Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN

PERUBAHAN PROSES PIKIR: WAHAM

Disusun oleh :

NAMA : ADE IMRON EFENDI

NIM : C0016001

PRODI ILMU KEPERAWATAN DAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI MANDALA HUSADA
Jl. Cut Nyak Dien No. 16, Kalisapu SLAWI
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
1
2

Waham merupakan salah satu jenis gangguan jiwa.


Waham sering ditemui pada gangguan jiwa berat dan
beberapa bentuk waham yang spesifik sering ditemukan
pada penderita skizofrenia. Semakin akut psikosis semakin
sering ditemui waham disorganisasi dan waham tidak
sistematis. Kebanyakan pasien skizofrenia daya tiliknya
berkurang dimana pasien tidak menyadari penyakitnya serta
kebutuhannya terhadap pengobatan, meskipun gangguan
pada dirinya dapat dilihat oleh orang lain (Tomb, 2003 dalam
Purba, 2008).
Waham terjadi karena munculnya perasaan terancam
oleh lingkungan, cemas, merasa sesuatu yang tidak
menyenangkan terjadi sehingga individu mengingkari
ancaman dari persepsi diri atau objek realitas dengan
menyalah artikan kesan terhadap kejadian, kemudian
individu memproyeksikan pikiran dan perasaan internal
pada lingkungan sehingga perasaan, pikiran, dan keinginan
negatif tidak dapat diterima menjadi bagian eksternal dan
akhirnya individu mencoba memberi pembenaran personal
tentang realita pada diri sendiri atau orang lain ( Purba,
2008 )
Dalam melakukan strategi pelaksanaan komunikasi
teraupetik perawat mempunyai empat tahap komunikasi,
yang setiap tahapnya mempunyai tugas yang harus
diselesaikan oleh perawat. Empat tahap tersebut yaitu tahap
pra interaksi, orientasi atau perkenalan, kerja dan terminasi.
Dalam membina hubungan teraupetik perawat klien,
diperlukan ketrampilan perawat dalam berkomunikasi untuk
membantu memecahkan masalah klien. Perawat harus hadir
3

secara utuh baik fisik maupun psikologis terutama dalam


penampilan maupun sikap pada saat berkomunikasi dengan
klien (Riyadi, 2009)

B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan laporan ini adalah :
1. Tujuan Umum
Memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan waham dan
membandingkan asuhan keperawatan waham secara teori dan kenyataan.

2. Tujuan Khusus
a. Memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan baik secara teori
maupun pada pasien dengan waham.Membandingkan antara konsep
dasar yang terkait dengan fakta yang ada di lapangan tentang
pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan waham.
b. Mampu memahai konsep dasar waham
c. Mampu melaksanakan pengkajian pada klien dengan waham
d. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan
waham.
e. Mampu menyusun tujuan dan intervensi keperawatan pada klien
dengan waham.

LAPORAN PENDAHULUAN
PERUBAHAN PROSES PIKIR: WAHAM
4

A. Masalah Utama
Perubahan isi pikir : waham

B. Proses terjadinya masalah


1. Pengertian
Waham adalah suatu keyakinan yang dipertahankan secara kuat terus-
menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan (Budi Anna Keliat, 2006).
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas
yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan
latar belakang budaya klien (Aziz R, 2003).
Waham merupakan merupakan suatu keyakinan tentang isi pikiran yang
tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar
belakang kebudayaannya, keyakinan tersebut dipertahankan secara kokoh dan
tidak dapat diubah-ubah (Ramdi, 2000).
Jadi dapat disimpulkan waham adalah keyakinan seseorang yang
berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten
dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham
dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya
penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan
aniaya.

2. Penyebab
Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir : waham yaitu
Gangguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian
individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh
perilaku sesuai dengan ideal diri. Gangguan harga diri dapat digambarkan
sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, dan
merasa gagal mencapai keinginan.
Tanda dan Gejala :

a. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan


terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)

b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri


sendiri)
5

c. Gangguan hubungan sosial (menarik diri)

d. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)

e. Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan
yang suram, mungkin klien akan mengakhiri kehidupannya.

3. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala dari pasien waham, sebagai berikut :
a. Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan
tetapi tidak sesuai kenyataan

b. Klien tampak tidak mempunyai orang lain

c. Curiga

d. Bermusuhan

e. Merusak (diri, orang lain, lingkungan)

f. Takut, sangat waspada

g. Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas

h. Ekspresi wajah tegang

i. Mudah tersinggung.

4. Akibat
Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko mencederai
diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu
tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang
lain dan lingkungan.
6

Tanda dan Gejala :


1. Memperlihatkan permusuhan

2. Mendekati orang lain dengan ancaman

3. Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai

4. Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan

5. Mempunyai rencana untuk melukai

C. Pohon Masalah/Patways

D. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji

1. Masalah keperawatan

a. Kerusakan komunikasi : verbal

1) Data subjektif

Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik


7

2) Data objektif

kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak


mata kurang

b. Isolasi sosial : menarik diri

1) Data obyektif

Apatis, ekpresi sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri dikamar,


banyak diam, kontak mata kurang (menunduk), menolak berhubungan
dengan orang lain, perawatan diri kurang, posisi menekur.

2) Data subyektif

Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab


dengan singkat, ya atau tidak

c. Resiko tinggi mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan

1) Data subjektif

Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya tentang kecurigaan


akan adanya orang-orang yang disekitarnya yang ingin mencederai
dirinya berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.

2) Data objektif

Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan,


merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat
waspada, tidak tepat menilai lingkungan/ realitas, ekspresi wajah klien
tegang, mudah tersinggung.

2. Data yang perlu di kaji


8

Pengkajian

Wawancara :

a. Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,


kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan
tetapi tidak sesuai kenyataan

b. Klien tampak tidak mempunyai orang lain

c. Curiga

d. Bermusuhan

e. Merusak (diri, orang lain, lingkungan)

f. Takut, sangat waspada

g. Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas

h. Ekspresi wajah tegang

i. Mudah tersinggung

Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa faktor


presipitasi, penilaian stressor , sumber koping yang dimiliki klien. Setiap
melakukan pengkajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat isi
pengkajian meliputi :

1. Identitas Klien
9

Meliputi nama klien , umur , jenis kelamin , status perkawinan, agama,


tangggal masuk rumah sakit , informan, tangggal pengkajian, No rumah
klien dan alamat klien.

2. Keluhan Utama

Keluhan biasanya sering berbicara diluar kenyataan, komunikasi kurang


atau tidak ada, menolak interaksi dengan orang lain ,tidak melakukan
kegiatan sehari hari , dependen.

3. Faktor predisposisi

Kehilangan , perpisahan , penolakan orang tua ,harapan orang tua yang


tidak realistis ,kegagalan / frustasi berulang , tekanan dari kelompok
sebaya; perubahan struktur sosial.Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya
harus dioperasi , kecelakaan dicerai suami, putus sekolah , PHK,
perasaan malu karena sesuatu yang terjadi (korban perkosaan , dituduh
KKN, dipenjara tiba tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai
klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama.

4. Aspek fisik / biologis

Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan , TB, BB) dan
keluhan fisik yang dialami oleh klien.

5. Aspek Psikososial

Konsep diri

a. Citra tubuh

Menolak dilihat dan disentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak
menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi.
Menolak penjelasan perubahan tubuh, persepsi negatif tentang tubuh.
10

Mendekati orang lain dengan ancaman. Menyentuh orang lain dengan


menakutkan. Mempunyai rencana untuk melukai.

b. Identitas diri

Ketidakpastian memandang diri, sukar menetapkan keinginan dan


tidak mampu mengambil keputusan.

c. Peran

Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit , proses


menua , putus sekolah, PHK.

d. Ideal diri

Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya: mengungkapkan


keinginan yang terlalu tinggi.

e. Harga diri

Perasaan marah terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri


sendiri, gangguan hubungan sosial, mencederai diri.

6. Status Mental

Kontak mata klien seperti mencurigai, kurang dapat memulai


pembicaraan, klien kurang mampu berhubungan dengan orang lain.

7. Aspek Medik

Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi


ECT, Psikomotor, therapy okopasional, TAK , dan rehabilitas
11

E. Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan komunikasi verbal

2. Isolasi sosial

3. Resiko tinggi mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan

F. Rencana Tindakan Keperawatan

1. kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham

Tujuan umum :

Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal

Tujuan khusus :

a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat

Tindakan :

1) Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri,


jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat
kontrak yang jelas topik, waktu, tempat

2) Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat


menerima keyakinan klien 'saya menerima keyakinan anda' disertai
ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai
ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.

3) Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi:


katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat
12

yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan


klien sendirian.

4) Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan


perawatan diri.

b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki

Tindakan :

1) Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.

2) Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu


lalu dan saat ini yang realistis.

3) Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk


melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan
perawatan diri).

4) Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai


kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien
sangat penting.

c. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi

Tindakan :

1) Observasi kebutuhan klien sehari-hari.

2) Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di


rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).

3) Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.


13

4) Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan


memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).

5) Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan


wahamnya.

d. Klien dapat berhubungan dengan realitas

Tindakan :

1) Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain,


tempat dan waktu).

2) Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.

3) Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien

e. Klien dapat menggunakan obat dengan benar

Tindakan :

1) Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek


dan efek samping minum obat.

2) Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama


pasien, obat, dosis, cara dan waktu).

3) Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang


dirasakan.

4) Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

f. Klien dapat dukungan dari keluarga

Tindakan :
14

1) Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang:


gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow
up obat.

2) Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.

2. Isolasi sosial berhubungan dengan waham

Tindakan :

1) Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan diri,


jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat
kontrak yang jelas pada setiap pertemuan (topik yang akan dibicarakan,
tempat berbicara, waktu bicara).

2) Berikan perhatian dan penghargaan : temani klien waktu tidak


menjawab, katakan saya akan duduk disamping anda, jika ingin
mengatakan sesuatu saya siap mendengarkan. Jika klien menatap
wajah perawat katakan ada yang ingin anda katakan?.

3) Dengarkan klien dengan empati : berikan kesempatan bicara (jangan di


buru-buru), tunjukkan perawat mengikuti pembicaraan klien.

4) Bicara dengan klien penyebab tidak mau bergaul dengan orang lain.

5) Diskusikan akibat yang dirasakan dari menarik diri.

6) Diskusikan keuntungan bergaul dengan orang lain.


15

7) Bantu klien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki klien untuk


bergaul.

8) Lakukan interaksi sering dan singkat dengan klien (jika mungkin


perawat yang sama).

9) Motivasi / temani klien untuk berinteraksi / berkenalan dengan klien /


perawat lain. beri contoh cara berkenalan.

3. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berubungan dengan


waham.

Tujuan umum :

Klien tidak menciderai diri, orang lain, dan lingkungan

Tujuan khusus :

a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.


Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran
hubungan interaksinya.

Tindakan :

1) Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan diri,


jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat
kontrak yang jelas (topik, waktu, tempat).

2) Jangan membantah dan mendukung waham klien : katakan perawat


menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan anda"
disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung
16

disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham


klien

3) Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi :


katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat
yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan
klien sendirian.

4) Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan


perawatan diri

b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki. Rasional :


Dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki klien, maka akan
memudahkan perawat untuk mengarahkan kegiatan yang bermanfaat
bagi klien dari pada hanya memikirkannya.

Tindakan :

1) Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.

2) Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu


lalu dan saat ini yang realistis.

3) Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk


melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan
perawatan diri).

4) Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai


kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien
sangat penting.

c. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi.


Rasional : Dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi
perawat dapat merencanakan untuk memenuhinya dan lebih
17

memperhatikan kebutuhan klien tersebut sehingga klien merasa nyaman


dan aman.

Tindakan :

1) Observasi kebutuhan klien sehari-hari.

2) Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di


rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).

3) Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.

4) Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan


memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).

5) Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan


wahamnya.

d. Klien dapat berhubungan dengan realitas. Rasional : Menghadirkan


realitas dapat membuka pikiran bahwa realita itu lebih benar dari pada
apa yang dipikirkan klien sehingga klien dapat menghilangkan waham
yang ada

Tindakan :

1) Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain,


tempat dan waktu).

2) Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.

3) Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.

e. Klien dapat menggunakan obat dengan benar. Rasional : Penggunaan


obat yang secara teratur dan benar akan mempengaruhi proses
penyembuhan dan memberikan efek dan efek samping obat.
18

Tindakan :

1) Diskusikan dengan klien tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek


dan efek samping minum obat.

2) Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama


pasien, obat, dosis, cara dan waktu).

3) Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang


dirasakan.

4) Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

f. Klien dapat dukungan dari keluarga. Rasional : Dukungan dan perhatian


keluarga dalam merawat klien akan mambentu proses penyembuhan
klien.

Tindakan:

1) Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang :


gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow
up obat.

2) Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga


19

DAFTAR PUSTAKA

Aziz R, dkk. (2003). Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang: RSJD Dr.
Amino Gondoutomo.
Doengoes, E Marllyn (2006). Rencana Asuhan Keperawatan Psikiatri Edisi 3
jakarta : EGC.
Keliat, Budi Anna dkk. (2006). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 2.
Jakarta: EGC
Nurjannah (2005). Buku Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa edisi 2.
Bandung.Moco Media
Suliswati. (2005). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC.
20

LAMPIRAN

STRATEGI PELAKSANAAN KE 1 PSIKOTERAPEUTIK PASIEN


DENGAN WAHAM : CURIGA
Masalah utama : WAHAM (CURIGA)
Hari / Tanggal :
Pertemuan ke :1
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien
Klien mengatakan selalu ada yang akan mencelakainya, jika di dekati
selalu terlihat curiga
2. Diagnosa keperawatan
Waham
3. Tujuan khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
c. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
4. Tindakan keperawatan
21

a. Bantu orientasi realitas: panggil nama, orientasi waktu, orang dan


tempat/lingkungan.
b. Diskusikan kebutuhan pasien yang tidak terpenuhi
c. Bantu pasien memenuhi kebutuhannya yang realistis
d. Masukan pada jadwal kegiatan pemenuhan kebutuhan
e. Diskusikan bersama klien tentang manfaat hygiene
B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Fase Orientasi
Selamat pagi, perkenalkan saya perawat Siti umayah. Biasa dipanggil
May.
Nama bapak siapa, senang dipanggil siapa?
Saya dinas pagi di ruangan ini dari jam 07.00-14.00. Selama di rumah
sakit ini saya yang akan merawat Tn.T?
Dari tadi saya lihat Tn.T terlihat tidak tenang, kenapa?
Bisa kita berbincang-bincang tentang apa yang bapak T rasakan
sekarang?
Berapa lama bapak T mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15
menit?
Dimana enaknya kita berbincang-bincang, pak?
2. Fase kerja
Apa yang Tn.T rasakan sekarang?
Oh.. jadi Tn. T merasa keluarga Tn.T jahat, akan meracuni makanan
Tn.T..??
Siapa yang akan melakukan itu?
Jadi ayah mertua dan orang di sekitar Tn.T yang akan menganiaya dan
meracuni makanan Tn.T?
Kenapa keluarga Tn.T ingin meracuni makanannya Tn.T??
Terus sekarang Tn.T sudah makan belum? Kenapa belum?
Kalau Tn.T sendiri maunya yang ngasih makanan siapa? Lalu, Makanan
kesukaan Tn.T apa..??
Apa Tn.Ttau pentingnya makanan untuk tubuh tuan t? Naah.. sekarang
Tn.T sudah tau yah pentingnya makanan, sekarang makan dulu yah.., di
habiskan...., jangan takut, saya tidak akan jahatin Tn.T, sekarang saya
pergi dulu, nanti 15 menit lagi saya akan kesini, permisi..,
3. Fase terminasi
Bagaimana pak, makanannya enak tidak? Lho kok tidak habis? sudah
kenyang belum? Nahh.. sekarang Tn.T sudah tau kan pentingnya
makanan untuk Tn.T, Tn.T bisa lakukan 3 x sehari ya.., pagi, siang,
22

malam, tidak perlu takut makanannya akan diracuni, karna disini tidak
ada orang jahat.
Mari kita masukkan dalam jadual aktivitas harian. Nahh... lakukan ya
Tn.T, dan beri tanda kalau sudah dilakukan Seperti M ( mandiri ) kalau
dilakukan tanpa disuruh, B (bantuan) kalau diingatkan baru dilakukan dan
T ( tidak ) tidak melakukannya? Baik besok kita ketemu lagi untuk
ngobrol tentang aktivitas yang bapak suka yah.. sehabis makan.

STRATEGI PELAKSANAAN KE 2 PSIKOTERAPEUTIK PASIEN DENGAN


WAHAM (CURIGA)

Masalah utama : waham (curiga)


Hari / Tanggal :
23

Pertemuan ke :2
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien
Pasien terlihat sering melamun dan berdiam diri
2. Diagnosa keperawatan
Waham
3. Tujuan khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
c. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
4. Tindakan keperawatan
a. Diskusikan kemampuan yang dimiliki
b. Latih kemampuan yang dipilih, berikan pujian
c. Masih dilatukan pada jadwal pemenuhan kebutuhan dan kegiatan yang
telah dilatih
B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Fase Orientasi
Selamat pagi Tn.T
Masih ingat dengan saya? Ya benar, saya perawat May.
Seperti janji kita kemarin, kita akan melakukan kegiatan yang biasa
Tn.T lakukan atau sukai yah?
Berapa lama Tn.T mau kita melakukannya? Bagaimana kalau 15
menit?
Tempatnya menyesuaikan saja yah pak
2. Fase Kerja
Apa yang Tn.T sukai dan kegiatan apa yang Tn.T lakukan setelah
selesai mandi atau makan?
Iya bagus pak, bapak sudah melakukan hal-hal positif seperti
bermain bulu tangkis
Sekarang kita coba lakukan kegiatan yang di sukai bapak ya?
Ya bagus pak, bapak sudah melakukan kegiatan dengan baik. Pada
waktu senggang bapak bisa melakukan kegiatan ini lagi untuk
mengalihkan pikiran bapak agar tidak sering melamun
3. Fase Terminasi
Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang dengan saya
dan telah melakukan kegiatan yang disukai bapak?.
Coba pak, kira-kira kapan bapak bisa melakukan kegiatan seperti tadi
lagi?
Selanjutnya bapak setiap hari setelah mandi dan makan bapak bisa
melakukan kegiatan tersebut untuk mengisi waktu luang bapak. Mari
24

kita masukan pada jadual kegiatan harian, pagi jam berapa, lalu sore
jam berapa?
Besok pagi kita lakukan kegiatan seperti bulu tangkis tempatnya di
lapangan depan kamar bapak.

STRATEGI PELAKSANAAN KE 3 PSIKOTERAPEUTIK PASIEN DENGAN


WAHAM (CURIGA)

Masalah utama : WAHAM


Hari / Tanggal :
Pertemuan ke :3
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien
Klien sudah mulai percaya dan kooperatif dengan perintah perawat
2. Diagnosa keperawatan
waham
3. Tujuan khusus
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
b. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
c. Klien dapat melakukan aktifitas secara mandiri
4. Tindakan keperawatan
a. Evaluasi kegiatan pemenuhan kebutuhan pasien, kegiatan yang
dilakukan pasien dan berikan pujian
b. Jelaskan tentang obat yang diminum (6 benar: jenis, guna, dosis,
frekuensi, cara, kontinuitas minum obat) dan tanyakan manfaat
yang dirasakan pasien.
25

c. Masukan pada jadwal pemenuhan kebutuhan, kegiatan yang perlu


di latih, dan obat
B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Fase Orientasi
Selamat pagi Tn.T? Masih ingat dengan saya kan?
Naahh kemarin kita sudah berbincang-bincang mengenai
kekhawatiran terhadap keluarga Tn.T yang merasa keluarganya akan
memberi racun pada makanan Tn.T,
kemudian Tn.T juga sudah mengisi waktu dengan bermain bulu
tangkis yah sekarang, kita akan membahas tentang cara minum obat,
supaya Tn.T cepet sembuh. Tn.T mau dimana? Kira-kira waktunya mau
berapa menit?
2. Fase Kerja
Apakah Tn.T sekarang sudah mandi? sudah makan? bapak tadi mandi
sendiri apa dimandiin? Tadi makan apa? Apakah Tn.T menyukai
makanan itu? Lalu habis tidak?
Sekarang kita akan berbincang-bincang tentang obat yang saya bawa
ini, disini ada beberapa jenis obat yang kegunaannya untuk mempercepat
kesembuhan Tn.T, obat ini diminum 3x sehari setelah makan. Sekarang
kan Tn.T sudah tau kegunaan obat tersebut, berhubung Tn.T sudah
makan jadi obatnya diminum sekarang yah pak. Biar bapak cepat
sembuh. Tn.T ingin cepat sembuh kan? Jadi yang rajin yah minum
obatnya.
Setiap waktunya minum obat perawat akan datang untuk mengantarkan
obat, obatnya harus diminum semua yah sampai habis dan rutin
diminum.
3. Fase Terminasi
Bagaimana perasaan Tn.T setelah kita berbincang mengenai obat yang
harus diminum.
nah coba tadi kegunaan obat untuk apa? lalu minumnya berapa kali
dalam sehari?
Nahh... coba Tn.T lakukan seperti tadi sehabis makan minum obat, dan
sekarang kita masukkan dalam jadwal? Besok kita ketemu lagi untuk
minum obat sekitar jam 08.00 pagi yah.
26

STRATEGI PELAKSANAAN KE 4 PSIKOTERAPEUTIK PASIEN DENGAN


WAHAM (CURIGA)

Masalah utama : WAHAM


Hari / Tanggal :
Pertemuan ke :4
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien
Pasien sudah bisa memenuhi kebutuhan secara mandiri
2. Diagnosa keperawatan
waham
3. Tujuan khusus
a. Mengevaluasi kebutuhan harian pasien
b. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
c. Klien dapat melakukan aktifitas secara mandiri
4. Tindakan keperawatan
a. Diskusikan kebutuhan lain dan cara memenuhinya
b. Diskusikan kemampuan yang dimiliki dan memilih yang akan di
latih. Kemudian latih.
c. Masukkan pada jadwal pemenuhan kebutuhan, kegiatan yang telah
dilatih, minum obat
B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Fase Orientasi
Selamat pagi Tn.T?
Naahh kemarin kita sudah berbincang-bincang tentang obat yang di
minum oleh bapak, termasuk jenis, guna, dosis, frekuensi, dan cara
kontinuitas minum obat.
Apa yang dirasakan bapak setelah minum obat?
Apakah bapak minum obat sesuai dengan aturan dan dosis yang
diberikan?
27

Sekarang kita akan membahas tentang pemenuhan kebutuhan minum


obat agar Tn.T cepet sembuh. Tn.T mau berbincang-bincang dimana?
Kira-kira waktunya mau berapa menit?
4. Fase Kerja
Apakah Tn.T sekarang sudah minum obat?
Bapak minum obat sendiri apa di bantu oleh perawat?
Apakah bapak selama ini minum obat sesuai dengan aturan yang
dianjurkan?
Bapak obatnya secara langsung di minum apa dihancurkan terlebih
dahulu?
Berhubung bapak minum obatnya dengan cara dihancurkan terlebih
dahulu, sekarang saya akan mengajarkan dan melatih cara minum obat
yang benar untuk mempermudah bapak dalam minum obat
Caranya bapak masukkan 1 butir obat kedalam mulut lalu bapak minum
air putih setelah itu langsung ditelan bersamaan dengan obat
Setiap waktunya minum obat bapak bisa melakukan cara yang saya
ajarkan tadi dan pada saat waktunya minum obat, bapak harus melan
semua obat yang diberikan oleh perawat.
5. Fase Terminasi
Apakah bapak sudah mengerti yang saya jelaskan tadi dan sudah bisa
melakukan cara minum obat yang tadi saya ajarkan.
Nah.. coba praktekkan cara minum obat yang benar, dan lakukan seperti
tadi yang saya ajarkan.
Besok kita ketemu lagi untuk menilai kemampuan minum obat sekitar
jam 08.00 pagi yah.

STRATEGI PELAKSANAAN KE 5 PSIKOTERAPEUTIK PASIEN DENGAN


WAHAM (CURIGA)

Masalah utama : WAHAM


Hari / Tanggal :
28

Pertemuan ke :5
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien
Pasien sudah bisa mengontrol wahamnya secara mandiri
2. Diagnosa keperawatan
Waham
3. Tujuan khusus
a. Mengevaluasi kegiatan pemenuhan kebutuhan harian pasien
b. Mengevaluasi pasien dalam minum obat secara mandiri
c. Klien dapat minum obat secara teratur untuk mengurai munculnya
waham
4. Tindakan keperawatan
a. Evaluasi kegiatan pemenuhan kebutuhan kegiatan yang dilatih, dan
minum obat. Berikan pujian
b. Nilai kemampuan yang telah mandiri
c. Nilai apakah frekuensi munculnya waham berkurang,apakah waham
terkontrol
B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Fase Orientasi
Selamat pagi Tn.T? Masih ingat dengan saya kan?
Kemarin kita sudah belajar cara minum obat yang benar.
Apa bapak sudah bisa melakukan cara minum obat yang saya ajarkan
kemarin, apa yang dirasakan bapak setelah minum obat?
Apakah bapak minum obat sesuai dengan aturan dan dosis yang
diberikan?
Sekarang kita akan membahas tentang menilai kemampuan bapak dalam
minum obat secara mandiri
Tn.T mau berbincang-bincang dimana? Kira-kira waktunya mau berapa
menit?
2. Fase Kerja
Apakah Tn.T sekarang sudah minum obat?
Bapak minum obat sendiri apa di bantu oleh perawat?
Apakah bapak selama ini minum obat sesuai dengan aturan yang
dianjurkan?
Apakah bapak sudah minum obatnya langsung diminum atau dengan
cara dihancurkan terlebih dahulu?
Yaa..bagus pak, bapak sudah bisa minum obat secara langsung tanpa
dihancurkan.
Bapak minum obatnya yang rajin agar cepat sembuh.
29

Sekarang bapak masih sering berpikiran bahwa ada seseorang yang


ingin mencelakai bapak?
Bagus yaa pak,bapak sekarang sudah bisa mengontrol pikiran yang
kurang baik pada diri bapak.
Mulai sekarang bapak minum obatnya di tingkatkan lagi yaa pak?
Agar pikiran bapak jauh lebih tenang
3. Fase Terminasi
Sekarang pemikiran kecurigaan bapak terhadap orang lain mulai
terkontrol
Obatnya diminum terus yaa pak,agar kecurigaan bapak dapat terkontrol
dan hilang.
Apakah bapak sudah mengerti yang saya jelaskan tadi dan sudah bisa
melakukan cara minum obat yang tadi saya ajarkan.
Terima kasih atas waktunya,selamat siang"