Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

KOLERASI IMAN DAN TAQWA

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam
Dosen Pembimbing : DRA. SITI MUHAYATI, M.A.

Disusun Oleh :
Evi Ristiana Agustin (NIM : 16431008)

PROGAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI MADIUN
2016/2017

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya kepada kita dan tak lupa shalawat serta salam selalu kita limpahkan
kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawakan kita kepada suatu
ajaran yang benar yaitu agama Islam, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Kolerasi Keimanan dan Ketaqwaan ini dengan lancar.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis peroleh
dari berbagai sumber yang berkaitan dengan agama islam serta infomasi dari media massa
yang berhubungan dengan agama islam. Dalam penulisan makalah ini tentunya penulis
mendapat bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu rasa terimakasih yang setulus-
tulusnya penulis sampaikan kepada :
DRA. SITI MUHAYATI, M.A. selaku dosen mata kuliah Pendidikan Agama
Islam.
Orangtua yang selalu memberi dukungan.
Serta rekan-rekan mahasiswa yang telah banyak memberi masukan dalam
makalah ini.

Penulis harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua,
dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai implementasi iman dan taqwa dalam
kehidupan modern, khususnya bagi penulis. Makalah ini memang masih jauh dari sempurna,
maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang
lebih baik.

Madiun, 18 Maret 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................ii
DAFTAR ISI..............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................1
1.3 Tujuan Masalah...................................................................................................2
1.4 Manfaat................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
1. Pengertian Iman..................................................................................................3
2. Tanda-tanda Orang yang Beriman..........................................................................5
3. Pengertian Taqwa ..................................................................................................6
4. Tanda-tanda orang Bertaqwa ................................................................................7
5. Korelasi antara Keimanan dan Ketaqwaan............................................................7
BAB III KESIMPULAN............................................................................................9
BAB IV SARAN........................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................11

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia dalam menjalani kehidupan selalu berinteraksi dengan manusia lain atau dengan
kata lain melakukan interaksi sosial. Dalam melakukan interaksi sosial manusia harus
memiliki akhlak yang baik agar dalam proses interaksi tersebut tidak mengalami hambatan
atau masalah dengan manusia lain. Proses pembentuk akhlak sangat berperan dalam masalah
keimanan dan ketaqwaan seseorang. Keimanan dan ketaqwaan seseorang berbanding lurus
dengan akhlak seseorang atau dengan kata lain semakin baik keimanan dan ketaqwaan
seseorang maka semakin baik pula akhlak seseorang, hal ini karena keimanan dan ketaqwaan
adalah modal utama untuk membentuk pribadi seseorang. Keimanan dan ketaqwaan pada
dasarnya adalah potensi yang ada dan melekat pada manusia sejak ia lahir. Hanya saja
sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan, seseorang yang telah terjamah oleh
lingkungan sekitarnya akan membuat potensi tersebut semakin muncul atau malah potensi
tersebut akan hilang secara perlahan.
Saat ini keimanan dan ketaqwaan telah dianggap sebagai hal yang biasa oleh masyarakat
umum, bahkan ada yang tidak mengetahui sama sekali arti yang sebenarnya dari keimanan
dan ketaqwaan tersebut. Hal ini dikarenakan manusia selalu menganggap remeh dan
mengartikan keimanan itu hanya sebagai arti bahasa, tidak mencari makna yang sebenarnya
dan membiarkan hal tersebut berjalan begitu saja. Oleh karena itu, persoalan dan masalah-
masalah yang terpapar diataslah yang melatar belakangi penulis untuk membahas dan
mendiskusikan tentang kolerasi keimanan dan ketaqwaan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian iman?
2. Bagaimana tanda-tanda orang yang beriman?
3. Apa pengertian taqwa?
4. Bagaimana tanda-tanda orang yang bertaqwa?
5. Bagaimana korelasi antara keimanan dan ketaqwaan?

1
1.3 Tujuan

1. Mendeskripsikan pengertian iman

2. Memaparkan tanda-tanda orang yang beriman dan bertaqwa

3. Mendeskripsikan pengertian taqwa

4. Menjelaskan korelasi antara keimanan dan ketaqwaan

5. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam

1.4 Manfaat

1. Meningkatkan pengetahuan penulis dan pembaca tentang konsep iman dan taqwa.

2. Mampu mendeskripsikan iman dan taqwa

3. Mengetahui ciri-ciri orang beriman dan bertaqwa

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Iman
Iman menurut bahasa adalah yakin, keimanan berarti keyakinan. Dengan demikian,
rukun iman adalah dasar, inti, atau pokok pokok kepercayaan yang harus diyakini oleh
setiap pemeluk agama Islam. Kata iman juga berasal dari kata kerja amina-yumanu
amanan yang berarti percaya. Oleh karena itu iman berarti percaya menunjuk sikap batin
yang terletak dalam hati. Akibatnya, orang yang percaya kepada Allah dan selainnya seperti
yang ada dalam rukun iman, walaupun dalam sikap kesehariannya tidak mencerminkan
ketaatan atau kepatuhan (taqwa) kepada yang telah dipercayainya masih disebut orang yang
beriman. Hal tersebut dikarenakan adanya keyakinan bahwa yang tahu tentang urusan hati
manusia adalah Allah dan dengan membaca dua kalimah syahadat telah menjadi Islam.
Dalam surah al-Baqarah ayat 165 :


Artinya :
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang
yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang
berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa
kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya
mereka menyesal).
Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah Atthabrani, iman didefinisikan dengan
keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan (Al-
Immaanu aqdun bil qalbi waigraarun billisaani waamalun bil arkaan). Dengan demikian,
iman merupakan kesatuan atau keselarasan antara hati, ucapan, dan laku perbuatan, serta
dapat juga dikatakan sebagai pandangan dan sikap hidup atau gaya hidup.

Definisi Iman Secara Istilah Syariy

3
1) Al-Imaam Ismaaiil bin Muhammad At-Taimiy rahimahullah berkata :

Iman dalam pengertian syariy adalah satu perkataan yang mencakup makna semua
ketaatan lahir dan batin [Al-Hujjah fii Bayaanil-Mahajjah, 1/403].

An-Nawawiy menukil perkataannya :

Iman dalam istilah syariy adalah pembenaran dengan hati dan perbuatan dengan anggota
tubuh [Syarh Shahih Muslim, 1/146].

2) Imaam Ibnu Abdil-Barr rahimahullah berkata :

Para ahli fiqh dan hadits telah sepakat bahwasannya iman itu perkataan dan perbuatan.
Dan tidaklah ada perbuatan kecuali dengan niat [At-Tamhiid, 9/238].

3) Al-Imaam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata :

: .
. : ..

Hakekat iman terdiri dari perkataan dan perbuatan. Perkataan ada dua : perkataan hati,
yaitu itiqaad; dan perkataan lisan, yaitu perkataan tentang kalimat Islam (mengikrarkan
syahadat Abul-Jauzaa). Perbuatan juga ada dua : perbuatan hati, yaitu niat dan
keikhlasannya; dan perbuatan anggota badan. Apabila hilang keempat hal tersebut, akan
hilang iman dengan kesempurnaannya. Dan apabila hilang pembenaran (tashdiiq) dalam
hati, tidak akan bermanfaat tiga hal yang lainnya [Ash-Shalaah wa Hukmu Taarikihaa, hal.
35].

Kata iman yang tidak dirangkaikan dengan kata lain dalam al-Quran, mengandung
arti positif. Dengan demikian, kata iman yang tidak dikaitkan dengan kata Allah atau dengan
ajarannya, dikatakan sebagai iman haq. Sedangkan yang dikaitkan dengan selainnya, disebut
iman bathil.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengertian iman adalah pembenaran dengan segala
keyakinan tanpa keraguan sedikitpun mengenai yang datang dari Allah SWT dan rasulNya.

2. Tanda-tanda Orang yang Beriman

4
Al-Quran menjelaskan tanda-tanda orang yang beriman sebagai berikut:

1. Jika disebut nama Allah, maka hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah tidak lepas
dari syaraf memorinya, serta jika dibacakan ayat al-Quran, maka bergejolak hatinya untuk
segera melaksanakannya (al-Anfal: 2). Dia akan berusaha memahami ayat yang tidak dia
pahami sebelumnya.

2. Senantiasa tawakkal, yaitu bekerja keras berdasarkan kerangka ilmu Allah, diiringi
dengan doa, yaitu harapan untuk tetap hidup dengan ajaran Allah menurut Sunnah Rasul (Ali
Imran: 120, al-Maidah: 12, al-Anfal: 2, at-Taubah: 52, Ibrahim: 11, Mujadalah: 10, dan at-
Taghabun: 13).

3. Tertib dalam melaksanakan shalat dan selalu menjaga pelaksanaannya (al-Anfal:3dan al-
Muminun: 2, 7). Bagaimanapun sibuknya, kalau sudah masuk waktu shalat, dia segera shalat
untuk membina kualitas imannya.

4. Menafkahkan rezki yang diterimanya (al-Anfal: 3 dan al-Mukminun: 4). Hal ini
dilakukan sebagai suatu kesadaran bahwa harta yang dinafkahkan di jalan Allah merupakan
upaya pemerataan ekonomi, agar tidak terjadi ketimpangan antara yang kaya dengan yang
miskin.

5. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan (al-Mukminun:


3, 5). Perkataan yang bermanfaat atau yang baik adalah yang berstandar ilmu Allah, yaitu al-
Quran menurut Sunnah Rasulullah.

6. Memelihara amanah dan menempati janji (al-Mukminun: 6). Seorang mumin tidak akan
berkhianat dan dia akan selalu memegang amanah dan menepati janji.

7. Berjihad di jalan Allah dan suka menolong (al-Anfal: 74). Berjihad di jalan Allah adalah
bersungguh-sungguh dalam menegakkan ajaran Allah, baik dengan harta benda yang dimiliki
maupun dengan nyawa.

5
8. Tidak meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin (an-Nur: 62). Sikap seperti itu
merupakan salah satu sikap hidup seorang mukmin, orang yang berpandangan dengan ajaran
Allah dan Sunnah Rasul.
Akidah Islam sebagai keyakinan membentuk perilaku bahkan mempengaruhi kehidupan
seorang muslim. Abu Ala Maududi menyebutkan tanda orang beriman sebagai berikut:
1. Menjauhkan diri dari pandangan yang sempit dan picik.
2. Mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri dan tahu harga diri.
3. Mempunyai sifat rendah hati dan khidmat.
4. Senantiasa jujur dan adil.
5. Tidak bersifat murung dan putus asa dalam menghadapi setiap persoalan dan situasi.
6. Mempunyai pendirian yang teguh, kesabaran, ketabahan, dan optimisme.
7. Mempunyai sifat ksatria, semangat dan berani, tidak gentar menghadapi resiko, bahkan
tidak takut kepada maut.
8. Mempunyai sikap hidup damai dan ridha.
9. Patuh, taat, dan disiplin menjalankan peraturan Ilahi. (A. Toto Suryana AF, et.al, 1996 :
69).

3. Pengertian Taqwa
Taqwa berasal dari kata waqa, yaqi , wiqayah, yang berarti takut, menjaga,
memelihara dan melindungi. Sesuai dengan makna etimologis tersebut, maka taqwa dapat
diartikan sikap memelihara keimanan yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama
Islam secara utuh dan konsisten ( istiqomah ).
Seorang muslim yang bertaqwa pasti selalu berusaha melaksanakan perintah
Tuhannya dan menjauhi segala laranganNya dalam kehidupan ini.
Karakteristik orang orang yang bertaqwa, secara umum dapat dikelompokkan kedalam lima
kategori atau indicator ketaqwaan.
a. Iman kepada Allah, para malaikat, kitab kitab dan para nabi. Dengan kata lain,
instrument ketaqwaan yang pertama ini dapat dikatakan dengan memelihara fitrah
iman.
b. Mengeluarkan harta yang dikasihnya kepada kerabat, anak yatim, orang orang
miskin, orang orang yang terputus di perjalanan, orang orang yang meminta
minta dana, orang orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi
kewajiban memerdekakan hamba sahaya. Indikator taqwa yang kedua ini, dapat

6
disingkat dengan mencintai sesama umat manusia yang diwujudkan melalui
kesanggupan mengorbankan harta.
c. Mendirikan solat dan menunaikan zakat, atau dengan kata lain, memelihara ibadah
formal.
d. Menepati janji, yang dalam pengertian lain adalah memelihara kehormatan diri.
e. Sabar disaat kepayahan, kesusahan dan diwaktu perang, atau dengan kata lain
memiliki semangat perjuangan.

4. Ciri-Ciri Orang Bertaqwa


Teguh dalam keyakinan dan bijaksana dalam pelaksanaanya.
Murah hati dan murah tangan.
Disiplin dalam tugasnya.
Tinggi dedikasinya.
Senantiasa bersih dan berhias walaupun miskin.
Tidak menyebar fitnah dan gibah.
Terpelihara identitas muslimnya.
5. Kolerasi Iman dan Taqwa
Keimanan dan ketaqwaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Orang yang
bertaqwa adalah orang yang beriman yaitu yang berpandangan dan bersikap hidup dengan
ajaran Allah menurut Sunnah Rasul yakni orang yang melaksanakan shalat, sebagai upaya
pembinaan iman dan menafkahkan rizkinya untuk mendukung tegaknya ajaran Allah.
Iman yang benar kepada Allah dan Rasulnya akan memberikan daya rangsang atau stimulus
yang kuat untuk melakukan kebaikan kepada sesama sehingga sifat-sifat luhur dan akhlak
mulia itu pada akhirnya akan menghantarkan seseorang kepada derajat taqwa. Orang yang
bertaqwa adalah orang yang benar imannya dan orang yang benar-benar beriman adalah
orang yang memiliki sifat dan akhlak yang mulia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
orang yang berakhlak mulia merupakan cirri-ciri daro orang yang bertaqwa. Keimanan pada
keesaan Allah yang dikenal dengan istilah tauhid dibagi menjadi dua yaitu tauhid teoritis dan
tauhid praktis. Tahuid teoritis adalah tauhid yang membahas tentang keesaan Zat, keesaan
Sifat, dan keesaan Perbuatan Tuhan. Pembahasan keesaan Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan
berkaitan dengan kepercayaan, pengetahuan, persepsi, dan pemikiran atau konsep tentang
Tuhan. Konsekuensi logis tauhid teoritis adalah pengakuan yang ikhlas bahwa Allah adalah
satu-satunya Wujud Mutlak, yang menjadi sumber semua wujud.
Adapun tauhid praktis yang disebut juga tauhid ibadah,berhubungan dengan amal
ibadah manusia. Tauhid praktis merupakan terapan dari tauhid teoritis. Kalimat Laa ilaaha
illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah) lebih menekankan pengartian tauhid praktis (tauhid

7
ibadah). Tauhid ibadah adalah ketaatan hanya kepada Allah. Dengan kata lain, tidak ada yang
disembah selain Allah, atau yang berhak disembah hanyalah Allah semata dan menjadikan-
Nya tempat tumpuan hati dan tujuan segala gerak dan langkah.
Selama ini pemahaman tentang tauhid hanyalah dalam pengartian beriman kepada
Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Mempercayai saja keesaan Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan,
tanpa mengucapkan dengan lisan serta tanpa mengamalkan dengan perbuatan, tidak dapat
dikatakan seorang yang sudah bertauhid secara sampurna. Dalam pandangan Islam, yang
dimaksud dengan tauhid yang sempurna adalah tauhid yang tercermin dalam ibadah dan
dalam perbuatan praktis kehidupan manusia sehari-hari. Dengan kata lain, harus ada kesatuan
dan keharmonisan tauhid teoritis dan tauhid praktis dalam diri dan dalam kehidupan sehari-
hari secara murni dan konsekuen.
Dalam menegakkan tauhid, seseorang harus menyatukan iman dan amal, konsep dan
pelaksanaan, fikiran dan perbuatan, serta teks dan konteks. Dengan demikian bertauhid
adalah mengesakan Tuhan dalam pengartian yakin dan percaya kepada Allah melalui fikiran,
membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan.
Oleh karena itu seseorang baru dinyatakan beriman dan bertaqwa, apabila sudah
mengucapkan kalimat tauhid dalam syahadat asyhadu allaa ilaaha illa Alah, (Aku bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan selain Allah), kemudian diikuti dengan mengamalkan semua perintah
Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

BAB III
KESIMPULAN

8
Beriman kepada Allah adalah kebutuhan yang mendasar bagi manusia untuk
merasakan kebahagiaan hidup. Seseorang dikatakan beriman kepada Allah apabila memenuhi
tiga unsur akidah dalam islam yaitu: isi hati, ucapan, dan tingkah laku.
Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah (QS: Al-Anfal 2-4) yang artinya
bahwa sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah
bergetar hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayatnya bertambah iman mereka (karena-
Nya) dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, yaitu orang-orang yang mendirikan
shalat dan yang menafkahkkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka. Itulah
orang-orang yang beriman dengan sebenarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat
ketinggian disisi Tuhan-NYA dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia. Keimanan dan
ketaqwaan merupakan dua hal yang tidak dapatdipisahkan dari diri manusia. Oleh karenanya
orang yang bertaqwa adalah orang yang berpandangan hidup dengan ajaran-ajaran Allah
menurut sunnah rasul.

BAB IV
SARAN

9
Hendaknya umat muslim senantiasa berperilaku terpuji agar iman dalam dirinya
meningkat. Hindari sifat-sifat tercela agar iman dalam diri kita senantiasa terjaga.
Hendaknya umat muslim senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah
SWT. Senantiasa tawakkal dan muhasabah diri agar tidak mengalami kesesatan hidup.

DAFTAR PUSTAKA

10
http://amrhy.blogspot.co.id/2011/10/makalah-keimanan-dan-ketaqwaan.html (diakses pada 18
Maret 2017, pukul 18:25 WIB)
http://mdwimartasadewo.blog.com/2012/11/04/makalah-keimanan-dan-ketaqwaan/ (diakses
pada 18 Maret 2017, pukul 18:30 WIB)

11