Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PBL

MODUL KESADARAN MENURUN


SISTEM TRAUMATOLOGI

Tutor : Dr. dr. Sri Vitayani Muchtar, Sp.KK (K) Finsdv

KELOMPOK 4

1.Annisa westania D (1102120002)


2. Dwi arnhilah miranda (1102120013)
3. Friska feronika tawil (1102120027)
4. Nanik sofari alade (1102120049)
5. Laode muhamad satrio (1102120058)
6. Randi satria P (1102120073)
7. Nur Madinah Siregar (1102120093)
8. Madrikayanti anugrah S.P (1102120112)
9. Fahilah islamiah haruna (1102120128)
10. Ria rezki angreni (1102120117)
11. Anggun dwi jayanti (1102120158)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

2015

A. SKENARIO
Laki laki 25 tahun masuk ke UGD RS dengan kesadaran menurun. Setelah
diletakkan di tempat tidur dan diperiksa, penderita hanya mengeluarkan suara dengan
kalimat yang tidak jelas. Tanda vital TD 180/100mmHg, nadi 140x/menit, lemah,
pernapasan 40x/menit, suhu 38oC. pasien kesan overweight.
B. KATA KUNCI
1. Laki laki 25 tahun
2. Kesadaran menurun
3. Hanya mengeluarkan suara dengan kalimat tidak jelas
4. TD 180mmHg
5. Nadi 140x/menit, lemah
6. Pernapasan 40x/menit
7. Suhu 38oC
8. Overweight
C. PERTANYAAN
1. Jelaskan penyebab penurunan kesadaran serta patomekanisme nya?
2. Apa saja tanda dan gejala menurunan kesadaran pada koma intracranial dan
ekstrakranial?
3. Jelaskan tindakan awal yang dilakukan pada scenario?
4. Jelaskan tindakan lanjut yang dilakukan apabila penanganan awal gagal?
5. Jelaskan tindakan khusus yang dilakukan pada pasien berdasarkan scenario?
6. Jelaskan cara kerja obat - obat emergency pada pasien penurunan kesadaran?
7. Jelaskan syarat melakukan transportasi pada pasien penurunan kesadaran?

D. JAWABAN
1.
Penyebab penurunan kesadaran :
Penurunan kesadaran adalah apabila terjadi gangguan sehingga
kesadaran menurun sampai derajat yang teremdah, maka koma yang di hadapi
dapat terjadi oleh sebab neuron pengemban kewaspadaan menurun atau sama
sekali tidak befungsi. Atau oleh sebab neuron penggalak kewaspadaan tidak
berdaya untuk mengaktifkan pengemban kewaspadaan.1
a.
S :Sirkulasi. Meliputi stroke dan penyakit jantung
b.
E :Ensefalitis. Dengan tetap mempertimbangkan adanya infeksi
sistemik / sepsis yang mungkin melatarbelakanginya atau muncul secara
bersamaan.
c.
M :Metabolik. Misalnya hiperglikemia, hipoglikemia, hipoksia, uremia,
koma hepatikum
d.
E :Elektrolit. Misalnya diare dan muntah yang berlebihan.

e.
N : Neoplasma. Tumor otak baik primer maupun metastasis

f.
I :Intoksikasi. Intoksikasi berbagai macam obat maupun bahan kimia
dapat menyebabkan penurunan kesadaran

g.
T :Trauma. Terutama trauma kapitis : komusio, kontusio, perdarahan
epidural,perdarahan subdural, dapat pula trauma abdomen dan dada.

h.
E :Epilepsi. Pasca serangan Grand Mall atau pada status epileptikus
dapat menyebabkan penurunan kesadaran. Penurunan kesadaran juga
dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, cedera atau kelainan yang serius.
Penurunan kesadaran sekejap bisa terjadi karena cedera kepala ringan,
kejang atau berkurangnya aliran darah ke otak, seperti yang terjadi pada
saat pingsan atau stroke. Keadaan tidak sadar yang berlangsung lama bisa
disebabkan oleh cedera kepala yang lebih berat, penyakit yang berat
(misalnya ensefalitis), reaksi racun terhadap obat tertentu atau pemakaian
obat penenang atau zat lainnya secara sengaja. .Metabolisme tubuh yang
mengatur kadar garam, gula dan bahan kimia lainnya dalam darah, juga
bisa mempengaruhi fungsi otak.1

Patomekanisme penurunan kesadaran :


Kesadaran dibagi dua yaitu kualitas dan derajat kesadaran. Jumblah
(kuantitas) input/rangsangan menentukan derajat kesadaran, sedangkan
kualitas kesadaran ditentukan oleh cara pengolahan input yang menghasilkan
output SSP. Pada topik koma kita lebih menitikberatkan kepada derajat dari
kesadaran.2
Berdasarkan skema diatas kita dapat melihat bahwa input/rangsangan
dibagi dua, spesifik dan non-spesifik. Input spesifik merujuk kepada
perjalanan impuls aferen yang khas dimana menghasilkan suatu kesadaran
yang khas pula. Lintasan yang digunakan impuls-impuls tersebut dapat
dinamakan lintasan yang menghubungkan suatu titik pada tubuh dengan suatu
titik di daerah korteks primer (penghantarannya berlangsung dari titik ke
titik), yang berarti bahwa suatu titik pada kulit yang dirangsang mengirimkan
impuls yang akan diterima oleh sekelompok neuron dititik tertentu daerah
reseptif somatosensorik primer. Setibanya impuls aferen di tingkat korteks
terwujudlah suatu kesadaran akan suatu modalitas perasaan yang spesifik,
yaitu perasaan nyeri di kaki atau di wajah atau suatu penglihatan, penghiduan
atau suatu pendengaran tertentu.2
Input yang bersifat non-spesifik adalah sebagian dari impuls aferen
spesifik yang disalurkan melalui lintasan aferen non-spesifik (lintasan ini
lebih dikenal sebagai diffuse ascending reticular system) yang terdiri dari
serangkaian neuron-neuron di substansia retikularis medulla spinalis dan
batang otak yang menyalurkan impuls aferen ke thalamus (inti intralaminar). 3
Inti intralaminar yang menerima impuls non-spesifik tersebut akan
menggalakkan dan memancarkan impuls yang diterimanya
menuju/merangsang/menggiatkan seluruh korteks secara difuse dan bilateral
sehingga timbul kesadaran/kewaspadaan.3
Karena itu, neuron-neuron inti intralaminar disebut neuron penggalak
kewaspadaan, sedangkan neuron-neuron diseluruh korteks serebri yang
digalakkan disebut neuron pengemban kewaspadaan.3
Apabila terjadi gangguan sehingga kesadaran menurun sampai derajat
yang terendah, maka koma yang dihadapi dapat terjadi oleh sebab neuron
pengemban kewaspadaan sama sekali tidak berfungsi (koma kortikal
bihemisferik) atau oleh sebab neuron penggalak kewaspadaan tidak berdaya
untuk mengaktifkan neuron pengemban kewaspadaan (koma diensefalik).4
Dari penjelasan diatas kita dapat melihat bahwa berdasarkan susunan
anatomi, koma dibagi menjadi 2 yaitu; koma kortikal bihemisferik dan koma
diensefalik.3
a. Koma kortikal bihemisferik1,4
Neuron merupakan satuan fungsional susunan saraf. Berbeda struktur,
metabolisme dan fungsinya dengan sel tubuh lain. Pertama, neuron tidak
bermitosis. Kedua, untuk metabolismenya neuron hanya menggunakan O2 dan
glukosa saja. Sebab bahan baku seperti protein, lipid, polysaccharide dan zat
lain yang biasa digunakan untuk metabolisme sel tidak dapat masuk ke neuron
karena terhalang oleh blood brain barrier.
Angka pemakaian glukosa ialah 5,5 mg/100 gr jaringan otak/menit.
Angka pemakaian O2 ialah 3,3 cc/100 gr jaringan otak/menit.
Glukosa yang digunakan oleh neuron 35% untuk proses oksidasi, 50%
dipakai untuk sintesis lipid, protein, polysaccharide, dan zat-zat lain yang
menyusun infrastruktur neuron, dan 15% untuk fungsi transmisi.
Hasil akhir dari proses oksidasi didapatkan CO2 dan H2O serta ATP
yang berfungsi mengeluarkan ion Na dari dalam sel dan mempertahankan ion
K di dalam sel. Bila metabolisme neuron tersebut terganggu maka
infrastruktur dan fungsi neuron akan lenyap, bilamana tidak ada perubahan
yang dapat memperbaiki metabolisme.
Koma yang bangkit akibat hal ini dikenal juga sebagai Koma Metabolik. Yang
dapat membangkitkan koma metabolik antara lain:
a. Hipoventilasi
b. Anoksia iskemik.
c. Anoksia anemik.
d. Hipoksia atau iskemia difus akut.
e. Gangguan metabolisme karbohidrat.
f. Gangguan keseimbangan asam basa.
g. Uremia.
h. Koma hepatic
i. Defisiensi vitamin B.
b. Koma diensefalik.1,4,5
Koma akibat gangguan fungsi atau lesi struktural formation retikularis
di daerah mesensefalon dan diensefalon (pusat penggalak kesadaran). Secara
anatomik koma diensefalik dibagi menjadi 2 bagian utama yaitu koma akibat
lesi supratentorial dan lesi infratentorial.
1. Lesi supratentorial
Proses desak ruang supratentorial, lama kelamaan mendesak
hemisferium kearah foramen magnum, yang merupakan satu-satunya jalan
keluar untuk suatu proses desak didalam ruang tertutup seperti tengkorak.
Karena itu batang otak bagian depan (diensefalon) mengalami distorsi dan
penekanan.
Saraf-saraf otak mengalami penarikan dan menjadi lumpuh dan
substansia retikularis mengalami gangguan. Oleh karena itu bangkitlah
kelumpuhan saraf otak yang disertai gangguan penurunan derajat kesadaran.
Kelumpuhan saraf otak okulomotorius dan trokhlearismerupakan cirri bagi
proses desak ruang supratentorial yang sedang menurun ke fossa posterior
serebri.
Yang dapat menyababkan lesi supratentorial antara lain; tumor serebri,
abses dan hematoma intrakranial.
2. Lesi infratentorial
Ada 2 macam proses patologik dalam ruang infratentorial (fossa kranii
posterior). Pertama, proses diluar batang otak atau serebelum yang mendesak
system retikularis. Kedua, proses didalam batang otak yang secara langsung
mendesak dan merusak system retikularis batang otak.
Proses yang timbul berupa (i).penekanan langsung terhadap
tegmentum mesensefalon (formasio retikularis). (ii) herniasi serebellum dan
batang otak ke rostral melewati tentorium serebelli yang kemudian menekan
formation retikularis di mesensefalon. (iii) herniasi tonsiloserebellum ke
bawah melalui foramen magnum dan sekaligus menekan medulla oblongata.
Secara klinis, ketiga proses tadi sukar dibedakan. Biasanya berbauran dan
tidak ada tahapan yang khas.
Penyebab lesi infratentorial biasanya GPDO di batang otak atau
serebelum, neoplasma, abses, atau edema otak.
2.
Tanda dan gejala koma intracranial dan ekstrakranial :4
Kesadaran merupakan fungsi utama susunan saraf pusat. Untuk
mempertahankan fungsi kesadaran yang baik, perlu suatu interaksi yang
konstan dan efektif antara hemisfer serebri yang intak dan formasio retikularis
di batang otak.
Gangguan pada hemisfer serebri atau formasio retikularis dapat
menimbulkan gangguan kesadaran.
Bergantung pada beratnya kerusakan, gangguan kesadaran dapat
berupa apati, delirium, somnolen, sopor atau koma. Koma sebagai kegawatan
maksimal fungsi susunan saraf pusat memerlukan tindakan yng cepat dan
tepat, sebab makin lama koma berlangsung makin parah keadaan susunan
saraf pusat sehingga kemungkinan makin kecil terjadinya penyembuhan
sempurna.
Pada proses ini susuan saraf pusat terganggu fungsi utamanya
mempertahankan kesadaran. Gangguan kesadaran ini dapat disebabkan
beraneka ragam penyebab baik primer intracranial ataupun ekstrakranial, yang
mengakibatkan kerusakan struktural/metabolik di tingkat korteks serebri,
batang otak atau keduanya. Adapun penyebabnya yaitu:

INTRAKRANIAL EKSTRAKRANIAL

A.Fraktur Servikal Hipoglikemia


Gejala dan tanda: Gejala dan tanda
Kesadaran menurun Dapat menurun
Gangguan pernapasan kesadarannya
B. Fraktur Basis Cranii Palpatasi
Gejala dan tanda Sakit kepala
- Keluar darah dari lubang hidung dan Gelisah
lubang telinga Lemah
- Kehilangan pendengaran Penglihatan kabur
- Ekimosis periorbital Ketoasidosis Diabetik
3.
- Ekimosis retroaurikular Menurunnya
kesadaran
Dehidrasi
Tensi rendah
Napas berbau aseton
Pernapasan Kussmaul
Tindakan awal yang dilakukan pada scenario :6
A. Airway dengan control servikal
1. Penilaian
a. Mengenal potensi airway ( inspeksi, auskultasi, palpasi)
b. Penilaian secara cepat dan tepat akan adanya obstruksi
2. Pengelolaan airway
a. Lakukan chin lift dan atau jaw thrust dengan control servikal in-
line immobilisasi
b. Bersihkan airway daribendaasingbilaperlu suctioning denganalat
yang rigid
c. Pasang pipa nasofaringeal atau orofaringeal
d. Pasang airway definitive sesuai indikasi( lihat tabel 1 )
3. Fiksasi leher
4. Anggaplah bahwa terdapat kemungkinan fraktur servikal pada setiap
penderita multi trauma, terlebih bila ada gangguan kesadaran atau
perlukaan diatas klavikula.
5. Evaluasi

*Kerjakan sesuai pertimbangan klinis dan tingkat


ketrampilan/pengalaman.

B. Breathing danVentilasi-Oksigenasi
1. Penilaian
a. Buka leher dan dada penderita, dengan tetap memperhatikan
control servikal in-line immobilisasi
b. Tentukan laju dan dalamnya pernapasan
c. Inspeksi dan palpasi leher dan thoraks untuk mengenali
kemungkinan terdapat deviasi trakhea, ekspansi thoraks simetris
atau tidak, pemakaian otot-otot tambahan dan tanda-tanda cedera
lainnya.
d. Perkusi thoraks untuk menentukan redup atau hipersonor
e. Auskultasi thoraks bilateral
2. Pengelolaan
a. Pemberian oksigen konsentrasi tinggi( non rebreather mask 11-12
liter/menit)
b. Ventilasi dengan Bag Valve Mask
c. Menghilangkan tension pneumothorax
d. Menutup open pneumothorax
e. Memasang pulse oxymeter
3. Evaluasi
C. Circulation dengan control perdarahan
1. Penilaian
a. Mengetahui sumber perdarahan eksternal yang fatal
b. Mengetahui sumber perdarahan internal
c. Periksa nadi :kecepatan, kualitas, keteraturan, pulsus paradoksus.
Tidak diketemukannya pulsasi dari arteri besar merupakan
pertanda diperlukannya resusitasi massif segera.
d. Periksa warna kulit, kenali tanda-tanda sianosis.
e. Periksa tekanan darah
2. Pengelolaan
a. Penekanan langsung pada sumber perdarahan eksternal
b. Kenali perdarahan internal, kebutuhan untuk intervensi bedah serta
konsultasi pada ahli bedah.
c. Pasang kateter IV 2 jalur ukuran besar sekaligus mengambil
sampel darah untuk pemeriksaan rutin, kimia darah, tes kehamilan
(pada wanita usia subur), golongan darah dan cross-match serta
Analisis Gas Darah (BGA).
d. Beri cairan kristaloid yang sudah dihangatkan dengan tetesan
cepat.
e. Pasang PSAG/bidai pneumatic untuk control perdarahan pada
pasien - pasien fraktur pelvis yang mengancam nyawa.
f. Cegah hipotermia
3. Evaluasi
D. Disability
1.
Tentukan tingkat kesadaran memakai skor GCS/PTS
2.
Nilai pupil : besarnya, isokor atau tidak, reflek cahaya dan awasi tanda
tanda lateralisasi
3.
Evaluasi dan Re-evaluasi airway, oksigenasi, ventilasi dan circulation.
E. Exposure/Environment
4.
Tindakan lanjut yang dilakukan apabila penanganan awal gagal :6
Lakukan Trakeotomi, merupakan tindakan membuat jalan napas baru
dengan membuat lubang pada trakea. Trakeotomi menurut urgensi dibagi atas:
a. Emergency tracheostomy, dilakukan pada keadaan darurat, biasanya
didaerah glottis
b. Orderly tracheostomy, merupakan tindakan berencana, dilakukan pada
cincing trakea III atau dibawahnya.
Indikasi :
a. Pasien yang tampak pucat atau sianotik
b. Terjadinya obstruksi jalan napas
c. Terdapat benda asing disubglotis
d. Cedera parah pada wajah dan leher
Komplikasi :
a. Perdarahan
b. Infeksi pada tulang rawan tiroid
c. Stenosis trakea

5.
Tindakan khusus yang dilakukan pada pasien trauma maupun non truma :6
Prinsip penatalaksanaan pasien penurunan kesadaran :
a. Mempertahankan fungsi vital dan mencukupi kebutuhan tubuh akan O2
cairan dan kalori.
Pelihara jalan napas :
1. Kepala dimiringkan dan ekstensi
2. Bersihkan rongga mulut dn farings;isap lendir secara teratur, bila perlu
oksigen, trakestomi, respirator .
Pemberian cairan dan kalori :
1. Jumlah maintanance kira-kira 2000 ml/hari
2. Dapat ditambah bila ada dehidrasi atau syok
3. Usahakan pemberian cairan yang mengandung cukup elektrolit dan
kalori .
4. Bila koma lebih dari 2-3 hari, berikan makanan personde agar intake
dapat lebuh banyak .
b. Pemeliharaan kebersihan tubuh (miksi, defekasi)
1. Pasang dauercathether
2. Klisma dengan larutan gliserin 2-3 hari sekali .
3. Mata ditetesi dengan borwater atau larutan garam faal beberapa kali
sehari, lalu ditutup dengan kasa lembab;dapat juga digunakan salep
mata antibiotik agar tidak terlalu sering harus membasahi mata .
4. Mulut dibersihkan dengan boraks-gliserin dan alkohol tiap pagi.
5. Penderita dimandikan dengan air dan sabun sedikitnya sekali sehari .
c. Mencegah infeksi sekunder dan dekubitus .
1. Posisi berbaring penderita harus diubah-ubah beberapa kali setiap hari
untuk mengurangi kemingkinan pneumoni dan dekubitus.
2. Untuk mengalirkan sekret dari paru, penderita berbaring miring dan
daerah dada dan punggung ditepuk-tepuk beberapa menit tiap pagi .
d. Pengobatan simtomatik.
1. Bila perlu berikan kompres panas atau dingin.
2. Bila kejang atau gelisah, berikan sedatif yang efek depresinya minimal
misalnya diazepam.
3. Untuk menurunkan tekanan intrakranial gunakan kortikosteroid dan
larutan hipertonik .
Tindakan Bedah :
a. Kraniotomi
Definisi:
Trepanasi/ kraniotomi adalah suatu tindakan membuka
tulang kepala yang bertujuan mencapai otak untuk tindakan
pembedahan definitif.
Pasien terdapat Epidural Hematoma dan Subdural hematom.
Indikasi Operasi:
a. Penurunan kesadaran tiba-tiba di depan mata
b. Adanya tanda herniasi/ lateralisasi
c. Adanya cedera sistemik yang memerlukan operasi emergensi,
dimana CT Scan Kepala tidak bisa dilakukan.
6.
Cara kerja obat emergency pada pasien penurunan kesadaran :7
Obat-obatan darurat :
a. Epinephrine
Cara kerja :
Pada syok anafilaktik digunakan untuk mengatasi gangguan
sirkulasi dan menghilangkan bronkospasme. Pada jantung, epineprin
merangsang reseptor agar terjadi vasokonstriksi perifer dan merangsang
reseptor di jantung agar pembuluh darah koroner mengalami dilatasi
sehingga aliran darah ke miokard menjadi lebih baik. Pada pernapasan,
merelaksasi otot bronchus.
Sediaan :
Pada pasien dengan syok ringan, dosis diberikan 0.3-0.5 mg secara
subkutandalam larutan 1:1000. Pada pasien dengan syok berat, dosis dapat
diulang atau ditingkatkan 0.5-1 mg.
Inhalasi ephinephrin adalah larutan tidak steril 1% HCl atau 2%
epi bitartat dalam air untuk inhalasi oral (bukan nasal) untuk mengatasi
bronkonstriksi (bronkospasme). Pada RJP, dosis yang dianjurkan adalah
0.5-1 mg dalam larutan 1:1000, dapat diulang tiap 5 menit karena masa
kerjanya pendek.
b. Ephedrine
Cara kerja :
Efeknya sama dengan epineprin, tetapi efektif pada pemberian
oral, potensinya lebih lemah tetapi masa kerjanya 7-10 kali lebih panjang.
Ephedrine merupakan obat yang bekerja ganda, secara langsung pada
reseptor adrenergic dan secara tidak langsung dengan merangsang
pengeluaran katekolamin.
Sediaan:
Untuk mengatasi hipotensi akibat blok spinal selama anesthesia
atau depresihalotan diberikan ephedrin dengan dosis 10-50 mg IM atau
10-20 mg IV
c. Dopamin
Cara kerja :
Dopamin dipakai untuk mempertahankan tekanan darah dan
perfusi pada syok septik, syok kardiogenik, dan pasca resusitasi jantung.
Sebelum diberikan pada penderita syok, hipovolemia harus dikoreksi
terlebih dahulu.
Sediaan :
Dosis dopamin dimulai dari 2-5g/kgBB/menit, 5-10g/kgBB/menit,
sampai >10g/kgBB/menit. Dosis tersebut memberikan efek yang berbeda.
d. Atropin
Cara kerja :
Dapat meningkatkan denyut nadi pasien payah jantung
Sediaan :
Sediaan atropin yaitu 0.25 dan 0.5 mg tablet dan suntikan. Untuk
bayi dan anak-anak diberikan 0.01 mg/kgBB karena mudah mengalami
intoksikasi dan overdosis.
e. Lidokain
Cara kerja :
Lidokain merupakam obat pilihan aritmia ventrikuler, efeknya
segera dan masa kerjanya pendek.
Sediaan :
Dosis untuk penyuntikan intravena 1-1.5 mg kemudian dilanjutkan
dengan dosis pemeliharaan dalam tetesan infus 15-50g/kgBB/menit.
f. Cedilanid
Cara kerja :
Obat ini digunakan untuk pasien kegagalan jantung kongestif.
Sediaan :
Dosis 0.8-1.6 mg IV, dibagi 4 kali pemberian selang 6 jam, diikuti
dosis pemeliharaan 0.2 mg IM tiap 12 jam.
7.
Syarat melakukan transportasi pada penderita penurunan kesadaran :6
Transportasi pasien-pasien seperti ini beresiko tinggi sehingga
diperlukan komunikasi yang baik perencanaan dan tenaga-tenaga kesehatan
yang sesuai. Pasien harus distabilisasi lebih dahulu sebelum diberangkatkan.
Prinsipnya pasien hanya ditransportasi untuk mendapat fasilitas yang lebih
baik dan lebih tinggi di tempat tujuan.
Perencanaan dan persiapan meliputi :
a. Menentukan jenis transportasi (mobil, perahu, pesawat terbang)
b. Menentukan tenaga kesehatan yang mendampingi pasien
c. Menentukan peralatan dan persediaan obat yang diperlukan selama
perjalana, baik kebutuhan rutin maupun darurat
d. Menentukan kemungkinan penyulit
e. Menentukan pemantauan pasien selama transportasi
Komunikasi yang efektif sangat penting untuk menghubungkan :
a. Rumah sakit tujuan
b. Penyelenggara transportasi
c. Petugas pendamping pasien
d. Pasien dan keluarganya
Syarat-syarat dalam melakukan transportasi pada penderita pasien
penurunan kesadaran :
a. ABC harus stabil
b. Jangan memindahkan pasien sendirian dan lakukan dengan hati-hati
c. Sediakan bidai, long spine board, dan neck collar jika dibutuhkan (untuk
pasien trauma dan mencegah terjadinya trauma)
d. Pasang infus, NGT, dan kateter
e. Transportasi yang memadai telah tersedia
f. Rumah sakit yang dituju telah diberitahu sehingga di sana telah disiapkan
emergency team
Syarat-syarat melakukan rujukan pada penderita penurunan kesadaran :
a. Dokter lebih baik berbicara langsung dengan dokter yang akan dirujuk dan
menceritakan semua kejadian sebelum initial care dan terapi yang sudah
diberikan serta responnya.
b. Pencatatan dan pelaporan tentang kondisi pasien
c. Pengantar pasien harus diberitahukan tentang kondisi pasien
d. Kondisi pasien harus stabil
e. Bila pernafasan tidak adekuat dilakukan ETT, dan bila trauma cervical
dilakukan collar neck
f. Pemeriksaan penunjang harus dikerjakan tanpa memperlambat proses
transfer pasien
g. Luka/pendarahan harus dikontrol
h. Penanganan dengan multiple trauma harus mengacu pada ABCDE
DAFTAR PUSTAKA

1. Harsono (ed.) 2005 buku ajar Neurologis klinis, cetakan ketiga. Penerbit
Gajah Mada University Press.
2. Prof. Dr. dr. B. Chandra, Neurologi Klinik, Kepala Bagian Ilmu Penyakit Saraf
FK.Unair / RSUD Dr. Soetomo Surabaya,.
3. Priguna Sidharta, M. D., Ph. D. , Tata Pemeriksaan Klinis Dalam Neurologi,
Dian Rakyat.
4. Sidharta, Priguna, dan Mardjono, Mahar 2004 Neurologis Klinis Dasar.
Penerbit Dian Rakyat.
5. J.G.Chusid, Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional.
Diterjemahkan oleh dr. Andri Hartono, Gadjah Mada University press,
cetakan ke empat 1993.
6. Bresler, Michael Jay, George, L.Sternbach. 2007. Manual Kedokteran
Darurat.Jakarta:EGC
7. Sudoyo, W. Aru. Et al. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1. Jakarta :
FKUI