km2), sedangkan kecamatan dengan luas terkecil yaitu kecamatan 6,5 km 2.
Kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi terdapat di kecamatan Ilir Timur I
(13.882 jiwa/km2), sedangkan kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk terendah yaitu
kecamatan Gandus (766 jiwa/km2). Kepadatan penduduk rata-rata Kota Palembang adalah 3.624
jiwa per km2. Jumlah penduduk dan kepadatannya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Peta Administrasi Kota Palembang

Pusat Kota Palembang

Kawasan pusat kota, bisa ditafsirkan bermacam-macam. Ada yang menyebut dengan istilah
urban center atau urban core. Ada yang menganggap pusat kota sebagai central bussines
district. Ada pula yang menyebut pusat kota sebagai kawasan komplek pemerintahan atau
civic center.Di dalam penelitian ini, penulis mendefiniskan pusat kota yaitu kawasan yang
merupakan inti dari aktivitas pemerintahan dan ekonomi suatu kota. Kawasan pusat kota
Palembang yaitu berlokasi di Jalan Merdeka-Jalan Kapten Rivai (terdapat kantor walikota
Palembang, kantor gubernur Sumatera Selatan dan kantor DPRD Sumatera Selatan), yang
merupakan pusat pemerintahan dan Jalan Veteran- Jalan Jend.Sudirman-Jalan Perintis
Kemerdekaan sebagai kawasan pusat ekonomi (perdagangan dan jasa) yang terlihat dari bentuk
bangunan yang didominasi oleh gedung-gedung relative tinggi (lebih dari 5 lantai). Dengan
adanya point- important dan point interest tersebut maka akan dipastikan muncul dan timbul
aktivitas ekonomi serta turunannya yang berpusat didaerah yang telah disebutkan diatas.

Gambaran Umum Jalan Raya di Palembang


Pada umumnya jenis jalan raya yang melewati merupakan jalan arteri dan jalan Kolektor dengan
mayoritas daerah pusat kota dilalui jenis jalan arteri. Dengan ciri-ciri dari jalan arteri yaitu jalan
yang melayani angkutan utama dengan ciri-ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata
tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien, sedangkan ciri-ciri dari jalan kolektor,
yaitu jalan yang melayani angkutan pengumpulan/pembagian dengan cirri-ciri perjalanan jarang
sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi (UU No. 13/1980).

Berikut gambaran kondisi jalan raya yang berada di kawasan pusat kota
Palembang:

(Kondisi di Jalan Merdeka)

(Kondisi di Jalan Kapten Rivai dan Jalan Veteran)


(Kondisi di Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Perintis Kemerdekaan)

2.2 Karakteristik Moda Transportasi Secara Umum


Pengertian transportasi merupakan gabungan dari dua definisi, yaitu sistem dan
transportasi. Sistem adalah suatu bentuk keterikatan dan keterkaitan antara satu variabel dengan
variabel lain dalam tatanan yang terstruktur, sedangkan transportasi adalah suatu usaha untuk
memindahkan, menggerakkan, mengangkut atau mengalihkan orang ataupun barang dari suatu
tempat ke tempat lain, dimana di tempat lain objek tersebut lebih berguna atau dapat berguna
untuk tujuan-tujuan tertentu. Maka, dari kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa,
sistem transportasi adalah suatu bentuk keterikatan dan keterkaitan antara berbagai variabel
dalam suatu kegiatan atau usaha untuk memindahkan, menggerakkan, mengangkut, atau
mengalihkan orang atau barang dari satu tempat ke tempat lain secara terstruktur untuk tujuan
tertentu. Dalam ilmu transportasi, alat pendukung proses perpindahan diistilahkan dengan sistem
transportasi mencakup berbagai unsur (subsistem) berupa:

Ruang untuk bergerak (jalan).

Tempat awal / akhir pergerakan (terminal).

Yang bergerak (alat angkut/kenderaan dalam bentuk apapun).

Pengelolaan : yang mengkoordinasi ketiga unsur sebelumnya.

2.2.1 Fungsi Transportasi


Transportasi diperlukan untuk mengatasi kesenjangan jarak dan komunikasi antara tempat
asal dan tempat tujuan. Pengembangan sistem transportasi dan komunikasi dalam bentuk sarana
(angkutan) dan prasarana (jalan), menimbulkan jasa angkutan untuk memenuhi kebutuhan
perangkutan dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini menunjukkan bahwa transportasi tak dapat
dipisahkan dengan tata guna lahan. Perpindahan orang atau barang dari satu tata guna lahan ke
tata guna lahan yang lain, berarti akan mengubah nilai ekonomi orang atau barang tersebut.
Dengan demikian, transportasi merupakan bagian dari kegiatan ekonomi yang bertujuan untuk
menuju ke keseimbangan yang efisien antara potensi tata guna lahan dengan kemampuan
transportasi.
Menurut K. Morlok dalam bukunya Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi,
menjelaskan bahwa dalam usahanya untuk dapat meningkatkan kapasitas bergerak (baik untuk
benda mati ataupun makhluk hidup) yang harus diangkut secara cepat dan dalam jarak yang jauh
pada masyarakat modern saat ini, manusia telah mengembangkan dan menyempurnakan
berbagai teknologi untuk membantunya dalam bidang transport. Suatu teknologi transportasi
harus dapat melakukan hal-hal berikut:
Membuat suatu obyek menjadi lebih mudah diangkut, dan dapat diangkut tanpa
menimbulkan kerusakan.
Menyediakan kontrol dari gerakan yang terjadi, dengan pemakaian gaya secukupnya
untuk dapat mempercepat ataupun memperlambat obyek tersebut, mengatasi
hambatan-hambatan yang biasa terjadi dan mengarahkan obyek tersebut tanpa
kerusakan. Kontrol gerakan tadi disebut lokomosi.
Melindungi obyek dari kerusakan atau kehancuran yang dapat terjadi sebagai akibat
samping dari pergerakan tadi. Pemeliharaan berupa temperature lingkungan yang
tepat, tekanan, kelembapan dan sebagainya memegang peranan penting dalam
mempertahankan nilai benda tersebut.
Suatu kota yang baik dapat ditandai dengan kondisi transportasinya. Transportasi yang
baik dapat berupa kualitas sarana angkutan dan sistem jaringan jalan dengan segala
kelengkapannya. Perkembangan teknologi di bidang transportasi menuntut adanya
perkembangan teknologi sarana dan prasarana transportasi dalam segala bidang. Sistem
transportasi yang berkembang semakin cepat menuntut perubahan kualitas sarana angkutan dan
tata jaringan jalan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan transportasi.

2.2.2 Manfaat Transportasi

1) Manfaat Ekonomi
Kegiatan ekonomi bertujuan memenuhi kebutuhan manusia dengan menciptakan manfaat.
Transportasi adalah salah satu jenis kegiatan yang menyangkut peningkatan kebutuhan manusia
dengan mengubah letak geografis barang dan orang sehingga akan menimbulkan adanya
transaksi.

2) Manfaat Sosial
Trasnportasi menyediakan berbagai kemudahan, diantaranya:
o Pelayanan untuk perorangan atau kelompok,
o Pertukaran atau penyampaian informasi,
o Perjalanan untuk bersantai,
o Memendekkan jarak,
o Mempencarkan penduduk.

3) Manfaat Politis
Pengangkutan menciptakan persatuan dan kesatuan nasional yang semakin kuat dan
meniadakan isolasi. Pengangkutan menyebabkan pelayanan kepada masyarakat dapat
dikembangkan atau diperluas dengan lebih merata pada setiap bagian wilayah suatu negara.
Keamanan negara terhadap serangan dari luar negeri yang tidak dikehendaki mungkin sekali
tergantung pada pengangkutan yang efisien yang memudahkan mobilisasi segala daya
(kemampuan dan ketahanan) nasional, serta memungkinkan perpindahan pasukan-pasukan
perang selama masa perang. Sistem pengangkutan yang efisien memungkinkan negara
memindahkan dan mengangkut penduduk dari daerah yang mengalami bencana ke tempat yang
lebih aman.

4) Manfaat Kewilayahan
Memenuhi kebutuhan penduduk di kota, desa, atau pedalaman.
Transportasi memiliki peranan penting dan strategi dalam pembangunan nasional,
mengingat transportasi merupakan sarana untuk memperlancar roda perekonomian,
memperkokoh persatuan dan kesatuan serta mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan.
Pentingnya transportasi sebagai urat nadi kehidupan ekonomi, sosial ekonomi, politik, dan
pertahanan keamanan memiliki dua fungsi ganda yaitu sebagai unsur penunjang dan sebagai
unsur pendorong. Sebagai unsur penunjang, transportasi berfungsi menyediakan jasa transportasi
yang efektif untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor dan menggerakkan pembangunan
nasional. Sebagai unsur pendorong, transportasi berfungsi menyediakan jasa transportasi yang
efektif untuk membuka daerah-daerah yang terisolasi, melayani daerah terpencil, merangsang
pertumbuhan daerah tertinggal dan terbelakang. Ada beberapa konsep perencanaan transportasi
yang telah berkembang hingga saat ini dan yang paling populer adalah Model Perencanaan
transportasi Empat Tahap (Four Step Models).

Adapun yang menjadi tujuan perencanaan sistem transportasi adalah :


Mencegah masalah yang tidak diinginkan yang diduga akan terjadi pada masa yang
akan datang (tindakan preventif).
Mencari jalan keluar untuk berbagai masalah yang ada (problem solving).
Melayani kebutuhan transportasi (demand of transport) seoptimum dan seseimbang
mungkin.
Mempersiapkan tindakan/kebijakan untuk tanggapan pada keadaan di masa depan.
Mengoptimalkan penggunaan daya dukung (sumber daya) yang ada, yang juga
mencakup penggunaan dan yang terbatas seoptimal mungkin, demi mencapai tujuan
atau rencana yang maksimal (daya guna dan hasil guna yang tinggi).
Tahap pilihan moda merupakan suatu tahapan proses perencanaan angkutan yang
bertugas dalam menentukan pembebanan perjalanan atau mengetahui jumlah (dalam arti
proporsi) orang dan barang yang akan menggunakan atau memilih berbagai model transportasi
yang tersedia untuk melayani suatu titik asal-tujuan tertentu, demi beberapa maksud perjalanan
tertentu pula. Sebagai contoh, misalkanlah seorang pelaku perjalanan A yang akan melakukan
perjalanan dari asal Medan menuju Sidikalang dengan maksud perjalanan bisnis/dinas, dan ia
dihadapkan kepada masalah memilih alat angkut apa yang akan dipakainya yang tersedia
melayani jalur titik Medan menuju Sidikalang tersebut. Apakah dengan bus umum atau mobil
pribadi/dinas, atau dengan jenis kenderaan lainnya barangkali. Hal ini tergantung dengan
perilaku si A yang dipengaruhi oleh sekumpulan faktor atau variabel.

Adapun hasil analisis tahap pilihan moda ini, sangat bermanfaat sebagai masukan bagi
pihak-pihak penyedia jasa seperti perusahaan-perusahaan mobil bus. Pemilihan moda
transportasi dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu:

A. Bentuk Alat (Moda) Transportasi/Jenis Pelayanan Transportasi

Secara umum, ada 2 kelompok besar moda transportasi, yaitu:

1) Kendaraan pribadi (private transportation)

Moda transportasi yang dikhususkan untuk pribadi seseorang dan seseorang itu bebas
menggunakannya kemana aja, kapan saja, dan dimana saja yang diinginkan atau tidak
menggunakannya sama sekali (mobilnya disimpan di garasi).

2) Kendaraaan umum (public transportation)

Moda transportasi yang diperuntukkan buat bersama (orang banyak), kepentingan


bersama, menerima pelayanan bersama, mempunyai arah dan titik tujuan yang sama,
serta terikat dengan peraturan trayek yang sudah ditentukan dan jadwal yang sudah
ditetapkan dan para pelaku perjalanan harus wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan-
ketentuan tersebut apabila angkutan umum ini sudah mereka pilih.

Ada 4 (empat) kelompok faktor yang dianggap kuat pengaruhnya terhadap perilaku perjalanan
atau calon pengguna (trip maker behavior). Masing-masing faktor ini terbagi lagi menjadi
beberapa variabel yang dapat diidentikkan. Variabel-variabel ini dapat dinilai secara kuantitatif
dan kualitatif. Faktor-faktor atau variabel-variabel tersebut adalah :

Kelompok faktor karakteristik perjalanan (travel characteristics factor), meliputi variabel :


1) Tujuan perjalanan (trip purpuse), seperti pergi bekerja, sekolah, belanja, dan lain-lain.

2) Waktu perjalanan (time of trip made), seperti pagi hari, siang, sore, malam, hari libur, dan
seterusnya.

3) Panjang perjalanan (trip length), merupakan jarak fisik antara asal dengan tujuan, termasuk
panjang rute/ruas, waktu perbandingan kalau menggunakan moda moda-moda lain.

Kelompok faktor karakteristik si pelaku perjalanan (traveler characteristics factor)

Pada kelompok faktor ini, seluruh variabel ikut serta berkontribusimempengaruhi perilaku si
pelaku perjalanan dalam memilih moda transportasi. Variabel tersebut adalah :

1) Pendapatan (income), berupa daya beli si pelaku perjalanan untuk membiayai perjalanannya,
entah dengan mobil pribadi atau angkutan umum.

2) Kepemilikan kendaraan (car ownership), berupa tersedianya kendaraan pribadi sebagai sarana
melakukan perjalanan.

3) Kondisi kendaraan pribadi (tua, jelek, baru, dan lain-lain).

4) Kepadatan pemukiman (density of residential development).

5) Sosial-ekonomi, seperti struktur dan ukuran keluarga (pasangan muda, punya anak, pensiunan
atau bujangan), usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, lokasi pekerjaan, punya lisensi mengemudi
(SIM) atau tidak.

Kelompok faktor karakteristik sistem transportasi (transportation system characteristics


factor). Semua variabel yang berpengaruh terhadap perilaku si pelaku perjalanan
berhubungan dengan kinerja pelayanan sistem transportasi seperti variabel :

1) Waktu relatif (lama) perjalanan (relative travel time) mulai dari lamanya waktu menunggu
kendaraan di pemberhentian (terminal), waktu jalan ke terminal (walk to terminal time), dan
waktu di atas kendaraan.

2) Biaya relatif perjalanan (relative travel cost), yaitu seluruh biaya yang timbul akibat melakukan
perjalanan dari asal ke tujuan untuk semua moda yang berkompetisi seperti tarif tiket, bahan
bakar, dan lain-lain.

3) Tingkat pelayanan relatif (relatif level of service), yaitu variabel yang cukup bervariasi dan sulit
diukur, contohnya adalah variabel kenyamanan dan kesenangan, yang membuat orang mudah
gonta-ganti moda transportasi.

4) Tingkat akses/indeks daya hubung/kemudahan pencapaian tempat tujuan.


5) Tingkat kehandalan angkutan umum di segi waktu (tepat waktu/reliability), ketersediaan ruang
parkir dan tarif.

Ketiga variabel terakhir ini (3, 4, dan 5) merupakan kelompok variabel yang sangat subjektif
sehingga sulit diukur (dikuantifikasikan) dan masuk kelompok variabel kualitatif (difficult to
quantify).

Kelompok faktor karakteristik kota dan zona (spacial characteristics factor), meliputi :

1) Variabel jarak kediaman dengan tempat kegiatan.

2) Variabel kepadatan penduduk (population density).

Jenis Moda Transportasi


Berdasarkan perbedaan pada sifat jasa, operasi, dan biaya pengangkutan maka jenis moda
transportasi dapat dibedakan menjadi lima kelompok, yaitu sebagai berikut:
1) Angkutan Kereta Api (rail road railway)
Angkutan kereta api adalah jenis angkutan yang bergerak di atas rel. Kereta api sendiri dapat
mengangkut barang dan manusia dalam jumlah yan banyak dalam sekali jalan baik untuk
menempuh jarak dekat maupun jarak jauh. Kereta api terdiri dari satu unit lokomotif dan
beberapa gerbong yang berguna untuk tempat menampung barang atau manusia selama
perjalanan dari tempat asal ke tempat tujuan.
2) Angkutan Bermotor dan Jalan Raya (motor/road/highway transportation)
Angkutan bermotor pada umumnya beroperasi di jalan raya yang sudah disediakan sebagai
sarana untuk transportasi. Angkutan ini dapat berupa mobil, sepeda motor, dan sebagainya.
3) Angkutan Laut (water/sea transportation)
Angkutan laut adalah jenis angkutan yang digunakan untuk memperlancar arus perpindahan
barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan melalui jalur laut dengan menggunakan
kapal. Sekarang ini di bidang pelayaran beroperasi beberapa jenis kapal, antara lain kapal
penumpang, kapal barang, kapal peti kemas, kapal pengangkut kayu, dan kapal tangki
pengangkut minyak.
4) Angkutan Udara (air transportation)
Angkutan udara adalah jenis alat transportasi yang menggunakan pesawat terbang sebagai
moda transportasinya dengan dilengkapi oleh teknologi dibidang navigasi dan telekomunikasi.
5) Angkutan Pipa (pipeline)
Angkutan jenis pipa digunakan untuk mengangkut air, minyak, pupuk dan barang tambang
lainnya melalui pipa yang sudah saling terhubung baik itu berada di darat, laut, ataupun di bawah
tanah.
2.3 Karakteristik Angkutan Secara Umum
Angkutan dapat dikatakan sebagai sarana untuk memindahkan orang maupun barang dari
satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan kendaraan sedangkan kendaraan umum
adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan
dipungut bayaran (langsung maupun tidak langsung). Tujuannya membantu orang atau kelompok
orang dalam menjangkau berbagai tempat yang dikehendaki, atau mengirimkan barang dari
tempat asalnya ke tempat tujuannya secara baik dan layak. Pemilihan moda/angkutan yang akan
digunakan dalam melakukan pergerakan/perjalanan dapat digambarkan seperti gambar di bawah
ini:

Dari gambar diatas dapat diambil asumsi bahwa gambar sebelah kiri mengasumsikan
pelaku perjalanan mengambil pilihan antara bergerak dan tidak bergerak. Apabila pelaku
perjalanan melakukan pergerakan, maka pertanyaan yang timbul adalah apakah menggunakan
angkutan pribadi atau umum? Sedangkan gambar sebelah kanan mengasumsikan bahwa begitu
memilih untuk bergerak maka pelaku perjalanan memilih moda yang tersedia.

Pihak yang berkaitan dalam pengoperasian angkutan umum penumpang diklasifikasikan


atas tiga kelompok. Ketiga pihak yang berkepentingan adalah penumpang, operator, dan
masyarakat banyak.

a. Pihak penumpang.

Menghendaki adanya unsur-unsur berikut ini :

1) Ketersedian, yang mengandung arti lokasional dan temporal. Lokasional yaitu dekat
dengan pusat-pusat kegiatan dan sistem terminal. Temporal diwujudkan dengan
frekuensi pelayanan.

2) Ketepatan waktu, berkaitan dengan penjadwalan pelayanan yang tepat.


3) Kecepatan (waktu perjalanan), merupakan komposisi dari 5 aspek yaitu : akses,
menunggu, perpindahan, perjalanan, dan waktu keberangkatan.

4) Tarif, merupakan faktor penting bagi para penumpang, berkaitan dengan kemampuan
dan kondisi sosial ekonomi penumpang yang bersangkutan.

5) Menyenangkan, merupakan konsep yang sukar karena hal ini mencakup banyak
faktor yang sifatnya kualitatif dan berkaitan dengan faktor kendaraan yang
bersangkutan.

6) Kenyamanan, hal ini berkaitan dengan sistem secara keseluruhan. Konsep


kenyamanan ini juga bersifat kualitatif.

b. Pihak operator, menghendaki adanya unsur-unsur berikut ini :

1) Cakupan wilayah pelayanan, kawasan potensial, dan aksesibilitas perlu


dipertimbangkan dalam lintasan pelayanan

2) Frekuensi pelayanan yang diekspresikan dengan jumlah keberangkatan kendaraan


dalam setiap satuan waktu. Headway yang teratur merupakan elemen penting untuk
menarik perjalanan penumpang.

3) Kecepatan perjalanan, pihak operator dalam hal ini memperhatikan faktor kecepatan
kendaraan yang dapat mempengaruhi biaya secara keseluruhan, baik terhadap bahan
bakar, pemeliharaan penumpang serta untuk menarik penumpang.

4) Biaya. Guna memperoleh keuntungan, pihak operator perlu menekan biaya operasi
serendah mungkin dan memperoleh penumpang sebanyak mungkin.

5) Kapasitas, berupa kapasitas jalan dan kapasitas terminal yang memadai untuk
keberadaan angkutan umum tersebut.

6) Keamanan, dalam hal ini pihak operator harus memberikan perhatian besar, tidak
hanya untuk kemanan penumpang tapi juga untuk keamanan sistem operasi secara
keseluruhan.

c. Masyarakat banyak. Persyaratan yang dituntut oleh masyarakat banyak, dapat


berpengaruh langsung maupun tidak langsung. Aspek-aspek yang dimiliki meliputi :

1) Tingkat pelayanan dari angkutan umum

2) Keberadaan angkutan umum untuk jangka waktu panjang.

3) Pengaruh terhadap lingkungan


4) Aspek energi dan penghematannya

5) Efisiensi ekonomi

Model pemilihan moda bertujuan untuk mengetahui proporsi orang yang akan
menggunakan setiap moda. Proses ini dilakukan dengan maksud untuk mengkalibrasi model
pemilihan moda dengan mengetahui peubah bebas (atribut) yang mempengaruhi pemilihan moda
tersebut. Setelah dilakukan proses kalibrasi, model dapat digunakan untuk meramalkan
pemilihan moda dengan menggunakan nilai peubah bebas (atribut) untuk masa mendatang.

BAB III

3.1 Tinjauan Teori

3.1.1 Aksesibilitas
Menurut Black (1981), aksesibilitas adalah suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan
lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain, dan mudah atau sulitnya lokasi tersebut
dicapai melalui transportasi. Menurut Magribi bahwa aksesibilitas adalah ukuran kemudahan
yang meliputi waktu, biaya, dan usaha dalam melakukan perpindahan antara tempat-tempat atau
kawasan dari sebuah sistem (Magribi, 1999).
Salah satu variabel yang dapat dinyatakan apakah tingkat aksesibilitas itu tinggi atau
rendah dapat dilihat dari banyaknya sistem jaringan yang tersedia pada daerah tersebut. Semakin
banyak sistem jaringan yang tersedia pada daerah tersebut maka semakin mudah aksesibilitas
yang didapat begitu pula sebaliknya semakin rendah tingkat aksesibilitas yang didapat maka
semakin sulit daerah itu dijangkau dari daerah lainnya (Bintarto, 1989).
Tingkat aksesibilitas wilayah juga bisa di ukur berdasarkan pada beberapa variabel yaitu
ketersediaan jaringan jalan, jumlah alat transportasi, panjang, lebar jalan, dan kualitas jalan.
Selain itu yang menentukan tinggi rendahnya tingkat akses adalah pola pengaturan tata guna
lahan. Keberagaman pola pengaturan fasilitas umum antara satu wilayah dengan wilayah
lainnya. Seperti keberagaman pola pengaturan fasilitas umum terjadi akibat berpencarnya lokasi
fasilitas umum secara geografis dan berbeda jenis dan intensitas kegiatannya. Kondisi ini
membuat penyebaran lahan dalam suatu wilayah menjadi tidak merata (heterogen) dan faktor
jarak bukan satusatunya elemen yang menentukan tinggi rendahnya tingkat aksesibilitas (Miro,
2004).
Adanya aksesibilitas ini diharapkan dapat mengatasi beberapa hambatan mobilitas, baik
berhubungan dengan mobilitas fisik, misalnya mengakses jalan raya, pertokoan, gedung
perkantoran, sekolah, pusat kebudayaan, lokasi industri dan rekreasi baik aktivitas non fisik
seperti kesempatan untuk bekerja, memperoleh pendidikan, mengakses informasi, mendapat
perlindungan dan jaminan hokum (Kartono, 2001).
Faktor yang mempengaruhi fungsi rendahnya aksesibilitas adalah topografi, sebab dapat
menjadi penghalang bagi kelancaran untuk mengadakan interaksi di suatu daerah. Keadaan
hidrologi seperti sungai, danau, rawa, dan laut juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan
dan pembangunan pertanian, perikanan, perhubungan, perindustrian, kepariwisataan. Jadi tinggi
rendahnya wilayah sangat tergantung pada morfologi, topografi, dan laut juga sistem jaringan
serta tersedianya sarana dan prasarana pendukung untuk memperlancar berbagai hubungan
antara daerah sekitarnya (Sumaatmadja, 1988).

3.1.2 Peranan Transportasi Dalam Masyarakat

Peranan transportasi dalam masyarakat dapat didekati dengan berbagai cara. Salah
satu klasifikasi yang berguna ialah dengan mendekatinya dari segi ekonomi, sosial, politik, dan
lingkungan.Dari perspektif ekonomi, transport memungkinkan berpindahnya barang-barang dari
satu tempat ke tempat yang lain, dimana barang-barang tadi mungkin lebih berguna atau bernilai.
Konsep utama ialah kegunaan (utilitas) tempat, kegunaan waktu dan kegunaan kualitas.
Pengukuran biaya transportasi telah membuat tidak memungkinkan untuk mengatasi perbedaan
persediaan barang-barang di daerah yang berlainan.
Peranan sosial dari transportasi telah memungkinkan penduduk berubah dari makhluk
yang hidup secara nomad menjadi penghuni permukiman permanen. Dengan bertambah
mudahnya sarana transport, permukiman menjadi bertambah luas dan tidak terlalu bergantun
pada sumber-sumber local untuk pendukungnya.Transportasi mempunyai pengaruh yang cukup
penting terhadap karakteristik politis suatu masyarakat, memungkinkan suatu wilayah yang luas
untuk diatur dari satu pusat, dan memungkinkan pemerintahan dari suatu negara yang besar.
Transportasi juga menjawab beberapa pertanyaan politik seperti: fungsi apa yang akan dijalankan
oleh sistem transport itu (yaitu militer atau perjalanan biasa oleh warga negara), dan siapa yang
menyediakan dan memelihara sistem tersebut.Pengaruh transportasi terhadap lingkungan pada
umumnya dianggap negatif, yaitu menghasilkan polusi udara dan kebisingan.

3.1.3 Komponen Sistem Transportasi


Dalam ilmu transportasi, alat pendukung proses perpindahan diistilahkan dengan sistem
transportasi mencakup berbagai unsur (subsistem) berupa:
Ruang untuk bergerak (jalan).
Pada hampir semua sistem transport, jalur jalan yang tersedia tidak selalu menghubungkan
setiap tempat tujuan. Oleh karena itu, ruang gerak hanya ada pada lokasi-lokasi tertentu.
Walaupun demikian tetap diadakan kemungkinan untuk menghubungkan jalur-jalur gerak tadi
sesamanya dengan berbagai rute yang mungkin ditempuh. Ini mengakibatkan timbulnya dua
komponen utama dari ruang gerak: ruas jalan (way link) dan persimpangan jalan (way
intersection). Arus dari dua atau lebih ruas bergabung menjadi satu pada suatu persimpangan
jalan, dan satu arus jalan dapat dipisahkan untuk mengikuti dua atau lebih jalur pada
persimpangan jalan. (K. Morlok:1988)
Tempat awal / akhir pergerakan (terminal).

Untuk teknologi transport secara umum, terminal biasanya mudah terlihat dan merupakan
sarana yang besar. Pelabuhan udara, pelabuhan laut, stasiun kereta api adalah beberapa
contohnya. Pada kenyataannya, hampir untuk semua teknologi transportasi darat, fungsi terminal
dapat diadakan setiap lokasi jalan, dimana kendaraan dapat berhenti dan menaik-turunkan
penumpang atau bongkar-muat barang. Hal ini tidak dapat dilakukan pada setiap tempat karena
mungkin dapat mengakibatkan kelambatan pada lalu lintas, dan oleh karena mungkin lebih
ekonomis bila pada tempat tertentu disediakan fasilitas untuk berhenti sehingga keamanan dan
kenyamanan penumpang lebih terjamin. (K. Morlok:1988)
Objek/apaun yang bergerak (alat angkut/kendaraan dalam bentuk apapun).
Benda atau obyek yang bergerak di dalam suatu jenis kendaraan yang memberikan obyek
tersebut suatu mobilitas pada suatu jalur gerak tertentu, dan dapat digerakkan di jalur tersebut.
Selain itu, ia juga dapat melindungi obyek dari kerusakan. kendaraan-kendaraan yang umum
dijumpai adalah yang sekarang banyak dipakai untuk transport darat, air, udara. Contoh
kendaraan lain dapat berupa pipa, dan peti kemas (container). (K. Morlok:1988)
Pengelolaan : yang mengkoordinasi ketiga unsur sebelumnya.
Sebagian besar sistem transport terdiri dari ratusan bahkan ribuan komponen. Ribuan gerakan
tertentu lalu lintas mungkin terjadi pada satu hari saja. Sangatlah penting bahwa terminal-
terminal dapat dioperasikan dengan suatu cara tertentu sehingga lalu lintas yang melaluinya
dapat tertampung, kendaraan-kendaraan tersedia untuk menampung kebutuhan lalu lintas, dan
yang sesuai sehingga tujuan akhir lalu lintas tadi tercapai. Kesemuanya ini membutuhkan suatu
koordinasi yang baik dari aktivitas setiap komponen. (K. Morlok:1988)
Berfungsinya alat pendukung proses perpindahan ini sesuai dengan yang diinginkan,
tidaklah terlepas dari kehadiran subsistem tersebut di atas secara serentak. Masing-masing unsur
itu tidak bisa hadir beroperasi sendiri-sendiri, kesemuanya harus terintegrasi secara serentak.
Seandainya ada salah satu saja komponen yang tidak hadir, maka alat pendukung proses
perpindahan (sistem transportasi) tidak dapat bekerja dan berfungsi.

2.8 Ciri Permasalahan Transportasi


Ciri kebutuhan akan transportasi

Merupakan fungsi dari waktu, tujuan perjalanan, frekuensi, jenis cargo, dll.
Pelayanan transportasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan akan pergerakan menyebabkan
siste transportasi tidak berfungsi dengan optimal.
Kebutuhan transportasi bersifat sebagai kebutuhan turunan. Pergerakan terjadi karena adanya
proses pemenuhan kebutuhan.

Ciri sistem prasarana transportasi


Ciri utama sistem prasarana transportasi adalah melayani pengguna. Dua peran utama sistem
prasarana transportasi:

Sebagai alat bantu untuk mengarahkan pembangunan


Sebagai prasarana bagi pergerakan manusia dan/atau barang yang timbul akibat adanya
kegiatan di daerah tersebut.

Keseimbangan antara sistem prasarana transportasi dan kebutuhan akan transportasi

2.9 Ciri Dasar Perencanaan Transportasi

Multimoda.
Kajian perencanaan transportasi selalu melibatkan lebih dari satu moda transportasi sebagai
bahan kajian. Karenanya diperlukan konsep sistem transportasi integrasi antar moda.
Multidisiplin.
Kajian Pertrans melibatkan banyak disiplin keilmuan karena aspek kajiannya sangat beragam.
Kajian: cirri pergerakan, pengguna jasa, sistem prasarana, saran transportasi
Multisektoral.
Banyak lembaga yang terlibat. Pihak yang terlibat: DLLAJ, BPN, Dinas Tata Kota,
Kepolisian, Operator Angkutan Umum , Dispenda, dll
Multimasalah.
Masalah aspek pengguna jasa, rekayasa, operasional, ekonomi, sosial, pertanahan, dll.
2.10 Isu Transportasi
Beberapa masalah pokok tentang transportasi yang sebagian besar banyak terjadi di kota-kota
besar di Indonesia, antara lain masalah transportasi perkotaan dan sepeda motor. Apalagi
transportasi hampir semua kota besar banyak menemui kendala, sehingga banyak menimbulkan
kecelakaan. Masalah kemacetan dan kecelakaan merupakan masalah yang biasa terjadi di
Indonesia.

Kemacetan

Menurut wikipedia.org kemacetan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:

Arus yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan.


Terjadi kecelakaan lalu lintas sehingga terjadi gangguan kelancaran karena masyarakat yang
menonton kejadian kecelakaan atau karena kendaran yang terlibat kecelakaan belum
disingkirkan dari jalur lalu lintas.
Terjadi banjir sehingga kendaraan memperlambat kendaraan
Ada perbaikan jalan.
Bagian jalan tertentu yang longsor.
Kepanikan seperti kalau terjadi isyarat sirene tsunami.

Selain itu, adanya penumpukan kendaraan pada lokasi dan waktu yang sama mengakibatkan
terjadinya kemacetan di daerah tersebut.

Kecelakaan

Kecelakaan merupakan keadaan yang terjadi akibat kendaraan bersinggungan dengan obyek lain
sehingga menyebabkan kerusakan atau bahkan dapat memakan korban.
Menurut referensi WHO;2004, ada tiga faktor utama yang menyebabkan terjadinya kecelakaan,
pertama adalah factor manusia, kedua adalah factor kendaraan dan yang terakhir adalah factor
jalan. Kombinasi dari ketiga factor itu bias saja terjadi, antar manusia dengan kendaraan
misalnya berjalan melebihi batas kecepatan yang ditetapkan kemudian ban pecah yang
mengakibatkan kendaraan mengalami kecelakaan. Disamping itu masih ada factor lingkungan,
cuaca yang juga bias berkonstribusi terhadap kecelakaan.
Untuk kecelakaan di Indonesia sebagian besar didominasi oleh sepeda motor. Menurut data yang
dimiliki MTI, angka kecelakaan yang disebabkan oleh sepeda motor mencapai 70 persen. Angka
ini seiring dengan jumlah kendaraan dan peningkatan produksi motor di Indonesia yang pesat
sejak 2001. Itu sebabnya, perlu adanya pembinaan terhadap kesadaran dalam pola pikir, pola
sikap, dan pola perilaku operator (penyedia jasa layanan transportasi) maupun masyarakat
pengguna jasa transportasi untuk memperhatikan aspek-aspek ketertiban dan keselamatan dalam
penyelenggaraan maupun penggunaan sarana transportasi di Indonesia.

2.11 Isu Penting Transportasi Berkelanjutan


Menurut wikipedia.org, beberapa isue penting yang menjadi dasar dalam menciptakan
transportasi berkelanjutan, yaitu:

Aksesibilitas bukan mobilitas


Bahwa yang perlu disediakan adalah bagaimana menciptakan aksesibilitas khususnya terhadap
aksesibilitas terhadap penggunaan angkutan umum, bukan terhadap pengguna angkutan pribadi.
Dengan demikian akan mendorong pengguna kendaraan pribadi untuk menggunakan angkutan
umum dengan langkah-langkah membatasi akses terhadap parkir kendaraan pribadi.
Transportasi orang bukan kendaraan pribadi
Salah satu prinsip penting yang perlu didorong adalah bagaimana kebijakan harus diarahkan
untuk menciptakan keberpihakan terhadap pelayanan angkutan orang yang menggunakan
angkutan umum dan kebijakan yang tidak mendukung penggunaan kendaraan pribadi dan
menyulitkan masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi.
Manfaatkan lahan untuk kepentingan umum
Lahan perkotaan sebaiknya digunakan seluas-luasnya untuk kepentingan masyarakat bukan
untuk jalan bagi kendaraan pribadi, ataupun untuk tempat parkir, tetapi lebih banyak digunakan
untuk tempat berjalan kaki, membangun kawasan pejalan kaki, bersepeda ataupun tempat
bermain untuk anak-anak yang lebih ramah terhadap lingkungan serta bisa menurunkan angka
kecelakaan secara nyata.
Hentikan subsidi untuk kendaraan pribadi
Subsidi untuk kendaraan pribadi sangatlah besar, khususnya subsidi yang diberikan
pemerintah untuk bahan bakar, untuk pembangunan infrastruktur jalan, membangun tempat
parkir maupun prasarana lain untuk mendukung penggunaan kendaraan pribadi yang tidak
efisien. Subsidi ini sebaiknya malah dialokasikan untuk membangun angkutan umum dan
mendukung operasional angkutan umum yang lebih efisien dalam penggunaan ruang,
penggunaan bahan bakar dan sumber daya lainnya.

BAB IV

4.1 Subsistem Jaringan

Sistem adalah suatu kelompok elemen atau sub-sistem yang bekerja sama untuk mencapai
tujuan tertentu. Terdiri dari berbagai elemen yang harus bekerja sama untuk menggerakkan
sistem. Menurut Hay (1977) terdapat 5 komponen dasar yang membentuk sistem transportasi,
yaitu: sumber tenaga penggerak, kendaraan, jalur pergerakan, terminal dan sistem pengendalian
operasi. Pada dasarnya pendukung sistem transportasi terdiri dari 3 unsur:
1) Sarana, terdiri dari sumber tenaga penggerak dan kendaraan.
2) Prasarana, terdiri dari jalur pergerakan dan titik simpul pergerakan/terminal.
3) Sistem operasi dan pengendalian pergerakan
Ruang lingkup teknik transportasi dibagi menjadi 2 kategori yaitu yang
berhubungan dangan perencanaan sistem dan yang berhubungan dengan
perancangan rinci masing-masing komponen sistem (sarana-prasarana transportasi
dan sistem pengoperasiannya). Masalah-masalah yang timbul dalam sistem
transportasi antara lain;

Stabilitas dan daya dukung jalur gerak, kondisi geologi dan geografis.
Dampak yang timbul pada lingkungan hidup (polusi udara dan
kebisingan).
Kapasitas/daya angkut sarana dan prasarana berpengaruh dengan
makin besarnya kebutuhan dan makin tingginya kecepatan yang
diminta.
Upaya perbaikan sistem dan metoda pengendalian untuk
meningkatkan faktor keamanan dan keselamatan.
Pendanaan yang terbatas.
Menipisnya cadangan sumber energi.
Adanya perbedaan kepentingan pihak-pihak yang terlibat.

Dalam peren#anaan transportasi yang menjadi pusat perhatian dalam


perencanaan transportasi adalah upaya memenuhi permintaan (demand) yang ada
dengan tingkat dan kualitas pelayanan yang memadai serta dengan dana yang
terbatas. Umumnya bersifat multidisiplin dan tidak hanya bisa ditangani oleh ahli
teknik saja" tapi harus melibatkan keahlian dari bidang lain seperti: ekonomi,
sosial, hokum, dan sebagainya.

4.2 Ketersediaan Sarana dan Prasarana Transportasi Kota Palembang


4.2.1 Sarana
Sarana transportasi merupakan salah satu faktor yang penting dalam kehidupan manusia.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam melakukan aktivitas setiap hari guna mencapai
tempat tujuan agar sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan diperlukan alat angkutan atau
sarana transportasi yang nyaman dan memadai. Dalam memenuhi kebutuhan alat angkutan atau
sarana transportasi tersebut, diperlukan adanya suatu pembangunan sarana transportasi yang
handal, berkemampuan tinggi yang diselenggarakan secara terpadu, tertib, aman, lancar, dan
nyaman yang dapat mendukung pengembangan wilayah dan peningkatan hubungan, baik
nasional maupun internasional.

Hal itu harus ditunjang oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia yang disesuaikan
dengan perkembangan ekonomi, kemajuan teknologi, pelestarian lingkungan, serta
kebijaksanaan energi nasional supaya dapat memenuhi kebutuhan pembangunan dan tuntutan
masyarakat, kebutuhan perdagangan nasional maupun internasional.
Sarana dan prasarana transportasi darat yang terdapat di pusat kota, yaitu jaringan jalan
dan bus kota (bus kota biasa dan trans musi) serta kendaraan bermotor pribadi (roda dua atau
empat) dan halte bus kota biasa maupun halte trans musi.

4.1.2 Prasarana
Ciri sistem prasarana transportasi
Ciri utama sistem prasarana transportasi adalah melayani pengguna. Dua peran utama sistem
prasarana transportasi:
1) Sebagai alat bantu untuk mengarahkan pembangunan
2) Sebagai prasarana bagi pergerakan manusia dan/atau barang yang timbul akibat adanya
kegiatan di daerah tersebut.
3) Keseimbangan antara sistem prasarana transportasi dan kebutuhan akan transportasi

4.3 Pengembangan Sistem Transportasi di Kota Palembang


4.3.1 Transportasi Darat
Sistem jaringan jalan merupakan aspek penting dalam membentuk struktur ruang
wilayah. Permasalahan utama yang terjadi di kota Palembang tentang sistem jaringan jalan
adalah keterbatasan daya jangkau jaringan jalan untuk menghubungkan setiap kecamatan
sehingga pergerakan internal maupun eksternal kurang memadai.
Kualitas jaringan jalan yang tidak memadai menjadikan sistem pergerakan internal
maupun eksternal wilayah menjadi terhambat. Untuk meningkatkan efisiensi pergerakan,
pengembangan sistem jaringan jalan perlu dilakukan melalui peningkatan fungsi jaringan jalan
dan pengembangan jaringan jalan baru sesuai dengan kebutuhan pengembangan untuk
menunjang perwujudan struktur ruang.
Dilihat dari fungsinya, jaringan jalan terdiri dari jaringan arteri primer, kolektor primer,
dan lokal primer.

Pada jaringan jalan arteri primer, diarahkan untuk melayani pergerakan antar kota antar
provinsi.
Pada jaringan jalan kolektor primer untuk menghubungkanantar pusat kegiatan wilayah
maupun antar pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lokal, beberapa jalan
kolektor akan meningkatkan fungsinya untuk mendorong perkembangan wilayah terse!ut.
Sedangkan pada jaringan jalan lokal primer yang dikembangkan dan ditingkatkan
fungsinya untuk mendorong perkembangan dan pemerataan kota.
Pembangunan jembatan yang baru akan ditujukan untuk membuka kawasan terisolasi
atau untuk meningkatkan kemampuan pemasaran hasil produksi, peningkatan atau perkerasan
jalan dari tanah menjadi koral kemudian menjadi permukaan aspal, perbaikan atau perataan jalan
yang rusak demi kelancaran mobilitas dan aksesibilitas pertumbuhan ekonomi makro dan mikro
di wilayah Palembang.
Kondisi jaringan transportasi yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan penduduk
sehari-hari tidak hanya terbatas pada jaringan jalan nya, tetapi juga dari sarana angkutan nya.
Penduduk umumnya melakukan pergerakan sehari-hari dengan menggunakan angkutan pedesaan
yang dapat menjangkau area-area pedesaan, namun masih ada beberapa kawasan perairan yang
masih belum dijangkau oleh moda angkutan umum darat, sehingga masih banyak juga kawasan
yang terisolasi
4.3.2 Transportasi Laut
Untuk menghubungkan beberapa daerah yang tidak dapat dijalani oleh transportasi jalan
darat karena kondisi fisik dasar yang memerlukan investasi cukup besar dan belum sebanding
dengan manfaat yang diperoleh. Sehingga sistem angkutan sungai sangatlah penting dalam
membentuk tatanan kota, untuk itu moda angkutan sungai perlu dikembangkan dan ditingkatkan
kualitas nya.
4.3.3 Transportasi Udara

BAB V
1.1 Penutup
(esimpulan
/.Sistem transportasi (ang !erkem!ang )i kota Palem!angter)iri )ari $aringan
transportasi )arat )an air. Pa)a !agianutara )an timur kota Palem!ang masih )i )
ominasi olehpenggunaan transportasi air !aik melalui sungai maupunlaut,
mengingat 'ila(ah terse!ut merupakan )aerahperairan. Se)angkan )i !agian selatan,
perkem!angansistem transportasi )arat (ang menghu!ungkan antar'ila(ah sangat )
ipengaruhi oleh posisi )an hirarki kotaPalem!ang sen)iri, )an $uga memiliki pola
keterhu!ungan)engan kota Palem!ang.1.Pengem!angan sistem $aringan
transportasi kotaPalem!ang )imaksu)kan untuk meningkatkan keterkaitanke!
utuhan )an peningkatan transportasi antar 'ila(ah )anantar ka'asan pemukiman.
Selain itu, pengem!angann(a $uga untuk me'u$u)kan keselarasan )an
keterpa)uanantar pusat pemukiman )engan sektor kegiatan ekonomi)aerah.
2.
Permasalahan utama (ang ter$a)i )i kota Palem!angtentang sistem $aringan $alan
a)alah keter!atasan )a(a $angkau $aringan $alan. Kualitas $aringan $alan (ang
ti)akmema)ai men$a)ikan sistem pergerakan internal maupuneksternal 'ila(ah
men$a)i terham!at.
:.
Untuk meningkatkan e&siensi pergerakan, pengem!angansistem $aringan $alan
perlu )ilakukan melalui peningkatanfungsi $aringan $alan )an pengem!angan
$aringan $alan!aru sesuai )engan ke!utuhan pengem!angan untukmenun$ang
per'u$u)an struktur ruang.

8.Kon)isi $aringan transportasi (ang )i!utuhkan untukmen)ukung kegiatan pen)u)uk


sehari-hari ti)ak han(ater!atas pa)a $aringan $alann(a, tetapi $uga )ari
saranaangkutann(a.=.Pen)u)uk umumn(a melakukan pergerakan sehari-hari)engan
menggunakan angkutan pe)esaan (ang )apatmen$angkau area-area
pe)esaan;.Untuk menghu!ungkan !e!erapa )aerah (ang ti)ak )apat)ila(ani oleh
transportasi $alan )arat karena kon)isi &sik)asar (ang memerlukan in estasi +ukup
!esar )an !elumse!an)ing )engan manfaat (ang )iperoleh. Sehinggasistem angkutan
sungai sangatlah penting )alammem!entuk tatanan kota, untuk itu mo)a angkutan
sungai perlu dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya
Daftar Pustaka

https://alviansaf.wordpress.com/2013/03/15/analisis-penggunaan-transportasi-darat-di-pusat-
kota-palembang-provinsi-sumatera-selatan/
https://id.scribd.com/document/341492668/Sistem-Transportasi-di-Palembang-
trimar-atussholichah-docx