Anda di halaman 1dari 3

PENDAHULUAN

Pada beberapa gangguan muskuloskletal akibat infeksi dan inflamasi, ada beberapa keadaan
yang menyebabkan klien mengalami infeksi dan inflamasi pada tulang dan sendi.
Tuberkolosis merupakan penyakit sistemik yang dapat mengenai hampir seluruh tubuh tidak
terkecuali tulang dan sendi. Tuberkolosis sendi dan tulang terutama mengenai daerah tulang
belakang (50-70 %) dan sisanya pada sendi-sendi besar seperti panggul, lutut, pergelangan
tangan, sendi bahu, dan daerah persendian kecil.

Lesi primer biasanya pada paru-paru, faring, atau usus yang kemudian melalui saluran limfe
menyebar ke limfonodus regional dan disebut sebagai primer kompleks. Bila daya tahan
tubuh klien turun, terjadi penyebaran melalui sirkulasi darah yang akan menimbulkan
tuborkolosis milier dan meningitis (lesi sekunder). Keadaan ini dapat terjadi setelah beberapa
bulan atau beberapa Tahun kemudian dan bakteri dideposit pada jaringan ekstra pulmonar.
Tulang dan sendi merupakan tempat lesi tersier dan sebanyak 5% dari tuberkolosis paru
akan meyebar dan berakhir sebagai tuberkolosis sendi dan tulang. Pada saat ini, kasus
tuberkolosis paru masih tinggi dan kasus tuberkolosis paru tulang dan sendi juga diperkirakan
masih tinggi.

Spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit yang tergolong sangat lama didiskripsikan


menyerang manusia yang terdokumentasi pada zaman besi dan mumi yang didapatkan di
Mesir dan Peru. Pada tahun 1779, perviall pott ( nama lain

PROSES KEPERAWATAN KLIEN SPONDILITIS TUBERKULOSA

Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal dengan spondilitis tuberkulosis merupakan


peradangan granulomatosa yang bersifat kronis destruksi oleh Mycobacterium tuberculosis.
Tuberkulosis tulang belakang selalu merupakan infeksi sekunder dari fokus di tempat lain
dalam tubuh. Percivall pott (1793) adalah penulis pertama tentang penyakit ini dan
deformitas tulang belakang sehingga penyakit ini disebut juga sebagai penyakit pott.
Spondilitis tuberkulosa terutama ditemukan pada kelompok usia 2-10 tahun dengan
perbandingan yang hampir sama antara wanita dan pria.

Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain
dalam tubuh; 90-95% disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis tipik (2/3 dari tipe
human dan 1/3 dari tipe bovine) dan 5/10% oleh Mycobacterium tuberculosis atipik. Lokasi
spondilitis tuberkulosa terutama pada daerah vertebra torakalis bawah dan vertebra lumbalis
atas sehingga diduga ada infeksi sekunder dari tuberkulosis traktus urinarius, yang
penyebaran nya melalui pleksus Batsori pada vena paravertebralis.

Penyakit ini pada umumnya mengenai lebih dari satu vertebra. Infeksi berawal dari bagian
sentral, bagian depan atau daerah epifisial korpus vertebra. Kemudian terjadi hiperemia dan
eksudasi yang menyebabkan osteoporosis dan pelunakan korpus. Selanjutnya terjadi
kerusakan pada korteks epifisis, diskus intervertebralis, dan vertebra sekitarnya. Kerusakan
pada bagian depan korpus ini akan menyebabkan terjadinya kifosis.

Kemudian eksudat (yang terdiri atas serum, leukosit, tulang yang fibrosis, serta basil
tuberkulosis) menyebar ke depan, di bawah ligamentum longitudinal anterior. Eksudat ini
dapat menembus ligamentum dan berekspansi ke berbagai arah di sepanjang garis ligamen
yang lemah. Pada daerah vertebra servikalis, eksudat tekumpul di belakang paravertebral dan
menyebar ke lateral belakang muskulus sternokleidomastoideus. Eksudat dapat mengalami
protusi ke depan dan ke dalam faring yang di kenal sebagai abses faringeal. Abses dapat
berjalan mengisi tempat trakea, esofagus, kavum pleura. Abses pada vertebra torakalis
biasanya tetap tinggal pada daerah toraks setempat menempati daerah paravertebral,
berbentuk massa yang menonjol fusifrom. Abses pada daerah ini dapat menekan medula
spenalis sehingga timbul paraplegia. Abses pada daerah lumbal dapat menyebar masuk
mengikuti muskulus psoas dan muncul di bawah ligamentum inguinale pada bagian medial
paha. Eksudat juga dapat menyebar ke daerah krista iliaka dan mungkin dan mengikuti
pembuluh darah femoral pada trigonum skarpei atau regio gliteal.

Kumar membagi perjalanan penyakit ini dalam 5 stadium yaitu:

1. Stadium implantasi. Setelah bakteri dalam tulang, bila daya tahan tubuh menurun, bakteri
akan berduplikasi membentuk koloni yang berlangsung selama 6-8 minggu. Keadaan ini
umumnya terjadi pada daerah paradiskus dan pada anak-anak umumnya terjadi pada
daerah sentral vertebral.
2. Stadium destruksi awal. Setelah stadium implantasi, terjadi destruksi korpus vertebra
serta penyempitan yang ringan pada diskus. Proses ini berlangsung selama 3-6 minggu.
3. Stadium destruksi lanjut. Pada stadium ini terjadi distruksi yang masif, kolaps vertebrata,
dn berbentuk massa maseosa serta pus yang berbentuk cold abses (abses dingin) yang
terjadi 2-3 bulan setelah stadium destruksi awal. Selanjutnya dapat terbentuk sekuestrum
serta kerusakan diskus invertabilitas. Pada saat ini terbentuk tulang baji terutama
disebelah depan (wedging anterior) akibat kerusakan korpus vertebrata, yang
mengakibatkan terjadinya kifosis atau gibus.
4. Stadium gangguan neurologis. Gangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya
kifosis yang terjadi, tetapi utama ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis.
Gangguan ini ditemukan 10 % dari seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosa.