Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Istilah subclavian steal menggambarkan aliran darah yang retrograde di arteri


vertebralis yang terkait dengan stenosis atau oklusi arteri sublavia ipsilateral,
biasanya terjadi oklusi atau stenosis arteri subklavia bagian proksimal pada awal
arteri vertebralis.1

Subklavian steal sering tanpa gejala dan dapat ditemukan secara kebetulan
pada pemeriksaan ultrasonografi atau angiografi untuk indikasi lain, atau mungkin
permintaan akibat temuan pemeriksaan klinis yang menunjukkan penurunan denyut
nadi dan tekanan darah pada ekstremitas atas. Pada beberapa kasus, pasien mungkin
mengalami gejala iskemik ekstremitas atas karena berkurangnya aliran darah arteri
akibat oklusi arteri subklavia, atau mungkin timbul gejala neurologis akibat iskemia
sirkulasi posterior yang terkait dengan aktifitas lengan ipsilateral. 1

Pengobatan secara tradisional terdiri dari revaskularisasi subklavia terbuka,


biasanya melalui bypass karotid-subclavian atau transposisi arteri subklavia, yang
umumnya merupakan prosedur yang tahan lama. Pilihan yang lebih baru dan kurang
invasif mencakup intervensi endovaskular dengan rekanalisasi yang sesuai dan
angioplasti dan stenting jika diperlukan. 1

Hubungan klinis subclavian steal dijelaskan pada tahun 1961 oleh Reivich,
Holling dan Roberts; Namun, pengenalan aliran arteri vertebral retrograde sudah ada
100 tahun sebelumnya oleh Harrison dan Smyth. Beberapa artikel, menganjurkan
untuk membatasi istilah subclavian steal hanya untuk pasien dengan gejala
neurologis, namun ini salah dalam pandangan banyak literatur yang menggunakan
istilah ini untuk menggambarkan masalah aliran hemodinamik vertebral retrograde
dan penyakit arteri subklavia proksimal.2

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi

Subclavian steal syndrome (SSS), merupakan kumpulan tanda dan gejala yang
timbul dikarenakan aliran darah retrograde di arteri vertebralis, akibat proksimal
stenosis atau oklusi arteri subklavia. Lengan bisa disuplai oleh darah yang mengalir
arah retrograde ke arteri vertebral dengan mengorbankan sirkulasi vertebrobasilar ini
disebut subklavian steal. 1

2.2. Epidemiologi

Meskipun penyakit arteri perifer mempengaruhi sekitar 20-25% orang


Amerika yang berusia lebih dari 70 tahun, pembuluh darah ekstremitas atas lebih
sering terkena daripada yang berada pada ekstremitas bawah. Karena kebanyakan
pasien tidak memeriksakan diri kecuali jika terjadi gejala, prevalensi sebenarnya dari
penyakit oklusi arteri subklavia dan sindrom subklavian steal tidak diketahui.2

Arteri subklavia kiri adalah cabang aorta yang paling sering terkena
aterosklerosis; Oleh karena itu, tidak heran bahwa arteri subklavia kiri dikaitkan
dengan subclavian steal syndrome tiga kali lebih sering daripada arteri subklavia
kanan.2

Dalam Studi Gabungan Extracranial Arterial Occlusion, Fields dan Lemak


menemukan bahwa 17% dari 6534 pasien yang dirawat menunjukkan hasil
arteriografi stenosis subclavian atau innominate lebih dari 30% oklusi; Namun, hanya
168 pasien yang memiliki gejala subclavian steal syndrome. Berguer dkk menemukan
bahwa hanya setengah dari pasien dengan oklusi subklavia yang signifikan
menunjukkan pembalikan aliran darah dari arteri vertebral ipsilateral.2

2
2.3. Etiologi
Faktor mendasar yang menyebabkan subclavian steal adalah oklusi arteri
subklavia proksimal atau stenosis berat. Kebanyakan kasus, diakibatkan oleh penyakit
arteri aterosklerotik, yang paling banyak terjadi di sebelah kiri. Di sebelah kanan,
inominate artery disease atau oklusi dapat menyebabkan oklusi pangkal arteri
subklavia. 1

Faktor risiko terdapatnya plak aterosklerotik telah diakui sebagai penyebab


dari subclavian steal syndrome dan dikategorikan menjadi 2 kategori, yaitu yang
tidak dapat dimodifikasi atau dapat dimodifikasi. 1

Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah sebagai berikut: 1

Usia
Seks
Laki-laki
Riwayat keluarga

Faktor risiko yang dapat dimodifikasi meliputi: 1

Merokok
Hiperkolesterolemia
Diabetes mellitus
Hipertensi
Hyperhomocysteinemia

Meskipun aliran darah yang retrograde di arteri vertebralis didapatkan pada


angiografi berhubungan dengan oklusi arteri subklavia proksimal, subclavian steal
juga dapat terjadi akibat hemodinamik yang signifikan dari stenosis arteri subklavia.3

Penyebab umum lainnya dari penyakit oklusif subklavia termasuk arteriopati


inflamasi seperti Takaysu arteritis atau Giant cell arteritis. Anomali kongenital juga
dapat menyebabkan isolasi arteri subklavia dan penggunaan arteri subklavia
proksimal dalam operasi aorta (misalnya, Prosedur Blalock-Taussig pada tetralogy of

3
fallot).Sindrom kompresi torak dapat menyebabkan oklusi arteri subklavia, namun ini
biasanya tidak melibatkan arteri subklavia yang mempercabangi arteri vertebralis.3

2.4. Patofisiologis

Ekstremitas bagian atas dipasok terutama melalui arteri aksilaris, yang


merupakan kelanjutan arteri subklavia. Di sebelah kanan, arteri karotid dan arteri
subklavia berasal dari cabang arteri yang sama, yang dikenal sebagai arteri
innominate (tanpa nama) namun juga disebut arteri brachiocephalic atau trunk. 1

Pada beberapa anomali kongenital, arteri subklavia kanan dapat bercabang


langsung dari aorta sebagai cabang supra-aorta terakhir (dikenal sebagai arteri
subklavia kanan yang abnormal). Di sebelah kiri, arteri subklavia biasanya muncul
langsung dari aorta sebagai cabang supra-aorta terakhir. 1

4
Cabang dari arteri subklavia proksimal ke distal meliputi arteri vertebralis,
arteri mamaria interna (IMA; juga dikenal sebagai arteri torakalis internal),
thyrocervical trunk, dan costocervic al trunk yang kemudian berlanjut menjadi arteri
aksilaris. 1

Dalam kasus stenosis atau oklusi arteri subklavia proksimal, yang biasanya
diakibatkan oleh penyakit aterosklerotik, aliran darah untuk menyuplai lengan
ipsilateral tidak cukup. Dalam kasus ini, cabang arteri subklavia digunakan untuk
memberikan aliran retrograde ke ekstremitas atas. Sebagai contoh, arteri torakalis
interna menyediakan anastomosis ke arteri epigastrik dan interkostal superior,
sedangkan arteri thoracoacromial anastomosis dengan pembuluh di leher dan dinding
toraks. 1

Cabang arteri subclavia yang paling bagus untuk mememenuhi suplai darah
ke ekstremitas atas adalah arteri vertebra yang kemdian berlanjut menjadi arteri
basilar dan selanjutnya menjadi circulus arteriosus Willisi, dimana dapat juga arteri

5
vertebral ipsilateral mendapat aliran darah secara retrograde dari arteri vertebra
kontralateral atau dari sirkulasi serebral anterior. 1

6
Dengan exercise, dapat menginduksi terjadinya vasodilatasi yang dapat
menyebabkan penurunan resistensi perifer pada pembuluh darah bagian atas, dan
ketidak seimbangan antara suplai darah pada arteri dan kebutuhan sel dapat
menyebabkan terjadi klaudikasio pada lengan. Selanjutnya, peningkatan aliran
retrograde melalui arteri vertebral ipsilateral dapat "mencuri" darah dari sirkulasi
serebral. 2

Pada kasus ini, gejala neurologis yang muncul sesuai dengan gejala iskemia
serebral atau iskemik batang otak. Dalam penelitian tahun 1991 terhadap 43 pasien
yang mengalami aliran retrograde arteri vertebralis menjalani studi dupleks karotis,
didapatkan 16% memiliki gejala sirkulasi posterior (pusing, vertigo, penglihatan
kabur, diplopia, dan near-syncope) saat melakukan exercise lengan ipsilateral; 30%
memiliki gejala serupa yang muncul bahkan saat istirahat; 21% memiliki gejala
sirkulasi hemisfer anterior yang merujuk ke wilayah karotis; Dan 33% asimtomatik.2

2.5. Gejala dan Gambaran Klinis


SSS mungkin dicurigai bila terjadi penurunan tekanan darah pada lengan yang
terkena 15-20 mmHg. 1

Gejala yang paling umum meliputi; 2

Claudication lengan terjadi secara berkala.


Rasa sakit istirahat bukanlah gejala yang biasanya berhubungan dengan
stenosis subklavia.
Tromboemboli akan dipertimbangkan dalam keadaan nyeri saat istirahat.
Penurunan penglihatan, yang bisa berkisar dari kebutaan total hingga
kehilangan bidang visual unilateral atau amaurosis fugas.
Vertigo, Syncope, Diploplia, disartria, ataksia, dan disfagia
Pulsatile tinnitus
Mati rasa atau kesemutan pada wajah, hemiparesis sementara, atau sensori
Hemianaesthesia

7
Subclavian steal syndrome yang sesungguhnya tidak dapat terjadi tanpa aliran
darah yang retrograde pada arteri vertebralis yang dihubungkan dengan stenosis atau
oklusi arteri subklavia ipsilateral . Pada individu yang sehat, tekanan darah di kedua
lengan harus sama. Tanpa perbedaan tekanan darah yang signifikan antara lengan
pasien, beda halnya jika terdapat stenosis atau oklusi subklavia proksimal . 1

Temuan invariabel pada pasien dengan gejala sindrom subclavian steal adalah
perbedaan denyut ekstremitas atas dan tekanan darah sistolik brachial antara keduan
lengan pasien. Oleh karena itu, dengan pemeriksaan fisik yang sederhana, klinisi
dapat secara efektif menghilangkan kecurigaan terhadap lesi pada arteri subklavia
tanpa memerlukan angiografi atau duplex ultrasonography. 1

Arteri mammary interna (IMA) muncul dari bagian inferior arteri subklavia
proksimal, yang berlawanan dengan arteri vertebralis. Gejala angina pektoris
berulang setelah revaskularisasi koroner yang berhasil dengan cangkok IMA kiri
(LIMA) mungkin juga mengindikasikan perubahan hemodinamik pada stenosis
subkavial kiri bagian proksimal. 1

Lesi aterosklerotik (stenosis atau oklusi) pada arteri vertebral proksimal dapat
menghasilkan gejala yang serupa. Penyakit inklusif pada arteri vertebralis harus
dipertimbangkan jika gejala sirkulasi posterior terjadi pada tekanan darah normal
pada kelompok yang terkena. 1

Pemeriksaan Penunjang
Setelah melakukan pemeriksaan fisik , pemeriksaan laboratorium rutin harus
dilakukan untuk mengatasi faktor risiko aterosklerosis. Tes ini harus mencakup profil
lipid puasa dan glukosa darah. Pencitraan yang dapat dipertimbangkan meliputi
duplex ultrasonography, computed tomography (CT) angiography (CTA), four-vessel
cerebral arteriography, magnetic resonance angiography (MRA), chest radiography,
and electrocardiography (ECG) 1

8
Ultrasonografi Duplex

Ultrasonography adalah tes yang paling penting untuk ekstracranial carotis


dan arteri vertebra, serta arteri subklavia. pemeriksaan ini dapat menunjukkan aliran
darah yang retrograde di arteri vertebralis dan oklusi pada arteri karotis .Sindrom
subclavian steal sekarang paling sering didiagnosis selama pemeriksaan
ultrasonografi Doppler pada arteri subclavia.1

Angiografi

Jika tekanan arteri brakialis menurun secara signifikan (> 20%) dibandingkan
dengan sisi kontralateral, arch aortography harus dilakukan untuk menentukan
masalah dan rencana operasi atau intervensi lebih lanjut. 1

Meskipun angiografi konvensional tetap merupakan gold standar untuk diagnosis


penyakit oklusif subclavian di kebanyakan tempat, CTA telah mengganti modalitas
ini sebagai uji lini pertama. CTA ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi dan
dapat digunakan mengidentifikasi kelainan lain pada pembuluh lengkung (arch
vessels). 1

Four-vessel cerebral arteriography

Four-vessel arteriography konvensional adalah pemeriksaan yang lebih tepat,


karena memungkinkan diagnosis dan perawatan dilakukan pada saat yang bersamaan.
Four-vessel cerebral arteriography dapat menentukan masalah secara anatomis,
menunjukkan aliran darah yang retrograde di arteri vertebralis dan oklusi pada arteri
subklavia proksimal yang menyertainya. Selain itu, arteriografi berfungsi sebagai
jalan untuk kemungkinan perbaikan (bedah atau endovaskular) arteri subklavia. 1

MRA

9
MRA telah menjadi alternatif sebagai angiografi konvensional untuk penilaian
sindrom subklavian steal, terutama pada pasien dengan disfungsi ginjal. Sayangnya,
MRA sering menunjukkan nilai yang terlalu tinggi untuk derajat obstruksi arteri dan
dikaitkan dengan tingkat positif palsu yang tinggi. 1

Pemeriksaan lainnya, Chest radiography dilakukan untuk mencari penyebab


penyumbatan arteri subklavia yang tidak biasa (misalnya cervical rib).Karena banyak
dari pasien ini memiliki penyakit jantung iskemik secara bersamaan, dianjurkan
melakukan pemeriksaan EKG. 1

2.6. Penatalaksanaan

Operatif

Pasien dengan plak oklusi aterosklerotik di arteri subklavia biasanya asimtomatik


dan karena itu tidak memerlukan perawatan. Namun, jika gejala vertebrobasilar atau
nyeri lengan akibat aktifitas terjadi, penelusuran penyakit oklusi arteri subklavia
harus dilakukan.3

Tidak ada terapi medis yang diketahui mampu mengobati secara efektif
sindrom subclavian steal . Namun, jika penyebab sindrom subklavian steal ditentukan
sebagai stenosis aterosklerotik atau oklusi arteri subklavia proksimal, pasien harus
diobati dengan terapi antiplatelet seumur hidup untuk mengurangi risiko infark
miokard terkait, stroke, dan penyebab kematian vaskular lainnya.3

Jika gejala iskemik disebabkan oleh aliran darah arteri vertebral retrograde,
terapi bedah atau intervensi (misalnya, angioplasti atau stenting) diindikasikan.
Tujuannya adalah untuk mengembalikan aliran darah yang terdegradasi ke arteri
vertebralis, sehingga mengurangi gejala. Tujuan ini dapat tercapai dengan
mengembalikan tekanan perfusi yang memadai ke lengan yang terkena sehingga
aliran darah kolateral dari kepala dan leher tidak diperlukan selama aktifitas lengan.3

10
Perawatan bedah atau intervensi tidak boleh ditawarkan untuk mengobati
stenosis atau oklusi arteri subklavia tanpa gejala yang berhubungan dengan iskemia
lengan serebral atau ipsilateral. Gejala (misalnya ataksia, disartria, diplopia, dan kram
otot di lengan) harus dikaitkan dengan olahraga dan sembuh dengan cepat setelah
berhenti latihan.3

Proksimal Subklavia Endarterektomi

Pertama kali dijelaskan pada tahun 1962 oleh DeBakey, pendekatan


transthoracic untuk endarterectomy memberikan pandangan anatomis yang sangat
baik untuk revaskularisasi arteri subklavia. Saat ini, pendekatan bedah langsung ke
arteri subklavia proksimal hanya bersifat historis, karena endarterektomi sebagian
besar telah diganti dengan prosedur bypass ekstrathoracous yang tidak invasif; Angka
kematian intraoperatif berkisar antara 6% sampai 19%.1

Karena lesi oklusif pada arteri subklavia kiri proksimal berkembang sebagai
perpanjangan plak dari lengkung aorta, oklusi parsial pada lengkungan harus
dilakukan untuk memastikan bahwa keseluruhan lesi dikeluarkan secara efektif. Di
sisi kiri, pembedahan harus dilakukan melalui torakotomi anterolateral di ruang
interkostal ketiga. Di sisi kanan, pembedahan bisa dilakukan melalui sayatan
melintang di pangkal leher tanpa memerlukan torakotomi. 1

Intervensi karotis

Pada pasien yang bersamaan dengan penyakit arteri karotid yang berat ,
kondisi ini dapat menyebabkan hipoperfusi serebral pada subklavian steal.
Endarterektomi karotid untuk penyakit bifurkasio karotis dapat memperbaiki perfusi
serebral. 1

Bedah Bypass atau Transposisi

Extrathoracic carotid-subclavian bypass

11
Extrathoracic carotid-subclavian bypass menggunakan saluran prostetik
sebagian besar telah menggantikan endarterektomi subclavian; angka kematian 0,5%.
Pembukaan pembedahan mudah didapat melalui insisi melintang di pangkal leher
yang membentang 5-7 cm secara lateral dari sternal sejajar dengan klavikula.Secara
konvensional, 6- sampai 8 mm Dacron atau polytetrafluoroethylene (PTFE) prostetik
digunakan; Vena autogenous memiliki tingkat patensi 5 tahun yang kurang baik.
Anastomosis end-to-side (graft-to-artery) dapat dilakukan tanpa kesulitan. 5

Transposisi subklavia

Arteri subklavia juga dapat dialihkan ke sisi arteri karotid. Operasi ini juga
dilakukan melalui insisi transversal di bagian dasar leher dan memiliki kelebihan
karena tidak memerlukan bahan prostatik. Pembedahan yang diperlukan lebih luas
daripada yang dibutuhkan untuk bypass karotis-subclavian, dan perawatan harus
dilakukan untuk menghindari cedera pada saluran toraks di sisi kiri. Anastomosis
subclavian-to-carotid end-to-side dilakukan.Hasil jangka panjang serupa dengan
bypass karotid-subclavian. 1

Endovascular Treatment

Saat ini, pengobatan endovaskular (berbasis kateter) pada arteri subklavia


proksimal adalah pendekatan yang paling umum terhadap pengelolaan lesi subklavia
proksimal. Meskipun bypass terbuka atau transposisi merupakan gols standar, analisis
retrospektif menunjukkan bahwa pada pasien yang tepat, perawatan endovaskular
memiliki hasil yang sama. 1

Tingkat keberhasilan teknis adalah 86-100%. Dibandingkan dengan teknik


terbuka, komplikasi dengan teknik endovaskular dikaitkan lebih banyak dengan
emboli plak dan pendarahan dari lokasi akses dibandingkan dengan cedera saraf
lokal. Selain itu, sebagian besar prosedur endovaskular ini dapat dilakukan dengan
sukses pada pasien rawat jalan. 1

12
Meskipun sampai saat ini, belum ada uji coba terkontrol yang
membandingkan balon angioplasti saja dengan angioplasti dan stenting, tinjauan
sistematis terhadap beberapa penelitian observasional retrospektif menyimpulkan
bahwa stenting lebih unggul daripada angioplasti balon saja. 1

Penatalaksanaan dan stortifikasi endovaskular memperbaiki perfusi ke lengan


dan mengobati sindrom subclavian steal . Karena plak di arteri subklavia proksimal
sebenarnya adalah bagian dari lesi aterosklerosis di lengkung aorta, stent harus
melintasi seluruh plak dan menonjol sedikit ke dalam lumen lengkung aorta. 1

Farmakoterapi

Tujuan farmakoterapi adalah mengurangi morbiditas dan mencegah komplikasi.4

13
Agen Antiplatelet, Kardiovaskular

Agen antiplatelet menghambat agregasi trombosit dan mengurangi kejadian


iskemik. Pasien harus diobati dengan terapi antiplatelet seumur hidup untuk
mengurangi risiko infark miokard terkait, stroke, dan penyebab kematian vaskular
lainnya, jika penyebab sindrom subklavian steal ditentukan sebagai stenosis
aterosklerotik atau oklusi arteri subklavia proksimal.4

Aspirin (Aspirin Bayer, Ascriptin Kekuatan Maksimum, Ecotrin, Bufferin)


Aspirin menghambat sintesis prostaglandin, yang mencegah terbentuknya
platelet-agregat tromboksan A2.
Clopidogrel (Plavix)
Clopidogrel secara selektif menghambat adenosine difosfat (ADP) yang
mengikat reseptor trombosit dan aktivasi kompleks glikoprotein (GP) IIb / IIIa
yang dimediasi ADP, sehingga menghambat agregasi trombosit.
Ticlopidine
Ticlopidine hydrochloride mengganggu fungsi membran trombosit dengan
menghambat pengikatan platelet-fibrinogen yang diinduksi adenosin
diphosphate (ADP) dan interaksi platelet-platelet selanjutnya. Ini digunakan
sebagai terapi antiplatelet lini kedua untuk pasien yang tidak toleran terhadap
terapi aspirin atau di antaranya terapi semacam itu gagal.

2.6. Komplikasi
Pembedahan

14
Komplikasi yang terkait dengan pembedahan dapat diklasifikasikan sebagai
lokal atau serebral. Komplikasi lokal terkait dengan cedera pada struktur yang
berdekatan yang mungkin ditemui selama operasi berlangsung (misalnya, cedera
saluran toraks atau saraf frenik) dan sangat jarang terjadi.Komplikasi serebral
berhubungan dengan gejala iskemik otak dan dapat disebabkan oleh trombosis atau
embolisme pada arteri karotis atau arteri vertebra selama prosedur berlangsung.
Iskemia serebral selama oklusi karotis paling tidak biasa; Oleh karena itu, shunt tidak
digunakan untuk prosedur ini. Tingkat stroke pasca operasi berada pada kisaran 1,5-
2,1%.3

Endovascular treatment

Komplikasi yang terkait dengan Endovascular treatment dapat terjadi di lokasi


akses (arteri femoral atau brakialis) atau pada pembuluh target (subclavian atau
vertebral artery). Akses situs pendarahan atau hematoma sangat jarang terjadi tapi
bisa terjadi. Trombosis pembuluh darah, pembedahan, atau emboliisasi distal juga
telah dilaporkan. Komplikasi ini terjadi kurang dari 4%.6

Dalam sebuah studi yang membandingkan hasil Endovascular treatment


jangka pendek dan jangka panjang dari penyakit steno-occlusive arteri subklavia pada
245 pasien (125 dengan stenosis subklavia dan 120 dengan oklusi subklavia),
Karpenko dkk melaporkan adanya serangan iskemik transien intraoperatif pada
sistem vertebrobasilar dalam satu Pasien dari kelompok 1 dan tiga dari kelompok 2.
Sembilan pasien dari kelompok 1 dan 12 dari kelompok 2 memiliki intervensi
berulang dalam jangka panjang. Paten stent 4 tahun pertama kumulatif adalah 89,8%
pada kelompok 1 dan 87% pada kelompok 2.Ada peningkatan risiko trombosis stent
atau restenosis stent pada pasien dengan stent lebih dari 40 mm.3

2.7. Prognosis

15
Pasien dengan retrograde aliran asimtomatik di arteri vertebral memiliki
riwayat yang tidak berbahaya, dan tidak diperlukan perawatan khusus. 1

Dengan proximal subclavian artery occlusive disease, pasien lebih sering


datang pertama kali berobat dengan gejala klaudikasi pada lengan yang diinduksi
oleh aktifitas daripada gejala neurologis yang terkait dengan aktifitas lengan.
Selanjutnya, jika pasien telah menjalani revaskularisasi koroner dengan cangkok
LIMA, angina onset baru mungkin menyebabkan stenosis subklavia proksimal di sisi
kiri . pada sindrom subclavian steal, jika gejala neurologis terjadi, hal ini cenderung
bersifat sementara (misalnya, hypoperfusive transient ischemic attack) dan jarang
menyebabkan stroke. 1

Morbiditas dan mortalitas operatif secara substansial lebih tinggi pada


revaskularisasi arteri subklavia transthoraks daripada perbaikan ekstrathoraks,
terutama karena morbiditas yang terkait dengan torakotomi. Ahli bedah telah hampir
mengabaikan hal ini untuk mendukung revaskularisasi ekstrathoraks dalam bentuk
bypass karotid-subclavian atau transposisi subklavia. Kematian operatif untuk salah
satu prosedur ekstrathoraks ini mendekati nol, dan morbiditas sangat rendah. 7

BAB III

16
KESIMPULAN

Subclavian steal syndrome (SSS), merupakan kumpulan tanda dan gejala yang
timbul dikarenakan aliran darah retrograde di arteri vertebralis, akibat proksimal
stenosis atau oklusi arteri subklavia. Lengan bisa disuplai oleh darah yang mengalir
arah retrograde ke arteri vertebral dengan mengorbankan sirkulasi vertebrobasilar ini
disebut subklavian steal.
Temuan invariabel pada pasien dengan gejala sindrom subclavian steal adalah
perbedaan denyut ekstremitas atas dan tekanan darah sistolik brachial antara keduan
lengan pasien. Oleh karena itu, dengan pemeriksaan fisik yang sederhana, klinisi
dapat secara efektif menghilangkan kecurigaan terhadap lesi pada arteri subklavia
tanpa memerlukan angiografi atau duplex ultrasonography.

Pasien dengan plak oklusi aterosklerotik di arteri subklavia biasanya asimtomatik


dan karena itu tidak memerlukan perawatan. Namun, jika gejala vertebrobasilar atau
nyeri lengan akibat aktifitas terjadi, penelusuran penyakit oklusi arteri subklavia
harus dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Bayat I. Subclavian steal syndrome. [Online] 2015 [Diakses, 25 April 2017]


dari : http://emedicine.medscape.com/article/462036
2. Potter BJ. Pinto DS. Subclavian Steal Syndrome. 2014. Circulation;
129:2320-2323

17
3. Amini R, Gornik HL. Gilbert L. Whitelaw S. Shishehbor M. Case report :
Bilateral Subclavian Steal Syndrome. 2011. Case reports in cardiology Vol
2011, article DI 146267
4. Walling AD. Subclavian Steal Syndrome : A Rare Cause of Syncope. 2001.
Am Fam Physician ; 64 (9): 1625
5. Vitti MJ, Thompson BW, Read RC, et al. Carotid-subclavian bypass: a
twenty-two-year experience. J Vasc Surg 1994;20:411-8.
6. AbuRahma AF, Bates MC, Stone PA, et al. Angioplasty and stenting versus
carotid-subclavian bypass for the treatment of isolated subclavian artery
disease. J Endovasc Ther 2007;14:698-704.
7. Bakken AM, Palchik E, Saad WE, et al. Outcomes of endoluminal therapy for
ostial disease of the major branches of the aortic arch. Ann Vasc Surg
2008;22:388-94.

18