Anda di halaman 1dari 15

MODUL PERKULIAHAN

Mekanika Tanah II
Rencana pembelajaran mata kuliah
Mektan II dalam satu semester,
review Mektan I, perlunya
mempelajari Mektan II di Teknik
Sipil dan pemantapan pemahaman
terhadap laporan penyelidikan
tanah serta pemahaman pengujian
tanah di lapangan

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

01
Fakultas Teknik Teknik Sipil MK11016 Wimpie Agoeng N. Aspar
Perencanaan Dan
Desain

Abstract Kompetensi
Penganttar dan Pengenalan Mekanika Mahasiswa mengerti teori mekanika
Tanah II. Pemahaman pengujian tanah dan mampu menerapkannya
lapangan untuk mencari parameter untuk memecahkan persoalan-
tanah persoalan interaksi tanah dan bangunan
rekayasa sipil. Mampu membuat
perkiraan dan pendugaan yang tepat
tentang kondisi tanah di lapangan
Pengantar dan Pengenalan Mekanika Tanah II
1. KLASIFIKASI TANAH SECARA TEKNIS (REVIEW MEKANIKA TANAH I)
Sistem klasifikasi tanah dibagi dalam kelompok dan subkelompok berdasarkan sifat-sifat
teknis yang umum digunakan yaitu penyebaran ukuran butir, batas cair, dan batas plastis.
Sistem klasifikasi tanah yang utama adalah (1) Sistem AASHTO (American Association of
State Highway and Transportation Officials) dan (2) USCS (Unified Soil Classification
System). Sistem klasifikasi AASHTO terutama digunakan untuk klasifikasi tanah sebagai
bahan subgrades jalan raya dan tidak digunakan untuk konstruksi pondasi bangunan.
Sistem klasifikasi USCS pada umumnya digunakan untuk mengklasifikasi tanah sebagai
bahan konstruksi bangunan.

1.1 Sistem AASHTO


Klasifikasi tanah sistem AASHTO pada awalnya digunakan oleh Komite Klasifikasi Material
untuk Subgrades dan Granular Jalan di USA pada tahun 1945 (Highway Research Board,
1945). Pada sistem AASHTO tanah dapat diklasifikan dalam 8 (delapan) kelompok utama
yaitu A-1 sampai A-8 berdasarkan sebaran ukuran butir, batas cair, dan indkes plastisitas.
Tanah diklasifikan dalam kelompok A-1, A-2, dan A-3 merupakan material granular berbutir
kasar dan kelompok A-4 A-5, A-6 dan A-7 merupakan material berbutir halus. Tanah
gambut, butiran sisa-sisa puing halus dan tanah organik diklasifikasikan dalam kelompok A-
8. Semua tanah tersebut diidentifikasi dengan inspeksi secara visual. Klasifikasi tanah
sistem AASHTO sudah diatur dalam American Society for Testing Materials D-3282.

1.2 Sistem Klasifikasi Tanah Seragam (USCS)


Sistem klasifikasi tanah USCS pada awalnya dikembangkan oleh Casagrande pada tahun
1942 (Das, 1999; Das 2000, dan Das 2002) dan selanjutnya direvisi dan diadopsi oleh
United States Bureau of Reclamation and the Corps of Engineers. Sistem USCS saat ini
secara luas digunakan untuk semua pekerjaan geoteknik. Klasifikasi tanah sistem USCS
menggunakan simbol huruf yaitu G = gravel (kerikil), S = sand (pasir), M = silt (lanau), C =
clay (lempung), O = organic silts dan clay (lempung dan lanau organik), Pt = peat dan highly
organic soils (gambut dan tanah organik), H = high plasticity (plastisitas tinggi), L = low
plasticity (plastisitas rendah), W = well graded (gradasi baik), dan P = poorly graded (gradasi
jelek). Klasifikasi tanah sistem USCS sudah diatur dalam American Society for Testing
Materials D-2487.

2015 Mekanika Tanah II


2 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1.3 Perbandingan antara Sistem AASHTO dan Sistem Seragam (USCS)
Kedua sistem klasifikasi tanah ini (AASHTO dan USCS) didasarkan pada tekstur dan
plastisitas tanah. Kedua sistem ini mengklasifikan tanah dalam dua kelompok utama yaitu
tanah dengan butiran kasar dan butiran halus yang dipisahkan menggunakan ayakan
saringan nomor 200. Menurut Sistem AASHTO tanah dipertimbangkan berbutir halus bila
lebih dari 35% lolos ayakan saringan nomor 200. Menurut Sistem USCS tanah
dipertimbangkan berbutir halus bila lebih dari 50% lolos ayakan saringan nomor 200. Tanah
berbutir kasar yang memiliki 35% partikel halus akan berperilaku seperti material berbutir
halus. Hal ini karena sejumlah butiran haus yang ada akan mengisi rongga-rongga antara
butiran kasar. Dengan pertimbangan tersebut, Sistem AASHTO sepertinya lebih sesuai.
Dalam Sistem USCS tanah berpasir dan berkerikil dengan jelas dipisahkan, sementara
Sistem AASHTO tidak memisahkan secara jelas. Sistem USCS lebih deskriptif dalam
penamaan jenis tanah, sementara Sistem AASHTO tidak jelas karena semua menggunakan
simbol A. Untuk tanah organik dideskripsi dengan jelas oleh Sistem USCS, sedangkan
Sistem AASHTO tidak menjelaskan tentang tanah organik.

2. HUBUNGAN MEKANIKA TANAH DAN KONSTRUKSI TEKNIK SIPIL


Untuk maksud rekayasa teknik sipil, tanah didefinisikan sebagai agregat tak tersementasi
suatu butiran mineral dan bahan organik yang telah lapuk (partikel padat) dengan cairan dan
gas dalam ruang kosong antara partikel-partikel padat (Das, 2002). Tanah digunakan
sebagai bahan bangunan dalam proyek konstruksi teknik sipil, dan sebagai dasar konstruksi
pondasi bangunan. Dengan demikian insinyur sipil harus mempelajari sifat-sifat teknik tanah
seperti asal tanah, sebaran ukuran butir, kemampuatn mengalirkan air, kemampumampatan,
kekuatan geser, dan daya dukung beban. Mekanika tanah adalah salah satu cabang ilmu
dibidang teknik sipil yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik tanah dan perilaku masa tanah
akibat gaya-gaya dan beban yang bekerja padanya. Rekayasa tanah adalah penerapan
prinsip-prinsip mekanika tanah dalam menyelesaikan persoalan praktis. Rekayasa geoteknik
adalah cabang disiplin dalam teknik sipil yang melibatkan material di alam sekitar
permukaan tanah. Rekayasa geoteknik termasuk penerapan prinsip-prinsip mekanika tanah
dan mekanika batuan dalam rangka merangcang suatu pondasi bangunan, dinding penahan
tanah dan pekerjaan tanah (galian, kemiringan tanah, kestabilan lereng dan perbakan
tanah).

3. EKSPLORASI BAWAH PERMUKAAN TANAH


3.1 Pengumpulan Data Awal
Pengumpulan data geoteknik pada tahap awal diperlukan untuk menentukan tipe konstruksi
pondasi yang akan dibangun dan peruntukan lainnya dimasa yang akan datang. Untuk
keperluan pembangunan gedung, informasi awal yang diperlukan antara lain:

2015 Mekanika Tanah II


3 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
a. Perkiraan beban kolom
b. Jarak kolom
c. Standard yang berlaku/building code
d. Peraturan/persyaratan setempat.
Dalam pembangunan jembatan, biasanya inforamsi awal yang diperlukan antara lain:
a. Penentuan panjang bentang
b. Penentuan beban pada pier
c. Penentuan beban pada abutmen
Informasi yang diperoleh tersebut sangat membantu dalam melakukan penyelidikan
geoteknik di lapangan.

3.2 Penyelidikan Geoteknik


Penyelidikan geoteknik adalah proses penyelidikan tanah yang digunakan untuk
mengidentifikasi lapisan deposit tanah dimana konstruksi akan dibangun dan lapisan
tersebut akan diuji karakteristik fisiknya. Maksud penyelidikan geoteknik adalah untuk
memperoleh informasi kondisi tanah bawah permukaan dalam rangka:
a. menentukan tipe dan kedalaman pondasi yang sesuai dengan konstruksi yang akan
dibangun,
b. mengevaluasi daya dukung pondasi,
c. memperkirakan kemungkinan penurunan yang akan terjadi pada bangunan,
d. memperkirakan masalah potensial pada pondasi yang mungkin terjadi akibat kondisi
tanah mengembang (expansive soil), tanah mudah runtuh (collapsible soil) dan lahan
bekas sanitary landfill,
e. menetukan lokasi permukaan airtanah,
f. meperkirakan tekanan tanah lateral untuk pembangunan dinding penahan tanah,
tiang turap dan galian berpenopang, serta
g. mengembangkan metode konstruksi berdasarkan kondisi tanah bawah permukaan
dimana kadang-kadang sifat tanahnya berubahubah.

3.3 Penyelidikan Lapangan


Dalam pelaksanaan penyelidikan geoteknik di lapangan, inspeksi visual harus dilakukan
untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik. Dalam penyelidikan lapangan tersebut harus
dibekali dengan informasi penting lainnya seperti:
a. Topografi setempat dan kemungkinan keberadaan parit, saluran air, sisa-sisa puing
dan material lainnya,
b. Stratifikasi tanah yang dapat dilihat dari pembangunan di sekitarnya, adanya
keretakan tanah akibat tanah expansive,
c. Tipe vegetasi setempat sebagai indikisai sifat tanah,

2015 Mekanika Tanah II


4 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
d. Tanda ketinggian air pada bangunan di sekitarnya atau pada abutmen jembatan
e. Permukaan airtanah dimana dapat ditentukan menggunakan pengecekan sumur-
sumur di sekitarnya
f. Tipe konstruksi di sekitarnya atau keberadaan retakan dinding atau masalah lainnya

Tahapan penyelidikan di lapangan terdiri dari perencanaan, pembuatan sumur bor uji dan
mengumpulkan sampel pada interval yang diinginkan, meskipun pelaksanaannya dapat
berubah sesuai dengan kondisi lapangan. Penentuan kedalaman pengeboran sangat
tergantung pada kondisi tanah yang dijumpai. Sower dan Sower (1970) memberikan
perkiraan kedalaman bor untuk bangunan dengan lebar 30 meter seperti ditunjukkan pada
Tabel 1.
Penentuan jarak antar titik bor akan memberikan ketepatan informasi data yang dapat
mewakili kondisi lapangan. Das (2002) memberikan pedoman untuk perencanaan awal
penentuan jarak antar titik-titik bor seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2. Jarak antar titik-
titik bor tersebut tergantung dari tipe bangunan yang akan dibangun. Namun demikian jarak
tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi di lapangan.

Tabel 1: Perkiraan kedalaman bor (Sower dan Sower, 1970)


Jumlah lantai Kedalaman bor (m)
1 3,5
2 6
3 10
4 16
5 24

Tabel 2: Perkiraan jarak antar titik bor (Das, 2002)


Tipe Bangunan Jarak antar bor (m)
1. Gedung satu lantai 25 30
2. Gedung banyak lantai 15 25
3. Jalan Raya 250 300
4. Bednungan tanah/urugan 25 50
5. Perumahan 60 100

4. SURVEY SEISMIK
Survey seismik adalah pengukuran kecepatan rambatan gelombang yang menjalar dalam
tanah akibat sumber kejut. Sumber kejut bisa dihasilkan dari pukulan hamer atau explosif.
Rambatan gelombang menjalar dengan kecepatan yang berbeda dalam lapisan

2015 Mekanika Tanah II


5 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
tanah/batuan yang berbeda pula. Rambatan gelombang yang terjadi pada survey seismik
dapat ditunjukkan pada Gambar 1. Bacaan kecepatan gelombang diplot pada profil
memanjang. Hasil pemrofilan kecepatan gelombaang dengan jarak dapat dilihat pada
Gambar 2.
Survey seismik biasanya dilakukan di awal program penyelidikan tanah. Survey seismik
dilengkapi dengan tambahan koring batuan dan selanjutnya didetilkan dengan pengeboran.
Survey seismik ini sangat membantu dalam memberikan informasi awal tentang ketebalan
berbagai tipe tanah dan batuan serta kedalamannya. Dalam survey sesimik ini gelombang
primer (Pwave) yang dicatat. Dengan mengetahui kecepatan Pwave, maka ketebalan dan
kedalaman berbagai tipe tanah dan batuan dapat diketahui. Tabel 3 menunjukkan kisaran
harga kecepatan Pwave berbagai jenis tanah dan batuan.

Gambar 1: Metode Survey Seismik Gambar 2: Profil Tanah hasil Survey Seismik

Tabel 3: Kisaran Besarnya Kecepatan Vp dalam berbagai jenis Tanah dan Batuan (Das,
1999)
Jenis Tanah dan Batuan Kecepata Pwave (m/dtk)
Tanah
Pasir, lanau kering, dan tanah permukaan 200 1.000
berbutir halus
Alluvium (endapan) 500 2.000
Lempung padatan, kerikil berlempungg, dan 1.000 2.500
pasir berlempung padat
Loess 250 - 750
Batuan
Batu tulis dan serpihan batu (shale) 2.500 5.000
Batupasir 1.500 5.000
Granite 4.000 6.000
Batu kapur 5.000 10.000

4.1 Survei Refraksi pada Medium Tanah Dua Lapis


Survei refraksi seismik sering digunakan untuk menentukan kecepatan rambatan gelombang
yang menembus lapisan tanah dan ketebalan masing-masing lapisan. Jika dilihat Gambar 3

2015 Mekanika Tanah II


6 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
yang terdiri dari dua lapisan tanah maka kecepatan Pwave pada lapisan pertama dan kedua
masing-masing adalah Vp1 dan Vp2 dimana Vp1 < Vp2. Jika alat pendekti diletakkan di titik B
yang berjarak x dari titik A, waktu tempuh Pwave pertama kali adalah
t = x / Vp1 (1)

Gambar 3: Survey Refraksi Seismik Pelapisan Horisontal


Untuk menentukan kecepatan, v, dari Pwave yang merambat dalam berbagai lapisan tanah
dengan ketebalan tertentu, maka digunakan prosedur sebagai berikut. Awalnya tentukan
waktu kedatangan pertama yaitu t1, t2, t3 dan seterusnya dengan jarak x1, x2, x3 dari pusat
kejut. Selanjutnya plot waktu versus jarak seperti pada Gambar 3b. Tentukan garis
kemiringan oa, dan ab yaitu kemiringan oa = 1/v1 dan kemiringan ab = 1/v2, dimana v1 dan
v2 adalah kecepatan Pwave berturut-turut pada lapisan I dan lapisan II. Ketebalan tanah pada
lapisan atas adalah sebagai berikut
1
z X c (V p 2 V p1 ) / (V p 2 V p1 )
2 (2)
Harga xc dapat diperoleh dari plot pada Gambar 3b.

4.2 Survei Refraksi pada Medium Tanah Tiga Lapis


Gambar 4 menunjukkan plot survei refraksi seismik untuk tiga lapisan tanah, dimana Vp1 <
Vp2 < Vp3. Dengan prosedur yang sama seperti pada survei refraksi seismik dua lapis, maka
total waktu travel Pwave sampai pada lapisan ketiga dan kembali ke lapisan pertama
(AGHIJK) adalah sebagai berikut

x 2 z1 V p 3 V p1 2 z 2 V p 3 V p 2
2 2 2 2

t
Vp3 V p 3V p1 V p 3V p 2
(3)

2015 Mekanika Tanah II


7 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
dimana z2 adalah ketebalan laipsan kedua. Dengan memperhatikan Gambar 4, maka
ketebalan lapisan kedua dapat dihitung sebagai berikut

1 2 z1 V p23 V p21 V V

z 2 ti 2
p3 p 2

2 V p 3V p1 V 2 V 2
p3 p2
(4)

Gambar 4: Survey Refraksi Seismik dalam tiga lapisan tanah


4.3 Survei Refraksi pada Medium Tanah Multi Lapis
Jika dalam kenyataannya ada n lapisan tanah, maka waktu kedatangan pertama pada
berbagai jarak dari pusat sumber getaran, maka waktu kedatangan pertama versus jarak
dapat diplot seperti pada Gambar 5. Kemiringan slope segmen ke n akan memberikan harga
sebesar 1/vn dimana n = 1,2,3 dan seterusnya sampai n lapis.

Gambar 5: Survey Refraksi Seismik untukm multi lapisan tanah

2015 Mekanika Tanah II


8 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
5. PEKERJAAN PENGEBORAN DI LAPANGAN

Dalam rangka untuk mengetahui lebih rinci kondisi geoteknik di lapangan dan pengambilan
sampel tanah diperlukan pengeboran. Pengeboran dapat dilakukan dengan cara yang paling
sederhana sampai dengan yang lebih kompleks tergantung maksud pengeboran dan
keperluan kelengkapan data yang diperlukan.

5.1 Bor Tangan


Bor tangan merupakan metode paling sederhana dalam pengeboran. Bor tangan dapat
dilakukan paska lubang bor atau bor heliks. Kedalaman lubang bor tangan relatif sangat
terbatas yaitu < 3 5 m, mengingat energi yang diperlukan untuk memutar bor adalah
menggunakan tenaga manusia. Pada umumnya bor tangan digunakan pada pekerjaan jalan
raya atau konstruksi bangunan sederhana. Sampel tanah yang diperoleh sagat terganggu.
Biasanya untuk beberapa tanah non kohesif diperlukan selongsong untuk mencegah
runtuhan tanah masuk kedalam lubang bor. Gambar 6 menunjukkan dua tipe bor tangan
yaitu paska lubang bor dan bor heliks.

Gambar 6: Tipe Bor Tangan

5.2. Bor Mesin


Apabila kedalaman lubang bor relatif dalam dan diperlukan sampel tak terganggu, maka
bormesin sangat tepat untuk digunakan. Ketika daya tersedia, maka metode yang umum
digunakan adalah pengeboran secara menerus pada lubang bor yang digerakkan oleh
mesin bor. Daya untuk pengeboran disalurkan melalui truck atau traktor yang dipasang pada
rig pengeboran. Kedalaman lubang bor mesin bisa mencapai 60 70 m. Gambar 7
menunjukkan skematis bor mesin dengan pengglontaran untuk membersihkan lubang bor.

2015 Mekanika Tanah II


9 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Untuk pengglontoran diperlukan selongsong dengan panjang 2 3 m dimasukkan kedalam
tanah. Tanah dalam selongsong selanjutnya dikeluarkan menggunakan alat pemotong yang
dipasang pada ujung batang bor. Air dipancarkan melalui batang bor dengan kecepatan
tinggi. Air, alat potong dan partikel tanah diangkat melalui lubang bor menggunakan air yang
megalir melalui ke bagian atas selongsong. Air pencuci tersebut dikumpulkan dalam suatu
kontainer. Selongsng dapat diperpanjang sesuai kebutuhan.

Gambar 7: Skematik Bor Mesin


Rotary drilling adalah metode pengeboran mesin yang dilakukan menggunakan alat bor
putar cepat yang dipasang pada bagian bawah batang bor dan menembus sampai
kedalaman yang dikehendaki. Metode ini dapat digunakan untuk tanah pasir, lempung dan
batuan. Air atau lumpur pengeboran dipancarkan ke bawah melalui batang bor sampai pada
ujung bawah dan kembali ke atas dengan kecepatan alir yang tinggi. Lumpur pengeboran
berupa slurry atau bentonite. Lumpur pengeboran ini mencegah tanah longsor sepanjang
lubang bor. Batang bor diangkat dan bor potong diganti dengan pengangkat sampel.
Pengeboran perkusi adalah metode pengebora yang biasanya digunakan untuk tanah keras
atau batuan. Alat potong sampel dinaikkan/turunkan untuk memotong tanah keras. Partikel
tanah yang terpotong dibawa ke atas menggunakan sirkulasi air. Pengeboran perkusi harus
menggunakan selongsong untuk menjaga tanah tidak longsor kedalam lubang bor. Gambar
8 mengilustrasikan pelaksanaan pengeboran menggunakan bor mesin.

2015 Mekanika Tanah II


10 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
5.3 Pengambilan Sampel Tanah
Split-poon sampler digunakan untuk mengambil sampel tanah terganggu, namun masih
mewakili sampel tersebut. Split-spoon sampler terdiri dari suatu alat baja pengambil sampel
tanah. Tabung baja tersebut terbelah dua memanjang dan di kopel di bagian atas. Kopel
sampler dihubungkan ke batang bor. Sampler dimasukkan ke dalam tanah menggunakan
hamer sampai pada ujung batang bor. Jumlah pukulan yang diperlukan bagi spoon masuk
dalam tanah dengan interval 3 kali 15,24 cm dicatat. Jumlah pukulan yg diperlukan untuk
dua interval terakhir dicatat pada kedalaman tersebut dan disebut angka N (ASTM D1586-
84). Selanjutnya sampler ditarik dan kopel dilepas. Bila etidak dapat mengambil sampel
tanah seperti pasir, maka penangkap core harus dipasang dalam spoon. Gambar 9
menunjukkan penampang melintang spli-spoon sampler dengan penangkap core berpegas.

Gambar 8: Foto-foto pelaksanaan Pengeboran

5.4 Coring Batuan


Rock coring diperlukan ketika pada saat pengeboran dijumpai lapisan batuan. Coring bit
dipasang dibagian ujung bawah bor. Core barrel dipasang pada batang bor. Coring
dilakukan dengan pengeboran putar. Pada saat pengeboran, pengaliran air dilakukan
melalui batang bor selama coring dan pemotongan core dilakukan. Gambar 10 menunjukkan
penampang melintang rock coring.
Pada waktu sampel core didapat, kedalaman pemulihan harus dicatat dengan benar untuk
evaluasi selanjutnya. Berdasarkan panjang core batuan yang didapat dari masing-masing

2015 Mekanika Tanah II


11 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
coring, maka didapat kualitas core batuan. Evaluasi rasio perolehan core dihitung sebagai
berikut

(5)
Sedangkan nilai rock quality designation atau RQD dihitung dengan persamaan sebagai
berikut

(6)

Gambar 9: Penampang Melintang Spli-Spoon Sampler

2015 Mekanika Tanah II


12 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 10: Penampang Melintang Rock Coring

Recovery rasio sebesar 1 mengindikasikan keberadaan intack rock. Untuk batuan yang
hancur nilai rasio recovery nya adalah 0,5 atau lebih kecil. Hubungan antara kualitas batuan
dan RQD dapat dilita pada Tabel 4.

Tabel 4: Hubungan antara kualitas batuan dan RQD (Deere, 1963)

RQD Kualitas Batuan

0 0,25 Very poor/sangat jelek

0,25 0,5 Poor/jelek

0,5 0,75 Fair/cukup

0,75 0,90 Good/baik

0,90 1,00 Excellent/sangat baik

5.5 Pembuatan Boring Log


Setiap pelaksanaan pengeboran harus dibuat boring log yang dapat menjelaskan segala
informasi yang dikumpulkan selama pengeboran. Gambar 11 mengilustrasikan tipikal boring
log.

2015 Mekanika Tanah II


13 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 11: Tipikal Boring Log

2015 Mekanika Tanah II


14 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
American Society for Testing Materials D-3282, Standard Practice for Classification of
Soils and Soil-Aggregate Mixtures for Highway Construction Purposes, Annual
Books of ASTM, Vol. 04.08, Conshohocken, PA., 2004.
American Society for Testing Materials D-2487, Test Method for Classification of Soils for
Engineering Purposes, Annual Books of ASTM, Vol. 04.08, Conshohocken, PA.,
2004.
Das, Braja M., Priciples of Foundation Engineering, edisi ke 4, Brooks/Cole PWS
Publishing Company, USA, 1999.
Das, Braja M., Fundamentals of Geotechnical Engineering, Brooks/Cole Thomson
Learning, USA, 2000.
Das, Braja M., Principles of Geotechnical Engineering, edisi ke 5, Brooks/Cole Thomson
Learning, USA, 2002.
Deere, D. U., Technical Description of Rock Cores for Engineering Purposes,
Felsmechanik und Ingenieurgeologie, Volume 1, No. 1,, hal. 16-22,, 1963.
Highway Research Board, Report of the Committee on Classification of Materials for
Subgrades and Granular Tieype Roads, Volume 25 hal. 375-388, 1945.
Sower, G. B., dan Sower, G. F., Introductory Soil Mechanics and Foundations,
Macmillan, New York 1970.

2015 Mekanika Tanah II


15 Wimpie Agoeng Noegroho Aspar
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id