Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN DAN LATAR BELAKANG

1.1. Pendahuluan
Sehat jiwa bisa diartikan sebagai suatu keadaan sehat secara fisik, psikologis, dan
social. Banyak orang mengatakan seseorang bisa dikatakan sehat apabila memiliki fisik
yang sehat serta seluruh organ tubuh dalam kondisi yang optimal dan dapat berfungsi secara
normal. Sedangkan sehat secara psikologi juga bisa diartikan saat seseorang mempunyai
motivasi yang kuat untuk meraih hal yang lebih baik dalam hidupnya. Kemudian banyak
orang juga berpendapat tentang sehat secara sosail. Sehat secara sosial adalah orang yang
mudah bergaul dengan masyarakat sekitarnya dan mampu menerima segala sesuatu yang
sudah menjadi aturan dalam lingkungan tersebut. Banyak sekali pendapat peneliti tentang
definisi sehat jiwa. Menurut WHO (1948) Orang yang sehat jiwa adalah orang yang tidak
mudah menyerah dalam menghadapi setiap masalah yang muncul dalam hidupnya serta
selalu memiliki pikiran yang baik terhadap orang lain. Kesehatan jiwa menurut (UU No.3,
1966) adalah kemampuan seseorang dalam beradaptasi dengan orang lain dan lingkungan
masyarakat sehingga menciptakan sebuah suasana gotong royong dan kerukunan.
Berbagai macam penyebab dapat membuat banyak masyarakat memiliki jiwa yang
tidak sehat atau gangguan jiwa. Para peneliti banyak yang berpendapat bahwa gangguan
jiwa adalah suatu keadaan terganggunya kesehatan psikologis, biologi, dan kimiawi,
sehingga menimbulkan perilaku perilaku yang buruk. Gangguan jiwa juga dapat mengenai
setiap orang, tanpa mengenal umur, maupun status sosial serta ekonomi. Ancaman atau
kebutuhan yang tidak terpenuhi mengakibatkan seseorang mengalami stress berat kemudian
membuat orang marah bahkan kehilangan kontrol kesadaran dirinya. Selain itu tekanan
hidup yang menghimpit dan ketidakpastian masa depan dapat menyebabkan banyak
masyarakat memiliki jiwa yang tidak sehat atau gangguan jiwa. Dari banyak literature yang
saya baca sepertinya ciri ciri seseorang yang memiliki jiwa yang tidak sehat adalah selalu
menarik diri dari interaksi social. Banyak penyebab seseorang lebih memilih untuk
menghindari ineraksi social, salah satunya adalah seseorang merasa tidak membutuhkan
orang lain karena kebutuhannya sudah terpenuhi tanpa bantuan orang lain. Selain menarik
diri dari interaksi social ciri dari jiwa yang tidak sehat bisa saja karena sulitnya beradaptasi
dengan lingkungan.
Banyak orang berpendapat gangguan jiwa merupakan penyakit yang sangat
membebani. Masalah gangguan jiwa ini memang tidak langsung menyebabkan kematian,
namun akan menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi seseorang dan beban yang berat
bagi keluarga, baik mental maupun matei karena penderita menjadi kronis dan tidak
produktif lagi. Orang dengan gangguan jiwa tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari
harinya sendiri, sehingga membutuhkan orang lain untuk membantu memenuhi kebutuhan
sehari harinya. Karena hampir semua keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan
gangguan jiwa mendapatkan cacian dari masyarakat sekitar. Selain itu mereka juga
mendapatkan perlakuan seperti dijauhi oleh masyarakat sekitarnya. Dengan kondisi
demikian keluarga berusaha mendapatkan pengobatan dari berbagai pihak. Ada yang
mencari pengobatan dengan datang ke rumah sakit jiwa dan ada juga masyarakat yang

1
datang ke orang pintar. Biaya pengobatan yang dibutuhkan untuk menyembuhkan tidak
sedikit. Ada juga keluarga yang menyerah dalam mencari pengonatan sehingga membiarkan
saja tanpa diobatkan kemna mana.
Data mengenai jumlah gangguan jiwa masih sangat tinggi. Menurut data dari WHO
(2006) di dunia ada sekitar 450 juta orang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Sedangkan
menurut data dari Departemen Kesehatan Indonesia memiliki angka 26 juta penduduk yang
mengalami gangguan jiwa atau kira-kira 12-16 persen.

1.2. Latar Belakang


Perilaku kekerasan merupakan salah satu jenis gangguan jiwa. Macam macam
jenis gangguan jiwa sangat banyak. Ada perilaku kekerasan, bipolar, unipolar, PTSD,
somatoform dan lain lain.
Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditunjukan untuk melukai atau
mencelakai individu yang lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku
tersebut( purba dkk, 2008).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik terhadap diri sendiri maupun
orang lain (Towsend, 1982).
Salah satu manifestasi klinik dari perilaku kekerasan adalah memaki - maki orang
di sekitarnya, membanting barang, melukai diri sendiri dan orang lain, bahkan ada yang
membakar rumah, mobil dan sepeda montor. Pada hakekatnya, setiap orang memiliki
potensi untuk melakukan tindakan kekerasan. Namun pada kenyataannya, ada orang
orang yang mampu menghindari kekerasan walau belakangan ini semakin banyak orang
cenderung berespon agresi.
Keadaan gangguan jiwa di masyarakat diperparah dengan stigma yang ditunjukan
oleh masyarakat kepada penderita. Stigma bisa diartikan sebagai tanda bahwa seseorang
dianggap ternoda. Masyarakat seringkali memiliki persepsi yang negative terhadap orang
yang memiliki gangguan mental atau gangguan jiwa. Semua ditunjukkan dari berbagai
istilah yang biasa digunakan oleh dimasyarakat. Salah satunya sering digunakan dalam
pemberitaan media massa, misalnya orang gila, sakit jiwa, orang tidak waras, sinting dan
lain - lain. Semua istilah tersebut bukan istilah psikiatri yang sebaiknya tidak digunakan.
Buruknya pandangan masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa membuat keluarga
berusaha menyembunyikan penderita dari masyarakat. Bahkan lebih parah lagi jika
diterlantarkan tanpa ada penanganan khusus terhadap penderita gangguan jiwa.
Salah satu usaha yang dilakukan untuk menyembunyikan anggota keluarganya dari
masyarakat adalah dengan di pasung. Pemasungan itu seperti tindakan yang menghalangi
setiap orang dengan gangguan jiwa memperoleh dan melaksanakan hak - haknya sebagai
warga Negara. Hak - hak tersebut meliputi hak memperoleh penghasilan, hak memperoleh
pendidikan atau pekerjaan, serta hak memperoleh kehidupan sosial. Tercantum pada . UU
No 18 Tahun 2014 tentang kesehatan jiwa pasal 86 tindakan pemasungan terhadap orang
dengan gangguan jiwa (ODGJ) adalah perbuatan yang dilarang dan diancam pidana. Serta
ditemukan juga 14,3% orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) atau setara dengan 57.000
ODGJ pernah mengalami pemasungan dalam kehidupannya.
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitihan tentang gangguan jiwa di daerah jombang yang khususnya di dusun
Semanding desa sidokaton kecamatan kudu.

2
1.3. Tujuan
1) Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas system neurobehaviour II.
2) Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitihan ini adalah untuk :
a. Mengetahui asal mula gangguan jiwa pada Tn. S di dusun Semanding desa
sidokaton kecamatan kudu kabupaten Jombang.
b. Mengetahui gambaran orang dengan gangguan jiwa pada Tn. S di dusun
Semanding desa sidokaton kecamatan kudu kabupaten Jombang.
c. Mengetahui pandangan masyarakat mengenai orang dengan gangguan jiwa di
dusun Semanding desa sidokaton kecamatan kudu kabupaten Jombang.
d. Mengetahui penyebab gangguan jiwa pada Tn. S di dusun Semanding desa
sidokaton kecamatan kudu kabupaten Jombang.
e. Mengetahui bagaimana sikap masyarakat terhadap orang dengan gangguan
jiwa Tn. S di dusun Semanding desa sidokaton kecamatan kudu kabupaten
Jombang.

1.4. Manfaat
1) Dapat mengetahui asal mula gangguan jiwa pada Tn. S di dusun Semanding desa
sidokaton kecamatan kudu kabupaten Jombang.
2) Dapat mengetahui gambaran orang dengan gangguan jiwa pada Tn. S di dusun
Semanding desa sidokaton kecamatan kudu kabupaten Jombang.
3) Dapat mengetahui pandangan masyarakat mengenai orang dengan gangguan jiwa
di dusun Semanding desa sidokaton kecamatan kudu kabupaten Jombang.
4) Dapat mengetahui penyebab gangguan jiwa pada Tn. S di dusun Semanding desa
sidokaton kecamatan kudu kabupaten Jombang.
5) Dapat ,mengetahui sikap masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa Tn. S
di dusun Semanding desa sidokaton kecamatan kudu kabupaten Jombang.

1.5. Metode
Metode yang dipakai adalah wawancara terhadap keluarga dan masyarakat sekitar
yang berada didekat kediaman penderita gangguan jiwa.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Gambaran Gangguan Jiwa Tn.S

Di dusun Semanding desa sidokaton kecamatan kudu kabupaten jombang, terdapat


seorang lali laki dewasa muda berumur 35 tahun yang menderita gangguan jiwa. Dilihat dari
tampilan luarnya Tn. S tidak tampak seperti orang dengan gangguan jiwa, namum masyarakat
sekitar sudah mengetahui bahwa Tn. S adalah orang dengan gangguan jiwa. Tn. S sudah
memiliki keluarga kecil. Tn. S hidup dengan istri dan satu anak laki lakinya.

2.1.1 Asal mula terjadinya gangguan jiwa pada Tn. S

Cerita ini berawal dari keinginan seorang laki laki (Tn.S) untuk menikahi seorang
perempuan yang ia cintai. Namun keinginan baik itu harus terhalang oleh syarat yang
diajukan perempuan itu. Perempuan itu mau menikah jika Tn. S memiliki sepedah motor
baru. Namun dikarenakan keadaan ekonomi yang kurang tercukupi Tn. S merasa frustasi.
Berbagai usaha untuk mengumpulkan uang namun tetap saja tidak bias mewujudkan
keinginannya untuk membeli sebuah sepedah motor.

Selain gagal menikahi perempuan yang ia cintai, Tn S juga merasa tersakiti oleh
sikap perempuan ia cintai karena tidak bias menerima ia dengan segala kekurangannya.
Dengan pikiran yang kacau dan perasaan yang hancur berantahkan, Tn. S mulai
menunjukan perilaku yang kasar. Tn. S melakukan hal hal yang aneh dan
membahayakan diri sendiri serta orang lain. Tn. S berkeliling desanya sambil membawa
benda tajam (golok) dengan suasana hati yang tidak baik. Ia mengungkapkan perasaannya
di sepanjang jalan sambil berteriak teriak.

Dengan kondisi Tn. S saat itu, keluarga Tn. S kaget serta khawatir. Akhirnya Tn. S
dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Weddiodiningrat di Kabupaten Malang. Tn. S
menjalani perawatan disana selama lebih dari 6 bulan. Setelah keadaan Tn. S yang sudah
stabil akhirnya Tn. S bisa kembali berkumpul bersama orang tuanya di desa glugu katemas
kecamatan kudu.

Meskipun demikian, Tn. S harus tetap rutin minum obat yang sudah dianjurkan
dokter agar kondisinya tetap stabil. Karena jika, Tn. S telat minum obat kemungkinan
besar akan kambuh lagi. Sehingga keluarga Tn. S selalu mengambil obat ke Rumah Sakit

4
Jiwa Dr. Radjiman Weddiodiningrat di Kabupaten Malang. Dikarenakan jarak antara
rumah Tn. S dan Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Weddiodiningrat di Kabupaten Malang
sangat jauh akhirnya pihak Rumah Sakit Jiwa menganjurkan keluarga mengambil obat di
Puskesmas Tapen. Karena Puskesmas Tapen adalah pelayanan dasar yang jaraknya dekat
dengan rumah Tn. S. meskipun demikian, namun Tn. S harus selalu konsultasi setiap bulan
dengan dokter yang berada di Rumah Sakit Umum Daerah Jombang (RSUD Jombang)
untuk memeriksa keadaan Tn. S.

Keadaan Tn. S yang sudah stabil akhirnya, keluarga menikahkan Tn. S dengan
wanita ( Ny. S). Ny. S berasal dari keluarga yang bertempat tinggal di Di dusun
Semanding desa sidokaton kecamatan kudu kabupaten jombang. Tn.S bahagia dengan
pernikahannya saat ini. Tn. S memiliki seorang anak laki laki dari hasil pernikahannya
dengan Ny. S.

2.1.2 Kondisi Tn.S Saat Ini


Saat saya melakukan kunjungan kerumahnya, Tn. S menyambut saya dengan baik.
Tn. S terlihat bahagia dengan kehidupannya saat ini. Kehidupan sederhana yang ia jalani
bersama anak dan istrinya membuat Tn. S semangat dalam mencari uang untuk
menafkahi keluarga kecilnya tersebut.
Tn. S hidup seperti orang pada umumnya. Yang bekerja setiap hari dan bisa
bersosialisasi dengan lingkungannya. Tn. S setiap hari bekerja di sawah. Masyarakat di
sekitar sudah memahami keadaan Tn.S. Termasuk mertuanya, sehingga bisa menjaga
perasaan Tn.S agar tidak tersinggung atas ucapannya. Sebab itu bisa menjadi faktor
pemicu kambuhnya Tn.S. Seperti yang di ucapkan mertua Tn.S
Saya memaklumi keadaanya mbak, mangkanya saya selalu hati - hati jika bicara
dengannya. Saya juga tidak berani menyuruhnya mbak, Kalau ada pekerjaan dia mau
mengerjakan ya syukur kalau tidak ya saya yang mengerjakan mbak. Saya takut kalau
menyinggung prasaannya nanti jadi kumat lagi mbak,
Sampai saat ini Tn. S masih aktif mengkonsumsi obat. Ia selalu meluangkan waktu
untuk pergi ke pelayanan kesehatan untuk mengambil obat. Tn. S selalu ditemani istrinya
setiap kali ia pergi untuk mengambil obat.

2.2 Gambaran Tn. S


Kita dapat bertemu orang dengan gangguan jiwa di mana saja. Entah itu di jalan, di
sekolah, bahkan di lingkungan kita sendiri. Kondisi fisik mereka sangat beragam. Ada yang

5
bersih ada juga yang tidak di rawat sehingga penampilannya kumuh, bau, acak acakan,
bahkan ada yang memakai selembar kain untuk menutup bagian tubuhnya. Prilaku mereka juga
berbeda-beda, ada yang mengomong sendiri, ada yang diam saja, dan lain - lain. Pasien yang
saya kaji saat ini memiliki gambaran yang berbeda dengan orang jiwa lainnya.

2.2.1 Penampilan umum


Penampilan Tn.S sangat rapi, bersih dan tidak bau, serta tidak tampak dari luar
bahwa Tn.S adalah orang yang mengalami gangguan jiwa. Semua itu karena kondisi Tn.S
saat ini yang sudah stabil. Selain itu Tn. S juga dirawat dengan baik oleh istrinya.

2.2.2 Komunikasi
Komunikasi Tn.S sangat kooperatif dan jelas. Tn.S mampu menjelaskan namanya
serta nama anak dan istrinya. Tn.S juga bisa menyebutkan umurnya dan umur anaknya
dengan benar. Tn.S senang sekali menceritakan kemampuan baru dari anaknya yang
berusia 5 tahun dengan baik dan mudah di pahami orang lain.
Selain itu, jika anaknya sedang sakit Tn.S segera membawa anaknya ke Puskesmas
Tapen. Tn.S yang selalu menjelaskan keadaan anaknya saat itu kepada petugas kesehatan
di Puskesmas Tapen tersebut dengan rinci dan jelas. Seperti yang diungkapkan salah satu
petugas kesehatan di Puskesmas Tapen, Ny. M
Kalau anaknya sedang sakit, dia (Tn. S) ke Puskesmas Tapen mbak, dia sendiri
yang menjelaskan keadaan anaknya dengan jelas. Karena istrinya sulit bicara dengan jelas
dan tidak mudah di mengerti orang lain.

2.2.3 Akatifitas sehari-hari


Setiap hari Tn.S selalu bekerja di sawah untuk mendapatkan uang dan untuk
mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya. Tn.S termasuk orang yang giat bekerja seperti
yang di ceritakan oleh tetangganya Tn.Y
Pak S orangnya rajin mbak, dia selalu minta pekerjaan ke saya seperti menanam
padi, memanen dan banyak lagi.
Tn.S juga mengatakan bahwa ia akan menabung untuk biaya sekolah anaknya
kelak.

6
2.3 Pandangan Masyarakat Pada Tn. S
Masyarakat sering sekali berfikiran negative terhadap orang dengan gangguan jiwa.
Mereka menganggap penyakit gangguan jiwa itu akibat kutukan, sihir dan ulah dukun. Serta
masyarakat mengetahui bahwa penyakit gangguan jiwa itu bias menurun sehingga meraka
tidak mau menikahkan anaknya dengan orang yang mempunyai keturunan gangguan jiwa.
Karena stigma masyarakat yang demikian membuat keluarga berusaha menyembunyikan
keluarganya yang menderita gangguan jiwa. Dengan berbagai macam cara agar orang lain tidak
tahu, seperti mengurungnya di dalam kamar, dipasung serta dibiarkan saja berkeliaran di jalan
tidak diurus.
Namun keluarga Tn.S memiliki pemikiran lain. Mereka berusaha mencari pengobatan
untuk Tn.S keluarga membawa Tn.S berobat ke Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman
Weddiodiningrat di Kabupaten Malang. Hingga Tn.S memiliki kondisi yang baik, stabil dan
bisa hidup berdampingan dengan masyarakat.
Masyarakat di dusun sumanaing desa sidokaton juga memperlakukan Tn.S layaknya orang
normal lainnya. Meskipun mereka harus berhati-hati. Karena Tn.S mudah tersinggung dengan
ucapan orang. Seperti yang dikatakan tetangganya Tn.Y
Dulu pak S pernah mengajak berantem kakak dari istrinya mbak, sampai Pak S membawa
beberapa orang untuk memukuli kakak istrinya itu. Pak S juga mondar-mandir di jalan sambil
marah-marah mbak. lalu Pak S di bawa ke Rumah Sakit Jiwa lagi. Pak S bisa kumat kalau ada
orang yang menyinggung perasaannya mbak.
Dengan demikian masyarakat Dusun Semanding Desa Sidokaton sangat menjaga
perkataan mereka agar tidak memicu kambuhnya Tn.S. Selain itu istri Tn.S juga sangat
perhatian pada Tn.S. ia selalu mengingatkan Tn.s agar meminum obat tepat waktu agar Tn. s
selalu dalam kondisi yang setabil.

7
BAB III
ANALISA DAN KESIMPULAN
3.1 Penyebab Gangguan Jiwa
Dari keterangan diatas yang dijelaskan bahwa pasien yang berinisial Tn. S ini mengalami
gangguan jiwa disebabkan karena frustasi gagal menikahi perempuan yang ia cintai. Kemudian
Tn. S mengungkapkan kemarahannya dengan menunjukan perilaku yang membahayakan diri
sendiri serta orang lain. Yang dilakukan Tn. S saat itu adalah marah marah serta membawa
benda tajam untuk mengancam orang lain tanpa alas an yang jelas. Hal ini biasa disebut dengan
perilaku kekerasan. Disini akan dibahas tentang perilaku kekerasan berdasarkan buku yang
saya baca.
1. Pengertian Perilaku Kekerasan
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah
yang tidak konstruktif (Stuart dan Sundeen, 1995).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan ( Townsend, 1998 ).
Pengertian dari perilaku kekerasan ini sangat beragam, pada intinya, jika seseorang
melakukan tindakan atau perilaku yang membahayakan dirinya sendiri serta orang lain itu
termasuk dalam perilaku kekerasan.
Menurut Stuart dan Laraia (1998) perilaku kekerasan dapat dimanifestasikan seperti
berusaha mencelakai diri sendiri, mudah terpancing emosinya, mudah tersinggung serta
selalu merasa yang paling berkuasa.

2. Factor Predisposisi
Factor predisposisi adalah factor resiko yang telah ada pada diri individu yang dapat
menimbulkan gangguan jiwa. factor predisposisisdari perilaku kekerasan adalah sebagai
berikut :
1) Faktor psikologi
Terdapat asumsi bahwa sesorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami
hambatan akan timbul dorongan agresif yang memotivasi pelilaku kekerasan
Berdasarkan penggunaan mekanisme koping individu dan masa kecil yang
tidak menyenangkan
Frustasi
Kekerasan dalam rumah dan keluarga

8
2) Factor Sosial Budaya
Sesorang akan berespon terhadap peningkatan emosionalnya secara agresif
sesuai dengan respon yang dipelajarinya. Sesuai dengan teori menurut bandura
bahwa agresi tidak berbeda dengan respon respon yang lain. Factor ini dapat
dipelajari melalui observasi atau imitasi dan semakin sering penguatan maka
semakin besar kemungkinan terjadi. Budaya juga dapat mempengaruhi perilaku
kekerasan. Adanya norma dapat membantu mendefinisikan ekspresi marah yang
dapat diterima dan yang tidak dapat diterima.
3) Factor biologis
Berdasarkan hasil penelitihan pada hewan, adanya pemberian stimulus
elektris ringan pada hipotalamus (pada system limbik) ternyata menimbulkan
perilaku agresif, dimana jika terjadi kerusakan fungsi limbik (untuk emosi dan
perilaku) lobus frontal (untuk pemikiran rasional) dan lobus temporal (untuk
interpretasi indra penciuman dan memori) akan menimbulkan mata lbar, pupil
berdilatasi, dan hendak menyerang objek yang ada disekitarnya.

3. Factor Presipitasi
Faktor Presipitasi adalah faktor yang mencetuskan terjadinya gangguan jiwa pada
seseorang untuk kali yang pertama. Secara umum seorang akan marah jika dirinya merasa
terancam, baik berupa injury secara fisik, psikis, atau ancaman konsep diri. Beberapa
konsep pencetus perilaku kekerasan adalah sebagai berikut :
1) Klien : kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kehidupan yang penuh
dengan agresif, dan masalalu yang tidak menyenangkan.
2) Interaksi : penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti, konflik, merasa
terancam baik internal dari permasalahan dari klien sendiri maupun eksternal dari
lingkungan.
3) Lingkungan : panas, padat, dan bising.

4. Mekanisme Koping
Mekanisme koping adalah suatu pola untuk menahan ketegangan yang mengancam
dirinya (pertahanan diri/maladaptif) atau untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Macam macam mekanisme koping sebagai berikut :
1) Denial : mekanisme pertahanan ini cenderung meningkatkan marah seseorang
karena sering digunakan untuk mempertahankan harga diri akibat
ketidakmampuannya.
2) Sublimasi : mekanisme pertahanan dengan cara mengalihkan rasa marah pada
aktifitas lain.
3) Proyeksi : mekanisme pertahanan yang cenderung meningkatkan ekspresi marah
karena indivisu berusaha mengekspresikan marahnya terhadap orang/benda tanpa
dihalangi.
4) Formasi : perilaku pasif agresif karena perasaannya tidak dikeluarkan akibat
ketidakmampuannya mengekspresikan kemarahannya atau memodifikasi
perilakunya. Pada saat saat tertentu indivisu dapat menjadi agresif secara tiba
tiba.
5) Represi : mekanisme pertahanan yang dapat menimbulkan permusuhan yang tidak
disadari sehingga individu bersifat eksploatitatif, manipulative, dan ekspresi
lainnya yang mudah berubah.

9
5. Mekanisme Terjadinya Perilaku Kekerasan
Area di otak manusia yang menjadi pusat emosi adalah pada Amygdala atau
sirkuit system limbic yang meliputi thalamus hypothalamus amygdala hypocampus.
Amygdala merupakan bagian dari otak yang memiliki peran penting dan sangat
menentukan dalam emosi, terutama emosi rasa takut. Amygdala menjadi organ pusat
perilaku agresi. Penelitihan bauman dkk menunjukan bahwa stimulasi pada amygdala
mencetuskan perilaku agresi sedangkan organ hypothalamus berperan dalam
pengendali berita agresi. Hypothalamus adalah bagian dari otak yang terdiri dari
sejumlah nukleus dengan berbagai fungsi yang sangat peka terhadap steroid dan
glukokortikoid, glukosa dan suhu. Hypothalamus juga merupakan pusat kontrol
autonom. Setiap stimulus dari luar yang diterima melalui respon pancaindra manusia
diolah lalu dikirim dalam bentuk pesan ke thalamus lalu ke hypothalamus, selanjutnya
ke amgydala (sirkuit system limbic) yang kemudian menghasilkan respon tindakan.
Dalam keadaan darurat, misalnya pada saat panic atau marah, pesan stimulus
yang dating di thalamus terjadi hubungan pendek (short sirkuit) sehingga langsung ke
amygdala tanpa pengolahan rasional di hypothalamus. Stimulus adalah istilah yang
digunakan oleh psikologi untuk menjelaskan suatu hal yang merangsang terjadinya
respon tertentu. Amygdala mengelolah sesuai isi memori yang biasa direkamnya,
sebagai contoh bila sejak kecil anak anak diberi input kekerasan, maka amygdala
sebagai pusat penyimpanan memori emosional akan merekam dan menciptakan reaksi
pada saat terjadi sirkuit pendek sesuai pola yang telah direkamnya yakni kekerasan.

3.2 Kesimpulan
Dari penjelasan teori diatas maka saya menyimpulkan bahwa definisi dari perilaku
kekerasan adalah sebuah tindakan yang membahayakan. Tindakan ini membahayakan untuk
pelaku perilaku kekerasan dan juga orang orang yang ada di sekitarnya. Perilaku kekerasan
yang muncul karena seseorang tidak dapat mengontrol emosi serta keadaan biologis yang
seseorang alami tersebut memungkinkan untuk timbulnya perilaku kekerasan.
Dari cerita tentang Tn. S, penyebabnya adalah keadaan ekonomi Tn.S yang tidak
sanggup membeli sepedah motor membuat Tn. S gagal menikahi seseorang yang ia pilih
sebelumnya. Hal ini membuat Tn. S merasa frustasi, karena segala usaha untuk dapat membeli
sepeda motor tidak ada hasilnya. Tn. S meluapkan kemarahannya melalui tindakan tindakan
yang sangat membahyakan orang disekitarnya serta dirinya sendiri. Namun saat ini Tn. S
sudah mendapatkan pengobatan yang cukup sehingga keadaanya bisa stabil. Kini Tn. S sudah
bisa hidup normal seperti orang pada umumnya. Tn. S memiliki seorang istri dan dikaruniai
seorang anak laki laki. Meskipun Tn.S tidak bisa lepas dari obat yang sudah diresepkan
namun Tn. S sudah mendapatkan kehidupan bahagia yang sederhana.

10
BAB IV
REKOMENDASI
4.1 Saran
4.1.1 Saran Bagi Keluarga
Saran bagi keluarga adalah selalu memberikan perhatian dan kasih sayang kepada
keluarga yang mengalami gangguan jiwa, serta selalu mendukung untuk kesembuhan
dengan cara mengobatkan keluarga yang menderita gangguan jiwa ke rumah sakit jiwa
dan tidak bosan untuk menebus obat yang seharusnya dikonsumsi oleh anggota keluarga
yang mengalami gangguan kejiwaan tersebut.
4.1.2 Saran Bagi Masyarakat
Diharapkan kepada masyarakat untuk selalu mendukung proses kesembuhan dari
orang sekitarnya yang mengalami gangguan jiwa. Dengan cara memperlakukan selayaknya
orang normal pada umumnya. Selain itu masyarakat sebaiknya tidak menjauhi atau
menghindari untuk berinteraksi dengan orang yang mengalami gangguan jiwa yang ada di
sekitarnya.

11