Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN ISOLASI SOSIAL


( MENARIK DIRI )

Di susun oleh:

Disusun Oleh:
1. Penti Wijayanti
2. Pindinus Saputra
3. Renanda Tri Amanda
4. Rizal Qolbi Fatkhullah
5. Sea Paradise
6. Siti Awaliyah Ulfa

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI
Jln. Cut Nyak Dhien No. 16 Kalisapu Slawi
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat
kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah
keperawatan jiwa yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA KLIEN
DENGAN ISOLASI SOSIAL ( MENARIK DIRI ) kemudian sholawat beserta salam kita
sampaikan kepada Nabi besar Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup
yaiutu Al-quran sunnah untuk keselamatan umat di dunia.
Makalah ini salah satu tugas dari mata kuliah Keperawatan jiwa di program studi S1
keperawatan selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1 Kedua orang tua yang selalu memberi motivasi
2 Teman-teman dari kelompok 6 yang membantu dalam proses pembuatan makalah ini
3 Kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan sealama penulisan
makalah ini
Akhirnya penulis menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penulisan
makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran secara konstruktif dari
para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Slawi, April 2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN :
1. Latar Belakang .
2. Tujuan Penulisan .

BAB II PEMBAHASAN :
1. Pengertian halusinasi .
2. Etiologi ....................................
3. Patopsiologi .
4. Pathways .
5. Manifestasi klinis
6. Mekanisme koping .....
7. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

BAB III STRATEGI PELAKSANAAN PERILAKU KEKERASAN


1. Strategi Pelaksanaan Halusinasi Pertemuan Ke I
2. Strategi Pelaksanaan Halusinasi Pertemuan Ke II
3. Strategi Pelaksanaan Halusinasi Pertemuan Ke III

BAB IV TINJAUAN KASUS


A. Pengkajian
B. Analisa Data
C. Pohon Masalah
D. Diagnosa Keperawatan
E. Rencana Keperawatan
F. Catatan Keperawatan

BAB V PENUTUP
1. Kesimpulan.. 41
2. Saran .. 41
3. Daftar Pustaka.......................................................................................... 42

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan jiwa bukan hanya tidak ada gangguan jiwa, melainkan mengandung
berbagai karakteristik positif yang menggambarkan kesalahan dan keseimbangan kejiwaan
yang mencerminkan kedewasaan kepribadiannya. Secara umum gangguan jiwa yang sering
muncul adalah skizofrenia. Skizofrenia adalah suatu penyakit otak persisten dan serius yang
mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memproses
informasi, hubungan interpersonal, serta memecahkan masalah. Perilaku yang muncul pada
pasien skizofrenia adalah isolasi dan menarik diri dari hubungan sosial, harga diri rendah,
ketidaksesuaian sosial, tidak tertarik dengan aktivitas rekreasi, kerancuan identitas gender,
menarik diri dari orang lain yang berhubungan dengan stigma, penurunan kualitas hidup.
(Stuart, 2007, hlm. 241). Jika masalah ini tidak dilakukan intervensi lebih lanjut, maka akan
menyebabkan perubahan persepsi sensori : halusinasi dan resiko tinggi mencederai orang lain
serta dapat menyebabkan intoleransi aktivitas yang akhirnya bisa berpengaruh terhadap
ketidakmampuan untuk melakukan perawatan diri secara mandiri. Untuk menyikapi masalah
diatas, perawat yang berhubungan langsung dengan pasien harus melaksanakan perannya
secara profesional serta dapat mempertanggungjawabkan asuhan keperawatan yang
diberikannya secara alamiah. Prinsip penatalaksanaan asuhan keperawatan tersebut antara
lain: membina hubungan saling percaya, membantu pasien menyadari perilaku isolasi sosial,
melatih pasien cara-cara berkenalan dengan orang lain secara bertahap, inventarisir kelebihan
pasien yang dapat dijadikan motivasi untuk membangun kepercayaan diri pasien dalam
bergaul, libatkan pasien dalam interaksi dan terapi kelompok secara bertahap.

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah :
a. Tujuan Umum
Memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan isolasi sosial dan membandingkan
asuhan keperawatan isolasi sosial secara teori dan kenyataan
b. Tujuan Khusus
1. Memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan baik secara teori maupun pada
pasien dengan isolasi sosial.Membandingkan antara konsep dasar yang terkait
dengan fakta yang ada di lapangan tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada
pasien dengan isolasi sosial.
2. Mengetahui gambaran faktor pendukung dan penghambat dalam asuhan
keperawatan pada pasien dengan isolasi sosial.
3. Memberikan saran dan alternatif penyelesaian masalah dalam menyelesaikan
asuhan keperawatan asuhan keperawatan pada pasien dengan isolasi sosial.

BAB II
PEMBAHASAN
LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN ISOLASI SOSIAL
( MENARIK DIRI )

A. MasalahUtama :
Isolasisosial :menarikdiri.

B. Proses TerjadinyaMasalah
1. Pengertian
Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan dari orang lain.
Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan dengan orang lain. Selain itu menarik diri merupakan suatu
tindakan melepaskan diri baik perhatian maupun minatnya terhadap lingkungan sosial
secara langsung (isolasi diri).
Terjadinya perilaku menarik diri dipengaruhi oleh faktor predisposisi dan faktor
presipitasi. Faktor perkembangan dan sosial budaya merupakan faktor predispoisi
terjadinya perilaku menarik diri. Kegagalan perkembangan dapat mengakibatkan
individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu, takut salah, pesimis, putus asa
terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu
merumuskan keinginan, dan merasa tertekan. Keadaan menimbulkan perilaku tidak ingin
berkomunikasi dengan orang lain, menghindar dari orang lain, lebih menyukai berdiam
diri sendiri, kegiatan sehari-hari hampir terabaikan.
Tanda dan Gejala:
Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul.
Menghindar dari orang lain (menyendiri).
Komunikasi kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan
klien lain/perawat.
Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk.
Berdiam diri di kamar/klien kurang mobilitas.
Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan
atau pergi jika diajak bercakap-cakap.
Tidak melakukan kegiatan sehari-hari.
Posisi janin saat tidur.

(Budi Anna Keliat, 1998)


2. Penyebab
Salah satu penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah. Harga diri adalah
penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai
dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif
terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.
Gejala Klinis :
Perasaanmaluterhadapdirisendiriakibatpenyakitdantindakanterhadappenyakit
(rambutbotakkarenaterapi).
Rasa bersalahterhadapdirisendiri (mengkritik/menyalahkandirisendiri).
Gangguanhubungansosial (menarikdiri).
Percayadirikurang (sukarmengambilkeputusan).
Mencederaidiri (akibatdarihargadiri yang rendahdisertaiharapan yang suram,
mungkinklienakanmengakirikehidupannya.
( Budi Anna Keliat, 1999)

3. Akibat
Klien dengan perilaku menarik diri dapat berakibat adanya terjadinya resiko
perubahan sensori persepsi (halusinasi). Halusinasi ini merupakan salah satu orientasi realitas
yang maladaptive, dimana halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa
stimulus yang nyata, artinya klien menginterprestasikan sesuatu yang nyata tanpa
stimulus/rangsangan eksternal.
Gejala Klinis :
Bicara, senyum dan tertawa sendiri.
Menarik diri dan menghindar dari orang lain.
Tidak dapat membedakan tidak nyata dan nyata.
Tidakdapatmemusatkanperhatian.
Curiga, bermusuhan, merusak (dirisendiri, orang lain danlingkungannya), takut.
Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung.
(Budi Anna Keliat, 1999)

C. PohonMasalah
Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi

Isolasi sosial: menarik diri


Core problem

Gangguan konsep diri: harga diri rendah

( Budi Anna Keliat, 1999)

D. MasalahKeperawatandan data yang perludikaji


1. Masalah keperawatan:
a. Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi
b. Isolasi sosial: menarik diri
c. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
2. Data yang perlu dikaji
a. Resiko perubahan persepsi sensori : halusinasi
Data Subjektif:
Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata
Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata
Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
Klien merasa makan sesuatu
Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar
Klien ingin memukul/melempar barang-barang
Data Objektif:
Klien berbicara dan tertawa sendiri
Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu
Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
Disorientasi

b. Isolasi Sosial : menarik diri


Data Subyektif:
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data Obyektif:
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.
c. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
Data subyektif:
Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data obyektif:
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup.

E. DiagnosaKeperawatan
1. Isolasi sosial: menarik diri
2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah

F. RencanaTindakanKeperawatan
Diagnosa 1: menarik diri
Tujuan Umum :
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi
terapeutikdengan cara :

a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal


b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Tindakan:
2.1 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-
tandanya.
2.2 Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan
penyebab menarik diri atau mau bergaul
2.3 Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda
serta penyebab yang muncul
2.4 Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan
perasaannya

3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan


kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
Tindakan :
3.1 Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur,
marah, menyibukkan diri dll)
3.2 Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang
lain
a. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang
keuntungan berhubungan dengan prang lain
b. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang
lain

c. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan


tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain
3.3 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain

a. beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan


orang lain
b. diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan
orang lain
c. beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan
perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial
Tindakan:
4.1 Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
4.2 Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :
a. KP
b. K P P lain
c. K P P lain K lain
d. K Kel/Klp/Masy
4.3 Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
4.4 Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan
4.5 Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu
4.6 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
4.7 Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan
5. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang
lain
Tindakan:
5.1 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang
lain
5.2 Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat berhubungan dengan orang
lain.
5.3 Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan
manfaat berhubungan dengan orang lain
6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
Tindakan:
6.1 Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
a. Salam, perkenalan diri
b. Jelaskan tujuan
c. Buat kontrak
d. Eksplorasi perasaan klien
6.2 Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
a. Perilaku menarik diri
b. Penyebab perilaku menarik diri
c. Akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi
d. Cara keluarga menghadapi klien menarik diri
6.3 Dorong anggota keluarga untukmemberikan dukungan kepada klien untuk
berkomunikasi dengan orang lain.
6.4 Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal
satu kali seminggu
6.5 Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga

Diagnosa 2 : harga diri rendah


Tujuan Umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi
terapeutikdengan cara :

a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal


b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan:
2.1 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
2.2 Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif
2.3 Utamakan memberikan pujian yang realistik
3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
Tindakan:
3.1 Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit.
3.2 Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.

4. Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang


dimiliki
Tindakan:
4.1 Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari
sesuaikemampuan
a. Kegiatan mandiri
b. Kegiatan dengan bantuan sebagian
c. Kegiatan yang membutuhkan bantuan total
4.2 Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
4.3 Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya


Tindakan:
5.1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien.
5.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan:
6.1.Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
denganharga diri rendah.
6.2.Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.
6.3.Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) KE 1 PSIKOTERAUPETIK PASIEN DENGAN
ISOLASI SOSIAL ( MENARIK DIRI )

Masalah Utama : Isolasi Sosial (Menarik Diri)


Hari / tanggal :
Pertemuan ke :
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
a. Data obyektif:
Apatis, ekpresi sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri dikamar, banyak
diam, kontak mata kurang (menunduk), menolak berhubungan dengan orang
lain, perawatan diri kurang, posisi menekur.
b. Data subyektif :
Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab dengan
singkat, ya atau tidak.
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi sosial : menarik diri
B. STATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
Tujuan khusus :
1. Klien mampu mengungkapkan hal hal yang melatarbelakangi terjadinya isolasi
sosial
2. Klien mampu mengungkapkan keuntungan berinteraksi
3. Klien mampu mengungkapkan kerugian jika tidak berinteraksi dengan orang lain
4. Klien mampu mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang

Tindakan keperawatan :
1. Mendiskusikan faktor faktor yang melatarbelakangi terjadinya
isolasi sosial
2. Mendiskusikan keuntungan berinteraksi
3. Mendiskusikan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4. Mendiskusikan cara berkenalan dengan satu orang secara bertahap

SP 1 Pasien:Membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenal


penyebab isolasi sosial, membantu pasien mengenal keuntungan berhubungan dan
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, dan mengajarkan pasien berkenalan.

ORIENTASI (PERKENALAN):
Selamat pagi
Saya perawat x , Saya senang dipanggil mas x, Saya mahasiswa STIKES BHAMADA yang
akan merawat Ibu.
Siapa nama Ibu? Senangdipanggilsiapa?
Apa keluhan ibu hari ini? Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga dan
teman-teman ibu ? Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruang tamu?
Mau berapa lama, bu? Bagaimana kalau 15 menit
KERJA:
(Jika pasien baru)
Siapa saja yang tinggal serumah? Siapa yang paling dekat dengan ibu? Siapa yang jarang
bercakap-cakap dengan ibu? Apa yang membuat ibu jarang bercakap-cakap dengannya?
(Jika pasien sudah lama dirawat)
Apa yang ibu rasakan selama ibu dirawat disini? O.. ibu merasa sendirian? Siapa saja
yang ibu kenal di ruangan ini
Apa saja kegiatan yang biasa ibu lakukan dengan teman yang ibu kenal?
Apa yang menghambat ibu dalam berteman atau bercakap-cakap dengan pasien yang
lain?
Menurut ibu apa saja keuntungannya kalau kita mempunyai teman ? Wah benar, ada teman
bercakap-cakap. Apa lagi ? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) Nah kalau
kerugiannya tidak mampunyai teman apa ya ibu ? Ya, apa lagi ? (sampai pasien
dapat menyebutkan beberapa) Jadi banyak juga ruginya tidak punya teman ya. Kalau begitu
inginkah ya ibu ? belajar bergaul dengan orang lain ?
Bagus. Bagaimana kalau sekarang kita belajar berkenalan dengan orang lain
Begini lho ibu ?, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dulu nama kita dan
nama panggilan yang kita suka asal kita dan hobi. Contoh: Nama Saya T, senang dipanggil
T. Asal saya dari Slawi, hobi memancing
Selanjutnya ibu menanyakan nama orang yang diajak berkenalan. Contohnya begini:
Nama Bapak siapa? Senang dipanggil apa? Asalnya dari mana/ Hobinya apa?
Ayo ibu dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan ibu. Coba berkenalan dengan saya!
Ya bagus sekali! Coba sekali lagi. Bagus sekali
Setelah ibu berkenalan dengan orang tersebut ibu bisa melanjutkan percakapan tentang
hal-hal yang menyenangkan ibu bicarakan. Misalnya tentang cuaca, tentang hobi, tentang
keluarga, pekerjaan dan sebagainya.
TERMINASI:
Bagaimana perasaan ibu setelah kita latihan berkenalan?
ibu tadi sudah mempraktekkan cara berkenalan dengan baik sekali
Selanjutnya ibu dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi selama saya tidak ada.
Sehingga ibu lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain. S mau praktekkan ke pasien
lain. Mau jam berapa mencobanya. Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan hariannya.
Besok pagi jam 10 saya akan datang kesini untuk mengajak ibu berkenalan dengan teman
saya, perawat N. Bagaimana, ibu mau kan?
Baiklah, sampai jumpa.

SP 2 Keluarga : Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan


masalah isolasi sosial langsung dihadapan pasien.

Orientasi:
Selamat pagi Pak/Bu
Bagaimana perasaan Bpk/Ibu hari ini?
Bapak masih ingat latihan merawat anak Bapak seperti yang kita pelajari berberapa hari
yang lalu?
Mari praktekkan langsung ke klien! Berapa lama waktu Bapak/Ibu Baik kita akan coba 30
menit.
Sekarang mari kita temui anak bapak
Kerja:
Selamat pagi mba. Bagaimana perasaan mba hari ini?
Bpk/Ibu mba datang besuk. Beri salam! Bagus. Tolong mba tunjukkan jadwal
kegiatannya!
(kemudian saudara berbicara kepada keluarga sebagai berikut)
Nah Pak, sekarang Bapak bisa mempraktekkan apa yang sudah kita latihkan beberapa hari
lalu
(Saudara mengobservasi keluarga mempraktekkan cara merawat pasien seperti yang telah
dilatihkan pada pertemuan sebelumnya).
Bagaimana perasaan mba setelah berbincang-bincang dengan Orang tua mba?
Baiklah, sekarang saya dan orang tua ke ruang perawat dulu
(Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan terminasi dengan keluarga)
Terminasi:
Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita latihan tadi? Bapak/Ibu sudah bagus.
MulaisekarangBapaksudah bisa melakukancaramerawattadikepadaanak bapak
Tigaharilagikita akan
bertemuuntukmendiskusikanpengalamanBapakmelakukancaramerawat yang
sudahkitapelajari. Waktu dan tempatnyasamasepertisekarangPak
Sampaijumpa

SP 3 Keluarga : Menjelaskanperawatanlanjutan

ORIENTASI:
Selamat pagi Pak/Bu
Karena rencana anak bapak mau pulang, maka perlu kita bicarakan perawatan lanjutan di
rumah.
Bagaimana kalau kita membicarakan perawatan lanjutan tersebut disini saja
Berapa lama kita bisa bicara? Bagaimana kalau 30 menit?
KERJA:
Bpk/Ibu, ini jadwal anak bapak yang sudah dibuat. Coba dilihat, mungkinkah dilanjutkan?
Di rumah Bpk/Ibu yang menggantikan perawat. Lanjutkan jadwal ini di rumah, baik jadwal
kegiatan maupun jadwal minum obatnya
Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak
Bapak selama di rumah. Misalnya kalau anak bapak terus menerus tidak mau bergaul
dengan orang lain, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan
orang lain. Jika hal ini terjadi segera lapor ke rumah sakit atau bawa anak bapak ke rumah
sakit
TERMINASI:
Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian anak bapak. Jangan
lupa kontrol ke rumah sakit sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak. Silakan
selesaikan administrasinya!

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Isolasi soaial merupakan suatu gangguan hubungan interpersonal

yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang

menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang

dalam hubungan sosial.


Fokus pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan isolasi

sosial adalah sebagai upaya untuk menekspolasikan perasaanya

kepada orang lain, sehingga dengan fokus pelaksaan tersebut dapat

mengatasi masalah isolasi sosial dan juga masalah imefektif koping

individu, sehingga dua masalah tersebut dapat teratasi secara

langsung.
B. Saran
Hendaknya perawat memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengetahui ciri-ciri

pasienyang mengalami isolasi sosial sehingga dapat mengantisipasi terjadinya

komplikasi dari pasien tersebut. Hendaknya perawat melibatkan keluarga dalam

melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan jiwa.


DAFTAR PUSTAKA

Azis R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang : RSJD Dr. Amino Gondoutomo.2003
Keliat, B. A, 2002, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Jakarta : EGC
Stuart, dkk 2006, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3 Jakarta : EGC
Sulistiyowati, 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa, Jakarta : EGC
Tim Direktorat Keswa. Standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Bandung :
RSJPBandung. 2000
Townsend, M. C, 2002, Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada KeperawatanPsikiatti, Edisi 3
Jakarta : EGC
Petrick Herman. 2012. Asuhan keperawatan jiwa pada tn. a dengan isolasi sosial diruang elang
rumah sakit khusus (rsk)provinsi kalimantan baratpontianak. Pontianak diakses melalui
http://jrpatrickgaskins.blogspot.com/2012/07/asuhan-keperawatan-jiwa-pada-tn-dengan.html
pada tanggal 6 April 2015 jam 15.00 WIB