Anda di halaman 1dari 34

BAB - 1

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Dilandasi dengan dikeluarkannya Undangundang No. 3 Tahun 2014


tentang Perindustrian maka peran industri terhadap perekonomian nasional
akan semakin kuat, mengingat penguatan sektor industri akan dipacu dengan
kebijakan pengembangan perwilayahan industri dan tidak hanya sematamata
secara sektoral atau komoditi. Dalam pengembangan perwilayahan industri
sebagaimana pada pasal 14 dari Undangundang No. 3 Tahun 2014 disebutkan
peran Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah melakukan percepatan
penyebaran dan pemerataan pembangunan industri ke seluruh wilayah negara
Kesatuan Republik Indonesia melalui perwilayahan industri. Perwilayahan
industri dimaksud dilaksanakan melalui pengembangan wilayah pusat
pertumbuhan industri, pengembangan kawasan peruntukan industri,
pembangunan kawasan industri dan pengembangan sentra industri kecil dan
industri menengah.

Sentra Industri Kecil dan Industri Menengah (Sentra IKM) adalah lokasi
pemusatan kegiatan industri kecil dan industri menengah yang menghasilkan
produk sejenis, menggunakan bahan baku sejenis dan atau mengerjakan proses
produksi yang sama, dilengkapi sarana dan prasarana penunjang. Kegiatan ini
pada dasarnya upaya untuk mengembangkan industri kecil dan industri
menengah yang berbasis sumber daya dan potensi daerah yang diwadahi secara
terpadu dalam suatu Sentra Industri Kecil dan Industri Menengah (Sentra IKM)
mandiri yang mampu menghasilkan nilai tambah serta menyerap tenaga kerja.
Seiring dengan pengembangan kawasan industri dibeberapa daerah,
pengembangan Sentra IKM dinilai akan dapat membantu menunjang kegiatan
industri pengolahan dalam skala kecil dan menengah. Adapun pembangunan
Sentra IKM tetap harus berada di dalam Kawasan Peruntukan Industri.

Sesuai dengan Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional Tahun


2015-2035, maka pengembangan Sentra IKM dilaksanakan pada setiap wilayah
kabupaten/kota, terutama di luar Pulau Jawa. Program pengembangan dalam
kurun waktu 2015-2035 dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Kebijakan pengembangan Sentra IKM ini juga didukung dalam Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional untuk Agenda Pembangunan Bidang
Industri dimana target pembangunan sentra Industri Kecil dan Menengah telah

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-1
Laporan Akhir

Tabel 1.1
Program Pengembangan Sentra IKM Tahun 20152035
Jangka Menengah (20152019) Jangka Panjang (20202035)
1. Survey dan pemetaan potensi 1. Pengadaan tanah oleh pemerintah
pembangunan Sentra IKM; kabupaten/kota untuk pembangunan
2. Penyusunan rencana pembangunan Sentra Sentra IKM;
IKM; 2. Pembangunan infrastruktur untuk
3. Pembentukan kelembagaan Sentra IKM mendukung Sentra IKM;
oleh pemerintah kabupaten/kota 3. Pembangunan sentra IKM; dan
4. Pengadaan tanah oleh pemerintah 4. Pembinaan dan pengembangan Sentra
kabupaten/kota untuk pembangunan IKM.
Sentra IKM;
5. Pembangunan infrastruktur untuk
mendukung Sentra IKM;
6. Pembangunan Sentra IKM;
7. Pembinaan dan pengembangan Sentra
IKM.

Sumber : Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2015 tentang RIPIN 2015-2035.

ditetapkan dalam Agenda II RPJMN tentang strategi pengembangan


perwilayahan industri adalah membangun 22 Sentra IKM yang terdiri dari 11
(sebelas) di Kawasan Timur Indonesia khususnya Papua, Papua Barat, Maluku,
Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur), dan 11 (sebelas) di Kawasan
Barat Indonesia.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, maka Direktorat Jenderal


Perwilayahan Industri pada tahun 2016 memfasilitasi penyusunan pola
pengembangan sentra industri kecil dan industri menengah di beberapa
kabupaten/kota dalam rangka penyiapan pembangunan Sentra IKM.

1.2. DASAR HUKUM

Penyusunan pola pengembangan sentra Industri Kecil dan Menengah di


Kabupaten Manokwari, mengacu kepada dasar hukum yang tekait secara tidak
langsung antara lain sebagai berikut:
1. UndangUndang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2014 tentang Rencana Induk
Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) Tahun 20152035.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional (RTRWN); dan
5. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pengembangan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-2
Laporan Akhir

1.3. MAKSUD DAN TUJUAN

1.3.1. Maksud

Maksud dari kegiatan ini adalah menyusunan rencana pengembangan


Sentra IKM meliputi site plan pembangunan Sentra IKM, kelayakan
pengembangan Sentra IKM, dan bentuk kelembagaan Sentra IKM di Kabupaten
Manokwari.

1.3.2. Tujuan

Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai acuan atau pedoman


mengembangkan Sentra IKM dalam rangka mempercepat pemerataan
pembangunan industri.

1.4. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup yang akan dijelaskan pada kegiatan penyusunan pola


pengembangan Sentra IKM di Kabupaten Manokwari meliputi lingkup daerah
kajian, dan lingkup materi kajian.

1.4.1. Ruang Lingkup Daerah Kajian

Ruang lingkup daerah kajian pada kegiatan ini dilaksanakan di Kabupaten


Manokwari Provinsi Papua Barat. Lebih detailnya lihat pada Gambar 1.1,
mengenai peta lokasi daerah kajian.

1.4.2. Ruang Lingkup Materi Kajian

Ruang lingkup materi kajian pada kegiatan penyusunan pola


pengembangan Sentra Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Manokwari
terdiri dari ruang lingkup kegiatan dan tahapan kegiatan.

1.4.2.1. Ruang Lingkup Kegiatan

Ruang lingkup kegiatan pada penyusunan pola pengembangan Sentra


IKM di Kabupaten Manokwari, sebagai berikut.
1. Identifikasi dan penentuan lokasi Sentra IKM di Kabupaten Manokwari;
2. Identifikasi dan analisis komoditi yang dikembangkan di dalam Sentra IKM;
3. Analisis kebutuhan infrastruktur dan sarana/prasarana pendukung Sentra
IKM (bangunan, jalan, listrik, air dan telekomunikasi dan lainnya);
4. Analisis kelembagaan dalam rangka operasionalisasi sentra;
5. Analisis kebutuhan investasi Sentra IKM;
6. Analisis kelayakan ekonomi, sosial budaya dan lingkungan;
7. Penyusunan pola pengembangan Sentra IKM; dan
8. Penyusunan Site Plan Sentra IKM skala 1 : 10.000.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-3
Laporan Akhir

Sumber : RTRW Kabupaten Manokwari Tahun 2013 2033.

Gambar 1. 1
Peta Daerah Kajian Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-4
Laporan Akhir

1.4.2.2. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan

Pada tahapan pelaksanaan kegiatan penyusunan pola pengembangan


Sentra Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Manokwari terdiri dari:
1. Persiapan dan koordinasi;
2. Melakukan desk study, survey dan pengumpulan data serta informai terkait
Sentra IKM;
3. Penyusunan laporan pendahuluan;
4. Pemetaan data dan informasi yang terkait dengan masalah ekonomi, sosial
budaya dan lingkungan, sektor perindustrian, kebutuhan investasi Sentra
IKM, infrastruktur dan prasarana/sarana pendukung dalam Sentra IKM ;
5. Pengolahan data dan informasi yang terkait dengan masalah ekonomi, sosial
budaya dan lingkungan, sektor perindustrian, kebutuhan investasi sentra
IKM, infrastruktur dan prasarana/sarana pendukung dalam Sentra IKM ;
6. Focus Group Discussion (FGD) 1 dalam rangka mendapatkan masukan dari
stakeholder terkait;
7. Analisa data dan informasi lanjutan;
8. Penyusunan laporan antara;
9. Focus Group Discussion (FGD) 2 dalam rangka mendapatkan masukan dan
penyempurnaan dari para stakeholder terkait;
10. Pematangan analisa data-data dan informasi;
11. Penyusunan laporan akhir.

1.5. PENDEKATAN DAN METODOLOGI

Pada subbab ini akan menjelaskan mengenai pendekatan dan metodologi


yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan Sentra IKM di Kabupaten
Manokwari.

1.5.1. Pendekatan

Beberapa pendekatan yang dilakukan untuk mengembangkan Sentra IKM


adalah resource driven dan market driven. Penjelasan dari kedua pendekatan
tersebut adalah sebagai berikut:

1. Resource Driven

Pengembanagn Sentra IKM di Kabupaten Manokwari paling sesuai


dengan menggunakan pendekatan resource driven. Hal ini disebabkan karena
sumber daya di kabupaten tersebut sangat tersedia, bernilai, unik dan
terjamin keberlangsungannya. Namun perlu lebih dalam diidentifikasi,
dianalisis dan dievaluasi sumber daya kunci yang potensial bagi
pengembangan Sentra IKM tersebut.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-5
Laporan Akhir

Evaluasi yang dilakukan adalah apakah sumber daya tersebut memenuhi


kriteria yang disebut VRIN. Adapun kriteria tersebut adalah:

a. Valuable (berharga)

Apakah sumber daya yang digunakan IKM bernilai ? Dikatakan bernilai


jika dapat mengungguli pesaingnya atau dapat menutupi kekurangan
perusahaan. Selain itu biaya investasi sumber daya tersebut tidak lebih
tinggi dari harga sewa masa depan.

b. Rare (Langka)

Untuk menjadi bernilai, sumber daya harus langka dalam pasar yang
bersaing sempurna dan harga sumber daya akan menjadi cerminan
pendapatan masa depan (Barney, 1986a; Dierickx dan Cool, 1989).

c. Di-Imitable (Tidak dapat diduplikasi)

Sumber daya menjadi berharga jika dikendalikan oleh hanya satu


perusahaan dan dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif.
Keuntungan ini bisa berkelanjutan jika pesaing tidak mampu
menduplikasi aset strategis ini (Peteraf 1993; Barney, 1986b).

Mekanisme mengisolasi diperkenalkan oleh Rumelt (1984) yang


menjelaskan hubungan antara kemampuan dalam menduplikasi/meniru
sumber daya terhadap tingkat kemampuan bersaing dalam memperoleh
sumber daya yang berharga (Peteraf 1993, p182-183; Mahoney dan
Pandian, 1992).

d. Non-substituable (tidak ada batang substitusi)

Sumber daya yang langka berpotensi menciptakan nilai dan tidak dapat
ditiru. Aspek lain yang sama pentingnya adalah kurangnya barang
substitusi (Dierickx dan Cool, 1989). Jika pesaing mampu melawan nilai
perusahaan dengan menciptakan barang substitusi, maka harga
sumberdaya menjadi rendah dan mengakibatkan keuntungan nol.

Merawat dan melindungi sumber daya yang memiliki karakteristik di


atas, dapat meningkatkan kinerja organisasi (Crook et al., 2008).

Tahapan pengembangan berdasarkan resource driven dalam proses


pembangunan strategis menurut Porter dimulai dengan melihat posisi relatif
suatu perusahaan dalam industri tertentu. Yaitu dengan mempertimbangkan
lingkungan perusahaan dan kemudian mencoba untuk menilai strategi apa
yang dapat memaksimalkan kinerja perusahaan.

Strategi pengembangan berbasis sumber daya, merupakan proses


perumusan strategi "luar-dalam". Yaitu dengan melihat sumber daya apa
memiliki perusahaan. Selanjutnya, menilai potensi nilai dan berakhir dengan
mendefinisikan strategi yang akan memungkinkan memperoleh nilai
maksimum secara berkelanjutan. Proses ini dirangkum dalam Gambar 1.2.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-6
Laporan Akhir

Sumber : Grant, Tahun 1991.

Gambar 1.2
Kerangka Praktis Analisis Strategi Dengan Pendekatan Sumber Daya

2. Market Driven

Market driven strategy memberi prioritas kepada persyaratan pasar


atau konsumen dibandingkan dengan keterbatasan teknologi yang dimiliki
oleh perusahaan. Dengan market driven strategy, manajemen selalu dipaksa
untuk menghilangkan hambatan teknologi untuk memenuhi kebutuhan
pasar. Sejak selesainya perang dunia II, produsen jepang memilih market-
driven strategy pada industri mobil dan consumer electronic dalam
memasuki persaingan pasar dunia. Sementara perusahaan Amerika sebagai
Negara pemenang memasuki dan menguasai pasar dunia tanpa hambatan
yang berarti dengan teknologi yang mereka milki.

Menurut Cravens (2006) pengertian dari market driven strategy adalah


pasar dan konsumen yang membentuk pasar haruslah menjadi titik awal bagi
pembentukan strategi bisnis. Kunci untuk menjadi market-oriented adalah
memperoleh sebuah pengertian tentang pasar dan bagaimana pasar
tersebut akan berubah dimasa depan. Pengetahuan ini mendukung setiap
perusahaan untuk menyusun market driven strategy. Mengembangkan
penglihatan mengenai pasar membutuhkan perolehan informasi mengenai
konsumen, pesaing, dan pasar.

Melihat informasi dari perpektif bisnis secara total; menentukan fungsi


bisnis bagaimana menciptakan nilai konsumen yang lebih baik; dan
mengambil tindakan untuk menyediakan value kepada konsumen.

Ada beberapa karakteristik dari market-oriented, diantaranya adalah:

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-7
Laporan Akhir

1. Fokus kepada konsumen (Customer Focus)


Konsep dari customer focus dimulai dari mengetahui kebutuhan
konsumen, menentukan kebutuhan mana yang harus dipenuhi, dan
melibatkan seluruh anggota organisasi dalam memenuhi kebutuhan
konsumen.

2. Mata-mata pesaing (Competitor Intelligence)


Perusahaan yang berorientasi pada pasar harus mengetahui kondisi dan
situasi perusahaan pesaingnya sama seperti mengenal konsumen.

3. Koordinasi lintas fungsi (Cross-Functional Coordination)


Perusahaan yang market-oriented harus bertindak secara efektif dalam
menjalankan semua fungsi bisnis untuk dapat saling bekerja bersama
untuk menyediakan customer value yang lebih baik.

4. Pengaruh kinerja (Performance Implications)


Perusahaan yang berorientasi pada pasar memulai harus menyusun
strateginya dengan informasi akurat terhadap pasar dan kompetisinya
untuk menampilkan kinerja perusahaan yang baik.

Pengembangan Sentra IKM tetap memperhatikan permintaan atau pasar.


Walaupun orientasi sumberdaya menjadi hal yang paling penting, namun harus
diperhatikan produk yang akan dihasilkan memiliki pasar.

1.5.2. Metodologi

1.5.2.1. Kerangka Pemikiran

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra IKM di Kabupaten Manokwari


sebagai upaya mendorong daya saing IKM agar lebih maju dan berkembang.
Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran kajian Penyusunan Pola Pengembangan
Sentra IKM di Kabupaten Manokwari dapat dilihat pada Gambar 1.3.

1.5.2.2. Metode Pelaksanaan Pekerjaan

Metode pelaksanaan pekerjaan kegiatan Penyusunan Pola


Pengembangan Sentra IKM di Kabupaten Manokwari berdasarkan kerangka kerja
pelaksanaan kegiatan yang telah dirumuskan meliputi:
1. Metode desk study dengan pengumpulan data/informasi sekunder termasuk
studi literatur/referensi terhadap studi-studi terkait dan juga produk-produk
pengaturan terkait;
2. Metode kunjungan institusional dan wawancara dengan pemangku
kepentingan terkait, metode ini dilakukan menggunakan tools berupa form
wawancara berupa kuesioner serta pengumpulan data berupa dokumen
yang terkait dengan agenda kebijakan pengembangan Sentra IKM;

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-8
Laporan Akhir

Kerangka Pemikiran Penyusunan Pola Pengembangan Sentra IKM


Gambar 1.3

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-9
Laporan Akhir

3. Metode pertemuan dalam rangka rapat/koordinasi dengan pemangku


kepentingan terkait disertai kunjungan lapangan untuk mengumpulkan data
primer Kabupaten Manokwari;
4. Metode diskusi atau pembahasan dengan pihak terkait di lingkungan
Direktorat Pengembangan Kawasan Permukiman; dan
5. Metode pengolahan data (data processing) dan analisis;
6. Metode pelaporan kepada pemberi kerja untuk setiap tahapan pelaksanaan
pekerjaan dan setiap proses pemantauan yang dilaksanakan.

Sesuai dengan kerangka pemikiran yang telah dirumuskan, berdasarkan


lingkup kegiatan Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil dan
Menengah di Kabupaten Manokwari, maka disusun materi kajian pelaksanaan
pekerjaan seperti pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2
Materi Kajian Pelaksanaan Penyusunan Pola Pengembangan Sentra IKM

No. Materi Kajian Masukan Proses Keluaran

1. Identifikasi dan a. Kondisi fisik dasar Pemilihan lokasi dengan Penetapan


Penentuan Topografi; kriteria-kriteria lokasi lokasi
Lokasi Penggunaan Sentra IKM: pembangunan
Lahan; a. Lokasi berada pada Sentra IKM
Hidrologi; peruntukan industri Baru.
Iklim. sesuai dengan
b. Kondisi prasarana RTRW/RDTR
pendukung Perkotaan;
kawasan b. Komitmen
Jaringan Air Pemerintah Daerah
Bersih dan (program, anggaran
Sumber Air; & MOU);
Jaringan c. Memiliki paling
Transportasi; sedikit 5 (lima) IKM
Jaringan Energi. dalam satu lokasi;
c. Kondisi IKM; d. Ketersediaan lahan
d. Kondisi sosial, minimal 0,5 - 2 Ha;
budaya dan e. Dekat dengan
perekonomian sumber bahan baku;
masyarakat; f. Dekat dengan
e. Kondisi Tenaga permukiman/tena-
kerja; ga kerja IKM;
f. RTRW/RDTR; g. IKM eksisting telah
g. RIPIDA/KIID/RPPID memiliki pasar;
h. Memiliki keterkaitan
dengan industri
besar;
i. Tersedianya sumber
listrik dan sumber
energi lainnya
j. Aksesibilitas yang
baik (transportasi);

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-10
Laporan Akhir

No. Materi Kajian Masukan Proses Keluaran


k. Bebas dari bencana
alam.

2. Analisis Lokasi a. Penetapan lokasi Analisis deskriptif Lahan yang siap


dan Kesiapan pembangunan tentang lahan dalam dikembangkan
Lahan Sentra IKM (hasil kesiapan untuk untuk
kajian no. 1); pembangunan Sentra pembangunan
b. Kesiapan lahan dari IKM. Sentra IKM.
segi pembebasan
lahan dan perizinan.

3. Identifikasi dan a. Sebaran IKM; Pemilihan jenis industri Jenis industri


analisis b. Pasokan Bahan terhadap jenis industri yang akan
komoditi (jenis Baku (rantai pasok); prioritas yang akan dikembangkan
industri KM) c. Rantai Nilai (nilai dikembangkan pada dalam Sentra
yang tambah) Sentra IKM yaitu jenis IKM.
dikembangkan d. Potensi IKM yang sesuai arahan
di dalam Sentra pengembangan dengan KIID Kabupaten,
IKM SIKM; dengan kriteria sebagai
e. RIPIDA Kabupaten; berikut
f. Jenis IKM eksisting a. Analisis sebaran IKM,
yang telah analisis pasokan
berkembang; bahan baku (rantai
pasok), dan analisis
g. Jenis IKM yang
rantai nilai (nilai
berpotensi
tambah)
mencemari
lingkungan; b. Nilai Tambah
h. Jenis IKM dan Ekonomis/Pening-
keterkaitan dengan katan Pendapatan
industri pendukung Daerah;
dan industri besar; c. Nilai Tambah
i. Nilai tambah IKM Sosial/Penyerapan
eksisting; TK dan peningkatan
j. Potensi pasar IKM kesejahteraan;
eksisting. d. Ketersediaan dan
Kontinuitas Bahan
Baku/Dukungan
SDA;
e. Aspek
pemasaran/akses
dan volume pasar;
f. Dukungan Kebijakan
dan Kelembagaan
Pemerintah;
g. Dukungan Sumber
Daya Manusia;
h. Prestise Daerah;
i. Kesiapan dan
Kesediaan
Masyarakat;

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-11
Laporan Akhir

No. Materi Kajian Masukan Proses Keluaran

j. Kesiapan dan
Kesediaan
Pemerintah
k. Kesiapan dan
Kesediaan Pelaku
Usaha.

4. Analisis Jenis Kelembagaan IKM Pemilihan kelembagaan Kelembagaan


Kelembagaan eksisting seperti berdasarkan: Pengelola
dalam rangka koperasi, BUMD, dan a. Status Badan Hukum Sentra IKM.
operasionalisasi UPT. b. Pertanggungan
Sentra IKM, jawab investasi
rencana pemerintah
strategis dan c. Profit
rencana aksi; d. Manajemen
Pengelolaan
e. Kepemilikan/interest
pribadi
b. Kemampuan
mendapatkan modal

5. Penyusunan a. Kondisi fisik dasar Penyusunan site plan 1. Site Plan


Site Plan Topografi; sebagai Sentra IKM Sentra IKM;
Penggunaan berdasarkan: dan
Lahan; a. Standar luasan jenis 2. Kebutuhan
Hidrologi; IKM (kavling industri) Prasarana
Iklim. yang akan dan Sarana
b. Kondisi prasarana dikembangkan; pendukung
pendukung b. Standar alokasi Sentra IKM.
kawasan peruntukan lahan
Sumber Air; kawasan industri
Jaringan kecil:
Transportasi; Publik Area :
Jaringan Energi. 20 %;
c. Kondisi IKM; Kavling Industri +
d. Kondisi sosial, Sirkulasi :
budaya dan 60 %;
perekonomian Service + Sirkulasi
masyarakat; : 10 %;
e. Kondisi Tenaga Ruang Terbuka
kerja; Hijau : 10 %;
f. RTRW/RDTR; c. Kesesuai dengan
g. RIPIDA/KIID/RPPID aturan yang termuat
h. Jenis industri yang dalam RTRW/RDTR/
akan dikembangkan RTBL serta aturan
dalam sentra IKM penetapan yang
(hasil kajian no. 4); terdiri atas:
Penetapan
i. Kelembagaan
Koefisien Dasar
Pengelola Sentra
IKM (hasil kajian no. Bangunan (KDB);
Penetapan
5).
Koefisien Lantai
Bangunan (KLB);

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-12
Laporan Akhir

No. Materi Kajian Masukan Proses Keluaran


Koefisien Dasar
Hijau (KDH);
Penetapan Garis
Sempa-dan
Bangunan (GSB).
d. Prasarana dan
Sarana pendukung
Sentra IKM, terdiri
dari:
Jaringan jalan
lingkungan dalam
kawasan sentra
industri;
Fasilitas parkir
kendaraan
kawasan;
Fasilitas
pergudangan
bersama;
Jaringan drainase
kawasan;
Jaringan air
bersih kawasan;
Instalasi
Pengolahan Air
Limbah (IPAL);
Jaringan listrik;
Jaringan
telekomunikasi;
Unit
Perkantoran;
Fasilitas
pemadam
kebakaran;
Fasilitas
komersial, sosial
dan umum; dan
Lansekap
(Pertamanan).

6. Analisis a. Jenis industri yang Analisis kebutuhan Kebutuhan


Kebutuhan akan dikembangkan infrastruktur di dalam infrastruktur di
Infrastruktur di dalam Sentra IKM Sentra IKM berdasarkan dalam Sentra
dalam dan dan (hasil kajian No. 4); jenis industri yang akan IKM dan
di luar Sentra b. Kelembagaan Pe- dikembangkan di dalam dukungan
IKM ngelola Sentra IKM Sentra IKM, infrastruktur infrastruktur di
(hasil kajian no. 5). yang direncanakan luar Sentra
c. Site Plan Sentra IKM dalam site plan, serta IKM.
(hasil kajian No. 6). kondisi infrastruktur di
d. Kondisi keterse- luar kawasan.
diaan infrastruktur
di luar Sentra IKM.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-13
Laporan Akhir

No. Materi Kajian Masukan Proses Keluaran

7. Analisis a. Kebutuhan Rekapitulasi biaya Biaya investasi


kebutuhan infrastruktur di pembangunan dan biaya pembangunan
investasi Sentra dalam Sentra IKM operasional Sentra IKM. Sentra IKM.
IKM dan dukungan
infrastruktur diluar
Sentra IKM (hasil
kajian No. 7).
b. Harga lahan;
c. Biaya pematangan
lahan;
d. Biaya pembangunan
unit jenis industri,
prasarana dan
sarana pendukung
kegiatan industri;
e. Biaya perizinan
pembangunan
Sentra IKM.

8. Analisis Pasar a. Jenis komoditi hasil Analisis pasar komoditi Pasar potensial
Sentra IKM dan hasil Sentra IKM. komoditi hasil
Jumlah Sentra IKM.
Produksinya;
b. Kondisi pasar
komoditi hasil
Sentra IKM.

9. Analisis a. Jenis industri yang Analisis Pengembangan Teknologi


Pengembangan akan dikembangkan Teknologi Produksi IKM produksi IKM
Teknologi IKM dalam Sentra IKM pada Sentra IKM. pada Sentra
(hasil kajian No. 4); IKM
b. Kelembagaan
pengelola Sentra
IKM (hasil kajian no.
5).
c. Site Plan Sentra IKM
(hasil kajian No. 6).
d. Peralatan produksi;
e. Pengembangan
UPT.

10. Analisis a. Biaya investasi a. Kelayakan ekonomi Kelayakan


kelayakan pembangunan pembangunan ekonomi, sosial
ekonomi Sentra IKM (hasil Sentra IKM (IRR, B/C, budaya dan
(financial), kajian no. 8); Payback Period, dan lingkungan
sosial budaya b. Pasar potensial hasil NPV); pembangunan
dan lingkungan Sentra IKM (hasil b. Kelayakan dampak Sentra IKM.
kajian no. 9). sosial budaya dan
c. Biaya operasional; lingkungan dalam
d. Proyeksi pembangunan
pendapatan/ Sentra IKM;
penjualan;

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-14
Laporan Akhir

No. Materi Kajian Masukan Proses Keluaran

e. Sumber
permodalan;
f. Aspek sosial budaya
masyarakat lokal;
g. Aspek lingkungan.

11. Penyusunan a. Site Plan Sentra IKM Proses penyusunan Pola Dokumen Pola
Pola (hasil kajian no. 6); Pengembangan Sentra Pengembangan
Pengembangan b. Kelembagaan IKM di Kabupaten Sentra IKM di
Sentra IKM Pengelola Sentra IKM Manokwari. Kabupaten
(hasil kajian no. 5); Manokwari:
c. Biaya investasi 1. Siteplan
pembangunan Pembangun
Sentra IKM (hasil an Sentra
kajian no. 8); IKM;
d. Kelayakan ekonomi, 2. Model Ke-
sosial budaya dan lembagaan,
lingkungan 3. Rencana
pembangunan Strategis
Sentra IKM (hasil dan Ren-
kajian no. 10). cana Aksi
pengemba-
ngan Sentra
IKM.

Sumber : Hasil Kajian Tim Konsultan Pada Pola Pengembangan Sentra IKM 2016.

Berdasarkan materi kajian disusun tahapan pelaksanaan kegiatan ini


dengan tahapan sebagai berikut.

1. Tahap Persiapan Pekerjaan


Tahap persiapan merupakan langkah awal pelaksanaan pekerjaan dalam
rangka untuk:
a. Mobilisasi personil dan peralatan kerja;
b. Koordinasi dan konsultasi dengan tim teknis;
c. Mengumpulkan dan mempelajari literatur, termasuk peraturan dan
kebijakan yang berlaku terkait dengan pengembangan Sentra IKM;
d. Menyusun research design dan survey design;
e. Rapat koordinasi awal kegiatan (kick off meeting).
2. Tahap Survei dan Pengumpulan Data
Berdasarkan metode pelaksanaan pekerjaan yang telah diuraikan diatas
maka teknik pengumpulan data pada pelaksanaan kegiatan ini adalah
sebagai berikut:

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-15
Laporan Akhir

a. Survei instansional
Survei instansional yaitu pengumpulan data yang dilakukan melalui
survey sekunder pada instansi-instansi terkait, seperti Bappeda, Dinas
Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi, BKPMD, Dinas Pertanian,
Perkebunan dan Peternakan, Dinas Perikanan Kelautan Kabupaten,
Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, Dinas
Pendidikan dan Olah Raga, dan BPS yang ada, baik tingkat Provinsi dan
Kabupaten serta juga dilakukan pengambilan data pada pelaku Usaha
IKM dan Sentra IKM yang ada.

Tujuan penggunaan metode pengumpulan data ini adalah untuk


mendapatkan data-data yang telah dikeluarkan oleh instansi-instansi
yang terkait dengan ruang lingkup wilayah kajian.

Pada survei instansional dilakukan pengumpulan data sekunder dari


berbagai informasi terkait dengan kebijakan terkait pengembangan
Sentra IKM dan standar-standar kebutuhan prasarana dan sarana
penunjang Sentra IKM.

b. Survei Lapangan
Survei lapangan adalah pengamatan keadaan lapangan secara visual.
Adapun tujuan dari survei lapangan ini adalah untuk mengamati kondisi
yang terdapat di lapangan, dan mendapatkan gambaran permasalahan
yang sebenarnya terdapat di lapangan. Dalam kegiatan pengamatan di
lapangan ini, metode yang digunakan adalah pengamatan terkendali
(controlled obersevation), yaitu metode pengamatan dimana posisi
pengamat hanya terbatas pada pengamatan dari kondisi yang ada,
tetapi tidak secara langsung terlibat didalam kegiatan-kegiatan yang
diamatinya.

Survei lapangan ini ditempuh dengan pertimbangan sebagai berikut :


Membantu pemahaman akan konteks lokasi kajian;
Melalui pengalaman yang diperoleh langsung, akan meminimalkan
terjadinya bias;
Merupakan peluang cukup besar untuk mendapatkan informasi dan
masukkan penting melalui pengamatan perilaku para pelaku
kegiatan, sehingga hasil data cukup objektif; dan
Peluang mendapatkan informasi secara langsung, benar dan akurat
yang tidak dapat diperoleh melalui teknik survei lainnya.

c. Wawancara
Wawancara digunakan untuk mengetahui, menyusun dan
menformulasikan kriteria yang dijadikan pertimbangan dasar oleh
pemerintah dalam pengembangan sentra IKM. Adapun objek penelitian
dalam melakukan wawancara adalah pelaku IKM dan pejabat yang
berhubungan langsung dengan pengembangan IKM.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-16
Laporan Akhir

d. Peralatan Survei Lapangan


Peralatan survei lapangan adalah perangkat yang digunakan dalam
melaksanakan penelitian baik yang digunakan di lapangan maupun yang
digunakan pada waktu pengolahan hasilnya. Adapun alat bantu yang
diperkirakan dapat membantu dalam penelitian ini adalah :
a. Checklist data, yaitu daftar data-data yang perlu yang dapat
membantu dalam penelitian. Dalam checklist data ini sekaligus
dilangkapi dengan perkiraan tempat/sumber dari data itu dapat
diperoleh;
b. Questioner, yaitu daftar pertanyaan bagi pelaku IKM dan pejabat
yang terkait dalam pengembangan Sentra IKM;
c. Peta dasar, yaitu digunakan untuk melakukan alat bantu dalam
mengadakan observasi lapangan ataupun sebagai alat analisa
setelah kembali dari lapangan.

e. Metode Pelaksanaan Survei


Pelaksanaan survey dilakukan dalam rangka mengumpulkan data baik
primer maupun sekunder untuk selanjutnya dilakukan kompilasi data
dan analisis. Metode survei primer dilakukan melalui koordinasi dengan
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi, SKPD Pemerintah
Daerah Kabupaten yang terkait pengembangan IKM, Pelaku IKM,
masyarakat serta stakeholder terkait lainnya pengembangan IKM
melalui pengamatan lapangan dan wawancara. Sementara itu, metode
survei sekunder dilakukan melalui telaah baik itu peraturan dan
kebijakan maupun data-data terkait pengembangan Sentra IKM.

f. Kebutuhan Data
Data yang dibutuhkan didapatkan dari survei baik primer maupun
sekunder ke beberapa instansi pemerintah daerah berupa softcopy
maupun hardcopy. Kebutuhan data dari setiap instansi dapat dilihat
pada Tabel 1.3.

Tabel 1.3
Metode Pengumpulan Data
No. Instansi Data yang dibutuhkan Output Metode Survei

1. Dinas Sentra IKM eksisting; Kondisi IKM 1. Survei primer


Perindustrian, Data IKM (nama, ID, eksisting Program (wawancara
Perdagangan, dan jumlah, perkembang- pengembangan instansi)
Koperasi Provinsi an jenis IKM, SDM, IKM dan Sentra 2. Survei
dan Kabupaten investasi, produksi, IKM. sekunder
pasar, bahan baku, (telaah data
akses permodalan); eksisting dan
IKM Unggulan dokumen
kabupaten; perencanaan)
Proposal pendirian .

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-17
Laporan Akhir

No. Instansi Data yang dibutuhkan Output Metode Survei


Sentra IKM.

2. Bappeda Provinsi RTRW Provinsi/ Rencana 1. Survei primer


dan Kabupaten Kabupaten, RDTR, pengembangan (wawancara
RTR KSP, Dokumen Sentra IKM pada instansi)
Perencanaan lainnya; wilayah kajian. 2. Survei
RPJPD dan RPJMD; sekunder
Kondisi Daerah (telaah data
Kajian; eksisting dan
dokumen
Renstra Kabupaten
Kajian; perencanaan)
.
Sektor Unggulan
Kabupaten Kajian;
Rencana
pengembangan
industri Kabupaten
Kajian.

3. BKPMD Kabupaten Produk unggulan Program 1. Survei primer


daerah ; pengembangan (wawancara
Perkembangan produk unggulan. instansi)
rencana dan realisasi 2. Survei
investasi terkait IKM. sekunder
(data produk
unggulan
daerah serta
rencana dan
realisasi
investasi
IKM).

4. BPS Provinsi dan Kabupaten Dalam Profil wilayah Survei sekunder


Kabupaten Angka (Terbaru); Kabupaten terkait (telaah data
Kecamatan Dalam pengembangan statistik)
Angka (Lima Tahun); Sentra IKM.
Potensi Desa
(Terbaru);
Perkembangan jenis
komoditi.

5. Dispertabunnak Luas lahan produksi; Jenis komoditi 1. Survei primer


Kabupaten Jumlah Produksi; hasil pertanian, (wawancara
Pasar Hasil produksi; perkebunan, dan instansi)
SDM sektor pertani- peternakan po- 2. Survei
an, perkebunan, dan tensial sebagai sekunder
peternakan. bahan baku IKM. (telaah data
eksisting).
6. Dinas Kelautan Produksi Perikanan Jenis komoditi 1. Survei primer
dan Perikanan Budidaya dan hasil pertanian, (wawancara
Kabupaten Perikanan Tangkap; perkebunan, dan instansi)
Area perikanan peternakan 2. Survei
tangkap dan sebaran potensial sebagai sekunder

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-18
Laporan Akhir

No. Instansi Data yang dibutuhkan Output Metode Survei


perikanan budidaya; bahan baku IKM. (telaah data
eksisting).
SDM sektor
perikanan dan
kelautan;
Pasar hasil tangkap
an dan budidaya.

7. Dinas PU Kondisi Jalan Kondisi Survei sekunder


Kabupaten dan nasional, provinsi, infrastruktur jalan, (telaah data
PDAM kabupaten dan desa jaringan drainase, eksisting dan
Rencana perluasan jaringan air bersih, data
akses jalan; jaringan air perencanaan)
Data ketentuan KDB limbah sebagai
KLB, RTH, GSB dll. pendukung Sentra
Ketentuan dan IKM, serta
Prosedur ketentuan dan
pembangunan prosedur
gedung baru; pembangunan
Kondisi drainase; gedung.
Kondisi air bersih;
Kondisi jaringan air
limbah;
Data fisik kabupaten
(topografi, geologi,
geografi, morfologi,
dan iklim).

8. Disnakertrans Kondisi Dukungan SDM Survei sekunder


Kabupaten Ketenagakerjaan pendukung Sentra (telaah data
kabupaten; IKM. eksisting).
Kondisi BLK binaan
kabupaten

9. Dishubkominfo Kondisi prasarana lalu Dukungan sarana Survei sekunder


Kabupaten lintas darat dan laut transportasi dan (telaah data
kabupaten; sarana komunikasi eksisting dan
Kondisi angkutan bagi Sentra IKM. data
darat, sungai, laut perencanaan).
dan udara kabupaten;
Jaringan
telekomunikasi dan
data di kabupaten.

10. PLN Kondisi jaringan listrik Dukungan Survey sekunder


Kapasitas terpasang prasarana (telaah data
daya listrik. kelistrikan bagi eksisting).
Sentra IKM.

11. Disdikpora Kondisi pendidikan tinggi Dukungan sarana Survei sekunder


Kabupaten dan menengah di pendidikan dan (telaah data
kabupaten pelatihan bagi eksisting).
Sentra IKM.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-19
Laporan Akhir

No. Instansi Data yang dibutuhkan Output Metode Survei

12. Kantor Kecamatan Kecamatan Dalam Profil wilayah Survei sekunder


dan Desa Angka (Lima Tahun); Kecamatan dan (telaah data
Potensi Desa Desa terkait statistik)
(Terbaru); pengembangan
Perkembangan jenis Sentra IKM.
komoditi.

13. Survei IKM Pemilihan Pelaku Karekteristik jenis 1. Survei primer


eksisting dan Usaha; IKM eksisting yang (wawancara)
pelaku usaha IKM Data dan informasi sudah 2. Survei
pelaku IKM; berkembang. sekunder
Data Informasi (telaah data
Kegiatan usaha IKM; eksisting).
Data pemasaran
produk utama;
Data Suplier utama
dari produk utama;
Data pesaing utama
dan kelebihan
pesaing produk
utama;
Kebutuhan
pembiayaan;

14. IKM Unggulan Pelaku Usaha; IKM Unggulan 1. FGD 1


Terpilih (Dilakukan Pasar IKM dan pasar Terpilih. 2. Survei primer
pada FGD 1) sentra (wawancara)
Bahan Baku untuk 3. Survei
IKM di dalam lokasi sekunder
sentra terpilih (telaah data
SDM IKM eksisting).
Teknologi Proses
yang dapat
dipergunakan
Kelembagaan Sentra
IKM yang paling
diinginkan oleh IKM
terpilih.

Sumber : Hasil Kajian Tim Konsultan Pada Pola Pengembangan Sentra IKM 2016.

3. Tahap Penyusunan Laporan Pendahuluan

Penyusunan laporan pendahuluan merupakan pengolahan hasil lapangan


dalam rangka kompilasi data (primer/sekunder), merumuskan isu-isu
strategis pengembangan IKM di lokasi kegiatan, jenis IKM unggulan,
pemilihan lokasi Sentra IKM, menyusun metodologi pekerjaan dan rencana
pelaksanaan pekerjaan.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-20
Laporan Akhir

Pada tahap ini dilakukan penyusunan laporan pendahuluan yang berisi:


1) Pendahuluan;
2) Tinjauan kebijakan pengembangan Sentra IKM;
3) Gambaran umum lokasi kajian;
4) Pendekatan dan metodologi; dan
5) Program kerja.

4. Tahap Pembahasan Laporan Pendahuluan

Hasil penyusunan laporan pendahuluan kemudian dilakukan pembahasan


laporan pendahuluan untuk menjadi pedoman kegiatan tahap selanjutnya.

5. Tahap Pengolahan Data dan Analisis Data

Pengolahan dan analisis data yang digunakan dalam pekerjaan Penyusunan


Pola Pengembangan Sentra IKM ini adalah menggabungkan metode
kualitatif dan kuantitatif agar dapat melakukan analisis secara komprehensif
dari masalah kajian yang ada. Metode dan teknik analisis yang akan
digunakan dijelaskan pada sub bab 1.5.2.3.

1) Metode Kualitatif
Metode kualitatif dimana peneliti dituntut untuk berada di lokasi
wilayah studi untuk melihat fenomena sosial yang ada secara holistik
sehingga dapat menginterpretasikan data yang ada. Pada penelitian ini,
metode kualitatif dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif.

Analisis deskriptif berfungsi untuk memberikan penjelasan tentang


keadaan yang ada di wilayah studi. Analisis diskriptif dalam kajian ini
digunakan pada tahap identifikasi dan analisis karakteristik masyarakat,
pengusaha industri IKM serta peran stakeholder.

2) Metode Kuantitatif
Metode kuantitatif merupakan metode yang menggunakan data yang
terukur dan dianalisis dengan cara statistik deskriptif. Alat analisis yang
digunakan dalam studi ini adalah distribusi frekuensi dan pembobotan.
Distribusi frekuensi digunakan untuk menganalisis kecenderungan dari
suatu data. Alat analisis ini digunakan dalam mengidentifikasi dan
menganalisis karakteristik IKM berdasarkan sebaran data secara
statistik. Alat analisis pembobotan digunakan dalam menganalisis
penentuan lokasi Sentra IKM, pemilihan lembaga pengelola, dan jenis
IKM yang diprioritaskan.

6. Tahap Focus Group Discussion 1 (FGD-1)

Pada tahap FGD-1 ini dilakukan pada lokasi kegiatan yaitu Kabupaten
Manokwari dengan harapan didapat kesepakatan industri yang akan
dikembangkan pada lokasi Sentra IKM.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-21
Laporan Akhir

7. Tahap Analisis Data

Dari hasil kesepakatan pada FGD-1, kemudian dilakukan analisa data yang
meliputi:

1) Analisis pengembangan Sentra IKM


a. Analisis potensi pengembangan Sentra IKM;
b. Identifikasi dan penentuan lokasi;
c. Analisis lokasi dan kesiapan lahan;
d. Analisis jenis Industri Kecil dan Menengah yang akan dikembangkan
di dalam Sentra IKM;
e. Analisis pengembangan teknologi IKM;
f. Analisis pasar;
g. Analisis kebutuhan infrastruktur di dalam dan di luar Sentra IKM;
h. Penyusunan site plan; dan
i. Analisis kebutuhan investasi.
2) Analisis kelembagaan Sentra IKM; dan
3) Analisis kelayakan Sentra IKM.

8. Tahap Penyusunan Laporan Antara


Setelah dilakukan FGD 1 dan hasil analisis data kemudian dilakukan
penyusunan laporan antara yang berisi:
1) Pendahuluan;
2) Tinjauan kebijakan pengembangan Sentra IKIM;
3) Gambaran umum lokasi kajian;
4) Analisis pengembangan Sentra IKM
5) Analisis kelembagaan Sentra IKM;
6) Analisis kelayakan Sentra IKM; dan
7) Kesimpulan dan rekomendasi.

9. Tahap Pembahasan Laporan Antara


Pada tahap ini dilakukan pembahasan hasil analisis untuk masukan dalam
penyusunan masterplan Sentra IKM.

10. Tahap Focus Group Discussion 2 (FGD-2)


Pada tahap FGD-2 ini dilakukan pada lokasi kegiatan yaitu Kabupaten
Manokwari dengan harapan di dapat kesepakatan hasil analisis dan konsep
pengembangan Sentra IKM.

11. Tahap Forum Pembahasan Konsep Laporan Akhir


Hasil penyusunan draft laporan akhir sementara dilakukan pembahasan oleh
tim teknis dan stakeholder terkait di pusat. Isi konsep laporan akhir ini
meliputi :

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-22
Laporan Akhir

1) Pendahuluan;
2) Tinjauan kebijakan pengembangan Sentra IKM;
3) Gambaran umum lokasi kegiatan;
4) Analisis pengembangan Sentra IKM
5) Analisis kelembagaan Sentra IKM;
6) Analisis kelayakan Sentra IKM;
7) Rencana strategis pembangunan Sentra IKM;
8) Siteplan Sentra IKM; dan
9) Kesimpulan dan rekomendasi.

12. Tahap Penyusunan Laporan Akhir


Hasil perbaikan draft laporan akhir, kemudian dilakukan penyempurnaan
untuk dijadikan laporan akhir.

1.5.2.3. Metode Analisis


Untuk mencapai tujuan yang telah dijelaskan sebelumnya, maka metode
analisis yang digunakan untuk penyusunan pola pengembangan Sentra IKM
adalah:

A. Analisis Lokasi Sentra IKM

1. Metode Deskriptif Kualitatif


Tujuan dari metode deskriptif kualitatif adalah mengungkap fakta,
keadaan, fenomena, variabel dan keadaan yang terjadi. Penelitian
deskriptif kualitatif menafsirkan dan menuturkan data situasi yang sedang
terjadi, sikap serta pandangan yang terjadi. Pada analisis lokasi sentra
IKM. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis arahan
lokasi Sentra IKM berdasarkan RTRW.

2. Metode Statistik Deskriptif


Statistika deskriptif adalah metode-metode yang berkaitan dengan
pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan
informasi yang berguna. Dengan statistika deskriptif, kumpulan data yang
diperoleh akan tersaji dengan ringkas dan rapi serta dapat memberikan
informasi inti dari kumpulan data yang ada. Informasi yang dapat
diperoleh dari statistika deskriptif ini antara lain ukuran pemusatan data,
ukuran penyebaran data, serta kecenderungan suatu gugus data.
Metode statistik diskriptif digunakan untuk mengetahui sebaran IKM
berdasarkan kecamatan/distrik. Dukungan SDA juga dianalisis secara
statistik diskriptif sehingga dapat diketahui lokasi Sentra IKM yang paling
sesuai.

3. Focus Group Discussion (FGD)


Focus Group Discussion (FGD) adalah diskusi terfokus dari suatu group
untuk membahas suatu masalah tertentu secara lebih mendalam. FGD

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-23
Laporan Akhir

merupakan bentuk penelitian kualitatif dimana sekelompok orang yang


bertanya tentang sikap mereka terhadap produk, layanan, konsep atau
ide. Pada analisis lokasi sentra, dalam FGD dilakukan untuk mendapatkan
kesepakatan komitmen pemerintah terhadap lokasi Sentra IKM yang
terpilih.

B. Analisis Komoditi Sentra IKM

1. Metode deskriptif kualitatif


Pada analisis komoditi Sentra IKM, metode deskriptif kualitatif digunakan
untuk mereview Rencana Induk Pengembangan Industri Kabupaten (RPIK)
dan Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID), sehingga dapat diketahui
komoditi unggulan kabupaten yang telah dituangkan dalam RPIK dan KIID.

2. Focus Group Discussion (FGD)


FGD juga dilakukan dalam analisis komoditi Sentra IKM. FGD dimaksudkan
untuk mendapatkan kesepakatan komitmen stakeholder Sentra IKM
dalam penentuan dan pengembangan komoditi terpilih.

3. Analisis Rantai Pasok dan Rantai Nilai


Analisis rantai pasok dan rantai nilai digunakan untuk menentukan
industri-industri pendukung IKM unggulan apa saja yang dapat
dimasukkan ke dalam sentra IKM. Tahap pertama adalah mengidentifikasi
rantai pasok industri unggulan sehingga diketahui industri-industri
pendukungnya, kemudian tahap kedua akan dianalisis rantai nilainya.
Industri-industri pendukung yang memiliki rantai nilai yang terbaik yang
akan diprioritaskan masuk dalam sentra IKM. Pada Gambar 1.4 dapat
dilihat dimensi analisis rantai nilai (value chain analysis).

Gambar 1.4
Dimensi Analisis Rantai Nilai

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-24
Laporan Akhir

C. Analisis Kesiapan Lokasi Sentra IKM

Analisis kesiapan lokasi sentra IKM dilakukan dengan bantuan Geographical


Information System (GIS). GIS adalah kumpulan yang terorganisir dari
perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi, dan personil yang
dirancang secara efisien untuk memperoleh, menyimpan, meng-update,
memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan semua bentuk informasi
yang bergeoreferensi (ESRI).

Jenis data yang digunakan: a) Data spasial/geospasial: data hasil


pengukuran, pencatatan dan pencitraan terhadap suatu unsur keruangan
yang berada di bawah, atau di atas permukaan bumi dengan posisi
keberadaannya mengacu pada sistem koordinat bumi (bergeoreferensi). b)
Data nonspasial/atribut: mempresentasikan aspek-aspek deskriptif dari
fenomena yang dimodelkannya.

Pada analisis lokasi Sentra IKM, GIS digunakan untuk menganalisis fisik dan
infrastruktur dari lokasi Sentra IKM yang terpilih. GIS dapat membantu
analisis topografi, hidrologi lahan tapak dan kondisi penggunaan lahan
sentra, sehingga dapat dianalisis kesesuaian lahan Sentra IKM pada lokasi
terpilih.

1. Analisis Fisik Sentra IKM

Analisis fisik tapak (daya dukung lahan) dimaksudkan mengetahui


kesesuaian lahan untuk pengunaan lahan tertentu. Upaya menganalisis
daya dukung lahan digunakan metoda analisis kualitatif, yaitu
membandingkan antara keadaan di lapangan dengan standar atau kriteria
yang telah ditetapkan. Untuk lebih jelasnya kriteria kesesuaian lahan
untuk industri dapat dilihat pada Tabel 1.4.

Tabel 1.4
Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Industri
Kesesuaian
No. Kriteria
Sesuai Sesuai Bersyarat Tidak Sesuai
1. Ketersediaan air Hujan, sungai, Sumur 10-30 m Sumur >30 m
bersih atau sumur 10 m
2. Kualitas air tanah Tawar Payau Asin
3. Resiko banjir dan Tidak Ada Banjir Musiman Permanen
genangan
4. Kemiringan lahan <8% 8-15 % > 15 %
5. Drainase Lahan dengan Lahan dengan Daerah rawa
Permukaan pangaliran air pangaliran air dengan
sangat baik sedang, sedikit genangan
setelah turun terpengaruh banjir.
hujan fluktuasi air
tanah.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-25
Laporan Akhir

Kesesuaian
No. Kriteria
Sesuai Sesuai Bersyarat Tidak Sesuai
6. Penggunaan Lahan Lahan berupa Lahan pertanian Sawah
semak, lahan kering berupa irigasi,
kosong, dan lahan tegalan, permukiman,
tidak perkebunan dan situs
dimanfaatkan semacamnya. pubakala,
militer,
pendidikan
dan jasa.

Sumber : Maberry, Tahun 1972 dan dan diolah Tim Konsultan, Tahun 2016.

2. Analisis Infrastruktur Pendukung Sentra IKM

Analisis infrastruktur pendukung Sentra IKM berdasarkan pertimbangan


yaitu:

a. Analisis Pencapaian dan Aksessibilitas Ke Lokasi Sentra IKM


Analisis pencapaian dan aksesibilitas ke lokasi Sentra IKM ditinjau
berdasarkan prasarana jalan yang telah tersedia pada lokasi Sentra
IKM, kemudahan pencapaian dari para pekerja pada Sentra IKM,
sarana transportasi pendukung Sentra IKM dalam akses pemasaran
dan suplai bahan baku dari Sentra IKM yang terdiri dari terminal,
pelabuhan, dan bandara.

b. Analisis Ketersediaan Air Bersih dan Jaringan Listrik


Analisis ketersediaan air bersih dan jaringan listrik diperlukan untuk
mengetahui dukungan ketersediaan air bersih dan jaringan listrik
pada lokasi pengembangan Sentra IKM yang sudah disepakati.

D. Analisis Infrastruktur dan Sarana Prasarana Pendukung

1. Analisis Sarana di dalam Sentra

Metode analisis yang digunakan untuk menganalisis kebutuhan dan


tingkat pelayanan prasarana Sentra IKM, yaitu meliputi:
1) Kebutuhan Prasarana Sumber Air
2) Kebutuhan Prasarana Listrik
3) Kebutuhan Prasarana Irigasi
4) Kebutuhan Prasarana Telekomunikasi
5) Kebutuhan Prasarana Pengolahan Limbah

Dalam menganalisis kebutuhan dan tingkat pelayanan prasarana


menggunakan arahan Pedoman Standar Pelayanan Minimal Kepmen
Kimpraswil No. 534/kpts/2001.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-26
Laporan Akhir

Perhitungan Kebutuhan Air Bersih

Dalam perhitungan kebutuhan air bersih ini, perlu diperhitungkan


pula adanya fluktuasi air bersih.
Debit maksimum harian, merupakan pemakaian terbesar dalam
satu tahun. Besaran ini menjadi dasar pertimbangan dalam
penentuan kapasitas reservoir distribusi.

Qm = fm x Qr

Keterangan:
Qr = Jumlah Penduduk
Qm = Debit Maksimum Harian
Fm = Faktor Jam Puncak
Debit puncak harian, merupakan pemakaian terbesar dalam
jam satu hari, dimana pemakaian air melebihi pemakaian air
melebihi pemakaian per jam rata-rata. Harga ini menjadi dasar
dalam perencanaan system jaringan perpiaan distribusi.

Qm = fp x Qr

Keterangan:
Qr = Jumlah Penduduk
Qp = Debit Puncak Harian
Fp = Faktor Jam Puncak

Sumber : Pedoman Standar Pelayanan Minimal Kepmen Kimpraswil


No. 534/kpts/2001

Perhitungan jaringan listrik


Analisis jaringan listrik dapat diketahuai tingkat pelayanannya
dengan jumlah penduduk yang ada menggunakan rumus sebagai
berikut :

Jumlah Pelanggan x 4 jiwa


Tingkat Pelayanan Listrik = x 100 %
Jumlah Penduduk

Perhitungan Telekomunikasi
Analisis jaringan telekomunikasi dapat diketahui dengan jumlah
penduduk yang ada menggunakan rumus sebagai berikut:

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-27
Laporan Akhir

Jumlah Pelanggan x 4 jiwa


Tingkat Pelayanan Telepon = x 100 %
Jumlah Penduduk

Proyeksi Jumlah Penduduk Dan Kebutuhan Sarana

Untuk menghitung jumlah penduduk dan kebutuhan sarana dapat


digunakan rumus perhitungan yang ada dibawah ini :

Aritmatic Rate Of Growth

Pn = Po (1 + r.n)

Keterangan:
Pn = Jumlah Penduduk pada tahun n
Po = Jumlah penduduk pada tahun awal (dasar)
r = angka pertumbuhan penduduk
n = Periode waktu dalam tahun

Geometric Rate Of Growth

n
Pn = Po (1+r)

Keterangan :
Pn = Jumlah penduduk pada tahun n
Po = Jumlah penduduk pada tahun awal (dasar)
r = Angka pertumbuhan penduduk
n = Periode waktu dalam tahun

Sumber : Pedoman Standar Pelayanan Minimal Kepmen Kimpraswil


No. 534/kpts/2001.

2. Analisis Sarana di Luar Sentra


Analisis sarana di luar sentra meliputi akses jalan, pasokan listrik dan
pasokan air bersih dilakukan melalui metode statistik deskriptif.

3. Analisis Tenaga Kerja/SDM


Analisis tenaga kerja dilakukan berdasarkan perkembangan laju
pertumbuhan penduduk di kabupaten tersebut dan kebutuhan tenaga
kerja pada setiap IKM. Kebutuhan jumlah tenaga kerja dibagian produksi
dipengaruhi oleh kapasitas produksi, kebutuhan jumlah tenaga kerja
dibagian perkantoran dipengaruhi oleh struktur kelembagaan/
organisasi, sedangkan jumlah tenaga kerja bagian utilitas dipengaruhi
oleh fungsi.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-28
Laporan Akhir

4. Analisis Pasar
Analisis pasar terdiri dari analisis produk, segmen pasar, target pasar,
positioning dan proyeksi permintaan, rencana penjualan dan pangsa
pasar. Selain itu juga ditenyukan strategi pemasaran dengan metode
marketing xix. Marketing mix adalah strategi pemasaran yang terdiri
dari strategi product, price, promotion, people, dan physical evidence.

5. Analisis Pengembangan Teknologi


Road map pengembangan IKM ditentukan untuk memperoleh
gambaran jangka panjang pengembangan industri. Berdasarkan pohon
industri komiditi terpilih, maka dilakukan perencanaan pengembangan
hingga ke produk hilir.
Selain itu proses produksi pengolahan produk Sentra IKM diidentifikasi
dan ditentukan mesin dan peralatan yang diperlukan.

E. Analisis Kelembagaan
Penentuan pola kelembagaan pada sentra IKM dilakukan dengan metode
pembobotan. Beberapa alternatif pola kelembagaan adalah Perusahaan
Daerah (PD), Perseroan Terbatas (PT), Koperasi, CV, Unit Pelayanan Teknis
(UPT). Kriteria pemilihan pola kelembagaan terdiri dari badan hukum,
pertanggungjawaban investasi pemerintah, profit, manajemen pengelolaan,
kepemilikan/interst pribadi, kemampuan mendapatkan permodalan.

F. Analisis Investasi
Analisis investasi dilakukan berdasarkan kebutuhan luas ruang dan biaya
pada bangunan, energi, air baku dan pengolahan limbah pada Sentra IKM.

G. Analisis Kelayakan Ekonomi, Sosial Budaya dan Lingkungan

1. Nilai tambah
Di dalam melakukan analisis aspek ekonomi, metode analisis yang
dilakukan adalah meliputi metode analisis struktur perekonomian.Suatu
wilayah akan cenderung lebih terlihat berkembang selain dilihat dari
pendapatan perkapita, dapat dilihat juga dari kemampuan struktur
perekonomian yang mampu memberikan kontribusi terhadap sektor-
sektor lain juga memberikan kontribusi yang besar terhadap total PDRB
wilayah, sehingga saling berkaitan antara pendapatan perkapita dengan
struktur perekonomian. Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi
akan berpengaruh terhadap besarnya PDRB dan pendapatan perkapita
juga akan meningkat, juga sebaliknya. Selain itu, analisis nilai tambah
Sentra IKM dilakukan terhadap SDM.

2. Analisis keuangan

Didalam analisis ekonomi dan keuangan akan disajikan perhitungan


jumlah dana harta tetap dan modal kerja awal yang diperlukan. Jumlah

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-29
Laporan Akhir

modal kerja awal yang dihitung secara netto yaitu jumlah kebutuhan
harta lancar dikurangi hutang lancar yang dapat diharapkan diperoleh
dari pihak ketiga. Disajikan pula usulan struktur pembiayaan Sentra IKM,
kemampuan Sentra IKM memperoleh laba, memenuhi kebutuhan
keuangan dan mendatangkan manfaat sosial ekonomi yang lain.

1) Jumlah Dana Pemodalan


Transaksi jumlah kebutuhan dana modal tetap keseluruhan
beserta perincian tiap jenis harta tetap satu demi satu. Kebutuhan
dana modal tetap secara keseluruhan meliputi biaya pra-investasi,
pengadaan tanah, gedung pabrik dan bangunan lain, mesin dan
peralatan, kendaraan, pengadaan teknologi, bunga pinjaman
selama masa pembangunan proyek serta biaya produksi percobaan.

2) Transaksi jumlah kebutuhan dana modal kerja awal (netto).


Kebutuhan dana modal kerja bruto terdiri dari persediaan, piutang
dagang dan kas. Kebutuhan dana modal kerja netto adalah modal
kerja bruto dikurangi dengan hutang jangka pendek tanpa bunga.

3) Perhitungan jumlah dana keseluruhan yang dibutuhkan oleh


proyek yang direncanakan.
Jumlah dana keseluruhan tersebut adalah penjumlahan dari
kebutuhan dana modal tetap dan dana modal kerja netto.
Walaupun jumlah keseluruhan dapat dijabarkan dalam bentuk
rupiah, namun hendaknya masih dapat dilihat berapa jumlah
kebutuhan valuta asing yang diperlukan oleh proyek (bila ada).

4) Struktur Permodalan Proyek


Analisis ini berisi tentang struktur pembiayaan proyek yang
diusulkan atau diharapkan, serta dasar-dasar pertimbangan usulan
tersebut, keuntungan serta kerugiannya bagi proyek yang
direncanakan. Hendaknya disebutkan secara terperinci sumber
pembiayaan yang diharapkan serta syarat minimal yang ditetapkan
oleh setiap jenis sumber. Sebagai contoh apabila salah satu sumber
pembiayaan yang diharapkan adalah pinjaman dari bank,
hendaknya diutarakan suku bunga pinjaman yang berlaku, jangka
waktu tenggang pembayaran kembali kredit, jumlah angsuran tiap
masa tertentu, cara pembayaran angsuran, jumlah kredit yang
diminta dan sebagainya.

5) Evaluasi kemampuan proyek memenuhi kewajiban finansial dan


mendatangkan keuntungan.
Analisis tentang kemampuan proyek memenuhi kewajiban financial
dan mendatangkan keuntungan akan disusun dengan proyeksi tiga
macam daftar keuangan yaitu perkiraan mutasi kas, daftar laba/rugi
dan neraca. Ketiga macam daftar keuangan tersebut hendaknya
disusun secara tahunan untuk seluruh masa kehidupan proyek.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-30
Laporan Akhir

Analisis kemampuan proyek memenuhi kewajiban financial


dilakukan untuk kewajiban jangka pendek maupun kewajiban
jangka panjang. Untuk mengukur kemampuan jangka pendek
digunakan kriteria rasio lancar dan cash rasio.

6) Perhitungan Tingkat Break Even Point (BEP)

Tingkat break even point dihitung berdasarkan jumlah hasil


penjualan minimal produk yang harus dicapai tiap tahun agar dapat
melampaui titik break even atau titik impas. Persamaan BEP adalah
sebagai berikut:

BEP terjadi ketika TC = TR


TC = FC +VC
TR = PX
FC
sehingga : BEP ( X )
P VC
dimana:
TC = total cost
TR = total revenue
FC = biaya tetap (fixed cost)
VC = biaya variable (variable cost)
P = harga jual produk (price) per unit
X = Jumlah produk

7) Perhitungan kriteria penilaian investasi lainnya


Beberapa metode penilaian investasi akan dilakukan seperti dengan
menggunakan metode Payback Period (PBP), metode Net Present
Value (NPV), metode Profitability Index (PI) dan metode Internal
Rate of Return (IRR). Penjelasan dan persamaan metode tersebut
adalah sebagai berikut:

a. Metode Payback Period (PBP)


Payback Period merupakan suatu periode yang diperlukan
untuk menutup kembali pengeluaran suatu investasi dengan
menggunakan aliran kas masuk neto (proceeds) yang diperoleh
atau yang diterima. Payback period untuk mengukur lamanya
dana investasi yang ditanamkan kembali seperti semula. Untuk
mengetahui kelayakan suatu investasi dengan metode ini yaitu
membandingkan masa payback period dengan target lamanya
kembalian investasi. Jika payback period lebih kecil (<)
dibanding dengan target kembalinya investasi berarti investasi
layak dilakukan, sedangkan jika lebih besar (>) berarti investasi
tidak layak. Formula untuk mencari payback period adalah
sebagai berikut:

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-31
Laporan Akhir

Capital Out Lays


PBP = x 1 tahun
Proceeds

atau

investasi
PBP = x 1 tahun
Cash flow

b. Metode Net Present Value (NPV)


NPV adalah selisih antara nilai sekarang dari cash flow dengan
nilai sekarang dari investasi. Untuk menghitung NPV, pertama
menghitung present value (PV) dari penerimaan atau cash flow
dengan tingkat discount rate tertentu, kemudian dibandingkan
dengan present value (PV) dari investasi. Jika selisih antara PV
dari cash flow lebih besar (>) PV dari investasi atau terdapat
NPV positif berarti investasi layak dilaksanakan, sebaliknya jika
PV dari cash flow lebih kecil (<) PV dari investasi atau terdapat
NPV negatif berarti investasi tidak layak dilaksanakan.
Persamaan NPV adalah sebagai berikut:
n
At
NPV I 0
t 0 1 r t
dimana:
I0 = nilai investasi atau outlays
At = aliran kas neto pada periode t
r = discount rate
t = jangka waktu proyek investasi (umur proyek investasi)

c. Metode Profitability Index (PI)


Metode Profitability Index atau Benefit Cost Ratio merupakan
metode yang memiliki hasil keputusan sama dengan metode
NPV, berarti apabila suatu investasi diterima dengan
menggunakan metode NPV maka akan diterima pula jika
dihitung menggunakan metode Profitability Index. Metode PI
menghitung perbandingan antara PV dari penerimaan atau
cash flow atau proceeds dengan PV dari investasi. Jika PI lebih
besar (>) dari 1, maka investasi layak untuk dilaksanakan.
Persamaan metode PI adalah:

TPV TPV PV cash flow


PI = atau PI = atau PI =
Investasi Initial Outlays Investasi

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-32
Laporan Akhir

dimana:
PV = present value
TPV = total present value

d. Metode Internal Rate of Return (IRR)


Metode Internal Rate of Return (IRR) merupakan metode
penilaian investasi untuk mencari tingkat bunga (discount rate)
yang dapat menyamakan antara present value atau nilai
sekarang dari aliran kas neto (Present Value of Proceeds)
dengan present value dari investasi (Initial Outlays), maka
investasi akan diterima apabila besarnya IRR lebih besar
daripada tingkat bunga yang digunakan sebagai biaya modal,
dan sebaliknya ditolak apabila IRR lebih kecil daripada biaya
modal yang digunakan. Persamaan metode IRR adalah:

dimana:
IRR = Internal Rate of Return
rk = tingkat bunga yang kecil (rendah)
rb = tingkat bunga yang besar (tinggi)
NPV rk = Net Value Value pada tingkat bunga yang kecil
PV rk = Present Value of Proceeds pada tingkat bunga yang kecil
PV rb = Present Value of Proceeds pada tingkat bunga yang besar

8) Pengkajian Faktor Kepekaan (Sensitivitas Analysis)


Apabila dari hasil penelitian diketahui ada faktor-faktor tertentu
yang sangat menentukan keberhasilan operasi Sentra IKM, maka
akan dianalisis beberapa kemungkinan pengaruh positif atau negatif
terhadap Sentra IKM bilamana terjadi perubahan pada faktor
penentu tersebut.

H. Analisis Sosial, Budaya Dan Lingkungan

Analisis berbagai macam manfaat dan kesiapan sosial, budaya dan


lingkungan yang dapat diharapkan dari Sentra IKM akan dilakukan. Beberapa
manfaat sosial yang hendaknya diterima oleh masyarakat, seperti: membuka
lapangan kerja baru, melaksanakan alih teknologi, meningkatkan mutu hidup
dan pengaruh positif lainnya seperti semakin membaiknya kondisi
lingkungan fisik, seperti jalan, jembatan, dan sarana prasarana lainnya.
Analisis SWOT digunakan untuk menganalisis sosial budaya pada
pengembangan sentra IKM.

1.6. KELUARAN

Keluaran (output) dari kegiatan ini adalah dokumen pola pengembangan


Sentra IKM berupa laporan yang berisi:

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-33
Laporan Akhir

1. Siteplan pembangunan Sentra IKM (termasuk kelayakan ekonomi) di


Kabupaten Manokwari;
2. Pola Kelembagaan Sentra IKM di Kabupaten Manokwari;
3. Kebutuhan infrastruktur dan sarana/prasarana pendukung sentra IKM dalam
pengembangan Sentra IKM di Kabupaten Manokwari; dan
4. Rencana Strategis dan Rencana Aksi Pengembangan Sentra IKM di Kabupaten
Manokwari.

1.7. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Sistematika pembahasan pada laporan akhir kegiatan penyusunan pola


pengembangan sentra Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Manokwari,
memuat langkah-langkah sebagai berikut:
Bab 1 Pendahuluan, menjelaskan mengenai latar belakang, dasar
hukum, maksud dan tujuan, ruang lingkup, pendekatan dan metodologi,
keluaran, serta sistematika pembahasan.

Bab 2 Tinjauan Kebijakan Pengembangan Sentra Industri Kecil dan


Menengah (Sentra IKM), menjelaskan mengenai kebijakan pengembangan
industri nasional dalam pengembangan Sentra IKM serta kebijakan
pengembangan industri di Kabupaten Manokwari dalam pengembangan Sentra
Industri Kecil Dan Menengah (Sentra IKM).

Bab 3 Gambaran Umum Wilayah Kajian Kabupaten Manokwari,


menjelaskan mengenai gambaran umum Kabupaten Manokwari, meliputi:
kondisi geografis, kondisi fisik, kondisi demografi, kondisi perekonomian, kondisi
prasarana dan sarana, potensi daerah, dan aspek sosial.

Bab 4 Identifikasi dan Analisis Pengembangan Sentra IKM Kabupaten


Manokwari, menjelaskan mengenai identifikasi dan penentuan lokasi Sentra
IKM, identifikasi dan analisis jenis industri yang akan dikembangan dalam Sentra
IKM, analisis kebutuhan prasarana dan sarana pendukung, analisis kelembagaan,
analisis kebutuhan investasi, analisis kelayakan ekonomi, sosial budaya dan
lingkungan.

Bab 5 Pola Pengembangan Sentra IKM Kabupaten Manokwari,


menjelaskan kelembagaan sentra, konsep pola perencanaan pengembangan dan
bisnis plan Sentra IKM, pembangunan Sentra IKM, pengelolaan Sentra IKM,
pembagian peran, dan rencana strategis.

Bab 6 Site Plan Sentra IKM Kabupaten Manokwari, menjelaskan


konsep siteplan Sentra IKM.

Bab 7 Kesimpulan dan Rekomendasi, menjelaskan kesimpulan dan


rekomendasi pengembangan Sentra IKM.

Penyusunan Pola Pengembangan Sentra Industri Kecil Dan Menengah Di


Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Bantaeng 1-34