Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

SPONDILITIS TUBERKULOSA

A. KONSEP MEDIS

1. Pengertian

Spondilitis tuberkulosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa

infeksi granulomatosis di sebabkan oleh kuman spesifik yaitu

mycobacterium tuberkulosa yang mengenai tulang vertebra.

Spondilitis TB disebut juga penyakit Pott bila disertai paraplegi

atau defisit neurologis. Spondilitis ini paling sering ditemukan pada

vertebra Th 8-L3 dan paling jarang pada vertebra C2. Spondilitis TB

biasanya mengenai korpus vertebra, sehingga jarang menyerang arkus

vertebra.

2. Etiologi
Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari

tuberkulosis di tempat lain di tubuh, 90-95% disebabkan oleh

micobakterium tuberkulosis tipik (2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe

bovin) dan 5-10% oleh micobakterium tuberkulosa atipik. Kuman ini

berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam

pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam

(BTA). Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi

dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab.

Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dorman, tertidur lama selama

beberapa tahun.
3. Patofisiologi
Patogenesis penyakit ini sangat tergantung dari kemampuan bakteri

menahan cernaan enzim lisosomal dan kemampuan host untuk

memobilisasi imunitas seluler. Jika bakteri tidak dapat diinaktivasi, maka

bakteri akan bermultiplikasi dalam sel dan membunuh sel itu. Komponen

lipid, protein serta polisakarida sel basil tuberkulosa bersifat

immunogenik, sehingga akan merangsang pembentukan granuloma dan

mengaktivasi makrofag. Beberapa antigen yang dihasilkannya dapat juga

bersifat immunosupresif (Mansjoer, 2000)


Infeksi mycobacterium tuberculosis pada tulang selalu merupakan

infeksi sekunder. Berkembangnya kuman dalam tubuh tergantung pada

keganasan kuman dan ketahanan tubuh pasien. Lima stadium perjalanan

penyakit spondilitis tuberkulosa, antara lain: (Rasjad, 2007)

a. Stadium I (implantasi)
Setelah bakteri berada dalam tulang, maka bila daya tahan

tubuh pasien menurun, bakteri akan berduplikasi membentuk koloni

yang berlangsung selama 6-8 minggu. Keadaan ini umumnya terjadi

pada daerah torakolumbal.


b. Stadium destruksi awal
Setelah stadium implantasi, selanjutnya terjadi destruksi

korpus vertebra serta penyempitan yang ringan pada diskus. Proses

ini berlangsung selama 3-6 minggu

c. Stadium destruksi lanjut


Pada stadium ini terjadi destruksi yang masif, kolaps vertebra

dan terbentuk massa kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses

(abses dingin), yang terjadi 23 bulan setelah stadium destruksi awal.


Selanjutnya dapat terbentuk sekuestrum serta kerusakan diskus

intervertebralis. Pada saat ini terbentuk tulang baji terutama di

sebelah depan (wedging anterior) akibat kerusakan korpus vertebra,

yang menyebabkan terjadinya kifosis atau gibus.


d. Stadium gangguan neurologis
Tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi, tetapi

terutama ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis.

Gangguan ini ditemukan 10% dari seluruh komplikasi spondilitis

tuberkulosa. Vertebra torakalis mempunyai kanalis spinalis yang

lebih kecil sehingga gangguan neurologis lebih mudah terjadi pada

daerah ini. Apabila terjadi gangguan neurologis, perlu dicatat derajat

kerusakan paraplegia yaitu :


1) Derajat I
Kelemahan pada anggota gerak bawah setelah beraktivitas atau

berjalan jauh. Pada tahap ini belum terjadi gangguan saraf

sensoris.
2) Derajat II
Kelemahan pada anggota gerak bawah tetapi penderita masih

dapat melakukan pekerjaannya.


3) Derajat III
Kelemahan pada anggota gerak bawah yang membatasi gerak

atau aktivitas penderita disertai dengan hipoestesia atau

anestesia.
4) Derajat IV
Gangguan saraf sensoris dan motoris disertai dengan gangguan

defekasi dan miksi. TBC paraplegia atau Pott paraplegia dapat

terjadi secara dini atau lambat tergantung dari keadaan

penyakitnya. Pada penyakit yang masih aktif, paraplegia terjadi


karena tekanan ekstradural dari abses paravertebral atau

kerusakan langsung sumsum tulang belakang oleh adanya

granulasi jaringan. Paraplegia pada penyakit yang tidak aktif

atau sembuh terjadi karena tekanan pada jembatan tulang

kanalis spinalis atau pembentukan jaringan fibrosis yang

progresif dari jaringan granulasi tuberkulosa. TBC paraplegia

terjadi secara perlahan dan dapat terjadi destruksi tulang disertai

dengan granulasi dan gangguan vaskuler vertebra.


e. Stadium deformitas residual
Stadium ini terjadi kurang lebih 35 tahun setelah timbulnya

stadium implantasi. Kifosis atau gibus bersifat permanen oleh karena

kerusakan vertebra yang masif di sebelah depan.

4. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis spondilitis tuberkulosa yaitu:
a. Badan lemah, lesu, nafsu makan berkurang, dan berat badan menurun.
b. Suhu subfebril terutama pada malam hari dan sakit (kaku) pada

punggung. Pada anak-anak sering disertai dengan menangis pada

malam hari.
c. Pada awal dijumpai nyeri interkostal, nyeri yang menjalar dari tulang

belakang ke garis tengah atas dada melalui ruang interkostal. Hal ini

disebabkan oleh tertekannya radiks dorsalis di tingkat torakal.


Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan

gejala tuberkulosis pada umumnya, yaitu: (Mansjoer, 2000)


a. Badan lemah/ lesu
b. Penurunan berat badan
c. Nafsu makan berkurang
d. Demam subfebris
e. Nyeri vertebra/lokal pada lokasi infeksi sering dijumpai dan

menghilang bila istirahat.


f. Deformitas tulang belakang
g. Adanya spasme otot paravertebralis
h. Nyeri ketok tulang vertebra
i. Gangguan motorik
j. Adanya gibus/kifosis

5. Komplikasi

Komplikasi yang paling serius dari spondilitis TB adalah Potts

paraplegia. Pada stadium awal spondilitis TB, munculnya Potts

paraplegia disebabkan oleh tekanan ekstradural pus maupun sequester

atau invasi jaringan granulasi pada medula spinalis dan jika Potts

paraplegia muncul pada stadium lanjut spondilitis TB maka itu

disebabkan oleh terbentuknya fibrosis dari jaringan granulasi atau

perlekatan tulang ( ankilosing ) di atas kanalis spinalis. Komplikasi lain

yang mungkin terjadi adalah ruptur dari abses paravertebra torakal ke

dalam pleura sehingga menyebabkan empiema tuberkulosis, sedangkan

pada vertebra lumbal maka nanah akan turun ke otot iliopsoas

membentuk psoas abses yang merupakan cold abcess.

6. Pemeriksaan penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

1) Peningkatan laju endapan darah (LED) dan mungkin disertai

Mikrobakterium

2) Uji mantoux positif


3) Pada pemeriksaan biakan kuman mungkin ditemukan

mikrobakterium

4) Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limpe regional

5) Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberculosis

b. Pemeriksaan Radiologis

1) Foto thoraks untuk melihat adanya tuberculosis paru

2) Foto polos vertebra ditemukan osteoporosis disertai penyempitan

diskus intervertebralis yang berada di korpus tersebut

3) Pemeriksaan mieleografi dilakukan bila terdapat gejala - gejala

penekanan sumsum tulang

4) Foto CT Scan dapat memberikan gambaran tulang secara lebih

detail dari lesi, skelerosisi, kolap diskus dan gangguan

sirkumferensi tulang

5) Pemeriksaan MRI mengevaluasi infeksi diskus intervetebra dan

osteomielitis tulang belakang dan adanya menunjukan penekanan

saraf.

7. Penanganan

Pada prinsipnya pengobatan tuberculosis tulang belakang harus

dilakukan sesegera mungkin untuk menghentikan progresivitas penyakit

serta mencegah paraplegia. Prinsip pengobatan paraplegia Pott adalah :

a. Pemberian obat anti tuberculosis


b. Dekompresi medulla spinalis
c. Menghilangkan/ menyingkirkan produk infeksi
d. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft)

8. Penatalaksanaan
Pada pasien spondilitis TB terdiri atas :
a. Terapi konservatif berupa:
- Tirah baring (bed rest)
- Memberi korset yang mencegah gerakan vertebra / membatasi

gerak vertebra
- Memperbaiki keadaan umum penderita
- Pengobatan anti tuberculosa
Standar pengobatan di indonesia berdasarkan program P2TB paru

adalah :

1) Kategori 1

Untuk penderita baru BTA (+) dan BTA (-) / rontgen (+),

diberikan dalam 2 tahap :

Tahap 1 :

Rifampisin 450 mg + Etambutol 750 mg + INH 300 mg +

Pirazinamid 1500 mg, Obat ini diberikan setiap hari selama 2

bulan pertama (60 kali).

Tahap 2 :

Rifampisin 450 mg + INH 600 mg, Diberikan 3 kali seminggu

(intermitten) selama 4 bulan (54 kali).


2) Kategori 2

Untuk penderita BTA(+) yang sudah pernah minum obat

selama sebulan, termasuk penderita dengan BTA (+) yang

kambuh/gagal yang diberikan dalam 2 tahap yaitu :

Tahap I :

Streptomisin 750 mg + INH 300 mg + Rifampisin 450 mg +

Pirazinamid 1500mg + Etambutol 750 mg, Obat ini diberikan

setiap hari. Untuk Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60

kali) dan obat lainnya selama 3 bulan (90 kali).

Tahap 2 :

INH 600 mg + Rifampisin 450 mg + Etambutol 1250 mg, Obat

ini diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 5 bulan (66

kali).

Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum

penderita bertambah baik, laju endap darah menurun dan menetap,

gejala-gejala klinis berupa nyeri dan spasme berkurang serta

gambaran radiologik ditemukan adanya union pada vertebra.

b. Terapi operatif

Indikasi dilakukannya tindakan operasi adalah :


- Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia

atau malah semakin berat. Biasanya tiga minggu sebelum

tindakan operasi dilakukan, setiap spondilitis tuberkulosa

diberikan obat tuberkulostatik.

- Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses

secara terbuka dan sekaligus debrideman serta bone graft.

- Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos, mielografi

ataupun pemeriksaan CT dan MRI ditemukan adanya penekanan

langsung pada medulla spinalis.

Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi

penderita tuberculosis tulang belakang, namun tindakan operatif masih

memegang peranan penting dalam beberapa hal, yaitu bila terdapat cold

abses (abses dingin), lesi tuberkulosa, paraplegia dan kifosis.

a) Abses Dingin (Cold Abses)


Cold abses yang kecil tidak memerlukan tindakan operatif oleh

karena dapat terjadi resorbsi spontan dengan pemberian

tuberkulostatik. Pada abses yang besar dilakukan drainase bedah. Ada

tiga cara menghilangkan lesi tuberkulosa, yaitu :


- Debrideman fokal
- Kosto-transveresektomi
- Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan.
b) Paraplegia
Penanganan yang dapat dilakukan pada paraplegia, yaitu:
- Pengobatan dengan kemoterapi semata-mata
- Laminektomi
- Kosto-transveresektomi
- Operasi radikal
- Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang
c) Kifosis
Operasi pada pasien kifosis dilakukan dengan 2 cara :
- Operasi kifosis
Operasi kifosis dilakukan bila terjadi deformitas yang hebat,.

kifosis mempunyai tendensi untuk bertambah berat terutama pada

anak-anak. Tindakan operatif dapat berupa fusi posterior atau

melalui operasi radikal.


- Operasi PSSW
Operasi PSSW adalah operasi fraktur tulang belakang dan

pengobatan tbc tulang belakang yang disebut total treatment.

Metode ini mengobati tbc tulang belakang berdasarkan masalah

dan bukan hanya sebagai infeksi TBC yang dapat dilakukan oleh

semua dokter. Tujuannya, penyembuhan TBC tulang belakang

dengan tulang belakang yang stabil, tidak ada rasa nyeri, tanpa

deformitas yang menyolok dan dengan kembalinya fungsi tulang

belakang, penderita dapat kembali ke dalam masyarakat, kembali

pada pekerjaan dan keluarganya.

9. Prognosis

Spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit menahun dan

apabila dapat sembuh secara spontan akan memberikan cacat

pembengkokan pada tulang punggung. Dengan jalan radikal operatif,

penyakit ini dapat sembuh dalam waktu singkat sekitar 6 bulan.

Prognosis dari spondilitis tuberkulosa bergantung dari

cepatnya dilakukan terapi dan ada tidaknya komplikasi neurologis.

Diagnosis sedini mungkin dan pengobatan yang tepat, prognosisnya

baik walaupun tanpa operasi. Penyakit dapat kambuh apabila


pengobatan tidak teratur atau tidak dilanjutkan setelah beberapa saat

karena terjadi resistensi terhadap pengobatan. Untuk spondilitis dengan

paraplegia awal, prognosis untuk kesembuhan saraf lebih baik

sedangkan spondilitis dengan paraplegia akhir, prognosis biasanya

kurang baik. Apabila paraplegia disebabkan oleh mielitis tuberkulosa

prognosisnya buruk.

B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian

a. Keluhan Utama

Keluhan utama pada pasien spondiitis TB terdapat nyeri

punggung bagian bawah.

b. Riwayat Kesehatan Sekarang


Pada awal dapat dijumpai nyeri redikuler yang mengelilingi dada

dan perut. Nyeri dirasakan meningkat pada malam hari dan bertambah

berat terutama pada saat pergerakan tulang belakang.

Data Subjektif yang mungkin adalah : badan terasa lemah dan

lesu, nafsu makan berkurang serta sakit pada punggung, pada anak-

anak sering disertai dengan menangis pada malam hari, berat badan

menurun, nyeri spinal yang menetap, nyeri radikuler yang

mengelilingi dada atau perut.

Data Ojektif yang mungkin adalah : suhu sedikit meningkat

(subfebril) terutama pada malam hari, paraplegia, paraparesis, kifosis

(gibbus), bengkak pada daerah paravertebra.

c. Riwayat Kesehatan Dahulu

Pada kasus spondilitis khusunya tentang terjadinya spondilitis

tuberkulosa biasanya pada pasien di dahului dengan adanya riwayat

pernah menderita penyakit tuberculosis paru.

d. Riwayat Penyakit Keluarga

Salah satu penyebab timbulnya spondilitis tuberkulosa adalah

pasien pernah atau masih kontak dengan penderita lain yang

menderita penyakit TB atau lingkungan keluarga ada yang menderita

penyakit tersebut.

e. Psikososial
Pasien akan merasa cemas, sehingga terlihat sedih dengan

kurangnya pengetahuan mengenai penyakit TB, pengobatan dan

perawatannya sehingga membuat emosinya tidak stabil dan

mempengaruhi sosialisasi penderita.

f. Pemeriksaan fisik

1) Inspeksi : terlihat lemah, pucat dan pada tulang belakang terlihat

bentuk kiposis

2) Palpasi : sesuai yang terlihat pada inspeksi keadaan tulang

belakang terdapat adanya gibus pada area tulang yang mengalami

infeksi

3) Perkusi : pada tulang belakang yang mengalami infeksi terdapat

nyeri ketok

4) Auskultasi : pada pemeriksaan auskultasi keadaan paru tidak

ditemukan kelainan

Review of System (ROS) :

1) B1 (Breating).

2) B2 (Blood).

3) B3 (Brain).

4) B4 (bladder).

5) B5 (Bowel).

6) B6 (Bone).

g. Pengkajian diagnostic

1) Laboratorium
Laju Endap darah meningkat

2) Pemeriksaan Diagnostik lain

- Radiologi : terlihat gambaran distruksi vertebra terutama bagian

anterior, sangat jarang menyerang area posterior; terdapat

penyempitan diskus; gambaran abses para vertebral

- Tes Tuberkulin : reaksi tuberkulin biasanya positif

2. Diagnosis keperawatan

a. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan sendi

b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan

musculoskeletal dan nyeri

c. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan gangguan struktur tubuh

d. Ketidak seimbangan nutrisi : nutrisi kurang dari kebutuhan

berhubungan dengan asupan nutrisi tidak adekuat sekunder akibat

nyeri tenggorokan dan gangguan menelan

e. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan peningkatan

pemajanan lingkungan terhadap pathogen; kerusakan jaringan

f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi

mengenai penyakit, pengobatan dan perawatan

3. Rencana tindakan keperawatan

a. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan sendi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 3x24 jam,

rasa nyaman terpenuhi dan nyeri berkurang/hilang

Kriteria Hasil :
- Pasien melaporkan penurunan nyeri

- Skala nyeri 0 - 1

- Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau

menurunkan nyeri

- Pasien menunjukan perilaku yang lebih rileks

Intervensi :

5) Mengkaji TTV

R/ Untuk mengetahui keadaan umum pasien

6) Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri sebagai observasi

penyebaran nyeri

R/ Mengetahui tingkat kemampuan pasien dalam melakukan

aktivitas

7) Kolaborasi dalam pemberian analgesic

R/ Untuk mengurangi/menghilangkan rasa nyeri

8) Anjurkan brace punggung atau korset bila direncanakan

demikian

R/ Korset untuk mempertahankan posisi punggung

9) Anjurkan untuk mengubah posisi ringan dan sering untuk

meningkatkan rasa nyaman

R/ Dilakukan agar otot-otot tidak terus spasme dan tegang

sehingga otot menjadi lemas dan nyeri berkurang

10) Anjurkan penggunaan teknik relaksasi


R/ Metode relaksasi kadang lebih cepat menghilangkan nyeri

atau dengan mengalihkan perhatian pasien sehingga nyeri

berkurang

b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan

musculoskeletal dan nyeri

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam, pasien

dapat melakukan mobilisasi secara optimal

Kriteria Hasil :

- Pasien dapat ikut serta dalam program latihan

- Mencari bantuan sesuai kebutuhan

- Mempertahankan koordinasi dan mobilitas sesuai tingkat optimal

Intervensi :

1) Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan

kerusakan

R/ Mengetahui tingkat kemampuan pasien dalam melakukan

aktivitas

2) Bantu pasien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai

toleransi

R/ Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan

3) Bantu pasien dalam memelihara bentuk spinal; Bed Board

( tempat tidur dengan alas kasur busa keras yang tidak

menimbulkan lekukan saat pasien tidur)

R/ Mempertahankan posisi tulang belakang tetap rata


4) Anjurkan mempertahankan postur tubuh yang baik dan latihan

pernapasan;

- Latihan ekstensi batang tubuh baik posisi berdiri (bersandar

pada tembok) maupun posisi menelungkup dengan cara

mengangkat ekstremitas atas dan kepala serta ekstremitas

bawah secara bersamaan

- Menelungkup sebanyak 3-4 kali sehari selama 15-30 menit

- Latihan pernapasan yang akan dapat meningkatkan

kapasitas pernapasan

R/ Dilakukan untuk menegakkan postur dan menguatkan otot-

otot paraspinal

5) Monitor TTV

R/ Untuk mendeteksi perubahan pada pasien

6) Pantau kulit dan membrane mucosa terhadap iritasi, kemerahan

atau lecet-lecet

R/ Deteksi diri dari kemungkinan komplikasi imobilisasi

7) Anjurkan masukan cairan sampai 2500 ml/hari bila tidak ada

kontra indikasi

R/ Cairan membantu menjaga faeces tetap lunak

8) Kolaborasi pemberian anti inflamasi

R/ Untuk mengurangi peradangan

c. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan gangguan stuktur tubuh


Tujuan : Setelah di lakukan tindakan keperawatan 3x24 jam, pasien

dapat mengekspresikan perasaannya dan dapat

menggunakan koping yang adaptif

Kriteria Hasil :

- Pasien dapat mengungkapkan perasaan/perhatian dan

menggunakan keterampilan koping yang positif dalam mengatasi

perubahan citra

Intervensi :

1) Bina hubungan saling percaya dengan pasien

R/ Memberikan semangat bagi pasien agar dapat memandang

dirinya secara positif dan tidak rendah diri

2) Berikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan

R/ Meningkatkan harga diri pasien dengan ungkapan perasaan

dan dapat membantu penerimaan diri

3) Bantu pasien mencari alternative koping yang pisitif

R/ Dukungan perawat pada pasien dapat meningkatkan rasa

percaya diri pasien

d. Ketidak seimbangan nutrisi : nutrisi kurang dari kebutuhan

berhubungan dengan asupan nutrisi tidak adekuat sekunder akibat

nyeri tenggorokan dan gangguan menelan.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam, maka

kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.


Kriteria hasil:

- Mempertahankan berat badan dalam batas normal

- Klien mampu menghabiskan porsi makanan yang di sediakan

- Klien mengalami peningkatan nafsu makan

Intervensi:

1) Kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien

R/ Mengetahui kekurangan nutrisi pasien

2) Kaji penurunan nafsu makan pasien

R/ Agar dapat dilakukan intervensi dalam pemberian makanan

pada pasien

3) Jelaskan pentingnya makanan bagi proses penyembuhan

R/ Dengan pengetahuan yang baik tentang nutrisi akan

memotivasi untuk meningkatkan pemenuhan nutrisi

4) Ukur berat badan dan tinggi pasien

R/ Membantu dalam identifikasi malnutrisi protein kalori,

khususnya bila berat badan kurang dari normal.

5) Anjurkan porsi makan tapi sering

R/ Untuk memudahkan proses makan

6) Ciptakan suasana makan yang menyenangkan.

R/ membuat waktu makan lebih menyenagkan,yang dapat

meningkatkan nafsu makan.

e. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan peningkatan

pemajanan lingkungan terhadap pathogen; kerusakan jaringan


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam,

diharapkan resiko infeksi sampai dengan pemajanan

lingkungan berkurang/hilang

Kriteria Hasil :

- Tidak ada tanda-tanda infeksi

- Suhu tubuh normal

- Hasil lab normal (leukosit dan LED)

Intervensi :

1) Lakukan teknik isolasi yang tepat sesuai indikasi

R/ Untuk menurunkan resiko kontaminasi silang/terpajan pada

flora bakteri multitel

2) Anjurkan teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu

yang datang kontak dengan pasien

R/ Mencegah kontaminasi silang/ menurunkan resiko infeksi

3) Mengkaji patologi penyakit dan resiko penyebaran infeksi

melalui airbone droplet, selama batuk, bersin, meludah, berbicara,

tertawa, dll

R/ Untuk mengetahui kondisi nyata dari masalah pasien fase

inaktif tidak berarti tubuh pasien sudah terbebas kuman

tuberculosis

4) Mengidentifikasi resiko penularan terhadap orang lain

R/ Mengurangi resiko anggota keluarga untuk tertular dengan

penyakit yang sama dengan pasien


5) Menganjurkan penggunaan tissue untuk membuang sputum

R/ Penyimpanan sputum pada wadah yang terdesinfeksi dan

penggunaan masker dapat meminimalkan penyebaran infeksi

melalui droplet

6) Memonitor suhu sesuai indikasi

R/ Peningkatan suhu menandakan terjadinya infeksi sekunder

f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi

mengenai penyakit, pengobatan dan perawatan

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam, pasien

menyatakan pemahaman tentang kondisi prognosis dan

pengobatan

Kriteria Hasil :

- Melakukan dengan benar prosedur yang diperlukan dan

- Menjelaskan alasan tindakan

Intervensi :

1) Kaji ulang patologi masalah individu

R/ Informasi menunjukkan rasa takut dan ketidaktahuan

2) Jelaskan pengetahuan tentang penyakit yang dialami

R/ Pengertian, penyebab, dapat menambah pengetahuan pasien

3) Jelaskan pengobatan secara teratur

R/ Untuk mempercepat proses penyembuhan

4) Diskusikan perubahan gaya hidup untuk mencegah komplikasi

R/ mencegah terjadinya komplikasi


4. Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan hasil-hasil yang diamati dengan

criteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan komponen tahap

evaluasi;

a. Pencapaian criteria hasil

b. Keefektipan tahap-tahap proses keperawatan

c. Revisi atau terminasi rencana asuhan keperawatan

Adapun criteria hasil yang diharapkan pada pasien spondilitis

tuberkulosa adalah :

a. Adanya peningkatan kegiatan sehari-hari (ADL) tanpa

menimbulkan gangguan rasa nyaman

b. Tidak terjadi deformitas spinal lebih lanjut

c. Nyeri dapat teratasi

d. Tidak terjadi komplikasi

e. Memahami cara perawatan dirumah