Anda di halaman 1dari 21

TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M.

Mooy (1221103)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mekanika merupakan ilmu yang menggambarkan dan meramalkan kondisi


benda yang diam atau bergerak karena pengaruh gaya yang beraksi padanya. Mekanika
biasanya dibagi dalam tiga bagian: mekanika benda tegar, mekanika benda lentuk, dan
mekanika fluida. Mekanika benda tegar dibagi menjadi statika dan dinamika, statika
menyangkut benda dalam keadaan diam/bergerak tanpa percepatan sedang dinamika
menyangkut benda yang bergerak. Dalam bahasa matematis statika menyangkut kondisi
benda dan gaya-gaya luar yang memenuhi: F = 0.

X xy xz x xy xz

xy y yz xy y yz

xz yz z xz yz z

Gambar 1.1 Model Tegangan Pada Suatu Titik

Telah disebutkan bahwa statika membahas suatu kondisi dimana F = 0. Dua


gaya F dan F akan memenuhi kondisi tersebut jika besarnya sama dengan arah
berlawanan. Misal suatu gaya F memiliki besar dan arah yang sama dengan gaya F,
tetapi memiliki garis aksi yang berbeda dengan gaya F, tidak akan memberikan efek
yang sama seperti F yangberaksi pada benda tegar. Walaupun F da n F dinyatakan oleh
vector yang sama, yaitu suatu vektor yang sama besar dan arahnya, kedua gaya ini tidak
ekivalen. Benar, kedua gaya ini cenderung memberi gerak yang sama terhadap benda
tegar yaitu gerak translasi, tetapi gaya itu menimbulkan rotasi yang berbeda terhadap
sembarang sumbu yang tegak-lurus terhadap gaya-gaya tersebut. Pengaruh gaya
tersebut terhadap rotasi biasa dinyatakan dengan Momen.

1
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

M = FF X
xd

Satu persyaratan lagi diperlukan bagi statika, kesetimbangan momen. M = 0.

1.2 Tujuan

Untuk mengetahui arti Gaya dan Statika, yang di dalamnya termasuk sifat-sifat
gaya dan keseimbangan Gaya.
Untuk mengetahui arti Momen yang mencakup momen satu gaya dan momen
kumpulan Gaya.
Penyusunan Gaya :
Menyusun Gaya secara grafis
Menyusun Gaya secara analitis
Menyusun beberapa buah gaya melalui titik tangkap

2
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

BAB I
PENDAHULUAN

2.1 Arti Gaya dan Statika

Di dalam ilmu fisika : Statika adalah ilmu yang mempelajari tentang


keseimbangan benda. Seharusnya definisi Statika adalah ilmu tentang keseimbangan
benda. Karena kalau kita lihat pada definisi yang pertama, subjeknya adalah ilmu
yang mempelajari tentang dan predikatnya adalah keseimbangan benda. Berarti yang
belajar adalah ilmunya sedangkan manusianya sebagai objek saja. , sedangkan Gaya
dapat didefisinikan sebagai sesuatu yang menyebabkan benda (titik materi) bergerak
baik dari diam maupun dari gerak lambat menjadi lebih lambat maupun lebih cepat.
Dalam teknik bangunan gaya berasal dari bangunan itu sendiri berat benda di atasnya
atau yang menempelnya, tekanan angin, gempa, perubahan suhu dan pengaruh
pengerjaan.
Gaya dapat digambarkan dalam bentuk garis (atau kumpulan garis) yang
memiliki dimensi besar, garis kerja, arah kerja dan titik tangkap. Satuan gaya menurut
Sistem SatuanInternasional (SI) adalah Newton dan turunannya (kN). Akan tetapi ada
2
yang memberi satuan kg gaya (kg). Bila gravitasi bumi diambil 10 m/ s maka

hubungan satuan tersebut adalah 1 kg gaya (atau sering ditulis 1 kg) ekuivalen dengan
10 Newton. Pada gambar dibawah ini dijelaskan pengertian gaya tersebut.

B A : Titik tangkap gaya


P : Besar gaya
AB : Garis kerja gaya
A Arah panah : arah gaya
P = 10kN

2.2 Jenis Jenis Gaya


Berikut beberapa jenis gaya :
Gaya gravitasi

3
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

Nama gravitasi disini diberikan pada gaya yang mana ada interaksi bumi
pada seluruh benda. Gaya gravitasi dimiliki oleh setiap benda yang bermassa.
Gaya gravitasi pada setiap benda dipermukaan bumi dianggap sama. Dengan hanya
0.5 % perbedaan di khatulistiwa dengan di kutub. Arah gaya gravitasi adalah ke
pusat bumi. Jika dijatuhkan sebuah benda dekat permukaan bumi dan mengabaikan
resistansi udara sehingga satu-satunya gaya yang bekerja pada bendaitu adalah
gaya karena gravitasi (keadaan ini dinamakan gerak jatuh bebas), benda dipercepat
ke bumi dengan percepatan 9,81 m/s2. Pada tiap titik di ruang, percepatan ini sama
untuk setiap benda, tak bergantung pada massanya. Nilai percepatan ini dimisalkan

fg
dengan g. Dari hukum kedua newton, dapat dirumuskan gaya gravitasi pada

fg
benda bermassa m sebagai = m.a Dengan menggunakan a = g dan menulis w

untuk gaya gravitasi, maka didapatkan W = m.g. Karena pada tiap lokasi tertentu,
berat sebuah benda sebanding dengan massanya, dapat dibandingkan massa sebuah
benda dengan massa benda lain dengan membandingkan beratnya di lokasi yang
sama. Gaya gravitasi dapat digunakan untuk menetapkan satuan gaya. Pertama,
balok logam well-machined yang dihasilkan dan berubah-ubah disain sebagai
standar. Gaya gravitasi pada balok diambil 1 unit gaya. Kedua, sejumlah standar
kedua dihasilkan dari standar pertama. Dilakukan dengan menyeimbangkan pada
suatu alat timbangan. Ketiga, balok logam misalnya , , 5, 10 lb dan lainnya
dihasilkan dari standar kedua, dan akan diperoleh seperangkat pembanding berat.
Berat suatu benda yang tidak diketahui diperoleh dengan cara menimbang dan
menyetarakan dengan perangkat pembanding berat
Gaya pegas
Sebuah pegas yang dibuat dengan cara melilitkan kawat yang kaku menjadi
sebuah kumparan adalah alat yang lazim. Gaya yang dikerjakan oleh pegas jika ia
ditekan atau diregangkan adalah hasil dari gaya intermolekuler yang rumit di dalam
pegas, tetapi gambaran empiris tentang perilaku makroskopikpegas adalah cukup
untuk kebanyakan terapan. Jika pegas ditekan atau diregangkan kemudian dilepas,
pegas kembali ke panjang asal atau alamiahnya, jika perpindahannya tidak terlalu
besar. Ada suatu batas untuk perpindahan itu, di atas nilai itu pegas tidak kembali
ke panjang semulanya tetapi tinggal secara permanen dalam keadaan yang telah
berubah. Bila suatu pegas digantung secara vertikal, kemudian pada pegas tersebut

4
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

digantung suatu beban yang tidak melebihi batas elastisitas pegas maka pegas

fg fg
tersebut akan tertarik ke bawah oleh gaya gravitasi sebesar : =k.x =

gaya gravitasi; k = konstanta gravitasi; x = pertambahan panjang. Karena berada


dalam kesetimbangan, maka menurut hukum 3 newton tentang gerak resultan gaya

fg fk fk fk
adalah nol, + =0 = -k.x adalah gaya yang dilakukan pegas

yang arahnya berlawanan dengan gaya gravitasi.Gaya yang dikerjakan oleh pegas
sama dengan gaya yang dikerjakan oleh satu atom pada atom lain dalam sebuah
molekul atau zat padat dalam arti bahwa, untuk perpindahan yang kecil dari
kesetimbangan, gaya pemulih sebanding dengan perpindahan
Gaya Normal
Ketika suatu benda berada dalam keseimbangan maka gaya-gaya yang
beraksi padanya harus sama dengan nol (sifat 5: hukum 1 Newton tentang gerak).
Misalnya bila suatu benda berada pada suatu meja dalam keadaan diam maka
selain gaya gravitasi yang dilakukan benda terhadap bumi maka harus ada gaya
penyeimbangnya, yaitu gaya normal. Gaya normal adalah gaya yang dilakukan
oleh permukaan kontak benda yang arahnya tegak lurus bidang kontaknya, maka

fg
disebut juga gaya kontak. Pada contoh di atas jika gaya gravitasi arahnya ke

fg
bawah maka gaya normal Fc arahnya adalah berlawanan ditandai negatif dan

fc fg
memiliki besar yang sama. = - .Gaya normal merupakan suatu gaya

fg
aksi reaksi, bila adalah gaya aksi, maka Fc merupakan gaya reaksinya.

Gaya gesekan
Gaya gesekan muncul bilamana suatu benda meluncur di atas benda lain.
Gaya ini sejajar dengan permukaan benda umumnya arah aksinya berlawanan
dengan gaya ekternal yang diberikan. Misalnya, bila suatu benda berada pada meja

fa ff
dan kita tarik gaya yang kecil . maka benda akan tetap diam karena >

fa fa ff
. jika gaya yang kecil itu diperbesar mendekati , maka

kesetimbangan benda goyah dan benda akan mulai bergerak. Gaya gesekan

5
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

maksimum benda bergantung pada sifat alamiah dua permukaan benda dan besar

fc
gaya kontak .

ff = .fc

Ketika benda diam hingga mulai akan bergerak, makagaya gesekannya menjadi :
ff = s . f c

Sedangkan ketika benda bergerak gaya gesekannya menjadi :


ff = k . f c

s k
Dengan adalah koefisien gesekan statis dan adalah koefisien gesekan

dinamis.

6
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

2.3 Komponen Gaya

fx fy
Dalam dua persoalan gaya yang tegak lurus dan dimana jumlah

fx fy
vektor sama dengan F = +

fx fy
Gaya gaya Fx dan Fy disebut komponen gaya F. Operasi mencari dan

disebut memecah F dalam komponen-komponennya. Misalnya, gaya F yang didesak


oleh otot deltoid pada tulang lengan atas ketika lengan direntangkan. Dari studi x-ray
didapat bahwa otot mendesakkan gaya kira-kira 15terhadap tulang lengan atas. Gaya ini
melakukan dua fungsi yang berbeda: (1) mendukung lengan melawan gaya gravitasi (2)
menyeimbangkan persendian tulang dengan menarik tulang lengan atas terhadap tulang
belikat. Besar gaya yang terlibat dalam setiap fungsi ini didapatkan dengan memecah F
dalam komponen gaya yang sejajar dan tegak lurus lengan atas.

Adapun cara menentukan komponen-komponen gaya adalah


Menggunakan metode grafik.
Dilakukan dengan menggambar sketsa gaya F di atas suatu garis lurus horisontal
dengan tanda arah panah menunjukan arah gaya dan panjang arah panah
menunjukan besar gaya, dimana dilakukan dengan melakukan perbandingan skala.
Kemudian memproyeksikannya pada arah horisontal dan vertikal secara manual.
Metoda ini tidaklah efektif karena membutuhkan ketelitian tinggi dalam mensketsa
panjang gaya.
Menggunakan metode tigonometri.
Dilakukan dengan menggunakan sifat trigonometri dengan garis miring gaya F
dinyatakan dalam segitiga siku-siku. Komponen-komponen gaya diperoleh dengan
memproyeksikan gaya F dalam arah horisontal dan vertikal menggunakan sifat
trigonometri seperti sinus dan cosinus. Walaupun metode ini sedikit rumit, metode
ini memiliki ketepatan tinggi dan praktis digunakan.

Gaya-gaya kolinier (colinear forces) = gaya-gaya yang segaris kerjanya terletak pada
satu garis lurus
Gaya-gaya koplanar (coplanar forces) = gaya-gaya yang garis kerjanya terletak pada
satu bidang rata

7
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

Gaya-gaya ruang (three dimensional system of forces) = gaya-gaya yang bekerja


didalam ruang
Gaya-gaya konkuren (concurrent forces) = gaya-gaya yang garis kerjanya melalui
sebuah titik sedang jika sebaliknya disebut nonkonkuren
Gaya-gaya sejajar = gaya-gaya yang garis kerjanya sejajar baik pada bidang rata
maupun dalam ruang

P 1
P 3
P 1
P 2
P 2
Kolinier Koplanar

P 1P 2
P 3
P 1
P 1

P 2
P 2
P 3
P 3
Sejajar

Ruang Konkuren Nonkonkuren

2.4 Sifat sifat Gaya

Sifat sifat gaya dibutuhkan untuk menentukan gaya yang bekerja dengan
menggambarkan operasi dan mengukurnya.
Sifat 1 : gaya tarikan atau dorongan, seperti pada kontraksi otot. Gaya selalu bekerja
oleh suatu benda ke benda lainya.
Sifat 2 : gaya dikarakterisasi oleh besar dan arahnya dimana gaya bekerja. Itulah, baik
besar dan arahnya dibutuhkan untuk mencirikan gaya lengkap. Besar dapat dinyatakan
dalam berbagai unit satuan, dan sekarang pound inggris akan digunakan. Gaya1 lb
adalah gaya yang dibutuhkan untuk menopang berat 1 lb. arah gaya adalah arah dimana
gaya cenderung terhadap benda dimana dilakukannya. Arah ditunjukan dengan tanda
panah gambar 2.1, dimana diidentifikasikan dengan panjang tali. Kuantitas besar dan

8
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

arah disebut vektor. Arah panah menunjukan besar vektor. Simbol gaya ditulis huruf
besar tebal (F) atau huruf besar miring (F)
Sifat 3 (hukum 3 newton tentang gerak) : gaya selalu berpasangan. Dua gaya yang
berpasangan dinyatakan dengan gaya aksi dan gayareaksi. Gaya aksi reaksi bekerja
pada dua benda yang berbeda.Hukum newton (1 2 3)merupakan salah satu hukum
alam.
Sifat 4 : jika dua (atau lebih gaya ) beraksi secara bersamaan pada benda yang sama,
pengaruhnya adalah sama seperti gaya tunggal yang merupakan penjumlahan vektor
dari gaya individu.
Sifat 5 : (hukum pertama newton tentang gerak) untuk suatu benda tetap pada keadaan
diam, contohnya berada dalam keseimbangan, dibutuhkan bahwa jumlah vektor dari
seluruh gaya yang beraksi padanya adalah nol.

Hukum I Newton
HUKUM NEWTON I disebut juga hukum kelembaman (Inersia). Sifat lembam
benda adalah sifat mempertahankan keadaannya, yaitu keadaan tetap diam atau
keaduan tetap bergerak beraturan.
Definisi hukum I Newton :
Setiap benda akan tetap bergerak lurus beraturan atau tetap dalam keadaan diam
jika tidak ada resultan gaya (F) yang bekerja pada benda itu, jadi:
F = 0 , a = 0 karena v = 0 (diam), atau v= konstan (GLB)
Hukum II Newton
Jika benda bermasa M di kerjai oleh gaya F sehingga timbul percepatan maka
percepatan yang terjadi arahnya searah dengan arah F besarnya percepatan
berbanding lurus dengan F dan berbanding dengan massa itu.
a = F/m
F = ma
F = jumlah gaya-gaya pada benda
m = massa benda
a = percepatan benda
Rumus ini sangat penting karena pada hampir semna persoalan gerak
{mendatar/translasi (GLBB) dan melingkar (GMB/GMBB)} yang berhubungan
dengan percepatan den massa benda dapat diselesaikan dengan rumus tersebut.
Hukum III Newton

9
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

Jika suatu benda mengerjakan gaya pada benda kedua maka benda kedua tersebut
mengerjakan juga gaya pada benda pertama, yang besar gayanya = gaya yang
diterima tetapi berlawanan arah. Perlu diperhatikan bahwa kedua gaya tersebut
harus bekerja pada dua benda yang berlainan.
F aksi = - F reaksi
Hukum IV Newton
Benda di jagat raya ini melakukan gaya tarik menarik dan tolak menolak yang
tegak lurus dengan garis lurus dengan massanya dan tegak lurus dengan kuadrat
jaraknya.

M2

M1 M3

M 1 M2 M 1 M2
F ~ R 2 = G R2
G = konstanta grafitasi
G = percepatan grafitasi

2.5 Kesetaraan dan Keseimbangan Gaya

Kesetaraan gaya adalah kesamaan pengaruh antara gaya pengganti (resultan)


dengan gaya yang diganti (gaya komponen) tanpa memperhatikan titik tangkap
gayanya. Dengan demikian pada suatu keadaan tertentu, walaupun gaya sudah setara
atau ekuivalen, ada perbedaan pengaruh antara gaya pengganti dengan yang diganti.
Pada prinsipnya gaya dikatakan setara apabila gaya pengganti dan penggantinya baik
gerak translasi maupun rotasi besarnya sama. Pada gambar 9 gaya P yang bertitik
tangkap di A dipindahkan di B dalam garis kerja yang sama adalah setara (dalam arti
efek gerak translasi dan rotasinya) tetapi hal ini dapat berpengaruh terhadap jenis gaya
yang dialami benda, pada waktu titik tangkap gaya di A mengalami gaya tekan, sedang
pada waktu di B benda mengalami gaya tarik
P P

10
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

A B
Benda yang dikenai
Keseimbangan gaya adalah hampir sama dengan kesetaraan gaya bedanya pada
arah gayanya. Pada kesetaraan gaya antara gaya pengganti dengan gaya yang diganti
arah yang dituju sama, sedang pada keseimbangan gaya arah yang dituju berlawanan,
gaya pengganti (reaksi) arahnya menuju titik awal dari gaya yang diganti (aksi). Pada
gambar 10 divisualisasikan keseimbangan gaya.
P P

A B
Benda yang dikenai
Dengan kata lain keseimbangan gaya yang satu garis kerja dapat dikatakan bahwa
gaya aksi dan reaksi besarnya sama tapi arahnya berlawanan. Pada statika bidang
(koplanar) ada dua macam keseimbangan yaitu keseimbangan translasi (keseimbangan
gerak lurus) dan keseimbangan rotasi (keseimbangan gerak berputar). Untuk mencapai
keseimbangan dalam statika disyaratkan Gy= 0 (jumlah gaya vertikal = 0), Gx = 0
(jumlah gaya horisontal = 0) dan M=0 (jumlah momen pada sebuah titik =0).

2.6 Menyusun Gaya yang Setara

Istilah lain menyusun gaya adalah memadu gaya atau mencari resultan gaya. Pada
prinsipnya gaya-gaya yang dipaduharus setara (ekuivalen) dengan gaya resultannya.
1) Menyusun Gaya yang Kolinier
Menyusun Gaya yang Kolinier yang Satu Arah
P1 P2 P3
A B C
A R
Secara analitis : R = P1 + P2 + P3
Menyusun Gaya yang Kolinier dengan Arah Berlawanan
P1 P2 P3
A B C
A R

11
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

Secara analitis : R =A + C B

2) Menyusun Dua Gaya yang Konkuren


Secara grafis, gaya Resultan dapat ditentukan dengan menggunakan jajaran
genjang gaya dan atau segitiga gaya.

P1 P1 R P1 R

a f f P sin =y

A p A P2 A P2 P sin =x

y
Arah gaya resultan = are tg p2 +x

Secara analitis besarnya gaya Resultan adalah :

R= ( P + P + 2 P
1 2 1. P2. cos )

3) Menyusun Beberapa Gaya Konkuren


Secara grafis, gaya Resultan dapat ditentukan dengan jajaran genjang gaya dan
atau dengan segi banyak.
P1 p1 P1
R1

P2 A

P4 a P2 A P4 R
R2

P3 P3 P4 P3

Cara Analitis
Gaya-gaya yang akan dicari resultannya diuraikan dalam arah sumbu X dan sumbu
Y. Titik tangkap gaya-gaya harus dilalui oleh kedua sumbu tersebut. Sumbu X
dapat horisontal ataupun miring. Dipilih mana yang memudahkan perhitungan.
Yang penting kedua sumbu itu saling tegak lurus. Perhatikan gambar di bawah ini

12
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

(gambar 19). Dalam gambar 19 dipilih sumbu X horisontal dan sumbu Y vertikal.
P1 diuraikan menjadi X1 = P1 cos a1 dan Y1 = P1sin a1; P2 diuraikan menjadi
X2= P2 cos a2 dan Y2 = P2 sin a2 dan seterusnya sehingga Pn diuraikan menjadi
Xn = Pn cos an dan Yn=Pn sin an.
Jadi diperoleh :
Xr = P1 cos a1 +P2 cos a2 + + Pn cos an
atau secara umum ditulis :
Xr = S Pn cos an Dengan cara yang sama diperoleh : Yr= S Pn sin an

P2 P1 P2

P1

A A P1 cos a1

P3 P3 P3 sin a3

Besarnya resultan : R = X r +Y r
Yr Yr
Arah resultan : tg f = Xr atau f = are tg = Xr

2.7 Menyusun Dua Buah Gaya yang Arahnya Berlawanan.

Misalkan gaya seperti pada gambar 23 di bawah ini. P1 arahnya ke bawah dan besarnya
1 kN sedang P2= 2 kN arahnya ke atas. Secara grafis dapat dicari besar, arah dan letak
resultan sebagai berikut :

13
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

P2

P1= 1 KN P2= 2 KN 3

A B R 1 s

a=5m X 2

II III P1

R H

I ( BEBAS )

Cara melukis sama seperti pada contoh 1) tetapi harusdipahami benar konsep
lukisannya. Di sini gaya P2ke atas.Oleh karena itu walaupun ujung P2di atas,
lukisannya paling akhir. Dan tampak letak R tidak di antara P1 dan P2, tetapi terletak di
luar P1 dan P2.
Secara analitis juga dapat dihitung seperti pada di atas. Dalam hal ini hitungan menjadi:
Misal jarak resultan dengan titik A = x, maka :
R . x = P2 . a ------- ? R = P2P1 = 2 1 = 1 ton Arahnya ke atas
P2 . a 2.5
X= R = 1 = 10

Jadi letak resultan 10 m dari titik A Untuk gaya yang lebih dari dua, cara menghitung
danmelukisnya sama seperti pada dua gaya. Perhitungan secara grafis menggunakan
lukisan kutub dan secara analitis menggunakan dalil momen statis terhadap suatu titik
momen resultan sama dengan jumlah momen komponen.

2.8 Menguraikan Gaya Yang Setara


1) Menguraikan Sebuah Gaya menjadi Dua Buah Gaya yang Konkuren
Secara grafis dapat dilakukan dengan jajaran genjang gaya dan atau segitiga
gaya.
A

a P2 L2 P1

L1 P1 P P2

P Cara 1 Cara2

14
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

Secara analitis dapat digunakan rumus sinus sebagai berikut :

a b c
= sin + sin + sin

Bila salah satu sisinya (gaya yang akan dibagi) diketahui besarnya dan besarnya
sudut dalam diketahui, maka panjang (besarnya) sisi yang lain dapat diketahui .

A b

a a a

L1 L2 ?

Contoh :

Diketahui gaya P = 10 kN akan dibagi menjadi dua gaya yang bergaris kerja L1
dan L2 seperti gambar 33. Diminta besar dan arah gaya komponen (P1 dan P2).

A B

45 0 300 b

L2 L1 a

C c ? P = 10 KN

P = 10 KN Gambar 33

Perhitungan cara grafis dapat dilihat pada gambar 33. Besarnya gaya komponen
P1dan P2 dapat dihitung dengan mengalikan panjang garis masing -masing
terhadap skala gaya 4 ton = 1 cm. Diperoleh P1 = 1,9 . 4 = 7,2 kN, P2 = 2,3 . 4
= 9,2 kN

Cara anaitis :

P P P 0 0
sin = sin = sin = 45 ; ? = 60

0 0 0
a= 180 - 45 - 60

15
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

0
a= 75

Menghitung P1

P1 P sin 450
sin 45
0 = sin75
0 P1 = sin 750 . 10 = 7,32 KN

Menghitung P2
0
P2 P sin60
sin60 0 = sin75 0 P2 = sin75
0 . 10 = 8,97 KN

2) Membagi Sebuah Gaya menjadi Dua Buah Gaya yang tidak Konkuren

Lihat gambar 34. Gaya P = 10 kN akan dibagi menjadi P1 dan P2yang garis
kerjanya masing-masing melalui A dan C.

P1 P = 10 KN P2

A B C O

2m 3m P1 3

III P2

II P = 10 KN

I Gambar 34

Cara Grafis :

1) Gambarlah garis kerja gaya P, P1 dan P2 dengan skala jarak antar garis kerja
yang tertentu, misalnya dibuat skala 1 cm =1 m.

2) Gambar gaya P = 10 kN dengan skala tertentu pula, misal 1 cm = 4 kN. Dan


tentukan titik kutub O (sembarang). Usahakan jarak kutub ini sedemikian

16
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

rupa sehingga lukisan poligon batang nantinya tidak terlalu tumpul dan tidak
terlalu runcing.

3) Tarik garis 1 melalui pangkal gaya P = 10 kN dan melalui titik O.

4) Lukis garis I sejajar garis 1, yang memotong garis kerja gaya P1 dan gaya P.

5) Lukis garis 2 melalui ujung P = 10 kN dan melalui titik O.

6) Lukis garis II sejajar garis 2, yang melalui perpotongan garis I dan garis kerja
P dan melalui garis kerja P2.

7) Lukis garis III yang melalui titik potong antara garis kerja P1 dan garis I, dan
melalui titik potong antara garis kerja P2 dan garis 2

8) Lukis garis 3 sejajar garis III yang melalui titik kutub dan memotong gaya P =
10 kN.

Setelah selesai langkah lukisan di atas, selanjutnya adalah mengukur panjang


garis yang menyatakan besarnya P1dan P2. Besarnya gaya P1 diukur dari
pangkal gaya P = 10 kN sampai perpotongan garis 3 dengan gaya P sampai
ujung gaya P. Hasil pengukuran tersebut kemudian dikalikan dengan skala gaya
yang dipakai. Dalam persoalan ini diperoleh gaya P1 = 1,5 . 4 = 6 kN dan gaya
P2 = 1 . 4 = 4 kN.

Cara analitis :

Dengan menggunakan statis momen, yaitu Momen Resultan = Jumlah Momen


Komponen.

Statis Momen terhadap titik A (lihat gambar 34)

Statis momen terhadap titik C

b. Menguraikan Sebuah Gaya menjadi Tiga Buah Gaya

17
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

1) Menguraikan Sebuah Gaya menjadi Tiga Buah Gaya yang tidak


Konkuren

Misalnya gaya P akan diganti menjadi gaya P1, P2 dan P3 yang telah
ditentukan garis kerjanya (gambar 35).

Usaha pertama adalah membuat gaya-gaya tersebut menjadi konkuren.


Dalam membuat konkuren tidak dapat dilakukan sekali, tetapi harus
dilakukan dua kali. Dalam hal ini, carilah lebih dulu titik pertemuan antara
garis kerja gaya yang diganti dengan salah satu garis kerja gaya pengganti,
misalnya titik pertemuannya di A. Kemudian agar diperoleh titik tangkap ang
konkuren, maka dua garis kerja pengganti yang lain disatukan menjadi
sebuah garis kerja (garis kerja persekutuan), misal titik pertemuan antara
antara dua gaya pengganti tersebut di C. Garis yang menghubungkan titik A
dengan titik C merupakan garis kerja persekutuan yang dimaksud di atas
dan membuat gaya diganti dengan ketiga gaya penggantinya yang
konkuren. Dari tiga garis kerja yang konkuren inilah dapat dilukis
penggantian sebuah gaya menjadi dua buah gaya, yaitu sebuah gaya
pengganti P3 dan sebuah gaya persekutuan (paduan P1 dan P2). Selanjutnya
gaya persekutuan ini diganti menjadi gaya P1 dan P2 (gambar 35). Jadi tiga
gaya pengganti telah diketahui semuanya, besarnya tinggal mengukur
panjang garisnya dikalikan dengan skala gaya yang dipakai.
Mengganti/membagi sebuah gaya menjadi tiga buah gaya yang tidak
konkuren ini merupakan dasar metode Cullmann dalam menghitung
besarnya gaya batang pada konstruksi rangka.

Cara analitis,

Karena gaya-gayanya tidak konkuren, maka untuk menghitung gaya yang


belum diketahui dipakai Statis Momen. Pemilihan titik yang dipakai
sebagai pusat momen harus diperhatikan sedemikian sehingga dalam
sebuah persamaan hanya mengandung sebuah bilangan yang belum
diketahui. Untuk persoalan di atas (gambar 35) dipilih dahulu titik C sebagai
pusat momen, sehingga dapat dihitung gaya P 3 (bila dipilih titik A sebagai
pusat momen, maka ada dua bilangan yang belum diketahui yaitu P1 dan
P2).

18
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

Statis momen terhadap titik C :

P3 dimisalkan arah ke kanan

P .(a+b)
P3 = - c jadi P3 sebenarnya ke kiri

Statis momen terhadap titik B :

P2 dimisalkan arahnya ke kanan

berarti arah P2 yang benar ke kanan


Statis momen terhadap titik D :

P (a + b) = P2 . c + P1. d dimisalkan
arahnya ke atas

P . ( a+b )+ P 2. C
P1 = d

P . a+ P . b+ P . a P.b
P1 = d = d jadi arah P1 ke atas

Hitungan cara analitis ini merupakan dasar dari metode Ritter untuk mencari
besarnya gaya batang pada konstruksi rangka batang. Untuk lebih memahami
sebuah gaya menjadi tiga buah gaya yang tidak konkuren, baik secara grafis
maupun secara analitis.

Contoh :

Hitunglah gaya pengganti P1, P2 dan P3, dari sebuah gaya P = 2 kN, yang
masing-masing garis kerjanya l1, l2 dan l3 seperti

19
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

Penyelesaian :

Cara grafis :

Skala gaya yang dipakai 1 cm = 2 kN; skala jarak 1 cm = 2 m. Lukisan untuk


menghitung gaya pengganti adalah seperti pada

Cara analitis, lihat gambar 36

Statis momen terhadap titik E

20
TUGAS BESAR STATIKA Sertin N. M. Mooy (1221103)

P3 dimisalkan ke kanan

jadi P3 ke kiri

Statis momen terhadap titik D

P1 dimisalkan ke atas

ke atas

Statis momen terhadap titik B

P2 dimisalkan ke atas

ke bawah

21