Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN KUNJUNGAN SENDRATARI RAMAYANA

Disusun Oleh :
Azizah Salsabila Ronanda
X IPA 4
13

SMA NEGERI 3 KLATEN


2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat
dan kasihNya, atas anugerah hidup dan kesehatan yang telah saya terima, serta
petunjukNya sehingga memberikan kemampuan dan kemudahan bagi saya dalam
penyusunan karya tulis ini.
Didalam karya tulis ini saya selaku penyusun hanya sebatas ilmu yang bisa saya
sajikan,sebagai laporan kunjungan Wisata Budaya ke Candi Prambanan. Dimana
didalamnya saya sajikan beberapa hal yang bisa kita pelajari. Saya menyadari
bahwa keterbatasan pengetahuan dan pemahaman saya menjadikan keterbatasan
saya pula untuk memberikan penjabaran yang lebih dalam tentang masalah ini,oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya
harapkan demi kesempurnaan karya tulis ini.
Harapan saya, semoga karya tulis ini membawa manfaat bagi kita, setidaknya
untuk sekedar membuka cakrawala berpikir kita tentang Sendra Tari Ramayana.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam proses pembuatan ini. Terutama kepada guru yang telah
membimbing dalam penyusunan karya tulis ini.

Klaten , April 2016

Penulis

1
DAFTAR ISI
KataPengantar...........................................................................................1
Daftar Isi...................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................3
A. Latar Belakang............................................................................3
B. Tujuan Kunjungan.......................................................................3
C. Manfaat Kunjungan.....................................................................3
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................3
BAB III PENUTUP..................................................................................6
A. Kesimpulan..................................................................................6
B. Saran............................................................................................6
LAMPIRAN..............................................................................................6

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kunjungan ke Sendratari Ramayana ini berhubungan dengan kemah akhir tahun


(KAT) yang diselenggarakan oleh SMA negeri 3 Klaten. Kunjungan ke Sendratari
Ramayana ini dilakukan pada tanggal 22 Maret 2016. Selain didampingi oleh guru
dan Kakak Dewan Ambalan. Pertunjukkan ini berlangsung selama 2 jam yaitu dari
pukul 15.30 17.30, para murid dan guru serta kakak Dewan Ambalan berada
pada tempat duduk disebelah kanan dan kiri panggung.

B. Tujuan Kunjungan

Tujuannya adalah untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang tidak
maupun telah diajarkan di sekolah,mengetahui sejarah, dan dapat mengetahui seluk
beluk terjadinya suatu sejarah.Melihat dan mengamati secara langsung obyek
wisata sebagai sumber IPTEK.Menggali dan mengumpulkan data sebagai bahan
pelatihan menyusun kegiatan.

C. Tujuan Kunjungan

Tujuannya adalah untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang tidak
maupun telah diajarkan di sekolah,mengetahui sejarah, dan dapat mengetahui seluk
beluk terjadinya suatu sejarah.Melihat dan mengamati secara langsung pertunjukan
sendra tari ramayana sebagai pengetahuan sejarah.

BAB II
PEMBAHASAN

Sendratari Ramayana adalah seni pertunjukan yang cantik, mengagumkan dan sulit
tertandingi. Pertunjukan ini mampu menyatukan ragam kesenian Jawa berupa tari,
drama dan musik dalam satu panggung dan satu momentum untuk menyuguhkan
kisah Ramayana, epos legendaris karya Walmiki yang ditulis dalam bahasa
Sanskerta.

Kisah Ramayana yang dibawakan pada pertunjukan ini serupa dengan yang
terpahat pada Candi Prambanan. Seperti yang banyak diceritakan, cerita Ramayana
3
yang terpahat di candi Hindu tercantik mirip dengan cerita dalam tradisi lisan di
India. Jalan cerita yang panjang dan menegangkan itu dirangkum dalam empat
lakon atau babak, penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian
Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali Rama-Sinta. Pertunjukan ini
dilaksanakan pada pukul 19.30 21.30 dan saya menonton pertunjukan ini pada
hari Selasa, 20 Oktober 2015. Saya,teman teman dan guru berada diposisi
sebelah kanan dan kiri panggung.

Seluruh cerita disuguhkan dalam rangkaian gerak tari yang dibawakan oleh para
penari yang rupawan dengan diiringi musik gamelan. Saya diajak untuk benar-
benar larut dalam cerita dan mencermati setiap gerakan para penari untuk
mengetahui jalan cerita. Tak ada dialog yang terucap dari para penari, satu-satunya
penutur adalah sinden yang menggambarkan jalan cerita lewat lagu-lagu dalam
bahasa Jawa dengan suaranya yang khas.

Cerita dimulai ketika Prabu Janaka mengadakan sayembara untuk menentukan


pendamping Dewi Shinta (puterinya) yang akhirnya dimenangkan Rama Wijaya.
Dilanjutkan dengan petualangan Rama, Shinta dan adik lelaki Rama yang bernama
Laksmana di Hutan Dandaka. Di hutan itulah mereka bertemu Rahwana yang ingin
memiliki Shinta karena dianggap sebagai jelmaan Dewi Widowati, seorang wanita
yang telah lama dicarinya.

Untuk menarik perhatian Shinta, Rahwana mengubah seorang pengikutnya yang


bernama Marica menjadi Kijang. Usaha itu berhasil karena Shinta terpikat dan
meminta Rama memburunya. Laksama mencari Rama setelah lama tak kunjung
kembali sementara Shinta ditinggalkan dan diberi perlindungan berupa lingkaran
sakti agar Rahwana tak bisa menculik. Perlindungan itu gagal karena Shinta
berhasil diculik setelah Rahwana mengubah diri menjadi sosok Durna.
Di akhir cerita, Shinta berhasil direbut kembali dari Rahwana oleh Hanoman,
sosok kera yang lincah dan perkasa. Namun ketika dibawa kembali, Rama justru
tak mempercayai Shinta lagi dan menganggapnya telah ternoda. Untuk
membuktikan kesucian diri, Shinta diminta membakar raganya. Kesucian Shinta
terbukti karena raganya sedikit pun tidak terbakar tetapi justru bertambah cantik.
Rama pun akhirnya menerimanya kembali sebagai istri.

Anda tak akan kecewa bila menikmati pertunjukan sempurna ini sebab tak hanya
tarian dan musik saja yang dipersiapkan. Pencahayaan disiapkan sedemikian rupa
sehingga tak hanya menjadi sinar yang bisu, tetapi mampu menggambarkan
kejadian tertentu dalam cerita. Begitu pula riasan pada tiap penari, tak hanya
mempercantik tetapi juga mampu menggambarkan watak tokoh yang diperankan
sehingga penonton dapat dengan mudah mengenali meski tak ada dialog.
Panggung terbuka Candi Prambanan yang sebelumnya dibuat pada pertama kali
pementasan tahun 1961 masih berada di dalam kompleks Candi Prambanan,
sehingga kemudian dibuat panggung terbuka baru yang berada di luar4
zonacandi.Panggung terbuka yang baru memiliki kapasitas 991 tempat duduk,
terletak di sebelah barat kompleks Candi Prambanan, di sebelah barat Kali Opak.
Tribun penonton menghadap ke timur sehingga ketiga candi utamam Candi Siwa,
Candi Wisnu, dan Candi Brahma menjadi latar belakang panggungPada malam
hari candi akan disorot dengan lampu berteganggan tinggi untuk menghasilkan
efek latar yang megah. Pertunjukan panggung terbuka hanya bisa diselenggarakan
pada musim kemarau berkisar bulan Mei Oktober, pentas dimulai dari pukul
19.30 sampai 21.30 bergantung kondisi cuacaGedung pertunjukan tertutup
bernama Trimurti terletak di sebelah selatan panggung tertutup, dapat menampung
300 sampai 400 penonton, Sendratari Ramayana di gedung Trimurti disajikan
dalam format cerita penuh dari sejak Rama mengikuti sayembara sampai dengan
pertemuan kembali Rama dengan Sinta.

Anda juga tak hanya bisa menjumpai tarian saja, tetapi juga adegan menarik seperti
permainan bola api dan kelincahan penari berakrobat. Permainan bola api yang
menawan bisa dijumpai ketik Hanoman yang semula akan dibakar hidup-hidup
justru berhasil membakar kerajaan Alengkadiraja milik Rahwana. Sementara
akrobat bisa dijumpai ketika Hanoman berperang dengan para pengikut Rahwana.
Permainan api ketika Shinta hendak membakar diri juga menarik untuk disaksikan.

Karakterisasi gerak tari Sendratari Ramayana Prambanan mengacu pada


karakterisasi gerak pada wayang orang. Awal perkembangan Sendratari Ramayana
Prambanan didominasi gaya tari Surakarta, sedikit teknik gerak tari gaya
Yogyakarta yang mengisi namun tetap lebih dominan gaya Surakarta. Pelaksanaan
teknis serta penyajian gaya Yogyakarta dan Surakarta agak berbeda, Gaya
Surakarta lebih dekat dengan gaya romantik, sedangkan gaya Surakarta lebih dekat
dengan gaya klasik. Dominasi gaya Surakarta pada awal perkembangan Sendratari
Ramayana Prambanan disebabkan koreografer yang ikut dalam proyek awal
berasal dari Surakarta, salah satu pimpinan proyek pementasan sendiri adalah GPH
Soerio Hamidjojo yang merupakan ahli tari dan karawitan di Surakarta. Selain itu
salah satu pelatih adalah RT Atmokesowo yang juga merupakan ahli tari di
Surakarta.[Sejak tampilnya penari muda dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI)
Yogyakarta, perlahan pengaruh gaya Yogyakarta dan daerah lain masuk ke dalam
Sendratari tersebut. Hasilnya dapat dikatakan saat ini di Jawa Tengah tedapat tiga
gaya sendratari, yaitu gaya Prambanan, gaya Surakarta, dan gaya Yogyakarta.
5
Sendratari Ramayana Prambanan memiliki desain busana yang masih mengacu
pada wayang wong gaya Surakarta, namun lebih sederhana agar penari leluasa
bergerak. Salah satu contohnya atribut berupa hiasan kepala mengacu pada relief
Ramayana di Candi Prambanan. Tentara kera menggunakan cat untuk warna kulit.
Warna merah baik pada selendang atau sampur dan rias pada muka, dikenakan para
raksasa atau tokok-tokoh kasar. Rama pada pentas Sendratari Ramayana
Prambanan mengenakan dua macam pakaian. Pada episode pertama saat
mengembara di hutan ia mengenakan topong berwarna hitam menggambarkan
rambut yang digelung ke atas, begitu pula Laksmana. Pada episode kedua dan
selanjutnya Rama memakai mahkota yang biasa dikenakan seorang raja. Kain yang
dikenakan sebagian besar menggunakan motif batik parang, selain itu juga
digunakan motif batik kawung.Penggunaan motif batik parang masih mengacu
ketentuan di istana, pada motif batik parang rusak barong besar hanya dikenakan
oleh raja, motif batik parang rusak gendreh yang berukuran sedang dikenakan oleh
para ksatria halus, sedangkan motif batik parang rusak klithik dikenakan oleh para
putri.Pada adegan Kumbakarna maju ke medan perang, ia mengenakan kain putih
yang disampirkan di pundaknya sebagai lambang kesucian dan ksatria yang
berbudi luhur, hal ini menggambarkan bahwa Kumbakarna maju ke medan perang
untuk membela negara Alengka, bukan untuk Rahwana. Tata rias umumnya tidak
banyak berbeda dengan riasan wayang orang, riasan dianggap tidak banyak
mempengaruhi gerak tari, gerak muka, dan mimik dalam panggung terbuka yang
berukuran besar, karena penonton yang duduk jauh dari panggung sulit melihat
mimik penari secara detail. Tata rias menentukan penggambaran suatu tokoh, di
Indonesia muka Rama dan Laksmana berwarna kuning natural, sedangkan di
Myanmar, Thailand, Kamboja, dan Malaysia muka Rama berwarna hijau kebiru-
biruan, untuk Laksmana berwarna kuning

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
6
Maka dapat disimpulkan bahwa Sendratari Ramayana. Salah satu wisata yang
melestarikan budaya tradisional. Cerita yang menarik, penari yang ahli, tata rias
dan tatanan lampu yang menarik membuat para penonton menyukainya.

B. Saran
Para generasi mampu menjaga dan melestarikan budaya budaya tradisional
Pengelola memperbaiki fasilitas agar para pengunjung nyaman
Pengelola menciptakan inovasi inovasi baru untuk menambah minat para
pengunjung Ingin mengunjungi candi Prambanan
Sebagai warga negara yang baik seharusnya bisa melestarikan kekayaan
budaya baik itu wisata maupun sejarah bangsa. Agar tidak punah oleh waktu.
Selain itu kita juga harus bisa menjaganya agar tetap lestari dan berkembang

LAMPIRAN
7