Anda di halaman 1dari 44

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN

MASYARAKAT

LAPORAN KASUS INDIVIDU

ASMA BRONKIALE EKSASERBASI AKUT DERAJAT


RINGAN PERSISTEN RINGAN

Disusun oleh:

Felix Santoso

H1A 012 018

Pembimbing:

dr. Lina Nurbaiti

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

PUSKESMAS NARMADA

2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

Asma adalah penyakit kronik saluran napas yang terdapat di seluruh dunia dengan
kekerapan yang bervariasi. Penyakit ini bisa timbul pada semua usia meskipun paling banyak
pada usia anak. Asma adalah masalah kesehatan global yang serius yang mempengaruhi
semua kelompok usia. Prevalensinya meningkat di banyak negara. Disamping itu, pada
masyarakat menyebabkan hilangnya produktivitas kerja.1
Asma merupakan penyakit kronik yang banyak diderita oleh anak dan dewasa baik di
negara maju maupun di negara berkembang. Menurut data WHO, sekitar 300 juta penduduk
di dunia menderita asma dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 400 juta
pada tahun 2025. Meskipun dengan pengobatan efektif, angka morbiditas dan mortalitas
asma masih tetap tinggi. Satu dari 250 orang yang meninggal adalah penderita asma. 2 Angka
mortalitas penyakit asma di dunia mencapai 17,4% dan penyakit ini menduduki peringkat 5
besar sebagai penyebab kematian.3
Pada Laporan Hasil Riskesdas NTB 2013, prevalensi penyakit asma di provinsi NTB
sebesar 5,1% (kisaran: 2,3-5,9%). Kabupaten Lombok Barat menempati urutan pertama yaitu
5,9%. Kondisi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi penyakit asma secara
nasional yang sebesar 4,5%. Pada penyakit asma, ditemukan prevalensi meningkat seiring
dengan umur, tinggi pada kelompok yang tidak sekolah, perempuan lebih tinggi
prevalensinya dibandingkan laki-laki, dan lebih banyak di desa daripada di kota.4 Pada tahun
2015, asma menempati urutan ke 10 dari 10 penyakit terbanyak di NTB sebanyak 46.789
kasus.5
Penyakit asma tidak dapat disembuhkan akan tetapi penderita dapat sembuh dalam arti
asmanya terkontrol. Bila tidak, akan mengganggu kualitas hidup penderita yang
menyebabkan kehilangan waktu sekolah dan kehilangan jam kerja. Disamping itu penderita
harus mampu meminimalkan faktor-faktor pemicu penyakit tersebut seperti keadaan
lingkungan dimana kita berada dan perilaku.3
Polusi udara dan kurangnya kebersihan lingkungan yang terdapat di kota-kota besar
bahkan termasuk kota pinggiran menjadi faktor penyebab yang sangat dominan
meningkatkan serangan asma di Indonesia. Buruknya kualitas udara dan berubahnya pola
hidup masyarakat di perkirakan menjadi penyebab meningkatnya penderita asma di Indonesia
yang hingga sampai saat ini belum terpecahkan. Tingginya angka kematian akibat asma
banyak disebabkan oleh kontrol asma yang buruk serta sikap pasien dan dokter yang sering
1
kali meremehkan tingkat keparahan. Padahal asma yang tidak terkontrol dapat membatasi
kualitas hidup secara drastis dan kesejahteraan penderita beserta anggota keluarganya.6
Mengingat hal tersebut pengelolaan asma yang terbaik haruslah dilakukan pada saat
dini dengan berbagai tindakan pencegahan agar penderita tidak mengalami serangan. 8 Dari
hal-hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian asma.
Dalam hal ini, puskesmas sebagai ujung tombak dalam pelayanan kesehatan masyarakat
primer yang bertanggung jawab terhadap kesehatan perorangan dan kesehatan masyarakat
memiliki peranan yang sangat penting demi tercapainya tujuan tersebut. Terkait hal tersebut,
salah satu program dari puskesmas untuk meningkatkan upaya kesehatan masyarakat yaitu
upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular salah satunya adalah asma.
Penyakit asma di Puskesmas Narmada masih termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di
Puskesmas Narmada tahun 2016. Hal ini tentu saja dapat menurunkan derajat kesehatan
masyarakat Narmada. Laporan berikut ini akan membahas mengenai salah satu kasus asma
yang terjadi di wilayah Puskesmas Narmada.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gambaran Penyakit Asma di Puskesmas Narmada


Berdasarkan Data Jumlah Kasus di Puskesmas, pada tahun 2016, penyakit asma
merupakan penyakit yang termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di Puskesmas
Narmada tahun 2016.
Tabel 1. Data 10 Penyakit Terbanyak (Rawat Jalan dan Rawat Inap) Puskesmas
Narmada Bulan Januari-Desember 2016. 9
No Nama Penyakit Jumlah
1. ISPA 2066
2. Rematik termasuk Tulang Belakang 1470
3. Penyakit lain pd saluran pernafasan 1352
atas
4. Penyakit darah tinggi primer 1325
5. Gastritis 995
6. Ketulian 995
7. Tonsilitis 743
8. Diare 736
9. Asma 684
10. Bronkhitis 594
Sumber :Data RekapanSP2TP-LB1 PuskesmasNarmada 2016.

2.2. Konsep Penyakit Asma


2.2.1. Definisi Asma
Definisi yang paling banyak diterima secara luas adalah hasil panel Nasional
Institute of Health (NIH)-National Heart, Lung and Blood Institute (NHLBI).
Menurut NHLBI asma adalah penyakit inflamasi kronik saluran napas dimana
banyak sel berperan terutama sel mast, eosinofil, limfosit T, makrofag, neutrofil dan
sel epitel. Pada individu yang rentan proses inflamasi tersebut menyebabkan
wheezing berulang, sesak napas, dada rasa penuh (chest tightness) dan batuk
terutama malam dan atau menjelang pagi. Inflamasi kronik menyebabkan
peningkatan hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang
berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan
atau dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang
luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan.1

3
Asma adalah penyakit saluran napas kronik yang penting dan merupakan
masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara di seluruh dunia.
Asma dapat bersifat ringan dan tidak mengganggu aktivitas, akan tetapi dapat
bersifat menetap dan mengganggu aktiviti bahkan kegiatan harian. Produktivitas
menurun akibat berhenti kerja atau sekolah, dan dapat menimbulkan kecacatan,
sehingga menambah penurunan produktivitas serta menurunkan kualitas hidup.1

2.2.2. Epidemiologi
Asma merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di
Indonesia, hal itu tergambar dari data studi survei kesehatan rumah tangga (SKRT)
di berbagai propinsi di Indonesia. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) 1995,
prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13/1000, dibandingkan bronkitis
kronik 11/1000 dan obstruksi paru 2/1000.9
Menurut data WHO, sekitar 300 juta penduduk di dunia menderita asma dan
diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 400 juta pada tahun 2025.
Meskipun dengan pengobatan efektif, angka morbiditas dan mortalitas asma masih
tetap tinggi. Satu dari 250 orang yang meninggal adalah penderita asma. 2 Angka
mortalitas penyakit asma di dunia mencapai 17,4% dan penyakit ini menduduki
peringkat 5 besar sebagai penyebab kematian.3
Pada Laporan Hasil Riskesdas Indonesia 2007, prevalensi penyakit asma
sebesar 3,5%, sedangkan tahun 2013 prevalensi penyakit asma sebesar 4,5%.
Berdasarkan Laporan Hasil Riskesdas Nusa Tenggara Barat 2013, Kabupaten
Lombok Barat menempati urutan ketiga yaitu 5,9% dan diikuti dengan Lombok
Timur sebesar 5,9% juga. Pada Riskesdas 2013 didapatkan bahwa umur 25-34 tahun
mempunyai prevalensi asma tertinggi yakni sebesar 5,7% dan usia kurang dari tahun
memiliki prevalensi asma yang lebih rendah sebesar 1,5%.

2.2.3. Faktor Risiko


Risiko berkembangnya asma merupakan interaksi antara faktor pejamu (host
factor) dan faktor lingkungan. Faktor pejamu disini termasuk predisposisi genetik
yang mempengaruhi untuk berkembangnya asma, yaitu genetik asma, alergik
(atopi), hipereaktiviti bronkus, jenis kelamin dan ras. Faktor lingkungan
mempengaruhi individu dengan kecenderungan/ predisposisi asma untuk
berkembang menjadi asma, menyebabkan terjadinya eksaserbasi dan atau

4
menyebabkan gejala-gejala asma menetap. Termasuk dalam faktor lingkungan yaitu
alergen, sensitisasi lingkungan kerja, asap rokok, polusi udara, infeksi pernapasan
(virus), diet, status sosioekonomi dan besarnya keluarga. Interaksi faktor
genetik/pejamu dengan lingkungan dipikirkan melalui kemungkinan 9:
- Pajanan lingkungan hanya meningkatkan risiko asma pada individu dengan
genetik asma,
- Baik lingkungan maupun genetik masing-masing meningkatkan risiko penyakit
asma.

Gambar 1. Interaksi faktor genetik dan lingkungan pada kejadian asma

FAKTOR PEJAMU
Asma adalah penyakit yang diturunkan telah terbukti dari berbagai penelitian.
Predisposisi genetik untuk berkembangnya asma memberikan bakat/ kecenderungan
untuk terjadinya asma. Fenotip yang berkaitan dengan asma, dikaitkan dengan
ukuran subjektif (gejala) dan objektif (hipereaktiviti bronkus, kadar IgE serum) dan
atau keduanya. Karena kompleksnya gambaran klinis asma, maka dasar genetik
asma dipelajari dan diteliti melalui fenotip-fenotip perantara yang dapat diukur
secara objektif seperti hipereaktiviti bronkus, alergik/ atopi, walau disadari kondisi
tersebut tidak khusus untuk asma. Banyak gen terlibat dalam patogenesis asma, dan
beberapa kromosom telah diidentifikasi berpotensi menimbulkan asma, antara`lain
CD28, IGPB5, CCR4, CD22, IL9R,NOS1, reseptor agonis beta2, GSTP1; dan gen-
gen yang terlibat dalam menimbulkan asma dan atopi yaitu IRF2, IL-3,Il-4, IL-5,

5
IL-13, IL-9, CSF2 GRL1, ADRB2, CD14, HLAD, TNFA, TCRG, IL-6, TCRB,
TMOD dan sebagainya.9
Faktor pejamu termasuk predisposisi genetik yang mempengaruhi untuk
berkembangnya asma yaitu:22,23,24
a. Hipereaktivitas
Saluran napas sensitif terhadap berbagai rangsanganalergen maupun iritan
b. Atopi/alergi bronkus
Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipunbelum diketahui
bagaimana cara penurunannya.Risiko orang tua dengan asma mempunyai anak
dengan asma adalah tiga kali lipat lebih tinggi jika riwayat keluarga dengan
asma disertai dengan salah satu atopi. Predisposisi keluarga untuk mendapatkan
penyakit asma yaitu kalau anak dengan satu orangtua yang terkena mempunyai
risiko menderita asma 25%, risiko bertambah menjadi sekitar 50% jika kedua
orang tua asmatisk.
Faktor ibu ternyata lebih kuat menurunkan asma dibanding dengan bapak.Orang
tua asma kemungkinan 8-16 kali menurunkan asma dibandingkan dengan orang
tua yang tidak asma, terlebih lagi bila anak alergi terhadap tungau debu rumah.
c. Faktor yang memodifikasi penyakit genetik
d. Jenis Kelamin
Pria merupakan risiko untuk asma pada anak. Sebelum usia 14 tahun, prevalensi
asma pada anak laki-laki adalah 1,5-2 kali dibanding anak perempuan. Tetapi
menjelang dewasa perbandingan tersebut lebih kurang sama dan pada masa
menopause perempuan lebih banyak.
Peningkatan risiko pada anak laki-laki mungkin disebabkan semakin sempitnya
saluran pernapasan, peningkatan pita suara, dan mungkin terjadi peningkatan
IgE pada laki-laki yang cenderung membatasi respon bernapas.
Didukung oleh adanya hipotesis dari observasi yang menunjukkan tidak ada
perbedaan ratio diameter saluran udara laki-laki dan perempuan setelah berumur
10 tahun, mungkin disebabkan perubahan ukuran rongga dada yang terjadi pada
masa puber laki-laki dan tidak pada perempuan.
e. Ras/etnik
Ras kulit hitam menpunyai prevalensi lebih tinggi untuk terjadi asma
dibandingkan dengan ras kulit putih di Amerika Serikat, namun hal ini juga

6
dicetuskan oleh kondisi dari sosioekonomi, paparan terhadap alergen serta
faktor-faktor diet, dan tidak hanya karena ras/etnik saja.

FAKTOR LINGKUNGAN
Alergen dan sensitisasi bahan lingkungan kerja dipertimbangkan adalah
penyebab utama asma, dengan pengertian faktor lingkungan tersebut pada awalnya
mensensitisasi jalan napas dan mempertahankan kondisi asma tetap aktif dengan
mencetuskan serangan asma atau menyebabkan menetapnya gejala. Berikut akan
dijelaskan beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi individu dengan
kecenderungan/ predisposisi asma untuk berkembang menjadi asma, menyebabkan
terjadinya eksaserbasi dan atau menyebabkan gejala-gejala asma menetap:1,21,22,23,24
a. Alergen inhalan, yaitu sesuatu yang masuk melalui saluran
pernapasan. Alergen dan occupational factor adalah penyebab terpenting asma,
alergen inhalan terdiri dari :
- Alergen di dalam ruangan (tungau, debu rumah, kucing,
alternaria/jamur dll)
- Alergen diluar ruangan (alternaria, tepung sari)
Asma bronkiale disebabkan oleh masuknya suatu alergen misalnya tungau debu
rumah yang masuk ke dalam saluran nafas seseorang sehingga merangsang
terjadinya reaksi hipersentitivitas tipe I. Tungau debu rumah ukurannya 0,1 - 0,3
mm dan lebar 0,2 mm, terdapat di tempat-tempat atau benda-benda yang banyak
mengandung debu. Misalnya debu yang berasal dari karpet dan jok kursi,
terutama yang berbulu tebal dan lama tidak dibersihkan, juga dari tumpukan
koran-koran, buku-buku, pakaian lama.
Binatang peliharaan yang berbulu seperti anjing, kucing, hamster, burung dapat
menjadi sumber alergen inhalan. Sumber penyebab asma adalah alergen protein
yang ditemukan pada bulu binatang di bagian muka dan ekskresi. Alergen
tersebut memiliki ukuran yang sangat kecil (sekitar 3-4 mikron) dan dapat
terbang di udara sehingga menyebabkan serangan asma, terutama dari burung
dan hewan menyusui.
b. Makanan (bahan penyedap, pengawet, pewarna makanan, kacang,
makanan laut, susu sapi, telur)
Beberapa makanan penyebab alergi makanan seperti susu sapi, ikan laut,
kacang, berbagai buah-buahan seperti tomat, strawberry, mangga, durian

7
berperan menjadi penyebab asma. Makanan produk industri dengan pewarna
buatan (misal: tartazine), pengawet (metabisulfit), vetsin (monosodum glutamat-
MSG) juga bisa memicu asma. Penderita asma berisiko mengalami reaksi
anafilaksis akibat alergi makanan yang dapat mengancam jiwa.Makanan yang
terutama sering mengakibatkan reaksi yang fatal tersebut adalah kacang, ikan
laut dan telur.Alergi makanan seringkali tidak terdiagnosis sebagai salah satu
pencetus asma meskipun penelitian membuktikan alergi makanan sebagai
pencetus bronkokontriksi pada 2%-5% anak dengan asma.
c. Obat-obatan tertentu (misalnya golongan aspirin, NSAID, bloker
dll)
d. Bahan yang mengiritasi (misalnya parfum, household spray, dan
lain-lain)
e. Ekpresi emosi berlebih/stress
Stress atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu
juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma
yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami
stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah
pribadinya.Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa
diobati.
f. Asap rokok dari perokok aktif dan pasif
Asap rokok berhubungan dengan penurunan fungsi paru. Pajanan asap rokok,
sebelum dan sesudah kelahiran berhubungan dengan efek berbahaya yang dapat
diukur seperti meningkatkan risiko terjadinya gejala serupa asma pada usia dini.
Pada perokok pasif, sisi aliran asap yang terbakar lebih panas dan lebih toksik
dari pada asap yang dihirup perokok, terutama dalam mengiritasi mukosa jalan
nafas. Paparan asap tembakaupasif berakibat lebih berbahaya gejala penyakit
saluran nafas bawah (batuk, lendir dan mengi) dan naiknya risiko asma dan
serangan asma. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa risiko munculnya asma
meningkat pada anak yang terpapar sebagai perokok pasif
g. Polusi udara di luar dan di dalam ruangan
Bahan polutan indoor dalam ruangan meliputi bahan pencemar biologis (virus,
bakteri, jamur), formadehyde, volatile organic coumpounds (VOC), combustion
products (CO1, NO2, SO2) yang biasanya berasal dari asap rokok dan asap
dapur. Sumber polutan VOC berasal dari semprotan serangga, cat, pembersih,
8
kosmetik, Hairspray, deodorant, pewangi ruangan, segala sesuatu yang
disemprotkan dengan aerosol sebagai propelan dan pengencer (solvent) seperti
thinner.
Sumber formaldehid dalam ruangan adalah bahan bangunan, insulasi, furnitur,
karpet. Paparan polutan formaldehid dapat mengakibatkan terjadinya iritasi
pada mata dan saluran pernapasan bagian atas. Partikel debu, khususnya
respilable dust disamping menyebabkan ketidak nyamanan juga dapat
menyebabkan reaksi peradangan paru.
h. Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika
melakukan aktivitas tertentu
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan
aktivitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktivitas biasanya terjadi
segera setelah selesai aktivitas tersebut
i. Perubahan cuaca.
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi
asma.Atmosfer yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya
serangan asma.Kadang kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti:
musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah
angin serbuk bunga dan debu.
j. Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma.Hal ini
berkaitan dengan dimana dia bekerja.Misalnya orang yang bekerja di
laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas.Gejala ini
membaik pada waktu libur atau cuti.
k. Status Sosio-ekonomi
l. Infeksi pernapasan (virus)

2.2.4. Patogenesis
Asma merupakan inflamasi kronik saluran napas. Berbagai sel inflamasi
berperan terutama sel mast, eosinofil, sel limfosit T, makrofag, neutrofil dan sel
epitel. Faktor lingkungan dan berbagai faktor lain berperan sebagai penyebab atau
pencetus inflamasi saluran napas pada penderita asma. Inflamasi terdapat pada
berbagai derajat asma baik pada asma intermiten maupun asma persisten. Inflamasi
9
dapat ditemukan pada berbagai bentuk asma seperti asma alergik, asma nonalergik,
asma kerja dan asma yang dicetuskan aspirin.9
Gejala asma, yaitu batuk sesak dengan mengi merupakan akibat dari obstruksi
bronkus yang didasari oleh inflamasi kronik dan hiperaktivitas bronkus.
Hiperaktivitas bronkus merupakan ciri khas asma, besarnya hipereaktivitas bronkus
ini dapat diukur secara tidak langsung.Pengukuran ini merupakan parameter objektif
untuk menentukan beratnya hiperaktivitas bronkus yang ada pada seseorang pasien.
Berbagai cara digunakan untuk mengukur hipereaktivitas bronkus ini, antara lain
dengan uji provokasi beban kerja, inhalasi udara dingin, inhalasi antigen maupun
inhalasi zat nonspesifik.9

Gambar 2. Mekanisme dasar kelainan asma9

Pencetus serangan asma dapat disebabkan oleh sejumlah faktor antara lain
alergen, virus, dan iritan yang dapat menginduksi respon inflamasi akut yang terdiri
atas reaksi asma dini (early asthma reaction = EAR) dan reaksi asma lambat (late
asthma reaction = LAR). Setelah reaksi asma awal dan reaksi asma lambat, proses
dapat terus berlanjut menjadi reaksi inflamasi sub-akut atau kronik. Pada keadaan ini
terjadi inflamasi di bronkus dan se-kitarnya, berupainfiltrasi sel-sel inflamasi
terutama eosinofil dan monosit dalam jumlah besar ke dinding dan lumen bronkus.11
Penyempitan saluran napas yang terjadi pada asma merupakan suatu hal yang
kompleks. Hal ini terjadi karena lepasnya mediator dari sel mast yang banyak
ditemukan di permukaan mukosa bronkus, lumen jalan napas dan di bawah
membran basal. Berbagai faktor pencetus dapat mengaktivasi sal mast. Selain sel

10
mast, sel lain yang juga dapat melepaskan mediator adalah sel makrofag alveolar,
eosinofil, sel epitel jalan napas, netrofil, platelet, limfosit dan monosit.11
Inhalasi alergen akan mengaktifkan sel mast intralumen, makrofag alveolar,
nervus vagus dan mungkin juga epitel saluran napas. Peregangan vagal
menyebabkan refleks bronkus, sedangkan mediator inflamasi yang dilepaskan oleh
sel mast dan makrofag akan membuat epitel jalan napas lebih permeabel dan
memudahkan alergen masuk ke dalam submukosa, sehingga memperbesar reaksi
yang terjadi.11
Mediator inflamasi secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan
serangan asma, melalui sel efektor sekunder seperti eosinofil, netrofil, platelet dan
limfosit. Sel-sel inflamasi ini juga mengeluarkan mediator yang kuat seperti
lekotriens. Tromboksan, PAF dan protein sitotoksis yang memperkuat reaksi asma.
Keadaan ini menyebabkan inflamasi yang akhirnya menimbulkan hipereaktivitas
bronkus.11
Secara skematis mekanisme terjadinya asma digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3. Mekanisme terjadinya asma11

Untuk menjadi pasien asma, ada 2 faktor yang berperan yaitu faktor genetik
dan faktor lingkungan. Ada beberapa proses yang terjadi sebelum pasien menjadi
asma:
1. Sensitisasi, yaitu seseorang dengan risiko genetik dan lingkungan apabila
terpajan dengan pemicu (inducer/sensitisizer) maka akan timbul sensitisasi pada
dirinya.
2. Seseorang yang telah mengalami sensitisasi maka belum tentu menjadi asma.
Apabila seseorang yang telah mengalami sensitisasi terpajan dengan pemacu
(enhancer) maka terjadi proses inflamasi pada saluran napasnya. Proses
inflamasi yang berlangsung lama atau proses inflamasinya berat secara klinis
berhubungan dengan hiperreaktivitas bronkus.

11
3. Setelah mengalami inflamasi maka bila seseorang terpajan oleh
pencetus (trigger) maka akan terjadi serangan asma (mengi)

Faktor-faktor pemicu antara lain: Alergen dalam ruangan: tungau debu rumah,
binatang berbulu (anjing, kucing, tikus), alergen kecoak, jamur, kapang, ragi serta
pajanan asap rokok; pemacu: Rinovirus, ozon, pemakaian 2 agonis; sedangkan
pencetus: Semua faktor pemicu dan pemacu ditambah dengan aktivitas fisik, udara
dingin, histamin dan metakolin

Gambar 2. Inflamasi dan remondeling pada asma


INFLAMASI AKUT
Pencetus serangan asma dapat disebabkan oleh sejumlah faktor antara lain
alergen, virus, iritan yang dapat menginduksi respons inflamasi akut yang terdiri
atas reaksi asma tipe cepat dan pada sejumlah kasus diikuti reaksi asma tipe lambat. 9
o Reaksi Asma Tipe Cepat
Alergen akan terikat pada IgE yang menempel pada sel mast dan terjadi
degranulasi sel mast tersebut. Degranulasi tersebut mengeluarkan preformed
mediator seperti histamin, protease dan newly generated mediator seperti
leukotrin, prostaglandin dan PAF yang menyebabkan kontraksi otot polos
bronkus, sekresi mukus dan vasodilatasi.
o Reaksi Fase Lambat
Reaksi ini timbul antara 6-9 jam setelah provokasi alergen dan melibatkan
pengerahan serta aktivasi eosinofil, sel T CD4+, neutrofil dan makrofag.

12
INFLAMASI KRONIK
Berbagai sel terlibat dan teraktivasi pada inflamasi kronik. Sel tersebut ialah
limfosit T, eosinofil, makrofag, sel mast, sel epitel, fibroblast dan otot polos
bronkus.9

AIRWAY REMODELING
Proses inflamasi kronik pada asma akan meimbulkan kerusakan jaringan yang
secara fisiologis akan diikuti oleh proses penyembuhan (healing process) yang
menghasilkan perbaikan (repair) dan pergantian selsel mati/rusak dengan sel-sel
yang baru. Proses penyembuhan tersebut melibatkan regenerasi/perbaikan jaringan
yang rusak/injuri dengan jenis sel parenkim yang sama dan pergantian jaringan yang
rusak/injuri dengan jaringan peyambung yang menghasilkan jaringan skar. Pada
asma, kedua proses tersebut berkontribusi dalam proses penyembuhan dan inflamasi
yang kemudian akan menghasilkan perubahan struktur yang mempunyai mekanisme
sangat kompleks dan banyak belum diketahui dikenal dengan airway remodeling.
Mekanisme tersebut sangat heterogen dengan proses yang sangat dinamis dari
diferensiasi, migrasi, maturasi, dediferensiasi sel sebagaimana deposit jaringan
penyambung dengan diikuti oleh restitusi/pergantian atau perubahan struktur dan
fungsi yang dipahami sebagai fibrosis dan peningkatan otot polos dan kelenjar
mukus.9
Pada asma terdapat saling ketergantungan antara proses inflamasi dan
remodeling. Infiltrasi sel-sel inflamasi terlibat dalam proses remodeling, juga
komponen lainnya seperti matriks ekstraselular, membran retikular basal, matriks
interstisial, fibrogenic growth factor, protease dan inhibitornya, pembuluh darah,
otot polos, kelenjar mukus.9
Perubahan struktur yang terjadi yaitu hipertrofi dan hiperplasia otot polos jalan
napas, hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus, penebalan membran reticular basal,
pembuluh darah meningkat, matriks ekstraselular fungsinya meningkat, perubahan
struktur parenkim, peningkatan fibrogenic growth factor menjadikan fibrosis.9

2.2.5. Diagnosis dan Klasifikasi Asma


Studi epidemiologi menunjukkan asma underdiagnosed di seluruh dunia,
disebabkan berbagai hal antara lain gambaran klinis yang tidak khas dan beratnya

13
penyakit yang sangat bervariasi, serta gejala yang bersifat episodik sehingga
penderita tidak merasa perlu ke dokter.9
Diagnosis asma didasari oleh gejala yang bersifat episodik, gejala berupa
batuk, sesak napas, mengi, rasa berat di dada dan variabiliti yang berkaitan dengan
cuaca.9
Anamnesis
Anamnesis yang baik cukup untuk menegakkan diagnosis, ditambah dengan
pemeriksaan jasmani dan pengukuran faal paru terutama reversibiliti kelainan faal
paru, akan lebih meningkatkan nilai diagnostik.9
Riwayat penyakit / gejala 9 :
- Bersifat episodik, seringkali reversibel dengan atau tanpa pengobatan
- Gejala berupa batuk , sesak napas, rasa berat di dada dan berdahak
- Gejala timbul/ memburuk terutama malam/ dini hari
- Diawali oleh faktor pencetus yang bersifat individu
- Respons terhadap pemberian bronkodilator
Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam riwayat penyakit 9 :
- Riwayat keluarga (atopi)
- Riwayat alergi / atopi
- Penyakit lain yang memberatkan
- Perkembangan penyakit dan pengobatan

Pemeriksaaan Fisik
Gejala asma bervariasi sepanjang hari sehingga pemeriksaan jasmani dapat
normal. Kelainan pemeriksaan jasmani yang paling sering ditemukan adalah mengi
pada auskultasi. Pada sebagian penderita, auskultasi dapat terdengar normal
walaupun pada pengukuran objektif (faal paru) telah terdapat penyempitan jalan
napas. Pada keadaan serangan, kontraksi otot polos saluran napas, edema dan
hipersekresi dapat menyumbat saluran napas; maka sebagai kompensasi penderita
bernapas pada volume paru yang lebih besar untuk mengatasi menutupnya saluran
napas. Hal itu meningkatkan kerja pernapasan dan menimbulkan tanda klinis berupa
sesak napas, mengi dan hiperinflasi.9
Pada serangan ringan, mengi hanya terdengar pada waktu ekspirasi paksa.
Walaupun demikian mengi dapat tidak terdengar (silent chest) pada serangan yang
sangat berat, tetapi biasanya disertai gejala lain misalnya sianosis, gelisah, sukar
bicara, takikardi, hiperinflasi dan penggunaan otot bantu napas.9
Pemeriksaan Penunjang

14
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk diagnosis asma:11
- Pemeriksaan fungsi/faal paru dengan alat spirometer
- Pemeriksaan arus puncak ekspirasi dengan alat peak flow rate meter
- Uji reversibilitas (dengan bronkodilator)
- Uji provokasi bronkus, untuk menilai ada/tidaknya hipereaktivitas bronkus.
- Uji Alergi (Tes tusuk kulit /skin prick test) untuk menilai ada tidaknya alergi.
- Foto toraks, pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan penyakit selain
asma.

Klasifikasi Asma
Asma dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi, berat penyakit dan pola
keterbatasan aliran udara. Klasifikasi asma berdasarkan berat penyakit penting bagi
pengobatan dan perencanaan penatalaksanaan jangka panjang, semakin berat asma
semakin tinggi tingkat pengobatan. Berat penyakit asma diklasifikasikan
berdasarkan gambaran klinis sebelum pengobatan dimulai.1

Tabel 7. Klasifikasi derajat asma berdasarkan gambaran klinis secara umum pada
orang dewasa

Derajat Gejala Gejala Faal paru


asma malam
Intermitten Bulanan APE80%
- Gejala<1x/ 2 kali - VEP180%
minggu. sebulan nilai prediksi APE80%

15
- Tanpa gejala nilai terbaik.
diluar serangan. - Variabiliti
- Serangan APE<20%.
singkat.
Persisten Mingguan APE>80%
ringan
- Gejala>1x/ >2 kali - VEP180%
minggu tetapi<1x/hari. sebulan nilai prediksi APE80% nilai
- Serangan terbaik.
dapat mengganggu aktifitas - Variabiliti
dan tidur APE 20-30%.
Persisten Harian APE 60-80%
sedang
- Gejala >2 kali - VEP1 60-
setiap hari. sebulan 80% nilai prediksi APE 60-
- Serangan 80% nilai terbaik.
mengganggu aktifitas dan - Variabiliti
tidur. APE>30%.
- Membutuhk
an bronkodilator setiap hari.
Persisten Kontinyu APE 60%
berat
- Gejala terus Sering - VEP160%
menerus nilai prediksi
- Sering APE60% nilai terbaik
kambuh - Variabiliti
- Aktifitas APE>30%
fisik terbatas

16
Sedangkan pada anak, secara arbiteri Pedoman Nasional Asma Anak (PNAA)
mengklasifikasikan derajat asma menjadi: 1) Asma episodik jarang; 2) Asma
episodik sering; dan 3) Asma persisten:

Tabel 8. Klasifikasi derajat asma pada anak

Parameter klinis, Asma episodik Asma episodik Asma persisten


kebutuhan obat jarang sering
dan faal paru asma

1 Frekuensi <1x/bulan >1x/bulan Sering


serangan
2 Lama serangan <1minggu >1minggu Hampir sepanjang
tahun, tidak ada
periode bebas
serangan
3 Intensitas Biasanya ringan Biasanya sedang Biasanya berat
serangan
4 Diantara Tanpa gejala Sering ada gejala Gejala siang dan
serangan malam
5 Tidur dan Tidak tergganggu Sering tergganggu Sangat tergganggu
aktifitas
6 Pemeriksaan Normal ( tidak Mungkin tergganggu Tidak pernah normal
fisik diluar ditemukan kelainan) (ditemukan kelainan)
serangan
7 Obat Tidak perlu Perlu Perlu
pengendali(anti
inflamasi)
8 Uji faal PEFatauFEV1>80% PEFatauFEV1<60- PEVatauFEV<60%
paru(diluar 80%
serangan)
9 Variabilitas faal Variabilitas>15% Variabilitas>30% Variabilitas 20-30%.
paru(bila ada Variabilitas >50%
serangan)
PEF=Peak expiratory flow (aliran ekspirasi/saat membuang napas puncak), FEV1=Forced expiratory volume in
second (volume ekspirasi paksa dalam 1 detik)

2.2.6. Penatalaksanaan Asma


Tatalaksana asma dibagi menjadi dua, yaitu tatalaksana saat serangan dan jangka panjang.
Adapun tujuan yang sebaiknya dicapai dalam penatalaksanaan asma :1
1. Pasien dapat menjalani aktivitas normal.
2. Gejala tidak timbul siang ataupun malam hari (tidur tidak terganggu)
3. Uji fungsi paru senormal mungkin, tidak ada variasi diurnal yang mencolok pada
PEF.
4. Kebutuhan obat seminimal mungkin, kurang dari sekali dalam dua tiga hari, dan
tidak ada serangan.

17
5. Efek samping obat dapat dicegah agar tidak atau sedikit mungkin timbul, terutama
yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Tujuan tatalaksana saat serangan:1
- Meredakan penyempitan saluran respiratorik secepat mungkin
- Mengurangi hipoksemia
- Mengembalikan fungsi paru ke keadaan normal secepatnya
- Rencana re-evaluasi tatalaksana jangka panjang untuk mencegah kekambuhan.
Apabila tujuan ini tercapai maka perlu reevaluasi tatalaksananya apakah perlu tingkat
pengobatan dinaikkan (step up) atau bahkan perubahan pengobatan atau bila tujuan telah
tercapai dan stabil 1 3 bulan apakah sudah perlu dilakukan penurunan pelan pelan (step
down).1
Syarat step up :
1. Pengendalian lingkungan dan hal-hal yang memberatkan asma sudah dilakukan.
2. Pemberian obat sudah tepat susunan dan caranya.
3. Tindakan 1 dan 2 sudah dicoba selama 4 -6 minggu.
4. Efek samping ICS (inhaled cortikosteroid) tidak ada.
Syarat step down:
1. Pengendalian lingkungan harus tetap baik.
2. Asma sudah terkendali selama 3 bulan berturut-turut.
3. ICS hanya boleh diturunkan 25% setiap 3 bulannya sampai dengan dosis terkecil yang
masih dapat mengendalikan asmanya.
4. Bila step down gagal, perlu dicari sebabnya dan kalau sudah dikoreksi, ICS dapat
diturunkan bersama dengan penambahan LABA dan atau LTRA

2.2.7 Terapi Farmakologi


Obat asma dapat dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu obat pereda (reliever) dan
obat pengendali (controller). Obat pereda digunakan untuk meredakan serangan atau gejala
asma jika sedang timbul. Bila serangan sudah teratasi dan sudah tidak ada lagi gejala maka
obat ini tidak lagi digunakan atau diberikan bila perlu. Kelompok kedua adalah obat
pengendali yang disebut juga obat pencegah, atau obat profilaksis. Obat ini digunakan untuk
mengatasi masalah dasar asma, yaitu inflamasi kronik saluran nafas. Dengan demikian
pemakaian obat ini dilakukan terus menerus walaupun sudah tidak ada lagi gejalanya.
Kemudian pemberiannya diturunkan pelan pelan setelah tujuan pengobatan asma tercapai
dalam 6 8 minggu.1,2,5

Obat obat Pereda (Reliever)


1. Bronkodilator
a. Short-acting 2 agonist
Merupakan bronkodilator terbaik dan terpilih untuk terapi asma akut. Reseptor 2
agonist berada di epitel jalan napas, otot pernapasan, alveolus, sel-sel inflamasi, jantung,

18
pembuluh darah, otot lurik, hepar, dan pankreas. Obat ini menstimulasi reseptor 2
adrenergik menyebabkan perubahan ATP menjadi cyclic-AMP sehingga timbul relaksasi otot
polos jalan napas yang menyebabkan terjadinya bronkodilatasi. Efek laiinnya yakni
peningkatan klirens mukosilier, penurunan permeabilitas vaskuler, dan berkurangnya
pelepasan mediator sel mast.1,2,5
Epinefrin/adrenalin
Tidak direkomendasikan lagi untuk serangan asma kecuali bila tidak ada 2 agonis
selektif. Epinefrin menimbulkan stimulasi pada reseptor 1, 2, dan sehingga
menimbulkan efek samping berupa sakit kepala, gelisah, palpitasi, takiaritmia, tremor, dan
hipertensi. Pemberian epinefrin aerosol kurang menguntungkan karena durasi efek
bronkodilatasinya hanya 1-1,5 jam dan menimbulkan efek samping, terutama pada jantung
dan CNS.1,2,5
2 agonis selektif
Obat yang sering dipakai : salbutamol, terbutalin, fenoterol.
Dosis salbutamol oral : 0,1 - 0,15 mg/kgBB/kali , setiap 6 jam.
Dosis tebutalin oral : 0,05 0,1 mg/kgBB/kali , setiap 6 jam.
Dosis fenoterol : 0,1 mg/kgBB/kali , setiap 6 jam.
Dosis salbutamol nebulisasi : 0,1 - 0,15 mg/kgBB (dosis maksimum 5mg/kgBB), interval
20 menit, atau nebulisasi kontinu dengan dosis 0,3 0,5 mg/kgBB/jam (dosis maksimum 15
mg/jam).
Dosis terbutalin nebulisasi : 2,5 mg atau 1 respul/nebulisasi.
Pemberian oral menimbulkan efek bronkodilatasi setelah 30 menit, efek puncak
dicapai dalam 2 4 jam, lama kerjanya sampai 5 jam.
Pemberian inhalasi (inhaler/nebulisasi) memiliki onset kerja 1 menit, efek puncak dicapai
dalam 10 menit, lama kerjanya 4 6 jam.
Serangan ringan : MDI 2 4 semprotan tiap 3 4 jam.
Serangan sedang : MDI 6 10 semprotan tiap 1 2 jam.
Serangan berat: MDI 10 semprotan.
Pemberian intravena dilakukan saat serangan asma berat karena pada keadaan ini obat
inhalasi sulit mencapai bagian distal obstruksi jalan napas. Efek samping takikardi lebih
sering terjadi.
Dosis salbutamol IV : mulai 0,2 mcg/kgBB/menit, dinaikkan 0,1 mcg/kgBB setiap 15 menit,
dosis maksimal 4 mcg/kgBB/menit.
Dosis terbutalin IV : 10 mcg/kgBB melalui infuse selama 10 menit, dilanjutkan dengan 0,1
0,4 ug/kgBB/jam dengan infuse kontinu.
Efek samping 2 agonist antara lain tremor otot skeletal, sakit kepala, agitasi, palpitasi, dan
takikardi.1,2,5
b. Methyl xanthine
Efek bronkodilatasi methyl xantine setara dengan 2 agonist inhalasi, tapi karena
efek sampingnya lebih banyak dan batas keamanannya sempit, obat ini diberikan pada

19
serangan asma berat dengan kombinasi 2 agonist dan antikolinergik. Efek bronkodilatasi
teofilin disebabkan oleh antagonisme terhadap reseptor adenosine dan inhibisi PDE 4 dan
PDE 5. Methilxanthine cepat diabsorbsi setelah pemberian oral, rectal, atau parenteral.
Pemberian teofilin IM harus dihindarkan karena menimbulkan nyeri setempat yang lama.
Umumnya adanya makanan dalam lambung akan memperlambat kecepatan absorbsi teofilin,
tapi tidak mempengaruhi derajat besarnya absorpsi. Metilxanthine didistribusikan keseluruh
tubuh, melewati plasenta dan masuk ke air susu ibu. Eliminasinya terutama melalui
metabolism hati, sebagian besar dieksresi bersama urin. Efek samping obat ini adalah mual,
muntah, sakit kepala. Pada konsentrasi yang lebih tinggi dapat timbul kejang, takikardi dan
aritmia.1,2,5

2. Anticholinergics
Obat yang digunakan adalah Ipratropium Bromida. Kombinasi dengan nebulisasi 2
agonist menghasilkan efek bronkodilatasi yang lebih baik. Dosis anjuran 0, 1 cc/kgBB,
nebulisasi tiap 4 jam.1,2,5
3. Kortikosteroid
Kortikosteroid sistemik terutama diberikan pada keadaan :
Terapi inisial inhalasi 2 agonist kerja cepat gagal mencapai perbaikan yang cukup
lama.
Serangan asma tetap terjadi meski pasien telah menggunakan kortikosteroid inhaler
sebagai kontroler.
Serangan ringan yang mempunyai riwayat serangan berat sebelumnya.

Kortikosteroid sistemik memerlukan waktu paling sedikit 4 jam untuk mencapai


perbaikan klinis, efek maksimum dicapai dalan waktu 12 24 jam. Preparat oral yang di
pakai adalah prednisone, prednisolon, atau triamsinolon dengan dosis 1 2 mg/kgBB/hari
diberikan 2 3 kali sehari selama 3 5 kali sehari. Kortikosteroid tidak secara langsung
berefek sebagai bronkodilator. Obat ini bekerja sekaligus menghambat produksi sitokin dan
kemokin, menghambat sintesis eikosainoid, menghambat peningkatan basofil, eosinofil dan
leukosit lain di jaringan paru dan menurunkan permeabilitas vascular.1,2,5
Metilprednisolon merupakan pilihan utama karena kemampuan penetrasi kejaringan paru
lebih baik, efek anti inflamasi lebih besar, dan efek mineralokortikoid minimal. Dosis
metilprednisolon IV yang dianjurkan adalah 1 mg/kgBB setiap 4 sampai 6 jam. Dosis
Hidrokortison IV 4 mg/kgBB tiap 4 6 jam. Dosis dexamethasone bolus IV 0,5 1 mg/kgBB
dilanjtkan 1 mg/kgBB/hari setiap 6 8 jam.1,2,5
Obat obat Pengontrol

20
Obat obat asma pengontrol termasuk inhalasi dan glukokortikoid sistemik,
leukotrien modifiers, long acting inhaled 2-agonist, theofilin, cromones, dan long acting oral
2-agonist.1,2,5
1. Inhalasi glukokortikosteroid
Glukokortikosteroid inhalasi merupakan obat pengontrol yang paling efektif dan
direkomendasikan untuk penderita asma semua umur. Intervensi awal dengan penggunaan
inhalasi budesonide berhubungan mampu memberikan perbaikan dalam pengontrolan asma
dan mengurangi penggunaan obat-obat tambahan. Terapi pemeliharaan dengan inhalasi
glukokortikosteroid ini mampu mengontrol gejala-gejala asma, mengurangi frekuensi dari
eksaserbasi akut, menurunkan jumlah pasien rawat inap akibat di rumah sakit, meningkatkan
kualitas hidup, fungsi paru, hiperresponsif bronkial, dan mengurangi bronkokonstriksi yang
diinduksi latihan (exercise-induced asthma). Glukokortikosteroid dapat mencegah penebalan
lamina retikularis, mencegah terjadinya neoangiogenesis, dan mencegah atau mengurangi
terjadinya down regulation receptor 2 agonist. Efek samping berupa gangguan
pertumbuhan, katarak, gangguan sistem saraf pusat, dan gangguan pada gigi dan mulut.1,2,5,9
2. Long acting 2 Agonist (LABA)
Preparat inhalasi yang sering digunakan adalah salmeterol dan formoterol. Pemberian ICS
400ug dengan tambahan LABA lebih baik dilihat dari frekuensi serangan, FEV 1 pagi dan
sore, perlu tidaknya enggunaan steroid oral, menurunnya hiperreaktivitas dan airway
remodeling. Kombinasi ICS dan LABA sudah ada dalam 1 paket, yaitu kombinasi fluticasone
propionate dan salmeterol (Seretide), budesonide dan formoterol (Symbicort). Seretide dalam
MDI sedangkan Symbicort dalam DPI. Kombinasi ini mempermudah penggunaan obat dan
meningkatkan kepatuhan pemaikaian obat.1,2,5
3. Teofilin lepas lambat

Teofilin efektif sebagai monoterapi atau diberikan bersama kortikosteroid yang bertujuan
untuk mengontrol asma dan mengurangi dosis pemeliharaan glukokortikosteroid. Tapi efikasi
teofilin lebih rendah daripada glukokortikosteroid inhalasi dosis rendah. Efek samping berupa
anoreksia, mual, muntah, dan sakit kepala, stimulasi ringan SSP, palpitasi, takikardi, aritmia,
sakit perut, diare, dan jarang, perdarahan lambung. Efek samping muncul pada dosis lebih
dari 10mg/kgBB/hari, oleh karena itu terapi dimulai pada dosis inisial 5 mg/kgBB/hari dan
secara bertahap ditingkatkan sampai 10mg/kgBB/hari.
2.2.7. Pencegahan asma
Upaya pencegahan asma dapat dibedakan menjadi 3 yaitu pencegahan primer yaitu
mencegah tersensitisasi dengan bahan yang menyebabkan asma, pencegahan

21
sekunder adalah mencegah yang sudah tersensitisasi untuk tidak berkembang
menjadi asma; dan pencegahan tersier adalah mencegah agar tidak terjadi
serangan/bermanifestasi klinis asma pada penderita yang sudah menderita asma:9,11
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer ditujukan untuk mencegah sensitisasi pada bayi dengan
risiko asma (orangtua asma). Perkembangan respons imun jelas menunjukkan
bahwa periode prenatal dan perinatal merupakan periode untuk diintervensi
dalam melakukan pencegahan primer penyakit asma. Banyak faktor terlibat
dalam meningkatkan atau menurunkan sensitisasi alergen pada fetus, tetapi
pengaruh faktor-faktor tersebut sangat kompleks dan bervariasi dengan usia
gestasi, sehingga pencegahan primer waktu ini adalah belum mungkin. Walau
penelitian ke arah itu terus berlangsung dan menjanjikan. Pencegahan primer
dilakukan dengan cara :11
- Penghindaran asap rokok dan polutan lain selama kehamilan dan masa
perkembangan bayi/anak
- Diet hipoalergenik ibu hamil, asalkan / dengan syarat diet tersebut tidak
mengganggu asupan janin
- Pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan
- Diet hipoalergenik ibu menyusui
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder mencegah yang sudah tersensitisasi untuk tidak
berkembang menjadi asma. Studi terbaru mengenai pemberian antihitamin H-1
dalam menurunkan onset mengi pada penderita anak dermatitis atopik. Studi
lain yang sedang berlangsung, mengenai peran imunoterapi dengan alergen
spesifik untuk menurunkan onset asma.1 Sebuah penelitian multi senter yang
dikenal dengan nama ETAC Study (early treatment of atopic children)
mendapatkan bahwa pemberian Setirizin selama 18 bulan pada anak atopi
dengan dermatitis atopi dan IgE spesifik terhadap serbuk rumput (Pollen) dan
tungau debu rumah menurunkan kejadian asma sebanyak 50%. Perlu ditekankan
bahwa pemberian setirizin pada penelitian ini bukan sebagai pengendali asma
(controller).11
Pengamatan pada asma kerja menunjukkan bahwa menghentikan pajanan
alergen sedini mungkin pada penderita yang sudah terlanjur tersensitisasi dan

22
sudah dengan gejala asma, adalah lebih menghasilkan pengurangan /resolusi
total dari gejala daripada jika pajanan terus berlangsung.1
3. Pencegahan tersier
Sudah asma tetapi mencegah terjadinya serangan yang dapat ditimbulkan oleh
berbagai jenis pencetus. Sehingga menghindari pajanan pencetus akan
memperbaiki kondisi asma dan menurunkan kebutuhan medikasi/ obat.11

Tabel 9. Mengontrol alergen di dalam dan diluar ruangan


Faktor Pencetus Asma Kontrol Lingkungan
Debu rumah (Domestik mite) - Cuci sarung bantal, guling, sprei, selimut dengan air
panas (55-60C) paling lama 1 minggu sekali
- Ganti karpet dengan linoleum atau lantai kayu
- Ganti furnitur berlapis kain dengan berlapis kulit
- Bila gunakan pembersih vakum, pakailah filter
HEPA dan kantung debu 2 rangkap
- Cuci dengan air panas segala mainan kain

Serpihan kulit (Alergen - Pindahkan binatang peliharaan dari dalam rumah,


binatang) atau paling tidak dari kamar tidur dan ruang utama.
- Gunakan filter udara (HEPA) terutama di kamar
tidur dan ruang utama
- Mandikan binatang peliharaan 2 x/ minggu
- Ganti furniture berlapis kain dengan berlapis kulit
- Ganti karpet dengan tikar atau lantai kayu
- Gunakan pembersih vakum dengan filter HEPA dan
kantung debu 2 rangkap

Kecoa - Eliminasi lingkungan yang disukai kecoa seperti


tempat lembab, sisa makanan, sampah terbuka dll
- Gunakan pembasmi kecoa

Jamur - Perbaiki semua kebocoran atau sumber air yang


berpotensi menimbulkan jamur , misalnya dinding
kamar mandi, bakmandi, kran air, dsb. Jangan
gunakan alat penguap.
- Pindahkan karpet basah atau yang berjamur

Tepung sari bunga dan Bila di sekitar ruangan banyak tanaman berbunga dan
jamur di luar ruangan merupakan pajanan tepung sari bunga, tutup jendela
rapat-rapat, gunakan air conditioning. Hindari pajanan
tepung sari bunga sedapat mungkin.

2.2.7. Prognosis
Informasi yang adekuat terhadap pasien mengenai pencegahan penyakit dapat
memberikan prognosis yang baik, terutama bila penyakitnya ringan dan berkembang

23
pada masa kanak-kanak. Jumlah anak yang tetap memiliki asma dalam 7-10 tahun
setelah didiagnosis pertama bervariasi dari 26-78%, atau rata-rata 46%, presentase
pasien yang asmanya berlanjut menjadi asma dengan derajat berat hanya 6-19%.
Remisi spontan terjadi pada sekitar 20% pasien asma setelah dewasa, dan sebanyak
40% mengalami perbaikan derajat asma seiring dengan pertambahan umur. Pasien
asma dengan stimulus komorbid seperti merokok, dilaporkan mengalami perubahan
fungsi paru yang ireversibel.12

24
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1. IDENTITAS PASIEN


Nama : Iq. K
Umur : 58 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : IRT
Pendidikan terakhir : SD
Alamat : Karang Anyar, Narmada
Suku : Sasak
Agama : Islam
Waktu Pemeriksaan : 12 Mei 2017

3.2. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Sesak nafas
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Puskesmas Narmada dengan keluhan sesak nafas. Pasien
mengeluh sesak sejak malam hari kemarin. Sesak terjadi pada sore hari (saat pasien
ingin melakukan aktivitas). Sesak disertai dengan bunyi ngik-ngik namun tidak
disertai dengan bunyi grok-grok. Saat serangan sesak terjadi, pasien sulit berbicara,
hanya mampu mengucapkan beberapa kata dan lebih nyaman duduk dibandingkan
berbaring dan sulit untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Pasien juga mengeluh batuk
berdahak sejak 2 hari yang lalu, dahak berwarna putih kental, tidak disertai dengan
darah. Selain itu pasien juga mengeluh dada terasa berat yang timbul bersamaan dengan
sesak yang terjadi. Demam(-), nyeri ulu hati (-), muntah (-).
Pasien sering mengeluh sesak sejak pasien berumur 30 tahun. Serangan sesak
terjadi dengan frekuensi 2x/minggu, namun dalam 6 bulan terakhir serangan sesak
terjadi dengan frekuensi 1x/minggu. Serangan sesak pada malam hari > 2x/bulan.
Diantara serangan sesak pasien juga sering mengeluh batuk berdahak dan pilek.
Apabila serangan sesak yang terjadi bersifat ringan, pasien mengeluh aktivitasnya tidak
terganggu. Namun, bila serangannya cukup berat, membuat pasien tidak mampu
beraktivitas dan bekerja. Sesak terutama terjadi bila cuaca dingin, bila pasien memasak
dengan kayu bakar atau saat ada anggota keluarga yang menghisap rokok, serta
25
terkadang timbul bila pasien sedang stress atau banyak pikiran. Sesak terutama terjadi
pada malam hari.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat penyakit tekanan darah tinggi (-), kencing manis (-), penyakit jantung (-),
riwayat batuk lama (-), riwayat alergi obat-obatan (-), riwayat alergi makanan (-),
riwayat operasi (+) katarak.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak terdapat anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa. Saat ini tidak ada
anak pasien yang sering mengalami sesak, sering pilek di pagi hari, ataupun gatal-gatal
setelah mengkonsumsi makananatau obat-obatan tertentu. Menyangkal riwayat
hipertensi dan DM.

Riwayat Pengobatan:
- Pasien rutin mengkonsumsi obat-obatan untuk penyakit asmanya (terdiri dari
Salbutamol, Ambroxol, dan Prednison
- Pasien mengaku tidak meminum obat-obatan lain selain obat asma yang diberikan.
- Pasien mengaku pernah beberapa kali mengalami sesak nafas yang berat yang
membuat pasien harus ke IGD dan dilakukan nebulisasi.

26
Ikhtisar Keluarga:
Pasien tinggal di rumah di Batu rimpang barat, anggota keluarga pasien dapat dilihat
pada skema dibawah:

25 tahun 23 tahun 20 tahun 17tahun 11tahun

Keterangan:
= Pasien
= Perempuan
= Laki-laki

Riwayat Lingkungan, Sosial, Ekonomi


Pasien tinggal bersama 4 anggota keluarga yang lain yaitu anak ke-4, anak ke-5
dan suaminya. Pasien tidak memiliki pekerjaan. Anak pasien yang ke-4 masih duduk
dikelas 1 SMA, sedangkan anak ke-5 masih duduk dikelas 5 SD. Suami pasien bekerja
sebagai satpam jaga malam di sebuah perusahaan TV 9 Narmada dengan penghasilan
perbulan sekitar Rp 700.000- 1.000.000.
Pasien tinggal dirumah pribadi yang berukuran 9 m x 6 m yang terdiri atas 1
ruang keluarga, 3 kamar dan 1 buah dapur. Lokasi rumah terletak 10 m dari jalan
raya. Batas rumah pasien di sebelah selatan adalah jalan setapak, sebelah utara adalah
rumah tetangga, sebelah timur rumah pasien berbatasan rumah tetangga, sebelah barat
berbatasan jalan setapak. Keluarga pasien memelihara hewan peliharaan berupa ayam
yang dipelihara di depan rumah dengan kandang.
Rumah beratap genteng, memiliki flavon anyaman bambu, berdinding beton dan
berlantai semen dan beberapa berlantai keramik, serta memiliki beberapa ventilasi.
Pencahayaan rumah pasien kurang baik, karena sinar matahari masuk ke dalam rumah
hanya melalui kaca jendela dan pintu depan, sehingga rumah pasien kesannya gelap
pada siang hari. Sedangkan pencahayaan rumah pada malam hari mengandalkan
pencahayaan listrik.
Ruang pertama adalah ruang kelurga yang selain difungsikan sebagai ruang tamu
dan tempat menonton TV juga digunakan untuk menyimpan kendaraan bermotor milik
anak pasien. Ruang keluarga pasien berukuran 6m x 4m, memiliki 3 jendela kaca
yang jarang dibuka berukuran 1 m x 0,5 m dan 7 buah lubang angin. Pencahayaan
rumah pasien kurang baik, karena sinar matahari masuk ke dalam rumah melalui pintu

27
depan dan kaca jendela yang ditutup dengan korden, sehingga rumah pasien kesannya
gelap dan lembab.
Ruang kedua adalah kamar anak pasien yang ke-4 yang berukuran 3 m x 3 m.
Kamar tersebut memiliki 1 buah ventilasi dan terdapat 1 buah kasur kapuk, 1 buah
lemari pakaian dan tempat menggantung baju.
Ruang ketiga adalah kamar pasien dan anak pasien yang ke-4 berukuran 3 m x 3
m. Kamar tersebut memiliki 1 buah kasur, 2 buah lemari pakaian, 1 jendela yang
mengarah ke sumur. Karena kamar tersebut tidak memiliki ventilasi, maka
pencahayaannya pun kurang baik dan terkesan lembab. Kasur dan bantal pasien dari
kapuk. Menurut pasien, alas kasur/ kain sprei di ganti 2x/minggu
Ruang ke-4 adalah ruangan barang, kamar ini berukuran 3 m x 3 m. Ruangan ini
memiliki 1 buah jendela yang jarang dibuka berukuran 1m x 0,5m. Kamar tersebut
terkesan gelap dan lembab. Ruangan ini digunakan untuk menyimpan peralatan
barang-barang yang sudah tidak terpakai.
Di bagian belakang kamar pasien terdapat dapur, sumur, sampai kamar mandi..
Untuk memasak sehari hari pasien melakukannya di dapur. Sehari-hari pasien dan
anak pasien memasak dengan menggunakan kompor gas dan sesekali menggunakan
kayu bakar (sekarang sering dipakai dikarenakan keadaan ekonomi yang kurang). Menu
sehari-hari pasien biasanya terdiri dari nasi putih, lauk seadanya (tempe, tahu, telur/
ikan), sayur, dan memakai bumbu penyedap.
Sumber air bersih didapatkan dari sumur yang berada sekitar 2 m dari kamar
pasien. Untuk keperluan minum, biasanya air sumur dimasak lebih dahulu sampai
mendidih. Penilaian air minum secara fisik: kualitas air jernih, tidak berwarna, tidak
berbau. Pasien mengaku air sumur tersebut tidak pernah dikaporitisasi. Kebutuhan
memasak dan mencuci juga berasal dari air sumur. Untuk keperluan mandi, pasien
mandi di sebelah sumur dimana terdapat ruangan khusus mandi namun tidak terdapat
jamban. Terdapat jamban umum di dekat rumah pasien yang berjarak 5 m.
Kebiasaan mandi keluarga ini 2-3 kali sehari dengan sabun mandi batang dan 2
kali gosok gigi dengan pasta gigi. Apabila sakit yang dialami sampai mengganggu
aktivitas, pasien dan keluarganya pergi berobat ke Puskesmas.
Sampah di kumpulkan di samping rumah kemudian dibuang ke sungai (yang
berjarak 10 meter dari rumah). Riwayat merokok disangkal pasien, namun anak pasien
sering merokok, dalam sehari mampu menghabiskan sampai 1 bungkus rokok.
Riwayat minum-minuman beralkohol disangkal pasien.

Denah rumah Pasien:

Alat dapur
sumur
Kamar mandi Kamar mand
Dapur kayu

masak 28
i
Kamar
Kamar pasien Kamar
anak khusus
ke-4 barang

3.3. PEMERIKSAAN FISIK (10Desember2013)


Status Generalis
Keadaan Umum : sedang
Kesadaran : compos mentis / GCS: E4V5M6
Status gizi : normal
BB = 47 kg
TB = 159 cm
BMI = 18,59
Vital Sign
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Nadi : 92 x/menit, reguler, kuat angkat.
Frekuensi napas : 32 x/menit, reguler, tipe pernapasan abdomino thoracal
Suhu : 36,6 C axiler

Status Lokalis
Kepala
Ekspresi wajah : pasien tampak sesak
Bentuk dan ukuran : normal
Rambut : normal
Edema : (-)
Malar rash : (-)
Parese N. VII : (-)
Hiperpigmentasi : (-)
Nyeri tekan kepala : (-)
Mata
Simetris
Alis normal
Exopthalmus : (-/-)
Ptosis : (-/-)
Nystagmus : (-/-)

29
Strabismus : (-/-)
Edema palpebra : (-/-)
Konjungtiva : anemis (-/-), hiperemia (-/-), sikatrik leukoma (+/-)
Sclera : ikterus (-/-), hiperemia (-/-), pterygium (-/-).
Pupil : refleks pupil (+/+), isokor, bulat, 3 mm/3mm, midriasis (-/-).
Kornea : normal
Lensa : normal, pseudofakia (+/+).
Gerak bola mata : normal ke segala arah
Telinga
Bentuk : normal, simetris antara kiri dan kanan.
Lubang telinga : normal, sekret (-/-).
Nyeri tekan : (-/-)
Peradangan pada telinga : (-/-)
Pendengaran : normal
Hidung
Simetris
Deviasi septum : (-/-)
Napas cuping hidung : (-/-)
Perdarahan : (-/-)
Sekret : (-/-)
Penciuman : normal
Mulut
Simetris
Bibir : sianosis (-), stomatitis angularis (-), pursed lips breathing (-).
Gusi : hiperemia (-), perdarahan (-).
Lidah : glositis (-), atropi papil lidah (-), lidah berselaput (-), kemerahan di
pinggir (-), tremor (-), lidah kotor (-).
Gigi : dbn
Mukosa : normal.
Foetor ex ore : (-)
Leher
Kaku kuduk : (-)
Scrofuloderma : (-)
Pembesaran KGB : (-)
JVP : tidak meningkat
Deviasi trakea : (-)
Otot bantu nafas : SCM aktif (+), hipertrofi (+).
Pembesaran tiroid : (-)

Thorax
Inspeksi

30
Bentuk dan ukuran simetris
Pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri.
Permukaan dinding dada : tde
Penggunaan otot bantu napas : SCM aktif (+), hipertrofi SCM (-).
Iga dan sela iga simetris kanan dan kiri.
Fossa jugularis : deviasi trakea (-). Fossa supraklavikularis dan infraklavikularis
simetris kanan dan kiri.
Tipe pernapasan abdomino-torakal dengan frekuensi pernapasan 28 x/menit.
Palpasi
Pergerakan napas dinding dada simetris.
Vocal fremitus +/+ simetris
Perkusi
Densitas paru : tde
Batas paru-hepar : tde
Batas paru-jantung : tde
Auskultasi
Cor : S1S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-).
- Pulmo : Vesikuler (+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (+/+) pada akhir ekspirasi
Abdomen
Inspeksi : tde
Auskultasi
Bising usus (+) normal
Metallic sound (-)
Bising aorta (-)
Perkusi : tde
Palpasi : tde
Ekstremitas
- Akral hangat : + +
+ +
-
- -
- Muscle wasting : - -
- -
- Deformitas :- -
- -
- Sianosis : - -
- -
- Clubbing finger : - -
- -

31
Genitourinaria : tde

3.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG : -

3.5. DIAGNOSIS KERJA


Asma Bronkiale Eksaserbasi Akut Derajat Ringan Persisten Ringan

3.6. PENATALAKSANAAN
Terapi gawat darurat: nebulisasi dengan Combivent (agonis 2 dan ipratropium
bromida).
Terapi rawat jalan:
Salbutamol tab 3x4 mg
Ambroxol tab 3x30 mg
Prednison tab 3x5 mg
Vitamin B Complex 2x1

3.7. PROGNOSIS
Dubia ad Bonam

3.8. KIE
KIE yang dapat diberikan pada pasien dan keluarganya berupa:
1. Seluk beluk asma. Selain itu penting memahami sifat-sifat dari penyakit asma:
- Bahwa penyakit asma bisa disembuhkan tetapi pada suatu saat oleh karena
faktor tertentu bisa kambuh lagi.
- Bahwa kekambuhan penyakit asma minimal bisa dijarangkan dengan
pengobatan jangka panjang secara teratur serta menghindari faktor pencetusnya.
2. Membantu pasien mengenali intensitas dan frekuensi gejala guna menentukan
klasifikasi asma yang dialami dan untuk memonitor asma sendiri.
3. Merencanakan pengobatan jangka panjang, dengan pemberian obat-obatan
pengontrol dan pelega serta meminum obat-obatan tersebut secara teratur.
4. Mengatasi serangan asma dengan tepat dengan mengenal tanda serangan akut
(bertambahnya gejala batuk, sesak, dan mengi) dan tanda perburukan asma
(peningkatan asma malam, kebutuhan obat meningkat, aktivitas menurun).

32
5. Memeriksakan diri dengan teratur guna memonitoring perkembangan penyakit.
Deteksi dini pada keluarga penderita asma juga perlu dilakukan, sehingga apabila
ada anggota keluarga yang memiliki gejala serupa, dianjurkan untuk segera berobat
ke puskesmas.
6. Mengenali dan menghindari pencetus asma, seperti:
- Alergen di dalam ruangan (tungau, debu rumah, kecoa, kucing, jamur
dll).Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindarinya:
Mengganti alas tidur karpet dengan kasur busa, mencuci sarung bantal, selimut
setiap 1 minggu/kali, mengatur barang-barang di dalam kamar dengan rapi,
barang-barang yang jarang dipakai (seperti baju bekas, mainan, buku, dll)
diatur dengan rapi di luar kamar dan dibersihkan dari debu. Lantai di pel setiap
hari, membersihkan langit-langit kamar membersihkan sarang laba-laba yang
ada di langit-langit rumah secara rutin 1x/minggu, membersihkan kamar setiap
hari, barang-barang di dalam kamar seperti tv, radio, dan kipas angin
dibersihkan, jendela harus sering dibuka agar ruangan tidak menjadi lembab.
- Alergen diluar ruangan (tepung sari bunga, jamur, binatang). Upaya yang dapat
dilakukan untuk menghindarinya:
Menghindari kontak dengan binatang memiliki bulu lebat (kucing),
membersihkan halaman dari rumput-rumput liar.
- Makanan (bahan penyedap, pengawet, pewarna makanan, kacang, makanan laut,
susu sapi, telur). Hindari memakan makanan instan, makanan yang tampak
mencolok warnanya. Apabila memiliki alergi terhadap makanan tertentu,
makanan tersebut sebaiknya jangan dikonsumsi.
- Obat-obatan tertentu (misalnya golongan aspirin, NSAID, bloker dll).
Mencoba mengenali apakah setelah meminum obat pereda nyeri, pasien
mengalami serangan (pada pasien ini memiliki riwayat alergi terhadap antalgin
maka sebaiknya penggunaan obat-obatan tersebut dihindari).
- Bahan yang mengiritasi (misalnya parfum, household spray, dan lain-lain).
Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindarinya:
Menghindari memakai parfum terutama yang berbau tajam, semprotan nyamuk
ataupun pengharum ruangan.
- Ekpresi emosi berlebih/stress. Hindari stress yang berlebihan dan mencoba
untuk manajemen emosi dan banyak bersyukur.

33
- Asap rokok dari perokok aktif dan pasif. Upaya yang dapat dilakukan untuk
menghindarinya:
Tidak berada di dekat orang yang merokok atau menyarankan anggota keluarga
yang merokok untuk tidak merokok didekat pasien atau berhenti merokok.
- Polusi udara di luar dan di dalam ruangan.Upaya yang dapat dilakukan untuk
menghindarinya:
Tidak berada di dekat orang yang memasak, terutama jika menggunakan kayu
bakar, mengganti sepenuhnya penggunaan kayu bakar dengan kompor,
menghindari bau makanan yang merangsang (tumisan), menggunakan
masker/penutup hidung jika sedang berkendara/bekerja disawah.
- Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan
aktivitas tertentu. Hindari aktiftas berlebihan atau bekerja berlebihan.
- Keadaan udara : polusi, perubahan hawa mendadak, dan hawa yang lembab.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindarinya:
memakai masker guna melindungi dari hawa lembab dan debu. Pada pagi hari
atau cuaca yang dingin sebaiknya menggunakan jaket dan mengkonsumsi
minuman yang hangat.
- Lingkungan kerja. Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari serangan di
lingkungan kerja: memakai masker/penutup hidung saat bekerja, memakai jaket,
dan selalu membawa obat asma saat bekerja.
- Infeksi saluran pernapasan. Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindarinya:
menjaga kebugaran, tidak berada di dekat orang yang flu, segera berobat bila
sakit panas (infeksi), apalagi bila disertai dengan batuk dan pilek.
- Selain itu, perlu juga diberikan edukasi mengenai pembuatan jamban sehingga
maslah kesehatan lain juga dapat dicegah.
7. Menjaga kebugaran dan olahraga

34
3.9. DETERMINAN MASALAH KESEHATAN

GENETIK
Faktor genetik (-)

PERILAKU LINGKUNGAN

Kurangnya kesadaran Alergen di dalam


menjaga kebersihan dan di dalam rumah
SERANGAN
rumah dan lingkungan ASMA (tungau, debu
Sulit mengontrol stress
Melakukan aktivitas rumah, jamur)
Perubahan cuaca
yang berat Sering terpapar
Faktor makanan (bahan
polusi udara (rokok,
pengawet) PELAYANAN
debu,
KESEHATAN

Kurangnya upaya
sosialisasi pengendalian
asma

35
BAB IV
PENELUSURAN KASUS

4.1. Dasar Pemilihan Kasus


Penyakit asma semula dianggap bukan masalah serius di Indonesia. Namun,
angka morbiditas dan mortalitasnya terus meningkat baik di dunia maupun di Indonesia
maka penanganan penyakit ini perlu mendapat perhatian serius. Survei Kesehatan
Rumah tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2004 memperlihatkan asma
masih menempati urutan ke 3 dari 10 penyebab kematian utama di Indonesia dan
prevalens penyakit asma berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 4%. 9
Berdasarkan Laporan Hasil Riskesdas NTB 2013, prevalensi penyakit asma di
provinsi NTB sebesar 5,1% dimana Kabupaten Lombok Barat menempati urutan
pertama yaitu sebesar 5,9%. Kondisi tersebut termasuk tinggi dibandingkan dengan
prevalensi penyakit asma secara nasional yang sebesar 4,5%.
Asma termasuk dalam 10 penyakit terbanyak dalam kunjungan ke Puskesmas
Narmada. Pada tahun 2016, asma menempati peringkat ke-9 dalam kunjungan ke
Puskesmas Narmada sebanyak 684 kasus.
Penyakit asma tidak dapat disembuhkan tetapi penderita dapat sembuh dalam
artian asma tersebut terkontrol. Bila tidak, akan mengganggu kualitas hidup penderita
yang menyebabkan kehilangan waktu sekolah ataupun kehilangan jam kerja. Disamping
itu penderita harus mampu meminimalkan faktor-faktor pemicu penyakit tersebut seperti
keadaan lingkungan dimana kita berada dan perilaku. Sementara di Indonesia faktor
pemicu asma baik di desa maupun di kota masih sangat tinggi antara lain dari asap
kebakaran hutan, asap kendaraan bermotor dan asap atau debu industri. Disamping itu
perilaku merokok, pemakaian bahan kimia (obat anti nyamuk, parfum dll) dan
menjamurnya makanan produk massal industri yang mengandung pewarna, pengawet
dan vetsin (MSG) memberi kontribusi yang bermakna pada penyakit ini. 2 Oleh karena
itu, pengetahuan tentang penyakit asma perlu diketahui masyarakat umum, sehingga ikut
membantu untuk meminimalisasi faktor pencetus asma bagi penderitanya. Terapi
pencegahan yang teratur adalah kunci untuk mengontrol asma. Meski asma merupakan
penyakit kronik dan seumur hidup butuh perawatan rutin untuk dapat hidup normal dan
aktif. Penatalaksanaan asma yang tepat, termasuk kerja sama antara perawat dan pasien

36
serta keluarganya, terbukti dapat memberikan hasil yang baik dan tercapainya asma
kontrol.

4.2. Dokumentasi Penelusuran Kasus

Gambar 1. Ruangan depan kamar tampak


gelap Gambar 2. Kamar pasien tampak gelap dan
lembab

37
Gambar 3. Kamar mandi pasien Gambar 4. Flavon kamar pasien

38
BAB V
PEMBAHASAN

Pada kasus ini, pasien didiagnosis dengan asma bronkial eksaserbasi akut derajat ringan
persisten ringan. Diagnosis ini ditegakkan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik yang
dilakukan saat pasien datang memeriksakan diri ke puskesmas. Berdasarkan anamnesis,
pasien mengeluh sesak nafas sejak usia 30 tahun yang sering dirasakan terutama pada malam
hari, ketika cuaca dingin dan ketika pasien kelelahan atau sedang banyak pikiran (stress) serta
saat ada anggota keluarga yang merokok di samping pasien. Pasien mengaku saat sesak
sering disertai dengan suara nafas berbunyi ngik-ngik (mengi), disertai batuk dan dada yang
terasa berat. Dalam seminggu, dapat mengalami sesak 1 kali, dan dalam sebulan dapat
mengalami 2 kali sesak pada malam hari. Jika serangan berat, pasien tidak bisa beraktivitas
dan bekerja.
Berdasarkan pemeriksaan fisik, didapatkan pernafasan 32x/menit, terlihat otot bantu
pernafasan aktif dan terdengar adanya wheezing pada auskultasi kedua paru. Untuk
menyingkirkan kemungkinan penyakit TB ataupun penyakit paru lainnya, telah dilakukan
pemeriksaan penunjang sebelumnya berupa sputum di Puskesmas.
Terapi pada pasien ini dilakukan pemberian obat pelega untuk mengatasi serangan
akut berupa nebulisasi agonis 2 kerja singkat (albuterol) dan antikolinergik (ipratoprium
bromide). Selain itu, berdasarkan Global Initiative for Asthma (GINA) 2017, penderita asma
persisten ringan membutuhkan obat pengontrol setiap hari untuk mengontrol asmanya dan
mencegah agar asmanya tidak bertambah berat. Obat pengontrol yang diberikan berupa
kortikosteroid (prednison 3x5 mg), obat pelega yaitu agonis 2 kerja singkat (tablet
salbutamol 3x4 mg), mukolitik dan sekretolitik (ambroxol 3x30 mg) untuk membantu
mengeluarkan dahak
Selain itu, diberikan KIE kepada pasien dan keluarganya mengenai seluk beluk asma,
mengenali dan menghindari faktor pencetus, memeriksakan diri dengan teratur dan menjaga
kebugaran. Menurut teori H.L Bloom terdapat empat faktor yang mendasari munculnya suatu
penyakit. Faktor tersebut antara lain : faktor genetik, faktor lingkungan, faktor pelayanan
kesehatan, dan faktor perilaku.

39
Mengacu pada teori tersebut kejadian asma pada pasien ini dapat di jabarkan antara
lain :
1. Faktor genetik
Salah satu faktor internal dari terjadinya asma pada pasien dalam kasus ini adalah
genetik. Resiko orang tua dengan asma mempunyai anak dengan asma adalah tiga kali
lipat lebih tinggi jika riwayat keluarga dengan asma.Dari kasus ini diketahui bahwa ayah
dari pasien juga menderita penyakit asma.
2. Faktor Lingkungan
Lingkungan sebagai sumber alergen yang merupakan faktor pencetus asma. Dari hasil
penelusuran dan identifikasi faktor pencetus, pada pasien ini terdapat beberapa hal yang
menjadi penyebab terjadinya asma dilihat dari keadaan lingkungan pasien. Faktor alergen
yang terdapat di dalam rumah, antara lain pasien tidur dengan menggunakan kasur-kapuk
yang sepreinya tampak jarang dibersihkan, barang-barang di dalam kamar bertumpuk
dan berantakan, lantai tidak dibersihkan setiap hari, pada langit-langit terdapat banyak
debu dan sarang laba-laba yang tidak dibersihkan, barang-barang yang terdapat di dalam
kamar jarang dibersihkan sehingga berdebu, serta rumah yang sempit dan padat. Di
kamar pasien juga tidak terdapat jendela sehingga terkesan pencahayaannya kurang.
Pencahayaan di dalam rumah yang kurang menyebabkan keadaan yang lembab di dalam
rumah. Keadaan yang lembab menjadi tempat yang baik untuk pertumbuhan
mikroorganisme ataupun jamur yang dapat menjadi faktor pencetus terjadinya asma.
Selain pencahayaan kurang, sirkulasi udara di dalam rumah juga tidak baik.
Selain itu, pekerjaan pasien sebagai petani di sawah menyebabkan pasien sering terpapar
polusi, debu dan hawa dingin.
3. Faktor perilaku
Faktor perilaku pasien yang menjadi pendukung terjadinya asma antara laintidak
menggunakan masker/penutup hidung saat bekerja. Selain itu, pasien cukup sering
mengkonsumsi makanan dengan bumbu penyedap, pengawet. Pasien juga sulit
mengontrol emosi apabila ada anggota keluarga yang bertengkar. Sampai saat ini pasien
masih bekerja di sawah, dan apabila selesai bekerja atau saat bekerja pasien juga sering
mengeluh serangan sesaknya kambuh (oleh karena itu pasien selalu membawa obat
ketika bekerja)

4. Faktor Pelayanan Kesehatan


40
Kurangnya sosialisasi dari petugas kesehatan mengenai asma dan sifat-sifatnya, faktor
pencetus asma dan cara mengendalikannya membuat pasien tidak mengetahui cara
mencegah kekambuhan dan mengendalikan penyakitnya.Kerja sama pasien dengan
petugas kesehatan untuk pengendalian asma juga belum maksimal. Selain pasien,
keluarga pasien juga memiliki peranan penting dalam pengendalian asma pada pasien ini.
Pada anggota keluarga dilakukan edukasi mengenai asma dan bagaimana pentingnya ikut
serta keluarga dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih sehingga faktor pencetus
asma dapat dikontrol.

Pada pasien ini dilakukan pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya serangan yang
dapat ditimbulkan oleh berbagai jenis pencetus tadi untuk memperbaiki kondisi asma dan
menurunkan kebutuhan pasien terhadap obat. Yang dapat dilakukan yaitu:
- Memberikan informasi yang jelas kepada pasien dan keluarganya untuk meningkatkan
kepatuhan pasien. Pasien menerima diagnosis asma pada dirinya, percaya bahwa
asmanya dapat bermasalah/berbahaya, dan ia beresiko untuk mendapatkan bahaya
tersebut, sehingga pasien dan keluarganya mau merubah perilakunya untuk mengontrol
faktor-faktor pencetus asmanya.
- Memotivasi pasien dan keluarganya untuk membersihkan dan merapikan rumah dan
lingkungan sekitarnya, sering membuka jendela rumahnya, menyisihkan sebagian
uangnya untuk membeli kasur busa untuk meminimalkan tungau dan debu yang banyak
terdapat di kasur kapuk, menggunakan masker/penutup hidung saat pasien bekerja, tidak
terlalu lelah dalam bekerja/beraktivitas, dan meminum obat asmanya secara teratur serta
kontrol teratur.
- Selain itu, edukasi untuk menurunkan pajanan tersebut juga dapat menjadi pecegahan
primer bagi anak-anak pasien yang belum menunjukkan gejala asma.

41
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN

6.1. Simpulan
Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat 4 faktor utama yang mempengaruhi
asma pada pasien ini adalah faktor genetik, lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan.
Dalam hal ini, dari faktor genetik tidak ditemukan pada pasien, faktor lingkungan yaiturumah
yang tidak sehat dan bersihmenyebabkan tingginya paparan alergen indoor maupun outdoor,
faktor perilaku terkait minimnya upaya pencegahan dari terpapar alergen atau pemicu
munculnya serangan asma, dan tidak minum obat secara teratur, serta faktor yankes mengenai
kurangnya sosialisasi penyakit dan hubungan kerja sama pasien dan tenaga kesehatan yang
belum maksimal.

6.2. Saran
1. Untuk Pelayanan Kesehatan
a. Melakukan upaya penyuluhanatau KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)
kepada masyarakat umum dan masyarakat yang beresiko asma mengenai asma
secara menyeluruh agar dapat meningkatkan pengetahuan, motivasi dan
partisipasi masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian asma. Dapat
dilakukan penyuluhan perorangan atau penyuluhan kelompok yang dilaksanakan
oleh petugas puskesmas, kader kesehatan dan lain-lain seperti klinik konseling
asma.
b. Menggalang kekuatan dengan berbagai lintas program, lintas sektor dan
masyarakat dalam pengendalian asma.
c. Melakukan upaya penemuan dan tatalaksana kasus (termasuk deteksi dini) dan
surveilans epidemiologi kasus (termasuk kematian dan faktor risiko) penyakit
asma.

42
Daftar Pustaka

1. GINA. Global Strategy for Asthma Management and Prevention. National Institutes
of Health. 2017. Dilihat tanggal 23 Mei 2017 : diunduh di www.ginasthma.org
2. Ratnawati J. 2011. Epidemiologi Asma. J Respir Indones 31(4):172-5.
3. Sihombing M, Alwi Q, Nainggolan O. 2013. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan
Penyakit Asma Pada Usia 10 Tahun di Indonesia (Analisis Data Riskesdas 2013). J
Respir Indones, 30(2):85-91.
4. Depkes RI. 2013. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Dalam Angka Provinsi
Nusa Tenggara Barat 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
5. Dinkes Provinsi NTB. 2015. Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun
2015. Mataram: Dinas Kesehatan Provinsi NTB.
6. Harsono, Bambang Irawan, dkk. 2003. Peranan Magnesium Pada Asma. Cermin
Dunia Kedokteran, 141 : 46-51.
7. Tim Penyusun. 2016. Data Rekapan 10 Penyakit Terbanyak Puskesmas Narmada
Tahun 2016. Narmada: Puskesmas Narmada.
8. Tim Penyusun. 2017. Data Rekapan 10 Penyakit Terbanyak Puskesmas Narmada
Tahun 2017 Bulan Januari. Narmada: Puskesmas Narmada.
9. PDPI. 2004. Pedoman Diagnosis dan Petalaksanaan Asma di Indonesia. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.
10. Purnomo. 2008. Faktor-faktor Risiko yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Asma.
Semarang, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro (skripsi).
11. Depkes RI. 2009. Pedoman Pengendalian Asma. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
12. Fauci AS, et al. 2008. Harrisons Principles of Internal Medicine. 17th edition. USA:
The McGraw-hill Companies, inc.

43