Anda di halaman 1dari 23

CASE REPORT

G1P0A0 Gravida 30-31 minggu d/ Eklampsia

Disusun oleh :
INEZ SORAYA
1102010130

PEMBIMBING :
Dr Dadan Susandi Sp.OG

DIBAWAKAN DALAM TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RSUD DR.SLAMET GARUT
AGUSTUS 2016

Inez Soraya 1
BAB I
LAPORAN KASUS
A. Anamnesis
1. Identitas
Nama : Nn. E
Med.Rec : 879014
Umur : 16 tahun
Pendidikan : SD
Pekerjaan :-
Alamat : Kp Cirengit, Tarogong Kidul
MRS : 2 agustus 2016
KRS : 5 Agustus 2016
Ruangan : Kalimaya

Nama Suami : -
Umur :-
Alamat :-
Pendidikan :-
Pekerjaan :-

1. Anamnesis
Dikirim oleh : Puskesmas Kersamenak
Sifat : Rujukan
Keterangan : os kejang berulang saat dirumah dan penurunan kesadaran.
Keluhan Utama : kejang berulang
Anamnesa khusus :
G1P0A0 merasa hamil 7 bulan,pasien dirujuk oleh puskesmas kersamenak karena
kejang 2 kali saat berada di puskesmas dan sebelumnya juga terdapat kejang 3 kali saat
dirumah. Kejang dikatakan sekitar 1-2 menit, keluarga mengatakan bahwa setelah kejang
pasien tidak sadar beberapa menit. Pasien mengatakan masih mengeluhkan adanya
pusing,nyeri ulu hati dan pandangan kabur. Pasien tidak merasakan adanya mules mules,
tidak ada keluar air air sebelumnya dan tidak ada keluar lendir campur darah. Pasien
mengatakan bahwa masih merasakan gerakan janin sejak 3 bulan SMRS

A. Riwayat Obstetri

Inez Soraya 2
Cara
Kehamila Cara BB Jenis Usi
Tempat Penolong Kehamila Keadaan
n ke Persalinan Lahir Kelamin a
n
------------------------------------------------Kehamilan saat ini
I
------------------------------------------------

B. Riwayat Perkawinan :
Status : Belum pernah menikah
Usia saat menikah : Perempuan : -
Laki-laki :-
C. Haid
Siklus haid : Tidak Teratur
Lama haid : 7 hari
Banyaknya darah : Biasa
Nyeri haid : Tidak dirasakan
Menarche usia : 12 tahun
HPHT : 28 desember 2015
TP : 04 oktober 2016
D. Riwayat kontrasepsi
Tidak pernah.
E. Prenatal Care :
Tidak pernah
F. Keluhan selama kehamilan
Tidak Ada
G. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak Ada

2. Status Praesens
Keadaan umum : Sakit Sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tensi : 150/110 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Respirasi : 22 x/menit
Suhu : AF
Kepala : Konjungtiva Anemis : -/-
Sklera ikterik : -/-
Leher : Tiroid : Tidak ada
KGB : Tidak ada kelainan
Cor : Bunyi jantung I-II murni reguler
Gallop (-), Murmur (-)
Pulmo : VBS kiri = kanan, Rhonki -/-, Wheezing -/-
Abdomen : Cembung lembut, NT (-), DM (-)
Hepar dan Lien: TAK
Ekremitas : Akral hangat, Edema tungkai -/-,
Varises -/-

Inez Soraya 3
3. Status Obstetrik
1) Pemeriksaan luar
Tinggi Fundus Uteri : 25 cm
Lingkar Perut : 84 cm
Letak Anak : Kepala,belum masuk PAP,PuKi
HIS : -
BJA : + / 136 x / menit
TBBA : 1620gram
2) Inspekulo :
Tes Lakmus : tidak dilakukan
3) Pemeriksaan Fornises :
Tidak dilakukan
4) Pemeriksaan Dalam :
Tidak Dilakukan

4. Pemeriksaan Penunjang
Pada pasien ini dilakukan:
1) USG (2/08/2016)
a. Hamil tunggal, hidup, letak kepala
b. TBBA 1184 gram
c. Plasenta normal

2) Hematologi (2/08/2016)
Darah rutin:
a.Hemoglobin : 9.5mg/dl (12.0 16.0)
b. Hematokrit : 31% (35 47 %)
c.Leukosit : 11.910 /mm3 (3.800-10.600)
d. Trombosit : 254.000 /mm3 (150.000-440.000)
e.Eritrosit : 3.92 juta/mm3 (3.6 5.6)
Urine Rutin:
Kimia Urine
Berat jenis urin : 1,025 (1,002-1,030)

Inez Soraya 4
Blood Urine : POS +++
Lekosit Ekstrase : 70+
pH Urine : 5,5 (4,8 7,5)
Nitrit Urine : negatif negatif
Protein Urine : 500/+++ negatif
Glukosa Urine : negatif negatif
Keton Urine : negatif negatif
Urobilinogen Urine : NORMAL (0,2-1,0)
Bilirubin Urine : negatif negatif

5. Diagnosis
G1P0A0 Gravida 30-31 minggu d/ Eklampsia

6. Rencana Pengelolaan
- Observasi tanda vital ibu, denyut jantung janin,HIS.
- Cek laboratorium: darah rutin, urin lengkap
- IVFD RL 20 gtt /menit
- Dexametasone tab 2x6 mg (inj)
- Nifedipine tab 3 x 10 mg (PO)
- Loading dose mgso4 40% 4gram dalam 100cc dalam 15 20 menit
- Maintenance dose mgso4 10 gram dalam 500cc dalam 5 10 jam
- Kateter menetap, catat produksi urin
R/ Rawat Konservatif

7. Prognosis
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad sanationam : ad bonam

Inez Soraya 5
8. Follow Up Ruangan
Tanggal Catatan Instruksi
3/8/16 S/ PD /

O/
KU : CM PT /
TD : 100/80 mmHg 1) Observasi KU, TTV,
N : 80 x / menit BJA, HIS
R : 16 x / menit
S : 36,4o C 2) Inf RL 500cc 20 ttm
Mata : CA( - / -) , SI (- / -)
Abdomen : Cembung lembut, NT ( -), DM (-) 3) Inj Dexametason 2x6mg
TFU : 24 cm selama 2 hari
HIS : - kali
BJA : 133x/mnt 4) Metildopa 3x 500mg
BAB/BAK : (-/+)
5) Nifedipin 3 x 20 mg
A/ 6) Rawat Konservatif
G1P0A0 gravida 27-28 minggu d/ eklampsia

4/8/16 S/ mules mules PD /

O/
KU : CM PT /
TD : 150/100 mmHg 1) Observasi KU, TTV,
R : 22x / menit BJA, HIS
N : 150 x / menit
S : AF 2) Inf RL 500cc 20 ttm

Mata : CA( - / -) , SI (- / -) 3) Inj Dexametason


ASI : -/- 2x6mg selama 2
Abdomen : cembung lembut,, NT ( -), DM (-) hari
TFU : 24 cm
HIS :+ 4) Metildopa 3x
BJA :- 500mg
BAB/BAK : (-/+)
5) Nifedipin 3 x 20 mg
A/ 6) Rencana persalinan
G1P0A0 gravida 27-28 minggu d/ eklampsia + susp

Inez Soraya 6
IUFD pervaginam

5/8/16 S/nyeri perut bagian kiri bawah PD /


-
O/
KU : CM PT /
TD : 150/100 mmHg 1) Cefadroxil 2x500mg p.o
R : 20x / menit 2) As.Mefenamat 3x500mg
N : 92 x / menit p.o
S : 36.4o C 3) SF 1x1 p.o
Mata : CA( - / -) , SI (- / -)
ASI : -/-
Abdomen : datar lembut,, NT ( -), DM (-)
TFU : 2 jari dibawah pusat
Lokhia :+
BAB/BAK : (+/+)

A/
P1A0 Partus Maturus spontan d/ IUFD + Augmentasi
drip OXY

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Eklampsia

1. Definisi dan Epidemiologi

Eklampsia adalah kasus akut yang dialami oleh wanita dengan preeklampsia yang
disertai kejang menyeluruh dan tidak disebabkan oleh sebab lain. Kejang dapat timbul
sebelum, selama atau setelah persalinan. Kejang dapat terjadi 48 jam atau lebih pasca
persalinan, bahkan dapat juga terjadi sampai 10 hari setelah persalinan. Namun,
umumnya terjadi 24 jam pertama setelah persalinan.

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, eklampsia


menyumbangkan 24% penyebab langsung kematian Ibu. Selain itu, Pemantauan
Wilayah Setempat (PWS) Indonesia tahun 2007 menyebutkan penyebab langsung
kematian ibu karena eklampsia sebesar 20%.

2. Etiologi

Eklampsia selalu didahului oleh preeklampsia. Etiologi preeklampsia sampai saat ini
belum diketahui secara pasti, meskipun beberapa teori menyebutkan ada beberapa hal
yang mungkin dapat menyebabkan preeklampsia, seperti gangguan autoimun,
Inez Soraya 7
gangguan pada pembuluh darah, predisposisi genetik, obesitas dan beberapa hal
lainnya. Perawatan prenatal dengan faktor resiko preeklampsia yang tinggi harus
diawasi secara ketat agar dapat terdeteksi sedini mungkin. Sering kali ditemukan ibu
hamil yang tampak sehat menjadi kejang kejang eklampsia. Hal tersebut terjadi
karena kejadian preeklampsia tidak terdeteksi sebelumnya.

Penyebab terjadinya kejang eklamptik sampai saat ini juga belum diketahui
secara jelas. Namun, faktor faktor yang dapat menimbulkan kejang eklamptik
adalah seperti edema serebri, vasospasme serebri dan iskemia serebri.

3. Faktor Resiko

Sama dengan preeklampsia, beberapa faktor resiko yang mungkin berkonstribusi


terhadap kejadian eklampsia adalah sebagai berikut :

a. Usia Ibu

Usia ibu < 20 tahun dan > 35 tahun memiliki kemungkinan menderita
preeklampsia 3,6 kali lebih besar. Usia kehamilan di dua ujung usia reproduksi
dianggap lebih rentan, karena memiliki kemungkinan lebih besar untuk
mengalami anemia, dan berisiko lebih tinggi memiliki janin yang
pertumbuhannya terhambat, persalinan prematur dan angka kematian bayi yang
tinggi.

b. Nulipara

Preeklampsia didiagnosis 2% sampai 7,% dari semua wanita nulipara yang


sehat.

c. Primigravida

Secara general diketahui preeklampsia lebih banyak terjadi pada kehamilan


pertama.

d. Kehamilan multipel

Wanita dengan kehamilan kembar dua menunjukkan insiden yang lebih


tinggi (13%) daripada kehamilan tunggal (5%). Hal ini dikaitkan dengan
terjadinya hiperplasentosis.

e. Riwayat hipertensi kronik.

Inez Soraya 8
f. Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya atau keluarga yang memiliki
riwayat preeklampsia.

g. Tingkat Pendidikan

h. Antenatal Care

4. Patofisiologi

Patofisiologi eklampsia didahului oleh kejadian preeklampsia yang sudah terjadi.


Preeklampsia memiliki patofisiologi yang sangat kompleks. Pada kehamilan normal,
invasi trofoblas ke lapisan otot arteri spiralis dan matriks sekitarnya menimbulkan
degenerasi lapisan otot pembuluh darah tersebut, terjadilah dilatasi arteri spiralis. Hal
tersebut berdampak pada penurunan tekanan darah, penurunan resistensi vaskular dan
peningkatan aliran darah di uteroplasental.

Pada preeklampsia invasi trofoblas tersebut tidak terjadi. Lapisan otot arteri
spiralis tetap kaku dan keras sehingga tidak mungkin mengalami vasodilatasi. Arteri
spiralis akan cenderung vasokonstriksi dan tidak dapat terjadi remodeling arteri
spiralis, sehingga aliran darah uteroplasental menurun. Penurunan aliran darah tersebut
menyebabkan iskemia dan hipoksia plasenta. Plasenta yang mengalami hipoksia dan
iskemia ini menghasilkan radikal bebas seperti radikal hidroksil. Radikal bebas ini
bersifat toksik terutama terhadap endotel pembuluh darah yang banyak mengandung
asam lemak tidak jenuh yang berubah menjadi peroksida lemak. Peroksida lemak yang
sangat toksik ini akan beredar keseluruh tubuh dan merusak membran sel endotel,
sehingga terjadi disfungsi endotel Akibat dari disfungsi endotel antara lain:

a. Gangguan metabolisme prostaglandin yang diproduksi sel endotel, sehingga


terjadi penurunan prostasiklin yang merupakan vasodilator kuat.

b. Agregasi trombosit pada endotel yang rusak. Agregasi trombosit


memproduksi tromboksan yang merupakan vasokonstriktor kuat.

c. Perubahan khas pada sel epitel glomerulus (glomerular endotheliosis).


Permeabilitas kapiler meningkat, sehingga menyebabkan proteinuria. Kadar
albumin yang turun menyebabkan edema.

d. Peningkatan faktor koagulasi

Inez Soraya 9
5. Gambaran Klinis

Pada penderita preeklampsia yang akan kejang, umumnya memberi gejala atau tanda
tanda yang khas, yang dapat dianggap sebagai tanda prodoma akan terjadinya
kejang. Preeklampsia yang disertai dengan tanda tanda prodoma ini disebut sebagai
impending eclampsia atau imminent eclampsia.

Kejang pada eklampsia harus dibedakan dengan kejang akibat penyakit lain.
Kejang eklampsia dimulai dengan kejang tonik. Tanda kejang tonik didahului oleh
gerakan kejang dari otot otot muka khususnya mulut. Beberapa detik kemudian
disusul dengan kontraksi otot otot tubuh yang menegang sehingga tubuh menjadi
kaku. Wajah penderita mengalami distorsi, bola mata menonjol, kedua lengan fleksi,
tangan menggenggam, kedua tungkai dalam posisi inversi. Keadaan ini biasanya
bertahan 15 30 detik.

Kejang tonik ini segera disusul oleh kejang klonik. Rahang terbuka secara tiba
tiba dan tertutup kembali dengan kuat disertai dengan terbuka dan tertutupnya
kelopak mata. Kemudian disusul dengan kontraksi intermiten pada otot muka dan
seluruh tubuh. Sering kali penderita terlempar dari tempat tidur. Pada saat timbul
kejang, diafragma terfiksir, sehingga pernafasan tertahan. Kejang klonik bertahan
kurang lebih 1 menit, kemudian kontraksi berangsur angsur melemah dan pasien
jatuh dalam keadaan koma.

Tabel 1. Diagnosis Gangguan Hipertensi yang menjadi penyulit Kehamilan


Hipertensi Gestasional
a. Tekanan > 140/ 90 mmHg untuk pertama kali selama kehamilan,
b. Tidak ada proteinuria,
c. Tekanan darah kembali normal kurang dari 12 minggu postpartum,
d. Mungkin memperlihatkan tanda-tanda lain preeklampsia, misalnya nyeri
epigastrium atau trombositopenia.
Preeklampsia
Kriteria minimum :
a. Tekanan > 140/ 90 mmHg setelah gestasi 20 minggu,
b. Proteinuria > 300 mg/ 24 jam atau > +1 pada dipstick,
Peningkatan kepastian Preeklampsia
a. Tekanan > 160/100 mmHg
b. Proteinuria > 2,0 g/24 jam atau > +2 pada dipstick,
c. Kreatinin serum > 1,2 mg/dl kecuali apabila diketahui telah meningkat
sebelumnya,

Inez Soraya 10
d. Trombosit < 100.000/mm3,
e. Hemolisis mikroangiopatik (LDH meningkat),
f. SGPT (ALT) atau SGOT (AST) meningkat,
g. Nyeri kepala menetap atau gangguan serebrum atau penglihatan lainnya,
h. Nyeri epigastrium menetap.
Eklampsia
a. Kejang yang tidak disebabkan oleh hal lain pada seorang wanita dengan
preeklampsia,
b. Preeklampsia pada hipertensi kronik (superimposed preeclampsia on chronic
hypertension),
c. Proteiuria awitan baru > 300mg/24 jam pada wanita pengidap hipertensi
tetapi tanpa proteinuria sebelum gestasi 20 minggu,
d. Terjadi peningkatan proteinuria atau tekanan darah atau hitung terombosit <
100.000/mm3 secara mendadak pada wanita dengan hipertensi dan proteinuria
sebelum gestasi 20 minggu,

Hipertensi Kronik
a. Tekanan darah > 140/90 mmHg sebelum kehamilan atau didiagnosa sebelum
gestasi 20 minggu,
b. Hipertensi yang pertama kali didiagnosa setelah gestasi 20 minggu dan
menetap setelah 12 minggu postpartum.
Sumber : Cunningham, 2005

6. Penatalaksanaan Eklampsia

Perawatan eklampsia yang paling utama adalah mempertahankan jalan nafas. Harus
selalu di ingat pemantauan airway, breathing dan circulation, mengatasi dan
mencegah kejang, mengatasi hipoksemia dan asidemia, mencegah trauma pada saat
pasien kejang, mengendalikan tekanan darah, melahirkan janin tepat pada waktunya
dan dengan cara yang tepat.

Perawatan medikamentosa dan perawatan sportif eklampsia sangatlah penting.


Terutama untuk mencegah dan menghentikan kejang, mencegah dan mengatasi
penyulit, khususnya hipertensi.1 Pada eklampsia, persalinan harus berlangsung 12 jam
setelah kejang.

1. Penanganan Kejang

a) Pemberian obat antikonvulsan,

1) Magnesium sulfat (MgSO4) merupakan pilihan utama

Inez Soraya 11
Loading Dose :

4 gram MgSO4 40% dalam 100 cc habis dalam 15-20 menit.

Maitenance Dose :

10 gram MgSO4 40% dalam 500cc habis dalam 6-8 jam

2) Alternatif lain adalah diazepam dengan dosis awal 10 mg IV selama 2


menit (ulangi dosis bila kejang berulang), untuk dosis pemeliharaan
40 mg dalam 500 ml larutan Ringer Laktat per infus. Jika IV tidak
memungkinkan dapat dilakukan per rektal dengan dosis awal 20 mg,
jika masih kejang tambahkan 10 mg/jam.

b) Bebaskan jalan nafas, siapkan masker oksigen, lindungi pasien dari


kemungkinan trauma,

c) Aspirasi mulut dan tenggorokan,

d) Baringkan pada posisi miring ke kiri untuk menghindari aspirasi, dan

e) Berikan oksigen 4 - 6 liter/menit.

f) Berikan obat antihipertensi

2. Persalinan

a) Persalinan harus terjadi dalam 24 jam pada preeklampsia berat, sedangkan


pada eklampsia 12 jam sejak gejala eklampsia timbul,

b) Jika terjadi gawat janin dan tidak dapat dilahirkan dalam waktu 12 jam,
lakukan seksio sesarea,

c) Untuk seksio sesarea gunakan anastesi umum,

d) Jika anastesi umum tidak tersedia atau janin mati, aterm terlalu kecil,
lakukan persalinan pervaginam. Jika serviks matang, lakukan induksi
dengan oksitosin 2 - 5 IU dalam 500 ml dekstrose 10 tetes/ menit.

3. Perawatan Postpartum

a) Antikonvulsan diteruskan sampai 24 jam postpartum atau kejang,

b) Antihipertensi diteruskan jika tekanan diastolik masih > 110 mmHg, dan

c) Pantau proteinuria.

Inez Soraya 12
7. Prognosis

Bila penderita tidak terlambat untuk diobati, maka gejala perbaikan akan tampak jelas
setelah kehamilannya diakhiri. Perubahan patofisiologik akan segera mengalami
perbaikan. Diuresis yang terjadi 12 jam pasca persalinan merupakan tanda perbaikan.
Tekanan darah akan normal bebrapa jam kemudian.

Eklampsia tidak mempengaruhi kehamilan berikutnya, kecuali pada janin dari


ibu yang memiliki riwayat hipertensi kronik. Prognosis janin pada penderita
eklampsia tergolong buruk. Sering kali janin mati intrauterin atau mati pada fase
neonatal.

B. IUFD
DEFINISI
Kematian janin ialah kematian hasil konsepsi sebelum dikeluarkan dengan sempurna
dari ibunya tanpa memandang tuanya kehamilan. Kematian dinilai dengan fakta bahwa
sesudah dipisahkan dari ibunya janin tidak bernapas atau menunjukkan tanda-tanda
kehidupan, seperti denyut jantung, atau pulsasi tali pusat, atau kontraksi otot.
Menurut WHO dan American College of Obstetricians and Gynecologist yang disebut
kematian janin adalah janin yang mati dalam rahim dengan berat badan 500 gram atau lebih
atau kematian janin dalam rahim pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Kematian janin
merupakan hasil akhir dari gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, atau infeksi.
Kematian janin dapat dibagi dalam 4 golongan, yaitu:
Golongan I : kematian sebelum masa kehamilan mencapai 20 minggu penuh;
Golongan II : kematian sesudah ibu hamil 20 hingga 28 minggu;
Golongan III : kematian sesudah masa kehamilan lebih 28 minggu (late fetal death);
Golongan IV : kematian yang tidak dapat digolongkan pada ketiga golongan diatas.

ETIOLOGI

Inez Soraya 13
Untuk mengetahui sebab kematian perinatal diperlukan tindakan bedah mayat. Karena bedah
mayat sangat susah dilakukan di Indonesia, sebab kematian janin dan neonatus hanya
didasarkan pada pemeriksaan klinik dan laboratorium. Dengan dasar pemeriksaan itu sebab
utama kematian perinatal di Rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, ialah: (1)
infeksi; (2) asfiksia neonatorum; (3) trauma kelahiran; (4) cacat bawaan; (5) penyakit yang
berhubungan dengan prematuritas dan dismaturitas; (6) imaturitas; dan (7) lain-lain.
Pada 25-60% kasus penyebab kematian janin tidak jelas. Penyebab dari kematian
perinatal dapat dikategorikan menjadi 3 bagian yaitu yang berasal dari fetal, plasenta dan
maternal. Penyebab yang berasal dari fetal (sekitar 25%-40%) dapat berupa anomali
kromosomal, defek nonkromosomal pada kelahiran, hidrops nonimun, dan infeksi baik yang
berasal dari bakteri, virus maupun protozoa. Penyebab yang berasal dari plasenta (25%-
35%)yaitu berupa abruptio plasenta, perdarahan fetal-maternal, insufisiensi plasenta, asfiksia
intrapartum, plasenta previa, twin to twin transfusion, dan korioamnionitis. Sedangkan
penyebab dari maternal (5-10%) adalah antibodi antifosfolipid, diabetes, hipertensi, trauma,
persalinan abnormal, sepsis, asidosis, hipoksia, ruptura uteri, kehamilan posterm serta obat-
obatan. Selain ketiga kategori tersebut, terdapat penyebab yang tidak dapat dijelaskan ( 25%-
35%).
Disamping itu, terdapat juga faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kematian
perinatal, diantaranya ada faktor dari ibu dan juga dari janin sebagai berikut
1. Faktor ibu (high risk mother)
a. status sosial ekonomi yang rendah;
b. tingkat pendidikan ibu yang rendah;
c. umur ibu yang melebihi 40 tahun;
d. paritas pertama dan paritas kelima dan lebih;
e. tinggi badan ibu dan berat badan ibu ;
f. kehamilan diluar perkawinan;
g. kehamilan tanpa pengawasan antenatal;
h. gangguan gizi dan anemia pada kehamilan;
i. ibu dengan anamnesis kehamilan dan persalinan sebelumnya yang tidak baik,
misalnya kehamilan dan persalinan berakhir dengan kematian janin, kematian bayi
yang dini, atau kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah;
j. riwayat persalinan yang diakhiri dengan tindakan bedah atau yang berlangsung
lama;
k. riwayat kehamilan dan persalinan dengan komplikasi medik atau obstetrik;
Inez Soraya 14
l. riwayat inkompatibilitas darah janin dan ibu;
m. kehamilan dengan riwayat pelayanan kesehatan ibu yang tidak adekuat atau tidak
dapat dinilai.

2. Faktor bayi (high risk infants)


a. bayi yang lahir dari kehamilan yang bersifat high risk;
b. bayi yang berat badan lahir kurang dari 2500 gram;
c. bayi yang berat badan lahir lebih dari 4000 gram;
d. bayi yang dilahirkan dari kehamilan kurang dari 37 minggu dan lebih dari 42
minggu;
e. bayi yang berat badan lahir kurang dari berat badan lahir menurut masa
kehamilannya (small for gestasional age);
f. bayi yang nilai Apgarnya kurang dari 7;
g. bayi yang lahir dengan infeksi intrapartum, trauma kelahiran, atau kelainan
kongenital;
h. bayi yang lahir dalam keluarga yang mempunyai problema sosial (perceraian,
perkawinan dengan lebih dari satu istri, perkawinan tidak sah).

Analisis faktor-faktor yang telah disebut di atas menunjukkan bahwa banyak hal yang
dapat mempengaruhi kematian perinatal dapat diramalkan sebelumnya. Sebagian faktor-
faktor itu dapat dicegah dengan pengawasan antenatal dan perinatal yang baik.
Usaha-usaha yang dapat dilaksanakan untuk memperbaiki angka kematian perinatal
ialah :
a. perbaikan keadaan sosial ekonomi;
b. kerjasama yang erat antara ahli obstetri, ahli kesehatan anak, ahli kesehatan
masyarakat, dokter umum, bidan, dan perawat untuk kesejahteraan ibu dan anak;
c. pemeriksaan postmortem terhadap sebab-sebab kematian perinatal;
d. pendaftaran kelahiran dan kematian janin serta kematian bayi secara sempurna;
e. perbaikan kesehatan ibu dan pengawasan antenatal yang baik, antara lain
memperbaiki keadaan gizi ibu dan menemukan high risk mothers untuk dirawat dan
diobati;
f. ibu dengan high rish pregnancy hendaknya melahirkan di rumah sakit yang memiliki
fasilitas yang cukup;
g. perbaikan teknin diagnosis gawat-janin
Inez Soraya 15
h. persediaan tempat perawatan yang khusus untuk berat badan lahir rendah;
i. perbaikan resusitasi bayi yang lahir dengan asfiksia dan perbaikan dalam teknik
perawatan bayi baru lahir terutama bayi prematur;
j. penyelidikan sebab-sebab intrauterine undernutrition;
k. pencegahan infeksi secara sungguh-sungguh

DIAGNOSIS
Anamnesa

Ibu tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari atau gerakan janin sangat
berkurang

Ibu merasakan perutnya bertambah besar, bahkan bertambah kecil atau kehamilan
tidak seperti biasanya.

Wanita belakangan ini merasa perutnya sering menjadi keras dan merasakan sakit
seperti mau melahirkan.

Inspeksi

Tidak terlihat gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat terlihat terutama pada ibu
yang kurus

Penurunan atau terhentinya peningkatan bobot berat badan ibu

Terhentinya perubahan payudara

Palpasi

Tinggi fundus uteri lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan ; tdak teraba gerakan-
gerakan janin

Dengan palpasi yang teliti dapat dirasakan adanya krepitasi pada tulang kepala janin.

Auskultasi

Inez Soraya 16
Baik memakai stetoskop monoral maupun doptone tidak akan terdengan denyut
jantung janin

Reaksi kehamilan baru negatif setelah beberapa minggu janin mati dalam kandungan.

Rontgen foto abdomen

Adanya akumulasi gas dalam jantung dan pembuluh darah besar janin (Robert sign)

Tanda nojoks : adanya angulasi yang tajam tulang belakang janin

Tanda spalding : overlapping tulang-tulang kepala (sutura) janin

Disintegrasi tulang janin bila ibu berdiri tegak

Kepala janin kelihatan seperti kantong berisi benda padat.

Kepala janin terkulai

Pada pemeriksaan ultrasonografi (usg) tidak terlihat djj dan nafas janin, badan dan
tunkai janin tidak terliaha bergerak, ukuran biparietal janin setelah 30 minggu terlihat tidak
bertambah panjang pada setiap minggu, terlihat kerangka yang bertumpuk, tidak terlihat
struktur janin, terlihat penumpukan tulang tengkorak (spalding sign), dan reduksi cairan yang
abnormal.
Pemeriksaan hematologi berupa pemeriksaan ABO dan Rh, VDRL, gula darah post
prandial, HBA1C, ureum, kreatinin, profil tiroid, skrining TORCH, anti koagulan Lupus,
anticardiolipin antibody.
Pemeriksaan urine dilakukan untuk mencari sedimen dan sel-sel pus. Pemeriksaan
langsung pada plasenta, tali pusat termasuk autopsi bayi dapat memberi petunjuk sebab
kematian janin.

PROTOKOL INVESTIGASI
Bertujuan untuk :
1. Memastikan diagnosis IUFD secara sonografi atau radiology
2. Memeriksa kadar fibrinogen darah dan masa tromboplastin parsial secara periodik, terutama
bila janin dipertahankan dalam kandungan lebih dari 2 minggu.

Inez Soraya 17
3. Mencari penyebab kematian janin.
Protokol Pemeriksaan pada janin dengan IUFD menurut Cunningham dan Hollier
(1997):
1. Deskripsi bayi
- malformasi
- bercak noda
- warna kulit
- maserasi
2. Tali Pusat
- prolaps
- pembengkakan leher, lengan dan kaki
- hematoma atau striktur
- jumlah pembuluh darah
- panjang tali pusat
3. Cairan Amnion
- warna mekoneum, darah
- konsistensi
- volume
4. Plasenta
- berat plasenta
- bekuan darah dan perlengketan
- malformasi struktur sirkumvalata, lobus aksesorius
- edema perubahan hidropik
5. Membran amnion
- bercak/noda
- ketebalan

Grade Maserasi pada IUFD :


Grade 0 (durasi < 8 jam) kulit kemerahan setengah matang.
Grade I (durasi > 8 jam) kulit terdapat bullae dan mulai mengelupas.
Grade II (durasi 2-7 hari) kulit mengelupas luas, efusi cairan serosa di
Rongga toraks dan abdomen

Inez Soraya 18
Grade III (durasi >8 hari) hepar kuning kecoklatan, efusi cairan keruh,
Mungkin terjadi mumifikasi.

KOMPLIKASI
1. Gangguan psikologis ibu dan keluargs
2. Infeksi, apabila ketuban masih intak kemungkinan untuk terjadinya infeksi sangat kecil,
namun bila ketuban sudah pecah infeksi dapat terjadi terutama oleh mikroorganisme
pembentuk gas seperti Clostridium welchii.
3. Kelainan pembekuan darah, bila janin mati dipertahankan melebihi 4 minggu, dapat terjadi
defibrinasi akibat silent Disseminated Intravascular Coagulopathy (DIC). Walaupun
terjadinya DIC terutama pada janin mati akibat inkompatibilitas Rh yang tetap dipertahankan,
kemungkinan kelainan ini terjadi pada kasus lainnya harus dipikirkan. Kelainan ini terjadi
akibat penyerapan bertahap dari tromboplastin yang dilepaskan dari plasenta dan desidua
yang mati ke dalam sirkulasi maternal.
4. Selama persalinan dapat terjadi inersia uteri, retensio plasenta dan perdarahan post partum.

PENCEGAHAN
Upaya mencegah kematian janin, khususnya yang sudah mendekati aterm adalah bila
ibu merasa gerakan janin menurun, tidak bergerak, atau gerakan janin terlalu keras, perlu
dilakukan pemeriksaan ultrasonografi. Perhatikan adanya solution plasenta.

PENATALAKSANAAN
Bila diagnosis kematian janin telah ditegakkan, penderita segera diberi informasi.
Diskusikan kemungkinan penyebab dan rencana penatalaksanaannya. Rekomendasikan untuk
segera diintervensi.
Bila kematian janin lebih dari 3-4 minggu kadar fibrinogen menurun dengan
kecenderungan terjadinya koagulopati. Masalah menjadi rumit bila kematian janin terjadi
pada salah satu dari bayi kembar.
Bila diagnosis kematian janin telah ditegakkan, dilakukan pemeriksaan tanda vital
ibu, dilakukan pemeriksaan darah perifer, fungsi pembekuan dan gula darah. Diberikan
pengetahuan kepada pasien dan keluarga tentang kemungkinan penyebab kematian janin,

Inez Soraya 19
rencana tindakan, dukungan mental emosional pada penderita dan keluarga, yakinkan bahwa
kemungkinan lahir pervaginam.
Persalinan pervaginam dapat ditunggu lahir spontan setelah 2 minggu, umumnya
tanpa komplikasi. Persalinan dapat terjadi secara aktif dengan induksi persalinan dengan
oksitosin maupun misoprostol. Tindakan perabdominam bila janin letak lintang. Induksi
persalinan dapat dikombinasi oksitosin + misoprostol. Hati-hati pada induksi dengan uterus
pascaseksio sesarea ataupun miomektomi, bahayanya terjadi ruptura uteri.
Pada kematian janin 24-28 minggu dapat digunakan, misoprostol secara vaginal (50-
100 g tiap 4-6 jam) dan induksi oksitosin. Pada kehamilan di atas 28 minggu dosis
misoprostol 25 g pervaginam/6jam.
Setelah bayi lahir dilakukan ritual keagamaan merawat mayat bayi bersama keluarga.
Idealnya pemeriksaan otopsi atau patologi plasenta akan membantu mengungkap penyebab
kematian janin.
Metode terminasi lainnya berupa embriotomi. Embriotomi adalah suatu persalinan
buatan dengan cara merusak atau memotong bagian-bagian tubuh janin agar dapat lahir
pervaginam, tanpa melukai ibu. Embriotomi diindikasikan kepada janin mati dimana ibu
dalam keadaaan bahaya ataupun janin mati yang tak mungkin lahir pervaginam.

BAB III
PEMBAHASAN

Bagaimana penegakkan diagnosis pada kasus ini?


- Pasien mengatakan bahwa ini merupakan kehamilan ke 1, tidak pernah melahirkan
anak sebelumnya, dan tidak memiliki riwayat abortus G1P0A0

- Pada anamnesis pasien merasa hamil kurang lebih 7 bulan, HPHT 28 desember
2015, gerakan janin dirasakan sejak 3 bulan yang lalu hingga saat ini, Tinggi fundus

Inez Soraya 20
uteri 25 cm, pemeriksaan obstetric ,tidak dilakukan pemeriksaan dalam Gravida
30 31 minggu

- Dari anamnesis, pasien mengakui tidak ada riwayat darah tinggi sebelumnya. Pasien
mengaku tidak pernah diperiksa di puskesmas ataupun bidan. Mendadak pasien
mengalami kejang berulang di rumah dan saat dibawa ke puskesmas tensi pasien
140/100 eklampsia

- Dari follow up hari ke 2 pasien dirawat gerakan janin sudah tidak dirasakan oleh
pasien dan tidak ditemukan BJJ saat diperiksa dengan doppler IUFD

- Jadi diagnosis untuk pasien ini: G1P0A0 Gravida 30-31 Minggu d/ eklampsia + IUFD

Apakah pengelolaan kasus ini sudah tepat?


- Pengelolaan pasien ini sudah tepat, karena pasien diberikan terapi sesuai dengan
buku panduan praktik klinis obstetri dan ginekologi UNPAD dari puskesmas yaitu
pemberian infus RL dan pemberian MgSO4 loading dose intravena 4gram MgSO4
10cc 40% yang dilarutkan ke dalam 100cc RL diberikan selama 15-20 menit serta
dosis pemeliharaan yaitu 10gram MgSO4 dalam 500cc RL. Setelah tiba di RSU
pasien mendapatkan obat yang sesuai yaitu obat antihipertensi metildopa 3x500 mg
peroral da nifedipin 3x20mg peroral untuk menurunkan tekanan darah. Dan
diteruskan maintenance dose.

- Pada IUFD pasien dilakukan Augmentasi oxytocin untuk merangsang terjadinya


pembukaan jalan lahir.

Bagaimanakah prognosis pada pasien ini?

- Quo ad functionam pasien ini untuk fungsi reproduksi ad bonam

Inez Soraya 21
Eklampsia tidak mempengaruhi kehamilan berikutnya, kecuali pada janin dari ibu
yang memiliki riwayat hiptensi kronik dan harus dipantau dengan baik kehamilan
berikutnya.

- Fungsi seksual dan menstruasi ad bonam.

DAFTAR PUSTAKA

1. Saifuddin AB, dkk. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo edisi 4. Jakarta: PT Bina
Pustaka; 2011. hal. 283: 5354.

Inez Soraya 22
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diagnosis dan Tata Laksana Pre-
eklampsia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. hal. 110.

3. Cunningham FG, dkk. Obstetri williams edisi 21. Jakarta: EGC; 2005. hal. 62549.

4. Gibss RS, et al. Danforths obstetrics and gymecology 10th edition. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins; 2008. p. 25866.

5. Sibai B, Dekker G, Kupferminc M. Pre-eclampsia. Lancet; 2005. 365. p. 78595.

6. Uzan J, Marie C, Oliver P, Ronald A, Jean-Marc A. Pre-eclampsia: pathophysiology,


diagnosis,and management. Journal of Vascular Helath and Risk Management; 2011. 7.
p. 46873.

7. Saifuddin AB, dkk. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal
edisi 1. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2008. hal. 2114.

8. William C Mabie, Baha M.Sibai. Hypertensive states of Pregnancy dalam Current


Obstetric & Gynecologic diagnosis & treatment. Appleton & Lahge. Connecticut.
Hal:380-8.1994.

9. Hidayat W. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi, RSUP dr.Hasan
Sadikin. Edisi ke-2 Penerbit: SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Univ.
Padjajaran, RSUP dr. Hasan Sadikin, Bandung. Hal: 234-6.1998.

10. Sarwono Prawirohardjo dan Hanifa Wiknjosastro. Ilmu Kandungan. FK UI, Jakarta. Hal:
281-294. 1999.

11. Winkjosastro H. Kematian Janin Dalam Ilmu Kebidanan Edisi Keempat Cetakan Kedua.
2009. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Balai Penerbit FK UI : Jakarta

Inez Soraya 23